Pelangi di Langit Singasari [ 35 ]

309

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 35 ]

 

TETAPI Jajar itu tidak langsung masuk ke dalam. Ia ingin berunding dengan anak-anak gila itu dahulu. Katanya, “Ayo, siapa diantara kalian yang akan mewakili kawan-kawanmu untuk berbicara dengan aku? Jangan terlampau banyak supaya aku tidak bingung. Dua orang saja, tiga dengan adikku.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Lalu tanpa berjanji mereka menunjuk dua orang yang seakan-akan telah mereka jadikan pimpinan mereka.

“Mari, kita berbicara. Tetapi jika kalian membocorkan rahasia pembicaraan ini, maka terkutuklah kalian sampai keanak cucu.”

Kedua orang yang ditunjuk oleh kawan-kawannya itu tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak mempunyai anak cucu. Istripun aku tidak mempunyainya.”

“Kalian harus kawin. Sesudah ini, sesudah pekerjaan ini selesai.”

“Oh, apa yang akan kami pergunakan untuk kawin? Perempuan pasti menginginkan sesuatu. Rumah, pakaian, sawah dan tetek bengek.”

“Sesudah pekerjaan kalian selesai, maka kalian pasti akan memilikinya. Memiliki semua yang kalian perlukan itu.”

“Kalau aku mempunyai kekayaan, aku akan berjudi.” sela yang lain.

“Kenapa begitu?” bertanya Jajar itu.

“Hidup seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu, adalah kehidupan yang tidak jujur. Orang mengikat diri dalam suatu ikatan yang tidak dikehendakinya sendiri.”

“He.” Jajar itu mengerutkan keningnya.

“Jangan pura-pura tidak tahu. Kenapa kau juga tidak kawin saja? Nah, bukankah kau juga sependapat, bahwa hidup yang demikian itu adalah kehidupan yang menjemukan? Seperti burung yang memasukkan dirinya sendiri kedalam sangkar? Adalah bohong sama sekali, bahwa seseorang dapat mendapatkan kesenangan, yang menurut orang cengeng disebut kebahagiaan di dalam perkawinan.”

“Kau lucu.” desis Jajar itu.

“Tidak. Tidak lucu. Aku berkata sebenarnya seperti apa yang sebenarnya tersimpan di dalam dada setiap orang. Kau lihat ketidak jujuran itu? Aku mempunyai kawan yang kawin. Katanya ia berbahagia. Tetapi apa yang dilakukan? Sambil bersembunyi-sembunyi ia mencari perempuan lain. Sedang isterinya tidak tahu sama sekali. Isterinya menganggap suaminya adalah orang yang paling suci. Begitukah hidup yang baik, yang jujur? Sebaliknya, kawanku yang lain. Suaminya merasa isterinya yang paling tercinta adalah seorang perempuan yang bersih seputih kapas. Tetapi apa yang terjadi? Aku sendiri pernah lima kali diterimanya di dalam rumahnya selagi suaminya berada di sawah, menunggu air di malam hari. Bertanyalah kepada adikmu, kepada orang yang lain. Nah bukankah mereka selalu diselimuti oleh kebohongan dan ketidak jujuran? Katakan ada suami isteri yang bersih. Tetapi apakah kau yakin, bahwa suami isteri itu tidak selalu menentang perasaan sendiri?”

Jajar itu mengerutkan keningnya. Ia memang tidak kawin, tetapi bukan karena alasan-alasan yang diucapkan oleh anak itu. Ia tidak kawin karena merasa dirinya tidak mampu untuk kawin. Bukan karena alasan-alasan lain. Bukan karena ia takut untuk menghadapi kenyataan-kenyataan yang diucapkan oleh anak itu.

“Bagaimana?” anak muda yang berambut kusut tanpa disisir itu mendesak, “kau sependapat?”

Jajar itu belum menjawab. Ia merasakan ketidaksamaan dalam hal itu. Tetapi Jajar itu tidak dapat mengucapkan. Jajar itu tidak dapat menjusun kalimat-kalimat yang baik untuk mengatakan perasaannya. Ia tidak dapat mengerti apa yang disebut kejujuran di dalam hal ini. Apakah seseorang yang tidak membiarkan segala macam keinginan terpenuhi itu tidak jujur? Ia dapat mengerti tentang laki-laki atau perempuan yang diam-diam telah meninggalkan kebersihan perkawinannya. Tetapi ia tidak mengerti pendapat anak yang liar itu bahwa suami isteri yang mengekang diri untuk mempertahankan nilai-nilai perkawinannya yang putih itupun dianggapnya tidak jujur, karena menentang perasaan sendiri.

Tetapi akhirnya Jajar itu hanya bergumam, “Kau hanya ingin membenarkan sikapmu.”

Anak itu tertawa pendek, “Kau salah. Aku ingin jujur terhadap diriku sendiri. Aku tidak mau membohongi diriku sendiri. Inilah aku.”

“Bagaimana kau?”

“Aku lakukan apa yang aku ingini. Aku tidak mau terikat oleh apapun. Aku adalah manusia yang bebas. Manusia yang tidak menjadi budak peradaban dan segala macam adat dan peraturan-peraturan yang dibuat manusia sendiri untuk mengikat dirinya sendiri dan mengajari membohongi diri.”

Jajar itu terdiam sejenak. Sekali lagi ia mendapatkan kesulitan untuk mengatakan perasaannya. Tetapi perasaannya sama sekali tidak sesuai dengan pikiran itu.

“Bagaimana?” anak itu masih tertawa. Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kau sependapat?”

Tetapi Jajar itu menjawab, “Aku tidak tahu. Tetapi apakah dengan demikian kau tidak hanya sekedar ingin membenarkan sikapmu yang liar dan tidak terkendali? Kau hanya meminjam istilah yang dapat menyelamatkan perasaanmu sendiri dari kejaran-kejaran kegelisahanmu. Kau mencoba untuk menyembunyikan diri dari ketakutan dan kecemasan tentang hari-harimu yang mendatang, karena kau sekarang hanya sekedar dikuasai oleh nafsu yang tidak terkendali. Lalu kau menyebutnya dengan kata-kata yang dapat memberimu ketentraman, yaitu kejujuran. Begitu? Dengan demikian kau dapat membebaskan dirimu dari jalan dan pandangan hidup yang berlaku. Dengan bangga kau berkata, “Aku jujur terhadap diriku. Aku tidak mau membohongi diri sendiri. Aku ingin berbuat seperti ini, memanjakan nafsu.” begitu?”

Anak muda itu terperanjat mendengar jawaban Jajar yang gemuk itu. Ia tidak menyangka bahwa Jajar yang tidak juga kawin itu beranggapan demikian. Karena itu sejenak justru ia tidak dapat mengucapkan sesuatu.

“He.” Jajar itu menghela nafasnya, “kita telah salah memilih bahan pembicaraan. Aku mempunyai keperluan yang khusus. Tidak ingin berbicara tentang jalan hidup kita masing-masing. Ayo kita berbicara.”

“Heh.” anak muda itu agaknya masih belum puas, “kau tidak senang melihat aku memilih jalan hidup seperti ini. Tetapi kau ingin berbuat jauh lebih dahsyat dari apa yang kita lakukan.”

Jajar itu mengerutkan keningnya, tetapi lalu tersenyum. Akalnya ternyata masih dapat menguasai dirinya, “Kita telah memilih jalan hidup kita masing-masing. Jalan yang berbeda tetapi mempunyai beberapa persamaan. Aku menginginkan apa yang aku ingini, dan kau memilih apa yang kau pilih. Tetapi keduanya tidak dibenarkan oleh ukuran peradapan yang wajar.”

Wajah anak muda itu menegang, tetapi iapun kemudian tertawa pula, “Marilah, kita berbicara. Kita adalah orang-orang yang liar, tetapi jujur terhadap diri sendiri.”

Jajar itupun kemudian melangkah pergi diikuti oleh adiknya dan kedua anak-anak muda yang akan mewakili teman-temannya kesudut halaman itu. Tetapi meskipun demikian Jajar itu masih sempat berpikir, “Seandainya semua orang berbuat demikian, jujur sejujur-jujurnya terhadap perasaan sendiri tanpa mau mengikatkan diri kepada ketetapan peradahan yang telah disetujui bersama, apakah yang kira-kira akan terjadi? Tidak ada ikatan antara seseorang dan orang yang lain. Tidak ada perkawinan, tida ada keluarga.” Tetapi Jajar itu kemudian berdesis, “Persetan, aku harus mendapatkan perhiasan tiga pengadeg. Aku harus menjadi kaya raya. Aku akan kawin dengan perempuan yang paling cantik.” Tiba-tiba ia mengerinyitkan keningnya, “Tetapi bagaimana kalau perempuan yang paling cantik itu tidak jujur. Ia kawin bukan karena ia mencintai aku, tetapi karena kekayaanku. Lalu seperti yang dikatakan oleh anak ini, ia menerima orang lain di dalam rumahku.”

“Persetan. Persetan.” Jajar itu menggeretakkan giginya.

Akhirnya mereka berhenti di sudut halaman, ditempat yang terlindung oleh gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh disana-sini.

Dengan hati-hati Jajar itu menceriterakan apa yang ingin dilakukannya besok, sesuai dengan rencananya.

“Kalian jangan gagal.” desis Jajar yang gemuk itu. “Kalau kalian gagal, maka semua rencana akan gagal juga.”

“Percayalah. Terhadap seekor harimau loreng kami tidak takut. Apalagi Kuda Sempana berdua.”

“Tunggulah disekitar halaman rumahku. Kalau mereka telah masuk, jangan tunggu lebih lama lagi. Pancinglah mereka dengan segala macam persoalan. Kalau kalian kemudian berkelahi, bunuh saja keduanya. Mayatnya harus disembunyikan, sampai pihak istana selesai mengurus penyerahan tebusan itu, kita tidak mempunyai urusan lagi.”

Kedua anak-anak muda dan adik Jajar yang gemuk itu mencoba membayangkan apa yang harus mereka lakukan. Mereka harus bersiaga tanpa diketahui oleh kedua orang yang dimaksud oleh Jajar yang gemuk itu. Kemudian apa bila mereka telah berada di dalam rumah, maka mereka harus menyergapnya. Mengepung rumah itu supaya mereka tidak lolos, dan menyeret mereka ke dalam perkelahian.

“Apakah kalian telah mengerti apa yang akan kalian lakukan?” Jajar itu bertanya.

Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Adiknya menyahut, “Ya, kami sudah tahu. Dan kami akan melakukan sebaik-baiknya.”

“Hati-hati. Kuda Sempana adalah seorang bekas Pelajan Dalam istana yang mendapat kepercayaannya. Kemampuannya berkelahi tidak kalah dengan seorang prajurit, bahkan seorang prajurit pilihan.”

Adik Jajar itu tertawa pendek, “Aku sudah tahu, apa yang mampu dilakukan oleh seorang Pelajan Dalam. Aku tahu pula kemampuan seorang prajurit pilihan sekalipun. Aku sendiri akan dapat menyelesaikannya.”

“Tetapi kawannya itu.” potong Jajar yang gemuk.

“Apakah kawan Kuda Sempana itu mempunyai nyawa rangkap tiga?” sahut anak muda yang lain, “kita kini telah berempat. Apalagi ditambah dengan beberapa kawan. Betapapun dahsyat orang itu, tetapi ia tidak akan mampu melawan kami. Mungkin seorang lawan seorangpun aku mampu membunuhnya. Tetapi supaya kita yakin bahwa rencana ini tidak gagal, akan membawa kawan lima orang lagi, sehingga kita berjumlah sembilan orang.”

“Sembilan orang.” Jajar itu mengulangi, “Kuda Sempana sendiri memerlukan dua orang untuk dapat membunuhnya segera, dan kawannya itu akan dibunuh beramai-ramai oleh tujuh orang. Bukankah begitu.”

“Berlebih-lebihan. Tetapi biarlah hatimu menjadi tenteram.” potong adiknya, “Kau tahu apa yang dapat lakukan dan yang sering kami lakukan.”

“Ya aku tahu. Kalian terlampau sering berkelahi dan memang mampu untuk melakukannya.”

“Nah, apakah kalian masih mencemaskan nasib kami atau mencemaskan nasib Kuda Sempana dan kawannya?”

“Aku percaya. Sembilan orang. Kalau kita gagal dengan sembilan orang, maka baiklah kita bersama-sama membunuh diri. Kita akan menjadi sangat malu.” berkata Jajar yang gemuk itu.

Ketiga anak-anak muda itu tertawa. Salah seorang, dari mereka berkata, “Jadi kau yakin?”

“Aku yakin dihari pertama. Besok untuk membunuh Kuda Sempana dan kawannya. Tetapi bagaimana dihari kedua. Lusa?”

“Berapa orang kau butuhkan?”

“Aku belum tahu pasti, siapakah dan berapakah jumlahnya, orang-orang yang harus datang untuk menyerahkan tebusan itu. Tetapi besok aku akan minta kepada Permaisuri, bahwa Kuda Sempana dan kawannya minta supaya mereka menyerahkan uang itu aku sendiri dan hanya satu dua orang pengawal.”

“Apa Permaisuri dan Akuwu Tunggul Ametung akan menyetujuinya?” bertanya adiknya.

“Aku akan berusaha. Aku dapat mengatakan bahwa apabila tidak demikian maka Kuda Sempana dan kawannya itu tidak bersedia membawa Mahisa Agni, karena mereka bercuriga bahwa orang-orang Tumapel akan berbuat curang.”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau memang pintar.” salah seorang dari mereka bergumam, “Mudah-mudahan Permaisuri cukup bodoh untuk menyetujuinya.”

“Mahisa Agni baginya terlampau berharga.”

“Lalu berapa orang kau perlukan? Tiga, atau lima?”

“Hus.” Jajar itu berdesis, “jangan terlampau memandang ringan persoalan ini. Mungkin Permaisuri menyediakan beberapa orang prajurit untuk mengawasi serah terima itu.”

“Ya, tetapi berapa orang yang kau perlukan? Itu saja. Aku tidak sempat memikirkan segala macam persoalannya.”

“Aku tinggal menyediakan. Sebut saja. Kalau kau masih perlu mempertimbangkannya, pertimbangkan saja lebih dahulu didalam kepalamu sebelum kau menyebut jumlahnya.”

“Setan alas.” geram Jajar itu, “kalian memang terlampau malas. Otak kalian akan menjadi tumpul, setumpul lutut kalian itu.”

“Aku tidak sempat.”

“Baiklah. Aku minta kalian datang bersama-sama kawan-kawan kalian sebanyak limabelas orang.”

“He, sebanyak itu? Apakah kita akan berperang melawan Tumapel? Berapa orang prajurit yang akan ikut kau pada saat penyerahan itu. Berapa? Ada sepuluh orang atau lebih? Kau menghina kami. Kalau yang datang hanya lima orang, maka lima orang sudah cukup untuk melawan mereka dan membinasakan. Seorang menurut katamu akan menjadi Kuda Sempana didalam kegelapan, dan seorang lagi menjadi kawannya. Sedang yang seorang menjadi bayangan Mahisa Agni. Tiga orang. Begitu bukan maksudmu? Dengan demikian maka jumlah yang diperlukan sebanyak-banyaknya adalah sepuluh orang dengan kau sendiri.”

“Kalian tidak usah ikut berpikir. Otak kalian sudah terlanjur tumpul. Biarlah aku saja yang memikirkan. Kau hanya tahu jumlah yang aku perlukan. Kau tidak akan tahu darimana aku mendapatkan angka itu. Lima belas orang. Apakah kalian bersedia.”

“Setan alas, kaupun setan alas.” geram salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Nah, bagaimana. Apakah diantara kalian tidak ada sejumlah itu?”

“Hem.” adik Jajar itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, “Ya, kami sanggupi. Jangankan limabelas seratuspun akan dapat terkumpul dalam malam ini sebelum matahari muncul.”

“Benar begitu?” bertanya Jajar itu ragu-ragu. Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Mereka merasakan keragu-raguan Jajar yang gemuk itu, seolah-olah Jajar itu kurang mempercayai mereka. Karena itu maka salah seorang dari mereka berganti bertanya, “Kau tidak percaya? Apakah kau ingin membuktikan?”

“Bukan, bukan karena aku tidak percaya. Tetapi baiklah. Aku kira kita tidak memerlukan orang begitu banyak. Lima belas orang saja. Kalau kalian, kurang yakin, kalian dapat menambah menurut pertimbangan kalian sendiri.”

“Kalau kau bertanya tentang pertimbangan kami, maka lima orang sudah cukup untuk melawan lima belas orang prajurit seperti yang kau katakan. Apakah kau tidak percaya?”

“Aku percaya. Tetapi aku memerlukan keyakinan dan kepastian. Itulah sebabnya, maka lebih baik kita kelebihan tenaga daripada kita mengalami kegagalan.”

“Lalu apa lagi yang harus kami kerjakan?”

“Tidak ada. Tetapi ingat. Sesudah itu aku akan meninggalkan Tumapel. Kalian sebaiknya ikut aku.”

“Buat apa?”

“Kalian menjadi pelindungku yang baik, dan kalian pun harus menghindari kejaran prajurit-prajurit Tumapel.”

“Mereka tidak mengenal kami. Hanya kaulah yang pasti dikenal dan dicurigai, meskipun kau berpura-pura berada dipihak mereka. Tetapi kami tidak. Kalau upah kami sudah kau berikan, maka terserahlah kepadamu, kemana aku akan pergi. Aku tidak memperdulikanmu lagi.”

“He? Kalian tidak takut kepada prajurit-prajurit Tumapel?”

“Hanya kaulah yang tahu, bahwa kami yang menyerang mereka. Meskipun ada satu dua diantara para prajurit itu yang masih hidup, tetapi mereka tidak mengenal kami. Kalau pihak istana kemudian tahu, bahwa kami terlihat di dalamnya, maka sumbernya adalah kau.”

“Setan alas.” geram Jajar itu, “kalian sudah mulai mengancam. Tetapi itu mustahil. Aku ingin, aku pun tidak dicurigai. Aku ingin mendapat kesan bahwa akupun terbunuh diantara prajurit-prajurit Tumapel yang mati. Dengan demikian tidak akan ada orang yang mencari aku. Prajurit-prajurit Tumapel mudahkan mengira bahwa sergapan itu dilakukan oleh oranganya Kuda Sempana.”

“Mudah-mudahan.” desis adik Jajar yang gemuk itu.

“Nah, sekian saja untuk malam ini Jangan lupa. Kepung rumahku. Kalian harus bersiaga disekitar rumahku sejak matahari turun. Jangan menunggu malam. Banyak tempat untuk bersembunyi. Halaman rumahku cukup rimbun.”

“Aku tahu.” jawab salah seorang dari mereka, “halaman rumahmu besar-besar seperti hutan alang-alang. Kau seorang juru taman diistana, tetapi rumahmu sendiri tidak pernah mendapat perawatan. Apalagi halaman dan petaman.”

Juru taman itu tersenyum. Katanya, “Sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah yang jelek itu. Sekarang aku akan masuk kedalam rumah perjudian itu. Jangan lupa persetujuan yang telah kita buat.”

“Kau akan ikut berjudi?” bertanya adiknya.

“Ya.”

“Kau akan terlambat bangun besok pagi. Kau akan kehilangan kesempatan bertemu dengan Permaisuri.”

Jajar itu mengerutkan keningnya.

“Lakukanlah dahulu rencana besarmu ini. Jangan tenggelam dalam perjudian, sebelum kau berhasil.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kau pintar juga. Baiklah aku pulang. Tetapi hati-hati, kalau kalian gagal, kita bersama akan digantung dialun-alun Tumapel, menjadi tontonan meskipun dihari pertama kalian berhasil membunuh Kuda Sempana dan kawannya itu.”

“Jangan takut.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak dipandanginya ketiga anak muda itu berganti-ganti, seolah-olah ingin melihat kekuatan yang tersimpan di dalam diri mereka.

Jajar itu terkejut ketika tiba-tiba saja salah seorang dari ketiga anak-anak muda itu bertanya, “Kau masih tetap ragu-ragu?”

“Tidak, tidak. Aku sudah tidak ragu-ragu lagi.”

“Apakah kau ingin membuktikan aku mencabut pohon semboja itu.”

“Tidak, tidak, aku sudah percaya.”

“Atau meloncati atap regol halaman ini?”

“Tidak, tidak. Aku sudah percaya.”

Anak-anak muda itu tertawa. “Baiklah.” desis salah seorang dari mereka, “akupun percaya bahwa kau juga mampu melakukannya. Sekarang pulanglah, dan tidurlah dengan nyenyak.”

“Baiklah.” Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu minta diri kepada anak-anak muda itu.

Diperjalanan pulang, Jajar itu kadang-kadang tersenyum seorang diri. Terbayang kemenangannya yang akan terjadi besok. Wajah yang beku sebeku mayat itu tidak akan dapat mengganggunya lagi. Mata yang memancar seperti bara dalam kebekuan wajah itu tidak akan membuatnya kehilangan akal lagi.

Ketika Jajar itu kemudian berbaring dipemberingannya, maka senyum itu masih juga membayang diwajahnya. Sejenak kemudian juru taman yang gemuk itu telah tertidur dibelai oleh mimpi yang menyenangkan sekali.

Ketika matahari menjenguk dari balik pebukitan diujung Timur, Jajar itu telah berjalan dengan tergesa-gesa keistana. Jarak itu terasa terlampau jauh. Ia ingin segera bertemu dengan Permaisuri dan menipunya. Membohonginya. Tetapi yang akan dilakukan bukan sekedar menipu dan berbohong, tetapi sesudah menipu dan bohong, yang akan dilakukan adalah pembunuhan. Pembunuhan yang keji tanpa memikirkan akibat dan pertanggungan jawab atas perbuatannya itu.

Ketika ia melewati regol-regol halaman istana, regol luar kemudian regol dalam dan regol petamanan, Jajar itu sama sekali sudah tidak sempat berpaling kepada para penjaga. Ia berjalan saja dengan tergesa-gesa seolah-olah regol itu segera akan ditutup. Para penjaga yang melihatnya saling berpandangan sejenak. Lalu mereka tersenyum. Para prajurit itu telah mendengar ceritera tentang juru taman yang mereka sangka telah menjadi gila.

“Tetapi ia tidak berbahaya.” desis salah seorang prajurit.

“E, siapa bilang.” sahut yang lain, “hampir saja ia berkelahi dengan kedua kawannya yang lain.”

“Itulah, ia tidak berbahaya. Ia masih sempat merasa takut melawan kedua kawannya, seperti kedua kawannya yang ragu-ragu, sehingga perkelahian itu menjadi urung. Kalau Jajar itu menjadi benar-benar gila dan berbahaya, maka ia tidak akan terlalu banyak bicara. Mungkin kedua kawannya itu telah dikelewangnya.”

“Kasian.” desis yang lain, “tetapi apakah kegilaannya itu tidak membahayakan Permaisuri.”

“Tidak. Terhadap Permaisuri ia benar-benar takut. Sekali dua kali ia dipanggil. Ia menundukkan kepalanya hampir mencium tanah.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka memandangi Jajar yang berjalan tergesa gesa itu sampai hilang dibalik dinding-dinding yang tinggi.

Jajar itu sendiri segera pergi kepetaman. Tetapi ia menjadi kecewa ketika ia belum melihat Permaisuri berada di petaman itu.

“Aku harus menunggu. O, hampir gila aku dibuatnya. Menunggu adalah pekerjaan yang menjemukan sekali. Menunggu dan menunggu itulah yang akan membuatku gila.”

Kali ini Jajar yang gemuk itu tidak mau menunggu dibawah pohon sawo kecik. Ia merasa tersiksa duduk bersandar pohon yang besar dan rindang itu. Ia ingin melewatkan waktunya dengan kesibukan, agar ia tidak merasakan kejemuan yang mengoyak dadanya.

Jajar yang gemuk itu segera mengambil alat-alatnya. Cangkul dan sebuah parang. Dengan nafas terengah-engah ia mengaduk tanah untuk mencoba menyiangi tanaman. Tetapi karena hatinya tidak berada dipekerjaannya, maka pekerjaannyapun tidak dapat dilakukannya dengan baik.

Namun yang dilakukan itu telah mengherankan kedua kawannya yang datang kemudian. Sambil berbisik mereka berkata, “He, ia telah mau bekerja.”

Tetapi mereka menjadi terperanjat. “O, pohon kembang gambir itu akan mati kalau ia berbuat demikian. Itu sama sekali tidak menyiangi, tetapi menebas akar-akarnya sampai habis.” desis salah seorang dari mereka.

“Biar sajalah.” berkata yang lain.

Kedua Jajar yang lain itu kemudian sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Merekapun segera bekerja ditempat yang lain. Disudut-sudut petamanan. Memotong daun-daun yang kuning, dan mencabut rerumputan liar yang tumbuh disana sini, diantara tanaman bunga-bungaan yang sedang semarak.

Tetapi ternyata bukan Jajar yang gemuk itu saja yang gelisah. Ternyata Permaisuripun telah diganggu oleh kegelisahannya. Ia ingin segera mendengar keterangan Jajar yang gemuk itu, apakah Kebo Sindet bersedia membawa Mahisa Agni. Kalau Kebo Sindet itu bersedia, maka berjalanlah rencana Akuwu Tunggul Ametung, meskipun tidak jujur sepenuhnya. Tetapi terhadap orang-orang seperti itu, Akuwu Tunggul Ametung memang perlu bertindak untuk mencegah perbuatan yang serupa dimasa-masa mendatang. Tetapi apabila Kebo Sindet menolak, Akuwu masih mempunyai waktu untuk menentukan sikapnya.

Karena kegelisahan itulah maka Ken Dedespun hari ini telah mengejutkan para emban dan emban pemomongnya yang setia. Meskipun hari masih terlampau pagi, tetapi Ken Dedes telah bersiap turun ketaman untuk bertemu dengan Jajar yang gemuk itu.

Tetapi keheranan para emban tidak setajam kedua kawan Jajar yang gemuk itu. Para emban tahu, bahwa Permaisuri gedang dirisaukan oleh orang-orang yang telah mengambil Mahisa Agni dan menyembunyikannya. Sedang para juru taman tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Keheranan mereka memuncak, ketika mereka melihat Permaisuri turun ketaman jauh lebih cepat dari kebiasaannya. Kedua Jajar itu tidak dapat mengerti, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Apalagi ketika Permaisuri langsung memanggil Jajar yang gemuk yang dengan gelisahnya mengisi waktunya dengan segala macam pekerjaan yang tidak berarti, bahkan kadang-kadang membuat beberapa macam tanaman menjadi layu.

Ketika Jajar yang gemuk itu menghadap Permaisurii maka dadanya serasa akan bengkah. Berjijal-jijal persoalan yang akan dikatakannya bersama-sama. Tetapi justru karena itu, maka mulutnya masih saja terbungkam.

“Bagaimana juru taman?” bertanya Ken Dedes langsung pada persoalannya, “apakah kau sudah bertemu dengan Kebo Sindet dan mengatakan pesanku kemarin.”

Jajar itu membungkuk dalam-dalam, jawabnya gemetar, “Hamba Tuanku, hamba telah bertemu dan menyampaikan pesan Tuan Puteri kepadanya.”

“Apa katanya?” Ken Dedes hampir tidak sabar lagi menunggu Jajar itu membuka mulutnya.

“Tuanku.” Jajar itu mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah, “hamba telah menyampaikannya dan menyarankannya untuk dapat mengerti maksud Tuan Puteri.”

“Ya, lalu bagaimana jawabnya?”

“Tuan Puteri, ampun, ternyata Kebo Sindet, kawan Kuda Sempana itu dapat mengerti. Ia dapat menerima pesan itu dengan beberapa syarat pula.”

“Apakah syarat itu?”

“Tuanku. Ampunkan hamba. Sama sekali bukan maksud hamba untuk melakukannya, tetapi semata-mata atas pesan Kebo Sindet itu.”

“Ya, katakanlah. Katakanlah selengkapnya.”

Jajar yang gemuk itu menelan ludahnya. Ditenangkannya dadanya yang bergelora. Supaya ia tidak salah lidah, maka diaturnya kata demi kata sebaik-baiknya di dalam kepalanya.

“Katakanlah Jajar.” Permaisuri ternyata sudah tidak sabar lagi.

“Ampun Tuanku. Kebo Sindet itu memberikan suatu syarat, seperti juga Tuanku memberikan suatu syarat. Karena orang-orang Tumapel yang sudah dikenalnya adalah hamba, tetapi ini sama sekali bukan maksud hamba sendiri Tuanku, maka Kebo Sindet itu minta hambalah yang membawa uang tebusan itu. Selain itu Tuanku, Kebo Sindet mengharap, agar tidak terlalu banyak pengawalan. Jika demikian kepercayaan Kebo Sindet akan turun. Pengawalan prajurit atas barang-barang itu jangan lebih dari tiga orang termasuk hamba sendiri. Kemudian setelah itu, barulah kakanda Tuanku, Mahisa Agni akan ditinggalkan ditempatnya.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Tuntutan Kebo Sindet itu ternyata cukup berat. Ken Dedes telah mendengar bahwa Kebo Sindet adalah orang pilih tanding. Orang yang memiliki banyak kelebihan dari kebanyakan orang. Karena itu, hitungan yang dipesankan adalah hitungan yang terlampau berbahaya. Dua orang prajurit.

Tetapi Ken Dedes tidak ingin membuat sesuatu keputusan. Ia akan menyampaikannya saja kepada Akuwu Tunggul Ametung. Biarlah Akuwu Tunggul Ametunglah yang mengambil keputusan. Masih ada waktu sehari lagi besok.

Sejenak kemudian Permaisuri itu bertanya lagi, “Apakah Kebo Sindet sudah menentukan tempat penyerahan itu?”

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Sudah Tuanku. Kebo Sindet mohon penyerahan itu dilakukan diujung jalan raja yang membelah kota ini, Tepat diperbatasan. Diluar gapura kota.”

Ken Dedes menarik nafas. Gapura itu terletak menjorok agak ketengah-tengah bulak. Adalah sulit bagi Akuwu Tunggul Ametung untuk menyiapkan pasukan yang tersembunyi. Meskipun demikian, hal inipun akan diserahkannya kepada Akuwu Tunggul Ametung. Hal yang serupa itu, Akuwu pasti lebih memahaminya daripada dirinya.

Tetapi bahwa Kebo Sindet telah sedia memenuhi syarat yang diberikan oleh Akuwu Tunggul Ametung, dengan membawa Mahisa Agni sebagai syarat penyerahan itu, telah memberinya sedikit ketenteraman. Kemungkinan untuk membebaskan kakaknya itu dari tangan Kebo Sindet menjadi lebih besar. Karena itu, maka kini Permaisuri menjadi demikian tergesa-tergesa untuk bertemu dengan Akuwu Tunggul Ametung. Ia tidak ingin bercengkerama di taman. Karena itu, maka segera ia berdiri dan berkata kepada emban-embannya, “Aku akan kembali keistana.”

Para emban dapat merasakan, betapa kegelisahan yang sangat telah mencengkam dada Permaisuri itu. Ia hampir-hampir tidak sempat lagi memikirkan dirinya sendiri. Apalagi akhir-akhir ini.

Segenap perasaan dan pikirannya terikat kepada persoalan kakaknya Mahisa Agni.

Tetapi ketika Permaisuri itu baru saja melangkah, terdengar Jajar yang gemuk itu bertanya, “Bagaimana Tuanku, apakah Tuanku bersedia?”

Ken Dedes termenung sejenak. Ia tidak dapat memutuskan sendiri. Ia harus bertemu dengan Akuwu Tunggul Ametung lebih dahulu.

“Besok aku beri tahukan itu kepadamu Jajar.”

“Ampun Tuanku. Hamba mendapat pesan, bahwa hari ini hamba harus mendapat keputusan. Kalau tidak, maka semua pembicaraan akan dianggap batal.”

Kening Permaisuri itu tampak berkerut. Ia tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Karena itu maka jawabnya tanpa memikirkan akibatnya, “Ya. Aku terima. Tetapi aku harus menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul Ametung. Kalau ternyata ada perubahan, maka aku akan memberitahukan kepadamu.”

“Tetapi hamba harus mendapat kepastian Tuanku.”

Sekali lagi Ken Dedes termangu-mangu Lalu katanya, “Ya, aku setujui.”

Jajar itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan hormatnya ia menyembah, “Hamba Tuanku. Hamba tinggal menyampaikan semua pesan dan kesanggupan Tuanku kepada Kebo Sindet itu.”

“Ya, katakanlah. Besok permintaan itu akan dipenuhi.”

“Hamba Tuanku. Besok pada saat matahari telah terbenam. Hendaklah Tuanku memerintahkan hamba untuk pergi bersama dua orang prajurit, untuk menyampaikan tebusan itu diluar gapura kota.”

“Ya.” sahut Ken Dedes pendek.

Permaisuri itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan petamanan. Ia segera ingin menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menyampaikan hasil pembicaraan itu.

Tetapi alangkah kecewa hati Permaisuri itu ketika ternyata Akuwu Tunggul Ametung baru berada dipaseban depan. Dihadap oleh beberapa tetua pemerintahan dan pemimpin prajurit. Karena itu maka Permaisuri itu masih harus menunggu sampai pembicaraan itu selesai. Dan dengan demikian maka ia harus berada didalam biliknya dalam kegelisahan yang sangat.

Sementara itu, Jajar gemuk yang masih tinggal di taman, hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya. Hampir-hampir ia benar-benar menjadi gila Ia merasa bahwa sampai saat ini rencananya berjalan lancar. Permaisuri yang gelisah itu dengan mudah dapat ditipunya. Kalau benar besok ia mendapat tugas untuk menyampaikan tebusan itu bersama hanya dua orang prajurit, maka semuanya akan berlangsung dengan mudahnya. Dua orang prajurit itu akan dibunuhnya bersama adik dan kawan-kawannya. Mayatnya akan ditinggalkan saja di gapura kota. Akuwu Tunggul Ametung pasti menyangka, bahwa Kebo Sindet telah berkhianat. Tetapi Kebo Sindet sendiri malam nanti harus sudah binasa bersama Kuda Sempana. Kebo Sindet harus sudah mati, sehingga tidak akan dapat mengganggu penyerahan besok.

Jajar itu tersenyum-senyum sendiri. Kini ia yakin bahwa ia akan berhasil. Berhasil mendapatkan tebusan tiga pengadeg perhiasan seorang Permaisuri Akuwu yang kaya raya.

“Heh, nasibku akan segera berubah.” desisnya.

Ketika kemudian dua orang kawannya juru taman lewat disampingnya, ia sama sekali tidak mau berpaling. Ia merasa bahwa kedua orang itu sama sekali bukan sepadannya. Keduanya adalah orang-orang yang bernasib jelek untuk sepanjang hidupnya.

“Aku akan memiliki tanah yang luas, rumah yang besar dan kekayaan yang melimpah-limpah.” ia masih berangan, “hanya orang-orang yang bodoh yang bertahan pada nasibnya yang jelek. Hanya penakut yang malas yang sama sekali tidak berani dan tidak mau berbuat apa-apa, nasibnya akan selalu malang.”

Tiba-tiba, Jajar itu mengerutkan keningnya. Teringat olehnya usahanya untuk menghindari pertemuan dengan Kebo Sindet hari ini. Ia harus pulang sebelum waktunya. Kalau ia pulang terlambat, Kebo Sindet pasti akan menunggunya, atau mengawasi pintu regol dari kejauhan kemudian mengikutinya, dan mengejutkannya ditengah jalan.

“Sekarang akulah yang harus menentukan tempat pertemuan.” katanya di dalam hati, “aku harus pulang jauh sebelum waktunya. Aku akan menunggu kedua orang itu di rumah. Kalau mereka menunggu aku agak jauh di luar regol halaman ini, dan menjelang senja aku masih juga belum keluar, mereka pasti akan mencariku di rumah.”

Jajar itu segera membasahi dirinya. Ia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Semakin cepat akan menjadi semakin baik. Ia akan pulang, jauh sebelum waktunya, sebelum Kebo Sindet dan Kuda Sempana menungguinya dari kejauhan.

Tetapi Jajar itu tidak merasa perlu minta diri kepada kedua kawannya. Kini ia merasa bahwa kedua orang itu sudah bukan kawannya lagi. Karena itu, ia sama sekali tidak merasa perlu untuk berbicara dengan mereka.

Sejenak kemudian dengan tergesa-gesa Jajar itu berjalan meninggalkan taman. Masih jauh dari waktu yang seharusnya, Matahari baru sampai dipuncak langit. Dan panasnya serasa, menghunjam diubun-ubun.

Tetapi Jajar itu sama sekali tak menghiraukannya. Ia melangkah semakin cepat. Dilaluinya jalan-jalan yang tidak pernah dilewatinya. Nyidat lewat halaman-halaman yang kosong, disela-sela rumpun-rumpun bambu liar. Kemudian meloncati parit dan pagar-pagar batu yang terlampau tinggi.

“Aku harus segera sampai ke rumah.” Geramnya, “sebelum setan alasan itu menyusulku. Kalau mereka tidak tahu, bahwa aku sudah pulang, maka mereka pasti menungguku sampai hari hampir gelap. Barulah mereka akan mencariku ke rumah. Sementara itu anak-anak gila itu telah bersiap menyergapnya dan menyeretnya ke lubang kubur.”

Jajar itu tertawa sendiri. Kakinya masih melangkah dengan cepatnya, melemparkan debu yang putih.

Ketika Jajar itu sampai kerumahnya, maka ia mendapatkan kebanggaan baru kepada dirinya. Ia bangga bahwa perhitungannya kali ini ternyata benar. Kebo Sindet masih belum sempat, menungguinya dijalan-jalan atau dimana saja yang dihendakinya, karena Kebo Sindet selalu menganggap bahwa Jajar itu pulang pada saat matahari turun di Barat.

“Ia pasti akan datang ke rumah ini.” desis Jajar yang gemuk itu, “tetapi nanti setelah matahari turun. Ia kini pasti menunggu aku lebih dahulu, agak jauh di luar regol. Tetapi aku tidak akan muncul sampai matahari terbenam. Nah, sekarang orang berwajah mayat itu baru ia tahu, bahwa ia tidak dapat berbuat sekehendaknya atasku. Hari ini akulah yang menentukan tempat pertemuan.”

Tetapi meskipun demikian Jajar itu masih juga diganggu oleh kegelisahan. Kalau Kebo Sindet itu datang terlampau cepat sebelum anak-anak gila itu ada disekitar rumah ini, maka rencananya masih juga belum akan berjalan dengan baik.

“Kalau orang-orang itu datang terlampau cepat, aku berusa ha menahannya dengan segala macam cara.” katanya didalam hati, “mungkin aku dapat berpura-pura merebus air, atau baru mandi atau baru apa saja. Tetapi mudah-mudahan mereka datang setelah senja.”

Bagi Jajar yang sedang menunggu senja itu, terasa matahari berjalan terlampau malas. Waktu yang hanya setapak demi setapak maju itu terasa jauh lebih lama dari hari-hari biasa.

“Oh.” Jajar itu mengeluh, “aku hampir mati karena menunggu-nunggu dan menunggu. Kali ini matahari sengaja mempermainkan aku. Setan alas.”

Tetapi betapa terasa lambannya, namun matahari semakin lama menjadi semakin rendah diujung Barat. Sinarnya menjadi semakin redup dan memerah seperti darah. Saat-saat yang bagi Jajar yang gemuk itu sangat mendebarkan. Sebentar lagi ia akan terlibat dalam suatu tindakan yang berbahaya dan menentukan. Namun taruhannya cukup besar. Nyawa atau tiga pengadeg perhiasan Permaisuri Akuwu Tumapel.

“Seberapa kekuatan kedua orang itu.” desisnya, “aku percaya kepada anak-anak muda itu. Berkelahi adalah pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka bukan sekedar orang-orang liar yang tidak berarti. Tetapi mereka berguru pula untuk mempelajari ilmu berkelahi. Sembilan orang akan hadir di sini nanti, untuk membunuh yang dua orang itu. Meskipun keduanya bernyawa rangkap, tetapi keduanya tidak akan mampu melepaskan dirinya. Dua orang dari anak-anak muda itu mampu memecah batu dengan tangannya, sedang adikku mampu mematikan kesadaran seseorang dengan ketukan-ketukan pada tubuhnya.” Namun bagaimanapun juga, dada Jajar itu menjadi semakin berdebar-debar.

Haripun semakin lama menjadi semakin suram, sejalan dengan dada Jajar yang gemuk itu, yang menjadi semakin berdentangan.

Dalam pada itu Kebo Sindet dan Kuda Sempana masih berdiri saja seperti patung didalam bayangan dedaunan yang rimbun agak jauh dari regol istana. Seperti dugaan Jajar yang gemuk, maka Kebo Sindet selalu mengawasi regol itu. Setiap kali ia melihat Jajar yang gemuk itu keluar dan memilih jalan, maka ia pun segera mendahuluinya dan menemuinya ditempat-tempat yang mereka kehendaki. Tetapi kali ini mereka telah terlampau lama menunggu, namun Jajar yang gemuk itu belum juga keluar dari halaman istana.

“Waktunya untuk pulang telah lama lampau.” desis Kebo Sindet.

Kuda Sempana tidak menjawab dan sama sekali tidak menggerakkan kepalanya.

“Apakah ia dapat melepaskan diri dari pengawasanku?” Kebo Sindet meneruskan.

Tetapi Kuda Sempana masih tetap berdiam diri.

“Orang yang bodoh itu tidak akan dapat lepas lagi dari tanganku.” geram Kebo Sindet, “mungkin ia akan mengkhianati aku. Tetapi itu tidak akan dapat terjadi. Aku akan mengejarnya sampai ke ujung bumi.” Kebo Sindet berhenti sejenak lalu, “Kalau ia telah menerima tebusan itu dan berusaha melarikannya, maka ia akan mengalami nasib yang paling jelek dari mereka yang pernah menjadi korbanku.”

Kuda Sempana masih tetap dalam kediamannya.

Kebo Sindetpun kemudian terdiam. Ia menyesal bahwa ia terlambat datang. Dan sekali lagi ia menggeram, “Jajar itu pasti pulang jauh sebelum waktunya, supaya ia sendiri yang dapat menentukan dimana kita akan bertemu. Baiklah kali ini aku mengalah. Aku akan datang ke rumahnya, menanyakan keputusan terakhir. Besok adalah hari yang terakhir menurut ketentuanku. Kalau besok persoalan ini masih belum selesai, mungkin aku akan mengambil keputusan yang akan sangat menyakitkan hati bagi Permaisuri yang kikir itu, atau bahkan mengejutkannya dan menyesalinya.”

Kali ini Kuda Sempana berpaling. Ia tahu benar, bahwa Kebo Sindet telah kehilangan sisa-sisa kesabarannya. Ia memelihara Mahisa Agni dengan harapan yang seolah-olah tidak akan dapat didapatkannya. Karena itu, ia akan merasa tidak berguna lagi untuk membiarkan Mahisa Agni hidup lebih lama lagi.

Kuda Sempana sendiri tidak tahu, bagaimanakah tanggapan perasaannya atas persoalan itu. Ia tidak tahu, apakah ia bergembira apakah kecewa. Yang dapat dirasakannya adalah jantungnya berdebar semakin cepat.

“Kalau kali ini gagal, maka aku akan berbuat langsung menurut caraku.” Kebo. Sindet masih menggeram. Tetapi wajahnya yang beku masih tetap beku seperti mayat.

“Apakah kau mengira bahwa Jajar itu masih berada di dalam taman?” bertanya Kebo Sindet kemudian.

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. “Tidak.” jawabnya pendek.

“Ya, aku sependapat. Jajar itu pasti sudah pulang.” Kebo Sindet berdesis, “mari kita lihat kerumahnya. Kalau malam ini ia tidak pulang, itu berarti ia telah berkhianat. Ia telah menerima tebusan itu, tetapi tidak diserahkannya kepadaku, dan berusaha menghindarkan dirinya.” Kebo Sindet berhenti sejenak. Lalu katanya, “Seandainya tidak, biarlah ia hari ini merasa menang karena aku mencarinya dirumahnya. Biarlah ia merasa menang dengan kemenangannya. Kesenangannya yang terakhir. Sebab umur Jajar itu pun tinggal sehari besok. Diserahkan atau tidak diserahkan tebusan itu, Jajar itu besok akan mati. Kalau ia menerima tebusan dan menyerahkannya kepadaku, ia akan mati supaya. ia tidak terlampau banyak menuntut. Kalau ia gagal iapun akan mati pula, karena ia telah menelan waktuku sepekan ini.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jajar itupun bernasib jelek. Berhasil atau tidak berhasil, ia akan dibunuh oleh Kebo Sindet dengan alasan apapun. Tetapi hal itu sudah diduga pula oleh Kuda Sempana. Setiap orang yang tidak berguna lagi bagi Kebo Sindet setelah mereka mengadakan hubungan macam apapun, pasti akan dibunuhnya. Ia menyadari bahwa kelak akan sampai juga saatnya, ia sendiri, Kuda Sempana akan dibunuh juga oleh Kebo Sindet itu. Tetapi Kuda Sempana sendiri sama sekali sudah tidak menghiraukannya. Hidup baginya seolah-olah telah berhenti. Ia memang sudah mati dalam hidupnya.

Sekali lagi Kuda Sempana berpaling ketika ia mendengar Kebo Sindet berkata, “Marilah kita pergi kerumah Jajar gila itu. Aku ingin melihat ia mengangkat dadanya atas kemenangannya kali ini, supaya aku besok puas mencekiknya.”

Tetapi Kuda Sempana tidak menjawab. Ia berjalan saja di belakang Kebo Sindet yang melangkah pergi.

Jajar yang gemuk itu, yang menunggu Kebo Sindet di rumahnya, masih juga selalu dicengkam oleh kegelisahan. Sekali-sekali ia menjengukkan kepala keluar pintu. Sekali-sekali ia berjalan hilir mudik di halamannya.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat disudut halaman rumah seberang, seorang anak muda duduk dibawah pohon yang rindang. Anak muda itu adalah adiknya.

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia mengangkat wajahnya, maka dilihatnya sinar-sinar merah dilangit menjadi semakin redup. Bayangan pepohonan menjadi semakin samar, karena sinar senja yang semakin suram.

“Anak-anak itu sudah ada disekitar halaman rumah ini.” katanya di dalam hati. Jajar itu kemudian tersenyum sendiri. “Kasihan Kuda Sempana dan orang yang berwajah mayat itu. Mudah-mudahan nyawanya tidak menjadi hantu yang selalu menggangguku kelak.”

Jajar itu tertawa sendiri. Lambat, tetapi semakin lama menjadi semakin keras, sehingga suara ketawanya mengejutkannya sendiri.

Ketika Jajar itu sadar akan dirinya, maka ketawanyapun segera berhenti. Ia masih harus menunggu Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Ia masih harus menyelesaikan pekerjaan yang besar ini. Kalau ia berhasil malam ini dengan lancar, maka besokpun mudah-mudahan akan lancar pula. Membinasakan prajurit-prajurit yang mengawalnya untuk menyerahkan perhiasan sebagai tebusan Mahisa Agni.

“Terpaksa.” gumam Jajar itu, “aku terpaksa mengorbankan beberapa orang. Malam ini Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Besok malam para prajurit Tumapel dan yang kemudian sekali pastilah Mahesa Agni sendiri. Kalau Kebo Sindet tidak kembali pada waktunya, maka orang-orang yang ditugaskannya menunggui Mahisa Agni pasti akan membunuhnya seperti pesan Kebo Sindet. Atau orang-orang itupun akan mengkhianatinya. Mereka akan berbuat sendiri, tanpa Kebo Sindet menghubungi permaisuri untuk mendapatkan tebusan. Tetapi mereka pasti akan menyesal, sebab begitu mereka dapat berhubungan dengan pihak istana, begitu mereka akan dimakan oleh ujung senjata.”

Jajar itu kemudian segera masuk kerumahnya. Tanpa sesadarnya terasa bulu-bulunya meremang. Pembunuhan yang tidak tanggung-tanggung. Kadang-kadang terbersit juga dikepalanya pertanyaan, “Apakah korban yang berjatuhan itu seimbang dengan barang-barang yang diingini.”

Jajar itu berdesah. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menggeretakkan giginya. “Persetan korban korban yang berjatuhan itu. Bukan salahku. Aku hanya mengingini barang-barang itu. Mereka hanyalah sekedar korban akibat keadaan yang telah melibatkan mereka kedalam persoalan ini.”

Tetapi Jajar itupun tidak dapat duduk dengan tenang menunggu tamu-tamunya. Ia selalu saja gelisah dan cemas. Kadang-kadang ia mencemaskan dirinya sendiri, tetapi kemudian ia mencemaskan kedua orang yang ditunggu-tungguinya. “Jangan-jangan mereka tidak mau datang kerumah ini.”

Jajar itu hampir terlonjak ketika ia mendengar pintu rumahnya yang belum tertutup rapat diketuk orang. Dengan tangkasnya ia meloncat kepintu dan ditariknya pintu leregannya kuat-kuat sehingga daun pintunya hampir-hampir meloncat lepas dari bingkainya.

“Setan alas.” Jajar itu mengumpat ketika yang dilihat berdiri dimuka pintu itu adalah adiknya, “kenapa kau.”

“Aku ingin memberitahukan bahwa kawan-kawan telah siap berada di sekitar halaman rumah ini.”

“Ya, ya aku sudah menyangka. Ketika kau duduk disekitar halaman depan.”

” Aku menunggu mereka saat itu.”

“Jadi mereka baru saja datang.

“Ya baru saja.

“Gila.”

“Kenapa.”

“Kalian terlambat.”

“He.” adiknya terkejut, “aku disini sejak sore. Aku belum melihat seorangpun datang kerumah ini.”

“Memang, memang belum. Tetapi kalian ternyata datang terlampau lambat. Seandainya mereka datang beberapa saat yang lampau, maka semua rencana akan gagal.”

“Oh.” adik Jajar yang gemuk itu menarik nafas, “seandainya. Hanya seandainya. Kau terlampau gelisah dan kecemasan. Jangan takut, kita akan menyelesaikan pekerjaan kita dengan baik. Orang-orang itu hanya orang-orang yang besar mulutnya saja.”

“Jangan kau anggap bahwa kau sekarang sedang bermain-main.”

“Baiklah. Aku akan menganggap bahwa aku tidak sedang bermain-main. Aku akan menunggu bersama kawanku.”

“Pergilah supaya kau tidak mengganggu.”

Adik Jajar yang gemuk itu segera meninggalkan pintu rumah kakaknya hilang di dalam kegelapan.

Jajar itu kini duduk lagi didalam kegelisahannya. Semakin lama ia menjadi semakin ragu-ragu, apakah Kebo Sindet dan Kuda Sempana akan benar-benar datang kerumah ini?

Tetapi ternyata Jajar itu tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Sekali lagi ia meloncat kepintu ketika ia mendengar suara ketukan pada pintunya yang masih sedikit terbuka. Sekali lagi ia menarik pintu leregnya sehingga berderak-derak.

“Selamat malam Ki Sanak.” terdengar suara berat dimuka pintu.

Suara itu membuat dada Jajar itu berdesir. Terasa pengaruh yang aneh menjalari urat darahnya.

“Apakah kau sudah tidur?” suara itu terasa semakin memberat dipendengaran Jajar yang gemuk dan bermata sipit itu.

“Tidak, tidak. Eh, maksudku belum.” Jajar itu tiba-tiba menjadi tergagap.

“Kalau belum kau pasti sudah kantuk sekali. Begitu?”

“Juga belum.” perlahan-lahan ia berhasil menguasai perasaannya, “aku kira aku memang sedang menunggu kalian.”

“Terima kasih.” sahut Kebo Sindet, “apakah aku datang terlampau lambat?”

“Ya, kau datang terlampau lambat.”

“Bukankah kemarin aku tidak menyebutkan waktu dan tempat. Aku akan menemui dimana saja dan kapan saja.”

Jajar itu tertegun sejenak. Tetapi kemudian ia tersenyum dan berkata, “Kau terpaksa datang kepadaku.”

“Ya, aku terpaksa datang kepadamu. Tetapi aku memang menghendaki demikian.”

“Bohong, kau memang tidak dapat berbuat sekehendakmu atasku. Kali ini akulah yang menentukan tempat dan waktu.”

Kebo Sindet yang berwajah beku itu sama sekali tidak menunjukkan sikap apapun. Tetapi ia menjawab, “Aku ingin mendengar keputusan terakhir dari Permaisuri. Nah, katakanlah. Kau sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Besok semuanya harus sudah selesai. Aku tidak memerlukan tawar menawar lagi. Jawab yang harus aku dengar adalah, Ya atau tidak.”

Jajar itu tidak segera menjawab. Dadanya terasa berdebaran. Tetapi ketika diingatnya, bahwa disekeliling halaman rumahnya telah dikerumuni oleh anak-anak muda kawan-kawan adiknya, maka hatinya menjadi mekar. Bahkan ia kemudian mengangkat dadanya sambil menengadahkan wajahnya.

Katanya, “Kebo Sindet. Apakah benar-benar kau tidak menginginkan tawar menawar lagi?”

“Tidak.” jawab Kebo Sindet pendek.

“Sama sekali?”

“Sama sekali.”

Jajar yang gemuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini sikapnya menjadi berubah. Ia mengharap bahwa anak-anak muda itu telah berada dekat dengan rumahnya, untuk sebentar lagi berbuat sesuatu memancing persoalan dengan Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Betapa dada Jajar itu berdesir apabila dilihatnya wajah yang beku, tetapi dengan sepasang mata yang membara, namun adiknya dan kawan-kawannya telah memberinya harapan.

“Bagaimana Ki Sanak. Apakah yang dikatakan oleh Permaisuri itu?”

Jajar itu tersenyum. Jawabnya, “Bagaimana aku harus mengatakannya? Kau hanya ingin mendengar jawaban, Ya atau tidak. Padahal ia sama sekali tidak berkata demikian.”

Tetapi mau tidak mau dada Jajar itupun menjadi berdebar-debar. Ia tidak melihat perubahan sikap dan wajah pada kedua orang tamu-tamunya. Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Kedua wajah itu seolah-seolah tehah mati membeku.

“Begitu?” terdengar suara Kebo Sindet datar.

“Ya.” jawaban itu meloncat begitu saja dari mulutnya.

Kebo Sindet sejenak berdiam diri. Jajar itu melihat ia memiringkan kepalanya. Dan wajah yang beku itu mengangguki.

Tiba-tiba terasa bulu-bulu Jajar itu meremang. Wajah yang beku itu masih membeku. Tetapi dari padanya terpancar sesuatu yang mengerikan, sehingga tanpa sesadarnya Jajar itu meraba kerisnya yang kecil yang disembunyikannya di bawah kain panjangnya.

Dada Jajar itu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat Kebo Sindet berpaling kepada Kuda Sempana dan berkata, “Kuda Sempana. Rupa-rupanya persoalan kita dengan juru taman ini sudah selesai. Aku tidak perlu menunggu sampai besok untuk menentukan sikap. Sejak saat ini aku dan Jajar yang gila ini sudah tidak mempunyai ikatan apa-apa. Bukankah begitu?”

Jajar itu mencoba menenangkan hatinya. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Bukan maksudku. Kaulah yang tidak mau mendengar pesan Permaisuri itu kepadaku. Kau hanya ingin mendengar jawab, Ya atau tidak. Padahal Permaisuri tidak berkata demikian”

Tetapi Kebo Sindet menggelengkan kepalanya, “Bukan itu. Aku dapat mengerti kalau kau memang berbuat dengan jujur. Bahwa kau hanya dapat menyampaikan pesanku dan pesan Permaisuri yang kikir itu. Tetapi bukan soal itu. Ada soal lain yang memaksa aku mengambil keputusan, bahwa hubungan kita kita putuskan sampai disini saja. Kini sudah tidak ada ikatan apapun lagi diantara kau dan aku.”

Jajar yang sedang berdebar-debar itu dengan sekuat tenaganya mencoba menenangkan hatinya. Setiap kali dibesarkannya hatinya dengan rencananya yang matang. Setiap kali ia mencoba berkata di dalam hatinya, “Anak-anak itu telah siap untuk berbuat.”

Tetapi yang meloncat dari mulutnya adalah suara tertawanya. Suara tertawa yang dipaksakannya. Diantara derai suara tertawanya ia berkata tersendat-sendat. “Kebo Sindet. Bukan aku yang mengundang kau kemari. Bukan aku yang minta kita saling berhubungan dalam soal ini. Kaulah yang datang sendiri. Sekarang kau ingin memutuskan hubungan ini, kenapa aku berkeberatan?”

“Sikapmu lain dengan sikapmu kemarin.”

“Itu adalah perkembangan persoalan yang terjadi di dalam diriku. Aku yang sekarang telah maju satu hari dari yang kemarin. Persoalan-persoalan di dalam dirikupun telah maju pula satu hari. Yang satu hari inilah memang yang telah merubah segenap sikap dan rencanaku.”

“Dan karena itulah maka kau mengundang kelinci-kelinci untuk membunuh dirinya.”

Kata-kata itu benar-benar mengejutkan hati Jajar yang gemuk itu. Terasa dentang jantungnya menjadi semakin keras dan darahnya menjadi semakin deras mengalir. Wajahnya menjadi merah seperti soga. Dengan gemetar ia bertanya, “Apa maksudmu?”

“Aku mendengar desah nafas yang memburu disekitar rumah ini. Ayo, jangan berdiri dimuka pintu. Masuklah. Mungkin kalian ingin berkenalan dengan Kebo Sindet.”

Dada Jajar itu menjadi semakin berdebaran. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang ini mempunyai pendengaran yang sedemikian tajamnya. Ia sendiri, yang mengerti bahwa ada anak-anak muda disekitar rumahnya, sama sekali tidak mendengar suara apapun. Tetapi Kebo Sindet telah mendengar bahwa ada beberapa orang disekeliling rumahnya.

Dengan demikian Jajar yang gemuk itu justru terdiam untuk sesaat. Ia menjadi seolah-seolah membeku ditempatnya. Dentang jantungnya terasa akan memecahkan dadanya.

“Ayo Ki Sanak yang baik. Panggillah orang-orang yang sedang mengintip diluar dinding. Barangkali semakin dekat akan semakin baik bagi mereka. Mereka dapat melihat dengan jelas, siapakah Kebo Sindet yang telah menyembunyikan Mahisa Agni. Apakah mereka, yang sedang bersembunyi disekitar rumah ini prajurit-prajurit Tumapel atau siapa saja bagiku tidak akan ada bedanya.”

Jajar yang gemuk itu masih mematung. Bahkan matanya seolah-olah tidak berkedip. Dengan sekuat tenaganya ia berjuang untuk menguasai perasaan sendiri.

Dalam pada itu yang terdengar adalah suara tertawa diluar pintu. Hanya perlahan-lahan saja, tetapi sangat menyakitkan hati.

Kebo Sindet dan Kuda Sempana serentak berpaling. Suara tertawa itu benar-benar telah menyinggung perasaan mereka. Apalagi Kebo Sindet yang berhati batu itu.

Lamat-lamat mereka melihat sebuah bayangan berdiri diluar pintu. Seorang anak muda yang bertolak pinggang.

“Inikah orang yang bernama Kebo Sindet dan Kuda Sempana.” desisnya.

Mata Kebo Sindet yang tajam itu segera melihat orang yang tertawa itu. Melihat segala lekuk didalam tubuhnya, dan lebih dari itu ia dapat melihat bahwa anak muda itu adalah anak muda yang kasar dan bengis.

“Siapa kau?” bertanya Kebo Sindet dengan nada datar.

Anak muda, salah seorang dari pemimpin-pemimpin anak-anak muda yang liar itu melangkah maju. Kini ia berdiri tepat di muka pintu sehingga bentuk wajahnya menjadi semakin jelas.

“Ternyata kalian bukan prajurit-prajurit Tumapel.” desis Kebo Sindet.

“Ya, kami memang bukan prajurit-prajurit Tumapel. Kami adalah anak-anak muda yang mengagumi nama Kebo Sindet. Kali ini kami ingin melihat orangnya dari dekat bersama Kuda Sempana.”

“Marilah.” jawab Kebo Sindet, “…… kalau kau ingin melihat Kebo Sindet dari dekat. Mendekatlah jangan takut. Aku tidak akan segera menggigit.”

Anak muda yang berdiri dimuka pintu itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian sekali lagi terdengar suara tertawanya yang menyakitkan hati, “Aku kira kau memang tidak akan dapat menggigit. Aku kira gigimu tidak cukup tajam untuk membuat luka pada kulit kami.”

Kuda Sempana yang acuh tak acuh itu tiba-tiba menggerakkan kepalanya. Dipandanginya anak muda yang masih berdiri dimuka pintu itu. Tersirat pada wajah itu sifat-sifatnya yang kasar dan liar. Ketika kemudian ia memandang wajah Kebo Sindet, maka Kuda Sempana itu mengerutkan keningnya. Ternyata wajah Kebo Sindet masih juga membeku.

Tetapi kebekuan wajah Kebo Sindet itu telah membuat hati Jajar yang gemuk menjadi semakin berdebar-debar. Wajah itu benar-benar tidak melontarkan kesan apapun meskipun ia telah melihat seseorang berdiri di muka pintu. Bahkan wajah itu seolah-olah acuh tak acuh saja atas apa yang dihadapinya.

Ketika debar jantung Jajar itu menjadi semakin keras, kegelisahan yang semakin memuncak justru karena kediaman Kebo Sindet, maka untuk melepaskan diri dari ketegangan didalam dirinya itu, maka Jajar yang gemuk itupun berteriak. “He, Kebo Sindet nasibmu ternyata tidak sebaik yang kau sangka. Kau mengira bahwa kau dapat berbuat sekehendak hatimu atasku? Kau salah. Aku ternyata mempunyai rencana sendiri. Aku telah menentukan bahwa tebusan itu harus jatuh ditanganku. Kalau kau menolakberbicara tentang hal itu selain jawab, Ya atau tidak, maka kau pasti akan menyesal. Sebab aku telah mengambil alih semua persoalan. Besok seseorang akan menamakan dirinya Kebo Sindet dan menerima tebusan itu sepenuhnya. Seorang yang lain di dalam gelap malam akan menjadi Mahisa Agni. Perjanjian dengan Permaisuri telah siap. Tebusan itu diberikan dan Kebo Sindet akan membawa Mahisa Agni untuk diserahkan. Tetapi orang-orang Tumapel itu tidak akan sempat menyadari apa yang terjadi, sebab mereka akan binasa seperti kau berdua malam ini. Kau dan Kuda Sempana terpaksa aku bunuh bersama-sama. Supaya akulah kelak yang akan menerima tebusan itu.”

Tetapi dada Jajar itu menjadi semakin tegang. Ia tidak melihat Kebo Sindet menjadi terkejut atau marah atau apapun. Wajahnya masih saja sebeku wajah mayat. Tetapi matanya menjadi seolah-olah berbahaya. Itulah satu-satunya perubahan yang menyatakan perasaannya. Tetapi kesan yang didapatnya terlampau sulit.

Tanpa disangka-sangka, maka Kebo Sindet itupun berkata perlahan-lahan, “Tetapi bagaimana dengan nasib Mahisa Agni sendiri? Ia akan binasa ditempat persembunyiannya. Kalau aku tidak kembali pada saatnya, maka orang-orangku akan membunuhnya.”

“Itu bukan urusanku?” teriak Jajar itu untuk mengetahui detak jantungnya. Tetapi dengan pertanyaan itu, maka Jajar yang gemuk itu melihat sesuatu yang membuatnya sedikit berbesar hati. Masih dengan suara lantang ia meneruskan, “Nah, kau mulai merasa takut. Kau akan menipu kami dengan licik. Tetapi Mahisa Agni itu sama sekali tidak akan mempengaruhi keputusanku untuk membunuhmu sebab sebenarnya kami tidak ada sangkut paut apa-apa dengan anak itu. Matilah kalau Mahisa Agni akan mati.”

Mata Kebo Sindet yang menyala itu seolah-olah menjadi semakin membara. Tiba-tiba orang itu menggeram, “Ternyata kau lebih jahat dari setiap penjahat yang aku kenal.”

“Apakah kau sendiri tidak sedang merencanakan kejahatan?” jawab Jajar yang gemuk itu.

“Ya, aku memang sedang merencanakan kejahatan. Tetapi tidak dengan licik dan pengecut.”

“Setiap rencana kejahatan adalah licik dan pengecut. Sebab rencana itu pasti disembunyikan dan tidak beradu dada, seperti kau menyembunyikan Mahisa Agni.”

Kebo Sindet terdiam. Ia masih belum bergeser dari tempatnya. Tetapi matanya yang tajam melihat beberapa bayangan bergerak didalam kegelapan.

“Aku kira aku sudah tidak dapat menghiadar lagi.” desisnya.

Jajar itu tertawa. Hampir berbareng anak muda yang berdiri didepan pintu itupun tertawa pula. “Memang.” desis anak muda itu, “kau sudah tidak akan dapat menghindar lagi.”

“Baik.” jawab Kebo Sindet. Wajahnya masih tetap dalam kebekuannya. Dan itu sangat menyakitkan hati, “aku akan melayani kalian. Berapa orang semuanya?”

Anak muda yang berdiri didekat pintu mengerutkan keningnya. Dan ia melihat Kebo Sindet kemudian melangkah dengan tenangnya perlahan-lahan dengan acuh tak acuh kehalaman rumah itu sambil berkata, “Disini kita akan bermain-main.”

Perbuatan Kebo Sindet itu ternyata telah rnencengkam perasaan mereka. Jajar yang gemuk, anak-anak muda yang ganas dan liar, seolah-olah mereka melihat seorang Senopati yang berwibawa lewat dihadapan mereka. Karena itu maka sejenak mereka berdiri saja mematung sambil memandangi langkah satu-satu Kebo Sindet, diikuti oleh Kuda Sempana yang tidak kalah tenangnya. Anak muda itupun agaknya acuh tak acuh saja, meskipun sekali-sekali ia berpaling dan mencoba melihat berapa orang yang sudah menunggu mereka di halaman. Tetapi Kuda Sempana tidak berhasil menghitungnya. Ia hanya dapat melihat bayangan-bayangan hitam yang bergerak-gerak disisi pepohonan atau dibelakang gerumbul-gerumbul liar yang bertebaran dihalaman yang gelap dan kotor itu.

Baru ketika Kebo Sindet telah berada ditengah-tengah halaman itu, Jajar yang gemuk dan anak-anak muda itu menyadari keadaannya. Karena itu dengan serta merta mereka berloncatan mengepungnya. Ketika satu dua orang sudah mulai bergerak, maka yang lain-lainpun segera mengikutinya dengan tanpa mendapat perintah.

“Marilah anak-anak.” terdengar nada suara Kebo Sindet yang berat, “aku memang sudah menyangka, bahwa juru taman itu akan berkhianat. Nah, sekarang kalian telah mengambil sikap. Bukan salahkulah apabila aku memutuskan segenap hubungan yang telah kita buat, dan membatalkan semua pembicaraan.”

Jajar yang gemuk itu masih dicengkam oleh perasaan aneh didalam dirinya. Tetapi ia memaksa mulutnya untuk menjawab, “Jangan banyak bicara. Bersedialah untuk mati. Kau sudah terlampau banyak membuat dosa.”

“Dan agaknya kau baru mulai, Jajar yang gemuk. Tetapi sayang bahwa permulaan ini akan merupakan akhir dari segala kebodohanmu.”

Jajar itu tidak segera menjawab. Tetapi adiknyalah yang menyahut, “O, kau salah hitung Kebo Sindet yang perkasa. Mungkin kau menganggap kami seperti anak-anak nakal yang tidak tahu betapa tajamnya taring harimau. Tetapi kau salah. Satu-satu dari kami pasti akan dapat mematahkan taring-taring harimau yang betapapun buasnya, apalagi mematahkan lehermu dan leher Kuda Sempana itu.”

Kebo Sindet tidak menyahut. Dipandanginya bayangan yang bergerak-gerak disekitarnya. Ia sempat menghitungnya, meskipun tidak tepat benar. “Delapan sampai sepuluh orang.” desisnya.

“Sembilan orang.” salah seorang dari anak-anak muda itu berkata lantang, “apakah kau menggigil mendengar jumlah itu.”

Acuh tak acuh Kebo Sindet berkata, “Latihan yang menarik.” Kemudian ia berpaling kepada Kuda Sempana. Dipandanginya anak muda yang berdiri mematung itu, Kebo Sindet tidak ingin Kuda Sempana itu mendapat cidera. Mungkin ia misih memerlukannya untuk beberapa lama. Karena itu maka katanya, “Kuda Sempana, hati-hatilah. Marilah kita bermain bersama, berpasangan.”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Ia sendiri tidak mempunyai nafsu apapun dalam menghadapi anak-anak liar itu. Tetapi naluri untuk mempertahankan hidupnya masih mengalir di dalam tubuhnya, sehingga karena itulah maka iapun segera menempatkan dirinya dibelakang Kebo Sindet.

“Bagus.” desis Kebo Sindet, “cobalah pertahankan dirimu. Aku yakin bahwa dengan ilmu yang kau miliki, ditambah dengan beberapa unsur dari Kemundungan, kau akan mampu melayani anak-anak yang bodoh itu.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Tatapi ia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Ia ternyata masih memilik keinginan untuk tetap hidup, meskipun ia sendiri tidak tahu untuk apa sebenarnya ia mempertahankan hidupnya.

Jajar yang gemuk, adiknya dan anak-anak muda yang liar itu kini sudah mengepungnya rapat-rapat. Sembilan orang. Salah seorang dari meraka berkata disela-sela nada suara tertawanya yang menyakitkan hati, “He, apakah kau benar-benar akan melawan? Sebaliknya kalian berdua menyerah saja. Kami akan berbaik hati, membunuh kalian dengan cara yang kalian kehendaki, Tetapi apabila kalian melawan maka kami akan dapat berbuat apa saja atas kalian.”

Kebo Sindet yang berwajah beku itu menjawab dengan suara yang seolah-olah bergulung di dalam perutnya, “Aku pernah membunuh orang dengan cara yang menyenangkan sekali. Apakah kalian ingin mencoba atasku? Aku adalah pembunuh yang telah mempergunakan segala macam cara untuk membunuh korbanku. Aku kira aku mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak daripada kalian. Nah, barangkali kalian ingin mendapat satu dua contoh dari antara kalian.”

“Setan alas.” Jajar yang gemuk itu mengeram, “sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Masih juga kau dapat menyombongkan diri, Kebo Sindet. Apakah kau sedang mencoba mengatasi ketakutan yang mencengkam dadamu dengah segala macam bualan yang tidak berarti itu.”

“Mungkin.” suara Kebo Sindet menjadi semakin berat, “mungkin kau benar. Tetapi cobalah bertanya kepada dirimu sendiri, apakah kau tidak juga sedang mencoba mengatasi ketakutan dan keragu-raguanmu.”

“Tidak. Kami yakin, bahwa kau akan terbunuh malam ini.”

“Jangan tergesa-gesa.” salah seorang pemimpin anak-anak muda itu berkata, “Aku senang sekali melihat orang yang bernama Kebo Sindet ini dilanda oleh perasaan takut. Lihat, wajahnya yang sebeku mayat itu menjadi semakin pucat.”

“Silahkan.” jawaban Kebo Sindet itu benar-benar tidak terduga-duga, “silahkanlah kalau itu dapat menyenangkan hati kalian. Kesenangan, yang terakhir sebelum kalian mati bersama-sama. Tetapi cepat sedikit. Aku sudah tidak sabar. Aku mempunyai banyak persoalan, tidak sekedar melayani kalian, kelinci-kelinci yang bodoh. Aku akan melayani lawan-lawan yang jauh lebih berharga. Mungkin Empu Sada, mungkin Empu Gandring atau Panji Bojong Santi. Bukan kelinci-kelinci kecil seperti ini.”

“Nama-nama itupun tidak menggetarkan dadaku.” jawab adik Jajar yang gemuk itu, “Tetapi baiklah, kita akan lebih cepat.” Lalu, “Marilah kawan-kawan, kita bergembira malam ini.”

Kesembilan orang yang sudah bersiap untuk melawan Kebo Sindet dan Kuda Sempana itu segera mendesak maju. Sejenak kemudian mereka telah berdiri hanya beberapa langkah dari kedua orang yang berdiri di tengah-tengah kepungan, Kebo Sindet dan Kuda Sempana.

Ketika Kebo Sindet sekali lagi mencoba menandang berkeliling untuk mengetahui apakah masih ada orang lain yang berdiri disisi pepohonan atau dibelakang gerumbul, terdengar salah seorang dari anak-anak muda itu berdesis, “Kau sedang mencari jalan untuk lari? Jangan mengharap keluar dari kepungan kami. Usaha kami untuk membunuh seseorang tidak pernah gagal. Atau kau sedang mencoba menunggu tetangga-tetangga untuk datang membantumu atau setidak-tidaknya untuk mencegah perkelahian ini? Kaupun akan kecewa. Rumah-rumah itu bertebaran agak jauh. Seandainya mereka mendengar suara kami, merekaputi tidak akaa berani keluar dari rumahnya.”

Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi ia mendapat keyakinan, bahwa memang hanya sembilan orang itu sajalah yang berada dihalaman ini.

Tetapi ternyata sikap Kebo Sindet itu menggelisahkan hati Jajar yang memang sedang gelisah dan tegang itu. Sekilas diingatnya beberapa hari berturut-turut, beberapa orang selalu sedang mengintainya. “Apakah mereka orang-orang Kebo Sindet?” pertanyaaa itu selalu saja mengganggunya.

“Persetan akhirnya ia membulatkan hatinya, “orang ini harus dibunuh. Kalau ia membawa kawan-kawannya, maka biarlah kawan-kawannya itu terbunuh juga.”

Dengan demikian maka Jajar itu menjadi semakin bernafsu. Ketika ia masih melihat adik dan kawan-kawannya berdiri mengelilingi Kebo Sindet dan Kuda Sempana, maka katanya, “Apakah kita masih menunggu orang ini mati ketakutan?”

“Marilah.” sahut yang lain sambil melangkah maju. Kebo Sindetpun telah bersiaga sepenuhnya. Tetapi sungguh-sungguh diluar dugaannya, bahwa serangan yang pertama meluncur dari salah seorang anak-anak muda itu, adalah serangan tanpa senjata. Sebuah serangan tangan yang cepat dan berat, seakan-akan sebuah ayunan palu besi mengarah kepelipisnya.

Dengan cepat pula Kebo Sindet menghindar. Selangkah ia mundur sambil merendahkan dirinya. Tetapi yang penting baginya, ia menjadi semakin dekat dengan Kuda Sempana. Serangan yang pertama itu justru memberinya peringatan, bahwa sebenarnya anak-anak muda itu bukanlah anak-anak yang hanya sekedar senang membuat keributan. Tetapi ternyata mereka benar-benar mempunyai bekal untuk berbuat demikian.

Tetapi kesempatan untuk menilai serangan yang pertama itu tidak terlampau banyak. Sesaat kemudian kesembilan orang itu telah bergerak bersama-sama. Mereka hampir berbareng menyerang Kebo Sindet dan Kuda Sempana dari segala arah. Beruntun seperti ombak memukul pantai.

Serangan yang datang itu benar-benar membuat Kebo Sindet terperanjat Ternyata anak-anak muda itu memiliki suatu cara yang baik untuk berkelahi bersama-sama. Agaknya hal itu telah sangat biasa mereka lakukannya. Berkelahi dalam kelompok-kelompok serupa itu.

“Kuda Sempana, harus dapat mengatasi keadaan ini.” berkata Kebo Sindet di dalam hatinya, karena itu maka ia berdesis Kuda Sempana, tarik senjatamu. “Jangan hiraukan gerak- gerak tipuan mereka Biarkan saja mereka berlari-lari melingkari kita. Hanya serangan-serangan yang langsung mengarah kepadamu sajalah yang perlu kau layani.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi ia tidak menjadi bingung melihat sikap anak-anak muda itu. Apalagi ketika ia mendengar petunjuk Kebo Sindet, maka segera ia dapat membedakan, yang manakah serangan-serangan yang sebenarnya diarahkan kepadanya, dan yang manakah yang sekedar membuatnya bingung dan mengacaukan perhatiannya. Tetapi seperti nasehat Kebo Sindet, maka ia merasa perlu untuk menarik pedangnya, melawan serangan-serangan anak-anak muda yang liar dan kasar itu. Namun pada diri Kuda Sempana sendiri telah tumbuh pula benih-benih kekasaran itu, sehingga sejenak kemudian maka perkelahian itupun telah menjadi semakin garang dan kasar.

Untuk sesaat Kebo Sindet masih melayani lawan-lawannya dengan tangannya pula, seperti anak-anak itu. Ia masih mencoba melihat kekuatan yang tersimpan pada lawan-lawannya, pada anak-anak muda itu.

Tetapi ternyata serangan-serangan anak-anak muda itu telah membuatnya semakin lama semakin marah. Matanya yang terpancang di wajahnya yang membeku menjadi semakin membara. Bayangan yang bergerak-gerak melingkar-lingkar disekitarnya telah memancing nafsunya untuk melepaskan kemarahannya.

Sejenak kemudian perkelahian itupun telah menjadi perkelahian yang seru. Ternyata masing-masing memiliki kekuatan yang cukup. Anak-anak muda itu kemudian bergerak seperti bayangan, melontarkan diri dalam suatu lingkaran yang kadang-kadang melebar, tetapi kadang-kadang menjempit, seolah-olah hendak menghimpit kedua orang yang berada ditengah-tengah lingkaran itu.

Namun yang berada di-tengah-tengah lingkaran itu adalah Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Meskipun Kuda Sempana tidak sedahsyat Kebo Sindet, tetapi dengan pedang ditangan ia mampu melindungi, dirinya. Pedangnya segera bergetar dalam genggamannya. Setiap kali menjulur dan mematuk dengan cepatnya kearah anak-anak muda yang menyerangnya beruntun. Tetapi seperti pesan Kebo Sindet, maka dibiarkannya saja pancingan-pancingan yang akan dapat membuatnya lelah dan bingung. Ia tidak melawan serangan diluar jangkauan pedangnya. Ia tidak meloncat memburu atau menyerang. Ia seakan-akan hanya bertahan ditempatnya, seolah-olah kakinya yang sepasang itu menghunjam jauh ke dalam tanah.

Didalam kelamnya malam yang semakin dalam, maka perkelahian itupun menjadi semakin seru. Delapan anak-anak muda yang berkelahi itu mampu berkelahi dalam suatu kerja sama jang sangat rapi. Hanya Jajar yang gemuk itulah yang mempunyai cara tersendiri, tetapi segera iapun berusaha menyesuikan dirinya dengan kedelapan kawan-kawannya.

Halaman rumah Jajar yang kotor itu semakin lama menjadi semakin-semakin ribut. Anak-anak muda itu masih saja berkelahi sambil berputaran. Namun setelah beberapa lama perkelahian itu berlangsung, maka anak-anak muda itu merasakan suatu yang lain pada lawannya, dengan orang-orang yang pernah menjadi korban mereka. Kali ini yang dilawannya, benar-benar mampu mempertahankan dirinya, sehingga tidak semudah yang mereka sangka untuk membunuh Kebo Sindet berdua dengan Kuda Sempana.

Bahkan setiap kali terasa, orang yang berwajah beku itu memiliki kemampuan yang tidak dapat segera mereka jajagi. Semakin lama mereka bertempur, maka anak-anak muda itu semakin dicengkam oleh perasaan yang aneh atas lawannya. Semakin dahsyat mereka melakukan serangan dan tekanan, maka mereka menjadi semakin jelas melihat keperkasaan lawan.

Diantara anak-anak muda ada yang mampu memecahkan batu dengan tangannya, ada yang mampu membuat lawannya lumpuh oleh sentuhan-sentuhan pada bagian-bagian tubuh tertentu. Ada yang jarinya melampaui ketajaman ujung pisau, dan mampu menghunjam didada lawan sampai kepusat jantung. Tetapi melawan Kebo Sindet tangan mereka seakan-akan tidak berarti. Ketika beberapa jari mereka mencoba menyentuh tubuh Kebo Sindet, terasa seakan-akan mereka membentur segumpal baja yang melampaui kerasnya batu karang. Apalagi apabila Kebo Sindet sengaja menangkis serangan mereka, maka satu dua diantara mereka terdorong beberapa langkah dari lingkaran yang mereka buat. Hanya karena kelincahan dan ketangkasan mereka, maka mereka mampu untuk segera memperbaiki kedudukan mereka.

Itulah sebabnya maka mereka kemudian merasa, bahwa perkelaian itu tidak akan ada akhirnya. Mereka tidak mendapat kesempatan apapun untuk menunjukkan kelebihan mereka. Apalagi dengan tangan untuk melumpuhkan orang yang berwajah mayat itu.

Karena itu, maka tidak ada cara lain yang lebih baik dari pada beramai-ramai mengacungkan ujung-ujung senjata ke arah setan Kemundungan itu. Betapa tebal kulitnya, dengan ketajaman senjata mereka yang dilambari dengan kekuatan yang melampaui kekuatan manusia biasa, maka kulit itu pasti akan terluka.

Sejenak kemudian, maka bergemerlapanlah ujung-ujung senjata anak-anak muda itu. Pada umumnya mereka menggenggam sehelai pisau belati panjang. Hanya Jajar yang gemuk itu sajalah yang kemudian menggenggam kerisnya yang kecil, tetapi keris yang diandalkannya, sebagai sebilah keris yang mengandung kekuatan melampaui segala macam senjata.

Melihat ujung-ujung senjata itu, Kebo Sindet mengerutkan keningnya. Kulitnya memang tidak kebal dan tidak pula tahan tajamnya pedang. Karena itu Kebo Sindetpun tidak ingin mempersulit diri. Ia harus berusaha untuk menarik setiap perhatian dan memperingan pekerjaan Kuda Sempana. Kalau anak-anak muda itu kemudian memusatkan serangan-serangan mereka kepada Kuda Sempana, maka keadaan Kuda Sempana itu akan menjadi sangat sulit.

Ternyata usaha Kebo Sindet itu berhasil. Anak-anak muda itu memang memusatkan perhatian mereka kepada Kebo Sindet yang mereka anggap terlampau berbahaya. Kalau Kebo Sindet itu sudah berhasil mereka binasakan, maka Kuda Sempana tinggal akan menjadi permainan yang mengasikkan seperti yang sering mereka lakukan atas korban-korban mereka.

Tetapi kali ini mereka terbentur pada lawan yang lain. Kebo Sindet bukan sejenis orang yang dengan mudah dapat mereka jadikan permainan. Tidak mudah mereka takut-takuti atau mereka kejutkan dengan berbagai macam gerakan dan serangan.

Apalagi ternyata Kebo Sindet tidak mau mempersulit dirinya lebih lama lagi. Karena itu maka tangannya segera menarik senjatanya, sebuah golok yang besar.

Selanjutnya, maka perkelahian menjadi bertambah dahsyat dan mengerikan. Kini mereka tidak lagi membuat pertimbangan lain diripada menghujamkan senjata masing-masing kepada lawan.

Didalam gelapnya malam itu, beberapa pucuk senjata berputaran melingkar-lingkar. Sekali-sekali terpercik bunga api diudara. Benturan-benturan yang terjadi semakin lama menjadi semakin sering. Namun kemudian bukan anak-anak muda itu lagi yang membenturkan senjatanya, tetapi Kebo Sindetlah yang sengaja berbuat demikian. Sekali-sekali tampak sebuah belati panjang terloncat dari genggaman, jatuh beberapa langkah dari lingkaran perkelahian. Tetapi ternyata anak-anak muda itupun cukup tangkas. Dengan segera mereka melindungi kawan-kawan mereka yang kehilangan senjatanya, dan memberinya kesempatan untuk memungut senjatanya kembali. Namun tangan mereka semakin lama menjadi semakin nyeri, sehingga perlawanan merekapun menjadi semakin lemah. Meskipun demikian, tangan-tangan yang nyeri itu segera diimbangi dengan kecepatan mengatur serangan. Ujung-ujung pisau susul menyusul menyamber lambung dan dada seperti sekumpulan lebah yang berterbangan mengitari mangsanya. Setiap kali ujung-ujung senjata itu siap untuk menyengatnya.

Ketika perkelahian itu kian bertambah sengit, maka pada saat Ken Dedes sedang duduk menghadap Akuwu Tunggul Ametung. Dengan wajah yang kuyu Ken Dedes mengatakan, bahwa menurut Jajar yang gemuk. Kebo Sindet bersedia menerima tebusan itu diluar gapura kota, dengan syarat Jajar itulah yang membawa tebusannya dengan mengawal sebanyak-banyaknya dua orang.

“Betapa liciknya.” geram Akuwu Tunggul Ametung. “Tak ada prajurit Tumapel saorangpun yang dapat menyamai Kebo Sindet. Itulah sebabnya ia membuat syarat itu.”

“Bagaimana kalau syarat itu tidak dipenuhi Tuanku.”

“Umpamanya, Jajar itu datang dengan sepasukan prajurit untuk merebut kakang Mahisa Agni.

“Berbahaya bagi Mahisa Agni, seperti yang dikatakan Empu Gandring. Bukankah kau pernah juga mengatakan bahwa sepasukan prajurit hanya mempercepat bencana bagi Mahisa Agni.” Akuwu itu berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia mengeram, “salah seorang prajurit itu aku sendiri. Aku sendirilah yang akan menyerahkan tebusan kepada Kebo Sindet.”

Ken Dedes terperanjat mendengar keputusan Akuwu Tunggul Ametung itu. Tugas itu adalah tugas yang sangat berbahaya. Karena menurut pendengaran Ken Dedes, Kebo Sindet adalah seorang yang memiliki beberapa kelebihan dari orang lain. Bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi ia adalah seorang yang buas dan liar.

Karena itu maka Permaisuri itu menyahut, “Jangan Tuanku. Tuanku jangan pergi sendiri. Bukankah hal itu akan sangat berbahaya bagi Tuanku.”

“Aku tahu Ken Dedes, tetapi tidak ada jalan lain Aku tidak dapat menemukan cara lain dari pada aku sendiri pergi menemui Kebo Sindet sebagai prajurit pengawal. Yang seorang dari keduanya adalah Witantra. Jajar itupun tidak akan aku bawa pula, meskipun aku akan membawa seorang yang dapat berperan sebagai Jajar yang gemuk itu. Ardata, Senapati perang pasukan berkuda. Bukankah Ardata itu gemuk seperti Jajar yang bodoh itu? Nah, dalam pakaian yang serupa dimalam hari, orang lain tidak akan. segera mengenalnya. Aku dan kedua Senapati itu sudah cukup untuk membuat perhitungan dengan Kebo Sindet dan Kuda Sempana.”

“Tetapi Tuanku, bagaimanakah kalau mereka membawa kawan yang berjumlah cukup banyak.”

“Pasukan pengawalku harus siap didalam regol supaya tidak dilihat oleh Kebo Sindet. Apabila Kebo Sidet membawa kawan dalam jumlah yang banyak, kami akan memberikan tanda kepada para pengawal.”

Ken Dedes tidak segera menjawab, tetapi hatinya dilanda oleh kecemasan yang sangat. Ia merasa bersyukur, bahwa perhatian Akuwu Tunggul Ametung kini demikian besarnya terhadap keselamatan Mahisa. Agni. Tetapi dengan demikian Ken Dedes menjadi cemas, bahwa akan terjadi bencana yang lebih dahsyat menimpa dirinya. Kalau terjadi sesuatu atas Akuwu Tunggul Ametung, maka akan hilanglah segala macam harapan bagi hari depannya. Ia tidak mempunyai lagi tempat untuk bergantung. Sama sekali. Semuanya akan hilang, dan dirinya sendiripun pasti akan banyut kedalam ketiadaan.

Sejenak mereka berdua duduk didalam kediaman masing-masing. Akuwu Tunggul Ametung sekali-sekali mengusap wajahnya yang basah oleh keringat, sedang Ken Dedes duduk saja menundukkan kepalanya.

Namun tiba-tiba dalam kediaman itu, Akuwu Tunggul Ametung dikejutkan oleh langkah tergesa-gesa. Kemudian ia mendengar seseorang berdiri dimuka pintu bilik dengan nafas terengah-engah.

Akuwu itupun kemudian berdiri, berjalan kepintu dan menyapanya, tetapi ia masih belum melihat orangnya, “He, siapa dimuka pintu?”

“Hamba tuanku, hamba yang Tuanku perintahkan mengawasi Jajar yang gemuk itu.”

“Oh.” namun terbersit kecemasan dihati Akuwu, “masuklah. Kenapa kau menghadap malam-malam begini?”

Prajurit yang berdiri diluar pintu itu merayap masuk, kemudian duduk sambil menekurkan kepalanya dalam-dalam.

“Ampun Tuanku, hamba terpaksa menghadap Tuanku malam ini.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan dahinya. Tetapi ia masih bertanya, “Aku masih mendengar nafas seseorang diluar. Siapa?”

“Oh, prajurit pengawal istana Tuanku, yang mengantarkan hamba menghadap Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah yang akan kau sampaikan?”

“Soal Jajar yang gemuk itu Tuanku.”

“Ya, kenapa.”

“Seperti yang pernah hamba sampaikan kepada Tuanku, bahwa beberapa kali hamba berhasil mendengarkan pembicaraan mereka dengan Kebo Sindet, meskipun aku menduga bahwa Kebo Sindetpun mengetahui kehadiran hamba. Namun kadang-kadang orang itu malahan dengan sengaja memperkeras suaranya. Sekali hamba pernah terpaksa memukul kepala Jajar yang gemuk itu sebelum ia melihat, siapakah hamba berdua. Tetapi yang terakhir hamba tidak berhasil mendengarkan pembicaraan mereka Tuanku, meskipun hamba dapat melihat mereka bertemu. Jajar yang gemuk itu dau Kebo Sindet. Sedangkan hari ini, dari prajurit pengawal diregol halaman hamba mendengar bahwa Jajar itu pulang terlampau pagi. Sehari-harian kami berdua mengawasi rumahnya dari kejauhan. Ternyata kini terjadi sesuatu Tuanku.”

“Apakah yang terjadi?”

“Ternyata Jajar gemuk itu menjebak Kebo Sindet didalam perangkapnya. Sejumlah orang-orang yang telah dipersiapkan oleh Jajar yang gemuk itu berusaha untuk membunuh Kebo Sindet.”

“He?” Akuwu Tunggul Ametung terperanjat. Sekilas wajahnya menjadi merah tegang. Namun kemudian ia bertanya, “Kenapa Jajar itu akan membunuhnya?”

“Hamba tidak tahu Tuanku.”

“Gila, ini adalah permainan yang gila.” Akuwu itu menggeram, “Jajar itu ternyata juga gila.” Tiba-tiba Akuwu itu berteriak, “He. perjanjian apakah yang telah dibuat oleh Jajar dan Kebo Sindet itu.”

“Hamba kurang mengetahui Tuanku.”

“Jajar itu ternyata berkhianat.” geram Akuwu itu pula, dan sekali lagi berteriak sambil menghentakkan kakinya, “Aku tahu. Aku tahu. Jajar itulah yang membuat ceritera tentang penyerahan perhiasan besok. Tentang dua orang prajurit yang syaratkan untuk mengawal. Tentang Jajar yang gemuk, itu yang harus membawa tebusan itu. Nah, diluar regol itu telah menunggu orang-orang yang hari ini berusaha membunuh Kebo Sindet.”

Akuwu itu berhenti sejenak, lalu, “Aku akan pergi sekarang. Semua harus dibinasakan Kebo Sindet dan Jajar yang gemuk itu.”

Dada Ken Dedes berguncang mendengar kata-kata Akuwu itu. Seandainya, ya, seandainya hal itu terjadi, alangkah menyedihkannya. Alangkah pahitnya. Sehingga tiba-tiba saja Ken Dedes itu berlutut dibawah kaki Akuwu Tunggul Ametung sambil memegangi kaki itu, “Ampun Tuanku. Jangan pergi. Jangan pergi. Biarlah apa yang telah terjadi dengan kakang Mahisa Agni. Akuwu harus mencari jalan lain untuk membebaskannya. Tetapi bukan Tuanku sendiri yang harus pergi.”

Sejenak Akuwu Tunggul Ametung itu justru mematung. Ia merasakan sesuatu yang menggetarkan dadanya. Sikap Ken Dedes yang mencemaskan nasibnya itu justru menambah tekadnya untuk menolong Mahisa Agni. Untuk menyenangkan hati Ken Dedes dan melepaskannya dari kesedihan yang melandanya setiap hari, sebelum kakaknya itu dibebaskannya.

Maka sejenak kemudian ia berkata, “Ken Dedes. Aku tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Seandainya Kebo Sindet terbunuh didalam perkelahian itu, apakah untuk seterusnya kita akan dapat menemukan kesempatan untuk membebaskan Mahisa Agni? Mungkin Mahisa Agni dijaga oleh orang-orang Kebo Sindet dengan pesan-pesan khusus, seandainya Kebo Sindet tidak kembali pada saat-saat yang ditentukan. Tetapi seandainya Mahisa Agni disembunyikan ditempat yang sukar diketahui oleh orang lain kecuali Kebo Sindet sendiri, meskipun tanpa pengawasan, namun apabila Mahisa Agni tidak berhasil keluar dari tempat itu, maka betapapun lambatnya, ia akan mati pula. Mungkin karena kelaparan, haus dan mungkin karena sebab-sebab lain.”

“Lalu apakah yang akan tuanku lakukan?”

“Kalau mungkin menangkap Kebo Sindet dan mendengar beberapa keterangan langsung dari padanya, tentang Mahisa Agni sebelum orang itu dibinasakan. Sebab ia adalah orang yang sangat berbahaya.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Tetapi seandainya. Kebo Sindet itu menang, maka malahan masih ada harapan untuk dapat menyelamatkan Mahisa Agni. Kalau Kebo Sindet menganggap bahwa Jajar itulah yang berkhianat kepadanya, maka ada kemungkinan Kebo Sindet kelak mencari cara lain untuk memeras kita. Jika demikian, maka selama itu Mahisa Agni pasti masih hidup. Tetapi akan berbeda sekali akibatnya, apabila Kebo Sindet menganggap bahwa Jajar itu telah bekerja bersama dengan kita untuk menjebaknya. Jika demikian, maka nasib Mahisa Agni ada dalam bahaya.”

Dada Ken Dedes berdesir mendengar keterangan Akuwu Tunggul Ametung itu sehingga ia berdesah, “Mudah-mudahan kakang Mahisa Agni selamat.”

“Nah, aku sekarang akan mencari jalan untuk menyelamatkannya.”

“Apakah Tuanku akan pergi dengan pengawal?”

“Ya, kali ini aku tidak perlu bersembunyi. Aku akan datang dengan sepasukan prajurit untuk mencegah kemungkinan salah seorang dari orang-orang yang tamak itu melarikan diri. Aku akan berusaha mendengar penjelasan Kebo Sindet sendiri, dimana Mahisa Agni. Tetapi kalau aku terpaksa membinasakannya, maka aku berharap bahwa Kuda Sempana akan tertangkap hidup-hidup.” Lalu kepada prajurit yang melaporkannya Akuwu itu bertanya, “Bukankah Kuda Sempana ada bersamanya?”

“Hamba Tuanku.”

“Bagus. Pada dasarnya kedua pihak yang berkelahi itu harus binasa.” Akuwu itu berhenti sebentar, lalu, “he, siapkan prajurit-prajurit pengawal dan beberapa orang Pelayan Dalam yang sedang bertugas. Siapkan orang-orang yang paling baik sebanyak lima belas orang.”

“Hamba Tuanku, hamba akan menghubungi Senapati yang bertugas malam ini.”

“Baik, perintahku kepadanya, segera bersiap dalam kesiagaan tertinggi. Kita akan pergi berperang.”

“Hanya lima belas orang Tuanku.”

“Ya.” tetapi Akuwu itu tertegun, “berapa orang yang mendjebak Kebo Sindet.”

“Hamba kurang jelas, Tuanku. Tetapi disekitar sepuluh orang.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Lima belas orang telah cukup. Masih ditambah kau dan aku, dan seorang kawanmu yang barangkali masih tinggal disekitar perkelahian itu?”

“Hamba Tuanku, kawan hamba itu berusaha melihat apa yang telah terjadi, sedang hamba harus menyampaikan peristiwa ini kepada Tuanku.”

“Kalau begitu Iima belas orang terbaik telah cukup. Cepat, hubungi Senapati yang bertugas. Aku tidak mempunyai waktu untuk memanggil Witantra dan Ardata. Aku cukup membawa prajurit-prajurit pengawal dan Pelajan Dalam yang ada.”

“Hamba Tuanku.”

“Cepat. Aku akan segera berangkat sebelum terlambat.”

Prajurit itu kemudian surut sampai diluar pintu sambil berjongkok. Tetapi ia hampir terlonjak ketika ia tiba-tiba saja mendengar Akuwu itu membentak keras-keras, “Cepat, kenapa kau merayap seperti siput? Apakah kau tidak dapat berlari?”

Sambil menyembah prajurit itu menyahut, “Hamba Tuanku.”

Dengan ragu-ragu prajurit itupun segera berdiri. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari meninggalkan bilik itu untuk menemui Senapati yang sedang bertugas. Sedang prajurit yang lain, yang mengantarnya menghadap Akuwu segera menyusulnya dibelakangnya.

Akuwu Tunggul Ametungpun segera mempersiapkan dirinya dengan pakaian keprajuritan. Sebuah pedang dilambung kiri, dan dilambung kanan tergantung senjata pusakanya. Sebuah penggada yang berwarna kuning berkilauan.

Ken Dedes kemudian melepas Akuwu Tunggul Ametung dengan dada yang ber-debar-debar, Ia sendiri memimpin pasukan yang kecil itu berpacu di atas punggung kuda yang tegar, berlari kencang sekali seperti angin. Para prajurit yang bertugas diregol, yang belum mendengar apa yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung terkejut bukan buatan. Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Tidak lebih dari sekejab, maka kuda-kuda itu telah lampau sambil melontarkan kepulan debu yang putih.

Para pengawal regol itu saling bertanya-tanya diantara mereka. Tetapi kemudian merekapun mendengar bisikan ketelmga mereka, “Akuwu akan langsung menangkap Kebo Sindet itu sendiri.”

Setiap prajurit yang mendengar berita itu menjadi berdebar-debar. Sebagian dari mereka telah pernah mendengar, betapa Kebo Sindet merupakan hantu yang menakutkan disebelah Timur Gunung Kawi.

Tetapi hampir setiap prajuritpun tahu, bahwa Akuwu Tunggul Ametung bukanlah seorang anak-anak yang sedang mencoba belajar naik kuda. Akuwu Tunggul Ametung adalah manusia yang aneh pula, yang memiliki kelebihan dari manusia kebanyakan. Bahkan para prajurit Tumapel percaya akan ceritera tentang Akuwunya, bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang memiliki kesaktian dari langit.

“Seandainya aku mendapat kesempatan, aku ingin menyaksikan apa yang akan terjadi.” desis salah seorang prajurit.

“Alangkah dahsyatnya.” sahut yang lain, “kalau benar Akuwu Tunggul Ametung bertemu dan sempat bertempur melawan Kebo Sindet.”

“Pasti akan terjadi pertempuran seperti yang sering kami khayalkan dari ceritera Bharatayuda.” berkata yang lain, “seperti perang Karna dan Arjuna.”

“Tidak. Tidak seperti kedua satria itu. Kebo Sindet sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan Karna, dan Akuwu Tunggul Ametung sama sekali bukan Arjuna, meskipun Permaisurinya cantik seperti Sembadra.”

“Ya, memang bukan. Seperti Bima dan Duryudana.”

“Entahlah.” berkata yang lain, “tetapi perkelahian itu pasti akan sangat mengerikan. Apalagi apabila Akuwu Tunggul Ametung telah memutuskan untuk mempergunakan senjatanya yang aneh itu, penggada yang berwarna dan bercahaya kekuning-kuningan.”

“Seperti pertempuran antara guntur dan petir dilangit.”

Sementara itu Akuwu Tunggul Ametung berpacu secepat-cepat kudanya dapat berlari. Ia masih belum menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk mengatasi keadaan yang bekembang tidak sesuai dengan rencananya itu. Tetapi ada satu ketetapan dihatinya, kedua pihak harus dibinasakan. Namun ia masih memerlukan petunjuk tentang Mahisa Agni. Kalau ia berhasil membinasakan Kebo Sindet tetapi kemudian tidak berhasil menemukan Mahisa Agni, maka kerjanya akan bernilai setengah. Sebab dengan demikian, Ken Dedes pasti masih juga selalu bersedih.

Prajurit-prajurit pengawalnya kali ini adalah prajurit-prajurit pengawal istana dan lima orang Pelajan Dalam. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dapat dikumpulkan malam itu. Mereka adalah orang-orang yang sedang bertugas mengawal istana. Dan Akuwu Tunggul Ametung percaya kepada kekuatan dan kesetiaan mereka. Karena itu maka Akuwu Tunggul Ametung dengan pasti melarikan kudanya untuk menyelesaikan persoalannya.

“Aku harus segera mendapat penyelesaian.” desisnya di dalam hatinya, “supaya aku tidak selalu disiksa oleh persoalan ini sehingga persoalan-persoalan lain menjadi terdesak karenanya. Selama ini masih belum selesai, maka mendung diistana masih belum dapat disingkirkan Ken Dedes pasti masih selalu dibayangi oleh kemurungan tanpa dapat diredakannya.”

Dengan demikian maka Akuwu itupun menjadi semakin bernafsu. Kemarahan yang selama ini ditahan-tahannya, kini seolah-seolah ingin diledakkannya. Ia harus membuat perhitungan terakhir.

Derap kaki-kaki kudanya gemeretak diatas tanah berbatu-batu. Beberapa orang prajurit pengawal rapat berpacu dibelakangnya. Tetapi beberapa orang yang lain, tidak mampu mengikutinya dalam jarak yang wajar, karena kuda-kudanya tidak setangkas kuda Akuwu Tunggul Ametung yang dilarikan melampaui kecepatan yang seharusnya. Namun jarak itu tidak mengganggu. Mereka masih tetap dalam kesatuan yang utuh apabila mereka dengan tiba-tiba saja harus berhadapan dengan lawannya.

Prajurit penunjuk jalan, yang mula-mula melaporkan peristiwa yang terjadi kepada Akuwu Tunggul Ametung, dengan susah payah berusaha untuk tetap berada didekat Akuwu, supaya setiap saat ia dapat memberitahukan arah yang harus ditempuh, karena Akuwu sendiri belum pernah melihat rumah juru taman yang telah berkhianat kepada kedua belah pihak itu.

“Apakah rumah itu masih jauh?” geram Akuwu itu kemudian.

“Tidak Tuanku. Sudah tidak terlampau jauh. Diujung jalan yang masuk kemulut perkampungan didepan itu kita berbelok kekanan, kemudian masuk kedalam.”

“Apakah kita akan sampai?”

“Diujung perkampungan yang lain kita berbelok lagi kekanan. Kita akan sampai disebuah halaman yang kosong, kalau kita masuk lagi kedalam, maka kita akan sampai. Satu halaman berselang dari jalan ditepi perkampungan itu.”

“Kenapa berputar-putar? Apakah tidak ada jalah yang melintas?”

“Tidak Tuanku. Jalan yang paling pendek hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki lewat beberapa halaman dan jalan yang terlampau sempit.”

Akuwu tidak menjawab, tetapi ia berusaha memacu kudanya semakin cepat.

Tetapi tiba-tiba Akuwu itu terperanjat. Tidak begitu jauh dihadapannya, didalam perkampungan yang ditujunya, ia melihat lidah api menjilat keudara. Baru saja. Seolah-olah sengaja menyambut kedatangannya.

Bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang terperanjat, tetapi prajurit yang menunjukkan jalan kepadanya dan para pengawalnya. Hampir serempak mereka berdesis, “Api.”

“Ya, api.” Akuwu Tunggul Ametung hampir berteriak, “apakah artinya ini, he?”

Prajurit penunjuk jalan itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Hamba tidak mengerti Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung menggeram. Ia mencoba mencari hubungan antara api dan perkelahian yang telah terjadi. Kebo Sindet harus melawan beberapa orang sekaligus. Apakah ia masih sempat berpikir, membakar rumah Jajar yang gemuk itu?

Tetapi Akuwu Tunggul Ametung tidak bernafsu untuk memikirkan jawabannya. Ia ingin segera sampai, dan dengan demikian ia akan mendapat jawaban itu dengan sendirinya. Karena itu maka kudanya justru dipacunya lebih cepat lagi. Semakin lama semakin cepat, sehingga kuda itu seolah-olah tidak lagi menjejak diatas tanah.

Demikian nafsunya untuk segera sampai ketempat Jajar yang gemuk itu, sehingga Akuwu Tunggul Ametung tidak menghiraukan apa-apa lagi. Ia tidak menghiraukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi disepanjang jalan. Sehingga kuda pengawal utamanya terpaksa dengan susah pajah berpacu disampingnya. Ketika mereka hampir memasuksi desa didepan mereka, maka kedua pengawal itu terpaksa sedikit menahan laju kuda Akuwu Tunggul Ametung. Salah seorang dari mereka berkata, “Ampun Tuanku. Biarlah hamba akan berada didepan sekali.”

Akuwu Tunggul Ametung tidak menjawab. Tetapi ia seolah-olah tidak menghiraukannya.

“Ampun Tuanku.” prajurit pengawalnya mengulangi, “hamba akan berada didepan Tuanku sebelum memasuki perkampungan itu.”

Tetapi Akuwu masih juga juga diam. Sedang mulut lorong yang masuk kedalam desa didepan mereka menjadi semakin dekat.

Kedua pengawal Akuwu itu menjadi cemas. Yang kini mereka hadapi adalah orang-orang yang kuat namun licik. Baik kawan-kawan Jajar yang gemuk yang berjumlah kira-kira sepuluh orang itu, maupun Kebo Sindet dan Kudu Sempana. Karena itu, maka tanpa menunggu jawaban Akuwu Tunggul Ametung, maka kedua pengawal utamanya itu berusaha untuk mendahuluinya.

Akuwu Tunggul Ametung menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Kenapa kalian menjadi gila, he?”

“Hamba berdualah yang seharusnya berada didepan Tuanku dalam keadaan serupa ini.”

Akuwu Tunggul Ametung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tetapi cemudian disadari bahaya yang dapat menerkamnya setiap saat dari orang-orang yang licik itu. Karena itu, maka kemudian dibiarkannya kedua pengawal utamanya itu mendahuluinya, untuk meyakinkan, bahwa jalan yang akan dilaluinya tidak dirintangi oleh bahaya yang mengancam keselamatannya.

Tetapi mereka memang sedang menuju ketempat yang berbahaya. Tempat yang tidak diketahui dengan pasti, apakah yang akan dihadapinya nanti. Kebo Sindet dan Kuda Sempana, atau Jajar yang gemuk itu dengan kawawan-kawawannya, atau bahkan mereka bergabung untuk dapat melepaskan diri mereka dari prajurit-prajurit Tumapel.

“Kalau demikian.” berkata Akuwu didalam hatinya, “aku benar-benar harus berhati-hati. Kalau kedua iblis itu justru bersepakat untuk menjebak prajurit-prajurit Tumapel, maka aku harus dapat menyesuaikan diriku bersama pasukan kecil ini.”

Namun Akuwu Tunggul Ametung masih juga tetap tatag. Karena ia benar-benar mempercayai kekuatan para pengawalnya, dan terutama sekali ia percaya kepada senjatanya, kepada penggadanya yang berwarna dan bercahaya kekuning-kuningan. Senjata yang mempunyai kekuatan yang dapat diandalkannya. Kalau Akuwu itu mateg Aji pamungkasnya untuk melambari ayunan gadanya, maka seakan-akan gunung akan menjadi runtuh dan lautan akan menjadi kering, tersentuh oleh pusakanya itu.

Akuwu menjadi semakin gelisah ketika ia melihat lidah api menjadi semakin tinggi. Warna langit yang hitam, tiba-tiba menjadi semburat merah. Namun kebakaran itu masih belum terlampau besar. Masih ada kesempatan untuk melihat, apa yang sebenarnya telah terjadi.

Kini yang berpacu paling depan adalah kedua pengawal utama Tunggul Ametung berurutan. Kemudian barulah Akuwu sendiri yang berpacu diatas punggung kudanya dengan wajah tegang.

Ternyata waktu yang mereka perlukan tidak terlampau lama. Sejenak kemudian mereka telah berbelok memasuki lorong yang akan melewati jalan kecil dimuka rumah Jajar yang gemuk itu.

“He.” bertanya. Akuwu itu kepada prajurit penunjuk jalan, “Dimana rumah itu.”

“Kita telah sampai, yang terbakar itulah.” jawab prajurit itu.

Dengan serta merta para prajurit itu segera mengekang kuda-kuda mereka. Kini mereka berada tidak terlampau jauh dari rumah yang memang sedang dimakan oleh api, meskipun belum lagi separonya.

“Jadi rumahnya yang terbakar itu itu?” bertanya Akuwu.

Penunjuk jalan itu menyahut, “Hamba Tuanku, itulah rumahnya.”

“Kita mendekat. Kita lihat, kenapa rumah itu terbakar.”

Mereka maju lagi perlahan-lahan Segera mereka memasuki halaman rumah yang kotor itu. Tak seorangpun dari tetangga tetangga yang berani keluar rumah dan menolong memadamkan api yang merayap untuk menelan seluruh rumah dan isinya.

“Bukan main ganasnya setan dari Kemundungan itu.” desis Akuwu Tunggul Ametung, “tetapi dimana orang itu?”

Belum lagi seorangpun yang menjawab, maka beberapa orang prajurit segera menyibak, memberi jalan kepada seorang yang dengan berjalan kaki langsung menuju kearah Akuwu Tunggul Ametung.

Aku Tunggul Ametung memperhatikan orang itu dengan saksama. Cahaya api yang menyala-nyala segera memperkenalkannya, bahwa ia adalah prajuritnya yang seorang lagi, yang bertugas mengawasi rumah Jajar yang gemuk itu.

“Kau?” desis Akuwu.

“Hamba Tuanku.”

“Apa yang kau lihat, dan apakah sebabnya maka timbul kebakaran?”

“Ampun Tuanku.” jawab prajurit itu, “hampir hamba menjadi pingsan melihat kelakuan Kebo Sindet, setan dari Kemundungan yang hamba kira adalah orang yang paling buas dipermukaan bumi.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sekali dipandanginya api yang menyala semakin besar. Bagian depan rumah itu kini sudah lebih dari separo dimakan api. Api yang menyala dari sudut itu merayap perlahan-lahan. Suaranya bergemeretak seperti seribu gerobag lewat diatas tanah berbatu-batu.

“Apa yang kau lihat?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

“Pembantaian yang tidak tanggung-tanggung.”

“Hem.” Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam.

“Anak-anak muda yang mencoba menjebak Kebo Sindet ternyata telah menjadi korban yang mengerikan.”

Akuwu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak melihat gesosok mayatpun dihalaman rumah itu.

“Tetapi dimanakah Kebo Sindet membunuh korbannya? Bukankah mereka bertempur dihalaman ini?”

“Hamba Tuanku.” sahut prajurit itu, “tetapi setelah mereka dibunuh dengan cara Kebo Sindet, mereka dilemparkan kedalam rumah itu. Sebelum Kebo Sindet pergi, rumah itu dibakarnya.”

“Hem.” sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas, lalu katanya, “Bagaimana dengan Jajar yang gemuk itu?”

“Ia mengalami nasib paling jelek diantara kawan-kawannya. Ia ditangkapnya yang terakhir kalinya. Diikat dan dimasukkan kedalam rumah itu pula, tanpa dibunuhnya lebih dahulu.”

“He? Jadi Jajar itu masih hidup?”

“Hamba Tuanku. Tetapi didalam rumah itu.”

“Ambil dia.”

Prajurit itu tidak menjawab. Api kini berkobar semakin besar.

“Apakah Jajar itu kira-kira sudah terbakar didalam rumah itu?”

“Hamba tidak tahu Tuanku.”

“Ambil, ambil dia.” teriak Tunggul Ametung, “cari jalan dari sisi yang belum terbakar itu. Mungkin kau masih menemukannya diruangan yang belum dimakan api.”

Prajurit itu menjadi ragu-ragu. Dipandanginya saja Akuwu Tunggul Ametung, seakan-akan ia tidak percaya kepada perintah itu.

“Ambil, cepat, ambil.” Akuwu itu berteriak. Prajurit yang masih saja ragu-ragu itu tidak juga beranjak dari tempatnya. Tetapi seorang prajurit yang lain, pengawal Akuwu Tunggul Ametung dengan sigapnya meloncat dari kudanya dan berlari kearah api yang sedang menyala.

“Ingat arah api.” teriak Akuwu itu pula.

Ternyata kemudian dua orang prajurit termasuk prajurit yang ragu-ragu itu menyusulnya, melingkar dari sudut yang masih belum terbakar. Dengan susah pajah mereka merobek dinding dan dengan wajah yang merah oleh nyala api yang berkobar ketiganya mencoba masuk kedalam rumah yang sudah hampir ditelan api itu.

Wajah Akuwu menjadi tegang. Ia melihat seolah-olah ketiga prajuritnya itu masuk kedalam lautan api. Sehingga kemudian ia berteriak penuh penyesalan. “Keluar, keluar. Tinggalkan rumah itu. Biarkan Jajar itu dimakan api. Cepat, keluar.”

Tetapi ketiga prajurit yang masuk kedalam rumah yang telah terbakar itu tidak segera keluar. Sementara api semakin lama menjadi semakin ganas. Lidah yang merah mencuat seolah-olah hendak menyentuh langit. Kini sebagian besar rumah itu dibagian depan sudah terbakar. Api sedang merambat kesudut tempat para prajurit memasuki rumah itu.

“Keluar, cepat keluar.” teriak Tunggul Ametung semakin keras. Tetapi ketiga prajurit itu masih juga belum muncul. Akuwu itu semakin tegang seketika akhirnya sudut itupun mulai dijilat oleh api. Sedikit demi sedikit, akhirnya rumah itu kini seolah-olah menjadi seonggok bara yang menyala.

“Gila.” Akuwu itu menggeram, lalu, “Lihat dibagian lain.” ia berteriak keras sekali, “lihat dibagian belakang, apakah seluruh rumah ini sudah terbakar.”

Beberapa orang prajurit segera berlari berpencaran. Mereka berlari kesisi rumah itu. Ternyata mereka melihat bagian belakang rumah itu masih belum lenyap ditelan api. Dengan demikian mereka masih mengharap bahwa kawannya akan dapat menyelamatkan diri dari bagian itu.

Ternyata harapan itu terpenuhi. Mereka melihat pintu belakang itu bergerak, kemudian pecah menjadi kepingan-kepingan papan, kemudian mereka melihat sesosok tubuh muncul dari dalam disusul oleh dua orang yang lain. Salah seorang dari padanya ternyata mendukung seseorang yang agaknya sedang pingsan.

“He cepat.” teriak prajurit yang melihat mereka keluar.

Mereka berjalan tersuruk-suruk. Ternyata mereka telah mengalami luka-luka bakar pada tubuh mereka. Meskipun luka itu tidak terlampau parah, tetapi nafas mereka seolah-olah hampir putus karena asap yang bergulung-gulung didalam rumah yang terbakar itu.

Beberapa orang prajurit segera mencoba menolong mereka. Seorang yang lain mengambil orang pingsan itu dari tangan pendukungnya yang sudah menjadi terlampau payah.

Orang yang pingsan itu adalah Jajar yang gemuk, yang telah mencoba menjebak Kebo Sindet.

“Air.” desis salah seorang prajurit yang menjadi kehitam-hitaman. Bajunya tersobek oleh percikan api. Bukan saja baju dan kainnya, tetapi juga kulitnya.

“Marilah kita menghadap Akuwu.” ajak salah seorang kawannya.

Prajurit-prajurit yang terluka oleh api itu segera tertatih-tatih menghadap Akuwu Tunggul Ametung. Hanya karena kekuatan yang memancar dari dalam diri mereka oleh kepatuhan maka mereka dapat selamat dari api yang hampir menelan mereka hidup-hidup.

Seorang prajurit yang lain segera mencari sumur. Dengan upih yang ada ia segera mengambil air, langsung dilepasnya dari senggotnya, dan dibawa kepada ketiga prajurit yang sedang kehausan.

“Hem.” Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam, “kalian memang luar biasa. Terima kasih.”

Prajurit-prajurit itu tidak segera menjawab. Tetapi dengan tangan gemetar diraihnya upih yang berisi air. Hampir tidak sabar mereka minum berganti-ganti dari upih itu. Perasaan haus yang hampir tak tertahankan telah mencekam leher mereka.

Akuwu membiarkan prajurit-prajurit itu minum. Tetapi ia sempat memperingatkan, “Jangan kau turuti nafsumu untuk memuaskan haus. Kau dapat menjadi sakit karena terlampau banyak air yang kau telan.”

Prajurit-prajurit itu kini telah mendapatkan kesadarahnya kembali sepenuhnya setelah mereka mendapat tekanan perasaan yang sangat tajam ketika mereka berada ditengah-tengah api. Untunglah bahwa mereka tidak kehilangan sama sekali pikiran mereka, sehingga mereka masih sempat mencari jalan keluar. Dan bahkan masih sempat mendukung, Jajar yang gemuk itu.

Tetapi ternyata keadaan Jajar yang gemuk itu agak lebih parah. Seutas tali masih tergantung ditangannya. Luka-luka ditubuhnya ternyata tidak saja luka bakar karena sentuhan api yang memercik, tetapi tubuhnya juga tergores oleh senjata dan bahkan karena pukulan-pukulan yang keras di wajahnya.

“Apakah Jajar itu tadi terikat tangannya?” bertanya Akuwu yang masih melihat ujung tali yang berjuntai ditangan Jajar yang pingsan itu.

Salah seorang prajurit yang masuk mengambilnya, menjawab dengan gemetar, “Hamba tuanku. Hamba menemukannya diruang dalam, terikat pada sebuah tiang. Hamba terpaksa memotong tali pengikatnya sehingga hamba memerlukan waktu untuk itu.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku mencemaskan nasib kalian. Tetapi adakah luka-luka kalian sangat parah?”

“Tidak tuanku.” sahut salah seorang dari mereka, “luka-luka hamba bertiga tidak terlampau parah. Tetapi hamba telah diserang oleh kebingungan dan hampir-hampir kehilangan akal. Tetapi sekarang hamba telah dapat berpikir dengan wajar.”

“Bagus. Memang kadang-kadang dalam keadaan yang paling sulit justru kita kehilangan akal untuk berusaha melepaskan diri. Tetapi kalian masih dapat bertahan melawan kebingungan dihati kalian. Itulah yang ternyata menyelamatkan kalian.”

“Hamba tuanku.” ketiga prajurit itu hampir berbareng menyahut.

“Lalu bagaimanakah dengan Jajar yang gemuk itu?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung sambil meloncat turun dari kudanya. Selangkah ia maju mendekati Jajar yang pingsan yang kemudian dibaringkan ditanah.

“Apakah luka-lukanya parah?”

“Hamba tuanku.” jawab salah seorang prajurit. Oleh cahaya api yang menyala semakin besar, tampak jelas pada Jajar itu, warna-warna mereka yang menodai pakaiannya, Darah.

“Darah itu tidak menitik dari luka-luka bakarnya.” desis Akuwu Tunggul Ametung.

“Hamba Tuanku. Pada tubuhnya terdapat goresan-goresan senjata tajam. Dan bahkan mungkin Jajar itu telah di pukul pula dengan tangkai pedang di wajahnya.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia maju lagi mendekati Jajar yang pingsan dan kemudian berdiri disampingnya. Para pengawalnyapun segera turun pula dari kuda-kuda mereka dan berdiri melingkari Jajar yang terbaring pingsan itu.

Akuwu Tunggul Ametung melihat luka-luka di tubuh Jajar itu. Ia membungkukkan badannya sedikit dan meraba tubuh yang terbujur diam itu.

“Ia masih hidup.” desisnya.

“Hamba Tuanku. Memang ia masih hidup.”

“Lalu dimanakah kawan-kawannya yang telah berkelahi melawan Kebo Sindet.” bertanya Akuwu itu.

Prajurit yang mengawasi perkelahian itu dan yang kini tubuhnya telah diwarnai oleh asap yang kehitam-hitaman dan luka-luka bakar menjawab, “Didalam Tuanku. Mereka ditimbun disamping Jajar yang terikat pada tiang ini.”

Akuwu mengatubkan giginya rapat-rapat. Ia mendapat gambaran semakin jelas tentang Kebo Sindet. Bahwa sebenarnyalah bahwa orang itu sama sekali tidak dapat dibedakan dengan iblis yang sebuas-buasnya.

“Ternyata Kebo Sindet sama sekali tidak mendapat kesulitan untuk menyelesaikan mereka dalam waktu yang singkat. Aku menyesal bahwa aku datang terlambat. Aku ingin menghentikan kebuasannya itu.”

“Hamba Tuanku. Ternyata lawan-lawannya sama sekali tidak dapat berbuat banyak ketika orang itu telah mencabut goloknya. Seperti menebasi ilalang, diselesaikannya pertempuran itu. Aku kira Kebo Sindet sengaja tidak membunuh Jajar yang gemuk ini. Aku kira ia sengaja membuat Jajar ini mati ketakutan, kalaupun tidak ia akan menjadi abu.”

“Ya, Kebo Sindet membiarkan Jajar ini merasakan panasnya api yang menjilatnya sedikit demi sedikit. Tetapi ternyata Jajar ini tidak terlampau tabah, sehingga ia telah jatuh pingsan sebelum tubuhnya dijilat api.”

“Itu lebih baik baginya Tuanku.”

“Ya. itu lebih baik.” Akuwu Tunggul Ametung mengulangi. Kini sekali lagi ia meraba tubuh Jajar itu. Lalu katanya, “Berilah ia minum. Semula aku berhasrat untuk membinasakannya pula. Tetapi melihat keadaannya aku tidak sampai hati.”

Prajurit-prajurit itu sejenak saling berpandangan. Tetapi salah seorang dari mereka segera meneteskan beberapa titik air kemulut Jajar itu.

Akuwu Tunggul Ametung masih berdiri disampingnya dengan wajah yang tegang. Hatinya memang terlampau meledak-ledak. Tetapi hati yang meledak-ledak itu mudah juga menjadi cair. Ketika ia melihat wajah Jajar itu seputih mayat, tubuh yang dilukisi oleh jalur-jalur luka senjata tajam dan luka-luka bakar, maka ia menjadi iba.

Akuwu itu membungkuk sekali lagi ketika ia melihat bibir Jajar itu bergerak. Kemudian ia melihat gerak lehernya. Agaknya Jajar itu telah mampu menelan butiran-butira air yang membasahi kerongkongannya.

Sejenak mereka yang mengelilingi Jajar itu menjadi tegang. Mereka seolah-olah tidak lagi memperhatikan keadaan di sekeliling mereka. Mereka seolah-olah sudah tidak lagi mendengar derak rumah Jajar yang terbakar itu. Mereka tidak menghiraukan lagi panas api yang menyentuh tubuh mereka. Dan mereka sama sekali tidak memperdulikan tetangga-tetangga Jajar itu mengintip dari kejauhan dari sela-sela dinding rumah mereka.

Ketika dada Jajar itu mulai bergerak, terdengar Aku wu Tunggul Ametung berdesis, “Ia masih hidup, ia mulai bergerak.”

“Hamba Tuanku.” sahut salah seorang prajurit tanpa berpaling. Juru taman itu telah benar-benar merampas segenap perhatian Akuwu Tunggul Ametung dan para prajuritnya.

“Berilah ia air beberapa tetes lagi. Jangan terlampau banyak supaya apabila ia mendapat kesulitan untuk menelannya justru tidak menjumbat pernafasan.”

“Hamba Tuanku. Kemudian seorang prajurit telah meneteskan beberapa titik air kemulut Jajar yang gemuk itu. Dan mereka melihat bibir itu bergerak-gerak dan kerongkongannya telah mulai menelannya pula.”

“Ia akan segera sadar.” gumam Akuwu Tunggul Ametung.

Dan ternyata Jajar itu sejenak kemudian menggerakkan kepalanya. Kemudian nafasnya mulai terasa. semakin cepat mengalir. Ketika seorang prajurit sekali lagi meneteskan air dimulutnya, maka terdengar sebuah keluhan yang lambat sekali keluar dari mulut juru taman itu.

“Nah.” desis seorang prajurit yang berjongkok disamping Jajar itu, “ia telah sadar.”

“Ya.” sahut yang lain.

Perlahan-lahan Jajar itu membuka matanya. Perlahan-lahan pula dicobanya menggerakkan anggauta tubuhnya. Tetapi sejenak kemudian ia menyeringai menahan sakit yang seolah-olah mencengkam segenap bagian tubuhnya.

“Jangan bergerak.” berkata salah seorang prajurit.

Jajar itu tiba-tiba membelalakkan matanya. Dengan nanar dipandanginya orang-orang yang berada disekitarnya. Lalu, tiba-tiba Jajar itu mencoba untuk bangkit. Tetapi tubuhnya masih terlampau lemah sehingga iapun terjatuh lagi, terbaring diatas tanah.

“Jangan bergerak.” seorang prajurit mencoba memperingatkan yang sekali lagi. Tetapi mereka yang berada di seputar Jajar itu terkejut ketika tiba-tiba saja Jajar itu berteriak, “Apa katamu? Apakah kau mengancam?”

Para prajurit itu saling berpandangan. Tetapi mereka kemudian menangkap isyarat Akuwu Tunggul Ametung yang berdesis, “Ia sedang mengigau. Tubuhnya terlampau panas.”

Dengan demikian maka para prajurit itupun tidak berbuat apa-apa. Mereka juga tetap berdiam diri saja ketika mereka melihat Jajar itu menggeliat. “He.” Katanya, “apakah kalian telah berhasil?, He, apakah kalian telah berhasil?”

Tak ada seorangpun yang menjawab.

Jajar itu mengerutkan keningnya. Ketika sekali lagi ia membelalakkan matanya, maka para prajurit dan bahkan Akuwu Tunggul Ametung menjadi berdebar-debar. Mereka melihat sesuatu yang lain pada sorot mata Jajar yang gemuk itu.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa Jajar yang masih saja terbaring itu. Tetapi suara itu terputus oleh kata-katanya sendiri, “He, dimana Kebo Sindet? Apakah kau Kebo Sindet? Kau mengancamku?”

Tak seorangpun yang menjawab. Dan Jajar itu berkata pula, “Oh, ternyata kau bukan Kebo Sindet. Kau adalah anak-anak muda yang telah membantuku. Bagus. Kalian akan mendapat bagian kalian. Tetapi ingat, besok kalian harus membawa kawan-kawan lebih banyak lagi. Akulah yang akan membawa tebusan itu bersama dua orang prajurit. Kalian harus membinasakan kedua prajurit itu dan melemparkannya keparit.” Jajar itu berhenti sejenak, lalu meledaklah suara tertawanya, “Tiga pengadeg perhiasan itu akan jatuh ketanganku. Oh, alangkah bodohnya Kebo Sindet dan Permaisuri Ken Dedes itu. Alangkah bodohnya.” suara tertawanya kini meninggi. “Bukankah Ken Dedes bersedia memberikan tebusan tiga pengadeg? Tidak hanya satu pengadeg seperti permintaan Kebo Sindet.” suara tertawa Jajar yang gemuk itu semakin tajam membelah sepinya malam, disela-sela derak rumahnya yang sedang terbakar. Tetapi Jajar itu sudah kehilangan kesadarannya. Ia sudah tidak dapat menyadari lagi bahwa rumahnya sudah hampir habis dimakan api. Ia sudah tidak mempedulikan lagi ketika sisa-sisa bara rumah itu runtuh menimpa mayat-mayat yang sudah terbakar pula di dalam rumah itu. Jajar itu sama sekali sudah tidak dapat mencium bau wengur yang menusuk-nusuk hidung.

Akuwu Tunggul Ametung berdiri saja seperti patung. Dadanya terasa menghentak-hentak mendengar igauan Jajar yang gemuk itu. Perasaan iba dan kasiannya sedikit demi sedikit terhalau dari hatinya yang meledak-ledak, seperti rumah Jajar itu yang sedikit demi sedikit musna menjadi abu.

Apalagi ketika ia mendengar Jajar itu berkata terus didalam kegilaannya, “Ayo, siapkan kawan-kawanmu. Aku akan menjadi kaya raya. Aku akan menjadi seorang yang paling kaya di Kediri kecuali Tunggul Ametung dan Maha Raja Kediri. Aku akan memiliki tanah seluas tanah Perdikan yang besar. Kalian adalah pengawal-pengawalku yang setia dan baik. Kalian akan aku pelihara seperti seekor anjing penjaga. Aku akan selalu menyediakan tulang-tulang untuk kalian supaya kalian tidak menggigit aku sendiri.” Jajar itu tertawa terus. Suaranya meninggi membelah sepinya malam. Namun ternyata Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi muak. Tiba-tiba saja ia membentak keras? sehingga para prajuritpun menjadi terkejut pula karenanya, “Diam, diam juru taman yang gila. Ternyata kau adalah pengkhianat yang paling licik.”

Suara tertawa Jajar itu mereda. Ia mencoba memandangi orang yang berdiri disampingnya. Namun tiba-tiba ia mcncoba bangkit sambil berteriak, “He, kaukah Kebo Sindet itu?” Tetapi sekali lagi Jajar itu jatuh terbaring ditanah.

Akuwu berdiri membeku ditempatnya, sedang para prajuritpun menjadi terpukau oleh sikap Jajar yang gemuk itu. Mereka melihat Jajar itu membelalakkan matanya. Menggeretakkan giginya sambil menggeram. Tetapi sejenak kemudian ia tertawa, “Oh, aku kira kau adalah Kebo Sindet atau hantunya yang keluar lagi dari api neraka. Bukankah Kebo Sindet sudah dimusnakan?” Jajar itu berhenti sejenak. Suara tertawanya berderai menyusup diantara suara api yang hampir menelan seluruh rumah Jajar itu. Ledakan-dakan bambu berletupan susul menyusul. Satu demi satu kayu-kayu atap rumah itu runtuh menjadi abu, seperti Jajar itu yang runtuh terbanting dalam kekecewaan dan penjesalan yang sangat. Kejutan dan ketakutan, ancaman-ancaman dan kengerian yang sangat ternyata telah merampas segenap kesadarannya.

Dalam kegilaannya Jajar itu kemudian berteriak, “Siapa kalian he, siapa kalian?”

Tak seorangpun yang menjawab.

Mata Jajar itu terbelalak. Tiba-tiba tubuhnya yang lemah itu tersentak. Tanpa disangka-sangka oleh para prajurit, Jajar yang gemuk itu tertatih-tatih berdiri. Dengan wajah yang tegang dan kemerah-merahan bernoda hitam oleh luka-luka bakarnya, Jajar itu memandangi Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian terdengar suaranya parau, “Siapa kau he, siapa?”

Akuwu tidak menjawab.

“Apakah kau prajurit Tumapel?” lalu Jajar itu tertawa, “Ha, ternyata kau prajurit Tumapel. Kau pasti sudah membawa tebusan itu. Mana, mana, berikan kepadaku. Syaratnya, akulah yang harus menyerahKan tebusan itu kepada Kebo Sindet. Tetapi Kebo Sindet sudah mati. Kaupun sebentar lagi akan mati.” suara tertawa Jajar itu mengguruh bercampur baur dengan suara api, “kaupun akan mati.”

Jajar itu maju setapak, mendekati Akuwu Tunggul Ametung.

Akuwu Tunggul Ametung bukanlah seorang penakut. Seandainya yang berdiri dihadapannya itu Kebo Sindet, maka pasti akan segera timbul perkelahian yang dahsyat. Tetapi yang berdiri tersuruk-suruk itu adalah seorang juru taman yang telah menjadi gila. Karena itu, maka justru Akuwu Tunggul Ametung melangkah surut.

Para prajurit yang melihatnya seakan-akan menjadi beku. Mereka tidak ubahnya patung-patug batu mati. Berbagai perasaan bercampur aduk di dalam kepala mereka.

“Ha, apakah kau akan lari? Kau tidak akan dapat terlepas dari tanganku.” kemudian Jajar yang gemuk itu berpaling kepada para prajurit yang tegak seperti tonggak.

“Ayo, cepatlah berbuat. Bunuh saja prajurit Tumapel. Ambillah perhiasan yang tiga pengadeg itu.”

Tetapi tidak seorangpun yang bergerak.

“Cepat. Cepat.” teriak Jajar yang gemuk itu, “cepat sebelum orang ini lari.”

Jajar itu maju selangkah lagi, dan Akuwu Tunggui Ametungpun mundur lagi selangkah. Akuwu itu menjadi bingung dan jantungnya berdebaran. Belum pernah ia menghadapi orang gila seperti itu. Kalau ia berbuat sesuatu, maka ia telah melakukan kesalahan. Terhadap orang gila, maka tidak sewajarnya dilakukan kekerasan yang dapat mengancam keselamatan orang itu. Apalagi Jajar itu berada dalam keadaan yang sangat payah. Sebuah sentuhan yang perlahan-lahan akan dapat membuatnya roboh dan membahayakan jiwanya. Tetapi untuk terus menerus mundur menghindar adalah menjemukan sekali.

Namun ketika orang itu maju selangkah sambil terhujung-hujung, maka Akuwu terpaksa mundur lagi setapak.

“Berhenti disitu.” geram Akuwu Tunggul Ametung.

Tetapi dalam kegilaannya Jajar itu tertawa. “Kau mengancam aku, he? Lihat, kau sudah terkepung. Jangan mencoba lari. Kalau kau dengan suka rela menyerahkan tebusan yang tiga pengadeg itu, maka semuanya akan segera selesai.”

Akuwu Tunggul Ametung menggeretakkan giginya.

“Ha, akan lari kemana kau, he?” lalu kepada para prajurit Tumapel Jajar itu berteriak mengulangi, “Ayo cepat, kenapa kalian masih diam saja, he? Apakah kalian telah mati.”

“Kau telah menjadi gila.” berkata salah seorang prajurit itu, “duduklah. Beristirahatlah.”

“Apa, kau bilang aku telah menjadi gila? Oh, aku dengar suaramu. Aku tidak gila. Perhitunganku pasti terjadi tepat seperti keinginanku. Lihat prajurit ini datang dengan tebusannya. Ha, kau lihat? Ayo, bunuh saja seperti kalian membunuh Kebo Sindet.”

Jajar itu masih saja berteriak-teriak sehingga suaranya menjadi serak. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir lewat lubang hidung dan mulutnya. Sambil terbungkuk-bungkuk ia menekan lambuhgnya. Namun ia masih berteriak-teriak, “Ayo, cepat. Cepat. Bunuh orang itu.”

Akuwu masih berdiri kebingungan. Namun semakin lama perasaan ibanya telah merayapi jantungnya kembali disamping perasaan muak dan jemu. Melihat Jajar yang gemuk itu, terbayang di dalam angan-angan Akuwu Tunggul Ametung, betapa ia dilanda oleh kekecewaan dan ketakutan pada saat kawan-kawannya satu demi satu terbunuh oleh Kebo Sindet. Betapa ia dicekik oleh kengerian melihat api membakar rumahnya sedang ia terikat didalamnya. Hentakan-hentakan perasaan itu telah membuatnya gila. Tetapi itu adalah buah dari tanamannya sendiri.

“Juru taman.” berkata salah seorang prajurit yang agaknya menjadi kasian pula melihat Jajar itu, “coba kau perhatikan baik-baik siapakah yang berdiri dihadapanmu. Cobalah kau melihat baik-baik apa yang ada disekitarmu. Cobalah kau menguasai kesadaranmu dan mengingat-ingat apa yang telah terjadi atasmu.”

Jajar itu sekali lagi membelalakkan matanya. Dan ia mendengar prajurit itu berkata, “Kau lihat aku? Kau lihat pakaianku?”

Jajar itu masih membelalakkan matanya.

“Pakaian ini pasti kau kenal. Kami adalah prajurit-prajurit Tumapel.” prajurit itu berhenti sejenak, lalu, “Dan lihatlah, Apakah kau melihat api itu. Api?”

Tidak ada jawaban. Jajar yang gemuk itu mengatubkan mulutnya rapat-rapat. Tetapi pandangan matanya mengikuti telunjuk prajurit itu mengarah kepada api yang berkobar menggapai langit.

Nafas Jajar yang gemuk itu menjadi semakin terengah-engah. Dengan wajah yang tegang ia memandang reruntuhan rumahnya yang menyala.

“Api.” perlahan-lahan ia bergumam.

“Cobalah mengingat-ingat. Dari manakah api itu datang?” berkata prajurit yang lain.

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Kemudian ditebarkannya pandangan matanya kesekelilingnya. Namun masih belum terdapat kesan di wajah yang merah kehitam-hitaman itu. Kini tampak semakin jelas, kulit wajah itu telah menjadi sangat parah. Dibeberapa bagian kulit itu telah terkelupas, dan dibagian lain menjadi hangus.

Setapak Jajar itu maju mendekati para prajurit. Seperti seorang yang kehilangan ia mencari-cari pada wajah-wajah prajurit itu. Tetapi ia tidak menemukan sesuatu. Karena itu maka iapun maju lagi mendekati api yang telah menelan rumahnya.

“Api.” sekali lagi ia berdesis.

“Ya api.” sahut seorang prajurit, “kau masih dapat mengenal bahwa yang menyala itu api.”

Jajar itu tiba-tiba saja mengangguk-anggukkan kepalanya, “a, api. Api.”

“Nah, kau sudah hampir menemukan kesadaranmu kembali.”

Jajar itu kemudian berdiri mematung. Dipandanginya api itu. Lama sekali ia berdiri tegak sambil memandangi api yang sedang menari-nari. Lama sekali.

Akuwu Tunggul Ametung dan para prajurit Tumapel, membiarkannya berbuat sekehendak hatinya. Mereka tidak sampai hati berbuat sesuatu atasnya. Justru setelah ia menjadi gila. Nafsu Akuwu untuk membinasakan telah menjadi pudar, seperti api yang membakar rumah Jajar itu. Semakin lama menjadi semakin surut. Semakin surut.

Jajar yang gemuk itu masih memandangi api rumahnya. Api yang telah menyentuh tubuhnya pula.

Perlahan-lahan Jajar itu memalingkan wajahnya. Dipandanginya semua yang ada di halaman. Pepohonan, rumpun-rumpun bambu, pagar batu yang telah rusak, regol yang hampir roboh dan beberapa macam benda yang lain. Perlahan-lahan sekali ia mulai dapat mengenali benda-benda yang setiap hari dilihatnya itu. Karena itu maka tiba-tiba ia berdesis, “Dimana kah aku sekarang?”

“Dihalaman rumahmu sendiri.” jawab seorang prajurit.

“Dihalaman rumahku?” Jajar itu mengulangi, ketika sekali lagi ia memandangi regol dan pagar batu yang telah bengkah-bengkah, maka iapun berdesis lagi, “Ya, aku berada di halaman rumahku. Tetapi api itu?”

“Ingat-ingatlah apa yang telah terjadi atasmu.”

Jajar itu terdiam. Di pandanginya api itu dengan tajamnya.

Tampaklah mulutnya yang telah terluka itu bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun meloncat dari sela-sela bibirnya yang telah menjadi merah kehitam-hitaman itu.

“Apakah kau sudah dapat menyadari keadaanmu?” seseorang prajurit tiba-tiba.

Jajar yang gemuk itu terkejut, dan ternyata kejutan itu telah merangsang ingatannya. Kini ia melihat apa yang telah terjadi dihadapannya. Rumahnya telah menjadi abu.

“Oh.” terdengar sebuah keluhan, “rumahku. Jadi api itu telah membakar rumahku?”

Jajar yang gemuk itu menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya. Tetapi sentuhan itu telah mengejutkan pula. Ia terdorong semakin dalam kedalam kesadarannya. Kini ia merasa betapa wajahnya menjadi nyeri dan pedih. Tangannya, pundaknya, dadanya. Dan tiba-tiba terasa seluruh tubuhnya menjadi nyeri dan pedih.

Perlahan-lahan ingatannya menjalar kembali di dalam kepalanya Dicobanya untuk mengulangi semua peristiwa yang baru saja terjadi di dalam batinnya. Dan semuanya menjadi jelas baginya. Sejak ia menunggu Kebo Sindet dengan gelisahnya, kemudian kedatangan adiknya. Baru kemudian Kebo Sindet dan Kuda Sempana datang. Perkelahian yang memang sudah direncanakannya segera berkobar. Tetapi nasibnya tidak seperti yang dikehendakinya sendiri. Yang terakhir ia telah diseret oleh Kebo Sindet, dan diikat pada tiang rumahnya. Ia masih melihat sekejap api yang menyala disudut rumahnya itu. Ia masih sempat berteriak-teriak sekuat-kuat dapat dilakukannya. Tetapi tetangganya tidak seorangpun yang berani keluar rumah. Sedang api semakin lama menjadi semakin besar.

Kengerian yang sangat telah membuatnya pingsan.

Para prajurit Tumapel dan Akuwu Tunggul Ametung melihat bahwa Jajar itu berangsur-angsur mendapatkan kesadarannya kembali. Mereka membiarkan Jajar itu berdiri diam sambil menjelajahi peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi di dalam ingatannya.

Perlahan-lahan mereka melihat Jajar itu memalingkan wajahnya, memandangi para prajurit yang kini berdiri mematung. Jajar itu melihat berpasang-pasang mata memandangnya dengan tajam. Perlahan-lahan ia dapat mengenali pakaian-pakaian yang dikenakan oleh orang-orang itu. Ternyata mereka sama sekali bukan anak-anak muda yang telah diajaknya mendjebak Kebo Sindet.

Sebuah ingatan yang ngeri telah menyengat hati Jajar yang gemuk itu. Anak-anak muda kawan-kawan adiknya itu satu demi satu mati terbunuh. Mereka telah menjadi umpan senjata Kebo Sindet dalam keadaan yang mengerikan. Ternyata senjata Kebo Sindet sama sekali tidak memilih tempat untuk hinggap.

“Anak itu telah mati dan dilemparkan ke dalam rumah itu pula bersama adikku.” Jajar itu bergumam lambat sekali. “Kalau begitu …” mata Jajar itu sekali lagi terbelalak, “Mereka adalah prajurit-prajurit Tumapel.”

Jajar itu kini berdiri tegak seperti patung. Dipandanginya para prajurit Tumapel itu dengan wajah yang tegang. Semakin lama semakin jelas baginya, bahwa yang dihadapannya itu memang prajurit-prajurit. Tumapel.

Tubuh Jajar yang lemah itu menjadi semakin gemetar. Perasaannya yang terpecah-pecah semakin lama menjadi semakin mengendap, dan kesadarannyapun menjadi semakin wajar. Karena itulah maka hatinya menjadi semakin ngeri menghadapi prajurit-prajurit Tumapel dengan pedang di lambung.

Baru saja ia mengalami peristiwa yang membuatnya hampir gila sebenarnya gila. Dan sekarang ia sudah harus berhadapan dengan prajurit-prajurit Tumapel.

Tetapi tiba-tiba menjalarlah suatu pertanyaan dikepalanya. “Bukankah aku sudah hampir mati di dalam rumah yang terbakar itu. Bukankah Kebo Sindet telah mengikatkan dan mencoba membakar aku hidup-hidup. Tetapi kenapa aku sekarang berada disini diantara para prajurit Tumapel.”

Pertanyaan itu telah menghentak-hentak dada juru taman itu, sehingga akhirnya ia tidak dapat menahannya lagi, “Tetapi bukankah aku sudah hangus dimakan api?”

Salah seorang prajurit itu menjawab, “Lihat ketiga prajurit ini. Mereka ikut terluka bakar karena berusaha menolongmu.”

“Oh.” Jajar itu terhenyak kedalam suatu keadaan yang tidak dimengertinya. Prajurit-prajurit itu telah menolongnya.

“Apakah mereka tidak tahu apa yang akan aku lakukan atas mereka yang akan mendapat tugas mengantarkan tebusan itu?” Jajar itu bertanya di dalam hatinya, tetapi yang terucapkan adalah, “Terima kasih. Buat apa sebenarnya kalian melepaskan aku dari api itu?”

Para prajurit itu tidak menjawab. Tetapi hampir serentak mereka berpaling memandang Akuwu Tunggul Ametung yang berdiri disisi mereka.

Jajar yang gemuk itupun ikut pula memandang kearah orang yang berdiri di ujung itu. Bayang-bayang para prajurit yang berdiri berjajar, telah menghalangi pandangannya untuk mengenal orang itu dengan baik. Apalagi keadaan tubuhnya yang lemah, dan bahkan otaknya yang belum saras sama sekali, tidak segera mernperkenalkannya kepada orang itu.

Tetapi kini ia menjadi semakin jelas. Orang yang berdiri di ujung dari deretan para prajurit itu memakai pakaian yang agak berbeda, meskipun juga pakaian keprajuritan.

Tiba-tiba Jajar itu berdesis lambat, “Siapakah orang itu?”

Seorang prajurit yang berdiri paling dekat dengan Jajar itu bertanya lirih, “Apakah kau belum mengenalnya?”

Jajar itu mencoba menajamkan pandangannya. Lamat-lamat ia melihat wajah itu. Semakin lama semakin jelas. Dan tiba-tiba saja ia meloncat maju sambil menyebut nama itu, “Tuanku, Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.”

Tetapi tubuh Jajar itu sudah terlampau lemah. Ia sudah tidak cukup kuat untuk melangkah sampai kehadapan Akuwu Tunggul Ametung untuk kemudian berjongkok menyembah. Ia sudah tidak mampu lagi menahan keseimbangan tubuhnya, sehingga ketika kakinya terayun selangkah, maka Jajar yang gemuk itupun terbanting jatuh di tanah.

Beberapa orang prajurit serentak berusaha menahannya tetapi Jajar itu telah terjerembab jatuh.

Namun meskipun demikian masih terdengar ia berkata hampir merengek, “Ampun Tuanku. Ampunkan hamba.”

Tunggul Ametung memandanginya dengan dahi yang berkerut merut. Namun ia masih berdiri ditempatnya.

“Ampunkan hamba Tuanku.” terdengar lagi suara Jajar itu mohon belas kasian. “Hamba telah berkhianat, Tuanku. Tetapi ternyata hamba telah menerima hukuman atas pengehianatan itu.”

Akuwu Tunggul Ametung berdesis lambat. “Apakah yang sebenarnya akan kau lakukan?”

“Menipu Kebo Sindet dan menjebaknya. Kemudian menjebak para prajurit yang mengantar hamba besok menyerahkan tebusan. Sebab sebenarnya Kebo Sindet sama sekali tidak setuju dengan usul Tuanku Permaisuri untuk menerima tebusan dan membawa Mahisa Agni bersamanya. Namun ketidak sediaannya itu telah menumbuhkan niat jahat dikepala hamba.” kata Jajar itu terputus-putus dikerongkongan.

Akuwu Tunggul Ametung sama sekali tidak terkejut mendengar keterangan Jajar itu. Ia sudah menduga, dan ternyata dugaannya itu tepat.

“Kini.” Jajar itu masih berkata diantara nafasnya yang semakin memburu, “apakah Tuanku akan menjatuhkan hukuman atasku, atas pengkhianatanku terhadap Tuanku dan Tuanku Permaisuri?”

Akuwu Tunggul Ametung tidak segera menjawab. Ia melangkah maju mendekati Jajar yang masih terbaring di tanah. Dengan susah pajah Jajar itu mencoba bangkit.

Dengan ditolong oleh beberapa orang prajurit akhirnya ia berhasil duduk di tanah bersandar kedua belah tangannya.

“Aku ingin mendengar beberapa keterangan tentang Kebo Sindet.” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “apa kah benar ia tidak bersedia membawa Mahisa Agni.”

“Hamba Tuanku.”

Terdengar Akuwu Tunggul Ametung itu menggeram, “Kau memang bodoh. Bodoh sekali. Kau tidak dapat menilai siapakah yang sedang kau hadapi.”

Jajar itu tidak menjawab.

“Apakah kau tidak dapat mempergunakan otakmu, he Jajar yang bodoh. Bukankah dengan demikian Kebo Sindet akan menjadi semakin buas. Tetapi adalah lebih baik bahwa ia masih hidup. Sebab dengan demikian aku masih ada kesempatan berurusan dengan iblis itu. Mudah-mudahan ia tidak kehilangan keinginannya untuk mendapatkan tebusan.” Akuwu itu berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia berteriak, “Kau, kaulah yang gila. Kau telah merusak semua rencana untuk meyelamatkan Mahisa Agni, dan sekaligus membinasakan iblis yang biadab itu.”

Jajar itu tidak segera menjawab. Tetapi tubuhnya yang gemetar menjadi semakin gemetar. Nafasnya menjadi semakin deras bekerjaran didadanya.

Tetapi suara Akuwu kemudian menurun, “Memang sudah tidak ada gunanya aku membunuhmu. Ketika aku berangkat dari istana aku memang ingin membunuhmu dan membunuh Kebo Sindet sama sekali setelah aku mendapat keterangan Mahisa Agni. Tetapi ternyata soalnya tidak terlampau sederhana begitu. Dan kini aku sama sekali menjadi muak melihat tampangmu dan kegilaanmu. Biarlah para prajurit mengurusmu menurut ketentuan yang berlaku atas penghianatanmu.”

“Ampun Tuanku, ampun.” Jajar itu hampir menangis.

Akuwu Tunggul Ametung sudah tidak menjawabnya lagi. Ia kemudian berpaling dan melangkah meninggalkan Jajar yang duduk lemah. Api yang menelan rumah Jajar itu sudah kian mereda meskipun masih juga meronta-ronta ke udara.

Sejenak Akuwu Tunggul Ametung berdiri tegak memandang api yang kemerah-merahan. Ia tidak segera dapat memutuskan, apakah yang akan dilakukannya. Ia harus berpikir lagi dan menyusun rencana dari permulaan sekali.

Jajar yang gemuk yang terduduk lemah diatas tanah itu menjadi bingung dan cemas. Apakah yang akan dilakukan atasnya oleh para prajurit atas pengehianatannya. Ketika ia berpaling dilihatnya api yang sudah membuat rumahnya menjadi onggokan bara yang merah.

Sebuah desir yang tajam menyengat jantung Jajar itu. Sekali dipandanginya Akuwu yang berdiri tegak seperti patung. Kemudian dilihatnya bayangan-bayangan yang merah kehitam-hitaman dari para prajurit Tumapel yang berdiri disekitarnya, seperti bayangan hantu yang telah siap untuk mencekiknya. Pedang-pedang mereka yang tergantung di lambung serta sorot mata mereka yang tajam, membuat jantung Jajar itu seperti meledak karenanya.

Dalam ketakutan dan kecemasan itu, maka dibayangkannya apa yang sudah dan akan dapat terjadi atasnya. Meskipun para prajurit Tumapel tidak akan berbuat sekejam Kebo Sindet, tetapi pasti akan ada hukuman lain yang membuatnya menjadi terlampau kecut. Ia pasti akan dilihat oleh orang-orang lain yang mengetahui persoalan itu. Kalau ia dibawa oleh para prajurit itu disepanjang jalan kota, maka orang-orang Tumapel akan keluar dari rumah mereka dan melihatnya seperti melihat tontonan yang paling menarik. Mungkin mereka akan berteriak-teriak mengejek dan anak-anak akan melemparinya dengan batu. Apalagi kalau ia sempat bertemu dengan dua orang Jajar juru taman, kawannya sepekerjaan.

Terasa wajah Jajar yang luka-luka itu menjadi terlampau pedih oleh tetesan keringat dinginnya yang merentul dari pelipisnya. Dalam kecemasan itu ia merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Tulang-tulangnya seakan-akan terlepas dari kulit dagingnya. Tetapi yang paling sakit dari semuanya itu adalah perasaannya.

Penyesalan yang menghentak-hentak kepalanya, ketakutan dan kebingungan yang selalu menghantuinya.

Ketika angin bertiup dari Utara, maka lidah api yang menjulang tinggi itu bergetar. Bayang-bayang para prajurit itu pun tampak bergerak-gerak.

Jajar yang sedang dalam ketakutan yang sangat itu tiba-tiba terkejut. Ketika ia melihat bayang-bayang yang panjang dan bergerak-gerak itu, maka kembali kegilaannya menyerang otaknya. Terbayang didalam kegilaannya, hantu-hantu yang hitam tinggi dan besar bergerak-gerak untuk menerkamnya.

Karena itu maka tiba-tiba Jajar yang gemuk itu menjerit mengerikan. Tanpa disangka-sangka oleh para prajurit, maka Jajar itu meronta. Dengan sisa-sisa tenaganya yang ada, maka ia berusaha berdiri.

Sebelum para prajurit sempat berbuat sesuatu, maka Jajar itupun telah berlari tersuruk-suruk kearah api yang sedang berkobar menelan sisa-sisa rumahnya.

“He, kau akan lari kemana?” bertanya salah seorang prajurit.

“Hantu itu akan mencekik aku. Aku harus bersembunyi ke dalam rumahku.”

“Berhenti, berhenti.” teriak prajurit yang lain. Tetapi Jajar yang itu berlari semakin kencang. Seperti kerasukan, Jajar yang lemah itu tiba-tiba mendapatkan kekuatan tiada taranya. Ia mampu berlari kencang sekali.

Serentak para prajurit yang tercengang itu menyadari keadaan. Agaknya Jajar itu telah terserang oleh kegilaannya lagi. Serentak pula mereka berlari mengejar Jajar yang gemuk yang akan menjerumuskan dirinya masuk ke dalam api yang sedang menjilat-jilat ke udara.

“Berhenti, berhenti.” teriak prajurit yang lain.

“Rumah itu adalah rumahku.” jawab Jajar yang gemuk itu dalam kegilaannya.

Seorang prajurit yang berlari dipaling depan menjadi semakin cemas. “Kau akan menjadi abu.” teriaknya.

“Jangan kejar aku.” Jajar itupun berteriak.

Akuwu yang berdiri tegak seperti patung, menjadi semakin terpukau ditempatnya. Hal itu sama sekali tidak disangka-sangkanya. Jajar itu sebentar lagi akan menjerumuskan dirinya ke dalam jilatan api yang merah.

Tetapi jarak antara Akuwu Tunggul Ametung dan arah lari Jajar yang gemuk itupun agak jauh. Kalau Akuwu Tunggul Ametung meloncat berlari mengejar Jajar itu, agaknya iapun akan terlambat.

Sejenak Akuwu itu terpaku diam. Namun ia mencari jalan yang paling cepat untuk menghentikan Jajar yang gila itu, supaya ia tidak membakar dirinya sendiri hidup-hidup. Sedang waktu untuk itu tinggal beberapa kejap saja.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]
Source : www.agusharis.net

~ Article view : [216]