Pelangi di Langit Singasari [ 34 ]

314

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 34 ]

 

SEPERCIK keringat dingin menetes di kening Jajar yang gemuk itu. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Per¬maisuri akan menjadi tenang menghadapi keadaan itu. Namun dengan demikian justru Jajar itulah yang menjadi gelisah. Lidahnya seolah-olah kehilangan kekuatan untuk mengatakan sesuatu.

“Sekarang pergilah. Katakan kepada para prajurit itu, bahwa mereka pun aku perkenankan meninggalkan halaman ini. Ternyata kau tidak berbahaya bagiku.”

“Oh.” Jajar itu mengerutkan keningnya. Matanya yang sipit menjadi semakin sipit.

“Tetapi, tetapi, bagaimana dengan perhiasan itu Tuanku?”

“Tunggulah, aku sedang berpikir untuk itu.”

“Bagaimana kalau hari ini Kakanda Tuanku itu mengalami bencana.”

“Tidak. Itu tidak akan terjadi. Sekian lama mereka menunggu untuk mendapat tebusan. Maka mereka pasti akan menunggu sehari-dua hari lagi.”

“Tetapi.”

“Pergilah.”

“Tuanku.”

“Pergilah.”

Jajar itu tidak dapat menjawab lagi. Harapannya untuk mendapatkan perhiasan hari itu juga telah gagal. Tetapi ia tidak berputus asa. Ia memastikan bahwa Permaisuri akan memberikah perhiasan itu kepadanya. Soalnya hanyalah waktu. Sekarang, besok atau mungkin dua tiga hari lagi. Tetapi barang-barang itu pasti akan menjadi miliknya.

Dengan gemetar Jajar itu membungkukkan badannya sambil berkata, “Ampun Tuanku. Perkenankanlah hamba meninggalkan tempat ini.”

Ken Dedes mengangguk. Dipandanginya Jajar itu ber¬ingsut mundur. Kemudian berjalan sambil berjongkok beberapa langkah. Baru-baru kemudian tertatih-tatih ia berjalan ke sudut halaman menemui para prajurit dan kawan-kawannya, untuk menyampaikan perintah Permaisuri, bahwa mereka diperkenankan meninggalkan taman itu.

Tetapi ternyata sebelum mereka beranjak dari tempatnya, mereka melihat Permaisuri itu berdiri dan berjalan meninggalkan taman itu pula. Ternyata Permaisuri sudah tidak mempunyai minat lagi untuk bermain-main di taman itu. Hatinya kini sedang dicengkam oleh kecemasan dan kebingungan. Ia percaya bahwa memang dituntut tebusan untuk Mahisa Agni, tetapi ia tidak pernah mendapat jaminan yang meyakinkan tentang keselamatan kakaknya itu.

Karena itu setiap kali ia mendengar tentang Mahisa Agni, maka seakan-akan luka di dalam dadanya menjadi semakin parah. Ia ingin berbuat sesuatu, tetapi ia tidak dapat. Seandainya ia dapat memutuskan sendiri, maka apapun akan di serahkannya untuk membebaskannya. Apalagi hanya tiga pengadeg perhiasan.

Permaisuri itu kini sama sekali sudah tidak ada minat lagi untuk bermain-main di taman. Dengan tergesa-gesa ia berjalan diiringi oleh emban-embannya dan emban pemomongnya.

“Bibi.” berkata Ken Dedes, “aku menjadi pening. Aku ingin beristirahat.”

“Silahkanlah Tuanku.” sahut emban yang tua itu, “Tuanku memang harus beristirahat. Sebaiknya Tuanku tidak terlampau dicengkam oleh kegelisahan memikirkan Angger Mahisa Agni. Sebaiknya Tuanku menganggap persoalan itu sebagai persoalan yang biasa. Persoalan yang meskipun harus diselesaikan, tetapi tidak membuat Tuanku sendiri menjadi bersedih.”

“Tidak dapat bibi. Aku tidak dapat acuh tak acuh saja atas persoalan Kakang Mahisa Agni.”

Emban yang tua itu tidak menyahut. Hampir terloncat-loncat ia berjalan di belakang Ken Dedes yang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam biliknya. Beberapa emban pengiringnya tinggal di depan pintu, sedang pemomong Ken Dedes mengikutinya masuk ke dalam.

“Persoalan Kakanda Tuan Putri itu benar-benar menggelisahkan.” bisik seorang emban kepada kawannya.

“Sudah tentu.” sahut yang lain, “Mahisa Agni adalah satu-satunya keluarga yang masih ada.”

“Tetapi tebusan itu memang tidak masuk diakal kita.” berkata yang lain.

“Jangan kau sebut-sebut.” berkata seorang yang lebih tua, “lebih baik kita diam supaya tidak mempersulit perasaan Tuan Puteri itu sendiri.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya, dan merekapun terdiam karenanya.

Di dalam biliknya, wajah Ken Dedes menjadi semakin muram. Persoalan itu ternyata berkepanjangan, seolah-olah tidak akan berujung. Persoalan yang selalu membayanginya sejak lama, sejak perkawinan agung belum dilakukan.

“Tuanku.” berkata emban tua pemomong Ken Dedes.

“Tuanku terlampau memikirkan Kakanda Tuan Puteri, Angger Mahisa Agni. Bukan maksudku untuk melupakannya, tetapi persoalan ini jangan menjadi beban yang memberati perasaan Tuanku, sehingga seolah-olah hidup Tuan Puteri selalu dibayangi oleh kemuraman dan kesedihan. Ingatlah Tuanku, bahwa Tuanku adalah seorang Permaisuri. Seandainya wajah Tuan Puteri itu selalu muram, maka seluruh istana ini akan menjadi muram. Karena itu, usahakanlah untuk mengurangi tekanan perasaan yang tumbuh karena Angger Mahisa Agni. Seorang isteri adalah sumber cahaya dari keluarga. Kalau sumber itu suram, maka cahayanya pun akan suram. Dan wajah-wajah yang lain pun akan menjadi suram pula.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya lirih, “Aku menyadari bibi, tetapi bagaimana aku dapat melakukanya? Apalagi setelah Jajar itu mengatakan, bahwa ia telah ditemui oleh Kuda Sempana dan menyampaikan permintaan itu.”

“Apakah Tuan Puteri percaya kepadanya?” bertanya emban tua itu.

“Tentu tidak sepenuhnya bibi. Aku tidak percaya kepada Jajar itu sepenuhnya, dan aku tidak pula percaya kepada Kuda Sempana.”

“Lalu apakah yang menarik perhatian Tuanku atas Jajar itu?”

“Jajar itu hanya sekedar merupakan sentuhan-sentuhan yang akan dapat dipakai untuk mempersoalkannya lebih lanjut. Itu lebih baik bagiku daripada tidak ada hubungan sama sekali dengan orang yang telah menyembunyikan Kakang Mahisa Agni.”

Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sependapat dengan pikiran Ken Dedes itu. Ia memang menganggap lebih baik hubungan dengan Jajar itu dan seterusnya dengan Kuda Sempana dipelihara, meskipun hal-hal yang lain masih harus dibicarakan.

“Bagaimana pendapatmu bibi?” bertanya Ken Dedes kemudian.

Emban itu ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata, “Adalah jalan yang paling baik yang harus Tuanku tempuh adalah menyampaikan persoalan ini kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung adalah suami Tuanku, dan Tuanku Tunggul Ametung adalah pemegang kekuasaan yang tertinggi di Tumapel.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya, bibi. Memang tidak ada jalan lain. Aku harus menyampaikan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi sebenarnya aku meragukannya. Apakah Tuanku Akuwu akan menaruh minat atas persoalan ini. Sudah sekian lama aku menunggu, sejak hari perkawinan kami. Tetapi Akuwu seolah-olah telah melupakannya. Setiap kali ia mendengar persolan itu, Tuanku Akuwu seolah selalu menghindarkan dirinya.”

“Tetapi persoalan ini harus mendapat penjelasan Tuanku. Meskipun kita tidak dapat mempercayai Jajar itu dan apalagi Kuda Sempana, tetapi harus ditemukan cara yang sebaik-sebaiknyanya untuk melepaskan Angger Mahisa Agni.”

“Aku menyadari bibi. Dan aku akan mencoba sekali lagi menyampaikannya kepada Akuwu.”

“Silahkan Tuanku. Sebaiknyalah demikian. Jangan menuggu terlampau lama.”

Sekali lagi Ken Dedes mengangguk-anggukkan kapalanya. Wajahnya yang suram masih saja suram.

“Malam nanti aku akan menghadap Tuanku Akuwu Tunggul Ametung untuk menyampaikan persoalan ini. Mudah-mudahan Tuanku Akuwu menemukan jalan yang sebaik-baiknya.”

Demikianlah ketika matahari telah terbenam, dan lampu-lampu di dalam istana Tumapel telah dinyalakan, maka Ken Dedes, Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung sedang duduk sambil menekurkan kepalanya dalam-dalam. Di sisinya Akuwu Tunggul Ametung berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya.

Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Masing-masing sedang hanyut ke dalam dunia angan-angannya sendiri.

Diluar angin yang sejuk berhembus perlahan, menggerakkan dedaunan dan ranting-ranting yang kecil. Suara cengkerik di rerumputan berderik-derik menggelitik hati, seperti sedang sesambat karena ditinggalkan kekasih.

“Ken Dedes.” terdengar kemudian suara Akuwu Tunggul Ametung berat, “kau terlampau terpengaruh oleh keadaan Mahisa Agni.”

Ken Dedes mengangguk lemah, “Hamba Tuanku.”

“Apakah kau tidak dapat melupakannya?”

Ken Dedes terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga wajahnya yang basah itu terangkat, “Apakah maksud Tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau adalah seorang Permaisuri. Bukan hanya aku dan orang-orang seisi istana saja yang selalu memperhatikanmu. Tetapi setiap orang di Tumapel ini setiap saat selalu menilaimu. Mereka mengharap kau bergembira, berwajah cerah dan jernih. Demikianlah hendaknya gambaran dari keadaan Tumapel. Tetapi agaknya kau tidak berbuat demikian. Akhir-akhir ini wajahmu selalu muram dan sedih.”

“Ampun Tuanku. Hamba sudah berusaha untuk berbuat demikian justru karena hamba menyadari kedudukan hamba. Tetapi setiap kali hamba tidak mampu bertahan diri terhadap arus perasaan hamba yang melanda dinding jantung.”

“Kau terlampau perasa Ken Dedes. Cobalah kau berjuang untuk mengatasi perasaanmu itu.”

“Hamba akan mencoba, Tuanku.”

“Baiklah. Cobalah sehari dua hari. Kau harus menjadi seorang yang riang dan mempunyai gairah yang segar memandang Tumapel dan segenap isinya.”

“Hamba akan mencoba, Tuanku.”

“Nah, apabila demikian, sekarang beristirahatlah. Mungkin kau menjadi terlampau lelah. Bukan oleh kerja jasmaniah, tetapi karena usahamu melawan perasaanmu sendiri.”

Sekali lagi Ken Dedes terkejut mendengar kata-kata itu. Sekali lagi ia mengangkat wajahnya dan bertanya, “Tetapi bagaimanakah tentang Mahisa kakang Agni?”

“He.” kini Akuwu Tunggul Ametunglah yang terperanjat, “bagaimana kau ini Ken Dedes. Baru saja kau mengatakan kepadaku, bahwa kau akan berusaha, sekarang kau sudah menanyakan lagi tentang Mahisa Agni.”

“Ampun Tuanku. Hamba akan berusaha untuk menyembunyikan kepedihan hati hamba. Hamba akan berusaha untuk menunjukkan gairah hidup hamba sebagai seorang Permaisuri, meskipun seorang Permaisuri itu juga seorang manusia biasa. Apalagi hamba Tuanku. Tetapi di samping itu, hamba ingin Tuanku berbuat sesuatu untuk menemukan Kakang Mahisa Agni.”

“Ah.” Akuwu Tunggul Ametung berdesah, “kau selalu kembali kepada masalah itu. Ken Dedes, aku ingin kau memberikan sumbangan kepadaku. Sebagai seorang Permaisuri terhadap seorang Akuwu. Aku ingin mendapat dorongan darimu, agar aku menjadi semakin tekun dan bersungguh-sungguh memikirkan Tumapel. Memikirkan kemajuan dan kesempurnaannya. Bagaimana aku harus membuat istana ini lebih indah, dan megah. Bagaimana aku menjadi semakin disegani dan ditakuti oleh rakyatku. Bagaimana aku dapat menentukan kehendakku tanpa seorang pun yang berani menyanggah.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sepercik kekecewaan telah mewarnai hatinya. Semakin lama semakin jelas.

“Itukah yang dianggapnya kemajuan dan kesempurnaan?. Istana yang indah dan megah, disegani dan ditakuti, kehendak yang tidak terbantah.” berkata Ken Dedes di dalam hatinya, “sama sekali berbeda dengan angan-anganku. Tetapi yang penting sekarang, bagaimana Akuwu berbuat sesuatu untuk Kakang Makisa Agni.”

Dan Ken Dedes mendengar Akuwu itu berkata terus, “Ken Dedes. Sudah tentu aku tidak dapat berbuat sesuatu yang hanya berkisar kepada kepentingan diri sendiri. Sebab aku adalah seorang Akuwu.”

Kerut merut di wajah Ken Dedes menjadi semakin dalam. Kemudian katanya, “Ampun Tuanku. Hamba akan selalu ikut serta memikirkan keadaan Tumapel. Hamba ingin Tumapel menjadi daerah yang paling baik di segenap sudut Kerajaan Kediri. Hamba merasa bangga atas keputusan Tuanku untuk membuka tanah di Padang Karautan. Seperti yang Tuanku katakan, bahwa hal itu Tuanku lakukan bukan sekedar menyenangkan hati hamba setelah hamba kehilangan segala-galanya, kecuali Kakang Mahisa Agni saat itu. Bukan sekedar karena hamba ingin Panawijen hidup kembali meskipun dalam ujudnya yang lain. Tetapi Tuanku berkata, bahwa kemakmuran di daerah-daerah kecil akan berpengaruh kepada hidup keseluruhan Tumapel. Bila Padang Karautan menjadi hijau dan subur, maka Tumapel pun akan diperciki oleh kesuburan itu. Demikian pula di daerah-daerah lain di wilayah Tumapel kelak. Dan hamba akan senang sekali ikut memikirkannya. Bukan sekedar istana ini seisinya. Bukan sekedar keinginan diri untuk ditaati setiap kata-katanya tanpa pertimbangan. Bukankah dengan demikian itu juga sekedar berkisar kepada kepentingan diri.”

“Ken Dedes.” potong Akuwu Tunggul Ametung, sehingga Ken Dedes menjadi terkejut karenanya. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung itu kemudian menarik-nafas dalam-dalam. Ditahankannya perasaannya yang meledak-ledak sebagai kebiasaan hidupnya sehari-hari. Tetapi, kepada Ken Dedes ia selalu menjaga dirinya. Selalu diingatnya, bahwa ia pernah melihat seberkas sinar yang tak dikenalnya memancar dari tubuh Permaisuri itu.

Sejenak kemudian mereka terhempas dalam kediaman. Masing-masing mencoba untuk menahan diri. Betapapun gejolak jantung mereka, namun mereka ingin bersikap tenang. Mereka berusaha untuk menyaring setiap kata yang melontar lewat sela-sela bibir mereka.

Terdengar desah yang panjang meluncur dari dada Akuwu Tunggul Ametung. Perlahan-perlahan ia berkata, “Kau salah mengerti Ken Dedes. Kau belum dapat mengikuti caraku memerintah Tumapel. Tetapi itu adalah wajar sekali, sebab kau belum cukup lama ikut serta mendengar dan mengerti tentang pemerintahan. Mudah-mudahan pada saatnya kau akan sependapat dengan aku.”

Ken Dedes kini menjadi semakin tuduk. Setetes air menitik dari matanya, “Hamba Tuanku. Mudah-mudahan hamba akan segera dapat mengerti.”

“Kalau kau tidak selalu dicengkam oleh kecemasan dan kegelisahan, maka kau akan segera dapat mengikuti segala persoalan Temapel seperti seharusnya seorang Permaisuri. Kau wenang untuk ikut serta dalam pembicaraan-pembicaraan khusus. Karena itu, Ken Dedes. Lupakan saja Mahisa Agni.”

Kini Ken Dedes benar-benar terperanjat. Tanpa sesadarnya ia terloncat berdiri. Namun ketika terpandang olehnya Akuwu Tunggul Ametung, maka perlahan-lahan dijatuhkannya dirinya di atas tempat duduknya.

“Ampun Tuanku.” desisnya. Namun kata-katanya terputus. Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya.

“Bukankah hal itu lebih baik bagimu Ken Dedes.”

Dengan sekuat tenaga Ken Dedes mencoba menahan perasaannya. Tersendat-sendat ia berkata, “Bagaimana mungkin Tuanku sakarang berkata demikian.”

“Ken Dedes. Marilah kita memandang ke depan. Kita tidak terpukau oleh masa lampau sehingga kita kehilangan arah. Kita hanya merenung dan bersedih tanpa berbuat sesuatu.”

“Hamba Tuanku. Hamba sependapat. Tetapi apakah dengan melupakannya kita telah berbuat sesuatu?”

Kening Akuwu Tunggul Ametung menjadi berkerut merut. Hampir-hampir ia kehilangan kesabaran dan berteriak seperti kebiasaannya. Tetapi selalu ia ingat, ada kelebihan Ken Dedes dari orang-orang lain. Cahaya itu. Ya cahaya yang memancar dari tubuhnya yang pernah dilihat oleh Akuwu, selalu mempengaruhinya.

“Ken Dedes.” berkata Akuwu itu kemudian, “maksudku, kita berbuat sesuatu untuk kepentingan yang lebih besar. Kita tidak boleh terpukau oleh masa lalu, sehingga kerja yang lain terbengkalai. Apakah manfaatnya aku mencari Mahisa Agni dengan berbagai macam cara, tetapi bendungan yang dibuat oleh orang-orang Panawijen itu tidak selesai? Apakah manfaatnya kau memberikan perhiasan seperti yang kau katakan itu, tetapi kita kehabisan beaya untuk meneruskan bendungan itu? Ken Dedes, apabila kelak bendungan itu berhasil, maka orang-orang Panawijen akan sangat berterima kasih. Mereka akan memuji kemurahan hati kita atas bantuan yang telah kita berikan. Mereka akan hidup dalam kesejahteraan, dan mereka akan selalu mengenang segala macam jasa yang telah kita berikan. Dan mereka pun akan segera melupakan Mahisa Agni.”

“Kakang Mahisa Agni lah yang telah mulai dengan pekerjaan besar itu.” tiba-tiba Ken Dedes menyahut.

“Aku tahu. Tetapi apakah artinya Mahisa Agni itu kemudian? Ia tidak berada lagi dipekerjaannya.”

“Itu sama sekali bukan karena kehendaknya sendiri.”

“Apapun alasannya. Tetapi ia tidak dapat meneruskan pekerjaan itu. Akulah yang menyelesaikannya. Akulah yang memberi semua kebutuhan dalam pekerjaan itu. Alat dan perbekalan.”

Terasa sebuah desir yang tajam mematuk jantung Ken Dedes. Sejenak ia terdiam dan sepercik lagi kekecewaan mewarnai hatinya. Namun ia masih berusaha sekuat-kuat tenaga untuk menahan diri. Untuk selalu dapat mengendalikan perasaan dan nalarnya. Jika ia menjadi kehilangan akal, maka maksudnya untuk minta pertolongan Akuwu pun akan tertutup sama sekali.

“Ampun Tuanku.” berkata Ken Dedes kemudian. Suaranya menjadi rendah dan bergetar, “hamba akan mencoba mengerti semua keinginan Tuanku. Tetapi hamba mengharap bahwa Tuanku pun akan dapat mengerti keadaan hamba. Hamba sama sekali tidak dapat menyanggah kebenaran kata-kata Tuanku. Tetapi hamba ingin menyatakan kelemahan diri dan perasaan hamba. Betapa hamba ingin mengabdikan diri kepada keinginan dan cita-cita Tuanku, tentang masa depan Tumapel, tetapi hamba tidak akan dapat melepaskan diri dari kedirian. Mungkin keduanya dapat berjalan seiring. Hamba sebagai seorang Permaisuri dan hamba sebagai Ken Dedes yang lemah. Seorang yang hidupnya selalu diguncang oleh angin yang kasar.”

Akuwu Tunggul Ametung merasakan sebuah sentuhan yang halus di dalam dadanya. Permaisuri itu. adalah seorang manusia biasa. Seorang yang memiliki sifat-sifat kemanusiaannya. Dan tiba-tiba saja dikenangkannya masa lampau Ken Dedes yang sangat pahit. Apa yang terjadi atasnya, dan bagaimana ia dapat sampai diistana ini.

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam.

Dan tiba-tiba ia terhenyak keatas tempat duduknya, sebuah batu hitam yang dilambari oleh sebuah permadani yang tebal. Perlahan-lahan terdengar ia berkata seperti sedang mengeluh, “Memang kita adalah orang-orang yang telah diamuk oleh nafsu memikirkan diri sendiri.”

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Dilihatnya wajah Akuwu Tunggul Ametung yang tegang. Tetapi ia tidak segera berkata sesuatu. Ia mengharap bahwa hati Akuwu itu akan mencair dari dalam.

“Tetapi permintaan itu tidak mungkin dipenuhi Ken Dedes.” berkata Akuwu Tunggul Ametung.

“Hamba memang sudah menyangka demikian Tuanku.” sahut Ken Dedes, “hamba pun tidak ingin memenuhi seluruhnya. Tetapi hamba ingin usaha yang nyata untuk melepaskannya.”

“Apakah kau percaya kepada Jajar itu?” bertanya Ken Arok.

“Tidak Tuanku, hamba tidak mempercayainya.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Ia heran mendengar jawaban Ken Dedes. Karena itu ia bertanya, “Ken Dedes, kalau kau tidak percaya kepada Jajar itu, kenapa kau ingin berhubungan dengan dia dan bahkan kau sudah membicarakan soal tebusan meskipun kau masih ingin menawarnya?”

“Tuanku.” jawab Ken Dedes, “Jajar itu akan dapat kita jadikan jembatan penghubung, antara kita dan orang-orang yang membawa Kakang Mahisa Agni. Maksud hamba apabila kita dapat memelihara hubungan itu, apapun yang akan Tuanku lakukan, hamba akan berterima kasih sekali. Apalagi kelak apabila Kakang Mahisa Agni benar-benar telah dapat dibebaskan.”

“Apakah yang harus aku lakukan? Memberikan tebusan kepada Jajar itu?” bertanya Tunggul Ametung, “apakah kau percaya bahwa setelah menerima tebusan itu Mahisa Agni akan benar-benar dibebaskan?”

“Hamba memang tidak percaya Tuanku. Mungkin orang-orang yang membawa Mahisa Agni itu yang ingkar, tetapi juga mungkin Jajar yang gemuk itulah yang ingkar.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berkata, “Aku akan menangkap Jajar itu. Aku harus tahu dimana orang-orang yang mengambil Mahisa Agni. Dengan demikian maka aku akan segera dapat menangkap mereka.”

“Tuanku.” Ken Dedes memotong dengan serta merta, “bukankah Tuanku pernah mengatakan pula, seperti apa yang dipesankan oleh Empu Gandring dahulu, bahwa kekerasan akan berbahaya bagi Kakang Mahisa Agni?”

“Jadi apa? Apa yang harus aku lakukan?” hampir-hampir Akuwu Tunggul Ametung berteriak. Namun tiba-tiba nadanya menurun, “Ken Dedes, aku menjadi bingung. Kau tidak percaya kepada Jajar itu, dan kau tidak ingin aku mempergunakan kekerasan? Lalu apakah yang barus aku lakukan?”

“Tuanku, itulah yang aku ingin mendapatkan dari Tuanku. Apakah yang akan Tuanku lakukan. Selain yang Tuanku katakan, kekerasan.”

“Jadi aku harus menyerahkan tebusan kepada Jajar itu dengan tanpa jaminan. Tebusan itu dapat hilang seperti garam yang kita lemparkan kedalam laut.”

“Tuanku, hamba sama sekali tidak mengerti manakah yang sebaiknya Tuanku lakukan. Tetapi bukankah Tuanku dapat mengajukan syarat kepada Jajar itu untuk disampaikan kepada Kuda Sempana. Seandainya Tuanku memberikan tebusan, maka tebusan itu cukup mendapat jaminan, sehingga tidak seperti garam yang terbenam kedalam laut.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tampaklah betapa jantungnya menjadi tegang oleh persoalan itu. Hampir-hampir saja ia membanting kakinya sambil berteriak. Tetapi pengaruh Ken Dedes atasnya terasa terlampau mencengkam.

Tetapi untuk memenuhi tuntutan yang gila itupun sama sekali tidak terlintas di dalam pikirannya. Harga dirinya sebagai Akuwu benar-benar tersinggung karenanya dan kecuali itu, maka tebusan itu bagi Akuwu Tunggul Ametung adalah kehilangan yang sia-sia. Menurut pertimbangannya, maka hilangnya Mahisa Agni tidak akan banyak berpengaruh bagi Tumapel. Disaat-saat ini pengaruh itu memang masih terasa pada Ken Dedes, yang langsung tidak langsung mempengaruhi juga kepada dirinya sendiri dan pemerintahannya. Namun lambat laun Ken Dedespun pasti akan melupakannya.

Karena itu maka dengan nada yang dalam ia berkata, “Ken Dedes. Persoalan kita dengan Mahisa Agni sebenarnya telah selesai. Ternyata kita melakukan segala-galanya tanpa Mahisa Agni, dan semuanya berjalan dengan baik. Perkawinan kita dapat juga berlangsung. Bendungan itu pun akan segera siap pula. Semuanya dapat dilakukan tanpa Mahisa Agni. Sebaiknya kau pun menyadari. Jangan terlampau menggantungkan dirimu kepadanya. Jangan terlampau terpengaruh olehnya. Kau harus yakin, bahwa kau akan dapat melupakannya. Bahwa Tumapel akan menjadi besar tanpa anak itu, dan bahwa bendungan itu pun akan dapat mengalirkan air nja untuk tanah-tanah persawahan tanpa kehadirannya. Nah, apa lagi yang kau inginkan daripadanya Ken Dedes. Bukankah Mahisa Agni itu menurut pengakuanmu juga bukan kakak kandungmu sendiri?”

Dada Ken Dedes seolah-olah ingin meledak karenanya. Tetapi dengan sekuat tenaga yang ada padanya, ditabahkannya hatinya. Ia tidak boleh menyerah dan berputus asa. Jika demikian, maka semuanya benar-benar akan gagal. Tetapi ia harus tetap berusaha.

“Tuanku.” berkata Ken Dedes dengan gemetar, “sudah hamba katakan keadaan dan kelemahan hamba. Sudah hamba katakan diri hamba yang tidak dapat ingkar dari kedirian. Hamba adalah seorang yang lemah dan ringkih. Lahir dan batin. Sebenarnyalah Tuanku, bahwa hamba tidak akan dapat melupakannya. Bukan sekedar karena Kakang Mahisa Agni itu telah dipersaudarakan dengan hamba sejak kanak-kanak, sudah seperti kakak kandung sendiri, tetapi hamba tidak dapat melupakan semua kebaikannya. Hamba tidak akan dapat melupakan semua pengorbanannya. Hamba sampaikan perasaan hamba ini kepada Tuanku, Bukan saja sebagai seorang Akuwu yang berkewajiban melindungi rakyatnya, tetapi juga sebagai seorang suami. Kepada siapa hamba harus mengadu, jika tidak kepada Tuanku, Akuwu Tumapel. Kepada siapa hamba harus membagi duka, jika tidak kepada suami hamba.”

“Oh.” terdengar Akuwu Tunggul Ametung berdesah, “Kau membuat aku pening. Kau tidak memberikan apa-apa kepadaku sebagai seorang Permaisuri kepadaku, kepada Tumapel. Tetapi kau malahan membuat aku hampir gila.”

Sekali lagi sepercik kekecewaan menghunjam langsung kepusat jantung Ken Dedes. Tetapi ia tidak ingin surut. Ia harus mendapat kesempatan sekali ini, meskipun kadang-kadang sehelai-sehelai perasaan putus asa telah menyaput hatinya.

Bagi Ken Dedes, usaha membebaskan Mahisa Agni sama sekali tidak akan mengganggu rencana pekerjaan Akuwu yang lain. Ia akan dapat menyisihkan sedikit waktunya untuk berbuat. Ken Dedes tahu benar, bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung masih mempunyai banyak kesempatan. Menurut penilikan Ken Dedes, Akuwu Tunggul Ametung tidak mempergunakan waktunya sebaik-baiknya. Ia tidak terikat pada suatu rencana yang matang. Tetapi ia berbuat sesuai dengan keinginannya sesaat-sesaat, kapan ia ingat dan kapan saja ia mau. Itulah sebabnya maka ia menjadi terlampau sibuk untuk sesaat, sedang disaat-saat yang lain waktunya hanya dipergunakannya untuk berburu tanpa berbuat sesuatu, tidur sepanjang hari dan kadang-kadang marah-marah karena hal-hal yang kecil kepada hamba-hambanya. Sekali-sekali ia sibuk dengan berbagai macam rontal. Diperintahkannya hambanya, juru kidung membaca untuknya. Dibawanya beberapa orang tua-tua untuk memperbincangkan isi kidung atau kakawin. Semuanya terjadi seperti yang diingininya. Tidak ada waktu-waktu yang direncanakannya untuk berbagai macam kepentingan itu. Meskipun ia sedang menyiapkan pertemuan bagi para pembantunya, tetapi tiba-tiba ia ingin mendengarkan ceritera yang disenanginya, maka dipanggilnya juru kidungnya. Dan dihabiskannya waktunya untuk mendengarkan ceritera-ceritera itu. Ketika orang-orang yang dipanggilnya hadir, maka ia tidak membicarakan sesuatu masalah apapun kecuali dibawanya orang-orang itu untuk membicarakan ceritera yang baru didengarnya.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa kehadirannya di istana itu memang belum menumbuhkan suasana yang baru. Tetapi ia sudah mempunyai beberapa rencana untuk itu. Ia ingin membuat Akuwu Tunggul Ametung berbeda dengan Akuwu itu sebelumnya. Namun setelah perkawinannya, justru Akuwu seolah-olah kehilangan segenap waktunya. Ia tenggelam dalam suasana perkawinannya untuk beberapa saat. Meskipun kini perlahan-lahan Akuwu telah kembali kedalam lingkungan pemerintahan, tetapi ia akan kembali seperti saat-saat yang pernah dijalaninya. Menurut kehendaknya yang meledak-ledak.

“Namun agaknya persoalan Kakang Mahisa Agni tidak menarik perhatiannya.” pikir Ken Dedes.

Tetapi ia masih berusaha, katanya, “Ampun Tuanku. Sekali ini hamba mohon dengan sangat, agar Tuanku sudi mendengarkannya.”

“Aku akan menjadi gila.”

“Seandainya Tuanku tidak mempunyai waktu, perkenankan hamba menyelesaikannya sendiri. Tetapi hamba ingin Tuanku memberikan keleluasaan kepada hamba untuk memilih jalan yang dapat hamba tempuh.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Hamba belum tahu Tuanku. Mungkin atas izin Tuanku hamba akan mempergunakan beberapa kekuatan prajurit, namun mungkin hamba terpaksa mempergunakan tebusan. Karena itu, seandainya Tuanku tidak berkeberatan, biarlah hamba menyelesaikan persoalan ini.”

“Oh, tidak. Tidak.” potong Akuwu Tunggul Ametung, “kau tidak boleh berbuat sendiri. Apalagi memboroskan kekayaan istana Tumapel. Kau tahu Ken Dedes, aku sedang berpikir bagaimana aku dapat menjadikan istana ini menjadi istana yang terbaik dan termegah di seluruh Kediri. Aku ingin kau memiliki sejumlah perhiasan yang paling berharga dari Permaisuri-permaisuri Akuwu di seluruh Kediri. Bahkan di dalam persidangan Agung nanti, apabila kau mendapat kesempatan untuk pergi bersamaku, bersama-sama dengan Permaisuri dari daerah-daerah lain diwilayah Kediri, kau akan menjadi seorang Permaisuri yang paling cantik. Kau akan menjadi Permaisuri yang memiliki segala macam perhiasan melampaui yang lain, bahkan harus melampaui Permaisuri Maharaja Kediri.”

Tetapi perlahan-lahan Ken Dedes menggelengkan kepalanya, “Itu sama sekali tidak perlu bagi hamba Tuanku.”

“Oh, alangkah bodohnya kau. Aku ingin kau menjadi Permaisuri tercantik. Aku ingin kau menjadi Permaisuri yang paling kajen keringan.”

“Tetapi itu sama sekali bukan untuk hamba. Tetapi itu semata-mata hanya sekedar untuk kebanggaan Tuanku. Untuk kepentingan Tuanku sendiri.”

“Ken Dedes.”

“Apabila Tuanku berpikir untuk kepentingan hamba, maka biarlah hamba menentukan semuanya itu sendiri meskipun menurut pertimbangan-pertimbangan Tuanku.”

“Tidak. Tidak. Kau tidak dapat berbuat menurut kehendakmu. Aku adalah Akuwu Tumapel. Bukan kau.”

Terasa dada Ken Dedes menjadi bergelora. Tiba-tiba tumbuhlah keberanian di dalam dirinya untuk memaksakan kehendaknya. Desakan yang ada di dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi. Karena itu maka katanya, “Benar Tuanku. Tuanku adalah Akuwu Tumapel. Tetapi ingatkah Tuanku, bahwa Tuanku pernah berkata kepada hamba, bahwa Tuanku telah menyerahkan apa saja yang Tuanku miliki kepada hamba? Bukankah itu berarti bahwa hambalah yang kini mempunyai kekuasaan atas segala-galanya, bahkan atas Tuanku Akuwu Tunggul Ametung sendiri. Tuanku telah berkata, apapun yang ada di dalam istana, bahkan seluruh milik dan kekuasaan Tuanku telah Tuanku berikan kepada hamba. Tidak hanya satu kali, tetapi berulang kali Tuanku katakan. Sejak aku pertama-tama masuk ke dalam istana ini. Kemudian, beberapa saat menjelang perkawinan, dan pada saat-saat perkawinan itu hampir berlangsung, ketika hamba mohon penundaan karena tiadanya Kakang Mahisa Agni. Nah, apakah Tuanku akan ingkar?”

Wajah Tunggul Amctung tiba-tiba menjadi merah, semerah soga. Terhentak ia berdiri. Tubuhnya menjadi gemetar dan wajahnya menegang. Sesaat justru ia terbungkam. Tetapi terasa darahnya seolah-olah mendidih di dalam dirinya. Apalagi ketika dilihatnya Ken Dedes tidak lagi menundukkan kepalanya, bahwa wajah Permaisuri itu kini terangkat seolah-olah menantangnya.

Tetapi justru karena itu maka sejenak Akuwu itu terdiam. Ia berdiri saja membeku dalam ketegangan. Tubuhnya bergetar oleh getaran jantung yang berdentangan di dalam dadanya.

Dalam keadaannya itu Akuwu Tunggul Ametung telah kehilangan pengendalian diri. Siapa pun yang berada didekatnya, ia tidak dapat mempertimbangkannya lagi. Kemarahannya benar-benar telah memuncak sampai di kepalanya.

Namun baru sejenak kemudian ia mampu berkata dengan suara yang terputus-putus, “Kau, kau berani berkata begitu kepadaku he anak Panawijen. Aku adalah Akuwu Tung¬gul Ametung. Aku telah mengambil kau dari lembah kepapaan masuk ke dalam istana ini. Sekarang kau, minta suatu yang tidak akan mungkin dapat kau miliki. Kekuasaan atas Tumapel.” Akuwu Tunggul Ametung terhenti sesaat justru karena kalimat-kalimat yang berdesakan ingin melontar keluar dalam waktu yang bersamaan. Namun saat itu ternyata telah dipergunakan oleh Ken Dedes yang justru menjadi semakin berani. “Tuanku. Hamba tidak pernah minta apa pun dari Tuanku sebelum ini. Sebelum hamba membicarakan masalah Kakang Mahisa Agni. Tetapi Tuanku sendirilah yang memberikannya kepada hamba. Meskipun demikian hamba tidak akan pernah mempergunakan segala macam wewenang karena akibat pelimpahan kekuasaan atas Tumapel itu dari Tuanku, seandainya Tuanku sudi mendengarkan permohonan hamba yang barangkali tidak akan berarti apa-apa bagi Tuanku dan sama sekali tidak akan mengganggu waktu dan terlampau banyak mempergunakan pikiran. Tetapi Tuanku sama sekali tidak berminat membicarakan Kakang Mahisa Agni. Seandainya, Kakang Mahisa Agni dibunuh sekalipun oleh Kuda Sempana maka hamba tidak akan menyesal, apabila Tuanku telah berusaha meskipun tidak berhasil. Tetapi Tuanku sama sekali tidak menaruh minat apapun atas satu-satunya keluarga hamba, satu-satunya orang yang mengerti tentang diri hamba.”

“Omong kosong.” bentak Akuwu Tunggul Ametung, “aku telah mencoba untuk menjadi orang yang paling dekat padamu. Untuk mengerti keadaanmu dan untuk menjadi pegangan hidupmu. Tetapi agaknya kau telah menyia-nyiakannya.”

“Hamba akan berterima kasih seandainya Tuanku mencoba, hanya mencoba untuk mengerti keadaan hamba. Tetapi Tuanku tidak berbuat demikian, sehingga hamba terpaksa menyebut-nyebut pelimpahan kekuasaan yang pernah Tuanku ucapkan.”

“Tidak. Tidak. Kau memang anak yang tidak tahu budi. Kau memang anak yang terlampau tamak, he, perempuan Panawijen.”

“Cukup.” tiba-tiba suara Ken Dedes melengking tinggi mengatasi suara Akuwu Tunggul Ametung. Sehingga Tung¬gul Ametung itupun terkejut. Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang terkejut, namun Ken Dedes sendiri pun terkejut karenanya.

Sejenak keduanya terbungkam. Namun sejenak kemudian Ken Dedes menundukkan kepalanya. Betapa ia mencoba bertahan, namun titik-titik air matanya berjatuhan satu-satu di atas pangkuannya.

Namun titik air mata itu sama sekali tidak dapat mendinginkan jantungnya yang serasa membara. Betapa sakit hatinya mendengar kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu. Betapa pedihnya luka yang hampir sembuh itu kini terkorek kembali.

Di antara isak tangisnya, terdengar Ken Dedes berkata, “Ya Tuanku. Tuanku benar. Hamba memang hanya sekedar seorang perempuan yang papa. Hamba memang berasal dari sebuah padepokan kecil di Panawijen. Tetapi apakah atas kehendak hamba maka hamba masuk kc dalam istana ini? Sebagai manusia hamba mempunyai perasaan dan nalar. Seandainya hamba dapat menyaput perasaan hamba dengan gemerlapnya kckayaan istana ini, seandainya luka dihati hamba dapat disembuhkan dengan emas, intan berlian yang tidak hanya tiga pengadeg . Seandainya, ya seandainya semua itu dapat mengobati hati hamba, maka hamba benar-benar seorang yang tidak tahu diri, orang yang tamak dan kerdil. Tetapi Tuanku, ketahuilah, bahwa semuanya itu tidak berarti apa-apa bagi luka dihati hamba. Tidak akan dapat menawarkan duka yang menghentak-hentak di dalam dada hamba. Yang dapat menjinakkan perasaan hamba saat itu satunya adalah kebaikan hati Tuanku. Tuanku aku anggap sebagai satu-satunya orang yang mengerti akan keadaan hamba, meskipun Tuanku pula yang telah melindungi Kuda Sempana mengambil hamba dari naungan orang tua hamba, sehingga orang tua hamba yang tinggal satu-satunya itu telah membuang diri dengan meninggalkan akibat yang parah bagi Panawijen. Ternyata orang tua hamba telah kehilangan keseimbangan berpikir karena hamba hilang dari padanya. Tetapi kini, ternyata hamba melihat Tuanku sebenarnya. Hamba melihat bahwa Tuanku tidak lebih dari manusia biasa.” Ken Dedes berhenti sejenak untuk menelan ludahnya yang serasa menyumbat kerongkongan. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung berdiri membeku. Namun ketegangan di wajahnya masih membayangkan hatinya yang panas. Tetapi Ken Dedes sudah tidak menghiraukannya lagi. Bahkan ia berkata terus meskipun ia kemudian menundukkan kepalanya pula, “Ternyata Tuanku adalah manusia biasa yang hanya dikuasai oleh pamrih. Hamba kini menduga bahwa bukan karena sesal, maka Tuanku melepaskan hamba dari tangan Kuda Sempana.”

“Ken Dedes.” Akuwu Tunggul Ametung memotong, tetapi Ken Dedes berkata terus dengan nada tinggi. “Tunggu Tuanku. Hamba belum selesai. Hamba hanya ingin mengatakan bahwa Tuanku adalah seorang manusia yang hanya melihat kepentingan diri. Tuanku hanya mengerti tentang keinginan Tuanku sendiri. Tuanku melepaskan hamba dari Kuda Sempana, Tuanku berjanji untuk melimpahkan segalanya kepada hamba, Tuanku memberikan bantuan kepada Kakang Mahisa Agni di Padang Karautan dan yang lain-lain ternyata hanya terdorong oleh nafsu Tuanku sendiri, supaya Tuanku dapat berbuat sekehendak hati Tuanku atas hamba.”

“Bohong, bohong.” Akuwu Tunggul Ametung berteriak. Hampir-hampir ia lupa diri dan meloncat menampar pipi Ken Dedes yang putih dan basah oleh air mata.

Tetapi untunglah bahwa ia masih mampu menahan dirinya meskipun dadanya serasa hampir meledak. Dengan lantangnya ia berkata dalam nada yang tinggi hampir melengking. “Oh, Ken Dedes. Kau anggap Mahisa Agni itu manusia yang paling utama di dunia ini sehingga kau bersedia mengorbankan segalanya untuknya. Kau anggap bahwa persoalannya adalah persoalan yang maha penting, melampaui persoalanmu sendiri sehingga hampir-hampir kau korbankan dirimu sendiri untuknya? Ken Dedes, apakah engkau tidak menyadari bahwa kini kau berhadapan dengan Akuwu Tunggul Ametung yang berkuasa tanpa batas di Tumapel atas nama Maharaja Kediri.”

“Hamba mengerti Tuanku.” jawab Ken Dedes. Meskipun matanya telah menjadi basah oleh air mata, tetapi kini ia menengadahkan wajahnya, “Tetapi yang penting bagi hamba, bukanlah terlepasnya Kakang Mahisa Agni.” Suara Ken Dedes menjadi bergetar karena hentakan jantungnya di dalam dada, “Sudah hamba katakan, bahwa seandainya Kakang Mahisa Agni terbunuh sekalipun hamba tidak akan menyesal apabila Tuanku telah berusaha berbuat sesuatu.”

“Oh begitu.” potong Tunggul Ametung, “Baik. Baik. Besok aku kerahkan seluruh pasukan Tumapel untuk mencari Kebo Sindet. Aku tidak akan gagal. Aku tidak perlu lagi mempersoalkan seperti berulang kali kau katakan, bahwa cara itu akan berbahaya bagi keselamatan Mahisa Agni.”

“Itu lebih baik dari pada Tuanku tidak berbuat apapun.” Ken Dedes menyahut, “tetapi apa yang Tuanku lakukan itu sama sekali tidak bersungguh-sungguh. Tuanku hanya melepaskan kemarahan dan luapan-luapan kejemuan saja.” Ken Dedes berhenti sejenak. Keringatnya telah memenuhi punggungnya sehingga kembannya menjadi kuyup seperti kainnya menjadi kuyup oleh air mata. “Yang penting bagi hamba Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, yang kini telah hamba ketahui adalah, bahwa Tuanku sama sekali tidak mencoba mengerti perasaan hamba. Tuanku tidak memperhatikan kepahitan perasaan hamba selama ini. Baik Tuanku sebagai Akuwu Tumapel, maupun sebagai Tuanku Tunggul Ametung, suami hamba.”

Darah Akuwu Tunggul Ametung serasa benar-benar telah mendidih. Tidak pernah ia berhadapan dengan seseorang yang berani menentang matanya apabila ia sedang marah, apalagi menjawab kata-katanya sepatah dengan sepatah.

Tetapi anak Panawijen yang telah dipungutnya dari kepapaan itu berani berbuat demikian terhadapnya. Ia berani menentang matanya dan berani membantah kata-katanya sepatah dengan sepatah.

Betapa luapan kemarahannya tidak tertahankan lagi. Matanya telah menjadi merah, dan giginya menjadi gemeretak. Tangannya bergetar seakan-akan istana ini akan diruntuhkannya. Dan yang berada di hadapannya itu tidak lebih dari perempuan Panawijen. Perempuan padesan.

Tiba-tiba saja Akuwu Tunggul Ametung kehilangan segala macam pertimbangannya. Ia tidak lagi dapat mengekang diri. Ia tidak lagi melibat bahwa yang duduk dihadapannya itu hanyalah sekedar seorang perempuan, namun perempuan itu adalah Permaisurinya sendiri.

Dalam kegelapan hati, maka Akuwu itu melangkah maju. Tangannya sudah bergetar. Hampir saja ia berteriak dan menunjuk hidung Ken Dedes, dan mengucapkan umpatan yang paling menyakitkan hati.

Tetapi langkah itu tiba-tiba terhenti. Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Sejenak ia berdiri mematung, namun kemudian Akuwu Tunggul Ametung yang perkasa itu melangkah surut. Tubuhnya kian bergetar dan keringat dinginnya semakin banyak mengalir dipunggungnya.

Ken Dedes yang duduk dengan gemetar, karena kemarahan dan kekecewam yang membara didadanya, tiba-tiba menjadi heran. Ia sudah pasrah atas apa saja yang akan dilakukan Akuwu itu atasnya, bahkan dibunuh sekalipun, la tidak akan menghindar. Ia hanya ingin Akuwu Tunggul Ametung mendengar perasaan yang selama ini menyesak di dadanya. Dan itu sudah ditumpahkannya. Ia sudah cukup puas, meskipun akibatnya akan sangat berbahaya baginya.

Ia sudah meredupkan matanya ketika Akuwu Tunggul Ametung melangkah maju, meskipun dadanya tetap tengadah. Ia tidak perlu melihat tangan Akuwu yang mungkin akan mencengkam lehernya.

Tetapi tiba-tiba langkah Akuwu itu tertegun. Bahkan kemudian ia melihat Akuwu Tunggul Ametung itu melangkah surut. Setapak demi setapak. Wajahnya yang membara segera berubah menjadi pucat sepucat mayat meskipun masih dalam ketegangan. Matanya yang membelalak seolah-olah akan meloncat dari pelupuknya.

Dengan gemetar Akuwu itu memalingkan wajahnya. Tangannya seolah-olah ingin menolakkan sesuatu yang meloncat dari wajah Ken Dedes yang keheranan.

“Tidak. Tidak.” teriak Akuwu itu.

Ken Dedes menjadi semakin heran. Akuwu itu melangkah semakin jauh dari padanya.

“Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

Ken Dedes yang keheranan itu kemudian menjadi cemas. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Tetapi ia melihat Akuwu itu seakan-akan berada di dalam ketakutan yang amat sangat. Akuwu Tunggul Ametung yang perkasa. Yang tidak pernah gentar melihat lawan yang betapapun kuatnya. Bahkan seorang yang telah mampu membunuh seekor gajah yang sedang mengamuk hanya seorang diri.

Betapa kemarahan dan kekecewaan membakar dada Ken Dedes, namun ia menjadi sangat cemas melihat keadaan Akuwu Tunggul Ametung. Apabila terjadi sesuatu atasnya, maka ialah yang akan bertanggung jawab. Di dalam ruangan itu hanyalah ada mereka berdua saja. Sedangkan para emban dan pelayan, pasti ada yang mendengar pertengkaran mereka. Tetapi lebih daripada itu, bagaimanapun juga Akuwu Tunggul Ametung itu adalah suaminya.

Karena itu, maka perlahan-lahan ia berdiri. Selangkah ia maju sambil berdesis, “Tuanku. Tuanku. Kenapakah Tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung itu justru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya menjadi gemetar dan keringat dinginnya menjadi semakin banyak mengalir.

“Tuanku.” terdengar suara Ken Dedes lirih.

“Tidak. Tidak Ken Dedes, aku tidak akan berluat apa-apa atasmu.”

“Ya, Tuanku.” sahut Ken Dedes, “hamba tahu. Tuanku tidak akan berbuat apa-apa atas hamba. Tetapi kenapa Tuanku menjadi seolah-olah ketakutan.”

“Hentikan Ken Dedes. Hentikan.”

Ken Dedes menjadi semakin heran. Kini ia berdiri di belakang Akuwu Tunggul Ametung yang masih saja menutupi wajahnya yang pucat dengan kedua tangannya.

“Ampun Tuanku. Apakah yang sudah hamba perbuat? Hamba tidak berbuat apa-apa seperti Tuanku juga tidak akan berbuat apa-apa atas hamba.”

“Oh.” Akuwu Tunggul Ametung mencoba menenangkan hatinya yang seolah-olah dicengkam oleh kecemasan yang sangat. “Aku melihatnya lagi. Aku melihatnya lagi. Lebih dahsyat dari yang pernah aku lihat. Terasa betapa panasnya. Kepalaku hampir terbakar olehnya.”

“Apakah yang Tuanku lihat?” bertanya Ken Dedes yang menjadi semakin heran pula.

Akuwu Tunggul Ametung menarik napas dalam-dalam. Ditengadahkannya wajahnya. Tetapi ia masih belum berani berpaling, “Panas sekali. Panas sekali.”

“Apakah yang panas Tuanku.”

“Wajahku.”

“Oh.” Ken Dedes berkata lembut, “mungkin Tuanku menjadi sangat marah. Tuanku telah dibakar oleh perasaan sendiri. Seperti kebanyakan orang yang sedang diamuk oleh kemarahan, seperti hamba pula, maka wajah ini akan menjadi panas.”

Akuwu Tunggul Ametung tidak segera menyahut. Tetapi jawaban Ken Dedes itu mengherankannya pula. Dengan demikian ia mendapatkan kesimpulan, bahwa Ken Dedes sama sekali tidak sengaja berbuat sesuatu.

“Lalu bagaimanakah hal itu dapat terjadi?” pikirnya.

Perlahan-lahan Akuwu Tunggul Ametung berpaling. Ia melihat Ken Dedes berdiri tegak dibelakangnya. Ken Dedes seperti yang selalu dilihatnya. Seperti yang pernah dilihatnya di Panawijen, seperti yang sehari-hari dilihatnya di istana. Seperti yang baru saja dibentak-bentaknya. Tetapi yang tiba-tiba saja Permaisuri itu seolah-olah menjadi orang yang lain, yang menakjubkan menurut penglihatannya. Anak Panawijen, puteri seorang pendeta itu seolah-olah berubah menjadi gumpalan cahaya yang menyilaukannya. Bahkan terasa betapa panasnya. Akuwu Tunggul Ametung pernah melihat dari tubuh Ken Dedes itu memancar cahaya yang silau. Tetapi sesaat tadi ia melihat bukan saja sekedar cahaya yang silau, yang memancar dari bagian-bagian tubuhnya. Kali ini ia melihat Ken Dedes itu dalam keseluruhannya telah memancarkan cahaya yang menyilaukan, bahkan terasa panas di wajahnya.

Akuwu Tunggul Ametung kini berdiri termangu-mangu. Ken Dedes yang kini adalah Ken Dedes Permaisurinya. Yang memandangnya dengan penuh keheranan namun juga kecemasan.

“Apakah yang telah terjadi Tuanku?” bertanya Ken Dedes pula.

Akuwu Tunggul Ametung menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengambil kesimpulan bahwa Ken Dedes sendiri tidak menyadari apa yang telah terjadi dengan dirinya. Karena itu maka Akuwu itupun menjawab, “Tidak apa-apa. Aku hampir-hampir lupa diri dan berbuat di luar kesadaran. Maafkan aku.”

“Tuanku tidak bersalah. Tuanku adalah seorang yang paling berkuasa di Tumapel. Tuanku dapat berbuat apa saja sekehendak Tuanku.”

Akuwu itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat mengingkari penglihatannya. Ia sadar bahwa Ken Dedes memang bukan sekedar seorang anak yang dipungutnya dari kepapaan. Seorang anak padepokan yang kecil.

Akuwu itu pernah mendengar dari seseorang tua bahwa orang yang bercahaya dari dalam dirinya, adalah seorang yang linuwih. Seorang yang dari dalam dirinya seolah-olah memancar api yang paling panas dan menyorotkan sinar yang paling terang, ia adalah seorang pilihan yang kelak akan menurunkan orang-orang besar.

“Apakah Ken Dedes juga akan dapat menurunkan orang besar?” berkata Akuwu itu di dalam hatinya, “lebih besar dari aku? Bahkan sebesar Raja Kediri?”

Dada Tunggul Ametung menjadi berdebar-debar.

Jika demikian, maka Ken Dedes harus merasa dirinya berbahagia di istana ini. Ia harus menjadi seorang Permaisuri yang dapat memberi keturunan kepadaku. Anakku akan mewarisi anugerah yang mengalir di tubuh Ken Dedes.

Karena itu maka tiba-tiba Tunggul Ametung itu berkata, “Ken Dedes. Baiklah. Baiklah aku akan berusaha untuk melepaskan Mahisa Agni.”

Ken Dedes terkejut mendengar keputusan Akuwu Tunggul Ametung yang tiba-tiba itu. Sejenak ia berdiri saja terpaku di tempatnya. Karena jantungnya yang berdebar-debar terlampau cepat, maka Permaisuri itu seolah-olah menjadi beku di tempatnya.

“Ken Dedes.” berkata Akuwu itu, “kau dengar? Aku akan berusaha melepaskan Mahisa Agni. Tetapi aku harus berhati-hati supaya usaha itu tidak gagal karena keingkaran. Baik Kebo Sindet yang mengambil Mahisa Agni, maupun Jajar yang gemuk itu.”

Ken Dedes tidak segera menyahut. Ia melangkah surut dan perlahan-lahan duduk ditempatnya kembali.

Terasa sesuatu kini bergetar di dalam dadanya. Ia merasa gembira atas keputusan itu, tetapi ia tidak dapat menyingkirkan perasaan kecewa yang telah mencengkam jantungnya.

Keputusan Akuwu tiba-tiba saja berubah itu menumbuhkan berbagai persoalan di dalam diri Ken Dedes. Apalagi ia menyaksikan sikap Akuwu yang tidak wajar, seolah-olah orang yang perkasa itu menjadi ketakutan.

“Apakah yang membuatnya ketakutan?” pertanyaan itu selalu timbul saja di dalam dirinya, “agaknya ketakutannyalah yang telah memaksanya untuk merubah keputusan. Bukan karena kesadaran di dalam dirinya bahwa seharusnya ia mengerti tentang perasaanku, perasaan seorang isteri.”

Terasa perasaan kecewa masih saja selalu mengganggu Permaisuri itu. Meskipun ia tidak tahu, apakah yang menyebabkan Akuwu menjadi seolah-olah ketakutan, tetapi dengan demikian maka Ken Dedes masih saja menganggap bahwa Akuwu itu berbuat demikian karena kepentingan diri semata-mata. Untuk menghindarkan dirinya dari ketakutan yang agaknya sangat mengganggunya.

Tetapi seharusnya ia tidak menolak kesempatan itu. Apa pun yang menyebabkannya, namun setiap kesempatan untuk melepaskan Mahisa Agni harus diterimanya sebaik-baiknya.

Ken Dedes itu kemudian mendengar Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Bagaimana Ken Dedes. Apakah kau mendengar bahwa aku akan berusaha melepaskan Mahisa Agni?”

Ken. Dedas menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Hamba Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih atas kesempatan itu.”

“Tetapi aku tidak akan berbuat tergesa-gesa. Aku akan melihat setiap kemungkinan. Aku harus yakin bahwa aku tidak berada di jalan yang salah.”

“Hamba Tuanku. Hamba kira Tuanku tidak akan kekurangan cara untuk berusaha membebaskan Kakang Mahisa Agni.”

“Ya, ya. Aku akan berusaha.”

“Terima kasih Tuanku, hamba mengharap bahwa usaha itu akan segera berhasil. Agaknya orang-orang yang mengambil Kakang Mahisa Agni itu sudah tidak dapat bersabar lagi menunggu.”

“Ya ya. Aku akan berbuat secepat-cepatnya.” berkata Akuwu itu kemudian, “Nah, sekarang pergilah tidur. Beristirahatlah supaya hatimu menjadi tenang. Kau adalah seorang Permaisuri. Kau adalah bulan di langit yang gelap, bagi Tumapel. Kalau kau menjadi suram, maka Tumapel menjadi suram. Kalau kau menjadi cerah, maka Tumapel akan menjadi cerah.”

“Kalau Tuanku telah melenyapkan awan yang menyaput bulan, maka bulan akan menjadi selalu cerah.”

“Ah.” Akuwu Tunggul Ametung berdesah. “Baiklah, baiklah.”

Sejenak kemudian maka Permaisuri itupun segera kembali ke biliknya. Di luar biliknya, duduk emban tua pemomongnya. Ketika emban itu melihat Ken Dedes mendatanginya, maka dengan tergesa-gesa diusapnya air yang mengambang di matanya.

“Kenapa kau bibi?” bertanya Ken Dedes, “apakah kau menangis?”

“Tidak Tuan Puteri. Hamba tidak menangis.”

“Tetapi pipimu basah bibi.”

Emban tua itu menggeleng, “Tidak Tuan Puteri. Hamba hanya terlampau mengantuk. Hamba tidak tahu, apakah sebabnya.”

“Kau mengelak bibi. Apakah kau mendengar pertengkaranku dengan Tuanku Akuwu, dan kau menangis karenanya? Lalu kau mendahului aku kemari?”

Emban tua itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Ken Dedespun kemudian tidak bertanya lagi. Ia langsung masuk ke dalam biliknya dan emban itupun mengikutinya di belakangnya. Kemudian dibantunya Permaisuri itu melepaskan pakaiannya untuk berganti dengan pakaian tidurnya.

“Akuwu telah menyatakan kesediaannya, bibi.” berkata Ken Dedes itu kemudian, “tetapi aku belum tahu, apa yang akan dikerjakannya?”

Emban itu tidak menyahut. Tetapi ia tidak berani mengangkat wajahnya.

“Mudah-mudahan Akuwu berhasil.” desis Ken Dedes kemudian.

Tetapi emban tua itu tidak pula menjawab. Ketika Ken Dedes berpaling ke arahnya dilihatnya setitik air jatuh di lantai.

“Kau menangis lagi bibi?” Ken Dedes menjadi heran.

Emban tua itu tidak dapat ingkar lagi. Titik-titik air telah merayap dipipinya yang sudah berkerut-merut.

“Kenapa kau menangis?”

“Hamba terharu mendengar keputusan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, Tuan Puteri.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagi Ken Dedes, emban itu adalah seorang yang bergaul dengan Mahisa Agni sejak anak muda itu masih kanak-kanak. Karena itu maka pasti telah tumbuh ikatan batin pula di antara keduanya. Di antara Mahisa Agni dan emban tua itu. Karena itu dibiarkannya saja emban itu menitikkan air matanya, sambil membenahi pakaian yang baru dilepasnya.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka emban itu pun meninggalkan bilik Ken Dedes. Permaisuri itu berbaring diatas pembaringannya. Tetapi matanya seakan-akan tidak mau terpejam. Angan-angannya masih saja berkeliaran kemana-mana, Mahisa Agni, Padang Karautan, Akuwu Tunggul Ametung dan orang-orang yang telah menyembunyikan Mahisa Agni.

Namun karena letihnya, maka semakin lama maka mata yang bulat itu pun menjadi semakin redup. Bayangan cahaya pelita di dinding ruangan itupun tampaknya menjadi semakin kabur. Akhirnya Ken Dedes itupun tertidur.

Dihari berikutnya Ken Dedes menunggu saja dengan cemas, apakah yang sudah dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung. Ia tidak berani bertanya lagi, seolah-olah ia tidak percaya akan kesanggupan Akuwu. Tetapi Akuwu tidak menyebut-nyebutnya lagi. Akuwu tidak mengatakan kepadanya, usaha apakah yang sudah dilakukan. Meskipun demikian Ken Dedes masih mengharap bahwa Akuwu telah berbuat dengan diam-diam.

Dihari itu Ken Dedes hampir tidak keluar dari biliknya. Ia duduk saja dengan hati yang berdebar-debar. Emban pemomongnya mengawaninya dengan telaten, meskipun sebenarnya hatinya sendiri dicengkam oleh kecemasan yang dahsyat. Namun, apabila ia selalu berada di samping Ken Dedes, maka ia mengharap bahwa ia akan ikut serta mendengar perkembangan selanjutnya.

Tetapi hari itu Akuwu Tunggul Ametung sama sekali tidak mengatakan apapun tentang usahanya melepaskan Mahisa Agni.

Meskipun demikian Ken Dedes masih tetap berharap, kalau tidak hari ini, besok atau lusa Akuwu pasti akan berbuat sesuatu. Mungkin Akuwu merasa tidak perlu lagi minta pertimbangan-pertimbangan dari padanya. Mungkin Akuwu akan mengejutkannya, dengan membawa kepadanya Mahisa Agni yang sudah terbebaskan.

“Tetapi mungkin. . .” Ken Dedes tidak berani, mendengar suara hatinya sendiri. Dicobanya untuk mengusir kecemasan yang menyesak di dalam dirinya. Tetapi ia tidak pernah berhasil.

“Ada juga baiknya aku tidak tercengkam oleh kegelisahan ini.” katanya di dalam hati, “dengan kegelisahan, kecemasan dan prasangka-prasangka, Kakang Mahisa Agni tidak akan dapat tertolong.”

Tetapi sampai saat matahari lingsir ke Barat dan kemudian bertengger di atas punggung bukit, Akuwu Tunggul Ametung tidak mengatakan apapun. Dan Ken Dedes masih harus bersabar menunggu sampai besok.

Di pertamanan Jajar gemuk yang telah berhasil menghubungi Permaisuri itu pun menunggu dengan gelisahnya. Ternyata Ken Dedes sama sekali tidak turun ke taman. Bahkan embannya pun sama sekali tidak ada yang diutusnya untuk menyampaikan pesan apapun kepadanya.

“Eh.” desis Jajar yang gemuk itu, “kenapa Permaisuri tidak memanggil aku atau mengirimkan pesannya kepadaku.”

Ketika kawan-kawannya telah siap pergi meninggalkan taman, ia masih saja duduk di bawah pohon sawo kecik sambil menahan kegelisahannya. Ia sama sekali tidak ingin meninggalkan taman itu sebelum dapat bertemu dengan Ken Dedes, ia sudah ditelan oleh mimpinya, perhiasan yang tidak ternilai harganya.

“He.” sapa temannya yang kemarin akan berkelahi dengan Jajar yang gemuk itu, “apakah kau tidak pulang?”

Jajar yang gemuk itu menggeleng. “Tidak.” dan diluar sadarnya, terdorong oleh kesombongannya ia berkata, “Aku menunggu Permaisuri.”

“Untuk apa?”

“Aku mempunyai janji dengan Permaisuri. Setidak-tidaknya Permaisuri akan mengirimkan pesannya lewat embannya.”

“He.” kedua kawannya saling berpandangan, “apakah Permaisuri berjanji akan turun ketaman menemuimu.”

“Ya.”

“Hari ini?”

“Ya.”

Sekali lagi kedua Jajar itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka berkata, “Bukan saatnya lagi Permaisuri turun ketaman. Lihat, matahari hampir terbenam.”

Jajar yang gemuk itu tidak menjawab. Tetapi ia masih saja duduk bersandar pohon sawo kecik di taman istana Tumapel.

Kedua kawannya segera meninggalkannya. Di regol mereka saling berbisik, “O. Jajar itu benar-benar telah gila. Agaknya, kesempatan yang diberikan oleh Permaisuri kemarin telah membuatnya semakin gila. Ia menunggu Permaisuri atau utusannya untuk menyampaikan pesan kepadanya.”

Tiba-tiba keduanya tertawa hampir meledak. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Jajar yang duduk bersandar pohon sawo itu memandangnya dengan tajam. Bahkan kemudian mengacungkan tinjunya kepada kedua kawannya.

Tetapi kedua kawannya masih saja tertawa. Perlahan-lahan mereka meninggalkan taman itu, dan hari pun menjadi semakin suram.

Jajar yang menunggu itu pun menjadi terlampau kecewa. Ia masih juga mengharap seseorang muncul diregol pertamanan dan menyampaikan pesan kepadanya. Tetapi sampai hari menjadi gelap, tidak seorangpun yang datang.

“Gila.” desisnya. Ia kehilangan harapan bahwa hari itu Permaisuri akan datang kepadanya membawa tiga pengadeg perhiasan.

“Setidak-tidaknya dua pengadeg .” desisnya.

Jajar itu menggeliat. Lalu berdiri bertolak pinggang. “Apakah aku membuat harga tebusan terlampau mahal sehingga Permaisuri itu lebih senang mengorbankan kakaknya?” Jajar itu menyesal karenanya. Desisnya, “Kalau aku berjumpa dengan Permaisuri aku akan menurunkan tawaranku.”

Akhirnya Jajar itupun meninggalkan taman itu dengan hati kecewa. Bahkan ia bersungut-sungut perlahan, “Bukan salahku kalau Mahisa Agni besok dipenggal kepalanya atau digantung dialun-alun. Bukan salahku. Aku sudah memberikan jasa-jasa baikku untuk kepentingan kemanusiaan, melepaskan Mahisa Agni dari tangan setan-setan itu.”

Ketika Jajar itu keluar dari istana, hari sudah mulai gelap. Diregol-regol ia melibat beberapa orang prajurit memandanginya dengan heran. Bahkan ialah seorang dari padanya bertanya, “He, juru taman, kenapa kau baru pulang?”

Juru taman yang sedang kecewa itu menjawab acuh tak acuh, “Aku tertidur.” Dan Jajar itu sama sekali tidak memperhatikannya lagi ketika para prajurit itu tertawa.

Kekecewaannya telah mendorongnya untuk berjalan tergesa-gesa. Tetapi di sebuah tikungan ia terhenti. Hampir-hampir ia melonjak karena terperanjat . Tanpa diduga-duga, dihadapannya, di dalam keremangan malam ia melihat bayangan yang bergerak-gerak. Semakin lama semakin dekat. Tidak hanya sesosok bayangan, tetapi dua. Dan keduanya itu berjalan mendekatinya.

Jajar itu masih berdiri tegak di tempatnya. Ia menunggu dua sosok bayangan itu menjadi semakin dekat. Meskipun ia belum tahu siapakah keduanya, tetapi Jajar gemuk itu segera mempersiapkan dirinya, seandainya dua orang itu bermaksud jahat kepadanya.

“Apakah keduanya adalah kawan-kawanku yang iri hati?” Jajar itu berdesis di dalam hatinya. “Atau bahkan sama sekali tidak berkepentingan dengan aku. Keduanya hanya orang-orang lewat saja seperti aku?”

Tetapi Jajar itu melihat keduanya di tengah-tengah jalan, seakan-akan sengaja mencegatnya di tempat itu, di tikungan yang gelap itu.

Darahnya serasa berhenti ketika ia mendengar salah seorang dari kedua bayangan itu menyapanya, “Selamat malam Ki Sanak.”

Terasa bulu-bulu Jajar yang gemuk itu serentak berdiri. Sapa itu benar-benar telah membuat dadanya bergetar. Ia segera menyadari, bahwa yang berdiri dihadapannya itu adalah Kuda Sempana dan kawannya yang wajahnya seperti wajah mayat yang beku.

Jajar itu tidak segera menjawab. Dicobanya mengamati keduanya dengan saksama. Dan semakin lama ia semakin jelas, bahwa sebenarnyalah yang berbicara kepadanya itu adalah kawan Kuda Sempana yang berwajah beku sebeku mayat.

“Apakah kau baru pulang?” bertanya Kebo Sindet.

“Ya.” sahut Jajar itu.

“Aku menunggumu terlampau lama disini.” berkata Kebo Sindet kemudian. “Bukankah tidak biasa kau pulang sampai malam begini?”

“Ya.” sahut Jajar itu.

“Kenapa kau pulang terlampau malam?” bertanya Kebo Sindet pula.

“Aku menunggu Permaisuri. Tetapi Permaisuri hari ini tidak pergi ketaman. Aku ingin mendengar penjelasan tentang permintaanmu itu.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku menunggu kau disini untuk kepentingan itu juga. Seandainya kau sudah mendapat kabar apalagi mendapatkan barangnya, aku akan menjadi senang sekali. Tetapi bagaimana ?”

“Sudah aku katakan. Aku belum dapat bertemu dengan Permaisuri hari ini.”

Kebo Sindet tidak segera menyahut. Namun kebekuan wajahnya membuat Jajar itu menjadi berdebar-debar. “Apakah aku berhadapan dengan hantu?” desisnya di dalam hati.

“Baiklah.” berkata Kebo Sindet, “kau masih mempunyai waktu empat hari lagi.”

“Tetapi bagaimana apabila dalam empat hari ini Permaisuri tidak pergi ketaman?”

Jajar itu menjadi heran ketika ia melibat Kebo Sin¬dent itu menengadahkan wajahnya. Sejenak. Dan sejenak kemudian orang itu menjawab pertanyaan Jajar yang gemuk itu. Tetapi sekali lagi Jajar itu menjadi heran. Jarak mereka tidak begitu jauh, hanya beberapa langkah saja, tetapi Kebo Sindet berkata terlampau keras. “Waktumu tinggal empat hari lagi Ki Sanak. Apa bila empat hari ini kau tidak berhasil, maka perjanjian kita batal.”

Jajar yang keheranan itu bertanya, “Apakah akibat dari pembatalan perjanjian ini?”

“Tidak ada akibat apa-apa. Kita masing-masing dapat berbuat sekehendak kita sendiri. Kita tidak terikat lagi oleh perjanjian apapun.”

“Dan kau dapat menghubungi orang lain lagi untuk keperluan ini?”

“Tentu. Aku dapat menghubungi orang lain yang akan lebih dapat aku harapkan dari padamu.”

“Aku minta waktu.”

“Waktumu masih empat hari. Kau harus berkata Per¬maisuri, bahwa nasib Mahisa Agni tergantung pada kesediaannya. Tidak ada pembicaraan lain. Kau mengerti?”

“Sejak kemarin aku sudah mengerti. Tetapi kau pun harus mengerti bahwa tidak setiap hari Permaisuri pergi ke taman, dan persoalan yang dihadapinya bukan hanya persoalan Mahisa Agni saja. Apa lagi Akuwu Tunggul Ametung.”

“Aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Aku memberi waktu lima hari. Sehari sudah lampau, maka yang tinggal adalah empat hari lagi.”

“Cobalah mengerti.”

“Aku tidak ingin tawar menawar mengenai waktu. Kalau barang-barang yang aku kehendaki sudah ada di tanganku, maka kita dapat mengadakan tawar menawar, berapa banyak aku dapat memberimu selain yang kau dapatkan dari usahamu sendiri.”

“Kau mementingkan dirimu sendiri.” bantah Jajar itu, “aku sudah berusaha dan akan terus berusaha. Tetapi seandainya aku mundur sehari dua hari bagaimana?”

“Tidak. Tidak ada waktu lagi.”

Jajar itu terdiam sejenak. Pikirannya saat itu hanya dicengkam oleh kegelisahan, apabila dalam empat hari ini Permaisuri tidak hadir ditaman, sehingga ia tidak sempat memikirkan persoalan-persoalan yang lain.

“Sudahlah. Pulanglah meskipun tidak ada seorang pun yang menunggu di rumah. Mungkin kau akan segera tidur, atau kau masih mempunyai acara-acara lain, berkeliaran di sepanjang jalan-jalan gelap dan pergi mengunjungi rumah-rumah perjudian.”

“Aku tidak pernah berjudi.”

“Jangan membohongi aku, pergilah.”

Jajar itu tidak sempat menjawab. Kebo Sindet dan Kuda Sempana yang seolah-olah seperti orang bisu itupun kemudian meninggalkannya dan hilang di dalam kegelapan.

“Setan alas.” Jajar yang gemuk itu mengumpat sendiri. Perlahan-lahan ia mengayunkan kakinya meneruskan langkahnya. Tetapi sekali lagi ia tertegun ketika ia mendengar gemerisik dedaunan di pinggir jalan.

Jajar yang gemuk itu mencoba untuk melihat kearah suara itu. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Malam menjadi semakin gelap dan suara gemerisik itu berasal dari dalam bayangan gerumbul-gerumbul yang pekat hitam.

Tetapi Jajar itu mendengar desir dipinggir jalan itu semakin lama semakin jauh.

“Ada yang mengintip pembicaraanku.” desisnya.

Dada Jajar itu menjadi berdebar-debar. Berbagai dugaan membayang di kepalanya.

“Siapakah yang mencoba untuk mengintip itu?” ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah kawan-kawanku yang iri hati itu? Juru taman yang bodoh dan sombong? Atau prajurit-prajurit yang melihat Permaisuri berbicara dengan aku mengikutiku dan ingin mendengar persoalanku dengan Permaisuri? Atau mungkin kawan-kawan Kuda Sempana yang mengawasinya? Seandainya aku berusaha untuk menangkapnya, maka ia memerlukan kawan untuk membantunya. Hem, mungkin Kuda Sempana mengetahui dan merasa, bahwa ia berdua bersama kawannya yang wajahnya sebeku mayat itu tidak sanggup melawan aku seorang.”

Jajar yang gemuk itu masih berdiri tegak ditempatnya. Ia yakin bahwa suara gemerisik itu adalah suara langkah orang yang tersuruk-suruk pergi menjauh.

Tiba-tiba pertanyaan di dalam dirinya berkisar kepada sikap kawan Kuda Sempana yang wajahnya dapat menegakkan bulu-bulunya. Orang itu menengadahkan wajahnya dan memiringkan kepalanya seolah-olah mencoba menangkap sesuatu dengan pendengarannya. Kalau demikian apakah orang itu mendengar juga suara desir dipinggir jalan itu? Lalu apakah sebabnya maka suaranya menjadi kian mengeras dan seolah-olah dengan sengaja diperdengarkan kepada orang-orang yang sedang mengintainya?

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. “Ah.” sekali lagi ia berdesah, “kalau begitu maka orang-orang ini adalah kawan-kawan Kuda Sempana. Mereka ingin memancing ke keruhan, kemudian bersama-sama mengeroyok aku.”

Jajar yang gemuk itu mengangkat dadanya. “Hem.” ia menarik nafas dalam-dalam, “agaknya Kuda Sempana dan kawannya itu mampu menilai, siapakah aku. Mereka terpaksa memanggil kawan-kawannya untuk menghadapi aku seorang diri.”

Jajar itu kemudian mengayunkan kakinya, melangkah perlahan-perlahan pulang kerumahnya.

Tetapi sekali lagi ia tertegun, sehingga langkahnya terhenti. Bukan karena ia mendengar langkah orang lain, bukan karena ia melihat sesosok bayangan, tetapi ia tersentak oleh pikirannya sendiri. “Kalau orang-orang itu kawan-kawan Kuda Sempana yang sengaja memancing kekeruhan, lalu apa pamrihnya? Aku belum berhasil membawa apapun dari istana.”

Wajah Jajar itu menjadi tegang. Tiba-tiba ia sampai pada suatu kesimpulan yang mendirikan bulu romanya. “O, mereka sedang menunggu aku. Kalau aku membawa perhiasan itu, maka mereka akan beramai-ramai menangkapku dan membunuhku. Mungkin aku akan dibantainya seperti membantai sapi di pembantaian.”

Terasa tubuh Jajar itu menjadi gemetar. Dan tanpa sesadarnya ia berpaling, seolah-olah ada orang yang sedang mengikutinya. Meskipun kemudian ia tidak melihat seorangpun, namun hatinya masih juga berdebar-debar.

“Setan alas.” ia mengumpat. Dan sejenak kemudian maka ia pun segera berjalan cepat-cepat pulang kerumahnya.

Dihari berikutnya, pagi-pagi benar Jajar itu telah berada di taman. Jauh sebelum waktunya, sehingga para prajurit yang sedang bertugas menjadi heran. Apalagi kedua kawan-kawannya, juru taman yang hampir-hampir saja berkelahi dengan Jajar yang gemuk itu. Ketika mereka datang, mereka melihat juru taman itu telah duduk bersandar pohon sawo kecik.

“He.” bisik salah seorang dari padanya, “orang yang gemuk itu benar-benar telah menjadi gila. Agaknya ia sudah, jemu hidup.”

“Aku tidak tahu, bagaimana jalan pikiran orang gila itu. Mungkin ia pernah bertemu Permaisuri sebelum berada di istana ini.”

“Nasibnya akan jauh lebih jelek dari Kuda Sempana yang pernah menjadi gila karena Permaisuri itu pula.”

Keduanya berusaha untuk menahan tertawa mereka, supaya tidak menyinggung perasaan kawannya yang dianggapnya sedang gila itu. Tetapi mereka tidak mangerti, apakah yang menyebabkan Jajar itu menjadi gila.

Tanpa menyapa, maka kedua kawannya itu langsung melakukan pekerjaan mereka. Dibiarkannya Jajar yang gemuk itu duduk saja bersandar pohon sawo kecik.

Ternyata yang bergolak di kepala Jajar itu kini menjadi semakin kisruh. Ia tidak saja digelisahkan oleh sikap Permaisuri yang agaknya acuh tidak acuh, tetapi juga oleh suara gemerisik di tikungan ketika ia bertemu dengan Kuda Sempana dan Keho Sindet.

Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, Jajar itu menjadi semakin gelisah. Ia tidak melibat seorang pun turun dari serambi belakang istana dan berjalan ke taman. Meskipun ia hampir mati karena debar jantungnya, namun Permaisuri tidak juga kunjung datang.

Sementara itu, Permaisuri pun menjadi gelisah pula di biliknya. Akuwu Tunggul Ametung masih belum mengatakan apa yang dilakukannya. Dengan demikian maka kekecewaan dihatinya semakin menjadi tebal pula. Akuwu Tunggul Ametung ternyata hanyalah seorang yang berbuat sesuka hatinya untuk kepentingan dirinya sendiri. Persoalan-persoalan yang tidak langsung menyangkut kepentingannya, tidak akan banyak mendapat perhatian. Seandainya Mahisa Agni itu bukan kakak angkatnya, maka perhatiannya pasti akan hilang sama sekali terhadap persoalan yang demikian. Sehingga seandainya kini Akuwu Tunggul Ametung berbuat sesuatu, itupun sekedar untuk kepentingan dirinya sendiri, supaya ia tidak selalu terganggu oleh kemuraman Permaisurinya.

Tetapi Ken Dedes masih mencoba menyabarkan dirinya. Ia masih belum akan bertanya kepada Akuwu Tunggul Ametung, apa yang sudah dilakukannya. Meskipun hatinya selalu dicengkam oleh kegelisahan, namun ia masih bertahan dan mencoba untuk tidak berwajah muram.

Matahari yang semakin tinggi akhirnya ngglewang disebelah Barat. Sinarnya menjadi kemerah-merahan dan akhirnya pudar sama sekali dibalik Gunung.

Jajar gemuk yang menunggu Permaisuri di taman benar-benar menjadi bingung. Ia tidak dapat lagi duduk dengan tenang. Sekali-sekali ia berdiri, berjalan mondar-mandir. Setiap kali dijenguknya di regol pertamanan apabila ia mendengar langkah seseorang. Tetapi yang lewat adalah Pelayan Dalam yang bersenjata, atau prajurit Pengawal Istana.

“Setan alas.” Jajar itu mengumpat, “mereka selalu mengganggu saja.”

Tetapi yang ditunggunya, Permaisuri atau utusannya, tidak juga kunjung datang.

“Apakah Permaisuri benar-benar merelakan kakaknya itu?” berkata Jajar itu di dalam hatinya, “mungkin tawaranku benar-benar terlalu tinggi, sehingga tidak ada seorang pun yang nilainya sama seperti tuntutanku. O, kalau aku sempat betemu, maka tuntutan itu akan aku turunkan. Dua pengadeg sudah cukup. Atau kalau masih terasa terlampau tinggi, satu setengah pengadeg saja. Ah, barangkali cukup sepengadeg ditambah dengan beberapa potong perhiasan. Bahkan apabila perlu, sepengadeg saja sudah cukup. Aku tidak akan menyerahkannya kepada Kebo Sindet. Aku harus menemukan jalan untuk menghindar dari padanya.”

Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Terbayang olehnya beberapa orang yang selalu mengendap-endap di sekitar Kuda Sempana dan kawannya yang menunggunya di tikungan gelap.

“Mungkin hari ini mereka telah menunggu aku lagi.” Desisnya, “aku harus mencari jalan lain. Meskipun aku belum membawa perhiasan-perhiasan itu, tetapi aku harus menghindari mereka.”

Jajar itu pun menjadi kehilangan harapannya, bahwa hari itu ia akan dapat bertemu dengan Permaisuri, ketika gelap malam telah turun menyelimuti istana Tumapel.

Dengan wajah yang suram, Jajar itu kemudian berjalan tertatih-tatih keluar taman. Langkahnya menjadi terlampau berat dan lambat. Ia masih berharap bertemu dengan Permaisuri di serambi belakang istana atau barangkali satu dua embannya diutus untuk menunggu dan memanggilnya. Karena itu maka Jajar yang gemuk itu berjalan sambil menebarkan pandangan matanya berkeliling. Setidak-tidaknya ia bertemu dengan seorang emban yang dapat menjawab pertanyaannya. Tetapi ia tidak bertemu dengan seorang emban yang dapat menjawab pertanyaannya. Tetapi ia tidak bertemu seorangpun dari emban-emban itu. Yang dijumpainya adalah para peronda yang berdiri diregol belakang dan dilihatnya prajurit-prajurit yang duduk digardu sambil terkantuk-kantuk.

“Oh.” Jajar itu berdesah. Tetapi ia harus menerima kenyataan itu. Permaisuri tidak datang ke taman dan tidak mengirimkan utusan apapun.

Seperti kemarin Jajar yang gemuk itu berjalan cepat-cepat meninggalkan istana. Tetapi hari ini ia tidak ingin lewat jalan yang ditempuhnya kemarin. Ia akan mengambil jalan lain supaya ia tidak diganggu lagi oleh kawan Kuda Sempana yang berwajah mengerikan itu.

Dengan tergesa-gesa ia meloncat-loncat di jalan kecil, menyusur diantara rumah-rumah yang berhalaman luas dan berdinding cukup tinggi. Diregol-regol halaman ia melihat lampu-lampu minjak tergantung, melontarkan nyalanya yang kemerah-merahan. Apabila angin yang silir bertiup lembut, maka nyala lampu itupun berguncang perlahan-lahan pula.

“Setan alas.” Jajar itu mengumpat-umpat di sepanjang jalan, “Setan alas.”

Ketika ia muncul dari jalan sempit di sela-sela halaman-halaman yang luas itu, maka sampailah ia di tempat terbuka. Ia harus melintasi sebuah parit dan kemudian ia akan sampai pada jalan kecil yang menyilang. Sekali lagi ia berbelok, maka sampailah ia di rumahnya.

“Setan itu tidak akan mengganggu aku lagi hari ini.” tetapi Jajar itu mengumpat, “kalau aku pulang juga, maka mereka pasti akan mencari aku dirumah.”

Tiba-tiba langkahnya berhenti. Dirabanya sakunya. Ia masih mempunyai beberapa keping uang.

“Aku akan singgah di tempat perjudian saja. Kalah atau menang, aku akan dapat melupakan kegelisahan ini. Persetan Kuda Sempana dan kawannya itu.”

Sejenak Jajar yang gemuk itu termangu-mangu. Tetapi hatinya kemudian menjadi tetap. Ia tidak akan pulang, supaya ia dapat melupakan kegelisahan dan kekecewaannya.

Tetapi alangkah terperanjatnya Jajar yang gemuk itu. Ketika ia mulai melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia mendengar seseorang menyapanya, “He, akan kemana kau Ki Sanak. Apakah kau tidak akan pulang. Bukankah arah kerumahmu, bukan arah yang kau ambil itu?”

Sambil terlonjak Jajar itu memutar tubuhnya. Tiba-tiba saja ia telah berdiri berhadapan dengan Kuda Sempana dan kawannya. Meskipun keduanya masih berada di dalam bayang-bayang yang lebih gelap, namun Jajar itu segera mengenalinya, bahwa kedua orang itu adalah Kuda Sempana dan kawannya.

“Bagaimanakah kabarnya?” bertanya kawan Kuda Sempana.

Jajar itu menggeretakkan giginya, “Belum. Aku belum menerima apapun.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Selangkah ia maju mendekati Jajar itu, “Benar begitu?”

Jajar itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih menahan diri, katanya, “Apakah kau beranggapan lain? Aku hampir gila menunggu Permaisuri di taman itu. Tetapi ia tidak kunjung datang. Embannya pun tidak juga datang menemui aku di taman.”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ia maju lagi selangkah mendekati Jajar yang gemuk itu. Dengan tajamnya diamatinya wajah Jajar yang gemuk itu.

Jajar itu melihat mata Kebo Sindet pada wajahnya yang beku. Tiba-tiba kengerian yang sangat telah mencengkam dadanya, seakan-akan ia berdiri berhadapan dengan hantu yang paling menakutkan.

Tetapi sekali lagi Jajar yang gemuk itu menjadi heran ketika Kebo Sindet mengangkat wajahnya, memiringkan sedikit kepalanya seolah-olah ia sedang mendengarkan sesuatu. Dan sekali lagi Jajar itu menjadi semakin bingung ketika tiba-tiba saja suara Kebo Sindet menjadi semakin keras dalam nada yang semakin tinggi, “Ki Sanak. Kali ini aku percaya bahwa kau memang belum bertemu dengan Permaisuri. Waktumu tinggal tiga hari. Kalau dalam tiga hari ini kau tidak berhasil, maka perjanjian kita batal. Kau tahu?”

Tanpa sesadarnya Jajar itu menganggukkan kepalanya, “Ya. Aku tahu.”

“Baik, sekarang pergilah kemana kau suka. Aku kira kau tidak akan pulang, tetapi kau akan mencari tempat untuk melepaskan kejemuanmu. Berjudi barangkali?”

“Aku tidak pernah berjudi.”

“Jangan bohong.” sahut Kebo Sindet, “bagiku sama saja. Apakah kau sering berjudi atau tidak. Tidak ada bedanya untuk mendapatkan tebusan itu.”

Jajar itu tidak menjawab.

“Pergilah.” desis Kebo Sindet, “waktumu sudah berkurang satu hari lagi.”

Jajar itu tidak sempat menjawab. Ia berdiri saja seperti patung ketika ia melihat Kebo Sindet itu melangkah meninggalkannya. Kuda Sempana yang benar-benar seperti orang bisu berjalan saja di belakangnya.

Ketika mereka sudah tidak tampak lagi, maka Jajar itu segera menyadari dari dirinya dan keadaannya. Sekali ia mengumpat sambil memilin kumisnya, “Setan alas.” Namun kengerian dihatinya tidak juga dapat diusirnya.

“Aku sudah mengambil jalan lain, tetapi setan itu dapat menjumpaiku di sini.” desis Jajar yang gemuk itu, “ternyata ia tidak menunggu di jalan yang akan aku lalui. Tetapi agaknya ia menunggu di depan regol istana. Setan itu pasti mengikuti aku dan menghentikanku di sini, di tempat sepi.” Jajar yang gemuk itu menggeretakkan giginya, “Besok aku akan mengambil jalan yang lain untuk keluar dari istana. Bukan regol depan, tetapi regol butulan.”

Sambil menggeram Jajar itu melangkahkan kakinya. Tetapi sekali lagi ia tertegun. Seperti kemarin ia mendengar desir daun-daun kering.

“He.” Jajar itu hampir kehilangan keseimbangan karena berbagai perasaan yang menyesakkan dadanya, “siapa kau? Kenapa kau selalu mengintip aku. Ayo keluarlah dari persembunyianmu, cepat atau aku harus memaksamu keluar?”

Tidak ada jawaban.

“Ajo keluar.” Jajar itu berteriak, tetapi tidak juga ada jawaban.

Jajar yang sedang diamuk oleh perasaan sendiri itu tiba-tiba kehilangan pengamatan diri. Dengan serta merta ia meloncat maju ke arah suara gemerisik di tepi jalan sempit di belakang rimbunnya dedaunan.

Tetapi langkahnya terhenti. Terasa sesuatu menghantam keningnya. Terlampau keras, sehingga matanya menjadi berkunang- kunang. Sejenak ia kehilangan keseimbangan dan telempar jatuh di tanah.

Kepala Jajar yang gemuk itu menjadi pening. Ter¬tatih-tatih ia mencoba untuk berdiri. Meskipun dengan susah payah, akhirnya ia berhasil tegak diatas kedua kakinya. Namun sementara itu ia telah mendengar langkah berlari menjauh. Tidak hanya seorang, tetapi dua orang.

“Oh.” nafas Jajar itu menjadi terengah-engah. Dengan nanar dipandanginya keadaan sekelilingnya yang gelap. Tetapi ia tidak melihat seorang pun. Ia kini tidak lagi mendengar suara apapun kecuali suara cengkerik yang berderik-derik bersahut-sahutan.

“Oh, setan alas.” Desisnya, “siapa yang berani bermain-main dengan aku? Sayang, aku didahuluinya. Kalau tidak, kepalanya pasti aku pilin sehingga patah.”

Tetapi orang yang memukulnya telah lari menghilang di kejauhan.

Hati Jajar itu menjadi kian kisruh. Otaknya menjadi kabur. Ia sama sekali tidak tahu soal apakah sebenarnya yang sedang dihadapinya. Kuda Sempana dan kawannya yang mengerikan, kemudian orang-orang yang mengintainya dan telah memukul keningnya.

“Oh, oh, aku hampir gila karenanya.” Jajar itu mengumpat tidak habis-habisnya. Ia mengumpati Permaisuri Ken Dedes pula karena sikapnya yang menurut penilaian Jajar yang gemuk itu, acuh tidak acuh saja.

“Pasti emban tua itulah yang menghasutnya. Emban tua itu takut kehilangan perhatian seandainya Mahisa Agni dilepaskan. Ia ingin Mahisa Agni itu tidak usah dibebaskan. Dengan demikian maka satu-satunya orang yang terdekat pada Ken Dedes selain Akuwu adalah emban tua itu sendiri. Ia merasa sebagai pengganti ibu bapa dan keluarga Permaisuri itu karena tidak ada orang lain.”

Jajar itu pun kemudian pergi meninggalkan tempat itu sambil tidak henti-hentinya mengumpat. Ia melangkah asal saja melangkah. Tiba-tiba ia tersentak oleh angan-angannya sendiri, “Oh, kenapa aku tidak berbuat sesuatu? Aku harus menemui adikku dan kawan-kawannya. Hem. alangkah bodohnya aku. Aku harus berbuat sesuatu. Harus. Kuda Sempana dan kawannya itu harus tahu, siapakah aku ini. Adikku akan membantuku menyelesaikan masalahnya. Aku akan menerima semua perhiasan itu sendiri.” Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu tersenyum. Langkahnya menjadi semakin mantap. Ia mengharap dapat bertemu dengan adiknya di tempat perjudian.

Sementara itu Ken Dedes, Permaisuri Tunggul Ametung tidak dapat lagi menahan dirinya. Didera oleh kegelisahannya maka diberanikan dirinya untuk bertanya kepada Akuwu Tunggul Ametung, apakah yang sudah dilakukannya untuk membebaskan Mahisa Agni.
“Aku tidak berbuat dengan tergesa-gesa Ken Dedes. Aku harus berhati-hati. Ternyata yang kita hadapi adalah Kebo Sindet. Seorang yang tidak saja mempunyai banyak kelebihan dari orang lain, tetapi ia adalah setan yang tidak dapat di sanak.” berkata Akuwu Tunggul Ametung.

“Ampun Tuanku. Tetapi apakah Akuwu telah berbuat sesuatu?”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Ia merasa tersinggung oleh pertanyaan itu. Katanya, “Kau tidak mempercayai aku Ken Dedes.”

“Bukan maksud hamba tidak mempercayai Tuanku. Tetapi hamba yang siang dan malam digelisahkan saja oleh persoalan itu, ingin mendengar apakah yang kira-kira akan dapat terjadi dengan Kakang Mahisa Agni.”

Hampir, saja Akuwu Tunggul Ametung mengumpat. Mahisa Agni bagi Ken Dedes agaknya lebih penting dari segala-galanya, lebih penting dari dirinya, Akuwu Tumapel. Tetapi Akuwu itu tidak dapat melepaskan perasaannya begitu saja. Ia tidak dapat melupakan bahwa Ken Dedes adalah seseorang yang kinacek. Seseorang yang memiliki, kelebihan yang aneh dari orang lain.

“Ken Dedes.” berkata Akuwu Tunggul Ametung itu kemudian, “aku telah berbuat banyak untuk kepentingan Mahisa Agni. Aku dapat mengambil beberapa kesimpulan. Sebenarnya aku sengaja tidak akan memberitahukannya kepadamu, sebelum aku mendapat keputusan yang terakhir, apa yang akan aku lakukan.”

“Ampun Tuanku. Hamba tidak dapat menahan diri terlampau lama di dalam kegelisahan dan kecemasan.”

Wajah Akuwu Tunggul Ametung menjadi tegang. “Baik, baik. Aku akan mengatakannya.”

Ken Dedes mengerutkan wajahnya. Ia tahu benar, nada suara Akuwu Tunggul Ametung adalah nada yang tidak menyenangkan. Tetapi ia tidak mempedulikannya.

“Ken Dedes.” berkata Akuwu Tunggul Ametung. “Kita ternyata berhadapan dengan hantu yang dahsyat. Besok kau harus berusaha memanggil Jajar yang gemuk itu. Lima hari yang dikatakan oleh Jajar itu benar-benar saat yang di kehendaki oleh Kebo Sindet. Batas waktu yang diberikan oleh iblis dari Kemundungan itu. Kalau hari itu kita belum mendapatkan cara yang sebaik-baiknya untuk memecahkannya, mungkin Kebo Sindet akan mengambil cara lain. Cara yang tidak kita ketahui.”

“Apakah yang harus hamba katakan kepada Jajar itu Tuanku?”

“Katakan kepadanya, bahwa di hari yang kelima sejak perjanjian yang dibuatnya, yang sekarang telah berkurang dengan dua hari, permintaannya agar dipenuhinya.”

Ken Dedes terperanyat mendengar kesanggupan itu. Tanpa sesadarnya, dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah Tuanku akan memenuhi permintaannya, menyerahkan tiga pengadeg perhiasan?”

“Jangan bodoh.” suara Akuwu mengeras, tetapi sejenak kemudian disambungnya dengan nada yang datar, “aku mengharap bahwa aku tidak akan tertipu.”

“Ken Dedes, kau harus berkata kepada Jajar itu, bahwa di hari yang ditentukan itu, Mahisa Agni harus dibawa oleh Kebo Sindet. Itu adalah syarat penyerahan. Kalau tidak maka semuanya tidak akan dapat terjadi. Kita hanya akan menjadi bulan-bulanan. Setiap kali ia menuntut sesuatu, dan setiap kali Mahisa Agni itu tidak akan juga diserahkannya.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia menjadi heran, “Jadi apakah maksud Tuanku? Setelah Kakang Mahisa Agni diserahkan, maka Tuanku akan memenuhi permintaannya?”

Ken Dedes melihat wajah Akuwu Tunggul Ametung menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba ia berkata hampir ber¬teriak, “Aku adalah Akuwu Tumapel. Aku memegang kekuasaan tertinggi untuk menegakkan ketenteraman hidup rakyatku. Ya, Ken Dedes. Aku akan menyerahkan permintaan Kebo Sindet setelah Mahisa Agni itu diserahkan.”

Ken Dedes menjadi bingung mendengar kata-kata Akuwu yang saling bertentangan itu. Tetapi Akuwu kemudian memberikan penjelasan, “Tetapi setelah penyerahan itu selesai, setelah kita tidak mempunyai hutang lagi kepada Kebo Sindet maka aku akan menangkapnya. Aku akan membunuhnya.”

Wajah Ken Dedes menjadi berkerut-merut Apakah dengan demikian Akuwu Tunggul Ametung telah berbuat dengan jujur dalam tukar menukar ini? Tetapi sejenak kemudian Ken Dedes telah dapat menyadarinya, bahwa yang dihadapi oleh Akuwu kini adalah Kebo Sindet. Bukan orang yang dapat diajak untuk berbicara dengan baik. Bukan orang yang masih mempunyai meskipun hanya sepercik kesadaran diri hidup dalam peradaban manusia.

“Ken Dedes.” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “kau harus dapat menyimpan rahasia ini. Kalau rahasia ini kau bocorkan, maka taruhannya adalah kakakmu, Mahisa Agni.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia ber desis, “Hamba Tuanku.”

“Pada hari yang ditentukan, Witantra akan menyiapkan sepasukan kecil prajurit untuk mengurung iblis itu supaya tidak dapat lepas. Aku tidak memerlukan terlampau banyak-orang, supaya Kebo Sindet tidak mengetahuinya. Aku sendirilah yang akan menghadapi iblis itu. Tidak ada orang lain yang akan dapat menandinginya. Mungkin orang-orang seperti Empu Gandring, atau Panji Bojong Santi, guru Witantra. Tetapi aku tidak perlu minta tolong kepada mereka itu. Aku sendiri yang akan mengakhiri perbuatan-perbuatannya yang gila itu.”

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Ken Dedes. Tiba-tiba ia merasa matanya menjadi panas.

Sejenak mereka dicengkam oleh kediaman. Dada Ken Dedes yang berdebar-debar menjadi semakin berdebar-debar. Ia merasakan kesungguhan kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu. Kali ini agaknya Akuwu Tunggul Ametung akan benar-benar bertindak.

“Nah.” sejenak kemudian terdengar, Akuwu itu berkata, “kau harus membantu aku. Kau panggil Jajar itu, dan kau beritahukan apa yang harus dilakukan. Tetapi awas, jangan sampai rencana ini didengar oleh siapa pun. Emban yang selalu berada di dekatmu pun tidak boleh mendengarnya.”

Ken Dedes kemudian membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan suara yang dalam ia menjawab, “Hamba Tuanku. Hamba akan melakukan segala titah. Hamba akan mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya sebagai pernyataan terima kasih hamba yang tiada taranya. Tetapi. …” suara Ken Dedes terputus ditengah.

“Tetapi.” Akuwu mengulangi.

“Tetapi, apakah tidak ada orang lain yang dapat Tuanku perintahkan untuk menangkap Kebo Sindet?” suara Ken Dedes menjadi semakin perlahan-lahan, “Kenapa mesti Tuanku sendiri.”

“Tidak. Tidak ada orang lain. Tetapi kenapa jika aku sendiri yang melakukannya?”

“Hamba menjadi cemas Tuanku, seperti kecemasan yang selama ini pernah hamba alami.”

“Oh.” tiba-tiba terasa sesuatu yang sejuk menyentuh dada Akuwu Tunggul Ametung yang sedang tegang itu. Karena itu maka darahnya pun terasa berangsur menjadi dingin. Ternyata Ken Dedes mencemaskannya pula. Maka jawabnya, “Jangan cemas. Aku akan mengatasi keadaan.”

“Tetapi Tuanku, Kebo Sindet adalah orang yang licik seperti pernah Tuanku katakan.”

“Jangan takut.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya. Kini ia telah di kejar pula oleh kecemasan yang lain. Ia tidak dapat melepaskan diri dari keadaannya. Ia adalah seorang isteri. Betapapun juga, apabila Akuwu Tunggul. Ametung benar-benar berhasrat menangani sendiri penangkapan Kebo Sindet, maka kepergiannya itu akan terasa juga berat dihatinya.

Permaisuri itu kini berdiri di sudut yang sulit. Kalau ia membiarkan kakaknya Mahisa Agni, maka ia akan selalu dikejar oleh perasaan bersalah. Mahisa Agni, selain satu-satunya keluarganya yang masih ada, meskipun bukan kakak kandungnya, juga seseorang yang telah melepaskannya dari bencana. Tidak hanya satu kali, tetapi beberapa kali. Tetapi apakah ia akan dapat melepaskan suaminya pergi dengan tanpa mencemaskannya, karena ia tahu siapakah yang akan dihadapinya? Apakah ia harus memilih salah satu dari keduanya? Biar sajalah Mahisa Agni hilang dan tidak perlu diketemukan tetapi Akuwu tidak pergi menghadapi Kebo Sindet, atau biar saja apa yang akan terjadi dengan Akuwu Tunggul, Ametung, asalkan Mahisa Agni dapat dibebaskan?

Tetapi kemungkinan yang lain dapat saja terjadi. Yang paling pahit baginya adalah apabila Akuwu Tunggul Ame¬tung gagal, bahkan ia sendiri terpaksa mengalami bencana sedang Mahisa Agni tidak dapat dilepaskan.

“Tidak.” Permaisuri itu mencoba menenteramkan dirinya sendiri, “Akuwu akan berhasil membebaskan Kakang Mahisa Agni dan sekaligus berhasil menangkap Kebo Sindet.”

Ken Dedes itu terkejut ketika ia mendengar suara Aku¬wu Tunggul Ametung perlahan-lahan, “Sudahlah Ken Dedes. Jangan kau risaukan persoalan ini. Aku sudah mendapat gambaran menurut perhitunganku, bahwa aku akan berhasil. Aku akan membawa beberapa orang prajurit pengawal pilihan. Dan aku mempunyai keyakinan, bahwa betapa saktinya Kebo Sindet, ia tidak akan dapat melawan pusakaku. Ia akan hancur menjadi debu apabila ia mencoba melawan.”

Ken Dedes masih belum menjawab.

“Sekarang tenteramkan hatimu. Aku mengharap akan berhasil. Marilah kita berdoa supaya usaha ini mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”

Perlahan-lahan Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kini ia tidak dapat menahan titik air matanya Dengan tersendat-sendat ia menjawab, “Hamba Tuanku.”

“Tidurlah.” desis Akuwu itu kemudian. “Lupakan semuanya, supaya kau dapat tidur nycnyak.”

“Hamba akan mencoba Tuanku.”

“Jangan lupa. Besok kau panggil Jajar itu. Katakan, bahwa permintaan Kebo Sindet akan dipenuhi dibatas terakhir. Tetapi Mahisa Agni harus dibawanya serta sebagai syarat penyerahan. Aku mengharap Kebo Sindet tidak akan berkeberatan karena ia memerlukan perhiasan itu.” suara Akuwu tiba-tiba merendah, “kalau cara ini gagal karena Kebo Sindet tidak bersedia, maka aku akan mengambil cara terkkhir. Menangkap Kebo Sindet itu lebih dahulu, baru mencari Mahisa Agni.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam, sambil berkata, “Hamba akan membenarkan setiap cara yang akan Tuanku tempuh. Sebab hamba sendiri tidak tahu apakah yang sebaiknya dilakukan. Tetapi hamba telah mengucapkan beribu terima kasih, karena Tuanku bersungguh-sungguh ingin membebaskan satu-satunya sisa keluarga hamba.”

“Sekarang tidurlah.” berkata Akuwu itu kemudian.

“Hamba Tuanku.”

Ken Dedes pun kemudian kembali ke biliknya. Seperti kata Akuwu Tunggul Ametung ia harus merahasiakan cara yang akan diambil olehnya. Dan ia akan mematuhinya.

Ken Dedes terkejut ketika seakan-akan tiba-tiba saja ia melihat bayangan matahari jatuh di atas atap biliknya. Ternyata semalam suntuk ia tidak memejamkan matanya. Kegelisahan, kecemasan dan harapan bercampur baur di dalam dirinya.

Tetapi ingatan Ken Dedes segera berkisar kepada Jajar yang gemuk. Juru taman yang telah menyampaikan pesan Kebo Sindet kepadanya tentang Mahisa Agni.

Hari ini ia harus menyampaikan pesan Akuwu Tunggul Ametung kepada Jajar itu. Tetapi ia harus berhati-hati supaya ia tidak terdorong mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak boleh diucapkannya. Karena itu, maka meskipun mata hari belum meloncati dedaunan yang rendah di ujung halaman istana, namun Ken Dedes telah bersiap turun kehalaman dan kemudian masuk kedalam taman.

Beberapa emban menjadi heran melihat kelakuannya. Pagi-pagi benar Permaisuri itu telah turun ke taman. Biasanya Ken Dedes tidak tergesa-gesa. Apabila matahari telah tinggi, barulah ia pergi.

Dalam pada itu, kedua juru taman, kawan Jajar yang gemuk di petamanan pun menjadi semakin heran. Pagi itu kawannya yang gemuk itu pun sudah berada di taman, ketika mereka datang. Duduk bersandar pohon sawo kecik. Ia sama sekali tidak menghiraukan kedua kawan-kawannya itu. Hanya seleret ia memandanginya sambil berpikir, “Apakah orang-orang ini yang kemarin memukul aku?” Tetapi ia tidak berkata apapun.

Tiba-tiba Jajar yang duduk terkantuk-kantuk itu terkejut ketika ia melihat seorang emban masuk ke dalam taman. Emban itu berhenti sejenak, berpaling dan menganggukkan kepalanya.

“He.” tiba-tiba Jajar itu berteriak tanpa sesadarnya, “siapa yang datang?”

Emban itu meletakkan telunjuknya dimuka mulutnya.

“Siapa he?” Jajar itu semakin keras berteriak.

Emban itu menjadi jengkel. Perlahan-lahan ia berdesis, “Akuwu. Tuanku Akuwu.”

Jajar yang gemuk itu tidak mendengar dengan jelas, tetapi ia melihat gerak mulut emban itu. Dan ia menangkap maksudnya. Yang datang adalah Akuwu Tunggul Ametung.

Karena itu maka tiba-tiba dadanya terasa seperti dihentakkan oleh kecemasan. Kalau Akuwu mendengar ia berteriak-teriak kepada embannya, maka setidak-tidaknya kepalanya akan menjadi pening.

“Aku harus bersembunyi.” katanya di dalam hati. Ia tahu benar tabiat Akuwu Tunggul Ametung. Kalau Akuwu itu marah, maka apapun yang ada, pasti akan menerima akibat kemarahannya. Tetapi kalau Akuwu itu tidak segera menemukannya, maka sebentar nanti ia sudah melupakannya.

Jajar yang gemuk itu segera berlari terbirit-birit. Hampir terjerembab ia menyusup regol butulan dan bersembunyi di belakang dinding, seperti seekor kera yang ketakutan.

Kedua kawannya menjadi heran melihat sikapnya. Mereka menjadi semakin tidak mengerti apakah yang sebenarnya terjadi atas kawannya itu. Tetapi kesimpulan yang paling mudah mereka ambil adalah, Jajar yang gemuk itu sudah menjadi gila.

Sejenak kemudian, maka dua orang emban yang lain memasuki petamanan istana. Disusul oleh seorang emban tua dan Permaisuri Ken Dedes.

Ken Dedes yang segera ingin membicarakan masalah Mahisa Agni dengan Jajar yang gemuk itu berusaha menahan hatinya. la tidak mau tergesa-gesa, supaya Jajar yang gemuk itu tidak sengaja memperlambat pembicaraan. Bahkan yang pertama-tama dilakukan adalah melihat ikan emas yang berenang di kolam yang tidak terlampau luas.

Seperti biasa para emban mclayaninya dan berusaha bergembira bersama Permaisuri. Tetapi setiap kali, tampaklah betapa hati Permaisuri itu dibayangi oleh kegelisahannya.

Akhirnya Ken Dedes tidak ingin menunda-nundanya lagi. Kepada seorang embannya ia berkata, “He, dimana juru taman yang gemuk itu?”

“Ampun Tuan Puteri. Tadi hamba melihat Jajar yang gemuk itu berada di dalam taman ini. Tetapi, agaknya ia sedang menyembunyikan dirinya di balik regol butulan.” Emban itu menjadi heran kenapa Permaisuri mencari juru taman yang gemuk itu.

“Kenapa ia bersembunyi?”

“Mungkin karena Tuanku datang ketaman.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Panggillah kemari. Aku ingin berbicara.”

“Hamba Tuanku.”

Emban itu pun segera pergi mencari Jajar yang gemuk. Emban itu adalah emban yang pertama-tama masuk kedalam taman. Ialah yang melihat kemana Jajar yang gemuk itu lari terbirit-birit.

Tertawanya hampir tidak tertahankan lagi ketika ia melihat Jajar yang gemuk itu duduk mendekap lututnya.

“He kenapa kau?” bentak emban itu begitu ia menjengukkan kepalanya di regol butulan.

Jajar yang gemuk itu ternyata terkejut bukan kepalang, sehingga terlonjak beberapa cengkang. Tetapi ketika dilihatnya seorang emban saja yang berdiri diregol butulan, ia mengumpat lantang, “Gila kau. Apakah kau mau aku pilin lehermu.”

Emban itu tertawa. Jawabnya, “Apakah kau akan mencobanya?”

“Pergi. Jangan ganggu aku.”

Emban itu masih tertawa. “Ah, kenapa kau menjadi ketakutan? Aku menjunjung perintah Tuanku Akuwu. Kau dipanggil menghadap.”

“He aku? Kenapa?”

Emban itu menggeleng, “Aku tidak tahu. Mungkin Akuwu mendengar kau membentak-bentak ketika aku datang. Mungkin persoalan lain.”

Tiba-tiba tubuh Jajar itu gemetar. Ia tidak sempat berpikir lagi, bahwa seandainya Akuwu yang datang ke taman, meskipun biasanya diantar oleh beberapa emban dan Permaisuri, tetapi Akuwu pasti memerintahkan seorang prajurit atau seorang Pelayan Dalam untuk memanggil seseorang. Bukan seorang emban.

“Cepat, sebelum Akuwu mencarimu kemari.” berkata emban itu.

“Tetapi, tetapi,” Jajar itu tergagap.

“Cepat.” dan emban itu tidak menunggunya. Segera ia pergi meninggalkan Jajar yang ketakutan. Tetapi Jajar itu tidak dapat ingkar. Apabila Akuwu memanggilnya, meskipun itu tidak biasa, bahwa seorang Akuwu memanggil seorang Jajar langsung, maka ia harus menghadap.

Tubuh Jajar itu menjadi semakin gemetar ketika ia sudah berdiri. Langkahnya menjadi sangat berat, dan nafasnya seakan-akan terputus di kerongkongan. Tetapi ia harus melangkah terus. Betapapun hatinya menjadi berdebar-debar.

“Oh, kepalaku pasti akan dipukulnya. Atau aku harus berbuat hal-hal yang aneh-aneh. Itu tidak akan berarti apa-apa bagiku, tetapi bagaimana dengan perjanjian yang telah aku buat dengan kawan Kuda Sempana yang berwajah mayat itu. Dan bagaimana dengan rencanaku dengan adikku yang semalam sudah aku mulai.”

Jajar itu berhenti sejenak di sisi regol butulan. Tetapi ia harus melangkah terus. Begitu ia sampai diregol, maka segera ia berlutut dan berjalan maju sambil berjongkok.

Tetapi tiba-tiba mulutnya berdesis. Ia tidak melihat Akuwu Tunggul Ametung. Yang dilihatnya hanyalah Permaisuri yang duduk di atas sebuah batu hitam dikelilingi oleh beberapa orang emban. Sedang emban yang memanggilnya sedang bersimpuh menghadap Permaisuri sambil menunjuk kapada Jajar yang gemuk itu.

“Oh apakah Permaisuri yang memanggilku?” nafasnya kini menjadi semakin sesak, “Gila emban itu. Ia membuat aku hampir pingsan. Ternyata Permaisuri yang memanggil aku menghadap.”

Jajar itu menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali, tiga kali dan beberapa kali. Ditenangkannya hatinya. Tetapi karena yang dihadapinya kini bukan Akuwu Tunggul Ametung, maka justru dadanya menjadi semakin berdebar-debar.

Jajar itu telah melupakan kelakar emban yang hampir menghentikan detak jantungnya. Tetapi kini ia dicengkam oleh harapan yang membubung sampai keawang-awang. Permaisuri itu pasti sudah membawa tiga pangadeg perhiasan. Tanpa sesadarnya Jajar itu tersenyum sendiri. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling mencari kedua kawannya. Ia harus menyatakan kemenangannya kepada mereka, bahwa benar-benar Permaisuri memanggilnya. Tetapi ia tidak menemukannya.

Perlahan-lahan Jajar itu seakan-akan merayap mendekati Ken Dades Kemudian ditundukkannya kepalanya dalam-dalam sambil berkata, “Ampun Tuanku. Hamba telah menghadap.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia harus berhati-hati. Ia harus mengatakan apa yang dapat dikatakan dan menyimpan yang lain supaya ia tidak melepaskan kesalahan yang akibatnya akan dapat membahayakan Mahisa Agni.

“Jajar.” berkata Permaisuri itu, “aku akan berkata langsung pada persoalannya.”

Jajar itu menundukkan wajahnya memandangi butiran-butiran batu kerikil dikakinya. Begitu besar harapan mencengkam dadanya, maka batu-batu kerikil itu seolah-olah telah berubah menjadi butiran-butiran emas murni, intan dan berlian. “Aku akan mendapatkannya.” katanya di dalam hatinya.

Perlahan-lahan ia mendengar Permaisuri itu pun berkata. Sepatah demi sepatah. Terang dan las-lasan.

Tetapi, arah dari kata-kata Permaisuri itu ternyata tidak seperti yang dikehendakinya. Permaisuri itu tidak segera menyerahkan seperti perhiasan dari tiga pengadeg . Tetapi Permaisuri itu justru mengajukan beberapa syarat penyerahan. Mahisa Agni harus dibawa serta pada batas waktu yang di tentukan.

“O.” keringat dingin mengalir membasahi punggung Jajar yang gemuk itu. Setelah ia terbang dengan angan-angannya sampai ke ujung langit, tiba-tiba ia jatuh terbanting ke dalam dasar jurang yang paling dalam.

“Apakah kau mendengar juru taman?”

Jajar itu terbungkam. Dadanya menjadi sesak, dan untuk sejenak ia tidak dapat menjawab pertanyaan Permaisuri itu.

“Bagaimana juru taman?” ulang Permaisuri, “apakah kau mendengar dan mengerti?”

Dengan suara yang tergetar Jajar itu berkata, “Ampun Tuan Puteri. Hamba mendengarnya. Tetapi kawan Kuda Sempana itu tidak akan bersedia melakukannya.”

“Kau harus mencoba mengatakannya. Akuwu Tunggul Ametung tidak ingin menyerahkan barang-barang itu tanpa kehadiran kakang Miliisa Agni supaya kami tidak diingkarinya.”

“Tetapi orang itu tidak akan mau diingkari pula Tuanku, seperti yang pernah dikatakannya. Apabila Mahisa Agni dibawa serta, maka itu berarti membunuh diri bagi kawan Kuda Sempana, sebab tidak ada lagi yang akan menghalangi seandainya orang itu akan ditangkap setelah menyerahkan Mahisa Agni.”

Dada Ken Dedes berdesir. Kenapa Jajar yang gemuk ini dapat menebak perhitungan Akuwu Tunggul Ametung?

Tetapi Ken Dedes tidak dapat berbuat lain. Ia pun tidak ingin menjadi sumber pemerasan yang akan dapat di lakukan oleh Kebo Sindet terus menerus, apabila Mahisa Agni belum dilepaskan. Karena itu maka katanya, “Terserahlah kepadanya. Tebusan itu terlampau mahal. Karena itu, jaminannya harus cukup kuat, dan tidak ada kemungkinan untuk ingkar.”

Jajar itu mengerutkan keningnya. Sejenak nalarnya menjadi pepat dan harapannya menjadi pecah berserakan. Kalau ia tidak berhasil membawa perhiasan itu, Kebo Sindet akan mengambil jalan lain yang tidak diketahuinya.

“Nah, lakukanlah perintah Akuwu Tunggul Ametung Jajar.”

“Sulit Tuanku. Ampun, tetapi hamba kira, hal itu tidak akan dapat terjadi.”

“Bukan kau yang harus menjawab. Tetapi Kebo Sindet, Kawan Kuda Sempana itu.”

Jajar itu terbungkam. Tetapi ia memutar otaknya. Namun kini tidak ada jalan lain kecuali menjunjung titah itu. “Apapun yang akan aku lakukan.” katanya di dalam hati.

Tiba-tiba terbersit ingatan dikepala Jajar yang gemuk itu, adiknya yang dijumpainya diperjudian dengan beberapa orang kawan-kawannya, orang-orang yang liar dan hampir tidak terkendali. Orang yang hidupnya tanpa arah dan tujuan.

Sejenak Jajar itu berdiam diri sambil menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi tegang, dan dadanya terasa menjadi bergetar.

“Apapun yang akan aku lakukan, tetapi aku memerlukan anak-anak gila itu.” katanya di dalam hatinya.

“Juru taman.” terdengar suara Ken Dedes, “lakukanlah. Besok kau harus menyampaikan hasil pembicaraarimu kepadaku. Mungkin aku turun ke taman, tetapi mungkin kau akan kau panggil ke istana.”

Jajar itu mengangguk dalam-dalam, “Hamba Tuanku. Hamba hanya dapat menjunjung titah Tuanku.”

“Baiklah, sekarang pergilah kepekerjaanmu.”

Sekali lagi Jajar itu membungkuk dalam-dalam, kemudian mundur dari hadapan Permaisuri itu. Tetapi itu ia sama sekali tidak melakukan pekerjaannya. Ia kembali ketempatnya bersembunyi. Dibalik dinding di sisi regol butulan.

Sambil menggeretakkan giginya, dibantingnya dirinya di atas tanah berdebu. Perlahan-lahan Jajar itu menggeram, “Setan alas. Bukan salahku kalau Mahisa Agni itu mampus dipenggal lehernya. Atau digantung di alun-alun Tumapel oleh iblis berwajah mayat itu.”

Wajah Jajar itu menjadi kian menegang. Ia mencoba mencari jalan penjelesaian yang menguntungkannya.

Dicobanya menghubungkan persoalan itu dengan adik dan kawan-kawannya. Mungkin dapat ditemukan pemecahan yang baik buatnya.

Tiba-tiba Jajar itu tersenyum. Ia menemukan suatu cara yang baginya sangat menyenangkan.

“Baik. Aku akan mempergunakan anak-anak itu.” katanya di dalam hati, “Besok aku akan menghadap Permaisuri. Kenapa aku tidak dapat mengatasi persoalan ini? Oh, ternyata bahwa aku masih mampu mempergunakan otakku yang cemerlang. Aku akan mengatakan kepada Permaisuri, bahwa Kuda Sempana dan kawannya menyetujui permintaan Permaisuri itu. Tetapi sebelum hari itu sampai, maka Kuda Sempana dan kawannya harus dimusnahkan. Salah seorang dari anak-anak gila itu akan menjadi kawan Kuda Sempana untuk menerima perhiasan itu. Tak perlu ada Mahisa Agni. Tidak perlu takut bahwa pembawa perhiasan itu akan mengenal orang yang sebenarnya sama sekali bukan Kuda Sempana dan kawannya. Sebab begitu orang yang bertugas membawa perhiasan itu, datang mudah-mudahan aku sendiri yang akan diperintahkannya, atau satu dua orang prajurit, katakanlah lima sampai sepuluh, mereka pasti akan segera disergap oleh anak-anak liar yang kerjanya memang hanya berkelahi itu. Nah selesailah persoalannya. Kami kemudian harus lari. Lari dan bersembunyi untuk beberapa lama bersama anak-anak itu. Aku yakin bahwa adikku mampu mengumpulkan kawan-kawannya lebih dari lima belas orang dihari terkkhir itu, sedang dihari sebelumnya aku memerlukan tidak lebih dari sepuluh orang untuk menyingkirkan Kuda Sempana dan kawannya itu.”

Jajar yang gemuk itu tersenyum kini. Wajahnya tidak lagi tegang dan dadanya tidak lagi berdebaran. Perlahan-lahan ia berdiri, dan ia berjalan mondar-mandir sambil memilin kumisnya.

Tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika teringat olehnya, bahwa selama ini ternyata ada orang-orang yang tak dikenal selalu mengintipnya. Satu atau dua orang menurut perhitungannya.

“Siapakah mereka?” Jajar itu berdesis.

“Tetapi mereka pun akan dimusnahkan juga oleh anak-anak gila itu.” dijawabnya sendiri pertanyaannya, “mereka tidak akan berarti apa-apa. Mungkin mereka kawan-kawan Kuda Sempana yang bertugas, mengamati keadaan.”

Jajar yang gemuk itu kini tersenyum lagi. Orang-orang itu sama sekali tidak diperhitungkannya. Yang akan dihadapinya hanyalah dihari pertama Kuda Sempana dan kawannya yang berwajah mayat, kemudian dihari berikutnya, prajurit-prajurit Tumapel yang bertugas mengawal tebusan itu.

“Tetapi bagaimanakah kalau Akuwu sendiri yang mengantarkan perhiasan itu?”

“Ah tidak mungkin. Bodoh sekali kalau Akuwu Tunggul Ametung sampai merendahkan dirinya membawa tebusan itu.”

Sekali lagi Jajar itu tersenyum. Tersenyum, dan hampir setiap saat ia tersenyum karena kemenangan yang bakal didapatnya. Kemenangan atas Kuda Sempana serta kawannya, dan kemenangan atas Akuwu Tunggul Ametung dan Permaisurinya.

“Aku akan menjadi kaya raya. Anak-anak gila itu akan menjadi pelindungku yang setia asal aku selalu memberi makan yang cukup.”

Demikianlah kerja Jajar gemuk itu sehari-harian ia sama sekali tidak peduli apakah Permaisuri masih berada di taman atau sudah kembali ke istana. Ia sama sekali tidak menyentuh tanaman yang harus disiangi atau disiram. Tetapi kedua kawannya yang telah menganggapnya benar-benar gila itu sama sekali tidak menegurnya. Apalagi ketika mereka melihat Jajar yang gemuk itu tersenyum-senyum sendiri.

Ketika matahari sudah menjadi semakin rendah di barat, maka tidak seperti biasanya, kali ini Jajar itu tergesa-gesa pulang. Ia tidak menunggu sampai gelap dan tidak lagi berjalan sambil mengumpat-umpat. Jajar yang gemuk itu melangkah ke luar regol sambil tertawa kepada para penjaga.

“He, kenapa kau tertawa?” bertanya seorang penjaga.

Jajar itu sama sekali tidak menjawab. Bukan sepantasnya prajurit rendahan menegurnya. Seorang yang kaya raya, yang memiliki kekayaan yang tiada taranya. Tiga padukuhan lengkap dengan segala isi dan sawah ladangnya. Segala macam iwen dan Raja kaya. Perhiasan emas intan dan karang kitri.

Tetapi prajurit itu tidak tahu apa yang bersarang di kepala Jajar yang gemuk itu. Karena itu, maka prajurit itu pun menjadi heran. Ketika dua orang juru taman lain lewat pula di regol itu maka ia bertanya, “He, kenapa kawanmu juru taman yang gemuk itu.”

“Aku tidak tahu. Mungkin ia menjadi gila.” jawab mereka hampir berbareng.

Prajurit itu tersenyum. Ia sependapat dengan kedua juru taman itu, bahwa Jajar yang gemuk, yang selalu tertawa-tawa saja hari ini, tetapi yang kemarin terlampau gelisah dan cemas itu, agaknya telah menjadi gila.
Tetapi, Jajar yang gemuk itu sama sekali tidak mempedulikan apa saja kata orang tentang dirinya. Ia sebentar lagi akan menjadi seorang yang kaya raya.

“Aku harus bertemu dengan Kuda Sempana dan kawannya hari ini.” katanya di dalam hati, “mungkin pertemuan yang terakhir kalinya. Aku harus menentukan tempat untuk bertemu besok. Tetapi iblis itu tidak akan tahu, bahwa besok adalah harinya yang terkkhir. Besok mereka akan dikirim ke neraka oleh adikku dan kawan-kawannya.”

Jajar itu masih saja tersenyum. Otaknya yang dibanggakannya, ternyata sudah tidak mampu bekerja dengan baik. Ia tidak mau membayangkan apa kira-kira yang akan terjadi di hari batas yang telah ditentukan.

“Biarlah aku pikirkan besok. Tetapi pada dasarnya, seorang dari kawan-kawan adikku akan memegang peranan sebagai kawan Kuda Sempana. Yang lain bersembunyi. Kalau tebusan itu datang, maka segera harus disergap.”

“Heh.” Jajar itu menarik-nafas dalam-dalam. Sama sekali tidak dihiraukannya kakinya yang lecet tersandung batu.

Jajar itu tidak merasa pula ketika kakinya menyentuh duri kemarung.

“Dimana hari ini kawan Kuda Sempana itu akan menemui aku?” desisnya. Sekali-sekali Jajar itu berpaling. Tetapi ia tidak melihat Kuda Sempana dan kawannya.

“Apakah aku pulang terlampau siang, sehingga keduanya tidak berani menampakkan dirinya?” gumamnya, “tetapi aku harus bertemu hari ini. Tidak ada kesempatan lagi. Besok adalah hari keempat. Kedua setan itu harus lenyap. Lusa hari yang terakhir, hari yang dijanjikan oleh Permaisuri. Hari yang menentukan perubahan hidupku. Dan aku akan segera menjadi kaya raya.”

Ketika Jajar itu sekali lagi berpaling, tampaklah keningnya menjadi berkerut-merut. Ia melihat dua orang berjalan searah dengan langkahnya. Lambat-lambat, seolah-olah membuat jarak yang tetap dari padanya.

Jajar itu menjadi curiga. “Siapakah mereka? Apakah mereka sekedar orang yang lewat saja di jalanan ini, ataukah mereka orang-orang yang sengaja mengikuti aku?”

Hati Jajar yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. “Aku harus berhenti. Siapa pun orang itu harus aku hadapi. Lebih baik sekarang dan berhadapan daripada aku diintainya dan tiba-tiba saja disergapnya.”

Jajar itu berhenti. Ia melangkah menepi dan bersendar pada sebatang kayu. Tetapi tiba-tiba ia melihat dari arah lain, seorang laki-laki berjalan berlawanan arah dengan kedua orang yang disangka mengikutinya. Kecurigaannya kian bertambah. “Huh, ternyata mereka telah mencegat aku dari arah yang berlawanan pula selain kedua orang yang telah mengikuti aku.”

Jajar itu tiba-tiba meraba lambungnya. Ketika tanganya menyentuh hulu kerisnya yang kecil, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

“Mereka akan mengantarkan nyawa mereka, siapa pun mereka itu. Tetapi mereka pasti bukan Kuda Sempana dan kawannya itu.”

Semakin lama kudua orang yang datang dari arah belakang, dan seorang dari arah lain itu menjadi semakin dekat. Tetapi Jajar itu kemudian mengerutkan keningnya. Ternyata kedua orang itu telah mengenalnya. Keduanya adalah prajurit-prajurit Tumapel. Karena itu maka ia mengumpat perlahan, “Setan alas. Agaknya prajurit-prajurit Tumapel yang berkeliaran di sini. Tetapi mereka sama sekali tidak mengenakan pakaian keprajuritannya?” Jajar itu kemudian berpaling ke arah yang lain, seorang yang berjala perlahan-lahan kearahnya, “Tetapi orang itu, aku belum mengenalnya.”

Ketika kedua prajurit itu menjadi semakin dekat, maka Jajar itu maju selangkah. Tetapi wajahnya sudah tidak lagi setegang sebelumnya. Apalagi ketika ia melihat prajurit itu tertawa sambil menyapanya, “He, apakah kau menunggu Kami?”

“Kalian mengejutkan aku. Aku sangka kalian orang-orang asing yang mengikuti aku?”

“He.” kedua prajurit itu terkejut, “kenapa kau merasa dirimu diikuti oleh orang asing, Apakah kau mempunyai persoalan.”

“Oh.” Jajar itu tergagap, “Tidak. Tidak apa-apa.”

“Tetapi kenapa kau terlampau bercuriga?”

Jajar itu tidak menjawab. Ketika orang yang berjalan kearah yang berlawanan itu lewat dihadapannya, maka sambil berbisik ia bertanya kepada kedua prajurit itu, “Kau kenal orang itu.”

Kedua prajurit itu berpaling, mengawasi orang yang baru saja lewat itu pada punggungnya. Hampir bersamaan mereka menggelengkan kepala mereka, “Tidak. Aku belum kenal.”

“Kenapa ia berusaha menjumpai aku disini?”

“Siapa?”

“Orang itu. Mungkin ia akan berbuat sesuatu seandainya kalian tidak di sini.”

“Ah.” salah seorang dari kedua prajurit itu berdesah, “kau terlampau berprasangka. Kenapa kau tampaknya begitu gelisah dan gugup. Bukankah yang kau lewati ini jalan umum? Setiap orang dapat saja melewati jalan ini seperti kau dan aku. Kenapa kau menjadi bingung dan curiga. Lihat, itu seorang lagi lewat. O, ia tidak berjalan ke arah ini, ia berbelok ke kanan masuk ke dalam padesan. Dan lihat di belakang kita masih ada orang lewat meskipun tidak menuju kemari pula. Kenapa kau mencemaskannya?”

Jajar gemuk itu menarik nafas dalam-dalam. “Ya, ya. Mereka hanya orang-orang lewat.” Jajar itu berhenti sejenak, lalu tiba-tiba, “Tetapi kenapa kau tidak mengenakan pakaian keprajuritan? Kain bang, setagen hijau dan ikat pinggang kulit berwarna kuning, tidak menyandang pedang atau tombak, meskipun celana yang kau pakai itu celana keprajuritanmu?”

Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Lalu keduanya bersama-sama tertawa pendek. Salah seorang dari mereka menjawab sambil mengamat-amati pakaiannya sendiri. “Kau terlampau banyak memperhatikan orang lain. Baiklah aku menjawab pertanyaanmu. Sekarang kami, aku dan kawanku ini sedang tidak bertugas. Kami mendapat izin beristirahat seminggu di rumah. Itulah sebabnya kami diperkenakan memakai pakaian kami sendiri, bukan pakaian keprajuritan.”

Jajar itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia mengamat-amati pakaian kedua prajurit itu. Dan Jajar itu pun bertanya pula, “Tetapi celanamu adalah celana keprajuritan.”

Suara tertawa kedua prajurit itu kian mengeras. Bahkan salah seorang dari mereka tidak dapat lagi menahan air matanya yang membasahi pelupuknya. “Kau lucu sekali.” katanya. “Baiklah, pertanyaan itu pun akan aku jawab Aku tidak malu seandainya kau tahu keadaan kami sebenarnya. Aku tidak mempunyai celana yang lain yang pantas. Itulah sebabnya aku mempergunakan celana ini untuk berjalan-jalan.”

“Kenapa kalian berdua? Apakah kalian berdua tidak memiliki celana berbareng seperti berjanji? Aku adalah seorang Jajar. Seorang abdi yang paling rendah. Juga dibandingkan dengan kalian prajurit yang paling kecil, seharusnya aku masih lebih kecil lagi. Tetapi aku mempunyai celana selain celana peparing dari istana.”

“Oh.” prajurit yang lain menganguk-angguk, “kau benar. Tetapi kau harus tahu sebabnya. Kau tidak mempunyai anak dan isteri. Tetapi kami? Anakku lima dan anak kawanku ini tiga. Tetapi kenapa kau terlampau meributkan pakaian kami?”

“Tidak apa-apa.” Jajar itu menggeleng. Tetapi tiba-tiba tatapan matanya tersangkut kepada seseorang di kejauhan. Dan tiba-tiba pula ia berdesis, “Siapa itu?”

“He.” kedua prajurit itu terkejut, “siapa saja apa pedulimu. Kenapa kau tampak bingung dan gelisah?”

“Tidak apa-apa.”

“Dan kau akan tetap berdiri saja di situ? Apakah kau tidak akan pulang.”

“Aku memang akan pulang.”

“Marilah kita berjalan bersama-sama.” ajak prajurit itu.

“Pergilah dahulu. Aku berjalan kemudian.”

Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi mereka pun kemudian minta diri untuk berjalan mendahului. Meskipun demikian ketika mereka berpaling, Jajar itu masih bertanya, “Kenapa kalian berpaling?”

Kedua prajurit itu tidak menjawab. Yang terdengar hanyalah suara tertawa mereka melambung dibawa angin. Namun terdengar Jajar yang gemuk itu mengumpat, “Setan alas. Apa kerja prajurit-prajurit itu berkeliaran di sini? Bukankah rumahnya di ujung lain dari kota ini?”

Tetapi kedua prajurit itu tidak mendengar. Keduanya berjalan terus meskipun sekali-sekali mereka masih juga berpaling.

Ketika kedua prajurit itu telah menjadi kian jauh, Jajar itupun meneruskan langkahnya. Tetapi setiap kali ia melihat seseorang lewat di jalan itu pula, hatinya menjadi berdebar-debar. Setiap kali ia selalu menengok ke belakang, seolah-olah takut diikuti oleh seseorang yang akan berbuat jahat kepadanya.

Kegelisahan Jajar itu menjadi semakin tajam, seperti matahari yang semakin menurun. Cahayanya yang kemerah-merahan memancar menyebar dilangit yang jernih.

Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu bergumam, “Aku harus bertemu dengan kawan Kuda Sempana itu hari ini. Tetapi kenapa ia tidak menjumpai aku seperti biasanya?”

Dan Jajar yang kemarin mengumpat-umpat karena Kebo Sindet menemuinya di perjalanan itu, kini justru mengharap dapat bertemu dimanapun.

Tetapi hampir ia meloncat ketika tiba-tiba saja ia mendengar seseorang menyapanya, dekat sekali di sampingnya ketika ia memasuki padesan. “O, kau terlampau siang pulang hari ini Ki Sanak.”

Darahnya tersirap ketika ia melihat dua orang duduk di atas batu tepat di tikungan. Ia tidak segera dapat mengenal wajah keduanya, karena keduanya memakai tudung kepala, yang dibuat dari anyaman daun kelapa, hampir menutup seluruh wajahnya. Tudung kepala yang sering dipergunakan diwaktu hujan meskipun dalam ukuran yang kecil. Tetapi suara yang mempunyai ciri tersendiri itulah yang langsung memperkenalkannya kepada keduanya.

“Kaukah itu?” Jajar itu hampir berteriak.

“Kenapa kau berteriak?” bertanya Kebo Sindet.

“Kalian mengejutkan aku.”

Kebo Sindet dan Kuda Sempana segera berdiri. Dengan wajahnya yang beku Kebo Sindet memandangi Jajar yang gemuk itu, seolah-olah baru kali ini dilihatnya. Dan Jajar itu menjadi kian gelisah sehingga terloncat pertanyaannya. “Kenapa kau heran melihat aku?”

Kebo Sindet itu menggeleng, “Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi kau tampaknya terlalu gugup dan gelisah.”

“Siapa yang bilang?”

“Baiklah. Kau tidak gugup dan gelisah. Tetapi bagaimana kabarnya Permaisuri itu?”

Jajar itu menarik nafas dalam-dalam. Diedarkannya pandangan matanya seolah-olah mencari seseorang Tetapi ia tidak melihat orang lain. Meskipun demikian dicobanya untuk menembus rimbunnya dedaunan dan gerumbul-gerumbul perdu di sekitarnya. Tetapi ia tidak melihat seseorang.

“Katakan.” desak Kebo Sindet. “Aku hampir ke hilangan kesabaran. Kau sudah kehilangan tiga hari dengan hari ini. Waktumu tinggal besok dan lusa.”

Jajar itu tidak segera menjawab. Ia masih mencoba mencari-cari dengan penuh kecurigaan, kalau-kalau ada orang lain yang mendengarnya.

“Katakan.” sekali lagi Kebo Sindet mendesak, “jangan takut didengar orang lain. Bukankah ini bukan rahasia lagi?”

“Tetapi.” Jajar itu menjawab terbata-bata, ” kita berbicara di jalan yang mungkin dilewati orang-orang lain yang sama sekali tidak berkepentingan.”

“Aku tidak mencemaskannya.” sahut Kebo Sindet, “siapa pun yang mendengar dan mengetahui pembicaraan ini, aku tidak berkeberatan.”

Jajar itu mengerutkan keningnya. Baginya kata-kata Keko Sindet itu terdengar sangat aneh. Seharusnya ia merahasiakan dirinya dan setiap pembicaraan. Semakin banyak orang yang mengenalnya, maka bahaya baginya menjadi semakin besar.

Agaknya Kebo Sindet dapat meraba perasaan Jajar yang gemuk itu, maka katanya, “Jangan cemas. Mahisa Agni masih berada di tanganku. Sesuatu yang terjadi atasku, maka nasib Mahisa Agni akan menjadi terlampau buruk. Aku berjanji dengan kau sampai lusa. Apabila di pagi harinya aku tidak kembali, maka orang-orangku akan segera berbuat sesuatu atas Mahisa Agni.”

Dada Jajar itu berdesir. Tetapi tiba-tiba ia menggeram meskipun hanya di dalam hati, “Aku tidak peduli. Besok Kebo Sindet harus sudah binasa. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi atas Mahisa Agni. Biar saja ia dibunuh, ia bukan sanak, bukan kadangku.”

“Kenapa kau diam seperti sudah menjadi pikun. Apakah kau tidak bertemu lagi dengan Permaisuri?” bertanya Kibo Sindet.

“Hari ini aku telah bertemu.” berkata Jajar yang gemuk itu sambil memandang berkeliling. Ia masih saja bercuriga. Di jalan ini ia bertemu dengan dua orang prajurit. Dengan orang-orang asing yang belum dikenal dan orang-orang yang seakan-akan hilir mudik mengawasinya.

“Ternyata kau penakut.” Kebo Sindet hampir membentak, “benar jalan ini adalah jalan umum. Setiap orarig dapat saja lewat dijalan ini. Bagimu sebenarnya lebih baik. Tidak akan ada orang yang mencurigaimu karena kau bertemu dengan seseorang dan berbicara denganmu dijalan yang ramai ini. Ayo, katakanlah.”

Jajar itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian dengaa hati-hati dikatakannya apa yang dikehendaki oleh Permai¬suri. Dibatas waktu yang diberikan, Permaisuri akan mengi rim orang untuk menyerahkan perhiasan itu, tetapi dengan syarat, Mahisa Agni harus dibawa serta.

Jajar itu menjadi ngeri, dan seluruh bulunya tegak berdiri ketika ia melihat sorot mata Kebo Sindet. Meskipun wajahnya masih saja membeku, tetapi mata itu seolah-olah menjadi merah membara.

“Begitukah kehendak Permaisuri.”

Tanpa sesadarnya Jajar itu mengangguk dan berdesir, “Ya.”

“Dan kau tidak menjelaskan bahwa aku tidak akan bersedia menerima syarat itu?”

“Sudah aku katakan.”

“Kenapa syarat itu masih juga diajukan kepadaku?” mata Kebo Sindet menjadi semakin menyala, “Aku tidak mau masuk ke dalam wuwu. Aku bukan seorang anak yang dungu. Kau tahu, bahwa dengan demikian kau pun tidak akan mendapatkan apa-apa. Mungkin kau akan ikut serta ditangkap bersama aku setelah Mahisa Agni itu lepas bersama tebusan yang akan dirampasnya kembali. Tumapel mempunyai prajurit yang tidak terhitung jumlahnya. Apakah kita akan dapat melawan.”

“Sudah aku katakan kepada Permaisuri.”

“Tetapi ia tidak mau mendengarkan begitu? Baiklah. Kalau demikian persoalan kita sudah selesai. Kau tidak akan mendapat kesempatan lagi.”

“Tunggu.” Jajar itu benar berteriak.

“Apa lagi.”

“Sebenarnya aku sudah membuat perhitungan, bahwa kau pasti akan menolak. Tetapi aku tidak dapat membantah perintah Permaisuri. Apa yang aku lakukan hanyalah sekedar sebuah permainan.”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Matanya yang terpancang diwajahnya yang beku memandangi Jajar itu seakan-akan ingin melihat sampai kepusat jantungnya.

“Apa maksudmu?” desis Kebo Sindet itu kemudian.

Keringat dingin telah membasahi segenap tubuh Jajar yang gemuk itu. Tetapi otaknya mencoba bekerja sekuat-kuat kemampuannya. Sejenak kemudian ia berkata, “Bukankah waktu yang kau berikan masih dua hari.”

“Tetapi hanya akan membuang waktu saja bagiku.”

Jajar itu menggeleng. “Tidak.” Jantungnya dicengkam oleh kecemasan. Jika demikian rencananya akan bubrah. Akan pecah berserakan seperti harapannya untuk mendapatkan perhiasan yang akan bernilai seluas tanah perdikan yang besar.

“Sudah aku katakan, bahwa aku hanya sekedar menyenangkan bati Permaisuri itu.” berkata Jajar itu, “tetapi dengan demikian aku akan mendapat kesempatan untuk berbicara lebih hanyak. Besok aku akan menyampaikan keterangan seperti yang kau katakan, bahwa kau akan menolak. Besok sore aku memerlukan kau. Aku yakin bahwa tidak akan ada pilihan lain dari Permaisuri itu kecuali memenuhi tuntutanmu.”

“Kau terlampau berbelit-belit.”

“Aku memerlukan sikap yang berbelit-belit untuk memaksa Permaisuri mempercayaiku. Kalau aku menolak untuk menyampaikan syarat ini kepadamu, maka aku akan kehilangan kesempatan, sebab aku menolak perintah Tuanku Permaisuri. Nah, besok kita akan bertemu. Aku tidak mau berteka-teki dan selalu gelisah. Katakan, dimana kau akan menemui aku besok. Waktu kita tinggal sedikit. Kau selama ini hanya menurut kemauanmu saja. Sebaiknya kita berbicara dengan pasti.”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Tetapi sorot matanya masih belum pudar. Sejenak dipandanginya Kuda Sempana yang berdiri membeku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan seolah-olah ia menjadi acuh tidak acuh saja menanggapi pembicaraan itu.

“Bagaimana?” Jajar itulah yang kini mendesak, “dimana besok kita dapat bertemu? Katakan dengan pasti, supaya aku membuat perhitungan yang pasti pula. Waktuku tinggal dua hari. Kalau aku masih harus banyak berteka-teki, maka aku tidak segera dapat memusatkan perhitunganku atas tawaran-tawaran Permaisuri.”

Tiba-tiba Jajar itu mendengar Kebo Sindet menggeram, “Jangan memaksa. Aku akan menjumpaimu dimana saja aku inginkan. Jangan pula membuat tawaran-tawaran yang tidak masuk akal. Kau masih mendapat kesempatan. Tetapi ingat, kalau dua hari ini telah lewat dan kau masih belum mendapatkan tebusan itu, tidak ada ikatan apa-apa lagi di antara kita.”

“Baik. Aku akan mencoba, dalam dua hari ini. Tetapi katakan dimana aku besok bisa bertemu, berbicara agak panjang tanpa kecurigaan terhadap keadaan di sekitar kita.”

“Apakah yang harus dibicarakan?”

“Apa yang akan disampaikan Permaisuri besok kepadaku.”

“Permaisuri tinggal mengatakan ya atau tidak.”

“Lalu, apakah utusannya lusa harus membawa tebusan itu berkeliling kota dan menunggu kau menjumpai mereka itu di tempat yang kau sukai?”

Kebo Sindet terdiam sejenak. Lalu katanya, “Baik, aku akan menentukan tempat itu. Tetapi tidak sekarang. Aku tidak perlu cemas, sebab Mahisa Agni masih di tanganku.”

“Nah, kita bicara besok. Tetapi di mana? Kenapa kau cemaskan tempat yang akan kau tentukan itu, sedang kau tidak mencemaskan tempat yang akan kau pakai untuk menerima tebusan lusa?”

Sekali lagi Kebo Sindet terdiam sejenak. Dipandanginya Jajar yang gemuk itu seakan-akan ingin melihat sampai kepusat dadanya.

“Aku akan temui kau besok.”

“Mudah-mudahan aku dapat menekan Permaisuri, sehingga tebusan itu akan dapat kau bawa besok.”

“Hem.” Kebo Sindet menggeram, “apa ada kemungkinan demikian?”

“Tentu. Permaisuri berhati lemah. Agaknya Akuwu sudah tidak berkeberatan. Soalnya, bagaimana Permaisuri yakin bahwa kakaknya selamat. Kalau ini kau jamin kelak, maka aku kira tidak akan ada kesukaran lagi.”

Kebo Sindet tidak menjawab.

“Bagaimana?” bertanya Jajar yang gemuk.

“Pergilah. Besok aku temui kau sesuka hatiku. Jangan mengatur aku. Aku dapat berbuat apa saja yang aku sukai.”

“Tetapi kau memerlukan tebusan itu bukan?”

Kebo Sindet terdiam.

“Mudah-mudahan aku besok telah membawanya. Aku harus memaksa dan menakut-nakuti Permaisuri.”

“Mudah-mudahan. Tetapi kau tidak perlu tahu, dimana aku akan menjumpaimu.”

“Hem.” Jajar itulah yang menggeram. “Terserah kepadamu. Aku sudah mencoba. Tetapi aku harap kau benar-benar dapat menjumpai aku.”

“Pasti.”

“Baiklah.” Jajar itupun segera pergi meninggalkan Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Sejenak kemudian kedua orang itupun pergi pula, tetapi kearah yang berlawanan.

Di sepanjang langkahnya Jajar itu menggerutu tidak habis-habisnya, bahkan mengumpat-umpat. Seakan-akan Kebo Sindet itu telah mengetahui rencananya untuk membinasakannya besok, sehingga orang itu tidak mau mengatakan dengan pasti, di mana besok mereka dapat bertemu.

“Bagaimana aku akan menyiapkan orang-orangku.” gumam Jajar itu, “Setan alas. Orang itu benar-benar seperti setan.”

Tetapi sekali lagi Jajar yang gemuk itu hampir terlonjak. Tiba-tiba saja ia bertemu ditikungan, kedua prajurit yang telah dijumpainya tadi.

“Kau terkejut?” bertanya salah seorang prajurit itu.

Jajar itu mengerutkan keningnya, “Gila. Apa kerja mu di sini.”

“Bukankah kau sudah bertanya? Aku sedang beristirahat dan menikmati masa istirahat kami. Jelas. Kami berjalan-jalan saja kemana kami suka.”

Tetapi kecurigaan Jajar itu kian bertambah. Dengan gemetar ia berkata, “Kau sengaja mengintip aku bukan?”

“He.” prajurit-prajurit itu terkejut, “kau terlampau bercuriga. Kenapa aku harus mengintip kau. Tanpa mengintip aku melihat kau dari kejauhan, dari sudut desa itu. Bukankah kau berbicara dengan dua orang yang memakai tudung kepala dari daun kelapa. Akulah yang seharusnya mencurigaimu. Kau berbicara dengan orang-orang aneh. Bukankah tudung kepala macam itu biasa dipakai dihari hujan? Kedua orang itu memakainya dihari yang cerah. Tidak pula sedang panas terik, karena matahari hampir tenggelam. Apakah kedua kawanmu itu tidak sengaja menyembunyikan wajah-wajah mereka.”

“Gila kau. Kenapa kau berpikir sampai sedemikian jauh?” Jajar itu menjadi cemas.

“Karena itu, jangan terlampau mencurigai orang. Seandainya kau sedang berbicara tentang judi sekalipun aku tidak akan mempedulikan.”

“Baik. Baik.” Jajar itu menjawab dengan serta merta, “aku memang sedang berbicara tentang judi. Orang itu adalah seorang dukun yang sakti, yang dapat memberi petunjuk-petunjuk tentang cara-cara untuk memenangkan perjudian.”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang bergumam, “Dan kau percaya?”

“Aku percaya.” sahut Jajar itu.

Kedua prajurit itu hampir bersamaan tertawa. Sejenak mereka saling berpandangan, dan sejenak kemudian mereka melihat wajah Jajar yang berkerut-merut.

“Kenapa kalian tertawa?” bertanya Jajar itu.

“Tidak apa-apa.”

“Apakah kalian tidak percaya bahwa dalam pemusatan pikiran seseorang akan dapat mengenal petunjuk atau getaran-getaran yang dapat memberinya tanggapan atas sesuatu yang bakal terjadi meskipun samar-samar,” desak Jajar itu.

“He.” salah seorang prajurit itu menyahut dengan serta-merta, “Kau agaknya telah menjadi seorang yang mendalami masalah-masalah getaran alam semesta dalam tanggapan alam yang kecil? Seperti Sena melihat Dewa Ruci di dalam ceritera pewayangan yang dapat menimbulkan tanggapan timbal balik? Diri dalam kediriannya dan diri di dalam rangkuman alam semesta. Dewa Ruci yang hadir karena kehadiran Sena setelah berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan, dan kemudian Sena itu hadir di dalam diri Dewa Ruci dalam pencahariannya. Dan apa yang diketemukan? Keserasian tanggapan yang utuh. Begitu?” prajurit itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Aku pernah juga mendengar ceritera itu.” dan tiba-tiba prajurit itu berdesis, “Aku tidak menolak seseorang mempunyai kemampuan yang melebihi manusia yang lain. Itu adalah pertanda kebesaran Yang Maha Agung. Tetapi aku kira kelebihan kurnia Yang Maha Agung itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih besar bagi kemanusiaan. Bukan untuk menolongmu berjudi.”

“Jadi kau tidak percaya?” Jajar itu menegangkan lehernya.

“Aku percaya kepada kemampuan yang demikian.”

“Kenapa kau tertawa?”

Kedua prajurit itu justru tertawa semakin, keras. Salah seorang dari mereka berkata, “Pergilah ketempat perjudian itu. Kau nanti lupa kepada petunjuk-petunjuk yang telah kau dapatkan dari padanya. Kalau kau menang, pergunakanlah kemenanganmu untuk kebaikan.”

“Persetan.” desis Jajar yang gemuk. Tetapi tiba-tiba ia berdesis, “Kenapa kalian mengawasi aku. Kalian mencurigai aku dan tidak percaya bahwa kedua orarg itu tidak mempunyai kepentingan apa-apa dengan aku selain petunjuk-petunjuknya.”

“Siapa yang bilang? Kau jangan mengigau Jajar. Pergilah kalau kau mau pergi.”

Jajar itu menggeretakkan giginya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia menjadi semakin bercuriga kepada kedua prajurit itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu maka dengan wajah yang tegang, ia melangkah pergi. Ketika ia berpaling, ia mengumpat sejadi-jadinya di dalam hatinya karena salah seorang dari kedua prajurit itu bertanya, “Kenapa kau berpaling?”

“Setan alas.” desisnya. Dan ia masih mendengar kedua prajurit itu tertawa.

“Tidak ada waktu untuk meributkan orang gila itu.” Jajar itu bergumam kepada diri sendiri. Langkahnya menjadi semakin cepat. Meskipun sekali-sekali ia masih juga berpaling. Ia mengumpat sekali lagi ketika dilihatnya bayangan kedua prajurit itu menjadi semakin jauh, dan suasana disekitarnyapun menjadi semakin suram. Ketika ia menengadahkan wajahnya kelangit, dilihatnya bayangan merah yang redup masih menyangkut dipinggiran mega putih yang berarak.

“Aku harus menemui anak-anak liar itu.” Jajar itu berkata kepada diri sendiri, “Tetapi di mana besok aku menemui kawan Kuda Sempana, dan di mana anak-anak itu harus menyiapkan dirinya?”

Jajar itu mencoba mengusir kejengkelannya. Ia ingin memusatkan pikirannya kepada persoalan yang akan dihadapinya besok. “Sayang.” ia bergumam, “aku tidak tahu apa yang akan terjadi, sehingga aku tidak segera menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk melenyapkan Kuda Sempana dan kawannya itu.”

Sekali-sekali Jajar itu menghentak-hentakkan kakinya. la ingin mengusir semua gangguan di dalam kepalanya. Ia ingin segera menemukan cara yang baik untuk membunuh Kebo Sindet.

“Persetan.” tiba-tiba ia menggeram, “aku besok harus menemui Permaisuri. Mengatakan bahwa Kuda Sempana dan kawannya bersedia menerima tawarannya. Tatapi besok aku harus dapat membunuh orang-orang yang tamak itu. Tetapi di mana ?”

“Hem.” sekali lagi ia menggeram.

Tanpa sesadarnya langkahnya menjadi semakin cepat. Matahari telah lenyap dibalik bukit. Di kejauhan Jajar itu melihat cahaya pelita dari balik dinding rumah. Sinarnya satu-satu berloncatan lewat lubang-lubang pintu yang belum tertutup rapat.

Tiba-tiba Jajar itu tertegun. Ia berhenti di tengah jalan. Wajahnya menegang dan matanya yang sipit itu menjadi semakin sipit. “Aku harus menemukan cara.” desisnya. Setelah mengerutkan keningnya, maka diayunkannya lagi kakinya. Wajahnya kemudian menjadi terang. Katanya kepada diri sendiri, “Aku besok akan menghadap Permaisuri. Sesudah itu aku akan pulang, jauh sebelum waktunya. Aku kira Kuda Sempana dan kawannya itu tidak akan dapat menjumpai aku di jalan. Mereka tidak akan mengira bahwa aku akan pulang terlampau siang. Aku kemudian harus menyiapkan anak-anak itu di sekitar rumahku. Kuda Sempana dan kawannya yang berwajah mayat itu pasti akan mencariku di rumah.”

Jajar itu tersenyum sendiri. Langkahnya kini menjadi semakin ringan. Ketika ia memasuki sebuah lorong sempit, diantara halaman-halaman yang rimbun, langkahnya menjadi semakin cepat. Ia ingin segera sampai ketempat perjudian.

Bukan saja ia ingin segera ikut bermain dadu, tetapi ia ingin segera tertemu dengan adiknya dan kawannya, anak-anak muda yang liar dan buas. Yang tidak mempunyai tujuan hidup sama sekali. Hidup bagi mereka adalah apa yang mereka lajukan dan apa yang ingin mereka lakukan. Tanpa pertimbangan peradaban dan ikatan-ikatan pergaulan yang berlaku.

Jajar yang gemuk itu tersenyum sendiri. Seakan-akan ia telah menemukan apa yang dicarinya. Pemecahan yang paling baik, paling menguntungkan dan hasil yang sebanyaknya. Perhiasan tiga pengadeg .

“Hem.” Jajar itu menarik nafas. Serasa semua angan-angan itu telah terjadi. Seakan-akan ia telah menjadi seorang yang kaya raya, meskipun hidup di tempat yang terpencil. Se¬raya kaki-kakinya menjadi berat, dan langkahnya telah membuat bekas-bekas yang dalam di atas tanah yang dilewatinya.

“O, aku akan memiliki kekayaan yang seluas tanah perdikan yang paling kaya, meskipun aku harus pergi dari Tumapel.” Jajar itu tersenyum.

Ia menjadi kecewa ketika ia telah sampai di depan sebuah halaman yang luas, agak jauh di dalam padesan yang sepi. Regolnya yang besar selalu tertutup rapat. Jajar itu terpaksa menghentikan angan-angannya yang terbang tinggi sampai kesela-sela bintang yang berhamburan dilangit. Ia telah sampai ditempat yang ditujunya. Tempat perjudian.

Perlahan-lahan didorongnya pintu regol yang besar itu. Ketika pintu itu terbuka sedikit, dilihatnya beberapa anak-anak muda berdiri di sekitar regol itu.

“Siapa?” salah seorang dari mereka menyapa.

Jajar itu tidak menjawab. Tetapi ia langsung melangkah masuk.

“O, kau.” desis salah seorang dari mereka.

Jajar itu masih belum menjawab. Seperti seorang Senapati perang ia melangkah di antara prajurit-prajuritnya. Sambil memandang kekiri dan kekanan ia mengangguk-angguk kecil.

Baru sejenak kemudian ia berdesis, “Apakah kawan-kawanmu sudah lengkap?”

Salah seorang dari anak-anak muda itu yang ternyata adalah adiknya menjawab, “Apakah kau memerlukan kami sekarang?”

“Tidak, tidak sekarang.” jawab Jajar itu. Tetapi lalu, “Apakah di dalam sudah banyak orang.”

“Kau akan ikut berjudi?” bertanya adiknya.

“Sedikit, aku akan menghilangkan pening dikepala.”

“Sudah banyak orang. Tetapi tidak ada yang pantas untuk disebut. Mereka penjudi-penjudi kecil yang tidak berarti.”

Jajar itu mengerutkan kcningnya. la sebenarnya juga termasuk penjudi-penjudi kecil yang tidak begitu berarti. Tetapi ia berkata didalam hatinya, “Sebentar lagi aku akan menjadi seorang yang besar dan terhormat disini. Aku akan membawa uang sekampil besar. Kalau kalah, sama sekali kalah, kalau menang aku akan menjadi semakin kaya. Tetapi seandainya aku kalah, uang sekampil itu pun tidak akan berarti apa-apa bagiku.”

 

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]
Source : www.agusharis.net

~ Article view : [198]