Pelangi di Langit Singasari [ 27 ]

319

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 27 ]

 

“ALAMAT yang kurang menyenangkan” desis Empu Sada di dalam hatinya. Tetapi hati itu telah bulat. Tekad di dalam dadanya telah mengendap.

“Aku akan bertempur sampai aku tidak mampu lagi menggerakkan tubuhku.” katanya di dalam hati, “aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menenteramkan perasaanku. Kematian yang demikian adalah kematian yang paling menyenangkan”.

Dan tiba-tiba Empu Sada itu berkata, “Minggirlah Kuda Sempana. Jangan pikirkan aku lagi.”

“Tetapi Empu sekarang tidak bersenjata lagi. Bagaimana Empu akan melawan ke duanya?”

Dengan wajah yang tegang Empu Sada memandangi ke dua potongan tongkatnya sambil berdesis, “Aku mengharap bahwa aku dapat mempergunakannya.”

Dan tiba-tiba saja, tanpa diduga-duga oleh siapa pun, baik oleh Kuda Sempana maupun oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat maka, Empu Sada dengan serta merta melemparkan sepotong dari potongan tongkatnya itu. Demikian keras dan tiba-tiba sehingga, Wong Sarimpat tidak sempat untuk berbuat sesuatu. Ia melihat tongkat itu meluncur ke arah pahanya. Demikian cepatnya. Betapapun ia cakap mengendalikan kudanya, tetapi kali ini ia tidak sempat apa-apa. Ia hanya mampu menghindarkan pahanya dari sambaran potongan tongkat Empu Sada.

Namun kedudukannya kurang menguntungkannya. Tongkat itu menyambar dari sisi sebelah kiri. Meskipun tangan kirinya tidak kalah cepatnya menggerakkan goloknya dari tangan kanan, tetapi goloknya saat itu berada di tangan kanannya sehingga, Wong Sarimpat itu tidak pula sempat menangkis dengan mempergunakan goloknya. Sehingga, yang terjadi sangat mengejutkannya. Terdengar kuda Wong Sarimpat itu memekik tinggi kemudian, jatuh terbanting di tanah. Di lambung kuda itu menancap potongan tongkat Empu Sada menembus tubuhnya.

Wajah Kebo Sindet yang beku sebeku wajah mayat itu tampak berkerut melihat kejadian itu. Sejenak ia terpukau di tempatnya dengan desah nafas yang memburu semakin cepat. Terdengar ia menggeram dalam nada yang berat.

Sementara itu, Wong Sarimpat telah meloncat turun sambil mengumpat keras-keras,, “he setan tua yang licik. Kenapa kau berusaha membunuh hanya seekor binatang. Kenapa kau tidak membidik kepalaku atau tengkukku?”

“Tak akan ada gunanya” sahut Empu Sada,, “kau pasti mampu menghindarinya. Tetapi kuda itu tidak. Dan ternyata kau kini sudah tidak berkuda lagi. Dengan demikian maka pekerjaanku akan menjadi semakin ringan. Kini aku tinggal berusaha untuk membunuh kudaku yang di curi oleh Kebo Sindet itu, supaya kita dapat berhadapan dengan kaki kita masing-masing berjejak di atas tanah”.

“Persetan dengan seseorahmu. Ayo kita selesaikan persoalan ini”.

“Jangan hanya banyak bicara” potong Empu Sada,, “aku sudah siap menunggu kalian”.

Wong Sarimpat yang di landa oleh arus kemarahan itu pun maju setapak demi setapak mendekati Empu Sada. Terdengar ia berkata,, “Kuda Sempana. Pergilah, supaya aku dapat dengan leluasa membunuh Empu tua yang tak tahu diri ini”.

Kuda Sempana tidak menyahut. Sekali ia berpaling ke pada Empu Sada yang berdesis,, “menepilah”.

Tetapi Kuda Sempana masih tetap di tempatnya.

“Empu Sada” berkata Wong Sarimpat,, “selagi tongkatmu masih utuh, kau tidak mampu melawan kami berdua. Kini tongkatmu itu tinggal sepotong. Apakah kau masih akan mencoba melawan? Apalagi salah seorang dari kami berada dipunggung kuda. Nah, umurmu akan menjadi semakin singkat. Dan kau akan mati dengan cara yang barangkali belum pernah kau bayangkan”.

Ancaman Wong Sarimpat itu ternyata memberi kesadaran kepada Empu Sada bahwa, senjatanya memang tidak akan banyak berarti lagi untuk melawan sepasang golok yang berada di tangan sepasang hantu dari Kemundungan itu. Tetapi apakah yang akan dilakukannya? Ia tidak akan dapat mengambil potongan senjatanya yang lain, sebab potongan itu terletak terlampau jauh dari padanya.

Sementara itu ia melihat kuda Kebo Sindet pun telah bergerak pula. Bahkan orang itu telah mempersiapkan diri untuk menyambarnya dengan kuda itu. Sambil mengayun-ayunkan goloknya Empu Sada melihat Kebo Sindet telah siap menyerangnya.

Dalam waktu yang singkat itu Empu Sada mencoba berpikir untuk mendapatkan cara yang sebaik-baiknya melawan ke dua orang yang liar itu. Tongkatnya yang tinggal sepotong itu tidak akan dapat membantunya. Tetapi apa yang dapat dilakukannya?

Dalam ketegangan itu, maka suasana di cengkam oleh kesenyapan yang mengerikan. Tak seorang pun yang telah mulai dengan sergapan dan serangan, seakan-akan mereka menunggu perkembangan keadaan. Tetapi wajah-wajah mereka menjadi semakin keras sekeras batu karang. Sedang senjata-senjata mereka menjadi semakin erat di dalam genggaman.

Ketegangan itu tiba-tiba dipecahkan oleh derap kuda Kebo Sindet yang meluncur seperti badai menyambar Empu Sada. Golok Kebo Sindet terayun dengan cepatnya mengarah kepada lawannya.

Namun Empu Sada pun telah bersiap pula menerima serangan itu. Dengan lincahnya ia meloncat kesamping menghindari sambaran golok Kebo Sindet, namun kemudian, ia melenting menyerang dengan potongan tongkatnya.

Tetapi potongan tongkat itu ternyata terlampau pendek. Meskipun tangannya sudah terjulur lurus, tetapi ujung tongkatnya yang sepotong itu masih belum mcnyentuh tubuh lawannya sama sekali meskipun, Kebo Sindet sama sekali tidak berusaha untuk menangkisnya. Dengan menggeser tubuhnya sedikit saja, maka iblis itu telah dapat membebaskan dirinya dari lawannya.

Terdengar Empu Sada berdesis. Senjata yang selama ini dipergunakan adalah sebuah tongkat yang panjang. Sebenarnya, ia telah meletakkan senjatanya itu. Ia tidak ingin lagi melibatkan diri dengan persoalan yang harus diselesaikan dengan senjata. Tetapi persoalan Mahisa Agni, anak Jun Rumanti itu, telah memaksanya untuk mengangkat sebatang tongkat lagi. Tetapi tongkat itu tidak dapat membantu sepenuhnya seperti tongkat pusakanya, ciri kebesarannya.

Sementara, Kebo Sindet memutar kudanya, Wong Sarimpat telah melompat pula sambil memutar goloknya menyerang Empu Sada dengan garangnya.

Sekali lagi Empu Sada harus menghindari serangan itu, tetapi ia tidak sekedar mau menjadi sasaran yang meloncat kian kemari seperti sedang menari di atas bara. Dengan dahsyatnya ia pun segera menyerang. Tongkatnya yang sepotong itu mematuk dengan lincahnya. Tetapi sekali lagi ia menjadi kecewa, bahwa tongkatnya ternyata terlampau pendek.

“Hem” ia berdesah di dalam hati.

Meskipun demikian, Empu Sada adalah seorang tua yang memiliki perbendaharaan pengalaman yang banyak sekali. Karena itu meskipun, setiap kali ia dikecewakan oleh tongkatnya yang pendek, namun ia masih mampu juga bertahan untuk beberapa saat.

Tetapi, sejenak kemudian segera terasa, bahwa melawan kedua hantu dari Kemundungan itu adalah pekerjaan yang berat sekali baginya. Dan disadarinya bahwa ia tidak akan mampu melakukannya. Apalagi keadaan kedua orang itu jauh lebih baik dari padanya. Yang seorang dari mereka berada di punggung kudu yang dapat menyambarnya seperti seekor Garuda, dan keduanya masih menggenggam senjata masing-masing. Sedang Empu Sada harus melawan mereka berdua seorang diri dengan senjata yang telah patah pula.

Dalam keadaan yang semakin sulit, tiba-tiba Empu Sada itu meloncat ke arah Kuda Sempana. Dengan serta merta ditariknya pedang anak muda itu tanpa minta ijin dahulu kepadanya. Alangkah lerkejut anak muda itu. Tetapi semuanya itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat, dan Kuda Sempana hanya dapat melihat pedangnya itu sudah berada di tangan Empu Sada.

Kini Empu Sada mempergunakan senjata rangkap pada kedua belah tangannya. Tangannya yang kiri menggenggam pedang Kuda Sempana, dan tangannya yang kanan memegang potongan tongkatnya. Ia masih belum yakin benar terhadap kekuatan pedang Kuda Sempana. Apakah pedang itu mampu mengalami benturan-benturan dengan golok kedua orang Kemundungan yang besar dan tebal, apalagi terbuat dari baja pilihan. Ia masih lebih percaya kepada tongkatnya yang patah. Tongkat itu kini menjadi pendek. Karena itu, maka kemungkinan patah pun menjadi semakin kecil.

Dengan sepasang senjata itu lah Empu Sada melawan ke dua kakak beradik itu. Betapa Empu tua itu masih dapat meloncat-loncat dengan lincahnya. Menyambar-nyambar dengan penuh nafsu yang menyala di dalam dadanya, sehingga seolah-olah tenaganya menjadi bertambah-tambah.

Wong Sarimpat yang kemudian melihat Empu Sada itu bersenjata pada kedua tangannya, mengumpat tak habis-habisnya. Bahkan ia berteriak kepada Kuda Sempana, “He, anak yang tidak tahu diri kenapa pedangmu kau biarkan di ambil oleh setan tua itu? Sekarang, mumpung belum terlanjur, pergilah. Pergi jauh-jauh atau kembali ke Kemundungan lebih dahulu”.

Kuda Sempana mendengar teriakan itu. Tetapi ia masih belum beranjak dari tempatnya. Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus.

“Cepat pergi” bentak Wong Sarimpat, “atau kau ingin aku bunuh pula”.

Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi ia masih belum bergerak.

Kuda Sempana itu berpaling ketika Kebo Sindet tiba-tiba telah berada di sampingnya, dan membiarkan adiknya bertempur seorang diri melayani Empu Sada. Dengan nada yang datar ia berkata, “Kuda Sempana. Sebaiknya kau mendahului kami pergi Kemundungan. Letakkanlah Mahisa Agni itu di pembaringan, supaya ia tidak terlanjur mati. Aku memerlukannya hidup-hidup, seperti kau juga. Bukankah kau ingin melihat anak muda itu mengalami seperti yang pernah kau alami. Sakit hati yang tidak tersembuhkan”.

Kuda Sempana merasakan suatu perbawa yang tak dapat di atasinya. Ketika ia perpaling dan menatap wajah Kebo Sindet, tampaklah sepasang mata iblis itu seolah-olah menyala. Karena itu maka cepat-cepat Kuda Sempana menundukan kepalanya.

“Aku tidak menyalahkanmu” berkata Kebo Sindet yang suaranya seolah-olah bergulung-gulung saja didalam perutnya, “memang di luar kemampuanmu untuk mempertahankan pedangmu itu. Tetapi sebelum keadaan berkembang semakin jelek, dan Wong Sarimpat itu menjadi semakin marah, nah pergilah. Pergilah lebih dahulu ke Kemundungan. Aku merasa bahwa kau tidak akan sampai hati melihat gurumu terbunuh dengan cara yang diinginkan oleh Wong Sarimpat. Tetapi aku tidak dapat mencegah adikku itu mendapatkan permainan yang menyenangkan, apalagi mencegah keinginanku sendiri. Supaya kau tidak pingsan, maka pergilah. Kecuali kalau kau menang ingin menyaksikan, bagaimana tubuh gurumu akan menjadi makanan burung gagak dan anjing-anjing liar”.

Terasa dada Kuda Sempana menjadi semakin pepat. Namun ia masih saja tidak bergerak. Kata-kata Kebo Sindet yang diucapkannya perlahan-lahan itu justru terasa betapa mengerikannya. Tanpa dikehendakinya, maka Kuda Sempana itu memandangi gurunya yang sedang berkelahi melawan Wong Sarimpat. Meskipun kemampuannya sama sekali masih kurang cukup untuk menilai perkelahian itu, tetapi ia dapat merasakan bahwa gurunya mempunyai beberapa kelebihan dari Wong Sarimpat. Senjata gurunya di kedua belah tangannya tampak menyambar-nyambar mengerikan di antara ayunan golok Wong Sarimpat. Tetapi Empu Sada sendiri dapat pula melihat bahwa Wong Sarimpat tidak berada dalam puncak kekuatannya. Dan Empu Sada dapat melihat, bahwa hal itu adalah akibat luka di pangkal lengannya. Luka itu agaknya selalu mengganggunya. Hanya karena ketahanan tubuh Wong Sarimpat yang luar biasa, maka luka itu tidak banyak mempengaruhinya.

Kebo Sindet pun melihat pula hal itu. Tetapi ia sama sekali tidak mencemaskannya. Ia memang melihat kelemahan adiknya, dan apabila hal itu dibiarkannya, maka Wong Sarimpat akan lebih dahulu kehabisan tenaga. Tetapi waktu itu pasti cukup lama. Mungkin sehari, mungkin dua hari. Dan Kebo Sindet yakin, bahwa sebentar lagi apabila ia telah kembali ke arena, maka waktu yang diperlukan akan surut berlipat-lipat. Empu Sada itu pasti akan segera dapat mereka selesaikan.

Tetapi Kebo Sindet itu ingin supaya Kuda Sempana menjauhkan dirinya. Kebo Sindet menjadi cemas apabila tiba-tiba saja Empu Sada mendorong Kuda Sempana dari kudanya, dan kemudian berusaha melarikan kuda beserta Mahisa Agni. Ia hanya akan dapat menyusul Empu Sada itu seorang diri karena Wong Sarimpat sudah tidak berkuda lagi. Apabila mereka harus berkuda berdua, maka pasti akan memperlambat. Sebab kuda yang di pakai oleh Kuda Sempana agaknya lebih baik dari kuda Empu Sada yang dipakainya. Dan ia pun kemudian harus bertempur seorang diri pula di sepanjang pengejarannya. Dengan demikian, maka Kebo Sindet tidak yakin sampai berapa lama ia mampu mengalahkan Empu Sada. Bahkan mungkin sampai ke Tumapel, mereka masih juga harus bertempur di sepanjang jalan.

Karena itu maka sekali lagi ia berkata, “Kuda Sempana. Menyingkirlah selagi kau masih mempunyai kesempatan”.

Pengaruh kata-kata Kebo Sindet, serta sorot matanya yang seakan-akan langsung menembus kejantungnya itu tidak dapat di hindari oleh Kuda Sempana, sehingga seperti terdorong oleh suatu tenaga yang tidak dimengertinya, tiba-tiba ia menggerakkan kendali kudanya. Perlahan-lahan kuda itu berjalan dan kemudian memutar.

“Bagus” desis Kebo Sindet, “dahululah. Jangan terlampau cepat supaya kami segera dapat menyusulmu”.

Kepala Kuda Sempana yang kosong telah membawanya bcrjalan perlahan-lahan menjauhi arena. Sekali-sekali ia berpaling, dan kini dilihatnya Kebo Sindet telah pula menyerang Empu Sada.

Untuk menahan senjata-senjata lawannya, maka kedua senjata Empu Sada itu berputar seperti baling-baling, sehingga putarannya menjadi sebuah perisai yang tak akan dapat di tembus oleh ujung jarum sekalipun.

Tetapi Kuda Sempana itu tertegun sejenak. Bahkan terdengar mulutnya menggeram. Meskipun demikian ia tidak memutar kudanya kembali ke arena perkelahian itu.

Dengan dada yang berguncang-guncang ia melihat sekali gurunya terpelanting ketika ia menahan sergapan tiba-tiba Kebo Sindet di atas kuda. Tetapi Empu Sada itu masih cukup lincah. Ketika Wong Sarimpat berusaha menerkamnya, maka orang tua itu sudah bangun dan sekali lagi diputarnya kedua senjatanya untuk melindungi dirinya.

Meskipun demikian, segera terasa bahwa perlawanannya itu akan tidak banyak berarti bagi kedua iblis itu. Sebentar lagi maka ia pasti akan kehabisan tenaga, dan kedua golok lawannya itu akan mencincang tubuhnya.

“Hem” Empu Sada menggeram, “kalau yang membawa Mahisa Agni itu bukan Kuda Sempana, setidak-tidaknya aku mendapat kesempatan untuk mendapat kawan mati dan bahkan melarikan kudanya bersama Mahisa Agni. Mungkin aku akan berhasil memancing salah seorang dari keduanya untuk mengejarku di atas kudanya”.

Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Yang duduk di atas punggung kuda itu adalah Kuda Sempana, seorang dari muridnya.

Perkelahian di arena menjadi semakin sengit. Namun menjadi semakin jelas pulalah bahwa Empu Sada menjadi semakin terdesak. Hanya karena tekadnya yang bulat serta hampir-hampir di dasari oleh keputusasaan, muka justru tenaganya menjadi kian dahsyat. Tetapi Kuda Sempuna yang semakin jauh dari perkelahian itu masih juga sempat melihat bahwa gurunya berkali-kali terdorong surut, bahkan terbanting jatuh. Untuk melawan kedua lawannya itu Empu Sada benar-benar telah memeras segenap tenaga, kemampuan dan ilmunya. Jatuh bangun ia berjuang. Terbersit tekad di dalam dadanya, “Aku akan membawa salah seorang dari mereka untuk menemaniku meninggalkan dunia yang fana ini”.

Kuda Sempana akhirnya tidak sampai hati lagi melihat gurunya berjuang mati-matian dalam kesulitan. Ia tidak sampai hati melihat gurunya terbanting kemudian melenting berdiri untuk segera terdorong pula surut kebelakang. Sejenak kemudian Empu Sada itu harus meloncat jauh-jauh mengambil jarak dari kedua lawannya yang menyerangnya dari jurusan yang berbeda.

Dengan hati yang pedih, lebih pedih dari segala macam penderitaan yang dialaminya selama ini, Kuda Sempana segera memukul perut kudanya dengan tumitnya. Kuda itu terkejut dan segera meloncat seperti gila. Menembus keremangan malam yang di tandai oleh sesisir bulan yang sedang berkalang. Kuda Sempana sendiri bagaikan orang gila melecut-lecut kuda itu sekuat-kuat tenaganya. Ia ingin segera menjauhi tempat jahanam itu. Ia ingin melupakan apa yang baru saja dilihatnya. Dan ia sama sekali ingin melenyapkan gambaran-gambaran apa yang akan terjadi atas gurunya. Karena itulah maka ia berpacu sekuat-kuat kaki kudanya. Hampir-hampir ia tidak memperhatikan lagi Mahisa Agni yang tersangkut di punggung kuda itu pula.

Demikianlah, Kuda Sempana berusaha melarikan diri dari kenangan dan angan-angannya masa-masa lampau dan masa-masa yang akan datang. Dengan demikian ia pun seakan-akan melupakan dirinya sendiri masa kini. Ia tidak tahu kemana kudanya akan pergi. Tetapi kuda itu adalah kuda yang dibawanya dari Kemundungan, sehingga kuda itu berlari menurut jalan yang dikenalnya. Kemundungan.

Sedang di belakang Kuda Sempana itu gurunya bertempur antara hidup dan mati. Disadarinya bahwa nyawanya sebentar lagi akan meninggalkan tubuhnya. Tetapi ia tidak akan menyerahkan nyawanya seperti seekor lembu di pembantaian.

Namun tiba-tiba perkelahian yang semakin seru dan semakin berat sebelah itu terganggu. Telinga-telinga mereka yang tajam itu mendengar suara derap seekor kuda di kejauhan. Semakin lama semakin dekat.

Kebo Sindet yang berada di punggung kuda menengadahkan wajahnya. Perlahan-perlahan ia berdesis seperti kepada diri sendiri, “apakah yang datang itu pande keris dari Lulumbang?”

Wong Sarimpat pun mengumpat di dalam hatinya. Ia pun menyangka bahwa yang datang itu pasti Empu Gandring. Karena itu, maka dengan penuh nafsu ia berteriak, “mari kita selesaikan tikus tua ini kakang. Sebentar lagi kita bantai orang yang datang untuk membunuh diri itu”.

Kebo Sindet memandangi Empu Sada yang sedang berusaha mengelakkan serangan Wong Sarimpat. Dengan suara berat dan datar ia menjawab, “Huh. Satu lagi datang seorang yang ingin membunuh Empu Sada itu pula. Wong Sarimpat. Nanti kalau orang itu datang, biarlah kita bersama-sama menguliti Empu yang malang ini. Bukankah orang itu Empu Gandring? Ia pasti menyangka bahwa Empu Sadalah yang menjadi biang keladi dari peristiwa ini. Nah, kira-kira orang tua itu akan berbuat apa?”

Empu Sada tidak menghiraukan apa yang mereka percakapkan. Tetapi ia menyerang lawannya sejadi-jadinya, semakin lama semakin dahsyat, seperti angin pusaran di musim kesanga.

Wong Sarimpat yang lebih banyak menjadi sasaran serangan Empu Sada itu mengumpat di dalam hati. Tetapi, ia ti dak begitu yakin akan kata-kata kakaknya. Karena itu, maka baginya, lebih baik membunuh orang tua ini lebih dahulu dan kemudian membunuh Empu Gandring bersama-sama pula daripada berteka-teki tentang apa yang akan dilakukan oleh Empu Gandring. Dengan demikian, maka tandangnya pun menjadi semakin buas. Ia ingin segera membinasakan Empu Sada itu secepatnya.

Tetapi, Empu yang tua itu ternyata membuat perhitungan sendiri. Mungkin Empu Gandring, paman Mahisa Agni itu mendendamnya dan menyangkanya bahwa ia lah biang keladi dari penculikan kemenakannya itu. Tetapi yang datang itu benar Empu Gandring dan melihat perkelahian itu, maka ia pasti akan memihak Empu Gandring pasti akan memihaknya. Sebab ia adalah pihak yang lemah. Apabila Empu Gandring itu berhasil keluar dari perkelahian itu bersamanya, mengalahkan kedua iblis dari Kemundungan dan seandainya, Empu Gandring masih tetap dalam pendiriannya menyangka dirinya dengan tuduhan itu, maka lawannya adalah pihak yang lemah. Bukan kedua orang iblis itu lagi.

Dengan demikian Empu Sada bertekad untuk bertempur terus. Meskipun Empu Sada itu menjadi semakin terdesak, tetapi ia mempunyai harapan untuk bertahan sampai kuda itu menjadi semakin dekat. Segala cara ditempuhnya untuk menyelamatkan dirinya. Meloncat-loncat, berlari-lari, melingkar-lingkar pada gerumbul-gerumbul liar. Ia tidak peduli lagi apa yang dikatakan orang tentang dirinya. Ia akan mempergunakan segala cara.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mengumpat-umpat di dalam hati. Bahkan Wong Sarimpat berteriak, “He Empu Sada apakah kau sudah kehilangan sama sekali harga dirimu. Bagaimana mungkin seorang Empu yang sakti bertempur dengan cara itu”.

Empu Sada tidak menyahut. Ia bertempur semakin liar. Sama sekali tak diperhatikannya lagi tata kesopanan di dalam perkelahian.

Sementara itu derap kuda dikejauhan pun menjadi semakin dekat. Harapan Empu Sada pun menjadi semakin berkembang. Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin keras mengumpat-umpat.

Akhirnya mereka, yang sedang bertempur itu melihat seekor kuda berpacu seperti angin mendekati titik perkelahian itu.

Dalam pada itu, terdengar Kebo Sindet berkata, “Empu Sada, kalau Empu Gandring itu menjadi semakin dekat maka nyawamu pun akan menjadi semakin pendek”.

Empu Sada masih tetap tidak menjawab. Tetapi senjatanya bergerak semakin mantap.

Kini kuda yang datang itu telah menjadi semakin dekat, dan sesaat kemudian kuda itu berhenti. Benarlah dugaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bahwa penunggangnya adalah Empu Gandring.

Demikian kuda itu berhenti terdengar Wong Sarimpat berteriak, “Empu Gandring ini kah orangnya yang kau cari?”

Empu Sada segera meloncat jauh kesamping untuk melepaskan diri dari perkelahian. Dengan sebuah senyuman ia menyambut kedatangan Empu Gandring, katanya, “Selamat malam Empu, telah cukup lama kami menunggu kedatanganmu”.

Empu Gandring yang duduk di atas punggung kudanya termenung sejenak melihat apa yang sedang terjadi. Ia tidak dapat segera mengerti, mengapa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bertempur melawan Empu Sada. Yang terdengar kemudian adalah suara Kebo Sindet kepada Empu Gandring, “Kau telah menemukan orangnya, sumber bencana yang menimpa Mahisa Agni”.

Tetapi Empu Gandring tidak segera memberi tanggapan. Ia masih saja duduk membeku di atas punggung kudanya. Sementara itu Wong Sarimpat berteriak, “Mengapa kau masih saja seperti patung?”

Kebo Sindetlah yang menyahut, “Apakah kau memerlukan penjelasan, Empu Gandring?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin menghadapi persoalan itu dengan tenang, supaya ia tidak terperosok dalam suatu sikap yang salah.

Kebo Sindet terdengar berkata lagi, “Empu Gandring apakah kau masih sangsi bahwa kemanakanmu telah dilarikan oleh murid Empu Sada. Kau melihat sendiri bahwa Mahisa Agni berada di punggung kuda yang dipergunakan oleh Kuda Sempana. Memang akulah yang telah berbuat langsung, tetapi aku hanyalah sekedar alat. Aku tidak tahu maksud Empu Sada yang sebenarnya, dengan menculik Mahisa Agni. Baru kemudian aku tahu setelah aku menyerahkannya kepadanya. Ternyata, dendam murid Empu Sada telah begitu tajam meracuni hatinya, sehingga kedua guru dan murid ini begitu sampai hati untuk berbuat di luar perikemanusiaan atas Mahisa Agni. Sehingga, kami berdua berusaha mencegah. Kemudian yang terjadi adalah seperti yang kau lihat ini. Kami berdua terpaksa bertempur melawan Empu Sada. Nah Empu Gandring sekarang terserah padamu apa yang akan kau lakukan. Kau akan dapat bersama-sama kami membunuh Empu Sada ini, kemudian bersama-sama kami pula mengejar Kuda Sempana. Sebab selama kami bertempur Kuda Sempana telah sempat melarikan Mahisa Agni”.

Empu Gandring masih tetap mematung. dilayangkannya pandangan matanya mengedari arena perkelahian itu. Dilihatnya Empu Sada berdiri tegak disisi sebuah parit yang kering. Ketika pandangan mata mereka beradu maka berkatalah Empu Sada, “Empu Gandring, kau telah mendengar penjelasan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi apakah kau dapat mempercayainya”.

Empu Gandring masih tetap tidak menjawab. Dan Empu Sada pun berkata lebih lanjut, “Empu Gandring, aku menyesal bahwa aku tidak mendengarkan nasihatmu dahulu, seperti Bojong Santi pernah menasehati aku juga kalau aku berhubungan dengan kedua iblis dari Kemundungan itu maka aku pasti akan ditelannya. Ternyata nasihatmu itu benar-benar terjadi, aku kini telah kehilangan semuanya. Muridku pun telah dirampasnya pula, sedang muridku yang lain telah dibunuhnya. Empu Gandring, kini Mahisa Agni itu pun telah diambilnya untuk kepentingan yang kotor. Mereka ingin mempergunakan Mahisa Agni untuk melakukan pemerasan. Adalah Kuda Sempana yang memberitahukan kepada mereka, kedua iblis dari Kemundungan itu, bahwa bakal permaisuri Tunggul Ametung sangat mengasihi kakaknya, Mahisa Agni”.

“Bohong” potong Kebo Sindet, “jangan mempercayainya”.

“Empu Gandring” berkata Empu Sada pula, “kau telah mendengar penjelasan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dan kau telah mendengar penjelasanku pula. Kemudian ter serah kepadamu manakah yang menurut pertimbanganmu dapat kau percaya”.

“Hebat” teriak Wong Sarimpat, “pembelaanmu hebat sekali Empu. Tetapi sayang bahwa hanya anak-anak kecil sajalah yang mempercayainya. Tetapi sudah tentu bukan Empu Gandring dan kami berdua yang sudah kenyang makan garam”.

Empu Sada sama sekali tidak menanggapi teriakan Wong Sarimpat. Ia tidak ingin terlampau banyak berbicara. Tetapi ia yakin bahwa Empu Gandring dapat melihat keadaan dengan wajar, sebab orang itu dahulu pernah mengatakan kepadanya sedikit tentang Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Karena itu maka Empu Sada membiarkan saja Wong Sarimpat berteriak-teriak terus, “Empu Gandring apa lagi yang kita tunggu? Marilah kita selesaikan saja gurunya, kemudian marilah kita susul muridnya kepadepokan Empu Sada. Mahisa Agni itu pasti dibawanya kesana untuk diperlakukannya dengan biadab” Wong Sarimpat berhenti sejenak. Tetapi karena Empu Gandring masih belum menjawab, maka ia berkata selanjutnya, “atau kau ingin mendahului kami menyelamatkan kemenakanmu itu. Sementara kami menyelesaikan orang ini? Nanti sesudah pekerjaan ini selesai, maka kami pun akan menyusulmu ke Padepokan Empu Sada itu”.

Ketika Wong Sarimpat terdiam, maka kesenyapan segera menerkam suasana. Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Empu Sada menjadi tegang menunggu sikap Empu Gandring. Keputusan orang itu akan menentukan keadaan. Apabila Empu Gandring berpihak kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, bersama-sama membinasakan Empu Sada, maka kemudian ia pun pasti akan binasa pula ditangan kedua iblis itu. Tetapi kalau ia berpihak kepada Empu Sada, maka keadaannya akan berbeda.

Tetnyata perhitungan Empu Gandring tidak jauh berbeda dengan perhitungan Empu Sada. Kalau ia berpihak kepada Empu Sada, maka seandainya ia masih menjumpai persoalan dengan orang itu, maka kedudukan mereka pasti akan seimbang. Bahkan mungkin tiga hari, seminggu dan bahkan setahun, mereka tidak akan dapat menentukan siapakah yang akan menang dan akan kalah. Mungkin Empu Gandring mempunyai beberapa kelebihan dari Empu Sada, tetapi dalam perkelahian terbuka, maka kelebihan yang hanya selapis itu tidak akan banyak berpengaruh. Apalagi melihat cara Empu Sada berkelahi saat ini. Meloncat-loncat, berlari-lari bersembunyi dan melingkari pepohonan yang daun-daunnya menjadi berguguran. Karena itu maka Empu Gandring membulatkan tekadnya. Ia memilih berpihak kepada Empu Sada. Pengenalannya kepada mereka, yang sedang berkelahi itu telah mendorongnya untuk mengambil keputusan itu.

Dalam ketegangan itu Empu Gandring menggerakkan kudanya beberapa langkah maju. Keris raksasanya ternyata masih saja berada di dalam genggamannya. Sejenak ia mengawasi ketiga orang yang tegang mematung.

Akhirnya terdengarlah suaranya membelah kesenyapan, “Empu Sada, aku berpihak kepadamu. Meskipun setelah pertempuran ini selesai, entah sehari, atau seminggu, aku masih harus berurusan dengan kau”.

“Baik Empu” sahut Empu Sada, “aku terima syaratmu. Ternyata kau cukup bijaksana menentukan pilihan”.

“Persetan kalian” tiba-tiba Kebo Sindet berteriak nyaring. Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, kudanya meluncur dengan cepatnya menyerang Empu Gandring. Untunglah bahwa selama ini Empu Gandring tidak meninggalkan kewaspadaan, sehingga ketika golok iblis itu mematuknya, maka Empu Gandring pun segera menangkisnya dengan keris raksasanya.

“Hem” Empu Gandring menggeram, “kau segera mulai Kebo Sindet. Baiklah, aku memang ingin segera menyelesaikan persoalan ini”.

Kebo Sindet tidak mcnjawab. Kudanya segera berputar untuk melakukan serangan sekali lagi.

Demikianlah maka Kebo Sindet dan Empu Gandring itu segera terlibat dalam perkelahian yang seru. Masing-masing adalah orang-orang yang pilih tanding. Meskipun Empu Gandring tidak setangkas Kebo Sindet bermain-main dengan kuda, tetapi ketangkasannya menggerakkan senjata dapat mengimbangi kekurangannya, sehingga perkelahian itu pun menjadi seimbang.

Keduanya sambar menyambar dengan dahsyatnya. Senjata-senjata mereka terayun-ayun dan berputaran. Seolah-olah di langit telah berterbangan seribu macam senjata dari kedua jenis senjata itu. Keris-keris raksasa dan golok-golok yang berkilat-kilat.

Empu Sada masih saja berdiri di sisi sebuah parit yang kering. Perlahan-lahan ia melangkah maju sambil menarik nafas dalam-dalam. Kini ia mempunyai harapan lagi untuk mempertahankan hidupnya dan menolong Mahisa Agni. Dengan penuh minat diperhatikannya perkelahian yang dahsyat antara Empu Gandring dan Kebo Sindet yang masing-masing berada di punggung kuda. Seperti sedang melihat sepasang burung garuda yang bertempur di udara.

Di tempat lain, Wong Sarimpat pun memandang perkelahian itu dengan penuh gairah. Tanpa disadarinya sekali-sekali tangannya menyentuh-nyentuh luka di pangkal lengannya. Meskipun luka itu sudah tidak berdarah lagi, tetapi masih juga terasa, bahwa luka itu agak mengganggunya. Namun agaknya Wong Sarimpat tidak mempunyai kesempatan untuk memperhatikan luka itu. Ketika ia berpaling dilihatnya Empu Sada berjalan perlahan-lahan ke arahnya sambil berkata, “Wong Sarimpat, kini keadaan menjadi berubah. Nah, sekarang kau tidak perlu mengumpat-umpat lagi. Aku tidak akan berlari-lari, meloncat-loncat dan bersembunyi seperti seekor kera kepanasan”.

“Persetan” sahut Wong Sarimpat, “kau telah berhasil menipu pande keris itu”.

“He” Empu Sada mengerutkan keningnya, “apakah aku menipunya? Ah, jangan begitu Wong Sarimpat. Kau tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kau masih juga berkata aku menipunya”.

Wong Sarimpat menggeram. Digerakkannya goloknya dan ia pun maju selangkah demi selangkah menyongsong Empu Sada yang mendekatinya.

Keadaan menjadi semakin tegang, sejalan dengan langkah-langkah mereka, Empu Sada dan Wong Sarimpat, yang jaraknya menjadi semakin dekat. Kini senjata-senjata mereka telah siap untuk dipergunakan. Sebuah golok besar di tangan Wong Sarimpat dan Empu Sada masih tetap menggenggam potongan tongkatnya di tangan kanan dan pedang Kuda Sempana di tangan kirinya.

Ketika jarak mereka sudah tidak lebih dari ampat langkah lagi, tanpa berjanji, serentak mereka pun berlari. Sejenak mereka saling berpandangan. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan, tetapi lewat sorot mata mereka melontarlah segala macam kebencian, dendam, marah bercampur-baur.

Tetapi waktu itu tidak terlampau lama. Sesaat kemudian dengan sebuah teriakan yang nyaring Wong Sarimpat meloncat menyerang. Seperti petir menyambar di langit, goloknya menyambar lawannya. Tetapi Empu Sada telah siap menanti saat yang demikian. Itulah sebabnya maka ia sama sekali tidak terkejut. Segera ia menyesuaikan dirinya, sehingga dengan kecepatan yang sama Empu Sada membebaskan dirinya dari serangan itu. Tetapi sekejap kemudian, Empu Sada lah yang berganti menyerang. Kedua senjatanya berderak susul-menyusul, demikian cepatnya bagaikan berpuluh-puluh ujung scnjata yang ditaburkan bersama-sama.

Mengalami serangan itu, sekali lagi Wong Sarimpat berteriak nyaring. Ia terpaksa meloncat surut beberapa langkah. Tetapi sesaat kemudian mereka telah terlibat kembali dalam pertarungan yang sengit. Pertarungan dari dua orang yang menyimpan dendam sedalam lautan di dalam dada masing-masing. Dengan demikian maka pertarungan itu menjadi pertarungan yang sangat dahsyat. Masing-masing sama sekali sudah kehilangan pengendalian diri. Yang ada di dalam hati mereka tinggallah nafsu untuk membunuh lawannya, dengan jalan dan cara apa pun juga. Sehingga perkelahian itu segera menjadi keras dan kasar, seperti perkelahian dua ekor harimau yang paling buas di dalam rimba yang sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan peradaban.

Di sisi yang lain dua ekor kuda masih saling menyambar. Dengan gelora di dalam dada yang tidak kalah serunya, Empu Gandring dan Kebo Sindet pun bertempur mati-matian. Senjata-senjata mereka yang terayun-ayun di udara serta benturan-benturan yang terjadi tak ubahnya seperti lidah api yang berlaga di langit. Percikan bunga api yang terjadi dalam setiap benturan senjata, seperti bunga-bunga yang membara yang ditaburkan dari langit.

Sementara itu bulan yang sepotong masih bergayutan di langit. Sinarnya yang kckuning-kuningan menjadi semakin kabur, di saput oleh warna kemerah-merahan yang memancar dari timur. Angin yang silir berhembus lembut, menyentuh dedaunan yang telah menjadi kekuning-kuningan. Gemerisik suaranya seolah-olah membawa kabar bahwa sebentar lagi fajar akan segera datang.

Ketika warna merah di punggung bukit di ujung timur menjadi semakin nyata, maka satu-satu bintang pun mencari tempat persembunyiannya, supaya wajahnya yang cantik tidak menjadi terbakar oleh terik matahari yang ganas.

Ternyata mereka yang sedang bertempur pun masih juga mempunyai kesempatan menyadari bahwa fajar hampir menyingsing. Tetapi justru karena itu, maka mereka menjadi gelisah. Apabila hari menjadi pagi, maka ada kemungkinan, seseorang melihat perkelahian ditengah-tengah padang yang kering itu. Apabila demikian, maka keadaan akan menjadi berbahaya. Terutama bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Apalagi, apabila anak muda yang aneh, yang berpakaian prajurit Tumapel itu datang pula ke arena ini.

Karena itu, maka baik Kebo Sindet maupun Wong Sarimpat, kemudian bertempur semakin bernafsu. Mereka ingin segera menyelesaikan perkelahian itu. Namun lawan-lawan mereka pun berbuat serupa. Sehingga dengan demikian, maka perkelahian itu seolah-olah hampir tidak ada perubahan apapun. Perkelahian itu masih tetap seimbang dan dalam keadaan yang sama seperti perkelahian itu baru di mulai.
Sekali-kali terbersit ingatan di kepala Kebo Sindet untuk menghindar saja dari arena, tetapi ia tidak akan dapat meninggalkan adiknya bertempur sendiri. Karena itu maka tak habis-habisnya ia mengumpati Empu Sada yang licik, yang ternyata telah menyerang kuda-kuda mereka sehingga kini Wong Sarimpat terpaksa bertempur di atas tanah.

Seandainya Kebo Sindet berusaha membawa Wong Sarimpat bersamanya di atas satu punggung kuda, maka kesempatan itu sangat berbahaya bagi adiknya. Pada saat adiknya meloncat, maka Empu Gandring dan Empu Sada dapat menyerang bersama, sehingga sangat sulitlah untuk menghindarkan diri.

Karena itu, maka tidak ada jalan lain daripada berkelahi terus. Bahkan Kebo Sindet itu menjadi semakin garang dan semakin bernafsu, seperti Wong Sarimpat. Bahkan Wong Sarimpat itu telah hampir sampai kepuncak kemarahannya. Ia menjadi semakin muak melihat sikap Empu Sada yang di dalam pandangan matanya menjadi semakin liar. Namun sebaliknya Empu Sada pun menjadi semakin mendendam Wong Sarimpat yang di dalam pandangan matanya menjadi semakin buas.

Sebenarnyalah, bahwa kedua orang itu telah sama-sama kehilangan nilai-nilai tata kesopanan dalam pertarungan tanding. Mereka berbuat apa saja. Bahkan Wong Sarimpat yang sedang mata gelap telah berusaha menaburkan segenggarn pasir ke dalam mata Empu Sada. Untunglah Empu Sada dapat menghindar dengan cepat, dengan meloncat jauh-jauh ke belakang. Namun Empu Sada pun telah memukul pula dengan tongkatnya seonggok batu karang yang diarahkan kepada lawannya. Tetapi Wong Sarimpat pun dengan lincah dapat pula menghindari. Meskipun karena itu, maka ia mengumpat-umpat dengan bahasa yang paling kotor yang pernah dikenalnya.

Akhirnya Wong Sarimpat itu tidak dapat bersabar lagi. Ia merasa wajib untuk segera memusnakan lawannya. Kalau ia tidak dapat membinasakannya dengan wajar, maka ia harus mempergunakan tenaga simpanannya. Aji kebanggannya seperti yang dimiliki oleh kakaknya, aji Bajang.

Dan Wong Sarimpat merasa, bahwa kini saatnya telah tiba baginya untuk mempergunakan aji itu. Meskipun ia tahu, bahwa Empu Sada pun memiliki pula kekuatan yang akan dapat mengimbangi aji Bajangnya, namun dengan demikian, maka persoalannya akan lebih cepat selesai. Yang hancur akan lebih cepat hancur dan yang menang akan lebih cepat melihat kemenangannya. Namun Wong Sarimpat itu pun mengerti juga, bahwa masih ada kemungkinan-kemungkinan yang lain. Hancur bersama-sama atau aji-aji itu tidak berguna sama sekali. Apabila demikian, maka perkelahian itu akan berlangsung terus.

Mungkin sehari lagi, seminggu atau apabila salah seorang telah menjadi kelaparan.

Tetapi Wong Sarimpat tidak mau dirisaukan oleh seribu satu macam pertimbangan. Ia ingin mempergunakan Aji Bajangnya saat ini. Habis perkara.

Dengan demikian maka Wong Sarimpat itu segera mengambil jarak dari lawannya. Disilangkannya goloknya di muka dadanya. Dipusatkannya segenap kekuatan dan dihimpunnya menjadi kekuatan yang dahsyat. Kekuatan lahir dan batin yang didapatnya dengan segala macam jalan. Jalan yang hitam. Yang ditemuinya di bawah kelamnya pohon-pohon tua yang rimbun, di balik batu-batu yang besar dan di dalam gelapnya goa-goa yang lembab.

Empu Sada pun segera melihat apa yang sedang dihadapinya. Karena itu ia tidak boleh bermain-main lagi menghadapi sikap lawannya. Ia pun harus berbuat serupa pula. Menggerakkan segenap daya dan kekuatan yang ada padanya, memusatkannya dan kemudian menyalurkannya dalam wujud dan sifatnya yang dahsyat.

Demikianlah kini kedua-duanya telah berhadapan dalam puncak kemampuan. Wong Sarimpat telah siap melontarkan Aji Bajang lewat goloknya yang besar dan Empu Sada pun telah memusatkan Aji Kala Bama pada tangan kananya yang telah siap mengayunkan potongan tongkatnya. Kali ini ia mengharap bahwa tongkatnya yang telah patah dan menjadi pendek itu tidak akan terpatahkan lagi.

Waktu yang mereka perlukan ternyata tidak terlampau banyak. Segera mereka pun telah berada dalam puncak kesiagaan dalam ilmu tertinggi. Sekejap kemudian terdengar dua buah teriakan nyaring yang hampir berbareng meluncur dari mulut Wong Sarimpat dan Empu Sada. Dan keduanya pun segera berloncatan seperti tatit yang meloncat dan kemudian bersabung di langit.

Benturan yang terjadi benar-benar sebuah benturan yang dahsyat. Benturan antara Aji Bajang dan Kala Bama untuk yang kedua kalinya di malam itu, sesudah Empu Sada membentur Aji yang sama yang dilontarkan oleh Kebo Sindet.

Kali ini pun akibatnya tidak pula kalah dahsyatnya. Bahkan Kebo Sindet dan Empu Gandring yang sedang bertempur itu pun tertegun sejenak. Kuda-kuda mereka pun berhenti berlari-lari dan seolah-olah mereka pun ingin menyaksikan, apa yang akan terjadi sesudah benturan itu.

Ternyata Wong Sarimpat dan Empu Sada bersama-sama terdorong beberapa langkah surut. Mereka seakan-akan terlempar dan melambung di udara untuk sejenak kemudian terbanting jatuh di tanah. Namun demikian tubuh-tubuh mereka menyentuh tanah, maka mereka pun segera melenting bangkit berdiri, dan bersikap kembali menghadapi setiap kemungkinan.

Meskipun demikian terasa sesuatu pada tubuh mereka. Terasa tangan-tangan mereka menjadi nyeri karena tekanan senjata-senjata mereka pada saat benturan terjadi. Hanya tangan-tangan yang di lambari oleh kekuatan yang sedahsyat kekuatan yang berbenturan itu lah, yang masih akan mampu bertahan menggenggem senjata masing-masing. Apabila tangan-tangan itu adalah tangan-tangan wajar, maka jari-jarinya pasti akan patah berserakan di tanah, dan tulang-tulang lengannya akan hancur berkeping-keping. Tetapi tangan-tangan itu ternyata masih utuh meskipun terasa juga, genggamannya menjadi mengendor.

Empu Sada yang mempergunakan hanya sepotong tongkat, merasakan, bahwa tekanan ditangannya agak terlampau keras, meskipun senjatanya tidak terpatahkan lagi. Sedang Wong Sarimpat pun merasakan sesuatu yang tidak wajar pada pangkal lengannya yang terluka. Agaknya dalam benturan yang terjadi, oleh desakan kekuatan yang menghentak, maka luka itu mulai mengalirkan darah lagi.

“Setan alas” bentak Wong Sarimpat, “tangan ini agaknya akan mengganggu”.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat meraba bumbung kecil di dalam kantong ikat pinggangnya yang dibuatnya dari kulit. Ia masih mempunyai beberapa butir reramuan obat di sana. Tetapi Empu Sada yang melihatnya, tidak ingin memberinya kesempatan sama sekali. Orang itu telah benar-benar menjadi mata gelap, dendam, benci, muak dan segala macam perasaan, telah mendorongnya untuk berbuat dengan nafsu yang meluap-luap. Dengan cepat sekali lagi ia mempersiapkan Aji Kala Bama. Ia harus cepat menyerang sebelum Wong Sarimpat sempat menahan arus darah yang meleleh dari luka di pangkal lengannya itu.

Wong Sarimpat yang melihat sikap itu mengumpat keras-keras. Tetapi ia sadar, bahwa apabila ia terlambat menyambut. kekuatan itu, maka ia pun akan menjadi lumat. Karena itu maka niatnya untuk mengambil obat diurungkannya. Segera ia pun bersiap menyambut serangan yang bakal datang. Dan serangan itu kini dilakukan oleh Empu Sada. Bukan oleh dirinya.

Sekali lagi mereka berteriak nyaring. Sekali lagi mereka berloncatan sambil mengayunkan senjata-senjata mereka. Dan sekali lagi benturan yang sedahsyat semula itu terjadi.

Namun ternyata akibatnya lebih dahsyat dari pada benturan tang pertama. Dalam benturan ini, ternyata tangan-tangan mereka sudah tidak kuasa lagi mempertahankan senjata-senjata mereka tetap di tangan. Terasa betapa perasaan pedih dan nyeri menyengat tangan-tangan mereka, dan senjata-senjata mereka yang berbenturan itu pun meloncatlah bersama-sama dari tangan-tangan mereka. Meskipun segera mereka bangkit kembali setelah terbanting jatuh, dan kemudian berdiri berhadapan lagi, tetapi mereka ternyata sudah tidak bersenjata sama sekali.

Empu Sada pun baru menyadari, bahwa Pedang di tangan kirinya agaknya telah terlepas pula dari tangannya, pada saat-saat ia terlempar dan terbanting jatuh di tanah. Dengan demikian maka kini mereka berhadap-hadapan tanpa sehelai senjata pun. Yang ada pada mereka hanyalah anggauta badan mereka, tangan, kaki dan tubuh yang terdiri dari kulit, daging dan tulang belulang itu.

Tetapi ternyata bahwa nafsu kedua-duanya benar-benar tidak lagi dapat terkendali. Mereka benar-benar sudah tidak dapat berpikir lagi, apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Yang ada di dalam kepala mereka adalah nafsu untuk membunuh. Membunuh. Tidak ada yang lain.

Karena itu, maka seperti berjanji mereka pun segera mempersiapkan diri untuk melontarkan kembali kekuatan ilmu mereka yang tertinggi.

Empu Gandring dan Kebo Sindet, betapa kemarahan dan kebencian mereka pun membakar dada, namun mereka masih sempat menyaksikan perkelahian dua orang yang seakan-akan telah kehilangan diri pribadi. Seakan-akan mereka telah kepanjingan iblis yang sedang berlaga di dalam tubuh-tubuh mereka.

Karena itu ketika Kebo Sindet melihat Wong Sarimpat dan Empu Sada mempersiapkan kekuatan ilmu tertinggi mereka, maka hatinya pun berdesir. Tanpa dikehendakinya ia berteriak, “Wong Sarimpat, hati-hati dengan luka ditanganmu. Lebih baik kau memungut senjatamu”.

Tetapi Wong Sarimpat tidak sempat berbuat sesuatu. Bahkan kata-kata kakaknya itu seakan-akan tidak didengarnya. Orang itu sudah tidak lagi sempat berpikir tentang luka-lukanya yang akan dapat menjadi berbahaya baginya. Sebenarnya dalam keadaannya Wong Sarimpat lebih baik berusaha membenturkan senjatanya daripada tubuhnya. Lebih baik pula baginya, bertempur tanpa benturan-benturan meskipun setiap ayunan dilambari oleh Aji Pamungkas masing-masing.

Kebo Sindet tidak dapat berbuat apa-apa lagi ketika ia melibat kedua orang yang seolah-olah telah menjadi gila itu siap untuk saling menerkam. Ketika ia menggerakkan kudanya, maka Empu Gandring pun telah bergerak pula. Dengan demikian maka Kebo Sindet dapat menyadari keadaannya, bahwa Empu Gandring tidak akan dapat ditinggalkannya, walaupun hanya sejenak.

Maka yang dapat dilakukan hanyalah melihat apa yang bakal terjadi dengan hati yang berdebar-debar. Dua ekor binatang buas yang kelaparan sedang berlaga memperebutkan sepotong tulang. Tak akan ada kekuatan yang dapat memisahkannya, selain maut telah merenggut jiwa mereka atau salah satu dari padanya.

Sejenak kemudian Empu Gandring dan Kebo Sindet menahan nafasnya. Seolah-olah mereka sendiri terseret pula di dalam loncatan yang garang dan kemudian ikut pula dalam benturan yang segera terjadi.

Tetapi Wong Sarimpat ternyata bukan seorang yang benar telah menjadi gila. Ia menyadari keadaannya. Keadaan luka di pangkal lengannya. Karena itu, maka saat mereka telah saling meloncat dan mengayunkan tangan-tangan mereka, maka Empu Sada melihat, bahwa tangan Wong Sarimpat itu sengaja tidak membentur tangannya, tetapi langsung mengarah ke dadanya.

Empu Sada tergagap sesaat menghadapi keadaan itu. Tetapi keadaan sudah berada di puncak yang paling gawat. Empu Sada sudah tidak dapat berbuat apapun lagi. Ia tidak mau hanya sekedar membentur tangan Wong Sarimpat yang mengarah kedadanya, sebab dengan demikian maka geraknya akan tidak seimbang. Ia berada pada keadaan sekedar bertahan karena perimbangan gerak yang menguntungkan Wong Sarimpat. Karena itu, maka Empu Sada yang sedang menjadi kalap itu pun tidak mau terlampau banyak berpikir dan menimbang, la tidak lagi memperhitungkan tangan dan gerak Wong Sarimpat. Letak tangan Wong Sarimpat yang mengarah ke dadanya itu memberinya kesempatan yang serupa. Dada Wong Sarimpat pun tidak terlindung karenanya. Karena itu, maka Empu Sada itu pun memusatkan perhatiannya ke arah dada lawannya. Tak ada lagi yang nampak di matanya selain dada Wong Sarimpat. Dada yang selama ini dimuati oleh segala macam nafsu dan kehendak yang hitam lekam, sifat dan watak yang kotor dan liar.

Benturan yang terjadi kemudian adalah benturan yang mengerikan. Terdengar mereka berdua berteriak nyaring hampir bersamaan untuk mentuntaskan segenap kekuatan yang tersimpan di dalam puncak ilmu masing-masing. Tetapi sejenak kemudian di susul pula oleh dua buah teriakan yang mengerikan ketika tangan-tangan itu telah menghantam dada lawan masing-masing.

Empu Gandring dan Kebo Sindet yang melihat benturan itu menahan nafas niasing-masing. Benturan itu benar-benara sebuah benturan yang paling gila yang pernah mereka lihat. Masing-masing sengaja menghindari sentuhan tangan, tetapi masing-masing langsung mengarah dan menghantam dada.

Kedua orang itu terlempar jauh-jauh ke belakang. Terdengar tubuh-tubuh mereka terbanting jatuh di tanah seperti seonggok pasir.

Demikian keduanya jatuh di tanah, maka keduanya pun sama sekali sudah tidak bergerak-gerak lagi. Yang terdengar adalah sebuah teriakan yang mengerikan meloncat dari sela-sela bibir Wong Sarimpat, umpatan-umpatan yang paling kotor yang pernah di dengar oleh telinga.

“Wong Sarimpat” Kebo Sindet mcncoba memanggilnya.

Tetapi Wong Sarimpat sudah tidak menjawab lagi. Dan teriak-teriakannya pun telah terdiam pula. Yang terdengar kemudian adalah sebuah keluhan yang tertahan-tahan. Perlahan-lahan sekali.

“Empu Gandring” berkata Kebo Sindet, “apakah kau dapat membiarkan aku melihat adikku sejenak?”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bukan orang yang berhati batu. Ketika ia melihat keadaan itu, maka ia tidak dapat berkeras hati menolak permintaannya. Maka jawabnya, “Aku tidak berkeberatan Sindet. Aku pun ingin melihat Empu Sada itu”.

Kebo Sindet menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya Empu Gandring scolah-olah ingin meyakinkan jawaban orang itu sehingga Empu Gandring mengulangi, “Lihatlah adikmu, aku akan melihat apa yang terjadi dengan Empu Sada itu”.

“Baiklah. Kesempatan bagimu untuk membunuhnya dengan mudah supaya ia tidak mengganggumu lagi. Kemudian kau dapat mengejar muridnya ke Padepokannya. Apakah kau belum pernah melihat Padepokan Empu Sada?”

Empu Gandring tidak menjawab. Tak terlintas di dalam kepalanya untuk berbuat selicik itu. Empu Sada yang sudah berbaring diam tidak berdaya sama sekali itu pasti tidak akan dapat melawan seandainya ia membunuhnya. Apalagi dengan kerisnya itu, bahkan dengan memijat hidungnya saja, maka lama-lama orang itu akan terputus nafasnya.

Tetapi perbuatan itu adalah perbuatan yang tercela. Apa lagi bagi seorang Empu seperti Empu Gandring. Karena itu betapapun besarnya kebencian, kemarahan dan beribu macam tuntutan di dalam hati, namun tidak sepantasnya ia berbuat demikian.

Kebo Sindet itu pun kemudian perlahan-lahan mendekati adiknya. Dengan wajah yang tegang ia meloncat turun dari kudanya. Tampaklah pada wajah yang beku itu beberapa kerut merut melintang di dahinya. Dan terdengarlah ia menggeram perlahan-lahan.

Ketika ia bcrjongkok maka dilihatnya jelas, bahwa dari luka di pangkal lengan Wong Sarimpat itu, darahnya seakan-akan terperas habis. Darah yang merah segar.

“Terlambat” desis Kebo Sindet. Tak ada gunanya lagi ia mencoba menaburkan obat pada luka itu uutuk menahan arus darah yang mengalir. Sebab nafas Wong Sarimpat hampir-hampir sudah tidak mengalir sama sekali. Ketika Kebo Sindet meletakkan kupingnya di dada adiknya, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

Tetapi Kebo Sindet itu tiba-tiba menggeram. Sekali loncat ia telah berdiri. Digenggamnya goloknya erat-erat sambil berkata, “Empu Gandring. Apakah Empu Sada itu masih hidup?”

Empu Gandring yang sedang berjongkok itu pun berdiri pula. Ia harus berhati-hati melihat sikap Kebo Sindet yang seolah-olah menjadi gila.

“Bagaimana he?” desak Kebo Sindet.

“Orang ini masih hidup” sahut Empu Gandring.

“Empu Gandring, marilah kita lupakan persoalan kita. Tetapi kalau kau tidak mau membunuh setan tua itu, biarlah aku yang melakukannya. Adikku Wong Sarimpat sudah tidak dapat lagi diharapkan hidup. Nafasnya telah hampir putus dan darahnya sudah terlampau banyak yang memancar dari lukanya. Apalagi dadanya telah mengalami luka yang cukup parah pula.

“Apa yang akan kau lakukan terhadap orang ini?” bertanya Empu Gandring.

“Orang itu akan aku bawa ke Padepokanku”.

“Untuk apa?”

“Itu adalah urusanku Empu”.

Empu Gandring terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Kebo Sindet yang berdiri beberapa langkah agak jauh dari padanya. Tetapi ia tidak melihat wajah itu dengan jelas. Yang tampak dalam kesamaran sinar bulan sepotong hanyalah sikapnya yang mengerikan.

Tiba-tiba Empu Gandring itu berkata perlahan-lahan, “Tidak Kebo Sindet. Orang ini adalah tawananku. Aku yang akan mengurus dan menyelesaikannya”.

“Siapa bilang” teriak Kebo Sindet tiba-tiba, “ia pingsan karena tangan adikku. Adikkulah yang berhak atasnya. Karena adikku akan mati, maka akulah yang berhak berbuat apa saja atas setan tua itu untuk membalas sakit hatiku karena ia telah membunuh adikku.

“Tunggulah sampai ia sembuh kembali. Kelak kau akan dapat menemuinya dan membuat perhitungan apabila orang ini akan dapat hidup karena luka-luka yang pernah dideritanya kini.

“Aku tidak sabar menunggu waktu itu. Dan apakah kau kehilangan sesuatu apabila ia aku bawa pergi? Kau akan menjadi puas pula. Kau tidak akan terpecik dosanya, tetapi kau pun akan menemukan mayatnya kelak”.

Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Terbayang di dalam rongga matanya perbuatan Kebo Sindet yang sangat mengerikan.

“Jangan keras kepala Empu” bentak Kebo Sindet, “apakah permusuhan kita akan kita teruskan”.

“Kebo Sindet” berkata Empu Gandring, “aku membenci Empu Sada sampai ke ujung ubun-ubunku, karena orang ini adalah orang yang mencelakai kemenakanku. Orang ini terlampau memanjakan muridnya, sehingga apa saja yang dikehendaki oleh Kuda Sempana itu dilakukannya. Sampai berbuat nista sekalipun, menghubungi orang-orang seperti kau dan adikmu.

“Kau salah sangka. Ia sama sekali bukan karena memanjakan muridnya, tetapi karena Kuda Sempana itu menjanjikan upah yang besar kepadanya, dan kepada kami berdua”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya, tetapi kemudian menjawab, “Apalagi demikian, Ia agaknya telah berusaha pula menjual kemanakanku. Karena itu aku mendendamnya”.

“Nah, apalagi yang kau sayangkan pada tubuh dan nyawa yang hampir terloncat dari ubun-ubun itu?”

“Tetapi bukan seperti itu caraku untuk membalas. Aku ingin merawatnya, dan kemudian membuat perhitungan di hari-hari mendatang dengan orang ini”.

“Aku pun akan berbuat demikian”.

“Aku sangsi, bukan begitu kebiasaan dan sifatmu. Apalagi melihat pancaran dendam pada sikapmu kali ini. Kau mungkin akan mencoba membuatnya sadar dan sekedar memperingan luka-lukanya. Tetapi kemudian kau akan membunuhnya dengan cara yang kau senangi. Atau kau pergunakan untuk kepentingan-kepentingan lain, karena muridnya telah melarikan Mahisa Agni. Tetapi yang paling mungkin kau lakukan, kau akan membunuhnya dengan perlahan-lahan.

Terdengar Kebo Sindet menggeram, seperti laku seekor serigala melihat bangkai. Namun Empu Gandring pun telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Kerisnya masih saja berada di dalam genggamannya, dan setiap saat siap dipergunakannya.

Tetapi ternyata Kebo Sindet tidak segera menyerangnya. Orang itu masih saja berdiri disamping tubuh adiknya yang diam tidak bergerak. Bahkan nafasnya pun semakin lama menjadi semakin tidak teratur.

Sekali lagi Kebo Sindet berpaling memandangi tubuh adiknya yang terbujur membeku di tanah. Tiba-tiba ia berteriak, “Empu Gandring. Lihat. Adikku kini telah mati. Apakah kau tidak juga memberikan Empu Sada itu”.

Empu Gandring tidak segera menjawab. Ia mencoba memandangi tubuh Wong Sarimpat. Tetapi dari tempatnya berdiri, ia sama sekali tidak dapat melihat apakah Wong Sarimpat itu telah mati atau belum.

Namun sebenarnya Wong Sarimpat telah melepaskan nafasnya yang terakhir. Darah yang terlampau banyak mengalir dari lukanya, serta bekas tangan Empu Sada yang melepaskan aji Kala Bama telah merusakkan dadanya pula, sehingga karena kehabisan darah, maka daya tahan iblis dari Kemundungan itu menjadi jauh susut. Akhirnya ia tidak dapat mempertahankan hidupnya lagi. Matilah ia di samping kaki kakaknya yang berdiri tegak bagaikan patung. Namun dada orang itu bergelora sedahsyat lautan yang sedang dilanda taufan.

“Bagaimana Empu?” desak Kebo Sindet.

Alangkah marahnya Kebo Sindet ketika ia melihat Empu Gandring menggeleng sambil berkata, “Jangan Sindet. Akulah yang akan mengurus orang ini. Sembuh atau tidak sembuh”.

“Setan alas” teriak .Kebo Sindet, “aku telah kehilangan adikku yang selama ini telah hidup bersamaku bertahun-tahun. Kematiannya pasti aku bela dengan mengorbankan nyawa pula. Kalau kau tidak mau menyerahkan Empu Sada, maka kaulah yang harus aku bunuh untuk mengawani adikku dalam perjalanannya kealam langgeng. Kaulah yang harus menanggung segala dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat oleh adikku, karena kau akan menjadi budaknya di sepanjang perjalanannya itu”.

“He?” Empu Gandring mengerutkan keningnya, “jadi kau dapat juga mengucapkan kata-kata dosa dan kesalahan?”

“Persetan” Kebo Sindet menjadi semakin marah, “setidak-tidaknya Empu, marilah kita mati bersama-sama, seperti Wong Sarimpat sampyuh mati bersama lawannya”.

“Kalau memang itu yang kau kehendaki Kebo Sindet, aku tidak akan selak. Adalah menjadi kewajibanku untuk menanggulangi setiap tantangan serupa itu”.

Kebo Sindet terdiam sejenak. Tetapi ia masih saja menggeram mengerikan. Bahkan kemudian terdengar giginya gemeretak seperti orang kedinginan terendam di dalam air. Tampaklah sikapnya menjadi semakin buas dan liar.

Tetapi Empu Gandring pun telah bersiap sepenuhnya. Setiap saat iblis itu menerkamnya, maka ia pun akan melawan dengan segenap kemampuan, bahkan seandainya Kebo Sindet itu sekaligus melepaskan aji Bajangnya. Namun sudah tentu kalau Empu Gandring tidak ingin melakukan benturan yang bodoh seperti yang terjadi atas Empu Sada dan Wong Sarimpat, yang kepalanya sedang terbakar oleh nafsu yang menyala-nyala, sehingga mereka telah melupakan segala perhitungan yang mungkin dapat mereka lakukan.

Beberapa saat Empu Gandring menunggu, tetapi Kebo Sindet masih berdiri saja disamping mayat adiknya. Sebenarnya orang itu pun sedang dilanda oleh keragu-raguan. Ia mencoba memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi ia tidak melihat manfaat apa pun apabila ia harus berkelahi melawan Empu Gandring. Hasil setinggi-tinginya yang dapat dicapainya adalah mati sampyuh seperti adiknya itu. Dan ia masih belum ingin mati. Ia masih ingin berbuat sesuatu atas Mahisa Agni yang sedang dilarikan oleh Kuda Sempana.

Apalagi kemudian Kebo Sindet itu lamat-lamat mendengar derap kuda dikejauhan. Tanpa dikehendakinya diangkatnya wajahnya memandang langit, seolah-olah derap kaki-kaki kuda itu menyelusuri warna-warna merah yang telah memancar di langit.

“Anak setan itu datang lagi” gumamnya.

Empu Gandring pun mendengar derap kaki-kaki kuda itu. Dan ia pun menyangka bahwa yang datang itu pasti Ken Arok.

“Empu Gandring” berkata Kebo Sindet kemudian, “kalau kau mendengar juga derap kaki-kaki kuda itu, maka anak iblis itulah yang pasti akan datang. Sayang, aku tidak punya waktu untuk menyambutnya. Tetapi meskipun demikian, sampaikan kepadanya, bahwa aku kagum melihat ketahanan tubuhnya yang luar biasa. Kalau anak itu akan tetap hidup, maka ia benar-benar akan menjadi hantu yang menakutkan bagi seluruh Tumapel. Tidak saja Tumapel, tetapi seluruh Kerajaan Kediri akan mengaguminya”.

Empu Gandring tidak menyahut. Ia pun sebenarnya menjadi sangat kagum melihat ketahanan tubuh Ken Arok, yang tanpa kekuatan ilmu apa pun mampu menyelamatkan diri dari sentuhan aji Bajang.

“Sekarang aku pergi Empu” berkata Kebo Sindet, “tidak ada gunanya aku melayanimu kali ini. Besok pada saatnya aku akan menjumpaimu atau Empu Sada itu, untuk membuat perhitungan dan menuntut hutangmu yang kali ini belum kau lunasi”.

Empu Gandring masih juga berdiam diri. Namun dibiarkannya ketika Kebo Sindet itu mengangkat mayat adiknya dan menyangkutkannya di punggung kuda. Kuda itu adalah kuda milik Empu Sada.

“Selamat tinggal Empu” desis Kebo Sindet sambil meloncat ke atas punggung kuda. Sesaat kemudian kuda itu pun meloncat meninggalkan Empu Gandring yang masih berdiri tegak seperti patung.

Sejenak Empu Gandring dilanda oleh keragu-raguan. Apakah ia akan mengejar Kebo Sindet, atau ia mempunyai kepentingm dengan Empu Sada. Empu Gandring itu tidak tahu benar, kemana sebenarnya Mahisa Agni dibawa. Tetapi menilik bahwa yang membawa itu adalah Kuda Sempana, murid Empu Sada, maka ia akan dapat menanyakannya kepada orang yang sedang pingsan itu.

Karena itu maka niatnya untuk mengejar Kebo Sindet diurungkannya. Empu Gandring mengharap bahwa ia akan mendapat banyak keterangan dari Empu Sada tentang Mahisa Agni.

Maka Empu Gandring itu pun kembali berlutut di samping Empu Sada. Dicobanya untuk mengendorkan segenap urat nadinya. Menggerakkan tangannya, dan memijit-mijit dadanya perlahan-lahan. Karena Empu Gandring tahu, bahwa dada itu sebenarnya telah terluka di dalam.

Tetapi agaknya luka Empu Sada benar-benar parah. Meskipun denyut nadinya serta detak jantungnya masih terasa, tetapi tubuhnya tampak terlampau lemah, dan matanya yang terpejam sama sekali tidak bergetar.

“Mudah-mudahan aku berhasil” desis Empu Gandring, “aku harus mendapat keterangan tentang Mahisa Agni”.

Kemudian oleh Empu Gandring diambilnya sebulir obat reramuan dedaunan yang akan dapat memberikan kesegaran kepada orang yang sedang mengalami luka di dalam semacam Empu Sada. Tetapi karena keadaan Empu Sada maka Empu Gandring agak menjadi bingung, bagaimana memasukkan obat itu supaya dapat di telan oleh Empu Sada.

“Tak ada jalan lain” desisnya, lalu dimasukkan saja obat itu ke dalam mulut Empu Sada, dengan harapan bahwa obat itu akan huncur dan meskipun sedikit-sedikit dan sangat perlahan-lahan, maka larutan obat itu akan tertelan juga.

Ternyata usaha itu berhasil betapapun lambannya. Sementara itu suara derap kuda dikejauhan menjadi semakin dekat.

Ketika kuda itu berhenti tepat di belakang Empu Gandring, maka Empu Sada telah mulai bergerak-gerak. Sehingga Empu Gandring itu pun kemudian meletakkannya di tanah, dan perlahan-lahan ia berdiri.

“Siapa Empu?” bertanya orang berkuda yang tidak lain adalah Ken Arok, sambil meloncat turun.

“Empu Sada”.

“Empu Sada?” Ken Arok menjadi agak terkejut. Orang itu sama sekali tidak tampak di Panawijen. Yang dilihatnya hanyalah dua orang yang buas dan liar, yang disebut bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Sambil menunjuk kepada bekas-bekas pertempuran Empu Gandring berkata, “disini baru saja terjadi sebuah permainan yang membingungkan”.

“Kenapa Empu?”

“Wong Sarimpat telah terbunuh”.

“Empu berhasil membunuhnya?”

Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak, bukan aku”.

“Siapa yang telah melakukannya?”

“Orang ini” sahut Empu Gandring sambil menunjuk ke arah Empu Sada.

“Empu Sada itu? Bagaimana hal itu dapat terjadi Empu?”

“Itulah yang membingungkan. Ketika aku sampai di sini, Empu Sada sedang bertempur melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berdua. Aku pun kemudian memihak kepada Empu Sada untuk kemudian memperkecil dan mempersempit persoalan. Ternyata Empu Sada dan Wong Sarimpat telah berbenturan”.

“Dimana Wong Sarimpat dan Kebo Sindet sekarang?”

“Mayat Wong Sarimpat telah dibawa oleh kakaknya, sedang Mahisa Agni dibawa oleh Kuda Sempana”.

“Hem” Ken Arok menggeram, “kemana kira-kira Kuda Sempana melarikan diri?”

“Mungkin aku dapat bertanya kepadanya”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia mendekati Empu Sada yang ternyata telah mulai bergerak-gerak pula.

“Apakah Empu memberinya obat?”

“Ya”.

“Biarlah ia mati pula seperti Wong Sarimpat”.

“Aku memerlukan keterangannya Ngger. Keterangan tentang Mahisa Agni. Mungkin ia akan bersedia memberitahukan kepadaku dalam keadaannya itu. Kalau tak ada harapan lagi baginya, maka aku rasa ia akan melapangkan dadanya, tanpa menyimpan rahasia lagi pada saat-saat menjelang kematiannya”.

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi kerut merut diwajahnya menyatakan kebenciannya kepada orang yang sedang terbaring diam itu.

Empu Gandring pun kemudian mendekati Empu Sada itu dan berjongkok lagi disampingnya. Dilihatnya Empu Sada itu membukakan matanya dan berdesis, “Siapakah kau?”

“Aku Empu Gandring”.

“Hem” desah orang itu, “ada kesegaran merayapi urat-urat darahku. Apakah kau memberi aku semacam obat yang dapat memberi aku kesegaran?”

“Ya”.

“Terima kasih”.

“Empu” berkata Empu Gandring kemudian, “aku ingin keteranganmu tentang Mahisa Agni. Dimanakah ia dilarikan oleh muridmu?”

“Oh” Empu Sada memejamkan matanya. Dikumpulkannya segenap ingatan yang ada padanya. Persoalan-persoalan yang sedang dihadapi pada saat-saat terakhir.

“Aku juga memerlukan anak itu” desisnya.

“Empu” berkata Empu Gandring, “kau sekarang berada dalam keadaan parah. Jangan mencoba mempertahankan anak muda itu. Apakah kau masih juga bernafsu untuk membunuhnya atau untuk keperluan apapun yang dapat memberi kepuasan kepada muridmu yang gila itu?”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia mengerutkan keningnya ketika ia mendengar Ken Arok berkata, “Hidup matimu berada ditangan Empu Gandring, Empu”.

Empu Sada yang lemah itu mencoba memandang wajah orang yang berkata kepadanya tentang hidup matinya. Tatapan matanya masih agak kabur dan cahaya yang kemerah-merahan masih belum mampu untuk memecahkan kesuraman pagi.

“Siapakah kau?” bertanya Empu Sada dengan suara lirih.

Yang menjawab adalah Empu Gandring, “seorang Pelayan Dalam dari Istana Tumapel. Namanya Ken Arok”.

“Oh” Empu Sada mencoba menggeliat, tetapi badannya masih terlampau lemah, “Angger Ken Arok. Bukankah kau kawan sepekerjaan dengan Kuda Sempana sewaktu muridku itu masih berada di Istana Tumapel?”

“Ya” sahut Ken Arok singkat.

“Kenapa pula kau disini Agger? Apakah kau mendapat tugas untuk mencari Kuda Sempana?”

“Ya” sahut Ken Arok sekenanya.

“Sayang” desah Empu Sada, “aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi terhadap anak itu”.

Empu Gandring mengerutkan keuingnya. Tetapi orang itu tidak segera dapat mengambil kesimpulan dari kata-kata Empu Sada, sehingga ia bertanya, “Apa maksudmu Empu. Apakah karena keadaanmu yang parah itu ataukah karena hal-hal yang lain maka kau tidak lagi mampu berbuat apa-apa lagi atas muridmu?”

Empu Sada tidak segera menjawab. Dicobanya untuk mengatur jalan pernafasannya, supaya luka di dalamnya tidak terasa sedemikian sakitnya.

Empu Gandring yang menyadari keadaan Empu Sada tidak mendesaknya. Ia tahu betul, bahwa penderitaan Empu Sada benar-benar parah. Tetapi, agaknya Ken Arok tidak begitu sabar menunggunya, sehingga ia mendesaknya, “Empu Sada. Kau jangan mengingkari tanggung jawab atas muridmu. Sekarang dimana Mahisa Agni itu dilarikan?”

Sekali lagi Empu Sada mencoba menggeliat. Tetapi sekali lagi ia menyeringai menahan sakit didadanya. Meskipun demikian ia berusaha menjawab, “Aku juga akan berusaha mendapatkan Mahisa Agni apabila aku berhasil memenangkan perjuangan ini. Perjuangan melawan luka di dalam diriku”.

“Jangan berkeras hati Empu” sahut Ken Arok. Namun sebelum Ken Arok melanjutkan kata-katanya, maka terasa Empu Gandring menggamitnya, sehingga karena itu maka Ken Arok pun terdiam.

“Empu Sada” berkata Empu Gandring dengan nada seorang yang telah dibekali oleh berbagai macam pengalaman yang mengendap, “apakah kau masih juga memerlukan Mahisa Agni?”

Empu Sada mencoba menganggukkan kepalanya perlahan-lahan, “Ya” desisnya, “aku tidak dapat membiarkannya berada di tangan orang lain”.

“Empu Sada” bertanya Empu Gandring kemudian, “apakah kau berselisih pendapat dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tentang tawananmu itu?”

“Ya” sahut Empu Sada perlahan-lahan.

“Dan karena itu kau bertempur melawan mereka?”

“Ya”.

“Sekarang Empu, bagaimanakah pendapatmu kalau aku juga memerlukan Mahisa Agni. Bukankah kau tahu bahwa ia adalah kemanakanku”.

“Ya, aku tahu Empu. Dan aku pun ingin pula berusaha mendapatkan kembali Mahisa Agni itu dari tangan Kebo Sindet”.

“Ah” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, “kau masih terlalu bernafsu. Keadaanmu tidak akan memungkinkan lagi untuk berbuat sesuatu”.

“Tetapi Mahisa Agni itu harus di rebut dari tangan Kebo Sindet”.

“Empu” berkata Empu Gandring, “bukankah yang membawa Mahisa Agni itu Kuda Sempana? Kenapa kau harus bersusah payah merebutnya dari tangan Kebo Sindet?”

“Aku tidak lagi dapat menguasai muridku. Mahisa Agni itu dilarikan oleh Kuda Sempana untuk kepentingan Kebo Sindet”.

Ken Arok menjadi tidak bersabar lagi mendengar jawaban Empu Sada. Tetapi ia tidak berani mendahului Empu Gandring yang tampaknya masih cukup sabar. Katanya, “Jangan begitu Empu. Aku tahu bahwa Kuda Sempana adalah muridmu. Aku tahu bahwa kau dan Kuda Sempana telah berusaha mati-matian untuk menangkap Mahisa Agni. Bahkan kemudian kalian telah minta bantuan kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bukan itu saja, ceritera tentang usahamu untuk menculik adik Mahisa Agni itu pun telah pernah aku dengar. Beruntunglah bahwa pada saat itu Panji Bojong Santi melihat apa yang sedang terjadi”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kenangan itu ternyata menusuk jantungnya jauh lebih parah dari pada sakit di dadanya. Ternyata bahwa jalan kembali yang akan dicarinya itu tidak selicin yang disangkanya. Teringatlah ia akan kata-kata Kuda Sempana, bahwa dunia yang jernih telah tertutup baginya. Dan kini, terasa, betapa jauh jalan yang harus ditempuhnya untuk dapat kembali ke dalam dunia yang bersih itu.

Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring berkata pula dengan tembung orang tua, “Empu, dalam keadaan seperti ini seharusnya Empu tidak lagi menambah beban yang akan dapat membuat jalanmu semakin gelap”.

Alangkah pedihnya kata-kata itu. Justru pada saat ia mencari jalan yang terang.

Sesaat kemudian maka dengan mengumpulkan segenap kekuatan dan keteguhan hatinya Empu Sada berkata, “Empu Gandring. Aku sependapat dengan kau, bahwa dalam keadaan ini seharusnya aku tidak perlu menambah jalanku menjadi semakin gelap. Justru karena itulah maka keadaanku menjadi demikian jeleknya. Bukan salahmu kalau kau tidak dapat mempercayai lagi kata-kataku. Dan bukan salahmu pula bahwa kau tetap berpendapat, bahwa Kuda Sempana adalah muridku yang selama ini aku manjakan. Tetapi persoalan yang sebenarnya mungkin tidak akan kau mengerti”.

Empu Sada berhenti sejenak. Dicobanya sekali lagi menggerakkan bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun betapa rasa sakit menyengat-nyengat dadanya, namun ia telah berhasil menggeliat sedikit. Tetapi sejenak kemudian terdengar orang tua itu mengeluh pendek.

“Jangan bergerak terlampau banyak” cegah Empu Gandring. Bagaimanapun juga ia seakan-akan dapat merasakan, betapa sakitnya penderitaan Empu Sada saat itu.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk meraba sorot mata Empu Gandring. Perasaan apakah yang kira-kira terpancar dari padanya. Tetapi Empu Sada tidak segera dapat mengetahuinya.

Namun sementara itu cahaya kemerah-merahan di langit menjadi semakin lama semakin terang. Ujung Gunung Kawi tampak seperti segumpal bara raksasa yang menyala memanasi langit. Semakin lama cahaya kemerah-merahan itu menjadi semburat kuning. Semakin terang, semakin terang. Dan matahari pun kemudian mulai menampakkan dirinya dibalik dedaunan di arah Timur.

“Lukamu parah Empu.” berkata Empu Gandring, “tetapi maaf. Aku memerlukan Mahisa Agni. Aku terpaksa bertanya kepadamu. Karena itu, supaya aku tidak mengganggumu, katakan ke mana Kuda Sempana itu pergi?”

“Sudah aku katakan Empu” jawab Empu Sada, “aku tidak lagi dapat menguasai muridku. Dan aku mengerti bahwa kau tidak akan mudah mempercayai kata-kataku. Apalagi kalau aku katakan, bahwa aku pun sedang berusaha untuk membebaskan Mahisa Agni dari tangan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana bukan karena aku masih di bakar nafsu untuk menguasai anak muda itu dengan maksud yang jahat”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling dilihatnya wajah Ken Arok berkerut-merut. Tetapi sebelum Ken Arok mengucapkan sesuatu, Empu Gandring telah mendahuluinya, “Hem. Kau agaknya ingin mempersulit dirimu sendiri. Aku dapat menolongmu, menyerahkan kau kepada seseorang di jalan yang akan aku lalui, supaya kau dirawatnya. Dan aku untuk seterusuya tidak akan mengganggumu apabila kau segera mengatakan di mana Mahisa Agni. Bukankah kau akan segera bebas dari pertanyaan-pertanyaanku yang barangkali sama sekali tidak menyenangkanmu ini?”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa amat sulitlah baginya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Keadaan telah menjadi kalut, dan banyak hal terjadi bersimpang-siur.

Dengan demikian maka pedih luka di dada Empu Sada itu rasa-rasanya menjadi bertambah pedih. Ternyata ia telah kehilangan jalan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sekali lagi disadarinya, bahwa bukan salah Empu Gandring apabila orang itu sudah tidak lagi sanggup mempercayainya.

Perkelahian yang terjadi antara dirinya melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu bagi Empu Gandring tidak lebih dari perkelahian para perampok yang berselisih dalam pembagian hasil rampokannya.

Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka Empu Gandring pun kemudian mendesaknya, “Bagaimana Empu? Aku ingin semuanya cepat selesai. Kalau mungkin segalanya dapat selesai dengan baik. Membatasi sekecil-kecilnya segala macam luapan dendam dan kebencian. Kalau kau bersedia menolongku Empu, maka untuk seterusnya kita tidak akan mengalami kesulitan, sebab kita tidak menaburkan benih-benih dendam yang dapat tumbuh dan berbuah kelak dengan lebatnya. Setiap persoalan yang sekecil-kecilnya akan dapat menjadi pupuk yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan dendam itu. Bagi kita Empu, bagi orang tua-tua, seandainya hati kita akan hangus sekalipun di bakar oleh dendam dan kebencian, maka akibatnya tidak akan terlampau lama, sebab umur-umur kita pun tidak akan terlampau lama pula. Tetapi apabila anak-anak kita, murid-murid kita telah di bakar pula oleh dendam dan kebencian, maka akibatnya akan sangat panjang dan jauh.

Ketika Empu Gandring berhenti sejenak, maka terdengar Empu Sada menarik nafas. Dalam sekali, seakan-akan akan dilepaskannya segala macam perasaan yang menyumbat dadanya. Tetapi ia tidak mengucapkan kata-kata.

“Bagaimana Empu? Apakah Empu bersedia menolong aku?” desis Empu Gandring.

Empu Sada telah hampir menjadi putus asa karenanya. Meskipun demikian dicobanya untuk menjawab sejujurnya, “Empu Gandring. Aku tidak dapat berkata lain, bahwa sepengetahuanku, Mahisa Agni itu pasti di bawa ke Kemundungan oleh Kuda Sempana”.

“Oh” Empu Gandring menyeka peluh yang membasahi keningnya. Ketika ia melihat Ken Arok bergeser maju, maka anak muda yang hampir kehilangan kesabaran itu digamitnya., “Tunggulah Ngger” berkata Empu Gandring.

Empu Sada kini sekali lagi mencoba memandangi wajah Ken Arok. Wajah seorang anak muda yang tampan dan berwibawa. Seorang anak muda yang memancarkau keteguhan dan kemampuan yang melampaui anak-anak sebayanya.

Empu Gandring kemudian bergeser maju sambil berkata, “Empu kenapa kau masih saja berusaha mengingkari muridmu?”

“Empu Gandring” akhimya Empu Sada berkata dengan nada yang dalam dan mata yang suram, “maafkan aku Empu. Aku tidak tahu, apa lagi yang harus aku katakan. Itulah yang aku ketahui. Kalau kau sayang akan kemenakanmu, kau sebaiknya segera menyusulnya ke Kemendungan. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa aku sadar. Kau tidak akan mudah mempercayai aku”.

“Empu Sada” berkata Empu Gandring, “sebenarnya tanpa kau beritahu pun aku akan dapat mencarinya, meski pun aku memerlukan waktu lebih panjang. Tetapi dengan demikian aku berangkat dengan kemarahan di dalam dadaku. Kalau aku bertemu dengan muridmu, maka kemarahan itu akan seperti minyak yang tersentuh api. Mungkin aku akan kehilangan pengamalan diri dan mungkin aku akan berbuat sesuatu yang tidak kau inginkan atas muridmu itu Tetapi kalau aku berangkat dengan hati sejuk, maka akibatnya pun pasti akan berbeda”.

Hati Empu Sada serasa di sentuh dengan tajam sembilu. Sekali lagi ia berdesah dan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi orang tua itu hampir-hampir menjadi berputus asa. Ia tidak melihat kemungkinan lagi untuk mendapatkan kepercayaan dari Empu Gandring.

Dan Empu Gandring itu berkata pula, “Pertimbangkan Empu, supaya aku tetap dalam kesadaran, bahwa tidak sehurusnya aku menanam benih dendam di hati orang lain. Tetapi kau pun harus membantuku”.

“Oh” Empu Sada mengeluh, “hukuman ini terlampau berat bagiku. Barangkali lebih haik apabila aku mati karena dadaku hancur oleh tangan Wong Sarimpat”.

“Tidak Empu, sebenarnya kau dapat menghindari hukuman ini. Kau dapat melepaskan dirimu dari perasaan bersalah yang selalu mengejarmu. Tetapi agaknya kau tidak bersedia. Agaknya kau akan membawa rahasia itu sampai saat terakhir. Namun rahasia itu akan menyumbat jalanmu Empu. Dan kau akan menderita disaat-saat terakhir. Bukan saja penderitaan badaniah tetapi juga rohaniah.

“Hem” Empu Sada berdesah, “semoga Yang Maha Agung melihat isi dadaku. Di saat-saat aku mencoba mengurangi beban perasaanku, maka aku dihadapkan pada keadaan seperti ini. Tetapi Empu Gandring, aku sudah rela. Aku sudah ikhlas, apa saja yang akan terjadi atas diriku. Aku ikhlas menerima segala hinaan, ketidakpercayaan dan kecurigaan ini. Aku telah pasrah diri dalam segala keadaan kepada Sumber hidupku. Perasaan adalah kelengkapan dari sentuhan lahiriah. Kalau aku kini mengalami penderitaan badani dan siksaan parasaan, maka itu pun aku ikhlaskan pula. Karena aku percaya, bahwa ada yang melihat keadaanku dan hakekat dari pendirianku, batinku. Dan inilah yang tidak kau ketahui dan kau lihat Empu Gandring. Sebab tangkapan pandanganmu sangat terbatas pada tangkapan pandangan lahir semata-mata”.

Empu Gandring terdiam sejenak. Ia adalah seorang yang telah menelan pengalaman tiada taranya di sepanjang perjalanan hidupnya. Tetapi ia masih mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kata Empu Sada itu. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Empu Sada, yang selama hidupnya berada dalam kesesatan itu mampu menyimpan pendirian yang demikian dan bahwa pendirian itu demikian teguhnya terpancang dihatinya.

Empu Gandring bukanlah seorang yang hanya melihat dengan mata kepalanya saja. Empu Gandring adalah seorang yang selalu menjajagi setiap persoalan sampai sedalam-dalamnya ia mampu menyelaminya. Namun, kali ini Empu Sada berkata kepadanya, bahwa tangkapan pandangan matanya hanya terbatas pada tangkapan pandangan lahir semata-mata.

Itulah sebabnya maka Empu Gandring mencoba sekali lagi melihat apa yang telah terjadi. Namun ia tidak menemukan sesuatu yang baru pada dirinya maupun pada peristiwa yang dihadapinya. Persoalan itu adalah persoalan yang tampak jelas. Persoalan yang kasat mata dari setiap bagiannya.

Maka untuk sejenak mereka seakan-akan terbungkam. Empu Gandring masih berjongkok di samping Empu Sada sambil mencoba merenungkan kata-kata orang yang sedang terluka itu. Bahkan Ken Arok yang masih muda itu pun termenung pula.

Tetapi Empu Gandring masih saja diliputi oleh keragu-raguan. Ia melihat suatu pertentangan yang sulit untuk dimengerti. Menurut penglihatan dan perhitungannya, maka Empu Sada telah dengan sengaja menyembunyikan Mahisa Agni. Dengan sengaja menyuruh Kuda Sempana melarikan Mahisa Agni. Tetapi menilik sikap, pembicaraan dan ketenangan Empu Sada, bahkan sikap pasrahnya, maka seakan-akan ia harus mempercayai setiap ucapan orang tua itu.

Demikianlah maka ketiga orang itu hanyut dalam arus angan-angan masing-masing.

Sementara itu cahaya matahari telah jatuh ke atas tubuh-tubuh mereka, ke atas pategalan yang kering dan ke atas daun-daun liar yang kekuning-kuningan. Lamat-lamat terdengar burung-burung liar mengeluh karena sarang-sarang mereka pun serasa menjadi gersang. Daun-daun yang melindunginya, satu-satu berguguran di tanah karena sentuhan angin yang betapa lembutnya.

Tiba-tiba kesepian itu dipecahkan oleh suara Empu Sada yang menghentak, “He, Empu Gandring, apakah Mahisa Agni itu benar kemanakanmu?”

Empu Gandring memandangi wajah Empu Sada dengan curiga, “Apakah kau tidak percaya?”

“Bukan Empu. Bukan maksudku untuk tidak percaya. Tetapi justru karena aku ingin mendapat kepercayaanmu. Aku ingin kata-kataku yang telah aku ucapkan itu dapat kau mengerti dan kau percaya, supaya kau tidak terlambat mendapatkan Mahisa Agni. Kalau aku nanti mampu berdiri dan berjalan, aku pun segera akan menyusulnya, sampai ke ujung dunia sekalipun”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Namun keragu-raguannya masih mencengkam dadanya.

“Aku tahu, bahwa kau masih tetap ragu-ragu Empu” berkata Empu Sada, “dan aku pun tahu, hanya orang-orang yang belum mengenal masa lampau Empu Sada sajalah yang segera dapat menpercayai kata-kataku. Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa kadang-kadang yang terjadi bukanlah sekedar yang tampak. Ada sesuatu yang terjadi di dalam hatiku, sehingga aku telah berbuat sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang lain seperti orang lain itu tidak mengerti dan tidak melihat apa yang telah terjadi di dalam hatiku itu. Sebab yang terjadi itu tidak dapat sekedar di lihat dengan mala wadag”.

Empu Gandring tidak menyahut, dan dibiarkan Empu Sada berkata lebih lanjut, “Empu Gandring. Kalau Mahisa Agni itu kemanakanmu, apakah kau mengenal seorang perempuan yang bernama Jun Rumanti?”

Dada Empu Gandring berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun bahkan sejenak ia terdiam membeku.

Pertanyaan Empu Sada itu sama sekali tidak diduga-duganya dan yang semakin mengherankannya, darimana Empu Sada pernah mendengar nama Jun Rumanti?

Karena Empu Gandring tidak segera menjawab, maka Empu Sada bertanya pula, “Bagaimana Empu. Apakah kau mengenalnya?”

Perlahan-lahan penuh kebimbangan Empu Gandring menganggukkan kepalanya. Dengan nada datar ia menjawab, “Ya Empu, aku mengenalnya”.

“Jawabmu hambar Empu. Aku ingin mengetahui sebenarnya, apakah kau mengenal nama itu?”

Debar di dada Empu Gandring terasa semakin cepat. Tetapi ia pun kemudian ingin mengetahui, apakah maksud Empu Sada dengan menyebut nama itu. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah aku menjawab dengan mantap Empu. Jun Rumanti adalah adikku. Ibu Mahisa Agni. Kau puas? Tetapi sekarang akulah yang bertanya, darimana kau mengenal nama itu dan dari mana kau mendengarnya Apapula maksudmu dengan menyebut nama itu?”

“Nama itu mempunyai suatu kesan tersendiri di dalam hatiku Empu. Aku mengenal Jun Rumanti dahulu sebagai seorang gadis. Tetapi aku tidak pernah mendengar dari padanya, sadar atau tidak sadar bahwa ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Empu Gandring dari Lulumbang”.

“Kapan kau mengenal Jun Rumanti?” bertanya Empu Gandring.

“Sebelum ia kawin dan mempunyai seorang anak yang ternyata bernama Mahisa Agni”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Lamat-lamat ia teringat ceritera tentang Jun Rumanti pada masa gadisnya. Meskipun anak itu sendiri tidak pernah berkata kepadanya atau mengadukan kesulitan-kesulitannya kepadanya bahkan sepeninggal suaminya, gadis itu seakan-akan telah menghilang, namun kisah tentang gadis itu memang pernah didengarnya dari orang lain.

Tetapi itu telah terjadi puluhan tahun yang lampau, pada saat Mahisa Agni belum lahir sedekat-dekatnya pada saat Mahisa Agni hilang dibawa oleh ayahnya. Dan di antara kisah itu sama sekali tidak pernah dijumpainya nama Empu Sada.

Namun keduanya memang belum pernah saling mengenal pada saat itu, baik orangnya maupun namanya. Seperti Empu Sada, maka Empu Gandring pun pada saat mudanya masih belum mempergunakan nama itu.

“Empu Gandring” berkata Empu Sada, “kalau Jun Rumanti itu dahulu pernah menyebut namamu, maka keadaan Mahisa Agni, setidak-tidaknya hubungan diantara kita tidak akan menjadi sejelek ini.

“Apakah huhunganmu dengan Jun Rumanti, Empu?”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia bertanya, “Apakah pada masa gadisnya, kau mempergunakan nama lain Empu?”

Empu Gandring menggeleng, “Ya Empu. Namaku pada waktu itu adalah Basu Nala”.

“Oh, jadi kaukah itu?, ” Empu Sada terperanjat.

“Apakah kau pernah mengenal nama itu?”

“Baru namanya. Tetapi aku belum mengenal orang yang bernama Nala, seperti kau pasti juga belum pernah mengenal seorang anak muda yang saat itu bernama Pranuntaka”.

Wajah Empu Gandring tiba-tiba menjadi berkerut-merut. Tanpa sesadarnya ia bertanya, “Apakah hubunganmu dengan anak itu?”

“Hubungan itu terlampau erat Empu. Bahkan tak dapat dipisahkan. Pranuntaka itu adalah Empu Sada, seperti Basu Nala itu kemudian bernama Empu Gandring”.

“Jadi, kaukah anak muda yang saat itu pergi merantau dan ketika ia kembali ditemuinya Jun Rumanti telah bersuami dan beranak seorang laki-laki. Dan kau mempergunakan nama itu?”

“Ya”.

“Lalu laki-laki itu pergi pula membawa luka dihatinya?”

“Ya”.

“Oh, jadi saat itu Pranuntaka pergi meninggalkan Jun Rumanti dengan dendam yang mengeram di dadanya? Sehingga dendam ini kemudian melimpah kepada anak laki-lakinya yang bernama Mahisa Agni?”

“Kau salah Empu. Seperti Jun Rumanti, mula-mula salah pula menyangka aku berbuat demikian. Justru setelah aku tahu bahwa Mahisa Agni itu adalah anak Jun Rumanti, seakan-akan aku menemukan sesuatu yang tidak wajar pada diriku. Selain itu, pengalamanku dalam hubungan dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah memberi pula aku kesadaran, bahwa aku akhirnya harus melepaskan diri dari kesesatan ini. Meskipun semula aku hanya ingin mencuci tangan, supaya aku tidak tersangkut dalam kejahatan hilangnya Mahisa Agni”.

Empu Gandring memandangi Empu Sada yang terbaring itu dengan wajah yang tegang. Ketika ia berpaling, maka dengan sungguh-sungguh Ken Arok pun sedang mendengarkan ceritera Empu Sada itu. Meskipun anak muda itu tidak mengenal ujung pangkal dari ceritera itu, namun dengan demikian maka ceritera itu telah sangat menarik baginya. Ceritera tentang Mahisa Agni dan peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya.

Dengan singkat Empu Sada mencoba menceriterakan apa yang pernah terjadi atas dirinya di Kemundungan. Tentang meninggalnya seorang muridnya dan tentang dirinya sendiri yang hampir mati pula. Kemudian usahanya memasuki Istana dan bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Jun Rumanti.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa dalam nada dan tekanan kata-katanya, bahwa Empu Sada itu berkata dengan jujur, sehingga tak ada alasan baginya untuk tidak mempercayainya. Sedang Ken Arok lagi sibuk membayangkan, perempuan yang manakah di dalam Istana Ken Dedes yang kira-kira bernama Jun Rumanti itu? Tetapi Ken Arok itu tidak berhasil menemukannya. Empu Sada sama sekali tidak menyebut-nyebut bahwa perempuan itu adalah emban kinasih dari puteri bakal permaisuri. Tetapi hal itu kemudian sama sekali tidak dianggap penting oleh Ken Arok.

Sekali lagi mereka dicengkam oleh angan-angan masing-masing yang membubung tinggi ke udara. Ken Arok yang muda itu tunduk termenung seperti orang yang sedang memperhatikan sesuatu di atas tanah di bawah kakinya, sedang Empu Gandring kini duduk di tanah sambil memandangi tempat dikejauhan. Sementara itu Empu Sada yang berbaring diam mengerutkan keningnya beberapa kali.

Tiba-tiba hampir bersamaan Empu Gandring dan Empu Sada itu tertawa pendek sehingga Ken Arok terperanjat karenanya., “Apakah yang mereka tertawakan?”

“Empu Gandring” Empu Sada itu berdesis, “aneh sekali. Kenapa kau menyebut namamu masa kanak-kanak dengan Basu Nala?, “Apakah itu memang namamu?”

“Ya, Jum Rumanti mengenal namaku Basu Nala”.

“Aku mengenal nama itu Empu. Basu Nala. Tetapi aneh. Aku sangka Basu Nala bukanlah anak yang bernama Wijang?”

Empu Gandring pun tertawa perlahan-lahan., “Hem” ia menarik nafas dalam-dalam, “masa kanak-kanak yang aneh. Wijang adalah nama yang diberikan kepadaku di tempat pengengeran, karena sejak anak-anak aku tidak tinggal bersama keluargaku, yang kemudian aku diambilnya menjadi murid. Tetapi bagaimana bisa aku mengenal kau yang di masa itu mempergunakan nama lain pula Empu. Bukankah kau menyebut namamu Talam?”

“Itu adalah namaku sebenarnya. Tetapi terhadap seorang gadis aku ingin namaku agak menjadi baik. Karena itulah aku memperkenalkan diriku kepada Jun Rumanti dengan nama Pranuntaka dari Ngarang”.

Keduanya mengangguk-angguk perlahan. Hubungan keduanya adalah hubungan yang aneh. Mereka mengenal yang satu atas yang lain dalam keadaan yang agak kalut. Ternyata hubungan yang demikian itu kini menumbuhkan suatu kenangan yang aneh. Mereka mengenal yang satu dengan yang lain dengan nama-nama mereka masing-masing. Dan mereka pernah mendengar nama-nama yang lain pula, tetapi mereka merasa belum pernah mengenal orangnya, pada saat mereka meningkat dewasa.

“Kalau aku tahu bahwa Jun Rumanti itu adik seorang yang bernama Wijang, maka aku akan segera tahu, bahwa kau adalah paman Mahisa Agni, Empu”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku sangka bahwa Empu Sada itu hanya sekedar gelar yaag dipergunakan oleh seorang yang bernama Talam. Ternyata Empu Sada itu adalah Pranuntaka pula”.

“Akhirnya kita bertemu dalam keadaan ini Empu. Pertemuan yang lebih baik dari pertemuan kita di Padang Karautan dahulu. Sekarang kita menjadi lebih banyak mengetahui tentang diri kita masing-masing. Mungkin kau menganggap bahwa aku memang tidak jujur sejak aku meningkat dewasa. Ternyata aku telah mencoba menaikkan nilai harga diriku dengan menipu adikmu, membuat sebuah nama yang aku anggap lebih baik dari namaku yang sebenarnya. Seandainya kau tinggal bersama adikmu, atau kita bertemu pada suatu kesempatan di tempat adikmu, maka aku pasti akan menjadi sangat malu. Tetapi itu adalah ceritera yang kini tinggal kenangan yang menyenangkan.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya perlahan-lahan, “Sekarang aku tahu, kenapa Pranuntaka itu kemudian dikabarkan mati. Pranuntaka, nama yang khusus dibuat untuk Jun Rumanti, sehingga ketika Jun Rumanti itu lepas dari tangannya, maka nama Pranuntaka itu pun sudah tidak berarti lagi. Tetapi, kepahitan yang dialami tidak dapat mati berkubur bersama-sama dengan nama Pranuntaka itu. Kepahitan itu tetap bersarang di dalam dada anak muda yang bernama Talam, dan kemudian bergelar sebagai seorang Empu. Empu Sada. Dan aku pun kini dapat mengerti pula, kenapa Empu Sada kadang-kadang berkelakuan aneh, sehingga berkali-kali aku harus mencoba mencegahnya. Ternyata Empu Sada itu pun tidak mampu melepaskan dirinya dari seorang anak muda yang bernama Talam dan khusus melahirkan sebuah nama Pranuntaka untuk seorang gadis”.

Empu Sada mencoba mengangguk, “Kau benar Empu. Dan akhirnya adalah yang kau lihat sekarang. Tetapi aku rela mengalaminya, karena aku sedang dalam perjalanan kembali setelah aku berpuluh-puluh tahun berada di jalan yang sesat”.

Empu Gandring memandangi wajah Empu Sada yang parah itu dengan mata yang suram. Kini tumbuhlah kepercayaannya kepada orang yang terluka di dalam dadanya itu. Sebenarnya anak-anak yang bernama Talam itu bukanlah seorang anak yang terlampau nakal. Baru kini Empu Gandring dapat meraba-raba, apakah yang menyebabkan Talam itu kemudian menjadi seorang Empu Sada.

“Nah Empu Gandring” desis Empu Sada, “aku sudah mencoba mengatakan semuanya. Bagaimanakah tanggapanmu sekarang? Apakah kau masih tetap berpendapat bahwa aku sengaja menyembunyikan Mahisa Agni untuk muridku itu?”

Perlahan-lahan Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Perlahan pula ia berkata, “Tidak Empu. Aku kini percaya kepadamu. Aku percaya bahwa kau sedang berada di jalan kembali dari jalan yang sesat yang selama ini kau tempuh”.

“Kalau begitu kau pun percaya bahwa Mabisa Agni dibawa oleh Kuda-Sempana ke Kemundungan. Kebo Sindet itu pun pasti pergi ke Kemundungan pula”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, aku percaya bahwa mereka pergi ke Kemundungan. Untuk membebaskan Mahisa Agni, maka aku harus pergi ketempat itu pula”.

“Aku kira memang tidak ada jalan lain Empu. Tetapi apabila aku dapat sembuh dari luka-luka di dalam ini, aku pun ingin pergi ke Kemundungan. Aku ingin melepaskan Mahisa Agni dengan tanganku”.

“Aku takut, dengan demikian kita akan terlambat.” sahut Empu Gandring, “sebaiknya kau menyembuhkan luka-lukamu. Aku akan pergi mendahului. Kalau kau sempat, maka susulah aku”.

Empu Sada tidak segera menjawab. Sesaat dicobanya untuk merasakan nyeri di dalam dadanya. Memang dalam kedaan demikian tidak mungkin baginya untuk pergi ke Kemundungan menyusul Kebo Sindet dan Kuda Sempana.

Ken Arok yang selama mendengar pcrcakapan kedua orang itu menjadi bingung dan kalut oleh nama-nama yang telah mereka sebutkan, kini menyadari pula, bahwa bahaya telah meraba-raba diri Mahisa Agni. Kini orang yang mengancam keselamatan anak muda itu adalah orang yang jauh lebih liar dari Empu Sada. Apalagi orang itu baru saja kehilangan adiknya, maka banyak hal yang dapat terjadi atas Mahisa Agni. Kebo Sindet akan dapat melepaskan kemarahannya kepada anak muda itu. Sedang Kebo Sindel adalah seorang yang berhati batu, berjantung kayu. Ia dapat mencekik orang sampai mati dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menggenggam makanan yang disuapkannya ke dalam mulutnya.

“Empu” berkata Ken Arok itu kemudian, “aku rasa Mahisa Agni memang segera memerlukan pertolongan”.

“Ya, aku akan segera mencarinya” sahut Empu Gandring.

“Apakah aku dapat turut serta Empu?”

“Jangan ngger. Kau harus kembali ke Padang Karautan. Kau harus menggantikan kedudukan Mahisa Agni menyelesaikan bendungan itu. Bukankah Angger menerima tugas itu pula dari Tumapel? Dan bukankah angger masih harus membuat sebuah taman apabila air telah naik? Taman yang akan dihadiahkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepada Permaisurinya Ken Dedes?”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tugas itu memang harus dilakukan. Tetapi ini tidak dapat melepaskan hasratnya untuk melihat bagaimanakah nasib Mahisa Agni seterusnya. Karena itu maka katanya, “Empu, aku hanya akan sekedar mengetahui keadaan Mahisa Agni. Selanjutnya aku akan kembali ke Padang Karautan, meneruskan pekerjaan pembuatan bendungan itu”.

“Marilah kita membagi tugas Ngger. Semuanya penting bagi Angger. Tetapi Mahisa Agni itu dapat Angger serahkan saja kepadaku. Aku akan pergi ke Kemundungan. Akan aku minta Mahisa Agni dengan segala cara”.

Ken Arok tidak segera menjawab. Timbulah pertentangan di dalam dirinya. Keduanya dapat dianggapnya penting. Mencari Mahisa Agni atau kembali ke Bendungan Karautan. Apakah Empu Gandring seorang diri akan dapat menyelesaikan pekerjaannya merebut Mahisa Agni? Ken Arok tahu, bahwa Kebo Sindet dan Empu Gandring adalah dua kekuatan yang seimbang. Kalau Empu Gandring memiliki beberapa kelebihan, maka kekasaran Kebo Sindet akan segera dapat mengimbanginya. Mungkin Empu Gandring akan dapat mempergunakan pusakanya yang jarang-jarang ditarik dari wrangkanya, yang telah dipergunakan untuk melawan kedua iblis dari Kemundungan itu sekaligus. Tetapi keris itu baru akan bermanfaat apabila dapat terjadi sentuhan dengan tubuh Kebo Sindet.

Tetapi apabila ia memaksa untuk ikut serta dengan Empu Gandring karena ia memperhitungkan pula kekuatan Kuda Sempana, maka bagaimanakah dengan Bendungan itu? Mungkin prajurit yang telah diserahinya untuk memimpin pekerjaan itu akan dapat melakukan tugasnya dengan baik, tetapi untuk keseluruhan tanggung jawab, beserta penyelesaian taman seperti yang dikehendaki Akuwu Tunggul Ametung, adalah terletak ditangannya.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar Empu Gandring berkata, “Sudahlah Ngger, Sebaiknya Angger kembali ke Karautan. Pekerjaan itu sudah hampir sampai pada puncaknya”.

Sebentar lagi air akan segera naik, dan taman itu harus segera disiapkan pula. Kalau aku segera berhasil menemukan Mahisa Agni, maka aku akan segera membawanya kembali ke Padang Karautan.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih dalam keragu-raguan, tetapi ia tidak membantah.

“Tetapi, sebelum itu Ngger” berkata Empu Gandring, “barangkali kau bersedia menolong sahabatku ini. Sahabat yang pernah dipisahkan oleh cara hidup yang berbeda. Tetapi agaknya persahabatan kami di masa kanak-kanak telah mempertautkan kami kembali dalam satu pengertian dan kembali memberikan kepercayaan”.

“Oh” Ken Arok pun kemudian berpaling. Dilihatnya wajah yang pucat sayu dari seorang tua yang terbaring diam menatap langit yang menjadi semakin cerah.

“Apakah yang harus aku lakukan?” bertanya Ken Arok.

“Empu Sada” berkata Empu Gandring, “apakah yang harus kami lakukan apabila kami menolongmu? Bukankah kau masih juga ingin sembuh dari luka-lukamu dan mencari Kebo Sindet? Bukankah kau masih belum ingin mengakhiri hidupmu?”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Itu adalah keinginanku Empu. Keinginan manusia. Tetapi keputusan tcrakhir tidak berada di tangan manusia”.

“Ya, ya” Empu Gandring pun mengangguk-angguk pula, “kau benar Empu. Tetapi usaha apakah yang harus kami jalankan sebagai ungkapan dari kesungguhan permohonan kami, manusia, kepada Yang Maha Pencipta?”

Empu Sada tersenyum, jawabnya, “Empu, kalau Angger Ken Arok berkesempatan, apakah aku sebaiknya dibawa saja kembali ke Padepokanku?”

“Apakah ada seseorang yang dapat merawatmu Empu?”

“Di Padepokan itu masih ada beberapa orang muridku. Salah seorang daripadanya cukup dapat aku percaya. Bahkan sebenarnya, aku telah meletakkan segala macam persoalan padepokanku kepadanya. Juga ciri kebesaran Empu Sada yang selama ini tidak pernah terpisah dari padanya”.

“Tongkat panjangmu?”

“Ya. Sebenarnya, karena penyesalan atas kelakuanku setelah aku mengetahui, betapa sesatnya jalanku, maka aku bertekad untuk meletakkan senjata itu selamanya. Tetapi aku diragukan oleh keadaan yang berbahaya bagi Mahisa Agni, sehingga aku terpaksa mengangkat senjata itu lagi. Tetapi bukan senjataku yang selama itu tidak pernah terpisah daripadaku. Aku juga membawa sebatang tongkat panjang, tetapi tongkat itu terpatahkan”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesungguhan dari kata-kata Empu Sada telah mempertebal kepercayaannya, sehingga tanpa ragu-ragu lagi ia akan dapat pergi mencari Mahisa Agni dan merebutnya dari tangan Kebo Sindet.

Maka Empu Gandring pun segera membulatkan rencananya, Ken Arok akan dimintanya untuk mengantarkan Empu Sada, seterusnya anak muda itu akan kembali ke Padang Karautan, meneruskan pekerjaan Mahisa Agni yang masih belum selesai. Ia sendiri akan segera pergi ke Kemundungan menyusul Kebo Sindet untuk merebut Mahisa Agni.

Ternyata Ken Arok sama sekali tidak berkebaratan untuk mengantarkan Empu Sada yang terluka itu ke Padepokannya. Tetapi sebenarnya ia masih tetap pada keinginannya untuk turut mencari Mahisa Agni. Namun karena Empu Gandring tetap juga berkeberatan karena beberapa pertimbangan, terutama Bendungan Padang Karautan, maka Ken Arok tidak dapat memaksanya.

“Kita berpisah di sini Ngger” berkata Empu Gandring, “sudah tentu apabila aku memerlukan, maka aku akan minta bantuan Angger. Namun sementara ini, marilah kita membagi tugas”.

“Baiklah Empu. Meskipun, sebenarnya aku ingin pergi bersama Empu, tetapi biarlah aku mengantarkan Empu Sada ke Padepokannya, dan kembali ke Padang Karautan. Sementara aku menunggu Empu di sana, apabila Empu memerlukan, maka aku akan dapat membawa prajurit Tumapel untuk keperluan itu. Mungkin tempat Kebo Sindet perlu dihancurkan, atau dikepung supaya ia tidak dapat melarikan dirinya oleh sepasukan prajurit pilihan”.

“Ya, ya Ngger. Terima kasih. Aku akan selalu ingat kepada Angger Ken Arok apabila keadaan memaksa”.

“Baiklah Empu”.

Maka, mereka pun kemudian berpisah. Ken Arok mengantar Empu Sada yang luka ke Padepokkannya, sedang Empu Gandring pergi ke Kemundungan. Dari Empu Sada, Empu Gandring mendapat beberapa petunjuk tentang keadaan di sekitar sarang iblis itu.

“Kau harus berhati-hati sekali Empu” berkata Empu Sada, “supaya kau tidak dicabik-cabik oleh anjing-anjing liar yang berkeliaran di sekitar Kemundungan. Apalagi di malam hari”.

“Ya Empu, aku akan berhati-hati” jawab Empu Gandring, “usahakan agar lukamu segera sembuh. Kalau kau ingin pergi juga ke Kemundungan, maka mudah-mudahan kita akan dapat bertemu”.

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, sebenarnya ia ingin merebut Mahisa Agni dengan tangannya, sebagai suatu tebusan atas dosanya, menjerumuskan anak itu ke dalam bencana.

Tetapi, ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa keadaanya tidak memungkinkan. Ia tidak dapat memaksa diri dan berpacu ke Kemundungan. Seandainya, ia akan sampai ke sana pula, maka itu hanya berarti, membunuh dirinya sendiri. Karena itu, maka Empu Sada terpaksa mengendapkan keinginannya untuk sesaat., “Kalau luka-luka di dada ini dapat sembuh, maka aku masih akan berusaha” desisnya di dalam hati, “kecuali kalau Empu Gandring telah mendahului aku”.

Empu Sada itu pun kemudian, diangkut ke atas punggung kuda oleh Ken Arok, dan kemudian anak muda itu pun naik pula di atas satu kuda sambil menjaga agar Empu Sada tidak terjatuh. Sedang dalam pada itu, Empu Gandring telah berpacu menuju ke Kemundungan.

Sementara itu, Kuda Sempana sedang berpacu pula dengan hati yang hampa. Ia menurut saja kemana kudanya berlari. Tak ada niatnya sama sekali untuk menentukan arah perjalanannya. Karena kudanya lari kea rah Kemundungan, maka Kuda Sempana yang membawa Mahisa Agni yang sedang pingsan itu pun ke Kemundungan pula. Tetapi Kuda Sempana sendiri sama sekali tidak tahu dan tidak berusaha untuk mengetahui, apakah yang seterusnya akan terjadi atas anak muda yang dibawanya itu dan atas dirinya sendiri.

Agak jauh di belakang Kuda sempana, Kebo Sindet pun berpacu seperti dikejar hantu. Orang itu adalah penunggang Kuda yang baik, sedang kuda yang dipergunakan adalah kuda yang cukup baik pula, meskipun bukan kudanya sendiri. Maka jarak antara Kebo Sindet dan Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin dekat.

Apalagi kemudian Kuda Sempana tidak berhasrat menguasai kudanya. Ketika kudanya berlari semakin lamban, maka ia pun tidak berusaha melecutnya supaya langkahnya menjadi semakin cepat dan panjang. Dibiarkanya saja kuda itu berlari sekehendak sendiri. Semakin lama semakin lambat.

Itulah sebabnya, maka jarak antara Kuda Sempana dan Kebo Sindet pun menjadi semakin dekat. Sehingga ketika matahari menjadi semakin tinggi memanjat langit, maka dada Kuda Sempana pun berdesir karenanya. Lamat-lamat ia mendengar derap kaki-kaki kuda agak jauh di belakangnya. Ketika ia berpaling, maka ia belum melihat sesuatu. Apalagi kemudian jalan yang ditempuhnya mulai mendaki bukit-bukit gundul. Jalan yang berliku dan melingkari batu-batu besar yang menjorok. Namun langkah kuda itu semakin lama menjadi semakin jelas didengarnya.

“Siapakah yang menyusul aku?” desisnya. Tetapi hatinya yang kosong tidak juga mendorongnya untuk mempercepat lari kudanya. Meskipun dadanya kemudian menjadi berdebar-debar juga, tetapi ia masih saja tetap dalam sikap dan keadaannya.

Bahkan akhirnya ia bergumam, “Siapa pun yang menyusul aku tidak akan ada bedanya. Biarpun ia guru, Empu Sada, biarpun ia Kebo Sindet atau siapa saja. Justru karena itulah maka Kuda Sempana sama sekali tidak berhasrat untuk menghindarinya. Ia telah kehilangan segala macam usaha untuk kepentingan apapun juga.

Ketika suara kuda itu menjadi semakin dekat, maka tanpa sesadarnya ia berpaling. Hatinya sama sekali tidak tergerak oleh penglihatannya, bahwa yang datang itu adalah Kebo Sindet. Hatinya seolah-olah telah terlanjur membeku. Beku seperti wajah Kebo Sindet yang menyusulnya.

Sejenak kemudian Kebo Sindet itu pun telah berada di sampingnya. Katanya bergumam, “Kuda Sempana, lihat, inilah pamanmu Wong Sarimpat”.

Ketika Kuda Sempana berpaling dan melihat tubuh Wong Sarimpat tersangkut di punggung kuda seperti tubuh Mahisa Agni, maka barulah ia terperanjat.

Kebo Sindet melihat wajah Kuda Sempana yang menjadi tegang. Dipandanginya tubuh Wong Sarimpat yang sudah membeku dingin di punggung kuda bersama dengan Kebo Sindet.

“Ia sudah mati” desis Kebo Sindet.

“Kenapa?” bertanya Kuda-Sempana.

“Wong Sarimpat mati terbunuh dalam perkelahian melawan Empu Sada. Sedang aku harus melayani Empu Gandring yang datang menyusul itu. Aku tidak tahu, apakah ada setan atau hantu atau iblis yang manjing di dalam diri Empu Sada, sehingga ia berhasil membunuh Wong Sarimpat.

Kuda Sempana merasa sesuatu melonjak di dalam hatinya. Gurunya ternyata berhasil membunuh Wong Sarimpat. Tetapi bagaimanakah nasib gurunya itu kemudian?

“Tetapi” Kebo Sindet meneruskan, “aku kira Empu Sada pun akan mati pula. Ketika aku meninggalkannya, nafasnya telah tersangkut di kerongkongannya.

Dada Kuda Sempana berdesir mendengar kata-kata Kebo Sindet itu. Bagaimanapun juga maka berita tentang gurunya telah membuatnya semakin kehilangan arah hidupnya. Kini, bagi Kuda Sempana seolah-olah tidak ada lagi hari depan yang dapat ditunggunyu. Ia seakan-akan tidak boleh lagi ikut serta mengharap bahwa besok, lusa dan seterusnya, matahari yang cerah selalu akan terbit di ujung Timur. Matahari yang terbit, fajar yang cerah penuh dengan harapan dihari-hari yang bakal datang, sama sekali bukan miliknya. Itu adalah milik mereka yang hidup dalam ketenteraman dan kedamaian hati. Tetapi, hidupnya, hari depannya, dan jalan yang akan dilaluinya, adalah gelap dan kelam.

Kuda Sempana itu terperanjat ketika ia mendengar Kebo Sindet berkata, “Bagimu Kuda Sempana, kematian kedua orang itu mempunyai nilai yang berbeda, bahkan berlawanan. Empu Sada, bekas gurumu itu mati selagi ia berusaha mengkhianati usahanya sendiri, mengkhianati keinginan muridnya sendiri. Sedang pamanmu Wong Sarimpat gugur dalam menyelesaikan usaha yang sudah dirintisnya. Memenuhi keinginanmu, meskipun kau bukan muridnya. Tetapi ia telah menyerahkan seluruh hidupnya untukmu. Untuk mendapatkan Mahisa Agni seperti yang kau kehendaki. Kini Mahisa Agni telah berada ditanganmu. Kau akan dapat berbuat apa saja atasnya. Tetapi sayang, Wong Sarimpat tidak dapat menyaksikan kau mengikat Mahisa Agni itu pada sebatang pohon. Melecutnya dan menyentuh badannya dengan obor yang menyala. Membakar wajahnya dan kemudian menguliti tubuhnya”.

Terasa seluruh tubuh Kuda Sempana meremang mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Kebo Sindet itu. Ia sama sekali tidak dapat mengerti jalan pikiran iblis dari Kemundungan itu. Penilaiannya atas gurunya dan Wong Sarimpat baginya terasa terlampau dibuat-buat, meskipun ia tidak tahu apakah yang sebenarnya telah terjadi antara gurunya dan Kebo Sindet. Ia banya mendengar satu dua kalimat yang kurang dapat dimengertinya. Namun ia tidak sependapat dengan kata-kata Kebo Sindet itu.

Meskipun demikian, Kuda Scmpana itu tidak menjawab apalagi membantah. Dibiarkannya Kebo Sindet mengumpat-umpati Empu Sada sesuka hatinya.

Tetapi kalau gurunya itu benar-benar mati sampyuh dengan Wong Sarimpat, maka luka dihatinya akan bertambah parah.

Sejenak mereka kemudian saling berdiam diri. Mereka memanjat bukit-bukit gundul, berkelok-kelok menurut jalan yang berliku-liku mendaki.

Namun, tiba-tiba Kebo Sindet itu tertegun sambil memanggil Kuda Sempana, “He, berhenti dahulu”.

Kuda Sempana pun berhenti pula. Ketika ia melihat wajah Kebo Sindet yang beku seperti wajah mayat, Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia melihat sesuatu pada wajah itu.

“Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “kita tidak kembali ke Kemundungan”.

Dengan serta-merta Kuda Sempana bertanya, “Kemana kita akan pergi?”

“Kita harus bersembunyi untuk sementara” jawab Kebo Sindet, “Empu Gandring dan prajurit-prajurit Tumapel pasti akan mencari kita. Kalau gurumu sempat memberitahukan arah kita sebelum ia mati, atau seandainya gurumu telah mati sekalipun, maka menurut hematku, Empu Gandring dan prajurit gila dari Tumapel itu pasti akan datang ke Kemundungan untuk mencari Mahisa Agni. Aku sudah mengatakan bahwa Mahisa Agni itu kau bawa ke Padepokan Empu Sada. Tetapi aku tidak tahu, apakah Empu Gandring dapat mempercayainya. Seandainya ia peryaya, maka setelah Padepokan itu didatanginya, dan tidak ditemuinya Mahisa Agni di sana ia pasti akan datang juga ke Kemundungan”.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya yang beku hampir tidak mengacuhkannya sama sekali, apakah Empu Gandring akan mengejarnya bersama Ken Arok, dan bahkan akan mengeroyoknya bersama seluruh prajurit Tumapel sekalipun.

“Bukankah sebaiknya kita menghindari untuk sementara?” bertanya Kebo Sindet, “itu bukan berarti kita takut menghadapi lawan, tetapi kita harus dapat mempertimbangkan kekuatan kita”.

Kuda Sempana mengangguk kosong, jawabnya, “ya paman”.

“Bagus” sahut Kebo Sindet, “kita beralih arah. Kita tidak pergi ke Kemundungan. Kita mencari tempat untuk mengubur pamanmu Wong Sarimpat, untuk seterusnya bersembunyi sementara. Aku tidak akan mencemaskan rumah dan simpananku di Kemundungan. Meskipun seluruh prajurit Tumapel dikerahkan, aku pasti, bahwa mereka tidak akan dapat menemukan harta simpananku. Begitu?”

“Baik paman” jawab Kuda Sempana begitu saja meloncat dari bibirnya.

“Nah, marilah kita berbelok. Kita tinggalkan jalan sempit ini. Kita melintas lewat padang rumput yang sempit turun di tebing sebelah dan kemudian menyeberangi hutan sempit di kaki bukit.

Kuda Sempana telah benar-benar menjadi seperti seonggok benda mati. Ketika Kebo Sindet berbelok arah, maka Kuda Sempana itu pun mengikut saja dibelakangnya tanpa menyadari tujuannya. Anak muda itu pun sama sekali tidak ingin untuk mengetahui lebih banyak lagi, kemana mereka akan pergi.

Demikianlah maka kedua orang itu pun menempuh lintasan padang rumput di lereng bukit gundul untuk kemudian menuruni tebing dengan sangat hati-hat. Sejenak kemudian mereka melihat sebujur hutan yang hijau berada dihadapan mereka. Seperti raksasa hijau yang sedang berbaring tidur dengan nyenyaknya meskipun sinar matahari yang cerah telah melimpah ke atas tubuhnya.

“Hutan itu tidak begitu lebat dan tidak terlampau tebal” desis Kebo Sindet, “tetapi cukup untuk menghilangkan jejak. Mungkin Empu Gandring seorang ahli mengikuti jejak-jejak kaki kuda. Dengan memasuki hutan itu, maka jejak kita akan hilang. Sebab hutan itu adalah hutan yang lembab dan berawa-rawa disana-sini.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan saja kepalanya dengan hati yang kosong, Ia sama sekali tidak berkepentingan apa pun dengan hutan yang lebat dan berawa-rawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Kebo Sindet pun kemudian mempercepat cepat kudanya dan Kuda Sempana tanpa sesadarnya mengikutinya beberapa langkah di belakangnya masuk ke dalam hutan yang tidak begitu lebat dan hilang ditelan dedaunan yang hijau.

Matahari di langit mengapung semakin lama semakin tinggi. Sinarnya yang cerah memercik ke atas dedaunan, rerumputan dan puncak-puncak bukit. Semakin lama semakin panas. Dan ujung-ujung daun alang-alang pun kemudian menunduk lesu karena terik yang hampir tak tertahankan.

Dalam pada itu seekor kuda berlari dengan kencangnya menuju ke bukit gundul. Kemudian mendaki lewat jalan berliku-liku melingkari batu-batu besar yang menjorok. Sinar matahari yang membakar kulitnya sama sekali tidak dirasakannya. Meskipun kulitnya yang basah oleh keringat dan kotor karena debu menjadi semerah tembaga.

Tetapi kudanya berpacu terus.

Sekali-sekali orang tua yang berada di atas punggung kuda itu mengusap wajahnya dengan lengan bajunya. Dan sekali-sekali dibetulkannya letak kerisnya yang besar yang tersangkut di punggungnya. Hulunya yang berukir dan berselut. perak mencuat di atas pundaknya. Sedang dilambungnya tergantung sebuah keris yang lebih kecil dari keris yang biasa. Tetapi kasiat keris itulah yang luar biasa.

Dengan dada yang berdebaran orang itu, Empu Gandring, memacu kudanya sejadi-jadinnya. Ia ingin segera sampai ke Kemundungan, menyusul kemenakannya yang dilarikan oleh Kuda Sempana. Dengan harap-harap cemas ia melihat telapak-telapak kaki kuda yang masih baru di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dan hatinya melonjak ketika ia melihat bahwa tidak hanya ada seekor kuda yang baru saja melintasi jalan itu. Tetapi dua.

“Aku kira benar juga kata Empu Sada. Kuda Sempana pergi juga ke Kemundungan” berkata orang tua itu di dalam hatinya.

Dengan demikian maka Empu Gandring itu pun menjadi semakin bernafsu. Dipacunya kudanya semakin cepat. Tetapi ia tidak dapat terlampau cepat, sebab ia harus memperhatikan juga telapak-telapak kaki kuda yang diikutiya.

Tetapi, tiba-tiba Empu Gandring itu menarik kekang kudanya, sehingga kudanya menjadi terkejut. Sambil meringkik kuda Empu Gandring itu berhenti. Namun demikian tiba-tiba, sehingga kuda itu berdiri di atas kedua kaki belakangnya.

Dengan lembut Empu Gandring menepuk tengkuk kudanya. Dan sejenak kemudian maka kuda itu pun telah menjadi tenang kembali.

“Telapak kaki-kaki kuda ini berbelok” gumam Empu Gandring kepada diri sendiri.

Tiba-tiba pula orang tua itu menjadi bimbang. Kemana ia harus mengikuti jejak orang-orang yang dicarinya? Apakah ia harus menyelusur jejak yang berbelok itu, atau kah harus langsung pergi ke Kemundungan?

Sejenak Empu Gandring berhenti sambil merenung. Dadanya diamuk oleh keragu-raguan. Namun untuk sesaat ia tidak berhasil mengambil keputusan.

“Aku kira mereka melalui jalan lain” desis Empu Gandring, “Kebo Sindet pasti mengenal daerah ini sebaik-baiknya. Mungkin ia sengaja memancing aku kejurusan yang salah. Sementara itu ia lewat jalan lain kembali ke Kemundungan. Adalah mustahil kalau orang selicik Kebo Sindet sengaja membuat bekas telapak kaki sejelas itu.

Meskipun demikian, Empu Gandring tidak tergesa-gesa mengambil sikap. Dipertimbangkannya segala kemungkinan dan diperhitungkannya segala macam cara.

“Baiklah aku coba mengikuti jejak ini” katanya kemudian di dalam hati, “kalau benar dugaanku, maka aku akan sampai juga ke Kemundungan meskipun aku harus sangat berhati-hati, sebab setiap kemungkinan dapat terjadi di sepanjang jalan. Mungkin Kebo Sindet sudah menyediakan tempat untuk menjebakku.

Empu Gandring itu pun kemudian menggerakkan kekang kudanya, mengikuti jejak-jejak kaki kuda Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Semakin lama derap kaki kudanya semakin cepat karena bekas-bekas kaki kuda yang diikutinya tampak dengan jelas di atas padang rumput yang sempit.

Tetapi jalan yang ditempuhnya menjadi semakin sukar. Kuda Empu Gandring itu pun barus menuruni tebing. Telapak-telapak kaki kuda yang diikutinya menjadi semakin sukar untuk dikenal karena batu-batu padas di lereng-lereng bukit gundul. Namun tiap kali Empu Gandring dapat menemukan kelanjutan dari bekas kaki-kaki kuda itu, sehingga akhirnya Empu Gandring pun sampai pada lereng yang menghadap pada pinggiran hutan yang hijau rimbun.

Dada Empu Gandring menjadi berdebar-debar melihat hutan itu. Hutan akan menjadi tempat yang paling baik untuk menjebaknya. Dari balik-balik pohon, dari dalam gerumbul-gerumbul yang rimbun, maka Kebo Sindet akan dapat menyerangnya dengan licik.

“Tetapi apakah aku akan berhenti disini?” desis Empu Gandring di dalam hatinya, “Tidak. Aku harus mendapatkan kemanakanku itu”.

Dengan demikian maka kuda Empu Gandring itu pun berjalan terus. Tetapi ketika kuda itu sudah sampai pada mulut hutan, maka Empu Gandring pun memperlambat langkahnya. Dengan hati-hati dimasukinya hutan yang tidak terlampau lebat, tetapi cukup rimbun.

Beberapa saat Empu Gandring masih dapat melihat bekas-bekas telapak kaki kuda yang diikutnya. Sempalan-sempalan ranting dan dedaunan yang terinjak-injak. Bahkan seolah-olah bekas-bekas kaki kuda itu menjadi semakin jelas.

“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam, “aku melihat bekas kaki ini menjadi semakin jelas. Apakah Kebo Sindet dengan sengaja memancing aku?”

Dalam keragu-raguan itu Empu Gandring menjadi semakin hati-hati. Didengarnya setiap gemersik daun-daun kering yang jatuh tersentuh angin. Dilihatnya setiap gerak ranting-ranting dan ujung pepohonan. Semua yang tertangkap oleh inderanya, selalu mendapat perhatiannya. Sebab dalam hutan yang demikian itu, bahaya akan dapat berada di setiap punggung dedaunan dan di setiap sisi pepohonan.

Tetapi, Empu Gandring adalah seorang tua yang telah cukup menyimpan perbendaharaan pengalaman. Ia seolah-olah dapat berbicara dengan firasat di dalam dirinya. Dan kali ini ia tidak menangkap tanda-tanda bahwa ia sedang diintai oleh lawannya itu.

Meskipun demikian, Empu Gandring tidak juga dapat melepaskan kewaspadaannya. Ia menyadari siapakah yang menjadi lawannya kini. Iblis Kemundungan itu akan dapat berbuat apa saja tanpa, menilai harga diri dan kejantanan.

Tetapi Empu Gandring itu tiba-tiba menarik kekang kudanya. Hatinya menjadi berdebar-debar dan wajahnya menjadi tegang. Dilihatnya dihadapannya tanah menjadi gembur lembab dan bahkan dis ana-sini mulai tergenang air.

“O, jadi hutan ini berada di daerah rawa-rawa” desisnya. Dan kini ia mulai membuat perhitungan yang lain, kenapa Kebo Sindet menempuh jalan ini , “Ternyata Kebo Sindet berusaha menghilangkan jejaknya di daerah rawa-rawa ini”.

Empu Gandring pun kemudian berhenti. Telapak-telapak kaki kuda yang diikutinya memang sengaja masuk ke daerah rawa-rawa.

Empu Gandring itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Adalah sangat sulit untuk mengikuti jejak di daerah gempur dan berair ini. Setan itu benar-benar licik”.

Sesaat Empu Gandring duduk mematung di atas punggung kudanya. Ia melihat telapak kaki kuda memasuki daerah yang berair. Tetapi apakah ia akan dapat menyelusur dan menemukan dimana telapak kaki itu keluar dari air? Apakah ia harus mengitari seluruh hutan dan rawa-rawa ini. Apakah ia harus mengelilingi setiap pinggiran air yang sekian luasnya? Empu Gandring menyadari bahwa rawa-rawa ini bukan saja terdiri dari apa yang dilihatnya itu. Tetapi rawa-rawa ini akan melebar dan sangat luas menjorok masuk ke daerah hutan ini. Adalah sangat berbahaya baginya untuk memasukinya. Ia tidak tahu, daerah manakah yang dapat diinjak oleh kaki-kaki kudanya. Kalau kudanya terperosok pada bagianbagian yang sangat gembur, maka kuda dan penunggangnya pasti akan terbenam ke dalam lumpur. Adalah sangat sukar untuk mencoba berenang pada air yang berlumpur seperti rawa-rawa yang terbentang dihadapannya, yang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan air dan sulur-sulur yang tergantung pada pepohonan.

Empu Gandring menarik nafas. Sekali lagi dilayangkannya pandangan matanya berkeliling. Air yang coklat berlumpur, sinar matahari yang seberkas-seberkas jatuh ke permukaan air. Pepohonan dan cabang-cabangnya yang rapuh berkait dengan sulur-sulur yang bergayutan dengan tumbuh-tumbuhan berduri.

“Kebo Sindet mengenal daerah ini seperti ia mengenal rumah sendiri” desis Empu Gandring kepada diri sendiri, “tetapi aku menjadi orang asing di sini, “.

Untuk sesaat Empu Gandring masih saja duduk mematung di atas punggung kudanya. Kini dadanya benar-benar dilanda oleh kebimbangan dan nafsunya untuk mengejar kemenakannya bersama-sama. Begitu dahsyat gelora itu mengamuk di dadanya, sehingga kepala Empu Gandring itu pun kemudian, menjadi pening.

“Hem, apakah yang sebaiknya aku lakukan? Tidak mungkin aku akan berjalan terus. Aku akan dapat mati tanpa arti di dalam rawa-rawa itu. Tetapi aku harus menemukan Mahisa Agni hidup atau mati.” Namun Empu Gandring masih belum menemukan jalan manakah yang akan ditempuhnya.

Angin yang silir bertiup di sela-sela pepohonan menggerakkan daun dan ranting. Bayangan sinar matahari seolah-olah melonjak-lonjak di dalam air yang keruh. Lamat-lamat dikejahan terdengar burung-burung liar berkicau bersahut-sahutan. Namun udara di hutan itu masih juga terasa betapa lembabnya.

“Aku harus sampai ke Kemundungan” Empu Gandring itu tiba-tiba menggeram, “Kebo Sindet pasti hanya sekedar mengelabuhi aku. Ia pasti mengambil jalan lain, tetapi akhirnya ia akan sampai pula ketempat persembunyiannya di Kemundungan”.

Dengan serta-merta Empu Gandring itu pun segera menggerakkan kendali kudanya, dan kudanya pun segera berputar pula. Sesaat kemudian, maka kuda itu pun segera meloncat berlari. Kali ini meluncur keluar dari hutan berawa-rawa itu menuju ke Kemundungan.

Empu Gandring merasa bahwa ia telah kehilangan waktu sesaat dengan memasuki hutan itu, sehingga dengan demikian maka ia harus berpacu untuk mengurangi keterlambatannya. Ia sedapat mungkin harus sampai ke Kemundungan sebelum Mabisa Agni mendapat perlakuan yang tidak wajar.

Dengan demikian maka Empu Gandring berusaha untuk secepat-cepatnya mencapai sarang iblis yang liar dan buas itu. Dipercepatnya lari kudanya. Namun terasa langkah kuda itu seakan-akan menjadi terlampau lamban.

Setiap kali Empu Gandring harus menyentuh perut kuda itu dengan tumitnya atau menggelitik tengkuknya dengan pangkal kendali. Dan setiap kali kuda itu pun meloncat semakin cepat. Namun masih juga terasa, alangkah lambatnya.

Sejenak kemudian Empu Gandring telah lepas dari daerah hutan yang tidak begitu lebat. Didakinya lereng bukit gundul lewat jalan yang tadi ditempuhnya dalam arah yang berlawanan. Padang rumput yang tidak terlampau luas itu pun telah dilintasinya. Dan kini Empu Gandring telah menemukan kembali jalan yang wajar menuju ke Kemundungan.

Kudanya pun kemudian dipacunya semakin cepat. Seakan-akan ia sedang berlomba dengan matahari yang bergerak ke Barat. Tetapi matahari itu agaknya berjalan terlampau cepat, sehingga sejenak kemudian bayangan Empu Gandring telah menjadi kian panjang karena matahari telah menjadi semakin condong ke Barat. Dengan demikian, maka perjalanan Empu Gandring yang juga menuju kearah Barat itu pun menjadi silau. Tetapi Empu Gandring masih berpacu terus.

Akhirnya bukit gundul itu pun dilampauinya. Ketika ia menuruni lereng di sisi Barat, maka segera Empu Gandring dapat melihat, dimanakah rumah Kebo Sindet itu.

Kini Empu Gandring mulai memperlambat langkah kudanya. Hatinya menjadi berdebar-debar. Di dalam hatinya ia mengharap, mudah-mudahan ia masih dapat menemukan kemanakannya dalam keadaan hidup.

Tetapi semakin dekat, Empu Gandring itu pun menjadi semakin curiga. Rumah Kebo Sindet di lereng bukit kecil itu tampaknya masih terlampau sepi. Pintu lorongnya masih tertutup, dan masih belum dilihatnya ada tanda-tanda seseorang berada di dalamnya.

“Apakah orang itu masih belum datang?” desis Empu Gandring.

Ketika ia menjadi semakin dekat, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan ketika kudanya mulai menginjakkan kakinya di dalam lingkungan rumah itu, maka Empu Gandring menarik kekangnya, dan kuda itu pun berhenti.

Sejenak Empu Gandring berdiam diri seolah-olah membeku di atas punggung kudanya. Dipandanginya gubug Kebo Sindet itu dengan tajamnya. Gubug bambu beratap ilalang, berpintu lereg tidak cukup rapat.

Empu Gandring menarik nafas dalam. Di dalam hatinya ia bertanya, “Apakah sebenarnya hidup bagi Kebo Sindet? Dengan susah payah ia mengumpulkan harta benda. Bahkan dengan segala macam cara. Tetapi apakah arti harta benda itu baginya? Orang itu tidak beranak tidak beristeri. Tidak juga mempergunakannya sendiri. Ia hidup di dalam gubug yang hampir roboh, tidak di dalam sebuah istana yang mewah. Tidak dilingkungi oleh kepuasan lahiriah. Agaknya ia makan pun tidak teratur pula. Apa saja yang ada pada hari itu. Lalu apakah gunanya harta benda yang didapatkannya?”

Empu Gandring tidak dapat menemukan jawabnya. Ia menganggap Kebo Sindet sebagai seorang yang aneh. Seorang yang tidak wajar seperti kebanyakan orang.

Empu Gandring pernah merasakan dan mengalami berprihatin. Menjauhkan diri dari kepuasan badani. Tetapi ia sama sekali tidak selalu di kejar-kejar oleh nafsu untuk mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya, bahkan dengan segala macam cara seperti Kebo Sindet. Membunuh, merampok, memeras dan sebagainya. Kadang-kadang untuk kepentingan itu, nyawanya dipertaruhkan. Tetapi kalau harta benda itu sudah dimilikinya, maka orang itu sama sekali tidak dapat menikmatinya.

“Aku kadang-kadang masih juga ingin makan enak dan tidur nyenyak di tempat yang nyaman” desis Empu Gandring, “dan kadang-kadang aku masih juga menyisihkan milikku sedikit-sedikit untuk kepentingan anak cucu kelak, seperti orang-orang sewajarnya. Tetapi Kebo Sindet ini terlampau aneh bagiku. Untuk apakah harta benda yang dikumpulkannya selama ini bersama-sama dengan adiknya?”

Tetapi Empu Gandring tidak mau dirisaukan oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Kini yang penting baginya adalah mencari Mahisa Agni. Dihadapannya itu adalah rumah Kebo Sindet. Karena itu ia harus mulai berbuat sesuatu.

Empu Gandring itu pun kemudian meloncat turun dari kudanya. Perlahan-lahan dan hati-hati ia melangkah maju. Kemudian kudanya itu pun ditambatkannya pada sebatang pohon. Dan ia pun melangkah lagi semakin dekat dengan gubug Kebo Sindet.

Meskipun Empu Gandring itu sudah menjadi semakin dekat namun ia masih belum melihat atau mendengar sesuatu. Rumah itu terlalu sunyi.

Empu Gandring itu pun kemudian sudah berdiri di muka pintu. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu itu. Tetapi suara ketukannya hilang saja ditelan sunyi.

Akhirnya Empu Gandring tidak bersabar lagi. Dicobanya untuk mendorong pintu lereg itu. Ia terkejut ketika dengan mudahnya pintu pun terbuka.

Kini Empu Gandring dapat melihat isi gubug kecil itu. Hampir tak ada sesuatu apa pun di dalamnya. Hanya sebuah amben terbujur membeku. Di sana-sini berceceran alat-alat untuk menggarap tanah. Cangkul, parang dan sebatang srumbat kelapa dari kayu.

“Kosong” desis Empu Gandring, Ketika dilihatnya benda-benda itu maka ia pun berguman , “Hem, agaknya orang ini bekerja juga bercocok tanam”.

Dengan hati-hati Empu Gandring itu melangkah masuk. Rumah itu benar-benar kosong. Tak ada bekas yang baru di dalam rumah itu, sehingga menurut dugaan Empu Gandring, belum ada seorang pun yang baru saja memasukinya.

“Mereka belum datang” desisnya.

Empu Gandring itu pun kemudian terhenyak di atas amben bambu di dalam rumah itu. Suaranya berderit seperti sebuah keluhan yang paling pahit.

“Aku harus menunggu sampai mereka datang.” desisnya, “aku akan memintanya dengan baik. Kalau tidak, terpaksa aku mempergunakan kekerasan”.

Tetapi Empu Gandring kemudian, tidak merasa tenteram berada di dalam gubug itu. Ia pun segera berdiri dan melangkah keluar.

“Kalau Kebo Sindet melihat kudaku, mungkin ia tidak akan memasuki rumahnya ini” katanya di dalam hati.

Maka Empu Gandring itu pun menutup pintu rumah Kebo Sindet kembali seperti semula. Dibawanya kudanya ke belakang semak-semak yang agak rimbun. Dari tempat itu pula ia menunggu sambil mengawasi kalau-kalau Kebo Sindet bersama Kuda Sempana akan datang.

Tetapi Kebo Sindet ternyata tidak akan datang ke Kemundungan Kebo Sindet telah memperhitungkan bahwa Empu Gandring pasti akan menyusulnya. Mungkin dengan prajurit Tumapel yang aneh, yang kepalanya seakan-akan memancarkan cahaya kemerah-merahan. Seorang anak muda yang mampu bertahan tidak luluh oleh kekuatan tertinggmya, Aji Bajang.

Dengan susah payah, Kebo Sindet ternyata berhasil melintasi hutan dan rawa-rawa yang cukup berbahaya. Tanahnya gembur dan berlumpur. Tetapi iblis itu mengenal daerah itu dengan baik. sehingga ia dapat memilih jalan yang paling baik untuk melintasi daerah itu.

Di seberang rawa-rawa maka hutan menjadi semakin rindang. Hampir tidak ada pohon-pohon yang cukup besar dan lebat. Tetapi banyak sekali gerurnbul-gerumbul perdu yang rimbun dan liar berduri.

“Kita sudah hampir sampai” desis Kebo Sindet.

Kuda Ssmpana tidak menyahut. Sekali ia berpaling, tetapi kemudian dipandanginya jalan di depan matanya. Yang tampak hanyalah hijaunya dedaunan dan percikan sinar matahari seberkas-berkas jatuh di atas tanah yang lembab.

“Tak banyak orang yang dapat mencapai tempat ini. Tempat ini dikelilingi oleh rawa-rawa. Seseorang yang tidak mengenal tempat ini baik-baik akan dengan mudah terperosok masuk ke dalam tanah berlumpur. Kalau demikian maka nasibnya akan sangat malang. Sebab ia pasti tidak akan dapat melepaskan dirinya. Hanya hantu dan tetekan sajalah yang dapat mencapai tempat ini selain Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Kuda Sempana masih berdiam diri.

“Inilah tempat tinggal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang sebenarnya. Itulah sebabnya maka aku sama sekali tidak berkeberatan bahwa rumahku di Kemundungan akan dibongkar oleh seluruh prajurit Tumapel. Sebab mereka pasti hanya akan menemukan benda-benda yang sebenarnya kurang berharga bagiku. Di dalam goa dibelakang gubugku itu tidak akan banyak dijumpai barang-barang yang penting. Dan kini Kuda Sempana, kau telah berada di dalam daerah Kebo Sindet yang selama ini tidak pernah didatangi orang lain”.

Kuda Sempana masih tetap membungkam. Dengan hati yang kosong ia mengikuti saja Kebo Sindet yang menyusup-nyusup disela-sela pepohonan. Disana-sini masih juga tergenang air. Tetapi daerah rawa-rawa yang sebenarnya telah lampau.

“Di ujung yang lain dari hutan ini pun terdiri dari tanah yang gembur dan berawa-rawa” berkata Kebo Sindet itu pula. Dan Kuda Sempana pun menganggukkan kepalanya tanpa menyadari arti kata-kata Kebo Sindet.

Ketika Kuda Sernpana tidak juga menjawab, maka Kebo Sindet itu berkata, “Kuda Sempana. Aku telah mengatakan kepadamu keadaan daerah ini. Daerah ini dikelilingi oleh genangan-genangan air berlumpur. Kadang-kadang di tempat-tempat tertentu air itu cukup dalam. Setinggi tubuhmu, bahkan ada yang lebih dalam lagi. Orang-orang yang kurang mengenal daerah ini tidak akan dapat membedakannya. Karena itu Kuda Sempana tanpa aku kau jangan mencoba pergi terlampau jauh. Jangan mencoba menjajagi rawa-rawa ini. Itu akan sangat berbahaya bagimu. Kau akan tetap tinggal di sini kecuali aku menghendaki kau meninggalkan tempat ini”.

Baru saat itulah Kuda Sempana menyadari keadaannya. Ternyata ia telah terperosok ke dalam daerah yang tak dikenalnya. Bukan itu saja, tetapi ia telah berada di suatu tempat yang tidak dapat ditinggalkannya. Ini berarti bahwa ia pun telah berada di dalam kekuasaan Kebo Sindet.

“Kau mengerti maksudku?” bertanya Kebo Sindet.

Kini Kuda Sempana mengangguk. Tetapi keadaan itu pun tidak banyak berpengaruh atas perasaannya. Dimana saja ia berada dan dalam keadaan apapun, baginya tidak banyak mempunyai perbedaan arti. Hidup yang sebenarnya bagi Kuda Sempana seakan-akan telah berhenti. Dan kini hidup baginya hanya sekedar dijalani tanpa arah, tanpa tujuan dan tanpa cita-cita.

“Bagus” gumam Kebo Sindet kemudian, “kau adalah seorang anak muda yang patuh”.

Kata-kata itu pun terdengar janggal ditelinga Kuda Sempana. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab.

Demikianlah mereka berjalan terus di atas punggung-punggung kuda masing-masing. Kuda Sempana kini telah berubah pula menjadi seorang yang acuh tak acuh atas kedaan sekelilingnya. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi mirip dengan wajah Kebo Sindet. Beku dan mati, meskipun sebab-sebabnya agak berbeda. Wajah Kebo Sindet membeku tetapi penuh dibakar oleh. nafsu, sedang wajah Kuda Sempana membeku mati. Gersang.

“Kita mencari tempat yang baik untuk mengubur Wong Sarimpat” berkata Kebo Sindet itu kemudian, “sebentar lagi kita akan sampai ke sebuah Goa. Disitulah aku akan memelihara Mahisa Agni untuk suatu kepentingan. Ia harus diobati dan disembuhkan dari luka-luka yang mungkin diderita. Anak muda itu tidak boleh terlampau lama dalam keadaannya, supaya bagian-bagian tubuhnya tidak ada yang terlanjur menjadi rusak.

Kuda Sempana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Meskipun demikian diamat-amatinya juga tubuh Mahisa Agni yang lemah tergantung di kudanya. Ia mendendam kepada anak muda itu sejak Mahisa Agni menghalangi keinginannya membawa Ken Dedes ke Tumapel di pinggir kali di bawah Bendungan. Beberapa kali ia berkelahi melawan anak muda itu. Beberapa kali ia ingin melumpuhkan, bahkan membinasakannya. Sehingga gurunya telah terseret pula ke dalam arus dendamnya yang tiada terkendali. Namun akibatnya ternyata sama sekali tidak disangkanya. Dua kali gurunya mengalami bencana, bahkan hampir membunuhnya. Mungkin kali ini gurunya telah benar-benar meninggal akibat benturan dan sampyuh melawan Wong Sarimpat. Seandainya demikian, maka apa yang terjadi benar-benar diluar kehendaknya.

KudaSempana itu berpaling ketika Kebo Sindet berkata pula, “Lihat Kuda Sempana. Dihadapan kita ada sebatang pohon Randu Alas yang besar. Disampingnya ada sebatang pohon Jati yang sebaya umurnya dengan pohon Randu Alas itu. Umur pohon-pohon itu telah berbilang ratusan tahun. Diantara kedua batang pohon itu kau akan rnenjumpai sebuah Goa di bawah bukit-bukit batu karang yang kecil. Disitulah kita akan bersembunyi untuk sementara. Dibawah pohon Randu Alas akan kita kuburkan Wong Sarimpat”.

Tanpa sesadarnya Kuda Sempana melihat kearah pohon-pohon yang ditunjuk oleh Kebo Sindet. Tiba-tiba saja tubuhnya meremang. Sejak semula ia sama sekali tidak memperhatikan apa pun yang ada di sekitarnya. Juga kedua batang pohon raksasa itu.

Dan kini tiba-tiba saja ia melihat kedua batang pohon itu. Tinggi menjulang, se-akan-akan menggapai langit yang telah jadi kemerah-merahan. Mencuat di antara pepohonan yang tidak begitu rapat, dikitari oleh gerumbul-gerumbul yang rimbun.

Kuda Sempana sendiri menjadi heran. Kenapa ia tidak melihat kedua batang pohon itu sejak semula? Bukankah kedua batang pohon itu tampak seperti dua orang raksasa di antara pepohonan yang lain?

Tetapi sejenak kemudian Kuda Sempana pun telah menjadi acuh tak acuh pula. Juga kedua pohon raksasa itu tidak akan berarti apa-apa baginya. Goa yang berada di bawah gumuk karang itu pun tidak berarti pula baginya. Ia sudah kehilangan arti hidupnya, dan hilanglah semuanya baginya.

Sejenak kemudian mereka pun telah sampai di bawah kedua batang pohon yang berjarak beberapa puluh langkah itu. Diantara kedua batang pohon itu terdapat sebuah gumuk batu karang. Dan di bawah gumuk itu terdapat sebuah Goa.

“Inilah rumah kita untuk sementara” desis Kebo Sindet sambil meloncat dari kudanya., “Ikatkan kudamu dan angkatlah Mahisa Agni. Tidurkanlah ia di dalam Goa itu”.

Seperti orang bermimpi Kuda Sempana pun turun dari kudanya. Diangkatnya tubuh Mahisa Agni seperti yang dikatakan oleh Kebo Sindet dan dibawanya tubuh itu kemulut Goa. Tetapi ketika ia melihat ke dalam Goa yang gelap itu, ia menjadi ragu-ragu sejenak.

“Masuklah” berkata Kebo Sindet, “tak ada binatang buas di dalamnya”.

Kuda Sempana pun kemudian melangkah masuk. Dalam keremangan cahaya yang masuk dari mulut Goa Kuda Sempana melihat sebuah amben kayu yang cukup besar, Di amben itu lah kemudian Mahisa Agni dibaringkannya.

Sejenak kemudian Kebo Sindet pun masuk pula kedalam Goa itu. Dirabanya tubuh Mahisa Agni. Diurutnya dibeberapa bagian dari lehernya.

“Ambillah air” berkata Kebo Sindet kepada Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia tidak tahu kemana ia harus mengambil air.

“Ambillah air” Kebo Sindet mengulangi.

“Kemana aku harus mengambil air?” bertanya Kuda Sempana kemudian.

“Oh” desah Kebo Sindet, “di dalam daerah yang penuh dengan rawa-rawa ini kau bertanya kemana kau harus mengambil air?”

“Apakah aku harus mengambil air berlumpur itu?”

“Bertahun-tahun aku selalu minum air berlumpur itu. Tetapi aku tidak menjadi sakit-sakitan”.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih bertanya lagi “dengan apa aku membawa air itu kemari?”

Mata Kebo Sindet itu pun kemudian beredar di sekeliling ruangan itu. Kemudian katanya sambil menunjuk ke arah sudut ruangan itu, “Ambillah mangkuk tanah itu. Pakailah untuk mengambil air, dan cepat”.

Kuda Sempanaun segera pergi ke sudut ruangan itu mengambil mangkuk tanah yang kotor. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Kotor bagi Kebo Sindet agaknya tidak menjadi soal lagi.

Kemudian, Kuda Sempana pun pergi keluar Goa, berjalan di sela-sela gerumbul-gerumbul liar mengambil air dari rawa-rawa. Air yang berwarna coklat keputih-putihan.

Sementara itu Kebo Sindet masih memijat-mijat Mahisa Agni. Sekali-kali dilehernya dan sekali-kali di bagian punggungnya.

“Anak ini terlampau lama pingsan” desisnya, “mudah-mudahan aku masih dapat membangunkannya. Kalau ia mati, maka aku pun kehilangan pula. Aku telah kehilangan adikku, dan aku akan kehilangan kemungkinan untuk mendapatkan harta dari calon permaisuri Tunggul Ametung itu”.

Sementara itu Kuda Sempana pun datang sambil menjinjing mangkuk tanah yang berisi air. Tetapi air itu terlampau kotor. Namun demikian Kebo Sindet sama sekali tidak menghiraukannya. Dimasukannya sebutir reramuan obat-obatan dan dihancurkannya di dalam air itu, perlahan-lahan air itu dimasukkan ke dalam mulut Mahisa Agni. Sedikit demi sedikit.

Sejenak mereka menunggu. Meskipun tak sepatah kata pun yang mereka ucapkan, namun tampaklah wajah-wajah yang beku itu menegang. Mereka menunggu, apakah Mahisa Agni masih dapat sadar kembali seperti semula, meskipun detak jantungnya masih juga dapat mereka dengar apabila mereka menempelkan telinga mereka di dada anak itu.

Tetapi sesaat kemudian, Kuda Sempana itu pun mulai dihinggapi lagi oleh perasaan acuh tak acuhnya. Bahkan ia bertanya di dalam hati, “Buat apakah sebenarnya aku ikut serta menjadi cemas atas nasib Mahisa Agni. Hidup atau mati sama sekali tidak ada bedanya bagiku. Kalau ia mati, biarlah ia mati. Sudah lama aku menghendakinya supaya ia mati. Tetapi kalau ia dapat hidup lagi, aku pun tidak akan berkeberatan. Mudah-mudahan aku masih mempunyai gairah untuk membalas sakit hatiku. Tetapi apakah .sebenarnya kepentingan Kebo Sindet bersusah payah mengobatinya. Biar sajalah ia mati, dan kemudian dikuburkan bersama Wong Sarimpat. Tetapi pertanyaan itu disimpannya saja di dalam hatinya.

 

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [183]