Pelangi di Langit Singasari [ 52 ]

354

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 52 ]

 

CANTRIK itu-pun mengangguk-anggukkan. Tetapi ia tidak segera beranjak dari tempatnya.

Orang-orang yang berusaha menyingkir itu-pun segera menyiapkan diri. Kekuatan mereka sebenarnya hanyalah enam orang. Seorang sudah separo baya, dan yang seorang telah lebih tua lagi.

“Apakah kalian benar-benar akan melawan?” bertanya pemimpin rombongan yang menyusul itu.

“Ya. Jangan kecewa, meskipun kau sudah mulai menghitung-hitung berapa kepala yang akan kau dapatkan, kali berapa keping uang.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kau tahu juga hasil yang akan kami peroleh dari buruan-buruan kami. Selain itu, semua harta benda yang kami dapatkan dari buruan-buruan kami menjadi milik kami.”

“Kalian hanya akan mendapatkan kepala-kepala kami.”

“Baiklah. Kami harus mempergunakan kekerasan. Dua di antara kami adalah prajurit yang memang bertugas bersama kami, supaya kalian yakin, bahwa kami adalah pemburu-pemburu yang sah. Lebih dari itu kedua prajurit ini akan meyakinkan kalian, bahwa perlawanan kalian akan sia-sia.”

“Persetan,” tiba-tiba cantrik itu berteriak sambil melangkah maju, “aku berdiri di pihak mereka yang sedang diburu.”

Kelompok orang-orang yang menyusul orang-orang Kediri itu terheran-heran. Dipandanginya cantrik itu sejenak. Dan sejenak kemudian mereka saling berpandangan.

Pemimpin rombongan itu akhirnya bertanya, “Siapa kau?”

“Itu tidak perlu bagimu.”

“Kenapa kau perlu menyatakan diri berpihak kepada mereka yang sedang diburu. Apakah kau bukan termasuk rombongan mereka itu?”

“Aku orang lain.”

Pemimpin rombongan orang-orang yang menyusul itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau begitu sebaiknya kau berdiri di luar pagar. Aku kira kau adalah salah seorang dari mereka pula. Tetapi meskipun kau tidak merupakan sekelompok dengan orang-orang itu asal kau juga berasal dari Kediri, maka kau termasuk juga menjadi buruanku.”

“Aku orang Singasari.”

Pemimpin rombongan itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Kau tidak usah turut campur. Ternyata orang-orang Singasari memang penghasut. Agaknya kaulah yang telah menghasut orang-orang ini untuk pergi ke Singasari.”

“Bertanyalah kepada mereka.”

“Kalian telah membicarakannya lebih dahulu. Tidak ada gunanya aku bertanya.”

“Baiklah. Kalau begitu memang tidak gunanya kita berbicara. Sekarang aku menyatakan diriku di pihak orang-orang yang sedang diburu. Nah, terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan.”

“Sekali lagi aku akan mencoba memperingatkan. Pertentangan antara Singasari dan Kediri agaknya memang menjadi semakin panas. Tetapi aku masih belum berkeinginan untuk berkelahi langsung dengan orang-orang Singasari.”

“Kalau begitu urungkan niatmu. Orang-orang ini mempunyai kebebasan untuk memilih. Menurut penilaian mereka, pemerintahan Kediri kurang berlaku bijaksana terhadap para pendeta.”

“Omong kosong. Kau jangan turut campur. Ini adalah persoalan Kediri, di daerah Kediri.”

“Siapa yang mengatakan kalau hutan ini berada di daerah Kediri?” bertanya cantrik itu.

“Singasari, yang dahulu bernama Tumapel adalah wilayah Kediri. Tetapi orang yang sekarang menyebut dirinya Sri Rajasa telah memberontak.”

“Kenapa Kediri tidak mengambil tindakan apapun?”

“Kita memang tidak terlampau tergesa-gesa. Pada saatnya Singasari akan lenyap.”

Cantrik itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Singasari adalah suatu kerajaan yang bebas. Sama sekali tidak tunduk kepada negara mana-pun juga.”

“Persetan. Tetapi aku menuntut orang-orang ini. Mereka adalah buruanku. Siapa yang mengganggu, ia akan aku hancurkan seperti buruanku itu pula.”

Cantrik itu maju beberapa langkah lagi. Kini ia berdiri semakin dekat dengan orang Kediri yang dikejar-kejar itu.

“Ki Sanak,” berkata pemimpin mereka, “sebaiknya Ki Sanak memang tidak mencampuri persoalan kami. Kita baru berkenalan di tempat ini, sehingga sebaiknya Ki Sanak tidak usah melibatkan diri dalam persoalan ini.”

“Tidak. Aku tidak dapat melihat kebebasan yang diperkosa oleh pemburu-pemburu keuntungan diri sendiri serupa itu. Siapapun Ki Sanak dan siapakah orang yang sedang berburu, sah atau tidak sah, aku terpaksa melibatkan diri.”

Pemimpin rombongan itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sempat membuat penilaian atas kekuatan ke dua belah pihak. Dengan jujur pemimpin rombongan itu mengakui, bahwa kekuatan lawan agak lebih besar dari kekuatan mereka sendiri, meskipun cantrik itu ikut bersama mereka.

Tanpa sesadarnya pemimpin rombongan itu memandangi Mahisa Agni yang masih berdiri di tempatnya.

“Biarkan orang itu,” berkata cantrik itu seolah-olah ia mencoba menjajagi pikiran pemimpin rombongan itu. “Ia berada di dalam tanggung jawabku. Aku harus mengantarkannya sampai ke tempat tujuan. Karena itu, sebaiknya ia memang tidak ikut campur.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut. Ia ingin melihat apa yang akan terjadi.

“Baiklah,” berkata pemimpin dari orang-orang yang sedang memburu mangsanya itu. “Siapapun kalian dan apapun kalian, kami akan menangkap kalian.”

Dengan suatu isyarat, maka orang-orang itu-pun segera berloncatan dari punggung-punggung kuda mereka. Arena yang bersemak-semak. dan ditumbuhi pepohonan yang rapat, memang tidak menguntungkan untuk bertempur di atas punggung kuda. Sesaat kemudian mereka-pun telah memencar dan siap menyerang dari segala arah.

“Jangan lukai perempuan dan anak-anak,” berkata pemimpin rombongan orang-orang yang sedang menyusul orang-orang Kediri itu, “terutama gadis-gadisnya.”

“Persetan,” seseorang yang sudah siap melawan, menggeram. Ia mempunyai seorang gadis beserta isterinya di dalam rombongan perempuan dan anak-anak itu.

Lawannya tertawa, katanya, “Bukankah kami cukup berperikemanusiaan?”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Setiap laki-laki di dalam rombongan itu ditambah seorang cantrik, sudah siap menghadapi lawan-lawan mereka. Enam orang, dua orang-orang tua dan seorang cantrik berhadapan dengan delapan orang pemburu manusia dan dua orang prajurit yang berpengalaman.

Setapak demi setapak para pemburu manusia itu-pun maju, sedangkan orang Kediri yang diburu itu-pun bersiaga pula menghadapi setiap kemungkinan yang akan segera terjadi. Senjata-senjata mereka dari ke dua belah pihak sudah siap di tangan masing-masing.

Mahisa Agni menyaksikan ke dua belah pihak dengan berdebar. Benturan senjata di antara mereka memang sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Cantrik yang pergi bersamanya itu langsung telah melibatkan dirinya, karena orang-orang Kediri yang melarikan dirinya, pada umumnya adalah dari lingkungan keagamaan, keluarga dan orang-orang yang terdekat dari pendeta-pendeta yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan keinginan Baginda Maharaja di Kediri.

Sejenak kemudian maka benturan itu-pun terjadilah. Orang-orang yang sedang berburu itu berloncatan sambil mengayunkan senjata mereka, sedang orang-orang yang diburunya, berusaha mempertahankan diri sekuat-kuat tenaga mereka.

Sejenak kemudian Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata cantrik yang pergi bersamanya itu memang mampu bermain dengan pedang pendeknya. Dengan tangkasnya ia berloncatan kian kemari, menyambar-nyambar seperti burung elang. Ialah yang dengan beraninya telah langsung membawa prajurit Kediri yang ada di antara lawan-lawannya. Dan ternyata bahwa ia memang mampu mengimbanginya. Bahkan kadang-kadang ia masih dapat membantu pemimpin rombongan yang harus bertempur melawan dua orang sekaligus.

Perempuan-perempuan dan anak-anak menjadi semakin erat berpelukan satu sama lain. Wajah-wajah mereka menjadi pucat dan darah mereka seakan-akan sudah tidak dapat mengalir lagi. Bahkan beberapa di antara mereka telah terduduk dengan lemahnya di atas rerumputan liar, seakan-akan kehilangan segenap tulang belulang.

Mahisa Agni masih berdiam diri di tempatnya. Tetapi ia menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat dalam waktu yang singkat orang-orang yang sedang diburu itu sudah terdesak. Meskipun demikian mereka masih melawan dengan gigihnya, justru cantrik yang pergi bersamanya itulah yang seakan-akan merupakan puncak perlawanan dari rombongan itu.

Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, seorang dari mereka yang menyusul rombongan orang-orang Kediri itu meloncat meninggalkan gelanggang. Dengan cepatnya ia berlari ke arah Mahisa Agni. Sambil mengacungkan senjatanya ia berdiri dua langkah di hadapannya. Kemudian terdengar ia barteriak, “He, Ki Sanak yang datang dari Singasari. Aku minta kau menghentikan perlawananmu. Kalau tidak, maka orang yang menjadi tanggunganmu ini, entah siapa dia, akan aku habisi nyawanya.”

Oleh teriakan itu, perkelahian tiba-tiba terhenti sejenak. Mereka memandang dengan tegang salah seorang dari mereka yang menyusul rombongan orang-orang Kediri itu mengacungkan pedangnya beberapa jengkal kepada Mahisa Agni.

Cantrik, kawan seperjalanannya menjadi tegang sejenak. Ia mendapat perintah dari Kiai Bojong Santi menyampaikan orang itu kepada Witantra. Kalau terjadi sesuatu di perjalanan, maka yang pertama-tama dipersalahkan pasti dirinya.

Dalam termangu-mangu cantrik itu sama sekali tidak menjawab. Keringat yang dingin mengalir membasahi kening dan punggungnya.

“Aku minta, tinggalkan arena. Kalau tidak, orang ini aku bunuh meskipun ia tidak bersalah.”

Cantrik itu masih berdiri kaku di tempatnya. Kini ia berdiri di persimpangan jalan. Kalau ia meneruskan perlawanan, maka Mahisa Agni itu terancam. Tetapi kalau ia kemudian meninggalkan arena, maka orang-orang Kediri itu dalam waktu sejenak saja, pasti akan segera terbantai.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar pemimpin orang-orang Kediri yang sedang dikejar-kejar itu berkata, “Tinggalkan kami. Kami sudah siap menghadapi kemungkinan. Kami tidak ingin melihat kalian ke dalam persoalan kami. Lebih daripada itu ke dalam kesulitan yang tidak kalian kehendaki.”

Cantrik itu masih berdiri membeku.

“Cepat, ambil keputusan,” berkata orang yang memburu mereka sambil mengacu-acukan ujung pedangnya ke dada Mahisa Agni, “jangan menunggu sampai kami kehilangan kesabaran.”

“Licik,” teriak cantrik itu kemudian, “kalian tidak menghadapi tugasmu dengan jantan.”

Tetapi orang itu tertawa. Jawabnya, “Jangan banyak bicara. Kau berdua pergi, atau kau berdua akan mati di tempat ini.”

Dengan ragu-ragu cantrik itu masih menjawab, “Kalau kami sudah meninggalkan arena, kau pasti akan mempergunakan cara yang sama dengan mengancam perempuan dan anak-anak.”

“Apa pedulimu? Apapun yang akan terjadi, kau sudah tidak akan menyaksikan lagi. Karena itu, cepat, tinggalkan tempat ini.”

Cantrik itu benar-benar tidak dapat memilih. Yang manakah yang lebih baik. Bertempur terus, atau menyelamatkan Mahisa Agni.

Namun dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “bertempurlah terus. Jangan hiraukan aku. Aku hanya seorang diri, sedang orang-orang Kediri itu berjumlah lebih dari limabelas kali lipat dari pada itu.”

“Diam,” orang yang mengacukan senjatanya itu berteriak. Tetapi Mahisa Agni berkata terus, “selesaikan pekerjaan itu. Kalau kau menarik diri dari arena, maka sebentar saja, orang-orang yang berusaha menyebrang ke Singasari itu pasti akan binasa.”

Cantrik itu menjadi semakin ragu-ragu. Ia berdiri saja termangu-mangu tanpa dapat mengambil keputusan.

Kini seluruh perhatian di ke dua belah pihak ditujukan kepada Mahisa Agni. Ujung pedang yang mengarah ke dadanya menjadi bergetar oleh kemarahan yang meluap-luap di dada orang yang memeganginya.

“Sebenarnya aku tidak ingin bersungguh-sungguh,” berkata orang itu, “tetapi sikapnya benar-benar membuat aku muak.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi ketika ujung pedang itu maju mendekati dadanya, ia melangkah surut.

“Jangan,” teriak cantrik itu, “akulah yang bertanggung jawab.”

Tetapi orang yang mengacukan pedangnya itu tertawa menyakitkan hati untuk melontarkan kemarahannya, “Persetan. Kalian terlampau lambat mematuhi perintahku.”

Sebuah desir yang tajam menyambar jantung cantrik itu. Sejenak ia seakan-akan membeku di tempatnya. Sedang orang yang mengancam Mahisa Agni itu maju semakin mendekat.

“Hentikan! Hentikan!”

Tetapi orang itu menggeleng, “Aku bunuh orang ini.”

“Jangan curang,” yang kemudian berteriak justru pemimpin rombongan orang-orang Kediri yang sedang dikejar-kejar itu. “Tidak ada gunanya kalian membunuhnya. Kepalanya tidak kau tukarkan dengan keping-keping uang.”

“Persetan, aku tidak memerlukan uang terlampau banyak. Kepala-kepala kalian sudah cukup. Tetapi aku ingin mendapat kepuasan atas kegilaan orang Singasari ini.”

Cantrik yang bersama Mahisa Agni itu-pun hampir saja meloncat menyerbu. Tetapi beberapa orang bersama-sama menghalanginya dengan senjata teracung pula.

“Gila, gila, gila.” ia berteriak.

Tetapi suaranya yang parau itu sama sekali sudah tidak dihiraukannya lagi. Agaknya orang Kediri yang mengancam Mahisa Agni itu sudah benar-benar kehilangan kesabaran, sehingga ia sama sekali sudah tidak berminat untuk melepaskannya lagi.

Cantrik padepokan Panji Bojong Santi itu memejamkan matanya ketika ia melihat orang Kediri itu mengayunkan pedangnya. Ia sendiri sudah tidak mempunyai kesempatan untuk mencegahnya, karena tiga orang lawannya masih berjajar di hadapannya dengan senjata siap untuk membelah dadanya.

Tetapi cantrik itu hanya memejamkan matanya sekejap. Ketika ia membuka matanya perlahan-lahan, ia mengerutkan keningnya, kemudian mengejapkan matanya berkali-kali. Ia masih melihat Mahisa Agni melangkah surut. Sedang orang Kediri itu masih saja memegang senjatanya sambil melangkahkan maju.

Sekali lagi cantrik itu melihat orang Kediri itu mengayunkan pedangnya. Deras sekali. Dan sekali lagi matanya setengah terpejam. Tetapi kini ia melihat samar-samar apa yang telah terjadi. Ayunan pedang orang Kediri itu sama sekali tidak menyentuh tubuh Mahisa Agni, meskipun tampaknya ia tidak menghindar.

Kini cantrik itu memandangnya dengan mulut ternganga. Ia hanya melihat Mahisa Agni seakan-akan menggeliat. Tetapi ia sudah bebas dari serangan lawan yang menggetarkan itu.

Lawannya dengan demikian menjadi semakin marah, tetapi juga semakin bernafsu. Senjatanya kemudian terayun-ayun tidak menentu. Tetapi ia masih tetap tidak berhasil mengenai Mahisa Agni. Mahisa Agni-pun kemudian berputar beberapa langkah, dan tiba-tiba saja serangan itu terhenti. Semua mata memandang kedua orang itu dengan tanpa berkedip. Bahkan ada di antara mereka yang tidak percaya kepada matanya sendiri.

Tetapi akhirnya mereka benar-benar harus melihat kenyataan itu. Pedang itu telah beralih tangan. Kini Mahisa Agni lah yang bersenjata.

Seperti lawannya, maka kini Mahisa Agni lah yang mengacukan pedangnya ke arah dada. Tetapi Mahisa Agni tidak mengayun-ayunkan pedang itu membabi buta.

Hal itu benar-benar tidak dapat dimengerti oleh orang-orang Kediri dan bahkan oleh cantrik kawan seperjalanannya. Sejenak mereka tercengang, seakan-akan terpukau menyaksikan suatu keajaiban.

“Sekarang bagaimana? ” terdengar suara Mahisa Agni.

Lawannya berdiri tegak seperti patung. Ialah orang yang paling tidak mengerti menghadapi keadaan itu. Tiba-tiba saja ia merasa pergelangan tangannya seakan-akan patah. Kemudian dalam sekejap, senjatanya telah berpindah tangan.

“Apa orang ini mempunyai ilmu hantu atau iblis,” desisnya di dalam hati.

“Pertimbangkan baik-baik,” berkata Mahisa Agni, “kalian tetap akan menangkap buruan kalian atau tidak?”

Sejenak tidak seorang-pun yang menyahut. Namun kemudian pemimpin rombongan orang-orang yang sedang berburu itu menjawab, “Persetan dengan permainan sihirmu. Kami tetap dalam pendirian kami, orang-orang ini harus kami kuasai.”

“Aku tidak sedang bermain sihir,” sahut Mahisa Agni, kemudian, “lihat, aku tidak menyihirnya.” kedua tangannya-pun kemudian bergerak. Yang satu menggenggam tangkai pedang yang dirampasnya itu, yang lain pada daunnya. Sejenak kemudian pedang itu-pun patah menjadi dua.”

Sekali lagi mereka yang menyaksikan hal itu menjadi berdebar-debar. Namun ternyata bahwa kedua orang prajurit yang menyertai rombongan orang-orang yang menyusul itu-pun bukan penakut yang mudah menjadi putus-asa.

“Persetan. Persetan. Ayo, kita binasakan dahulu orang itu.”

Kedua orang prajurit itu-pun kemudian bersama-sama menyerbu Mahisa Agni. Senjata-senjata mereka berputaran seperti baling-aling. Sedang orang yang telah kehilangan pedangnya itu-pun melangkah surut beberapa langkah.

Cantrik kawan seperjalanan Mahisa Agni. dan seluruh rombongan orang-orang Kediri yang lain seakan-akan sadar pula dari mimpi mereka. Dengan serta-merta mereka-pun menyiapkan diri, dan menyerang lawan-lawan mereka yang paling dekat.

Perkelahian-pun berkobar kembali. Tetapi kini keadaan menjadi jauh berbeda. Karena kedua prajurit Kediri bersama-sama berkelahi melawan Mahisa Agni, maka kawan-kawannya yang lain tidak segera dapat menguasai lawannya.

Tetapi perkelahian itu-pun tidak berlangsung lama. Mahisa Agni yang kemudian bersenjatakan pedang yang telah patah, dalam waktu yang singkat telah berhasil melemparkan senjata kedua prajurit yang mengeroyoknya. Bahkan, dengan sentuhan tangan kirinya, seorang dari mereka terpelanting jatuh meskipun segera berhasil bangkit kembali.

“Nah, apa katamu?” bertanya Mahisa Agni, “apakah kalian masih akan berkelahi terus?”

Sekali lagi pertempuran itu terhenti. Orang-orang yang sedang memburu mangsanya itu-pun menjadi berdebar-debar. Kini mereka melihat suatu kenyataan, bahwa orang yang dianggapnya tidak mampu untuk ikut di dalam perkelahian. bahkan yang akan dijadikan tanggungan oleh orang-orang yang sedang mengejar mereka yang menyingkir dari Kediri itu, ternyata seorang yang mempunyai kemampuan yang tidak pernah mereka bayangkan. Kini agaknya orang itulah yang akan menentukan akhir dari perkelahian itu.

“Kalian dapat memilih,” berkata Mahisa Agni selanjutnya, “bertempur terus, dengan akibat yang paling parah bagi kalian, atau kalian mengurungkan niat kalian dan melepaskan orang-orang yang sedang mencari dunianya yang paling sesuai bagi dirinya.”

“Tetapi itu suatu pengkhianatan,” potong salah seorang prajurit itu.

“Memang dalam keadaan yang wajar, tindakan mereka tidak dapat dibenarkan,” berkata Mahisa Agni, “tetapi Kediri kini menghadapi masa darurat. Tindakan Baginda terlampau menyinggung perasaan para pendeta dan olah tapa. Itulah yang telah memaksa mereka memilih antara dua kerajaan yang bertentangan.”

“Singasari ikut dalam kesalahan ini,” jawab prajurit itu pula, “kalau Singasari tidak menampung mereka, maka mereka tidak akan berbuat demikian.”

“Singasari memandangnya dari segi lain. Singasari mengerti kesulitan para pendeta dan olah tapa itu. Karena itulah maka Singasari dapat menerima mereka.”

“Omong kosong. Justru Singasari lah yang menghasut rakyat Kediri, karena Singasari sendiri sudah siap untuk memberontak.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekilas terbayang wajah Ken Arok yang tegang, duduk di atas Singgasana didampingi oleh kedua isterinya. Ken Dedes duduk sambil menundukkan kepalanya, dan Ken Umang yang menengadahkan wajahnya sambil tersenyum asam.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berkata di dalam hatinya, “Aku tidak dapat mencampur baurkan persoalan-persoalan pribadi dengan persoalan yang jauh lebih besar.”

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Agni kemudian, “memang pandangan kita sukar diketemukan. Kau orang Kediri dan aku adalah orang Singasari. Karena itu, maka marilah kita bicarakan saja apa yang kita hadapi sekarang. Aku minta kau lepaskan orang-orang itu memilih jalannya sendiri.” Kedua prajurit itu menggeram. Tetapi mereka sudah tidak bersenjata lagi. Mereka tidak akan mampu melakukan perlawanan terhadap Mahisa Agni. Selagi mereka masih bersenjata, mereka tidak dapat mengalahkannya, apalagi kini.

“Jangan memaksa kami berbuat terlampau jauh,” berkata Mahisa Agni.

Pemimpin rombongan orang-orang yang meyusul orang-orang Kediri yang menyingkir itu-pun menjadi ragu-ragu.

Dalam pada itu, orang-orang yang merasa dirinya dikejar-kejar itu-pun hampir serentak berteriak, “Binasakan mereka. Jangan biarkan mereka lolos. Mereka pasti akan membantai pula lain kali.”

“Bunuh mereka, bunuh mereka,” teriak yang lain.

Orang-orang yang mengejar orang-orang Kediri yang melarikan diri itu kini berada dalam keadaan sebaliknya. Kini merekalah yang merasa diri mereka diburu oleh orang-orang itu. Sedangkan mereka sama sekali tidak akan dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka pasti tidak akan dapat melawan. Orang yang mematahkan pedang itu mampu berkelahi seperti hantu, sehingga kedua prajurit yang bertempur bersama itu-pun tidak mampu berbuat apa-apa menghadapinya, meskipun ia hanya bersenjatakan sebilah pedang yang telah dipatahkannya sendiri.

Tetapi untuk membiarkan diri mereka dibunuh, mereka sama sekali tidak akan rela.

Karena itu, sejenak mereka dicengkam oleh ketegangan. Mereka menunggu, apakah yang akan terjadi selanjutnya.

Namun dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Biarlah mereka pergi. Kita baru menjumpai mereka untuk pertama kali. Tetapi apabila kita menjumpainya di lain kali dalam tindakan yang serupa, maka kita tidak akan memaafkannya.”

“Tidak. Jangan dilepaskan,” teriak salah seorang.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ketika terpandang olehnya wajah cantrik yang keheran-heranan dan bahkan kebingungan, ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

Cantrik itu terperanjat. Dalam kebingungan ia menjawab, “Terserah kepadamu.”

“Nah,” berkata Mahisa Agni, “begitulah pendapatku. Biarlah kali ini menjadi peringatan bagi mereka. Peringatan terakhir.”

“Tetapi yang mereka lakukan kali ini bukan yang pertama,” berkata pemimpin rombongan orang-orang Kediri yang sedang menyingkir itu.

“Kita tidak dapat dengan mutlak menyalahkan mereka. Yang mereka lakukan telah dibenarkan oleh pimpinan pemerintahan Kediri, sehingga dengan demikian, sebagian dari kesalahan dan tanggung jawab mereka atas perbuatan ini telah diambil oleh pimpinan pemerintahan.”

“Jika demikian, maka tindakan-akan mereka yang akan datang-pun salah mereka.”

“Kami telah memberikan pertimbangan sebagai peringatan terakhir,” jawab Mahisa Agni, “Karena itulah, maka untuk yang bakal terjadi, pertimbangan kita akan lain.”

Sejenak orang-orang itu terdiam. Tetapi mereka sadar, bahwa apabila orang itu tidak ikut campur dalam persoalan ini, mereka pasti akan berhasil dibinasakan oleh pemburu-pemburu itu. Karena itu, maka akhirnya pemimpin rombongan itu berkata, “Baiklah. Kami serahkan keputusan kepadamu. Apa yang baik menurut pertimbangan Ki Sanak, akan baik pula untuk kami. Tetapi perlu kami peringatkan, bahwa kami masih akan menempuh perjalanan sampai kami memasuki tlatah Singasari. Kami masih belum tahu apakah yang bakal terjadi di perjalanan kami. Kalau orang-orang yang dilepaskan ini, mencari jalan lain, dan mencegat kami selagi kami sudah tidak bersama-sama dengan kalian, maka nasib kamilah yang menjadi terlampau jelek.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia dapat mengerti kekhawatiran orang-orang yang sedang berusaha menyingkir dari Kediri itu. Karena itu, bagaimana-pun juga Mahisa Agni ingin segera bertemu dengan Witantra, namun ia berkata, “Baiklah. Kami akan mengawani kalian sampai ke perbatasan. Sampai kalian keluar dari hutan ini dan berada di lingkungan tlatah Singasari. Kalian akan segera menjumpai pusat penjagaan yang akan dapat menampung kalian.”

Pemimpin rombongan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau demikian, aku akan mengucapkan diperbanyak terima kasih. Aku tidak berkeberatan, apapun yang akan kalian putuskan atas orang-orang yang memburu kami ini.”

“Biarlah mereka kembali,” berkata Mahisa Agni, “mereka akan membawa pengalamannya. Tidak seharusnya mereka berburu manusia. Mengejar harta benda yang dibawanya, dan harga kepalanya.”

Mereka yang mengejar orang-orang Kediri itu sama sekali tidak menyahut. Mereka berdiam diri sambil berdiri tegang di tempatnya.

“Nah. kembalilah ke Kediri,” berkata Mahisa Agni, “belajarlah menghargai kebebasan seseorang. Kalau kediri tidak bertindak berlebih-lebihan, aku kira tidak akan ada arus manusia yang mengalir ke Singasari.”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Tetapi tidak semua orang di antara mereka yang dapat mengerti keterangan Mahisa Agni. Ada di antara mereka yang sama sekali terbungkam. Tetapi gejolak di dalam dadanya menyalakan dendam tiada taranya.

Terasa dada mereka membara ketika mereka mendengar Mahisa Agni berkata, “Ki Sanak yang akan melanjutkan perjalanan ke Singasari, silahkan segera berkemas. Waktuku tidak terlampau banyak.”

Seperti tergugah dari cengkaman mimpi yang dahsyat, mereka-pun segera mengemasi barang-barang mereka. Orang-orang yang semula menggenggam senjatanya, sebagian telah menyarungkan senjata itu, dan membantu mengatur barang-barang mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak lengah. Di antara mereka masih juga ada yang menggenggam senjata telanjang di tangan.

Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya telah berdiri di antara orang-orang yang akan pergi ke Singasari itu. Mahisa Agni yang mempunyai penglihatan yang tajam bukan saja penglihatan lahiriah, masih melihat beberapa orang yang tidak ikhlas melepaskan buruannya. Namun demikian beberapa orang yang lain perlahan-lahan mulai menilai diri mereka sendiri. Mereka mulai melihat tujuan orang-orang yang menyeberang ke Singasari. Memang orang-orang yang menyingkir dari Kediri ke Singasari. bukanlah jalan yang paling baik. Tetapi mereka tidak dapat memilih. Mereka tidak dapat berbuat lain daripada menyingkir karena keselamatan dan kebebasan mereka terancam.

Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa Sri Rajasa dari Singasari memang berusaha memanfaatkan keadaan. Dibentuknya kelompok-kelompok yang diserahi tugas menampung orang-orang Kediri, dan bahkan agak memanjakannya, sehingga apabila berita tentang orang-orang Kediri itu menggema kembali ke daerah asal mereka maka hal itu akan merupakan rangsang bagi yang masih tinggal untuk pergi ke Singasari. Namun dengan demikian, Ken Arok telah mematangkan kadaan. Pasukannya telah tersebar di segala penjuru. Bukan sekedar mengawasi penampungan orang-orang Singasari, tetapi mereka siap mengalir masuk ke daerah Kediri, seperti air yang tertampung oleh bendungan yang hampir pecah.

Sementara itu. orang-orang yang akan pergi ke Singasari itu telah siap untuk berangkat. Karena itu maka Mahisa Agni berkata sekali lagi kepada orang yang mengejar mereka, yang masih membeku di tempatnya, “Kenapa kalian masih berada di sini? Pergilah, dan jangan kau coba untuk berbuat seperti kali ini. Kalau aku melihat kalian sekali lagi berburu manusia, maka aku tidak akan dapat memaafkan kalian sekali lagi.”

“Beberapa pasang mata seakan-akan membara karenanya. Tetapi beberapa pasang yang lain menjadi suram.”

“Cepat, pergilah,” bentak cantrik kawan Mahisa Agni.

Pemimpin rombongan orang-orang itu-pun mengerutkan keningnya. Ditatapnya cantrik yang bersenjata pedang pendek itu tajam-tajam. Namun cantrik itu maju beberapa langkah, “Kenapa kau memandang aku seperti itu?”

Pemimpin itu tidak menjawab. Tetapi dipalingkannya wajahnya kepada orang-orangnya, “Marilah kita kembali.”

Orang-orang itu-pun kemudian melangkah perlahan-lahan ke kuda masing-masing. Tetapi masih juga ada di antara mereka yang berpaling. Sorot matanya memancarkan dendam yang tersimpan di dalam hati. kekecewaan dan kegelisahan bercampur baur.

“He kenapa berpaling?” bertanya cantrik itu.

Tetapi seorang yang berbulu lebat di dadanya justru berhenti. Orang yang kasar itu tidak dapat menahan hatinya mendengar bentakan-akan yang menyakitkan hati.

Namun cantrik itu-pun benar-benar seorang yang cepat digulat oleh perasaannya. Tiba-tiba saja ia memburunya sambil berkata, “Kau masih akan melawan?”

Orang itu tidak menjawab.

“Baik. Baik. Mari kita selesaikan masalah ini. Aku tidak ingin berbuat licik. Kau dan aku. Lepas dari semua persoalan yang pernah terjadi.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Ternyata cantrik itu bukan orang kebanyakan pula. Ia sudah menyaksikan bagaimana ia bertempur dengan pedang pendeknya.

Namun sebelum orang berbulu lebat itu mengambil keputusan, pemimpinnya sudah mendahuluinya, “Kita tinggalkan neraka ini.”

Orang berbulu lebat itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berbalik dan berjalan ke kudanya. Sejenak kemudian orang itu telah meloncat seorang demi seorang, kemudian berpacu meninggalkan mangsa yang lepas dari mulutnya karena kebetulan sekali ada seseorang yang bernama Mahisa Agni bersama seorang cantrik di antara mereka.

Sesaat mereka yang tinggal menyaksikan debu yang putih mengepul dari kaki-kaki kuda yang berlari kencang itu. Namun sejenak kemudian mereka menyadari keadaan mereka sendiri. Dengan demikian mereka menjadi semakin sibuk mengemasi barang-barang masing-masing.

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni selalu memeperhatikan gadis yang dengan tergesa-gesa menyiapkan beberapa barang-barangnya. Bahkan seperti tergerak oleh tenaga yang tidak dimengertinya Mahisa Agni-pun mendekatinya dan perlahan-lahan ia berkata, “Apakah aku dapat membantu?”

“O,” sepercik warna merah membayang di wajah gadis itu. Sambil tersipu-sipu ia berkata, “sudah selesai.”

“Tetapi, siapakah yang akan membawa barang-barang itu nanti?”

“Ayah,” berkata gadis itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia sadar, bahwa gadis itu pasti tidak hanya seorang diri. Ia berjalan di antara rombongan itu bersama ayahnya dan bahkan mungkin ia sama sekali bukan seorang gadis. Tetapi di antara laki-laki itu terdapat suaminya.

Tetapi sebelum Mahisa Agni bertanya lebih lanjut, seorang laki-laki, yang justru sudah terlampau tua, mendekatinya sambil berkata, “Aku akan membawa barang-barangnya selebihnya yang dapat dibawanya sendiri.”

“O,” Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi orang itu-pun telah terlalu tua untuk membawa barang-barang yang meskipun tidak terlampau banyak.

Namun Mahisa Agni tidak bertanya lebih jauh. Dibiarkannya gadis itu, dan juga orang-orang lain menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Kemudian pemimpin rombongan itu-pun berkata, “Kita sudah selesai. Marilah kita meneruskan perjalanan.”

Beberapa orang di dalam rombongan itu segera mengangkat barang masing-masing. Ada di antara mereka yang membawa seekor kuda untuk membawa beban masing-masing. Tetapi laki-laki tua itu membawa barang-barangnya di atas pundaknya. Sebagian dari barang-barangnya telah dibawa pula gadis yang menyebut dirinya anaknya.

Tetapi agaknya barang-barang itu terlampau berat bagi mereka berdua. Sedang orang-orang lain telah sibuk dengan milik mereka sendiri-sendiri.

“Apakah kau berdua bersama ayahmu membawa barang-barang itu dari Kediri?” bertanya Mahisa Agni.

Gadis itu mengangguk.

“Kudaku dapat membantu,” berkata Mahisa Agni kemudian.

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ditatapnya mata ayahnya yang redup.

Sejenak laki-laki tua itu berpikir. Kemudian katanya, “Apakah dengan demikian kami tidak mengganggu Ki Sanak?”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak. Aku akan berjalan bersama dengan kalian.”

“Terima kasih,” berkata orang tua itu. yang kemudian meletakkan beberapa potong barang-barangnya dan barang-barang yang dibawa oleh gadisnya di atas punggung kuda Mahisa Agni.

Ketika semuanya sudah mulai melangkahkan kakinya, maka kedua ayah beranak itu-pun berjalan pula. Tetapi kini mereka sudah tidak diberati lagi oleh barang-barangnya yang sebagian sudah mereka letakkan di atas punggung kuda Mahisa Agni.

“Siapa yang akan menitipkan barang-barang kepadaku,” cantrik itu berdesis di telinga Mahisa Agni.

Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya wajah cantrik yang lucu itu sedang tersenyum. Bahkan kemudian ia berbisik, “Barang-barangnya sudah dititipkan kepadamu. Biarlah pemiliknya naik di atas punggung kudaku. Kalau ia tidak berani seorang diri, aku dapat menjagainya di belakangnya.”

“Sst,” Mahisa Agni berdesis, dan cantrik itu tersenyum semakin lebar.

Sambil berjalan maka Mahisa Agni, cantrik yang bersamanya dan laki-laki tua itu tidak berhenti-hentinya bercakap-cakap. Sedang anak gadisnya kemudian berjalan di depan bersama perempuan-perempuan yang lain.

“Ia bukan anakku,” berkata laki-laki tua itu tiba-tiba. Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tanpa dikehendakinya sendiri ia bertanya, “Jadi, apakah hubungan kalian?”

“Ia sebenarnya adalah cucuku.”

“O,” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ayahnya meninggal selagi ia berada di dalam kandungan karena penyakit yang tidak kami ketahui. Ketika ia berumur tiga tahun, ibunya meninggal pula.”

“Yatim piatu,” desis Mahisa Agni.

Dan tiba-tiba cantrik itu memotong, “Suaminya?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. “Memang ia terlambat kawin. Tetapi ia masih gadis.”

“O,” cantrik itu mengerutkan keningnya, “tentu belum terlambat. Berapakah umurnya?”

“Aku tidak tahu pasti. Ia lahir ketika ada gempa yang besar menimpa Kediri. Pada saat tanah-tanah bengkah dan gunung-gunug runtuh. Hujan angin seperti dicurahkan dari langit.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kira-kira duapuluh tahun yang lampau.”

“Ya, begitulah,” sahut orang tua itu. Kemudian suaranya menurun, “karena itulah terlambat kawin. Kawan-kawannya yang berumur tujuh belas tahun sudah dipinang orang.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bahkan yang berumur limabelas tahun,” orang tua itu meneruskan. Kemudian, “Sebenarnya anak itu juga sudah dipinang orang. Ia hampir kawin tiga tahun yang lampau. Tetapi yang melukai hati anak itu, calon suaminya mati terbunuh.”

“O,” Mahisa Agni dan cantrik itu terperanjat.

“Kenapa?”

“Itulah yang menyakiti hatinya. Ternyata calon suaminya adalah seorang perampok,” jawab orang tua itu, “tidak seorang-pun dari orang sepadepokan kami yang mengetahuinya. Karena itu lamarannya-pun aku terima. Gadis itu-pun telah tidak menolak lagi. Namun berita itu akhirnya sampai pada kami. Laki-laki itu adalah seorang perampok yang sangat dibenci.”

Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas mereka memandang punggung gadis yang berjalan beberapa langkah di depan mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak mendapat kesan apapun juga.

“Kasihan,” desis Mahisa Agni di dalam hatinya.

Dan orang tua itu berkata seterusnya, “Tetapi aku kira lebih baik demikian daripada perkawinan itu sudah berlangsung. Cucuku akan menjadi seorang isteri perampok yang dikutuk orang, meskipun orang-orang di sekitarnya tidak mengetahuinya.” orang tua itu berhenti sejenak, lalu, “Sekarang ia bebas, meskipun hatinya luka.”

Mahisa Agni hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut.

Demikianlah perjalanan mereka itu-pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan perbatasan hutan dan langsung masuk ke tlatah Singasari. Mahisa Agni sempat mengantarkan mereka sampai ke tempat yang dianggapnya cukup aman. Mereka tidak akan terganggu lagi oleh orang-orang yang mengejarnya.

“Sekarang aku akan meneruskan perjalananku lagi,” berkata Mahisa Agni kepada pemimpin rombongan itu.

“Terima kasih,” jawabnya, “aku sudah mengganggu perjalananmu. Apakah kau akan pergi ke Kediri?”

“Tidak,” jawab Mahisa Agni, “aku akan pergi ke daerah yang tidak bertuan. Daerah yang jauh tersembunyi di dalam hutan. Yang tidak dijangkau oleh kekuasaan baik Kediri mau-pun Singasari.”

“Daerah manakah itu?”

“Daerah yang tidak bernama.”

Pemimpin rombongan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang orang tua kakek gadis itu berkata, “Kami sangat berterima kasih akan kebaikanmu.”

“Adalah sewajarnya, bahwa kita harus saling membantu,” Mahisa Agni menyahut, kemudian, “kalau kelak aku kembali, aku akan mencari kalian. Berpesanlah kepada para petugas, di mana kalian akan menetap.”

“Ya, ya. Kami akan menunggu.”

Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya itu-pun kemudian minta diri, melanjutkan perjalanan mereka pergi ke rumah Witantra. Mereka telah kehilangan waktu. Mereka telah menempuh jarak rangkap, karena mereka harus kembali lagi mengantarkan para pengungsi dari Kediri itu.

“Kau akan mencarinya kelak?” bertanya cantrik kawan seperjalanannya itu.

Mahisa Agni mengangguk tanpa sesadarnya.

“Kenapa?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa?

“Kenapa? ” cantrik itu mendesak.

“Tidak apa-apa. Hanya sekedar ingin tahu, apakah mereka sudah mendapat tempat yang wajar.”

Cantrik itu tidak menyahut, tetapi ia tertawa.

“Kenapa kau tertawa?” bertanya Mahisa Agni.

“Tidak apa-apa”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun kemudian berdiam diri.

Sejenak mereka tidak saling berbicara. Kuda mereka telah memasuki semakin dalam jalan setapak di tengah-tengah hutan yang sepi. Tetapi kini matahari telah condong semakin rendah di Barat.

Dan tiba-tiba cantrik itu berkata, “Kita akan kemalaman di jalan.”

“Kita jalan terus,” berkata Mahisa Agni.

“Berbahaya. Dan aku tidak akan dapat mengenal jalan di malam hari. Kuda-kuda kita juga perlu beristirahat.”

“Jadi?” bertanya Mahisa Agni.

“Kita bermalam di jalan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Kita akan bermalam di jalan.”

Karena itu, sebelum hutan itu menjadi gelap, mereka-pun segera mencari tempat untuk bermalam. Ketika mereka sudah menemukannya, maka mereka-pun segera mengikat kuda-kuda mereka dan mencari ranting dan dahan-dahan kering.

“Kita membuat perapian,” berkata cantrik itu.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

“Aku membawa pondoh jagung. Apakah kau tidak lapar?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab. “Tentu.”

“Tentu apa?”

“Tentu lapar.”

Keduanya-pun kemudian makan pondoh jagung sambil duduk di dekat perapian. Malam yang gelap turun menyelubungi hutan yang menjadi sangat pekat, seakan-akan mata mereka tidak mampu lagi menembus jarak selangkah-pun. Namun cahaya api yang merah, telah menembus beberapa puluh langkah di seputar kedua orang yang duduk sambil berkerudung kain panjang mereka.

Tiba-tiba saja cantrik itu bertanya, “Siapakah sebenarnya kau?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apakah Panji Bojong Santi tidak mengatakannya.”

“Panji Bojong Santi hanya mengatakan, agar aku mengantarmu ke tempat Witantra. Tetapi Panji Bojong Santi tidak mengatakan kepadaku, siapakah kau sebenarnya.”

“Tidak ada yang aneh. Namaku Mahisa Agni. Itu sudah cukup bagimu.”

“Tetapi kau ternyata memiliki kemampuan yang tidak aku duga. Aku kira kau adalah barang titipan, yang harus aku serahkan kepada Witantra.” cantrik itu menelan ludahnya, kemudian, “ternyata aku tidak lebih dari seorang penunjuk jalan.”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Jangan hiraukan lagi. Sekarang kita bergantian tidur. Kau dulu, atau aku?”

“Tidurlah, aku belum mengantuk,” jawab cantrik itu.

Mahisa Agni-pun kemudian bersandar pada sebatang pohon. Ia mencoba untuk tidur barang sejenak.

Tetapi belum tengah malam Mahisa Agni sudah terbangun. Terasa punggungnya amat lelah. Perlahan-lahan ia berdiri sambil menggeliat. Dilihatnya cantrik kawan seperjalanannya masih duduk terkantuk-kantuk di pinggir perapian. Dengan sebatang dahan ia mempermainkan bara yang merah kekuning-kuningan.

“Apakah kau belum mengantuk,” bertanya Mahisa Agni.

Cantrik itu berpaling sambil menjawab, “Sudah.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tidurlah. Biarlah aku yang jaga.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bersandar sebatang pohon seperti Mahisa Agni. Dengan serta-merta ia berbaring di atas rerumputan liar yang layu oleh panasnya api di perapian.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata-pun. Dibiarkannya saja cantrik itu kemudian jatuh tertidur. Baru ketika fajar menyingsing, ia membuka matanya dan bertanya, “Apakah yang kemerah-merahan itu cahaya fajar?”

“Ya,” jawab Mahisa Agni.

“Jadi aku tidur sampai pagi?”

“Ya.”

“Kenapa aku tidak kau bangunkan?”

“Apakah kau memerlukan sesuatu?”

“Tidak, maksudku, kau duduk sampai semalam suntuk.”

“Aku sudah tidur lebih dahulu.” –

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia-pun bangkit dan membenahi pakaiannya. dikibas-kibaskannya kain panjangnya, dan dibetulkannya letak ikat pinggangnya.

“Kau berjaga-jaga semalaman. Kau tentu lelah.”

Mahisa Agni tersenyum. “Sudahlah,” katanya, “marilah kita berkemas. Kita sudah kehilangan waktu sehari. Aku ingin segera bertemu dengan Witantra.”

“Baiklah,” sahut cantrik itu. Perlahan-lahan ia-pun pergi ke kudanya yang terikat. Membenahi kelengkapannya pula sambil berkata, “Kita perlu air.”

“Di sepanjang jalan nanti kita akan bertemu dengan air.”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. “Baiklah. Aku kira kuda-kuda ini-pun sudah haus.”

Sejenak kemudian, ketika mereka sudah selesai berkemas, maka mereka-pun segera berangkat melanjutkan perjalanan. Beberapa puluh langkah kemudian mereka menemukan sumber yang bening memancar dari bawah sebatang pohon preh yang besar.

Setelah mencuci muka, memberi minum kuda-kuda mereka, maka keduanya-pun segera berpacu menuju ke rumah Witantra. Suatu pedukuhan baru yang belum banyak dikenal orang. Mereka masih harus menyusup jalan yang sulit, di antara tetumbuhan hutan yang cukup rapat, meskipun bukan sebuah belukar yang pepat.

“Kau masih ingat jalan ke padukuhan itu?” bertanya Mahisa Agni.

“Tentu. Aku masih ingat.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Masih jauh?” ia bertanya.

Cantrik itu menggeleng, “Tidak terlampau jauh. Sebelum tengah hari kita akan sampai ke daerah yang lebih baik. Kemudian kita akan segera sampai. Lewat sedikit tengah hari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mahendra pernah tinggal bersama Witantra beberapa saat.”

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. Tiba-tiba saja cantrik itu bertanya, “Apa sebenarnya kepentinganmu dengan Witantra?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa.”

Cantrik itu menarik nafas. Tentu ia tidak percaya bahwa seseorang menempuh jalan sejauh itu tanpa suatu keperluan yang penting. Tetapi cantrik itu mengerti, bahwa Mahisa Agni tidak ingin mengatakan kepentingannya kepadanya, sehingga karena itu, maka ia-pun tidak bertanya lagi.

Sejenak mereka menyelusur jalan di hutan yang tidak terlampau lebat itu sambil berdiam diri. Sekali-sekali Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenteramkan hatinya yang mulai berdebar-debar. Ia menjadi ragu-ragu, apakah Witantra dapat menanggapi kedatangannya dengan sikap yang lebih dewasa. Kalau dendam atas kematian adik seperguruannya dan kekalahannya itu masih tetap menyala di hatinya, maka ia akan menghadapi keadaan yang sulit. Dalam keadaan yang sewajarnya, mungkin ia tidak akan gentar menghadapinya. Bahkan ia masih dapat percaya kepada dirinya sendiri bahwa Witantra betapa jauh jangkaunya namun ia tidak akan dapat mengalahkannya dengan mudah. Kalau Witantra berhasil mempelajari ilmunya hampir sempurna, seperti gurunya Panji Bojong Santi. maka ia sudah berhasil mencapainya lebih dahulu.

Bahkan selama ini ia masih juga sempat merenungi ilmunya, sehingga ilmu itu menjadi kian matang. Ilmu yang didasari oleh perguruan Empu Purwa, ditambah dengan luluhnya ilmu Empu Sada dan penemuannya sesudah itu, berdasarkan kedua ilmu itu. pasti tidak akan mudah dilampaui oleh Witantra.

Tetapi ia tidak akan dapat mempergunakan ilmunya. Ia datang untuk mengakui semua kesalahannya dan untuk meminta maaf kepadanya. Sudah tentu ia tidak akan melibatkan diri ke dalam kesalahan yang lebih besar lagi.

“Tetapi bagaimana kalau Witantra tidak dapat mengerti perasaannya?” pertanyaan itu kini telah membelit hatinya.

“Panji Bojong Santi mengenalnya dengan baik. Kalau ia tidak berpendapat bahwa Witantra akan mengendapkan perasaannya, maka ia tidak akan membiarkan cantrik ini mengantarkan aku.”

“Meskipun demikian Witantra adalah manusia biasa. Ia tidak akan luput dari kekurangan dan kekhilafan.”

Ternyata pendirian itu telah membuat dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar.

Meskipun demikian Mahisa Agni berusaha menyembunyikan semua kesan-kesannya, sehingga cantrik yang bersamanya itu sama sekali tidak dapat meraba apa yang terpercik di hatinya.

Demikianlah maka untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Semakin lama mereka menjadi semakin dekat. Hutan yang mereka lalui menjadi semakin jarang. sehingga akhirnya, mereka telah melintasi hutan perdu dan ilalang.

Dengan demikian maka kuda-kuda mereka dapat berlari semakin kencang. Sedang matahari menjadi semakin tinggi memanjat kaki langit.

Ketika bayangan mereka telah tepat terinjak di bawah kaki mereka berhenti sejenak pada sebuah mata air yang kecil untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka minum sejenak, sambil berteduh di bawah sebatang pohon yang rindang.

“Kita akan menempuh jalan yang melewati gunduk-gunduk yang keputih-putihan itu,” berkata cantrik kawan seperjalanan Mahisa Agni sambil menunjuk segunduk padas putih di hadapan mereka.

Keduanya membiarkan kuda mereka makan rerumputan hijau sejenak, sementara keduanya menyeka keringat mereka yang membasahi seluruh tubuhnya.

Tetapi mereka tidak beristirahat terlampau lama. Sejenak kemudian mereka-pun telah berada di punggung kuda masing-masing, dan berpacu lebih cepat lagi. Tetapi jalan kini sudah menjadi semakin baik. Mereka tidak lagi diganggu oleh pepohonan yang merambat, melintas di atas jalan yang mereka lalui. Kini jalan seakan-akan terbuka meskipun tidak terlampau baik.

Setelah melewati gundukan padas yang keputih-putihan di panasnya matahari, mereka sampai ke daerah yang lebih subur. Daerah yang selalu basah oleh sumber-sumber air dan sebatang sungai yang meskipun tidak terlampau besar, namun mengalirkan air yang cukup.

“Padukuhan Witantra ada di tepi sungai ini,” berkata cantrik itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudah dekat. Gerumbul hijau di hadapan kita itu adalah ujung padukuhannya.”

“O,” Mahisa Agni mengnggukkan kepalanya, dan hatinya-pun menjadi semakin berdebar-debar pula. Meskipun demikian, wajahnya sama sekali tidak mengesankan kegelisahannya itu.

Ternyata jalan yang mereka lalui memang menjadi semakin baik. Meskipun agak berdebu tapi kini mereka telah sampai pada sebuah jalan yang agak terpelihara.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan seseorang yang pernah dilukai hatinya. Ia tidak tahu tanggapan apakah yang akan diberikan oleh Witantra atas kedatangannya ini.

“Tetapi aku harus menemuinya. Apapun yang akan terjadi nanti,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “sekarang atau waktu yang akan datang, hampir tidak ada bedanya. Aku tidak mau tersiksa lebih lama lagi oleh perasaan bersalah ini.”

Dengan demikian maka Mahisa Agni-pun telah membulatkan tekadnya, untuk bertemu kali ini dengan Witantra meskipun ia tidak tahu akibat apa yang bakal terjadi oleh pertemuan ini.

Sejenak kemudian maka mereka-pun telah sampai di ujung padukuhan yang hijau segar. Meskipun padukuhan itu sebuah padukuhan kecil tetapi tampak bahwa padukuhan itu adalah padukuhan yang hidup.

Dinding-dinding batu yang rapi dan regol yang manis, meskipun tidak terlampau besar. Jalan-jalan yang lurus dan bersih.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas. Desisnya, “Inilah padukuhan itu?”

“Ya, padukuhan yang agak terpencil. Tetapi padukuhan ini berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dari bahan makan sampai ke bahan pakaian meskipun tidak begitu baik. Hanya keperluan yang memaksa saja mereka cari keluar daerah padukuhan ini. Garam misalnya,” jawab cantrik itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kita akan segera memasuki regol padukuhan itu. Rumah Witantra berada di tempat-tempat padukuhan,” cantrik itu berhenti sejenak, “padukuhan ini adalah padukuhan yang paling damai yang pernah aku lihat.”

Mahisa Agni masih mengangguk-angguk. Tetapi ia sependapat dengan cantrik itu, bahwa padukuhan ini memang padukuhan yang tampaknya tenteram dan damai.

“Mungkin karena letaknya yang terasing,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “tetapi apakah kedamaian yang asing seperti ini adalah yang paling baik bagi Witantra?”

Sejenak Mahisa Agni merenungi regol padukuhan itu. Kemudian dilihatnya seorang anak melintasi jalan. Anak itu memandanginya sebentar, kemudian ia berlari-lari masuk ke halaman.

“Jarang sekali ada orang lain yang datang kemari,” berkata cantrik itu, “kedatangan kita pasti akan menjadi bahan percakapan penduduk padukuhan ini. Satu dua di antara mereka mungkin pernah melihat aku datang kemari, apabila mereka masih ingat. Tetapi kau adalah orang asing sama sekali.”

Mahisa Agni tidak Menjawab. Bagi Witantra, mungkin masih dapat dimengerti. Bahwa kekecewaan yang sangat telah menyudutkannya ke tempat yang sepi ini. Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang masih harus berkembang?

Ternyata apa yang dikatakan cantrik itu-pun segera ternyata. Bukan sekedar anak-anak sajalah yang kemudian menjengukkan kepala mereka di atas pagar-pagar batu. Dengan herannya mereka melihat cantrik itu bersama Mahisa Agni melewati di jalan yang membelah padukuhan itu. Mereka saling berbisik dan bertanya, siapakah yang datang kali ini?

Tetapi setiap kepala tergeleng lemah, karena tidak seorang-pun yang dapat menjawab pertanyaan itu. Sejenak kemudian. sampailah mereka ke pusat padukuhan kecil itu. Mereka berhenti sejenak di muka sebuah regol halaman yang agak lebih besar dari regol-regol halaman yang lain. Halaman itu adalah halaman rumah Witantra.

Mahisa Agni menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu justru bergeser beberapa langkah surut. Kini ia tidak lagi dapat menyembunyikan perasaannya yang dibakar oleh keragu-raguan.

Cantrik itu menjadi heran. Sejenak ia mengawasi saja tingkah laku Mahisa Agni. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Marilah kita masuk. Inilah rumahnya.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Keringat dinginnya yang mengembun serasa telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Kenapa kau?” bertanya cantrik itu, “inilah rumahnya.”

Mahisa Agni masih belum menjawab. Dipandanginya saja pintu regol yang terbuka itu, langsung melintasi halaman hingga pada pintu rumah yang masih tertutup.

Tiba-tiba ia berdesis, “Sepi sekali.”

“Rumah ini memang sepi. Biasanya memang sepi pula. Witantra dan keluarganya jarang-jarang berada di pendapa. Mereka selalu berada di dalam.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini Ia seakan-akan membeku di atas punggung kudanya.

“He. kenapa kau sebenarnya?” bertanya cantrik itu.

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa kau mematung di situ. Marilah masuk.”

Sekali lagi Mahisa Agni menyapukan pandangan matanya ke sekelilingnya. Halaman yang bersih. Batang-batang pohon sawo yang tumbuh subur hambir mencapai teritis. Apabila kelak batang-batang sawo itu menjadi semakin besar, maka halaman itu-pun akan bertambah asri.

“Kau sudah menempuh perjalanan yang demikian jauh dan sulit. Sekarang kau ragu-ragu,” desis cantrik itu.

“Kau benar,” jawab Mahisa Agni, “aku memang ragu-ragu.”

“Baiklah. Biarlah aku lebih dahulu masuk. Aku akan mengatakan kepada Witantra bahwa seorang tamu bernama Mahisa Agni sedang menunggu di luar regol.”

Mahisa Agni tidak segera menyahut.

“He,” cantrik itu menjadi kesal, sehingga tiba-tiba ia berkata tanpa sesadarnya, “apakah kau kesurupan di jalan tadi?”

Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah cantrik itu dengan tajamnya, tetapi ia tidak menjawab.

Dalam kebingungannya, cantrik itu-pun kemudian meloncat turun dari kudanya dan membimbing kudanya mendekati regol halaman. Tetapi ia terkejut ketika tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan yang meloncat dan hinggap di atas dinding batu halaman rumah itu. Hampir terpekik ia memandang seseorang yang berdiri tegak di atas sepasang kakinya yang renggang.

Mahisa Agni-pun terkejut bukan kepalang melihat orang yang tiba-tiba saja sudah bertengger di atas dinding halaman. Apalagi setelah ia meyakini, bahwa orang yang berdiri itu adalah Witantra.

Sejenak Mahisa Agni benar-benar terpukau oleh penglihatannya. Witantra berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Di lambungnya tergantung sepasang pedang panjang.

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Witantra yang telah menyepi itu masih menyandang pedang di lambungnya. Apalagi kini sepasang.

Karena itu, maka Mahisa Agni melihat seorang tokoh yang aneh menurut penilaiannya. Seorang yang mengenakan pakaian putih melitit di tubuhnya, namun kemudian pakaian itu dibelit oleh sebuah ikat pinggang kulit yang tebal dan digantungi oleh sepasang pedang.

“Nah. aku sudah menduga Agni, bahwa pada suatu ketika kau akan mencari aku. Aku kira kau masih tidak puas dengan kemenanganmu itu. Kau masih belum puas atas kematian Kebo Ijo. Kini kau datang untuk memuaskan hatimu.”

Sambutan itu sama sekali tidak disangka-sangkanya. Apalagi cantrik yang bersamanya itu. Dengan mulut ternganga ia melihat Witantra dan Mahisa Agni berganti-ganti.

“Aneh sekali,” ia berkata di dalam hati, “kalau yang akan terjadi hanyalah demikian saja, kenapa Panji Bojong Santi menyuruh aku mengantarkannya?”

Dalam kebingungan cantrik itu berdiri membeku di tempatnya. Sekilas terbayang kemampuan Mahisa Agni yang tidak disangka-sangkanya ketika mereka berkelahi melawan orang-orang Kediri. Mahisa Agni benar-benar dapat berbuat sekehendak hatinya atas lawan-lawannya. Memang apa yang dilakukan mirip dengan permainan sihir. Sedang Witantra adalah murid tertua Panji Bojong Santi yang sudah mengasingkan diri menekuni ilmunya. Apabila benar-benar terjadi benturan di antara mereka berdua, maka akibatnya memang akan dahsyat sekali. Karena itu, maka ketika dadanya sudah menjadi agak tenang, ia-pun melangkah maju mendekati Witantra sambil berkata, “Witantra, Panji Bojong Santilah yang menyuruh aku mengantarkannya kemari.”

Witantra tertawa. Jawabnya, “Aku kira guru-pun mengetahui, apa yang tersirat di dalam hatinya. Memang tidak ada orang lain yang dapat melawannya di seluruh Tumapel, yang sekarang menyebut dirinya Singasari. Tidak ada orang yang dapat mengalahkan seorang yang bernama Mahisa Agni selain aku. Memang aku pernah di kalahkannya. Tetapi itu sudah lama berlalu. Sekarang keadaan pasti sudah berubah. Dan Witantra tidak akan dapat di kalahkannya lagi.” Witantra berhenti sejenak, dan tiba-tiba pertanyaannya sangat mengejutkan Mahisa Agni, “Agni, apakah kau sudah berhasil membunuh Mahendra, sehingga kau sudah datang kepadaku, kepada saudara tertua di perguruan Panji Bojong Santi?”

Mahisa Agni benar-serasa terbungkam. Ia tidak mengerti bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu, maka ia duduk saja di atas punggung kudanya dengan jantung yang berdentangan.

“Kenapa kau diam saja?” lalu kepada cantrik itu Witantra bertanya, “he. apakah kau tahu. atau guru mengatakan kepadamu, bahwa Mahendra telah terbunuh?”

Cantrik itu menjadi semakin bingung, tetapi kepalanya tergeleng lemah, “Tidak. Aku tidak mengetahuinya.”

Suara tertawa Witantra menjadi semakin menyakitkan hati. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Hem, begitu buas kau Mahisa Agni. Apakah kau akan mendapat upah yang terlalu besar dari Ken Arok?”

Mahisa Agni benar-benar serasa terbungkam. Hal yang sama sekati tidak disangka-sangkanya ternyata telah terjadi. Menurut dugaannya Witantra pasti seorang yang sudah menjadi semakin mapan dan mengendap, sehingga ia tidak akan terlalu banyak menjumpai kesukaran.

“Agni, ayo katakan dengan terus-terang. bahwa kau akan membunuhku.”

Betapapun juga maka akhirnya Mahisa Agni mencoba untuk menjelaskan maksud kedatangannya, “Witantra, aku sama sekali tidak akan membunuhmu. Mahendra sama sekali juga tidak terbunuh.”

Suara tertawa Witantra meninggi. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “O, kau benar-benar seorang buas yang licik. Kau mencoba menipu aku. Kemudian dengan diam-diam kau akan menusuk aku dari belakang.” Witantra berhenti sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak Mahisa Agni, kau tidak akan dapat mengelabui aku, kau tidak akan dapat menipu aku lagi. Aku tahu pasti tujuanmu. Karena itu, marilah kita coba sekali lagi. Kau atau aku yang akan binasa kali ini.”

“Witantra,” potong Mahisa Agni yang menjadi semakin gelisah, “kau salah Witantra. Aku tidak akan berkelahi.”

“Jangan kau kelabui aku. Kau tidak akan dapat berbuat curang. Ayo, kita berhadapan dengan jantan.”

“Kau keliru.”

“Tentu tidak. Aku tidak akan keliru. Kebo Ijo itu sudah benar-benar mati. Aku sudah kau kalahkan di arena. Mahendra-pun sudah mati pula. Sekarang kau datang kemari. Apalagi he?”

“Memang, aku telah memperkuat keputusan untuk menetapkan Kebo Ijo bersalah. Aku telah naik ke arena waktu itu. Tetapi aku salah, pada waktu itu. Dan aku ingin minta maaf kepadamu Witantra.”

“O,” suara tertawa Witantra semakin keras, “kau benar-benar tidak tahu malu. Kenapa kau tidak menempuh jalan seperti yang pernah kau pergunakan? Naik ke arena? Kenapa kini kau lebih senang menjadi seorang yang licik?” Witantra berhenti sejenak, kemudian, “Mungkin karena kau sudah tahu. bahwa kau tidak akan dapat mengalahkan Witantra sekarang. Kau tidak akan dapat berbuat dengan cara yang pernah kau lakukan. Sedang kau masih tetap mendendam semua murid Panji Bojong Santi. Mungkin atas dorongan kegilaanmu, tetapi mungkin juga karena kau akan mendapat upah dari Ken Arok. Tetapi aku tidak peduli. Bagiku akibatnya akan sama saja. Kau dengan nafsu dendammu yang menyala-nyala, atau kau yang akan mendapat upah berlimpah-limpah dengan raja yang licik itu?”

“Tidak Witantra, kau salah sangka. Kau terlampau mendendam kepadaku, sehingga kau diganggu oleh bayangan-bayangan yang selalu menakut-nakuti perasaanmu.”

“He,” Witantra tiba-tiba terbelalak, “kau terlampau sombong. Apa yang aku takutkan padamu sehingga aku harus dengan gelisah menemuimu sekarang? He, kau kira otakku sudah tidak waras lagi sehingga hidupku selalu dibayangi oleh prasangka-sangka buruk saja? O Agni. betapa sombongnya kau. Kau merasa dirimu tidak terkalahkan sehingga aku yang terpencil ini selalu dibayangi oleh ketakutan yang sangat, sehingga aku menjadi gila.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak mengerti apa yang akan dikatakannya. Ia merasa bahwa ia selalu salah. Apa yang diucapkan pasti menumbuhkan salah paham. Witantra pasti menanggapinya dengan dendam yang menyala di dadanya.

Apalagi ketika kemudian Witantra yang masih berdiri di atas pagar batu itu berkata, “Agni, jangan terlampau banyak bicara. Kita selesaikan saja masalah ini dengan segera. Marilah kita pilih sebuah arena yang dapat memberi kepuasan. Kau setuju?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Witantra. aku tidak akan berkelahi.”

“Lalu apa maksudmu datang kemari? Jangan begitu Agni. Kau adalah kakak seorang Permaisuri. Jagalah nama baik Ken Dedes yang kini bukan saja seorang Permaisuri seorang Akuwu, tetapi Permaisuri dari seorang raja yang besar.”

Tetapi Mahisa Agni menggelengkan kepalanya sambil berkata berulang kali, “Kau keliru Witantra, kau keliru.”

Dalam pada itu cantrik yang mengantarkannya menjadi bingung. Ia tidak mengerti pembicaraan apakah yang sedang berlangsung. Tetapi ketika ia mendengar Witantra menyebut Mahisa Agni sebagai seorang kakak dari Permaisuri Sri Rajasa. hatinya menjadi bertambah bingung. Tetapi kakak seorang Permaisuri itu kini sama sekali tidak berbuat apapun di hadapan Witantra. Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak menanggapi tantangan Witantra yang meliliti tubuhnya dengan pakaian yang serba putih, namun di lambungnya tergantung sepasang pedang.

“Mahisa Agni adalah seorang yang luar biasa,” berkata cantrik itu di dalam hatinya, “ia dapat bertempur seperti seorang yang dapat bermain sihir. Tanpa diketahui apa yang sudah dilakukannya, ia mampu melepaskan senjata-senjata lawannya. Dan menurut pengakuan Witantra sendiri, Mahisa Agni memang pernah mengalahkannya. Tetapi di hadapan Witantra kini Mahisa Agni seakan-akan seperti seorang yang sama sekali tidak berdaya.”

“Agni,” berkata Witantra, “ayo, cabut senjatamu!”

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak bersenjata karena aku memang tidak ingin berkelahi Witantra.”

“Jangan omong kosong. Cepat, sebelum aku berkeputusan membunuhmu.”

Tetapi sekali lagi Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak bersenjata.”

Witantra mengerutkan keningnya. Tiba-tiba dicabutnya sebuah pedang yang tergantung di lambungnya. Tanpa disangka-sangka dilemparkannya pedang itu kepada Mahisa Agni, “Pakai senjata itu.”

Sekilas jantung Mahisa Agni disambar oleh keragu-raguan. Pedang itu meluncur terlampau cepat, sehingga waktunya untuk menimbang dan mengambil keputusan terlampau pendek. Tetapi karena kedatangannya memang sudah dilambari oleh kebulatan tekadnya untuk tidak membuat masalah baru, maka pada saatnya Mahisa Agni telah mengambil sikap. Tangannya yang sudah bergetar, sama sekali tidak bergerak untuk menangkap tangkai pedang yang meluncur di sampingnya. Dipandanginya saja pedang yang jatuh di tanah, beberapa langkah dari kudanya.

Sementara itu cantrik yang membawanya menjadi semakin heran. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dihadapinya. Sejenak dipandanginya pedang yang tergolek di tanah itu dengan mata yang hampir tidak berkedip.

“Kenapa Mahisa Agni tidak memungutnya?” desisnya di dalam hati.

Tetapi Mahisa Agni benar-benar tidak memungutnya. Ia masih tetap duduk di punggung kudanya.

“Agni,” berteriak Witantra, “kenapa tidak kau tangkap pedang itu?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak memerlukannya.”

“He,” Witantra membelalakkan matanya, “kau benar-benar sombong. Kau sudah menghina aku untuk kesekian kalinya. Kau sangka kau sekarang dapat mengalahkan aku tanpa senjata.”

“Bukan begitu. Maksudku, aku tidak memerlukannya karena aku memang tidak berhasrat sama sekali untuk berkelahi.”

“Persetan,” Witantra menggeram, “aku akan segera mengambil sikap. Aku akan membunuhmu. Melawan atau tidak melawan.”

“Kalau itu jalan yang paling baik yang dapat kau tempuh Witantra, lakukanlah.”

Witantra terdiam sejenak. Direnunginya wajah Mahisa Agni sejenak.

“Kau benar-benar tidak ingin berkelahi?” bertanya Witantra.

“Sudah aku katakan, aku tidak berniat untuk berbuat apapun di sini.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia membuka ikat pinggang kulitnya yang tebal berikut pedangnya. kemudian dilemparkannya ikat pinggang itu sambil berkata, “Aku memang sudah menyangka, bahwa kau sekarang sudah menjadi semakin masak.”

Mahisa Agni serasa telah terpukau oleh sikap Witantra itu. Sejenak ia mematung. Detak jantungnya seakan-akan terhenti dan justru karena itu ia menjadi sangat bingung.

Bukan saja Mahisa Agni yang kebingungan. Tetapi cantrik yang datang bersamanya itu-pun sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sambil menggelengkan kepalanya ia menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia melihat beberapa buah kepala yang tersembul dari balik regol dan pagar-pagar batu. Agaknya beberapa orang dari padukuhan terpencil itu lagi mengintip, apakah yang sebenarnya sudah terjadi di depan halaman rumah Witantra itu. Apalagi Witantra bagi orang-orang di sekitarnya dianggap sebagai seorang tetua dari padukuhan yang kecil itu.

Mahisa Agni dan cantrik itu menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka melihat Witantra itu meloncat turun, dan perlahan-lahan melangkah maju mendekati Mahisa Agni.

“Turunlah Agni,” berkata Witantra dalam nada yang jauh berbeda, “aku tidak bersungguh-sungguh. Aku hanya ingin membuktikan, apakah kau benar-benar telah berhasil meyakinkan dirimu sendiri, bahwa selama ini kau telah bertindak dengan tergesa-gesa.”

Sesuatu terasa bergejolak di dalam dada Mahisa Agni. Sejenak ditatapnya Witantra dalam pakaian putihnya. Namun sejenak kemudian ia meloncat turun dari kudanya.

Witantra yang sudah menjadi semakin dekat itu-pun segera menangkap lengannya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata seperti kepada adiknya yang nakal, “Apakah kau sudah menemukan jawab tentang Kebo Ijo. Mahisa Agni?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Sejenak ia menjadi bingung sekali, namun kemudian ia menjawab, “Ya Witantra. Sekarang aku sudah dapat melihat dan meyakinkan, apa yang sebenarnya sudah terjadi. Aku datang kepadamu untuk menyerahkan diri. Aku merasa bahwa aku sudah terlampau banyak berbuat kesalahan.”

Witantra tertawa. Tetapi nada tertawanya-pun jauh berbeda dengan nada tertawanya yang baru-baru saja diperdengarkannya dari atas dinding batu.

“Marilah. Aku memang sengaja menunggumu. Aku ingin mengerti bagaimana kau sekarang. Apakah kau masih juga diburu oleh ketergesa-gesaanmu seperti saat-saat itu.”

“Darimana kau tahu bahwa aku akan datang kemari? Dan dari mana kau tahu, bahwa aku datang dengan penyesalan?”

Witantra tertawa pula. Kemudian katanya, “Marilah. Masuklah.”

Mahisa Agni berdiri termangu-mangu, sehingga Witantra menariknya untuk melangkah memasuki regol. Ditepuknya pula pundak cantrik yang datang bersama Mahisa Agni itu sambil berkata, “Jangan bingung. Marilah, kita masuk ke dalam.”

Mahisa Agni-pun melangkahkan kakinya tanpa sesadarnya. Namun sekali lagi ia bertanya, “Darimana kau tahu bahwa aku akan datang Witantra?”

Witantra mengangkat keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia berjalan saja langsung ke pendapa.

“Marilah kita masuk,” desisnya.

Mahisa Agni dan cantrik itu-pun kemudian mengikatkan kudanya pada sebatang pohon di halaman. Kemudian dengan ragu-ragu mereka berjalan di belakang Witantra naik ke pendapa.

“Kita masuk ke pringgitan.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Ia berjalan saja di belakang Witantra bersama cantrik itu.

Sejenak kemudian pintu pringgitan itu-pun terbuka. Witantra segera mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Dari luar, pringgitan itu tampak agak gelap, sehingga ia tidak segera dapat melihat dengan jelas, apa yang ada di dalamnya.

“Masuklah,” Witantra mempersilahkan.

Mahisa Agni-pun kemudian melangkah masuk. Ia tertegun ketika ia melihat seseorang telah lebih dahulu duduk di sudut pringgitan.

Terasa darah Mahisa Agni hampir terhenti, ketika ia mengenal siapakah yang duduk di pringgitan itu. Sejenak ia berdiri mematung namun kemudian ia membungkukkan kepalanya dalam-dalam sambil berkata lemah, “Jadi inikah sebabnya maka Witantra sudah mengetahui semuanya?”

Panji Bojong Santi yang duduk di pringgitan itu, mengangguk-angguk sambil tersenyum. Jawabnya, “Ya ngger. Aku ternyata datang lebih dahulu.”

Cantrik yang datang bersama Mahisa Agni itu-pun mengangguk-angguk pula. “Hem,” ia berdesah, “aku menjadi bingung. Kepalaku serasa akan terlepas dari leher ini.”

“Duduklah,” Panji Bojong Santi mempersilahkan.

Mahisa Agni dan cantrik itu kemudian duduk berhadapan dengan Panji Bojong Santi. Witantra-pun duduk pula di antara mereka.

“Aku menyusul kalian,” berkata Panji Bojong Santi. “Bagaimana-pun juga hatiku selalu berdebar-debar sepeninggal angger. Meskipun menurut perhitunganku, Witantra tidak akan mudah terbakar oleh dendam, namun aku ingin juga melihat, apakah sebenarnya demikian.” Panji Bojong Santi berhenti sejenak, “Ternyata bahwa aku datang lebih dahulu.” Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Sebenarnyalah aku memang ingin mendahului, sehingga aku memilih jalan lain yang lebih pendek meskipun agak sulit. Tetapi agaknya kalian berhenti di perjalanan, ternyata kini sekarang kalian sampai.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, “Ya, kami memang berhenti di perjalanan. Bahkan kami terpaksa kembali ke kota mengantarkan serombongan pengungsi dari Kediri.”

“Kenapa kalian harus mengantarkannya?”

Mahisa Agni menceriterakan sekilas tentang orang-orang Kediri yang saling bekejaran.

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Semula aku menjadi cemas, apakah cantrik ini tidak ingat lagi jalan yang harus kalian lalui, sehingga kalian tersesat.”

“Tentu tidak,” sahut cantrik itu, “aku adalah orang yang tajam ingatan. Sekali aku mengenal jalan ke mana-pun dan betapapun jauhnya, aku akan ingat seumur hidupku.”

Panji Bojong Santi tersenyum, “Bagus, kau adalah seorang penunjuk jalan yang baik.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu Mahisa Agni berkata kepada Witantra, “Aku sudah menjadi cemas atas sambutanmu. Aku kira aku akan dihadapkan pada keadaan tanpa pilihan.”

Witantra tertawa. Katanya, “Aku sudah memperhitungkannya Agni. Namun aku masih ingin meyakinkan, bahwa kau sekarang sudah menjadi semakin matang. Kau tidak mudah lagi dibakar oleh goncangan-angan perasaanmu.”

“Aku mengerti Witantra,” sahut Mahisa Agni, “karena itulah maka aku datang kemari. Aku ingin minta maaf kepadamu, bahwa aku telah ikut serta, membuat kau kehilangan kesempatan mempertahankan kebenaran yang kau yakini.”

“Saat itu kau mempunyai keyakinan yang berbeda.”

“Dan agaknya aku telah terjebak dalam perangkap tanpa aku ketahui,” jawab Mahhisa Agni, “aku memerlukan waktu untuk melihat kebenaran yang kau pertahankan saat itu. Tetapi agaknya aku terlampau lambat, sehingga keadaan sekarang sudah menjadi jauh berbeda.”

“Aku mengerti Agni. Meskipun aku berada jauh dari kota, tetapi aku selalu mengikuti perkembangan yang ada. Kini kau tidak akan sampai hati untuk mengusik kedudukan tertinggi di Tumapel yang kemudian menyebut dirinya Singasari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Singasari berkembang demikian pesatnya.” Witantra berkata selanjutnya, “sehingga dengan demikian, maka kita-pun menganggap bahwa orang yang demikian, yang dapat memimpin pemerintah dengan baik itu, sangat diperlukan.”

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Betapapun besar kesalahan yang telah diperbuatnya untuk mencapai tingkat yang didudukinya sekarang, namun Singasari telah menerimanya sebagai seorang perkasa yang memberi harapan.”

“Ya,” sahut Mahisa Agni. “itulah sebabnya aku lebih dahulu datang kepadamu. Aku lebih mudah minta maaf kepadamu, daripada memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Selain Singasari memang membutuhkannya, adikku-pun memerlukannya.”

Witantra tersenyum. “Aku tahu.”

“Karena itu, aku menenyerahkan diriku kepadamu. Apapun yang akan kau lakukan. Aku benar-benar ingin menebus kesalahan itu, tetapi aku tidak dapat melakukannya atas sumber kesalahan itu sendiri.”

“Jangan kau sesalkan Agni. Kau boleh menyesal, tetapi jangan menjadi duri yang tajam di dalam hidupmu. Apa yang kau lakukan itu sebenarnya adalah akibat yang wajar dari perangkap yang sudah dipersiapkan baik-baik. Aku kagum atas kematangan persiapan yang hampir tidak dapat dihindari lagi oleh setiap orang yang memang dikehendaki. Adalah luar biasa pula ketajaman perasaanmu, sehingga kini kau dapat menemukan dirimu sendiri di dalam perangkap yang sudah sekian lama menjeratmu.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata, “Jadi apakah sudah selayaknya apabila aku cukup berdiam diri, menyesal dan mengaguminya saja.”

“Sementara Agni. Aku-pun sementara ini hanya dapat berbuat demikian, semata-mata untuk kepentingan Singasari.”

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini Ia berhadapan dengan seseorang yang ternyata berpandangan sangat jauh. Dengan demikian maka Mahisa Agni hanya dapat menundukkan kepalanya sambil berkata, “Kau benar-benar berjiwa besar Witantra.”

“Jangan memuji,” jawab Witantra, “seperti kau juga. Kau juga tidak berbuat apa-apa. Aku hanya kehilangan adik seperguruanku. Kau telah kehilangan pamanmu oleh orang yang sama menurut perhitunganmu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Guru sudah mengatakan kepadaku. Bahkah sebelum kau menemuinya, meskipun guru tidak dapat menelusur seperti yang kau lakukan. Baik guru mau-pun aku sendiri, akhirnya mengambil kesimpulan, bahwa kami hampir yakin bahwa pembunuh itulah yang mempunyai kecakapan yang luar biasa, sehingga seakan-akan kami sekedar golek yang telah diaturkan, apa yang harus kita lakukan.”

“Ya. Karena itu, marilah kita beri ia kesempatan. Untuk kepentingan Singasari yang besar, jauh lebih besar dari kepentingan-kepentingan kita pribadi.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah satu-satunya kemungkinan yang dapat kita lakukan sekarang. Meskipun demikian, aku akan berusaha untuk tidak terbakar oleh keadaan. Kalau aku terlampau sering melihat atau mendengar berita tentang namanya, maka rasa-rasanya hati ini masih juga tergelitik. Karena itulah, maka apabila kau tidak berkeberatan Witantra, aku akan tinggal bersamamu di sini.”

“He,” Witantra mengerutkan keningnya, “jangan bermimpi Agni.”

Sebelum Mahisa Agni menjawab. Panji Bojong Santi menyahut, “Jangan ngger. Jangan menjauhkan diri dari pergaulan seperti Witantra. Seandainya Witantra tidak didorong oleh hubungan tata kerjanya, di mana saat itu ia menjadi seorang Panglima Pasukan Pengawal yang terkalahkan di arena, maka aku tidak akan mengijinkannya pergi.”

Tanpa disadarinya terasa dada Mahisa Agni berguncang. Namun Panji Bojong Santi melanjutkannya, “Bukan maksudku mengungkat lagi apa yang sudah terjadi. Tetapi aku hanya sekedar menceriterakan alasan yang kuat bagi Witantra untuk menjauhi kota. Tetapi hal itu tidak terjadi atasmu. Kau masih tetap seperti keadaanmu semula. Tidak seorang-pun yang tahu, apa yang sebenarnya sudah terjadi dan apalagi yang langsung menyangkut kau. Karena itu tidak selayaknya kau berada di tempat yang sepi ini.” Panji Bojong Santi terdiam sejenak, lalu katanya kemudian, “Anakmas Mahisa Agni. Menurut pendengaranku, gurumu mPu Purwa benar-benar sudah tidak dapat diketahui lagi, di mana ia berada. Hatinya benar-benar patah sejak puterinya hilang. Hanya sekali-sekali saja ia menampakkan diri seolah-olah begitu saja ia ada tetapi juga begitu saja ia lenyap. Karena itu, kau adalah saluran pengabdiannya. Kalau kau bersembunji seperti Witantra, maka garis pengabdian gurumu akan terputus.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti arti kata-kata Panji Bojong Santi. Karena itu tanpa disengajanya ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Jadi, meskipun aku tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, namun aku tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat apa-apa.”

“Bukan begitu,” sahut Panji Bojong Santi, “kau dapat berbuat banyak. Tetapi tidak dengan tergesa-gesa.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah. kalau kau ingin menenteramkan hatimu, tinggallah di sini sejenak. Sehari, dua hari. Tetapi tidak untuk seterusnya.”

“Terima kasih. Aku akan mencoba mencari-cari di sini. Di dalam ketenangan, mungkin aku menemukan yang aku cari.”

Panji Bojong Santi mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Baiklah. Kau akan mendapat tempat yang kau harapkan di sini.”

Demikianlah maka Mahisa Agni memutuskan untuk tinggal sementara di padukuhan yang sepi itu. Justru Panji Bojong Santi lah yang lebih dahulu kembali ke padepokannya.

Di padukuhan yang sepi itu Witantra bersama Mahisa Agni melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Singasari. Menurut perhitungan mereka Ken Arok pasti akan berhasil menguasai Singasari dan Kediri dengan baik, sehingga berkata Witantra kemudian, “Mahisa Agni. Aku kira kita tidak akan mendapat kesempatan sama sekali untuk berbuat sesuatu atas Sri Rajasa. Kita tahu bahwa seluruh Singasari memerlukannya. Kalau kita mencoba untuk mengetrapkan rasa keadilan kita atasnya, maka kita akan berkhianat terhadap Tumapel yang kini sudah berkembang menjadi Singasari ini.”

“Jadi dengan demikian kita sudah membiarkan kejahatan berlangsung tanpa hukuman.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Di sinilah kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak kita harapkan itu. Kita tidak dapat memilih lagi. Kita sadar bahwa kita seakan-akan dihadapkan pada suatu neraca yang sudah berat sebelah.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi,” tiba-tiba Mahisa Agni berkata lemah, “apakah kita tidak akan terlambat untuk berbuat sesuatu di hari-hari mendatang? Hari depan Singasari bukanlah hasil kerja sehari dua hari. Apa yang akan berkembang di masa mendatang. pasti sudah mulai bergetar hari ini.”

“Apakah yang kau maksudkan?”

Mahisa Agni menarik nafas. Katanya. “Sebenarnya aku merasa, betapa kerdilnya jiwaku dibanding dengan jiwamu. Aku tidak pernah dapat melepaskan kepentingan-kepentingan pribadiku.”

“Katakan.”

“Witantra,” berkata Mahisa Agni tersendat-sendat. “Sebuah pertanyaan selalu mengganggu aku. Siapakah yang akan melanjutkan takhta Singasari ini kemudian kalau kita sudah bersepakat untuk membiarkan Ken Arok memerintah, karena ia benar-benar telah berhasil membuat Singasari menjadi besar, sehingga kita telah melepaskan segala macam tuntutan atas segala perbuatannya itu?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Baginya siapa yang akan menggantikan Ken Arok tidak begitu banyak menjadi persoalan. Yang penting baginya adalah, orang itu dapat memerintah dengan baik. Membuat Singasari bertambah maju dan bertambah besar. Tidak saja sebagai suatu negara di hadapan lingkungannya, tetapi juga bagi rakyatnya sendiri. Singasari harus menjadi negara yang memberikan kesejahteraan yang merata. Tetapi memang agak berbeda bagi Mahisa Agni. Mahisa Agni adalah saudara angkat Permaisuri Singasari sekarang. Namun demikian Witantra menjawab, “Mahisa Agni. Aku kira bagimu-pun tidak ada perbedaan, apakah sekarang yang memegang kekuasaan masih Tunggul Ametung atau sudah berpindah tangan pada Ken Arok. Bahkan secara jujur harus diakui. Tunggul Ametung mendapatkan Ken Dedes dengan cara yang tidak wajar, sehingga hampir saja aku digantung di alun-alun karena aku tidak mau ikut serta. Sedang Ken Arok bagi Ken Dedes adalah orang lain sesudah Wiraprana yang dapat menjerat hatinya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi, kebencianmu kepada Ken Arok itu-pun wajar, karena kau menganggap bahwa Ken Arok telah membunuh pamanmu,” Witantra berhenti sejenak, kemudian. “Bukankah begitu?”

“Ya,” suara Mahisa Agni hampir tidak terdengar, namun kemudian, “tetapi lain Witantra. Ada sesuatu yang harus diperhitungkan. Ken Arok ternyata mempunyai seorang isteri yang lain. Iparmu itu.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam.

“Sudah tentu hal itu harus dipertimbangkan.”

“Maksudmu, kau cemas kalau takhta kelak akan jatuh ke keturunan Ken Umang?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Adalah kebetulan sekali bahwa Ken Umang adalah adik ipar Witantra.

“Kau tidak usah ragu-ragu. Aku dan isteriku tidak dapat menyetujui kelakuan anak itu. Selain itu, aku dapat mengerti kecemasan yang selalu menghantuimu.” Witantra terdiam sejenak. Lalu, “Tetapi bukankah Anusapati sudah diangkat menjadi Pangeran Pati?”

“Memang Anusapati harus menjadi Pangeran Pati.”

“Dan ia sudah Pangeran Pati.”

“Tetapi anak itu masih terlampau kecil. Masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku melihat sendiri apa yang telah terjadi. Sikap Ken Arok sangat meragukan. Ia terlampau berat sebelah.”

“Maksudmu?”

“Anusapati dan Tohjaja.”

“Kenapa?”

“Emban cinde emban siladan. Ken Arok terlampau memanjakan Tohjaya dan dapat dikatakan membenci Anusapati. Sebagai manusia aku dapat mengerti, karena Anusapati itu bukan anaknya. Anusapati sudah berada di dalam kandungan ketika Ken Dedes diambilnya menjadi isterinya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi sebagai manusia,” bekata Mahisa Agni selanjutnya, “aku-pun merasa tidak senang. bahwa ke manakanku itu diperlakukan tidak adil. Aku tidak tahu, bagaimana tanggapanmu mengenai masalah ini karena aku tahu, Tohjaya adalah kemenakanmu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ken Umang seolah-olah sudah terpisah dari keluarga kami. Ketika kami pergi dari Tumapel adik itu sudah berselisih dengan kakak perempuannya. Sehingga seolah-olah mereka saling berjanji untuk tidak berhubungan lagi di saat-saat mendatang.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi. apa yang akan dapat kau lakukan?”

“Aku tidak tahu,” jawab Mahisa Agni.

Mereka-pun kemudian saling berdiam diri. Tetapi pertanyaan itu tidak dapat mereka singkirkan dari dada mereka. Bukan hanya dalam saat mereka berbincang. Tetapi setiap saat. Meskipun hampir setiap saat keduanya berbicara, maka akhirnya mereka akan sampai kepada masalah itu. Apa yang dapat mereka lakukan?

“Mahisa Agni,” berkata Witantra pada suatu saat, “kita tidak akan dapat menemukan jawaban di masa-masa dekat. Tetapi apapun yang akan terjadi, kau harus menyiapkan Anusapati untuk menghadapi segala kemungkinan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepadanya. Jawabnya, “Itu memang sudah terpikir olehku. Menilik tuntunan yang didapatnya sekarang. Anusapati tidak akan dapat menjadi orang yang pantas untuk menjadi seorang raja yang akan menggantikan Ken Arok. Ia akan tenggelam sama sekali dalam arus kebesaran nama ayah tirinya, sehingga ia justru akan mendapat banyak kesulitan. Rakyat pasti akan menganggapnya tidak mampu untuk menggantikan Ken Arok. Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Tohjaya menjadi semakin masak untuk mendesak kakaknya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lalu,” katanya, “apakah kau akan menuntunnya langsung?”

“Aku cemas, bahwa aku tidak akan mendapatkan ijin.”

Witantra tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih terangguk-angguk.

“Witantra,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku tidak tahu apakah jalan yang terlintas di kepalaku ini jalan satu-satunya yang paling baik. Aku akan mencari kesempatan, apabila Anusapati menjadi semakin dewasa, untuk dengan diam-diam menuntunnya. Aku akan membuat Anusapati seorang anak muda yang memiliki kemampuan yang tangguh di dalam olah kanuragan, sehingga apabila datang saatnya, ia bukan lagi seorang yang dungu duduk kebingungan di atas takhta dan disoraki oleh rakyat Singasari yang kecewa kepadanya, apalagi yang menuntunnya turun dari kedudukannya, karena ia dianggap tidak mampu sama sekali.”

Witantra tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya terangguk-angguk. Kadang-kadang ia mengerutkan keningnya, namun kadang-kadang sepercik cahaya memancar di matanya.

Witantra dapat mengerti apa yang terlintas di dalam angan-angan Mahisa Agni. Umur Anusapati dan Tohjaya yang tak terpaut banyak memang dapat menimbulkan kecemasan. Menurut pertimbangan Mahisa Agni, Anusapati bukan putera Sri Rajasa sendiri seperti Tohjaya, sehingga memang mungkin sekali perubahan keputusan Sri Rajasa itu terjadi, meskipun dengan liku-liku yang sangat panjang. Sri Rajasa tidak akan kekurangan akal untuk melakukan niatnya. Apalagi kini ia memegang kekuasaan. Selagi ia masih seorang perwira yang tidak begitu dekat dengan Tunggul Ametung. ia mampu menjadikan orang-orang yang memimpin Tumapel seperti tidak mempunyai sikap dan pendirian sendiri. Ken Arok mampu melenyapkan Tunggul Ametung. setelah ia berhasil membunuh Empu Gandring yang diperkirakannya akan menjadi duri di sepanjang hidupnya. Kemudian membuang bekas perbuatannya dengan mengorbankan Kebo Ijo dan memperalat Mahisa Agni untuk mempertahankan kesalahan Kebo Ijo.

“Ken Arok memang mempunyai kecakapan yang luar biasa,” desis Witantra di dalam hatinya, “atau memang kamilah yang terlampau dungu.”

Witantra mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Mahisa Agni bertanya, “Bagaimana pendapatmu Witantra?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. kau benar. Memang banyak sekali kemungkinan dapat terjadi.”

“Apalagi pada Anusapati,” berkata Mahisa Agni pula, “ia seakan-akan sebatang kara di dalam istana. Selagi Tunggul Ametung yang dikelilingi oleh pengawal-pengawal yang terpercaya dapat dilenyapkannya tanpa bekas, karena Kebo Ijo terjerat di dalam jaring-jaringnya. Bukan saja Kebo Ijo, tetapi aku juga.”

“Ya, aku mengerti,” sahut Witantra.

“Karena itu, aku akan melakukannya dengan diam-diam. Kalau hal itu nanti pada suatu saat diketahui oleh Ken Arok. maka Anusapati pasti akan terancam. Namun apabila anak itu dibiarkan sesuai dengan perkembangannya sekarang, di bawah asuhan orang-orang yang sama sekali memang tidak dapat dipercaya, atau sengaja atas perintah Sri Rajasa membuat Anusapati tidak berdaya, maka ia akan mengalami siksaan batin di hari kemudian. Yang lebih parah lagi adalah, ia akan hilang dari istana sebelum ia dewasa.”

“Ya,” jawab Witantra, “tetapi caranya itu sangat berbahaya.”

“Aku mempunyai kesempatan yang cukup untuk berada di istana. Aku dapat berada di dekat Anusapati dengan alasan apapun. Kelak apabila Anusapati menjadi semakin dewasa, tugas itu akan menjadi semakin mudah, karena Anusapati sudah dapat keluar dari istana di saat-saat tertentu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah alasanmu untuk selalu berada di dekat Anusapati?”

“Padang Karautan sudah menjadi semakin baik. Aku berharap untuk dapat menjadi seorang pegawai istana, atau pegawai apapun di kota. Mungkin aku akan mendapat pekerjaan di luar istana, di sudut-sudut kelengkapan kerja yang lain. Namun aku dapat tinggal di dalam istana, meskipun di sudut yang paling jauh.”

Witantra masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Memang mungkin hal itu kau lakukan atas pengaruh Tuanku Permaisuri, sehingga kau dapat tinggal di dalam. Seandainya tidak ada Permaisuri, orang yang tidak mempunyai tempat tinggal di kota seperti kau, akan di tempatkan di barak-barak seperti para prajurit-prajurit muda.”

“Ya. Apalagi aku berada di istana untuk kepentingan anaknya.”

“Apa kau akan memberitahukannya kepada Ken, Dedes?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng, “Untuk sementara lebih baik aku tidak mengatakannya supaya hidupnya tidak kian tersiksa.”

Witantra tidak menjawab, tetapi ia merenungkan rencana Mahisa Agni. Memang Mahisa Agni tidak akan dapat merubah keadaan dalam waktu yang singkat. Ken Arok membuat Singosari seperti sekarang ini dengan perencanaan yang benar-benar masak, meskipun seorang diri. Kini apabila Mahisa Agni akan menarik kembali kekuasaan dari orang lain kecuali Ken Dedes, ia-pun harus mempergunakan rencana dan perhitungan yang matang.

Mereka tidak segera dapat memutuskan, apakah rencana itu memang rencana yang paling baik. Mereka memerlukan dua tiga hari untuk merenungkan, sehingga pada suatu saat Wiantra berkata, “Mahisa Agni, sampai saat ini aku tidak melihat cara lain yang lebih baik dari rencana-rencanamu. Karena itu, aku kira kau dapat mengetrapkannya untuk sementara. Apabila pada suatu saat kita melihat kemungkinan lain, baiklah kita pertimbangkan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku selalu mengharap pendapatmu Witantra.”

“Aku akan membantumu Agni. Bukan sekedar saat ini, tetapi di saat-saat mendatang. Aku harap aku mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu yang dapat melancarkan rencanamu itu.”

“Terima kasih Witantra. Tetapi yang paling penting bagiku, aku dapat bekerja dengan tenang, karena aku sudah minta maaf kepadamu atas segala kesalahanku. Apalagi kau kini menyatakan bahwa kau akan membantuku. Aku tentu akan sangat berterima kasih. Pekerjaan ini tidak akan selesai dalam waktu sehari dua hari, sebulan dua bulan. Mungkin aku memerlukan waktu lebih dari sepuluh tahun. Dan waktu yang sepuluh tahun itu harus kita telan tanpa dapat mengelakkan diri lagi. Apa yang ada dan apa yang berlangsung. Kecuali kalau tiba-tiba saja ada perubahan keadaan yang mengguncang tanah ini.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula, “Kau benar Agni. Kau memang memerlukan waktu yang panjang. Selama ini kau akan melakukan tugas yang berbahaya, bukan saja bagimu tetapi bagi Anusapati juga.”

“Aku menyadari Witantra. tetapi seperti katamu, untuk sementara jalan itulah yang dapat kita tempuh.”

“Tetapi hati-hatilah. Jangan tergesa-gesa. Kau harus membuat perencanaan yang baik, cermat dan meyakinkan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menyadari bahwa kata-kata Witantra itu bukan sekedar peringatan. Tetapi Witantra melihat, bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang terlampau sulit.

“Aku mengerti Witantra. Mudah-mudahan Anusapati sendiri membantu rencana itu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Memang ia sama sekali belum melihat cara lain yang lebih baik.

Dengan demikian, maka keduanya memutuskan untuk melaksanakan rencana itu. Apabila datang saatnya, Witantra-pun tidak berkeberatan untuk menyempurnakan ilmu Anusapati, sehingga menurut bayangan Mahisa Agni, di dalam diri anak itu akan luluh tiga sumber ilmu dari tiga perguruan, mPu Purwa, mPu Sada dan Panji Bojong Santi.

“Mudah-mudahan anak itu dapat menjadi anak yang mendekati kesempurnaan,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Dengan keputusan itu, maka Mahisa Agni-pun kemudian segera minta diri. Ia ingin mencari kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuhnya untuk melaksanakan rencananya.

Ternyata, baik Mahisa Agni mau-pun Witantra sama sekali sudah tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mengguncang kedudukan Ken Arok. betapa mereka mengetahui kesalahan yang tersimpan di dalam diri raja Singasari itu. Mereka ternyata mementingkan masalah yang jauh lebih besar dari masalah-masalah pribadi mereka sendiri. Kini Sri Rajasa benar-benar diperlukan oleh Singasari.

“Apakah kau akan kembali bersama aku, atau kau akan tinggal di sini,” bertanya Mahisa Agni kepada cantrik yang mengantarkannya.

“Sebenarnya aku lebih senang tinggal di sini,” jawab cantrik itu.

“Aku kira bukan begitu,” sahut Witantra, “kau malas melakukan perjalanan ke mana-pun. Jadi di mana-pun kau berada, kau merasa bahwa tempat itu lebih baik dari tempat-tempat yang lain.”

Cantrik itu tertawa. “Kau menebak tepat,” katanya.

“Jadi?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku akan kembali ke kota. Aku akan bertanya di mana para pengungsi dari Kediri itu di tempatkan.” ia berhenti sejenak. Lalu, “bukankah begitu?”

“Ah,” Mahisa Agni berdesah.

“Marilah kita bersiap-siap,” berkata cantrik itu kemudian, “kapan kita berangkat?”

“Besok pagi-pagi buta, supaya kami tidak usah bermalam di perjalanan.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikianlah, di pagi-pagi buta keesokan harinya, Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya itu-pun sudah siap untuk berangkat. Namun sudah barang tentu ia tidak lupa untuk minta diberi bekal ketan ireng dan serundeng kelapa muda.

“Supaya aku tidak kelaparan di sepanjang jalan,” berkata cantrik itu.

Witantra tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Bukankah kau kadang-kadang harus berpuasa sampai beberapa hari tanpa makan apapun kecuali minum dan sebuah pisang emas sehari.”

“O, tentu berbeda. Kalau aku memang sengaja melakukannya, jangankan sepekan. Sebulan aku tidak akan merasa lapar.” ia berhenti sejenak, “tetapi kali ini aku tidak sengaja berpuasa. Apa salahnya aku membawa ketan ireng dan serundeng kelapa muda?”

“Tentu tidak ada salahnya,” jawab Witantra, “Nah begitulah,” sahut cantrik itu sambil menganggukkan kepalanya, sementara Mahisa Agni tersenyum saja melihat kelakuannya.

“Bekal ini tidak kalah pentingnya dengan pedang di lambungku,” lalu, “apakah kita sudah siap untuk berangkat.”

“Aku sudah siap sejak tadi.”

“O, “cantrik itu mengerutkan keningnya, “kalau begitu marilah kita minta diri. Sebentar lagi matahari akan naik di atas cakrawala.”

Keduanya-pun kemudian minta diri kepada Witantra suami isteri. Mereka meninggalkan padukuhan yang sepi itu. Namun agaknya Mahisa Agni menemukan pergolakan yang dahsyat di dalam dadanya, justru di padukuhan yang sepi dan tenteram.

Sejenak kemudian maka keduanya-pun segera memacu kuda mereka, sebagai jalan masih memungkinkan. Apabila mereka sampai ke daerah yang semakin sulit, maka perjalanan mereka akan terhambat.

Setiap kali cantrik itu masih harus mengusap dahinya yang dibasahi oleh embun. Kadang-kadang ia memandang langit yang kemerah-merahan di ujung Timur. Semakin lama semakin terang. Ujung padi di sawah yang mulai merunduk tampak seolah-olah masih tidur dengan nyenyaknya. Meskipun gemeretak kaki-kaki kuda melintas dekat di atas bulir-bulir yang merunduk itu, namun ujung-ujung batang padi itu sama sekali tidak bergerak.

“Sebentar lagi matahari akan naik,” desis cantrik itu.

“Dan kita akan sampai ke hutan perdu.”

“Tetapi kita sudah dapat melihat hambatan-hambatan di tengah perjalanan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Kuda-kuda mereka itu-pun meluncur dengan kencangnya di atas jalan persawahan. Namun mereka akan segera sampai ke daerah yang tidak digarap oleh tangan.

Dengan demikian maka perjalanan mereka mulai terhambat. Selain dengan itu, maka matahari-pun mulai memanjat di kaki langit. Semakin lama semakin jelas, dan warna yang merah-pun menjadi kekuning-kuningan.

Tidak ada masalah apapun yang mereka hadapi di perjalanan. Ketika matahari mulai tergelincir cantrik itu menyuapi mulutnya dengan ketan ireng, selagi kuda-kuda mereka beristirahat sejenak, minum air jernih di belumbang kecil dan makan rerumputan di sekitarnya.

“Kau tidak makan?” ia bertanya kepada Mahisa Agni.

“Ya,” sahut Mahisa Agni. Tetapi ia tidak dapat makan ketan sebanyak cantrik itu, sebab jika demikian perutnya akan menjadi pedih.

Mereka memasuki kota setelah menyelesaikan perjalanannya hampir sehari penuh. Tiba-tiba saja Mahisa Agni teringat, orang-orang Kediri yang telah ditolongnya. Di antaranya terdapat seorang gadis yang telah membuat suatu pahatan yang tipis di dinding hatinya. Seorang gadis dengan matanya yang cerah dan wajahnya yang luruh seperti wajah adik angkatnya, Ken Dedes.

“He, aku akan singgah di tempat penampungan orang-orang Kediri sejenak.”

Cantrik itu mendeham. Katanya, “Mereka sudah jelas tidak mengalami gangguan apapun. Biarkan saja mereka berada di penampungan mereka.”

“Aku ingin melihatnya sebentar. Barangkali mereka memerlukan sesuatu.”

“Apa misalnya? Mereka sudah tidak kekurangan apa-apa.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab.

“Mereka tidak akan kekurangan makan karena Singasari lohjinawi. Pakaian juga tidak akan kekurangan. Apalagi?”

“Ah kau,” desis Mahisa Agni, “seseorang tidak hanya tergantung pada sandang dan pangan saja.”

“Papan-pun cukup. Tempat penampungan itu cukup luas?”

“Hanya itu?” tiba-tiba Mahisa Agni bertanya, “hanya sandang, pangan dan papan? Sesudah itu, tidak ada apa-apa lagi?”

“He,” cantrik itu mengerutkan keningnya.

“Buat apa kau kadang-kadang membaca kitab-kitab Kidung atau kakawin atau apapun? Apakah kau tidak pernah mendengarkan bunyi-bunyian dan melihat tari-tarian di banjar?”

“Eh, tentu.”

“Itu juga suatu kebutuhan,” berkata Mahisa Agni.

“Aku tahu sekarang. Kau akan mengatakan bahwa kebutuhan itu tidak sekedar kebutuhan lahiriah. Tetapi juga kesejahteraan rokhaniah. Begitu?”

“Hebat juga kau.”

Cantrik ikut tersenyum. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya sambil berkata, “Tetapi aku kira masih ada masalah lahiriah yang tidak kalah pentingnya.”

“Apa?”

“Kau sudah terlibat dalam nalurimu sebagai manusia dewasa. Seperti malam dan siang. Langit dan bumi. Bulan dan matahari.”

“Ah,” desah Mahisa Agni.

“Itu wajar. Wajar sekali. Kau jangan membiarkan dirimu ditelan oleh usia tanpa arti.”

“Kau sendiri bagaimana?”

Cantrik itu tiba-tiba tertawa. Keras sekali sehingga satu dua orang yang berjalan di pinggir jalan terhenti dan memandang kedua orang berkuda yang sudah mulai samar-samar.

“Marilah,” berkata cantrik itu, “kita bermalam di tempat penampungan.”

“Tidak. Nanti kita lanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa patok lagi ke padepokan Panji Bojong Santi.”

” O. ya.” cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Keduanya-pun kemudian singgah sejenak di tempat penampungan orang-orang Kediri. Tanpa kesulitan apapun mereka segera dapat menemukan orang-orang yang mereka cari.

Agaknya mereka sudah mulai dapat menyesuaikan diri mereka dengan keadaan di tempat penampungan yang cukup baik. Cukup makan dan pakaian. Sedang tempat-pun cukup pula, meskipun agak terlampau berjejal-jejal.

“Aku akan sering berkunjung kemari,” berkata Mahisa Agni.

“O. kami akan senang sekali menerima,” berkata orang-orang Kediri itu.

“Aku juga,” berkata cantrik itu pula. “Apakah, kalian akan menerima dengan senang hati pula?”

“Tentu.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Tetapi mereka hanya sebentar berada di tempat itu. Mereka segera minta diri dan kembali ke padepokan Panji Bojong Santi.

Dengan berterus terang Mahisa Agni mengatakan, bahwa ia telah memutuskan suatu rencana yang disetujui oleh Witantra. Ia berharap bahwa ia akan dapat melaksanakan rencana itu tanpa mengganggu perkembangan Singasari. Tanpa mengganggu kedudukan dan usaha Sri Rajasa untuk menjadikan Singasari sebuah negeri yang besar dan kuat.

“Mudah-mudahan kau berhasil Agni,” berkata Panji Bojong Santi.

Di malam berikutnya Mahisa Agni bermalam di padepokan itu. Namun ia hampir-hampir tidak dapat tidur sama sekali. Ia harus mengakui kelebihan Ken Arok dari dirinya sendiri, dari Witantra dan bahkan dari semua orang di Singasari. Ken Arok membuat rencana seorang diri, dilaksanakan seorang diri dan akhirnya berhasil dengan cemerlang. Tetapi, ia harus membuat rencananya yang jauh lebih sederhana bersama beberapa orang sekaligus, justru orang-orang yang memiliki kemampuan terpuji.

“Tetapi apaboleh buat,” desis Mahisa Agni, “mungkin keadaan memang sangat membantunya. Tetapi mungkin juga karena Ken Arok memang orang yang luar biasa. Bukan saja kemampuan jasmaniahnya, tetapi juga kemampuannya berpikir.”

Untuk memenuhi rencananya Mahisa Agni harus membuat persiapan-persiapan, terutama di padang Karautan. Karena itu, ia tidak bermalam lebih dari satu malam di padepokan Panji Bojong Santi. Di pagi harinya ia segera minta diri untuk kembali ke padukuhannya.

“Hati-hatilah dengan rencana itu Agni,” pesan Panji Bojong Santi, “kau akan berhadapan dengan Sri Rajasa sebagai seorang raja yang Agung dan bijaksana. Kau akan berhadapan dengan seseorang yang sangat diperlukan oleh Singasari. tetapi bahwa ia tetap seorang manusia biasa itu-pun harus kau perhitungkan pula.”

Pesan itu tersimpan di hati Mahisa Agni. Dan ia akan berusaha untuk melakukannya sebaik-baiknya.

Ketika ia sampai ke padukuhannya, dari kejauhan ia sudah membuat pertimbangan-angan. Menilik perkembangan padukuhan itu, tidak ada kesulitan yang perlu dicemaskannya, “Semua berjalan sesuai seperti yang diperhitungkan. Air yang ajeg, pategalan yang semakin rimbun dan sawah-sawah yang hijau. Bahkan belumbang yang dibuat oleh Ken Arok itu kini terpelihara baik. Sri Rajasa menempatkan beberapa orang petugasnya di sana. meskipun para petugas itu diambil pula dari anak-anak muda Panawijen.

“Aku sudah dapat meninggalkan mereka,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “apalagi aku tidak pergi terlampau jauh. Aku hanya berada di Singasari. Setiap saat yang diperlukan aku dapat kembali ke padang ini.”

Demikianlah maka rencana Mahisa Agni menjadi bulat. Sehingga dengan demikian, pada suatu hari ia menghadap Ki Buyut Panawijen untuk minta diri kepadanya.

“Kau akan meninggalkan kami?” bertanya Ki Buyut.

“Bukan begitu Ki Buyut. Aku hanya ingin mendapatkan pengalaman baru. Aku akan selalu datang menengok padukuhan ini. Bukankah aku tidak berada terlampau jauh dari padukuhan kita. Apabila ada sesuatu yang penting, seseorang dapat menyusul aku ke kota, dan aku-pun akan segera datang.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang di kota kau akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak. Tetapi aku sudah menjadi semakin tua. Aku tidak mempunyai seorang anak-pun lagi. Kaulah yang selama ini aku anggap menjadi ganti anakku yang hilang itu. Padukuhan yang memang kau buat ini kelak akan memerlukan tenagamu. Tidak ada orang lain yang dapat menjadi tetua di sini, kecuali kau.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia tepekur. Ia mengerti kerisauan yang selalu mengganggu hati orang tua itu. Sejenak kemudian ia-pun berkata, “Ki Buyut. Apabila tugas itu memanggil, dan memang tidak ada orang lain yang dapat melakukannya, aku tidak akan ingkar. Aku akan kembali ke padukuhan ini. Namun selama ini biarlah aku mendapatkan pengalaman baru di dalam hidupku.”

Ki Buyut mengangguk-angguk, “Aku mengerti. Pengalaman memang perlu. Tidak saja bagimu, tetapi bagi setiap orang. Karena itu, pergilah. Tetapi pada saatnya kau harus kembali.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian minta diri pula kepada kawan-kawannya, kepada anak-anak muda yang telah menggantikan angkatannya, setelah ia menjadi semakin tua. Namun anak-anak muda itu ternyata memberikan kebanggaan dan kepercayaan di hatinya, bahwa mereka akan dapat melakukan tugas mereka dengan baik. Anak-anak muda Panawijen bukan anak-anak muda seperti anak-anak sebayanya, yang karena Panawijen terlampau subur, sehingga mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Ketika bendungan itu pecah, mereka kebingungan tanpa melakukan sesuatu.

Tetapi, anak-anak muda kini mempunyai jiwa yang menyala di dalam dada mereka. Dengan bimbingan yang tepat, anak-anak muda itu telah siap untuk menjadikan Panawijen baru sebuah padukuhan yang besar sejalan dengan perkembangan Singasari.

Mahisa Agni yang sudah siap pergi ke Singasari, sama sekali tidak menghalang-halangi anak-anak muda yang menyediakan diri bagi perkembangan kerajaan Sri Rajasa itu. Bahkan anak-anak muda Panawijen telah siap pula untuk ikut serta dalam peperangan yang agaknya memang sudah berada di ambang pintu. Sebagian dari mereka dengan tekun mengikuti latihan-latihan keprajuritan, seperti yang diselenggarakan di padukuhan-padukuhan lain.

“Apakah kau tidak akan kembali?” bertanya salah seorang kawannya.

“Tentu,” jawab Mahisa Agni. “bukankah aku tidak pergi lebih jauh dari kota Singasari, kau dapat pergi ke kota itu untuk suatu keperluan. Juga seandainya padukuhan ini memanggil aku.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kepergian Mahisa Agni membuat hati mereka serasa menjadi sepi. Selama ini Mahisa Agni seolah-olah menjadi nyala api di tengah-tengah padukuhannya.

“Kalian harus belajar melakukan tugas-tugas kalian tanpa tuntunan terus-menerus. Pada suatu saat aku memang harus pergi untuk selama-lamanya apabila umurku sudah sampai ke batas. Kini aku hanya akan pergi ke tempat yang masih dapat kalian capai dalam waktu yang terhitung pendek.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Namun mereka mengerti, bahwa tidak sewajarnya mereka selalu menahan Mahisa Agni di padukuhan ini saja, apabila memang terbuka pintu baginya untuk mengembangkan dirinya.

“Mudah-mudahan kehadiranku di Singasari dapat bermanfaat bagi padukuhan ini, seperti dahulu Ken Dedes juga memanfaatkan kehadirannya di Tumapel. Tetapi bedanya, Ken Dedes itu diperlukan, sedang aku memerlukan Singasari.”

Demikianlah maka pada saatnya Mahisa Agni meninggalkan padukuhannya. Ia mengharap bahwa ia akan mendapat tempat di Singasari dalam jabatan apapun. Namun tujuannya yang utama adalah menyiapkan Anusapati sebagai Pangeran Pati. Ia harus dapat menerima jabatannya dengan baik.

Sebagai seorang Putera Mahkota Anusapati harus berpribadi. Dalam menjalankan tugasnya kelak, ia tidak boleh kalah dari Sri Rajasa. Dengan demikian kedudukannya akan menjadi kuat. Tetapi apabila ia tidak mampu menggantikan Sri Rajasa, bukan saja untuk menduduki takhta tetapi untuk melakukan tindakan-akan besar yang serupa, maka Anusapati tidak lebih dari sebuah golek yang betapapun indahnya, namun ia tidak akan mampu berbuat apa-apa.

Mahisa Agni memang mempunyai kecurigaan, bahwa Anusapati yang dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan Sri Rajasa, dan bahkan telah ditentukan untuk menjadi Putera Mahkota itu, sekedar menenteramkan hati Ken Dedes dan pengikut-pengikut Tunggul Ametung. Mereka akan menganggap bahwa Sri Rajasa adalah seseorang yang berjiwa besar. Meskipun Anusapati itu putera Tunggul Ametung namun anak itu diangkatnya pula menjadi Putera Mahkota. Apalagi pada saat-saat terakhir, Singasari memerlukan segenap kemampuannya untuk menghadapi Kediri yang agaknya semakin tidak senang atas perkembangan Singasari. Beberapa orang pemimpin Kediri menganggap sikap Singasari itu sebagai suatu pemberontakan.

Tetapi, di samping mengangkat Anusapati menjadi Putera Mahkota, Ken Arok pasti sudah menyiapkan rencana lain. Rencana yang sangat rumit, seperti pada saat ia merebut takhta Tumapel dari Tunggul Ametung dan sekaligus membunuhnya, merampas jandanya, dan bahkan justru ia mendapat kepercayaan karena ia dianggap telah berjasa menangkap pembunuhnya, Kebo Ijo dan membunuh pembunuh itu sama sekali.

Menilik sikap Ken Arok sebagai manusia. Tohjaya agaknya lebih menarik perhatiannya. Karena umur Anusapati dan Tohjaya tidak terpaut terlampau banyak, maka kegagalan Anusapati pasti akan menggeser perhatian rakyat Singasari kepada Tohjaya. “Inilah agaknya yang sudah dipersiapkan oleh Sri Rajasa,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Dan adalah tugasnya untuk mencegah hal itu terjadi. Anusapati harus dapat menerima takhta sekaligus tugas-tugasnya. Ia tidak boleh duduk di atas Singgasana seperti seekor kepompong yang dungu.

Demikianlah dengan rendah hati Mahisa Agni menyatakan niatnya itu kepada Ken Dedes, setelah ia sampai di istana. Dengan dalih yang dikarangkannya, ia mengharap bahwa ia mendapat kesempatan untuk menambah pengalaman dan pengetahuannya di Singasari sebagai apapun juga.

“Kenapa baru sekarang?,” bertanya Permaisuri, “bukankah tawaran untuk itu sudah diberikan sejak Akuwu Tunggul Amatung?”

“Saat itu aku masih belum dapat meninggalkan padang yang baru saja dibuka itu Tuan Puteri,” jawabnya, “tetapi sekarang keadaan itu sudah jauh berbeda. Padukuhan itu sudah menjadi padukuhan yang masak. Aku sudah hampir tidak diperlukan lagi. Dalam keadaan yang mendesak, satu dua orang dapat menyusulku kemari.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku akan mengatakannya kepada Baginda.” Ketika Ken Dedes mendapat kesempatan untuk menyampaikannya kepada Ken Arok, sambutannya benar-benar di luar dugaan. Ken Arok dengan gembira menerimanya. Katanya, “Mahisa Agni adalah seorang yang berkemampuan luar biasa. Ia memiliki ilmu yang jarang ada duanya. Karena itu, justru dalam keadaan serupa ini, aku sangat memerlukannya.”

Maka dengan serta-merta, Mahisa Agni-pun segera dipanggil menghadap. Tanpa prasangka apapun Ken Arok bertanya, “Kau benar-benar ingin bekerja di istana?”

“Ya Baginda.”

“Aku sudah menawarkan sejak dahulu, tetapi kau menolak.”

“Hamba tidak pernah menolak. Tetapi hamba masih terikat oleh padukuhan yang sedang berkembang itu.”

“Baiklah Agni. Kau akan menjadi seorang Senapati yang baik. Aku kira kau dapat melihat perkembangan yang memburuk dari hubungan kita dengan Kediri.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudah lama aku berniat untuk membentuk suatu pasukan yang khusus.

“Maksud Baginda?”

“Justru yang terdiri dari orang-orang Kediri sendiri. Orang-orang yang menyingkir ke Singasari karena bermacam-macam alasan,” berkata Sri Rajasa. Kemudian, “Tetapi aku belum pernah berhasil melaksanakan karena tidak ada orang yang dapat dapat aku percaya untuk itu. Kini kau tiba-tiba datang. Maka kuwajiban ini akan aku bebankan kepadamu. Kau harus membentuk suatu pasukan khusus dari orang-orang Kediri sendiri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Mungkin dari segi daya tempur, pasukan itu tidak akan sekuat pasukan yang memang sudah kita persiapkan sejak lama. Tetapi pasukan itu akan mempunyai pengaruh lain terhadap rakyat Kediri sendiri. Pengaruh batin yang tidak kalah tajamnya dari segala macam dan jenis senjata.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia mengagumi kecerdasan Sri Baginda. Apabila pasukan itu benar-benar dapat terbentuk, muka pengaruhnya pasti akan dahsyat sekali bagi rakyat Kediri.

“Nah, apakah kau sanggup?”

Sejenak Mahisa Agni berpikir, namun ia-pun memperhitungkan kepentingannya sendiri. Ia harus mendapat kepercayaan dari Kan Arok, sehingga kehadirannya di istana tidak dicurigainya. Karena itu, maka ia-pun kemudian berkata, “Hamba akan mencoba Tuanku. Hamba akan mencoba membentuk pasukan seperti yang Tuanku maksudkan.”

“Bagus. Aku percaya kepadamu. Aku-pun yakin bahwa kau akan berhasil.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya wajah Sri Rajasa. Wajah yang meskipun kini wajah seorang raja yang semakin lama menjadi semakin besar, namun wajah itu juga yang pernah dikenalnya di padang Karautan.

Sekilas teringat olehnya, pertama kali ia bertemu dengan Hantu Karatutan yang menakutkan itu. Gurunya sengaja membiarkannya berkelahi.

Sejak saat itu ia melihat sesuatu yang aneh pada Ken Arok. Meskipun ia tidak mempelajari ilmu tata beladiri, tetapi ia tidak dapat mengalahkannya. Tubuhnya seolah-olah menjadi liat dan kebal, meskipun agaknya tidak demikian.

Sekilas teringat pula olehnya sebuah pusaka kecil pemberian gurunya yang sampai sekarang disimpannya baik-baik. Sebuah trisula yang turun temurun diterima dari guru kepada muridnya.

Trisula ini mempunyai pengaruh yang aneh atas Ken Arok. Menurut dugaan Mahisa Agni, pengaruh itu sampai saat ini pasti masih belum pudar.

“He, kenapa kau tiba-tiba merenung?” bertanya Ken Arok sehingga Mahisa Agni terkejut karenanya.

“Ampun Tuanku,” jawab Mahita Agni, “hamba mencoba membayangkan, apa yang dapat hamba lakukan.”

“Tidak sekarang,” berkata Ken Arok, “kau masih mempunyai kesempatan. Kau dapat merenungkannya sepekan dua pekan. Baru kau mulai berbuat sesuatu.”

“Hamba Tuanku.”

“Kemudian aku mempunyai tambahan seorang panglima. Di samping panglima pasukan tempur, pasukan pengawal istana dan pelayan dalam, aku akan mempunyai seorang panglima pasukan khusus.”

“Hamba Tuanku. Tetapi jabatan itu terlampau tinggi buat hamba.”

“Kenapa?”

“Hamba bukan seorang prajurit. Dan hamba hanyalah anak Padang Karautan.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia tertawa. Perlahan-lahan sekali ia berbisik, “Anak-anak Padang Karautan harus menjadi orang yang terpandang.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi ia menangkap kata-kata Ken Arok itu.

Maka keputusan Baginda itu-pun kemudian diumumkannya kepada sidang para pemimpin Singasari. Mahisa Agni resmi mendapat kedudukan seorang panglima. Panglima pasukan khusus yang masih harus dibentuknya sendiri.

“Ia adalah kakak Tuan Puteri Permaisuri Singasari,” desis mereka yang kemudian mendengar keputusan Sri Baginda itu. “Sudah sepantasnya apabila ia-pun menjadi seorang panglima.”

Namun seorang senapati muda yang baru saja ditarik masuk ke kota berkata, “Tetapi apakah ia mampu bertempur? Panglima memerlukan bekal yang cukup lengkap. Ia akan memimpin sepasukan prajurit. Pasukan yang besar terbagi-bagi dalam pasukan-pasukan yang lebih kecil. Nah, bayangkan. Seorang penglima harus mempunyai kecakapan mengatur di samping bertempur. Tidak dapat disamakan dengan jabatan-jabatan kehormatan yang dapat dijabat oleh siapapun meskipun ia kakak seorang Permaisuri.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah kau belum pernah mendengar ceritera tentang kakak Permaisuri yang bernama Mahisa Agni itu?”

“Maksudmu?”

“Ia pernah naik ke arena melawan panglima pasukan pengawal istana pada jaman Akuwu Tunggul Ametung.”

Senapati muda itu mengerutkan keningnya.

“Pada waktu itu, tidak seorang-pun di seluruh Tumapel yang dapat menunjuk seorang prajurit, senapati atau penglima dari pasukan apapun, untuk mengimbangi Witantra naik ke arena. Pada waktu itu kita masih belum dapat menilai kemampuan Sri Rajasa, seorang Pelayan Dalam. Nah, pada saat itulah. Mahisa Agni tampil dan berhasil mengalahkan Witantra di arena, meskipun ia tidak mau membunuhnya.”

Senapati itu mengerutkan keningnya.

“Kau dapat membayangkan, apakah Mahisa Agni itu akan mampu menjadi seorang panglima.”

Tetapi Senapati itu masih mencoba membela pendiriannya, “Tetapi belum pasti ia dapat mengatur suatu lingkungan keprajuritan. Apalagi sepasukan yang asing seperti yang akan dibentuknya. Untuk itu diperlukan kecakapan mengatur dan menguasai orang lain.”

“Juga ceritera tentang Mahisa Agni,” jawab kawan-kawannya, “di padang Karautan ia berhasil membangun sebuah bendungan, membuka sebuah pedukuhan dan menciptakan tanah persawahan dan pategalan. Itu suatu kerja yang besar dengan seluruh rakyat pedukuhan Panawijen lama. Aku kira tidak jauh lebih sulit mengatur sepasukan prajurit dari pada membangun sebuah padukuhan baru dengan segala kelengkapannya.”

Sanapati muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku ternyata belum banyak mengenalnya.”

Demikianlah maka Mahisa Agni mulai mendapatkan wewenang untuk melaksanakan tugasnya. Kepadanya diperbantukan beberapa orang yang sudah mengenalnya, supaya justru tidak mngganggu pekerjaannya.

Yang pertama-tama dilakukan oleh Mahisa Agni adalah mengenal orang-orang yang menyingkir dari Kediri. Mereka di tempatkan di barak-barak yang memang dibuat untuk mereka. Dengan demikian maka Mahisa Agni tidak banyak mengalami kesulitan untuk berkenalan dengan sebagian besar dari mereka.

Namun dalam sekilas Mahisa Agni segera dapat mengetahui, bahwa mereka bukanlah calon-calon prajurit yang baik. Meskipun demikian dengan kerja yang tekun, maka hasilnya akan juga dapat memadai. Apalagi prajurit yang akan dibentuk oleh Mahisa Agni itu bukanlah pasukan tempur yang sebenarnya. Mereka lebih condong sebagai suatu pameran betapa orang-orang Kediri sendiri telah berpihak kepada Singasari.

Setelah Mahisa Agni cukup mengenal para pengungsi itu, maka mulailah ia melakukan pemilihan. Anak-anak muda dan orang-orang yang masih cukup kuat dikumpulkannya.

Tetapi Mahisa Agni cukup bijaksana. Ia tidak langsung memerintahkan mereka memisahkan diri dari para pengungsi yang lain. Tetapi kepada mereka, Mahisa Agni memberi kesempatan untuk memilih.

“Ini adalah suatu tugas suka rela,” berkata Mahisa Agni, “karena tanpa kerelaan, pasukan yang akan terbentuk nanti tidak akan banyak berarti.”

Ternyata kata-kata Mahisa Agni justru menyentuh perasaan mereka. Jauh lebih dalam dari pada Mahisa Agni langsung menjatuhkan perintah untuk membentuk suatu pasukan.

“Siapa yang ingin ikut, aku persilahkan,” berkata Mahisa Agni di hadapan mereka, “tetapi kalian harus menjadari, bahwa pasukan ini pada suatu saat akan bertempur. Sebenarnya bertempur melawan pasukan Kediri.”

Beberapa orang dari mereka mengerutkan keningnya.

“Memang ada kemungkinan bagi kalian masing-masing, mengalami nasib yang paling pahit. Misalnya di dalam peperangan akan bertemu dengan sanak saudara, mungkin kawan sepermainan atau bahkan keluarga yang saudara tinggalkan. Tetapi ini adalah suatu pengorbanan. Pengorbanan bagi kebebasan rakyat Kediri.”

Mahisa Agni melihat mereka mengangguk-anggukkan kepala.

“Tetapi masih ada lagi yang harus kalian pertimbangkan. Kalian akan terjun ke dalam api peperangan. Di dalam peperangan ada kemungkinan yang dapat terjadi atas kalian. Dua kemungkinan yang sama beratnya. Hidup dan yang lain, mati. Kalian dapat tetap hidup, tetapi kalian dapat juga mati.” Mahisa Agni berhenti sejenak, kemudian, “Nah, renungkan. Siapa yang akan ikut bersama aku, membebaskan seluruh rakyat Kediri dari ketakutan seperti sekarang, kalian akan ditampung di barak yang lain. Kami akan menunggu kalian, sebelum tengah hari. Kalian mempunyai waktu untuk mempertimbangkan masak-masak. Bagi yang berkeberatan, tidak akan ada perlakuan apapun. Kalian dapat memilih sebebas-bebasnya. Asal kalian telah menyadari, bahwa kalian akan ditunggu oleh kerja berat, dan kemungkinan-kemungkinan yang paling pahit dan pedih.”

Kemudian Mahisa Agni meninggalkan mereka. Dibiarkannya mereka berpikir sampai saatnya mereka menjatuhkan pilihan.

Demikianlah dilakukan Mahisa Agni dari kelompok ke kelompok pengungsi yang ditampung di dalam barak-barak di Singasari. Menilik sikap dan tanggapan mereka, Mahisa Agni berharap, bahwa pasukannya tidak akan terlampau kecil.

Demikianlah, pada hari yang telah ditentukan, Mahiasa Agni bersama beberapa orang yang diperbantukan kepadanya, telah berada dalam suatu barak yang besar. Pada hari itu, tengah hari, adalah batas waktu penerimaan bagi orang-orang Kediri yang ingin memasuki lapangan keprajuritan yang akan memerangi ikatan-ikatan yang tidak mereka senangi, yang mereka anggap telah membelenggu Kediri sendiri selama ini.

Ternyata harapan Mahisa Agni tidak sia-sia. Berduyun-duyun anak-anak muda dan laki-laki masih mampu menggenggam senjata memasuki barak yang sudah disediakan bagi mereka. Bagi suatu pasukan baru dalam tata keprajuritan Singasari.

Bagi Singasari jabatan Mahisa Agni sebagai seorang Panglima-pun merupakan jabatan yang baru pula. Sebelumnya tidak pernah ada seorang Panglima dari sebuah pasukan yang terdiri dari bukan orang-orang Singasari yang sebelumnya bernama Tumapel. Namun untuk menghadapi Kediri, Singasari telah membentuk pasukan yang terdiri dari orang-orang Kediri.

Dengan penuh bertanggung jawab, Mahisa Agni menerima mereka. Karena orang-orang Kediri itu terdiri dari berbagai macam tingkat dan kemampuan, Mahisa Agni masih harus memisah-misahkan mereka. Bagi mereka yang pernah mengalami latihan tata peperangan, dipisahkannya dalam kelompok tersendiri. Sedang mereka yang sama sekali belum, dipisahkannya pula.

Di hari-hari berikutnya. Mahisa Agni menghadapi suatu kerja yang benar-benar berat. Bersama beberapa orang pembantu-pembantunya, Mahisa Agni mulai membentuk orangi Kediri itu menjadi sepasukan prajurit.

Mahisa Agni menyerahkan orang-orang yang pernah mendapat latihan serba sedikit, kepada pembantu-pembantunya untuk meningkatkan kemampuan mereka. Sedang yang sama sekali belum pernah memegang tangkai senjata, Mahisa Agni sendirilah yang melatih mereka menurut caranya yang kadang-kadang tidak sesuai dengan cara-cara yang dipergunakan di dalam tata keprajuritan di Singasari.

“Aku mengutamakan kemampuan tempur,” berkata Mahisa Agni setiap kali, “meskipun orang-orang ini tidak dapat bersikap baik di dalam sikap dan langkahnya, namun mereka harus mampu membela diri di setiap peperangan.” Itulah sebabnya Mahisa Agni mengambil cara menurut pertimbangannya sendiri.

Ternyata bahwa usaha Mahisa Agni tidak sia-sia. Dalam waktu singkat, pasukan yang mendapat latihan terus menerus, tanpa mengenal lelah dan jemu itu, sedikit demi sedikit dapat meningkatkan dirinya, mendekati nilai keprajuritan yang sebenarnya di dalam olah peperangan.

Tetapi yang terlebih penting dari itu, Mahisa Agni mulai mendapat kepercayaan dari Sri Rajasa. Setelah melihat sendiri hasil yang dicapai oleh Mahisa Agni, maka Sri Rajasa menjadi semakin gairah untuk segera dapat mengimbangi kekuasaan Kediri.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun menjadi semakin leluasa pula berada di istana. Sebagai seorang kakak dari Permaisuri Singasari, ia mendapat tempat yang baik di bangsal belakang istana Singasari. Namun dengan demikian Mahisa Agni harus benar-benar menjaga dirinya agar tidak terperosok ke balik dinding yang membatasi dua buah petamanan di dalam istana Tumapel. Mahisa Agni yang mulai mapan itu tidak mau jatuh ke dalam tangan Ken Umang yang pasti akan dapat merusak semua rencananya.

Demikian, maka tanpa setahu seorang-pun Mahisa Agni menjadi semakin dekat dengan Anusapati. Memang tidak seorang-pun yang mencurigainya. Anusapati adalah ke manakannya. Ken Arok-pun tidak. Mereka menganggap hal itu wajar sekali. Apalagi hampir setiap orang di dalam istana itu mengetahui bahwa Ken Arok lebih dengan pada Tohjaya dari pada kepada Anusapati, sehingga wajarlah bahwa Anusapati memerlukan seorang laki-laki yang dapat menjadi ayahnya.

Sesuai dengan umurnya, Mahisa Agni mulai membawa Anusapati bermain-main. Permainan yang paling ringan dan tidak mencurigakan. Kadang-kadang Anusapati diajaknya bermain loncatan. Mahisa Agni membuat lingkaran-lingkaran di tanah, kemudian Anusapati harus mengejarnya, melalui lingkaran-lingkaran yang diinjak pula oleh Mahisa Agni.

Mula-mula Anusapati yang kecil itu senang bermain kejar-kejaran dengan cara itu, tetapi kemudian ia menjadi jemu.

“Kita cari cara yang lebih baik,” berkata Mahisa Agni, “kita meletakkan batu-batu di tanah. Kejar aku, tetapi kakimu tidak boleh menyentuh tanah.”

Anusapati-pun menurut pula. Seperti semula, ia senang melakukannya. Tetapi sepekan dua pekan, ia-pun menjadi jemu pula.

Mahisa Agni merasa senang dengan anak ini. Ia selalu ingin sesuatu yang baru. Ia tidak betah untuk tetap melakukan pekerjaan yang sama.

Tetapi suatu hal yang membuat Mahisa Agni sedih. Hati anak itu agaknya terlampau tertekan. Meskipun Ken Arok tidak melakukannya di hadapan ibunya, tetapi setiap kali, apabila Ken Dedes tidak melihatnya, anak itu selalu diancam, ditakut-takuti dan sama sekali tidak mendapat hati.

“Aku tidak menyangka, bahwa Ken Arok dapat berbuat demikian,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Namun kemudian ia teringat kepada semua rencana Ken Arok yang dapat dilakukannya dengan sempurna. Karena itu maka Mahisa Agni-pun segera mengambil kesimpulan, bahwa apa yang dilakukan oleh Ken Arok itu memang sudah diperhitungkannya masak-masak.

Sekilas terkenang olehnya, apa yang dilakukan oleh Kebo Sindet atasnya di tengah rawa-rawa maut itu. Untunglah bahwa hal itu terjadi atasnya setelah jiwanya terbentuk, sehingga sulitlah bagi Kebo Sindet untuk merubahnya menjadi seorang budak penurut dan pengecut.

Tetapi Anusapati kini sedang tumbuh dan bersemi. Pada saat-saat jiwanya sangat peka itulah ia mengalami tekanan batin yang luar biasa. Setiap kali ia selalu dibayangi oleh ketakutan dan rendah diri.

“Ini adalah salah satu kecakapan Ken Arok,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “apabila aku tidak mengerti apa yang telah dilakukan, aku-pun tidak akan mengerti apa yang sekarang sedang dilakukannya pula. Meskipun ia mengangkat Anusapati menjadi seorang Pangeran Pati, tetapi ia berusaha untuk membuat Anusapati itu mati di dalam hidupnya. Ia kelayakan menjadi Putera Mahkota yang memuakkan bagi rakyat Singasari. Putera Mahkota sedungu keledai. Putera Mahkota yang tidak dapat berbuat apapun juga. Yang selalu dibayangi oleh ketakutan dan keragu-raguan.

Dalam keadaan yang demikian maka rakyat Singasari akan berteriak, “Minggirlah anak Tunggul Ametung,” dan mereka akan berteriak pula, “Angkatlah Tohjaya menjadi penggantinya.”

Mahisa Agni yang sudah mengenal Ken Arok itu kini dapat memperhitungkan langkahnya. Dan agaknya otak Mahisa Agni-pun tidak terlampau tumpul untuk mengurai masalah itu.

Dengan sekuat-kuat tenaganya Mahisa Agni melawan cara Ken Arok itu. Setiap kali ia berusaha membuat hati Anusapati mantap. Diceriterakannya tentang berbagai macam dongeng tentang orang-orang yang semula menderita, tetapi karena keuletannya, mereka dapat menolong diri mereka sendiri.

Kadang-kadang Anusapati mendengarkan dengan penuh minat. Kepalanya terangguk-angguk penuh harapan. Tetapi kadang-kadang ia justru merenung dengan sorot mata yang buram memandangi bintik-bintik di kejauhan.

“Ayah terlampau sering marah,” katanya pada suatu kali, “aku diancamnya lagi apabila aku berkelahi dengan adinda Tohjaya.”

“Kenapa kau berkelahi?” bertanya Mahisa Agni.

“Permainanku dirampasnya. Aku mempertahankannya.”

“Lalu.”

“Ketika ia memukul aku, aku menghindar sehingga ia jatuh tertelungkup. Adinda Tohjaya menangis, dan mengatakan bahwa akulah yang bersalah.”

“Apakah Ayahanda Baginda melihat?”

“Aku dipanggil Ajahanda Baginda di bangsal sebelah, di bangsal bibi Ken Umang. Kupingku dicubitnya dan aku tidak boleh mengadu kepada ibu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Hal itu bukan untuk pertama kalinya terjadi. Kalau kedua anak-anak itu bertengkar seperti lazimnya anak-anak, maka Anusapati pasti dimarahi langsung oleh Baginda sendiri. Bukan oleh pemomong yang sudah diserahi untuk mengawasinya.

Bahkan Mahisa Agni itu-pun kemudian berprasangka pula terhadap pemomongnya Anusapati, apakah pemomong yang ditunjuk oleh Baginda itu sudah mendapat tugas khusus pula untuk meruntuhkan ketahanan hati Anusapati?

“Sudahlah,” Mahisa Agni-pun mencoba menghiburnya, “kau lebih baik tidak bermain-main dengan Tohjaya. Carilah permainan sendiri di tempat yang terpisah.”

“Adinda Tohjaya lah yang sering mendatangi aku.”

“Menyingkirlah,” berkata Mahisa Agni, “bukan karena kau takut kepada Tohjaya, tetapi lebih baik menghindari pertengkaran dengan anak cengeng. Ia pasti akan selalu menangis dan mengadu. Karena itu, bermainlah sendiri.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau ia menyingkir, bukan berarti ia takut kepada Tohjaya. Tetapi memang lebih baik tidak bermain-main dengan anak cengeng. Anak yang hanya pandai menangis.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Aneh nampaknya. Seorang anak yang seakan-akan menemukan sesuatu di dalam dirinya.

“Tetapi kau tidak boleh cengeng Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kau harus menghadapi semua persoalan dengan dada tengadah. Kau tahu bedanya?”

Anusapati mengangguk. Dan tiba-tiba saja anak itu bertanya, “Apakah paman Mahisa Agni tidak mempunyai seorang putera laki-laki sebesar aku?”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku lebih senang bermain-main dengan seorang kawan atau lebih daripada bermain-main sendiri.”

“Pemomongmu?”

“Sekarang aku sering dilepaskannya sendiri. Bermain-main sendiri tanpa emban.”

“Di mana embanmu?”

“Ia juga sering menangis.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya melingkari Anusapati itu. Ia tidak dapat mencarinya dengan serta-merta. Tetapi ia harus melangkah perlahan-lahan supaya tidak ada seorang-pun yang mencurigainya.

“Menurut bibi emban, aku boleh bermain-main sendiri, tetapi tidak boleh keluar dari halaman dalam bangsal tengah.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Dan kau ternyata keluar dari halaman itu tanpa setahunya.”

“Aku jemu berada di halaman bangsal tengah saja paman.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bertanya, “Di mana Ayahanda Baginda sekarang?”

“Di bangsal sebelah dinding. Di bangsal bibi Umang.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Marilah, aku antar kau kepada pemomongmu.”

“Aku akan pergi ke bilik Ibunda Permaisuri.”

“O, jangan. Ibunda sedang beristirahat. Ibunda terlampau letih mengurusi adikmu.”

Anusapati terdiam sejenak.

“Marilah.”

Akhirnya Anusapati mengikuti Mahisa Agni ke bangsal tengah, untuk menyerahkannya kepada pemomongnya. “Bibi,” panggil Anusapati ketika ia sampai ke bangsal tengah.

Seorang perempuan setengah umur yang diserahi untuk menjaga dan mendidik Anusapati keluar dari sebuah bilik di bagian belakang bangsal tengah. Ketika ia melihat Anusapati, dengan tergesa-gesa ia menyongsongnya.

“He, darimana kau ngger?” perempuan itu bertanya sambil memeluk momongannya. Lalu, “Kenapa kau he? Apakah kau menangis lagi?”

Anusapati menggeleng, “Aku tidak menangis.”

“Tetapi matamu menjadi merah.”

“Ayahanda Baginda marah lagi kepadaku bibi.” Perempuan itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian dipeluknya momongannya semakin erat. Katanya, “Aku sudah berkata berulang kali, jangan keluar dari halaman bangsal ini. Kenapa ayahanda Baginda marah? Apakah kau bertengkar lagi dengan Tohjaya?”

Anusapati mengangguk.

Dibelainya anak itu dengan kedua tangannya. Kemudian dibimbingnya ia masuk ke dalam bangsal. Kepada Mahisa Agni emban itu berkata, “Tuan, apakah tuan mempunyai sesuatu kepentingan?”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak.”

“Biarlah aku mengurus anak ini, yang sudah diserahkan kepadaku oleh Baginda.”

“Tetapi ia sendirian di belakang.”

“Itu adalah karena salah anak ini sendiri.”

“Emban,” Mahisa Agni memotong, “ingat, anak itu adalah Putera Mahkota. Bukan anak gembala kerbau yang dapat diperlakukan sekehendak hati. Ia harus mendapat perawatan dan pemeliharaan seperti selayaknya Putera Mahkota.”

Mahisa Agni terdiam ketika ia melihat emban itu menundukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah kata-pun. Bahkan kemudian ia meneruskan langkahnya, membimbing Anusapati masuk ke dalam bilik di bagian belakang bangsal tengah.

“Maaf,” desis Mahisa Agni, “aku tidak berhak mengatakannya.”

Emban itu justru terhenti sejenak. Ketika ia berpaling, Mahisa Agni menjadi terkejut karenanya, karena ia melihat mata emban itu menjadi basah.

“Maaf emban,” berkata Mahisa Agni sekali lagi.

“Tidak tuan. Tuan tidak bersalah. Adalah layak sekali Tuan memperingatkan aku.”

“Aku mengharap bahwa kau dapat mengerti maksudku.”

“Ya. Tuan. Aku mengerti bahwa maksud Tuan baik. Aku-pun mengerti apa yang sebaiknya aku lakukan. Apalagi terhadap Putera Mahkota. Tetapi …,” kata-kata emban itu terputus.

“Tetapi … ” Mahisa Agni mengulangi.

Emban itu menggelengkan kepalanya. Kemudian dibimbingnya Anusapati melangkah sambil berkata, “Marilah Ngger.”

Mahisa Agni menjadi bingung melihat sikap emban yang tidak menentu itu. Namun Mahisa Agni dapat menangkap sesuatu yang kurang wajar padanya. Menilik kata-kata dan sikapnya, bahkan kemudian air mata yang mengambang di mata, ada pertentangan yang terjadi di dalam diri perempuan setengah tua itu. Namun Mahisa Agni tidak dapat mengerti, apakah yang sebenarnya telah bergejolak di dalam dadanya.

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan halaman itu. Ketika ia melalui bangsal Ken Dedes, ia tertegun sejenak. Namun ia kemudian meneruskan langkahnya ke biliknya sendiri di belakang.

Anusapati yang dibawa oleh embannya itu-pun kemudian dimandikannya dengan air hangat. Digosoknya seluruh tubuhnya sehigga bersih.

Namun Anusapati sendiri sama sekali tidak mengetahui, bahwa pemomongnya benar-benar berada dalam kesulitan batin. Dugaan Mahisa Agni ternyata tepat, meskipun tidak seluruhnya benar.

“Marilah tidur Tuan,” berkata emban itu kemudian, “seorang Putera Mahkota harus tidur siang hari sampai matahari condong ke Barat.”

Anusapati sendiri tidak begitu menyadari arti kata-kata Pangeran Pati. Baginya, apakah ia menjadi Putera Mahkota atan tidak, namun ia merasa bahwa hidupnya di dalam istana Singasari tidak begitu menyenangkan. Setiap kali ia bermain-main ia merasa selalu diganggu oleh Tohjaya. Ibunya terlampau sibuk dengan adiknya yang kecil, dan embannya kadang-kadang bersikap aneh terhadapnya.

“Orang yang paling baik di Singasari adalah paman Mahisa Agni,” berkata anak itu di dalam hatinya.

Ketika Anusapati kemudian berbaring di pembaringannya, embannya-pun duduk bersimpuh di lantai sambil membelai keningnya. Kemudian perempuan tua itu mencoba untuk berceritera tentang seekor rusa yang sombong. Tentang burung-burung dan tentang kelinci.

“Tidurlah sayang,” desis emban itu.

Anusapati memejamkan matanya. Tetapi sebuah pertanyaan bergelut di dalam hatinya, “Kenapakah emban ini kadang-kadang terlampau baik, tetapi kadang-kadang nakal?”

Namun hati anak itu tidak dapat meraba terlampau jauh dari apa yang dilihatnya dan dirasakannya sehari-hari.

Karena emban itu berceritera terus sambil membelainya, maka lambat laun Anusapati-pun menjadi terlena pula karenanya.

Perlahan-lahan diselimutinya anak itu baik-baik. Diciumnya keningnya, lalu ditinggalkannya sendiri di pembaringannya.

Tetapi emban itu tidak pergi jauh. ia duduk di serambi di muka bilik Anusapati sambil merenung. Merenungi anak yang kelak akan menggantikan kedudukan Sri Rajasa itu, dan merenungi dirinya sendiri.

Di bilik di belakang, Mahisa Agni-pun duduk tepekur di atas pembaringannya. Dicobanya untuk mengerti isi istana itu seluruhnya, ia merasa bahwa istana itu merupakan petamanan yang penuh dengan duri. Ia tidak mengerti, di mana dan kapan ia akan menyentuh atau bahkan menginjaknya. “Mudah-mudahan aku dapat menghindari,” desisnya. Demikianlah Mahisa Agni perlahan-lahan telah mulai dengan rencananya. Anusapati yang masih kecil itu mulai diisinya tanpa sesadarnya. Setiap kali, selain berloncat-loncatan Anusapati-pun diajarinya memanjat, bergantungan di cabang-cabang pepohonan. Mula-mula batang-batang pohon yang rendah, tetapi semakin lama semakin tinggi.

Dengan demikian, maka urat-urat kaki dan tangan Anusapati tumbuh dengan baiknya. Kekuatannya-pun berkembang seperti yang diharapkan Mahisa Agni.

Tetapi suatu hal yang Mahisa Agni masih belum dapat mengatasinya. Anusapati selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Jiwanya tidak dapat berkembang sebaik tubuhnya, meskipun Mahisa Agni selalu berusaha memberinya kebanggaan. Apalagi waktu yang dapat dipergunakan tidak terlampau banyak dan kurang teratur. Mahisa Agni hanya dapat mempergunakan waktu-waktu yang terluang. Namun bahwa embannya kadang-kadang melepaskannya sendiri, memberinya keuntungan pula kepadanya.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni pada suatu saat, “kalau besok paman pergi ke peperangan, mungkin paman tidak akan dapat bermain-main dengan kau untuk beberapa saat lamanya. Jangan lupa, kau bermain-main sendiri. Kau harus sudah dapat meloncati pohon kantil di halaman samping itu. Setiap pagi kau harus bermain, loncat-loncatan, bergantungan dan ketrampilan. Kau harus dapat melontarkan tiga empat buah kerikil berganti-ganti terus-menerus untuk beberapa saat lamanya. Jangan lupa pula bermain pasir. Benamkan jari-jarimu setiap pagi dan sore ke dalam pasir. Jari-jari tangan kiri dan jari tangan kanan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tetapi tanpa kawan permainan itu tidak menarik.”

“Kau harus membiasakan diri bermain sendiri. Kalau paman datang, kau bermain bersama paman lagi.”

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [205]