Pelangi di Langit Singasari [ 33 ]

328

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 33]

 

“NAH, kalau keadaan itu masih tetap dapat kau pertahankan, maka kau harus memanfaatkannya. Waktu ini sama sekali bukan waktu yang terbuang Agni Waktu ini justru waktu yang sangat berharga bagimu. Tidak semata-mata untuk melepaskan diri dari tangan Kebo Sindet, tetapi sebagai bekalmu di masa-masa yang akan datang. Sebab untuk seterusnya kau bukan sekedar orang Panawijen atau orang Karautan yang akan menjadi hijau menggantikan Panawijen yang kering. Tetapi kau akan menjadi orang yang dekat dengan istana Tumapel. Bukankah adikmu menjadi seorang Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung? Mau tidak mau Agni, kau pasti akan terlibat dalam berbagai persoalan di istana itu.”

Perlahan-lahan Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak ingin melibatkan diri dengan istana Tumapel guru. Aku akan menyerahkan seluruh hidupku buat tanah yang sedang aku garap. Buat orang-orang Panawijen.”

Kini gurunyalah yang menggelengkan kepalanya, “Tidak Agni. Kenapa kau berpikir terlampau sempit? Kalau kau dapat menyerahkan tenagamu untuk sesuatu yang lebih besar, maka itu harus kau lakukan. Kau tidak boleh sekedar menyangkari dirimu sendiri dengan dinding batu padukuhan yang kau bangunkan di Padang Karautan itu saja. Tidak Agni. Kau akan berbuat banyak untuk Tumapel. Kau akan mendapat kesempatan karena justru adikmu berada di istana itu.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi suram.

“Kau adalah seorang jantan Agni. Bukan seorang laki-laki cengeng. Kau mengerti?” gurunya berhenti sejenak, “Kalau kau bekerja untuk Tumapel itu tidak harus berarti kalau kau telah dikuasai oleh nafsu untuk mendapatkan kedudukan dan kesempatan yang baik bagi dirimu sendiri. Tidak Agni. Tekadmu harus tetap kau pelihara. Berbuat sebanyak-banyaknya untuk manusia dan kemanusiaan. Untuk rakyat Tumapel. Itulah.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Kepalanya masih ditundukkan, dan wajahnya masih suram.

“Kau akan mendapat kesempatan itu. Berbuat untuk tanah yang telah memberimu makan dan minum, yang telah memberi kau tempat untuk membangun bebrayan yang ayem tentrem setelah bendunganmu jadi. Tetapi duniamu seharusnya tidak hanya seluas Padang Karautan. Tetapi lingkunganmu adalah seluruh Tumapel bahkan Kediri. Karena itu cita-citamu harus menebar seluas Tumapel, seluas Kediri dan bahkan seluas lingkaran Cakrawala, sepanjang manusia yang berada di dalam lingkungannya merasa satu dengan kau, dengan orang-orang Kediri. Satu dalam cita dan cita-cita, bersumber pada aliran darah yang sama dan senada. Kau harus berbuat sesuatu untuk membangunkan bebrayan yang diikat oleh rasa persaudaraan dan jujur.”

Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Alangkah jauh perbedaannya. Dunia yang dikatakan oleh gurunya itu dengan dunia yang diinjaknya kini. Dunia cita-cita yang melambung tinggi, dan dunia yang sebenarnya dimilikinya.

Karena itu maka sejenak ia dirayapi oleh keragu-raguan dan kebimbangan. “Apakah yang dikatakan oleh guru itu bukan sekedar mimpi yang indah?” desisnya di dalam hati.

Agaknya Empu Purwa melihat keragu-raguan itu, sehingga ia berkata pula, “Agni, memang apa yang aku katakan itu bagimu tidak lebih dari kilatan sinar bintang di langit. Kau hanya dapat memandang saja, tetapi kau tidak dapat menyentuhnya. Tetapi Agni, tidak ada yang aneh, bagi Yang Maha Agung. Pergunakanlah apa yang sudah kau miliki untuk menjadi bekalmu. Kalau kau berjalan di atas jalan yang lurus, benar dan adil, maka kau akan dibimbing oleh Yang Maha Agung Tetapi kau sendiri harus berbuat, harus berusaha sehagai bukti kesungguhanmu. Tanpa kesungguhan, tanpa perjuangan, maka tidak ada suatupun yang akan dapat kau capai.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia masih saja berdiam diri. Tetapi kata-kata gurunya itu meresap di dalam hatinya. Terbentanglah dihadapannya suatu masa yang penuh dengan perjuangan dan kerja. Dan ia kini sudah memulainya.

Sejenak mereka saling herdiam diri. Angin yang sejuk itu berhembus menyentuh tubuh-tubuh mereka. Dedaunan yang kering bertebaran runtuh dari cabang-cabangnya.

“Agni.” terdengar suara gurunya, “Aku telah berbicara dengan Empu Sada. Untuk mempercepat waktu yang kau perlukan, maka kau akan mendapat seorang guru lagi. Ia akan memberimu berbagai macam ilmu yang lain dari yang sudah kau miliki, namun pasti yang mempunyai getar yang tidak berlawanan dari ilmu yang sudah lebih dahulu tersimpan di dalam dadamu. Apakah kau bersedia?”

Dengan serta merta Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dipandanginya kedua orang tua itu berganti-ganti. Tetapi ia masih belum menyahut.

“Semakin banyak ilmu yang kau miliki, maka semakin banyak pula bekal yang kau punyai. Kau adalah angkatan masa datang. Sekarang kau harus menimbun ilmu sebanyak-banyaknya di dalam dirimu, supaya yang tua-tua ini tidak lagi merugikan, bahwa masa depan dari tanah ini akan lebih baik dari masa kini. Kalau anak-anak,muda masa kini tidak tertarik lagi pada ilmu, maka masa depan dari tanah ini pasti akan suram. Tetapi kalau anak-anak muda kini menyimpan ilmu, namun tidak disadari dengan cita dan cita-cita yang baik, maka masa depan tanah ini akan menjadi lebih parah lagi.”

Wajah Mahisa Agni itu pun menjadi semakin cerah. Dengan demikian ia akan menjadi semakin cepat dapat ke luar dari lingkungan yang memuakkan ini, namun lebih daripada itu, seperti yang dikatakan oleh gurunya, bagaimana ia akan dapat memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan.

“Bagaimana Agni, apakah kau bersedia?”

Perlahan-lahan Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya lambat, “Aku bersedia guru.”

“Kau terima dengan senang hati?” bertanya gurunya.

“Ya guru. Aku akan sangat senang. Dengan demikian, maka aku akan mendapat kasempatan lebih banyak.”

“Bagus. Nah, sekarang biarlah Empu Sada sendiri mengatakannya.” berkata Empu Purwa itu.

Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah orang tua itu. Wajah yang pernah dibencinya, dan langsung tidak langsung orang, tua itu telah ikut mendorongnya ke dalam neraka ini. Tetapi kini dilihatnya sorot mata orang tua itu jauh berlainan dengan sorot mata yang pernah dikenalnya. Sorot mata itu tidak lagi tampak liar dan buas. Tetapi ia melihat seolah-olah mata itu membayangkan penyesalan yang mendalam.

“Agni.” berkata orang tua itu, “aku akan mencoba mengurangi kesalahanku. Kau mengerti? Aku sangat berterima kasih kepadamu atas kesediaanmu. Kalau telah berhasil memberikan ilmuku kepadamu, sehingga kau berhasil menguasainya, maka puaslah aku kiranya seandainya saat kematian itu tiba.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mungkin ilmuku terlampau kasar buatmu Agni, tetapi aku ingin membuat jiwa dan watak dari ilmu itu seterusnya tidak kasar seperti ujud wadagnya. Aku telah mendapat izin dari gurumu, dan gurumu telah melihat sendiri bagaimana aku mengayunkan kaki dan tangan, menggerakkan pedang dalam pasangan ini. Aku sengaja membuat beberapa perbedaan bentuk, dari ilmu yang aku berikan kepada murid-muridku yang terdahulu. Hanya seorang saja muridku yang mendapat bentuk peralihan. Sebagian masih dalam wataknya yang lama, tetapi sebagian telah mendapat wataknya yang baru. Tetapi karena aku percaya, bahwa muridku yang seorang itu memiliki kepribadian yang kuat dan baik, maka aku mengharap, bahwa ia tidak akan terjerumus ke dalam dunia yang gelap seperti duniaku dahulu.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Terasa sekuat bergetar di dalam dadanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Aku akan menerimanya dengan senang hati atas izin guru.”

“Ya, Agni. Dalam sehari kemarin aku dan gurumu sempat membicarakan masalah kau dan ilmumu. Nah, untuk seterusnya aku akan mendapat waktu, memberimu beberapa petunjuk. Tetapi petunjuk itu pasti tidak akan terlampau banyak, sebab kau sendiri telah berada ditataran yang cukup tinggi.”

“Mudah-mudahan aku dapat menerimanya Empu.”

“Tentu, kau tentu dapat menerimanya. Tetapi kau tidak boleh tergesa-gesa. Waktu yang aku dapat tidak terlampau banyak. Setiap kali kita harus mempertimbangkan apakah Kebo Sindet sudah pulang.”

“Ada suatu keuntungan bagi kita Empu. Kebo Sindet selalu memanggil aku dengan tanda.”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Empu Purwa berkata, “Setiap kali aku berada disini, maka aku pun selalu memperhatikan tanda itu. Tetapi lebih baik setiap kali kita keluar dari tempat ini sebelum iblis itu datang.”

Empu Sada masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Empu Purwa. Sebaiknya mereka meninggalkan tempat itu setiap kali sebelum Kebo Sindet datang. Tetapi kapankah Kebo Sindet itu datang? Karena itu maka Empu ada itupun bertanya, “Apakah kepergian Kebo Sindet dapat diperhitungkan, kapan ia kembali?”

Empu Purwa menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Memang tidak. Tetapi biasanya tidak kurang dari sepekan, aku berada di tempat ini setiap kali selama sepekan atau dua pekan. Kalau sebelum aku keluar dari tempat ini Kebo Sindet telah datang, maka aku segera bersembunyi. Tanda yang selalu dibunyikan Kebo Sindet untuk memanggil Mahisa Agni memberi tanda pula kepadaku. Baru dalam kesempatan yang memungkinkan, biasanya di malam hari, aku meninggalkan sarang iblis ini. Tetapi apabila suatu ketika kita bertemu dengan Kebo Sindet, maka rencana kita akan rusak. Kitalah yang harus menghadapinya. Bukan Mahisa Agni seperti yang aku inginkan.”

“Tetapi.” berkata Empu Sada kemudian, “kalau kita tergesa-gesa keluar, dan ternyata Kebo Sindet tidak segera datang, kita akan kehilangan banyak waktu.”

“Demikianlah.” sahut Empu Purwa, “memang hal yang demikian itu sering terjadi.”

“Kalau demikian, maka kita pergunakan waktu itu sebaik-baiknya. Kita tidak perlu meninggalkan tempat ini dengan tergesa-gesa. Setiap kali kita menunggu Kebo Sindet datang, lalu di malam hari kita pergi menyingkir.”

“Tetapi bagaimanakah seandainya suatu ketika kita dapat dilihat oleh Kebo Sindet itu.”

“Di malam hari kita keluar seperti katamu. Sesudah Kebo Sindet tidur. Mahisa Agni dapat memberitahukan kepada kita dengan tanda apapun. Api misalnja, atau apa?”

Empu Purwa menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Bagaimana seandainya dalam saat? Mahisa Agni berlatih, Kebo Sindet datang tanpa memberikan tanda, tetapi Kuda Sempana pergi mencari Mahisa Agni. Hal itu memang dapat terjadi.”

“Sekarang kita berdua disini.” sahut Empu Sada, “salah seorang dari kita dapat menjadi pengawas, sementara yang seorang masih terikat dalam latihan dengan Mahisa Agni. Begitu? Dahulu kau hanya seorang saja di sini, tetapi sekarang aku mengawanimu.”

Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Katanya, “Ya, aku dapat menyetujuinya. Sepekan kita tidak perlu mencemaskan kedatangannya, di pekan kedua kita berganti-ganti menjadi pengawas. Begitu? Kita memang tidak akan banyak kehilangan waktu.”

Kedua orang tua itu ternyata sependapat. Kepergiannya Kebo Sindet biasanya memang lebih dari sepekan. Hanya dalam keadaan yang luar biasa, Kebo Sindet itu cepat-cepat kembali kesarangnya. Tetapi hal itu jarang-jarang sekali terjadi. Apalagi ketika Kebo Sindet kemudian telah menjadi semakin berani berkeliaran di luar dan di dalam kota Tumapel. Ia merasa bahwa orang-orang telah melupakan Mahisa Agni, setidak-tidaknya usaha untuk menemukannya sudah menjadi semakin tipis. Kebo Sindet sudah tidak pernah lagi mendengar nama Empu Gandring, atau bertemu lagi dengan orangnya. Menurut pendengarannya orang tua itu telah tekun dengan kerjanya di Lulumbang. Nama Empu Sada pun tidak pernah didengarnya lagi. Apalagi Empu Purwa yang seolah-olah telah lenyap begitu saja. Meskipun Kebo Sindet tidak dapat melupakan mereka itu, yang setiap saat dapat saja muncul mengganggunya, tetapi waktu yang lewat telah cukup panjang. Dan orang-orang itu masih juga belum berbuat sesuatu.

“Mereka telah berputus asa.” katanya di dalam hati. “Mudah-mudahan Panji Bojong Santi tidak terlampau banyak menaruh perhatian atas hilangnya Mahisa Agni itu.”

Tetapi Kebo Sindet sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam sarangnya sendirilah Empu Purwa dan Sada itu berada. Sejak saat-saat kedua orang itu bertemu, maka mulailah mereka mengolah Mahisa Agni dengan ilmu-ilmu mereka.

Setiap hari Mahisa Agni harus bekerja keras untuk menuntut ilmu. Belajar, berlatih dan mendalaminya. Diulanginya setiap unsur gerak, yang telah, dimilikinya dan dicobanya untuk melakukan sebaik-baiknya.

Dengan demikian maka ilmu Mahisa Agni itu semakin lama menjadi kian matang. Kini bukan saja ilmu dari Empu Purwa, tetapi juga ilmu yang diterima dari Empu Sada. Memang tata gerak Empu Sada agak lebih kasar dari Empu Purwa, namun kadang-kadang terasa manfaatnya.

Setiap kali latihan-latihan itu terpaksa terhenti, karena Kebo Sindet dan Kuda Sempana datang kembali ke dalam sarangnya. Dalam keadaan yang demikian. Mahisa Agni segera berubah menjadi seorang yang bertambah dungu dan kehilangan harga diri. Mahisa Agni kini lama sekali sudah tidak berani lagi menatap wajah Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Setiap kali ia hanya menundukkan kepalanya dengan tubuh gemetar.

Apabila terdengar olehnya Kebo Sindet membentak, maka Mahisa Agni itu menjadi pucat seperti mayat. Tubuhnya menggigil seperti orang yang kedinginan.

Sikap itu merupakan permainan yang menyenangkan bagi Kebo Sindet. Hampir setiap kali, apabila ia berada di sarangnya, Mahisa Agni selalu dipanggilnya, dibentak-bentaknya dan kadang-kadang ditanganinya, sehingga anak itu terpelanting dan jatuh berguling-guling.

Tetapi berbeda dengan Kuda Sempana. Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin acuh tak acuh saja. Meskipun demikian kadang-kadang ia masih diganggu oleh keheranannya melihat perubahan Mahisa Agni itu. Tetapi dengan sadar ia bercermin kepada dirinya sendiri.

“Apalagi Mahisa Agni yang setiap hari selalu disakiti.” desisnya, “sedang aku yang tidak pernah disentuh pun menjadi kehilangan arti hidupku.”

Akhirnya Kuda Sempana menjadi semakin acuh tak acuh saja. Ia mencoba melupakan dan menghilangkan Mahisa Agni dari pikirannya. Apapun yang akan terjadi atasnya, dan apapun perlakuan yang akan dialaminya dari Kebo Sindet.

Meskipun demikian, kadang-kadang masih juga tumbuh keinginannya untuk bertemu dengan Mahisa Agni. Kuda Sempana sendiri tidak dapat mengetahui, keinginan apakah yang telah mendorongnya setiap kali untuk bertemu tanpa diketahui oleh Kebo Sindet. Ia sama sekali sudah kehilangan nafsu untuk membalas dendam. Bahkan lambat laun timbullah rasa senasib dan sepenanggungan. Meskipun ia belum pernah menyatakannya, namun perasaan itu semakin dalam membenam di hatinya.

Tetapi setiap kali ia berusaha untuk menemui Mahisa Agni, setiap kali Kebo Sindet selalu mencurigainya, bahwa ia akan mencari kesempatan untuk membunuh Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian, maka kesempatan itu tidak pernah dipunyainya.

Bagi Mahisa Agni sendiri, Kuda Sempana juga menumbuhkan berbagai teka-teki di dalam hatinya. Kuda Sempana yang liar dan buas itu seolah-olah kini telah membeku. Mahisa Agni tidak pernah melihat mata anak muda itu memancar seperti dahulu, tidak pernah melihat nafsu yang menyala di wajahnya. Bahkan kemudian anak itu seakan-akan telah benar-benar kehilangan gairah hidupnya, dan kehilangan diri sendiri. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat meyakininya. Ia tidak juga sempat mendekati Kuda Sempana. Ia hanya dapat memandanginya dari jauh.

“Kuda Sempana kini tidak lebih dari seekor kuda tunggangan yang terlampau jinak.” pikir Mahisa Agni. Kemudian dilanjutkannya, “Mungkin ia menganggap akupun seperti dirinya sendiri. Mudah-mudahan kelak ia sempat melihat apa yang akan aku lakukan di sini.”

Tetapi waktu bagi Mahisa Agni terasa terlampau lamban Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan yang menjemukan ini. Sebenarnya ia merasa senang dan berterima kasih sekali, bahwa ia mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmunya, tidak saja yang bersumber dari gurunya sendiri, tetapi kini ia telah dialiri pula oleh ilmu Empu Sada, yang diusahakannya dapat bersenyawa dan luluh dengan ilmunya sendiri, dalam getaran yang semakin meningkat. Usahanya untuk mendapatkan bentuk-bentuk baru yang lahir dari persenyawaan antara ke dua unsur-unsur gerak, kadang-kadang telah mengejutkan kedua orang-orang tua yang memimpinnya. Gerak-gerak yang seolah-olah baru sama sekali, namun memiliki kemampuan yang bergabung antara unsur-unsurnya telah membuat Mahisa Agni menjadi seorang anak muda yang luar biasa.

“Kau memang cerdas Agni.” berkata Empu Sada pada suatu kali kepada Mahisa Agni ketika ia melihat Mahisa Agni bergerak dalam tata gerak yang baru.

“Aku mencoba untuk bekerja sekuat-kuat tenagaku Empu.” sahut Mahisa Agni, “aku ingin cepat-cepat keluar dari daerah ini.”

“Kau pasti akan segera dapat melakukannya. Segera.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi tampaklah wajahnya menjadi tegang.

Empu Purwa, yang ada di sampingnya pula saat itu melihat, bahwa Mahisa Agni agaknya sedang menahan suatu perasaan yang bergelora di dalam dadanya.

Karena itu, maka iapun bertanya, “Agni, aku melihat bahwa kau menyimpan sesuatu di dalam hatimu. Mungkin aku boleh mendengarnya, apabila aku dapat membantu, maka biarlah aku mencoba ikut memecahkannya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sekali lagi ia terdiam meskipun wajahnya menjadi bertambah tegang.

“Katakanlah Agni.” berkata gurunya.

“Atau.” Empu Sada menyahut, “kau ingin berbicara dengan gurumu tanpa aku dengar?”

“Oh, tidak. Tidak Empu.” cepat-cepat Mahisa Agni menjawab.

“Kalau begitu katakanlah, Agni.” minta gurunya.

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Lalu perlahan-lahan ia berkata, “Guru, sebenarnya aku ingin bertanya.” Mahisa Agni berhenti sesaat, lalu tersendat-sendat ia menyambung, “Apakah guru tidak akan marah.”

“Ah, kenapa aku marah? Bukankah kau hanya sekedar bertanya?”

“Ya guru.” sahut Mahisa Agni, “aku ingin bertanya, apakah aku sudah boleh melakukannya sekarang?”

“Apa?”

“Aku sudah hampir-hampir tidak tahan lagi guru. Perlakuan Kebo Sindet semakin lama menjadi semakin memuakkan Aku ingin segera menyelesaikan persoalanku dengan Kebo Sindet.”

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam, sedang Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir bersamaan mereka berkata, “Kau harus bersabar Agni.”

“Apakah aku masih kurang sabar lagi? Dan, apakah ilmuku masih belum memadai ilmu Kebo Sindet?”

“Mahisa Agni.” berkata gurunya sareh, “kau memang luar biasa. Kau telah mampu mengimbangi kami satu demi satu. Ilmumu telah hampir tidak ada beda tingkatannya dengan ilmuku dan ilmu Empu Sada, meskipun kematangannya masih memerlukan waktu. Seandainya kau kami lepas kau, maka aku kira kau sudah tidak akan dapat dikalahkan lagi oleh Kebo Sindet. Tetapi Agni, kamipun belum yakin bahwa kau sudah pula mampu mengalahkannya. Inilah yang harus kau perhitungkan.”

“Perhitungan itu akan terlampau berkepanjangan guru. Aku sudah cukup kuat, dan aku sudah berani dan manatap untuk menghadapinya sekarang juga.”

“Agni.” jawab gurunya, “soalnya bukan berani atau tidak berani. Tetapi kau harus yakin bahwa kau akan berhasil dengan tindakanmu itu. Nah, apakah kau sudah yakin benar bahwa kau akan berhasil dalam keadaan serupa ini?”

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Namun di dalam dadanya serasa keinginannya untuk segera berbuat sesuatu seolah-olah telah menyala dan membakar seluruh urat nadinya.

“Agni.” berkata gurunya, “kau harus dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang dewasa. Kau bukan anak-anak lagi yang selalu saja hanyut dalam arus perasaan. Kau harus mempunyai memperhitungkan setiap tindakan.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sesuatu terasa mendesak untuk dikatakan. Tetapi ia masih belum menjawab.

“Hindarilah korban yang tidak perlu Agni.” berkata Empu Sada kemudian, “kali ini kau masih berada pada kesempatan yang sama dengan Kebo Sindet. Kau dapat megalahkahnya, tetapi kau dapat juga dibinasakannya.”

“Empu.” suara Mahisa Agni terasa terlampau dalam, “bukankah itu akibat perjuangan yang selalu harus kita tanggungkan? Kalau kita gagal, maka akibatnya dapat kita bayangkan.”

“Itulah yang aku maksudkan korban yang sia-sia. Pada hal kau dapat berbuat lain, dengan cara lain. Kau hanya nemerlukan waktu. Itulah yang disebut kesabaran. Kau harus bersabar memperhitungkan kemungkinan.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ketegangan di wajahnya membayangkan perasaannya yang bergolak. Agaknya keterangan orang tua-tua itu masih belum dapat diyakininya. Bahkan di dalam hatinya ia berkata, “Guru dan Empu Sada tidak merasakan perlakuan Kebo Sindet yang gila itu. Sekian lama aku mengorbankan perasaanku dan bahkan tubuhku untuk disakitinya. Sakit pada tubuhku segera akan dapat aku lupakan, tetapi sakit di hatiku serasa mencekikku dan lambat laun bahkan akan membunuhku. Aku tidak tahan lagi mengalami perlakuan itu. Apalagi bendungan di Padang Karautan itu. Betapa aku selalu terganggu oleh angan-angan tentang kerja yang memberi harapan di masa mendatang. Aku harus segera keluar dari sarang hantu ini dan kembali berada di lingkungan kerja itu. Kerja itu memberi aku ketenteraman dan kebanggaan. Kerja diantara orang-orang sekampung halaman dan di antara prajurit-prajurit Tumapel yang baik.”

Tetapi Mahisa Agni masih mendengar gurunya berkata, “Agni, kau harus mampu menimbang persoalan yang kau hadapi. Apakah apabila kau berbuat saat ini akan memberimu keuntungan yang nyata, bukan hanya sekedar dorongan perasaan? Pertimbangkan baik-baik. Kau justru akan terdorong dalam suatu keadaan yang tidak menguntungkan sama sekali. Kau akan menjumpai kegagalan mutlak, karena kau tidak mampu melawan Kebo Sindet diakhir dari perkelahian yang akan terjadi karena Kebo Sindet jauh lebih berpengalaman dari padamu seandainya ilmumu telah setingkat dengan ilmunya. Ketergesa-gesaanmu akan mempercepat mengakhiri segala harapan dan cita-citamu. Jangan kau menganggap bahwa hal ini wajar. Jangan kau berbangga dengan istilah pengorbanan. Pengorbanan seperti itu sama sekali tidak perlu. Tidak bermanfaat. Kalau kau dapat memberikan korban yang kecil untuk suatu tujuan, maka jangan kau beri korban yang berlipat sepuluh daripadanya. Kalau kau ingin mengail ikan sebesar kelingking jangan kau berikan umpan sebesar ibu jarimu. Ingat Agni, ini bukan berarti melepaskan diri dari tujuan. Tetapi memperhitungkan. Tidak mengorbankan hakekat perjuangan, tetapi memperhitungkan kepastian bahwa perjuangan itu akan berhasil. Pengorbanan yang sebenarnya kau berikan untuk itu justru adalah kesabaranmu itu, dan sekedar harga diri selama kau berada di sini tanpa dilihat dan disaksikan oleh orang lain. Tetapi akhirnya kau akan menemukan yang kau cari. Kau akan sampai pada persoalan yang sebenarnya. Kau akan menebus segala pengorbanan yang sebenarnya. Kebebasan dan harga diri. Agni, seandainya aku dan Empu Sada sekarang juga membunuhnya dan melepaskan kau dari sarang ini, maka pertimbangannya telah aku beritahukan kepadamu. Kebo Sindet akan menganggap bahwa hal itu wajar sekali, seperti yang seharusnya terjadi. Tetapi dengan demikian di dalam sudut pandangnya, kau tidak akan dapat menebus harga dirimu. Dalam saat-saat matinya ia tetap menganggap kau seorang laki laki yang terlampau cenggeng. Tetapi kalau kau berhasil mengalahkannya, persoalannya akan lain.”

Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Nalarnya dapat mengerti kata-kata gurunya, tetapi perasaannya masih juga memata. Apakah ia masih harus mengorbankan harga diri? Harga diri? Apakah yang lebih bernilai dari harga diri?

Tetapi lamat-lamat nalarnya menjawab, “Yang lebih berharga dari harga dirimu Agni, harga dirimu pribadi, seorang Mahisa Agni, adalah tujuan perjuanganmu. Tujuanmu yang besar. Kebebasan. Bukan sekedar kebebasan Mahisa Agni pribadi, tetapi kebebasan seluruh lingkunganmu yang selalu ditakut-takuti oleh perbuatan itu. Ibis itu tidak akan dapat lagi membayangimu, mengganggu bendunganmu, yang dilahirkan oleh kerja orang-orang Panawijen bersama-sama para prajurit dengan memeras keringat, bukan sekedar bendungan tiban dari langit, menghantui Ken Dedes dan orang-orang Tumapel lainnya.”

Namun perasaan dan nalar anak muda itu masih belum dapat bertemu seutuhnya. Meskipun demikian, Mahisa Agni masih juga mencoba menyabarkan diri. Meskipun ia bergumam di dalam hatinya, “Sampai kapan aku dapat ber¬sabar lagi?”

Mahisa Agni terperanjat ketika ia mendengar gurunya berkata, “Kau masih bersedia bersabar bukan, Agni?”

Perlahan-lahan Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

Empu Purwa dan Empu Sada bersama-sama menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Seolah-olah ingin dihempaskannya perasaan yang selama ini menyumbat kerongkongannya.

“Terima kasih anakku.” desis Empu Purwa, “aku tahu bahwa kau merasa terlampau berat untuk memenuhi permintaan ini, tetapi kau melakukannya juga. Jangan kau anggap aku terlampau mengesampingkan perasaanmu Agni, tetapi ini adalah terdorong dari keinginanku untuk menampilkanmu. Keinginanku untuk mendorongmu maju, menyelesaikan persoalanmu dan mengangkat harga dirimu. Itulah keinginan yang ada di dalam dadaku. Mudah-mudahan kau dapat mengerti.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya, seakan-akan terjadi suatu benturan-benturan yang dahsyat di dalamnya.

“Agni.” terdengar pula suara gurunya, “cobalah mengerti. Tetapi untuk selanjutnya wajib kau ingat, bahwa kau tidak boleh dikuasai oleh dendam semata-mata. Soalnya bukan dendam dan kemudian membalasnya semata-mata untuk kepuasan. Tidak Agni. Tetapi kau wajib berbuat sesuatu yang bermanfaat bagimu dan bagi lingkunganmu. Membebaskan diri dan menghentikan segala macam kejahatan yang pernah dan masih akan dilakukan oleh Kebo Sindet.”

Kini Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun hatinya masih gelap, tetapi secerah sinar membersit di dalam dirinya.

Perlahan-lahan ia berdesis, “Aku akan melakukannya guru.”

“Bagus.” sahut gurunya, “kau harus yakin bahwa usahamu ini akan berhasil, sementara usaha orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel juga akan berbasil.”

Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi kepalanya masih ditundukkannya.

Dihari-hari berikutnya, Mahisa Agni menjadi semakin tekun berlatih. Ia mengharap bahwa ia akan segera menemukan keyakinan pada dirinya sendiri dan pada guru-gurunya, bahwa ia telah mampu untuk berbuat. Meskipun setiap kali gurunya selalu berpesan, bahwa persoalannya sama sekali bukan sekedar dendam.

“Agni, seandainya sebelum kau berbuat sesuatu, kemudian kau temui Kebo Sindet telah merubah dirinya sendiri, maka kau sudah pasti tidak perlu berbuat sesuatu.” berkata gurunya setiap kali.

Mahisa Agni selalu menganggukkan kepalanya pula.

Latihan-latihan yang berjalan terlampau cepat, kadang-kadang terganggu oleh kehadiran Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Ternyata mereka semakin lama semakin kehilangan kesabaran mereka pula. Tetapi mereka masih belum menemukan seseorang yang cukup baik bagi mereka untuk menghubungi Ken Dedes.

“Bagaimana dengan dukun perempuan itu?” bertanya Kebo Sindet pada suatu ketika.

“Ia sangat membenci Ken Dedes. Mungkin ia dapat dipergunakan.”

“Aku tidak yakin.” sahut Kebo Sindet, “ia tidak dengan sepenuh hati ingin membantu kita. Kalau ia menyampaikan persoalan Mahisa Agni kepada Ken Dedes, maka maksudnya pasti hanya untuk menyakiti hati Permaisuri itu. Ia senang melihat permaisuri itu menangis. Bukankah dukun tua itu sudah mengatakan sendiri, bahwa ia menjadi iri hati melihat kehadiran Ken Dedes di istana. Gadis Panawijen itu adalah sekedar gadis padepokan, sedang kemenakan dukun tua itu adalah gadis Tumapel. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung sama sekali tidak menaruh minat kepada kemenakannya itu.”

Kuda Sempana tidak menjawab.

“Tetapi apabila perempuan tua itu mengkhianati, maka aku harus menyelesaikannya.”

Kuda Sempana tidak pula menjawab. Tetapi hatinya menjadi berdebar-debar. Telah lebih dari lima orang yang terbunuh dalam persoalan yang seakan-akan tidak akan dapat diselesaikan dengan mudah.

Setiap kali, seseorang berusaha untuk berkhianat. Orang-orang yang telah dihubungi oleh Kuda Sempana dan Kebo Sindet, setiap kali justru berusaha untuk memeras mereka. Mereka mengancam untuk melaporkan apabila pembagian hasil tebusan itu tidak mereka setujui. Tetapi mereka agaknya tidak kenal dengan watak dan tabiat Kebo Sindet. Setiap kali, maka pertengkaran itu berakhir dengan pembunuhan. Ada beberapa di antara mereka yang merasa dirinya terlampau kuat. Namun mereka akhirnya harus mati berebut harta yang belum berada di tangan. Tetapi seandainya persetujuan itu ditemukan, akhirnya pun tidak akan berbeda, apabila tebusan itu sudah mereka peroleh.

“Apabila sebulan dua bulan lagi, persoalan ini tidak segera mendapatkan jalan.” berkata Kebo Sindet, “maka aku terpaksa berbuat lebih kasar lagi. Aku harus memotong telinga Mahisa Agni dan mengirimkannya kepada Ken Dedes.”

Kuda Sempana tidak menyahut, tetapi terasa desir yang tayam menggores dinding jantungnya.

Tetapi sementara itu, setiap kesempatan terbuka, Mahisa Agni tidak henti-hentinya membajakan dirinya di bawah tuntunan kedua orang sakti yang pilih tanding. Mereka pun bekerja terlampau keras untuk kepentingan Mahisa Agni. Kini Mahisa telah menguasai sepenuhnya ilmu dari keduanya. Bahkan persenyawaan dari kedua jenis ilmu itu telah menumbuhkan bentuk-bentuk baru yang dahsyat.

Selanjutnya yang ditunggu oleh Mahisa kini tinggallah mematangkannya, supaya di dalam keadaan yang sulit ia tidak kehilangan akal dan kehilangan inti dari unsur-unsur geraknya.

“Kau hampir menemukan kemantapanmu Agni.” berkata Empu Purwa selagi Mahisa Agni beristirahat sejenak, “meskipun kini kau sudah tidak sekedar setingkat dengan Kebo Sindet, tetapi kau masih perlu sedikit waktu lagi untuk meyakinkannya, bahwa kau tidak akan gagal.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia ternyata masih harus bersabar lagi. Dan selalu bersabar itu ternyata telah sangat mengganggunya.

Dadanya menjadi berdebar-debar ketika perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya menengadah kelangit. Dilihatnya segumpal awan yang kelabu mengalir ke utara.

“Apakah yang sedang kau perhatikan Agni?” bertanya Empu Sada.

“Awan telah menjadi basah. Musim hujan segera akan datang Empu.” desis Agni.

“Kenapa dengan musim hujan?”

“Apakah bendungan di Padang Karautan itu telah siap menghadapi musim basah?”

Empu Sada tidak menjawab, sedang Empu Purwa pun terdiam pula. Tetapi bersama-sama mereka menengadahkan wajah-wajah mereka kelangit. Dan mereka pun melihat pula gumpalan awan yang kehitam-hitaman mengalir ke Utara.

Sehelai kabut hitam mengalir pula di dalam hati masing-masing. Mereka ber-sama-sama telah menangkap isyarat, bahwa sebentar lagi musim hujan segera akan datang. Seandainya Bendungan Karautan masih belum cukup kuat, maka banjir yang pertama akan menghapuskan kerja yang telah dilakukan sekian lamanya itu. Dan seandainya demikian, maka orang-orang Panawijen pasti akan kehilangan semua harapannya. Bukan saja menyesali kerjanya yang hanyut dibawa oleh arus banjir, tetapi untuk seterusnya mereka pasti sudah kehilangan gairah untuk bekerja lagi. Dengan putus asa mereka akan pergi berpencaran, bercerai berai tanpa tujuan untuk mencari sesuap nasi.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni bergumam, “Aku sudah terlalu lama berpisah dari kerja itu. Aku tidak dapat membayangkan, bagaimanakah bentuk dan ujud bendungan itu. Aku juga tidak dapat membayangkan Apakah bendungan itu telah mampu menahan arus banjir yang paling kecil sekalipun seandainya hujan turun di ujung sungai itu.”

“Kau harus bekerja lagi Agni.” gumam gurunya seolah-olah tidak ditujukan kepada siapapun juga, “kau harus segera meyakinkan dirimu dan keluar dari tempat ini. Kau akan segera berada di tengah-tengah orang-orang Panawijen itu lagi.”

“Kenapa tidak sekarang?” Mahisa Agni itu menjawab, tetapi hanya di dalam hatinya.

“Mudah-mudahan Ken Arok dapat memperhitungkan cuaca itu pula.” Empu Purwa masih bergumam, “Kewajiban seterusnya adalah memeras segenap tenaga yang ada.”

“Ya guru.” tanpa disengaja Agni mengucapkan kata itu.

“Baiklah. Marilah waktu ini kita pergunakan pula. Aku harus mematangkan inti tata gerak dari seluruh ilmu yang kau miliki. Aku kira Empu Sada pun akan berbuat demikian pula.”

“Ya.” sahut Empu Sada, “pedang rangkap dalam tataran tertinggi. Pergunakanlah getaran kedua puncak ilmumu dalam kecepatan gerak. Bukankah kau sudah berhasil meluluhkanya dalam satu gelombang besar yang sejalan, saling isi mengisi dan dorong mendorong?”

“Aku baru mulai Empu.” jawab Mahisa Agni.

“Tetapi kau hampir berhasil. Kau sudah tidak mendapat getar perlawanan dari dalam-dirimu sendiri. Yang paling sulit adalah menyesuaikan getaran dalam gelombang yang sejalan. Seterusnya, untuk mematangkannya adalah jauh lebih mudah.”

“Mudahkan aku berhasil.”

“Kau akan berhasil.” berkata Empu Purwa pula, “Kalau kau belum berhasil, maka kau tidak akan mampu bergerak lebih dari sepenginang. Kau akan kehabisan tenaga karena. benturan-benturan getaran yang terjadi di dalam diri mu sendiri. Tetapi ternyata itu tidak terjadi. Kau telah mampu menyesuaikan Aji Gundala Sasra dan Aji Kala Bama dalam satu ungkapan yang mapan, setelah Empu Sada berhasil memberi watak baru ke dalam ilmunya itu sesuai dengan wadah tempat ia menuangkannya. Yaitu kau, yang telah terisi oleh Aji Gundala Sasra.”

Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi wajahnya menjadi tegang. Dikenangkannya saat-saat yang paling berbahaya baginya, ketika ia mencoba menyelaraskan gelombang getaran dari kedua ilmu yang berbeda itu. Betapa Empu Sada telah berusaha sekuat-kuat kemampuannya, untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru di dalam susunan tata gerak berhubungan dengan sifat dan watak ilmunya, namun masih juga terasa beberapa benturan-benturan di saat-saat kedua ilmu itu mulai bersentuhan di dalam diri Mahisa Agni.

Bukan saja Mahisa Agni yang berjuang dengan sepenuh kemampuan yang ada padanya, tetapi juga Empu Purwa dan Empu Sada telah berusaha sejauh yang dapat mereka lakukan, mencari keseimbangan dari kedua ilmu tertinggi mereka. Bukan saja dalam bentuk tata gerak wadag, tetapi juga sampai kepada sifat dan wataknya.

Setiap kali Mahisa Agni harus menyaksikan kedua orang tua-tua itu bersama-sama melepaskan kekuatan ilmu mereka degan sasaran yang serupa. Tetapi sekali-sekali mereka juga membenturkan kedua Aji itu meskipun tidak dalam puncak kekuatannya. Dengan demikian Mahisa Agni akan mampu menangkap kesamaan dan perbedaan yang terdapat pada keduanya.

Meskipun demikian, meskipun ia telah melakukan pengamatan yang sebaik-baiknya, namun ketika ia mencoba mempergunakannya kedua ilmu itu bersama-sama untuk pertama kalinya, terasa tubuhnya seolah-olah akan meledak. Namun lambat laun ia mampu mencari bentuk-bentuk saluran di dalam dirinya sesuai dengan gelombang getaran masing-masing dalam sifat dan wataknya. Akhirnya, dengan susah payah ditemukannya kesamaan dari keduanya, dan ditemukan pula perbedaan-perbedaan dan bahkan getaran-getaran yang sama sekali tidak dapat bersentuhan. Betapa berat saat-saat yang harus dilampauinya. Bahkan ketika getaran-getaran itu menemukan saluran masing-masing dalam perbedaan dan persamaannya, terasa seperti gelombang yang dahsyat menyibak di dalam dirinya, sehingga terjadilah goncangan yang amat dahsyat. Dan, sejenak ia jatuh terkulai dengan lemahnya. Pingsan.

Namun sesudah itu, sesudah ia mampu sadar kembali karena pertolongan Empu Purwa dan Empu Sada, terasa sesuatu yang lain pada dirinya. Ia kini telah menyimpan kedua ilmu yang dahsyat itu di dalam dirinya, dalam susunan yang laras. Getaran yang terpancar dari padanyapun merupakan susunan gelombang yang saling isi mengisi dan dorong mendorong menjadi kekuatan yang tidak terkira.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya ketika ia mendengar gurunya berkata, “Ayo, mulailah Agni. Kau tinggal melangkahkan kakimu ke atas anak tangga yang teratas. Lakukanlah sebelum hujan yang pertama jatuh di atas bumi.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi sekali lagi ia mengangkat wajahnya memandangi awan yang semakin terdorong menjauh.
Namun meskipun demikian, meskipun kali ini awan yang kelabu itu tidak meneteskan hujan setitikpun, tetapi pertanda itu telah membuat Mahisa Agni selalu berpikir tentang bendungan yang sedang dikerjakan oleh orang-orang Panawijen bersama-sama para prajurit Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok.

“Awan itu menjauh Agni.” terdengar Empu Sada berdesis.

“Ya, tetapi musim hujan mendekat.” sahut Agni.

“Musim yang harus kau songsong dengan memeras tenaga.” berkata Empu Sada pula.

“Seharusnya orang-orang Panawijen pun memeras tenaga mereka pula, supaya bendungan itu dapat menahan banjir yang pertama.”

Empu Sada tidak menyahut, tetapi tanpa disengaja kepalanya pun terangkat pula. Bukan saja Empu Sada, tetapi Empu Purwa pun menengadahkan kepalanya pula kelangit.

Di Padang Karautan, Panji Bojong Santi pun sedang menengadahkan kepalanya kelangit. Di sampingnya berdiri Ken Arok dan Kebo Ijo. Mereka juga sedang memandang awan yang keabu-abuan, justru semakin lama menjadi semakin dekat.

“Hem.” desis Ken Arok, “awan yang basah itu telah melayang di atas Padang Karautan.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, musim hujan telah mendekat pula.”

“Angin yang silir inipun serasa membawa air.” sahut Kebo Ijo.

Gurunya masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau hujan turun di ujung sungai ini, maka segera banjir akan datang.” berkata Ken Arok.

“Bagaimana pendapatmu tentang bendungan itu.” bertanya Panji Bojong Santi.

Ken Arok tidak segera menjawab. Ditebarkan pandangan matanya menyusur susukan induk. Dilihatnya orang-orang Panawijen dan para prajurit sedang bekerja dengan kerasnya. Seolah-olah mereka pun menyadari bahwa bendungan itu harus menjadi kuat dan mereka menjadi yakin bahwa bendungan itu tidak dapat dibobolkan oleh banjir.

“Kita harus bekerja keras.” sahut Ken Arok.

Panji Bojong Santi tidak bertanya lebih lanjut. Ken Arok pun segera meninggalkannya dan terjun pula di dalam kerja yang riuh.

“Aku pun akan bekerja pula guru.” Kebo Ijo minta izin untuk meninggalkan gurunya yang berdiri di tepi susukan induk tidak jauh dari bendungan.

“Pergilah. Jangan mengecewakan anak buahmu dan Ken Arok.” jawab gurunya.

Kebo Ijo pun sejenak kemudian telah tenggelam dalam hiruk pikuk para prajurit dan orang-orang Panawijen. Meskipun pada mulanya ia tidak senang melihat cara Ken Arok memimpin anak buahnya, namun kemudian iapun terseret pula dalam cara. itu, sebab ia kemudian melihat, bahwa dengan caranya Ken Arok telah berhasil menguasai seluruh prajurit dan orang Panawijen. Tanpa tindakan-tindakan yang kasar, maka hampir setiap kata yang diucapkannya pasti akan dilakukan, baik oleh orang-orang Panawijen, maupun oleh para prajurit Tumapel.

Sepeninggal Kebo Ijo, Panji Bojong Santi kemudian berdiri seorang diri. Sekali-sekali matanya masih saja menatap awan yang mengalir semakin dekat di atas kepalanya. Matahari yang melontarkan sinarnya yang tayam menyengat punggung tiba-tiba menjadi pudar.

“Mendung.” desis salah seorang prajurit Tumapel.

Kawannya yang bekerja di sampingnya menyahut, “Kalau cuaca ini begini terus menerus, maka kerja kita menjadi bertambah ringan. Punggung kita tidak dipanggang pada bara matahari yang panas sekali.”

“Tetapi bagaimana kalau timbul banjir?”

“Darimana banjir itu datang?”

“Apabila turun hujan. Bukankah awan mendung itu membawa air hujan.”

“Jangan hujan dahulu.”

“Tetapi bagaimana kalau terjadi?”

“Entahlah.”

“Tetapi kau senang apabila turun hujan dan sungai akan menjadi banjir dan bendungan itu hanyut karenanya.”

“Siapa bilang?”

“Kau. Kau bilang bahwa apabila udara mendung kerja ini menjadi bertambah ringan.”

“Aku bilang kalau cuaca begini terus menerus. Katakanlah mendung selalu melekat di langit di atas kita, melindungi matahari. Tetapi begitulah seterusnya. Seperti saat ini, kalau cuaca untuk seterusnya begini, bukankah berarti tidak ada hujan.”

“Uh, dapurmu.” gerutu kawannya.

Keduanya pun kemudian terdiam. Tangan-tangan mereka sajalah yang kemudian bekerja melontarkan batu-batu pecahan untuk menutup celah-celah brunjung-brunjung yang besar.

Ken Arok kemudian menarik nafas ketika ia melih awan di atas kepalanya hanyut menyilang sungai itu. Semakin lama semakin jauh.

“Awan itu lenyap.” Gumamnya, “tetapi musim hujan akan segera datang. Kami harus bekerja lebih keras lagi. Tetapi aku tidak dapat memperpanjang waktu kerja ini lagi. Para prajurit telah bekerja bergantian sehari semalam penuh.”

Ternyata awan yang kehitam-hitaman itu tidak hanya dapat mereka lihat satu dua kali. Hampir di setiap hari-hari berikutnya awan yang basah itu melayang di atas Padang Karautan, makin lama semakin banyak. Seolah-olah mereka pergi dan berputar di bawah cakrawala untuk datang kembali membawa teman-teman mereka untuk bermain-main di atas padang yang kering itu.

Ken Arok tidak dapat mengabaikan tanda-tanda yang semakin jelas, bahwa musim hujan telah semakin dekat. Karena itu maka hampir setiap saat ia berada di samping bendung yang harus dikerjakannya. Seolah-olah ia merasa bertanggung jawab sepenuhnya, bahwa apabila bendungan itu belum siap menerima banjir yang pertama di musim hujan mendatang adalah karena ketidak mampuannya.

Kebijaksanaan Ken Arok yang terakhir adalah menarik semua tenaga yang ada untuk menyelesaikan bendungan sampai kepada taraf yang tidak membahayakan, seandainya air bertambah besar. Ditinggalkannya taman buatan yang masih belum rampung pula serta susukan induk dan parit-parit. Tetapi taman itu tidak akan membahayakan seandainya musim hujan tiba-tiba saja datang. Bahkan tanaman-tanaman yang telah mulai tumbuh semakin besar itu akan menjadi bertambah subur.

Ternyata setiap orang Panawijen dan setiap prajurit Tumapel yang berada di Padang itu menyadari keadaan. Mereka menyadari bahwa apabila mereka menyia-nyiakan waktu yang sempit ini, maka mereka akan ditimpa oleh kegagalan, seluruh tenaga dan harta yang telah mereka tumpahkan untuk bendungan itu akan lenyap bersama banjir.

Demikianlah kerja itu menjadi semakin keras. Semua tenaga dan kekuatan telah dikerahkan. Disaat-saat orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel beristirahat, maka waktu itu akan mereka pergunakan untuk memperkokoh gubug-gubug mereka. Apabila tiba-tiba turun hujan yang lebat dibarengi oleh angin yang kencang. Seandainya gubug-gubug itu hanyut dibawa angin, maka mereka tidak akan mempunyai tempat lagi untuk berteduh.

Bukan saja tenaga manusia yang dikerahkan hampir tanpa berhenti, tetapi juga lembu dan kerbau, bahkan kuda-kuda yang ada di Padang itu.

“Kita sudah hampir tidak mempunyai waktu lagi.” desis Ken Arok, “kita harus segera menurunkan brunjung-brunjung yag masih tersedia. Brunjung-brunjung yang kecil itu pun segera harus diisi dan diturunkan pula.”

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya.” Jawabnya, “tetapi kita sudah tidak dapat berbuat lebih banyak diri yang dilakukan sekarang. Tenaga manusia dan binatanglah diperas sejauh-jauh dapat dilakukan.”

Ken Arok mengerutkan dahinya. Ia menyadari bahwa mereka yang bekerja itu telah menjadi terlampau letih mereka sama sekali tidak lagi memikirkan persoalan yang lain kecuali bendungan itu cukup kuat untuk menahan air.

“Kapan ada pergantian tenaga para prajurit?” bertanya Ken Arok.

“Masih agak lama. Baru seminggu yang lalu terjadi pergantian itu.”

Ken Arok masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia selalu mengharap pergantian sebagian dari para prajurit Tumpel. Dengan demikian ia akan mendapat tenaga-tenaga baru yang masih cukup segar. Tetapi pergantian itu berlangsung setiap sepuluh hari sekali untuk sebagian saja dari prajurit-prajurit itu berturut-turut.

Apalagi tenaga orang-orang Panawijen. Mereka sebenarnya telah terlampau letih. Mereka bekerja melampaui waktu yang wajar. Namun didorong oleh kesadaran mereka, bahwa hari depan mereka dan anak cucu mereka tergantung pada bendungan itu, maka mereka sama sekali tidak memperhitungkan waktu dan keadaan diri mereka masing-masing.

Apalagi ketika kemudian titik-titik air yang lembut terasa menetes dibahu Ken Arok. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka tampaklah mendung menebal di langit. Semakin lama semakin rata.

“Gerimis telah turun.” nada suaranya terdengar seakan-akan ia sedang mengeluh.

Kebo Ijo yang berdiri disampingnya pun mengangkat palanya. Perlahan-lahan disekanya keringat yang membasahi keningnya. Dan iapun merasakan titik air di dahinya.

“Ya, agaknya gerimis akan turun.”

“Mudah-mudahan tidak begitu lebat, meskipun mendung yang tebal tergantung di langit.”

Kebo Ijo tidak menjawab, tetapi dadanya pun menjadi berdebar.

Namun gerimis yang pertama itu seakan-akan menjadi cambuk bagi orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel. Mereka bekerja semakin keras. Sejauh-jauh dapat mereka kukan, maka tanpa tekanan dari siapapun, mereka telah mengerjakannya. Meskipun para prajurit Tumapel tidak langsung berkepentingan dengan bendungan itu, tetapi Ken Arok menanamkan pengertian di dalam hati mereka, bahwa bendungan itu akan mempunyai banyak sekali nilai. Bukan saja nilai kesejahteraan, tetapi lebih dari itu adalah nilai kemanusiaan.

Berderak-derak batu yang dilontarkan kedalam brunjung-brunjung, dan gemuruh suaranya, satu demi satu brunjung-brunjung itu dilemparkan ke dalam air untuk mempertebal bendungan mereka, semua pekerjaan dihentikan, kecuali bendungan. Dan semua tenaga berhimpun di sekitar bendungan itu seberang menyeberang. Sebagian berada di atas tebing, sebagian di bawah tebing, menempatkan brunjung-brunjung ketempatnya masing-masing. Sebagian mengusung tanah untuk menimbuni brunjung-brunjung itu dan sebagian yang lain menyiapkan patok-patok kayu. Sedang yang lain mengatur batu dan berunjung-berunjung yang khusus untuk menahan tebing di sisi bendungan itu supaya tidak menjadi longsor terdesak oleh arus air, apalagi di saat-saat sedang banjir.

Air di atas bendungan itu secengkang demi secengkang naik ke atas, karena bendungan itupun menjadi semakin tinggi. Tetapi hati Ken Arok dan para pekerja itu pun menjadi semakin cemas pula menantikan musim hujan yang sudah berada di ambang pintu.

Setiap kali awan yang kehitam-hitaman selalu saja melayang atas Padang Karautan menghantui orang-orang Panawijen dan pajurit-pajurit Tumapel yang sedang bekerja. Setiap tetes gerimis yang jatuh, membuat mereka kian berdebar-debar. Tetapi kerja merekapun menjadi semakin keras. Dikerahkannya segenap kemampuan mereka sampai kepuncaknya.

Tunggul Ametung yang mendengar laporan tentang bendungan dan mendekatnya musim hujan, ikut membantu pula dengan perbekalan secukupnya. Tetapi ia tidak dapat lagi menambah tenaga karena kebutuhannya yang lain. Yang dapat dilakukan hanyalah setiap kali mengganti tenaga-tenaga di Padang Karautan dengan prajurit-prajurit baru yang masih segar.

Di hutan, di tengah-tengah rawa-rawa di dekat Kemundungan, Mahi Agni pun sedang bekerja sepenuh tenaga untuk membentuk dirinya. Tidak disia-siakannya saat-saat yang betapapun pendek. Ia mengharap bahwa secepatnya ia dapat keluar dari tempat yang menjemukan itu. Apalagi setiap kali angan-angannya selalu diganggu oleh bayangan banjir yang dapat melanda dan menghanyutkan bendungannya.

“Guru.” berkata Agni mengejut, “gerimis telah jatuh.”

Gurunya mengangkat wajahnya. Dilihatnya awan yang kehitam-hitaman sedang bergerak ke utara.

“Apakah di Padang Karautan telah turun hujan pula?”

Gurunya menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku tidak tahu Agni. Tetapi seandainya demikian, maka hujan itu pun masih terlampau kecil seperti di sini pula.”

“Tetapi apabila hujan itu turun di ujung sungai maka banjir itu tidak dapat dihindari lagi.”

“Masih ada waktu.” sahut Empu Sada pula, “banjir itu tidak akan datang dipermulaan musim. Waktu yang pendek masih akan dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang sekarang bekerja di Padang Karautan. Awan yang hitam, angin yang basah, akan memberi mereka peringatan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mudah-mudahan.” desisnya, “Tetapi seandainya mereka lengah, maka semuanya akan hanyut bersama bendungan itu. Harapan dimasa datang dan kerinduan orang-orang Panawijen untuk mempertahankan lingkungannya yang sejahtera.”

“Kita mengharap bahwa semuanya akan dapat teratasi.” berkata Empu Sada, “Sebab kedua-duanya penting bagimu Agni. Bukan sekedar untuk dirimu sendiri. Tetapi untuk kepentingan yang luas. Bekal yang kau peroleh di sini akan bermanfaat selama kau tetap berpijak pada kebenaran sejauh mungkin dapat kau jangkau, sebab tidak ada kebenaran yang mutlak pada manusia. Penilaian kebenaran yang mutlak hanyalah berada di tangan Yang Maha Agung. Dan saat in adalah saat yang sebaik-baiknya bagimu. Mungkin kau tidak akan dapat menemukan kesempatan sebaik ini, sementara seseorang yang bertanggung jawab telah menyambung kewajibanmu yang lain di Padang Karautan.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi setiap kali ia selalu menengadahkan wajahnya, memandangi awan yang kehitam-hitaman.

Ketika matahari menjadi semakin suram hampir di setiap hari, maka Mahisa Agni pun menjadi semakin gelisah, seperti juga kegelisahan yang mencengkam dada Ken Arok di Padang Karautan. Mereka telah ditegangkan oleh mendung dan bendungan. Dan mereka telah memeras segenap tenaga yang ada pada mereka.

Sementara itu, Kebo Sindet dan Kuda Sempana sama sekali masih belum menemukan jalan yang licin. Dua orang telah menjadi korban berikutnya. Namun Kuda Sempana masih selalu berkata, bahwa ia pada suatu saat akan memerlukan orang yang sebaik-baiknya untuk keperluan itu.

Yang terakhir mereka pergi ke Tumapel, mereka telah menemui seorang jajar yang bertubuh gemuk. Kumisnya yang melintang dahinya yang sempit, hidungnya yang besar, dan matanya sipit, membuat wajah jajar itu membayangkan kelicikan hatinya. Tetapi Kuda Sempana tahu betul bahwa hati jajar yang gemuk itu telah dicengkam oleh nafsu ang menyala-nyala untuk mendapatkan sesuatu yang berelebih-lebihan.

“Kita pergi kerumahnya.” berkata Kuda Sempana kepada Kebo Sindet.

“Apakah kau yakin bahwa kali ini kau akan berhasil?” jawab Kebo Sindet.

“Kita hanya mencoba. Dan aku akan selalu mencobanya.”

“Kau memang keras kepala. Tetapi baiklah, mencoba sekali lagi. Kalau kali ini gagal, maka kau sendiri harus menghadap permaisuri itu, membawa telinga Mahisa Agni. Kau tidak akan diganggu oleh siapa pun di istana, karena kau mempunyai tanggungan yang sangat berharga. Mahisa Agni. Tetapi seandainya kau mencoba lari, maka nasibmu tidak akan terkatakan lagi. Alangkah malangnya. Kau akan me mengalami nasib jauh lebih jelek dari nasib Mahisa Agni. Tetapi cara itu sebenarnya kurang aku sukai. Tetapi aku berhadapan dengan orang-orang yang licik dan curang.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Meskipun wajahnya tidak melontarkan kesan apapun, tetapi ia masih juga sempat bertanya-tanya di dalam hatinya, siapakah yang dimaksud licik dan curang itu.

“Apakah kita ini orang-orang yang jujur dan baik hati.” tetapi kata-kata ini pun disimpannya saja di dalam hati.

Kali ini mereka memasuki halaman rumah jajar yang gemuk itu ketika matahari telah tenggelam di balik gunung di sebelah Barat. Perlahan-lahan Kuda Sempana mengetuk pintu rumahnya yang telah tertutup.

“Siapa?” terdengar suaranya parau.

“Aku, Kuda Sempana.” jawab Kuda Sempana.

“He.” orang itu terkejut, “Kuda Sempana? Bukankah kau, menjadi orang buruan?”

“Aku memerlukanmu.” sahut Kuda Sempana.

Jajar yang gemuk di dalam rumah itu menjadi ragu-ragu sejenak Tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi cerah matanya yang sibit segera memancarkan sinar yang aneh.

Meskipun demikian ia tidak segera membuka pintunya. Sambil berjingkat ia berjalan ke pintu bilik rumahnya. Di raihnya sebilah keris yang kecil dan diselipkannya diikat pinggangnya. Kemudian dilindunginya keris kecil itu dengan kain panjangnya.

“Cepat, bukalah pintumu.” terdengar kembali suara Kuda Sempana.

“Tunggu. Aku baru mengenakan kain.” sahut Jajar yang gemuk itu.

Kemudian jajar itu pun segera melangkah kepintu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata di dalam hatinya, “Kalau aku dapat menangkap anak ini hidup atau mati, maka aku akan mendapatkan sesuatu dari Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Meskipun Kuda Sempana seorang Pelajan Dalam, dan aku hanya sekedar seorang abdi rendahan, teiapi aku kira aku memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.”

Jajar yang gemuk dan berkumis melintang itu berhenti sesaat di muka pintu rumahnya. Diaturnya nafasnya yang mengalir semakin cepat karena debar jantungnya.

“Aku harus membunuhnya.” desis Jajar yang gemuk itu di dalam hatinya.

Maka perlahan-lahan diangkatnya selarak pintu rumahnya. Ia mengharap bahwa ia akan segera berbuat sesuatu begitu Kuda Sempana melangkah masuk. Tetapi ia tidak segera ingin dicurigai, karena itu kerisnya masih belum disentuhnya.

Tetapi ketika pintu terbuka, ia melihat Kuda Sempana berdiri dua langkah dari padanya. Di belakangnya dilihatnya di dalam keremangan malam seseorang berdiri tegak seperti patung.

Hatinya yang berdebar-debar menjadi kian berdebar-debar. Tetapi dicobanya untuk mengatur perasaannya sebaik-baiknya.

“Marilah, silahkan masuk.” katanya mempersilahkan.

Kuda Sempana masih berdiri di tempatnya, Dipandanginya mata Jajar yang agak sipit itu.

“Marilah.” Jajar itu mengulangi.

Tetapi Kuda Sempana masih berdiri kaku, tanpa bereranjak setapak pun.

“Kenapa kau berdiri saja di situ?”

“Aku memerlukanmu. Kami mengharap kau menerima kami dengan baik, sebab kami tidak akan berbuat apa-apa terhadapmu.”

“Aku terima kalian dengan baik.” sahut Jajar itu ragu-ragu. Dilihatnya dalam kegelapan mata orang yang berdiri di belakang Kuda Sempana itu seolah-olah menyala seperti bara.

Terasa bulu-bulunya meremang. Namun ditatagkannya hatinya untuk menghadapi keadaan. Katanya pula, “Marilah.”

Perlahan-lahan Kuda Sempana melangkah maju. Tetapi tampaklah betapa ia sangat berhati-hati. Matanya sama sekali tidak berkisar dari kedua tangan Jajar yang gemuk itu.

“Setan alas.” berkata Jajar itu di dalam hatinya, “anak ini terlampau hati-hati.” Apalagi ketika ia melihat pedang bergantung di lambung Kuda Sempana dan sebilah golok di ikat pinggang Kebo Sindet. “Biarlah ia masuk saja dahulu.” katanya lebih lanjut di dalam hatinya, “aku akan mencari kesempatan.” Namun sebuah pertanyaan tumbuh di dalam hatinya, “Siapakah orang yang datang bersama Kuda Sempana itu?”

Jajar itu pun kemudian melangkah masuk diikuti oleh Kuda Sempana dan Kebo Sindet. Niatnya untuk menikam Kuda Sempana di ambang pintu diurungkannya. Ia harus memperhitungkan keadaan dan mencari kesempatan sebaik-baiknya.

“Aku tidak perlu tergesa-gesa.” katanya pula di dalam hatinya, “ia sudah masuk kedalam sangkar. Ia pasti tidak akan keluar lagi. Aku merasa bahwa aku akan dapat mengalahkannya. Apalagi kalau aku menyerangnya dengan tiba-tiba. Sedang yang seorang itu aku kira hanya seorang pencuri ayam yang merasa mendapat perlindungan dari Kuda Sempana dan mengikutinya kemana anak itu pergi. Atau mereka telah melakukan kejahatan bersama-sama.” Namun tiba-tiba sekali lagi bulu-bulu tengkuknya meremang. “Tetapi mata itu.” seolah-olah jajar itu mengeluh di dalam hatinya.

Mereka bertiga pun kemudian duduk di atas sehelai tikar yang kasar, sekasar wajah Jajar yang gemuk itu sendiri.

“Kau berkunjung ke rumah ini malam-malam begini?” bertanya Jajar itu kepada Kuda Sempana.

“Ya, aku mempunyai keperluan yang penting.” jawab Kuda Sempana.

“Apa?”

“Tutup pintu itu.” perintah Kuda Sempana.

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak senang mendengar perintah yang kasar itu. Karena itu maka sejenak ia masih diam membeku.

“Tutup pintu itu.” sekali lagi Kuda Sempana memerintah, “Aku adalah seorang buronan. Aku tidak mau orang lain melihat kehadiranku di sini.”

“Biarlah pintu itu terbuka.” sahut jajar itu.

“Tutup pintu itu.” suara Kuda Sempana menjadi kian berat.

“Tutuplah sendiri.” sahut Jajar yang gemuk itu dengan wajah yang merah.

Tetapi wajah Kuda Sempana pun telah menjadi merah. Hampir saja ia menampar mulut Jajar yang gemuk itu seandainya Kebo Sindet tidak berkata, “Kuda Sempana, kita belum menyampaikan keperluan kita. Jangan kau bunuh tikus yang gemuk ini.”

Terasa darah jajar itu melonjak kekepala. Betapa ia merasa tersinggung oleh kata-kata itu. Jajar yang gemuk itu hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya dan langsung menyerang Kuda Sempana. Tetapi ketika sekilas terlihat pula olehnya mata Kebo Sindet, maka Jajar itu terpaksa menahan dirinya. Meskipun demikian ia berkata, “He Kuda Sempana, apakah maksudmu sebenarnya? Rumah ini adalah rumahku. Aku dapat berbuat sekehendakku di sini. Bahkan membunuh kalian berdua pun tak akan ada soal lagi. Apa lagi kau sekedar seorang buronan.”

Kuda Sempana benar-benar tidak dapat menguasai kemarahannya lagi mendengar kata-kata itu. Tetapi ketika ia akan meloncat dan memukul wajah Jajar yang gemuk itu, terasa tangannya tertahan oleh kekuatan yang tidak dapat di atasinya. Ternyata Kebo Sindet telah menggenggam pergelangan tangannya.

“Apakah maksudmu datang kemari hanya sekedar untuk berkelahi?” bertanya Kebo Sindet.

Kuda Sempana menggigit bibirnya. Dicobanya untuk mengendapkan kemarahannya.

“Maafkan anak ini Ki Sanak.” berkata Kebo Sindet kemudian.

Jajar yang telah bersiap pula untuk menghadapi segala kemungkinan itu mengerutkan keningnya. Tetapi justru ia menjadi sangat heran. Orang yang matanya menyala terpancang di wajah yang beku seperti mayat itu kini tiba-tiba menjadi seorang yang sabar dan ramah. Matanya tidak lagi membara dan mengecutkan hatinya. Tetapi mata itu kini menjadi membeku pula seperti minyak dimusim bediding.

“Kuda Sempana.” berkata Kebo Sindet, “katakan maksudmu.”

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terasa dadanya masih terlampau panas.

“Katakanlah Kuda Sempana.”

Kuda Sempana memperbaiki letak duduknya. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin menekan perasaannya yang masih saja bergelora di dalam dadanya.

“Nah.” berkata Jajar itu, “lebih baik kau mengatakan maksud kedatanganmu dari pada menjual tampang di rumah ini.”

Hampir-hampir darah Kuda Sempana mendidih lagi, tetapi Kebo Sindet mendahuluinya, “Maafkan anak ini Ki Sanak.”

Sekali lagi keheranan melonjak di dadanya. Meskipun suara Kebo Sindet cukup ramah dan lunak, namun terasa bahwa sikap orang itu sama sekali tidak wajar.

“Baiklah.” gumam Kuda Sempana kemudian dalam sekali di dadanya, “aku memerlukan kau.”

Jajar itu tidak menjawab. Tetapi ia kini benar-benar memutar duduknya, bagaimana ia dapat dengan tiba-tiba saja membunuh Kuda Sempana tanpa banyak membuang tenaga. Jajar itu memperhitungkan bahwa orang yang datang bersama Kuda Sempana itu pasti bukan sekedar seorang pencuri ayam yang mencari perlindungan di belakang punggung Kuda Sempana. Ternyata justru orang itu mempunyai pengaruh yang kuat atas anak muda itu.

“Aku harus segera membunuh Kuda Sempana dengan tiba-tiba. Kemudian aku pasti akan menghadapi orang yang berwajah seperti mayat dan bermata beku, seperti mata yang buta.” namun kemudian terasa dadanya berdesir, “Tetapi mata itu dapat menyala seperti mata harimau di malam hari.”

“Dengarlah.” berkata Kuda Sempana, “apakah kau mau bekerja bersama kami?”

Jajar itu mengerutkan keningnya, “Untuk apa?”

“Kau akan mendapatkan sesuatu yang tidak kau duga-duga sebelumnya.” sambung Kuda Sempana.

“Untuk apa?” Jajar itu mengulangi.

“Memeras.” jawab Kuda Sempana langsung.

Sekali lagi jajar itu mengerutkan keningnya. “Siapa yang harus diperas?”

“Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”

Jajar itu tidak segera menyahut. Ia mencoba menghubungkan apa yang pernah didengarnya tentang Kuda Sempana dan keluarga Permaisuri Ken Dedes. Ia memang pernah mendengar bahwa Permaisuri telah kehilangan saudara laki-lakinya. Karena itu segera ia dapat menghubungkan persoalannya dengan keterangan Kuda Sempana itu.

Sesaat kemudian maka iapun bertanya, “Bagaimanakah cara yang harus aku lakukan seandainya aku setuju?”

“Bukankah kau masih Jajar dalam istana?”

“Sekali-sekali kau pernah melihat permaisuri bercengkerama di taman istana?”

“Ya.”

“Apakah kau dapat mencari kesempatan untuk menyampaikan sesuatu kepadanya?”

Jajar gemuk itu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia memikirkan cara untuk itu, ia sudah menjawab, “Tentu. Aku akan dapat berbicara kepadanya. Maksudku kepada Tuan Puteri.”

“Apakah kau pernah mendengar bahwa saudara laki-laki Permaisuri itu hilang?”

“Ya.”

“Nah, kita sampai pada persoalannya. Kau sampaikan saja kepadanya, bahwa aku, Kuda Sempana memerlukan tebusan untuk membebaskan Mahisa Agni. Kau tahu bahwa kau akan mendapat bagian pula karenanya?”

“Apakah yang kau minta sebagai tebusan?”

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya saja wajah Kebo Sindet yang beku. Kebo Sindet dapat menangkap maksud Kuda Sempana. Ia harus menyampaikan tuntutan itu.

“Ki Sanak.” berkata Kebo Sindet, “kami sudah terlanjur mengatakan kepadamu maksud kami. Dengan demikian kita sudah membuat suatu ikatan. Maksudku, di antara kita tidak boleh ada pengehianatan. Nah, tuntutan itu adalah sepengadeg perhiasan emas permata milik Permaisuri.”

“He.” mata Jajar itu terbelalak, “apakah kau gila. Betapa mahalnya orang yang ditanggungkan untuk itu?”

“Orangnya sendiri tidak berarti apa-apa. Tetapi kekayaan itu pun tidak berarti apa-apa bagi Permaisuri. Dengar, aku belum selesai. Tebusan itu masih belum cukup. Sepengadeg perhiasan itu masih harus ditambah lagi.”

Mata Jajar yang gemuk itu terbelalak semakin lebar. Sepengadeg perhiasan intan berlian dari Permaisuri Ken Dedes masih belum cukup. Permintaan itu bena-benar permintaan yang gila. Jajar yang gemuk itu tidak akan dapat membayangkan, berapa harga sepeti perhiasan emas dan intan berlian sepengadeg itu. Apalagi sepengadeg itu saja masih belum cukup.

“Apakah kau heran Ki Sanak?” bertanya Kebo Sindet kemudian.

Jajar yang gemuk itu sejenak terbungkam seperti patung.

“Jangan heran.” berkata Kebo Sindet, “tanggungan yang ada padaku adalah orang yang paling berharga di dalam hidup Permaisuri itu. Ia akan berusaha untuk memenuhinya. Sepengadeg bagi Ken Dedes tidak akan lebih berarti dari Mahisa Agni.”

“Tetapi bagaimanakah apabila Akuwu Tunggul Ametung tidak menyetujuinya?” bertanya Jajar yang gemuk itu.

“Terserah kepada Ken Dedes. Ia dapat merengek ke pada suaminya. Tetapi kalau Akuwu Tunggul Ametung tetap berkeras hati untuk tidak memberikannya, maka kebahagiaan mereka akan terganggu seumur hidup mereka. Aku akan berbuat sesuai dengan rencanaku, meskipun mula-mula aku akan tetap berbaik hati. Aku dapat mengirimkan telinga Mahisa Agni kepadanya sebagai peringatan. Mudah-mudahan dengan demikian Akuwu Tunggul Ametung tidak lagi berkeberatan memenuhi permintaan isteri tercinta. Kalau tidak, maka pasti akan selalu tumbuh ketegangan di dalam istana itu.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak yakin bahwa nilai seorang Mahisa Agni bagi Ken Dedes akan melampaui perhiasannya sepengadeg dan masih ditambah lagi beberapa macam permintaan.

“Apakah kau ragu-ragu Ki Sanak?” bertanya Kebo Sindet.

“Ya.” jawab Jajar itu, “aku ragu-ragu.”

“Sebaiknya kau mencobanya. Kami masih dapat merubah serba sedikit permintaan-permintaan itu. Tetapi tidak akan jauh berkisar dari padanya.”

“Tetapi seberapakah kelebihan dari sepengadeg yang masih ingin kau tuntun dari pada Permaisuri itu.”

“Bukan untuk aku. Selebihnya untukmu sendiri. Disaat-saat yang lewat, aku tidak pernah mendapat kesepakatan pembicaraan dengan siapapun juga. Soalnya adalah pada pembagian hasil dari pemberian Permaisuri Akuwu itu. Bahkan beberapa diantara mereka berusaha menakut-nakuti aku dan mengancam untuk membuka rahasiaku seandainya aku tidak memenuhi tuntutan mereka. Tetapi mereka salah. Aku tidak pernah merahasiakan diriku. Karena itu aku tidak pernah takut mendengar ancaman semacam itu, sehingga aku tidak pernah dapat memenuhi setiap perjanjian yang mereka kehendaki.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya, “Lalu cara apa yang akan kau ambil kali ini supaya kita tidak menemui kesulitan yang sama seperti yang pernah terjadi?”

“Disaat-saat yang lewat, mereka selalu minta sedikitnya separo dari sepengadeg itu. Tetapi aku tidak dapat memberikannya. Aku hanya ingin mengurangi yang sepengadeg itu dengan sebagian kecil. Tetapi mereka kadang-kadang menjadi marah dan mengancam. Bahkan sebelum kita berbicara lebih lanjut, mereka sudah bersikap memusuhi aku.”

Jajar itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang aku bermaksud mempergunakan cara lain. Aku ingin yang sepengadeg itu. Sedang untukmu Ki Sanak, sebaiknjya kau mencarinya sendiri.”

Sekali lagi mata Jajar itu terbelalak, “Bagaimana aku harus mencari sendiri?”

“Itulah sebabnya maka Permaisuri harus menukar kakaknya dengan sepengadeg dan masih ditambah lagi. Tambahan dari sepengadeg itu tergantung kepadamu. Itu adalah untukmu sendiri. Kalau nasibmu baik, maka kau dapat menuntut dua pengadeg. Satu untukku satu untukmu. Seandainya kurang dari pada itu, tergantung penilaianmu sendiri.”

Jajar yang gemuk itu menyipitkan matanya yang sipit. Tampaklah dahinya berkerut merut. Ternyata di dalam dadanya telah terjadi suatu pergolakan yang sengit.

Tawaran itu telah mempengaruhi duduknya yang tamak. Tiba-tiba ia mengurungkan niatnya untuk membunuh Kuda Sempana. Kini tumbuhlah keinginannya untuk mendapatkan harta yang lebih banyak lagi dari pada sekedar hadiah karena ia berhasil menangkap mati seorang buruan.

Ternyata Jajar itu bukan seorang yang terlampau dungu. Karena itu, maka wajahnya pun tiba-tiba menjadi cerah. Dengan sebuah senyum ia berkata, “Marilah kita bicarakan tawaranmu. Aku pada dasarnya dapat menerima. Tetapi bagaimanakah kalau Permaisuri menolak? Persoalan itu masih belum terlampau sulit. Sudah kau katakan bahwa kau akan mencoba memaksa dengan caramu. Tetapi bagaimana nasibku sendiri apabila justru aku ditangkap karenanya?”

“Tidak. Kau tidak akan ditangkap. Akibatnya akan membahayakan jiwa Mahisa Agni.”

“Ya, Ya.” Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi bagaimana kalau Permaisuri hanya bersedia menukar kakaknya dengan sepengadeg saja? Apakah aku tidak akan mendapat apa-apa dari kerja sama-sama ini?”

“Tentu, kau akan mendapatkannya juga. Tetapi tidak seperti yang kau harapkan dari usahamu sendiri. Mungkin aku akan dapat mengurangi yang sepengadeg itu dengan beberapa butir intan dan berlian.”

Sebuah angan-angan yang kabur telah mempengaruhi otak Jajar yang gemuk itu. Tetapi semakin lama semakin jelas. Sebutir berlian itu pun tidak akan diterimanya seandainya ia menangkap Kuda Sempana hidup atau mati. Yang diterimanya pasti tidak akan lebih dari sepengadeg pakaian, atau mungkin kenaikan pangkat yang tidak banyak berarti.

Tetapi seandainya Permaisuri hanya bersedia menukar dengan sepengadeg pakaian, sudah tentu ia tidak mau sekedar mendapatkan sebutir berlian betapapun besarnja. Ia harus mendapatkan bagian yang murwat dari usahanya itu.

“Inilah yang selalu menjadi penghalang setiap persetujuan yang akan dibuatnya di masa lampau.” gumamnya di dalam hati, “orang-orang yang dihubunginya selalu menuntut terlampau banyak. Tetapi itu adalah perbuatan yang sangat bodoh. Aku harus mengiakan saja keinginannya saat ini. Tetapi apabila permata itu telah berada ditanganku, ah, apakah gunanya aku serahkan kepadanya? Aku akan dapat membunuh keduanya Kuda Sempana dengan kawannya yang berwajah mayat itu.” Angan-angan itu terganggu ketika sekilas teringat olehnya mata orang yang berwajah beku itu dapat memancar seperti mata seekor harimau loreng, “Mungkin aku memerlukan seorang kawan untuk membunuh mereka berdua. Seorang atau dua orang. Aku akan dapat menyewanya tanpa memberi tahukan persoalan yang sebenarnya.”

“Bagaimana Ki Sanak?” bertanya Kebo Sindet.

Jajar itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berkata, “Tetapi apakah keselamatanku sendiri akan terjamin dengan demikian?”

“Jangan ragu-ragu. Tanggungan itu cukup berharga bagi Ken Dedes.”

“Tetapi bagi Akuwu Tunggul Ametung?”

“Ken Dedes sangat berharga bagi Tunggul Ametung.”

Jajar itu terdiam sejenak. Ia tidak akan menuntut terlampau banyak saat ini. Ia akan mengiakan saja apa yang dikatakan oleh kedua orang itu.

Namun ia bertanya juga, “Bagaimanakah cara tukar menukar itu terjadi?”

“Mudah saja.” jawab Kebo Sindet, “aku menerima permata itu, lalu aku lepaskan Mahisa Agni di suatu tempat.”

“Apabila Ken Dedes menanyakan apakah jaminannya, bagaimana jawabku?”

“Tidak akan ada jaminan apa-apa. Permaisuri itu hanya dapat percaya apa tidak. Kalau ia percaya maka perhiasan itu harus disampaikan kepadaku di tempat yang sudah ditentukan, kemudian Mahisa Agni bersama-sama dengan saat aku menerima perhiasan itu, maka nyawaku akan terancam. Begitu aku melepaskan Mahisa Agni di tempat yang ditentukan itu. Begitu aku dikepung oleh prajurit-prajurit Tumapel. Dengan demikian maka Mahisa Agni lepas, dan perhiasan-perhiasan ini akan disamun lagi oleh Akuwu Tunggul Ametung, sehingga kau pun tidak akan menerima sebutir intanpun. Apakah kau dapat mengerti?”

Jajar yang gemuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia masih bertanya, “Tetapi bagaimana kalau Permaisuri bertanya tentang kemungkinan yang lain?”

“Kemungkinan yang bagaimana?”

“Seandainya perhiasan sepengadeg itu telah diserahkan, tetapi Mahisa Agni tidak juga kau lepaskan? Bukankah dengan demikian Permaisuri itu akan kehilangan kedua-duanya seperti yang kau cemaskan itu pula?”

“Tetapi tanggungan itu ada padaku. Aku mempunyai kekuatan, sebab pusat persoalannya ada pada Mahisa Agni yang kini berada di tanganku.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak ingin mempersoalkannya lebih lanjut. Ia tidak pula ingin pembicaraan ini gagal. Apapun yang akan terjadi, ia ingin juga mencobanya. Seandainya usaha ini gagal, maka ia pun tidak akan kehilangan apapun. Mahisa Agni bukan sanak bukan kadangnya. Biar sajalah orang itu dibunuh. Tetapi perhiasan emas permata sepengadeg itu akan bernilai terlampau banyak.

“Semuanya itu harus menjadi milikku. Orang-orang ini pun bukan sanak bukan kadangku seperti Mahisa Agni. Mereka semuanya sebaiknya mati. Orang ini, dan Mahisa Agni, sama sekali. Aku akan dapat menikmati kemenanganku, meskipun aku harus menyingkir dari Tumapel. Tetapi tanah ini terlampau luas. Aku dapat bersembunyi dimana saja. Mengganti namaku dan membayar orang-orang yang akan menjadi pelindungku.” Jajar Itu telah berangan-angan.

Dan Jajar yang gemuk itu terkejut ketika ia mendengar suara Kebo Sindet, “Bagaimana Ki Sanak?”

Tetapi Jajar itu cukup cerdik. Ia tidak, ingin dicurigai sehingga ia berkata, “Sebaiknya kau pertimbangkan segala kemungkinan. Sudah tentu aku juga ingin mendapat banyak dari kerja sama ini. Tetapi seandainya Permaisuri hanya besedia memberikan sepengadeg itu, kau harus mempertimbangkan masak-masak, bahwa aku akan mendapat tidak hanya sekedar sebutir berlian meskipun aku akan mencoba berusaha untuk mendapatkannya sendiri.”

“Asal kau tidak mencoba mendapat terlampau banyak.” sahut Kebo Sindet, “Bagiku permintaanmu itu wajar. Tetapi yang aku benci, sehingga aku tidak pernah mendapat persetujuan sebelum ini, adalah karena mereka selalu menuntut terlampau banyak dengan ancaman-ancaman. Ternyata mereka menyesal karenanya. Apalagi apabila ternyata kau kelak yang mendapatkannya.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sanggupi. Aku akan mencoba.”

“Apakah kau berkata sebenarnya? Bukan sekedar untuk memancing kelengahanku?”

“Aku tidak gila. Seandainya aku menjerumuskan kau ke dalam tangan Akuwu Tunggul Ametung, apakah yang aku dapat? Sepengadeg pakaian atau kenaikan pangkat Tetapi dengan kerja sama ini aku akan mendapat lebih banyak lagi tanpa membahayakan jiwa dan kedudukanku. Sebab aku hanya sekedar seorang pelantar, seorang perantara.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya wajah Kuda Sempana. Tetapi agaknya Kuda Sempana menjadi acuh tak acuh saja mendengar pembicaraan itu. Namun sikap itu pun sama sekali tidak mempengaruhi perasaan Kebo Sindet. Wajahnya yang beku masih saja membeku.

“Baiklah.” berkata Kebo Sindet kemudian, “aku menunggu perkembangan pembicaraanmu dengan Permaisuri.”

“Tunggulah kau di rumah ini. Besok aku akan berusaha menemui dan berbicara dengan Permaisuri, tetapi apabila hari itu Permaisuri berada di taman. Kalau tidak, maka aku harus menunggu hari berikutnya.”

“Terserah kepadamu. Tetapi aku tidak akan menunggu di rumah ini. Aku akan dapat menjadi umpan penghianatanmu.”

“Apakah kau tidak percaya kepadaku?” bertanya Jajar gemuk itu.

“Beberapa kali aku hampir-hampir terjebak karena kecurangan orang-orang yang telah menyatakan dirinya ingin bekerja bersama dengan aku. Bahkan perempuan tua, dukun istana itu pun agaknya akan menjebak aku. Ia sama sekali tidak ingin berbuat untuk kepentingan bersama, tetapi ia hanya sekedar ingin memuaskan dirinya sendiri. Perasaan iri dan dengki bahkan dendam.”

“Kepadamu?”

“Tidak, kepada Permaisuri.”

“Lalu apa yang kau lakukan atasnya?”

“Tidak apa-apa. Aku menyingkir saja. Perempuan itu terlampau bodoh. Ia mengumpankan beberapa orang, sedang ia sendiri bersembunyi di istana. Nah, kau akan menyenangkan pula bagiku seandainya kau dapat menyampaikan pesan kepada Permaisuri pula, bahwa dukun istana itu terlampau dengki.”

“Tetapi itu tidak penting. Yang penting adalah persoalan Mahisa Agni itu sendiri.” sahut Jajar yang gemuk.

“Ya. Aku sependapat.” sahut Kebo Sindet. Kemudian katanya, “Baiklah sekarang aku pergi. Aku ingin mendapat keterangan tidak lebih dari sepekan lagi.”

“Kau tidak tinggal dirumah ini? Kau akan dapat bersembunyi dengan aman di sini.”

“Mungkin aku dapat bersembunyi dengan aman. Tetapi mungkin pula besok halaman ini telah dikepung oleh prajurit-prajurit Tumapel. Mungkin Akuwu Tunggul Ametung yang mempunyai senjata tak terlawan itu akan datang pula untuk memecahkan kepalaku dengan penggadanya yang ampuh tiada taranya itu.”

“Kau memang mencurigaiku. Kau tidak mempunyai kepercaan lagi kepada seseorang. Tetapi baiklah. Bagaimana aku dapat menemuimu.”

“Bukan kau yang menemui aku, tetapi akulah yang akan menemui kau.”

“Dimana?”

“Terserah kepadaku. Dimana aku ingin menemuimu. Aku tahu benar di mana rumahmu. Kemana saja kau selalu, pergi selain ke istana. Di mana kau lewat dan di mana kau sering mengadu ayam.”

“Aku tidak pernah mengadu ayam. Aku tidak pernah pergi kemana pun selain ke istana.”

“Apapun yang kau katakan, aku akan mendapat kesempatan untuk menemuimu kapan aku kehendaki. Sebelum sepekan aku ingin mendapat keterangan darimu.”

Jajar gemuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik, baik. Supaya kau tidak usah mencari keterangan terlampau banyak tentang diriku, maka kesempatanmu untuk menemuiku hanyalah di jalan di antara istana dan rumahku, atau di dalam rumah ini sama sekali. Aku jarang-jarang sekali pergi ke tempat lain kecuali ada kepentingan yang terlampau mendesak.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku akan mencoba mempercayaimu. Tampaknya kau bersungguh-sungguh.”

“Sudah aku katakan, aku tidak gila untuk menolak kesempatan ini. Seumur hidupku aku bekerja, aku tidak akan dapat membeli jangankan sebutir berlian, sedangkan pendok keris sepuhan pun aku tidak mampu membelinya.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun wajahnya masih saja membeku. Wajah yang beku itu kadang-kadang telah menumbuhkan berbagai dugaan di hati Jajar yang gemuk itu. Namun kemudian ia tidak mempersoalkannya lagi. Katanya di dalam hati, “Nanti, apabila aku berhasil membunuhnya, maka wajah yang sebeku mayat itu akan benar-benar membeku untuk selamanya.” Tetapi meskipun demikian wajah yang beku itu seakan-akan telah terpahat di dalam hatinya. Wajah itu tidak juga hilang dari rongga matanya, meskipun telah dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh.

Ketika angin malam yang dingin menghembus nyala pelita di dalam ruangan itu, maka Kuda Sempana pun berpaling. Dilihatnya pintu masih belum tertutup rapat. Tetapi ia sama sekali sudah tidak menaruh perhatian lagi. Dibiarkannya saja angin yang sejuk mengusap punggung dan tengkuknya.

“Kita sudah cukup Kuda Sempana.” berkata Kebo Sindet kemudian.

“Ya.” sahut Kuda Sempana pendek.

“Kita minta diri, lain kali kita temui Ki Sanak ini lagi.”

“Ya.” jawab Kuda Sempana pula.

Kebo Sindet pun kemudian minta diri. Sekali lagi ia berpesan bahwa dalam waktu sepekan ia akan menemui Jajar yang gemuk itu. “Aku mulai percaya kepadamu. Jangan merusak kepercayaanku.” berkata Kebo Sindet.

“Terima kasih. Aku akan berusaha sejauh-jauh dapat aku lakukan.” jawab Jajar yang gemuk itu.

Kebo Sindet dan Kuda Sempana pun segera meninggalkan rumah itu. Mereka menaruh harapan kali ini, bahwa Jajar itu akan benar-benar dapat menghubungkannya dengan Permaisuri.

Sekali-sekali Kuda Sempana masih berpaling. Dilihatnya pintu rumah Jajar itu segera tertutup rapat. Namun dari celah-celah dinding sepercik sinar masih juga meloncat keluar, membuat bayangan di atas tanah yang kering.

“Agaknya ia akan bersungguh-sungguh.” gumam Kebo Sindet seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Ya.” sahut Kuda Sempana tanpa berpaling.

“Ia harus menerima tebusan itu dari Permaisuri dan menyerahkannya kepadaku di tempat yang telah ditentukan. Sementara itu Mahisa Agni masih berada di tanganku supaya aku tidak dijebaknya.”

“Ya.”

“Kemudian terserah kepada pertimbanganku. Apakah Mahisa Agni akan aku serahkan hidup atau mati, atau masih aku pergunakan lagi untuk memerasnya, atau apa saja Tetapi Jajar yang gemuk itu harus dibunuh. Mungkin ia membawa beberapa barang yang berharga selain sepengadeg itu, yang seharusnya menjadi bagiannya.”

Kuda Sempana sudah menyangka bahwa demikianlah akhir dari persoalan ini. Tetapi meskipun demikian tengkuknya masih terasa meremang. Kebo Sindet benar-benar seorang yang berhati iblis. Melampaui semua orang yang pernah dikenalnya.

Tetapi Kuda Sempana tidak ingin menyatakan perasaannya. Perasaannya sama sekali tidak akan ada artinya di dalam hidupnya yang sedang berlaku itu. Bukan saja perasaannya tetapi juga nalarnya. Ia tidak lebih baik nasibnya daripada kuda yang sedang dinaikinya itu.

Sementara itu Jajar yang gemuk yang baru saja ditinggalkan oleh Kebo Sindet dan Kuda Sempana, duduk-duduk di dalam rumahnya sambil tersenyum-senyum. Dibelainya hulu kerisnya yang kecil, keris yang dianggapnya mempunyai pengaruh atas kekuatan dan keberaniannya.

“Kau harus menolong aku.” desisnya, “kedua orang itu harus dibunuh pada saat yang baik. Kalau sepengadeg perhiasan emas dan permata itu telah aku terima, buat apa harus aku serahkan kepada kedua monyet busuk itu? Aku harus membunuhnya. Aku tidak peduli, apakah Mahisa Agni kemudian akan mati juga di dalam simpanan kedua orang itu. Yang penting aku dapat memiliki barang-barang yang mimpipun belum pernah aku lihat. Meskipun akibatnya aku harus menyingkir dari Tumapel.”

Tetapi tiba-tiba wajah yang cerah itu menjadi suram ketika terbayang oleh Jajar yang gemuk itu nyala api yang seolah-olah memancar dari mata kawan Kuda Sempana itu.

“Mata itu mengerikan sekali.” desisnya, “wajahnya juga menakutkan. Wajah itu seperti wajah mayat, tetapi dari matanya dapat memancar api.”

“Tetapi orang itu harus mati.” geramnya perlahan-lahan, “ia harus mati. Wajah itu harus benar-benar menjadi wajah sesosok mayat, dan mata itu tidak akan dapat memancarkan sorot yang gila itu.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah ia menebarkan matanya di sekitar ruangan rumahnya, maka iapun kemudian berdiri dan bergumam, “Sekarang aku harus tidur.”

Dengan langkah pendek Jajar yang gemuk itu meninggalkan ruang depan dan masuk ke dalam biliknya. Bilik yang sempit dan kotor. Tak ada kawan yang tinggal di dalam rumah itu selain dirinya sendiri. Karena itu maka rumahnya yang kecil itu pun menjadi kotor dan tidak terawat sama sekali. Hanya kadang-kadang saja adiknya, seorang anak muda yang gagah dan kuat, sering datang mengunjungi rumahnya. Tidak seorang diri. Dibawanya kawan-kawannya, anak-anak muda yang sebaya, dengan tingkah laku yang aneh-aneh. Kasar dan liar. Tetapi Jajar itu sama sekali tidak berkeberatan. Ia senang mendapat kunjungan orang-orang liar itu. Apalagi kini. Suatu ketika ia akan memerlukan adiknya dan kawan-kawannya yang liar itu. “Mudah-mudahan anak itu besok datang kemari.” gumam Jajar yang gemuk itu, “Aku memerlukannya.”

Sejenak kemudian dibantingnya tubuhnya di atas sebuah amben bambu sehingga terdengar suaranya berderak.

“Sebentar lagi aku tidak akan tidur di amben bambu ini.” desisnya, “aku harus membeli sebuah pembaringan kayu yang baik, ukir-ukiran dengan alas sutera yang gilap. Bilikku pun tidak akan sesempit ini. Tidak pula kotor dan lembab. Aku akan mempunyai seorang istri yang cantik seperti bidadari. Eh, seperti Ken Dedes. Istri yang akan merawat rumah tanggaku dengan baik. Anak-anak yang liar itu merupakan bagian dari orang-orang yang akan menjaga keselamatanku.”

Jajar itupun tersenyum. Tetapi senyumnya itu pun kemudian larut seperti awan dihembus angin. Kini yang terbayang di matanya adalah Akuwu Tunggul Ametung. Orang yang paling berkuasa di Tumapel. Bukan saja orang yang paling berkuasa, tetapi orang itu pun mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan. Ia memiliki sebuah pusaka yang luar biasa. Sebuah penggada yang tidak terlawan oleh kekuatan apapun. Bahkan seekor gajah pun dapat dibunuhnya dengan senjatanya itu.

“Bagaimana kalau Akuwu Tunggul Ametung itu marah, apabila aku melarikan tebusan itu? Aku harus berhadapan dengan Kuda Sempana beserta kawannya itu dan Akuwu Tunggul Ametung. Apakah aku dapat menghindari keduanya?” Jajar itu mengerutkan keningnya. Ia mencoba menilai keadaan yang akan dihadapinya kelak apabila rencananya itu dilakukannya.

“Aku harus bersembunyi di Kediri. Aku harus berganti nama. Kalau mungkin aku akan mengabdi di istana Maharaja Kediri. Harta itu sementara harus disembunyikan sehingga tidak menimbulkan bermacam-macam kecurigaan. Sebab dengan demikian, usaha untuk mencariku akan menjadi lebih mudah. Kumisku harus aku buang, dan aku harus berpuasa supaya tubuhku menjadi agak kurus. Aku akan berubah segala-galanya. Tak seorang pun yang akan mengenal aku lagi.”

Sekali lagi Jajar gemuk itu tersenyum sendiri. Dipandanginya atap rumahnya yang dipenuhi oleh sarang labah-laba yang sudah menjadi kehitam-hitaman. Dilihatnya beberapa ekor nyamuk masuk ke dalam perangkap itu, untuk sejenak kemudian diterkam oleh kaki-kaki laba-laba yang kuat. Dibelitnya korbannya dengan benang-benang yang liat dan mengandung alat perekat, sehingga sesaat kemudian nyamuk-nyamuk itu sama sekali sudah tidak berdaya.

“Salah sendiri.” gumam Jajar yang gemuk itu, “salah sendiri apabila nyamuk-nyamuk itu masuk ke dalam sarang laba-laba.

Jajar yang gemuk itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipejamkannya matanya. Sejenak kemudian iapun telah tertidur dengan nyenyaknya. Sebuah mimpi yang mengasikkan telah menghanyutkannya ke dalam dunia yang asing.

Ketika fajar menyingsing, Jajar itu dengan tergesa-gesa pergi keperigi untuk mandi. Ia ingin hari itu juga sempat bertemu dengan Ken Dedes di taman. Dengan segala cara dan akal ia harus dapat menyampaikan-pesan Kebo Sindet itu kepada Permaisuri. Waktu yang diberikan oleh Kebo Sindet hanya sepekan. Yang sepekan itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Sebab ia tahu benar bahwa Ken Dedes masih harus berbicara dahulu dengan Akuwu Tunggul Ametung.

Jauh lebih pagi dari hari-hari yang biasa Jajar itu telah memasuki regol halaman istana. Seorang prajurit yang melihatnya segera bertanya, “He, kau datang pagi-pagi sekali, apakah ada sesuatu yang penting?”

Jajar itu menggeleng. “Tidak, aku bangun terlampau pagi. Aku sangka hari telah merambat siang, tetapi aku sangka bahwa langit disaput mendung. Namun agaknya hari memang masih pagi.”

Prajurit itu tidak mengacuhkannya lagi. Dibiarkannya Jajar itu masuk ke tempat kerjanya. Halaman belakang dan petamanan istana Tumapel.

Setiap hari ia berada di sana. Menyapu dan memelihara bunga-bungaan. Menyiangi, memberi pupuk dan memotong daun-daunnya yang mulai menguning. Tetapi juga menjaga pohon-pohon yang cukup besar. Pohon kemuning, dan pohon pacar. Bahkan pohon sawo kecik dan pohon beringin yang tumbuh di taman.

Tetapi ia tidak bekerja sendiri. Ada dua orang kawannya yang mempunyai pekerjaan yang serupa di halaman belakang dan petamanan.

Hari itu, karena la datang terlampau pagi, maka iapun duduk menuggu kawah-kawannya di bawah pohon kemuning sambil mereka-reka, apakah yang sebaiknya dilakukan. Diamatinya serambi belakang istana, dari lubang regol petamanan dan seakan-akan dihitungnya tangga lantainya. Dari sana Ken Dedes biasanya turun untuk pergi ketaman, melihat-lihat kolam yang diberinya ikan berwarna hitam dan merah.

“Kalau Tuanku nanti turun dari tangga itu, apakah yang harus aku lakukan, supaya Tuan Puteri itu memanggil aku dan aku mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap?”

Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu tersenyum. Ia sudah menemukan akal, supaya ia dapat bercakap-cakap dengan Tuan Puteri Ken Dedes.

Ketika kemudian kawan-kawannya telah datang, dan sampai saatnya ia harus bekerja, maka mulailah ia bekerja seperti biasa. Disapunya halaman belakang yang cukup luas itu. Kemudian diambilnya air dari perigi, dan disiraminya tanaman yang tumbuh di petamanan sementara kawan-kawannya mangambil cangkul dan membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sisi pagar.

Ketika matahari merayap semakin tinggi, maka Jajar itu merasa bahwa akan segera sampai saatnya ia bermain. Saat-saat yang demikian itulah, maka biasanya Permaisuri pergi ke taman, apabila tidak sedang memenuhi upacara yang berlaku. Setiap kali Ken Dedes harus hadir di dalam pertemuan besar di pendapa istana, di paseban depan. Bahkan kadang-kadang di paseban dalam untuk pertemuan-pertemuan yang khusus.

“Mudah-mudahan hari ini Permaisuri tidak sedang berada di pertemuan-pertemuan itu.” gumam Jajar yang gemuk itu.

Dengan hati yang berdebar-debar diselipkannya sehelai golok pemotong kayu di ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit yang tebal dan lebar. Sejenak kemudian ia telah berada di bawah sebatang pohon sawo kecik di petamanan. Beberapa kali diamatinya batang yang besar itu, diraba-rabanya seperti ingin diketahuinya, apakah batang itu tidak akan roboh apabila dipanjatnya.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya seorang kawannya.

“Memotong dahan-dahan kering.”

“Kenapa sekarang?”

“Mumpung masih cukup pagi.”

“Tetapi saat-saat begini Tuanku Permaisuri sering turun ke petamanan untuk melihat-lihat tanaman-tanamannya dan ikan di kolam itu.”

“Tidak setiap hari. Tuanku tidak setiap hari pergi ke taman. Aku takut kalau dahan-dahan yang kering itu justru jatuh ketika Tuan Puteri sedang berada di bawahnya.”

Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Dibiarkannya Jajar itu memanjat dengan susah payah.

“Orang itu memang aneh.” gumam kawannya yang seorang.

“Duduknya memang tidak cukup jernih.” sahut kawannya yang lain.

Sesaat kemudian Jajar itu telah berada di atas dahan-dahan pohon sawo kecik. Ia mengharap Ken Dedes pergi ke tama. Ia akan segera turun dengan tergesa-gesa. Ia harus menjatuhkan dirinya meskipun tidak harus membuatnya pingsan. Kemudian menangis mohon maaf, bahwa hampir-hampir saja sebatang dahan yang kecil menjatuhi Permaisuri itu. Permaisuri tentu tidak akan terlampau marah. Seterusnya ia tinggal mengatakan, bahwa kecuali itu ia membawa pesan dari seseorang untuk disampaikan kepada Tuan Puteri tentang kakaknya Mahisa Agni. Mudah-mudahan pesan itu menarik perhatian Tuan Puteri. Jika demikian, maka Tuan Puterilah yang akan memerlukannya, supaya ia mengucapkan pesan itu seperti apa yang didengarnya dari Kebo Sindet.

Ketika Jajar yang gemuk itu telah berada di atas dahan pohon sawo kecik itu, maka segera ia mencari tempat yang baik. Dari tempat itu ia selalu memandangi serambi istana. Pandangannya meloncati dinding petaman yang tidak begitu tinggi.

Sejenak ia duduk saja termenung tanpa berbuat sesuatu. Perhatiannya sama sekali tecurah kepada Tuan Puteri Ken Dedes. Karena itu maka ia sama sekali tidak memotong dahan-dahan yang kering, bahkan goloknya masih saja terselip di ikat pinggangnya.

Kedua kawan-kawannya yang bekerja di bawah pohon sawo kecik yang lain, kadang-kadang mengangkat wajahnya. Mereka sama sekali tidak mendengar suara apapun di atas pohon sawo itu. Mereka tidak mendengar Jajar yang gemuk itu sedang memotong dahan yang kering. Bahkan akhirnya mereka melihat bahwa Jajar yang gemuk itu sedang duduk merenung di atas sebatang dahan yang cukup besar.

“He, apakah kerjanya?” bertanya salah seorang dari mereka.

Yang lain menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Apakah orang itu sedang kejangkitan penjakit gilanya?”

Kawannya tertawa. Katanya, “mungkin semalam ia kalah berjudi. Mungkin harta bendanya telah habis dipertaruhkan.”

“Apakah ia masih senang berjudi?”

“Bukan main.”

Kawannya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sebaiknya ia segera kawin supaya hidupnya menjadi tenteram. Umurnya telah melampaui masa yang sebaik-baiknya. Bahkan hampir menjadi setengah tua.”

“Jajar yang gemuk itu tidak mempunyai keberanian untuk kawin. Ia merasa penghasilannya sama sekali tidak mencukupi.”

“Ah, omong kosong. Bukankah kita juga mempunyai anak dan isteri. Bukankah penghasilannya tidak lebih sedikit dari penghasilan kita? Nah, akibatnya uangnya dihabiskannya pada segala macam keborosan. Judi, tuak, perempuan di sepanjang jalan dan makan yang berlebih-lebihan.”

“Itulah sebabnya ia menjadi gemuk seperti ayam digebiri.”

Keduanya tertawa. Dan ketika sekali lagi mereka mengangkat wajah-wajah mereka, maka Jajar yang gemuk itu masih saja duduk merenung memandangi serambi belakang istana.

“Apakah ia mau membunuh diri?”

“He.” sahut kawannya, tetapi kemudian iapun berbisik-bisik, “melihat, ia selalu memandang kearah istana. Apakah ia sedang menunggu Tuan Puteri Ken Dedes?”

“Untuk apa? Apakah ia jatuh cinta kepada Permaisuri.”

“Ah, gila kau. Jika demikian maka itu adalah suatu alamat bahwa umurnya akan menjadi pendek.”

Sekali lagi keduanya tertawa. Tetapi mereka berusaha menahannya, sehingga sama sekali tidak menimbulkan suara.

“Persetan dengan orang gila itu. Ia mungkin hanya beristirahat. Biarlah dia beristirahat di atas pohon itu. Biarlah kita selesaikan pekerjaan kita.”

Kedua orang itu pun kemudian meneruskan pekerjaan mereka. Seolah-olah mereka sama sekali tidak lagi memperhatikan kawannya yang masih saja bertengger di atas dahan sawo kecik itu. Dengan rajinnya mereka menyiangi tanaman-tanaman dan memotong daun-daun perdu, dibentuk menurut keinginan mereka, disesuaikan dengan keseluruhan isi taman yang tidak terlampau luas. Taman yang kurang memberi kepuasan baik bentuk dan isinya.

Itulah sebabnya maka Akuwu Tunggul Ametung ingin membuat sebuah taman yang lain. Yang jauh lebih luas dan jauh lebih memenuhi selera Ken Dedes. Taman yang akan memberi kegembiraan kepada Permaisuri yang cantik itu. Dan taman itu telah dibangun di Padang Karautan. Didekat bendungan yang sedang dibangun oleh orang-orang Panawijen. Meskipun taman itu agak jauh dari istana, namun Akuwu Tunggul Ametung yakin, bahwa taman itu akan dapat memberi kegembiraan kepada Ken Dedes. Setiap kali mereka pergi ketaman itu maka Ken Dedes akan selalu merasa berada di sekitar kampung halaman tempat kelahirannya. Sedangkan taman itu sendiri akan merupakan taman yang paling indah, yang pernah dibuat di Tumapel.

Ketika angin yang agak keras mengguncang pepohonan di dalam taman istana itu, maka kedua orang yang sedang sibuk bekerja itupun teringat lagi kepada kawannya yang masih berada di atas pohon sawo kecik. Tanpa berjanji mereka menengadahkan wajah-wajah mereka. Dan sejenak ke mudian merekapun saling berpandangan.

“Orang itu masih saja di sana.” berkata salah seorang dari mereka.

“Jangan-angan orang itu mati membeku.”

“Biarlah aku panggil saja, supaya ia turun.”

“Biarkan saja. Kalau ia sedang beristirahat biarlah ia beristirahat. Kalau ia sedang melamun tentang seorang janda muda, biar sajalah ia menikmati lamunannya. Kalau kau panggil orang itu, ia akan menjadi kecewa. Mungkin lamunannya akan pecah dan ia tidak akan mampu membangunkannya lagi.”

“Tetapi bagaimana kalau ia bermaksud membunuh diri?”

“Ia pasti akan memanjat lebih tinggi lagi.”

“He.” tiba-tiba kawannya itu, mendekatinya sambil berbisik, “Kau lihat, ia selalu memandang ke serambi istana?”

Kawannya mengangguk.

“Ia sedang menunggu Permaisuri itu keluar dan turun ke taman ini. Mungkin ia sudah jatuh cinta.”

“Lalu.”

“Karena ia yakin bahwa hal itu tidak akan terjadi, maka ia ingin memperlihatkan kepada Permaisuri, bahwa hidupnya telah diserahkannya kepada cintanya yang sia-sia itu. Mungkin ia menunggu Permaisuri dan membunuh diri di hadapannya.”

Kini keduanya tidak dapat lagi menahan tertawa mereka, sehingga Jajar yang gemuk yang duduk di atas dahan pohon sawo itu terperanjat. Seperti orang yang baru sadar dari sebuah angan-angan yang tak terkendali, Jajar itu memandangi kedua kawannya yang masih saja tertawa terkekeh-kekeh.

“He, kenapa kalian tertawa?” bertanya Jajar itu dari atas dahan.

Keduanya tidak segera menjawab. Tetapi mereka belum dapat menghentikan suara tertawa mereka.

“He, kenapa kalian tertawa?” sekali lagi Jajar itu bertanya semakin keras.

“Tidak apa-apa.” sahut salah seorang dari mereka diantara suara tertawanya.

“Kenapa tertawa? He, kenapa?” suara Jajar itu semakin lantang.

“Sudah aku jawab.” sahut kawannya itu, “tidak apa-apa. Kami tertawa karena kami mempunyai sebuah ceritera lucu.”

“Kalian mentertawakan aku?”

“Tidak.” jawab yang lain, “kami tidak mentertawakan seorang pun. Kami sedang berceritera tentang hal-hal yang lucu. Kalau kau ingin mendengar, turunlah. Jangan tidur di atas dahan itu. Nanti kita bersama-sama mengumpulkan dahan-dahan kering yang baru saja kau rambas, karena kau takut bahwa dahan-dahan itu akan berjatuhan apabila permaisuri nanti datang kemari.”

“He, kau menyindir.” mata Jajar yang berada di atas pohon sawo itu terbelalak.

“Terserah tanggapanmu. Tetapi kami tidak mempedulikan kau lagi. Kalau kau mau tidur, tidurlah. Kalau kau ingin membeku di atas dahan itu, membekulah.”

“Setan alas.” Jajar itu mengumpat. Tiba-tiba ia merasa tersinggung. Ia merasa bahwa kawan-kawannya itu sedang menyindir dan memperkatakan tentang dirinya. Karena itu maka ia berkata lantang, “Jangan banyak tingkah he. Biarlah aku berbuat menurut kesenanganku, dan kau berbuatlah menurut kesenanganmu. Jangan campuri urusanku. Urusan yang benar, yang tidak akan dapat kau mengerti karena nalarmu yang tumpul. Bekerjalah kalau kau ingin bekerja.”

Kedua kawannya yang berada di bawah itu kini sudah tidak tertawa lagi. Mereka mendengar jawaban Jajar yang gemuk itu menjadi agak kasar. Adalah kebiasaan mereka untuk berkelakar, bahkan kadang-kadang agak melampaui batas. Tetapi tidak pernah mereka menanggapi kelakar kawan-kawan mereka itu dengan kasar, apalagi marah. Karena itu, maka kekasaran Jajar itu justru juga menyinggung perasaan ke dua kawan-kawannya, sehingga hampir berbareng kedua orang itu berkata, “Jangan berkata sekasar itu.”

Kedua kawannya itu justru terkejut ketika mereka mendengar jawaban, “Tutup mulutmu. Aku tidak mau mendengar kalian menyindir dan mentertawakan aku lagi.”

Kedua orang yang berdiri di bawah itu pun sejenak saling berpandangan. Tetapi ternyata perasaan mereka pun benar-benar tersinggung karenanya, sehingga salah seorang dari mereka berkata, “He, apakah kau sedang kesurupan?”

Jajar yang gemuk itu menjadi benar-benar marah. Dengan geramnya ia berkata, “Apa katamu? Jangan main-main. Jangan membuat aku marah. Aku akan turun dan mencekik kalian berdua. Jangan kau sangka aku tidak dapat melakukannya. Terhadap Kuda Sempana aku tidak takut, apalagi terhadap kalian berdua.”

Kawan-kawannya itupun kemudian menjadi marah pula mendengar ancaman itu. Orang yang lain segera berkata, “He Jajar gemuk. Jangan terlampau sombong. Apa kau kira taman ini taman kakekmu, atau taman kekasihmu. Kau di sini adalah seorang abdi yang digaji untuk bekerja. Kau tidak dapat berkata, bahwa kami yang ingin bekerja biarlah bekerja, dan kau yang ingin duduk melamun di atas dahan itu, biarlah berangan-angan. Kau agaknya telah menjadi gila. Bukankah di sini ada atasan kita yang akan menilai kita masing-masing. Disini ada bekel dan lurah? Turunlah dan bekerjalah sewajarnya. Kalau kau sakit kau lebih baik pamit, mohon izin untuk tidak datang hari ini, besok dan bahkan sepekan. Kalau kau kemudian mati, kau tidak perlu masuk bekerja lagi.”

“Tutup mulutmu.” Jajar yang gemuk itu hampir berteriak, “aku dapat membunuhmu.”

“Huh.” sahut kawannya, “jangan menyangka dirimu melampaui Ki Witantara, pemimpin pasukan pengawal. Kau dan aku adalah Jajar, abdi rendahan. Kalau kau berani berteriak aku pun berani berteriak pula. Kalau kau mencoba untuk berkelahi, aku pun akan mencobanya.”

Jajar yang gemuk itu menjadi gemetar menahan marah. Terasa kawannya itu benar-benar telah menghinanya. Selintas terbayang Kuda Sempana dan kawannya yang matanya dapat menyala seperti mata harimau. Ia tidak takut menghadapi mereka itu. Apalagi kawannya, seorang Jajar yang bodoh.

Tiba-tiba ia tidak dapat menahan diri lagi. Dengan tergesa-gesa ia turun sehingga dadanya tergores batang sawo kecik itu. Tampak beberapa jalur merah di dadanya, mengembunkan titik-titik darah.

“Aku benar-benar akan membunuh kalian.” Jajar itu menggeram, “aku tidak takut melawan Kuda Sempana dan kawannya yang matanya menyala, apalagi menghadapi kalian berdua. Tikus-tikus celurut yang tidak berarti.”

Tetapi ternyata kawannya itu pun tidak takut. Perlahan-lahan mereka maju menyongsong Jajar yang gemuk itu. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Biarkan aku menghajarnya sendiri. Kau menjadi saksi bahwa aku tidak mendahuluinya. Kalau bekel itu datang, biarlah ia menyaksikan bagaimana aku mencoba membungkam mulutnya yang lebar itu.”

Tetapi kawannya ternyata tidak mau melepaskannya. Dengan lantang ia berkata, “Kau sajalah yang menjadi saksi. Aku menjadi muak melihat kesombongannya, seolah-olah ia adalah Akuwu Tunggul Ametung.”

Bagi Jajar yang gemuk itu, maka sikap kedua kawannya itu justru merupakan penghinaan yang menyakitkan hati. Karena itu ia berkata, “Ayo, majulah bersama-sama. Aku akan sanggup mematahkan leher kalian berdua.”

“Itu tidak adil.” sahut salah seorang dari keduanya, “kami bukanlah betina-betina pengecut yang hanya berani berkelahi bersama-sama. Aku sendiri akan menyelesaikan persoalan ini, supaya kau tahu, bahwa meskipun kau gemuk dan berkumis melintang, tetapi kau tidak lebih dari seorang, yang hanya pandai berteriak-teriak. Ayo, panggilah gurumu kalau kau pernah berguru Biarlah ia melihat muridnya terkapar karena tanganku.”

“Tutup mulutmu.” bentak Jajar yang gemuk itu, “kau sebentar lagi akan mampus juga di sini.”

“Kaulah yang harus menutup mulut. Bukan aku. Ayo majulah. Perutmu yang gembung itu segera aku pecah.”

Tetapi seorang yang lain mendesak kawannya sambil berkata, “Biar aku sajalah yang memilin lehernya. Mulutnya terlampau banyak berbicara, tetapi seperti anjing yang menyalak, ia tidak akan berani menggigit.”

“Diam.” Jajar yang gemuk itu hampir-hampir berteriak, “majulah berdua.”

“Tidak perlu. Aku sendiri.”

“Aku saja.”

“Kalau begitu, biarlah ia memilih diantara kita berdua.” berkata salah seorang dari kedua Jajar yang lain, kemudian kepada Jajar yang gemuk ia berkata, “Ajo, siapakah diantara kami yang kau pilih untuk membungkam mulutmu. Kalau kau ingin cepat diam, akulah orangnya.”

“Tetapi kalau kau ingin segera kehilangan kumismu, akulah orangnya.”

“Tidak peduli, aku ingin kalian berdua maju bersama-sama.”

“Ternyata kau takut. Kau tidak berani memilih. Kau tahu bahwa kami tidak ingin berkelahi bersama-sama. Justru karena itu maka kau pergunakannya sebagai dalih, supaya kami tidak berkelahi melawanmu.”

Wajah Jajar yang gemuk itu menjadi merah padam. Tetapi ia masih berdiri ditempatnya. Mulutnya terkatub rapat-rapat tetapi giginya terdengar gemeretak. Sejenak matanya yang sipit itu memandangi kedua Jajar yang lain ber¬ganti, tetapi ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Sedang kedua kawan-kawannya itupun masih juga belum beranjak dari tempatnya. Bahkan ketiganya seakan-akan menjadi beku di tempat masing-masing, meskipun mereka telah bersiap untuk berkelahi.

Taman itu sejenak menjadi sepi tetapi cukup tegang. Otot-otot leher mereka seolah-olah ingin mencuat keluar. Mata-mata mereka hampir tidak berkedip. Namun mereka masih saja berdiri di tempat masing-masing.

Ketegangan itu tiba-tiba pecah ketika terdengar suara tertawa memercik dari sudut taman. Serentak ketiga Jajar itu berpaling. Dan wajah-wajah merekapun menjadi merah karenanya.

Disudut taman itu mereka melihat beberapa orang prajurit berdiri di belakang sebatang pohon perdu yang rimbun. Hampir berbareng mereka tertawa. Semakin lama semakin keras.

“Kenapa kalian tertawa?” bertanya Jajar yang gemuk itu.

Prajurit-prajurit itupun kemudian keluar dari persembunyian mereka. Perlahan-lahan mereka melangkah maju. Salah seorang dari mereka berkata, “Semuten aku menunggu. Aku ingin melihat juru taman saling berkelahi. Alangkah dahsyatnya. Kalian pasti memiliki Aji yang paling mengerikan. Mungkin Aji Guntur Sewu, mungkin Aji Sungsang Sari atau Aji Sapu Angin. Bahkan mungkin Aji Kala Bama, atau Bajra Pati atau Gundala Sasra.”

Ketiga Jajar itu masih terdiam.

“Tetapi kalian agaknya hanya pandai berbicara. Tantang-tantangan dengan garangnya. Ancam mengancam. Tetapi tidak berbuat apa-apa.”

Ketiga Jajar itu masih berdiam diri, tetapi wajah-wajah mereka menjadi semakin merah.

“Nah, apakah kalian masih ingin berkelahi?” bertanya prajurit yang lain, “ayo berkelahilah. Kami menjadi saksi. Jajar yang gemuk ini akan melawan salah seorang dari kalian berdua. Bukankah begitu? Atau kalian berdua bersama-sama?”

Belum ada jawaban.

“Itu tidak adil.” sahut prajurit yang lain, “yang baik adalah seorang lawan seorang. Tetapi siapa di antara keduanya yang akan berkelahi?”

Ketiga Jajar itu masih terbungkam.

“Kalau begitu aku akan mengundinya. Lihat pedangku.” prajurit itu menarik pedangnya, “lihat kedua sisinya. Pedang ini akan aku lemparkan. Apabila jatuh pada sisi yang ini, yang ditandai dengan guratan kecil bekas benturan dengan pedang lawan ketika aku bertempur, maka kaulah yang akan berkelahi.” prajurit itu menunjuk Jajar yang tinggi agak kekurus-kurusan. Kemudian, “tetapi kalau sisi yang lain, kaulah yang akan maju.” ditunjuknya Jajar yang lain, yang tidak begitu tinggi, juga tidak begitu gemuk, tetapi otot-otot di tangannya menonjol seperti jalur-jalur yang berwarna kebiru-biruan.

“Bagaimana? Apakah kalian setuju?”

“Baik.” sahut ketiga Jajar itu hampir berbareng.

“Nah, lihat pedangku.” prajurit itupun kemudian mengangkat pedangnya. Tetapi sebelum ia memutar pedang itu dan melontarkannya ke udara, mereka menjadi terkejut sekali ketika mereka mendengar pekik kecil yang tertahan.

Serentak mereka berpaling. Dada mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat dua orang emban berdiri di regol taman istana itu.

Tetapi peristiwa berikutnya segera menyusul. Sebelum para prajurit dan Jajar itu sempat berbuat sesuatu, maka muncullah seorang emban yang tertegun pula di regol taman itu.

“Kenapa kalian berhenti?” bertanya seorang emban lain di belakang mereka.

Emban yang sedang berhenti itu berpaling. Kemudian berkata lirih, “Para prajurit.”

“Oh.” desis emban itu, “para pengawal istana?”

Emban itupun kemudian berpaling dan menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya, “Para pengawal Tuanku.”

Yang berdiri di belakang para emban itu adalah Ken Dedes. Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.

“Kenapa kalian terkejut melihat para pengawal di dalam taman.”

“Mereka bermain-main dengan pedang Tuanku.” sahut emban yang paling depan sambil membungkuk dalam.

“Oh.” Permaisuri itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia melangkah masuk ke dalam taman dilihatnya prajurit yang sedang menggenggam pedangnya, dengan tergesa-gesa menyarungkannya. Kemudian serentak mereka menjatuhkan diri mereka duduk bersipuh sambil menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

“Siapa yang bermain-main pedang?” bertanya Ken Dedes.

Prajurit yang mencabut pedangnya beringsut sejengkal. Dadanya menjadi berdebar-debar.

“Hamba Tuan Puteri.” sahutnya.

“Kenapa?”

Prajurit itu tergagap. Tetapi kemudian ia mendapat jawaban yang agak memberinya ketenangan, “Hamba menunjukkan bekas luka pada sisi pedang hamba. Luka bekas benturan dengan pedang lawan di suatu pertempuran. Para juru taman ini agaknya senang melihat.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata mereka benar-benar hanya bermain-main saja. Karena itu maka katanya ke¬mudian, “Baiklah. Tetapi lain kali jangan membuat para emban terkejut dengan bermain-main pedang di taman. Kalian bertugas untuk menjaga taman ini di luar. Para juru taman inilah yang seharusnya berada di dalam.”

“Hamba Tuanku.” jawab prajurit itu. Debar di ¬dadanya menjadi agak mereda.

“Nah, tinggalkan tempat ini. Aku ingin beristirahat.”

“Hamba Tuan Puteri.” sahut para Prajurit dan Jajar-jajar itu hampir berbareng.

“Silahkanlah.” berkata Ken Dedes kemudian.

Para prajurit itupun membungkukkan kepala mereka dalam-dalam sambil mengatupkan tangan mereka di muka dada. Perlahan-lahan mereka berdiri. Sekali lagi mereka membungkuk untuk kemudian meninggalkan tempat itu.

Tetapi Jajar yang gemuk itu masih duduk di tempatnya. Semula ia mengumpat tidak habisnya di dalam hatinya. Bahwa ia telah kehilangan kesempatan untuk berbicara. de¬ngan Permaisuri karena diganggu oleh kedua kawannya itu. Semula ia merasa bahwa caranya telah gagal justru karena ketika Permaisuri itu datang ke petamanan, ia telah turun dari dahan sawo kecik yang cukup besar itu.

Tetapi kini ia mempunyai cara baru. Ia tidak akan pergi dari tempat itu, sebelum ditanya langsung oleh Permai¬suri. Ia masih akan tetap duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Kawan-kawannya dan para prajurit sejenak tertegun melihat Jajar yang gemuk itu masih berada di situ. Mereka menyangka bahwa Jajar yang gemuk itu akan mengadu. Ka¬rena itu para prajurit dan kedua kawannya itu berkata di dalam hatinya, “Awas, apabila Permaisuri marah kepadaku, maka besok kepalamu akan benjol karenanya.”

Ternyata harapan Jajar yang gemuk itu terkabul Permaisuri yang melihat ia masih saja duduk tepekur segera bertanya, “Juru taman, kenapa kau masih saja berada di situ?”

Dengan gemetar Juru taman itu menjawab, sedang kawan-kawannya masih sempat rnendengarnya, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah hamba ingin menyampaikan sesuatu pesan untuk tuanku.”

Kawan-kawannya terkejut. Ken Dedes itupun terkejut. Jajar itu tidak mau kehilangan kesempatan. Meskipun hatinya digoncang oleh keragu-raguan dan bahkan ketakutan, namun dipaksanya juga ia berkata dengan suara yang menjadi semakin bergetar, “Ampun tuanku. Hamba sebenarnyalah membawa pesan tentang Kakanda Tuan Puteri, Tuanku Mahisa Agni.”

Tampaklah wajah Ken Dedes segera berubah. Kerut merut di dahinya menunjukkan goncangan di dalam dadanya. Dengan ragu-ragu Permaisuri itu bertanya, “Kau membawa pesan dari kakang Mahisa Agni, maksudmu?”

“Hamba tuanku.” sahut Jajar yang gemuk itu per¬lahan-lahan.

Permaisuri itu mengangkat wajahnya. Dicobanya untuk menahan gelora yang tiba-tiba melanda jantugnya. Sesaat dipandangnya prajurit-prajurit yang tiba-tiba saja berdiri membeku, beserta dua orang Jajar yang lain. Tetapi prajurit-prajurit dan Jajar itu sama sekali sudah tidak menarik perhatiannya.

Kini suara Permaisuri itupun menjadi gemetar juga, “Katakanlah.”

Jajar itu terdiam sejenak. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Pesan itu sama sekali tidak boleh didengar oleh orang lain kecuali Tuan Puteri.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sesaat timbulah kecurigaannya akan niat baik dari Jajar yang gemuk itu. Tetapi agaknya masalah Mahisa Agni telah mendesak kecurigaannya itu. Meskipun demikian ia berkata-kata, “Baik. Kau dapat berbicara tanpa didengar orang lain. Tetapi prajurit-prajurit itu tidak perlu meninggalkan taman ini. Mereka dapat menunggunya di sudut. Mereka tidak mendengar kata-katamu.”

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia ingin berbicara tanpa didengar dan dilihat orang lain. Ia ingin menyampaikan dengan tuntas apa yang di dengarnya dari Kebo Sindet di rumahnya, dan bahkan akan ditambahnya dengan segala macam kepentingannya sendiri.

“Tetapi apakah Permaisuri bersedia mengusir semua orang itu dari taman?”

“Katakanlah.” desis Ken Dedes, yang kemudian kepada para prajurit dan Jajar yang masih berdiri termangu-mangu ia berkata, “Pergilah ke sudut taman. Beristirahatlah di sana. Aku ingin berbicara dengan Jajar ini.”

Para prajurit itu pun kemudian meninggalkan Jajar yang gemuk itu. Jajar yang masih saja duduk bersimpuh sambil menekurkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia berpaling ke arah para prajurit dan kedua kawannya. Ketika sekilas pandangan mereka bertemu, Jajar yang gemuk itu masih sempat menjibirkan bibirnya, seolah-olah ingin berbangga, bahwa ia berhasil berbicara dengan Permaisuri.

Ken Dedes pun segera duduk pula pada sebuah batu hitam yang telah dibentuk menjadi tempat duduk yang baik. Para emban pun segera duduk di sekitarnya pula. Tetapi Jajar yang gemuk, yang telah mengingsar duduknya menghadap ke palenggahan Ken Dedes itu berkata, “Ampun Tuanku. Para emban itupun tidak akan dapat mendengar pesan kakanda Tuan Puteri itu.”

“Kenapa?”

“Pesan itu sangat rahasia.”

“Katakanlah. Para emban tidak akan mempunyai banyak pokal.”

“Tetapi demikianlah yang seharusnya hamba lakukan. Tak seorang pun boleh mendengar kecuali Tuan Puteri sendiri.”

“Katakanlah Jajar. Jangan mempersulit persoalan. Para emban ini tidak ada bedanya dengan aku sendiri.” Dan tiba-tiba Ken Dedes berpaling kepada seorang emban yang telah lanjut usianya. Pemomong Ken Dedes yang hampir tidak pernah terpisah dari padanya sejak kecilnya. Katanya, “Kemarilah bibi. Mungkin kau perlu juga mendengar pesan Kakang Mahisa Agni.”

Tetapi Ken Dedes terkejut ketika ia melihat wajah emban itu menjadi pucat. Bibirnya tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

“Kemarilah.” berkata Ken Dedes kemudian.

Dengan lutut gemetar emban itu beringsut maju.

“Kau sebaiknya mendengar juga pesan dari kakang Mahisa Agni.”

“Hamba Tuanku.” suara itu lambat sekali, bahkan hampir tidak terdengar.

Tetapi Ken Dedes menyangka, bahwa emban itu telah mengenangkan dan mencemaskan nasib seorang anak laki-laki yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak. Permaisuri itu hanya menyangka, bahwa ikatan yang ada antara emban itu dan Mahisa Agni tidak terlampau erat seperti apa yang sebenarnya.

Tetapi agaknya Jajar yang gemuk itu masih juga berkeberatan. Sekali lagi berkata, “Ampun Tuan Puteri. Apakah hamba diperkenankan mengatakannya kepada Tuan Puteri tanpa didengar oleh seorangpun dari para emban itu.”

“Tidak Juru taman. Embanku harus mendengar seperti aku mendengarnya. Apalagi bibi emban pemomongku. Ia tidak pernah terpisah dari padaku. Tidak saja selagi aku berada di istana ini. Kepentingannya tidak ada bedanya dengan kepentinganku. Kepadanya aku selalu minta pertimbangan. Karena itu katakanlah.”

“Ampun Tuanku.” sahut Jajar itu. Meskipun tubuhnya menjadi gemetar karenanya, tetapi ia berkata juga, “perkenankan hamba mengatakannya hanya kepada Tuanku.”

“Jangan terlalu banyak keberatan Jajar. Aku perintahkan kepadamu untuk mengatakannya.” Ken Dedes berhenti sejenak, lalu, “jangan menunggu aku memaksamu.”

“Ampun Tuan Puteri. Tuanku tidak akan memaksa hamba, karena hanya hambalah yang mengetahui rahasia Kakanda Tuan Puteri. Supaya hamba menyampaikannya, maka biarlah para emban itu meninggalkan Tuanku.”

Ken Dedes menjadi jengkel juga akhirnya. Diangkatnya wajahnya, dan dipandanginya para prajurit yang duduk di sudut halaman itu bersama kedua Jajar yang lain.

“Juru Taman.” berkata Ken Dedes kemudian, “kau lihat para prajurit itu?”

Dada Jajar itu berdesir, “Hamba Tuanku.”

“Dengan sebuah lambaian tangan, mereka akan ber¬larian kemari. Ada dua hal yang dapat aku lakukan untuk memaksamu. Yang pertama, mereka harus menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul Ametung, sedang yang kedua, merekalah yang akan langsung memaksamu berbicara di sini. Bahkan di hadapan para prajurit itu juga.”

Tiba-tiba tengkuk Jajar yang gemuk itu terasa meremang. Seakan-akan di lehernya telah tersandar pedang prajurit yang telah digurati oleh sebuah benturan yang terjadi di dalam peperangan.

“Prajurit itu pasti prajurit-prajurit yang telah beberapa kali bertempur. Beberapa kali pula melihat darah yang menetes dari luka. Apakah kira-kira yang akan mereka lakukan seandainya aku tetap berkeras untuk tidak mengatakannya?” katanya di dalam hati. Tetapi tiba-tiba ia menjadi ngeri ketika dibayangkannya Akuwu Tunggul Ametung sendiri berdiri di hadapannya. Suaranya pasti akan mampu memecahkan dadanya. Belum lagi apa bila tangannya atau kakinya ikut berbicara. Karena itu, maka dari pada kepalanya menjadi bengkak, maka tidak ada salahnya apa bila ia mengatakannya. Emban itu pasti tidak akan dapat banyak berbuat, apalagi apabila Permaisuri tahu, betapa bahaya yang gawat selalu siap untuk menjamah tubuh Mahisa Agni. Ia yakin bahwa Permaisuri sendirilah yang akan mengatur para emban itu untuk tidak berbicara sesuatu yang akan dapat membahayakan keselamatan Agni.

Meskipun demikian Jajar yang gemuk itu tidak segera mengatakan sesuatu. Ia masih saja duduk tepekur, seakan-akan ingin dipandanginya pusat bumi di bawah kakinya.

“Bagaimana?” bertanya Ken Dedes, “apakah kau masih tidak bersedia mengatakannya?”

Jajar itu beringsut setapak.

Tetapi Ken Dedes menjadi semakin tidak sabar lagi, “Katakanlah. Atau aku memanggil prajurit-prajurit itu?”

“Ampun Tuan Puteri.” sembah Jajar yang gemuk itu. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Baiklah. Baiklah hamba akan mengatakannya meskipun para emban masih berada di sini. Tetapi apabila kemudian ada hal-hal yang tidak menyenangkan hati Tuanku, bukanlah kesalahan hamba. Hamba sudah mencoba untuk merahasiakannya. Tetapi Tuan Puteri sendirilah yang menghendaki lain.”

Mendengar jawaban Jajar itu sejenak Ken Dedes menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian ia berkata, “Katakanlah. Para emban tidak akan berbuat sesuatu yang akan menyedihkan hatiku.”

Sekali lagi Jajar itu menelatupkan telapak tangannya di dadanya sambil berkata, “Baiklah Tuanku. Hamba memang membawa pesan tentang Kakanda Tuan Puteri itu.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sahutnya, “Coba katakanlah sekali lagi Jajar, kau membawa pesan dari Kakang Mahisa Agni, atau pesan tentang Mahisa Agni?”

“Ampun Tuanku, maksud hamba pesan tentang Kakanda Tuan Puteri.”

“Oh.” Ken Dedes menarik nafas dalam. Seolah-olah ingin dilontarkannya kekecewaan yang menyesak di dadanya, “Jadi kau hanya mendapat pesan tentang Kakang Mahisa Agni, bukan dari Kakang Mahisa Agni?”

“Demikian Tuanku.”

“Oh.” sekali lagi Ken Dedes berdesah, “aku salah mengerti Jajar. Aku sangka kau mendapat pesan langsung dari Kakang Mahisa Agni.” Ken Dedes berhenti sejenak, seolah-olah hendak diaturnya jalan nafasnya yang menyesak.

Jajar yang duduk bersila dihadapannya menjadi ber¬debar-debar pula. Apakah dengan demikian Ken Dedes menjadi kecewa, bahkan marah kepadanya? Apakah dari kedua persoalan itu terdapat perbedaan yang terlampau jauh sehingga Permaisuri tidak lagi mau mendengarkannya?

Tetapi Jajar yang gemuk itu menarik nafas ketika ia mendengar Ken Dedes berkata, “Meskipun demikian, katakanlah. Mungkin dari padanya kita akan mendapat jalan untuk sesuatu tentang Kakang Mahisa Agni itu.”

Jajar itu menyembah sekali lagi. Katanya, “Tuanku. Sebenarnyalah pesan itu berhubungan dengan cara yang sebaik-baiknya untuk melepaskan Kakanda Tuan Puteri itu?”

“He?” keningnya Ken Dedes menjadi berkerut karenanya dan emban tua yang duduk di sampingnya beringsut maju, “Apakah kau mendapatkan jalan untuk melepaskan Kakang Mahisa Agni?” Ken Dedes menjadi terlampau bernafsu, sehingga dengan serta merta ia bertanya langsung kepada Jajar yang gemuk itu. Jajar itu berhenti sejenak. Ditimbang-timbangnya hasil pembicaraannya sampai saat itu. Agaknya Permaisuri itu telah sangat tertarik kepada keterangannya.

“Ampun Tuan Puteri.” jawab Jajar yang gemuk itu. Dari matanya memancarlah kelicikan hatinya yang terlampau licin, tetapi ternyata duduknya tidak secerdik yang diinginkannya sendiri sebenarnyalah demikian.

Ken Dedes sudah tidak lagi memperhatikan, betapa Jajar yang gemuk itu tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya. Pada tingkat pertama ia sudah menemukan kemenangan kecil dengan mudahnya.

“Buat apa aku berhubungan lagi dengan Kuda Sempana dan kawannya itu seandainya aku menerima sekotak perhiasan dari Permaisuri ini?” katanya di dalam hatinya.

Jajar.” suara Ken Dedes menjadi bergetar, “apa kali yang harus kita lakukan untuk itu?”

“Tuanku.” jawab Jajar itu. Justru karena kemenangan yang baginya sangat menyenangkan itu, ia menjadi berdebar-debar karenanya, “aku telah bertemu sendiri dengan Kuda Sempana dan kawannya yang ternyata telah menyembunyikan Kakanda Tuan Puteri itu.”

“Ya.” potong Ken Dedes tidak sabar.

“Mereka akan tidak berkeberatan melepaskan Kakanda Tuan Puteri, tetapi mereka memerlukan tebusan untuk itu.”

“Oh.” Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia telah terlempar ke dalam kekecewaan yang dalam. Sejenak terdengar desah beberapa orang emban, dan emban tua yang duduk dekat di sisi Ken Dedes itu menundukkan kepalanya semakin dalam.

Jajar itu pun menjadi heran pula. Kenapa Permaisuri tidak segera bertanya, tebusan apakah yang harus diserahkannja? Bahkan Permaisuri agaknya menjadi kecewa mendengar keterangannya.

“Hal itu pula yang terjadi.” desah Puteri itu pula, “Sejak semula soal itu berulang kembali, berulang kembali. Aku harus menyerahkan tebusan. Diwaktu-waktu yang lampaupun aku sudah mendengar pemintaan itu. Tetapi aku tidak pernah mendapat jaminan apa-apa. Meskipun demikian, coba katakanlah Jajar, apakah yang harus aku lakukan?”

“Tuanku.” berkata Jajar itu. Tetapi ia sudah tidak lagi tersenyum meskipun sekedar di dalam hati, “menurut Kuda Sempana, hamba harus membawa tebusan itu kesuatu tempat. Setelah tebusan itu diterimanya, maka Kakanda Tuan Puteri akan dilepaskannya.”

“Sederhana sekali Jajar, Tetapi apakah hal yang demikian itu dapat dipercaya?”

“Tentu Tuan Puteri, tentu.”

Ken Dedes menarik nafas panjang. Panjang sekali. Sedang wajahnya yang cantik itu pun menjadi semakin suram dan sedih.

Permaisuri itu sama sekali tidak yakin bahwa penjelesaian itu akan dapat terjadi dengan begitu sederhananya. Meskipun demikian ia ingin juga mendengar penjelasan Jajar itu lebih lanjut.

“Apakah tebusan yang harus aku berikan?” bertanya Ken Dedes itu.

Jajar itu menjadi berdebar-debar. Kuda Sempana dan kawannya itu minta perhiasan Permaisuri sepengadeg. Sudah tentu bukan sekedar perhiasan yang sering dipergunakan sehari-hari. Perhiasan yang dimaksud adalah perhiasan kebesarannya sebagai seorang permaisuri. Sepengadeg penuh. Sepasang subang, tusuk konde, hiasan rambut yang lain, cunduk kantil, kalung berangkai, kelat bahusabuk slepe,, sampar pada binggel-binggel tretes, cincin dan sebagainya.

“O, berapa nilai dari barang-barang itu?” desis Jajar itu di dalam hatinya.

Karena Jajar itu tidak segera menjawab, maka Ken Dedes mendesaknya, “Bagaimana Jajar?”

“O, ampun Tuanku.” sahut Jajar itu tergagap, “sebenarnya hamba tidak berani menyebutkan permintaan itu.”

“Kenapa?”

“Permintaan itu hampir tidak mungkin dapat terpenuhi Tuanku, Kecuali apabila Permaisuri benar-benar menghendaki keselamatannya.”

“Katakan, apakah yang diminta?”

“Terlampau berlebih-lebihan Tuanku.”

“Ya, tetapi kau belum menyebutnya. Apakah yang dikehendaki? Apakah yang berlebih-lebihan itu? Uang, atau perhiasan, pangkat atau apa saja? Mungkin ia ingin dibebankan dari segala tuntutan dan hukuman?”

“Tidak Tuanku. Bukan itu. Orang seperti Kuda Sempana dan kawannya itu tidak akan lagi memperhatikan tuntutan dan hukuman, sebab mereka merasa dapat menghindarkan diri dari hukuman yang seharusnya diberikan kepada mereka.”

“Ya, tetapi apa? Apa?” Ken Dedes menjadi jengkel karenanya.

“Ampun Tuanku.” berkata Jajar itu. Tetapi ia terdiam pula sejenak. Sengaja ia membiarkan Ken Dedes menahan nafasnya. la senang sekali melihat Permaisuri itu hampir pingsan menunggu kata-katanya.

Tetapi Jajar itu menjadi kecewa ketika ia mendengar emban yang tua, yang duduk disisi Ken Dedes it berkata, “Ampun Tuan Puteri. Jajar itu sengaja membuat Tuan Puteri menjadi berdebar-debar. Ia sengaja membuat agar Tuan Puteri memaksa-maksanya untuk mengatakan. Dengan demikian ia merasa sangat Tuanku perlukan. Karena itu Tuan Puteri, biarkan saja ia berkata. Kalau ia bereberatan, biarlah tidak usah dikatakannya, sebab apa yang akan dikatakan itupun sama sekali tidak akan meyakinkan, seperti apa yang pernah kita dengar sebelumnya. Tebusan, tebusan, tetapi tanpa jaminan apapun.”

“E.” Jajar itu memotong, “sebaiknjya kau tidak usah turut campur. Bahkan sebaiknya kau pergi saja dari sini.”

“Emban itu adalah pemomongku Jajar. Hanya akulah yang berhak menyuruhnya pergi atau untuk tetap berada di sini.”

“Ampun Tuanku, tetapi ia mengganggu sekali.”

“Ampun Tuanku.” emban itu menyambung tanpa nenghiraukan kata-kata Jajar itu, “Bahkan lebih baik, seandainya Tuanku sama sekali tidak mendengar apa yang akan dikatakannya. Mungkin Jajar itu hanya sekedar membual, atau mencoba mencari kesempatan untuk menunjukkan jasa.”

“Tidak, tidak. Hamba berkata sebenarnya.” potong Jajar itu pula. Ia menjadi semakin gelisah ketika Permaisuripun berkata, “Ternyata kau hanya membual. Benar kata-kata bibi, bahwa sebaiknya aku tidak usah mendengarkan kata-katamu.”

“Ampun Tuanku. Dengarkanlah Dengarkanlah. Tidak terlampau panjang.”

Jajar itu hampir menjadi pingsan ketika ia melihat Ken Dedes berkisar dan tidak lagi memandanginya. Bahkan Permaisuri itu berkata, “Kita mencari bunga menur itu saja bibi.”

“Ampun Tuanku. Ampun.” Jajar itulah yang kini kebingungan seperti terbakar kumisnya, “hamba akan mengatakan. Hamba akan segera mengatakan. Yang diminta oleh Kuda Sempana dan kawannya itu adalah perhiasan Tuanku, perhiasan. Apakah Tuanku mengerti maksud hamba.”

Tetapi Ken Dedes seakan-akan tidak mendengarnya. Sekali lagi ia berkata, “Bibi, apakah kolam itu sudah dibersihkan?”

“Mudah-mudahan Tuanku. Apabila belum, maka Jajar yang gemuk itulah yang bersalah.”

“Tuanku, Tuanku.” Jajar itu kini hampir merangkak mendekati Ken Dedes, “Dengarlah Tuanku. Yang diminta untuk menebus kakanda Tuanku adalah perhiasan.”

Ken Dedes menarik nafas dalam. Ia mendengar kata-kata Jajar itu. Meskipun ia belum berpaling memandang ke arah Jajar gemuk itu, namun sebenarnya hatinya telah bergerak pula mendengar kata-kata itu. Kalau hanya sekedar perhiasan. Maka tebusan itu tidak terlampau sulit baginya.

Jajar itu menjadi semakin gelisah, karena Ken Dedes itu berpalingpun tidak. Maka hampir menangis ia berkata, “Tuanku, perhiasan Tuanku. Perhiasan. Kalau tidak, maka mereka mengancam untuk membunuh kakanda Tuanku itu.”

Mendengar kata-kata itu, terasa sesuatu berdesir di hati Ken Dedes, dan bahkan juga di dalam dada emban tuan pemomongnya. Kini keduanya berpaling memandangi Jajar yang hampir bertiarap di hadapannya.

Dan Jajar itu berkata terus, “Mereka merasa terlampau lama menunggu. Dan mereka hampir menjadi jemu karenanya. Karena itu Tuanku harus cepat-cepat berbuat sesuatu sebelum mereka kehabisan kesabaran.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kini ia sudah tidak dapat berpura-pura lagi. Wajahnya kembali menjadi tegang. Namun ia tidak mau lagi memaksa-maksa Jajar itu untuk berkata. Ia tahu bahwa Jajar itu pasti akan menjadi terlampau berbangga diri, karena merasa sangat diperlukan oleh Permaisuri.

“Tuanku.” berkata Jajar itu selanjutnya, “Menurut pertimbangan hamba, Tuanku harus segera berbuat sesuatu. Kuda Sempana dan kawannya sudah tidak mau menunggu terlampau lama.”

Meskipun Ken Dedes berusaha untuk menekan perasaannya, namun tampak juga dahinya berkerut, sedang emban tua yang duduk bersimpuh di atas rerumputan di sampingnya menjadi cemas. Terlampau cemas.

“Nah, Tuanku. Bagaimanakah sikap Tuanku?”

Ken Dedes tidak segera menjawab. Ketika dilontarkannya pandangan matanya ke sudut halaman, masih saja dilihatnya beberapa orang prajurit dan Jajar duduk di sana. Satu orang diantara mereka berdiri sambil berjalan mondar mandir.

“Jajar.” berkata Ken Dedes kemudian, “aku rasa kau belum berkata seluruhnja. Perhiasan apakah yang dimaksud? Dan apakah tidak ada pesan yang lain bagaimana perhiasan itu akan sampai ke tangan Kuda Sempana dan bagaimana Kakang Mahisa Agni akan sampai ke istana.”

“Sudah hamba katakan Tuanku, tebusan itu harus hamba bawa dan hamba serahkan kepada mereka di tempat yang mereka tentukan. Sedang perhiasan yang mereka minta itu adalah … ” Jajar itu berhenti sejenak. Terjadilah pergolakan di dalam dirinya. Kawan Kuda Sempana minta kepada Permaisuri itu sepengadeg. Sedang untuk dirinya sendiri, ia harus berusaha sendiri. Katanya di dalam hatinya, “Aku harus minta lebih dari sepengadeg. Semua itu akan aku miliki. Tetapi apabila terpaksa, aku akan masih mempunyai kelebihannya.”

Sekali lagi Ken Dedes hampir tidak bersabar menunggu Jajar itu berkata. Tetapi sekali lagi Ken Dedes menahan diri. Dibiarkannya Jajar itu berdiam diri supaya ia tidak justru memperlambat kata-katanya.

“Tuanku.” berkata Jajar itu kemudian, “yang diminta oleh Kuda Sempana dan kawannya adalah perhiasan Tuanku. Perhiasan yang paling baik. Banyaknya tiga pengadeg?”

“He.” Permaisuri terkejut mendengar permintaan itu. Bahkan para embanpun terhenyak di tempatnya. Tiga pengadeg perhiasan seorang Permaisuri.

“Jajar.” suara Ken Dedes kini bergetar, “apakah kau tidak salah mengatakannya?”

“Tidak Tuanku. Tiga pengadeg. Tiga. Ya, tiga. Aku tidak salah lagi. Satu, dua kemudian tiga. Begitulah.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia terdiam. Dilontarkannya pandangannya jauh-jauh ke depan. Menembus dedaunan dan pohon-pohon perdu, seolah-olah hendak dilihatnya jauh ke seberang taman, tempat Mahisa Agni disembunyikan.

Ken Dedes itu terperanjat ketika jajar itu bertanya, “Bagaimana Tuanku. Apakah Tuanku setuju? Hamba akan segera menyampaikan dan kakanda Tuanku itu akan segera dilepaskan. Jangan menunggu mereka kehabisan kesabaran Tuanku, supaya Kakanda Tuan Puteri itu tidak mengalami cidera apa-apa.”

“Jajar.” berkata Ken Dedes, “tiga pengadeg perhiasan itu bukanlah sekedar benda-benda yang dapat aku ambil begitu saja dari istana. Kau tahu berapa nilai dari perhiasanku sebagai seorang Permaisuri itu sepengadeg?”

Jajar itu menggeleng lemah, “Ampun Tuanku, hamba tidak mengetahuinya.”

“Tidak sepengadeg jajar, tetapi sepasang subang itu saja, hanya sepasang.”

Sekali lagi jajar itu menggeleng, “Tidak Tuanku.”

“Nah, kau pasti juga tidak akan dapat membayangkan betapa harga tiga pengadeg perhiasan itu.”

“Hamba Tuanku. Memang hamba tidak dapat membayangkan nilai daripadanya.”

“Kalau demikian, maka dengarlah. Sepengadeg perhiasanku jajar, akan sama nilainya dengan seisi padukuhan beserta sawah ladangnya. Bahkan pedukuhan yang paling kaya. Terhitung semua perhiasan, ternak dan iwennya, selain manusianya.”

Terasa bulu-bulu jajar itu meremang. Tetapi kemudian tumbuh pulalah kebanggaannya atas dirinya. Katanya di dalam hati, “Kesempatan ini tidak akan terulang sampai dua kali. Tiga pengadeg perhiasan Permaisuri adalah tiga pedukuhan yang paling kaya dengan segenap isinya. Rumah-rumah brunjung yang besar, joglo dan segenap perabotnya. Perhiasan-perhiasannya dan ternak iwennya. Bahkan segenap sawah ladangnya.”

“Apakah kau dapat membayangkannya jajar?”

“Hamba Tuanku.” sahut jajar itu, “betapa banyak nilai dari perhiasan itu.”

“Tiga pengadeg untuk menebus kakang Mahisa Agni?”

“Begitulah Tuanku. Tidak ada tawaran lain apabila Tuanku menginginkan Kakanda Tuanku itu selamat.”

Ken Dedes menekurkan kepalanya. Kuda Sempana dan kawannya itu dapat saja menyebut apa saja yang mereka kehendaki untuk menebus Mahisa Agni. Kuda Sempana tahu betul, bagaimanakah hubungannya dengan Mahisa Agni seperti kakak beradik sekandung. Kuda Sempana tahu betul bahwa Mahisa Agni telah melepaskannya dari bencana berulang kali. Itulah sebabnya maka pemerasan itu pun dilakukannya tidak tanggung-tanggung. Tiga pengadeg pakaian. Betapa besar nilainya.

“Kalau aku memilikinya sendiri.” desis Permaisuri itu di dalam hatinya, “kalau aku tidak terikat oleh Akuwi Tunggul Ametung, maka nilai Kakang Mahisa Agni jauh lebih besar dari tiga pengadeg perhiasan itu. Ia telah menjelamatkan nyawaku, bahkan kehormatanku, pada saat Kuda Sempana itu menjadi gila.”

Jajar yang gemuk dan berkumis itu menunggu jawaban Permaisuri dengan hati yang berdebar-debar. Namun sementara itu ia telah berangan-angan untuk menerima tiga pengadeg perhiasan dalam sebuah kotak berukir. Perhiasan yang akan dipergunakan untuk menebus Mahisa Agni. Tetapi kotak itu akan dibawanya lari. Bersembunyi ditempat yang jauh, yang tidak mungkin dikunjungi oleh Kuda Sempana dan kawannya maupun oleh Akuwu Tunggul Ametung beserta pajurit-prajuritnya.

“Adikku dan kawan-kawannya liar itu akan dapat melindungiku.” katanya di dalam hati.

Tetapi ternyata Permaisuri tidak segera menjawab. Permaisuri itu masih saja merenung memandangi lembaran-lembaran daun dikejauhan. Tetapi ternyata ia tidak melihat sesuatu.

Pandangannya seolah-olah menjadi kabur kerena gelora di dalam dadanya.

Jajar itu kemudian tidak dapat bersabar menunggu Diberanikannja bertanya, “Tuanku, bagaimanakah perintah Tuanku?”

Ken Dedes menarik nafas dalam. Beberapa kali ia mendengar bahwa untuk melepaskan Mahisa Agni memang diperlukan tebusan. Tetapi baru kali ini ia mendengar, berapa besar tebusan yang diminta.

“Bagaimana Tuanku. Hamba tinggal menjunjung perintah Tuanku.”

“Jajar.” berkata Ken Dedes, “permintaan itu tidak masuk diakalku. Betapa aku mengharapkan Kakang Mahisa Agni lepas dari tangan mereka, tetapi permintaan itu hampir tidak mungkin aku penuhi.”

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Dan tanpa sesadarnya ia berkata, “Tetapi keselamatan Kakanda Tuanku itu sedang terancam.”

Ken Dedes mengangguk-angguk lemah. Sejenak ia berdiam diri. Ia tidak segera mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Ketika angin berhembus menyentuh dedaunan di taman itu, maka terdengarlah suara desir yang lembut. Tangkai-tangkai bunga yang bergetar, seolah-olah sedang menggelengkan kepala mereka, ikut bersedih melihat Permaisuri yang berwajah muram.

Sejenak kemudian terdengarlah Permaisuri itu berkata, “Jajar. Baiklah aku akan mempertimbangkan permintaan itu. Aku kelak akan memberitahukannya kepadamu, keputusan yang akan aku ambil.”

Dada Jajar itu berdesir mendengar kata-kata Ken Dedes. Ia mengharap Permaisuri itu sekarang juga berdiri, masuk ke dalam biliknya, atau menghadap Akuwu Tunggul Ametung, kemudian memberinya sepeti perhiasan yang dimintanya. Karena itu maka tergagap ia berkata, “Ampun Tuanku. Bagaimanakah jawab hamba apabila Kuda Sempana dan kawannya itu datang lagi kepada hamba?”

“Katakan seperti yang aku katakan. Permaisuri sedang mempertimbangkannya.”

“O, tetapi itu memerlukan waktu. Mereka sudah tidak mau bersabar lagi. Barang-barang itu harus segera sampai ke tangan mereka. Kalau tidak maka keselamatan Kakanda Tuanku tidak akan terjamin.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Tetapi jawabnya sama sekali tidak diduga oleh Jajar yang gemuk itu, “Jangan takut Jajar. Mereka tidak akan berbuat apa-apa, sebab mereka mengharap perhiasan yang tiga pengadeg itu, mereka pasti akan menunggu sehari dua hari, bahkan nungkin sepekan. Sebab membunuh Kakang Mahisa Agni sama sekali tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi mereka, tetapi perhiasan itu akan sangat menyenangkan.”

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]
Source : www.agusharis.net

~ Article view : [223]