Pelangi di Langit Singasari [ 30 ]

254

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 30 ]

 

“AKU akan membiarkan ayah bermalam di sini. Besok pagi-pagi buta ayah harus sudah meninggalkan padang.”

“Baik, baik Ken Arok. Terima kasih,” Bango Samparan menelan ludahnya. Tetapi ia mendengar Ken Arok berkata, “Sebenarnya aku tidak percaya bahwa ayah tidak berani melewati padang ini. Hampir setiap malam ayah berkeliaran dari satu arena perjudian ke arena yang lain, bahkan di tempat-tempat yang paling ditakuti orang. Meskipun demikian, biarlah ayah beristirahat. Tetapi ingat, jangan menyebut lagi tentang mimpi yang gila itu.”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya yang memucat kini menjadi agak merah kembali. Dengan tergagap ia berkata, “Terima kasih Ken Arok. Ternyata kau benar-benar anakku yang baik. Memang aku selalu berkeliaran dari satu tempat judi ke tempat yang lain, tetapi tidak di Padang Karautan. Kecuali mungkin aku bertemu dengan anjing-anjing liar itu, aku juga tidak tahan dingin.”

“Udara malam ini terlampau panas,” sahut Ken Arok acuh tak acuh.

“O,” Bango Samparan terdiam sejenak, kemudian, “ya, ya, udara memang terlampau panas.”

“Tidurlah,” desis Ken Arok.

“Ya, ya terima kasih. Aku akan segera tidur. Aku memang tidak ingin lagi berkata tentang mimpi itu, kalau kau memang tidak senang mendengarnya, meskipun dapat menumbuhkan angan-angan yang menyenangkan. Akuwu, Maharaja.”

Ken Arok sudah tidak tahan lagi. Dengan serta-merta ia berdiri dan melangkah pergi.

“Ken Arok, ke mana kau?” panggil ayah angkatnya.

“Aku akan keluar. Ayah tidak berani pergi dari tempat ini. Akulah yang akan pergi.”

“Ke mana kau akan pergi?”

“Ke bendungan.”

“Kenapa?”

Ken Arok tidak menjawab, tetapi ia melangkah terus meninggalkan Bango Samparan di dalam gubugnya. Demikian ia lepas dari gubug itu, terasa dadanya menjadi lapang. Dilihatnya langit yang hitam terbentang dari segala ujung penjuru. Bintang yang berkilat-kilat bergayutan tak terbilang banyaknya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah akan dihisapnya udara di atas Padang Karautan itu habis-habis.

Tanpa sesadarnya maka ia pun melangkah, berjalan di antara gubug-gubug yang bertebaran. Angin yang lembut mengusap wajahnya pelahan-lahan.

Ketika ia lepas dari deretan gubug-gubug itu, dilihatnya parit induk yang terbujur membelah padang menjorok ke tengah. Di ujung parit itu terdapat sebuah sendang buatan. Tetapi malam itu Ken Arok tidak dapat melihat sendang itu dari tempatnya. Seolah-olah sendang diselimuti oleh sebuah permadani yang hitam. Namun demikian, terbayang di rongga matanya, tanaman-tanaman yang sudah mulai menghijau di sekitar sendang itu, meskipun setiap hari masih harus disiram air. Kemudian batu-batu yang sudah mulai teratur rapih. Puntuk-puntuk kecil dan kemudian parit-parit yang menyilang taman itu. Sebuah gunung kecil di tengah-tengah sendang.

“Mudah-mudahan sendang itu menyenangkan hati Akuwu Tumapel,” gumam Ken Arok di dalam hatinya.

Tiba-tiba terbersit pertanyaan di dalam hatinya, “Kenapa setiap orang harus membuat Akuwu menjadi senang?” Tetapi Ken Arok itu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika tiba-tiba pula tumbuh perasaan di dalam dadanya, “Alangkah senangnya menjadi seorang Akuwu. Kekuasaan di Tumapel ini berpusat padanya. Apa pun yang dikehendaki, hampir pasti dapat terpenuhi.”

“Tidak, tidak,” Ken Arok itu menggeram sambil menggeretakkan giginya. “Pikiran gila ini telah mengotori dadaku. Tidak.”

Ken Arok itu kemudian berdiri dengan tegangnya. Tangannya mengepal dan kakinya seolah-olah menghujam jauh ke dalam tanah. “Aku tidak boleh diracuni oleh pikiran-pikiran gila itu. Kalau sekali lagi Bango Samparan menyebut-nyebut mimpinya, aku cekik ia sampai mati.”

Sekali lagi Ken Arok menggeram. Tiba-tiba untuk mengusir perasaannya itu ia meloncat berlari masuk ke dalam hitamnya malam. Seperti seorang yang dikejar hantu, ia berlari tidak ke bendungan, tetapi ke sendang yang sedang dibuatnya.

“Tidak, tidak,” ia masih menggeram, “aku harus melakukan perintah Akuwu, sendang itu harus siap pada saatnya.”

Ketika ia sampai ke tepi sendang yang masih belum siap itu, nafasnya menjadi terengah-engah. Wajahnya membayangkan ketakutan atas dirinya sendiri. Ia tidak mau mendengar mimpi itu lagi, meskipun perasaannya sendiri yang menyebut-nyebutnya. Mimpi tentang dirinya dan Akuwu Tumapel.

“Tidak, tidak,” tiba-tiba ia berteriak. Suaranya yang parau melayang di udara padang yang sepi, seolah-olah menggetarkan seluruh Padang Karautan, bahkan seluruh Tumapel.

Ketika sekali lagi perasaannya diganggu oleh mimpi Bango Samparan itu, maka Ken Arok pun segera meloncat. Diraihnya batu-batu yang masih bertebaran di pinggir taman. Dengan mengatupkan mulutnya rapat-rapat, ia mengangkat sebongkah batu, dilontarkannya kuat-kuat. Batu-batu itu besok memang harus disusun menjadi sebuah dinding yang akan mengelilingi taman.

Sekali, dua kali, tiga kali. Dan seterusnya. Dilontarkannya batu-batu itu ke tempat yang besok harus dibangun dinding. Dikerjakannya pekerjaan prajurit-prajurit Tumapel yang harus dilakukannya besok. Dengan wajah yang tegang dan gigi gemeretak ia melempar-lemparkan batu-batu itu. Tenaganya seolah olah menjadi berlipat-lipat dan kekuatannya serta ketahanannya pun menjadi berganda.

Maka terdengarlah kemudian gemeretak batu-batu yang terlempar oleh Ken Arok itu memecahkan kesenyapan Padang Karautan. Susul-menyusul tidak habis-habisnya, seolah-olah pekerjaan itu telah dilakukan oleh sepuluh orang bersama-sama.

Namun betapa kuat dan kokohnya tubuh Ken Arok, akhirnya sampai juga ke batasnya. Tenaganya semakin lama menjadi semakin kendor. Lontarannya sudah tidak lagi mencapai jarak yang diperlukan, sehingga lambat-laun, ia pun menjadi semakin lelah.

Meskipun demikian, Ken Arok tidak mau berhenti. Ia tidak mau membiarkan kesempatan sekejap pun untuk mengenang kembali mimpi ayah angkatnya yang gila. Ia tidak mau batinnya diracuni oleh perasaan itu. Karena itu, betapa ia menjadi lelah dan lemah, namun masih juga dicobanya untuk mengangkat dan kemudian melemparkan bongkahan batu-batu yang besar itu.

Tetapi akhirnya Ken Arok itu sudah tidak mampu lagi melakukannya. Tulang-tulangnya seraya menjadi lemas, dan nafasnya sudah menyesak di dadanya.

Dengan lemahnya ia tertunduk di antara batu-batu yang masih berserakan. Bahkan kemudian ia membaringkan dirinya. Betapa lelah mengganggu tubuhnya, sehingga scjcnak kemudian Ken Arok itu diserang oleh perasaan kantuk yang luar biasa. Ketika angin padang membelai tubuhnya, terasa kesegaran merayapi kulit dagingnya. Namun dengan demikian maka Ken Arok itu pun jatuh tertidur.

Ken Arok tidak dapat mengetahui betapa lama ia tertidur di padang itu, di bawah atap langit yang biru hitam, serta di bawah bintang yang bergayutan tanpa dapat dihitung jumlahnya.

Anak muda itu terperanjat ketika ia mendengar gemeletuk batu tersentuh kaki. Dengan sigapnya ia meloncat bangun. Namun tiba-tiba matanya menjadi silau, ternyata matahari telah merayapi langit.

“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam sambil menggosok matanya yang kesilauan, “aku tertidur.”

“Kami mencarimu,” sahut orang yang membangunkannya, seseorang prajurit Tumapel, “kami hampir menjadi putus asa. Aku sangka kau hilang seperti Mahisa Agni.”

“Sebelum udara di dalam gubugku terlampau panas. Aku berjalan-jalan keluar, dan akhirnya aku sampai ke tempat ini. Di sini udara terasa segar sekali. Dan aku jatuh tertidur.”

Prajurit itu tidak mempunyai syak-wasangka. Karena itu ia menjawab, “Semuanya menunggu kedatanganmu dengan cemas. Untung-untungan aku mencoba mencarimu di sini, di antara batu-batu ini. Ternyata kau tertidur.”

Sekali lagi Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Aku lelah sekali,” desisnya.

Tanpa disengaja, Ken Arok memandangi batu-batu yang masih bertebaran. Prajurit itu pun mengikuti arah pandangan Ken Arok. Namun tiba-tiba prajurit itu mengerutkan keningnya. Ia melihat batu-batu yang dipersiapkan untuk dinding taman telah berpindah hampir di sepanjang sebelah sisi yang akan didirikan dinding untuk taman itu. Kemarin batu-batu ini masih tertumpuk.

Wajah prajurit itu menjadi berkerut-kerut. Ketika ia melihat pakaian Ken Arok yang kusut dan tubuhnya yang kotor karena debu dan lumpur, maka tumbuhlah pertanyaan di dalam dirinya. Apakah yang sudah dilakukannya? Begitu mendesak pertanyaan itu di dalam dadanya sehingga terloncat kata-katanya, “Batu-batu ini telah berpindah.”

Ken Arok berpaling. Dipandanginya wajah prajurit itu, tetapi ia menjawab, “Orang-orang terakhir kemarin telah mulai memindahkan batu-batu itu.”

Wajah prajurit itu menjadi semakin aneh. Dengan terheran-heran ia berkata, “Aku adalah orang yang terakhir meninggalkan pekerjaan kemarin. Aku masih sempat melihat batu-batu yang tertimbun di sini. Tetapi pagi ini aku lihat batu-batu itu sudah berserakan di sepanjang batas dinding taman yang akan dibangun. Hampir di sepanjang sisi sebelah ini.”

Wajah Ken Arok itu pun kini menjadi berkerut-merut. Sejenak ia tidak menjawab. Namun kemudian ia berkata, “Mari, aku akan kembali ke perkemahan. Mereka terlalu lama menunggu, dan kerja hari ini akan terlampau lama terlambat mulai.”

Prajurit itu terdiam. Wajahnya masih diliputi oleh pertanyaan-pertanyaannya tentang batu-batu yang berpindah itu. Meskipun demikian ia telah menyangka bahwa Ken Arok telah melakukan pekerjaan itu.

“Tetapi hampir tidak masuk akal,” berkata prajurit itu di dalam hatinya, “aku masih melihat Ken Arok itu masuk ke dalam gubugnya. Seandainya ia datang kemari, maka pasti tidak sejak sore. Sedangkan pekerjaan yang sepantasnya dilakukan oleh dua tiga orang sehari penuh.”

Prajurit itu terkejut ketika Ken Arok berkata, “Mari, apa lagi yang kau tunggu?”

Tanpa sesadarnya prajurit itu berguman, “Agaknya Hantu Karautan lah yang telah memindahkan batu-batu ini.”

Wajah Ken Arok menegang mendengar kata-kata itu. Tetapi segera ia berhasil menguasai dirinya. Prajurit itu pasti dengan sengaja menyebut Hantu Karautan, dan pasti tidak mencoba menghubungkannya dengan dirinya, meskipun sebenarnya bahwa yang telah melakukan pekerjaan itu adalah Hantu Karautan.

Sejenak kemudian maka mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel sudah menunggu Ken Arok dengan gelisah. Bahkan seperti yang dikatakan oleh prajurit itu, ada di antara mereka yang menyangka bahwa Ken Arok hilang seperti Mahisa Agni.

Namun di sepanjang jalan, prajurit Tumapel itu tidak dapat melupakan apa yang telah dilihatnya. Batu-batu yang telah berpindah tempat. Tak ada orang lain di tempat itu selain Ken Arok. Apalagi pakaian Ken Arok tampak lusuh dan tubuhnya dikotori oleh debu dan keringat. Adalah mustahil apabila sejak kemarin, sejak sore kemarin, Ken Arok tidak mandi dan membersihkan tubuhnya. Karena itu, maka prajurit itu berketetapan, “Ken Arok telah melakukannya. Alangkah dahsyat tenaganya. Ternyata anak muda itu benar seorang yang melampaui sesamanya.”

Dan, ternyata prajurit itu kemudian tidak dapat menyimpan pertanyaan dan kekaguman itu di dalam hatinya. Satu-satu akhirnya setiap orang mendengar apa yang telah terjadi, meskipun hanya bisikan-bisikan di setiap telinga.

Ketika Ken Arok melihat orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel telah mempersiapkan diri untuk bekerja, serta melihat bayangan kegelisahan di wajah-wajah mereka, menjadi agak menyesal. Ia telah memperlambat kerja hari ini. Karena itu, demikian ia berdiri di hadapan mereka dan Ki Buyut Panawijen, segera berkata, “Mulailah. Aku akan segera menyusul.”

Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel segera meninggalkan perkemahan dan berpencaran ke tempat kerja masing-masing. Sebagian pergi ke bendungan yang sudah menjadi semakin tinggi, sebagian memperdalam parit induk yang membelah Padang Karautan, sebagian memperpanjang parit yang silang-menyilang yang kelak akan mengairi sawah-sawah, dan sebagian dari para prajutit Tumapel meneruskan kerja mereka, membuat sendang dan taman. Ketika mereka yang bekerja di sendang buatan itu sampai ke tempat kerja mereka, maka mereka benar-benar menjadi heran. Mereka melihat batu-batu yang telah berpindah dari tempatnya kemarin, seperti desas-desus yang mereka dengar.

“Semalam Ken Arok lah yang tidur di sini,” gumam salah seorang dari padanya.

“Luar biasa. Ia mampu melakukannya seorang diri.”

“Mungkin ia mempunyai sababat hantu-hantu padang.”

Kawannya hanya dapat mengangkat bahunya. Namun kekaguman mereka terhadap Ken Arok menjadi bertambah-tambah.

Ketika perkemahan itu kemudian menjadi sepi karena orang-orang yang menghuninya telah pergi ke tempat kerja mereka, maka segera Ken Arok kembali ke dalam gubugnya. Di sana-sini ia hanya melihat satu-dua orang yang bertugas menjaga perkemahan itu. Tubuhnya kini sama sekali sudah tidak merasa lelah lagi. Tidurnya ternyata telah dapat memulihkan seluruh tenaga yang telah diperasnya semalam.

Dengan tergesa-gesa ia harus menyiapkan diri. Mandi dan makan-minum sebelum berangkat menyusul kawan-kawannya yang sedang bekerja.

Tetapi ketika ia memasuki gubugnya, ia merasa ada sesuatu yang kurang. Tiba-tiba ia teringat kepada ayah angkatnya, Bango Samparan. Ternyata orang itu sudah tidak ada.

“Apakah benar semalam ayah Bango Samparan itu datang kemari?” desisnya.

Tetapi gubugnya benar-benar telah sepi. Ia tidak melihat bekas-bekas yang dapat mengatakan kepadanya, bahwa semalam benar-benar telah ada seorang tamu.

Tiba-tiba Ken Arok menjadi berdebar-debar. “Ah, aku pasti. Semalam ayah datang kemari. Apakah ia telah pergi sebelum pagi seperti katanya semalam.” Ken Arok menjadi bingung. “Tidak, aku kira ia akan menunggu aku. Ayah memerlukan uang sekadarnya.”

Ken Arok segera keluar dari gubugnya. Dipandanginya keadaan di sekelilingnya, kalau-kalau Bango Samparan sedang berjalan-jalan di antara gubug-gubug di dalam perkemahan itu. Tetapi orang itu tidak dilihatnya. Bahkan Ken Arok tidak segera menjadi puas. Dengan tergesa-gesa ia melangkah di antara gubug yang bertebaran, kalau-kalau ia dapat menemukan ayah angkatnya. Namun Bango Samparan sama sekali tidak diketemukannya.

Ketika ia melihat seorang yang sedang berjaga-jaga sambil menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak untuk makan siang, Ken Arok bertanya, “Apakah kau melihat seseorang di dalam gubugku?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian menggeleng. “Tidak. Aku tadi juga lewat di samping gubug itu, tetapi aku tidak melihat seorang pun.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi jawaban yang seorang ini tidak dapat dijadikannya pegangan. Ia merasa pasti bahwa semalam ayah angkatnya itu datang kepadanya dan menceritakan tentang mimpinya yang gila.

Karena itu maka segera ditinggalkannya orang itu. Dengan kepala tunduk Ken Arok berjalan di antara gubug-gubug mencari orang lain yang masih berada di perkemahan. Ketika ia melihat dua orang sedang menyalakan api untuk masak, maka segera didekatinya orang itu sambil bertanya, “He, apakah kau melihat seseorang yang belum kau kenal berada di perkemahan ini atau di dalam gubugku?”

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian keduanya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak melihat seorang pun kecuali orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel.”

“Bukan mereka. Aku mempunyai tamu seorang yang belum kalian kenal. Tubuhnya agak gemuk, pendek. Wajahnya keras dan sorot matanya tajam.”

Sekali lagi keduanya saling memandang, dan sekali lagi keduanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak. Kami tidak melihatnya.”

Ken Arok menggigit bibirnya. Wajahnya menjadi tegang dan giginya gemeretak. Dengan tergesa-gesa pula ditinggalkan kedua orang itu, yang kemudian menjadi keheran-heranan.

“Siapa yang dicarinya?” desis yang seorang.

Kawannya menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”

Dalam pada itu, Ken Arok sama sekali masih belum puas. Ia masih ingin menanyakannya kepada orang lain lagi.

Adalah mungkin sekali bahwa orang-orang itu tidak melihat kedatangan Bango Samparan, karena mereka telah tertidur.

Akhirnya Ken Arok melihat seorang berdiri di ujung perkemahan. Dijinjingnya dua buah lodong air. Agaknya orang itu akan pergi ke sungai untuk mengambil air, yang akan direbus untuk minum orang-orang yang sedang bekerja.

“He,” panggil Ken Arok. Orang itu adalah seorang dari Panawijen. Ketika ia melihat Ken Arok bergegas mendatanginya, maka orang itu menjadi berdebar-debar.

“Apakah kau melihat Bango Samparan?” bertanya Ken Arok dengan wajah yang tegang dan nafas terengah-engah.

“Siapa?” bertanya orang itu kembali.
“Bango Samparan.”

Orang Panawijen itu menggelengkan kepalanya. “Aku belum pernah mendengar nama itu. Bango Samparan.”

“Semalam ia berada di sini.”

Orang Panawijen itu masih terheran-heran.

“Apakah kau tidak melihatnya?”

“Seandainya aku melihatnya, aku juga belum mengenalnya.” jawab orang Panawijen itu.

“Kalau kau melihat orang asing di sini, bertubuh gemuk agak pendek, berwajah keras, itulah dia. Bango Samparan. Apakah kau melihat?”

Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berpikir sejenak. Dicobanya untuk mengingat-ingat apakah ia melihat orang seperti yang dikatakan oleh Ken Arok itu. Tetapi akhirnya ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak. Aku tidak melihatnya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi semakin tegang. Terbata-bata ia bertanya, “Benarkah itu? Kau tidak melihatnya di sini?”

Sekali lagi orang itu menggeleng. “Tidak, aku tidak melihatnya.”

Sorot mata Ken Arok menjadi semakin aneh. Tiba-tiba saja ia memutar tubuhnya dan berjalan tergesa-gesa kembali ke gubugnya.

Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berdiri ternganga-nganga. Ia tidak tahu apakah yang sedang bergolak di hati anak muda itu. Sambil memiringkan kepalanya, ia mengangkat bahu. Kemudian meneruskan langkahnya ke sungai untuk mengambil air.

Ken Arok yang menjadi semakin bingung itu segera masuk ke dalam gubugnya. Dibantingnya tubuhnya di atas pembaringannya. Sehelai tikar pandan yang kasar.

“Apakah aku telah didatangi oleh hantu Karautan, yang sebenarnya hantu?” desisnya.

“Tidak,” pertanyaan itu dibantahnya sendiri, “dalam pengembaraanku di padang ini, aku belum pernah menemui hantu itu. Yang ada adalah Hantu Karautan yang dikenal oleh orang-orang di sekitar padang ini. Hantu Karautan, Ken Arok. Tidak ada hantu yang lain.”

Dengan gelisahnya Ken Arok itu bangkit, berdiri, dan berjalan mondar-mandir.

“Gila. Apakah aku sudah gila dan di dalam kegilaanku itu aku bermimpi bertemu dengan Bango Samparan yang sedang bermimpi pula? Tetapi mimpi Bango Samparan itu jauh lebih gila dari mimpiku sendiri.”

“Tidak, tidak,” tiba-tiba Ken Arok itu berdesis, “aku tidak mau mendengar mimpi yang terlampau gila itu. Apakah mimpi itu disampaikan oleh Bango Samparan sendiri, atau hanya sekadar di dalam mimpiku, atau oleh hantu Karautan sekalipun.”

Tiba-tiba Ken Arok teringat bahwa semalam Bango Samparan itu datang bersama dua orang pengawal, dan bahkan beberapa orang yang berada di dalam gubug di sekitarnya terbangun karena suara tertawa Bango Samparan. Beberapa orang terbatuk-batuk, dan beberapa orang yang lain mendehem keras-keras.

Sekali lagi Ken Arok meloncat keluar dari gubugnya Ia ingin mendapat kepastian tentang Bango Samparan. Tetapi ia menjadi kecewa ketika ia melihat gubug-gubug di sekitar gubugnya telah menjadi kosong. Orang-orang itu telah pergi ke tempat pekerjaan mereka masing-masing.

“Hem,” Ken Arok menggeram, “aku harus menemukan kedua orang pengawal itu. Jika mereka semalam bertugas, maka pagi ini mereka mendapat kesempatan beristirahat. Mereka pasti tidak ikut bekerja dengan kawan-kawan mereka.”

Maka kini dengan cepatnya ia melangkah ke gubug kedua orang pengawal yang semalam telah membawa Bango Samparan kepadanya. Dengan serta-merta ia menyuruk lewat lubang pintu yang rendah, masuk ke dalamnya. Ketika dilihatnya seorang tidur membujur di pojok gubug itu, maka segera ia berkata lantang, “He, kaukah yang mengawal ke perkemahan semalam?”

Orang yang sedang tidur berselimut kain panjang itu terkejut. Cepat ia meloncat bangun sambil menggosok matanya. Tetapi yang dilihatnya berdiri di muka pintu adalah Ken Arok.

Namun Ken Arok menjadi kecewa melihat orang itu. Orang itu bukan salah seorang dari kedua orang yang mengantarkan Bango Samparan kepadanya.

Meskipun demikian ia bertanya sekali lagi, “Apakah semalam kau bertugas?”

“Ya,” sahut orang itu.

“Di sisi mana?”

“Di sisi utara,” jawab orang itu.

“Di mana kedua kawanmu yang bertugas di sisi selatan, yang telah membawa seorang tamu kepadaku.”

“Mereka sedang pergi ke sungai.”

“Bukankah mereka mendapat istirahat hari ini?”

“Ya, mereka sedang mandi dan mencuci pakaian mereka.”

“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “apakah mereka tidak mengatakan kepadamu tentang seorang tamu yang mereka bawa kepadaku semalam?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaku.”

“Gila, sungguh-sungguh gila,” Ken Arok mengumpat di dalam hatinya sambil keluar dari gubug itu, tanpa mengucapkan kata-kata lagi. Orang di dalam gubug itu pun menjadi terheran-heran melihat tingkah lakunya, pakaiannya yang kusut, dan tubuhnya yang kotor oleh keringat dan debu.

“Dari manakah ia semalam?” bertanya orang itu di dalam hatinya, “setiap orang mencarinya. Bahkan Ki Buyut Panawijen telah menjadi ketakutan, kalau-kalau ia hilang pula seperti Mahisa Agni.”

Dengan lesu Ken Arok itu melangkah kembali ke gubugnya. Pikirannya menjadi semakin kalut. Apabila semalam Bango Samparan tidak datang sesungguhnya kepadanya, maka Ken Arok pasti menjadi sangat cemas tentang dirinya sendiri. “Apakah aku sudah menjadi gila?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Di gubugnya ia pun menjadi sangat gelisah. Sekali ia bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir, kemudian terduduk dengan lesunya.

Tiba-tiba saja ia teringat akan kewajibannya. Ia sudah berjanji untuk menyusul orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel ke tempat mereka bekerja. Hari ini ia akan menunggui orang-orang yang sedang menyelesaikan bendungan. Karena Itu maka segera ia bangkit dan mengibas-ibaskan pakaiannya. “Persetan dengan Bango Samparan,” gumamnya, “aku harus bekerja. Orang-orang itu pasti menunggu. Aku harus segera pergi kepada mereka.”

Sejenak Ken Arok menjadi ragu-ragu. Apakah ia harus berganti pakaian lebih dahulu, ataukah ia akan pergi dengan pakaian yang sudah dipakainya itu. Pakaian yang lusuh dan kotor.

“Kalau aku berganti pakaian, mandi, dan membersihkan diri lebih dahulu, maka sebentar lagi aku akan menjadi kotor lagi. Tetapi kalau tidak, terasa tubuhku gatal-gatal karena debu yang mengendap di wajah kulit ini.”

Akhirnya Ken Arok memutuskan untuk begitu saja pergi ke bendungan. Ia tidak akan berganti pakaian. Dengan pakaian yang kusut itu ia akan bekerja bersama-sama orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel.

“Di bendungan aku dapat membersihkan badanku, mengeringkan di sinar matahari, lalu mulai bekerja bersama-sama dengan mereka.”

Sejenak kemudian Ken Arok pun melangkah keluar gubugnya sambil menyambar sepotong ubi rebus. Sambil mengunyah ia berjalan meninggalkan gubugnya. Kepada seorang pengawal yang dijumpainya ia berkata, “Aku pergi ke bendungan. Kalau kau melihat orang asing di sini, bertanyalah kepadanya, apakah namanya Bango Samparan.”

Pengawal itu mengangguk, “Baik,” jawabnya.

“Kalau orang itu menunggu aku, biarlah ia menunggu di gubugku sampai aku pulang.”

“Baik.”

Ken Arok pun segera pergi ke bendungan menyusul orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel yang bekerja di sana.

Sementara itu para prajurit yang bekerja di sendang buatan menjadi saling bertanya-tanya, “Kekuatan apakah yang tersembunyi di dalam diri Ken Arok.”

“Kita mengenal beberapa orang sakti,” gumam salah seorang prajurit yang bekerja di sendang, “mungkin beberapa orang guru yang tinggal di padepokan-padepokan. Tetapi kita tidak menjadi heran melihat kelebihan-kelebihan mereka. Seolah-olah sudah seharusnya mereka memiliki kelebihan dari kita. Tetapi kita menjadi heran melihat orang-orang muda yang luar biasa seperti pemimpin para prajurit pengawal istana, Witantra. Kemudian adik seperguruannya, Mahendra dan Kebo Ijo. Kita heran juga melihat beberapa orang yang lain. Tetapi keheranan kita tidak melonjak-lonjak seperti kali ini.

Kawannya yang diajak berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Ada dua orang sepengetahuanku yang telah membingungkan nalarku.”

“Siapa? Witantra itu?”

“Bukan. Betapa saktinya kakang Witantra, tetapi aku masih dapat mencapainya dengan nalar dan pertimbangan.”

“Lalu siapa?”

“Yang pertama adalah Akuwu Tunggul Ametung. Kau ingat, ketika dengan tangannya ia membunuh seekor harimau?”

“Ya, harimau yang membunuh seorang srati gajah itu.”

“Ya, akibatnya gajahnya mengamuk. Gajah yang bodoh itu tidak tahu, siapakah yang bersalah. Gajah itu tidak tahu bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung menolong srati-nya, tetapi justru gajah menyerang Akuwu. Bukankah begitu?”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya aku ingat. Hampir saja Akuwu mati terinjak gajah itu.”

“Tetapi hal itu tidak terjadi. Dan itulah ajaibnya. Tiba-tiba Akuwu pun marah. Dengan penggada-nya yang kuning berkilauan, Akuwu memukul kaki gajah itu. Kaki depannya. Seketika itu gajah yang mengamuk itu jatuh terjerembab. Lumpuh.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, gajah itu lumpuh. Seandainya Akuwu menjadi mata gelap, maka ia akan mampu membunuh gajah yang sudah lumpuh itu.”

“Ya, ia adalah orang yang aneh yang pertama aku lihat.”

“Dan yang lain? Yang seorang lagi?”

“Yang seorang adalah orang ini, Ken Arok. Adalah tidak masuk akal bahwa seorang diri ia dapat memindahkan batu-batu sekian banyaknya. Bukan saja sedemikian banyaknya, tetapi lihatlah. Batu-batu sebesar itu, batu-batu yang harus dipikul oleh dua-tiga orang.” Orang itu menggelengkan kepalanya, “Mustahil, mustahil.”

“Tetapi hal itu sudah terjadi.”

“Ya,” kawannya terdiam. Dipandanginya batu-batu yang besar itu dengan sorot mata yang aneh.

Sedangkan kawannya yang lain bergumam, “Ada dua orang aneh di Istana Tumapel. Tetapi yang seorang adalah Akuwu Tumapel sedangkan yang lain hanyalah seorang pelayan dalam, yang kali ini mendapat kepercayaan memimpin pembuatan bendungan dan sendang.”

Para prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengangkat pundak mereka sambil berdesis, “Aneh.”

Beberapa orang masih juga mencoba menjajagi kekuatan Ken Arok dengan mencoba mengangkat batu-batu yang besar dan berat. Tetapi bertiga, batu itu baru terangkat. Kemudian mereka harus memindahkan batu-batu itu dan memasang pada dinding yang sedang mereka buat, maka mereka memanggul batu-batu itu dengan tali dan sepotong kayu. Bersama-sama enam orang sekaligus.

Namun kekaguman itu telah mendorong para prajurit Tumapel untuk bekerja semakin keras. Beberapa orang menganggap bahwa Ken Arok telah marah kepada mereka karena mereka bekerja terlampau lamban. Tetapi anak muda itu tidak mau menyatakan kemarahannya. Karena itu maka disindirnya para prajurit itu dengan suatu perbuatan yang aneh. Memindahkan batu-batu besar dan kecil yang cukup banyak itu seorang diri. Seolah-olah ia ingin berkata, “Beginilah cara kita bekerja. Jangan terlampau lamban dan malas.”

Sementara itu, Ken Arok sendiri telah berada di bendungan. Sejenak ia membersihkan dirinya kemudian berjemur sejenak sambil melihat orang-orang yang sedang bekerja. Ketika tubuhnya telah kering dan kesegaran pagi telah menjalar ke segenap urat nadinya, maka mulai pulalah ia bekerja. Tetapi apa yang dilakukan kali ini sama sekali tidak ada bedanya dengan kerja yang dilakukan oleh orang-orang lain. Mengangkat brunjung-brunjung bambu kecil yang sudah berisi batu bersama-sama dengan lima atau enam orang. Mengangkat batu-batu besar untuk diletakkan di antara brunjung-brunjung itu bersama-sama dengan dua-tiga orang. Sama sekali tidak nampak kelebihannya dari orang-orang lain yang bekerja bersamanya.

Ketika Ken Arok telah tenggelam di dalam kerja, maka untuk sejenak ia melupakan Bango Samparan dan melupakan mimpi ayah angkatnya yang gila itu. Dicurahkannya segenap perhatiannya ke bendungan, susukan induk, dan parit-parit. Hatinya seolah-olah membusung apabila dilihatnya pedati-pedati yang memuat batu, tanah, dan segala macam perlengkapan, kemudian orang-orang Panawijen bersama-sama dengan para prajurit Tumapel melunakkan tanah dengan banyak-banyak. Sebagian lagi mengisi brunjung-brunjung bambu dengan batu dan meletakkannya di bendungan yang sudah menjadi semakin tinggi.

“Bendungan itu hampir selesai,” berkata Ken Arok di dalam hatinya, “aku selanjutnya akan dapat mempergunakan orang-orang itu untuk menyelesaikan sendang dan taman buatan itu. Orang-orang Panawijen pasti akan bersedia membantu, sedangkan yang sebagian lagi mulai membajak tanah untuk persawahan.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku harus menyiapkan semuanya tepat pada waktunya.”

Demikianlah maka orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel itu bekerja keras untuk membangunkan suatu harapan bagi masa depan. Bagi anak cucu. Mereka tidak sekedar berpikir tentang diri mereka. Tetapi yang penting bagi mereka adalah, mereka telah berbuat. Mereka telah memberikan sesuatu bagi anak cucu mereka. Dengan demikian maka kehadiran mereka dalam urutan turun-tumurun tidak akan membuat anak cucu mereka menyesal. Anak cucu mereka tidak akan mengatakan, bahwa tataran keturunan yang ini adalah tataran yang paling jelek di antara garis keturunan karena telah mengabaikan usaha untuk anak cucu mereka.

Orang-orang yang bekerja itu sama sekali tidak menghiraukan ketika matahari memanjat semakin tinggi. Mereka tidak menghiraukan terik yang seakan-akan membakar punggung mereka yang telanjang.

Sedangkan matahari pun merayap semakin tinggi. Setelah dilampauinya puncak langit, maka datanglah saatnya perjalanan itu berganti menurun. Semakin lama semakin rendah, sehingga akhirnya cahayanya menjadi kemerah-merahan.

Orang-orang yang sedang bekerja di bendungan, di parit-parit, dan di taman pun sampai pada batas waktu mereka. Mereka akan segera beristirahat. Setelah mengeringkan keringat mereka, maka beramai-ramai mereka mandi. Sejenak kemudian maka bendungan itu telah menjadi sepi. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah kembali ke gubug masing-masing. Mengambil makan mereka, kemudian duduk-duduk beristirahat sambil bercakap-cakap tentang banyak hal yang dapat menghibur kelelahan mereka.

Dalam pada itu, dua ekor kuda berlari tidak terlampau cepat mendekati bendungan yang telah menjadi sepi itu. Beberapa ratus langkah dari bendungan itu, keduanya berhenti. Samar-samar dalam cahaya senja, salah seorang dari mereka berkata, “Apakah bendungan itu tidak dijaga?”

Yang lain menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu paman.”

Orang yang pertama, yang masih saja berusaha mencari jalan untuk dapat menghubungi bakal permaisuri Tumapel, menengadahkan wajahnya. Dan dilihatnya langit menjadi semakin suram.

“Aku tidak segera dapat berhubungan dengan seseorang yang dapat aku percaya. Seharusnya kau, bekas seorang pelayan dalam, akan dapat lebih mudah melakukannya. Tetapi ternyata aku terlampau bodoh.”

“Namaku telah dikenal oleh hampir setiap orang Tumapel. Aku kira mereka pun sekarang mengetahui apa yang telah terjadi dengan diriku, sehingga tidak seorang pun lagi akan mempercayai aku.”

Yang lain, yang berwajah beku, mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, aku dapat mengerti Kuda Sempana.” Orang itu, Kebo Sindet, terdiam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Bagaimana dengan Ken Arok?”

“Aku kira kita tidak akan mendapat kesempatan,” jawab Kuda Sempana, “aku belum demikian mengenalnya.”

“Dengan upah yang cukup tinggi? Atau dalam pembagian yang adil?”

Kuda Sempana menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi ternyata anak muda itu kini mendapat kepercayaan dari Akuwu Tunggul Ametung. Mungkin ia berpendirian teguh dan kita akan terjebak karenanya.”

Kebo Sindet tidak menjawab. Dipandanginya arah bendungan yang menjadi semakin kabur.

“Aku akan pergi ke Tumapel untuk mencari orang-orang yang dapat bekerja bersama dengan aku, menjual Mahisa Agni kepada adiknya,” berkata Kebo Sindet dalam nada yang datar.

Ternyata Kuda Sempana pun kini wajahnya telah hampir membeku pula. Kesan dari kata-kata itu sama sekali tidak tampak di wajahnya. Dengan nada datar pula ia bertanya, “Apakah aku harus ikut serta bersama paman?”

“Ya, kau harus pergi bersamaku. Selalu. Aku tidak dapat meninggalkan kau sendiri di goa itu. Aku tidak ingin kau membunuh Mahisa Agni yang masih lemah.”

“Aku tidak akan membunuhnya dan Mahisa Agni sudah menjadi cukup segar.”

“Kau ingin berkelahi melawannya?”

“Tidak.”

“Tetapi aku tidak percaya kepadamu, sebab kau menyimpan dendam yang tidak terkatakan. Kau harus pergi bersamaku. Kau tidak boleh bertemu Mahisa Agni tanpa aku. Sedangkan Mahisa Agni sementara ini harus tetap hidup.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Ia kini sama sekali sudah tidak mempedulikan lagi terhadap Mahisa Agni, terhadap bendungan, terhadap Ken Dedes, dan bahkan terhadap diri sendiri.

“Marilah, jangan risaukan Mahisa Agni. Ia tidak akan dapat keluar dari daerah rawa-rawa. Ia tahu apa yang tersembunyi di dalam air itu. Lumpur dan binatang-binatang berbisa. Hanya akulah yang mengenal jalan yang paling aman. Kau pun tidak.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Sedangkan wajahnya pun tidak menunjukkan kesan apa pun. Beku, hampir seperti wajah Kebo Sindet, meskipun kadang-kadang wajah itu masih juga bergerak dan memberikan kesan.

Kedua ekor kuda itu mulai bergerak lagi. Mereka tidak mendekati bendungan dan perkemahan orang-orang Panawijen, tetapi mereka menyusur sungai di seberang perkemahan.

“Aku harus menemukan seseorang yang dapat menyampaikan penawaran kepada calon permaisuri itu,” gumam Kebo Sindet, “apakah di perkemahan itu tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya dan dibawa bekerja bersama?”

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”

“Kita janjikan upah setinggi-tingginya. Kalau perlu apa saja yang diminta akan kita penuhi.”

“Kalau permintaanya tidak masuk akal, dan melampaui kemampuan paman, bahkan melebihi tawaran yang akan paman terima dari Ken Dedes?”

Kebo Sindet terdiam sejenak, tetapi ia berpaling memandangi Kuda Sempana yang berkata di sampingnya. Kemudian terdengar orang itu berdesis dengan suara yang dalam, yang seolah-olah hanya melingkar-lingkar di dalam perutnya. “Kau memang bodoh sekali. Lebih bodoh dari yang aku duga. Baik Ken Arok maupun orang lain tidak akan mengurangi pendapatan kita.”

Kuda Sempana menjadi heran mendengar jawaban itu. Tetapi ia tidak bertanya. Dibiarkannya Kebo Sindet memberinya penjelasan. “Mereka tidak akan pernah mengenyam hasil dari jerih-payah mereka.”

“Kenapa?” akhirnya terdengar Kuda Sempana berdesis.

“Mereka akan mati demikian pekerjaan mereka selesai.”

“Mereka akan paman bunuh?”

“Tentu. Mereka akan mati. Semua hasilnya akan jatuh ke tangan kita. Kau mengerti?”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya tetapi dadanya terasa berdesir. Ternyata Kebo Sindet memang benar-benar seorang yang gila. Ia tidak memperhitungkan cara apa pun yang dipergunakannya untuk mendapatkan harta. Sedangkan harta-benda dan kekayaan yang tidak terkira itu hanya ditimbunnya saja di dalam goa yang terasing.

“Tidak masuk akal,” desis Kuda Sempana di dalam hatinya, “orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia tidak beranak-isteri, tidak ber-sanak-kadang. Buat apa ia menimbun segala macam harta-benda di dalam goa itu?”

Namun Kuda Sempana sendiri menyadari kemungkinan-kemungkinan yang bakal dialami. Apabila pekerjaan tentang Mahisa Agni ini selesai, maka ia pun akan mengalami nasib serupa dengan orang-orang yang sedang dicari oleh Kebo Sindet. Kali ini ia masih mungkin untuk diperalat, menghubungi orang-orang dalam yang bersedia berkhianat dengan janji yang menyenangkan. Tetapi orang itu kemudian akan mati, dan ia sendiri pun akan mati pula.

Sejenak kemudian mereka pun saling berdiam diri. Dengan agak ragu-ragu Kebo Sindet meninggalkan bendungan dan menjauhi perkemahan orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel. Ternyata Kuda Sempana tidak dapat menghubungkannya dengan siapa pun dari perkemahan ini. Juga Ken Arok sangat meragukannya. Apakah anak muda itu dapat dikail dengan janji.

Tetapi Kebo Sindet tidak perlu tergesa-gesa. Kalau mungkin hubungan itu dapat dilakukan sebelum hari perkawinan, tetapi kalau gagal, maka sesudah Ken Dedes menjadi permaisuri pun, pasti akan berhasil juga. Mungkin Ken Dedes akan dapat dijadikannya sapi perahan. Setiap kali dituntutnya sejumlah uang dan perhiasan, tetapi Mahisa Agni tidak juga dilepaskan untuk mengajukan tuntutan-tuntutan berikutnya. Ken Dedes dapat mempercayakan kepada orang hambanya, untuk melihat di tempat-tempat tertentu, sudah tentu tidak di sarangnya, bahwa Mahisa masih betul-betul hidup. (penafsiran karena kata tidak terbaca)

Kebo Sindet kadang-kadang tersenyum sendiri di dalam hati, meskipun wajahnya tetap membeku. Rencana ini ternyata masih lebih baik dengan rencananya untuk mempergunakan nama Empu Sada.

“Persetan dengan Empu gila itu,” katanya di dalam hati, “asal saja ia tidak menghalangi.”

Kuda-kuda itu berjalan semakin lama semakin jauh. Tidak terlampau cepat. Bahkan seakan-akan mereka sedang bercengkerama di luasnya padang rumput yang berwarna kekuning-kuningan. Sekali-sekali mereka melewati gerumbul-gerumbul perdu yang berwarna kelam.

Tiba-tiba Kebo Sindet bergumam, “Kuda Sempana. Kita akan sering melewati tempat ini. Siapa tahu, suatu ketika kita akan bertemu dengan seseorang yang dapat kita jadikan alat, untuk menyampaikan penawaran kita kepada Ken Dedes.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Dan Kebo Sindet pun tidak berbicara lagi. Sambil berdiam diri mereka meneruskan perjalanan mereka ke Tumapel untuk melihat-lihat saja kemungkinan yang dapat mereka lakukan.

Sementara itu Ken Arok sedang marah-marah di dalam gubugnya. Ketika ia pulang dari bendungan, maka segera ia ingin berganti pakaian karena pakaiannya telah menjadi sangat kusut dan kotor. Semalam pakaian itu telah dipakainya untuk melontar-lontarkan batu, dan sehari ini dipakainya untuk bekerja di bendungan. Karena itu maka pakaiannya itu telah penuh dengan debu.

Tetapi ketika ia membuka seikat bungkusan di sudut gubugnya, tempat ia menyimpan pakaian, maka tiba-tiba ia mengumpat. Ternyata di dalam bungkusan itu hanya terdapat seonggok rumput kering.

“Hem, siapakah yang telah membuat gila ini?” tanpa sesadarnya Ken Arok berteriak.

Beberapa orang mendengar suara teriakan itu dan dengan tergesa-gesa mereka mendatangi. Mereka tertegun melihat bungkusan rumput kering di sudut gubug Ken Arok, di samping pembaringannya.

“Siapa he, siapa yang telah berbuat gila? Apakah aku harus bertindak kasar?”

Tak seorang pun yang menjawab.

“Panggil pengawal,” teriak Ken Arok marah.

Beberapa orang dengan tergesa-gesa mencari prajurit yang siang ini bertugas mengawal perkemahan ini.

Sedangkan beberapa orang lain berkerumun, saling berguman di antara mereka, siapakah yang telah berbuat tidak sepantasnya itu. Seandainya orang itu bermaksud membuat suatu lelucon, maka sendau-gurau yang demikian itu sangat melampaui batas. Apalagi apabila ada di antara mereka yang sengaja mengambil pakaian Ken Arok yang hanya beberapa lembar, maka perbuatan itu akan merupakan cela bagi seluruh prajurit Tumapel atau orang-orang Panawijen.

Ketika dua orang pengawal datang ke gubug itu dan melihat orang berkerumun, hatinya menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika mereka masuk ke dalam gubug itu. Dengan lantangnya Ken Arok berteriak, “Lihat, lihat?”

Mata kedua orang itu terbelalak ketika mereka melihat sebungkus rumput kering di sudut gubug Ken Arok, di samping pembaringannya. Mula-mula mereka tidak mengerti, apakah maksud Ken Arok dengan menunjuk seonggok tumput kering itu. Namun kemudian mereka mengerti, bahwa seharusnya pakaianlah yang pantas dibungkus di tempat itu.

“Apakah kau sudah melihat?”

“Ya,” hampir bersamaan kedua prajurit itu menjawab.

“Lalu apa katamu?” bertanya Ken Arok pula.

Keduanya menggelengkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak dapat mengerti. Aku mengawal perkemahan ini dengan baik. Aku tidak melihat seorang pun masuk atau keluar dari gubug ini. Seandainya itu karena kekhilafanku, maka aku dapat menunjukkan siapa saja yang hari ini bertugas di perkemahan, di dapur, dan mereka yang sedang beristirahat karena semalam mereka bertugas.”

“Panggil mereka,” berkata Ken Arok. Nadanya meninggi dan wajahnya menjadi tegang, “panggil mereka. Aku tidak senang dengan lelucon yang tidak pantas ini.”

Kedua pengawal itu mengangguk. Salah seorang di antaranya menjawab, “Baik. Kami akan memanggil mereka semua.”

Kedua orang itu pun kemudian keluar dari gubug Ken Arok. Beberapa orang lain membantunya memanggil orang-orang yang oleh kedua pengawal itu disebut namanya.

Di dalam gubugnya Ken Arok hampir tidak sabar menunggu kedatangan kedua orang pengawal itu. Ketika keduanya datang, maka orang-orang yang mereka panggil pun satu-satu segera menyusul masuk ke dalam gubug itu.

Hampir saja Ken Arok membentak-bentak mereka dengan marahnya seandainya Ki Buyut Panawijen tidak segera masuk ke dalam gubug itu pula. Ternyata peristiwa itu sudah pula terdengar oleh orang-orang Panawijen sehingga wajah Ken Arak menjadi agak kemerah-merahan.

“Maaf Ki Buyut, aku sedang mengurus sesuatu peristiwa yang memalukan. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan kepada mereka, bahwa hal yang demikian sebaiknya tidak terulang. Permainan yang keterlaluan.”

Ki Buyut Panawijen yang telah lanjut itu mengangguk-anggukan kepalanya. Ia pun agaknya tidak senang melihat kejadian itu. Kejadian itu akan dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan di dalam perkemahan ini. Tetapi orang tua itu tidak segera mencampuri persoalannya, karena Ki Buyut menganggap bahwa persoalan itu masih terbatas pada prajurit-prajurit Pajang sendiri.

Meskipun demikian Ki Buyut itu berkata, “Kejadian ini patut disesalkan Ngger.”

“Ya, Ki Buyut. Aku harus sekali-sekali bertindak terhadap orang-orang yang tidak dapat menempatkan dirinya, menyesuaikan diri dengan keadaan.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, Sementara itu orang-orang yang dipanggil oleh Ken Arok telah berkumpul berjejal-jejal di dalam gubug itu. Tetapi karena di dalam gubug itu pula ada Ki Buyut Panawijen, maka Ken Arok bersikap agak hati-hati.

“Apakah kalian berada di perkemahan siang ini?” ia bertanya.

Orang-orang itu menganggukkan kepala mereka. Beberapa di antara mereka menjawab, “Ya, kami siang ini berada di sini.”

“Lihat, apakah yang terjadi di sini?”

Tak seorang pun yang menyahut. Mereka melihat seonggok rumput kering.

“Ketika aku meninggalkan gubug ini, sebagai orang yang terakhir karena kelambatanku, bungkusan ini adalah bungkusan pakaian. Tetapi sekarang yang ada di sini adalah seonggok rumput. Aku tidak menyayangkan pakaianku yang hilang, sebab aku akan dapat meminjam salah seorang dari kalian dan besok akan dapat memohon ganti kepada Akuwu, tetapi sendau-gurau yang demikian sangat menyakitkan hati. Aku minta siapa yang telah berbuat, segera menyatakan dirinya. Kali ini aku tidak akan berbuat apa-apa, tetapi ingat, hal ini tidak boleh terulang.”

Orang-orang itu saling berpandangan. Tetapi wajah-wajah mereka menunjukkan perasaan mereka yang menjadi cemas. Sejenak mereka tidak dapat berkata sepatah kata pun sehingga mereka mendengar Ken Arok berkata, “Jangan menunggu aku mengambil tindakan.”

Salah seorang prajurit yang sudah setengah umur kemudian menjawab, “Aku kira, tidak seorang pun dari kami yang berbuat demikian. Kami tahu menempatkan diri kami. Meskipun kadang-kadang kami bergurau hampir tidak terkendali, tetapi kami tidak akan sampai tindakan sejauh itu.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia dapat memahami jawaban itu. Tetapi ia tidak dapat mengerti bahwa hal itu dapat terjadi. Sejenak Ken Arok berdiam diri sambil memandangi wajah-wajah yang ada di sekitarnya. Ketika terpandang olehnya wajah dua orang yang semalam mengawal perkemahan, dan sehari ini beristirahat di perkemahan, maka tiba-tiba ia berkata, “Baik. Baik. Semua keluar dari gubug ini. Semuanya, kecuali kedua orang ini.”

Kedua pengawal itu mengerutkan kening mereka. Pada mereka menjadi berdebar-debar. Sedangkan beberapa orang kawan mereka pun memandang mereka dengan penuh pertanyaan. “Apakah yang telah mereka lakukan?”

Sesaat kemudian satu-satu orang-orang di dalam ruangan itu mengalir keluar. Yang tinggal di dalam gubug itu kemudian tinggallah kedua pengawal itu, Ken Arok, dan Ki Buyut Panawijen.

Meskipun demikian para prajurit yang berkerumun masih saja berkerumun. Mereka berdiri berjejal-jejal di luar pintu gubug Ken Arok.

Tetapi agaknya Ken Arok tidak senang melihat mereka. Karena itu maka ia melangkah ke muka pintu sambil berkata, “Sudahlah. Kembalilah kalian ke dalam gubug kalian masing-masing. Aku kira tidak ada lagi yang akan aku persoalkan. Aku tahu bahwa tidak ada di antara kalian yang telah melakukannya.”

Sejenak para prajurit itu saling berpandangan. Dan mereka mendengar Ken Arok berkata selanjutnya, “Kembalilah dan beristirahatlah. Lupakan peristiwa ini. Aku akan menyelesaikannya sendiri tanpa mengganggu kalian lagi.”

Meskipun hati para prajurit itu masih diganggu oleh berbagai pertanyaan, terutama tentang kedua kawannya yang masih berada di dalam gubug Ken Arok, namun mereka terpaksa meninggalkan tempat itu kembali ke dalam gubug masing-masing, meskipun mereka masih tetap menunggu apa yang akan terjadi atas kedua kawannya.

Setelah para prajurit meninggalkan tempat itu, maka Ken Arok pun kembali masuk ke dalam ruangan gubugnya yang diterangi oleh sebuah pelita minyak yang tersangkut pada tiang bambu. Sinarnya yang redup berguncang ditiup angin padang yang agak keras.

Sejenak ruangan itu dicekam oleh kesepian. Namun kesepian yang tegang. Kedua prajurit yang semalam mengawal perkemahan itu masih berdiri tegak seperti tonggak. Sekali-kali mereka saling berpandangan. Namun kemudian mereka kembali mendengar jantung masing-masing berdebaran.

Mereka terkejut ketika tiba-tiba Ken Arok memecah kesepian. Justru dengan nada yang rendah perlahan-lahan, “Duduklah.”

Sekali lagi mereka saling berpandangan. Dan sekali lagi mereka mendengar suara Ken Arok lunak, “Duduklah.” Kemudian kepada Ki Buyut Panawijen, Ken Arok mempersilakan pula, “Silakan Ki Buyut, duduklah.”

Mereka berempat kemudian duduk berkeliling. Sejenak mereka saling berdiam diri, namun kemudian Ken Arok mulai berbicara kepada kedua prajurit itu, “Apakah kalian semalam mengawal perkemahan ini?”

Hampir bersamaan mereka menjawab, “Ya, kami mengawal perkemahan ini semalam.”

“Ya, aku bertemu kalian semalam,” sahut Ken Arok. Tetapi sejenak ia menjadi ragu-ragu. Ia ingin bertanya kepada kedua pengawal itu tentang seorang yang bernama Bango Samparan. Namun ia takut mendengar jawabannya. Seandainya kedua prajurit itu menggelengkan kepala mereka dan berkata, bahwa mereka tidak melihat seorang pun, maka itu berarti bahwa otaknya sendiri sudah tidak wajar lagi. Karena itu untuk sesaat Ken Arok terdiam. Dipertimbangkannya baik-baik pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dalam dadanya, supaya tidak meluncur berdesak-desakan sehingga membayangkan kegelisahannya.

Baru sejenak kemudian Ken Arok itu bertanya, “Kau hari ini beristirahat?”

Keduanya rnengangguk-anggukkan kepalanya dengan ragu-ragu, “Ya,” jawab mereka.

“Bukankah kau semalam datang kepadaku ketika aku berjalan-jalan di luar gubug ini?”

“Ya. Kami memang datang kemari.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menjadi ragu-ragu. Kenapa ia mesti bertanya. Kenapa kedua orang itu tidak berkata kepadanya bahwa semalam mereka mengantarkan seseorang kepadanya.

“Semalam udara di dalam gubug terlampau panas. Aku berjalan keluar ketika kalian datang. Bukankah begitu?”

Kedua prajurit itu menjadi heran mendengar pertanyaan Ken Arok yang melingkar-lingkar itu. Namun mereka menjawab pula, “Ya, udara memang terlampau panas semalam.”

“Oh,” desah Ken Arok di dalam hatinya. Tetapi akhirnya ia tidak sabar lagi menunggu kedua orang itu berkata dengan sendirinya tentang peristiwa semalam yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya. Jawaban kedua orang itu tidak dapat disimpulkannya, apakah mereka datang hanya berdua atau dengan seseorang lain. Karena itu maka Ken Arok tidak lagi menunggu. Langsung ia bertanya dengan dada yang berdebar-debar, “Apakah kau semalam membawa seseorang kepadaku? Seorang tamu?”

Wajah Ken Arok menjadi tegang selama ia menunggu kedua orang itu menjawab. “Kalau mereka menggeleng,” berkata Ken Arok di dalam hatinya, “ternyata aku telah menjadi gila. Aku telah melihat apa yang sebenarnya tidak pernah ada.”

Hampir terlonjak Ken Arok ketika mendengar orang itu menjawab, “Ya, kami semalam mengantarkan seseorang kemari. Seorang tamu.”

“Oh,” Ken Arok menundukkan kepalanya. Kedua tangannya menyangga keningnya seolah-olah kepala itu menjadi terlampau berat.

Kedua prajurit itu, Ki Buyut Panawijen, menjadi heran melihat tingkah lakunya, sehingga orang tua itu bertanya, “Apa yang telah terjadi, Ngger.”

“Oh,” tergagap Ken Arok menjawab, “tidak apa-apa Ki Buyut. Aku hanya dibingungkan oleh perasaanku sendiri.” Kemudian kepada kedua prajurit itu ia ingin meyakinkan dirinya sendiri, “Jadi kalian semalam telah membawa Bango Samparan kepadaku?”

“Ya, seseorang,” jawab mereka. “Bukan orang Panawijen dan bukan dari Tumapel.”

“Ya, ya. Orang itu adalah Bango Samparan.” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam.

“Aku tidak gila,” katarya di dalam hati, “aku tidak gila. Bango Samparan lah yang gila.”

Meskipun demikian, Ken Arok tidak dapat ingkar kepada diri sendiri, bahwa apa yang telah terjadi itu, kegelisahan, kebingungan, dan keragu-raguan, adalah akibat dari mimpi yang gila yang didengarnya dari mulut Bango Samparan. Seandainya ia tidak pernah mendengar mimpi itu, maka ia tidak akan bingung seandainya Bango Samparan itu benar-benar tidak pernah datang sekalipun.

Tetapi Bango Samparan itu ternyata benar-benar telah datang di gubugnya. Bango Samparan itu telah berceritera kepadanya tentang sesuatu yang telah membuatnya gelisah. Kalau tidak, maka ia tidak akan bingung bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya tentang seseorang yang bernama Bango Samparan. Kalau pikirannya tidak sedang dikacaukan oleh angan-angan yang gila yang diucapkan oleh Bango Samparan itu, maka ia akan cukup tenang untuk bertanya kepada orang-orang yang langsung berkepentingan.

Kedua orang prajurit itu masih saja duduk dengan penuh menyimpan pertanyaan di dalam dadanya. Ia masih belum tahu hubungan yang jelas antara seonggok rumput itu dengan tamu Ken Arok semalam.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Ki Buyut Panawijen hanya mengangguk-anggukkan kapalanya saja, karena ia tidak tahu ujung pangkal dari pembicaraan mereka tentang tamu yang dibawa oleh kedua prajurit itu.

Yang mula-mula memecah kesepian adalah suara Ken Arok datar, “Aku minta maaf kepada kalian. Mungkin kalian menjadi gelisah atau cemas. Aku memang terlampau tergesa-gesa.”

Kedua prajurit itu saling berpandangan, tetapi keduanya tidak menjawab.

Dan karena keduanya diam saja, maka Ken Arok meneruskan, “Sampaikan pula kepada setiap prajurit Panawijen yang ikut menjadi gelisah pula seperti kalian. Aku yakin bahwa mereka kini masih saja diliputi oleh pertanyaan tentang diri kalian berdua. Nah, sekarang kembalilah kalian ke gubug kalian. Sampaikan permintaan maafku kepada semua prajurit.”

Sekali lagi kedua prajurit itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi?”

Ken Arok berpaling sejenak, memandangi seonggok rumput di samping pembaringannya. Katanya, “Dalam kegelisahan aku terlampau cepat menjadi marah. Apa yang kalian lihat di sini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kalian. Kalian tidak usah berpikir tentang rumput kering itu. Itu pasti pokal tamu semalam. Aku kira ia pergi ketika aku sedang berada di sendang yang sedang dibuat itu. Dan tamuku itu pulalah yang telah membawa seluruh pakaianku dan menggantinya dengan seonggok rumput kering.”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam, sedangkan Ki Buyut Panawijen mengangguk-anggukkan pula sambil berkata, “Oh, jadi semalam Angger kedatangan seorang tamu yang pergi tanpa pamit?”

“Begitulah Ki Buyut.”

“Siapakah tamu Angger itu? Dan apakah Angger yakin bahwa tamu Angger itu yang telah berbuat?”

Ken Arok terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan hubungan antara dirinya dengan Bango Samparan. Ia sendiri sebenarnya tidak ingin mendengar tentang hubungan yang pernah terjadi itu.

Bukan karena ia ingkar dan tidak mengenal terima kasih tetapi ia ingin menjauhkan diri dari setiap pengaruh yang akan dapat menyeretnya ke dalam dunia yang hitam. Kalau ia kini terseret ke dalam dunianya yang lama, maka kejahatan yang akan dapat dilakukan pasti akan lebih dahsyat dari masa-masa sebelumnya. Ia kini memiliki pedang di lambung, memiliki kekuasaan meskipun tidak terlampau besar, dan memiliki pengaruh yang cukup atas beberapa orang prajurit.

Tetapi ia harus menjawab pertanyaan Ki Buyut Panawijen sehingga sekenanya ia bergumam, “Bango Samparan adalah seorang kawan, Ki Buyut.”

“Em,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Sama sekali tidak terlintas sejumput prasangka pun atas jawaban itu. Namun Ken Arok yang merasa tidak mengatakan sebenarnya itu menjadi semakin gelisah. Tanpa sesadarnya ia menyambung, “Kawan yang agak dekat di masa-masa lalu. Tetapi kami tidak sejalan dalam angan-angan dan perbuatan.”

“Em” Ki Buyut masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ken Arok masih saja diburu oleh kegelisahannya sendiri.

“Tetapi, kami sudah lama sekali berpisah Ki Buyut,” tergagap Ken Arok berkata terus, “dan sebenarnya aku tidak ingin lagi bertemu dengan orang itu.”

“Em,” Ki Buyut mengangguk-angguk terus.

“Aku menyesal bahwa ia datang kemari semalam. Orang itu benar-benar gila. Ia datang dengan kegilaannya.”

“Em,” Ki Buyut masih mengangguk-angguk, tetapi ia heran melihat sikap Ken Arok yang tiba-tiba menjadi semakin tegang. Keheranan Ki Buyut Panawijen itu terpancar di dalam sorot matanya. Namun Ken Arok menangkap sorot mata itu dengan alas kegelisahan, sehingga Ken Arok merasa, seakan-akan Ki Buyut Panawijen itu tidak mempercayainya.

“Ki Buyut, aku berkata sebenarnya. Aku berkata apa yang sebenarnya terjadi.”

Ki Buyut menjadi semakin heran. Namun ia tidak segera menjawab.

“Kenapa Ki Buyut tidak percaya, he?”

“Oh,” Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu sehingga hampir-hampir ia terlonjak dari duduknya. Kening yang telah mulai berkerut dilukisi oleh garis-garis ketuaannya, menjadi semakin berkerut-merut.

“Kenapa aku tidak percaya Ngger, kenapa? Aku percaya kepada Angger. Bahkan aku mempercayakan seluruhnya kepadamu. Sepeninggal Mahisa Agni, maka segenap kepercayaan ada padamu, Ngger.”

“Tetapi sorot mata Ki Buyut itu.”

“Oh,” Ki Buyut menjadi semakin bingung, “bagaimana dengan sorot mataku. Apakah sorot mataku mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mempercayaimu? Oh, aku tidak tahu bagaimana aku harus memandang Angger.”

Jawaban itu terasa telah menghujam ke dalam jantung Ken Arok. Sejenak Ken Arok terbungkam. Ia dapat merasakan kejujuran yang terpancar dari jawaban Ki Buyut yang tua itu. Sehingga karena itu, maka disadarinya, betapa ia menjadi cemas dan bingung karena Bango Samparan.

Terpatah-patah Kep Arok itu kemudian berkata, “Maaf Ki Buyut, maaf. Aku telah bena-benar menjadi bingung.”

Ki Buyut Panawijen tidak segera menyahut. Dipandanginya saja anak muda itu dengan beribu pertanyaan di dalam dadanya. Tetapi kemudian orang tua itu pun dapat menangkap kegelisahan yang sangat telah mengganggu Ken Arok.

Tiba-tiba orang-orang yang berada di dalam gubug itu terkejut ketika Ken Arok berkata, “Tinggalkan aku sendiri. Tinggalkan aku sendiri.”

Prajurit yang berada di dalam gubug itu saling berpandangan. Dan mereka mendengar Ken Arok berkata, “Kenapa kalian berdua belum juga meninggalkan tempat ini? Aku sudah minta maaf kepada kalian, bahkan aku pesan kepadamu berdua, aku minta maaf pula kepada setiap prajurit yang menjadi gelisah dan tersinggung karena sikapku. Aku sudah berkata pula, bahwa yang mengambil semua pakaianku dan menggantinya dengan rumput-rumput kering adalah tamuku semalam. Nah, tinggalkan aku.” Ken Arok berhenti sejenak, lalu suaranya menurun lemah, “Tetapi semuanya ini bukan lelucon yang menyenangkan.”

Kedua prajurit itu pun kemudian berdiri sambil berkata, “Kami minta diri.”

“Silakan. Aku minta maaf untuk kesekian kalinya.”

Kedua prajurit itu pun kemudian meninggalkan gubug itu. Beberapa langkah mereka berpaling. Ketika sekali lagi mereka saling berpandangan, maka merekapun menggeleng-gelengkan kepala masing-masing. Mereka seolah-olah saling bertanya, apakah yang sebenarnya telah terjadi, tetapi mereka pun bersama-sama menyadari bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang Ken Arok dan tamunya.

Meskipun kedua prajurit itu telah meninggalkan gubug Ken Arok, namun Ki Buyut masih saja duduk di samping Ken Arok. Ia sebenarnya ingin mengetahui, kenapa anak muda itu menjadi sangat gelisah. Tetapi Ki Buyut tidak berani bertanya kepadanya.

Sesaat mereka duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kepala-kepala mereka menunduk dan angan-angan mereka mengembara ke dunia yang tidak dapat mereka jajagi.

Malam yang sepi itu pun menjadi semakin sepi. Nyala pelita minyak masih saja berayun-ayun dibelai padang. Lamat-lamat di kejauhan terdengar derik belalang, dan sekali-sekali terdengar lolong anjing liar dan keluhan burung kedasih.

Tetapi betapa malam diselimuti oleh kesenyapan yang ngelangut, namun Ken Arok masih juga dikejar oleh kegelisahannya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai dirinya supaya tidak lagi menyinggung perasaan orang lain yang tidak bersangkut-paut dan tidak mengerti sama sekali persoalan Bango Samparan.

Ki Buyut Panawijen, seorang yang telah cukup banyak makan asin pahitnya kehidupan, dapat menghubungkan kegelisahan Ken Arok itu dengan tamunya semalam, yang menurut dugaan Ken Arok telah membawa segenap sisa pakaiannya, kecuali yang dipakainya itu. Tetapi Ki Buyut pun menyangka, bahkan hampir meyakininya, bahwa sebenarnya kegelisahan Ken Arok bukan hanya sekadar karena pakaiannya itu lenyap. Anak muda itu telah berkata, bahwa ia akan dapat meminjam kepada orang lain kemudian kembali ke Tumapel untuk mengambil pakaiannya yang lain atau minta kepada Akuwu Tunggul Ametung.

Tetapi yang lain itulah yang agaknya tidak hendak dikatakannya. Yang lain itu pulalah yang sangat menggelisahkannya.

Namun ternyata Ken Arok yang hampir tidak pernah menahan sesuatu perasaan apa pun di masa lampaunya, terlampau sukar untuk menyembunyikan kegelisahannya. Di masa lampau ia akan berbuat apa saja yang terbersit dibatinya. Ia akan berteriak apabila ia ingin berteriak. Ia akan berkelahi apabila ia ingin berkelahi. Ia akan mencegat dan menangkap gadis-gadis apabila dikehendaki. Bahkan ia akan membunuh apabila keinginan itu timbul di dalam benaknya. Perlahan-lahan ia telah berhasil menyingkir dari dunianya yang kelam itu. Namun untuk menahan dadanya digetarkan oleh perasaan gelisah dan pepat, adalah terlampau sulit baginya.

Karena itu, maka tanpa disangka-sangka oleh Ki Buyut Panawijen, Ken Arok itu kemudian berkata, “Ki Buyut, aku telah berbohong. Aku telah mencoba membohongi Ki Buyut.”

Ki Buyut mengangkat wajahnya. Kini ia tahu, kenapa Ken Arok menyangkanya, bahwa ia tidak mempercayahi kata-kata anak muda itu. Orang yang telah cukup berumur itu segera dapat mengerti apa yang menyebabkan Ken Arok berbuat demikian. Perasaannya sendirilah yang mengatakannya bahwa ia telah berbohong, bahwa kata-katanya itu tidak dapat dipercaya. Namun karena itu pula Ki Buyut Panawijen menjadi kagum akan kejujuran hatinya. Hatinya yang masih cukup terbuka dalam kesederhanaannya.

“Ki Buyut,” berkata Ken Arok terbata-bata. “Bango Samparan sama sekali bukan hanya sekadar temanku.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Bango Samparan itu mempunyai kedudukan yang khusus di hati Ken Arok, sehingga kehadirannya telah membuat anak muda itu kebingungan. Dan sebelum Ki Buyut berkata, Ken Arok meneruskan, “Tetapi bahwa ia yang telah mengambil pakaianku dapat aku yakini. Bango Samparan memang mempunyai sifat yang demikian. Dan itulah yang menakutkan aku. Aku tidak mau lagi disentuh oleh racun-racun yang pernah menghujam di dalam benakku di masa kanak-kanakku. Ki Buyut, Bango Samparan seorang penjudi besar, tetapi seorang perampok kecil-kecilan itu, adalah ayah angkatku.”

Ki Buyut Fanawijen masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin jelas akan persoalan anak muda itu. Anak muda yang ketakutan melihat bayang-bayang yang pernah menyelimutinya di masa kanak-kanak, dan yang kini tiba-tiba saja telah muncul kembali.

Tetapi Ki Buyut Panawijen masih belum menanggapinya. Ia masih saja berdiam diri sambil memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Ken Arok.

Dan Ken Arok itu berkata terus, “Dan ayah angkatku itu, seperti ayah angkatku yang lain, Lembong, telah membentukku menjadi seekor serigala yang liar, yang hidup berkeliaran tanpa landasan. Sekali-sekali aku jumpai juga orang-orang yang baik, seorang yang mengajarku mengenai beberapa hal, bahkan sampai pada masalah kepandaian ilmu dan kesusasteraan. Tetapi tak seorang pun yang langsung memperhatikan masalah kerokhanian. Sehingga suatu ketika aku bertemu dengan orang-orang yang aku anggap aneh, yang memberikan pengertian yang lain, yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Namun, kini tiba-tiba orang semacam Bango Samparan itu muncul kembali.”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan orang tua itu berkata, “Anakmas, kehadiran orang-orang yang tidak kau kehendaki itu, jadikanlah alat untuk melihat diri sendiri. Bukankah kehadiran Bango Samparan dapat memberikan sekadar kenangan atas masa lampau itu. Dan Angger sudah menyadari bahwa masa lampau itu sama sekali tidak menyenangkan? Nah, dengan demikian maka Angger akan dapat semakin menjauhkan diri dari kehidupan masa lampau itu, dengan menghayati hidup ini dengan sebaik-baiknya. Hidup yang telah kau ketemukan dengan cara dan jalan yang kau kehendaki.”

Kini Ken Aroklah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba untuk memahami kata-kata orang tua itu. Mempergunakan keadaan ini untuk semakin meyakini jalan hidupnya yang kini menjadi semakin baik dan terang.

Ken Arok mengatupkan giginya rapat-rapat ketika terngiang kembali suara Bango Samparan, “Nasibmu terlampau baik Ken Arok.” Dan Bango Samparan itu menganggapnya menyia-nyiakan nasib yang baik itu. Nasib yang terlampau baik.

“Anakmas,” berkata Ki Buyut, “memang kita seakan-akan dibiarkan berdiri di persimpangan jalan. Kita di-wenang-kan untuk memilih sendiri jalan yang harus kita tempuh. Tetapi kita sudah mendapat petunjuk, ke mana jalan-jalan itu akan menuju.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah juga mendengar dahulu pada saat ia masih mengembara di Padang Karautan, bahwa jalan yang menuju ke arah keselamatan abadi, bukanlah jalan yang paling luas dan rata. Bukan pula jalan yang dianut oleh jumlah yang lebih banyak. Tetapi adalah suatu keyakinan tentang keselamatan abadi, betapapun jeleknya yang harus dilalui, betapapun sunyinya, namun keyakinan itu harus digenggamnya.

Beribu-ribu orang yang lebih senang melalui jalan yang dipenuhi oleh kenikmatan duniawi, tetapi hanya satu-dua orang saja yang meletakkan harapannya pada kenikmatan abadi.

Kenangan itu, serta kata-kata Ki Buyut yang telah menanjak menginjak hari-hari tuanya, ternyata mampu memberikan ketenteraman hati anak muda itu. Ia tidak lagi takut mendengar kata-kata Bango Samparan. Seandainya kini Bango Samparan datang lagi kepadanya dan mengulangi semua kata-katanya, maka hati Ken Arok tidak akan goncang lagi. Ia tidak perlu takut lagi seandainya mendengar Bango Samparan berkata kepadanya, bahwa nasibnya terlampau baik, sehingga hampir setiap keinginannya terpenuhi. Bahkan seandainya ia ingin menjadi seorang Akuwu atau Maharaja Kediri sekalipun.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi heran sendiri, bahwa ia menjadi sedemikian bingung menghadapi Bango Samparan, sehingga hampir-hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas suatu tugas yang berat, maka keadaannya itu sangat membahayakannya. Bukan saja atas dirinya sendiri, tetapi atas seluruh pekerjaan dan orang-orang yang berada di dalam tanggung jawabnya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Ken Arok kemudian berkata, “Terima kasih Ki Buyut. Aku mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan aku akan selalu dapat mempertimbangkan keseimbangan perasaanku.”

Kini, Ki Buyut yang selama itu menjadi tegang, tampak tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata, “Ah, sudahlah Angger. Setiap peristiwa akan dapat dijadikan pengalaman yang baik asal kita dapat menempatkan pada tempat yang wajar. Selamat malam, aku akan kembali dan beristirahat. Besok kita masih harus bekerja keras. Bendungan itu hampir siap. Kalau air sudah mengalir lewat induk susukan yang membelah padang ini, maka kita tidak perlu mengangkat air dengan lodong-lodong bambu untuk setiap hari menyiram pepohonan yang sudah mulai rimbun itu, terutama di taman yang sedang dipersiapkan.”

“Ya Ki Buyut,” sahut Ken Arok yang wajahnya pun kini menjadi terang, “aku mengharap demikian. Aku mengharap bahwa enam bulan lagi pepohonan itu telah menjadi cukup rimbun. Sawah-sawah telah dapat digenangi air, dan pategalan telah menjadi hijau. Meskipun tanaman-tanamannya belum cukup tinggi, tetapi pemandangan di daerah ini telah berubah sama sekali. Semuanya akan tampak hijau segar.”

“Begitulah Ngger. Mudah-mudahan,” desis Ki Buyut. “Dan kini aku minta diri.”

Ki Buyut itu pun kemudian meninggalkan Ken Arok seorang diri. Sesaat Ken Arok masih duduk tepekur di tempatnya. Ia mencoba mencernakan pengalaman yang aneh ini. Tetapi kemudian ia berdiri sambil bergumam, “Suatu pelajaran yang baik.”

Tanpa disadarinya maka mulailah tangannya menyambar makanan yang disediakan untuknya. Ia belum sempat memakannya, karena sejak ia kembali ke gubugnya, ia menjadi sibuk karena seonggok rumput kering.

“Gila benar Bango Samparan,” Ken Arok menggerutu. Tetapi kali ini tidak karena kata-katanya yang dapat meracuni dirinya, tetapi karena tubuhnya yang menjadi gatal-gatal.

“Aku harus mencari ganti pakaian,” gumamnya kemudian sambil mengunyah makanannya. “Kalau tidak maka sisa malam ini tidak akan dapat aku pergunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat.”

Dan malam itu Ken Arok terpaksa membangunkan seorang prajurit yang terdekat dari gubugnya untuk meminjam pakaian. Tetapi agaknya prajurit itu terlampau malas sehingga pakaiannya yang tidak dipakainya semuanya masih belum dicucinya, kecuali sepasang yang akan dipakainya sendiri besok.

Sambil bersungut-sungut Ken Arok terpaksa membangunkan orang lain dan meminjam pakaian dari padanya.

Hari-hari berikutnya maka Ken Arok seolah-olah mendapat dorongan untuk bekerja lebih keras. Dari hari ke hari, maka kedatangan Bango Samparan telah dilupakannya.

Ia telah mendengar laporan dari kedua orang prajurit yang melaporkan hilangnya Mahisa Agni ke Tumapel. Dan ia telah menyuruh dua orang yang lain untuk mengambil pakaiannya yang ditinggalkannya di baraknya di Tumapel.

Bahkan Ken Arok telah mengirim orang yang lain untuk menyampaikan rencananya kepada Akuwu Tunggul Ametung supaya pekerjaannya tidak terlambat. Ken Arok minta dikirim beberapa kelompok prajurit untuk membantunya, mengerjakan pekerjaannya yang akan dilakukannya siang dan malam.

Sehari demi sehari telah terlampaui. Saat perkawinan agung menjadi semakin dekat. Betapa hati Ken Dedes menjadi semakin sedih, namun ia tidak dapat menunda hari-hari yang telah ditentukan, bahkan sudah mulai dipersiapkan dengan teliti. Setiap kali ia hanya dapat menumpahkan kepahitan hatinya kepada emban pemomong-nya yang dibawanya dari Panawijen. Terhadap emban yang lain, bahkan terhadap Madri yang selalu melayaninya dengan baik, ia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Emban tua yang dibawanya dari Panawijen itu selalu berusaha untuk menghiburnya, membesarkan hatinya, dan menasihatinya supaya gadis itu mendapatkan ketenteraman.

“Adalah lebih baik demikian Tuan Puteri,” berkata emban itu suatu kali, “lebih baik perkawinan itu segera terjadi. Bukankah Tuan telah berada di sini cukup lama? Apakah kata orang apabila hal itu akan berkepanjangan. Betapapun juga Akuwu adalah seorang laki-laki muda, sedangkan Tuan Puteri adalah seorang gadis yang cantik.”

“Ah,” Ken Dedes berdesah, tetapi emban tua itu segera memotongnya, “sudah tentu Tuan Puteri dan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung akan menjaga diri masing-masing. Namun orang-orang di luar istana, apalagi yang tidak senang melihat kehadiran Tuan Puteri di sini, akan dapat mengatakan hal-hal yang tidak baik. Seolah-olah Tuanku bukanlah seorang permaisuri. Seolah-olah Tuan Puteri hanya sekadar seorang selir.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya, dan ia dapat mengerti kata-kata emban pemomong-nya. Apabila demikian, sejenak ia dapat menahan hatinya, pasrah diri dalam kepahitan. Namun setiap kali, kerinduannya kepada kakaknya, yang dianggap tinggal satu-satunya keluarganya itu sangat mengganggunya. Dalam upacara agung, maka kenang-kenangan yang demikian pasti tidak akan dapat disingkirkannya, sehingga dalam keramaian peralatan agung, dalam kerinduan dan kegembiraan yang meluap-luap di seluruh Tumapel, ia akan merasa semakin sepi.

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia berdesis, “Ya bibi, mudah-mudahan aku dapat menemukan perasaan itu. Mudah-mudahan aku dapat melepaskan rinduku kepada kakang Mahisa Agni setelah aku mempunyai seorang suami.”

Emban tua itu menelan ludahnya yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. “Demikianlah hendaknya Tuan Puteri,” katanya, namun hatinya menjerit setinggi langit. Apakah benar-benar terjadi, Mahisa Agni akan dilupakannya? O, alangkah malang nasib anak itu.

Dalam pada itu, Ken Dedes sendiri seolah-olah menemukan suatu anggapan baru tentang Akuwu Tunggul Ametung. Kekecewaannya telah mendorongnya untuk menganggap bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seseorang yang terlampau mementingkan diri sendiri.

Tetapi tak seorang pun yang dapat menahan majunya waktu. Hari-hari pun telah terlampaui, dan saat yang telah ditunggu-tunggu oleh segenap rakyat Tumapel itu terjadilah.

Datanglah saatnya Tumapel mengadakan peralatan agung. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung mengambil seorang permaisuri. Putra seorang pendeta dari Padepokan Panawijen.

Namun beberapa mulut berdesah di antara rakyat Tumapel, “Sayang bahwa gadis itu seorang gadis yatim-piatu. Ibunya sudah tidak ada lagi, dan ayahnya hilang tidak diketahui ke mana perginya. Satu-satunya kakaknya pun hilang ditelan oleh para penjahat.”

Tetapi dengan demikian, dengan perasaan iba di hati, rakyat Panawijen menyambut bakal permaisurinya dengan ikhlas. Bahkan beberapa orang menganggap bahwa keprihatinan gadis bakal permaisuri itu pasti akan bermanfaat bagi Tumapel.

Dalam upacara-upacara yang besar itu, Ken Dedes selalu berusaha untuk menahan gelora perasaannya. Untuk menyembunyikan kepahitan hati serta kerinduannya kepada keluarganya. Kadang-kadang ia tidak dapat menahan desakan air matanya, sehingga setitik-setitik menetes di pangkuannya. Kadang-kadang bayangan wajah ayahnya yang tua membayanginya, kemudian disusul oleh kenangan atas Mahisa Agni yang kekar dan perkasa, yang telah melepaskannya dari berbagai macam bencana. Terbayang pula masa kanak-kanaknya yang riang penuh gairah di Padepokan Panawijen bersama para endang. Bermain-main di tepian sambil melihat gemerciknya air sungai yang mengalir lambat di antara batu-batu yang menjorok. Mencuci sambil berdendang di bendungan. Sayup-sayup terdengar seruling para gembala di antara gemersiknya angin pagi.

Ken Dedes merasakan kenikmatan hidup dalam kesederhanaan itu. Dan kini ia harus mencoba menikmati hidup dalam kemewahan duniawi yang melimpah-limpah.

Pada hari-hari upacara perkawinan agung itu, seluruh Tumapel seolah-olah telah diselimuti oleh kegembiraan yang merata. Seolah-olah tidak ada lagi kesedihan, duka, dan kepahitan hidup. Rakyat yang paling miskin sampai yang paling kaya, mencoba untuk bergembira menyambut perkawinan Akuwu Tunggul Ametung.

Tujuh hari tujuh malam Tumapel bermandikan suasana perkawinan. Hampir di setiap banjar padesan dan padukuhan terdapat berbagai macam keramaian. Umbul-umbul dan rontek berjajar di sepanjang jalan dari ujung ke ujung. Di pinggir-pinggir desa anak-anak meneriakkan keriangan hati mereka sambil menggenggam berbagai macam makanan dan permainan. Regol-regol desa dihiasi dengan berbagai macam bentuk hiasan janur dan dedaunan.

Setiap wajah rakyat Tumapel menjadi cerah. Mereka tidak memikirkan kesulitan hidup yang kadang-kadang mereka jumpai. Mereka melupakan sejenak kesibukan mereka sehari-hari. Kesibukan kerja untuk menghidupi keluarga mereka.

Tetapi wajah Ken Dedes sendiri tidak secerah wajah rakyat yang menyambut pengangkatannya menjadi seorang permaisuri. Setiap saat dikenangnya ayahnya, ibunya yang tidak dapat diingatnya dengan jelas. Dan yang menyedihkan baginya adalah Mahisa Agni yang hidup dan matinya masih belum dapat diketahui.

“Kalau kakang Mahisa Agni ada, maka ia sedikit banyak akan dapat ikut menikmati kemeriahan hari-hari perkawinan ini,” desisnya, “tetapi aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya saat-saat ini. Mungkin ia masih terikat pada sebatang tonggak. Mungkin ia baru mengalami siksaan badani, dan bahkan mungkin di luar kekuatan daya tahannya. Atau mungkin juga ia sudah terbujur mati tanpa seorang pun yang mengurusnya.”

Hati Ken Dedes menjadi semakin pedih ketika ternyata Akuwu Tunggul Ametung tidak dapat ikut mengerti kepahitan yang dirasakannya. Bahkan sekali-sekali Tunggul Ametung menegurnya, “Ken Dedes, setiap orang di Tumapel merayakan hari bahagia ini. Setiap orang bergembira. Tetapi kau sendiri ternyata menyambut hari-hari yang cerah ini dengan wajah yang kusut.”

Ken Dedes tidak dapat mengatakan sepatah kata pun. Setiap kali ia mencoba untuk menunjukkan kegembiraannya. Apalagi di hadapan para tamu-tamu agung yang berdatangan ke istana pada upacara-upacara resmi. Para pendeta, para pemimpin pemerintahan, para panglima dan senapati, dan para tamu dari luar Tumapel yang ikut merayakan hari yang berbahagia itu.

Tetapi apabila upacara-upacara semacam itu sudah selesai. Apabila para tamu telah tidak ada lagi di Istana Tumapel dan tidak lagi terdengar suara gamelan yang mengiringi gadis-gadis menarikan tari-tari yang riang penuh gairah hidup menyambut perkawinan agung, maka Ken Dedes kembali ke dalam biliknya dengan wajah yang suram. Setelah para emban membantunya melepaskan pakaian kebesaran yang berkilauan seperti matahari, setelah para emban membantunya mengenakan pakaian sehari-hari seorang permaisuri, maka Ken Dedes itu menelungkupkan kepalanya di pangkuan pemomong-nya. Para emban yang meninggalkannya di dalam biliknya berdua dengan emban tua yang dibawanya dari Panawijen, masih mendengar gadis itu terisak-isak. Namun sambil tersenyum para emban itu saling berbisik, “Oh, alangkah bahagianya gadis Panawijen itu. Ia menangisi kurnia yang tidak pernah diimpikannya di masa kanak-kanak. Sebagai seorang gadis padepokan yang terpencil, maka ia kini berada di sentong tengen Istana Tumapel. Kegembiraan yang meledak telah menyebabkan ia tidak dapat menahan diri. Bukankah kalian mendengar Tuan Puteri itu menangis?”

“Ah, bukankah itu sudah sewajarnya? Kau pun akan menangis seandainya tiba-tiba kau diambil menjadi seorang isteri senapati saja. Apalagi menjadi seorang permaisuri. Kau, pasti tidak akan dapat merasakan betapa bahagianya, sebab kau akan mati membeku karena kegirangan.”

“Uh, kalau benar aku menjadi isterti seorang senapati maka kau aku beri anugerah. Prajurit suamiku yang paling tampan akan mengambilmu menjadi selirnya.”

“Ah, tidak mau.”

Para emban itu pun kemudian tertawa. Meskipun mereka mencoba untuk menahan suara tertawa mereka, namun para prajurit yang berada di belakang istana mendengarnya. Ketika prajurit-prajurit itu berpaling, dilihatnya beberapa orang emban lewat melintasi halaman belakang.

“Uh,” desah salah seorang dari prajurit-prajurit itu, “kalian mengenakan pakaian yang paling indah yang kalian punyai. Tetapi kalian tidak membawa makanan yang paling enak untuk kami yang bertugas di gardu-gardu perondan.”

“Kami tidak mengurusi makanmu,” sahut salah seorang emban itu.

“Ya, mungkin lain kali kau akan mengurusi makananku.”

“Tidak mungkin. Aku bukan emban madaran. ”

“Siapa tahu kalau kau kelak menjadi isteriku.”

“Hus, jangan terlampau perasa. Bercerminlah di belumbang sebelah. Kau akan melihat wajahmu sendiri yang jelek itu.”

Prajurit itu tidak marah. Tetapi justru ia tertawa lebih keras dari suara para emban.

Pemimpin peronda istana pada saat itu mendengar suara tertawa prajuritnya. Tetapi kali ini dibiarkannya saja para prajurit dan emban tertawa terlampau keras. Seluruh Tumapel memang sedang tertawa. Di alun-alun di muka istana itu pun sedang diadakan berbagai macam pertunjukan. Di bawah pohon beringin.

Di malam hari Tumapel memancarkan sinar beribu-ribu obor di sepanjang jalan, di regol-regol, dan di banjar-banjar. Seolah-olah Tumapel ingin bersaing dengan wajah langit yang biru, yang ditaburi oleh berjuta-juta bintang-bintang yang gemerlapan.

Tetapi Tumapel tidak mendengarkan suara hati seorang gadis yang sedang disambutnya. Hanya emban tua pemomong-nya sajalah yang dapat ikut menitikkan air mata. Tetapi air mata itu adalah juga air mata kesedihannya sendiri, karena ia pun sedang menangisi anak satu-satunya yang hilang tak tentu lintang bujurnya.

Demikianlah maka wajah dan hati keputren Istana Tumapel itu tidak sejalan. Wajah yang cerah bercahaya karena rerangken dan perhiasan yang cemerlang. Tetapi hati permaisuri itu sendiri menjadi suram.

Namun setiap kali emban pemomong-nya berkata, “Tuan Puteri, lambat-laun Tuan Puteri pasti akan menemukan kegembiraan Tuan kembali. Kesibukan Tuan Puteri sebagai seorang permaisuri pasti akan mendesak segala macam kerinduan Tuan Puteri kepada orang-orang yang Tuan kasihi. Ayah bunda dan kakanda Tuan yang hilang itu.”

“Mungkin bibi,” sahut Ken Dedes, “tetapi hanya untuk sementara. Setiap kali aku pasti akan teringat kepada mereka itu. Mereka yang hanya dapat merasakan pahit dan getirnya, tetapi mereka tidak sempat ikut merasakan kesenangan ini.”

“Itu adalah suatu sikap yang dapat Tuan anggap bahwa mereka telah melakukan mesu-diri, berprihatin untuk Tuan Puteri. Merekalah yang menanam dan menyiangi. Kini Tuan Puterilah yang memetik buahnya.”

“Itulah yang menyedihkan bibi. Mereka hanya menanam saja. Menanam, mengairi, menyiangi, dan memelihara. Tetapi mereka tidak ikut memetik buahnya.”

“Buah itu telah melimpah kepada puterinya, kepada adiknya yang dikasihi. Apalagi?”

Ken Dedes tidak menyahut. Ia mencoba meresapkan kata-kata emban tua pemomong-nya itu. Ia mencoba menerima kejadian itu dengan wajar, dan ia mencoba melupakan orang-orang yang dikasihinya. Tetapi hal itu tidak mungkin dilakukannya.

Sedangkan emban itu sendiri, serasa dadanya menjadi pepat. Setiap ia mengucapkan kata-kata penghibur bagi Ken Dedes, maka kata-kata itu bagaikan jarum-jarum yang menusuk hatinya sendiri. Pedih.

Tetapi kegembiraan di Tumapel berlangsung terus. Seperti yang direncanakan. Tujuh hari tujuh malam. Hampir tidak ada saat-saat terluang dari berbagai macam kesenangan dan kegembiraan. Barong di sepanjang jalan diiringi dengan gamelan berirama cepat. Di banjar-banjar dan di pura-pura, gadis-gadis menari berebutan.

Namun juga berbagai macam perjudian seolah-olah mendapat kesempatan tanpa terkendali. Adu ayam, jengkerik, dan burung gemak. Anak-anak bermain binten di perapatan. Gadis-gadis desa bermain jirak hampir semalam-suntuk dengan lampu-lampu obor yang menyala di setiap sudut halaman.

Tetapi ternyata bahwa Akuwu Tumapel tidak juga melupakan para prajurit yang berada di Padang Karautan. Beberapa hari sebelum hari perkawinan itu, Ken Arok telah mengirimkan dua orang prajurit untuk datang menghadap, mohon agar Akuwu berkenan mengirimkan beberapa orang baru untuk menambah tenaga dan perbekalan di Padang Karautan. Orang-orang baru dengan alat-alat yang baru. Ken Arok telah menyampaikan rencananya untuk melakukan pekerjaannya siang dan malam, supaya sendang itu dapat siap pada waktunya. Sebelum enam bulan sejak hari perkawinan ini.

Akuwu Tumapel sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kepada Ken Arok, Akuwu telah mengirimkan pesan, supaya pada saat-saat Tumapel merayakan hari-hari perkawinannya, Ken Arok dapat ikut menyaksikannya.

Tetapi kemudian datang seorang prajarit dari Padang Karautan yang menyampaikan pesan Ken Arok, bahwa Ken Arok ingin merayakan hari-hari yang berbahagia itu di Padang Karautan, bersama dengan para prajurit dan orang-orang Panawijen. Sebab orang-orang Panawijen adalah orang-orang yang merasa paling berbahagia atas perkawinan itu. Ken Dedes adalah gadis dari Panawijen.

“Kalau begitu,” berkata Akuwu Tumapel, “pada saat itu aku akan mengirimkan prajurit-prajurit seperti yang diminta oleh Ken Arok, bahan-bahan makanan untuk masa-masa kerja yang lama itu dan bahan-bahan beserta jurumasak-jurumasak yang paling pandai untuk menyediakan makanan yang paling enak di hari-hari yang bahagia itu. Para prajurit yang sedang bekerja beserta orang-orang Panawijen harus menikmatinya pula kesenangan tujuh hari tujuh malam. Selama hari-hari itulah maka jurumasak-jurumasak yang pandai dari Tumapel akan menyediakan makan dan minum bagi para prajurit dan orang-orang Panawijen yang sedang bekerja membuat bendungan, parit-parit, dan sendang buatan.”

Demikianlah maka pada hari-hari perkawinan yang dirayakan tujuh hari tujuh malam itu, maka Padang Karautan pun seolah-olah dibanjiri oleh makan dan minum tiada taranya. Setiap orang akan dapat menikmati makanan menurut seleranya. Berbagai macam makanan telah disiapkan untuk mereka. Berlebih-lebihan sehingga bersisa terlampau banyak.

“Kita kirimkan sebagian dari makanan ini ke Panawijen,” berkata salah seorang dari mereka, “orang-orang yang tinggal di Panawijen pun harus menikmati kegembiraan ini. Kawan-kawan bermain Ken Dedes semasa kecil, para endang, dan para cantrik.”

“Bagus,” sahut Ki Buyut, “anak-anak pun harus ikut merayakannya.”

“Ya,” teriak seseorang, “aku di sini makan makanan yang paling enak, bahkan yang seumur hidupku belum pernah aku cicipi, tetapi anak-anakku hampir tidak makan di rumah.”

Maka diputuskannya untuk mengirimkan makanan secukupnya bagi orang-orang Panawijen. Makanan yang seenak-enaknya meskipun tidak untuk tujuh hari tujuh malam. Tetapi mereka harus ikut bergembira di antara daun-daun yang menjadi semakin menguning dan tanah persawahan yang menjadi semakin kering.

Tetapi kali ini Ken Arok tidak mau mengorbankan orang baru lagi seandainya mereka bertemu dengan Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Karena itu, maka ketika beberapa orang berangkat mengantar makanan itu, Ken Arok telah menyediakan sejumlah prajurit yang akan mengawalnya, yang tidak akan mungkin dapat dikalahkan oleh Kebo Sindet.

Kedatangan orang-orang Panawijen yang membawa makanan sedemikian banyaknya di atas punggung-punggung kuda dan pedati-pedati yang ditarik oleh lembu beserta beberapa orang prajurit, ternyata telah mengejutkan perempuan dan anak-anak. Tetapi ketika mereka tahu apa yang telah dibawa oleh orang-orang itu, maka meledaklah kegembiraan tiada taranya. Sehingga serta-merta Panawijen yang kering itu telah ikut pula merayakan perkawinan Ken Dedes dalam upacara agung di Istana Tumapel.

Sejenak orang-orang Panawijen melupakan pepohonan yang meratapi diri dalam kekeringan. Pepohonan yang daun-daunnya berguguran semakin lama semakin banyak.

Anak-anak yang sejak lama tidak berlari-larian dan bermain-main di sudut desa, sejenak dapat menikmati kegembiraan. Setelah sekian lamanya Panawijen menjadi desa yang seakan-akan mati, maka untuk sesaat dapat menikmati hidupnya kembali.

Para endang dan para cantrik pun ikut pula bergembira Mereka saling berceritera tentang masa lampau mereka, selagi Ken Dedes masih berada di padepokan.

“Ken Dedes tidak pernah melupakan aku,” berkata salah seorang endang , “ke mana pun ia pergi, aku pasti dibawanya.”

“Aku masih menyimpan sehelai kain panjang,” sahut yang lain, “kain panjang pemberian Ken Dedes yang dahulu dipakainya. Kain panjang itu kini menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagiku.”

“O,” berkata yang lain lagi, “kenang-kenangan yang ada padaku bukan sekadar sehelai kain. Tetapi rambut Ken Dedes yang kini telah aku sisir halus. Cemara itu panjangnya hampir sedepa. Setiap kali aku menyisir rambutnya yang hitam lebat itu, dahulu aku selalu menyimpan rambutnya yang rontok. Sekarang rambut itu menjadi sehelai cemara,” rambut yang panjang.

Seorang endang yang lain dengan sedih bergumam, “Aku tidak mempunyai kenang-kenangan sama sekali dari padanya. Sehelai selendang pun tidak. Tetapi aku mempunyai bekas luka di lenganku.”

“Apa hubungannya antara bekas luka itu dengan Ken Dedes?”

“Aku pernah berkelahi dengannya ketika kami masih agak kecil. Aku digigitnya sampai luka berdarah. Bekas luka itu masih ada sampai kini.”

“Oh,” desah beberapa emban hampir bersamaan, “kenang-kenangan yang paling mengesankan.”

“Kalau tahu ia akan menjadi seorang permaisuri, maka aku akan membalasnya, menggigit lengannya supaya ia tidak akan pernah melupakan aku.”

“Jadi kau tidak membalasnya saat kau digigitnya?”

“Aku tidak berani, aku hanya menangis melolong-lolong.”

Para endang itu pun kemudian terdiam. Tetapi mulut mereka masih mengunyah berbagai macam makanan yang diperuntukkan bagi mereka. Di ruang lain para cantrik pun sedang menikmati makanan yang serupa. Tetapi agaknya para cantrik itu lebih cepat hampir dua kali lipat menghabiskan makanan mereka.

“Besok kita akan mendapat lagi,” gumam salah seorang cantrik, “dua hari dua malam kita akan menikmati makanan seperti ini. Bahkan mungkin lebih lama lagi.”

Tak ada yang sempat menjawab karena mulut mereka sedang dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang belum pernah mereka nikmati sepanjang umur mereka. Makanan yang disesuaikan dengan selera juru madaran dari Istana Tumapel.

Di Padang Karautan, kegembiraan yang serupa agaknya tidak kalah meriahnya. Para prajurit menari-nari sesuka hati. Ada beberapa di antara mereka memang seorang penari. Tetapi karena tidak ada gamelan, maka mereka menari tanpa irama diiringi oleh kawan-kawannya yang mencoba menirukan suara gamelan dengan mulutnya.

Namun demikian hal itu sangat menggembirakan. Mereka tertawa sambil mengunyah makanan dan minum minuman yang selama ini tidak pernah mereka nikmati. Mereka selama berada di Padang Karautan hanya minum air sungai, atau air panas yang direndami daun sere dan gula kelapa.

Prajurit-prajurit yang masih segar, yang baru datang di padang itu pun mencoba untuk bergembira. Meskipun sebenarnya mereka lebih senang merayakan hari perkawinan Akuwu itu di Tumapel. Namun mereka tidak dapat menyanggah perintah atasannya, bahwa mereka harus berangkat ke Padang Karautan, sambil membawa bekal dan makanan khusus selama hari-hari peralatan.

Pada hari yang ketiga maka Padang Karautan menjadi lebih meriah lagi. Mereka melihat pemimpin rombongan telah datang bersama beberapa orang pengawal. Pemimpin rombongan prajurit-prajurit yang diperbantukan kepada Ken Arok, yang menurut perintah Akuwu maka pemimpin rombongan itu akan menjadi pembantu Ken Arok pula. Sebab menurut Akuwu Tunggul Ametung, maka Ken Arok tidak akan dapat terus-menerus mengawasi pekerjaan yang akan dilakukan sehari semalam bergantian.

“He,” teriak salah seorang prajurit, “lihat, pemimpin kita itu telah datang. Rombongan kecil itu pasti membawa makanan lebih banyak lagi.”

Hampir berbareng kawan-kawannya pun tertawa. Berkata salah seorang, “Apakah perutmu masih belum penuh juga?”

“Perutku dapat menggelembung. Karena itu maka perut ini tidak pernah penuh berapa pun makanan aku masukkan.”

Kawan-kawannya sekali lagi tertawa. Bahkan Ki Buyut Panawijen yang duduk-duduk di antara mereka bersama orang-orang Panawijen pun ikut tertawa juga.

“Jangan malu Ki Buyut,” teriak prajurit itu pula, “kalau Ki Buyut dan orang-orang Panawijen malu, maka bukan salah kami apabila kalian tidak mendapat bagian. Kalau besok juru madaran itu kembali ke Tumapel, maka kita akan mengalami masa paceklik lagi. Makan nasi kurang matang, sambal wijen, dan jangan keluwih. Nah, lihat, itu orang-orang baru telah berdatangan lagi. Mereka pasti membawa makanan lebih banyak dan lebih enak.”

Meledaklah suara tertawa seolah-olah membelah Padang Karautan. Kegembiraan yang tidak tertahankan setelah mereka bekerja keras tanpa mengenal istirahat.

Ken Arok sendiri duduk di atas sebuah batu beberapa langkah dari Ki Buyut Panawijen. Tampaklah ia tersenyum-senyum melihat tingkah-laku prajurit-prajuritnya dan orang-orang Panawijen yang sedang bergembira. Selama ini ia tidak dapat memaksa mereka bekerja. Tiga hari bendungan itu seolah-olah tidak disentuhnya. sendang dan susukan induk itu pun dibiarkannya tidak digarap selama ini untuk memberi kesempatan kepada orang-orangnya menikmati kegembiraan.

Ken Arok mengharap, mudah-mudahan kegembiraan ini akan dapat menjadi pendorong kerja yang akan datang. Kerja yang lebih keras. Apalagi dengan orang-orang baru yang masih segar.

Dengan wajah yang masih dihiasi dengan sebuah senyuman, Ken Arok menatap Padang Karautan yang berwarna kekuning-kuningan. Semakin lama rombongan kecil prajurit-prajurit Tumapel itu menjadi semakin dekat. Debu yang tipis mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berlari tidak terlampau cepat melintas padang rumput yang luas.

“Siapakah yang akan dikirim oleh Akuwu untuk membantu aku di sini?” bertanya Ken Arok kepada salah seorang prajurit yang baru datang tiga hari yang lampau.

Tetapi prajurit itu menggeleng sambil menjawab, “Kami tidak tahu, siapakah yang akan datang itu. Tetapi pemimpin pasukan yang membawa kami kemarin berkata, bahwa tiga hari lagi akan datang perwira yang akan diperbantukan dalam pembuatan bendungan ini.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap bertanya-tanya di dalam hati, “Siapakah orang yang akan datang itu?” Ken Arok mengharap bahwa orang itu akan dapat diajaknya bekerja bersama. Seorang yang mengerti arti dari kerjanya.

Ketika rombongan itu menjadi semakin dekat, maka tampaklah wajah Ken Arok menjadi semakin berkerut. Di antara mereka yang datang itu tampaklah seorang perwira remaja yang belum lama mendapat wisuda kenaikan tingkat.

“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “kenapa anak itu yang dikirim kemari?”

Tetapi Ken Arok tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menerima tenaga yang dikirimkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepadanya.

“Bukankah ia hanya membantu aku mengawasi para prajurit yang sedang bekerja? Mudah-mudahan sikapnya tidak mengendorkan hasrat dari setiap orang di sini. Mulutnya agak terlampau lancang. Dan sikapnya yang kekanak-kanakan kurang meyakinkan sikap seorang pemimpin,” desisnya di dalam hati.

Ketika rombongan itu sudah menjadi dekat benar, maka Ken Arok pun berdiri menyambutnya bersama dengan Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang prajurit. Tampaklah wajah anak muda itu berseri-seri meskipun dibasahi oleh keringat yang meleleh dari kening. Dengan lantangnya ia berkata hampir berteriak, “Ah, padang ini telah membakar kulitku kakang.”

Ken Arok mencoba tersenyum. Jawabnya, “Besok kau akan dapat merendam dirimu di dalam air.”

Perwira yang masih muda dalam usia maupun dalam jabatan itu tertawa. Katanya, “Ya, aku akan merendam diri. Apakah sendang yang kau buat itu sudah berair?”

Ken Arok menggeleng, “Belum,” jawabnya, “tetapi kau dapat merendam diri di bendungan.”

“Bendungan yang dibuat oleh Mahisa Agni?”

“Ya,” sahut Ken Arok, “sekarang adalah tugas kita untuk menyelesaikan bendungan itu sepeninggal Mahisa Agni.”

Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah kau ikut membuat bendungan itu pula bersama para prajurit?”

“Tentu,” sahut Ken Arok.

Ken Arok terkejut ketika perwira itu kemudian berkata, “Aku hanya mendapat tugas membantumu membuat sendang buatan itu. Bendungan itu adalah pekerjaan orang-orang Panawijen. Prajurit-prajurit yang aku bawa dan yang mendahului aku adalah tenaga-tenaga yang diperbantukan kepadamu untuk sendang buatan itu.”

“Ah,” Ken Arok berdesah. Dengan serta-merta ia memandangi wajah Ki Buyut Panawijen yang berkerut. Tetapi Ken Arok itu segera menyahut, “Ya, begitulah. Aku memang meminta kepada Akuwu tenaga yang akan membantuku menyelesaikan sendang itu. Sedangkan bendungan dan parit-paritnya akan dilakukan oleh orang-orangku yang lama. Yang telah berada di padang ini sebelum kalian datang.”

Perwira itu ingin membantah kata-kata Ken Arok, tetapi segera Ken Arok menyambung kata-katanya. “Turunlah. Inilah Ki Buyut Panawijen.”

“O,” anak muda itu mengangguk kecil. Perlahan-lahan ia turun dari kudanya. Tampaklah betapa malasnya ia berjalan mendekati Ken Arok.

“Jadi orang tua inilah Ki Buyut Panawijen?” ia bertanya kepada Ken Arok.

“Ya, Ngger. Akulah Buyut Panawijen,” orang tua itu mengangguk dengan hormat.

Sekali lagi anak muda itu mengangguk kecil, katanya, “Namaku Kebo Ijo, Ki Buyut.”

“O, jadi Angger bernama Kebo Ijo?”

“Ya,” sahut Kebo Ijo pendek, kemudian kepada Ken Arok ia berkata, “di manakah sendang buatan itu?”

“Itu,” Ken Arok menunjuk agak ke tengah, “agaknya pepohonan yang aku tanam telah tumbuh baik meskipun masih harus disiram setiap hari.”

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah hari ini kalian tidak bekerja?” ia bertanya.

“Kami di sini sedang beristirahat merayakan perkawinan Akuwu.”

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kenapa kau tidak pergi ke Tumapel menyaksikan perkawinan itu?”

“Aku lebih senang berada di sini. Di antara batu-batu dan brunjung-brunjung bambu. Di antara tanaman-tanaman yang telah mulai tumbuh ngrembaka. Di antara para prajurit yang menari-nari menurut irama yang khusus.”

“Sayang kau tidak melihatnya,” desis Kebo Ijo.

“Kenapa?”

“Gadis Panawijen itu memang cantik. Cantik sekali. Sepantasnyalah, bahwa kakang Mahendra pernah tergila-gila kepadanya, dan Kuda Sempana benar-benar menjadi gila. Apakah kau belum pernah melihat wajah gadis itu?”

“Sudah, tetapi hanya sekilas,” jawab Ken Arok. “Aku sama sekali tidak melihat kelebihan dari gadis-gadis cantik yang lain. Tetapi entahlah dalam pakaian kebesarannya.”

Mendengar jawaban Ken Arok itu Kebo Ijo tertawa terbahak-bahak, sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Beberapa orang prajurit berpaling memandanginya. Dan Ki Buyut Panawijen pun mengerutkan keningnya. Orang tua itu dalam sekilas dapat melihat perbedaan antara kedua pemimpin yang mendapat tugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang berat itu. Meskipun keduanya masih muda, tetapi Ken Arok tampak jauh lebih matang dari pemimpin yang bernama Kebo Ijo itu.

Di sela-sela suara tertawanya terdengar ia berkata, “Sudah sepantasnyalah kau ditempatkan di Padang Karautan ini. Setiap hari kau hanya bergaul dengan batu-batu, brunjung-brunjung bambu, pedati, waluku, dan lembu.”

“Kenapa?” Ken Arok mengerutkan keningnya.

“Seandainya kau berada di Tumapel pun kau tidak akan dapat menilai seorang gadis. Ternyata kau tidak melihat kelebihan yang tidak ternilai pada permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.”

“Sudah aku katakan. Aku hanya melihatnya sekilas. Pertama-tama aku melihatnya pada saat Akuwu mengambilnya di Padukuhan Panawijen. Kemudian hampir tidak pernah lagi aku melihatnya cukup lama.

Sekali lagi Kebo Ijo tertawa. “Mungkin,” katanya, “pada saat kau mengambilnya di Panawijen maka gadis itu adalah gadis padepokan. Pakaiannya adalah pakaian padesan sehari-hari. Tetapi setelah ia mengenakan pakaian seorang puteri keraton, maka wajahnya memancar seperti matahari.”

Kemudian sambil berpaling kepada Ki Buyut Panawijen, ia berkata, “Kau dapat juga berbangga Ki Buyut, bahwa dari padukuhanmu yang kering itu telah lahir seorang gadis yang cantik seperti matahari. Tetapi sinarnya yang panas telah mengeringkan padukuhanmu sehingga kau harus bersusah-payah membuat bendungan baru di sini.”

“Ah,” Ken Arok memotong, “kau masih juga senang bergurau. Beristirahatlah. Mungkin kau haus atau lapar. Silakan. Orang-orangmu sudah tahu, ke mana kau harus pergi sekarang. Telah disediakan sebuah gubug untukmu.”

“Apa aku dapat beristirahat di tempat serupa kandang kambing ini?”

“Sekian lamanya aku di sini, aku selalu dapat tidur nyenyak,” sahut Ken Arok.

Sejenak Kebo Ijo menebarkan pandangan matanya berkeliling. Tampaklah keningnya berkerut-merut dan mulutnya bergerak-gerak. Tetapi ia masih berdiam diri.

“Apakah yang membuatmu heran?” bertanya Ken Arok.

“Hem,” anak muda itu bersungut-sungut, “ternyata aku telah dilemparkan ke dalam neraka. Kenapa aku yang mendapat tugas di padang panas ini, kenapa bukan orang lain?”

“Di sini tidak ada sesuatu yang dapat menyegarkan hati. Tidak ada gadis-gadis cantik, tidak ada penari yang lincah, tidak ada selingan apa pun kecuali batu melulu.”

“Aku di sini jauh lebih lama daripadamu,” sahut Ken Arok, “tetapi aku tidak mengeluh.”

“Mungkin kau sudah biasa hidup di Padang Karautan sejak sebelum kau menjadi pelayan dalam di Tumapel.”

Terasa dada Ken Arok berdesir mendengar kata-kata Kebo Ijo itu Tetapi ketika ia melihat wajah Kebo Ijo, maka segera ia menyadari bahwa Kebo Ijo sama sekali tidak bersungguh-sungguh. Ia berkata apa saja sekehendak hatinya tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Karena itu maka Ken Arok itu bahkan tersenyum sambil menjawab, “Ya, mungkin aku memang dilahirkan di Padang Karautan. Tetapi kau pun harus berusaha menyesuaikan dirimu. Seorang prajurit pada suatu saat akan berada di suatu tempat yang sama sekali tidak menyenangkan. Dalam peperangan mungkin kau harus berada di tanah yang berlumpur, atau mungkin di padang yang lebih panas dari Karautan, atau mungkin di lereng-lereng bukit.”

“Dalam peperangan hal itu wajar sekali terjadi. Tetapi di masa-masa orang lain bergembira ria di jalan-jalan Kota Tumapel, aku harus berada di dalam tungku yang panasnya bukan main.”

“Ah,” desah Ken Arok, “jangan mengeluh saja. Kau harus memberi contoh kepada prajurit-prajuritmu, bahwa mereka harus tahan menghadapi keadaan.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Kemudian ia berpaling memandangi prajurit-prajurit yang duduk bergerombol-bergerombol di antara gubug-gubug yang bertebaran. Beberapa orang pengawal yang datang bersamanya masih saja berdiri di belakangnya.

“Mereka pun sebenarnya tidak senang terdampar di padang kering ini.”

“Mungkin,” sahut Ken Arok, “tetapi kau dan aku harus menumbuhkan kegairahan kerja. Jangan mengendorkan nafsu bekerja mereka. Beberapa hari lagi kau dan prajuritmu akan dapat menyesuaikan dirinya dengan udara padang yang kering ini. Dan kau seharusnya tidak mengeluh lagi.”

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. “Di mana aku harus beristirahat.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sikap Kebo Ijo tidak begitu menyenangkannya. Tetapi ia memanggil juga seorang prajurit dan berkata kepadanya, “Bawalah tamu-tamumu ini ke tempat yang sudah disediakan.”

“He,” potong Kebo Ijo, “kau sangka aku di sini sekadar menjadi tamumu? Tidak, aku di sini menjadi tawananmu yang mulai besok atau lusa harus bekerja berat di atas api neraka.”

Ken Arok tersenyum, tetapi ia tidak menyahut. Prajurit yang dipanggilnya segera membawa Kebo Ijo dan para pengawalnya ke tempat yang memang sudah disediakan. Beberapa buah gubug kecil dengan sehelai tikar pandan yang masih baru.

“Ah,” sekali lagi Kebo Ijo berdesah, “macam inikah tempat yang diperuntukkan bagi kami?”

“Semuanya hanya seperti ini,” sahut prajurit itu.

“Bagaimana dengan Ken Arok?”

“Tak ada bedanya, bahkan tikar yang dipakainya adalah tikar yang sudah usang.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Dipandanginya prajurit itu dengan pandangan yang aneh, sehingga prajurit itu menundukkan kepalanya.

“Apa kau bilang?” desis Kebo Ijo, “Ken Arok justru memakai tikar yang usang?”

“Ya,” sahut prajurit itu.

“Bodoh, bodoh sekali,” gumam Kebo Ijo, “sebagai pimpinan ia berhak memilih. Bukan hanya sekadar soal tikar, tetapi soal apa pun juga.”

Mata Kebo Ijo terbelalak ketika ia mendengar prajurit itu menjawab, “Ya, memang ia berhak untuk memilih dalam hal apa pun. Tetapi itu tidak pernah dilakukannya. Ia tidak pernah memilih. Yang selalu dipakainya adalah yang tersisa setelah para prajuritnya memilih lebih dahulu.”

“Huh,” geram Kebo Ijo, “ia telah menghilangkan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin. Salahnyalah kalau bawahannya kelak tidak lagi menghormatinya dan tidak mematuhinya.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berani menjawab. Namun dengan demikian maka ia mendapat kesan bahwa pemimpinnya yang baru ini agak berbeda sifat dan tabiatnya dengan pemimpinnya yang lama, Ken Arok.

Bagi prajurit itu, sikap Ken Arok sama sekali tidak merendahkan dirinya atau menghilangkan kewibawaannya. Tetapi justru para prajurit menjadi segan dan hormat kepadanya, tanpa membuat garis pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Keakraban di antara mereka telah mendorong mereka untuk berbuat banyak dengan penuh kerelaan. Bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai bawahan yang harus patuh terhadap atasan. Tetapi ada dorongan dari dalam diri sendiri untuk bekerja keras bersama-sama dengan penuh keikhlasan.

“Agaknya tidak demikian dengan pemimpin yang baru ini,” desah prajurit itu di dalam hatinya, kemudian, “tetapi ia hanya sekadar membantu Ken Arok. Segalanya masih tetap ada di dalam tanggung jawab pemimpin yang lama itu.”

Kebo Ijo itu pun kemudian masuk ke dalam gubug kecil yang diperuntukkannya sendiri. Di sampingnya adalah gubug yang agak besar yang diperuntukkan bagi para prajurit yang mengawalnya pada saat ia datang ke Padang Karautan. Namun agaknya Kebo Ijo sama sekali kurang puas terhadap keadaan ini. Gubug ini terlampau jelek. Tak ada apa-apa di dalamnya selain sebuah gendi air, sebuah tikar, dan sebuah bancik lampu yang dipergunakan di malam hari.

“Di mana aku harus meletakkan ganti pakaianku?” tiba-tiba Kebo Ijo itu berteriak.

Prajurit yang mengantarnya masih berdiri di luar gubug itu. Ketika ia mendengar Kebo Ijo berteriak, maka segera ia mendekatinya.

“Di mana aku harus menyimpan pakaianku? Apakah di sini tidak ada glodok, atau paga, atau apa pun?”

Prajurit itu menggeleng, “Tidak.”

“Apa yang diperbuat Ken Arok dengan pakaiannya?”

“Dibungkus, dan diletakkan di samping pembaringannya.”

“Ah,” Kebo Ijo berdesah, “malas sekali. Di sini ada bambu, ada tenaga, ada tali. Kenapa tidak disuruhnya membuat paga atau apa pun?”

Prajurit itu tidak menjawab.

“Yang pertama-tama dilakukan oleh prajurit-prajuritku adalah membuat paga.”

Kebo Ijo itupun kemudian tergesa-gesa keluar dari gubugnya dan pergi mendapatkan sekelompok prajurit yang sedang makan sambil berbicara seenaknya. Mereka tertawa sepuas-puasnya. Seorang dari mereka yang cukup jenaka, ternyata baru berceritera tentang pengalaman mereka yang lucu.

Suara tertawa itu terputus ketika mereka mendengar Kebo Ijo yang tiba-tiba saja berada di samping mereka, berteriak, “Berhenti. Apa yang kalian lakukan selama tiga hari di sini mendahului aku? Kalian tidak dapat mempersiapkan tempat untukku dengan baik. Sekarang buatlah sebuah paga untukku. Lihat di sana ada setumpuk bambu. Cepat. Hari ini paga itu harus sudah siap untuk tempat pakaianku.”

Para prajurit itu terkejut. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun terdengar suara Kebo Ijo, “Cepat. Lakukan perintahku.”

Tetapi para prajurit itu masih saja duduk keheranan. Dipandanginya wajah Kebo Ijo yang tegang. Dan sekali lagi mereka mendengar Kebo Ijo berteriak, “Cepat. Ayo lakukan perintahku. Membuat sebuah paga untukku. Jumlah kalian telah cukup banyak untuk melakukannya. Kalian tidak perlu mencari orang lain lagi. Coba berapa orang yang bergerombolan disini. Sebelas, ah, malahan dua belas orang.”

Tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kami harus membuatnya sekarang?”

“Oh, ternyata kau tuli. Aku sudah bilang, selesaikan paga itu hari ini juga.”

“Tetapi kami bukan prajurit-prajurit yang baru datang tiga hari yang lalu. Kami telah lama berada di Padang Karautan ini.”

“Aku tidak peduli. Lakukan perintahku. Aku adalah orang kedua sesudah Ken Arok di sini. Semua harus tunduk pada perintahku. Baik ia baru datang tiga hari yang lalu, maupun sudah lama berada di sini.”

Sekali lagi prajurit-prajurit itu saling berpandangan. Tetapi satu-dua dari mereka telah berdiri, meskipun sambil bersungut-sungut di dalam hati. Hari ini mereka sebenarnya masih diizinkan untuk beristirahat. Tetapi ketika mereka mulai melangkah, maka langkah itu pun terhenti. Mereka melihat Ken Arok berjalan mendatanginya. Dengan nada datar ia bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

“Aku memerintahkan kepada mereka untuk membuat sebuah paga,” sahut Kebo Ijo.

“O,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “kau perlu sekali dengan paga itu?”

“Ya, aku harus meletakkan pakaianku. Di dalam gubugku sama sekali tidak ada tempat yang pantas.”

Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Para prajurit itu sebenarnya masih harus menikmati masa istirahatnya untuk menyambut hari-hari gembira. Tetapi ia tidak dapat menolak perintah Kebo Ijo meskipun ia berwenang. Dengan demikian maka ia akan membuat anak muda itu malu dan seterusnya mengurangi kepatuhan para prajurit terhadapnya. Dalam keadaan yang demikian, maka Kebo Ijo pasti akan berusaha untuk menebus kewibawaannya dengan perbuatan yang aneh-aneh yang barangkali terlampau keras.

Sejenak Ken Arok berdiri saja dengan penuh kebimbangan. Apakah sebaiknya yang pantas dilakukan. Ia harus cukup bijaksana sehingga persoalan itu dapat dipecahkannya tanpa membuat pihak-pihak yang bersangkutan menjadi kecewa.

Tetapi belum lagi Ken Arok mendapatkan cara yang dianggapnya baik, maka sekali lagi ia mendengar Kebo Ijo membentak, “Ayo, cepat. Apalagi yang kau tunggu? Aku memerlukan paga itu segera.”

Seperti digerakkan oleh sebuah tenaga, maka para prajurit itupun bersama-sama berpaling memandangi Ken Arok seakan minta pertimbangan kepadanya, apakah saat-saat yang terasa sangat menggembirakan itu harus segera diputuskan hanya karena sebuah paga.

Ken Arok merasakan betapa tatapan mata para prajuritnya itu bertanya kepadanya, dan lebih daripada itu menunggu keputusannya. Namun sekali lagi hatinya tersentuh pula oleh kewajibannya untuk mempertahankan kewibawaan Kebo Ijo. Kalau ia membatalkan perintah itu berdasarkan wewenangnya, maka hal yang serupa akan menjadi kebiasaan para prajurit itu.

Karena itu maka Ken Arok kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya, baiklah. Lakukanlah perintah itu.”

Alangkah kecewanya hati para prajurit itu. Tanpa mereka sengaja mereka menebarkan pandangan mereka ke arah kelompok-kelompok yang lain yang masih dengan gembira menikmati masa-masa istirahat mereka. Perasaan yang selama ini tidak pernah tumbuh di dalam dada mereka, terasa kini mulai menjamah hati mereka. Iri. Mereka merasa iri bahwa kawan-kawan mereka itu masih dapat duduk sambil bergurau dan menikmati makanan yang melimpah-limpah. Tetapi mereka sekelompok yang hanya kebetulan saja duduk di dekat gubug Kebo Ijo, tiba-tiba saja telah mendapat pekerjaan yang menjemukan.

Membuat paga. Seandainya hari itu juga mereka harus melanjutkan kerja mereka bersama-sama, maka mereka tidak akan merasa malas seperti itu.

Tetapi Ken Arok telah membenarkan perintah Kebo Ijo, sehingga karena itu maka mereka terpaksa juga melangkahkan kaki-kaki mereka yang serasa menjadi terlampau berat, ke arah setumpuk bambu di sebelah perkemahan itu.

Tetapi sekali lagi mereka tertegun ketika mereka mendengar Ken Arok berkata, “He, apakah tidak ada yang kalian lupakan?”

Salah seorang dari mereka bertanya, ” Apakah yang tertinggal?”

“Tidak ada seorang pun diantara kalian yang membawa alat untuk memotong, memecah, dan meraut bambu.”

“Oh,” para prajurit itu pun kemudian berdesah.

“Ambillah,” berkata salah seorang di antara mereka kepada prajurit yang paling muda.

Dengan malasnya prajurit muda itu berjalan ke dalam gubug tempat menyimpan segala macam alat-alat. Langkahnya satu-satu seperti anak itu sedang kelaparan.

“He, inikah cara kalian bekerja,” bentak Kebo Ijo, “langkahmu seperti cacing kelaparan. Kau sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang prajurit Tumapel yang perkasa.”

Prajurit itu tcrkejut. Kemudian dengan tergesa-gesa ia melangkah mengambil segala macam alat yang mereka perlukan. Ketika ia berlari-lari kembali, maka didukungnya berbagai macam pisau dan kelewang.

“Cepat, lakukan perintahku,” teriak Kebo Ijo sambil bertolak pinggang.

Sikapnya telah menumbuhkan kesan yang kurang menyenangkan bagi para prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan itu.

Namun ketika mereka sedang melangkah beberapa langkah lagi, mereka mendengar Ken Arok berkata pula, “He, kalian masih juga kelupaan sesuatu.”

“Apa lagi?” bertanya salah seorang dari mereka. Ken Arok tcrsenyum ketika ia mendengar Kebo Ijo menggeram. Agaknya Kebo Ijo menjadi jengkel juga terhadap Ken Arok yang seolah-olah sengaja menghambat para prajurit itu.

“Itu,” Ken Arok menjawab sambil menunjuk makanan yang masih berserakan, “kalian boleh membawa makanan itu, supaya kalian dapat bekerja dengan tenang. Hari ini adalah hal yang sangat khusus. Di hari-hari di mana kalian bekerja, maka aku akan mengambil tindakan apabila aku melihat salah seorang dari kalian ternyata membawa makanan. Tetapi di hari istirahat ini pekerjaan kalian adalah makan, sedangkan pekerjaan yang lain itu adalah pekerjaan sambilan. Tetapi ingat. Hari ini paga itu harus sudah siap. Tetapi itu bukan berarti bahwa kalian harus bekerja dengan wajah berduka. Tidak ada larangan buat tertawa. Asal tertawa itu tidak memperlambat pekerjaan kalian.”

Para prajurit itu sejenak tertegun diam. Namun tiba-tiba mereka itu tersenyum. Bahkan prajurit yang paling muda, yang dengan malasnya telah mengambil alat-alat mereka, kini dengan sigapnya meloncat dan memungut beberapa macam makanan yang disukainya.

“Bawa semuanya. Serahkan alat-alat itu kepada orang lain.”

Perintah ini pun dilakukannya dengan cepatnya. Jauh lebih cepat daripada saat ia berlari-lari ke tempat simpanan alat-alat.

“Nah, cepat. Sekarang pergi ke timbunan bambu, secepat kalian mengambil makanan itu.”

Para prajurit itu tidak dapat menahan tawa mereka. Tetapi sikap mereka pun kini segera berubah. Dengan lincahnya mereka melangkah ke arah setumpuk bambu. Dan kemudian dengan cepat pula mereka mengerjakannya. Membuat sebuah paga. Namun tangan mereka tidak henti-hentinya menyuapi mulut mereka. Ada satu-dua di antara mereka yang memecah bambu sambil berdendang. Ada yang meraut belahan bambu sambil berkelakar.

Sesaat Kebo Ijo dan Ken Arok masih memandangi mereka dari kejauhan. Mereka melihat para prajurit itu bekerja dengan cekatan. Meskipun pekerjaan itu bukan pekerjaan mereka, tetapi ada di antara mereka yang memang cukup cakap untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dari bambu.

Beberapa orang prajurit yang lain, yang juga duduk di dalam kelompok-kelompok, akhirnya melihat juga kawan-kawannya yang sibuk membuat paga. Beberapa dari antara mereka mendatangi para prajurit yang sedang bekerja itu sambil bertanya, “Apakah yang kalian lakukan?”

Salah seorang dari mereka menjawab, “Membuat paga.”

“Buat apa?”

“Tempat pakaian.”

“He,” prajurit yang bertanya itu membelalakkan matanya, “baru sekarang kau berpikir untuk membuat tempat pakaian? Agaknya kau menunggu pakaianmu menjadi kumal, baru kau buat rak-rakan untuk menyimpannya.”

“Hus,” desis prajurit yang sedang bekerja itu, “bukan untuk kami sendiri. Tetapi kami membuat untuk pemimpin kami yang seorang itu, yang akan membantu Ken Arok memimpin kami. Kebo Ijo.”

“O,” prajurit itu tiba-tiba menutup mulutnya. Ketika ia berpaling, ia masih melihat Kebo Ijo berdiri bertolak pinggang di tempat yang agak jauh.

“Ia pasti tidak mendengar,” desis prajurit itu pula.

“Tetapi sikapmu pasti membuatnya marah. Orang itu agaknya pemarah dan keras.”

“Oh,” tiba-tiba prajurit itu pun berjongkok pula di antara mereka yang sedang bekerja, “aku akan ikut membantu kalian. Apakah kalian tidak menghabiskan hari istirahat ini, dan membuat paga ini besok.”

“Paga ini harus jadi hari ini juga.”

“Bukan main.”

Beberapa orang prajurit yang semula hanya berdiri saja melihat-lihat satu demi satu ikut pula berjongkok dan membantu membuat paga itu. Ada yang membantu meraut bambu-bambu yang telah dibelah, ada yang mengerat dan membuat lubang-lubang purus. Ada yang membuat tali dan ada yang mulai nglanji potongan-potongan bambu itu.

Di kejauhan Ken Arok yang masih berdiri di samping Kebo Ijo berkata, “Lihat, pekerjaan itu akan cepat selesai. Yang turut bekerja menjadi semakin banyak. Kini telah lebih dari duapuluh lima orang berjongkok di sana meskipun sebagian dari mereka hanya duduk-duduk sambil berbicara. Tetapi suasananya menjadi lebih jernih.”

“Kau terlalu memanjakan prajurit-prajuritmu,” sahut Kebo Ijo, “sebenarnya kau tidak perlu terlampau bermanis-manis. Sejak aku datang, aku sudah melihat kelemahanmu. Apalagi ketika prajurit yang mengantarkan aku berkata serba sedikit tentang kau. Katanya, kau selalu mengalah terhadap prajurit-prajuritmu. Untuk segala hal kau lebih senang mempergunakan sisa dari prajurit-prajuritmu. Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Dan aku tidak akan berbuat demikian. Aku akan bersikap seperti sikap seorang perwira, sebenarnya perwira. Aku tidak akan terlampau lunak dan memanjakan prajurit-prajuritku. Supaya mereka tahu bagaimana mereka harus bersikap terhadap atasannya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Bagiku sikap yang berlebih-lebihan itu tidak perlu. Aku ingin mengendalikan mereka sebaik-baiknya. Tidak dengan kekerasan seperti yang kau bayangkan. Lihat, bukankah pekerjaan itu selesai juga dengan caraku. Dan para prajurit itu tidak merasa tersinggung dan terganggu.”

“Tetapi setiap kali kita harus bermanis-manis. Setiap kali kita harus berpura-pura meskipun sebenarnya dada kita bengkah karena kemarahan atas sikap mereka yang memuakkan, kita harus tersenyum-senyum dan tertawa-tawa. Coba lihat prajurit-prajuritmu yang telah lama berada di Padang Karautan ini. Mereka terlampau malas seperti cacing kelaparan. Tetapi kalau mereka mendapat makanan, maka mereka berebutan seperti serigala.”

“Ah,” Ken Arok semakin tidak senang mendengar kata-kata Kebo Ijo. Ia tahu sifat dan watak anak muda itu. Meskipun perkenalannya dengan adik seperguruan Witantra ini belum terlampau akrab, tetapi ia sudah membayangkan, alangkah jauh sifat dan wataknya dari kakak seperguruannya itu.

“Lihat,” berkata Kebo Ijo, “kau akan melihat perbedaan sikap mereka setelah aku berada di sini.”

“Aku tidak menghendaki,” sahut Ken Arok, “aku menghendaki suasana di padang rumput Karautan ini tetap seperti semula.”

Kebo Ijo terkejut mendengar jawaban Ken Arok sehingga ia berpaling. Tetapi dilihatnya Ken Arok masih tetap berdiri dengan tenangnya memandangi orang-orang yang sedang bekerja membuat paga untuk Kebo Ijo itu.

“Kau akan tetap memelihara prajurit-prajuritmu menjadi pemalas,” bertanya Kebo Ijo.

“Kau belum pernah melihat mereka bekerja di bendungan.”

“Di bendungan?:

“Ya, di bendungan dan sendang buatan itu.”

“O, jadi prajurit-prajuritmu juga kau pekerjakan di bendungan itu.”

“Ya.”

“Itu pun tidak akan aku lakukan. Prajurit-prajurit dari Tumapel hanya boleh bekerja di sendang buatan. Bendungan itu adalah tugas orang-orang Panawijen. Kalau semua kau kerjakan, lalu apakah kerja orang-orang Panawijen? Tidur dan menghabiskan bekal makanan kita?”

“Seharusnya kau tidak mengucapkan kata-kata itu,” sahut Ken Arok, “kau harus melihat dulu. Baru kau menilai apa yang kau lihat.”

“Aku sudah melihat cara mereka bekerja. Dan aku sudah dapat menilai. Juga tentang orang-orang Panawijen ini.”

“Kalau bendungan itu tidak siap, dari mana sendang itu akan mendapat air?”

Kebo Ijo terdiam sejenak. Tampaklah wajahnya berkerut-merut. Lalu katanya, “Ya, barangkali begitu, tetapi baik terhadap orang-orang Panawijen dan kepada para prajurit, kita harus bersikap keras. Kita jangan membuat kebiasaan jelek antara bawahan dan atasannya.”

“Apakah aku juga harus bersikap demikian terhadapmu?” pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Kebo Ijo sehingga dadanya serasa berdentang.

Sejenak prajurit muda itu justru terbungkam. Tetapi matanya seolah-olah hendak menyala. Wajahnya yang tegang menjadi kemerah-merahan seperti bara.

Dengan nafas yang seakan-akan menyumbat kerongkongan ia bertanya, “Apakah maksudmu?”

Tetapi Ken Arok masih tetap tenang. Ia masih saja memandangi orang yang bekerja membuat paga bagi Kebo Ijo. Dengan nada datar ia berkata, “Kau ingin aku bersikap keras tehadap bawahanku. Kalau kau tidak sependapat dengan aku, maka apakah kau juga bermaksud supaya aku memaksamu.”

Dada Kebo Ijo kini benar berdentangan. Ia tidak menyangka bahwa Ken Arok akan bersikap demikian terhadapnya. Selama ini ia menganggap bahwa Ken Arok adalah seorang pelayan dalam yang tidak begitu penting. Adalah kebetulan saja bahwa ia mendapat tugas di Padang Karautan. Seperti biasanya Akuwu kadang-kadang tidak terlampau panjang berpikir tentang sesuatu masalah yang tidak dianggapnya penting. Misalnya tentang pembuatan sendang dan taman di Padang Karautan, sehingga ia menunjuk saja orang yang terdekat pada saat keinginannya itu tumbuh. Agaknya saat itu Ken Arok lah yang lagi menghadapnya, sehingga anak itulah yang diserahi untuk melakukan tugas itu. Kebo Ijo tidak pernah berpikir bahwa Akuwu Tunggul Ametung pernah menyaksikan sendiri, bagaimana Ken Arok berkelahi melawan Mahisa Agni ketika mereka sedang melarikan Ken Dedes, dan bagaimana anak muda itu dengan sebuah gerakan yang sama sekali tak terduga-duga telah membunuh seorang prajurit. Apa yang dilihat itu ternyata tetap teringat oleh Akuwu Tunggul Ametung yang senang sekali melihat keperkasaan para prajurit dan pelayan dalamnya. Dan karena keperkasaannya pulalah maka Witantra berada di dekat Akuwu itu, dan dahulu juga Kuda Sempana. Karena hal yang serupa pula maka Kebo Ijo tepat mendapat wisuda dan bahkan kemudian diserahi untuk memimpin sejumlah prajurit menyusul Ken Arok di Padang Karautan ini.

Tetapi kini tiba-tiba Kebo Ijo menghadapi sikap pelayan dalam yang dianggapnya tidak penting itu, betapa menyakitkan hatinya. Sehingga untuk sejenak justru mulutnya terbungkam dan tubuhnya menjadi gemetar seperti kedinginan.

Selama itu Ken Arok hanya berdiam diri saja. Ia masih saja memandangi orang-orangnya yang sedang bekerja. Seolah-olah ia acuh tak acuh saja atas sikap Kebo Ijo yang menjadi sangat marah kepadanya.

Sejenak kemudian maka terdengar Kebo Ijo menggeram, “Kau tidak akan dapat menakut-nakuti aku.”

“Aku tidak menakut-nakutimu. Aku hanya ingin mendengar pendapatmu tentang dirimu sendiri. Aku kira kau pasti tidak senang mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Terlampau keras dan kasar, tanpa mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapatnya. Tanpa kesempatan untuk beristirahat dan tertawa.”

“Ternyata kau pengecut,” sahut Kebo Ijo yang hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya, “kau tidak berani mempertanggungjawabkan kata-katamu sendiri.”

“Kenapa?” bertanya Ken Arok masih dalam sikapnya.

“Aku kira kau juga hanya dapat menakut-nakuti para prajurit itu sehingga kau tidak berani bertindak keras terhadap mereka. Sedangkan apabila para prajurit itu berani menentangmu, maka kau surut tidak hanya satu-dua langkah. Tetapi kau surut sampai ke batas yang paling aman bagimu.”

Kini Ken Arok memalingkan kepalanya. Masih dalam nada yang datar ia bertanya, “Apakah maksudmu?”

“Kau pengecut,” Kebo Ijo mengulangi. “Kau tidak berani memberikan perintah sebagai seorang pemimpin. Kau hanya berani membujuk mereka dengan kemanjaan yang berlebih-lebihan supaya mereka tidak marah kepadamu.”

“Kau yakin begitu?” bertanya Ken Arok.

“Aku yakin,” jawab Kebo Ijo, “sekarang kau mencoba menakut-nakuti aku. Tetapi kau tidak berani mempertanggungjawabkan. Dengan licik kau memutarbalikkan arti kata-katamu.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sedangkan Kebo Ijo berbicara terus, “Apalagi kau sama sekali tidak berhak berbuat apa pun juga atasku. Aku mendapat perintah langsung dari Tuanku Akuwu.”

“Bagaimana bunyi perintah itu?”

Kebo Ijo terdiam sejenak. Tetapi kamudian ia menjawab, “Aku mendapat perintah untuk membantumu. Hanya membantu. Dan itu tidak berarti bahwa aku berada di bawah perintahmu.”

“Kau berada di bawah perintahku,” sahut Ken Arok tegas.

Sekali lagi Kebo Ijo terdiam. Sekali lagi darahnya serasa mendidih dan wajahnya merah membara.

Namun selama itu ternyata Ken Arok telah mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu atas anak yang agaknya keras kepala ini. Ia harus menunjukkan kewibawaannya atasnya menurut cara yang diingini oleh Kebo Ijo sendiri. Selama ia belum berbuat sesuatu, maka Kebo Ijo pasti masih akan merupakan penghalang bagi setiap rencana dan pelaksanaannya sesuai dengan cara yang selama ini telah ditempuhnya dengan hasil yang cukup baik. Ia tidak senang sama sekali apabila Kebo Ijo tiba-tiba saja telah mengubah suasana yang baik di dalam kerja yang berat ini. Karena itu, maka ia akan berbuat sesuai dengan keinginan Kebo Ijo sendiri.

Sejenak kemudian terdengar Kebo Ijo itu menggeram.

“Kau akan membuktikan bahwa kau bukan seorang pengecut?”

“Bukan itu soalnya. Tetapi sesuai dengan pendapatmu sendiri, aku akan berbuat sesuatu atasmu apabila kau tidak tunduk akan perintahku.”

“Apa yang akan kau lakukan?” suara Ilebo Ijo gemetar.

“Memaksamu.”

“Oh,” tiba-tiba Kebo Ijo menyingsingkan kain panjangnya dan menyangkutkannya pada ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat dari kulit ular, “itukah keinginanmu?”

Tetapi Ken Arok masih tetap berdiam diri. Bahkan kini ia telah memandangi para prajurit yang bekerja itu lagi, seolah-olah ia tidak tanggap apa yang dilakukan oleh Kebo Ijo.

“He,” berkata Kebo Ijo itu lantang, “ayo, apakah yang kau kehendaki?”

Ken Arok berpaling. Bahkan ia bertanya, “Apa yang sedang kau lakukan?”

Mata Kebo Ijo terbelalak karenanya. Jawabnya, “Bukankah kau akan mencoba memaksakan pendirianmu kepada Kebo Ijo yang kau sangka akan bertekuk-lutut dan menyembah kepadamu. Ayo, lakukan kalau kau ingin memaksa aku.”

“Ya, aku memang ingin memaksamu. Jadi kau harus tunduk kepada perintahku. Itu saja.”

“Aku tidak mau.”

“Bagaimana kalau prajuritmu berbuat seperti kau. Tidak mau tunduk kepadamu.”

Kemarahan Kebo Ijo ternyata telah membakar kepalanya sehingga hampir-hampir tidak terkendali. Bahkan tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menunjukkan kepada Ken Arok, bahwa ia memang tidak dapat ditakut-takuti atau diancam dengan cara apa pun. Ia akan tetap pada pendiriannya.

“Kalau prajuritku tidak tunduk kepadaku, aku pukul ia sampai pingsan.”

“Bagaimana kalau ia melawan?”

“Aku ikat dan aku seret di belakang punggung kuda. Nah, bukankah kau akan melakukannya atasku yang kau anggap bawahanmu?”

“Bagiku tidak perlu. Aku dapat melaporkan hal itu kepada atasanku. Bukankah kau sekarang prajurit pengawal istana? Bukankah menurut susunan keprajuritan, kau termasuk dalam lingkungan kekuasaan kakak seperguruanmu, Witantra?”

“Itulah sebabnya kau tidak berhak memerintah aku.”

“Tetapi pimpinan di sini adalah aku. Aku dapat melaporkan apa yang terjadi atasmu. Kepada kakang Witantra dan bahkan mungkin langsung kepada Akuwu Tunggul Ametung.”

“Setan alas,” Kebo Ijo menggeram, “kau memang pengecut. Kau tidak berani bertindak dengan kekuatanmu sendiri. Kau akan menyalahgunakan kekuasaan yang ada padamu.

“Itulah yang sebaik-baiknya. Aku tidak ingin bertindak sendiri. Aku tidak ingin memutuskan hukuman yang memang bukan wewenangku. Dan aku tidak ingin berbuat sewenang-wenang.”

“Aku sangka bahwa kau adalah seorang laki-laki. Ternyata kau lebih dari betina pengecut yang sama sekali tidak berarti.”

Ken Arok kini mengerutkan keningnya. Wajahnya menegang, tetapi ia masih tetap berusaha untuk tidak bertindak tergesa-gesa.

“Kau baru saja datang di Padang Karautan. Jangan membuat persoalan. Kau seorang prajurit yang tahu kewajiban seorang prajurit. Kalau kau melakukan perintahku, maka itu sudah cukup. Kau tidak perlu berbuat aneh-aneh di sini. Sekarang beristirahatlah. Besok kau akan mulai melakukan kewajibanmu. Tetapi ingat, akulah pemimpin di sini.”

“Aku tidak peduli,” jawab Kebo Ijo yang benar-benar sudah tenggelam dalam kemarahannya, “aku tidak mau tunduk kepadamu. Bahkan aku ingin membuktikan bahwa kau benar-benar seorang pengecut.”

“Bagaimana kau akan membuktikan?”

“Aku mengharap kau berani bertindak atas wewenang yang menurut perasaanmu telah kau terima. Ayo, kau harus memaksa aku. Kalau perlu dengan kekerasan. Sesudah itu terserah kepadamu, apakah kau akan melaporkannya kepada kakang Witantra atau kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku tidak berkeberatan untuk digantung seandainya aku dianggap bersalah menentang sikapmu yang cengeng terhadap anak buahmu?”

“Maksudmu kau ingin berkelahi?”

Dada Kebo Ijo tergetar. Meskipun maksudnya memang demikian tetapi keterus-terangan itu telah menghentak jantungnya. Namun akhirnya ia menjawab, “Ya, aku ingin berkelahi.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun ingin berbuat demikian. Tetapi ia tidak mau dihanyutkan oleh kemarahannya saja. Ia harus tetap menyadari apa yang akan dilakukannya, supaya ia tidak terlepas dari pengendalian diri. Maka katanya kemudian, “Apakah kau sudah berpikir masak-masak?”

“Seribu kali kuulangi. Aku tetap dalam pendirianku. Aku ingin melihat apakah orang yang ditempatkan di Padang Karautan ini sudah tepat.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah kalau kau memang ingin berbuat demikian.”

“Bagus,” hampir berteriak Kebo Ijo menyahut. Tetapi ia masih melihat Ken Arok berdiri saja dengan tenangnya, meskipun wajahnya menjadi semakin tegang.

“Ayo bersiaplah.”

“Aku bukan seorang yang terlampau bodoh untuk melakukannya sekarang. Para prajurit itu akan melihat kita berkelahi. Mereka akan kehilangan kepercayaannya kepada pemimpinnya.”

Sekali lagi mata Kebo Ijo terbelalak. Dengan gagap ia bertanya, “Lalu, apakah maksudmu sebenarnya?”

“Aku memang tidak berkeberatan kita mencoba untuk sekali-sekali berkelahi. Tetapi tidak di hadapan para prajurit. Sungguh memalukan. Menang atau kalah, kita sudah kehilangan kewibawaan atasnya. Selanjutnya akan memberikan contoh yang sama sekali tidak baik atas mereka, dan mereka pun akan saling berkelahi satu sama lain sebagai cara untuk menyelesaikan setiap persoalan.”

“Jadi, bagaimana?”

“Aku masih ingin memisahkan masalahnya. Aku kira aku dapat menganggap bahwa persoalan ini adalah persoalan kita. Katakanlah kita yang masih terlampau muda. Aku akan menarik garis pemisah antara persoalan ini dengan kedudukan kita masing-masing. Aku mengharap kau tidak akan dianggap bersalah. Tetapi kita harus bersikap jantan. Siapa yang kalah harus mengakui kekalahannya.”

“Itu sama sekali tidak menarik. Kita harus mempertaruhkan sesuatu untuk setiap kemenangan dan kekalahan. Mungkin jabatan, mungkin kehormatan, di hadapan saksi-saksi.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Kebo Ijo adalah seorang yang terlampau yakin akan dirinya dan justru keyakinannya itulah yang telah mendorongnya untuk bersombong diri. Ia menyadari benar-benar kelebihan-kelebihan yang ada di dalam dirinya, dan ia ingin melihat orang lain mengagumi kelebihannya itu.

Tetapi Ken Arok tidak ingin menanggapi sikap yang demikian. Ia masih mementingkan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Ia harus mempertahankan kepercayaan orang-orangnya dan memelihara ketertiban sejauh mungkin tanpa menunjukkan kekuasaan dan apalagi kekerasan terhadap bawahannya.

“Apa katamu sekarang?” bentak Kebo Ijo ketika Ken Arok tidak segera menjawab, “Kita jadikan para prajurit itu saksi. Siapakah di antara kita yang berhak untuk mendapat taruhan.”

“Sudah aku katakan,” sahut Ken Arok, “perbuatan yang demikian adalah perbuatan yang terlampau bodoh. Kita tidak perlu saksi-saksi. Kita percaya kepada kejujuran dan kejantanan diri. Ayo, apakah yang ingin kita pertaruhkan?

“Terserah kepadamu,” sahut Kebo Ijo.

“Kau yang menentukan.”

“Bagus. Kita pertaruhkan jabatan kita. Kalau kau kalah, maka akulah yang memimpin prajurit-prajurit Tumapel di sini. Kau harus tunduk kepada semua perintahku. Kau menjadi pembantuku di sini meskipun Akuwu Tumapel tidak mengingininya.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Taruhannya cukup bernilai. Tetapi Ken Arok harus cukup sadar, bahwa ia akan menghadapi perkembangan keadaan yang mungkin saja tidak dikehendaki. Kebo Ijo yang terlampau membiarkan perasaannya berbicara itu akan cepat kehilangan kesadaran dan perkelahian yang demikian akan berkembang tak terkendali. Tetapi ia tidak dapat mencari seorang saksi pun dalam perkelaihan itu. Satu orang sudah cukup banyak untuk menyebarkan hal itu kepada seluruh prajurit di Padang Karautan dan orang-orang Panawijen, dan bahkan seluruh prajurit Tumapel. Lalu apa kata mereka tentang para pemimpin mereka. Para perwira yang bertengkar satu sama lain, bahkan berkelahi.

“He,” Kebo Ijo membentak sekali lagi, “kenapa kau diam saja? Apakah kau menjadi cemas, bahwa suatu ketika kau akan mendapat perintah yang berlebih-lebihan daripadaku? Aku tidak sekejam itu terhadap bawahanku yang tunduk kepadaku. Kau pun tidak akan aku perlakukan terlampau keras seandainya kau tidak selalu menentang keputusan-keputusan yang aku buat.”

“Hem,” Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Witantra pun tidak akan berbuat serupa kau ini meskipun ia kakak seperguruanmu. Kau terlampau meyakini kelebihanmu. Mungkin akhir-akhir ini kau mendapat banyak kemajuan. Tetapi jangan terlampau berbangga.”

“Jangan banyak berbicara,” potong Kebo Ijo, “kita buktikan saja. Aku telah menemukan kekuatan di dalam diriku. Kekuatan yang hampir tidak pernah dapat diungkapkan. Aku akan segera melampaui kakang Witantra. Mungkin kakang Mahendra kini sudah tidak dapat mengalahkan aku.”

Terasa sebuah gejolak melanda dinding-dinding jantung Ken Arok. Ia pun masih cukup muda. Untunglah bahwa ia menyadari dirinya. Dirinya yang baru saja bangkit dari reruntuhan yang mengerikan dari watak dan sifat orang-orang tua yang mengasuhnya. Untunglah bahwa ia menyadari bahwa kadang-kadang ia masih juga dapat lupa diri dan berbuat kasar, sekasar pada saat-saat ia berkeliaran di Padang Karautan. Tetapi kali ini ia cukup sadar. Cukup berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran itu.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]
Source : www.agusharis.net

~ Article view : [211]