Pelangi di Langit Singasari [ 40 ]

403

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 40 ]

 

SEKALl lagi Empu Gandring menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi sekarang aku sudah tua, meskipun belum terlalu tua.” Empu Gandring terdiam sejenak. Lalu, “tetapi baiklah kita tidak berbicara tentang segala macam kemungkinan yang tidak kita ketahui dengan pasti. Sekarang kau telah berada di sini. Kau akan bermalam bukan? Aku akan mempergunakan waktu yang singkat ini. Meskipun aku tidak dapat memberikan ilmu kanuragan kepadamu, karena kini sudah memiliki kemampuan melampui aku, tetapi aku mempunyai pengetahuan yang belum kau miliki, yang aku kira dapat kau pelajari dalam waktu yang singkat. Aku adalah seorang pembuat keris, nah, kau akan dapat mempelajari, bagaimana aku membuat ramuan-ramuan bisa untuk warangan dan untuk menolaknya. Kau akan dapat mempelajari kemungkinan pengobatan dan kau dapat memperkembangkannya sendiri. Apakah kau bersedia?”

“Tentu, tentu paman. Aku sangat berterima kasih. Semua ilmu dan pengetahuan akan sangat berarti bagiku?”

“Baiklah. Tetapi kini kau perlu beristirahat. Nanti malam aku akan memberimu pengetahuan itu. Sekarang kau dapat menemui orang-orang yang pernah kau kenal di sini di masa kecilmu. Tetapi aku kira mereka tidak akan dapat mengenal kau lagi setelah sekian tahun kau tidak menginjak halaman rumah ini.”

Demikianlah maka Mahisa Agni semalam berada di rumah pamannya. Dengan bersungguh-sungguh ia mempelajari dengan cepat, mengenai ramuan-ramuan obat-obatan, bisa dan penawarnya. Meskipun ilmu itu lama sekali belum cukup tetapi Mahisa Agni akan dapat memperkembangkan sendiri. Ia akan dapat menemukan banyak bahan-bahan di Padang Karautan. Ular, binatang-binatang berbisa lainnya, lebah, dan kadal hijau. Tetapi juga berjenis-jenis tumbuh-tumbuhan dan pepohonan, bunga-bungaan dan buah-buahan.

Ketika kemudian fajar pecah di ujung timur, maka barulah Empu Gandring selesai. Dengan wajah yang lelah, orang tua itu berkata, “Apakah kau benar-benar akan pergi pagi ini?”

“Ya paman.”

“Semalam suntuk kau tidak beristirahat.”

“Perjalananku tidak terlampau berat. Aku dapat tidur di atas punggung kuda.”

Empu Gandring tersenyum. Tetapi tiba-tiba ia berdesis, “Mudah-mudahan aku masih sempat melihat kau datang kemari Agni.”

” Tentu paman. Aku akan datang kemari secepatnya.”

” Aku percaya. Tetapi mudah-mudahan kau masih dapat melihat aku berada di dalam rumah ini.”

“Kenapa?”

Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu Agni. Tetapi aku merasa bahwa sebaiknya aku segera menurunkan ilmu yang ada padaku kepada orang lain sebelum terlambat. Aku percaya kepadamu lebih dari orang-orang lain, bahkan keluargaku sendiri.”

“Aku akan segera datang paman. Sebelum terjadi sesuatu atas paman. Apabila bendungan itu sudah selesai, aku akan tinggal di sini beberapa lama. Aku akan menerima segala petunjuk dan ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu yang lain. Olah kajiwan dan segala bentuk pengengahuan.”

Tetapi wajah pamannya itu masih saja suram. Perlahan-lahan ia berdesah. Katanya, “Aku tidak tahu, kenapa aku selalu diganggu oleh kegelisahan di saat-saat terakhir. Kedatanganmu memberikan kebahagiaan yang luar biasa kepadaku Agni. Sepeninggalmu aku akan menjadi gelisah lagi, meskipun sudah tidak seperti kemarin, sebelum kau datang.”

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Terasa sentuhan-sentuhan halus pada pusat jantungnya, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya dirasakan oleh pamannya. Tetapi ia melihat, betapa orang tua itu dibayangi oleh kegelisahan yang sangat.

“Agni.” terdengar suara orang tua itu dengan nada yang dalam, “kalau kelak kau tidak dapat melihatku lagi, maka usahakanlah untuk mengembangkan setitik ilmu yang aku berikan kepadamu, sekedar sebagai bekal untuk memulainya. Selama ini aku akan menyusun aksara-aksara di atas rontal, tentang ilmu pengobatan, bisa-bisa dan sedikit uraian tentang ilmu kanuragan. Pada suatu saat datanglah kau kepadaku Agni. Aku akan memberikannya kepadamu. Tetapi seandainya kau sudah tidak menemui aku lagi, dan aku tidak dapat menitipkan ilmu kanuragan itu langsung kepadamu, maka kau akan dapat menemukan rontal itu.”

“Paman.” potong Mahisa Agni, “apakah yang sebenarnya terjadi dengan paman? Apakah paman sedang menunggu lawan yang menurut perhitungan paman, melampaui kemampuan paman untuk melawannya? Apabila demikian paman, maka aku akan tinggal di sini. Aku akan tinggal di sini Aku akan mencoba membantu paman, meskipun aku harus minta diri kepada Ken Arok lebih dakulu.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Ah, aku memang sedang diburu-buru oleh mimpi yang menegangkan urat syarafku. Tidak Agni. Aku tidak apa-apa. Aku tidak sedang menunggu seorang musuh pun, sebab aku sampai saat ini tidak merasa punya persoalan apa pun, dengan siapa pun.”

” Tetapi kenapa paman merasa gelisah?”

” Itulah Agni.” jawab pamannya, “baru sesaat ini aku sadar. Inilah keringkikan jiwaku. Inilah kelemahanku. Seharusnya aku tidak menjadi gelisah.” Empu Gandring berhenti sesaat. Lalu, “Sudahlah, kita tidak usah berbicara tentang diriku, kegelisahanku dan kelemahan jiwaku. Aku akan mencoba untuk menyadari setiap keadaan dengan akal. Tidak sekedar dengan perasaan saja. Meskipun demikian aku akan tetap berpesan kepadamu Agni, seandainya kau belum datang, dan aku sudah selesai dengan rontalku, maka rontal itu akan berada di atap rumah ini, di bawah ijuk di sudut Barat bagian depan. Kau mengerti?”

Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar pula karenanya. Meskipun demikian ia tidak mendesak pamannya, kenapa ia menjadi gelisah sekali. Seolah-olah ia sedang berada di dalam bahaya yang dahsyat. Tetapi pamannya itu tidak mengatakan apapun juga.

Seandainya, Padang Karautan tidak mempunyai daya hisapan yang luar biasa atasnya, maka ia pasti akan mengurungkan niatnya. Ia ingin berada bersama pamannya, untuk mengurangi kegelisahan orang tua itu. Menurut pengertiaannya, Empu Gandring adalah seorang yang hampir mumpuni. Seorang yang memiliki ilmu yang cukup. Ia dapat berdiri berjajar dengan Kebo Sindet, Empu Purwa, Empu Sada, Panji Bojong Santi dan yang lain-lain. Tetapi kenapa orang tua itu tiba-tiba telah dibayangi oleh kegelisahan yang sedemikian tajamnya?

Sekali lagi Mahisa Agni dicengkam oleh kebimbangan. Tidak sekedar karena ia ingin menerima ilmu yang akan diberikan oleh pamannya untuk melengkapi ilmunya, tetapi ia melihat sesuatu yang tidak dimengertinya membayang di hati pamannya.

Namun Padang Karautan ternyata tidak dapat dikesampingkannya. Ia merasa, bahwa ia harus segera berada di antara orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan. Ia merasa wajib untuk berada di tengah-tengah kerja itu. Karena itu, alangkah berat hatinya, apabila ia harus menunda lagi keberangkatannya.

” Aku harus mengesampingban semua persoalan, untuk sementara.” desisnya di dalam hati, “aku harus di tengah-tengah kerja itu.”

Dengan demikian maka betapa berat hatinya, namun akhirnya Mahisa Agni pun harus minta diri kepada pamannya. Dengan berat hati pula pamannya melepaskannya.

“Ingat Agni. Kalau kau mendapat kesempatan, segeralah datang. Tetapi kalau tidak, maka ingat pulalah, bahwa aku akan menyimpannya di atas atap, di bawah susunan ijuk. Di sudut Barat bagian depan dari rumah ini.”

“Aku akan segera datang paman. Tentu.”

“Ya, ya. Mudah-mudahan kau segera datang. Meskipun demikian aku akan berpesan kepada setiap orang di padepokanku ini, bahwa kau akan mendapat keleluasaan untuk berbuat apa saja di rumah ini.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia merasa dihadapkan pada suatu teka-teki yang tidak dapat ditebakinya, sedang agaknya Empu Gandring sendiri masih belum dapat mengetahui tebakan dari teka-tekinya itu.

Ketika kemudian matahari naik di atas perbukitan, maka Mahisa Agni itu pun segera meninggalkan padepokan pamannya. Meskipun hatinya masih selalu dibayangi oleh beribu pertanyaan, namun ia tidak dapat berbuat lain dari pada pergi ke Padang Karautan.

Empu Gandring masih berdiri di regol halaman rumahnya ketika Mahisa Agni hilang di tikungan. Terasa dadanya dipenuhi oleh pergolakan perasaannya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia menjadi gelisah. la merasa bahwa ada kerjanya yang seolah-olah masih belum selesai. Kerja yang besar, yang justru tidak dimengertinya sendiri.

Tetapi ternyata kedatangan Mahisa Agni telah memberikan ketenteraman yang besar kepadanya. Ia merasakan seolah-olah ia telah mendapatkan saluran yang dipercaya.

“Aku harus segera mengerjakannya.” desis Empu Gandring itu, “mudah-mudahan aku akan mendapat ketentraman hati.”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Terasa perlahan-lahan hatinya yang bergolak itu dapat mengendap. Bahkan kemudian ia bertanya kepada diri sendiri, “Kenapa aku menjadi gelisah? Inilah kelemahanku. Seharusnya aku selalu berpaling kepada Yang Maha Agung. Dengan demikian aku akan mendapat kedamaian hati.”

Orang tua itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika sekali lagi ia memandangi tikungan dikejauhan, maka yang dilihatnya hanyalah dinding batu yang kehitam-hitaman.

Namun kehadiran Mahisa Agni ternyata meninggalkan pengaruh yang cukup besar pada diri orang tua itu. Ia merasa menemukan sebagian dari yang dicari-carinya di saat-saat terakhir, meskipun perasaan itu kurang dikenalnya sendiri, tetapi reacananya yang tiba-tiba saja tumbuh untuk menggoreskan aksara-aksara di atas rontal dan kemudian menyimpannya untuk Mahisa Agni, benar-benar telah membuatnya seolah-olah terlepas dari sebagian beban yang berat yang selama ini ditanggungkannya.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan ia melangkah melintasi halaman rumahnya.

” Aku harus mendapat penenangan.” desisnya, “aku harus mencoba untuk melepaskan diri dari perasan ini.” Terasa jantung Empu Gandring menjadi berdebar-debar. “Mudah-mudahan aku dapat mengenal getaran yang bergolak di dalam hati. Aku yakin, bahwa teka-teki ini pasti mengandung arti.”

Empu Gandring itu mengangguk-angguk kecil. Langkahnya yang perlahan-lahan itu langsung membawanya ke sanggar pribadinya. Ia ingin menyepi sejenak, mencoba melihat ke dalam diri.

“Kalau waktu itu akan segera datang, apa boleh buat.” gumamnya, “Manusia tidak akan mampu menghindar dari padanya apabila Yang Maha Agung memang menghendakinya.”

Tetapi yang sebenarnya menggelisahkan Empu Gandring bukanlah perasaan yang kadang-kadang tumbuh di dalam hatinya tentang dirinya, tentang hari akhirnya. Tetapi ia harus mendapat saluran yang dapat melanjutkan kerjanya selama ini. Bukan sekedar kerja tanpa arah. Kerja yang sudah dilakukannya adalah kerja yang akan dapat berkembang terus. Untuk itu diperlukan seseorang yang dipercaya. Yang tidak akan terjerumus ke dalam kesesatan justru setelah memiliki bekal ilmu yang sudah disusunnya.

“Aku percaya kepada Mahisa Agni.” katanya kepada diri sendiri, “seandainya perasaanku ini benar, bahwa saat itu hampir datang, maka aku harus segera menyusun ilmu itu dan menggoreskannya ke atas rontal. Mudah-mudahan pada saatnya Mahisa Agni akan datang dan menemukan rontal itu. Mudah-mudahan pula ia tertarik akan isinya dan dipelajarinya.”

Perlahan-lahan Empu Gandring itu menutup pintu sanggarnya. Kemudian duduk tepekur, memusatkan segala macam rasa dan nalarnya dalam usahanya mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Agung. Orang tua itu ingin mendapatkan kebeningan pikiran untuk memulai dengan kerjanya, menyusun aksara-aksara di atas rontal.

Sementara itu Mahisa Agni berpacu dengan lajunya, langsung menuju ke Padang Karautan. Perjalanan itu kini sama sekali tidak memberikan persoalan apapun kepadanya. Tidak ada apapun yang terjadi, yang dapat mengganggunya.

Di Padang Karautan, kerja yang dilakukan oleh orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel menjadi semakin tipis. Bendungan itu telah hampir sampai pada penyelesaian terakhir, sedang taman yang dipesan oleh Akuwu Tunggul Ametung pun kini telah berbentuk Pepohonan yang hijau tumbuh dengan suburnya. Sedang sendang buatan itu pun telah menampung air yang naik lewat susukan induk. Meskipun masih belum selesai seluruhnya, tetapi taman itu sudah dapat dilihat dan dinilai, bahwa kerja yang telah dilakukan adalah kerja yang berat dan besar.

Mahisa Agni yang telah berada di tengah-tengah kerja itu pun merasa menemukan dirinya kembali, setelah ia terpisah untuk beberapa lama dari bendungan yang direncanakannya. Bahwa ia harus mengalami masa yang pahit di dalam hidupnya, berada di dalam lingkungan iblis di Kemundungan. Namun ternyata ia dapat memetik manfaat dari keadaan itu. Justru di dalam maka yang paling pahit itu ia mendapatkan tingkat yang lebih tinggi lagi dari ilmunya. Meskipun pada saat itu ia terpaksa merendahkan diri, seolah-olah ia sudah kehilangan segala macam gairah buat masa depannya, tetapi pada saatnya ia bangkit dan menemukan kebebasannya.

Beberapa kali Mahisa Agni memang merasa tersinggung oleh sikap Kebo Ijo, yang kadang-kadang benar-benar tidak terkendali. Tetapi justru lambat laun ia menjadi kebal seperti juga Ken Arok. Kata-kata Kebo Ijo, dan bahkan sikapnya, sama sekali tidak dihiraukannya, meskipun kadang-kadang ia harus masih berdesis menahan perasaannya.

Sedang Kuda Sempana pun lambat laun dapat menemukan jalan untuk menempatkan dirinya kembali ke tengah-tengah pergaulan atas tuntunan Ken Arok dan Mahisa Agni. Meskipun kadang-kadang usaha itu terbentur pada sikap Kebo Ijo, tetapi dengan penuh minat, Ken Arok dan Mahisa Agni berusaha menghindarkan segala macam benturan-benturan yang dapat terjadi.

Demikianlah, maka pada saatnya, bendungan dan taman itu pun telah siap. Dengan penuh haru, orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel yang sedang bertugas di padang itu menyaksikan air yang naik kesusukan induk, menyusur di sepanjang saluran itu, bercabang-cabang menyobek Padang Karautan dan merambat sampai ke kotak-kotak sawah yang sudah mulai menghijau ditaburi bibit yang telah tumbuh subur. Agak jauh di ujung susukan induk itu terdapat sebuah taman yang indah. Pepohonan yang hijau subur, tumbuh-tumbuhan perdu dan bunga yang sudah mulai berkembang dengan warna yang beraneka. Sebuah sendang buatan dengan getek bambu yang terapung, bergerak-gerak di permukaan air. Ditengah-tengahnya sebuah puntuk kecil bertengger di atas tebing batu yang disusun dengan baiknya.

Kemudian sebuah parit yang melepaskan air yang berlebihan, mengalir keluar dari taman itu, sekali lagi membelah Padang Karautan mengaliri pategalan yang sudah menghijau pula. Disitulah nanti akan dibangun padesan yang baru, apabila pohon-pohonan sudah cukup besar. Pohon buah-buahan dan pohon-pohon pelindung yang diperlukan, telah tumbuh pula dengan suburnya. Dikelilingi oleh rumpun-rumpun bambu yang mulai berdaun.

Sebagian dari Padang Karautan itu kini telah benar-benar berubah bentuknya. Satu lingkungan kehidupan yang bakal hadir ditengah-tengah padang itu akan memberikan kemungkinan yang besar dihari mendatang tidak saja bagi Padang Karautan, tetapi bagi Tumapel dalam keseluruban.

Ternyata harapan yang tersimpan di dalam setiap orang Panawijen kini terpenuhi. Mereka akan dapat meninggalkan pedukuhan mereka yang telah menjadi semakin kering. Titik-titik air hujan hanya akan dapat menolong sementara, dimusim basah. Apabila kelak musim menjadi kering, Panawijen akan menjadi semakin kuning dan gersang. Orang-orang Panawijen itu tidak akan dapat mengharap bantuan terus-menerus dari orang lain. Sekalipun dari istana Turnapel. Mereka tidak dapat hidup dengan menunggu uluran tangan belas kasihan, atau bahkan lebih dari pada itu, uluran tangan dengan pamrih-pamrih tertentu yang akan dapat menjerat kehidupan mereka sendiri di hari yang akan datang. Karena itu, setiap kesempatan harus dipergunakan untuk menemukan kemungkinan hidup di atas kekuatan dan nafas sendiri.

Karena itulah maka kini lahir kehidupan yang hijau di tengah-tengah Padang Karautan. Orang-orang Panawijen tidak pernah melupakan uluran tangan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi uluran tangan itu telah dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang tepat. Tidak sekedar untuk makan mereka sehari-hari, sedang untuk hari esok menunggu lagi uluran tangan berikutnya. Tetapi selama itu, mereka telah memanfaatkannya untuk membangun bendungan di Padang Karautan bersama-sama dengan prajurit-prajurit Tumapel pula. Dan bendungan ini telah siap. Dengan demikian maka pada saatnya orang-orang Panawijen itu akan dapat menelan makan dan minum mereka dari hasil keringat sendiri. Apabila tanaman itu menghijau, berbunga, kemudian berbuah, maka akan segera datang musim menunai untuk yang pertama kalinya. Apabila demikian, maka orang-orang Panawijen itu akan berdiri dengan dada tengadah dan berkata, “Kami telah berhasil bernafas dengan dada kami sendiri.”

Ki Buyut Panawijen yang tua itu tidak dapat menahan keharuan yang melonjak di dalam dadanya. Setitik air mata membasahi pipinya yang telah berkeriput karena umurnya. Namun meskipun demikian ia masih sempat melihat, bendungan Karautan itu dapat mengaliri sawah yang telah mereka buat, masih sempat melihat tanaman yang mulai menghijau. Namun ia masih berdoa di dalam hatinya, mudah-mudahan ia masih sempat pula melihat, orang-orang Panawijen memindahkan dirinya dari daerah lama yang gersang itu ke daerah yang baru, yang hijau dan subur.

“Kita harus merayakan kemenangan ini.” desis Ki Buyut.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah Ki Buyut. Kita rayakan kemenangan ini. Kita sudah menaklukkan tanah yang liar dan kemudian menjinakkannya.”

“Bagus.” teriak Kebo Ijo, “kita potong lembu dan kerbau yang sudah tidak kita pergunakan lagi.”

“Ah.” terdengar Mahisa Agni berdesah. Ketika ditatapnya mata Ken Arok, maka dilihatnya mata itu menyipit. Perlahan-lahan Ken Arok berkata, “Jangan Kebo Ijo. Sejak semula kita bekerja bersama-sama dengan mereka, meskipun mereka hanya binatang. Tetapi apakah kita akan sampai hati berbuat demikian.”

“Itu adalah sifat kecengenganmu Ken Arok. Buat apa lagi binatang-binatang itu bagi kita kini? Mereka hanya akan menjadi beban peliharaan saja.”

Ken Arok menggelengkan kepalanya. Katanya, “Apa kau sangka bahwa sawah itu akan dapat tumbuh tanamannya tanpa digarap? Nah, tugas lembu dan kerbau-kerbau itu masih panjang. Setiap musim mereka akan membantu orang-orang Panawijen mengerjakan sawahnya.”

“Apakah lembu, kerbau, pedati-pedati dan semua peralatan ini akan kita serahkan kepada orang-orang Panawijen?”

” Apakah harus kita bawa kembali ke Tumapel?”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Yang menyahut kemudian adalah Mahisa Agni, “Kami akan berterima kasih atas bantuan yang sudah dan yang masih akan kami terima. Lebih-lebih lagi, apabila yang kami terima itu adalah keperluan bagi kerja kami. Alat-alat untuk menggarap sawah dan membangun pedukuhan kami. Kami akan jauh lebih berterima kasih dari pada bantuan yang kami terima itu berupa kebutuhan sehari-hari saja. Kebutuhan yang akan habis kami telan dan akan habis kami pakai betapa berlimpah-limpahnya. Tetapi peralatan itu akan memberi kami nafas untuk bekerja seterusnya. Kami akan terlepas dari ketergantungan yang akan mematikan nafsu kerja kami dan anak cucu kami.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itu adalah pikiran yang hidup dan wajar Agni. Karena itu, kita akan bergembira karena kita telah menyelesaikan pekerjaan dasar kita. Yang Maha Agung telah memperkenalkan kita melihat bendungan, susukan induk, parit-parit, sawah, taman dan sebagainya itu selesai. Tetapi ini bukan berarti bahwa kerja kita untuk selanjutnya selesai. Maka, marilah kita bersyukur, tanpa melepaskan ingatan kita kepada masa mendatang. Karena itu, biarlah binatang-binatang hidup untuk seterusnya. Kita dapat merayakan kemenangan ini tanpa apapun. Sebab kegembiraan itu ada di dalam dada kita. Kita nyatakan dengan bentuk-bentuk yang memungkinkan di Padang Karautan ini.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Katanya, “Ya, kita dapat merayakan dengan seribu macam bentuk untuk menyatakan bahwa kerja yang besar ini sudah selesai. Diantaranya, kita akan dapat tidur sepekan terus menerus. Bangun untuk makan, kemudian tidur lagi. Begitu?”

Ken Arok, Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen menarik nafas. Tetapi mereka tidak menanggapinya. Namun dengan tiba-tiba saja Ken Arok berkata, “Kita akan segera mendapat kesempatan itu. Bersukaria, untuk menyambut kemenangan ini. Setelah taman itu selesai, Akuwu akan hadir beserta permaisurinya. Taman itu akan merupakan hadiah yang menyenangkan bagi Tuan Puteri Ken Dedes yang berasal dari tengah-tengah padukuhan Panawijen. Itulah sebabnya maka taman itu harus dibangun di dekat padukuhan yang dibangun oleh orang-orang Panawijen. Kehadirannya pasti akan memberikan kegembiraan bagi kita. Kita tidak perlu menyelenggarakannya sendiri. Kita ikut saja di dalam kegembiraan itu.”

Kebo Ijo mendengar keterangan itu dengan dahi yang berkerut merut. Kemudian ia berdesis perlahan, “Kapan Akuwu akan datang ke Padang Karautan untuk menyerahkan tamannya kepada perempuan Panawijen itu?”

Yang mendengar kata-kata Kebo Ijo itu merasakan desir yang tajam di dalam dada mereka. Mahisa Angni, Ken Arok, Ki Buyut Panawijen dan satu dua orang lagi. Sejenak mereka terdiam sambil mengawasi anak muda itu dengan mata yang tidak berkedip.

Kebo Ijo merasa sorot beberapa pasang mata yang menyentuh wajahnya. Sejenak ia merasa canggung, Namun kemudian ia bertanya, “Kenapa kalian memandangi aku seperti baru pertama kali melihat? Apakah yang aneh padaku?”

Tiba-tiba terdengar jawab Ken Arok pendek, “Mulutmu.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. “Kenapa mulutku?” tanpa sesadarnya tangannya meraba mulutnya.

“Mulutmu terlampau sulit untuk dikendalikan.” sahut Ken Arok, “Kenapa kau tidak dapat memilih kata-kata yang lebih baik meskipun untuk menyatakan maksud yang sama?”

“O.” Kebo Ijo justru tersenyum, “kalimatkulah yang salah lagi. Baikiah, aku akan memperbaikinya. Maksudku, aku ingin tahu, kapankah Akuwu Tunggul Ametung akan menyerahkan hadiah buat Permaisurinya Ken Dedes.”

Ken Arok sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk menjawab. Meskipun demikian ia menggeram juga, “Pada saatnya kau akan melihat dan mengetahuinya. Apabila kelak Tuanku Akuwu datang bersama Tuan Puteri, bertanyalah hari dan pekan.”

Kebo Ijo mengerinyitkan alisnya, Namun ia pun kemudian tertawa. Sambil melangkah pergi ia bergumam, “Kau marah Ken Arok. Jangan lekas menjadi marah. Kau akan cepat menjadi tua. Lebih baik kau tertawa.”

Ken Arok tidak menghiraukan lagi, sedang orang-orang lainpun menjadi acuh tidak acuh pula kepada Kebo Ijo yang kemudian hilang di dalam gubugnya.

Sepeninggal Kebo Ijo, barulah Ken Arok berkata kepada Ki Buyut Panawijen, “Sebentar lagi Akuwu datang dengan kebesaran seorang Akuwu, Ki Buyut. Tidak seperti kedatangannya di saat lampau. Akuwu akan datang bersama Permasuri dan akan menghadiahkan taman itu. Pada saat itulah kita numpang bergembira. Supaya persiapan tidak mengecewakan, maka biarlah aku mengirimkan utusan menghadapi Akuwu untuk menyampaikan maksud itu. Apabila Akuwu tidak berkeberatan, nah, kita akan mendapatkan kesempatan tanpa bersusah payah membuat sendiri. Sebelum Akuwu sendiri datang, pasti akan dikirim beperapa orang petugas, Juru masak, juru taman dan orang-orang yang diperlukannya. Kita tinggal menyebut saja jumlah orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan ini.”

Ki Buyut mengangguk-anggukan kepalanya. Gumamnya, “Berapa orang juru masak yang diperlukan untuk kepentingan itu.”

“Di Tumapel ada ratusan juru masak yang dapat dikerahkan. Sedang di sinipun kita telah mempunyai juru masak yang cukup, meskipun bukan juru masak yang baik. Meskipun mereka hanya sekedar juru masak prajurit. Tetapi setidak-tidaknya mereka akan dapat membantu menjerang air.”

Ki Buyut Panawijen mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa mendapat kehormatan, bahwa perhatian Akuwu Tunggul Ametung terhadap Panawijen ternyata melampaui perhatiannya tcrhadap pedukuhan-pedukuhan yang lain. Dan Ki Buyut pun menyadari, bahwa hadirnya Ken Dedes di Istana Tumapel ternyata berpengaruh atas persoalan itu, meskipun Ki Buyut yang sudah cukup tua itu juga menyadari, bahwa keluarga Ken Dedes sendiri ternyata tidak sempat ikut merasa berbahagia. Bahkan hilangnya Ken Dedes telah membuat ayalnya seolah-olah menyisihkan diri dari pergaulan, dan hilang untuk selanjutnya tanpa menyatakan diri lagi di dalam lingkungan padukuhan Panawijen.

Ternyata Ken Arok kemudian benar-benar mengirimkan utusannya menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menyatakan maksudnya. Untuk ikut serta menikmati kegembiraan bersama-sama dengan kehadiran Akuwu Tunggul Ametung di Padang Karautan.

“Beri mereka apa yang dibutuhkan.” perintah Akuwu kepada scorang yang dipercaya untuk menyelenggarakan perjamuan yang cukup baik di Padang Karautan selama kunjungannya bersama Permaisurinya. Dan kepada utusan Ken Arok Akuwu berkata, “Aku akan datang kepadang Karautan bersama Permaisuri dan beberapa orang prajurit dan para pemimpin pemerintahan Tumapel sepekan sebelum purnama, dan akan tinggal di Padang Karautan sampai sepekan setelah purnama.”

Berita itu diterima dengan senang hati oleh seluruh penghuni Padang Karautan yang selama ini tidak pernah melepaskan diri dari kerja. Kerja dan selalu dihadapkan kepada kerja. Tetapi usaha mereka ternyata tidak sia-sia. Kini bendungan itu benar-benar telah terwujud, telah berhasil mengangkat air dan menyalurkannya sampai kekotak-kotak sawah jauh ketengah padang. Beberapa saluran di seberang memberi kemungkinan yang serupa meskipun agak lebih kecil. Bahkan saluran yang melepaskan air dari sendang buatan itupun dapat dimanfaatkan pula dengan baik.

Dengan demikian, maka setiap orang di Padang Karautan itu pun menunggu sampai saat purnama semakin mendekat. Hampir sedikit malam mereka memandangi bulan yang seolah-olah tumbuh sedikit demi sedikit. Terlampau lamban. Apabila mendung menyaput langit, dan mereka tidak dapat melihat bulan yang semakin berkembang disetiap malam, terasa hari menjadi semakin panjang, Sudah terlampau lama mereka menunggu, namun bulan masih belum separo bulatan.
Meskipun demikian, orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel itu kini mendapat kesibukan baru. Bukan sekedar tidur, bangun dan makan. Mereka harus membuat pesanggrahan-pesanggrahan yang walaupun sederhana, tetapi cukup memenuhi kebutuhan bagi seorang Akuwu dan Permaisurinya, dekat di sebelah taman yang sudah menjadi semakin semarak karena bunga-bunga telah mulai berkembang. Bunga-bunga dengan beraneka bentuk dan warnanya. Bunga-bunga yang membuat taman itu semakin segar, yang seolah-olah dengan sadar menunggu kehadiran Permaisurinya yang segera akan datang. Dan kedatangan itu telah menumbuhkan berbagai macam tanggapan. Namun betapapun juga, seluruh Padang Karautan telah menanti kehadirannya.

Maka pada saatnya, sampailah suatu ketika, Padang Karautan seolah-olah telah terbakar oleh kegembiraan yang tiada taranya. Mereka tidak saja menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung dengan penuh kemegahan bersama Permaisurinya, Ken Dedes, tetapi mereka juga merayakan hari kemenangan. Mereka telah berhasil menaklukkan Padang Karautan dengan segala macam keganasan dan keliarannya. Membendung sungai dan menaikkan airnya, sehingga di jantung padang yang luas itu, telah dibangunkan sebuah padukuhan baru yang segar. Pedukuhan yang mempunyai kemungkinan yang sangat baik dihari-hari mendatang, karena luas tanah disekitarnya yang masih memungkinkan padukuhan itu berkembang.

Beberapa orang telah pergi ke Panawijen untuk mencari janur yang cukup baik, yang masih belum terlampau tua. Dengan pedati-pedati mereka msngangkut beberapa batang bambu utuh dengan daun-daunnya untuk dipancangkan sebagai umbul-umbul di sekitar taman dan pasanggrahan Sebaik-baik mungkin yang dapat mereka kerjakan. Anyaman-anyaman janur dan bambu telah terpancang di dinding-dinding dan di pagar-pagar batu.

Maka pada hari yang ditentukan Akuwu Tunggul Ametung akan datang di Padang Karautan, setiap orang di perkemahan itu mengenakan pakaian yang sebaik-baiknya yang mereka miliki. Para prajurit mengenakan pakaian keprajuritan mereka. Siap untuk menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung.

Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni, Ken Arok dan para pemimpin yang lain. Dengan wajah berseri-seri mereka siap menunggu kehadiran Akuwu bersama rombongannya.

Namun di antara sekian banyaknya wajah yang cerah, maka Kuda Sempana duduk termenung di dalam gubugnya. Kehadiran Akuwu Tunggul Ametung bersama Ken Dedes di perkemahan itu, menjadi suatu persoalan baru di dalam dadanya. Selama ini ia telah berusaha untuk dapat hidup diantara orang-orang Panawijen, betapapun sulitnya untuk melakukannya. Apalagi pada permulaannya. Tetapi lambat laun ia berhasil menyesuaikan diri, ketika ia mendapat keyakinan bahwa orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel itu benar-benar tidak mendendamnya tanpa ampun. Orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel dapat menerima kehadirannya meskipun dengan syarat. Dan ia berusaha sekuat-kuat hatinya untuk menerima syarat itu.

Ia telah melakukan sebaik-baiknya semua nasehat Mahisa Agni dan nasehat Ken Arok. Setiap kali didengarnya pula petunjuk-petunjuk dari Ki Buyut yang tua tentang hidup dihari kemudian. Dan setiap kali dihindarinya Kebo Ijo yang terlampau ringan membuka mulutnya tanpa terkendali, supaya tidak tumbuh hal-hal yang tidak dikehendaki.

Namun kini tiba-tiba ia dihadapkan pada suatu keadaan baru. Kehadiran Akuwu Tunggul Ametung sama sekali bukan persoalan lagi baginya, karena ia pernah bertemu sebelum Akuwu kembali ke Tumapel dari Padang Karautan ini. Tetapi bagaimana dengan Ken Dedes? Ia pernah menerima penghinaan tiada taranya dari padanya. Meskipun nalar Kuda Sempana dapat mengerti, bahwa penghinaan itu diberikan karena sakit hati gadis itu yang tidak tertahankan lagi, tetapi bagaimanapun juga luka itu masih terasa pedih di hatinya.

Sekali-sekali terdengar Kuda Sempana berdesis. Di dalam dadanya terjadi pergolakan yang riuh. Apakah ia harus melupakan saja penghinaan itu, ataukah ia akan berbuat sesuatu atau menghindarkan diri saja dari setiap kemungkinan untuk bertemu dengan Ken Dedes.

“Aku harus menyingkir, meskipun hanya untuk sementara. Mereka berada di padang ini tidak terlampau lama. Hanya sepekan sebelum dan sesudah purnama. Dalam sepuluhhari itu aku akan tinggal saja di pedukuhan Panawijen lama. Aku dapat bersembunyi di sana sampai saatnya Akuwu Tunggul Ametung kembali ke Tumapel. Mudah-mudahan Ken Arok dan Mahisa Agni dapat mengerti dan aku diijinkannya pergi sebelum mereka datang.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Pada hematnya hal itu adalah yang sebaik-baiknya. Sebab ia sendiri masih belum dapat meyakini dirinya sendiri, apakah ia akan dapat bertahan apabila ia mengalami hal-hal yang pahit lagi.

Kuda Sempana itu berpaling ketika ia mendengar langkah mendekat kepintu gubugnya. Sejenak kemudian dilihatnya seseorang berdiri di depan pintu itu, Kebo Ijo.

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Selama ini ia selalu menghindarkan diri. Sepatah-sepatah kata saja apabila terpaksa ia harus berbicara, kemudian mencari alasan untuk pergi. Tetapi kini ia berada di gubugnya, dan Kebo Ijo itu berhenti di muka pintu.

“Aku harus segera bertemu dengan Ken Arok dan Mahisa Agni.” berkata Kuda Sempana di dalam hatinya, “supaya aku segera dapat pergi sebelum Akuwu datang.”

Tetapi yang lebih dahulu berkata adalah Kebo Ijo, “He, kau tidak tampak bergembira seperti orang-orang lain, kenapa?”

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Dilihatnya sebuah senyum yang lucu menghias bibir Kebo Ijo.

“Marilah, keluarlah dari liangmu. Orang-orang dungu itu sudah seluruhnya berada di ujung perkemahan ini. Mereka akan menyambut Akuwu, dan kemudian mengiringkannya ke taman buatan itu. Apakah kau tidak ikut serta?”

” Ya.” jawab Kuda Sempana perlahan, “nanti sebentar aku akan pergi kesana pula.”

“Kenapa tidak sekarang.”

“Aku belum selesai berkemas.”

Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Kau masih juga akan berhias, he, supaya Ken Dedes jatuh cinta kepadamu? Bukankah kau mencintainya setengah mati?”

Pertanyaan itu serasa ujung pedang yang mengorek luka yang lama yang meskipun tidak mungkin sembuh, tetapi sudah ditahankannya terpendam. Dan seolah-olah kini luka itu terungkit kembali. Meskipun demikian Kuda Sempana tidak segera menyahut. Dicobanya untuk menguasai perasaannya. Sudah biasa ia mendengar perkataan-perkataan yang menyakitkan hati, yang diucapkan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi tidak tentang persoalan ini. Namun demikian ia masih dapat menahan dirinya.

Kuda Sempana masih duduk di tempatnya. Sekali-sekali ia melihat Kebo Ijo yang berdiri di depan gubugnya dengan sudut matanya. Tetapi sesaat kemudian kepalanya ditundukkannya lagi. Ia mengharap agar Kebo Ijo itu segera pergi, supaya ia dapat segera pula menemui Mahisa Agni dan Ken Arok untuk menyatakan maksudnya.

Tetapi Kebo Ijo itu masih berdiri saja disitu. Dan sejenak kemudian ia berkata, “Marilah Kuda Sempana, kita pergi ke ujung perkemahan ini. Kita ikut menyambut kedatangan Akuwu Tumapel, kemudian menjilat kakinya dan kaki Permaisurinya, supaya kita segera mendapat kenaikan pangkat.”

Kuda Sempana berdesis. Tetapi ia belum menjawab.

” Apa lagi yang kau tunggu? Kau sudah menjadi cukup tampan. Aku akan ikut berdoa supaya Ken Dedes jatuh cinta kepadamu.”

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menahan gemeretak jantungnya yang serasa akan retak dengan napas yang terengah-engah karena menahan diri ia berkata, “Kebo Ijo, marilah kita bergurau. Tetapi jangan kau sebutkan persoalan itu. Satu soal saja. Katakanlah apa saja yang ingin kau katakan. Aku sudah mencoba untuk menempatkan diri di antara kalian, di antara orang-orang yang seolah-olah tidak mau menerima aku lagi. Betapa sakit dan pahitnya, aku telah mencoba untuk menahankannya. Tetapi aku minta janganlah persoalan itu kau sebut, meskipun kau tidak bersungguh-sungguh.”

Kebo Ijo mengerinyitkan alisnya. Sejenak ia berdiri diam sambil memandang Kuda Sempana dengan tajamya. Namun sejenak kemudian terdengar suara tertawanya, “Oh, kau sakit hati Kuda Sempana? Kau mencoba untuk menutup mulutku dengan sepenuh belas kasihan kepadamu? Dengar, aku justru ingin menasehatimu. Kalau nanti Akuwu berada di padang ini bersama Permaisurinya, kau harus berbuat sesuatu. Berbuat jantan seperti laki-laki yang sebenarnya.”

Kuda Sempana masih tetap berdiam diri meskipun dadanya semakin bergelora.

“Kuda Sempana.” berkata Kebo Ijo, “kalau aku menjadi kau, maka apabila Akuwu dan Ken Dedes berada di padang ini, aku tantang ia melakukan perang tanding. Tidak sebagai seorang Akuwu dengan seorang Pelayan Dalam, sebab dengan demikian kau pasti akan dianggap memberontak dan akan ditangkap oleh pengawal-pengawalnya, tetapi sebagai laki-laki dengan laki-laki. Kau tantang ia melakukan perang tanding untuk memperebutkan Ken Dedes. Nah, kalau kau berhasil membunuhnya dan mengambil Ken Dedes sebagai isterimu, kau tidak saja akan memiliki seorang isteri yang cantik, tetapi kau akan memiliki seluruh Tumapel, sebab Tumapel dengan segala isinya, termasuk aku dan kau, sudah diserahkan kepada Ken Dedes.”

Gelora di dada Kuda Sempana menjadi semakin dahsyat memukul jantungnya. Darahnya serasa mengalir semekin cepat dan ubun-ubunnya terasa menjadi panas. Sedang Kebo Ijo itu masih berbicara terus, “Aku kira kau akan mendapat kesempatan itu, bertarung dengan jantan. Taruhannya pun cukup bernilai untuk beradu maut. Seorang permpuan cantik. Bukan hanya sekedar perempuan cantik, tetapi seorang perempuan cantik yang memiliki kekuasaan atas tanah tumapel. Nah, apakah kau tidak tertarik?”

Betapa darah Kuda Sempana terasa mendidih, ia masih tetap sadar akan dirinya, sadar akan keadaan dan kedudukannya. Karena itu, betapa dahsyat dadanya bergolak, ia masih tetap duduk ditempatnya. Bahkan ia masih dapat menahan dirinya meskipun dadanya akan meledak, dan menggeleng perlahan-lahan, “Tidak Kebo Ijo. Aku tidak dapat melakukannya.”

Kebo Ijo mengerutkan dahinya. Lalu desisnya, “Kau sudah berubah Kuda Sempana. Berubah sama sekali. Kau pernah bersikap sebagai seorang jantan pada saat kau melarikan Ken Dedes. Kemudian perang tanding yang tidak jujur. Akuwu mempergunakan kakang Witantra untuk merebut Ken Dedes dari tanganmu. Memang kakang Witantra terlampau tunduk di bawah kaki Akuwu Tunggul Ametung. Seperti seekor kerbau yang telah dicocok hidung. Kemana kendali ditarik, kesana ia melangkah.” Kebo Ijo berhenti sejenak. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang masih tunduk.

Namun dengan demikian, terasa sesuatu di dada Kuda Sempana yang seolah-olah mendinginkan darahnya, Didalam hatinya ia berkata, “Kebo Ijo benar-benar tidak dapat menjaga mulutnya. Jangankan aku yang mempunyai kedudukan yang sangat sulit di sini, sedang ia merasa dirinya orang kedua dalam lingkungannya, selagi terhadap kakak seperguruannya saja, ia bersikap dan berkata demikian.” Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengendapkan panas di dadanya. Sekali lagi diperbandingkannya dirinya dengan Witantra dalam penilaian Kebo Ijo yang gila itu.

“Bagaimana?” desis Kebo Ijo, “apakah kau berani melakukannya.”

Tiba-tiba Kuda Sempana itu menggeleng, “Tidak. Aku tidak berani melakukannya.”

“He?” mata Kebo Ijo menjadi terbelalak, “apakah kau sudah menjadi banci, he? Kenapa kau tidak berani menantang laki-laki justru kau juga seorang laki-laki jantan? Adalah kewajibanmu untuk mencoba merebutnya. Kau lebih dahulu menyentuh gadis itu daripada Akuwu Tunggul Ametung. Dan Akuwu tidak melakukan sendiri perang tanding melawanmu. Nah, menurut penilaianku gadis itu masih hakmu.”

Sekali lagi Kebo Ijo terkejut ketika ia melihat Kuda Sempana menggeleng dan berkata, “Tidak Kebo Ijo. Aku kini sudah melupakan persoalan itu. Aku harap kau jangan mempersoalkannya lagi supaya dadaku tidak menjadi bengkah karenanya.”

Yang terdengar adalah suara tertawa Kebo Ijo sangat menyakitkan hati. Katanya, “Aku tahu Kuda Sempana. Kau sudah diampuni oleh Akuwu. Kalau Kakang Witantra di hadapan Akuwu seperti seekor kerbau yang bodoh, maka kau tidak akan lebih dari seekor kuda tunggangan yang terlebih bodoh lagi. Tetapi mungkin juga karena kau sudah menjadi seorang pengecut.”

Darah yang sudah mendingin itu tiba-tiba mendidih kembali. Dengan tajamnya kini ditatapnya mata Kebo Ijo yang masih saja berdiri di gubugnya.

Tetapi, Kebo Ijo seolah-olah tidak melihat kemarahannya yang memancar pada sorot mata Kuda Sempana. Ia masih saja tertawa sambil memandangi Kuda Sempana yang sedang berjuang untuk menahan diri. Namun terasa betapa sakit di dadanya hampir tidak tertahankan lagi.

Dan ternyata bahwa Kebo Ijo masih juga membakar hati yang membara itu, katanya, “Apakah kau marah? Kau sama sekali tidak akan dapat marah lagi. Kau benar-benar telah dijinakkan. Mula-mula oleh Kebo Sindet, kemudian oleh Mahisa Agni dan Ken Arok.”

“Cukup.” tiba-tiba suaru Kuda Sempana menggelegar. Dadanya sudah terlampau penuh sehingga tidak dapat lagi memuat hinaan itu.

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiri mematung. Namun sejenak kemudian ia tersenyum, “Kau masih cukup garang Kuda Sempana. Tetapi apakah yang dapat kau lakukan.”

“Aku minta kau diam Kebo Ijo. Kau pergi dari tempat ini atau aku yang pergi. Kalau kita masih berbicara lagi, mungkin kita akan kehilangan kesempatan untuk menahan diri masing-masing.”

“Uh, kesadaranmu tentang dirimu begitu tinggi.” jawab Kebo Ijo, “Tetapi kau pun harus sadar, bahwa kau tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi di sini. Kau adalah seorang tawanan. Karena itu jangan mencoba menyombongkan dirimu lagi. Semua perintah harus kau jalankan. Perintah siapa saja. Apalagi perintahku, orang kedua yang mendapat kepercayaan Akuwu Tunggul Ametung di sini.”

“Tidak.” Kuda Sempana hampir berteriak, “aku sama sekali bukan seorang tawanan.”

“Lalu apa sangkamu?” bertanya Kebo Ijo, “apa kau sangka kau masih seorang perwira di sini, atau seorang tamu atau apa? Tidak. Kau adalah seorang tawanan. Resmi atau tidak resmi. Kau tidak dapat berbuat sekehendakmu. Seorang tawanan yang memberontak, hukumannya kau pasti sudah tahu, karena kau pernah menjadi seorang Pelayan Dalam, yang justru mendapat kepercayan dari Akuwu. Hukuman itu adalah hukuman mati.”

Darah didada Kuda Sempana sudah mendidih. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Aku bukan seorang tawanan. Aku dapat membuktikannya tentang hal itu.”

” Buktikanlah hahwa kau bukan seorang tawanan.”

Tiba-tiba Kuda Sempana yang sudah dibakar oleh kemarahan itu meloacat meraih pedangnya yang tergantung di dinding gubugnya. Sambil mengangkat pedangnya yang masih berada di sarungnya itu ia berkata lantang, “Inilah buktinya bahwa aku bukan seorang tawanan. Seorang tawanan tidak akan dibiarkan bersenjata. Tetapi aku masih menggengam pedang. Pedangku sendiri.”

Dahi Kebo Ijo menjadi berkerut merut. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang kian menegang. Sedang wajah Kebo Ijo pun menjadi tegang pula. Ternyata Kuda Sempana itu tidak seperti yang diduganya. Disangkanya anak muda itu telah menjadi terlampau jinak dan tidak berani berbuat apapun. Namun, ternyata kini Kuda Sempana telah memegang pedangnya. Karena itu maka sejenak Kebo Ijo menjadi berdebar-debar. Namun sejenak kemudian ia tersenyum. Ia merasa mendapat kawan untuk bermain-main setelah sekian lama ia harus bekerja menyelesaikan bendungan itu. Sehingga sejenak kemudian ia berkata, “Kuda Sempana. Jangan berbuat bodoh. Kalau kau mempunyai sedikit pengertian tentang susunan pimpinan prajurit Tumapel di Padang Karautan ini, kau pasti akan minta maaf kepadaku. Karena aku berhak menentukan hukuman apa saja selain Ken Arok kepada orang-orang yang bersalah. Termasuk kau. Bahkan terhadap Mahisa Agni pun aku wenang untuk bertindak apabila ia membuat kesalahan. Jangan kau sangka bahwa orang yang melindungimu itu mempunyai kekuasaan tak terbatas di sini.”

“Tidak.” jawab Kuda Sempana, “aku tidak menggantungkan perlindungan kepada orang lain selain kepada diriku sendiri. Selama aku masih memegang pedang, tidak ada hukuman yang dapat diberikan kepadaku.” Namun tiba-tiba terbayang di wajah Kuda Sempana itu berbagai macam hukuman yang dapat diterimanya. Ia adalah orang yang sedang berusaha mendapat tempat di antara orang-orang sekelahiran dan di antara para prajurit Tumapel. Lalu apakah kesan mereka apabila ia berkelahi melawan Kebo Ijo, yang justru merupakan salah seorang pimpinan di padang ini.

“Tetapi ia terlampau menghina.” desisnya di dalam hati. Namun sejenak kemudian terbayang segala macam kesalahan yang pernah dilakukannya. Karena itu, maka sesaat kemudian tumbuhlah benturan yang dahsyat di dalam dadanya.

“Kuda Sempana.” terdengar suara Kebo Ijo perlahan-lahan, “aku masih memberi kau kesempatan. Berlutut dan minta maaf, atau aku akan menentukan jenis hukuman bagimu? Tetapi jangan takut aku akan memanggil prajurit-prajurit untuk menangkapmu. Sebelum kau mendapat hukumanmu, kau mendapat dua macam kesempatan. Minta maaf atau bertempur. Aku juga membawa pedang seperti kau sedang menggengam pedang. Tetapi kalau kau kalah, jangan mengharap belas kasian lagi.”

Dada Kuda Sempana berdebaran. Tetapi ia tidak segera menyambut. Di dalam hatinya, perlahan-lahan terungkat kembali sikap putus asanya dapat menyesuaikan dirinya dengan menekan perasaannya kuat-kuat. Tetapi kini ia dihadapkan pada suatu keharusan untuk berbuat sesuatu meskipun bertentangan dengan usahanya selama ini.

“Cepat.” bentak Kebo Ijo, “pilihlah, minta ampun atau cabut pedangmu, dengan akibat kau dapat dihukum picis.”

Dada anak muda itu berdesir. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “Aku sudah seharusnya mati. Tetapi aku tidak akan menyerahkan diriku untuk mendapat hukuman apapun. Aku memilih mencabut pedangku. Aku akan berkelahi sampai mati sebab kalah atau menang, aku pasti akan dihukum.”

Dahi Kebo Ijo berkerut. Tetapi kemarahannya pun kini terungkat sepenuhnya. Dengan serta merta ia mencabut pedangnya dan berteriak, “Ayo, keluarlah. Ternyata kau masih mempunyai sisa-sisa kejantananmu di dalam keputus-asaan itu. Sejak kau datang aku memang ingin membunuhmu. Sekarang ternyata aku mendapat kesempatan karena kesalahanmu.”

Kemarahan Kuda Sempana telah sampai ke puncaknya pula. Karena itu, ketika ia mendengar tantangan Kebo Ijo, maka tidak diingatnya apapun lagi. Kesadarannya tentang dirinya lenyap bersama lenyapnya setiap pertimbangan.

Dengan kaki gemetar Kuda Sempana melangkah perlahan-lahan keluar dari gubugnya. Dengan perlahan-lahan tangannya yang gemetar pula mencabut pedangnya. Pandangan matanya menjadi semakin tajam dan giginya terdengar gemeretak. Ketika ia sudah berdiri di luar gubugnya, ia menggeram, “Ayo Kebo Ijo. Aku sudah siap untuk mati. Aku akan bersikap jantan untuk yang terakhir kalinya, supaya aku mati dengan dada tengadah dan pedang digenggaman.”

“Persetan.” Kebo Ijo memotong, “sepantasnya kau dihukum picis. Kau adalah seorang tawanan yang memberontak.”

“Aku tidak pernah merasa diriku sebagai seorang tawanan. Aku masih menggenggam pedang. Ayo, mulailah. Aku tahu, bahwa aku pasti akan mati, menang atau kalah. Kalau aku kalah, maka kaulah yang membunuhku. Tetapi kalau aku menang, maka aku pasti akan dihukum mati. Tetapi seandainya aku dihukum mati setelah aku merobek dadamu yang dipenuhi oleh kcsombongan tiada taranya itu, aku tidak akan menyesal.”

Kebo Ijo sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. Tanpa menjawab lagi ia meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi Kuda Sempana telah bersiap pula untuk menerima serangan itu. Dengan sigapnya ia meloncat menghindar, dan bahkan segera ia membalas serangan Kebo Ijo dengan serangan pula.

Sejenak kemudian perkelaian itupun menjadi semakin sengit. Mereka telah dibakar oleh kemarahan dan kejemuan menghadapi persoalan mereka masing-masing. Kebo Ijo yang telah menjadi jemu dengan segala macam kerja yang berat, jemu terhadap sikap orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel yang dengan sepenuh hati menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung yang menurut penilaiannya terlampau berlebih-lebihan, dilandasi oleh sifat-sifatnya yang dengki dan tinggi hati, telah terbetur dengan sikap putus asa Kuda Sempana yang sebenarnya perlahan-lahan berangsur hilang. Tetapi goncangan perasaannya kali ini telah meledakkan dadanya yang selama ini diusahakannya untuk diendapkan.

Karena itulah, maka sejak pedang mereka berbenturan untuk pertama kali, mereka masing-masing merasakan, betapa kekuatan yang tersimpan, telah hampir seluruhnya tersalur lewat senjata-senjata itu. Dan benturan yang pertama itupun ternyata telah mengejutkan kedua belah pihak.

Kuda Sempana yang pernah bertempur melawan Witantra, kakak seperguruan Kebo Ijo meskipun tidak dapat memenangkannya, merasakan bahwa Kebo Ijo kini memiliki kemampuan yang lebih besar dari kakaknya pada saat yang lampau itu. Tetapi Kuda Sempana yang sekarang ini pun telah maju pula dibandingkan dengan masa itu. Bersama Kebo Sindet ia telah menambah pengalaman mempergunakan senjata meskipun dengan hati yang kosong. Namun pengalaman itu ternyata berpengaruh pula atasnya. Naluri untuk mempertahankan hidupnya, telah membuatnya justru menjadi semakin banyak memiliki ilmu meskipun bukan bersumber dari perguruarn yang sama. Beberapa unsur yang diterimanya dari Kebo Sindet telah membuatnya menjadi bertambah kasar, ganas dan berbahaya.

Demikianlah maka keduanya bertempur dengan sengitnya. Kebo Ijo, yang dialiri oleh ilmu dari seorang yang cukup matang, namun dibumbui oleh sifat-sifat Kebo Ijo sendiri, membuat ilmu itu menjadi sangat berbahaya. Cepat, penuh kepercayaan kepada diri dan kadang-kadang tampak betapa kesombongannya memancar dari sikap dan geraknya. Tetapi Kebo Ijo itu ternyata harus memperbaiki sikapnya. Kuda Sempana bukan anak-anak yang dapat dipaksanya untuk berlutut. Apalagi anak muda itu telah didorong oleh rasa putus asa. Menang atau kalah, baginya tidak akan jauh berbeda. Karena itu maka tandangnyapun menjadi terlampau garang. Segarang harimau yang kelaparan dan seekor buaya-buaya kerdil dirawa-rawa Kemundungan. Bahkan semakin lama Kuda Sempana menjadi semakin liar. Pengaruh Kebo Sindet semakin banyak tampak di dalam tata geraknya yang semakin tidak terkendali.

Kebo Ijo kini dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa tidak terlampau mudah untuk memaksa Kuda Sempana tunduk di bawah kakinya. Bahkan semakin lama ia merasakan keringatnya semakin banyak mengaliri tubuhnya.

“Anak setan.” ia menggeram di dalam hati, “ternyata ia mampu melakukan perlawanan meskipun dengan caranya sendiri. Buas dan kasar.”

Kebo Ijo pun kemudian mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Kemarahannya sudah sampai ke puncak ubun-ubun. Kuda Sempana yang tidak mempuryai wewenang apapun itu ternyata masih berani melawannya.

“Kau benar-benar akan dihukum picis.” tanpa sesadarnya Kebo Ijo menggeram.

“Aku tidak peduli.” sahut Kuda Sempana sambil menyerang dengan kasarnya. Bahkan sekali-sekali sering terdengar ia menghentak dan berteriak.

Perkelahian itu berlangsung dengan serunya. Seperti pertarungan dua ekor harimau yang paling garang di hutan yang paling liar. Tidak ada lagi nilai-nilai yang mereka hormati. Cara apapun dapat mereka lakukan untuk segera mengalahkan lawannya. Kebo Ijo pun agaknya terpengaruh juga oleh lawannya. Meskipun pada dasarnya, ilmu yang dimilikinya bukanlah ilmu yang kasar, namun sifat Kebo Ijo sendiri, serta tata gerak lawannya, telah membuatnya kadang-kadang telah menjadi kasar pula dan kadang-kadang menjadi licik.

Ternyata perkelahian itu merupakan perkelahian yang seimbang dalam bentuknya masing-masing. Desak mendesak, silih ungkih, sehingga mereka telah melupakan apapun juga selain memenangkan perkelahian itu. Mereka telah melupakan pula bahwa pada hari itu Akuwu Tunggul Ametung akan hadir di Padang Karautan yang kini telah menjadi hijau.

Sementara itu Ken Arok, Mahisa Agni, Ki Buyut Panawijen dan hampir semua orang yang berada di Padang Karautan telah bersiap-siap menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung. Mereka duduk bertebaran di atas rerumputan yang sudah mulai hijau karena titik-titik air hujan.

Hanya mereka yang bertugas sajalah yang tidak berada di tempat itu. Para juru masak dan pekerja-pekerja yang mempersiapkan pesanggrahan di samping taman buatan. Beberapa pengawal yang bersiap dengan senjata masing-masing Selebihnya berkumpul menunggu kehadiran Akuwu.

Ken Arok, Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen terkejut ketika seseorang dengan tergesa-gesa menghampirinya.

Sambil mengerutkan keningnya Ken Arok bertanya, “Kenapa kau tampak gelisah?”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Kemudian ia berkata perlahan-lahan, “Kuda Sempana dan Kebo Ijo sedang berkelahi.”

“He.” hampir bersamaan Ken Arok, Mahisa Agni dan Ki Buyut menyahut, “dimana?”

“Di gubug Kuda Sempana.”

“Kenapa mereka berkelahi?”

Orang itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Ketika aku mengambil air, aku melihat dari kejauhan. Mereka berkelahi dengan pedang.”

Sejenak mereka saling berpandangan. Namun sejenak kemudian Mahisa Agni berkata, “Aku akan melihatnya.”

“Aku akan pergi juga.” sahut Ken Arok.

“Aku juga.” berkata Ki Buyut Panawijen.

“Jangan.” potong Mahisa Agni, “Ki Buyut tetap berada di sini. Apabila Akuwu Tunggul Ametung tampak di kejauhan, Ki Buyut kami harap memberitahukan kepada kami. Sementara kami menyelesaikan persoalan Kuda Sempana dan Kebo Ijo.”

“Ya.” Ken Arok menyambung. Kemudian kepada orang yang memberitahukan kepadanya ia berkata, “Jangan kau beritahukan kepada orang lain supaya tidak terjadi kegaduhan. Aku juga tidak akan memberitahukan kepada siapa pun. Kami berdua sajalah yang akan menyelesaikannya.”

Orang itu menganggukkan kepalanya. Dan kepada Ki Buyut, Ken Arok pun berpesan, “Ki Buyut, tidak perlu ada orang lain yang mengetahuinya. Kita tidak boleh merusak suasana menjelang kedatangan Akuwu Tunggul Ametung.”

Ki Buyut diam sejenak. Namun kemudian ia mengangguk sambal menjawab, “Ya. Baiklah aku tinggal di sini. Hati-hatilah dengan kedua anak-anak muda itu.”

Ken Arok dan Mahisa Agni pun segera pergi ke tempat yang ditujukan oleh orang yang telah melihat Kuda Sempana dan Kebo Ijo berkelahi. Untuk tidak memberikan kesan yang dapat menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan, maka Ken Arok dan Mahisa Agni berjalan lebih dahulu. Baru kemudian orang yang memberitahukannya itu menyusul di belakang. Meskipun demikian Ken Arok dan Mahisa Agni itu masih harus menahan diri, dan berjalan perlahan-lahan supaya tidak menimbulkan kesan apapun. Tetapi demikian mereka menyelinap diantara gubug-gubug di perkemahan itu, maka segera mereka berjalan dengan tergesa-gesa supaya mereka tidak terlambat.

Dalam pada itu, Kuda Sempana dan Kebo Ijo masih berkelahi dengan sengitnya. Pedang Kebo Ijo menyambar-nyambar seperti ujung kuku seekor burung garuda yang sedang marah. Tetapi Kuda Sempana pun mampu pula berbuat demikian. Bahkan dengan kekasarannya, senjatanya berputar dan melanda lawannya seperti angin ribut.

Ken Arok dan Mahisa Agni yang menjadi semakin dekat, segera mendengar, sekali-sekali Kuda Sempana menghentak sambil memekik. Mendengar suara itu, segera Mahisa Agni teringat kepada Kebo Sindet, yang berkelahi dengan cara yang serupa. Berteriak-teriak, bahkan memaki-maki.

“Pengaruh itu telah merasuk ke dalam dada Kuda Sempana.” berkata Mahisa Agni di dalam hati, “Empu Sada sudah memiliki ciri-ciri yang cukup keras dan kasar. Kebo Sindet adalah seorang yang paling buas dan bengis. Kini agaknya Kuda Sempana memiliki kedua-duanya.

Kebo Ijo yang telah berjuang sekuat tenaganya, ternyata masih belum mampu menguasai lawannya. Ia tak menduga sama sekali bahwa Kuda Sempana pun telah berhasil meningkatkan ilmunya, meskipun dengan unsur-unsur gerak yang agak liar. Sedang Kuda Sempana sendiri sama sekali tidak menghiraukannya, apakah yang sudah dilakukan. Ia merasa bahwa ia harus mati. Mati dalam perkelahian itu, atau mati di tiang gantungan karena ia berani melawan salah seorang pimpinan prajurit Tumapel di Padang Karautan. Tetapi seandainya ia mati, maka lebih baik mati dengan pedang di tangan. Atau kalau ia harus mati di tiang gantungan, atau hukuman picis sekalipun, ia harus membawa Kebo Ijo serta, karena Kebo Ijolah yang menyebabkan semua itu terjadi.

Namun tiba-tiba kedua orang yang sedang bertempur itu terperanjat ketika mereka mendengar suara dekat di samping mereka, “Berhenti, berhenti.”

Keduanya sempat berpaling sesaat. Mereka melihat Ken Arok dan Mahisa Agni muncul dari balik gubug-gubug di sekitar mereka. Namun Kebo Ijo yang sudah dibakar oleh kemarahannya tiba-tiba menjawab lantang, “Jangan kau campuri urusanku.”

“Berhenti.” terdengar suara Ken Arok semakin keras.

Tetapi Kebo Ijo sama sekali tidak menghiraukannya. Kuda Sempana pun kemudian tidak melakukan perintah itu pula. Bukan saja karena Kebo Ijo masih menyerangnya terus. Tetapi ia merasa bahwa tidak ada gunanya ia berhenti. Ia harus membunuh atau dibunuh. Kemudian apabila ia masih hidup, tiang gantungan sudah akan dipersiapkan. Mungkin sebagai hidangan yang paling menyenangkan pada saat Akuwu Tunggul Ametung dan Ken Dedes nanti datang di Padang Karautan ini. Karena itu, maka sudah bulatlah tekadnya. Perkelahian ini harus menentukan. Mati dengan pedang di tangan, atau kemudian menjalani hukuman, setelah membunuh Kebo Ijo yang telah membuat hatinya terluka kembali dan bahkan menjadi putus asa.

Tetapi untuk membunuh Kebo Ijo, ternyata bukan pekerjaan yang mudah dan bahkan yang mungkin dapat dilakukan oleh Kuda Sempana. Sehingga dengan demikian, maka perkelahian yang terjadi itu benar telah memeras segenap tenaga dan kekuatan yang ada.

Ken Arok dan Mahisa Angi yang berdiri tegak mematung didekat perkelahian yang terjadi itu, menjadi kian berdebar-debar dan cemas, justru pada saat Akuwu Tunggul Ametung akan mengunjungi Padang Karautan ini. Apakah Akuwu Tunggul Ametung akan melihat perselisihan yang terjadi ini, atau Akuwu akan melihat salah seorang daripadanya telah menjadi mayat? Apabila demikian maka peristiwa ini pasti akan merusak segala macam kegembiraan yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang di Padang Karautan ini dan bahkan kegembiraan para pengawal Akuwu termasuk Permasurinya. Akuwu pasti akan selalu marah-marah dan berteriak-teriak membentak semua orang, dan bahkan mungkin akan menjatuhkan hukuman-hukuman yang berat.

Dan semua tanggung jawab terletak di pundaknya. Di pundak Ken Arok. Ia telah mendapat kekuasaan dari Akuwu untuk memimpin prajurit-prajurit Tumapel yang ada di Padang Karautan ini dan iapun mendapat kekuasaan untuk mengawasi tindakan seorang demi seorang.

Selain Ken Arok, Mahisa Agni pun mencemaskan perkembangan keadaan itu. Dialah yang membawa Kuda Sempana masuk kedalam perkemahan ini, sehingga ia tidak akan dapat melepaskan tanggung jawab atasnya, atas Kuda Sempana. Sehingga dalam persoalan ini pun ia pasti dilibatkannya, apabila terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki atas salah seorang dari mereka berdua, yang sedang mempertaruhkan nyawa masing-masing itu.

Sejenak Ken Arok dan Mahisa Agni tidak dapat menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk menghentikan perkelahian itu. Meskipun mereka berteriak-teriak untuk menghentikannya, namun agaknya kedua orang itu sama sekali tidak akan menghiraukannya.

Dalam keccmasannya Mahisa Agni tiba-tiba berbisik, “Kita harus melerai mereka.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Ya, tetapi bagaimana caranya?”

“Kita masuk ke dalam lingkaran perkelahian. Cobalah menahan Kebo Ijo, aku akan menahan Kuda Sempana. Apabila perkelahian itu berhenti, barulah kita berbicara.”

Ken Arok tertegun sejenak. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambii bergumam, “Marilah kita coba. Aku akan menyerang Kebo Ijo untuk memancing perhatiannya, dan kau harus menghentikan Kuda Sempana. Begitu?”

Mahisa Agni mengangguk. “Ya, cepatlah kita lakukan sebelum perkelahian itu membawa akibat bagi salah seorang dari mereka. Apalagi setiap saat kita akan mendengar berita, bahwa Akuwu telah datang.”

“Marilah.” desis Ken Arok. Dipandanginya arena perkelahian itu dengan tajamnya, kemudian hampir bersamaan mereka melangkah mendekat. Namun sebelum mereka bertindak, sekali lagi Ken Arok berteriak, “Hentikan perkelahian itu, sebelum kami berbuat sesuatu atas kalian berdua.”

Ternyata suara itupun seolah-olah hilang dihembus angin pagi. Baik Kuda Sempana maupun Kebo Ijo sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan mendengar Kebo Ijo menjawab, “Jangan campuri urusan kami.”

Kini Ken Arok dan Mahisa Agni sudah pasti, bahwa tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh kecuali melerai perkelahian itu dengan tindakan, tidak sekedar dengan kata-kata.

Sejenak Mahisa Agni dan Ken Arok saling memandang, kemudian hampir bersamaan keduanya mengangguk-anggukkan kepala mereka sebagai suatu isyarat untuk segera bertindak. Maka sejenak kemudian terdengar Ken Arok berkata, “Kalau kalian tidak mau berhenti, maka kami terpaksa bertindak.”

Kebo Ijo tidak sempat menyahut. Sesaat kemudian mereka yang sedang berkelahi itu melihat Ken Arok dan Mahisa Agni maju bersama-sama.

Kuda Sempana tidak sempat berbuat apapun juga. Ternyata ilmunya terpaut terlampau banyak, sehingga yang terjadi kemudian sama sekali berada diluar kemampuannya untuk menghindari. Sekejap saja pedang Kuda Sempana telah berpindah ketangan Mahisa Agni. Kemudian terasa sebuah dorongan yang kuat sekali, sehingga Kuda Sempana terlempar beberapa langkah surut, bahkan anak muda itu telah kehilangan keseimbangan sehingga ia jatuh terbanting di tanah.

Dalam pada itu Ken Arok pun telah bertindak pula. Tangannya secepat tatit memukul pergelangan Kebo Ijo yang sama sakali tidak menduganya, sehingga terdengar ia memekik kecil dan pedangnya pun terlempar di tanah beberapa langkah daripadanya.

“Anak setan.” Kebo Ijo mengumpat keras, “kenapa kau mencampuri urusanku, he?”

Ken Arok berdiri tegak dengan wajah yang gosong. Dipandanginya Kebo Ijo yang kesakitan memegangi pergelangan tangan kirinya. Namun matanya memancarkan kemarahan yang meluap-luap. Sedang sejenak kemudian ditatapnya Kuda Sempana yang segera melocat bangkit dan berdiri tegak dengan garangnya. Tetapi keduanya sudah tidak memegang senjata masing-masing.

“Kalian telah menjadi gila.” terdengar Ken Arok menggeram, “apakah dengan perbuatan kalian ini, kami, dan orang-orang yang berada di Padang Karautan ini akan berbangga? Apakah kalian menyangka bahwa dengan tindakan kalian ini, kalian akan digelari pahlawan yang penuh kejantanan sedang mempertahankan kehormatan diri?”

Kebo Ijo yang sedang dibakar oleh kemarahan itu menjawab lantang, “Coba katakan kepadaku Ken Arok, apakah yang sebaiknya aku lakukan apabila aku sedang berhadapan dengan seorang pemberontak? Apakah yang akan aku lakukan apabila seorang tawanan seperti Kuda Sempana ini ingin mempergunakan kesempatan untuk melepaskan dirinya? Apakah aku harus berpangku tangan, dan membiarkannya pergi atau membiarkannya memenggal leherku sebagai orang kedua di Padang Karautan ini?”

Kuda Sempana terkejut sekali mendengar jawaban Kebo Ijo itu. la sama sekali tidak menyangka bahwa Kebo Ijo begitu licik dan dengan tanpa malu-malu telah memutar balik kenyataan. Dengan demikian maka Kuda Sempana dapat mengambil kesimpulan sekilas tentang anak muda yang bernama Kebo Ijo itu. Kelicikannya ternyata jauh melampaui apa yang diduganya. Ia banyak mendengar nasehat dan petunjuk dari Ken Arok dan Mahisa Agni tentang Padang Karautan dan orang-orangnya. Ia mendengar pula tentang Kebo Ijo yang tidak dapat menahan mulutnya dan tanpa berperasaan sering menyakiti hati orang lain dan bahkan dengan penuh kesombonga-kesombonga. Tetapi Kuda Sempana tidak menyangka bahwa Kebo Ijo itu pun dengan sangat ringan, telah mengucapkan sebuah fitnah terhadapnya. Seolah-olah sama sekali tidak membebani perasaannya.

Ia melihat Ken Arok mengerutkan keningnya dan sekilas berpaling kepada Mahisa Agni. Sebersit gugatan melonjak di dalam hati Kuda Sempana. Seandainya Ken Arrok dan Mahisa Agni mempercayainya, maka ia akan dihadapkan pada keadaan yang tangat tidak menyenangkannya. Ia lebih baik mati di dalam perkelahian itu, atau membunuh lawannya kemudian mati digantung, dari pada mati sebagai seorang pengecut. Sebagai seorang tawanan yang sedang berusaha melarikan diri.

Dalam keheningan yang sejenak itu terdengar Kebo Ijo berkata seterusnya, “Kenapa kau diam saja Ken Arok? Kenapa kau tidak segera mengambil sikap? Kalau kau tidak bisa, katakanlah, apa yang harus aku lakukan.”

Wajah Ken Arok menjadi semakin tegang. Sebelum ia menjawab terdengar suara Kuda Sempana gemetar, “Aku tidak menyangka bahwa kau begitu licik Kebo Ijo. Sudah aku katakan, aku sama sekali bukan seorang tawanan. Dan aku sama sekali tidak akan meninggalkan padang ini. Aku adalah anak Panawijen yang pada saat itu telah dianggap hilang. Dan kini aku telah berusaha untuk kembali berada di antara mereka, kawan bermain di masa kanak-kanak, meskipun aku harus memulainya dengan penuh kcsulitan perasaan. Kenapa aku harus lari meninggalkannya lagi tanpa alasan?”

“Huh.” Kebo Ijo menarik bibirnya, “kau sangka bahwa kami, terutama prajurit-prajurit Tumapel dapat menerima kehadiranmu di sini sebagai seorang yang bebas? Tidak. Dalam tanggapan kami, para prajurit Tumpel, kau adalah seorang dari anak buah Kebo Sindet.” Kemudian kepada Ken Arok Kebo Ijo berkata, “Ken Arok, kalau kau tidak sanggup berbuat sesuatu, akulah yang akan menjatuhkan hukuman atasnya. Sebagai seorang tawanan yang sedang dalam perkembangan untuk mendapat pengampunan, tetapi mencoba malarikan diri dan melawan pimpinan prajurit Tumapel di Padang Karautan, ia harus dihukum mati. Tetapi aku bukan pengecut. Aku memberinya kesempatan untuk membela diri atas nama seorang laki-laki. Aku beri kesempatan ia melawan aku seorang dengan seorang.”

“Gila.” tiba-tiba Ken Arok menggeram, “sebentar lagi Akuwu Tunggul Ametung dan Permaisurinya akan datang.”

“Hukuman mati itu akan menjadi suguhan yang menyenangkan baginya dan bagi Ken Dedes. Aku kira Ken Dedes akan berterima kasih kalau ia melihat aku dapat memenggal kepala orang yang paling dibencinya.”

Terasa sebuah gejolak yang dahsyat melanda dada Kuda Sempana. Yang dengan serta merta menyahut, “Aku bersedia. Aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku. Aku tidak akan ingkar, bahwa aku telah memulainya sejak aku ingin mengambil Ken Dedes dengan kekerasan. Ayo, Kebo Ijo, cara apapun yang akan kau lakukan untuk memaksaku berkelahi. Katakanlah semua kcsalahan yang telah aku lakukan. Jangan kau sangka bahwa aku telah mengurungkan segala niatku. Kalau aku tidak dihukum mati sekarang, oleh siapapun, sebab kau pasti akan mati lebih dahulu, maka pada saatnya aku masih akan mengambil gadis yang sekarang telah menjadi Permaisuri itu, apalagi setelah kau mulai mengobarkan api yang telah padam di dalam dadaku.”

“Kuda Sempana.” Mahisa Agni memotong, “jangan terseret oleh perasaanmu. Kau akan terjerumus lagi dalam duniamu yang kelam itu. Atau kau benar-benar akan mati di Padang Karautan justru setelah kau hampir berhasil menempatkan dirimu di antara mereka yang berada dilingkunganmu sejak kanak-kanak.”

“Bukan aku yang memulainya Agni.”

“Karena itu kau harus bertahan dan berusaha menempatkan setiap persoalan sewajarnya.”

“Aku sudah didorong untuk keluar dari dunia baru yang aku inginkan.”

“Tidak.” yang terdengar adalah suara Ken Arok, “kau akan mendapat kesempatan.”

“Persetan.” Kebo Ijo berteriak, “aku sudah menjatuhkan hukuman atasnya atas kesalahannya. Tetapi aku bukan pengecut seperti sudah aku katakan. Dan aku tidak akan mencabut keputusan itu meskipun ada setan iblis datang ke Padang Karautan ini. Apalagi hanya seorang Akuwu.”

“Kebo Ijo.” Ken Arok memotong, “kau benar-benar telah menjadi gila.”

“Terserah menurut penilaianmu. Tetapi aku berhak menjatuhkan hukuman itu karena perbuatannya.”

“Bohong.” potong Kuda Sempana, “tetapi aku tidak akan mencegah maksudmu. Bukankah kau hanya sekedar ingin berkelahi, membunuh atau dibunuh? Kau tidak perlu mempergunakan alasan-alasan yang kau reka-reka itu. Berkatalah berterus terang. Kau ingin berkelahi dan menjerumuskan aku ke dalam hukuman mati. Cukup. Marilah kita penuhi keinginanmu yang gila itu. Kau akan puas, meskipun kau tidak akan dapat menikmati kepuasan itu.”

Kebo Ijo tidak dapat menahan hatinya. Tiba-tiba, secepat kilat ia meloncat meraih pedangnya yang terletak beberapa langkah dari padanya.

Tetapi Kebo Ijo itu sekali lagi menyeringai menahan sakit. Meskipun tangannya telah menggenggam hulu pedangnya, namun ternyata ia tidak mampu melampaui kecepatan gerak Ken Arok. Tepat pada saat ia menggenggam hulu pedangnya, maka tangan itu telah terinjak oleh kaki Ken Arok.

Serasa jantung Kebo Ijo berhenti berdetak. Sambil menggeram ditatapnya mata Ken Arok. Sepasang mata Kebo Ijo yang kini berjongkok itu seolah-olah memancarkan api yang sedang membakar dadanya.

Tetapi Ken Arok pun menatap mata itu tajam-tajam. Dan tatapan mata Ken Arok itu serasa ujung senjata yang paling tajam yang langsung menusuk ke pusat jantungnya, sehingga sejenak kemudian Kebo Ijo terpaksa melemparkan pandangan matanya ke samping. Namun ia tidak ingin merasa dirinya kecil, sehingga tiba-tiba ditatapnya wajah Kuda Sempana yang tegang sambil berteriak, “Aku sudah menjatuhkan hukuman atasmu. Aku tidak akan mencabut lagi, apapun yang akan terjadi.”

Ken Arok masih belum melepaskan tangan Kebo Ijo. Dengan lantangnya ia berkata, “Tidak. Hukuman itu sama sekali belum dapat dilihat dengan jelas.”

“Sudah aku katakan.” teriak Kebo Ijo yang masih menyeringai menahan sakit pada pergelangen tangannya.

Perlahan-lahan Ken Arok mengangkat kakinya. Demikian tangannya lepas maka dengan serta merta Kebo Ijo berdiri sambil bertolak pinggang. Dengan tangan kirinya ia menuding wajah Ken Arok, “Kau tidak melihat apa yang telah terjadi, Aku menyaksikannya sendiri dan aku telah menjatuhkan hukuman.”

“Wewenang di tanganmu akan dapat membakar Padang Karautan ini Kebo Ijo. Apalagi kalau kau mempunyai kekuasaan yang lebih besar lagi. Maka Tumapel akan menjadi reruntuhan dari sisa-sisa api yang kau nyalakan.”

“Siapakah yang kau percayai, Ken Arok. Aku atau Kuda Sempana. Aku adalah orang kedua di Padang Karautan. Dan aku telah menjatuhkan hukuman berdasarkan wewenangku.”

“Aku berhak membatalkan setiap keputusan yang diambil oleh bawahanku.” Ken Arok pun menggeram pula. Kesabaran pun hampir sampai kepuncaknya pula, “Kebo Ijo. Seandainya bukan kau yang berkata kepadaku, bahwa Kuda Sempana akan lari, aku kira aku dapat mempercayainya. Tetapi karena aku mendengarnya dari mulutmu, maka aku terpaksa mempertimbangkannya lebih dahulu.”

Kebo Ijo berdiri dengan sorot mata yang semakin menyala. Betapa kemarahan telah membakar dadanya, sehingga terdengar giginya gemeretak. Tetapi justru karena itu, maka mulutnya serasa menjadi terbungkam. Meskipun tampak bibirnya gemetar, tetapi tidak sepatah katapun yang diucapkannya.

Sejenak mereka berdiri seperti sedang kena pesona. Diam mematung. Sedang angin padang yang lembut berhembus lambat mengusap kening mereka yang basah oleh keringat.

Ken Aroklah yang mula-mula memecah kesepian, “Kebo Ijo, tinggalkanlah Kuda Sempana bersama aku dan Mahisa Agni. Aku akan mengurus dan menyelesaikannya.”

” Tidak. Aku tidak mau kau mendengar dari Kuda Sempana sepihak. Aku harus ada di sini, mendengar ia berbohong dan aku akan menjelaskan persoalan yang sebenarnya.”

Wajah Ken Arok yang tegang menjadi semakin tegang. Dan terdengar jawabnya parau, “Aku sudah memperingatkan kau sejak kau datang untuk pertama kalinya di Padang Karautan ini, Kebo Ijo. Jagalah mulutmu, supaya orang lain dapat mempercayaimu. Sekarang sudah terlambat. Dalam persoalan yang sesungguhnya, aku akan lebih percaya kepada orang lain dari pada kepadamu. Nah, sekarang tinggalkan tempat ini.”

“Tidak. Aku tetap di sini. Aku sudah mengucapkan keputusan dan aku tidak akan mencabutnya kembali.”

“Dengar Kebo Ijo. Aku adalah pimpinan tertinggi. Aku berhak menjatuhkan keputusan yang nilainya lebih dari keputusanmu. Keputusanku adalah, melihat keadaan sewajarnya dan mempertimbangkan sebaik-baiknya untuk saat ini sebelum aku menjatuhkan keputusan yang memastikan. Sekarang dengar perintahku. Tinggalkan tempat ini. Taati perintah ini supaya kau tidak dianggap memberontak terhadap kekuasaan di tanganku. Sebentar lagi Akuwu akan datang ke Padang Karautan ini. Selama aku mengurus Kuda Sempana bersama Mahisa Agni, kau harus berada bersama-sama dengan prajurit-prajurit Tumapel untuk mempersiapkan penyambutan. Ingat, kau orang kedua dalam susunan pimpinan di padang ini. Dan kau berhak memimpin penyambutan itu apabila aku sedang berhalangan.”

Terasa dada Kebo Ijo bergelora. Tetapi cara Ken Arok mengusirnya sedikit memberinya ketenangan. Dan didengarnya Ken Arok berkata seterusnya, “Nah, lakukanlah. Tidak ada orang lain yang berhak sclain kau kecuali aku sendiri. Pergilah, persiapkan para prajurit. Aku kira kedatangan Akuwu sudah tidak akan terlampau lama lagi. Saat ini Akuwu pasti berada di pinggir padang ini, dan bahkan mungkin sudah mulai menyeberanginya.”

Wajah Kebo Ijo masih tegang. Tetapi perintah itu tidak dapat dibantahnya. Betapa perasaannya melonjak-lonjak tetapi ia masih sadar, bahwa ia tidak dapat membantah perintah Ken Arok selain ia menyatakan jabatannya.

Karena itu maka ia berkata, “Seandainya tidak ada Akuwu Tunggul Ametung yang akan datang, dan seandainya aku tidak harus memimpin penyambutan itu, aku akan tetap di sini sampai anak gila itu digantung sampai lehernya putus.”

Hampir saja Kuda Sempana menyahut. Tetapi ia tertegun karena Mahisa Agni menggamitnya dan memberinya isyarat dengan kedipan matanya supaya ia tidak berkata sepatah katapun.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Namun terasa bahwa dugaannya selama ini keliru. Ia tidak melihat orang-orang yang dengan buas menangkapnya karena ia telah melawan Kebo Ijo, bahkan sebaliknya, Ken Arok, pimpinan tertinggi di Padang Karautan ini, tidak dapat mempercayai fitnah Kebo Ijo atasnya.

Sejenak kemudian, dengan langkah yang penuh keseganan, Kebo Ijo meninggalkan tempat itu, setelah memungut pedangnya. Sekali ia berpaling kepada Kuda Sempana dengan wajah mcmbara. Dendam itu pasti akan berakar di hatinya. Dendam seorang Kebo Ijo yang perangainya selalu meledak-ledak tanpa kendali.

Ken Arok, Mahisa dan Kuda Sempana sendiri dapat melihat, betapa wajah itu menjadi kemerah-merah, seakan-akan memancarkan api dari dalam dadanya. Dan wajah yang kemerah-merahan itu membuat Kuda Sempana menjadi berdebar-debar. Sekilas dilihatnya hari-hari mendatang yang akan menjadi kian sulit baginya setelah perkelahian itu terjadi.

Sejenak kemudian, kctika Kebo Ijo telah hilang dibalik gubug yang berjajar-jajar, terdengar Ken Arok bertanya, “Kenapa kau berkelahi, Kuda Sempana?”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia merasa seolah-olah sedang diadili. Tetapi ia sama sekali tidak ingin berbohong. Terserah kepada mereka yang akan menilainya. Dikatakannya seluruhnya apa yang telah terjadi atasnya. Tidak ada yang dikurangi dan tidak ada yang ditambahnya.

Ken Arok dan Mahisa Agni mendengarkannya dengan penuh perhatian. Tanpa disengaja, maka mereka pun mengangguk-anggukkan kepala mereka, seolah-olah mereka melihat peristiwa itu sedang terjadi. Menilik tekanan kata-kata Kuda Sempana maka mereka melihat suatu keyakinan bahwa yang dikatakannya itu benar.

Tetapi Ken Arok dan Mahisa Agni itu kemudian mendengar Kuda Sempana berkata, “Ternyata aku sudah tidak dapat lagi diterima di dalam pergaulan yang sewajarnya. Aku ternyata tidak mampu lagi menyesuaikan diriku.”

“Tidak.” dengan serta merta Mahisa Agni menyahut, “selama ini kau telah mendapat kemajuan yang banyak sekali.”

“Tetapi akhirnya aku telah melakukan kesalahan. Betapa aku mencoba menghindarkan diri dari kemungkinan ini, ternyata aku tidak mampu. Aku masih melibatkan diriku pada suatu perbuatan yang pasti tidak kalian anggap benar.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya melihat Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Tidak, Kuda Sempana. Aku dapat menerima keteranganmu. Aku mempercayaimu bahwa kau tidak dapat berbuat lain kecuali membela dirimu. Kau dihadapkan pada suatu keadaan, dimana kau tidak dapat memilih. Sehingga dengan demikian, maka kau tidak dengan sengaja melakukan kesalahan ini.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Perlahan-lahan kepalanya ditundukkannya. Setelah sekian lama ia terpisah dari pergaulan, dikungkung dalam dunia yang asing, di dalam sarang seorang Kebo Sindet, maka ternyata ia telah beberapa kali membuat kesalahan dalam menilai orang seorang. Kini ia melihat, bahwa sebenarnya Ken Arok jauh berbeda dari Kebo Ijo. Demikian pula agaknya orang-orang lain, mempunyai sifat dan wataknya sendiri.

Dalam pada itu Ken Arok berkata selanjutnya, “Kuda Sempana. Sebelum terjadi sesuatu atasmu, bukankah aku sudah memperingatkan kau tentang Kebo Ijo. Sehingga dengan demikian, maka kau seharusnya dapat menilainya, bahwa sikapnya sama sekali bukan sikap kami, baik orang-orang Panawijen maupun para prajurit Tumapel. Kau dapat merasakannya, bagaimana sikap Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen, bagaimana sikap prajurit-prajurit Tumapel yang lain selain Kebo Ijo.”

Kuda Sempana masih belum menjawab. Tetapi terasa getaran di dadanya menjadi semakin cepat. Ia tidak mengerti kenapa Mahisa Agni dan Ken Arok menaruh perhatian sedemikian besarnya kepadanya sehingga di dalam persoalan inipun mereka mengambil kesimpulan, bahwa Kebo Ijo lah yang bersalah, meskipun keterangannya dan keterangan Kebo Ijo berbeda.

Tetapi Kuda Sempana tidak mendapat kesempatan untuk berpikir terlampau lama karena sejenak kemudian Ken Arok berkata, “Sudahlah. Jangan kau hiraukan apa yang telah terjadi, meskipun kau harus berhati-hati untuk selanjutnya. Kau harus selalu mencoba menghindari anak bengal itu, seperti yang dikatakan oleh kakak seperguruannya sendiri. Sebentar lagi Akuwu Tunggul Ametung akan datang, kita harus menyambutnya dengan baik.”

Terasa dentang di dada Kuda Sempana menggoncangkan jantungnya. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Ia ingin mengucapkannya, tetapi ia ragu-ragu.

“Lupakan semua persoalan yang telah lampau.” berkata Mahisa Agni kemudian, “mungkin Kebo Ijo sengaja mengungkit persoalan itu, tetapi jangan kau hiraukan. Semuanya sudah berlalu. Bahkan kita berdua telah terjerumus ke dalam keadaan yang tidak kita kehendaki tanpa dapat, menghindarkan diri.”

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Ditenangkannya hatinya dan kemudian dicobanya untuk berkata, “Aku memang sudah berusaha Agni. Tetapi peristiwa itu terlampau dalam membekas di dalam hati. Mungkin aku dapat menekan perasaanku, karena pengalaman yang selama ini telah menderaku tanpa ampun. Tetapi bagaimana dengan Ken Dedes yang agaknya menyimpan dendam tiada taranya di dalam hatinya? Mungkin ia menganggap semua kepahitan yang dialaminya justru disebabkan karena kesalahanku.”

“Maksudmu Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung?” bertanya Ken Arok.

” O, ya. Maksudku Tuan Puteri Ken Dedes.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tetapi semua itu seharusnya sudah dilupakan. Kita tidak dapat berpegangan pada sebab dari peristiwa yang berkembang itu terus menerus. Apabila demikian, ia justru akan berterima kasih kepadamu, karena kau telah mendorongnya masuk ke dalam Istana Tumapel.”

” Tetapi bukan itu maksudku. Aku tidak sengaja berbuat demikian. Yang ada di dalam benakku waktu itu adalah maksud yang tidak baik atasnya dan kemudian atas Mahisa Agni.”

“Semuanya aku harap sudah dilupakannya.” desis Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan.” sahut Kuda Sempana, “tetapi sebenarnya, sebelum aku bertemu dengan Kebo Ijo di sini, aku ingin minta ijin kepada kalian berdua. Aku ingin menyingkir sehari dua hari, selama Akuwu berada di Padang Karautan.”

“Akuwu berada di padang ini kira-kira sepuluh hari.”

“Ya. Dihari-hari itu aku ingin berada di pedukuhan Panawijen lama. Aku ingin menghindarkan diri dari setiap kemungkinan yang tidak dapat aku perhitungkan. Baik dari pihak Permaisuri maupun dari pihakku sendiri.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Kecemasan itu memang beralasan. Seseorang yang pernah mengalami goncangan perasaan seperti Kuda Sempana terhadap seorang gadis, kemudian disusul dengan keadaan yang berkembang memburuk, maka kesan itu tidak akan dapat dengan mudah dilupakan oleh kedua belah pihak. Tetapi sejenak ia berdiam diri. Dicobanya untuk merenungkannya, apakah yang sebaiknya dilakukan.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni bertanya, “Kuda Sempana, apakah kau masih meragukan dirimu sendiri? Apabila demikian, maka kau masih belum ikhlas menerima keadaanmu kini. Kalau kau dengan sepenuh hati melupakan apa yang pernah terjadi, dan apa yang pernah menyentuh perasaan dan hatimu, maka aku kira tidak akan timbul persoalan apapun lagi.”

“Aku sudah mencoba, Agni. Tetapi aku adalah seorang yang lemah hati. Perasaanku mudah terombang ambing oleh keadaan. Sedang di sini aku masih mungkin dilemparkan ke dalam suatu keadaan diluar kekendakku. Yang lebih pahit lagi apabila aku dihadapkan pada persoalan yang tidak memberi kesempatan aku memilih di antara beberapa cara penyelesaian, seperti yang baru saja terjadi, sehingga aku tidak akan dapat berbuat lain dari pada itu.”

Mahisa Agni pun sejenak terdiam. Iapun dapat mengerti setelah ia dihadapkan pada suatu contoh yang baru saja terjadi. Apabila hal itu terjadi setelah Akuwu Tunggul Ametung berada di padang ini maka persoalannya pasti akan berkembang terus. Semua rencana akan rusak dan bahkan mungkin ia akan terlibat dalam kemarahan, Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebab.

Sejenak mereka bertiga saling berdiam diri, merenung keadaan yang sebaik-baiknya mereka pilih, supaya mereka tidak terlibat ke dalam suatu keadaan yang lebih sulit.

Sebelum mereka menemukan suatu keputusan, tiba-tiba seseorang datang kepada mereka dengan tergesa-gesa, meloncat-loncat seperti sedang berjalan di atas bara.

Ken Arok mengerutkan keningnya. Dipandanginya sejenak wajah Mahisa Agni yang menegang. Mereka telah menduga bahwa orang itu akan mengabarkan kepada mereka, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah datang.

Sebelum orang itu berkata sesuatu. Ken Arok telah mendahuluinya, “Apakah Akuwu sudah datang?”

Tetapi orang itu menggelengkan kepalanya. “Belum.”

Ken Arok menarik nafas. Namun ia terpaksa bertanya dengan herannya, “Kenapa kau berlari-lari?”

“Empat orang prajurit yang mendahului perjalanan Akuwu lah yang sudah datang.”

“O” sekali lagi Ken Arok mengerutkan keningnya, “baru perambas jalannya yang datang?”

” Ya.”

“Baik. Aku segera datang. Bukankah Kebo Ijo ada di sana?”

“Ya. Sekarang keempat orang itu sedang diterimanya.”

“Baiklah. Kembalilah dan katakanlah, sebentar lagi aku datang.”

Orang itupun segera pergi meninggalkan Ken Arok yang masih termangu-mangu. Sejenak kemudian ia berkata, “Aku harus menemui keempat prajurit itu. Lalu bagaimana dengan kau Kuda Sempana?”

“Seperti yang sudah aku katakan. Kalau kalian mengijinkan, lebih baik aku menyingkir untuk beberapa hari.”

Tanpa sesadarnya Ken Arok berpaling memandangi wajah Mahisa Agni yang ragu-ragu pula.

“Bagaimanakah sebaiknya Agni?” bertanya Ken Arok kemudian.

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Seperti Ken Arok, iapun menjadi ragu-ragu. Mereka berdua harus mempertanggung jawabkan kehadiran Kuda Sempana di tempat itu. Dan Mahisa Agni lah yang merasa telah membawanya.

Keduanya mengerti alasan Kuda Sempana untuk meninggalkan Padang Karautan. Tetapi bagaimanakah jawab mereka, apabila justru Akuwu bertanya tentang anak muda itu?

Dalam keragu-raguan itu Kuda Sempana berkata, “Apakah kalian mencemaskan aku, bahwa aku akan lari dari Panawijen.”

Pertanyaan itu telah mendebarkan dada Mahisa Agni dan Ken Arok. Hampir berbareng mereka menjawab, “Tidak.” Dan Mahisa Agnipun melanjutkannya, “Aku sama sekali tidak dapat mengerti seandainya ada pikiran untuk melarikan diri. Apakah yang akan didapatkannya dipelarian itu. Kegelisahan, kecemasan, ketakutan dan segala macam perasaan yang pahit. Itulah sebabnya aku yakin bahwa kau tidak akan melarikan diri.”

“Lalu pikiran apakah yang memberatimu? Mungkin Akuwu atau Ken Dedes mencari aku untuk menghinakan aku.”

“Kemungkinan itupun terlampau kccil.”

“Tuan Puteri maksudmu?” bertanya Ken Arok.

“O, ya. Maksudku Permaisuri.”

” Tidak.” Ken Arokpun menggeleng, “aku kira mereka tidak akan berbuat demikian. Apalagi setelah Mahisa Agni berada lagi di antara kita.”

“Lalu apa?”

Mahisa Agni menarik nafas. Kemudian katanya, “Kuda Sempana. Orang-orang yang kini masih tinggal di Panawijen, menunggu kemungkinan untuk berpindah tempat bersama-sama, masih belum tahu perkembangan yang terjadi atas dirimu. Jasmaniah apalagi rokhaniah. Karena itu kedatanganmu akan membuat geseran-geseran yang sebenarnya tidak kita kehendaki atas orang-orang itu. Perempuan-perempuan, kanak-anak dan orang-orang tua.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Lalu dihembuskannya nafas panjang-panjang. Perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya sambil berdesah, “Kau benar Agni. Tetapi lalu apakah sebaliknya yang aku lakukan? Apakah aku akan bersembunyi saja di tengah-tengah Padang Karautan, di antara gerumbul-gerumbul perdu.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya “Tidak mungkin. Kalau seseorang dengan tidak sengaja menjumpai kau berada di sana, maka angan-angannya segera akan terbang ke dalam suatu keadaan yang dapat merugikan namamu yang selama ini sedang kau usahakan menjadi bersih kembali.”

Sejenak Kuda Sempana terdiam. Pendapat Mahisa Agni itu dapat dimengertinya. Bahkan mungkin seseorang akan menyangkanya, scpeninggal Kebo Sindet, maka ia telah mewarisi pekerjaannya meskipun tidak sedahsyat iblis dari Kemundungan itu.

Namun untuk tetap tinggal di perkemahan ini, dan kemudian bertemu dengan Ken Dedes dan Akuwu Tungul Ametung, hatinya masih terasa terlampau pedih.

Sementara itu Ken Arok telah menjadi gelisah. Ia harus segera menemui empat orang prajurit yang mendalului perjalanan Akuwu, karena orang-orang itu mungkin membawa pesan-pesan yang harus dilakukannya.

Dalam pada itu, tiba-tiba Mahisa Agni berkata kepada Ken Arok. “Aku kira kita tidak akan berkeberatan seandainya Kuda Sempana pergi ke Panawijen. Kita akan mencari alasan apapun seandainya akuwu bertanya tentang dirinya. Tetapi biarlah seseorang mengawaninya.”

Ken Arok tidak segera menyawab. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dan Kuda Sempana berganti-ganti. Namun dalam pada itu terdengar Kuda Sempana menyahut, “Apakah kau cemaskan bahwa aku benar-benar akan melarikan diri?”

Mahisa Agni menggeleng, “Sudah aku katakan. Hanya orang yang gila yang akan melarikan diri dari keadaan yang kau hayati sekarang. Aku mempunyai pikiran untuk menyuruh satu atau dua orang mengawanimu, supaya kau tidak terasing di padukuan itu. Supaya ada orang yang menjelaskan tentang keadaanmu sekarang.”

Kuda Sempana menundukkan kepalanya, “Maafkan aku. Kalau begitu aku akan sangat berterima kasih.”

“Hal itu memang lebih baik bagimu daripada kau berkeliaran selama sepuluh hari di Padang Karautan tanpa arah dan tujuan. Banyak sekali godaan yang akan berusaha menyeretmu ke dalam keadaan yang tidak kau inginkan sendiri.”

“Aku mengerti.”

“Nah, bagaimana pertimbanganmu Ken Arok?”

” Aku sependapat. Biarlah satu dua orang mengawaninya. Tetapi siapakah orang yang akan mengawaninya? Setiap orang berkeinginan untuk menyambut Akuwu Tunggul Ametung dan ingin ikut bergembira bersamanya setelah mereka bekerja keras sekian lama.”

“Aku dapat menunjuk orangnya atas persetujuan Ki Buyut Panawijen. Orang itu hanya mengantar Kuda Sempana. Kemudian pada hari yang kedua atau ketiga, setelah Kuda Sempana dimengerti keadaannnya oleh orang-orang Panawijen, maka pengantar itu akan segera kembali kepadang ini, untuk bersama-sama bergembira. Ia masih mcmpunyai waktu cukup untuk itu.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terserahlah kepadamu Agni. Aku menyetujui semua yang kau anggap baik. Sekarang aku minta diri untuk menemui empat orang prajurit yang menjadi perambas jalan Akuwu Tunggul Ametung.”

Ken Arok pun segera meninggalkan Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Ia harus segera menemui keempat orang prajurit itu. Mungkin ada sesuatu yang harus segera dikerjakan.

Sepeninggal Ken Arok, maka Kuda Sempana pun segera mempersiapkan dirinya pula. Segera ia menerima pedangnya kembali. Tetapi selama perjalanannya ke Panawijen, Mahisa Agni telah menasehatkan untuk tidak mengenakan pedang di lambungnya. Sebaiknya pedang itu digantungkannya saja pada kudanya, supaya tidak menimbulkan kesan yang mengejutkan pada saat ia memasuki Panawijen. Pedang di lambung akan segera dapat dilihat, sebagai suatu kesiagaan untuk berkelahi. Tetapi pedang yang tergantung di kudanya, tidak segera akan dilihat orang. Mungkin kesannya akan jauh berbeda. Kuda Sempana dengan pedang di lambung dan Kuda Sempana yang tidak bersenjata, meskipun senjata itu sebenarnya dapat dipergunakan apabila perlu.

Sementara Kuda Sempana mempersiapkan dirinya, maka Mahisa Agni telah mendapatkan dua orang atas persetujuan Ki Buyut Panawijen untuk menemani Kuda Sempana pergi.

Dengan demikian, kedatangan Kuda Sempana kepadukuhan Panawijen tidak akan terlampau mengejutkan orang-orang yang masih tinggal di sana.

“Hati-hatilah Kuda Sempana.” pesan Mahisa Agni, “kau harus menuju ke arah yang berlawanan dari arah Akuwu Tunggul Ametung yang akan segera datang. Perambas jalannya telah datang, dan pasti sebentar lagi Akuwu akan menyusul.”

“Ya Agni. Aku akan pergi ke Barat, kemudian berbelok menyusur sungai. Aku kira Akuwu tidak akan menempuh jalan itu Aku kira Akuwu akan datang dari Timur.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemungkinan yang terbesar adalah demikian. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah. Tetapi kau harus selalu mencoba memandang kekejauhan. Kau harus segera menghindar apabila kau kemudian ternyata melihat iring-iringan apapun. Dari kejauhan kau pasti akan sukar membedakan, apakah iring-iringan itu iring-iringan Akuwu Tunggul Ametung.”

“Aku kira aku dapat membedakannya Agni. Akuwu akan datang dengan kebesaran. Panji-panji, tunggul dan rontek-rontek yang dibawanya pasti akan segera dapat aku kenal.”

“Mudah-mudahan upacara kebesaran itu dibawanya lengkap. Nah, sekarang mumpung masih sempat berangkatlah.”

Kuda Sempana dan dua orang yang mengawaninya segera meloncat naik ke atas punggung kuda masing-masing. Tetapi wajah Kuda Sempana segera menjadi tegang ketika tiba-tiba saja Kebo Ijo telah muncul pula dari antara gubug-gubug di perkemahan itu.

“Kemana kau akan lari Kuda Sempana? Agaknya kau telah bersepakat dengan Mahisa Agni, menghindarkan diri dari hukumanku. Apakah orang semacam kau masih pantas diampuni?” Kemudian kepada Mahisa Agni ia berkata, “Akan kau sembunyikan dimana anak itu Agni?”

Wajah Kuda Sempana menjadi tegang. Hampir saja ia meloncat turun dari kudanya. Tetapi dengan herannya ia melihat Mahisa Agni yang seolah-olah acuh tidak acuh saja atas kehadiran Kebo Ijo itu. Bahkan ia berkata, “Hati-hatilah Kuda Sempana. Sampaikan salamku kepada mereka.”

Sejenak Kuda Sempana tidak dapat berkata sepatah katapun. Perhatiannya terbelah antara pesan Mahisa Agni dan sikap Kebo Ijo. Karena itu, maka dipandanginya kedua orang itu berganti-ganti.

“He, Mahisa Agni.” terdengar Kebo Ijo berteriak, “apakah kau tuli, he? Akan kau sembunyikan dimana anak itu? Jangan ikut campur dalam persoalan ini. Meskipun kau yang membawanya kemari, tetapi kau tidak akan aku ikut sertakan menanggung kesalahannya apabila kau tidak campur tangan. Sekarang pergilah. Biarlah aku urus sendiri anak yang sombong dan keras kepala ini. Ken Arok kini sedang berbicara dengan prajurit-prajurit perambas jalan. Setelah aku mendesaknya, ia akhirnya menyerahkan persoalan Kuda Sempana kepadaku disaksikan oleh prajurit-prajurit perambas jalan. Mereka adalah prajurit-prajurit Pengawal istana, bawahan kakang Witantra.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak berpaling. Bahkan katanya, “Kuda Sempana. Mumpung masih sempat, pergilah. Ingat jangan kau turuti saja perasaanmu. Kau harus berusaha mengendalikan dirimu. Sudah banyak kau korbankan perasaanmu untuk menemukan dunia baru. Karena itu, maka jagalah dirimu. Kau memang masih harus banyak berkorban perasaan. Tetapi kau akan berkasil.”

“Agni.” Kebo Ijo berteriak, “apakah kau memang telah bersepakat untuk menentang kekuasaan prajurit Tumapel di Padang Karautan.”

Mahisa Agni masih belum berpaling. Ketika ia melihat Kuda Sempana menggeretakkan giginya, maka ia berkata, “Salah satu dari ujianmu. Sekarang berangkatlah. Cepat. Jangan kau hiraukan Kebo Ijo itu. Ia tidak akan dapat berlari secepat kudamu. Jangan berkecil hati. Kau tidak lari dari padanya. Tetapi kau menghindarkan dirimu dari kesulitan yang tidak perlu.”

Kuda Sempana ragu-ragu sejenak. Dan ia masih mendengar Kebo Ijo berkata lantang, “Apa yang kau katakan itu Agni? Ingat. Apabila Kuda Sempana lari dari Padang Karautan, maka kaulah yang bertanggung jawab. Kaulah yang akan menerima hukuman yang seharusnya dibebankan kepada Kuda Sempana.”

Betapapun Mahisa Agni mencoba menahan dirinya, namun terasa dadanya berdesir pula. Meskipun demikian, ia masih sempat berkata kepada Kuda Sempana, “Cepat. Kau telah mengenal aku. Jangan kau cemaskan aku. Ken Arok telah membenarkan sikapku.”

“Tidak. Ken Arok telah menarik keputusannya.”

“Jangan hiraukan. Cepat pergi.”

“Jangan coba melarikan diri.” teriak Kebo Ijo. Ternyata Kebo Ijo tidak hanya sckedar berteriak-teriak. Ternyata secepat kilat ia telah mencabut pedangnya dan meloncat maju kearah Kuda Sempana. Tetapi tepat pada saatnya Mahisa Agni telah memukul perut kuda itu sehingga kuda yang ditunggangi oleh Kuda Sempana itu meloncat dan berlari.

“Setan.” Kebo Ijo mengumpat. Ia masih mencoba mengejar kuda yang berlari semakin kencang itu, tetapi justru semakin lama menjadi semakin jauh.

Sementara itu Mahisa Agni memberi tanda kepada dua orang yang akan mengawani Kuda Sempana ke Panawijen untuk segera berangkat menyusulnya.

“Hati-hati.” pesan Mahisa Agni, “hindarilah anak yang telah menjadi gila itu. Jangan hiraukan, tetapi jangan sampai tersentuh tangannya anak itu luar biasa.”

Keduanya mengangguk. Mereka segera menggerakkan kekang kudanya dan menyentuh dengan tangannya, sehingga kuda-kuda itupun segera meloncat berlari. Tetapi mereka harus berhati-hati. Mereka melingkar beberapa jauh, supaya Kebo Ijo tidak dapat menahan mereka.

Terdengar Kebo Ijo mengumpat-umpat. Ketika ternyata bahwa langkah kakinya tidak dapat menyusul derap kaki-kaki kuda itu, maka iapun segera berhenti dengan nafas terengah-engah. Bahkan kemudian diacung-acungkannya pedangnya. Tetapi Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin jauh, disusul oleh kedua orang yang akan mengawaninya ke Panawijen.

Sambil menggeretakkan giginya Kebo Ijo berpaling. Darahnya serasa melonjak sampai kekepala ketika ia melihat Mahisa Agni masih berdiri ditempatnya.

“Anak gila itulah yang telah menyebabkan aku kehilangan Kuda Sempana.” Kebo Ijo menggeram. Matanya menjadi merah karena kemarahan dan kekecewaan yang bercampur baur. “Anak itulah yang harus menerima akibatnya.”

Tiba-tiba otak Kebo Ijo menjadi gelap pepat, disaput oleh kemarahan dan kekecewaan. Perlahan-lahan ia berjalan kembali mendekati Mahisa Agni. Pedangnya masih berada di dalam genggamannya setelah diacung-acungkan kepada Kuda Sempana.

Mahisa Agni melihat sikap Kebo Ijo itu dengan hati yang berdebar-debar. Apakah ia harus kehilangan akal dan melayani anak yang bengal itu. Namun tumbuh juga di dalam hatinya, keinginan untuk sedikit memberi peringatan kepadanya. Supaya ia dapat mencoba mengekang dirinya.

Tetapi Mahisa Agni ragu-ragu. Bagaimanapun juga Kebo Ijo adalah seorang pimpinan prajurit Tumapel di Padang Karautan. meskipun ia tidak tahu, kenapa anak itulah yang dikirim oleh Akuwu untuk membantu Ken Arok. Kenapa tidak orang lain. Kehadiran Kebo Ijo pasti hanya akan menambah beban saja bagi Ken Arok, meskipun Kebo Ijo sebenarnya juga seorang pekerja yang rajin. Namun sikapnyalah yang terlampau mengecewakan.

Kebo Ijo yang memegang pedang di tangannya itu semakin lama menjadi semakin dekat. Debar jantung Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin cepat pula. Ia masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Apakah yang sebaik-baiknya dilakukan.

“Aku tidak dapat mengharapkan Ken Arok saat ini.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “ia sedang menerima keempat prajurit itu. Seandainya ia ada di sini, maka aku tidak akan perlu berbuat apa-apa. Semuanya aku serahkan saja kepadanya. Tetapi sekarang aku sendiri di sini.” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sedang Kebo Ijo itupun melangkah semakin lama menjadi semakin dekat, dengan wajah yang tegang dan mata yang menyala.

Debar jantung Mahisa Agni terasa menjadi semakin cepat bergetar. Setiap langkah Kebo Ijo terasa seperti tusukan yang tajam menghujam ke dalam tubuhnya. Betapa keragu-raguan telah mencangkam dadanya.

“Bagaimanapun juga, adalah lebih baik dari pada Kebo Ijo harus berkelahi lagi melawan Kuda Sempana.” desis Mahisa Agni di dalam hatinya. Ketika ia memandang kekejauhan dilihatnya Kuda Sempana sudah hampir hilang di balik cakrawala. Yang tampak adalah bintik-bintik yang kecil bergerak-gerak diantara semak-semak yang liar.

“Mahisa Agni.” sejenak kemudian terdengar Kebo Ijo membentak, “apakah kau tidak tahu, bahwa aku adalah orang kedua di Padang Karautan ini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ditatapnya mata Kebo Ijo yang seolah-olah sedang membara.

“He, apakah kau tuli atau bisu?” teriak Kebo Ijo.

“Jangan membentak-bentak seperti terhadap anak kecil Kebo Ijo.” sahut Mahisa Agni sareh, “marilah kita berbicara sebagai orang-orang yang telah dewasa. Janganlah selalu memanjakan perasaanmu yang meledak-ledak itu.”

“Tutup mulutmu. Aku mempunyai kekuasaan di sini.”

“Aku tahu, tetapi aku tahu juga batas-batas kekuasaanmu.”

“Apa? Kau sangka kekuasaanku terbatas. Aku adalah prajurit Tumapel. Justru aku adalah salah seorang pimpinmu di sini. Kalau Ken Arok tidak ada, maka akulah yang memutuskan semua persoalan.”

“Tetapi sekarang Ken Arok ada. Karena itu, jangan memutuskan persoalan apapun. Serahkanlah kepada Ken Arok.”

” Tidak. Akupun berwenang. Aku mempunyai kekuasaan yang jauh lebih besar dari kau. Kau hanyalah seorang pedukuhan Panawijen. Sedang aku adalah pinipinan prajurit.”

“Apakah bedanya? Seorang pedukuhan dan seorang prajurit? Kita adalah orang-orang Tumapel. Kita adalah isi dari tanah ini dalam sudut yang berbeda-beda. Tetapi kitalah, kita semualah yang wajib memenuhi wadah ini. Salah satu ujudnya adalah bendungan itu. Kita bersama-sama telah membangun sebuah bendungan yang akan memberi manfaat kapada kita semuanya. Apalagi? Kenapa kau masih menyebut perbedaan di antara kita.”

“Tutup mulutmu.” Kebo Ijo membentak, “sekali lagi kau harus mendengar, aku adalah seorang prajurit. Aku dapat berbuat apa saja atasmu, atas orang-orang biasa seperti kau.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Apakah Ken Arok itu bukan seorang prajurit?”

Kebo Ijo terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian iapun bertanya, “Kenapa dengan Ken Arok?”

“Kebo Ijo.” berkata Mahisa Agni yang masih mencoba menahan dirinya, “seharusnya kau bcrcermin kepadanya. Ken Arok adalah orang yang paling berkuasa di dalam kesatuan prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan ini. Tetapi sikapnya jauh berbeda dengan sikapmu. Tetapi aku, aku yang sudah mengenalmu cukup lama, dapat mengerti, bahwa demikianlah tabiat Kebo ijo. Sejak kau belum menyebut dirimu seorang prajurit, kau adalah seorang yang dikuasai oleh perasaanmu yang meledak-ledak itu. Tetapi justru sekarang kau harus merubah sikapmu. Kau sudah semakin dewasa. Hatimu seharusnya sudah menjadi semakin mengendap. Kau harus dapat membedakan, mana yang baik untukmu sendiri dan mana yang buruk. Kau harus dapat juga membedakan, mana yang baik untuk lingkunganmu sebagai seorang prajurit dan mana yang tidak.”

“Persetan dengan sesorahmu.” Kebo Ijo menggeram, “aku telah kehilangan Kuda Sempana. Aku barus mendapatkan gantinya.”

“Kenapa tidak kau kejar saja anak itu.”

“Kau yang gila.”

“Sudahlah. Jangan terlampau mendendam. Lihat, bendungan itu telah selesai dibuat oleh orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel. Akuwu telah memberikan banyak sekali bantuan, selain peralatan dan tenaga. Akuwu telah mengirimkan bahan-bahan makanan, bukan saja untuk para prajurit tetapi juga untuk orang-orang Panawijen. Kesan itu terlampau dalam menghunjam di dalam hati kami. Kami berterima kasih sekali atas semua bantuan itu. Karena itu. Kebo Ijo kau jangan membuat semuanya itu rusak. Kau jangan meruhah kesan yang mendalam di dalan hati kami. Kau seorang akan dapat merusakkan segala macam rasa terima kasih kami, atau setidak-tidaknya mengurangi. Karena itu cobalah mengekang diri.”

“Cukup, cukup. Kau tidak berhak memberikan nasehat itu kepadaku.”

“Bukan aku sendiri yang berpendirian demikian. Kakakmu, seorang prajurit yang bukan saja menjadi pimpinan di Padang Karautan, bahkan seorang perwira pimpinan Pasukan Pengawal Istana seisinya pun berpendirian demikian, supaya kau mencoba mengekang dirimu.”

“Persetan dengan kakang Witantra. Persoalan ini adalah persoalanku dan Kuda Sempana.”

“Sekedar persoalan pribadi?”

Kebo Ijo terdiam sejenak. Tetapi nyala matanya menjadi semakin berkobar, “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli. Tetapi karena kau telah memungkinkan Kuda Sempana pergi, maka kaulah yang akan menerima hukumanku.”

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia masih belum tahu, apakah yang sebaiknya dilakukan. Sebentar lagi Akuwu akan datang. Apakah yang akan dikatakan nanti apabila ia mengetahui perselisihan ini.

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni melayangkan pandangan matanya berkeliling. Ia tidak melihat seorangpun. Agaknya setelah keempat prajurit yang mendahului Akuwu itu datang mereka telah berkumpul di ujung perkemahan ini, untuk melihat Akuwu yang pasti segera akan datang dengan kebesarannya.

“Jangan mencari jalan untuk lari.” bentak Kebo Ijo, “nasibmu agaknya memang terlampau jelek. Kau terlepas dari tangan Kebo Sindet, tetapi kau akan mati di tanganku. Tak akan ada lagi orang yang akan menolongmu. Gurumu pun tidak.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia sendiri menghadapi keadaan yang sama sekali tidak diduganya. Ia berada dalam keadaan tanpa pilihan.

Meskipun demikian Mahisa Agni masih mencoba. “Kebo Ijo. Cobalah, katakan kepadaku. Apakah sebabnya maka kau dan Kuda Sempana bertengkar, bahkan kau telah menyebut-nyebut hukuman mati? Hukuman mati hanya akan diberikan kepada mereka yang sudah melakukan kesalahan yang luar biasa, dan tidak ada harapan lagi untuk diperbaiki. Bahkan Akuwu Tunggul Ametung sudah memaafkan Kuda Sempana. Ki Buyut Panawijen yang seharusnya mendendamnya seperti aku sendiri mendendam, sudah memaafkannya pula. Kenapa tiba-tiba saja kau yang tidak terlibat di dalam persoalan-persoalan sebelumnya, menjatuhkan hukuman mati atasnya? Ketika ia lari, maka akulah yang kau sebut-sebut harus menerima hukuman itu. Aku lah yang kini akan kau bunuh. Cobalah renungkan. Pantaskah aku mendapat hukuman mati, seandainya aku menggantikan kedudukan Kuda Sempana? Apakah perbuatan Kuda Sempana sudah benar-benar melampaui batas?”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu telah berhasil menyentuh hatinya. Dan bahkan ia bertanya pula kepada diri sendiri di dalam dadanya, “Ya, apakah kesalahan Kuda Sempana?”

Sejenak Kebo Ijo terdiam. Mereka terlibat dalam persoalan itu, hanya karena Kebo Ijo tordorong mengatakan persoalan-persoalan yang telah menyinggung perasaan Kuda Sempana.

Tetapi tiba-tiba Kebo Ijo menggeretakkan giginya. Ia tidak ingin dipengaruhi pertanyaan itu. Ia sudah terlanjur dibakar oleh nafsunya untuk berkelahi. Karena itu maka jawabnya, “Aku tidak peduli. Aku sudah menjatuhkan keputusan.”

“Keputusan itu dapat dirubah. Lebih baik kau sendirilah yang merubah, dari pada dirubah oleh orang lain. Oleh Ken Arok misalnya.”

“Tidak. Aku akan melakukannya sebelum Ken Arok datang. Ia sedang menemui prajurit-prajurit itu, sambil menunggu kedatangan Akuwu.”

“Seandainya kau bunuh aku Kebo Ijo. Apakah yang akan kau katakan kepada Akuwu? Aku adalah kakak Permaisuri Akuwu itu.”

Sekali lagi Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Huh, apakah kau hanya berani bernaung di bawah lindungan adikmu itu? Apakah kau bukan seorang laki-laki yang berani bertindak atas namamu sendiri.”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Kita berhadapan sebagai laki-laki.”

“O, akhirnya itulah maksudmu sebenarnya.” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “persoalannya akan berbeda dari seseorang yang akan menjatuhkan hukuman atas suatu kesalahan. Kalau kau akan menghukum seseorang, maka orang itu tidak akan dapat berbuat jantan seperti yang kau maksud. Kalau kesalahan itu meyakinkan, kejantanan seseorang adalah menerima hukuman itu dengan dada tengadah.”

“Persetan. Sudah aku katakan. Hukuman itu memberi kesempatan kepada Kuda Sempana dan kemudian kepadamu untuk melakukan perang tanding melawan aku. Mengerti.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan matanya. Di dalam hati ia mengharap, mudah-mudahan ada seseorang yang melihat peristiwa itu, kemudian melaporkannya kepada Ken Arok. Dengan demikian, maka Ken Arok dapat mengambil tindakan atas Kebo Ijo, sehingga perkelahian yang diinginkan itu tidak usah terjadi. Tetapi agaknya di sekitar tempat itu sudah terlampau sepi.

“Kau masih akan lari?” bentak Kebo Ijo.

“Kalau maksudmu tidak kau urungkan, kau akan mendapat hukuman dari Akuwu.”

“Aku tidak peduli. Aku dapat mengarang sebuah ceritera tentang dirimu.”

“Ken Arok menjadi saksi, apakah yang sedang kau lakukan.”

Kebo Ijo terdiam sejenak. Namun kemudian ia menggeram, “Aku tidak peduli. Kita berkelahi secara jantan.”

“Kalau demikian kita perlu saksi.”

“Persetan. Kau mengulur waktu dengan licik supaya ada orang lain yang melihat, kemudian menyelamatkan kau.”

Tanpa disangka-sangka oleh Kebo Ijo, Mahisa Agni itu mengangguk dan menjawab, “Ya. Kau benar. Aku berusaha mengulur waktu, supaya ada orang yang melihat peristiwa ini, melaporkannya kepada Ken Arok, dan memanggilmu.”

“Licik, kau pengecut. Aku tidak peduli. Aku akan menghitung sampai tiga kali. Aku akan menyerangmu. Melawan atau tidak melawan terserah kepadamu.”

“Kau berpedang. Aku tidak membawa senjata.”

“Aku tidak peduli. Carilah senjata ke gubug-gubug itu, Kau akan menemukan pedang.”

“Baik. Aku akan mencarinya.”

“Tidak. Tidak. Kau pasti akan lari, Tunggu disitu. Aku akan mengambil pedang itu untukmu.”

Kebo Ijo tidak menunggu jawaban Mahisa Agni. Selangkah ia mendekati sebuah gubug tanpa melepaskan pandangan matanya dari Mahisa Agni iang masih berdiri diam dalam kebimbangan. Sebenarnya ia dapat lari saat itu. Tetapi ada sesuatu yang menahannya. Betapapun juga, adalah tidak menyenangkan sekali untuk lari terbirit-birit menghindarkan diri lari perkelahian, meskipun perkelahian itu sama sekali tidak menyenangkannya.

Sejenak kemudian ia melihat Kebo Ijo menyelinap ke dalam sebuah gubug. Kesempatan menjadi semakin banyak baginya untuk lari. Tetapi kakinya seolah-olah menjadi berat, seberat bandul timah. Agaknya kemudaannyalah yang telah menahannya.

Dengan demikian, maka ia masih tetap berdiri ditempatnya dengan penuh kebimbangan ketika Kebo Ijo muncul dari dalam sebuah gubug dengan meninting sebilah pedang. Tetapi pedang itu adalah pedang yang terlampau jelek untuk bertempur melawan pedang Kebo Ijo.

Dengan dada tengadah dilemparkannya pedang itu ke hadapan Mahisa sambii berkata, “Aku akan mulai menghitung. Dengarlah baik-baik. Aku akan menyerang apabila aku sampai pada hitungan ketiga. Melawan atau tidak melawan.”

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Kini kesempatan untuk menghindari perkelaian dengan Kebo Ijo menjadi semakin sempit. Kebo Ijo hanya memberinya waktu tiga hitungan lagi.

Terasa keringat dingin membasahi punggung Mahisa Agni. Ia tahu bahwa tidak bijaksana apabila terjadi benturan antara mereka yang dengan susah payah selama ini telah bekerja bersama-sama demikian eratnya untuk membangun sebuah bendungan yang kini telah jadi. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk menghindar.

Sesaat kemudian Mahisa Agni telah mendengar Kebo Ijo itu berteriak “Satu ….”

Mahisa Agni sudah tidak mempunyai pilihan lain daripada berbuat sesuatu, meskipun akibatnya akan tidak pernah dilupakan oleh Kebo Ijo. Tetapi ia harus melupakan.

Namun sebelum Kebo Ijo menyebut bilangan berikutnya, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dikejauhan. Orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel telah memekikkan kata-kata sambutan atas kedatangan Akuwu Tunggul Ametung. Agaknya mereka telah melihat dikejauhan, tanda-tanda kebesaran Akuwu Tunggul Ametung yang sudah menjadi kian mendekat.

“Dengar,” desis Mahisa Agni, “Akuwu telah datang. Kita tunda persoalan kita sampai lain kali.”

Wajah Kebo Ijo menyadi semakin tegang. Ia belum melihat Mahisa Agni memungut pedang yang dilemparkannya. Namun orang yang keras kepala itu menyahut, “Aku tidak dapat menunda lagi. Cepat, ambil pedang itu. Kalau kau segera mati, maka aku masih akan sempat melempar mayatmu ke sungai.”

Mahisa Agni kini telah benar-benar menjadi gelisah Ia ingin melihat Akuwu itu mendekati perkemahan. Tetapi agaknya Kebo Ijo telah benar-benar menjadi gila.

“Dua.” tiba-tiba Kebo Ijo berteriak. bersamaan dengan itu, ia telah benar-benar bersiaga. Agaknya ia tidak akan bermain-main lagi. Ia benar-benar akan melakukan apa yang dikatakannya. Membunuh didalam kegilaannya itu.

Akhirnya Mahisa Agni tidak mempunyai pilihan lain. Justru tepat pada saat Akuwu datang.

“Aku harus mempercepat penyelesaiannya.” katanya di dalam hati. “Mudah-mudahan tidak meninggalkan bekas apapun, selain di hati Kebo Ijo.”

Mahisa Agni kemudian tidak mempunyai pilihan lain dari pada menunggu serangan Kebo Ijo yang bakal datang. Sesaat lagi, apabila ia telah menyebutkan bilangan yang ketiga.

Sekejap kemudian bibir Kebo Ijo mulai bergerak. Maka meluncurlah kata-katanya, mengucapkan bilangan yang ketiga.

Tepat pada saat itu pulalah Kebo Ijo meloncat dengan garangnya seperti hunga api yang meloncat diantara awan yang hitam. Tepat sekali. Hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pedangnya terjulur lurus kedepan mengarah langsung ke jantung Mahisa Agni. Seandainya lawannya tidak segera menanggapi keadaan maka ia pasti akan tersobek dadanya pada tusukan yang pertama.

Kebo Ijo yang sudah bermata gelap itu tidak melihat Mahisa Agni memungut pedang yang dilemparkannya. Bahkan ia tidak melihat anak muda itu sempat menghindarkan diri. Sehingga dengan demikian, maka genggaman pedangnya menjadi semakin erat. Apabila ujung pedang itu menghunjam ke dalam dada, di sela-sela tulang rusuk lawannya, maka pedang itu harus langsung menghunjam ke arah jantung.

Tetapi yang terjadi benar-benar tidak terduga, sehingga terasa darah Kebo Ijo seolah-olah membeku. Betapa terkejut anak muda itu, ketika terasa pedangnya seolah-olah membentur dinding baja. Tetapi sejenak kemudian, ia tidak dapat melihat dengan jelas. Semuanya menjadi kabur. Yang tampak olehnya hanyalah bayangan yang seakan-akan bergeser, kemudian menggeliat dan meluncur ke samping. Sebuah sentuhan telah mengenai punggungnya. Sentuhan itu tidak terlampau keras, namun sentuhan itu seolah-olah membuat tubuhnya menjadi tidak berdaya sama sekali, sehingga hampir di luar sadarnya, ia terdorong beberapa langkah dan terbanting jatuh di tanah.

Kebo Ijo masih berusaha cepat-cepat untuk bangkit. Tetapi ketika kedua tangannya menahan tanah, maka seolah-olah kedua tangannya itu sudah tidak bertenaga sama sekali, sehingga sekali lagi ia jatuh terjerembab.

Kebo Ijo menggeram. Yang dapat dilakukan adalah berguling perlahan-lahan. Ketika ia sudah menengadah, maka pandangan matanya yang kabur, semakin lama menjadi semakin terang.

Yang pertama-tama dilihatnya berdiri disampingnya adalah Mahisa Agni. Ditangannya tergenggam sebilah pedang. Sama sekali bukan pedang yang telah dilemparkannya kepadanya, tetapi padang itu adalah pedangnya.

Dengan gerak naluriah, Kebo Ijo berusaha untuk bangkit sambil menggeretakkan giginya. Tetapi untuk kesekian kalinya ia terjatuh dan terbaring lagi di atas tanah yang lembab.

“Jangan mencoba untuk bangkit.” berkata Mahisa Agni, “tidak akan ada gunanya. Sebaiknya kau berbaring saja di situ. Akuwu pasti akan bersedia menengokmu.”

“Persetan.” teriak Kebo Ijo.

“Jangan menyesal.” sahut Mahisa Agni. “Dengar, suara sorak yang serasa akan meruntuhkan langit itu adalah pertanda bahwa Akuwu Tunggul Ametung sudah datang. Terserah kepadamu, apakah kau akan menyambut atau kau ingin berbaring di situ saja sampai Akuwu datang dan menanyakan kau. Apabila demikian, maka kau akan segera mendapat pertolongan.”

“Tutup mulutmu. Tutup mulutmu. Kau curang. Apabila kau benar-benar jantan berikanlah pedangku.”

“He?” Mahisa Agni menjadi heran, “aku bukan pelayanmu. Ambilah sendiri.”

“Persetan.” Kebo Ijo mengumpat-umpat. Tetapi ia masih belum dapat bangkit. Ia masih berbaring di atas tanah sambil mengumpat tidak habis-habisnya. Segala macam usaha telah di lakukannya, tetapi ia tidak dapat membebaskan diri dari keadaan karena sentuhan tangan Mahisa Agni.

Mahisa Agni pun masih berdiri ditempatnya. Sorak para prajurit dan orang-orang Tumapel menjadi semakin riuh. Agaknya Akuwu dan rombongannya telah menjadi semakin dekat.

“Kebo ijo.” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah kau mendengar sorak yang ramai itu? Dan apakah kau tahu apakah artinya?”

” Tutup mulutmu.” Kebo Ijo membentak, “kalau kau jantan, berikan pedang itu,”

“Apakah kau memerlukannya?”

“Aku tetap pada pendirianku. Aku harus membunuhmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Di kejauhan sorak yang semakin keras selalu menyentuh telinganya. Sehingga dengan demikian ia menjadi termangu-mangu. Namun ia masih ingin mencoba untuk menjinakkan Kebo Ijo. Karena itu, maka selangkah ia maju. Diserahkannya pedang Kebo Ijo kepadanya sambil berkata, “Ini pedangmu.”

Dengan serta merta Kebo Ijo ingin merebut pedang itu dari tangan Mahisa Agni. Tetapi tangannya serasa tidak mungkin digerakkannya lagi. Betapa ia berusaha, namun tangan itu hanya terangkat perlahan-lahan sekali. Meskipun demikian Kebo Ijo itu masih juga berusaha menerima pedangnya, Tetapi demikian tangannya menggenggam pedang, maka tangan itupun terkulai dengan lemahnya. Pedang yang setiap hari disandangnya, yang setiap kali ditimang-timangnya itu, kini beratnya seratus kali lipat.

“Apakah kau akan mempergunakan pedangmu?” bertanya Mahisa Agni.

“Pengecut yang licik. Kau tidak berkelahi secara jantan. Kau membuat aku setengah lumpuh, karena kau takut berhadapan sebagai laki-laki.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia menjadi semakin bingung. Ternyata Kebo Ijo itu sama sekali tidak menjadi lunak, bahkan sebaliknya ia menjadi semakin liar.

“Apakah aku akan mempergunakan cara lain.” desisnya di dalam hati, “agaknya Akuwu sudah menjadi semakin dekat.”

Tetapi Mahisa Agni tidak mempunyai cara yang lebih baik. Menurut perhitungannya, orang-orang Panawijen dan para prajurit itu baru melibat umbul-umbul dan tanda-tanda kebesarannya di kejauhan. Jarak itu masih akan ditempuhnya dalam waktu yang cukup lama. Apalagi kedatargan mereka bersama Ken Dedes, yang pasti naik sebuah tandu yang dipikul oleh beberapa orang. Perjalanan yang demikian tentu akan terlalu lambat.

Karena itu, maka menurut perhitungan Mahisa Agni, ia masih mempunyai sedikit waktu untuk mempergunakan cara lain dalam usahanya untuk menundukkan Kebo Ijo.

Ketika Kebo Ijo masih saja mengumpat-umpatinya, maka Mahisa Agni itupun segera berjongkok disampingnya. Dengan sebuah sentuhan tangan, Mahisa Agni telah memberikan sedikit kemungkinan bagi Kebo Ijo untuk bergerak. Tetapi Mahisa Agni berbuat lebih dari pada itu. Diurutnya punggung Kebo Ijo beberapa kali. Maka sesaat kemudian maka Kebo Ijo itupun segera meloncat dengan garangnya sambil memutar pedangnya.

“Kau benar-benar bodoh Agni.” Desisnya, “aku tidak akan dapat berbuat lengah untuk kedua kalinya. Sekarang, sampailah saatnya kau berkubur di Padang Karautan, di samping bendungan yang kau impi-impikan itu. Tetapi kau untuk seterusnya tidak akan melihat betapa airnya mengalir ke parit-parit dan tanah persawahan.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi dengan acuh tidak acuh ia memandang pedang yang dilemparkan Kebo Ijo kepadanya.

“Cepat ambil.” teriak Kebo Ijo.

Mahisa Agni pun segera memungut pedang itu. Tetapi Kebo Ijo menjadi terkejut, ketika ia melihat Mahisa Agni justru mematahkan pedang itu menjadi beberapa potong. Ya, beberapa potong hanya dengan tangannya.

“Gila.” ia menggeram. Namun ia sama sekali tidak mau mempertimbangkan lagi perbuatannya. Justru dengan demikian hatinya menjadi semakin terbakar. Dengan serta merta ia meloncat menyerang Mahisa Agni dengan sepenuh tenaga.

Mahisa Agni memang mengharap Kebo Ijo menjadi semakin marah dan menyerangnya. Semakin cepat semakin baik, karena sorak-sorai di kejauhan itu pun semakin menggetarkan udara.

Kesempatan yang datang itu pun dipergunakannya sebaik-baiknya. Kali ini ia tidak ingin melumpuhkan Kebo Ijo. Tetapi ia sengaja mempergunakan cara yang lain, yang agak lebih kasar.

Pada saat pedang Kebo Ijo meluncur mengarah kejantungnya, maka Mahisa Agni pun dengan lincahnya menghindar. Tetapi ia tidak hanya menghindar saja. Dengan kecepatan yang melampaui kecepatan bergerak Kebo Ijo. Mahisa Agni pun menyerangnya pula dengan tangannya. Sebuah pukulan yang keras meskipun hanya sebagian saja dari tenaganya yang dipergunakan, telah mengenai pelipis Kebo Ijo sehingga ia ter-huyung-huyung beberapa langkah surut. Tetapi Mahisa Agni yang mempunyai kemampuan jauh di atas kemampuan Kebo Ijo itu tidak membiarkannya. Sekali lagi ia meloncat maju, dan sekali lagi Kebo Ijo tidak sempat menghindarkan dirinya. Tinju Mahisa Agni telah menyentuh keningnya yang berkeringat.

Pukulan itu telah mendorong Kebo Ijo beberapa langkah. Dengan susah payah ia mencoba mempertahankan keseimbangannya. Tetapi yang terjadi adalah di luar kemungkinan yang dapat dilakukan. Tangan kiri Mahisa Agni ternyata telah mengenai dagunya. Ketika kepalanya tertengadah, maka perutnya serasa akan meledak. Sebuah tinju yang keras telah membuatnya hampir muntah.

Dalam keadaan yang demikian, ia masih merasakan beberapa pukulan Mahisa Agni mengenai pundak, dada dan lambungnya. Kemudian kaki Mahisa Agni telah melemparkannya dan membantingnya jatuh terjerembab.

Betapa sakitnya seluruh tubuh Kebo Ijo itu. Rasanya tulang-tulangnya menjadi remuk dan patah-patah. Hanya dalam waktu yang terlampau singkat, ia sudah hampir kehilangan kemampuan untuk berbuat sesuatu. Meskipun seperti pada saat ia dilumpuhkan, sehingga sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu, namun kali ini keadaan itu disertai dengan perasaan sakit yang luar biasa.

Sejenak kemudian Kebo Ijo masih saja berbaring di atas tanah. Sekali-sekali mulutnya menyeringai menahan sakit yang serasa menyengat-nyengat seluruh kulitnya. Dibeberapa bagian tubuhnya terdapat noda-noda merah kebiru-biruan. Dan di beberapa tempat yang lain, kulitnya seperti terbakar.

Mahisa Agni melihat Kebo Ijo menjadi kesakitan. Meskipun tidak ada luka-luka yang berbahaya, namun rasanya Kebo Ijo sudah tidak akan dapat melawannya lagi.

Namun Mahisa Agni masih ingin membuat Kebo Ijo jera sama sekali. Karena itu, maka Mahisa Agnipun segera berdiri didekatnya sambil bertolak pinggang.

“Bangkitlah.” berkata Marisa Agni, “ambil pedangmu yang terlepas itu.”

Kebo Ijo tidak segera menjawab. Tetapi matanya menyorotkan dendam yang menyala di dalam dadanya.

“Aku melihat kebencian di wajahmu. Marilah kita selesaikan persoalan kita sampai tuntas.” desak Mahisa Agni.

Tetapi Kebo Ijo tidak segera menjawab.

“Kenapa kau diam saja?” bertanya Mahisa Agni, “bukankah kau yang ingin kita berkelahi. Kau memberi kesempatan kepadaku, seperti yang kau sebutkan sendiri bahwa hukuman yang harus aku jalani adalah berkelahi melawan kau. Sekarang, kenapa kau berhenti?”

Kebo Ijo masih diam membeku.

Sementara itu dikejauhan sorak sorak para prajurit Tumapel dan rakyat Panawijen menjadi semakin keras.

“Akuwu telah menjadi semakin dekat. Terserah kepadamu, apakah kau akan tetap berbaring di situ, atau kau akan ikut serta menyambut kedatangannya.”

Mahisa Agni kemudian tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Menurut dugaannya, maka Akuwu pasti sudah menjadi semakin dekat. Karena itu, maka segera ia melangkah dengan tergesa-gesa meninggalkan Kebo Ijo yang masih berbaring. Ia mengharap bahwa Kebo Ijo itu nanti akan bangkit dengan sendirinya, karena ia tidak menyentuh bagian-bagian yang dapat menghentikan kerja beberapa jalur urat. Yang terjadi hanyalah sekedar benturan lahiriah. Pukulan-pukulan yang tidak dilambari oleh kekuatan lain dari pada kekuatan Mahisa Agni sehari-hari meskipun dengan demikian Kebo Ijo telah menjadi merah biru.

Ternyata perhitungan Mahisa Agni itu tidak meleset. Sesaat kemudian Kebo Ijo itu pun merangkak-rangkak sambal menahan sakit. Baru kemudian ia berhasil berdiri sambil menekankan tangannya pada kedua sisi lambungnya. Punggungnya serasa patah, dan pelipisnya menjadi nyeri.

“Setan.” ia mengumpat. Tetapi sejalan itu tumbuhlah keheranannya atas kemampuan Mahisa Agni itu. Hampir tanpa dapat membalas ia telah dihujani dengan pukulan yang bertubi-tubi. Gerak Kebo Ijo seolah-olah tidak mencerminkan seorang yang telah berguru bertahun-tahun lamanya. Ia harus menelan begitu saja setiap pukulan yang datang seperti banjir, terus menerus, tanpa dapat dihindarinya.

“Dari mana anak setan itu mempelajari ilmu yang gila itu.” berkata Kebo Ijo di dalam hatinya, “terakhir aku melihat dalam kemampuannya berkelahi, aku sama sekali tidak mengaguminya. Aku tidak melihat perubahan-perubahan yang tampaknya dapat berkembang. Tetapi tahu-tahu kini aku berhadapan dengan hantu yang aneh.”

Kebo Ijo itu tersadar ketika ia mendengar sorak yang bergemuruh semakin keras. Perlahan-lahan ia melangkah dengan ragu-ragu. Dikibaskannya pakaiannya yang kotor dan tidak teratur. Kemudian dicobanya untuk membenahinya.

“Setan itu telah mengotori pakaianku.” desisnya, “tetapi aku tidak akan sempat berganti pakaian selengkapnya.”

Kebo Ijo itupun kemudian tertatih-tatih pergi ke gubugnya. Diusapinya tubuhnya yang kotor dengan kainnya yang kotor pula, kemudian dengan tergesa-gesa menggantinya dengan yang bersih. Dengan tergesa-gesa pula ia berlari keluar. Ia ingin melihat Akuwu itu datang, Tetapi sekali lagi ia mengumpat, “Pedangku ketinggalan.”

Kini ia berlari-lari kecil mengambil pedangnya. Kemudian langsung pergi ke ujung perkemahan itu tetapi ia tidak segera mendekati Ken Arok yang kini telah dikawani pula pula oleh Mahisa Agni selain Ki Buyut Panawijen dan keempat prajurit perambas jalan.

Ternyata Akuwu masih belum sampai keujung perkemahan itu meskipun tidak begitu jauh lagi. Umbul-umbul, rontek dan tunggul-tunggul telah tampak semakin jelas. Di dalam padang yang terbuka, maka iring-iringan itu tampak hampir selengkapnya. Sebuah tandu yang diangkat oleh beberapa orang. Tandu yang ditumpangi oleh Ken Dedes. Kemudian sepasukan pengawal yang dipimpin oleh Witantra sendiri. Sepasukan prajurit dan beberapa macam perbekalan lainnya.

Ken Arok, Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen beserta keempat orang prajurit Tumapel itu pun telah bersiap untuk menyongsongnya. Ken Arok sekali-sekali masih berpaling. Ia masih mencari Kebo Ijo untuk bersama-sama menyongsong kedatangan Akuwu Tunggul Ametung itu.

Ketika terlihat olehnya Kebo Ijo berdiri termangu-mangu, maka dilambaikannya tangannya, memberi isyarat, agar Kebo Ijo itu mendekat.

Dengan segan Kebo Ijo melangkah maju. Meskipun Ken Arok telah mendengar apa yang telah terjadi dari Mahisa Agni, tetapi ia sama sekali tidak bertanya apapun kepadanya. Ketika Kebo Ijo telah berada di sampinginya sambil bersunguh-sunguh, terdengar Ken Arok itu berkata, “kita menyongsongnya.”

Kebo Ijo tidak menjawab. Tetapi ia ikut melangkah di antara beberapa orang yang berjalan langsung menyongsong kedatangan Akuwu Tunggul Ametung.

Iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Akuwu benar-benar datang dengan segala kebesarannya sebagai seorang Akuwu yang besar.

Sorak sorai yang gemuruh terdengar menjadi semakin keras. Para prajurit Tumapel dan orang-orang Panawijen pun kemudian maju menyongsong iring-iringan itu di belakang Ken Arok, berdesak-desakkan. Ada di antara mereka yang hanya ingin sekedar melihat Ken Dedes sekarang, setelah menjadi seorang Permaisuri. Tetapi ada pula yang benar-benar melimpahkan perasaan terima kasihnya kepada Akuwu Tunggul Ametung yang telah membantu orang-orang Panawijen menyelesaikan bendungan yang akan dapat memberi harapan dimasa mendatang. Bahkan Akuwu telah ikut menanganinya sendiri, pada saat bendungan itu dihantam oleh banjir yang pertama.

Akuwu yang berkuda di depan tandu yang dihiasi dengan berbagai macam perhiasan, merasa bangga pula atas sambutan itu. Ia dapat menunjukkan kepada Permaisurinya, betapa rakyatnya mencintainya dengan sepenuh hati.

Ken Arok, Mahisa Agni, Ki Buyut Panawijen dan Kebo Ijo beserta keempat prajurit yang mendahului perjalanan Akuwu itu kemudian berdiri berjajar. Mereka berdiri tegak seperti patung ketika beberapa prajurit pengawal yang berada didepan Akuwu Tunggul Ametung lewat di atas punggung kuda dengan membawa beberapa macam tanda-tanda rontek, tunggul dan perisai kebesaran. Kemudian dibelakang mereka beberapa langkah adalah Akuwu Tunggul Ametung sendiri. Dan dibelakang Akuwu itulah duduk Permaisurinya, Ken Dedes di dalam tandu yang bertirai sehelai kain yang tipis.

Ken Arok dan kawan-kawannya segera membungkukkan badannya ketika Akuwu sampai di depan mereka. Dengan tangannya Akuwu memberi isyarat agar para prajurit yang berada di depannya berhenti sejenak.

“Hamba menyampaikan selamat atas kedatangan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.” berkata Ken Arok kemudian dengan hormatnya, “kami, para prajurit Tumapel di Padang Karautan dan rakyat Panawijen telah siap menyambut kedatangan Tuanku. Kami akan menerima segala titah tuanku bagi kami.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilayangkannya pandangan matanya beredar di antara para prajurit Tumapel dan rakyat Panawijen yang kini justru terdiam.

“Hendaknya kalian mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.” berkata Akuwu itu kemudian kepada para prajurit dan rakyat Panawijen, “dijauhkanlah kalian dari bencana dan bahaya. Diberikannya kebijaksanaan dan kecakapan pada pimpinan kalian. Selamatlah kalian menyambut kedatangan kami.”

Sorak yang membabana serasa akan membelah langit. Gemuruh seperti guruh yang bersabung di langit.

Akuwu Tunggul Ametung tersenyum melihat sambutan itu. Kemudian kepada Ken Arok ia berkata, “Aku dan Permaisuriku akan melihat bendungan itu. Kami akan lewat di sampingnya, kemudian langsung pergi ke taman.”

“Semua persiapan telah selesai untuk menyambut kedatangan Tuanku beserta Tuan Puteri. Semuanya telah tersedia.” sahut Ken Arok. Tetapi ia bertanya, “Namun apakah Tuanku akan pergi ke bendungan langsung saat ini juga? Apakah Tuanku tidak pergi ke pesanggrahan yang telah kami siapkan? baru nanti atau besok Tuanku pergi ke bendungan itu.”

Akuwu Tunggul Ametung menggelengkan kepalanya, katanya, “Permaisuriku ingin segera melihat bendungan itu. Karena itu, kita sekarang akan lewat di dekat dibendungan. Hanya lewat, lalu langsung menuju ke pesanggrahan di dekat taman yang telah kalian siapkan.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada Kebo Ijo ia berkata, “Kau akan menjadi penuntun jalan. Pergilah di depan bersama para prajuit berkuda itu.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengangguk dan menjawab, “Baik. Akan aku lakukan.”

Kebo Ijo pun segera berjalan mendahului, dan langung berada di depan prajurit-prajurit berkuda. Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun berjalan pula perlahan-lahan di belakang derap kaki Kebo Ijo. Kebo Ijo yang berjalan di paling depan itu memang mempunyai sikap seorang prajurit. Ia berjalan dengan tegapnya, meskipun hatinya mengumpat-umpat. Kadang-kadang tanpa sesadarnya diamatinya ujung celananya yang kotor. Didalam rati ia bergumam, “Untunglah aku sudah berganti meskipun hanya kain panjangku. Kalau tidak, aku akan malu sekali. Kali ini pun agaknya Ken Arok benar-benar ingin membuat aku kehilangan akal. Hem, apakah punggungku masih juga kotor.”

Meskipun langkah Kebo Ijo cukup tegap, namun ia sendiri selalu dibayang-bayangi oleh keragu-raguan. Seolah-olah setiap mata memandang kepadanya. Kepada tubuhnya yang kotor dan noda-noda kebiru-biruan di beberapa tempat. Sedang tulang-tulangnya masih saja terasa nyeri-nyeri dan kepalanya masih agak pening.

“Mahisa Agni memang anak setan.” geramnya. Tetapi ia harus berjalan terus. Di belakangnya beberapa ekor kuda mengikutinya. Kemudian Akuwu Tunggul Ametung di atas punggung kudanya didampingi oleh Ken Arok dan Mahisa Agni Dibelakang mereka berjalan Ki Buyut Panawijen didepan tandu Permaisuri yang ditabiri oleh tirai tipis. Baru di belakang tandu itulah para prajurit pengawal berkuda berderap dengan gagahnya di bawah pimpinan langsung pemimpinnya, Witantra yang berada diluar barisan.

Para prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan dan rakyat Panawijen segera mengikuti iring-iringan itu pula, sehingga iring-iringan itu menjadi semakin panjang. Seperti seekor ular raksasa yang merayap perlahan-lahan di padang rumput yang luas.

Perlahan-lahan iring-iringan itu maju mengikuti langkah kaki Kebo Ijo. Semakin lama menjadi semakin mendekati bendungan yang telah mengangkat air ke dalam susukan induk. Gemericik airnya telah mulai terdengar lamat-lamat, dan wajah air yang, tenang di atas bendungan itupun telah tampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.

Kebo Ijo telah mengetahui, apakah yang harus dilakukannya. Ia harus membawa iring-iringan itu sekedar lewat di pinggir sungai, berputar lewat jalan yang telah dibuat di pinggir susukan induk, pergi ke taman yang telah disiapkan pula untuk menerima kedatangan Akuwu Tunggul Ametung.

Bendungan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Beberapa saat kemudian Kebo Ijo telah menginjakkan kakinya di atas tanah berpasir. Ketika ia berpaling dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung memperlambat kudanya dan kemudian berjalan di samping tandu Permaisurinya.

“Itulah bendungan itu.” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “air telah naik dan masuk ke dalam susukan induk itu mengalir membelah Padang Karautan dan pada ujungnya terdapat sebuah sendang buatan di dalam sebuah taman.”

Kebo Ijopun kemudian berhenti pula. Agaknya Permaisuri akan memerlukan melihat bendungan itu. Tetapi meskipun tandu itu berhenti, namun tandu itu tidak diletakkan di tanah. Ternyata Permaisuri tidak akan turun. Ia hanya akan melihat bendungan itu sekilas.

Ken Arok, Mahisa Agni, Ki Buyut dan prajurit-prajurit yang lainnya berhenti pula di dekat bendungan itu. Perlahan-lahan tirai yang tipis itu tersingkap. Namun Ken Dedes tidak menjengukkan kepalanya. Ia hanya memandangi bendungan itu dari dalam tandu.

Seorang perempuan tua yang berada di dalam tandu itu pula, memandangi bendungan itu seperti juga Ken Dedes. Tanpa berkedip. Sebuah kebanggaan memercik di dalam dadanya. Namun Permaisuri itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

Ken Arok yang berada di sisi tandu itu tidak dapat menangkap kesan Permaisuri itu sama sekali. Ia tidak dapat melihat wajah Permaisuri itu dengan jelas, karena tirai yang tipis itu. Tirai itu hanya tersingkap sedikit di samping yang mengarah kebendungan.

“Mudah-mudahan bendungan itu memberinya kepuasan.” desis Ken Arok di dalam hatinya, “apalagi taman itu. Selagi masih gadis, Permaisuri itu adalah anak Panawijen, Sudah tentu ia tidak dapat melepaskan diri dari tempat ia dilahirkan.”

Sejenak kemudian tirai itu tertutup kembali, Akuwu yang berada di punggung kudanya di depan tandu itu kemudian memberi isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk meneruskan perjalanan. Kebo Ijo pun menangkap isyarat itu pula. Dan mulailah kakinya berderap di depan pasukan berkuda yang mendahului Akuwu, dengan membawa beberapa jenis tanda kebesaran.

Kini Akuwu tidak lagi berada di depan tandu Permaisurinya, tetapi ia berada beberapa langkah di sampingnya. Terdengar Akuwu berbicara perlahan-lahan dengan Permaisurinya. Dalam pembicaraan yang tidak jelas itu, Ken Arok dan Mahisa Agni baru mendapat kesan, bahwa Permaisuri itu menjadi kagum dan bangga, bahwa akhirnya bendungan itu dapat terwujud. Bendungan yang dapat memberikan tanah garapan yang baru bagi orang-orang Panawijen.

Sementara itu iring-iringan itu menjalar terus menyusur jalan di sepanjang susukan induk, Setiap kali Ken Dedes menyingkapkan tirai yang tipis itu untuk melihat-lihat, dedaunan yang mulai menghijau. Pepohonan yang sudah bertambah besar. Tanah persawahan yang ditumbuhi oleh bibit-bibit yang sudah semakin berkembang. Hijau dalam siraman sinar matahari. Pantulan titik-titik air yarg memeriyik di susukan induk, membuat loncatan-loncatan bintik-bintik yang berkeredipan menyambut kedatangan Permaisuri Tumapel.

Sekali-sekali Permaisuri itu berbicara perlahan-lahan dengan emban tua yang berada di dalam tandu itu pula. Namun hanya sepatah-sepatah, kemudian mereka terdiam lagi.

Kebo Ijo berjalan terus dengan tegapnya di depan iring-iringan yang panjang itu. Para prajurit Tumapel dan orang-orang Panawijen mengikuti pula di belakang mereka. Kini perhatian mereka tertuju kepada Permaisuri yang masih berada di belakang tirai itu. Mereka telah dirangsang oleh suatu keinginan untuk dapat melihat wajahnya. Apalagi orang-orang Panawijen, yang melihat Ken Dedes di masa kanak-anak, berlari-larian antara gadis-gadis desa sebayanya. Bermain jirak dan dakon. Mencuci di bendungan yang kini telah pecah. Gadis itu bermain nini lowok pula di malam-malam purnama. Melagukan tembang yang riang.

Sampai pada suatu ketika gadis itu telah ditimpa oleh malapetaka. Tetapi malapetaka itu ternyata telah mengantarkannya masuk ke dalam istana Akuwu Tunggul Ametung, sehingga kini ia kembali ke padukuhannya dalam kelengkapan dan kebesaran seorang Permaisuri.

Tetapi Permaisuri itu masih berada di dalam tirai yang tipis. Mereka hanya dapat melihat sebuah bayangan yang bergerak-gerak di dalam tandu itu, tetapi mereka tidak dapat melihat dengan jelas. Betapa wajah bunga di sebelah Timur Gunung Kawi itu akan menjadi semakin cemerlang, dengan hiasan Mahkota seorang Permaisuri.

Perlahan iring-iringan itu maju terus mendekati taman buatan yang telah dikerjakan oleh Ken Arok. Didalam pesanggrahan di samping taman itu, beberapa orang telah sibuk sejak malam tali. Apalagi juru masak. Mereka sibuk mempersiapkan hidangan tidak saja bagi Akuwu Tunggul Ametung, tetapi juga bagi setiap prajurit pengawalnya, dan bahkan bagi setiap orang yang berada di dalam iring-iringan itu, sehingga hampir semua juru masak di Tumapel dikerahkan, dan bahkan juru masak prajurit-prajurit Tumapel dan orang-orang Pawijen yang telah berada di Padang Karautan. Sehingga dengan demikiau, maka di belakang pesanggrahan itu, terdapat bangunan yang cukup besar untuk menyediakan makanan di samping dapur khusus untuk menyediakan makan bagi Akuwu dan Permaisurinya dengan juru-juru masak yang terpilih.

Perjalanan itu sendiri, ternyata telah memberikan kesan yang mendalam di hati Ken Dedes. Perasaan bangga dan baru telah bergelut di dalam dadanya. Ia melihat kehijauan yang segar di daerah baru ini, setelah pedukuharnya yang lama dibakar oleh kekeringan yang parah.

Kebo Ijo akhirnya telah melangkah masuk ke dalam pintu gerbang taman yang terbuka. Dua orang prajurit bersenjata tombak berdiri sebelah menyebelah. Sejenak kemudian, maka ujung iring-iringan itu pun telah memasuki taman itu pula, langsung menuju ke pinggir sendang, yang sengaja dipersiapkan untuk menerima kedatangan Akuwu dan Permaisuri. Karena itu, ketika mereka berhenti, tandu itupun perlahan-lahan diletakkannya di atas tanah. Permaisuri Ken Dedes tidak akan tetap berada didalamnya, tetapi kali ini ia akan turun, menyaksikan taman yang dibuat untuknya.

Akuwu Tunggul Ametung pun telah turun pula dari kudanya. Seorang prajurit menerima kuda itu dan menuntunnya menjauh. Perlahan-lahan Akuwu melangkah mendekati tanda Permaisurinya untuk menolongnya melangkah keluar.

Para pemimpin pengawal, Ken Arok, Mahisa Agni, Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang lain, berdiri tegak berderet-deret di muka tandu Permaisuri itu untuk memberi hormat kepadanya.

Perlahan-lahan tirai tandu itupun tersingkap. Dan perlahan-lahan Pemaisuri itu beringsut menepi. Sejenak kemudian dilayangkannya pandangan matanya atas mereka yang berdiri berjajar menyambutnya.

Mata Permaisuri yang bcrkilat-kilat itu seperti sinar permata yang paling kemilau menyambar setiap wajah. Ketika sorot mata itu menyentuh wajah pemimpin prajurit Tumapel di Padang Karautan yang telah menyelesaikan tugasnya, membuat taman itu untuknya, maka serasa sebuah getaran melonjak di dalam dadanya. Ia melihat sesuatu yang lain pada wajah itu. Tetapi ia tidak dapat segera mengetahui, apakah yang di anggapnya berbeda dengan wajah-wajah yang lain. Namun getar di dalam dadanya telah mengguncangkan seluruh urat darahnya. Jantungnya tiba-tiba terasa berdebaran dan wajahnya menjadi panas. Dengan sekuat tenaga Permaisuri itu mencoba menahan dirinya untuk tidak menumbuhkan kesan apapun di wajahnya. Namun dengan demikian, Permaisuri sudah memusatkan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya untuk melawan keadaan yang tiba-tiba saja dihadapinya.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [248]