Pelangi di Langit Singasari [ 42 ]

291

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 42 ]

 

DAN debar jantung Ken Arok itu pun semakin lama menjadi semakin keras, sekali-kali ia berpaling, memandangi wajah-wajah yang terheran-heran pula. Wajah-wajah Mahisa Agni dan Witantra. Tetapi wajah-wajah itu tidak setegang wajahnya. Dan wajah-wajah itu tidak diembuni oleh keringat yang dingin.

Ketika prajurit yang memanggil mereka itu masuk kedalam pesanggrahan untuk memberitahukan kehadiran mereka, maka terdengar Witantra berbisik, “Kalau benar kata prajurit itu, maka pasti terjadi sesuatu yang kurang wajar”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Sebenarnya memang telah terjadi sesuatu menurut pengamatanku. Tetapi aku tidak tahu, sebab apakah sebenarnya”.

“Apakah yang sudah terjadi itu?” suara Ken Arok gemetar. Untunglah bahwa Mahisa Agni dan Witantra sendiri berada di dalam kegelisahan, sehingga mereka tidak terlampau memperhatikan keadaan Ken Arok itu “Bukankah pada saat-saat mereka makan bersama di halaman, Permaisuri dan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung tampak bergembira?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bahkan semalam pun Permaisuri sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan”.

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Yang terjadi memang aneh. Tiba-tiba saja Permaisuri menjadi gelisah. Tiba-tiba saja ia merasa kekesepian pada saat Akuwu pergi berburu. Lebih dari pada itu Permaisuri merasa diganggu oleh perasaan takut”. Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, “Aku memang mengatakan dan menyebut Hantu Karautan pada saat kita berkelakar. Mungkin Ken Arok mendengarnya pula. Setelah itu pun tidak ada terjadi sesuatu. Tetapi tiba-tiba saja, pagi tadi Permaisuri menjadi terlampau gelisah dan ketakutan”.

Dada Ken Arok menjadi semakin berdebar-debar mendengar keterangan itu. Tetapi ia mencoba untuk menentramkan hatinya sendiri, menunggu penjelasan dari Akuwu Tunggul Ametung.

Dan sejenak kemudian Akuwu itu pun keluar dari biliknya, untuk menemui ketiga orang yang dipanggilnya itu di serambi. Tampaklah wajahnya yang muram dan gelisah. Langkahnya lelah dan ragu.

“Duduklah” desisnya ketika ia melihat ketiga orang itu masih saja berdiri menunggunya.

Ketiganya pun kemudian duduk bersila di lantai, sedang Akuwu duduk di atas sepotong tonggak kayu.

“Aku sudah memutuskan” Akuwu itu teryata berkata terlampau langsung pada persoalannya, “sore ini kita kembali ke Tumapel”.

Sejenak mereka bertiga saling berpandangan. Namun Witantralah yang pertama-tama bertanya, “Ampun Tuanku, kenapa Tuanku terlampau tergesa-gesa pergi? Menurut pendengaran hamba Tuanku akan berada di sini untuk beberapa hari lagi. Tetapi tiba-tiba Tuanku akan kembali ke istana”.

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera menjawab. Tampaklah kebimbangan membayang di wajahnya yang keras.

Karena itu, maka mereka pun sejenak menjadi terdiam. Mereka menunggu saja, apakah yang akan dikatakan oleh Akuwu Tunggul Ametung.

Mereka terperanjat ketika tiba-tiba saja Akuwu itu berkata, “Sediakan segala persiapan. Aku akan segera berangkat”.

Sekali lagi mereka saling berpandangan. Namun tidak seorang pun yang beranjak dari tempatnya.

“Cepat,” tiba-tiba Akuwu itu membentak. Meskipun sudah menjadi kebiasaan Akuwu Tunggul Ametung, namun orang-orang itu masih juga terkejut dan kadang-kadang heran.

“Tuanku,” Mahisa Agni lah yang kemudian bertanya, “Kenapa Tuanku Akuwu menjadi tergesa-gesa? Apakah hal ini karena permintaan Tuan Puteri yang selalu diganggu oleh perasaan cemas itu?”

Akuwu tidak segera menjawab. Dipandanginya saja wajah Mahisa Agni. Namun kemudian terdengar suaranya datar, “Ya. Permaisuriku menjadi ketakutan dan gelisah. Aku tidak tahu, apakah sebabnya. Tetapi ia minta kita segera kembali ke Tumapel”.

“Tuanku” kemudian terdengar suara Ken Arok bergetar, “Ampun Tuanku, bahwa hamba berani bertanya tentang diri hamba dihadapan Tuanku. Apakah sebenarnya ada kesalahan hamba atau sambutan hamba yang tidak berkenan di hati Tuanku atau di hati Tuan Puteri Ken Dedes?”

Dahi Akuwu Tunggul Ametung menjadi berkerut-merut. Sesaat dipandanginya Ken Arok dengan penuh keheranan. Namun kemudian terdengar ia tertawa hambar, “O, perasaanmu mudah sekali tersinggung Ken Arok. Tetapi aku kira bukan soal itu. Kau sudah cukup berusaha. Aku tidak kecewa karena sambutanmu. Tidak pula karena sebab-sebab lain. Tetapi Permaisuriku lah yang menjadi gelisah dan ketakutan. Mungkin benar ia sedang dibayangi oleh Hantu Karautan di dalam angan-angannya”.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tetapi istilah Hantu Karautan yang dipergunakan oleh Akuwu itulah yang kemudian menyentuh hatinya. Adalah kebenaran yang tidak dapat diingkarinya sampai kapan pun, bahwa Hantu Karautan yang sebenarnya adalah dirinya sendiri pada waktu itu. Mungkin Akuwu sama sekali tidak memikirkan, siapa dan apakah sebenarnya Hantu Karautan itu. Tetapi bagi Ken Arok, nama itu benar-benar berpengaruh pada perasaannya.

“Nah, sekarang apa pun sebabnya, sediakan semua perlengkapan” berkata Akuwu itu kemudian.

“Hamba Tuanku” jawab Witantra “hamba minta diri untuk menyelenggarakannya”.

Akuwu mengangguk. Dan sebelum Witantra melangkah meninggalkan serambi, Akuwu Tunggul Ametung telah berjalan ke biliknya.

Ketiga orang yang masih berada di serambi itu saling berpandangan. Witantra kemudian mengangkat bahunya sambil berdesah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia melangkah pergi meninggalkan serambi. Tetapi ternyata Ken Arok pun segera pergi pula menyusulnya meninggalkan Mahisa Agni seorang diri.

Mahisa Agni yang masih berada di serambi pesanggrahan itu duduk dengan dada yang berdebar-debar. Terngiang kembali pertanyaan Ken Arok kepada Akuwu Tunggul Ametung, “Apakah sambutannya di taman ini kurang memuaskan sehingga Akuwu dan Permaisuri tergesa-gesa kembali ke Tumapel”. Pertanyaan itu memang wajar sekali disampaikan oleh seseorang yang merasa bertanggung jawab di sini.

Tetapi pertanyaan lain yang bergetar di dalam dada Mahisa Agni adalah, “Apa sajakah yang telah diceritakan oleh Ken Arok kepada Ken Dedes semalam”.

“Mungkin secara berkelekar Ken Arok telah banyak sekali berceritera tentang hantu Karautan, sehingga Permaisuri kemudian tidak dapat tidur semalam suntuk, dan terganggu perasaannya” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Namun, kesimpulan itu pun sirna sekali tidak memberinya kepuasan. Ia masih menyimpan berbagai macam pertanyaan di dalam dirinya. Tetapi ia tidak tahu kepada siapa ia harus menanyakannya. Satu-satunya orang yang dapat menjawab adalah Ken Dedes sendiri. Tetapi agaknya Ken Dedes tidak mau berterus-terang kepadanya.

“Mudah-mudahan ia dapat mengatakan alasan itu kepada Akuwu sendiri” gumam Mahisa Agni perlahan-lahan.

Sementara itu, dengan tergesa-gesa Witantra menyiapkan orang-orangnya, mengatur semua perbekalan dan peralatan. Hanya orang-orang yang penting serta alat-alat yang tidak dapat ditinggalkan sajalah yang harus di bawa. Yang lain dapat ditinggalkan di pesanggrahan ini, sampai besok atau lasa. Beberapa orang ditugaskannya untuk mengurusi barang-barang yang ditinggalkannya itu.

“Aku tidak mengerti, apakah yang mendorong Permaisuri untuk mengambil keputusan itu” desis Witantra ketika ia melihat Ken Arok berdiri kebingungan.

“Ya” sahut Ken Arok, “Aku menjadi cemas. Mungkin sambutan serta pelayananku di sini yang dirasakannya sangat menjemukan”.

“Sudah di bantah oleh Akuwu. Pasti ada sebab lain yang tidak dapat dikatakannya”.

Terasa sebuah desir yang tajam tergores di dinding jantung Ken Arok. Tetapi ia tidak berani untuk menduga-duga terlampau jauh, apakah sebabnya maka Permaisuri mengambil keputusan untuk segera meninggalkan Padang Karautan.

Akhirnya, dengan tergesa-gesa, persiapan keberangkatan Akuwu Tunggul Ametung beserta Permaisuri itu pun telah selesai. Setiap orang menyimpan berbagai pertanyaan di dalam diri masing-masing. Setiap wajah telah di saput oleh keragu-raguan, kebingungan dan bahkan kecemasan. Beberapa orang prajurit menganggap bahwa sikap itu adalah suatu firasat yang kurang baik, sehingga seorang prajurit yang masih muda berbisik kepada kawannya, “Aku mempunyai dugaan, bahwa akan terjadi sesuatu. Mungkin di perjalanan, mungkin setelah kita sampai di Tumapel”.

Tetapi kawannya menyahut acuh tak acuh, “Mungkin nanti, mungkin besok, tetapi mungkin juga setahun atau dua tahun lagi”.

Orang yang pertama mengerutkan keningnya. Namun ia masih juga mencoba membela pendiriannya, “Uh, kau memang tidak mempunyai perasaan. Kau tidak dapat menangkap getaran yang paling halus di dalam dada ini. Getaran dari alam yang besar, yang menyentuh tali perasaan kita yang paling halus, dan yang paling sesuai dengan warna getaran itu. Kalau kita mampu melihat dengan mata hati kita, atau mendengarnya dengan telinga budi kita, kita akan tahu, apakah sebenarnya yang kita tangkap dengan tali perasaan yang paling halus yang sesuai dengan warna getaran itu. Kalau kita mampu mempelajarinya, maka kita akan dapat mengurai dan menilainya, bahkan kita akan dapat melihat dalam isyarat yang lebih jelas, apakah sebenarnya yang sedang kita hadapi itu”.

Tetapi tiba-tiba kawannya memotong, “He, dari siapa kau mendengarnya?”

Orang yang pertama terkejut mendengar pertanyaan itu. Jawabnya dengan serta-merta, “Dari kakek”.

“Dan kau telah mencoba untuk menghayati pemusatan indera dalam keheningan budi untuk mencoba menangkap warna getaran seperti yang kau katakan?”

Prajurit muda itu menggeleng, “Belum”.

“Dan kau pernah mengurai isyarat-isyarat yang terpancar dari padanya, menurut irama alam yang besar dan alam kedirianmu dalam satu kebulatan?”

Prajurit itu sekali lagi menggeleng.

“Macammu,” desis kawannya sambil tertawa, “kau mengatakan sesuatu yang tidak kau mengerti”.

Dengan pandangan kagum prajurit muda itu bertanya, “Aku memang belum mengalaminya, tetapi apakah kau sudah pernah? Bagaimanakah akibat dari tangkapan isyarat yang demikian dari alam besar atas alam kedirianmu?”

Kawannya itupun menggeleng sambil tersenyum, “Aku juga tidak tahu. Aku juga baru mendengarnya dari kakek seperti kau”.

“Setan” prajurit muda itu berdesis, tetapi keduanya kemudian tertawa.

“Kita tidak usah bersusah payah meraba-raba soal yang tidak dapat kita ketahui. Kita sekarang bersiap untuk mengantar Akuwu dan Permaisuri itu kembali ke Tumapel”.

“Tetapi hal ini menimbulkan pertanyaan pada diri kita” jawab prajurit muda itu.

“Pertanyaan itu kita simpan saja di dalam dada ini. Jangan mencoba mencari jawabnya. Kita tidak akan dapat menemukannya sampai kau ubanan apabila kau tidak mengikuti perkembangan keadaan selanjutnya”.

Prajurit-prajurit itu terdiam ketika mereka melibat Kebo Ijo berjalan dengan tergesa-gesa menemui Witantra. Dengan nafas terengah-engah ia bertanya, “Apakah sebenarnya sebab dari kepergian Permaisuri yang begini tergesa-gesa kakang?”

Witantra menggeleng, “Aku tidak tahu. Tidak seorang pun tahu. Akuwu juga tidak tahu dengan tepat”.

Wajah Kebo Ijo tampak menjadi tegang. Di dalam dirinya melonjak kesan yang kurang menyenangkan. Seperti Ken Arok ia merasakan seolah-olah pelayanan mereka yang bertugas di Padang Karautan kurang menyenangkan Permaisuri.

Tanpa di sengaja Kebo Ijo berpaling memandang wajah Ken Arok. Ia ingin mendapat kesan dari padanya tentang kepergian Akuwu yang tergesa-gesa. Tetapi Ken Arok sama sekali tidak memandanginya, bahkan seolah sama sekali tidak mengacuhkannya.

Namun sebenarnya di dalam dada Ken Arok itu bergejolak berbagai macam dugaan atas sikap Kebo Ijo itu. Seolah-olah Kebo Ijo itu datang kepada Witantra untuk memberi tahukan, bahwa Ken Arok lah yang menyebabkan Permaisuri itu dengan tergesa-gesa kembali. Terngiang ditelinganya kata-kata Kebo Ijo yang menyakitkan hatinya, sehingga ia telah lupa diri dan menampar mulutnya. Dan kini dengan sudut matanya Ken Arok melihat Kebo Ijo itu memandanginya tajam tanpa berkedip.

Tetapi Witantra tidak menghiraukan semua itu. Ia sedang sibuk mengatur persiapan untuk mengawal Akuwu dan Permaisuri kembali ke Tumapel. Beberapa orang hilir mudik menemuinya. Bertanya tentang kelengkapan yang harus di bawa dan memberikan laporan tentang persiapan-persiapan yang telah mereka lakukan.

“Semua sudah siap”, seorang perwira bawahan Witantra melaporkannya.

“Baik”, sahut Witantra, “siapkan pasukan di muka gerbang taman ini. Aku akan menghadap Akuwu dan melaporkan segala persiapan”.

Perwira itu pun segera pergi untuk mempersiapkan pasukan pengawal. Orang-orang yang akan memanggul tandu dan prajurit-prajurit pengiring. Sementara itu Witantra pun pergi menghadap Akuwu Tunggul Ametung.

Berita keberangkatan Akuwu yang tiba-tiba itu telah menggoncangkan Padang Karautan. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel yang bertugas di Padang Karautan, berbondong-bondong pergi ke taman untuk melihat sendiri, apakah benar Akuwu Tunggul Ametung akan kembali ke Tumapel jauh lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkannya. Yang lebih tidak dapat mereka mengerti kenapa justru Akuwu memilih waktu yang sudah jauh melampaui tengah hari ini untuk berangkat.

Tetapi ternyata berita tentang keberangkatan Akuwu itu bukan sekedar sebuah sendau gurau. Mereka melihat pasukan pengawal telah siap di muka gerbang taman. Mereka melihat tandu pun telah tersedia. Sedang beberapa orang telah siap pula di samping kuda masing-masing. Merekalah yang nanti akan merambas jalan yang akan dilalui oleh iring-iringan itu.

Dalam pada itu Witantra telah menghadap Akuwu Tunggul Ametung di pesanggrahan. Ternyata Akuwu dan Permaisuri pun telah siap pula untuk berangkat.

“Ampun Tuanku”, berkata Witantra ketika ia sudah berdiri di muka pintu bilik, “semua persiapan sudah selesai”.

“Baik” sahut Akuwu, “kita akan segera berangkat”. Kemudian kepada Permaisurinya ia berkata, “Semua persiapan sudah siap. Kita dapat berangkat sekarang. Bukankah begitu?”

“Hamba Tuanku” jawab Permaisuri Ken Dedes. Namun ketika ternyata semua persiapan benar-benar telah dilakukan, dan saat yang dikehendakinya itu telah sampai, kembali ke Tumapel, maka perasaannya tiba-tiba saja menjadi bimbang. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya, seolah-olah taman di Padang Karautan ini tersimpan sesuatu yang berharga baginya. Tetapi betapa hatinya menjadi sangat berat untuk meninggalkannya. Tetapi Ken Dedes tidak berani memikirkannya, apakah sebenarnya yang membebani keberangkatan yang dikehendakinya itu sendiri.

“Semuanya telah tersedia” berkata Akuwu itu kemudian.

“O” Ken Dedes tergagap, “Hamba Tuanku. Hamba pun telah siap pula”. Namun perasaan yang seolah-olah menahannya untuk tidak beranjak dari tempatnya menjadi semakin berat. Dan Permaisuri itu menjadi semakin takut melihat kenyataan itu di dalam dirinya. Ketika terpandang olehnya Mahisa Agni, maka ia mencoba menyangkutkan perasaannya itu kepadanya. Katanya di dalam hati, “Kakang Mahisa Agni agaknya telah membuat aku ragu-ragu. Aku tidak sampai bati untuk meninggalkannya di taman ini. Tetapi aku tidak akan dapat membawanya. Ia harus tetap berada di sini, di antara orang-orang Panawijen yang sedang mempersiapkan tempat baru bagi lingkungannya”. Tetapi Ken Dedes sendiri tidak yakin, bahwa sebenarnya Mahisa Agnilah yang telah memberati perasaannya.

Bahkan betapa ia berusaha menindasnya, namun merentul pula penyesalan di dalam hatinya, bahwa ia telah tergesa-gesa mengajak Akuwu Tunggul Ametung itu kembali ke Tumapel.

Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba hatinya tersentak. Kesadarannya tiba-tiba melonjak di dalam dirinya, bahwa ia adalah seorang Permaisuri. Bahwa ia adalah seorang isteri. Suaminya yang berdiri dihadapannya, Akuwu Tunggul Ametung, adalah seorang suami yang baik, yang mencoba memenuhi keinginannya, meskipun barangkali tidak seperti yang diinginkannya sendiri.

Karena itu, maka Ken Dades itu pun mengatupkan giginya rapat-rapat. Dideranya perasaannya sendiri, untuk selalu sadar akan kedudukannya. Sebagai seorang isteri yang baik dan sebagai seorang Permaisuri. Sehingga dengan demikian, maka terdengar ia berkata dalam nada yang berat “Marilah Tuanku, kita berangkat. Semakin cepat aku meninggalkan tempat ini, menjadi semakin baik”. Kemudian kepada Mahisa Agni ia berkata, “Sudahlah kakang. Aku akan kembali ke Tumapel. Aku telah mengambil keputusan untuk memohon kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung untuk mempercepat keberangkatan ini demi ketenteraman hatiku”.

“Ya Tuan Puteri” sahut Mahisa Agni, “semoga semuannya segera menjadi baik”.

“Mudah-mudahan” berkata Ken Dedes, “sekali-sekali kakang harus berkunjung kepadaku. Ke Istana Tumapel”.

Kata-kata itu, terdengar aneh di telinga Mahisa Agni. Namun ia menjawab, “Tentu. Tentu”.

Ternyata bukan saja Mahisa Agni yang merasa aneh atas kata-kata Ken Dedes, tetapi juga Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berprasangka apa pun selain anggapannya bahwa Permaisuri benar-benar sedang terganggu ketenangan jiwanya. Karena itu maka Akuwu itu sama sekali tidak berkata sesuatu. Dibiarkannya saja Permaisurinya melepaskan perasaannya itu kepada Mahisa Agni.

Dan sejenak kemudian Ken Dedes itu berkata kepada Akuwu, “Ampun Tuanku. Hamba telah siap. Marilah kita segera berangkat”.

Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Baiklah. Kita akan berangkat sekarang”. Lalu katanya kepada Witantra, “Persiapkan semuanya. Kita akan berangkat”.

“Hamba Tuanku. Semuanya telah tersedia”.

Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dibimbingnya isterinya berjalan keluar dari dalam pesanggrahan. Di belakang berjalan dengan kepala tunduk emban tua pemomongnya. Dan di belakang emban tua itu berjalan Mahisa Agni dan Witantra. Mereka sama sekali tidak berbicara apapun. Angan-Angan mereka sedang di penuhi oleh berbagai macam pertanyaan yang tidak terjawab.

Beberapa orang prajurit kemudian mengangkat barang-barang dan beberapa ikat pakaian Permaisuri dan Akuwu Tunggul Ametung. Barang-barang itu harus di bawa bersama mereka, di dalam sebuah pedati tersendiri.

Ketika Permaisuri sudah hampir menginjakkan kakinya pada pintu gerbang taman itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Sebentar lagi ia akan meninggalkan padang ini. Meninggalkan taman yang segar, meninggalkan sendang dengan rakit-rakitnya. Semuanya itu akan sangat berkesan di hatinya. Kesan yang tidak akan mudah dihapuskannya. Bahkan kesan yang telah membuatnya kadang-kadang menjadi seakan-akan kehilangan akal. Dan semuanya itu akan segera ditinggalkannya.

Permaisuri itu menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan, telah berkumpul berdesak-desakan di luar gerbang, maka hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Penyesalannya atas keputusannya yang tergesa-gesa itu pun menjadi semakin dalam tergores di dinding hatinya. Tetapi ia tidak akan dapat mencabut kata-katanya. Ia tidak akan dapat menelannya kembali. Ia sendirilah yang telah memohon kepada Akuwu untuk meninggalkan Padang Karautan, meskipun hari telah melampaui setengahnya.

Tiba-tiba langkah Akuwu dan Permaisuri itu tertegun. Betapa terkejut hati mereka, terlebih-lebih adalah Ken Dedes. Begitu mereka sampai di regol taman, maka tiba-tiba saja seseorang yang agaknya berdiri melekat pada dinding regol taman itu, telah meloncat ke tengah pintu gerbang dan langsung berlutut di hadapan mereka. Dan orang itu adalah Ken Arok.

“Ampun Tuanku” desisnya hampir-hampir tidak dapat di dengar, “hamba tidak dapat mengerti kenapa Tuanku berdua menjadi terlampau tergesa-gesa meninggalkan taman ini. Hamba tidak mengerti apakah sebenarnya yang telah memaksa Tuanku berdua untuk mengambil keputusan itu, karena Tuanku berdua sama sekali tidak mengatakan alasan itu kepada hamba. Karena itu Tuanku, maka hamba telah mencoba mencari jawab dari pertanyaan itu pada diri hamba sendiri”. Ken Arok berhenti sejenak, nafasnya menjadi terengah-engah. Tetapi ia masih tetap berlutut di hadapan Akuwu dan Permaisuri sambil menundukkan kepalanya. Ken Arok sama sekali tidak berani menengadahkan wajahnya, memandang sepasang mata Permaisuri Ken Dedes, yang betapa redupnya, namun masih tetap memercikkan sinar yang dapat merontokkan jantungnya.

Dalam pada itu, terasa dada Permaisuri itu berguncang. Ia tidak dapat meraba apakah yang telah diketemukan oleh Ken Arok itu di dalam dirinya, di dalam hatinya sendiri. Tetapi saat itu, Ken Dedes merasa dirinya seperti berdiri di atas bara api yang sedang menyala, memanasi dirinya, dan bahkan hampir tidak tertahankan. Keringatnya mengalir seperti di peras dari dalam tubuhnya.

Kakinya menjadi gemetar ketika ia mendengar Ken Arok itu meneruskan kata-katanya, “Tuanku. Hamba adalah orang yang bertanggung jawab di Padang Karautan ini. Hamba adalah orang yang menerima perintah Tuanku untuk menyelenggarakan apapun di padang ini, untuk menyambut kehadiran Tuanku. Kini hamba melihat kekecewaan di hati Tuanku, terutama Tuan Puteri. Hamba merasa bahwa bamba tidak mampu melakukan pekerjaan hamba, membuat Tuanku berdua tidak berkenan dihati selama Tuanku berada di Padang Karautan ini. Apapun yang telah membuat Tuanku ingin segera meninggalkan taman ini, namun itu berarti bahwa hamba tidak mampu melakukan tugas hamba sebaik-baiknya”.

Sajenak Akuwu berdiri mematung di tempatnya. Ia sudah pernah menjawab pernyataan perasaan Ken Arok itu. Tetapi agaknya Ken Arok masih belum puas. Agaknya Ken Arok masih mencoba untuk menanyakannya langsung kepada Permaisurinya.

Perasaan Akuwu yang meledak-ledak itu pun tiba-tiba meledak pula. Tanpa disangka-sangka Akuwu Tunggul Ametung tertawa sambil menepuk bahu Ken Arok, “Ken Arok. Kau perasa seperti seorang perempuan. Aku sudah menjawab, bahwa hal ini sama sekali bukan salahmu. Tidak ada hubungan apapun dengan kau. Betapa baiknya kau menyelenggarakan penerimaan atas kami di sini, tetapi itu pasti tidak akan dapat mencegah perasaan Permaisuriku untuk segera kembali ke Tumapel. Nah, sudahlah. Jangan merengek seperti anak cengeng. Kau adalah pemimpin prajurit Tumapel di Padang Karautan. Tengadahkan kepalamu. Ucapkanlah selamat jalan kepada kami”.

“Ampun Tuanku” sahut Ken Arok, “hamba akan berbuat demikian apabila Tuanku berangkat kepeperangan. Tetapi kali ini tidak”.

Suara tertawa Akuwu menjadi semakin keras. Menggelegar. Semakin keras dan semakin keras. Suara itu kemudian seolah-olah berubah menjadi suara guntur yang meledak-ledak di langit. Dan suara itu serasa meruntuhkan tulang-tulang iga Ken Arok. Bukan saja tulang iganya tetapi juga seluruh isi dada.

“O ” Ken Arok berdesah. Sama sekali tidak. Suara tertawa itu sudah terlampau sering didengarnya. Tetapi agaknya perasaannya sendirilah yang menangkap suara itu pada sentuhan yang tepat, sehingga suara itu terdengar seribu kali lebih keras dari suara yang sebenarnya.

Ken Arok mencoba untuk mempergunakan kesadarannya sepenuhnya, supaya ia dapat menilai keadaan dengan sewajarnya. Ia mencoba untuk mengatakan kepada dirinya sendiri, bahwa Akuwu berbuat demikian seperti yang biasa dilakukannya. Sama sekali tidak mentertawakannya karena ia telah menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya terhadap Permaisuri itu.

Ternyata bukan saja Ken Arok yang menjadi gelisah oleh suara tertawa itu. Keringat Permaisuri Ken Dedes pun menjadi semakin deras mengalir. Suara tertawa Akuwu Tunggul Ametung serasa menusuk-nusuk jantungnya. Seolah-olah Akuwu itu sedang melepaskan sakit hatinya, karena melihat noda-noda hitam di dalam hati Permaisurinya. Karena Akuwu melihat bintik-bintik yang mengotori kesetiaan Ken Dedes sebagai seorang isteri.

Tetapi hati mereka agak tenang ketika mereka mendengar Akuwu berkata, “Sudahlah. Jangan risaukan kepergian kami. Kami mempercepat kepulangan kami karena sebab-sebab yang wajar. Sebab-sebab yang terdapat di dalam diri kami. Kami kali ini masih belum dapat menyesuaikan diri kami dengan suasana padang yang sepi ngelangut. Apalagi di bumbui oleh ceritera-ceritera tentang hantu Karautan. Mungkin Mahisa Agni terlampau sering mengganggu adiknya dengan ceritera-ceritera itu”. Akuwu berhenti sebentar, lalu, “Tetapi kau pun jangan merajuk dan cengeng Agni. Jangan menyesali dirimu sendiri. Jangan merasa dirimu terlampau bersalah, lalu kau mencoba untuk membunuh dirimu di bendungan”. Sekali lagi suara tertawa Akuwu meledak. Sejenak kemudian suara itu mereda. Katanya agak bersungguh-sungguh, “Nah, selamat tinggal”.

Ken Arok masih berjongkok di hadapan Akuwu dan Permaisurinya. Ia tidak pernah di ganggu oleh kegelisahan seperti saat ini. Ia tidak pernah di cengkam oleh perasaan ngeri seperti kali ini. Pada saat-saat ia berada di padang ini, ia selalu menghadapi beribu macam persoalan yang mengerikan. Tetapi tidak separti kali ini. Ia telah di siksa oleh perasaan bersalah, karena percikan perasaannya atas Permaisuri Akuwunya, Permaisuri seseorang yang telah mengangkatnya dari dunianya yang hitam. Tetapi ia tidak dapat melepaskan pengakuan dan kemudian merunduk sambil memohon maaf. Tidak, ia tidak dapat melakukannya, sehingga dengan demikian perasaan bersalah itu akan tetap menyiksanya.

Kebo Ijo yang berdiri tidak terlampau jauh dari tempat itu mengerutkan keningnya itu hampir bertemu. Di dalam hatinya ia mengumpat tidak habis-habisnya. Seperti Akuwu ia menganggap bahwa Ken Arok ternyata adalah seorang yang terlampau cengeng.

“Huh”, desisnya di dalam dadanya, “kenapa anak itu tiba-tiba berubah menjadi anak cengeng dan perajuk. Sungguh memalukan. Sikap itu sama sekali bukan sikap seorang prajurit”.

Kebo Ijo menarik nafas ketika ia melihat Ken Arok kemudian berdiri, melangkah surut, kemudian membungkuk dalam-dalam.

“Nah”, berkata Akuwu, “tinggallah kalian di sini. Aku akan segera berangkat. Perjalanan ini merupakan perjalanan yang menyenangkan. Malam nanti bulan masih cukup terang”.

Ken Arok sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Kepalanya yang tertunduk itu bergerak. Sahutnya “Hamba Tuanku. Kami dan semua orang di sini mengucapkan selamat jalan kepada Tuanku berdua”.

Akuwu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian di bimbingnya Ken Dedes ke tandu yang tersedia. Ketika tersentuh tangan Permaisuri itu, Akuwu mengerutkan keningnya. Tangan itu terlampau dingin, bahkan terasa agak basah oleh keringat, dan gemetar. Sejenak Akuwu memandangi Permaisurinya yang menjadi semakin pucat. Tetapi Akuwu sama sekaii tidak berprasangka. Sekali ia mencoba mencari sebabnya pada perasaan takut yang berlebih-lebihan dari Permaisurinya itu kepada Hantu Karautan atau sebangsanya, dan dirasanya dapat menganggunya langsung mengorek ulu hati.

“Marilah” berkata Akuwu itu, “Sebentar lagi kita akan meninggalkan padang itu”.

Permaisuri ingin menjawab, tetapi mulutnya serasa terbungkam. Perlahan-lahan ia melangkah di bimbing oleh suaminya dan diikuti oleh pemomongnya yang menjadi gelisah dan cemas.

Sejenak kemudian, ketika Ken Dedes dan pemomongnya telah berada di dalam tandu, dan dijunjung oleh beberapa orang, maka Akuwu pun naik ke atas punggung kudanya pula.

“Baik-baiklah kalian di sini ” pesan Akuwu, “Kami akan berangkat”. Hampir bersamaan Ken Arok dan Mahisa Agni menjawab, “Hamba Tuanku”.

“Peliharalah taman itu baik-baik. Jangan hanya pada saat-saat yang khusus. Jangan hanya pandai membuat, tetapi kalian harus pandai memelihara dan mengembangkan. Pada suatu saat kami akan datang lagi. Kami mengharap bahwa taman ini akan menjadi lebih indah”.

Ken Arok mengangguk dalam-dalam, “Hamba Tuanku. Hamba akan melakukannya”.

“Bagus” berkata Akuwu, kemudian “Sekarang, kami akan berangkat”.

Kepada Witantra ia berkata, “Marilah kita berangkat”.

Witantra mengangguk dalam-dalam “Hamba Tuanku, semuanya sudah siap”.

Witantra pun kemudian memberikan isyarat kepada ujung barisan untuk segera bergerak. Dan sekejap kemudian selangkah demi selangkah iring-iringan itu mulai maju.

Mahisa Agni masih berdiri di samping tandu Ken Dedes. Perlahan-lahan ia mengikuti langkah pada iringan itu.

“Kau harus selalu datang kepadaku kakang” sekali lagi mendengar permintaan itu. Dan sekali lagi keheranan telah menyentuh hatinya. Namun ia menjawab, “Ya, tentu Tuan Puteri. Tentu”.

“Terima kasih kakang” suara Permaisuri itu terlampau dalam. Dan tiba-tiba tanpa disangka-sangka oleh Mahisa Agni Ken Dedes bertanya lirih sakali sehingga tidak ada seorang lain pun yang mendengar kecuali emban pemomongnya, dan bahkan orang-orang yang menjunjung tandunya pun tidak memperhatikannya, “Kakang, apakah prajurit-prajurit itu masih diperlukan di Padang Karautan itu?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia tidak mengerti arah pertanyaan Ken Dedes itu. Bahkan tanpa disengajanya Mahisa Agni berpaling ke arah Akuwu Tunggul Ametung yang berkuda agak di belakang tandu Ken Dedes. Dan di belakang Akuwu adalah Witantra.

“Hamba tidak tahu maksud Permaisuri” jawab Mahisa Agni kemudian, “semuanya itu tergantung kepada Akuwu. Barangkali Tuan Puteri dapat bertanya kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung”.

“O, tidak. Tidak” cepat-cepat Ken Dedes menyahut “bukan maksudku. Bukan maksudku untuk bertanya demikian”.

“Dan aku pun tidak akan menanyakannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Lupakan saja pertanyaan itu kakang”.

Mahisa Agni menjadi semakin tidak mengerti. Tetapi ia tidak mendesak lagi. Ia tidak ingin menambah Permaisuri itu menjadi semakin bingung. Karena itu, maka sejenak kemudian justru Mahisa Agni itu berkata, “Nah, selamat jalan Tuan Puteri. Aku akan tinggal di sini bersama-sama orang-orang Panawijen”.

“Selamat tinggal kakang” desis Ken Dedes. Suaranya menjadi serak, dan seolah-olah tersangkut di kerongkongan.

“Selamat jalan bibi” berkata Mahisa Agni pula kepada pemomong Ken Dedes.

Mata emban itu menjadi berkilat-kilat oleh titik air yang mengambang. Tetapi ia tersenyum penuh kebanggaan. Ia telah melihat Mahisa Agni berada di dalam lingkungannya. Lingkungan sejak kanak-kanak.

“Selamat tinggal ngger” jawab emban itu “berhati-hatilah dan baik-baik membawa dirimu”.

“Terima kasih bibi” jawab Mahisa Agni sambil membungkukkan kepalanya.

Mahisa Agni itu pun kemudian menghentikan langkahnya. Ketika Akuwu lewat di depannya ia mengangguk dalam-dalam sambil berkata, “Selamat jalan Tuanku”.

Akuwu tertawa. Jawabnya, “Terima kasih. Mudah-Mudahan Hantu Karautan itu tidak mengikuti Ken Dedes sampai ke Tumapel”.

Mahisa Agni pun mencoba untuk tersenyum, meskipun senyumnya terlampau hambar. Juga kepada Witantra ia mencoba tersenyum dan berkata, “Selamat jalan Witantra. Pada saatnya aku pasti akan pergi ke Tumapel. Sekali-kali aku ingin juga melihat tempat-tempat ramai. Tidak selalu di lingkungi oleh bunyi cengkerik dan bilalang di padang yang sepi ini”.

Witantra tertawa kecil jawabnya lambat hampir berbisik, “Kau dapat pergi ke Tumapel setiap pekan. Setiap saat yang kau kehendaki kau dapat meloncat di atas punggung kuda dan berpacu sebentar. Kau dapat bermalam semalam atau dua malam sekehendak hatimu. Tetapi aku tidak”.

“Kenapa kau tidak?”

“Aku terikat oleh kewajibanku di istana. Aku adalah seorang hamba yang tidak dapat berbuat sekehendak hatiku sendiri”.

“Ah” desah Mahisa Agni “aku pun harus menyesuaikan diriku dengan tempat perhambaanku. Tanah, sungai, hujan dan musim”.

Keduanya tertawa. Tetapi keduanya tidak berbicara lagi. Mahisa Agni pun segera melangkah mundur, keluar dari iringan yang berjalan semakin cepat. Witantra kemudian berpaling, mencari Ken Arok dan Kebo Ijo. Ternyata Ken Arok masih berdiri di sisi regol, sedang Kebo Ijo tegak tidak jauh dari padanya.

Pempimpin pasukan pengawal itu melambaikan tangannya sambil tersenyum kepada keduanya. Dengan kaku Ken Arok mencoba membalas lambaian tangan itu dan hati yang kosong ia mencoba tersenyum pula. Sedang Kebo Ijo mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bahkan kedua tangannya.

Iring-Iringan itu pun semakin lama menjadi semakin cepat berjalan. Tirai tandu Permaisuri sudah ditutupnya. Tetapi ternyata Ken Dedes itu masih melihat dari celah-celah tiriannya yang tipis, seakan-akan mencari sesuatu di dalam kerumunan para prajurit Tumapel yang masih harus tinggal di Padang Karautan.

Namun iring-iringan itu berjalan terus. Semakin lama semakin jauh masuk ke dalam padang, meninggalkan taman dan pesanggrahan yang sengaja di buat untuk Permaisuri Ken Dedes.

Semakin jauh iring-iringan itu berjalan, terasa hati Ken Arok menjadi semakin kosong. Serasa sesuatu telah hilang dari padanya hanyut di dalam arus pasukan itu telah membawa sesuatu, miliknya yang paling berharga.

Tiba-tiba Ken Arok mengatupkan giginya rapat-rapat. Terbayang kembali diwajahnya, pada saat Akuwu itu membawa sepasukan prajurit ke Panawijen. Dengan paksa Akuwu telah mengambil Ken Dedes itu dari lingkungannya, meskipun atas permintaan Kuda Sempana yang dengan licik telah berhasil menghasut Akuwu.

Sesuatu berdesir di dalam dada anak muda itu. Iring-iringan yang menjadi semakin jauh itu seolah-olah merupakan peristiwa ulangan dari saat-saat Ken Dedes hilang dari padepokannya. Pada saat Akuwu membawanya.

Tetapi kepala Ken Arok itu pun kemudian tertunduk dalam-dalam. Seolah-olah ia dihadapkan sebuah cermin di muka hidungnya. Ia sendiri ada di dalam pasukan itu, pada saat Akuwu mengambil Ken Dedes dari orang tuanya. Bahkan pada saat itu Witantra lah yang dengan berani dan penuh tanggung jawab telah menentang perintah Akuwu, meskipun hal itu dapat berakibat naik ke tiang gantungan di alun-alun. Namun Witantra telah menolak.

“Memalukan sekali” tiba-tiba Ken Arok itu menggeram di dalam dirinya. Penyesalan yang dalam telah melanda jantung dan hatinya. Penyesalan atas tingkah lakunya saat itu. Penyesalan atas tindakan Akuwu yang tergesa-gesa.

“O, alangkah bodohnya Akuwu itu” Ken Arok mengumpat di dalam hatinya, “sebenarnya bukan sepantasnya kini ia memperisterinya. Ia telah mencuri gadis itu dari orang tuanya, apapun alasannya”. Tetapi suara itu mengumandang terus di luar kehendaknya, “Dan aku ikut serta bersamanya waktu itu”.

“Tetapi aku sekedar seorang hamba” ia mencoba membantahnya sendiri didalam hati pula.

Ketika Ken Arok mengangkat wajahnya, dilihatnya debu yang tipis mengepul dikejauhan. Iring-iringan itu sudah menjadi kian jauh sehingga Ken Arok sudah tidak dapat melihat lagi seorang demi seorang. Apalagi beberapa jenis gerumbul-gerumbul kecil yang liar menghalangi pandangan matanya yang mengabur.

“He, kenapa kau berdiri di situ saja?” terdengar suara di belakangnya.

Ken Atok berpaling. Dilihatnya Kebo Ijo berdiri di belakangnya dengan wajah yang keheran-heranan.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ketika dilihatnya Mahisa Agni mendekatinya pula maka ia bergumam, “Aku tidak tahu, kesalahan apakah yang telah kami perbuat di sini”.

“Jangan hiraukan lagi” sahut Kebo Ijo “sejak kecil Ken Dedes memang gadis cengeng dan perajuk”.

“Kebo Ijo” Ken Arok membentaknya. Hampir-hampir saja ia menampar mulut anak itu sekali lagi, “Kau jangan mengigau. Setiap saat kau dapat mengalami bencana karena mulutmu. Seribu kali aku mencoba menasehatimu”. Kemudian kepada Mahisa Agni Ken Arok berkata, “Maaf Agni. Aku minta maaf untuk Kebo Ijo”.

Dan tiba-tiba saja Kebo Ijo memotong, “Kenapa kau minta maaf kepadanya?”

“Hem” Ken Arok menggeram, “Kau memang orang gila. Kau tidak dapat lagi mempergunakan otakmu untuk berpikir. Bukankah Tuanku Permaisuri itu adik Mahisa Agni”.

“O” Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi pandangan matanya serta tarikan bibirnya benar-benar telah menyakitkan hati, “keluhuran yang didapatkan oleh Tuanku Permaisuri terpercik juga kepadamu Mahisa Agni”.

Tetapi Kebo Ijo menjadi kecewa. Mahisa Agni ternyata tidak menjadi marah karenanya. Bahkan dilihatnya anak muda itu tersenyum sambil bergumam, “Aku memang harus berterima kasih. Tetapi bukankah sudah sewajarnya bahwa aku seorang saudara tua dari seorang Permaisuri mendapat kehormatan yang cukup? Apakah kau menjadi iri hati?”

“Persetan” geram Kebo Ijo.

“Itu adalah keuntungan yang tidak aku sangka-sangka bahwa aku akan menjadi kakak seorang Permaisuri yang ikhlas atau tidak ikhlas, harus kau sembah”. Kebo Ijo yang sudah menggerakkan bibirnya ingin memotong kata-kata itu, telah didahului oleh Mahisa Agni pula, “Nanti dulu, aku belum selesai. Kau akan mengumpat bukan? Nah, kenapa kau tidak pernah berkata berterus terang kepada Akuwu Tunggul Ametung, bahwa kau segan menyembah Tuan Puteri Ken Dedes, karena Ken Dedes sekedar gadis padesan? Kau pasti akan mendengar jawab Akuwu, Ken Dedes cukup mempunyai kesempatan. Ia adalah adik seorang Mahisa Agni”.

“Gila. Gila” teriak Kebo Ijo, “kau sudah menjadi gila karena percikan kehormatan yang tidak berarti itu”. Kebo Ijo tidak menunggu Mahisa Agni menjawab. Sambil mengumpat-umpat ia pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan Mahisa Agni yang tidak dapat menahan lagi tertawanya.

Betapa hati Ken Arok sedang pepat oleh persoalan yang menyesak dadanya, namun ia masih juga sempat tersenyum sambil berkata, “Demikianlah sebaiknya bersikap terhadap Kebo Ijo. Beberapa kali aku marah kepadanya. Tetapi ia sama sekali tidak dapat merubah sikapnya. Tetapi dengan caramu, mungkin ia akan menjadi jera”.

“Aku pun telah dipusingkan oleh tabiatnya yang meledak-ledak itu. Mudah-Mudahan ia tidak mendapat bencana karena mulutnya”.

“Mudah-mudahan” desis Ken Arok sambil memandangi punggung Kebo Ijo yang semakin jauh.

“Sekarang, apakah yang akan kita lakukan?” bertanya Mahisa Agni.

Ken Arok mengerutkan keningnya. Dipandanginya dikejauhan debu yang semakin tipis dan hampir tidak dapat dilihatnya lagi. Iringannya pun telah hilang di balik semak-semak yang bertebaran di sana-sini. Terasa hatinya yang penuh dengan perasaan-perasaan aneh, menjadi semakin terasa.

Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Mahisa Agni. Kita akan membongkar pesanggrahan itu”.

Mahisa Agni terperanjat. Dengan penuh keheranan ia bertanya, “Kenapa begitu tergesa-gesa? Pesanggrahan itu, meskipun darurat, adalah lebih baik dari gubug-gubug kita di dekat bendungan. Apakah tidak sebaiknya, sebagian dari kita, kita tempatkan di pesanggrahan ini. Kalau kau tidak berkeberatan Ken Arok, menjelang pemindahan orang-orang Panawijen dari padukuhannya yang kering itu, biarlah pesanggrahan darurat itu kita pergunakan”.

Terasa sesuatu berdesir di dada Ken Arok. Pesanggrahan itu selalu memperingatkannya kepada Permaisuri Ken Dedes. Kepada kesempatan yang pertama-tama didapatnya, berbicara dengan Permaisuri itu tidak sebagai seorang hamba. Tetapi pembicaraan malam itu adalah pembicaraan yang sangat menyenangkan. Pembicaraan yang bebas dan terbuka. Kadang-kadang hatinya menggelepar oleh suara tertawa Permaisuri yang lembut dan dadanya serasa tergetar melihat senyumnya yang cerah.

“Tetapi apakah sikapku waktu itulah yang telah menyakitkan hatinya” berkata Ken Arok kepada diri sendiri, berulang-ulang kali, “Kalau demikian, ia benar-benar seorang yang sadar dalam penguasaan diri. Meskipun ia tidak senang melihat sikap dan tingkah lakuku, tetapi ia masih saja tersenyun dan tertawa. Masih saja bertanya-tanya tentang berbagai macam persoalan, dan masih saja membiarkan aku duduk dihadapannya”.

“Bagaimana Ken Arok” pertanyaan itu telah mengejutkannya.

“Oh” Ken Arok tergagap sejenak. Lalu, “Baiklah kalau demikian. Aku mengharap orang-orang Panawijen dapat menempatinya untuk sementara. Tetapi, aku harus mempersiapkan pesanggrahan yang lebih baik. Bukan sekedar pesanggrahan darurat seperti itu”.

“Tentu. Dan kami akan membantu sejauh-jauh dapat kami lakukan seperti kalian telah membantu kami menyiapkan bendungan itu”.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Baiklah. Baiklah. Saat itu akan segera datang”.

Mahisa Agni heran mendengar jawaban itu. Dipandanginya wajah Ken Arok yang tegang. Dan sejenak kemudian ia bertanya, “Apakah yang akan segera datang?”

Ken Arok terkejut mendengar pertanyaan itu. Tergagap ia menjawab, “O, tidak. Tidak ada apa-apa”.

Jawaban itu justru membuat Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Tetapi ia tidak ingin bertanya lagi. Disimpannya saja pertanyaan-pertanyaan itu di dalam dadanya. Bahkan timbullah keheranannya atas dirinya sendiri. Katanya di dalam hati, “Apakah aku pun sudah dihinggapi oleh kebingungan tanpa sebab. Semua membuat hariku berdebar-debar. Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa aku tidak segera dapat menangkap maksud orang lain akhir-akhir ini. Aku banyak tidak dapat mengerti apa yang dikatakan oleh Ken Dedes. Dan ternyata aku juga banyak menjadi tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh Ken Arok”. Mahisa Agni berdesah, lalu ia berkata pula di dalam hatinya, “Mudah-mudahan aku tidak menjadi gila karenanya”.

Mahisa Agni kemudian tidak bertanya lagi. Tetapi kini ia mengajak Ken Arok kembali ke pesanggraban itu. Katanya, “Marilah kita kembali ke pesanggrahan”.

Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku akan kembali ke gubugku di dekat bendungan itu”.

“Kenapa kau tidak mempergunakan pesanggrahan yang lebih baik itu saja?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Namun demikian ia menjawab, “Aku lebih senang berada di antara kalian. Biarlah pesanggrahan itu ditunggui olah beberapa orang prajurit yang harus membersihkan dan menjaga segala macam isinya”.

Ken Arok menarik nafas. Ia dihadapkan lagi pada persoalan yang tidak dimengertinya. Tetapi ia tidak mau mempersulit dirinya sendiri. Karena itu, maka jawabnya, “Baiklah. Kalau begitu aku pun akan pergi ke perkemahan itu pula”.

Ken Arok mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian mereka berdua melangkahkan kaki mereka, melintasi Padang Karautan menuju ke gubug masing-masing. Sejenak kemudian mereka telah menyusuri tanggul susukan induk, yang mengalirkan air yang bersih bening.

Di sepanjang langkah mereka, mereka berdua hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka saling berdiam diri dengan angan-angan masing-masing. Ken Arok berjalan sambil menundukkan kepalanya yang dipenuhi oleh angan-angan yang melambung, namun setap saat ia pun terbanting di atas kenyataan yang dihadapinya kini. Ia tidak lebih dari seorang hamba. Tidak lebih.

Sementara itu, perjalanan Akuwu menjadi kian jauh ke tengah Padang Karautan. Matahari semakin lama menjadi semakin rendah di arah Barat. Sinarnya menjadi kekuning-kuningan memencar di atas padang yang luas.

Akuwu yang berkuda di sisi tandu Permaisurinya, kadang-kadang mencoba menembus tirai tipis yang mentabiri ruangan di dalam tandu itu, untuk mencoba melihat wajah isterinya. Tetapi yang tampak olehnya hanyalah bayangan hitam yang bergerak-gerak di dalam tandu, seirama dengan langkah para pengangkatnya.

Karena itulah maka Akuwu Tunggul Ametung tidak melihat, betapa wajah Permaisurinya menjadi suram.

Ternyata Permaisuri itu sedang menyesali ketergesa-gesaannya, Penyesalan itu setiap kali selalu melonjak di dalam dadanya. meskipun setiap kali ia selalu berusaha menekannya. Ketika pesanggrahan dan taman di tengah-tengah padang itu sudah tidak dapat dilihatnya lagi, Permaisuri itu menekankan telapak tangannya di dadanya. Ia merasa seakan-akan sesuatu telah tertinggal di padang yang luas itu. Dan yang tertinggal itu, agaknya terlampau berharga baginya.

Tiba-tiba saja Permaisuri itu berdesah. Ketika ia memandang keluar, dilihatnya bayangan suaminya berkuda di sisinya. Dan tiba-tiba saja pertanyaan seperti yang ditanyakan kepada Mahisa Agni telah mengganggunya pula. Apakah gunanya pasukan Tumapel itu di Padang Karautan? Bukankah pekerjaan mereka di sana sudah selesai? Bendungan sudah siap, air sudah siap, air sudah naik tidak saja kesusukan induk, tetapi sudah naik keparit-parit dan sawah-sawah. Sedang taman yang dijanjikan oleh Akuwu Tunggul Ametung itu pun telah siap pula. Sehingga bukankah dengan demikian para prajurit di Padang Karautan itu sudah tidak berguna lagi?

Pertanyaan itu ternyata telah memepatkan dadanya. Betapapun ia berusaha, namun serasa dadanya selalu di desak-desak oleh pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga terasa akan retak.

Akhirnya Ken Dedes tidak dapat menahan diri lagi. Hampir-hampir di luar sadarnya, tangannya bergerak membuka tirai tandunya.

Akuwu melihat tirai yang tipis itu terbuka. Segera ia mendekatinya sambil bertanya, “Apakah ada sesuatu yang perlu kau katakan Ken Dedes?”

Sejenak Ken Dedes menjadi ragu-ragu. Tetapi di dalam hatinya ia berkata, “Bukankah aku hanya sekedar bertanya tentang prajurit di Padang Karautan?”

Ken Dedes terkejut ketika Akuwu sudah berada dekat di sampingnya sambil mendesaknya, “Apakah kau akan mengatakan sesuatu?”

“Hamba Tuanku”, jawab Permaisurinya terbata-bata “Tetapi, ampun Tuanku, hamba akan sekedar bertanya saja”.

“Katakanlah”.

“Apakah tugas para prajurit di Padang Karautan itu sudah selesai Tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian dijawabnya, “Ya, aku kira pekerjaan mereka telah selesai hampir seluruhnya”.

“Lalu apa pulakah yang masih mengikat mereka untuk tetap berada di sana?”

Pertanyaan itu menimbulkan keheranan di hati Akuwu. Tetapi ia rnenjawab “Memang mereka sudah tidak mempunyai pekerjaan yang khusus. Tetapi mereka masih harus menunggui taman itu, dan apabila memungkinkan, mereka akan membuat sebuah pesanggrahan. Bukan sekedar pesangrahan darurat”.

Permaisuri Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Keinginannya untuk mengutarakan perasaannya semakin mendesaknya, sehingga seolah-olah ia tidak lagi mampu untuk menahannya. Meskipun dengan penuh keragu-raguan, Ken Dedes itu berkata “Tuanku, pesanggrahan bukanlah sesuatu yang penting sekali, sehingga seandainya pesanggrahan itu tidak dapat diwujudkan, bukankah itu sama sekali tidak mengganggu”.

Akuwu menjadi semakin heran mendengar kata-kata Permaisurinya. Tetapi ia masih menyimpan keheranan itu di dalam dadanya. Bahkan ia menjawab, “Ya, memang pesanggrahan bukanlah sesuatu yang harus segera disiapkan seperti bendungan itu misalnya”.

“Nah, kalau demikian, apakah gunanya para prajurit itu tetap berada di Padang Karautan?”

Akuwu mengerutkan dahinya. Dipandanginya wajah Permaisurinya dengan seksama. Tetapi ia tidak menemukan kesan yang dapat membuatnya mengambil kesimpulan. Ia hanya melihat wajah itu redup dan pucat.

“Ken Dedes”, jawab Akuwu kemudian, “prajurit-prajurit itu memang sudah tidak mempunyai tugas-tugas pokoknya di Padang Karautan. Tetapi mereka menghadapi tugas-tugas yang lain, yang meskipun tidak sepenting tugas yang pertama. Seperti sudah aku katakan, mereka dapat membangun pesanggrahan, kalau itu belum mungkin, mereka harus membersihkan dan mengembangkan taman yang sudah siap itu, supaya menjadi lebih baik, dan lebih-lebih lagi, musim hujan yang sudah mulai ini, segera akan menjadi semakin basah. Pada saatnya banjir pasti akan datang lagi. Dalam keadaan darurat itu, mungkin masih diperlukan tenaga para prajurit”.

“O”, desah Ken Dedes, “kepentingan-kepentingan yang masih mengambang di dalam angan-angan. Seandainya demikian, bukan kah pekerjaan itu dapat diserahkan kepada orang-orang Panawijen? Para prajurit Tumapel telah membantu mereka membuat bendungan. Tidak saja dengan tenaga tetapi juga dengan segala macam keperluan dan peralatan. Pedati, bajak dan penarik-penariknya. Berpasang-pasang lembu dan kerbau. Nah, apakah kini mereka keberatan, seandainya mereka kita serahi untuk mengurus taman itu dan memelihara bendungan mereka sendiri”.

Akuwu menjadi pening mendengar pertanyaan-pertanyaan Permaisurinya. Tetapi Akuwu sama sekali tidak berprasangka apa pun. Ia menganggap bahwa Permaisurinya masih agak terganggu oleh kecemasan dan ketakutan. Dugaan itu semakin jelas ketika Permaisuri itu kemudian berkata “Tuanku, prajurit-prajurit Tumapel adalah lambang kebesaran dan kekuatan Tuanku. Apabila mereka terlampau lama berada di Padang Karautan tanpa tugas tertentu, mereka akan dapat dihinggapi oleh perasaan-perasaan yang lain yang dapat mempengaruhi sikapnya sebagai seorang prajurit. Lebih-lebih lagi Tuanku, seandainya terjadi sesuatu, maka Tumapel tidak dapat berbuat dengan kekuatan sepenuhnya, karena sebagian dari prajurit-prajuritnya berada di Padang Karautan tanpa arti. Mereka seolah-olah orang-orang buangan yang tidak dikehendaki berada di pusat pemerintahan”.

Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia berteriak memaki. Tetapi karena yang dihadapinya adalah Permaisurinya yang sedang kebingungan, maka ditahankannya hatinya untuk tidak meledak-ledak tanpa kendali.

Bahkan di dalam hati Akuwu itu tumbuhlah perasaan belas kasihan yang dalam terhadap Permaisurinya yang menurut dugaannya telah dihinggapi oleh suatu penyakit yang aneh. Kadang-kadang timbul pertanyaan di dalam dirinya “Apakah benar Hantu Karautan telah menganggunya?”

“Ken Dedes” berkata Akuwu itu kemudian dengan nada merendah. Jarang sekali terdengar Akuwu berkata sesareh itu, “Kau jangan berpikir terlampau jauh. Tidak ada bahaya apa pun yang mengancam Tumapel sekarang ini. Hubungan kita dengan daerah-daerah di sekitar Tumapel terlampau baik. Hubungan dengan Kediri pun sama sekali tidak terganggu. Kenapa kau mencemaskan bahwa suatu ketika akan ada bencana yang mengancam? Tidak Ken Dedes, kau benar-benar sedang dibayangi oleh perasaan takut dan crmas yang berlebih-lebihan. Kau harus mencoba meyakinkan dirimu, bahwa sebenarnya kini tidak ada apa-apa yang perlu kau cemaskan”.

“Ampun Tuanku” sahut Ken Dedes “Tuanku terlampau percaya kepada penglihatan Tuanku. Tetapi bahaya itu tersembunyi di mana-mana. Itulah sebabnya Tuanku tidak boleh kehilangan kewaspadaan”.

“Ya, ya Ken Dedes, aku mengerti. Aku akan memperkuat pertahanan wilayah Tumapel”.

“Bukan itu Tuanku. Permohonan hamba, asal prajurit-prajurit yang berada di Padang Karautan itu di tarik seluruhnya, maka perasaan hamba akan sudah menjadi tenteram”.

Sekali lagi Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak direnunginya sinar matahari yang seolah-olah memantul di wajah padang yang luas. Perlahan-lahan diangguk-anggukkannya kepalanya sambil berkata lirih, “Baiklah Ken Dedes. Aku akan segera menarik semua prajurit dari Padang Karautan. Aku mengharap itu tidak membuat Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen, apalagi orang-orang Panawijen yang belum sempat memindahkan dirinya ke padukuhannya yang baru, menjadi kecewa. Memang seharusnya mereka belajar mengurus diri mereka seadiri. Dan aku percaya kepada Mahisa Agni, bahwa ia akan dapat mengatasi segala kesulitan”.

Oleh jawaban Akuwu itu, terasa sepercik kegembiraan melonjak di hati Ken Dedes. Seolah-olah ia akan menemukan kembali sesuatu yang hilang tertinggal di Padang Karautan. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata “Terima kasih Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih”.

Akuwu tidak menyahut. Keheranan di dalam dadanya semakin bertambah-tambah. Ia melihat perubahan yang tersaput di wajah Permaisurinya. Namun yang terlintas di dalam hatinya adalah, “Kasihan. Begitu dalam ia di cengkam oleh ketakutan dan kecemasan, sehingga ia tidak percaya lagi kepada kekuatan yang ada di Tumapel untuk melindunginya. Mudah-mudahan penyakit itu dapat segera sembuh apabila keinginan-keinginannya dapat terpenuhi untuk menenteramkan hatinya”.

Dengan demikian maka Akuwu benar-benar akan melaksanakan permintaan Permaisurinya itu. Apabila mereka nanti sampai di istana, maka Akuwu akan segera memerintahkan beberapa orang untuk menyampaikan pesan itu. Menarik semua prajurit yang ada di Padang Karautan. Yang dipikirkan oleh Akuwu itu adalah cara yang sebaik-baiknya sehingga tidak menimbulkan kesan yang kurang baik pada orang-orang Panawijen.

Demikianlah maka perjalanan itu sama sekali tidak menimbulkan kesan apa pun. Baik pada Akuwu Tunggul Ametung, maupun kepada Permaisurinya. Mereka lebih banyak diam, terbenam di dalam angan-angan masing-masing. Ketika mereka bermalam di perjalanan, Akuwu telah membetengi tandu Permaisurinya dengan prajurit-prajurit yang berjajar rapat supaya Ken Dedes tidak ketakutan. Namun bagaimanapun juga, Ken Dedes yang berbaring di sisi tandunya bersama pemomongnya masih juga nampak gelisah dan cemas.

Sebenarnyalah bahwa tidak ada kekuatan yang betapapun besarnya untuk dapat melepaskannya dari kecemasan, kerena kecemasan dan kegelisahan itu melonjak dari dalam dirinya sendiri.

Dan ternyatlah kemudian, ketika mereka sudah sampai di Tumapel, maka Akuwu segera merencanakan untuk memanggil prajurit-prajuritnya yang berada di Padang Karautan. Namun ia menjadi semakin bingung ketika ternyata pendirian Permaisurinya selalu berubah-ubah. Pada suatu ketika, Ken Dedes seolah-olah memaksa Akuwu untuk segera memanggil pasukan itu, namun di saat yang lain, dengan penuh ketakutan Ken Dedes berkata “Jangan Tuanku. Jangan Tuanku memanggil prajurit-prajurit itu. Kasihan kakang Mahisa Agni dan orang-orang Panawijen. Apabila terjadi bencana, apalagi banjir, tidak ada pasukan yang akan menolong mereka”.

Akuwu menarik nafas dalam-dalam, “Aku tidak mengerti, bagaimanakah sebenarnya yang kau kehendaki. Aku dapat saja melakukannya. Menarik pasukan itu, atau membiarkannya di Padang Karautan”.

“Langit sudah terlampau sering dibayangi oleh awan yang kelabu dan hujan sudah terlampau sering turun. Semakin lama kita semakin dalam masuk kedalam musim basah”.

Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah Ken Dedes. Pasukan itu akan aku biarkan saja di Padang Karautan”.

“Terima kasih Tuanku. Ternyata Tuanku masih tetap memikirkan nasib orang-orang Panawijen”.

“Aku tidak pernah melupakannya”. Akuwu ita berhenti sejenak, “Nah, sekarang beristirahatlah. Banyak-banyaklah beristirahat. Jangan memikirkan apa pun juga”.

Permaisuri mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia pergi ke biliknya. Namun setiap kali ia selalu menelungkupkan dirinya di atas pembaringannya. Bahkan kadang-kadang terdengar ia berdesah berkepanjangan.

“Tuanku membuat seluruh isi istana menjadi bingung” emban pemomongnya setiap kali mencoba menghiburnya.

“Sebaiknya Tuanku melepaskan segala masalah. Tuanku harus menenangkan diri. Tuanku adalah bulan di malam hari bagi istana ini, seperti Tuanku Tunggul Ametung adalah matahari di waktu siang. Kalau matahari dan bulan menjadi suram, maka hari yang cerah dan malam purnama pun akan menjadi suram pula”.

Ken Dedes selalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Permaisuri itu selalu dapat mengerti. Ia menyadari kebenaran kata-kata embannya dan betapa ia sedang dicengkam oleh iblis yang paling jahat untuk menjerumuskan kedalam api neraka. Namun kadang-kadang hatinya yang lemah kehilangan pegangan. Dalam keadaan yang demikian itulah ia merengek-rengek kepada Akuwu untuk segera memanggil pasukan Tumapel yang berada di Padang Karautan.

Namun ternyata Akuwu Tunggul Ametung telah membuat perhitungannya sendiri. Ia menganggap bahwa isterinya benar-benar sedang kebingungan. Akuwu menganggap, bahwa sebenarnya Permaisurinya sedang di cengkam oleh ketakutan. Maka diminta atau tidak diminta, ia harus menarik pasukannya. Menurut pendapat Akuwu, dalam saat-saat tertentu Ken Dedes telah di desak oleh rasa belas kasihannya kepada kakaknya dan kepada orang-orang Panawijen, sehingga ia minta supaya penarikan itu diurungkan. Tetapi sebenarnya, keinginannya yang di warnai oleh ketakutan, kecemasan dan kegelisahannya adalah memanggil semua kekuatan untuk dipusatkan dipusat pemerintahan sampai ia menjadi tenang kembali. Bahkan Akuwu merencanakan untuk mengumpulkan sebagian pasukannya di alun-alun dan membawa Ken Dedes melihat-lihat pasukan itu. Dengan demikian ia mempunyai kepercayaan kepada kekuatan yang ada di Tumapel. Mudah-mudahan ia menjadi tenang dan lambat laun dapat disembuhkan dari kegelisahannya. Akuwu berharap di dalam batinya.

Tetapi yang masih tetap gelap bagi Akuwu, kenapa tiba-tiba saja Ken Dedes, justru pada saat ia berada di Padang Karautan yang sepi dihinggapi oleh perasaan takut yang berlebih-lebihan itu? Apakah di dalam kesepian, ia membayangkan sepasukan prajurit dari negeri yang tidak dikenal datang melanda Tanah Tumapel? Dan apakah ini merupakan suatu firasat?

“Ken Dedes bukan orang kebanyakan” desis Akuwu di dalam hatinya, “Aku pernah melihat tubuhnya seakan-akan menyala, seakan-akan memancar seperti matahari Apakah ketakutan yang melanda hatinya itu benar-benar suatu peringatan bagiku dan bagi Tumapel?”

Ternyata Akuwu tidak dapat menahan perasaan itu di dalam hatinya. Kepada tetua Tanah Tumapel yang dipercayanya ia minta pertimbangan, apakah firasat itu perlu mendapat perhatiannya.

“Sebaiknya Tuanku menjaga diri” berkata tetua Tanah Tumapel, “Tidak ada jeleknya Tuanku berhati-hati. Dan tidak ada salahnya apabila pasukan itu ditarik dari Padang Karautan. Bukankah menurut Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, di Padang Karautan itu telah ada angger Mahisa Agni, Kakanda Tuanku Permaisuri yang sangat berpengaruh atas orang-orang Panawijen?”

Dan Akuwu Tunggul Ametung mendengarkan nasehat itu. Kini ia berkeputusan untuk menarik semua pasukan dari Padang Karautan untuk ditempatkan di pusat pemerintahan, termasuk para pemimpinnya. Dan di dalamnya, di dalam pasukan itu, terdapat pula seorang pemimpin yang bernama Ken Arok.

Meskipun demikian, Akuwu Tunggul Ametung tidak berbuat tergesa-gesa. Kali ini ia benar-benar mencoba menguasai dirinya dari perasaannya yang biasanya meledak-ledak. Dengan hati-hati ia memberikan alasan-alasan yang dapat dimengerti oleh orang-orang Panawijen, bahwa seharusnyalah pasukan Tumapel itu ditarik dari Padang Karautan.

Karena Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen adalah orang-orang yang dianggap paling berpengaruh atas orang-orang Panawijen, muka mereka berdua itulah yang lebih dahulu harus menerima secara wajar, bahwa pada saatnya, prajurit-prajurit Tumapel memang harus di panggil kembali ke pusat pemerintahan.

Itulah sebabnya maka utusan Akuwu Tunggul Ametung telah menemui mereka dan Ken Arok di Padang Karautan.

“Tuanku Tunggul Ametung tidak bermaksud melepaskan sama sekali perlindungannya atas kalian di Panawijen dan di Padang Karautan” berkata utusan itu, “tetapi adalah sewajarnya bahwa kalian telah mampu untuk mengurus diri sendiri. Kalian telah mampu menyelesaikan pekerjaan kalian yang paling berat. Maka seterusnya, kalian pasti tidak akan menjumpai kesulitan-kesulitan lagi”.

Perintah itu pertama-tama memang terasa agak aneh pada Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen, karena terlampau tiba-tiba. Tetapi lambat laun mereka merasakan, bahwa memang sebaiknya prajurit-prajurit itu ditarik dari Padang Karautan. Dengan hadirnya para prajurit itu, agaknya akan membuat orang-orang Panawijen banyak tergantung kepada bantuan orang lain. Tetapi apabila semua persoalan telah berada di tangan sendiri, maka mereka akan menemukan kepercayaan kepada diri sendiri, seperti pada saat mereka mulai dengan pekerjaan besar mereka. Kehadiran para prajurit itu sedikit banyak telah mempengaruhi orang-orang Panawijen itu. Tetapi tidak terlampau parah. Sehingga apabila pada saatnya para prajurit itu meninggalkan mereka, mereka tidak akan kehilangan pegangan.

“Tidak ada persoalan apa pun yang memaksa Akuwu untuk memanggil prajurit-prajuritnya, selain keharusan yang sewajarnya. Akuwu mengirimkan mereka kemari untuk membantu kalian menyelesaikan bendungan dan sekaligus untuk membuat taman itu. Kini semuanya sudah selesai. Karena itulah, maka Akuwu akan dapat mempergunakan para prajurit itu untuk kepentingan Tumapel yang lain”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Kami dapat mengerti. Memang berat untuk melepaskan kawan yang telah banyak berjasa di dalam pekerjaan besar yang telah kami selesaikan. Bahkan kami merasa sedikit cemas, bahwa kami akan kehilangan sebagian dari kemampuan kami di Padang Karautan. Namun kami dapat mengerti, bahwa akhirnya saat itu akan datang”.

Utusan Akuwu menganggukkan kepalanya. Ia merasakan jawaban Mahisa Agni benar-benar dilandasi oleh pengertian yang mantap, bukan sekedar keharusan yang dipaksakan tanpa dapat membantah lagi.

Yang sama sekali belum meayatakan pendapatnya adalah Ken Arok sendiri. Ketika utusan Tumapel dan mereka yang duduk bersamanya berpaling ke arahnya, maka mereka terkejut atas kesan yang mereka tangkap dari wajah pemimpin prajurit yang masih muda itu.

Betapa wajah Ken Arok menjadi tegang dan kemerah-merahan. Keringat dingin mengembun di kening dan dahinya.

Kesan yang pertama-tama menyentuh perasaan mereka yang melihat adalah, bahwa Ken Arok yang telah sekian lama berada di Padang Karautan bersama-sama dengan orang-orang Panawijen, merasa terkejut dan berkeberatan, apabila tiba-tiba saja ia harus kembali ke Tumapel. Agaknya Padang Karautan dengan bendungan dan tamannya telah memikat hatinya.

Dengan demikian, maka tidak seorang pun juga yang dapat meraba perasaan Ken Arok yang sebenarnya. Tidak seorang pun juga yang melihat, betapa prajurit muda itu terkejut mendengar perintah Akuwu yang memang terasa agak tiba-tiba. Untuk sejenak Ken Arok tidak dapat mengerti perasaan yang bergolak di dalam dadanya sendiri Sekilas sepercik kegembiraan, bahwa ia akan berada kembali di pusat pemerintahan, di kota yang ramai dan dekat dengan orang-orang terkemuka. Tetapi lebih dari pada itu, ia merasakan selalu dekat dengan istana Akuwu Tunggul Ametung.

Namun kegembiraan itu tiba-tiba lenyap seperti awan yang disapu angin. Bahkan ia menjadi cemas dan ragu-ragu, apakah sebenarnya maksud Akuwu memanggilnya bersama seluruh pasukannya.

“Apakah Akuwu benar-benar marah kepadaku karena pelayananku yang tidak menyenangkan hatinya dan hati Permaisuri?” Namun kemudian dibantahnya sendiri, “Kalau demikian, Akuwu pasti hanya akan memanggil aku sendiri. Tidak bersama seluruh pasukan”.

Ken Arok itu terperanjat ketika ia mendengar utusan Akuwu itu bertanya, “Bagaimana pendapatmu Ken Arok?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terputus-putus ia menjawab, “Itu adalah perintah Akuwu Tunggul Ametung. Aku tidak berhak untuk membuat penilaian. Aku hanya dapat melakukannya”.

Utusan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Benar. Kau benar. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau tidak dapat membuat penilaian. Kau wajib membuat pertimbangan-pertimbangan, meskipun seandainya peitimbangan-peitimbangan itu tidak didengar oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi lebih dari pada itu, kau sebagai pribadi yang bersikap, tentu dapat membuat penilaian menurut nalar dan perasaanmu”.

Sekali lagi Ken Arok menarik nafas. Tetapi akhirnya ia berkata, “Bagiku, hal ini adalah wajar sekali. Tugas prajurit Tumapel di sini memang sudah selesai. Kami memang merencanakan untuk membuat pesanggrahan yang agak lebih baik. Tetapi itu bukan pekerjaaan yang harus diselesaikan segera. Pertimbangan ini sama sekali lepas dari persoalan pribadi. Pribadi setiap prajurit dan pribadiku sebagai seorang Ken Arok. Karena itu, maka kami akan segera melaksanakan perintah itu. Menurut penjelasanmu, memang tidak ada persoalan yang tidak wajar. Agaknya Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen pun telah menerima persoalan ini dengan wajar pula”.

Utusan Akuwu Tunggul Ametung itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian katanya, “Terserahlah kepadamu Ken Arok, kapan kau akan melaksanakan. Akuwu tidak menentukan waktu, tetapi Akuwu berpesan, secepat dapat kau lakukan. Lakukanlah”.

Ken Arok tidak menyahut. Tetapi kepalanya mengangguk-angguk lemah. Terasa di dadanya suatu pergolakan yang sulit untuk dimengertinya sendiri. Perintah itu telah menumbuhkan pertentangan yang dahsyat di dalam dirinya.

Sebagai seorang laki-laki muda, Ken Arok merasa mendapat kesempatan untuk segera kembali ke pusat pemerintahan, berada di sekitar istana di setiap saat ia menghendaki. Ia akan mendapat kesempatan untuk setidak-tidaknya memandang senyum Permaisuri yang lembut lunak, menggetarkan jantungnya. Bahkan kemungkinan untuk berbicara tentang apa saja, akan dapat ditemukannya di Tumapel.

Namun tiba-tiba Ken Arok itu berdesah. Kesadarannya telah mendesak perasaan itu dan mencoba mengusiraya. Bahkan dengan sepenuh hati Ken Arok berkata di dalam dadanya, “Apakah aku pun telah diselusupi hantu Karautan, sehingga pikiran-pikiran jahat ini tumbuh di dalam diriku ini. Apakah dunia yang hitam itu harus aku masuki kembali setelah aku dilepaskan dari dalamnya, justru oleh Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Arok terperanjat ketika ia mendengar utusan Akuwu itu berkata, “Ken Arok. Aku harus mendahului kembali ke Tumapel. Aku harus menyampaikan laporan kepada Tuanku Akuwu, bahwa aku telah berhasil menemui dan berbicara dengan Mahisa Agni, Ki Buyut Panawijen dan kau. Mahisa Agni dan Ki Buyut adalah wakil dari orang-orang Panawijen, dan kau adalah pemimpin prajurit Tumapel di sini”.

Hampir bersamaan ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam pada itu Ki Buyut mencoba menahannya untuk tinggal semalam di Padang Karautan, tetapi utusan itu menjawab, “Terima kasih. Aku harus segera kembali”.

Sepeninggal utusan itu, maka baik Ken Arok, maupun Mahisa Agni segera mempersiapkan dirinya. Mahisa Agni dan Ki Buyut segera memanggil beberapa orang tetua dari orang-orang Panawijen, memberitahukan keputusan Akuwu untuk menarik prajurit-prajurit Tumapel dari Padang Karautan, karena tugas mereka dirasa sudah cukup. Karena itu maka mereka harus bersiap-siap menghadapi masa-masa yang aksn dipenuhi oleh kerja dan tanggung jawab sendiri. Justru menjelang pemindahan penduduk Panawijen yang masih tinggal di padesan mereka yang kering.

“Itu tidak perlu tergesa-gesa Ki Buyut” berkata Mahisa Agai, “Kita mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan sebaik-baiknya. Di dalam musim basah, Panawijen lama masih dapat dipergunakan. Sawah dan pategalan masih mungkin ditanami meskipun tidak akan memuaskan. Tetapi semusim ini, kita masih dapat menempatinya. Pohon-Pohon tampak menjadi agak kehijauan dan palawija akan berbuah meskipun tidak begitu lebat. Sementara itu, padukuhan kami yang baru menjadi semakin subur dan hijau rimbun”.

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Benar ngger. Tetapi bagi keluarga yang sudah terlampau lama terpisah, hal itu akan tetap merupakan masalah. Seorang suami yang selama ini berada di padang ini, pasti merindukan suatu waktu yang dekat untuk segera dapat hidup di antara keluarganya, di antara anak dan isterinya. Karena itu ngger, persoalannya tidak tergantung sama sekali pada kemungkinan pelaksanaan saja, tetapi juga oleh persoalan-persoalan yang lain”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Hal-hal serupa itu masih belum terpikirkan olehnya. Namun ia dapat mengerti sepenuhnya, bahwa pemindahan itu tidak boleh tertunda-tunda lagi.

Sementara itu, Ken Arok telah diombang-ambingkan oleh perasaan sendiri. Sesaat ia seakan-akan ingin berangkat sekarang juga, ia dapat memanggil para pemimpin pasukan, bersiap dan segera berangkat, karena mereka tidak perlu membawa apapun kembali ke Tumapel. Semua sisa peralatan akan ditinggalkannya di Padang Karautan, untuk memberi bekal orang-orang Panawijen hidup di daerahnya yang baru. Tetapi tiba-tiba ia terhenyak di pembaringannya. Sambil menggeretakan giginya ia berkata, “Aku tidak boleh menjadi gila. Aku harus tetap menyadari keadaanku, diriku dan sejarah hidupku. Kalau tetap aku terlepas dari kesadaran itu, maka aku benar-benar akan terjerumus ke dalam neraka yang paling parah”.

Dan apabila kesadaran itu datang, maka Ken Arok mencoba untuk menahan dirinya. Ia tidak perlu tergesa-gesa berangkat meninggalkan Padang Karautan.

“Aku harus berbicara dengan para prajurit. Mereka harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Tidak tergesa-gesa seperti pesan Akuwu itu sendiri”. Namun tiba-tiba teringat olehnya pesan utusan Akuwu, “Secepat dapat kau lakukan, lakukanlah”.

“Sekarang pun aku dapat melakukannya” ia berdesis.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan keluar gubugnya. Ketika dilihatnya seorang prajurit, maka dipanggilnya prajurit itu dan diperintahkannya memanggil Kebo Ijo.

“Aku harus berbicara dengan Kebo Ijo, “katanya kepada diri sendiri.

Dan sejenak kemudian Kebo Ijo itu telah ada di dalam gubug itu pula. Perlahan-lahan dan hati-hati Ken Arok memberitahukan, bahwa utusan Akuwu yang datang itu ternyata membawa perintah, agar para prajurit ditarik dari padang ini.

Ken Arok terkejut ketika tiba-tiba saja Kebo Ijo melonjak kegirangan. Katanya, “Perintah yang bijaksana. Ayo, kita berangkat sekarang. Setiap orang sudah jemu tinggal di padang yang sepi sesepi hati seorang duda kembang. Ayo, kita berangkat sekarang juga”.

Ken Arok mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kenapa sekarang? Kita tidak perlu tergesa-gesa. Dan bukankah kita harus mempersiapkan diri lebih dahulu?”

“Kita bukan gadis-gadis yang dibebani oleh wedak dan botekan. Kita adalah prajurit-prajurit. Dalam waktu sekejap kita dapat mempersiapkan diri kita dan segera berangkat. He, Ken Arok, kau tidak tahu betapa kerinduanku kepada keluargaku hampir tak tertahankan. Kau tidak dapat membayangkannya, karena kau belum mengalami, betapa dada ini diamuk oleh perasaan rindu. Nah, keluarkan perintah itu, sekarang kita akan berangkat”.

Dada Ken Arok menjadi herdebar-debar. Meskipun ia belum mengalami betapa dada ini diamuk oleh kerinduan kepada anak isteri dan keluarga, namun Ken Arok dapat mengerti, bahwa perasaan yang demikian cukup tajam mencengkam jantung. Karena itu, maka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Ken Arok berkata “Aku tahu, perasaan yang terkandung di dalam hatimu dan hati hampir setiap prajurit yang berada di Padang Karautan ini”.

“Tidak setiap prajurit. Di antara mereka ada yang telah pernah mendapat kesempatan pulang dan berlibur untuk beberapa hari, dan bahkan ada di antara mereka yang datang kemudian”.

“Apakah kau datang sejak permulaan?”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Namun ia masih menjawab “Aku memang tidak datang sejak permulaan. Tetapi aku sudah terlampau lama di sini. Nah, apakah kau akan mengatakan bahwa kau telah berada di sini lebih lama lagi? Aku percaya, karena kau memang penghuni padang ini sejak bayimu”.

Sepercik warna merah membayang di wajah Ken Arok. Hampir-hampir ia di bakar lagi oleh perasaannya mendengar kata-kata Kebo Ijo itu. Namun ketika tidak dilihatnya pada wajah Kebo Ijo itu perasaan apapun selain keinginan untuk segera pulang kembali ke rumah keluarganya, maka Ken Arok segera mencoba meredakan perasaannya.

“Hem” katanya di dalam hati “Aku tidak tahu, apakah ia sekedar bergurau, apakah ia sedang menyindir aku”.

“Bagaimana Ken Arok?” bertanya Kebo Ijo itu pula.

Ken Arok menarik nafas. Katanya “Jangan sekarang. Kita akan menumbuhkan kesan yang kurang baik, seolah-olah kita sudah tidak betah tinggal di padang ini, bahkan seolah-olah kita sudah tidak dapat tinggal meskipun hanya semalam saja lagi. Mereka akan menyangka, kita telah jemu berada di antara mereka. Akuwu dan Permaisuri yang dengan tergesa-gesa meninggalkan padang ini telah menumbuhkan berbagai pertanyaan di hati mereka. Apalagi kita kemudian dengan tergesa-gesa pula meninggalkan padang ini”.

“Persetan dengan mereka. Mereka harus mengucapkan tidak hanya seribu terima kasih, tetapi selaksa, sejuta dan bahkan sebanyak jumlah bintang di langit. Kalau dengan kemurahan Akuwu ini mereka masih juga kurang, biarlah meraka mengeringkan lautan dan meruntuhkan gunung-gunung. Kita tidak akan perduli lagi”.

“Jangan begitu Kebo Ijo. Kita sudah terlanjur berbuat baik. Kesan yang terakhir kita tinggalkan pun seharus nya adalah kesan yang baik pula. Kita jangan menyapu kesan yang selama ini kita tumbuhkan di hati mereka, dengan peristiwa yang sama sekali tidak berarti. Kita akan kehilangan panas setahun, di sapu oleh basahnya hujan hanya sehari”.

Kebo Ijo menarik keningnya. Ditatapnya mata Ken Arok tajam-tajam. Namun kemudian ia memalingkan wajahnya, memandangi padang yang terbentang seolah-olah tidak bertepi. Tetapi kini, wajah padang yang luas itu telah jauh berubah, setidak-tidaknya di sekitar bendungan yang telah di bangun oleh orang Pananwijen dan para prajurit Tumapel itu.

“Jadi kapan kita akan berangkat?” bertanya Kebo Ijo kemudian.

“Kita melihat perkembangan keadaan”.

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tidak disangka-sangka ia berkata, “Baiklah Ken Atok. Kita adalah prajurit. Sudah jamaknya, bahwa seorang prajurit berada di luar lingkungan keluarganya untuk waktu yang tidak tertentu. Baiklah. Aku akan menunggu sampai waktu yang kau tentukan. Mungkin aku masih sempat melihat padma di kolam itu berkembang”.

“He” Ken Arok bertanya sambil mengerutkan dahinya, “Kapan bunga itu berkembang?”

“Satu atau dua pekan lagi”.

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk kecil. Dan Kebo Ijo pun tidak menunggu Ken Arok itu menjawab. Perlahan-lahan ia memutar tubuhnya dan berlalu meninggalkan Ken Arok sendiri.

Sepeninggal Kebo Ijo, Ken Arok menjadi gelisah. Ia sendiri telah dibingungkan oleh perasaan yang tidak menentu di dalam dirinya. Dan tiba-tiba saja Ken Arok itu melonjak sambil berdesis, “Tidak. Tidak ada gunanya menunggu bunga itu kembang. Terlampau lama. Apakah aku masih harus berada di Padang Karautan yang sepi ini selama dua pekan lagi? Tidak. Aku sudah cukup tersiksa selama ini tinggal di daerah yang sepi, sesepi goa hantu. Aku harus segera berangkat. Segera”.

Namun dengan lemahnya Ken Arok itu terduduk kembali di atas setumpuk rerumputan kering. Desahnya, “O, betapa gilanya aku ini. Aku menahan Kebo Ijo supaya kami tidak tergesa-gesa meninggalkan padang ini, agar tidak menumbuhkan kesan yang tidak baik. Kenapa aku sendiri kemudian seakan-akan hampir tidak dapat menunda lagi untuk tinggal di padang ini semalam atau dua malam lagi? Kenapa aku kini merasa tersiksa tinggal di padang yang sudah menjadi kian ramai dan hijau, ditumbuhi oleh tanaman-tanaman yang segar di antara gubug-gubug yang berpenghuni, dan bahkan sebuah taman dan pesanggrahan? O, aku memang sudah gila. Dahulu aku tinggal di padang ini benar-benar seperti hantu padang yang liar. Sendiri di siang dan di malam hari. Jauh dari pergaulan manusia, dan mirip seekor serigala yang terasing dari kawan-kawannya”.

Tanpa sesadarnya Ken Arok menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, seolah-olah menghindarkan diri dari sebuah penglihatan yang mengerikan. Tetapi, meskipun matanya tertutup oleh jari-jari tangannya, namun sebenarnyalah bahwa ia tidak melihat dengan mata wadagnya. Yang dilihatnya adalah peristiwa yang telah terjadi. Dan yang melihat adalah mata hatinya. Karena itu, betapa rapatnya matanya dipejamkan, dan betapa rapat telapak tangannya menutup wajahnya, tetapi ia tidak dapat menghindar dari penglihatannya, bahwa semua itu memang pernah terjadi.

“Tak ada cara untuk menghindari” desisnya “Aku harus menerima kenyataan itu. Dan kenyataan itu telah menyiksaku kini, justru karena kegilaanku yang baru”.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kini ditatapnya langit yang kebiru-biruan. Sekali-kali tampak olehnya mega yang kelabu bergerak perlahan-lahan seperti sebuah rakit yang malas di wajah danau yang bening.

“Aku tidak boleh hanyut oleh perasaanku dan terombang-ambing tak terkendali. Aku harus tetap menyadari keadaanku, sejarah hidupku dan kenistaanku” gumamnya perlahan-lahan.

Namun, betapapun juga terasa sesuatu tersumbat di pusat dadanya. Dan yang tersumbat itu seolah-olah selalu mencari saluran untuk meledak.

Perlahan-lahan Ken Arok melangkahkan kakinya. Ditinggalkannya gubugnya menyusur sela-sela gubug-gubug yang lain yang dihuni oleh para prajurit Tumapel. Dilihatnya beberapa orang sedang berbaring-baring dan yang lain bergurau di antara mereka.

“Keadaan ini memang kurang menyenangkan”, berkata Ken Arok di dalam hatinya, “Dalam keadaan demikian, para prajurit akan dapat kehilangan sebagian dari gairah kerjanya. Mereka dapat menjadi malas dan perasaan mereka dapat merayap tidak menentu”.

Pemimpin prajutit Tumapel itu mengerutkan keningnya. Namun seiyenak kemudian ia menggeram, “Memang aku harus selekasnya membawa mereka kembali ke Tumapel. Pesanggrahan yang akan kami buat itu memang tidak harus secepatnya selesai, dan bahannya pun masih belum lengkap pula. Mamang tidak ada gunanya untuk lebih lama tinggal di Padang Karautan ini, tetapi lalu, “Meskipun demikian aku tidak boleh tergesa-gesa. Dan nasehatku kepada Kebo Ijo seharusnya aku dengarkan sendiri, karena nasehat itu sebagian terbesar memang untuk diriku sendiri”.

Tetapi ternya berita keberangkatan prajurit Tumapel itu segera menjalar ke segenap gubug-gubug di perkemahan itu. Bukan saja karena Kebo Ijo telah mengatakannya kepada setiap orang yang dijumpainya, tetapi Mahisa Agni pun telah memberi tahukannya kepada para tetua dari orang-orang Panawijen. Namun ternyata bahwa hal itu dapat mereka terima sebagai kewajaran. Orang-Orang Panawijen sama sekali tidak tersinggung karenanya. Mereka masih tetap menyimpan perasaan terima kasih di dalam hati masing-masing. Bantuan para prajurit itu memang tidak sedikit. Tenaga, peralatan, perlengkapan dan bahkan persediaan bahan makan. Apalagi mereka mendengar, bahkan kerbau dan lembunya pun akan ditinggalnya di Padang Karautan.

“Kami sudah mempunyai bekal yarg jauh daripada cukup untuk berdiri lagi” berkata Ki Buyut Panawijen “Ternyata bahwa kekayaan kita sekarang justru melampaui saat-saat kita masih berada di Padukuhan Panawijen lama”.

“Ya” salah seorang tertua menganggukkan kepalanya selanjutnya “Bagaimanakah kita harus mengembangkannya. Alat-Alat yang baik itu jangan membuat kita menjadi malas”.

“Tentu, tentu kita tidak boleh menjadi malas dan menyerahkan semua kerja kepada alat dan perlengkapan kita” sahut ki Buyut “Dan sejak lahir kita adalah pekerja-pekerja yang harus bekerja keras”.

Demikianlah, maka akhirnya sampailah pada saatnya, prajurit-prajurit Tumapel itu siap untuk berangkat, meninggalkan Padang Karautan yang selama ini telah digarapnya. Dibuatkannya bendungan, dialirinya tanahnya yang kering dan kemudian ditanaminya, sehingga wajahnya yang kekuning-kuningan kini telah menjadi hijau segar.

Terbersit perasaan haru di dalam dada tetap prajurit. Betapapun juga Kebo Ijo yang meledak-ledak itu, merasakan sentuhan-sentuhan perasaan yang lembut, melihat lambaian daun-daun padi yang hijau segar, saluran-saluran dan parit yang mengalirkan air yang bening. Sekali-kali diperhatikannya juga pepohonan yang sudah mulai merimbun dan cikal-cikal kelapa yang semakin tinggi.

“Selamat tinggal, Padang Karautan, “desisnya.

Ken Arok mendengar desis itu, dan berpaling kepadanya. Sambil tersenyum ia berkata “Memang tanah ini memberikan kenangan tersendiri, bukankah begitu Kebo Ijo”.

“Ya, begitulah” jawab Kebo ijo, “kalau aku tidak beranak isteri, aku tidak akan meninggalkan padang ini”.

Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen pun tersenyum pula. Dalam saat perpisahan serupa ini, maka segala macam kesan yang buram seolah-olah telah terhapus dari hati mereka. Baik Mahisa Agni, Ken Arok maupun Kebo Ijo, tidak mengesankan segala bentuk perselisihan yang pernah terjadi.

“Kau dapat tinggal di sini Kebo Ijo” berkata Mahisa Agni kemudian, “justru bersama anak isterimu”.

“Uh” sahut Kebo Ijo, “daerah sesepi ini memang menyenangkan. Tetapi tidak untuk menetap. Pada saat-saat kita ingin beristirahat dan melupakan segala macam kesibukan kita sehari-hari, kita dapat menikmati kesepian ini”.

“Tetapi kami harus menetap di sini” sahut Ki Buyut Panawijen “tempat yang sepi ini memberikan gairah dan kerja kepada kami. Terlampau sibuk, sehingga kami tidak akan mengenali kesepian itu lagi”.

Kebo Ijo tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ya, ya. Begitulah bagi kalian” tiba-tiba suara tertawanya menurun, dan akhirnya seakan-akan bersungguh-sungguh ia bertata “Padang ini memang menyimpan banyak sekali rahasia”.

Dada Ken Arok berdesir mendengar kata-kata itu. Namun cepat sekali ia berhasil menguasainya. Katanya “Tetapi rahasia itu sekarang telah terbuka. Tanah ini bukan lagi mati. Tetapi di atas padang ini telah tumbuh kehidupan yang subur”.

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya. Rahasia itu telah di buka” lalu suaranya agak mengeras, “tetapi baru sebagian kecil”.

“Kau akan datang untuk lain kali” sahut Mahisa Agni, “dan kau akan membuka rahasia yang lebih besar lagi”.

Sekali lagi dada Ken Arok berdesir. Namun kemudian ia tertegun ketika ia mendengar suara Kebo Ijo datar dan dalam, “Aku memang ingin. Tetapi rasa-rasanya aku benar-benar harus mengucapkan selamat berpisah. Aku tidak tahu, apakah aku akan dapat melihat padang ini, walaupun sekali lagi saja”.

Mahisa Agni mengerutkan dahinya, namun kemudian ia tersenyum. Ditatapnya wajah Kebo Ijo yang sedang menatap padang rumput yang terbentang luas dihadapannya itu. Katanya “Tak ada yang akan menghalang-halangimu Kebo Ijo. Dan aku harap bahwa perkembangan pedukuhan kami tidak akan segera meliputi seluruh Padang Karautan, sehingga kau masih akan sempat melihat padang ini”.

Tatapan mata Kebo Ijo masih beredar mengintari padang dan kemudian saluran induk yang membelah padang itu. Sawah yang hijau dan pepohonan yang merimbun. Tiba-Tiba ia tersenyum dan berkata, “Ya, dan juga mengharap bahwa sepanjang umurku, belum seluruh Padang Karautan akan kau jadikan pedukuhan, Agni. Sehingga apabila aku masih berkesempatan, aku masih dapat melihat padang yang kuning kering di sekitar sawahmu yang hijau subur”.

“Tentu. Seandainya perkembangkan pedukuhan kami menjadi terlampau pesat karena kemudian berduyun-duyun pendatang baru turut meramaikan padang ini, maka aku pasti akan memagari setidak-tidaknya sepuluh langkah bujur dan lintang, supaya kau masih tetap menemukan padang rumput Karautan”.

“Uh, hanya sebesar kandang kuda?”

Mahisa Agni tertawa. Kebo Ijo dan Ken Arok pun tertawa pula.

“Ada-ada saja kau Ngger ” guman Ki Buyut sambil tersenyum.

Matahari sementara itu merayap semakin tinggi di kaki langit. Ternyata seluruh prajurit Tumapel telah bersiap untuk berangkat meninggalkan Padang Karautan. Mereka berbaris seolah-olah hendak pergi berperang. Beberapa orang berada di atas punggung kuda, dan beberapa orang berdiri di sekitar beberapa pedati yang di pakai untuk mengangkut beberapa macam barang-barang yang harus di bawa kembali ke Tumapel. Pakaian para prajurit, beberapa perlengkapan senjata dan perlengkapan-perlengkapan mereka yang lain. Sedangkan peralatan dan perlengkapan mereka untuk mengerjakan tanah, pedati-pedati dan bajak-bajak serta kerbau dan sapi penariknya, mereka tinggalkan di padang ini, dan mereka serahkan kepada orang-orang Panawijen.

Maka mumpung matahari belum mulai tinggi, setelah minta diri kepada Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni dan orang-orang Panawijen, berangkatlah Ken Arok, Kebo Ijo beserta rombongannya meninggalkan Padang Karautan.

Terasa juga di dada mereka, sesuatu membebani perasaan. Tetapi semakin jauh mereka dari rimbunnya dedaunan dan hijaunya persawahan di sekitar bendungan itu, maka hati mereka pun menjadi semakin ringan. Meskipun mereka memerlukan lewat di sebelah taman yang mereka buat, namun taman itu tidak menumbuhkan perasaan haru seperti padukuhan Panawijen yang baru mulai berkembang itu.

Setelah mereka terlepas sama sekali dari daerah yang selama.ini mereka bangun kerja yang keras, maka perjalanan mereka pun menjadi semakin lama semakin cepat. Beberapa orang berkuda mendapat tugas untuk mendahului perjalanan dan menyampaikan kepada Akuwu Tunggul Ametung, bahwa prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan telah berada di perjalanan, memenuhi perintah Akuwu Tunggul Ametung, kembali ke pusat pemerintahan setelah manunaikan kerja mereka yang besar, yang tidak kurang arti serta nilainya dari pada bertempur di medan peperangan.

Sebuah bendungan yang besar telah dibangun, sebuah petamanan yang paling besar dan paling indah di seluruh Tumapel, di tengah-tengah padang yang semula padang rumput yang buas dan liar. Namun kini padang itu justru merupakan daerah yang masih menyimpan terlampau banyak kemungkinan untuk menjadikan pedukuhan baru itu berkembang sejauh-jauhnya.

Prajurit-prajurit Tumapel itu setelah lepas dari Padang Karautan yang panas seperti membakar punggung, ternyata telah hampir melupakan perasaan yang membebani hati mereka, tentang pedukuhan baru serta taman yang hijau di tengah-tengah padang yang kering kekuning-kuningan. Kini perasaan mereka telah dicengkam oleh waktu mendatang yang singkat. Mereka mungkin perlu bermalam semalam di perjalanan apabila mereka memerlukan beristirahat setelah mereka di panggang di bawah teriknya matahari di Padang Karautan. Tetapi apabila mereka menghendaki, maka mereka dapat meneruskan perjalanan. Meskipun jauh malam, namun mereka akan dapat langsung mencapai Tumapel.

Ternyata prajurit-prajurit yang sebagian terbesar telah dibakar oleh kerinduan mereka terhadap keluarga yang mereka tinggalkan, memilih berjalan terus. Sesuai dengan keadaan mereka, sebagai seorang prajurit, maka betapapun lelahnya, namun mereka masih juga mampu berjalan dengan dada tengadah, merambat perlahan-lahan mendekati pusat tanah Tumapel.

Beberapa orang prajurit yang keadaannya kurang menguntungkan, dan benar-benar telah kelelahan, diam-diam membiarkan dirinya tertinggal oleh kawan-kawan sekelompoknya, tetapi diam-diam pula mereka meloncat masuk ke dalam pedati-pedati.

“He, kenapa kau naik?” bertanya sais pedati itu.

“Sss, kakiku hampir patah”.

“Lalu bagaimanakah kira-kira kalau tiba-tiba saja kita bertemu dengan musuh di saat-saat seperti ini? Apakah kau tidak juga dapat bangkit?”

“Dalam keadaan serupa ini, musuh akan lenyap dengan sebuah hembusan dari mulutku”.

“Kau mengigau”.

“Karena aku yakin bahwa tidak akan ada sebutir musuh pun yang mendekat”.

“Perampok-perampok dan penyamun yang kadang-kadang dapat memhentak dirinya menjadi sebuah gerombolan yang besar”.

“Mereka tidak akan membunuh diri, menyamun, dan merampok sepasukan prajurit yang lengkap dengan senjatanya. Hanya perampok dan penyamun yang gila sajalah, atau yang sudah berputus asa, yang akan melakukannya”.

“Baik. Baik. Tidur sajalah. Tidur sajalah prajurit malas” desis sais itu dengan jengkelnya.

Dan prajurit itu pun benar-benar mencoba untuk berbaring. Tetapi seorang kawannya yang berada di dalam pedati itu juga, menarik kakinya dan memaksanya untuk duduk sambil memeluk lututnya, karena ternyata pedati itu akhirnya menjadi penuh. Kecuali isi pedati itu sendiri, juga ada beberapa orang lain yang naik ke atasnya.

Para prajurit itu memasuki kota Tumapel ketika kota itu telah menjadi lelap. Regol-regol halaman telah tertutup dan gardu-gardu perondapun telah sunyi. Meskipun demikian satu dua orang peronda yang duduk terkantuk-kantuk telah melihat mereka dengan hati berdebar-debar.

“Prajurit-prajurit yang berada di Padang Karautan telah datang” desis mereka satu sama lain.

“Ya, di malam larut. Seperti hantu memasuki daerah maut”.

“Hus. Jagalah mulutmu. Justru prajurit-prajurit itu akan menambah kota ini menjadi ramai”.

“Jumlah mereka tidak seberapa. Pengaruhnya pun tidak seberapa pula”.

Yang lain mengangguk-angguk. Lebih baik untuk menyelimuti dirinya dengan ujung kain panjang daripada berbantah tetang prajurit-prajurit itu. Sekali ia menguap, kemudian tubuhnya tersandar dinding sambil mendengkur.

“Persetan”, geram kawannya “baru saja mulutnya terkatub, ia sudah tertidur”.

Pasukan yang dibawa oleh Ken Arok memasuki kota di jauh malam itu langsung pergi ke alun-alun Tumapel. Pagi-pagi merekA mengharap, Akuwu akan menerima mereka, kemudian mereka akan mendapat kesempatan untuk beristirahat satu dua hari di rumah masing-masing.

Dengan demikian, maka malam itu, para prajurit Tumapel yang kelelahan telah terserak-serak di alun-alun Tumapel. Mereka yang terlampau sulit lagi untuk bertahan, segera membaringkan diri dan tidur mendengkur. Dimana saja ia meletakkan dirinya.

Ketika matahari muncul dari balik cakrawala, maka Tumapel seolah-olah terbangun pula dari sebuah mimpi. Orang-orang yang kebetulan lewat di samping alun-alun itu terkejut. Mereka tidak tahu kapan prajurit-prajurit itu datang. Tiba-tiba saja mereka telah berserakan di alun-alun, dalam pakaian yang kotor dan keringat yang masih tampak membekas di dahi mereka, dilekati oleh debu yang keputih-putihan.

Akuwu Tunggul Ametung, sambil mengangguk-angguk mendengar laporan bahwa prajurit-prajurit Tumapel yang ditempatkan di Padang Karautan kini telah berada di alun-alun.

“Gila”, geram Akuwu, “Agaknya semalam mereka berjalan terus. Biar sajalah mereka menunggu. Aku belum siap untuk menerima mereka di pagi-pagi begini”.

Prajurit yang menyampaikan laporan kedatangan kawan-kawannya dari Padang Karautan itu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak berani membantah atau bahkan bertanya pun ia tidak sanggup.

“Cepat”, teriak Akuwu “katakan kepada mereka. Tunggu sampai aku siap. Tunggu sampai matahari naik ke puncak beringin”.

“Ah”, tanpa disadarinya prajurit itu berdesah.

“Apa? Kenapa kau berdesah he?”

Prajurit itu tergagap.

Ketika tiba-tiba saja Akuwu Tunggul Ametung meraih tangannya dan mengguncangnya, maka tanpa sesadarnya terloncat pula dari mulutnya, “Ampu Tuanku. Para prajurit itu ingin segera dapat beristirahat dan pulang ke rumah masing-masing. Mereka telah terlampau rindu kepada keluarga mereka”.

“Persetan, salah siapa apabila mereka harus menunggu terlampau lama di alun-alun itu he? Salah siapa? Aku tidak memerintahkan mereka untuk datang terlampau pagi. Aku masih ingin tidur dan aku ternyata tidak akan menemui mereka setelah matahari naik setinggi pohon beringin. Aku akan menerima mereka senja nanti apabila matahari telah hampir tenggelam. Katakan kepada mereka. Mereka harus menunggu aku. Yang tidak sabar lagi, suruh mereka pergi. Tetapi mereka tidak boleh kembali lagi”.

Prajurit itu menjadi berdebar-debar. Tetapi mulutnya mengucapkah pertanyaan pula, “Bagaimana mereka makan Tuanku”.

“Itu bukan urusanku. Aku tidak pernah menanyakan kepada mereka, bagaimana mereka makan di Padang Karautan”.

“Tetapi ….” prajurit itu masih ingin bertanya.. Namun tiba-tiba mulutnya terbungkam. Akuwu mendorongnya sehingga hampir saja ia jatuh terlentang. Dan didengarnya Akuwu membentak keras-keras, “Tutup mulutmu. Kalau sekali lagi kau mengucapkan sepatah kata saja, aku tampar pipimu sampai gigimu rontok”.

Prajurit itu menjadi gemetar dan duduk sambil menundukkan kepalanya.

“Cepat, cepat pergi,” teriak Akuwu.

Tetapi ketika prajurit itu beringsut dari tempatnya, tiba-tiba ia tertegun. Ia melihat seseorang berlari-lari memasuki ruangan itu tanpa memohon ijin lebih dahulu. Begitu langsung meloncati tlundak pintu ruangan dan menghadap Akuwu Tunggul Ametung. Di belakangnya tertatih-tatih seorang emban tua mengikutinya. Orang itu adalah Permaisuri Ken Dedes.

Dan tanpa disangka-sangka, dengan wajah yang cerah, Permaisuri itu berkata “Tuanku, para prajurit di Padang Karautan itu kini telah tiba. Mereka menunggu Tuanku menerimanya”.

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Desahnya, ya. Aku sudah mendengar dari prajurit ini. Dari mana kau tahu?”

“Seseorang melaporkan kepadaku pula, bahwa ia telah melihat prajurit-prajurit itu datang dan kini berada di alun-alun”.

“Biar sajalah,” jawab Akuwu.

“Mereka menunggu Tuanku. Semalaman mereka berjalan terus. Mereka mengharap segera dapat bertemu dengan keluarga mereka”. Ken Dedes berhenti sebentar lalu sambil melangkah mendekat ia berkata lirih, “Silahkan Tuanku segera membersihkan diri. Para pelayan telah mempersiapkan air hangat dan bahkan kali ini dengan klika kayu cendana. Silahkan Tuanku. Hamba telah siap untuk ikut bersama tuanku menerima para prajurit itu”.

Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya prajurit yang masih duduk dihadapannya sambil menekurkan kepalanya.

Untuk sejenak Akuwu tidak dapat menjawab permintaan Ken Dedes itu. Baru saja ia membentak prajurit yang kini masih duduk di hadapannya, tetapi kemudian ia mendapat permintaan yang serupa. Namun kali ini dari Permaisurinya.

“Tuanku” berkata Ken Dedes kemudian, “marilah Tuanku. Apakah yang Tuanku tunggu? Apakah Tuanku belum menerima laporan bahwa kini mereka sedang menunggu kehadiran Tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam perlahan-lahan ia berdesah, “Prajurit itulah yang melaporkan kedatangan mereka. Dan prajurit itu pun berkata bahwa mereka kini sedang menunggu aku. Mereka ingin segera pergi ke rumah masing-masing”.

“Tepat Tuanku. Seperti apa yang hamba dengar. Nah, kalau begitu silahkan Tuanku membersihkan diri. Hamba sudah siap”.

Sekali lagi Akuwu menarik nafas. Ketika ia memandangi wajah prajurit yang duduk di depannya, yang tanpa disadarinya sedang memandang wajah Akuwu pula, maka tiba-tiba Akuwu membentak, “He, apa katamu?”

Prajurit itu tergagap, “Hamba, hamba tidak berkata apa-apa Tuanku”.

“Kau tertawa he?”

“Juga tidak Tuanku. Hamba tidak tertawa, Tersenyum pun tidak”.

Akuwu memandang wajah prajurit itu dengan tajamnya. Dan prajurit itupun segera menunduk dalam-dalam. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia tertawa di dalam hati. Akuwu yang memerintahkan kepadanya, untuk memberitahukan, bahwa prajurit-prajurit di alun-alun itu akan diterima sesudah senja, kini agaknya terpaksa merubah pendiriannya karena permintaan Permaisurinya.

Melihat sikap Akuwu terhadap prajurit itu, Ken Dedes menjadi heran. Ia sudah terlampau biasa melihat Akuwu membentak-bentak. Tetapi, sikapnya kali ini menumbuhkan kegelian di dalam hatinya. Dan tanpa sesadarnya ia bertanya, “Kenapa dengan prajurit itu Tuanku?”

Akuwu menggeleng. Jawabnya, “Tidak apa-apa”.

“Kenapa ia tertawa atau tersenyum?”

“He? Apakah ia tertawa atau tersenyum?”

“Tidak. Tetapi kenapa Tuanku bertanya demikian?”

Sekali lagi Akuwu menggeleng. Katanya “Tidak. Tidak apa-apa”. Lalu kepada prajurit itu ia berteriak, “Pergi, pergi. Cepat”.

Prajurit itu membungkuk dalam-dalam. Kemudian beringsut ke pintu perlahan-lahan. Sebenarnya ia masih ingin mendengar keputusan Akuwu Tunggul Ametung. Apakah ia akan menerima sekarang sesuai dengan permohonan Permaisurinya, atau tetap pada pendiriannya. Menerima prajurit-prajurit itu setelah senja.

Tetapi yang didengarnya adalah bentakan Akuwu itu lagi, “Cepat. Pergi”.

Prajurit itu terpaksa dengan tergesa-gesa keluar dari dalam bilik itu. Tetapi ia tidak langsung pergi ke alun-alun. Sejenak ia duduk agak jauh di sudut halaman. Mungkin ia mendapat kesan, apakah Akuwu akan segera pergi atau tidak.

Tetapi ia sama sekali tidak melihat apapun yang dapat memberinya jawaban, apakah Akuwu akan segera pergi atau tidak. Yang dilihatnya hanyalah beberapa orang pelayan lewat sambil membawa beberapa macam peralatan mandi Akuwu Tunggul Ametung.

“Hem” desah prajurit itu, “aku tidak berani bertanya lagi”.

Perlahan-lahan prajurit itu berdiri dan berjalan dengan malasnya. Langkahnya tertegun ketika seseorang menyapanya, “He, apa yang kau cari di sini?”

Ketika prajurit itu berpaling, dilihatnya seorang juru taman yang muncul dari balik regol sambil membawa sapu lidi.

“Sawo kecik,” sahut prajurit itu.

“He?” juru taman itu menjadi heran, “bukankah ini bukan musimnya?”

“O” tanpa sesadarnya prajurit itu menengadahkan wajahnya. Dilihatnya batang sawo kecik itu sedang berbunga. Maka gumamnya, “Aku mencari bunga sawo kecik”.

Juru taman itu menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak bertanya iagi. Dibiarkannya prajurit itu berjalan tertatih-tatih menyeret kakinya dengan segan, “Apakah jawabku kalau Kan Arok bertanya, kapan Akuwu akan menerimanya?”

Namun kemudian jawabnya sendiri, “Aku dapat menjawab apa saja. Tetapi sebaiknya aku katakan, bahwa Akuwu hanya mengiakan saja tanpa memberikan batas waktu”.

Tetapi prajurit itu masih tetap ragu-ragu. Sekali lagi ia berhenti. Mungkin ia dapat melihat sesuatu di istana, sehingga ia mampu menjawab pertanyaan Ken Arok.

“Aku akan menunggu sejenak. Mungkin aku mendapat jawabnya. Mungkin dari seorang emban. Mungkin dari seorang pelayan yang lain”.

Prajurit itu tiba-tiba melangkah kembali. Dimasukinya sebuah ruangan di belakang istana. Dapur.

“Apa yang kau cari pagi-pagi begini?”, bertanya seorang juru masak kawan prajurit itu.

“Tidak apa-apa. Aku sedang menunggu kabar, apakah Akuwu akan pergi ke alun-alun pagi ini atau tidak”.

“Duduklah. Kalau kau mau, kau dapat makan meniran itu”.

Prajurit itu tidak meniyawab. Tetapi tangannya segera meraih sebungkus meniran dan menyuapkannya di mulutnya. Satu, dua, dan ternyata ia menghabiskan lima bungkus.

Namun dalam pada itu, meskipun setiap orang yaag lewat di depan pintu dapur ditanyanya, namun tidak seorang pun yang tahu, apakah Akuwu akan pergi ke alun-alun pagi itu.

“Persetan”, geramnya, “aku akan pergi kepada Ken Arok. Aku akan berterus terang, bahwa aku tidak tahu”.

Tanpa minta diri kepada kawannya yang sedang sibuk, prajurit itu melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, pergi ke alun-alun.

Tetapi alangkah terkejutnya prajurit itu. Ketika ia sampai di luar regol halaman istana, ia melihat bahwa ternyata Akuwu dan Permaisuri beserta beberapa pengawalnya sudah berdiri di depan barisan prajurit Tumapel yang baru saja datang dari Padang Karautan.

Sejenak prajurit itu terpaku ditempatnya. Ia masih melihat Ken Arok sibuk mengatur prajurit-prajuritnya. Apakah kedatangan Akuwu Tunggul Ametung tidak terduga-duga olehnya. Tiba-tiba sekali. Dan agaknya telah mengejutkan Ken Arok dan seluruh pasukannya.

Akhirnya prajurit itu tidak menampakkan dirinya. Ia berlindung di balik pintu regol dan mencoba mengintip apa yang terjadi di alun-alun itu dari kejauhan.

“He” bentak prajurit yang bertugas di regol “apa yang kau lakukan? Apakah kau sedang bermain sembunyi-sembunyian bersama anakmu”.

“Hus” prajurit itu berdesis, “jangan ribut. Aku sedang mengintip”.

“Mengintip siapa?”

“Permaisuri, eh, yang aku maksud Akuwu Tunggul Ametung. Apakah ia menerima prajurit-prajurit yang datang dari Padang Karautan itu dengan wajar”.

“Kenapa harus bersembunyi?”

“Tidak apa-apa. Itu urusanku. Kalau kau mau melihat dari depan regol sambil bertugas lakukanlah”.

Prajurit itu tidak menyahut. Tetapi ia melangkah dan dan berdiri di sisi regol sambil memandi tombaknya. Namun ia sempat juga ikut menyaksikan upacara penerimaan kembali para prajurit yang datang dari Padang Karautan.

Sebenarnyalah bahwa Ken Arok terkejut sekali ketika tiba-tiba dari regol depan halaman istana, Akuwu Tunggul Ametung dan Permaisuri beserta pengawalnya, langsung menghampiri prajurit-prajuritnya yang sama sekali masih belum siap. Ken Arok masih menunggu seorang prajurit yang menghadap Akuwu dan menunggu keterangan dari padanya, apakah Akuwu segera dapat menerima mereka. Namun sebelum prajurit itu datang kembali kepadanya, dan memberitahukan keputusan Akuwu Tunggul Ametung, ternyata Akuwulah yang lebih dahulu datang, apalagi bersama permaisurinya.

Dengan demikian, maka dengan tergesa-gesa ia menyiapkan orangnya dalam barisan yang agak kurang teratur. Tetapi agaknya Akuwu sama sekali tidak mempedulikannya. Meskipun biasanya Akuwu selalu membentak-bentak apabila ia melihat sesuatu yang tidak berkenan di hatinya. Tetapi agaknya kali ini Akuwu sama sekali tidak memperhatikannya. Dari tengah-tengah tangga regol yang agak tinggi, dengan singkat Akuwu berbicara kepada mereka. Ucapan terima kasih yang berlebih-lebihan, dan seterusnya mereka diperkenankan beristirahat.

“Terlampau singkat” desis Ken Arok di dalam hatinya, “apakah kedatangan kami mengecewakannya”.

Tetapi menilik wajahnya yang jernih, maka Akuwu tidak kecewa melihat kehadiran kami yang tiba-tiba ini. Apalagi Permaisuri. Ya, apalagi Permaisuri.

Ken Arok mengerutkan keningnya. Apakah hal ini lazim terjadi bahwa Permaisuri berdiri di depan barisan yang baru saja datang dari menunaikan tugas di daerah terpencil ini, seperti sepasukan prajurit yang baru saja datang dari medan perang?

“Tetapi setiap orang yang memegang kekuasaan dapat membuat ketetapan sendiri, yang kemudian akan menjadi kebiasaan sampai orang yang berkuasa berikutnya membuat perubahan” berkata Ken Arok di dalam hatinya, “Dan sekarang, Akuwu Tunggul Ametung membiasakan diri untuk membawa Permaisurinya dalam segala persoalan dan masalah”.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Akuwu yang sudah selesai dengan kata-kata penyambutannya itu masih berdiri di atas tangga regol di depan pasukannya. Ia masih memandangi hampir setiap orang di dalam barisan itu. Kemudian ia berkata kepada Ken Dedes, “Upacara sudah selesai”.

Ken Dedes mengangguk. Tetapi agaknya ia segan uatuk segera meninggalkan barisan itu. Permaisuri itu masih saja berdiri sambil mengedarkan pandangaanya hilir mudik atas prajurit-prajurit yang berdiri tegang di hadapannya, dalam lima jalur.

Namun, setiap kali pandangan mata Permaisuri itu menyentuh pimpinan pasukan yang sedang berbaris itu, terasa sesuatu berdesir tajam. Di depan pasukan yang diam tegang itu, berdiri pemimpinnya Ken Arok, dan dibelakang Ken Arok berdiri Kebo Ijo yang bersungut-sungut.

Apabila Ken Arok merasa upacara penerimaan itu terlampau singkat, maka Kebo Ijo dan para prajurit yang lain merasa alangkah tersiksanya berdiri tegak di alun-alun dalam panas matahari meskipun masih pagi. Jauh di pinggir alun-alun beberapa orang yang kebetulan lewat, berhenti menonton seperti menonton pertunjukan terbuka. Apalagi setelah kata-kata Akuwa selesai, mereka masih juga harus berdiri membeku.

“Kenapa Akuwu dan Permaisuri itu tidak juga beranjak pergi?” berkata para prajurit itu di dalam hatinya.

“Upacara sudah selesai” bisik Akuwu sekali lagi kepada Permaisurinya.

“Oh” sahut Ken Dedes, “hanya itu? Tuanku tidak mengucapkan terima kasih atas segala jasa-jasa para prajurit itu?”

“Bukankah aku sudah mengatakannya?”

“O” Ken Dedes berdesah, “tetapi bukankah Tuanku dapat mengucapkan terima kasih atas nama hamba karena mereka telah ikut serta membuat bendungan”.

“Sudah aku katakan, apakah kau tidak mendengar?”

“O, tetapi apakah Tuanku Akuwu sudah mengucapkan terima kasih pula, atas Taman yang indah dan menyenangkan itu?”

“Sudah. Di manakah kau selama ini? Meskipun kau berada sampingku, tetapi agaknya kau sedang berangan-angan tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehadiran prajurit-prajurit ini. Bukankah kau yang minta kepadaku, agar mereka ditarik kembali dari padang”.

“O, ya, ya. Agaknya hamba kurang mendengarnya. Maaf Tuanku. Hamba memang sedang merenung tentang bendungan itu sendiri. Mudah-mudahan orang Panawijen dapat memeliharanya sebaik-baiknya”.

“Kita bicarakan di istana. Tetapi kini upacara ini sudah selesai”.

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap berdiri di tempatnya, sehingga Akuwu memandanginya dengan heran. Meskipun demikian Akuwu Tunggul Ametung itu tidak segera mendesak Permaisurinya lagi. Bahkan ia membiarkanaya saja berdiri termangu-mangu.

Sejenak keadaan menjadi hening. Akuwu berdiri kaku di samping Permaisurinya yang termangu-mangu. Di belakang mereka para pengawal tegak seperti tonggak. Namun dari wajah mereka memancar keheranan hati. Beberapa dari mereka saling berpandangan. Tetapi tidak sepatah katapun yang terucapkan.

Sedang para prajurit yang berdiri di alun-alun di bawah tangga regol istana itu pun menjadi semakin heran pula. Mereka benar-benar merasa tersiksa dengan upacara yang aneh.

Sementara itu matahari merayap semakin tinggi di kaki langit. Panasnya pun mulai terasa menyentuh kulit. Beberapa orang prajurit yang telah menahan kerinduan mereka terhadap sanak keluarga, menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali.

Tiba-tiba Ken Dedes tersadar dari keadaan itu. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah. Bukan karena terpanggang oleh panas matahari pagi, tetapi oleh hatinya sendiri yang membara karena perasaannya yang aneh.

Dengan serta-merta ia berpaling dan berkata kepada Akuwu, “Tuanku, apalagi yang Tuanku tunggu, apabila upacara ini sudah selesai”.

Akuwu Tunggul Ametung terkejut mendengar pertanyaan itu. Sambil mengerutkan keningnya ia menjawab, “Aku menunggu kau Ken Dedes”.

“Kenapa menunggu hamba, kenapa?”

Akuwu menjadi semakin bingung. Katanya “Aku sudah memberitahukan kepadamu sejak tadi, bahwa upacara sudah selesai. Tetapi kau masih saja berdiri mematung, seolah-olah kau belum pernah menyaksikan pasukan yang berbaris dalam keadaan serupa itu. Mungkin pakaiannya yang kumal dan kotor itulah yang membuatmu heran. Atau barangkali karena mereka baru saja datang dari Padang Karautan, setelah mereka membantu Mahisa Agni membuat bendungan”.

“Mungkin demikian Tuanku, Hamba terlampau mengagumi prajurit yang dengan senang hati membantu menyelesaikan bendungan di Karautan”.

“Baiklah. Marilah kita kembali ke istana. Prajurit-prajurit itu pun segera ingin beristirahat”.

Ken Dedes tidak menjawab lagi. Dengan tergesa-gesa ia memutar tubuhnya dan melangkah menaiki jenjang tangga regol halaman depan istana. Satu demi satu, namun tampaknya terlampau tergesa-gesa.

Tingkah laku Permaisuri memang banyak menumbuhkan pertanyaan di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung sejak mereka berada di Padang Karautan beberapa saat yang lampau. Namun setiap kali Akuwu selalu menganggapnya, bahwa Permaisurinya telah dilanda oleh perasaan takut yang sangat, tetapi perasaan itu selalu ditahankan di dalam hati. Agaknya Permaisurinya tidak mau mengatakan kepadanya, dan mencoba mengatasinya sendiri. Akibatnya adalah sikap yang aneh-aneh dan kadang-kadang tidak dimengertinya. Baru pada saat-saat terakhir semuanya itu tidak tertahankan lagi. Dan baru di saat-saat terakhir Permaisurinya mengatakan hal itu kepadanya.

“Mudah-mudahan penyakit itu segera sembuh” berkata Akuwu itu di dalam hatinya.

Ternyata bahwa akhir-akhir ini sikap Permaisuri itu pun sudah berangsur baik. Kesan-kesan yang mencemaskan sudah tidak begitu tampak lagi. Hanya kadang-kadang saja kesan di wajahnya memancarkan teka-teki yang terlampau sulit untuk ditebak.

Sepeninggal Akuwu dan Permaisurinya, maka segera Ken Arok membubarkan pasukan sesuai dengan ijin Akuwu, bahwa mereka diperkenankan beristirahat di rumah masing-masing selama sepekan. Setelah itu, mereka harus melakukan tugas mereka lagi sebagai seorang prajurit dengan kewajiban-kewajiban yang lain.

Dengan tergesa-gesa para prajurit itu meninggalkan alun-alun menuju ke rumah masing-masing. Dengan wajah yang cerah mereka melintasi jalan-jalan kota dengan langkah-langkah panjang. Bahkan orang-orang yang telah mengenal mereka, tidak sempat menyapanya. Hanya kadang-kadang saja mereka menganggukkan kepala mereka atau melambaikan tangan mereka, apabila mereka berpapasan dengan kawan-kawan terdekat.

Maka setelah satu-satu mereka meninggalkan alun-alun, akhirnya tinggallah pedati-pedati dan saisnya sajalah yang masih ada. Mereka harus menyimpan pedati-pedati yang telah kosong itu beserta penarik-penariknya di tempat yang telah ditentukan, sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing pula.

Namun di antara mereka dengan tergesa-gesa pulang ke rumah, ke keluarganya, menemui anak isteri, atau orang tua masing-masing, maka seseorang berjalan dengan langkah yang be rat sambil menundukkan kepala menyusuri jalan-jalan kota seakan-akan tanpa tujuan. Dengan hati yang kosong ia memandangi batu di bawah telapak kakinya, seakan-akan sedang dihitungnya. Sekali-kali ia berhenti. Dipandanginya orang-orang yang bersimpang-siur. Kadang-kadang mereka telah mengenalnya dan berbicara satu sama lain.

“Itulah pemimpin prajurit Tumapel yang selama ini bertugas di Padang Karautan”. berkata salah seorang dari mereka.

Kawannya berpaling. Ketika terpandang wajah Ken Arok yang suram ia menjawab “Ya, itulah Ken Arok. Tanpa orang itu taman yang dikabarkan sebagai taman yang paling indah itu tidak akan terwujud”.

“Orang yang baik” berkata yang lain “para prajurit menghargainya. Ia mempunyai sifat-sifat seorang pemimpin, tetapi tidak menyombongkan kepemimpinannya”.

“Tetapi, akan kemanakah ia?”

“Para prajurit diperkenankan pulang ke rumah masing-masing”.

“Dimanakah rumah pemimpin pasukan itu?”

Orang-orang itu saling berpandangan. Beberapa diantara mereka menggeleng, “Aku tidak tahu dimana rumahnya. Selama ini ia tinggal di antara prajurit-prajurit yang menang tidak mempunyai rumah di kota ini”.

Sebenarnyalah bahwa Ken Arok memang tidak mempunyai sebuah rumah di kota Tumapel. Tidak ada tempat kebanggan yang dapat menariknya untuk tergesa-gesa seperti prajurit-prajurit yang lain. Tidak ada keluarga, sanak kadang atau siapa pun yang menunggunya dengan penuh kerinduan. Tidak seorang pun yang akan menantikannya di regol halaman, bahkan dimanapun.

Itulah yang kini membuat hati pemimpin muda itu menjadi risau. Prajurit-prajuritnya dan bahkan Kebo Ijo, mempunyai tempat yang dapat memberinya rangsang antuk tergesa-gesa kembali. Tetapi ia tidak. Ia selama berada di Tumapel, tinggal di dalam barak. Barak bagi para prajurit dan pelayan dalam yang tidak mempunyai tempat tinggal sendiri di dalam kota.

“Menjemukan,” desis Ken Arok di dalam hati “di Padang Karautan aku tinggal di dalam gubug yang jelek bersama prajurit-prajurit. Di Tumapel aku harus masuk lagi ke dalam gubug yang besar bersama-sama prajurit-prajurit pula”.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sedang kakinya masih juga menapak lambat di atas jalan batu di tengah-tengah kota Tumapel. Tanpa dikehendakinya sendiri ia menuju ke barak tempat tinggalnya selama ini.

“Kenapa aku tidak mempunyai keluarga yang mengharap pulang segera?” sekali lagi ia berdesah di dalam hatinya. Dan tiba-tiba saja sebuah mimpi telah menyamhar jantungnya. Terbesitlah angan-angan yang ngelangut, “Alangkah senangnya kalau seseorang menunggu aku di tangga pendapa. Melambaikan tangannya, kemudian berlari-lari menyongsongku. Dan orang itu adalah Ken Dedes, ah tidak, orang itu mirip dengan Ken Dedes”.

Tiba-Tiba Ken Arok menggeretakkan giginya, “Gila. Aku sudah dijalari lagi oleh kegilaan ini. Ken Dedes adalah seorang Permaisuri. Kalau ia berdiri di atas tangga, maka ia berdiri di tangga ragol istana beserta Tuanku Tunggul Ametung, seperti yang baru saja terjadi”. Namun terbersit sanggahan dari dasar hatinya, “Bukan Ken Dedes. Seseorang yang mirip dengan Ken Dedes”.

“Hem” sekali lagi ia berdesah.

Ken Arok itu terkejut ketika ia mendengar suara tertawa lirih di sampingnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya beberapa orang gadis berdiri di pinggir jalan sambil menjijing kelenting. Agaknya gadis-gadis itu sedang pergi ke pancuran untuk mandi dan mengambil air.

Salah seorang dari mereka berdesis, “Itulah Ken Arok”.

“Mau kau apakan dia?” bertanya kawannya.

Gadis-Gadis itu tertawa. Dan suara tertawa itulah yang telah didengar oleh Ken Arok.

Dan ketika mereka melihat Ken Arok berpaling kepada mereka, maka wajah gadis-gadis itu pun menjadi kemerah-merahan. Mereka segera memalingkan wajah-wajah mereka dan dengan berdesak-desakan mereka berlari-larian kecil turun ke tebing yang rendah di pinggir jalan.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia belum pernah bergaul dengan gadis-gadis terlampau dekat. Satu dua memang ia mengenal, tetapi tidak lebih dan sebuah perkenalan yang biasa, seperti juga ia mengenal kawan-kawannya laki-laki, sebagaimana ia mengenal prajurit-prajurit dalam lingkungannya.

Karena itu, maka hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat beberapa orang gadis memperhatikannya di pinggir jalan. Kemudian berlari-lari menuruni tebing. Sesaat terpercik keinginannya untuk menjengukkan kepalanya dari sisi jalan, melihat kemana gadis-gadis itu berlari. Tetapi niat itu pun diurungkannya.

“Tidak baik”, desisnya dalam hati.

Karena itu Ken Arok justru mempercepat langkahnya. Terasa setitik keringat menitik di pundaknya. Dan ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya matahari sudah menjadi semakin tinggi.

Tiba-tiba, langkah Ken Arek itu tertegun ketika ia sampai di sebuah simpang tiga. Dari kejauhan dilihatnya sebatang pohon preh yang besar. Daunnya yang lebat menghijau berkilat-kilat disentuh oleh sinar matahari.

Sejenak Ken Arok menjadi ragu-ragu. Ia tahu benar, bahwa pohon preh itu tumbuh di sebuah padepokan. Padepokan seorang yang baik hati. Terlampau baik buatnya. Lohgawe. Pendeta itulah yang sebenarnya telah langsung memungutnya dari Padang Karautan dan menyerahkannya kepada Akuwu Tunggul Ametung.

Maka tiba-tiba saja, seolah-olah di luar sadarnya, ia membelok melangkah lewat jalan yang lebih sempit menuju ke padepokan itu. Padepokan yang sudah agak lama tidak dikunjungi sejak ia pergi ke Padang Karautan.

Dengan agak ragu-ragu Ken Arok memasuki regol padepokan yang kecil itu. Dihadapannya terbentang sebuah petamanan yang tidak terlampau luas, tetapi sejuk dan tenteram. Di belakang sebuah sendang yang kecil, berair bening, tumbuh sebatang pohon preh yang tinggi rimbun.

Perlahan-lahan ia melangkah melintasi halaman yang di tumbuhi pohon bunga-bunga. Ketika dilihatnya seorang cantrik menghampirinya, ia berhenti sambil menganggukkan kepalanya.

“Lama sekali kau tidak tampak Ken Arok” berkata cantrik sambil tersenyum pula.

Jawabnya, “Ya. Baru hari ini aku kembali”.

“O, kau langsung menuju kemari”.

“Masuklah”.

Ken Arok mengangguk. Dilanjutkannya langkahnya. Tetapi ia tidak naik ke tangga pendapa. Seperti kebiasaannya, ia pergi lewat regol samping, dan masuk melalui pintu butulan, langsung ke serambi belakang. Di sanalah biasanya ia di terima oleh Lohgawe.

Ketika ia masuk pintu butulan seorang cantrik mempersilahkannya dan berkata, “Baiklah, aku sampaikan kedatanganmu. Duduklah”.

Dengan ragu-ragu Ken Arok masuk ke serambi belakang dan langsung duduk di atas sehelai tikar pandan yang putih. Diedarkannya pandangan matanya kesekelilingnya. Masih seperti ketika ia terakhir datang ke rumah itu. Tidak banyak perubahan yang terjadi.

Kea Arok berpaling ketika ia mendengar langkah yang lembut di belakangnya. Dan ketika ia berpaling dilihatnya seorang yang telah berusia lanjut, berpakaian serba putih, dan bahkan janggutnya pun telah putih, melangkah mendekatinya. Sebuah senyum yang damai menghias bibirnya, sedang pandangan matanya jatuh ke wajah Ken Arok seperti pancaran air yang sejuk mengusap jantungnya yang gersang.

Ken Arok membungkuk dalam-dalam. Terdengar suaranya tertahan “Sujudku di bawah kaki Tuan”.

“Ah” Pendeta tua itu menjawab “Kau menjadi semakin gagah. Kau menurut pendengaranku adalah seorang prajurit yang baik. Selama di Padang Karautan kau telah membuktikan, bahwa kau adalah seorang yang yang telah berhasil menguasai dirimu. Bukankah kau selamat selama ini”.

“Demikian Tuan. Aku selalu dalam lindungan Yang Maha Agung”.

“Mengucaplah syukur kepada-Nya. Kau akan selalu mendapat perlindungan-Nya”.

“Ya tuan. Mudah-mudahan demikianlah untuk seterusnya”.

“Kalau kau selalu menyandarkan dirimu kepada-Nya, maka kau akan selalu mendapat perlindungan-Nya”.

Ken Arok mengangguk dalam-dalam. Wajah orang tua itu ternyata telah memercikkan ketenangan didalam jiwanya.

“Apakah kau baru saja datang dari Padang Karautan? Menilik keadaanmu, bekalmu dan keringatmu, kau baru saja menempuh sebuah perjalanan”.

“Ya tuan. Aku memang baru saja pulang dari Padang Karautan”.

“Kau langsung pergi ke padepokan ini?”

“Ya tuan”.

Lohgawe menganggukkan kepalanya. Ia melihat sesuatu tersembunyi di balik mata Ken Arok yang redup. Karena itu maka sengaja ia bertanya, “Kenapa kau langsung pergi kemari? Apakah kau datang seorang diri?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tidak Tuan. Aku datang dengan seluruh pasukan yang ada di Padang Karautan”.

“Dimanakah kawan-kawanmu sekarang?”

“Mereka menyimpan kerinduan di dalam hati. Karena itu maka dengan tergesa-gesa mereka pulang ke rumah masing-masing”.

“Dan kau?”

Ken Arok menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia bergumam “Tidak ada seorang pun yang mengharap kedatanganku tuan. Karena itu aku mencari ketenteraman hati kemari. Ke padepokan ini”.

Lohgawe tersenyum. Ia melihat hati Ken Arok yang di bakar oleh kesepian. Tetapi ia tidak dapat membiarkannya. Menurut penilaian orang tua itu, sudah waktunya bagi Ken Arok untuk mencari jalan pelepasan dari kesepian itu.

Dan persoalan yang demikian adalah persoalan yeng wajar sekali. Meskipun demikian orang tua itu masih ingin menjajagi hati anak muda yang duduk dihadapanya, “Kenapa kau merasa dirimu terasing? Nah, anak muda kalau demikian, apakah kau tidak berpikir bahwa suatu ketika kau akan membuat keadaan ini berubah sehingga kau tidak dibakar oleh kesepian serupa itu? Kau harus membuat hidupmu menjadi segar seperti Padang Karautan yang menurut pendengaranku kini telah dialiri oleh arus sungai yang diangkat ke parit-parit. Bahkan sebuah taman yang paling indah di Tumapel. Kau mampu membuat padang yang kering itu menjadi subur dan segar. Nah, lakukanlah buat dirimu sendiri”.

Lohgawe menjadi heran ketika melihat wajah Ken Arok menjadi semakin muram. Ia tidak melihat anak itu tersenyum atau menanggapnya dengan tawa yang riang.

“Hem” orang tua itu berdesah, “apakah aku menyinggung perasaanmu?”

“O” Ken Arok terkejut mendengar pertanyaan itu, “tidak tuan. Tidak. Sama sekali tidak”.

“Lalu apakah katamu tentang hal itu? Aku sudah tarlanjur mengatakannya. Tetapi kalau tidak berkenan di hatimu, baiklah kita berbicara tentang hal yang lain saja”.

“Tidak tuan. Sungguh tidak. Aku berterima kasih atas nasehat itu, dan aku memang sedang berpikir untuk hal itu pula. Namun aku merasa bahwa diriku terlampau tidak berharga. Padang Karautan masih mungkin memberikan sesuatu kepada mereka yang menggarapnya. Tetapi kegersangan hidupku sama sekali tidak akan dapat diairi dengan cara apa pun. Aku adalah orang yang paling jahat, yang paling tidak berharga. Apalagi menilik sejarah hidupku di masa-masa lampau”.

“E, kenapa bicaramu sampai kesana?” bertanya orang tua itu, “Tidak Ngger. Kau adalah seorang pemimpin yang baik. Seorang anak muda yang wajar. Kalau kau berbicara tentang cacat Ngger, maka semua orang pasti mempunyai cacatnya masing-masing. Tetapi yang penting, bagaimanakah ia sekarang. Apakah ia masih hidup di dalam dunianya itu, atau ia telah melepaskannya dengan penuh penyesalan dan bertaubat karenanya? Itulah yang penting”.

Ken Arok menundukkan kepalanya. Dan ia mendengar orang tua itu berkata, “Nah, tegakkan kepalamu. Pandanglah dunia di sekitarmu dengan senyum yang segar. Pada suatu saat kau akan menemukan jalan dan mulai dengan suatu kehidupan baru. Kau harus sampai ke sana. Kapan dan dengan cara apa pun”.

Ken Arok menganggukkan kepalanya. Desisnya, “Ya. Aku memang harus sampai ke sana”.

“Kau tidak akan dapat hidup sendiri selamanya. Suatu ketika kau harus mempunyai lingkungan yang kecil yang disebut keluarga, yang terdiri dari isteri dan kemudian anak-anak. Kalau kau suatu ketika pulang dari tugasmu seperti saat ini, kau akan melangkah seperti kawan-kawanmu. Tergesa-gesa untuk melepaskan kerinduanmu kepada keluargamu itu”.

Ken Arok masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa desir-desir yang lembut menyentuh hatinya. Apa yang didengarnya itu adalah benar semata-mata. Hidupnya akan menjadi segar. Tidak segersang saat ini. Dengan cara hidupnya yang sekarang, apakah yang diharapkannya buat masa datang, apabila kulitnya telah mulai berkeriput, dan dahinya sudah berkerut-merut. Seperti matahari yang sudah menginjak senja, maka yang bakal datang adalah kegelapan yang pekat.

Tiba-Tiba terlintas seleret di dalam angan-angannya, seorang perempuan yang memancarkan cahaya dari dalam dirinya. Bukan sekedar keajaiban, namun perempuan itu adalah perempuan yang secantik-cantiknya yang pernah dilihatnya.

“Alangkah bahagianya seorang suami yang memiliki isteri yang demikian” katanya di dalam hati. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi tegang dan giginya terkatub rapat-rapat. Di dalam hati ia mengumpati dirinya sendiri tidak habis-habisnya.

Lohgawe melihat sesuatu yang tidak wajar pada anak muda itu. Sebagai seorang tua yang cukup memiliki pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan, maka dengan tanpa ragu-ragu ia berkata, “Kau sedang memikirkan kata-kataku Ngger. Bagus. Aku mengharap, semoga kau segera menemukan sesuatu di dalam hidupmu”.

Kali ini Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ditenangkannya hatinya, dan dicobanya untuk mengendalikan perasaannya yang melonjak-lonjak.

Dengan hati-hati ia berkata, “Aku memang memikirkan kata-kata Tuan. Aku tidak melihat jalan lain yang harus aku lewati, selain jalan itu”. Ken Arok berhenti sejenak, lalu, “Tetapi tuan, bukan hanya aku sendirilah yang mengalami masa-masa sesepi ini. Seorang prajurit, bahkan mungkin ada yang lain, tetapi satu yang aku ketahui itu, benar-benar telah dihanguskan oleh kesepian yang membakarnya”.

“Uh, kenapa ia menunggu sampai keadaannya menjadi parah?”

“Terlebih-lebih ia seorang prajurit biasa. Ia merasa bahwa dirinya lebih tidak berharga dari pada aku”.

“Apa katamu tentang perasaan itu?”

Ken Arek menjadi ragu-ragu. Namun ia menjawab, “Salah tuan. Ia seharusnya tidak dikuasai oleh perasaan itu”.

“Tepat. Jawaban itu berguna pula bagimu sendiri”. Ken Arok menggigit bibirnya. Tetapi ia mencoba menghapus segala macam kesan di dalam dirinya dan pada wajahnya. Katanya kemudian, “Prajurit itu terlebih-lebih parah lagi dari padaku. Bahkan ia datang padaku untuk menceriterakan keadaannya”.

Lohgawe mengangguk-angguk.

“Sebenarnya aku tidak tahu, bagaimana aku harus memberi nasehat kepadanya. Keluhan yang disampaikannya kepadaku adalah senafas dengan keluhanku sendiri. Tetapi karena aku pemimpinnya, maka aku tidak dapat ingkar. Aku harus berusaha menenteramkan hatinya”.

“Dan jawabanmu kepadanya adalah jawaban yang tepat untukmu sendiri, “Lohgawe memotong.

Sekali lagi Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia menganggukkan kepalanya “Ya Tuan, meskipun ada beberapa perbedaan”.

“Apakah perbedaan itu?”

Ken Arok terdiam sejenak, tiba-tiba dadanya dilanda oleh kegelisahan yang luar biasa. Namun dipaksakannya juga untuk menjawab “Prajurit itu sedang digelisahkan oleh seseorang”.

Lohgawe yang tua itu tersenyum.

Melihat senyum orang tua itu terasa dada Ken Arok berdesir. Seolah-olah Lohgawe melihat seluruh isi hatinya tanpa dapat dikelabuinya lagi. Meskipun demikian Ken Arok masih mencoba menyatakan perasaannya dengan caranya. Katanya “Dan perasaan yang demikian belum pernah menyentuhnya sepanjang umurnya”.

Lohgawe mengangguk-angguk. Jawabnya, “Memang sekali dalam perjalanan hidup, kita akan bersinggungan dengan perasaan semacam itu. Itu bukan suatu keganjilan. Yang demikian adalah wajar. Wajar sekali”.

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Karena itu, maka untuk sejenak pula ia terdiam.

Sementara itu seorang cantrik telah menghidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan. Sambil tersenyum Lohgawe berkata, “Ken Arok, kalau kau telah berkeluarga, maka kau akan mendapat pelayanan yang jauh lebih baik dari keadaanmu kini. Marilah, apa yang ada, mungkin kau haus juga meskipun masih pagi”.

Ken Arok mencoba tersenyum, meskipun senyumnya terlampau hambar. Namun sebenarnyalah bahwa ia merasa haus dan lapar. Karena itu, maka tanpa diulang lagi, segera Ken Arok menyambar mangkuknya dan kemudian beberapa potong makanan. Ia tidak perlu segan-segan lagi di rumah orang tua itu, karena ia telah terlampau biasa.

Sementara itu, ia mendengar Pendeta tua itu berkata, “Prajurit yang kau katakan itu Ngger, lalu kemanakah ia pulang pagi ini?”

Ken Arok masih dicengkam oleh keragu-raguan. Namun kemudian ia menjawab, “Ke barak tuan. Barak para prajurit yang tidak mempunyai rumah dan keluarga di kota ini”.

Ken Arok berhenti sejenak lalu tanpa sesadarnya ia berkata, “Tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak mempunyai rumah dan keluarga. Mungkin mereka mempunyai rumah dan keluarga di tempat lain. Di padukuhan-padukuhan yang agak jauh di daerah Tumapel. Mereka pun besok pasti akan mempergunakan waktu istirahat mereka untuk kembali ke rumah masing-masing. Tetapi aku tidak tuan. Baik di Tumapel maupun dimana pun juga, aku memang tidak mempunyai apapun juga”.

Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tatapan matanya yang lembut membuat hati Ken Arok merasa tenteram. Berkata pendeta tua itu “Maksudku prajurit yang kau katakan itu Ngger”.

“O” Ken Arok tergagap. Baru kemudian ia menjawab, “Ke barak tuan”.

Lohgawe masih mengangguk-angguk. Katanya pula, “Apakah persoalan prajurit itu sehingga ia terlebih parah lagi dari padamu?”

Ken Arok tidak segera menjawab. Hatinya masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Bahkan kadang-kadang ia berusaha mengatupkan bibirnya rapat-rapat, untuk mendapat kekuatan, agar ia terlepas dari keragu-raguannya. Namun kadang-kadang ia mengumpati dirinya sendiri dalam hatinya.

Pendeta tua yang duduk di depannya memandanginya dengan sorot mata yang lembut lunak, namun serasa langsung menembus ke pusat jantung. Seolah-olah terhadapnya tidak ada yang dapat disembunyikannya di dalam dadanya. Mata itu terlampau berpengaruh.

Meskipun demikian, Ken Arok masih juga mencobanya. Katanya, “Tuan, prajurit itu merasa bahwa hatinya telah terjerat oleh seorang perempuan”.

Pendeta tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Itu pun wajar Ken Arok. Katakan saja kepadanya, bahwa itu wajar sekali”.

“Ya tuan. Hal itu memang wajar. Tetapi yang ditanyakan kepadaku adalah, apakah sudah sepantasnya ia melakukannya?”

Pendeta itu mengerutkan keningnya “Kenapa tidak?” Ken Arok terdiam sejenak. Ditariknya nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar suaranya parau , “Tuan, apakah aku boleh bertanya? Ada pertanyaan prajurit itu yang aku tidak dapat mengerti”.

“Tentu, bukankah sejak tadi kita sudah bertanya jawab”.

“O”, Ken Arok menjadi sangat gelisah. Tetapi dipaksakannya dirinya bertanya dengan kata-kata yang lembut dan datar, “Tuan, apakah benar ada seseorang yang dapat memancarkan cahaya dari dalam dirinya”.

Lohgawe mengerutkan keningnya yang telah dipenuhi oleh garis-garis ketuaannya. Dipandanginya Ken Arok dengan sorot mata yang bertanya-tanya. Dan sejenak kemudian terdengar ia menjawab, “Apakah kau pernah melihatnya?”

“Tidak tuan. Tidak. Maksudku, bukan aku yang melihat. Pertanyaannya inilah yang membingungkan aku. Prajurit itu bertanya, apakah penglihatannya itu benar”.

“Siapakah perempuan itu Ken Arok?” pertanyaan itu terdengar sebagai guruh yang menggelegar di langit. Tetapi Kan Arok masih tetap mencoba bersembunyi, “Aku tidak tahu tuan”.

Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya lirih, “Berbahagialah prajurit itu. Maksudmu bahwa perempuan itulah yang telah menarik perhatian prajurit yang kau katakan. Dan apakah mereka akan segera kawin?”

“Tetapi apakah makna dari cahaya yang seolah-olah memancar dalam diri seseorang?”

Lohgawe menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia duduk tepekur. Kini orang tua itu pun menjadi ragu-ragu.

“Aku harus menjawab pertanyaan itu tuan”.

“Ken Arok”, berkata pendeta tua itu, “kalau benar ada orang yang dapat memancarkan cahaya, maka itu adalah pertanda suatu kurnia dari Yang Maha Agung, bahwa di dalam dirinya tersimpan kemungkinan yang sangat baik di masa mendatang. Tidak pasti selalu dirinya sendiri, tetapi mungkin anak keturunannya”.

Dada Ken Arok yang berdebar-debar menjadi semakin berdebar-debar. Dan ia mendengar orang tua itu berkata seterusnya, “Tetapi belum pasti di dalam seabad akan lahir seseorang yang memiliki kurnia sebesar itu, di dalam dirinya, karena sampai beberapa abad kemudian orang yang demikian akan tetap disebut-sebut namanya dan nama keturunannya”.

Ken Arok duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Terasa sebuah pergolakan yang dahsyat sedang mengamuk di dalam dadanya. Karena itu, maka ia menjadi terlampau gelisah dan berdebar-debar. Dengan sekuat teaaga ia menahan gelora di dalam hatinya itu. Ia mencoba untuk tetap tenang dan tidak menumbuhkan kesan yang lain di wajahnya.

“Nah Ken Arok”, berkata Lohgawe kemudian, “katakan kepada prajurit itu. Ia tidak perlu gelisah. Keadaannya sama sekali tidak parah dan tidak mencemaskan. Bahkan ia harus mengucap syukur dan berdoa semoga semuanya dapat berlangsung dengan baik”.

Tetapi, tiba-tiba Ken Arok memotong. Namun suaranya terputus.

Lohgawe memandanginya dengan seksama. Ia melihat bintik-bintik keringat di kening Ken Arok. Ia melihat wajah itu kadang-kadang menjadi pucat, namun kadang-kadang menjadi merah tegang. Serta sikap anak muda itu pun menumbuhkan berbagai macam pertanyaan di dalam dirinya.

“Apakah masih ada yang kurang anak muda?” bertanya Pendeta tua itu.

“Tidak, tidak tuan”, Ken Arok berkenti sejenak. Keringat dingin di punggungnya serasa semakin deras mengalir, “Keadaannya memang terlampau parah tuan. Justru apabila ia tahu, bahwa perempuan yang demikian adalah perempuan yang menyimpan kurnia di dalam dirinya”.

“Kenapa?” Lohgawe menjadi heran.

“Tuan, ternyata bahwa perempuan yang dikatakan itu telah bersuami”.

“Oh” Lohgawe mengerutkan dahinya yang sudah berkerut-merut, “jadi perempuan yang dimaksud sudah bersuami?”

“Demikianlah tuan”.

Lohgawe menarik nafas dalam-dalam. Katanya perlahan-lahan, “Bagaimana mungkin prajurit itu masih juga mencoba memikirkannya? Ken Arok, kalau demikian, seharusnya kau tidak usah bertanya kepadaku. Kau sendiri harus sudah dapat menjawab. Biarlah perempuan itu hidup berbahagia dengan suaminya. Katakanlah kepada prajurit itu, bahwa seharusnya ia minggir dari persoalannya. Benar katamu, bahwa keadaannya ternyata terlampau parah. Bukan saja karena ia menjadi semakin kesepian dan cemas tentang hari depanaya, namun bahwa dalam keadaan demikian, ia masih juga mempersoalkannya dan apalagi bertanya kepada orang lain. Itu adalah suatu kesalahan yang besar”.

Sebuah desir yang tajam tergores di dada Ken Arok. Terasa luka oleh goresan itu menjadi terlampau pedih, serasa jantungnya seperti tertusuk sembilu.

Sejenak ia terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ia berusaha untuk menyembunyikan segala macam kesan yang tergurat di wajahnya. Di punggungnya terasa keringat dinginnya seakan-akan menjalar perlahan-lahan.

Jawaban pendeta tua itu bagaikan ombak yang dahsyat melanda dinding jantungnya. Berdeburan bagaikan hendak merontokkan seluruh isi dadanya.

Namun dengan demikian, goncangan di dalam dadanya itu telah membuatnya bingung dan tidak mengerti apa yang sebaiknya dikatakan. Bahkan secara naluriah ia ingin bertahan atas jalan yang dianggapnya akan membawanya ke dalarn satu kehidupan yang lebih baik. Dalam keadaan yang demikian itu, maka meledaklah seluruh perasaan yang pernah membayanginya. Yang paling tersembunyi dan bahkan yang paling dibencinya sendiri.

Dengan nada gemetar ia meneruskan kata-katanya seperti bendungan yang pecah, “Tuan. Bukan sekedar itu saja. Prajurit itu telah bertekad menempuh segala nacam cara untuk mendapatkan perempuan yang diidamkannya itu. Dengan segala macam cara. Ia sudah tidak dapat mundur lagi setapak pun. Sebab kalau ia gagal maka ia akan dapat menjadi gila atau membunuh dirinya sendiri”.

Wajah Lohgawe yang sejuk itu tampak menegang. Tetapi hanya sekejap. Kemudian kelembutan sorot matanya telah memancar kembali diwajahnya yang damai. Katanya perlahan-lahan, “Memang kadang-kadang di dalam hati kita dapat saja tumbuh berbagai macam perasaan, keinginan, nafsu dan sebagainya. Dalam kegelapan hati, kita tidak dapat memilih, mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi pada dasarnya keduanya memang ada di dalam diri kita. Keduanya saling mendesak dan saling berebut kemenangan. Yang baik berusaha untuk membawa kita kepada perbuatan baik, yang buruk ingin menjerumuskan kita ke dalam perbuatan yang paling jahat. Tetapi, sebagai manusia yang berpribadi, yang berakal budi, kita bukan budak dari keduanya. Kita wenang memilih. Apakah kita memilih yang baik, atau kita ingin yang buruk”. Pendeta tua itu berhenti sejenak. Dipandanginya Ken Arok yang duduk tepekur. Lalu sejenak kemudian dilanjutkannya “Anak muda. Memang terlampau sulit untuk menjatuhkan pilihan. Di dalam hidup kita, kita selalu dikuasai oleh keinginan-keinginan badaniah dan rokhaniah. Kita terbelenggu di dalam dunia wadag bersama dunia halus kita. Sedang wadag kitalah yang langsung dirangsang oleh segala macam kenikmatan lahiriah. Inilah yang kadang-kadang membuat kita lupa diri, bahwa wadag kita adalah alat bagi kehidupan manusia yang sama sekali tidak kekal. Kita kadang-kadang lebih mementingkan yang hanya sementara ini dari pada milik kita yang paling berharga, yaitu kita sendiri. Aku, kau dan setiap diri. Juga diri prajurit itu sendiri. Diri di dalam nilai hakekat hidup ini. Itulah yang akan mengalami hidup yeng kekal. Dan itulah sebenarnya kedirian kita. Itulah yang datang dari Yang Maha Agung dan akan kembali kepadaNya dengan warna yang dipulaskan kepada dirinya sendiri selama ia hidup di dalam wadagnya. Warna itulah yang harus kita pilih, supaya kita dapat kembali kepadaNya kelak”.

Dada Ken Arok menjadi semakin bergoncang. Tetapi ia masih tetap bertahan untuk menemukan alasan-alasan supaya niat yang telah tergurat di dalam dadanya mendapat jalan yang dapat dibenarkan. Tetapi ia tidak segera dapat menemukannya. Yang didapatkannya justru kegelapan yang semakin pepat, sehinga ia berkata, “Tuan. Apakah penilaian yang demikian itu dapat dicapai oleh setiap orang? Mungkin tuan dapat menghayatinya, karena tuan adalah seorang pendeta yang menyerahkan segala hidup wadag dan halusnya, untuk masa abadi kelak. Tuan tidak terlampau banyak terlibat dalam sentuhan-sentuhan kebutuhan wadag di dunia ini, sehingga tuan dapat menentukan keseimbangan yang mantap sesuai dengan cara hidup tuan. Tetapi kami, termasuk prajurit itu, adalah seseorang yang hampir setiap saat selalu tergantung pada wadagnya. Di peperangan, di dalam kerja yang keras dan setiap langkah kakinya dan ayunan tangannya, adalah wadagnya. Sehingga dengan demikian tuntutan wadagnya itu pun harus mendapat perhatiannya terlampau banyak melebihi yang lain-lain, karena hidup baginya sebagian besar adalah persoalan wadag itu”.

“Pikirnya yang demikian adalah ujung dari jalan simpang yang menuju ke jurang kehancuran kekal” sahut Lohgawe, “mungkin kau benar, bahwa hidupku dan hidup prajurit itu berbeda. Aku selalu bergaul dengan masalah-masalah rokhaniah, sedang prajurit itu hampir seluruh hidupnya merupakan masalah badan wadagnya. Tetapi hakekat aku dan prajurit itu adalah sama. Jasmaniah dan rokkaniah. Keduanya harus tetap seimbang. Pemanjaan yang tidak kekal tidak boleh mengorbankan yang kekal. Kalau seorang pekerja keras memang harus makan lebih banyak dari aku misalnya. Tetapi bukan berarti bahwa apapun boleh dimakannya, yang mungkin justru akan membuat dirinya sendiri terugikan”.

Kata-kata itu memang berhasil menyentuh perasaan Ken Arok. Sejenak ia terdiam. Namun sifatnya yang keras dan ingin mempertahankan pendiriannya masih saja terungkat. Semakin dalam ia merasakan kebenaran kata-kata Lohgawe, di dalam kegelapan nalar seperti itu, maka semakin bernafsu ia meraba-raba di dalam kegelapannya, mencari alasan-alasan yang dapat ditemukanya. Namun yang didapatnya adalah luapan perasaan yang tidak terkendali. Sehingga ia berkata dalam nada yang berat, “Tuan. Prajurit itu bertanya kepadaku, bagaimanakah sebaiknya yang dilakukannya. Bahkan ia bertanya, bagaimanakah seandainya isteri itu sudah menjanda”.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [208]