Pelangi di Langit Singasari [ 57 ]

316

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 57 ]

 

BEBERAPA emban-pun kemudian maju menghadap Sri Rajasa yang berdiri di serambi bangsal yang ternyata adalah bangsal paseban dalam.

“Kaukah emban di istana ini?” bertanya Sri Rajasa.

Dengan mengenali pakaian dan tanda-tanda kerajaan, maka para emban itu-pun segera mengenal, bahwa yang dihadapinya adalah pemimpin tertinggi Singasari. Karena itu mereka-pun segera menyembah, “Hamba Tuanku. Hamba adalah emban di istana Kediri.”

“Aku mendengar bahwa Sri Baginda Kertajaya mempunyai beberapa orang adik perempuan selain Mahisa Walungan yang telah gugur itu.”

“Hamba Tuanku. Sri Baginda mempunyai tiga orang adik perempuan.”

“Aku akan menemui mereka. Katakan, bahwa aku dan seluruh prajurit Singasari tidak akan berbuat apa-apa di dalam istana ini.”

Para emban itu menjadi ragu-ragu sejenak. Mereka saling berpandangan dan tidak segera berbuat sesuatu, sehingga Sri Rajasa mengulanginya, “Kami tidak akan berbuat apa-apa. Yakini kata-kataku ini.”

Salah seorang dari para emban itu kemudian memberanikan diri menyahut, “Hamba dan kawan-kawan hamba tidak diperkenankan masuk ke paseban dalam.”

“Apakah ketiga puteri itu ada di paseban dalam?”

“Hamba Tuanku.”

“Dimanakah bangsal paseban dalam itu?”

“Itulah Tuanku,” tunjuk salah seorang emban.

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Bangsal itu masih terlampau gelap. Hanya di sudut, justru diluar paseban saja yang sudah dipasang sebuah lampu minyak.

“Apakah tidak dinyalakan lampu di bangsal itu?” bertanya Sri Rajasa.

Para emban itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka berkata, “Ketika ketiga puteri itu masuk, paseban masih belum terlampau gelap.”

“Dan tidak ada yang memasang lampu itu kemudian?”

“Tuan Puteri berpesan, bahwa tidak boleh seorang-pun memasuki paseban. Dewi Amisani, yang terbesar dari ketiganya berkata, “Biarlah kami bertiga saja yang akan menemui mereka apabila pemimpin mereka memasuki ruang ini.” Dengan demikian Tuanku, tidak ada seorang-pun yang berani memasuki paseban itu.”

“Siapakah yang dimaksud dengan mereka?”

“Para pemimpin Singasari.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan menemui mereka di bangsal paseban dalam itu.”

Maka Sri Rajasa-pun kemudian mengajak Mahisa Agni dan beberapa orang pemimpin Singasari masuk ke paseban. Namun demikian, Sri Rajasa tetap berhati-hati menghadapi setiap keadaan didalam lingkungan istana Kediri.

Karena itu maka dengan hati-hati ia mendekati pintu bangssal paseban yang masih gelap itu. Ketika tangannya telah menyentuh pintu, Mahisa Agni menjadi berdebar-debar sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis, “Tuanku.”

Sri Rajasa tertegun sejenak. Di muka pintu paseban itu sama sekali sudah tidak terdapat seorang prajuritpun.

“Biarlah hamba mendahului Tuanku,” gumam seorang Senapati.

Dengan hati-hati Senapati itu membuka pintu sementara Senapati yang lain telah mengambil lampu minyak yang ada di luar paseban.

Seleret sinar memancar memasuki ruangan paseban yang gelap itu. Namun Senapati yang sedang membuka pintu itu belum melihat seorang-pun. Sehingga selangkah ia masuk lebih dalam lagi, diikuti oleh Senapati yang membawa lampu itu.

Ternyata Sri Rajasa tidak sabar lagi. Setelah ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang terdengar di sebelah menyebelah pintu, ia-pun segera melangkah masuk. Didorongnya Senapati yang membawa lampu itu lebih ke dalam lagi.

Ketika seluruh ruangan di bangsal paseban itu tersentuh oleh cahaya lampu yang remang, maka tertegunlah setiap orang yang berada di muka pintu itu. Sri Rajasa berdiri membeku seperti patung memandang Singgasana di ujung ruangan, sedang Mahisa Agni hampir tidak percaya melihat apa yang sudah terjadi.

Diatas singgasana duduk salah seorang dari ketiga puteri adik Sri Baginda Kertajaya. Menilik bentuk lahiriahnya maka ia adalah puteri tertua dari ketiganya.

“Masuklah,” terdengar suaranya lirih, “akulah sekarang Maharaja Kediri.”

Sri Rajasa masih membeku di tempatnya. Ditatapnya puteri yang dengan tenang duduk di atas Singgasana itu.

“Mendekatlah kalau kalian ingin menghadap Sri Maharaja,” terdengar suara puteri itu pula.

Seperti dipukau oleh sebuah pesona yang tidak terlawan Sri Rajasa dan para pemimipin Singasari itu-pun melangkah mendekat. Namun dada mereka-pun menjadi semakin berdebar-debar. Mereka melihat kedua puteri yang lain duduk memeluk kaki puteri yang menyebut dirinya Maharaja Kediri.

Tetapi langkah mereka terhenti ketika oleh cahaya lampu yang remang-remang mereka melihat noda-noda yang melumuri pakaian ketiga puteri itu. Ternyata pada pakaian mereka yang putih seputih kapas itu melekat noda-noda yang berwarna merah.

“Tuan Puteri,” tanpa sesadarnya Sri Rajasa berkata, “apakah yang telah terjadi?”

“Aku adalah Maharaja Kediri. Namaku Dewi Amisani.”

“Ya, Dewi Amisani. Aku adalah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

“Bukankah kau Akuwu Tumapel?”

Dada Sri Rajasa berdesir tajam. Namun ia tidak mempedulikannya lagi. Setapak ia maju mendekat. Dan ia kini melihat dengan jelas, bahwa kedua puteri yang duduk di lantai memeluk kaki Dewi Amisani itu ternyata telah meninggal.

“Dewi Amisani, apa yang telah terjadi?”

Dewi Amisani tersenyum. Katanya, “Tidak ada apa-apa yang terjadi. Kami memang, menunggu kedatangan kalian. Pemberontakan kalian telah berhasil. Kakanda Sri Baginda Kertajaya telah gugur dan Kakanda Mahisa Walungan-pun telah gugur pula. Kini kalian telah berhasil memasuki istana. Supaya kemenanganmu sempurna maka seluruh keluarga Kakanda Kertajaya harus musnah.”

“Tuan Puteri, apakah artinya?”

Dewi Amisani tidak segera menjawab. Tetapi ketika Sri Rajasa maju selangkah lagi. Dewi Amisani berkata, “Sudah cukup. Jangan terlampau dekat dengan Singgasana. Hanya keturunan darah Maharaja Kediri sajalah yang boleh menyentuh Singgasana ini.”

“Tetapi, apakah maksud Tuan Puteri?”

Dewi Amisani tidak segera menjawab. Dipandanginya Sri Rajasa dan para pemimpin Singasari yang lain dengan tajamnya. Sejenak kemudian ia berkata, “Meskipun kalian dapat menguasai istana beserta seluruh isinya, namun kalian tidak akan dapat menguasai jiwa kami. Jiwa seluruh rakyat Kediri. Itulah sebabnya maka Kakanda Sri Kertajaya dan Kakanda Mahisa Walungan memilih gugur di peperangan.”

Sri Rajasa masih berdiri terpaku ditempatnya.

“Kini kau melihat kedua adik-adikku ini-pun telah memilih kebebasannya tidak kau tundukkan.”

“Apakah yang telah terjadi dengan kedua puteri itu?” bertanya Sri Rajasa.

“Seperti Kediri. Kau dapat menguasai wadagnya, tetapi tidak jiwanya.”

“Tuan Puteri,” berkata Sri Rajasa, “bukan maksud kami untuk menguasai apa-pun dan siapapun. Kami tidak ingin menguasai Kediri jasmaniah dan apalagi rohaniah. Kami hanya ingin melihat satu negara yang besar yang bersama-sama kita bina. Selama ini Kakanda Tuan Puteri telah berbuat beberapa kesalahan kepada rakyat Kediri sendiri dan terutama kepada kaum Brahmana.”

“Terserahlah kepada penilaianmu Sri Rajasa. Tetapi kami sudah bertekad, bahwa kami hanya akan menyerahkan wadag-wadag kami.”

“Tuan Puteri, tunggu. Jangan berbuat sesuatu. Kami akan dapat memberikan penjelasan.”

Dewi Amisani tersenyum. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Hari menjadi semakin gelap. Juga bagi Kediri.”

“Tidak. Kalau tuan Puteri bersedia, kami dapat berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan Tuan Puteri.”

“Jangan mencoba membujuk. Niat kami sudah bulat.” Dewi Amisani berhenti sejenak. Lalu, “Semuanya sudah bersiap. Aku memang menunggu kalian sejenak untuk mengatakan tekad kami. Kalian tidak akan dapat menguasai jiwa kami.”

“Tuan Puteri, Tuan Puteri.”

“Jangan maju lagi. Langkahmu hanya mempercepat penyelesaian.”

Sri Rajasa menjadi termangu-mangu. Ketika ia berpaling, di dalam cahaya lampu minyak yang samar-samar ia melihat Mahisa Agni menjadi tegang.

“Agni,” berkata Sri Rajasa, “kau mempunyai kesempatan seandainya kau berhasil.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia sama sekali tidak ingat lagi kepada dirinya sendiri. Tetapi hatinya menjadi seolah-olah tersayat melihat ketiga puteri Kediri itu.

“Mintalah kepadanya, supaya puteri itu menyadari keadaannya,” desis Sri Rajasa.

“Tidak ada gunanya,” Dewi Amisanilah yang menjawab. “siapa-pun yang akan membujuk aku. tidak akan ada artinya.”

Sri Rajasa benar-benar kehilangan akal. Ia menjadi bertambah gelisah ketika ia melihat Dewi Amisani kemudian berdiri. Sejenak disentuhnya rambut kedua adiknya yang telah mendahuluinya suduk-sarira, dan telah meninggal pula sambil memeluk kaki Dewi Amisani.

“Adik-adikku-pun telah mendahului aku.”

“Tuan Puteri,” Sri Rajasa berdesis. Lalu, “Agni, kenapa kau tidak berbuat sesuatu?”

Mahisa Agni maju selangkah. Namun ia tertegun pula ketika ia mendengar Dewi Amisani berkata, “Jangan mencoba berbuat apa-pun juga. Sekarang, dengarlah. Kau dapat berbuat apa-pun atas Kediri dan atas tubuh kami. Tetapi kau tidak akan dapat menumbangkan keteguhan jiwa kami. Kami adalah pewaris kerajaan ini. Sehingga hanya kamilah yang berhak menguasainya.”

“Ya. Tuan Puteri benar. Tuan Puterilah kini pewaris tunggal,” Mahisa Agni mencoba untuk melunakkan hati Dewi Amisani.

“Sayang, kau sudah mengotori istana ini. Akuwu Tumapel yang mengenakan gelar apa-pun juga, tidak berhak menguasai dan mewarisi Kerajaan Kediri.”

Mahisa Agni dan Sri Rajasa hanya membeku ditempatnya.

Sejenak mereka melihat Dewi Amisani tersenyum. Dibenahinya pakaiannya yang serba putih. Kemudian tiba-tiba saja tangannya telah menarik patremnya dari wrangka.

“Tuan Puteri. Jangan. Jangan.”

Dewi Amisani seolah-olah tidak mendengarnya. Katanya. “Kakanda Kertajaya. Kakanda Mahisa Walungan dan Adinda Dewi berdua telah terlampau lama menunggu aku. Karena itu tugasku telah selesai. Aku sudah menyatakan tekad kami.”

“Tetapi, tetapi … ” Sri Rajasa tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Tanpa sesadarnya ia berteriak, “Dewi Amisani.”

Tetapi patrem ditangan Dewi Amisani telah tertancap didadanya. Sejenak ia masih berdiri. Namun sejenak kemudian tubuhnya itu jatuh terduduk di singgasana Kediri.

Sri Rajasa meloncat hampir bersamaan waktunya dengan Mahisa Agni. Secepat dapat mereka lakukan, mereka mencoba untuk menahan tubuh puteri yang sudah tidak berdaya itu. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Dewi Amisani, mereka hanya dapat menguasai tubuhnya saja, karena Dewi Amisani itu-pun sudah menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

“O,” terdengar sebuah keluhan yang berat dibibir Sri Rajasa. Beratus-ratus kali ia melihat kematian. Sejak ia berkeliaran di Padang Karautan. Namun kali ini dadanya benar-benar telah berguncang melihat tiga orang puteri yang telah membunuh dirinya di atas Singgasana.

Sejenak Sri Rajasa berdiri membeku. Ditatapnya wajah Dewi Amisani yang seakan-akan sekedar tertidur di Singgasana. Namun darah yang memancar di dadanya benar-benar telah menggetarkan jantung.

Mahisa Agni-pun berdiri tanpa berkedip memandang ketiga puteri adik Sri Baginda Kertajaya itu. Perlahan-lahan wajahnya menunduk, dan dirasanya pelupuk matanya menjadi terlampau panas.

Para pemimpin Singasari dan para Senapati telah menundukkan kepala mereka. Demikianlah tekad yang menyala di dalam dada ketiga puteri Kediri itu.

Sejenak ruangan itu dicengkam oleh kesenyapan. Setiap orang yang berada di dalam bangsal paseban itu telah terpesona oleh peristiwa yang telah menggoncangkan dada mereka.

Sejenak kemudian maka Sri Rajasa yang telah menyadari keadaannya berkata, “Jangan terlampau lama dibiarkan. Jenazah ketiga puteri itu harus segera mendapat perawatan sebaik-baiknya.”

Tetapi ketika dua orang Senapati melangkah maju, Sri Ragasa berkata, “Jangan kau. Panggillah para emban. Biarlah orang-orang yang terbiasa berada di sekelilingnya setiap hari menyelenggarakan perawatan jenazah-jenazah itu.”

Senapati itu-pun kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu dan memanggil beberapa orang emban dan hamba istana yang lain.

Ketika para emban melihat ketiga jenazah itu, maka serentak mereka menjerit. Hampir berbareng mereka berlari-larian dan berebut dahulu memeluk ketiga puteri yang telah tidak bernafas lagi itu.

Tiba-tiba salah seorang emban telah menarik patrem dari dada Dewi Amisani. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, maka patrem itu-pun telah terhunjam didadanya sendiri.

Betapa terkejut para pemimpin tertinggi Singasari. Karena itu, maka Sri Rajasa sendiri segera meloncat, merebut ketiga patrem itu. Hampir saja dua orang emban telah melakukan tindakan serupa.

“Jangan bodoh,” Sri Rajasa berteriak, “kalau kalian mencintai ketiga puteri ini, kalian tidak akan berbuat begitu bodoh.”

Para emban itu memandang Sri Rajasa dengan penuh kebencian.

“Kalian boleh membenci aku. Tetapi kalian tidak dapat membiarkan jenazah ini tidak terawat, karena kalian telah membunuh diri kalian masing-masing.”

Tidak seorang-pun yang menyahut.

“Kami memang dapat mengurus jenazah ketiga puteri ini. Tetapi maksud kami, biarlah orang-orang yang dekat dengan ketiganya semasa hidupnyalah yang mengurus jenazahnya sebaik-baiknya.”

Para emban itu masih tetap berdiam diri.

“Nah, terserahlah kepada kalian. Apakah kalian benar-benar mencintai ketiga puetri itu atau kalian lebih mencintai diri sendiri dan berebut membunuh diri.”

Para emban dan hamba istana yang lain itu-pun menundukkan kepala masing-masing. Tetapi mereka masih tetap berdiam diri.

Namun dalam keheningan itu tiba-tiba seorang emban yang masih sangat muda berdiri sambil menunjuk wajah Sri Rajasa, “Kalian telah membunuh momonganku. Kenapa kalian tidak membunuh kami sama sekali. Kenapa kalian mencegah kami untuk membunuh diri?”

Ketika seorang Senapati melangkah maju, maka Sri Rajasa menahannya sambil berkata, “Biarkan mereka.”

“Jangan kau cegah. Kalau ia ingin membunuhku, inilah dadaku.”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kami tidak ingin membunuh siapapun. Ketiga puteri ini-pun bukan kamilah yang telak membunuhnya.”

“Aku tahu. Tuanku Puteri telah melakukan suduk sarira. Tetapi kalianlah yang menyebabkannya.”

“Sudahlah,” berkata Sri Rajasa, “apakah kalian masih akan membiarkan perasaan kalian berbicara tanpa menghiraukan ketiga puteri itu?”

Para emban itu seperti digerakkan oleh kekuatan yang tanpa mereka sadari telah menyusup di dalam diri mereka. Serentak mereka bergeser mendekati ketiga Puteri yang telah tidak bernafas lagi itu.

“Bawalah mereka ke bangsal keputren. Mereka akan mendapat perawatan sebagai tiga orang puteri adik seorang Raja yang besar. Seperti Sri Kertajaya dan Mahisa Walungan yang mendapat penghormatan terakhir sebagai seorang pahlawan besar.”

Para emban dan hamba istana itu-pun tidak menyahut lagi. Perlahan-lahan mereka mengangkat tubuh ketiga puteri itu bersama seorang emban yang telah membunuh dirinya pula. Tidak seorang-pun dari mereka yang tidak menitikkan air matanya. Bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang tidak mampu lagi membantu kawan-kawannya karena isaknya yang menghentak-hentak dada.

“Selenggarakan sebaik-baiknya. Semua kebutuhan untuk pemakaman ketiga jenazah itu. kamilah yang akan mengadakannya. Jangan takut, hubungilah kami.”

Para emban itu tidak menjawab. Tetapi beberapa orang diantara mereka menganggukkan kepala mereka.

Namun demikian para emban, terutama yang masih muda menjadi sangat cemas terhadap keadaan yang sedang dihadapi oleh Kediri. Hampir di setiap sudut istana tampak prajurit Singasari berjaga-jaga dengan senjata telanjang.

Seperti yang sering mereka dengar, prajurit yang berhasil memecahkan pertahanan lawan, kadang-kadang telah berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya. Terutama terhadap perempuan-perempuan muda.

Karena itu. hampir setiap emban telah membawa patrem pula di bawah ikat pinggang mereka. Mereka menganggap bahwa kematian adalah penyelesaian yang paling baik, daripada mereka jatuh ketangan prajurit-prajurit yang masih berbau darah. Darah orang Kediri sendiri.

Tetapi, ternyata bahwa prajurit Singasari tidak berbuat demikian. Betapa gilanya Ken Arok semasa mudanya, namun kini ia berusaha mengendalikan prajurit-prajuritnya. Ia menyadari, betapa pahitnya seseorang yang dibayangi oleh ketakutan, dan betapa pedihnya seorang gadis yang mengalami perkosaan.

Apalagi sikap Mahisa Agni yang merupakan salah seorang pemimpin Singasari yang dekat dengan Sri Rajasa, karena Mahisa Agni adalah Kakanda Permaisuri Singasari. Seperti Sri Rajasa ia selalu mengawasi para prajurit Singasari yang berada di dalam istana, dan lewat para Senapati, pengawasan yang serupa di seluruh daerah yang diduduki oleh prajurit Singasari.

Demikianlah, di pagi harinya, pemakaman katiga puteri Kediri itu-pun telah diselengarakan dengan upacara kebesaran. Meski-pun yang mengawal ketiga jenazah itu bukan prajurit Kediri, tetapi prajurit Singasari, namun semuanya dapat berlangsung sebaik-baiknya.

Sejak saat itu, maka Kerajaan Kediri telah tenggelam. Tidak ada lagi kekuatan yang dapat mempertahankan kehadirannya. Betapa prajurit yang gagah berani, tetapi kelengahan Sri Kertajaya karena kepuasan yang berlebih-lebihan telah tidak dapat menolong lagi. Sehingga akhirnya Kediri sampai pada puncak keruntuhannya, sebagai banjir bandang dari Singasari telah melandanya.

Tetapi ternyata Sri Rajasa adalah benar-benar seorang yang bijaksana. Seolah-olah bukan kehendaknya sendiri, bahwa ia telah melakukan suatu tindakan yang sangat terpuji.

Meskipun ia telah berhasil mengalahkan Kediri, tetapi Sri Rajasa tidak mempunyai maksud sama sekali untuk menduduki pusat kerajaan itu. Diserahkannya istana Kediri kepada keluarga Sri Kertajaya yang terdekat. Bukan saja untuk menguasai isi istana, tetapi juga memerintah tlatah Kediri atas namanya.

Mahisa Agni yang mengenal Ken Arok di masa mudanya, tidak dapat mengerti bagaimanakah sebenarnya sifat dan watak orang itu. Di Padang Karautan ia adalah hantu yang paling menakutkan. Kemudian ia adalah seorang prajurit yang patuh dan memegang teguh kewajibannya. Disaat-saat Mahisa Agni kehilangan keseimbangan, justru Ken Arok dapat memberinya peringatan. Namun pada suatu saat, Ken Arok itu juga telah membunuh mPu Gandring, kemudian mengorbankan Kebo Ijo dan membunuh pula Akuwu Tunggul Ametung. Namun kini, setelah ia berhasil menghancurkan kekuasaan Sri Baginda Kertajaya, maka ia telah berbuat sebagai seorang Raja yang terlampau bijaksana, seolah-olah Sri Rajasa itu sama sekali bukannya dan bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan Ken Arok dan apalagi dengan Hantu Karautan.

Dengan demikian maka kemudian pusat kerajaan telah berpindah dari Kediri ke Singasari. Sri Rajasa kini memegang seluruh kekuasaan dari seluruh daerah Kediri, sehingga namanya-pun kemudian menjadi semakin lama semakin besar.

Setelah peperangan selesai, dan setelah beberapa saat Sri Rajasa beserta para pemimpin Singasari berada di Kediri untuk mengatur perpindahan pusat kekuasaan dan menyerahkan pimpinan atas Kerajaan Kediri yang berada dibawah kekuasaan Singasari, maka datanglah saatnya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, dengan segala macam tanda kebesarannya sebagai seorang Maharaja, kembali ke istananya di Singasari. Beberapa utusan telah mendahuluinya dan mempersiapkan penyambutan di istana Singasari.

Mendengar berita tentang kedatangan Sri Rajasa maka gemparlah seluruh rakyat Singasari. Terutama mereka yang tinggal di sepanjang jalan yang akan dilalui Sri Rajasa. Tanpa diperintah oleh siapa-pun juga, maka hampir di setiap padukuhan telah dibuat gapura-gapura di depan regol. Rakyat yang dengan sepenuh minat ingin menyambut rajanya yang pulang dengan membawa kemenangan telah menghias padukuhan masing-masing dengan janur-janur kuning.

Apalagi gapura kota Singasari.

Di sepanjang jalan telah dibangun pula gardu-gardu untuk menempatkan seperangkat gamelan. Gamelan itu kelak apabila Sri Rajasa bersama iring-iringannya lewat, akan mengumandangkan gending-gending kemenangan.

Bagi rakyat Singasari. Sri Rajasa adalah seorang Pahlawan besar yang telah dapat melontarkan Singasari dari sebuah lingkungan pemerintahan yang kecil, yang dipimpin oleh seorang Akuwu menjadi sebuah kerajaan yang besar, yang justru melampaui kebesaran Kediri.

Rakyat Singasari, yang pada mulanya adalah rakyat Tumapel yang merasa dirinya tertampau kecil, kini mereka dapat membusungkan dada, bahwa mereka adalah rakyat dari suatu kerajaan yang besar, Singasari. Dan mereka adalah rakyat di pusat pemerintahan. Rakyat Kotaraja.

Kota Singasari sendiri seakan-akan telah dipenuhi dengan berbagai macam perhiasan. Di alun-alun Singasari, umbul-umbul, rontek dan panji-panji telah dipancangkan. Tidak hanya seperangkat gamelan yang telah siap di atas panggungan di sebelah-menyebelah paseban. Disitulah nanti penyambutan resmi akan dilakukan.

Para pemimpin pemerintahan Singasari dan para Senapati yang tidak ikut ke medan perang telah siap menerima kedatangan Sri Rajasa beserta pengiringnya.

Setiap kepala menengadah ketika mereka melihat dua ekor kuda berderap memasuki alun-alun. Keduanya adalah utusan Sri Rajasa yang memberitahukan bahwa iring-iringan Sri Rajasa telah mendekati kota.

“Sebentar lagi Sri Rajasa akan memasuki gerbang.”

“Apakah sekarang mereka sudah sampai dipintu gerbang?”

“Sebentar lagi.”

Para pemimpin yang sudah siap menyambut itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Para penabuh gamelan-pun telah siap ditempatnya. Apabila Sri Rajasa memasuki alun-alun, maka gamelan itu harus bersama-sama menyambutnya.

Pada saat itu Sri Rajasa telah berada di ambang pintu gerbang kota. Para petugas yang menyambutnya telah mengelu-elukannya. Beberapa orang gadis telah menaburkan bunga-bunga kepada Sri Rajasa yang duduk di atas seekor kuda, diiringi oleh Mahisa Agni dan para Panglima dan Senapati.

Suara gamelan kemudian mengumandang mengiringi derap kaki-kaki kuda yang berjalan perlahan-lahan, dibarengi dengan para prajurit yang berjalan kaki.

Betapa besar hati rakyat Singasari melihat Rajanya kembali dengan membawa kemenangan. Karena itu, maka sambutan rakyat-pun seakan-akan telah meledak.

Gadis-gadis yang berdiri di pintu gerbang masih menabur-naburkan bunga kepada para prajurit yang lewat di dalam barisan yang menyusup gerbang sampai bunga yang terakhir. Kemudian mereka-pun melambai-lambaikan tangan mereka, menyambut pasukan yang datang itu dengan penuh kegembiraan.

Di gardu-gardu panggungan yang terdapat dipojok-pojok desa, para pengawas yang melihat iring-iringan itu segera memukul kentongan. Berlari-larian rakyat menuju ke pinggir jalan. Sambil berteriak-teriak, mereka melambai-lambaikan tangan mereka dengan kegembiraan yang meluap.

Seluruh Singasari seakan-akan tengah dibakar oleh kegembiraan dan kebanggaan. Prajurit yang berjalan beriringan, bagaikan seekor ular Naga yang menyelusuri jalan-jalan menuju kepusat kota.

Di ujung iring-iringan itu. Sri Rajasa beserta beberapa orang pemimpin tertinggi Singasari berada di atas punggung kuda, dibayangi oleh tanda-tanda kebesaran yang jarang sekali keluar dari simpanan.

Selain rakyat Singasari dan para Senapati, maka di dalam istana-pun sedang sibuk dilakukan persiapan penyambutan. Kedua isteri Sri Rajasa, sibuk mengadakan persiapan masing-masing. Namun adalah merupakan semacam keharusan yang tidak disebutkan di dalam peraturan resmi, bahwa Sri Rajasa akan diterima lebih dahulu di istana dalam oleh Permaisurinya. Upacara penyambutan khusus akan dilakukan oleh para pemimpin tertinggi Singasari yang tidak ikut menyerang Kediri, bersama Permaisuri Sri Rajasa, Ken Dedes. Sedang Ken Umang akan hadir di dalam upacara itu, tetapi tidak akan melakukan penyambutan resmi.

Demikianlah maka akhirnya iring-iringan itu-pun memasuki pusat Kotaraja. Sebentar kemudian ujung dari iring-iringan itu-pun telah memasuki alun-alun Singasari.

Suara gamelan yang menyambut kedatangan Sri Rajasa, bagaikan meledaknya guntur di langit. Sorak sorai rakyat yang berjejal-jejal seakan-akan memecahkan selaput telinga.

Apalagi ketika Sri Rajasa kemudian sampai di tengah-tengah alun-alun. Di atas punggung kudanya ia melambai-lambaikan tangannya kepada rakyatnya yang mengelu-elukannya.

“Sri Rajasa adalah raja yang paling besar pada jaman ini,” desis seorang yang telah berambut putih di pinggir alun-alun.

Kawannya berbicara-pun mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya. Yang terbesar. Seandainya daerah ini masih diperintah oleh Akuwu Tunggul Ametung, maka Tumapel pasti masih tetap saja merupakan daerah yang kecil dan diam. Akuwa Tunggul Ametung adalah seorang yang sakti pilih tanding. Tetapi ia terlampau cepat menjadi puas dengan keadaannya. Ia sudah puas dengan Permaisurinya yang cantik, dengan taman di sebelah padang Karautan, dengan kota yang sedikit ramai dan beberapa orang prajurit pilihan. Ia sudah menjadi puas dengan hasil buruannya, dengan kulit harimau di lantai biliknya.”

Orang yang berambut putih itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Aku adalah prajurit pilihan saat itu. Aku adalah seorang prajurit pengawal istana dibawah pimpinan Witantra. Tetapi aku terlampau cepat menjadi tua, sehingga aku segera mengundurkan diri,” orang itu berhenti sejenak, “semula aku kagum akan kesetiaan Witantra. Namun kini ternyata bahwa Witantra telah berbuat kesalahan. Seandainya pembelaannya atas Kebo Ijo dengan perang tanding di arena itu dimenangkannya, dan keadaan Singasari tidak seperti sekarang ini, maka Tumapel masih akan tetap merupakan daerah kecil dibawah kekuasaan Sri Baginda Kertajaya di Kediri.”

Kawannya berbicara masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku adalah bawahan Witantra,” katanya pula, “dan aku tidak menyangka bahwa di Tumapel ada orang yang mampu mengalahkannya di arena. Karena itu, secara tidak langsung, Kakanda Permaisuri yang bernama Mahisa Agni itu telah meratakan jalan bagi Sri Rajasa untuk naik takhta.”

“Dan sekarang Kakanda Tuan Puteri itu-pun telah mendapatkan tempat yang baik. Ia merupakan sayap kanan yang telah memacu Singasari ke tingkatnya yang sekarang.”

“Berita yang mendahului para prajurit itu mengatakan, bahwa Mahisa Agni lah yang berhasil membunuh Menteri yang paling setia kepada Kediri, Gubar Baleman.”

Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka terpaksa berhenti berbicara karena sorak sorai yang seakan-akan hendak meruntuhkan langit.

Kini Sri Rajasa berdiri diatas panggungan yang sudah disediakan. Meskipun Sri Rajasa tidak mengucapkan sepatah katapun, namun senyumnya telah menumbuhkan getaran di setiap dada rakyat Singasari yang menyaksikannya.

Sejenak kemudian Sri Rajasa turun dari panggungan dan langsung menuju ke paseban.

Di tangga peseban itulah Sri Rajasa telah disambut dengan resmi oleh para pemimpin tertinggi Singasari. Sri Rajasa dengan resmi pula menyerahkan sebatang tombak yang kemudian oleh seorang Senapati yang menyambutnya, telah dimasukkannya kedalam wrangkanya, sebagai perlambang bahwa perang telah selesai.

Setelah upacara resmi berlangsung sejenak, maka Sri Rajasa-pun langsung menuju ke bangsal dalam istana Singasari. dimana akan dilakukan sambutan khusus oleh keluarga istana. Namun para Senapati dan Panglima yang ikut didalam penerangan, tidak semua mengikutinya. Mereka tinggal di-paseban bersama para Senapati yang menyambut mereka. bahwa mereka yang termasuk dalam lingkungan terdekat sajalah yang ikut dengan Sri Rajasa masuk ke ruang dalam.

Dada Sri Rajasa menjadi berdebar-debar ketika di muka pintu bangsal dilihatnya Putera Mahkota, Anusapati, dalam pakaian kebesarannya siap menyambut kedatangan Ayahanda Sri Rajasa yang baru datang dari peperangan membawa kemenangan.

Dengan susah payah Sri Rajasa telah berusaha menguasai perasaannya. Mau tidak mau, sekilas terbayang wajah Akuwu Tunggul Ametung di wajah Putera Mahkota itu. Bahkan di dalam hatinya yang paling dalam terbersit penyesalan, “Aku telah melakukan perang yang dahsyat. Aku telah berhasil menguasai Kediri, dan setiap orang mengelu-elukan aku sebagai seorang pahlawan. Tetapi ketika aku pulang membawa keemenangan, maka kemenangan itu harus aku serahkan kepada seorang yang bukan tetesan darahku sendiri.”

Agaknya sentuhan perasaannya itu telah mempengaruhinya betapa ia berusaha, sehingga langkahnya-pun menjadi tertegun-tegun.

Namun adalah di luar tata upacara penyambutan, ketika tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari mendahului Putera Mahkota menyambut kedatangan Sri Rajasa.

Sebenarnya anak laki-laki itu tidak akan terlampau banyak mempengaruhi jalannya upacara. Tidak banyak orang yang memperhatikannya. Memang satu dua orang terkejut melihat anak itu berlari-lari. Namun kemudian mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka, karena anak laki-laki itu adalah Putera Sri Rajasa sendiri yang bernama Tohjaya.

Betapa Sri Rajasa adalah seorang Raja yang bijaksana di medan peperangan, melampaui dugaan setiap orang, namun di dalam keadaan yang tiba-tiba, ia adalah seorang manusia yang dipengaruhi oleh perasaannya. Perasaan sebagai seorang manusia biasa, sebagai seorang ayah dan sebagai seorang suami.

Kini Sri Rajasa dihadapkan kepada dua orang anak laki-laki. Yang seorang adalah Putera Mahkota yang secara resmi menyambutnya, sedang yang lain adalah seorang anak laki-laki, anaknya sendiri. Meskipun setiap orang menyebutnya bahwa keduanya adalah anaknya, namun Sri Rajasa sendiri mengetahui, bahwa Putera Mahkota yang bernama Anusapati itu adalah anak Akuwu Tunggul Ametung yang telah dibunuhnya.

Karena iti, di dalam keadaan yang tiba-tiba, tanpa kesempatan untuk mempergunakan nalar. Sri Rajasa telah berbuat seperti sewajarnya manusia. Yang pertama-tama menyentuh perasaannya, adalah anak lakinya sendiri. Tohjaya, bukan Anusapati.

Itulah sebabnya maka yang pertama-tama diraihnya, adalah Tohjaya. Diguncang-guncangnya tubuh anak laki-laki yang sehat kekar itu. Sambil menepuk bahunya berulang-ulang, Sri Rajasa mencium pipi anak laki-laki itu sambil berbisik, “Kau sehat-sehat saja bukan Tohjaya?”

“Hamba Ayahanda Baginda. Hamba sehat-sehat saja.” jawab anak itu dengan wajah berseri-seri.

Sri Baginda tertawa. Ditepuknya kepala anak itu. Kemudian katanya, “Bagus. Dimana ibumu?”

“Di dalam. Ibu berada didalam bangsal, tetapi duduk di belakang ibu Permaisuri. Kenapa ibu tidak boleh duduk berjajar dengan ibu Permaisuri?”

“Hus,” Sri Rajasa berdesis. Tetapi ia tertawa sambil bergumam, “Inilah namanya mulut anak-anak. Duduklah di tempatmu.”

Tohjaya memandang wajah ayahnya dengan kecewa. Namun kemudian didorongnya anak itu sekali lagi sambil berkata, “Kembalilah ke tempatmu.”

Tohjaya-pun kemudian berjalan kembali ke tempatnya. Ketika ia lewat di samping Anusapati ia masih sempat mencibirkan bibirnya.

Anusapati sama sekati tidak menanggapinya. Tetapi agaknya ia lebih terikat pada keharusan menyesuaikan diri dengan tata upacara, sehingga ia tidak dapat berbuat sebebas adik tirinya, Tohjaya. Apalagi sifat pribadi Anusapati memang sangat berlainan dengan sifat Tohjaya yang lebih terbuka, bebas dan merasa dirinya dapat berbuat apa-pun tanpa dimarahi oleh ayahanda Sri Rajasa. Serta dengan penuh kesadaran ia mengerti, bahwa ia adalah putera tersayang orang yang paling berkuasa di Singasari, dan yang kini bahkan menguasai seluruh daerah Kediri.

Peristiwa yang tampaknya kecil itu memang tidak mempengaruhi keseluruhan upacara. Para Senapati dan pemimpin Singasari yang mengikuti Sri Rajasa hanya tertegun sejenak.

Namun mereka-pun segera tersenyum pula. Apalagi mereka yang mempunyai anak laki-laki sebesar Tohjaya. Mereka-pun telah terbayang wajah anak-anak mereka, seolah-olah mereka-pun ingin segera memeluknya pula. Tetapi mereka masih harus menyelesaikan upacara itu, barulah mereka boleh pulang ke rumah masing-masing.

Tetapi peristiwa yang sekejap itu benar-benar telah membekas di dada beberapa orang. Sri Rajasa sendiri kemudian segera melupakannya. Ia-pun segera melangkah maju. Sambil tersenyum pula betapa hambarnya ia mengangguk-angguk ketika Putera Mahkota secara resmi berlutut dihadapannya dan membungkukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembah.

Dengan ujung jari-jarinya Sri Rajasa menyentuh punggung anak itu sambil berkata, “Terima kasih anakku. Bangkitlah.”

Anusapati-pun kemudian bangkit dan berdiri sambil menundukkan kepalanya.

Dengan ujung jarinya pula Sri Rajasa mengangkat dagu Anusapati sambil berkata, “Kau tampak pantas sekali dengan pakaian kebesaranmu Anusapati.”

Anusapati menjawab tersipu-sipu, “terima kasih Ayahanda.”

“Bagus. Kau memang pantas menjadi seorang Putera Mahkota. Nah, duduklah.”

Anusapati-pun kemudian dibawa oleh seorang Senapati kembali ke tempatnya, di sisi sebelah kanan Singgasana Sri Rajasa.

Hal itu-pun seolah-olah tidak menumbuhkan sesuatu masalah di dalam upacara itu. Sri Rajasa sudah memenuhi adat sebagai seorang Raja yang menerima sambutan seorang Putera Mahkota.

Namun didalam kesempatan itu, hati Ken Dedes, Permaisuri Singasari benar-benar telah tertusuk. Bukan saja karena Tohjaya seakan-akan merebut kesempatan pertama menerima salam Sri Rajasa setelah membawa kemenangan dari medan perang, tetapi sikap Sri Baginda sendiri telah benar-benar melukai hati Permaisuri.

Sebagai seorang Permaisuri ia sudah mendapat tempatnya tersendiri. Duduk di sebelah kiri Sri Rajasa. Sedang Ken Umang, sebagai isteri kedua Sri Baginda, duduk di belakangnya. Tetapi ternyata, hati Ken Dedes sebagai seorang Isteri benar-benar telah pecah.

Ketika Sri Rajasa menerima sambutan Tohjaya. maka Sri Rajasa telah bertanya kepada anak itu, “Dimana ibumu?” Tetapi kepada Anusapati Sri Rajasa sama sekali tidak bertanya tentang ibunya. Mungkin karena tempat Permaisuri yang sudah pasti itulah yang menyebabkan Sri Rajasa tidak bertanya. Namun sebagai seorang perempuan, sebagai seorang isteri, Ken Dedes benar-benar telah tersinggung karenanya.

Ternyata bukan saja Ken Dedes yang telah diguncang hatinya didalam peristiwa itu. Mahisa Agni, yang berdiri di belakang Sri Rajasa-pun terpaksa meraba dadanya. Hatinya benar-benar bergejolak, ketika ia melihat perbedaan sikap di saat-saat Sri Baginda menerima sambutan kedua anak laki-itu.

Di medan perang Mahisa Agni benar-benar telah mengagumi Sri Rajasa. Sri Rajasa sebagai seorang prajurit yang berani, tangguh dan yang akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, bahkan berhasil mengalahkan dua Senapati besar dari Kediri, kakak beradik Mahisa Walungan dan Sri Baginda Kertajaya sendiri. Kemudian Mahisa Agni-pun mengagumi sikap Sri Rajasa sebagai seorang yang berjiwa besar, yang pantas untuk memegang tampuk pimpinan suatu Kerajaan yang besar seperti Kediri yang kemudian dipindahkan ke Singasari tanpa memadamkan sama sekali kekuasaan yang ada di Kediri.

Namun tiba-tiba kini ia melihat Sri Rajasa sebagai seorang manusia, sebagai seorang laki-laki yang tidak dapat berdiri adil diantara kedua isterinya dan sebagai seorang ayah yang tidak adil terhadap anak-anaknya, meski-pun Mahisa Agni-pun tahu, bahwa Anusapati itu bukan anak Ken Arok, bahkan Mahisa Agni tahu dan meyakini, bahwa Ken Arok itulah yang telah membunuh ayah Anusapati.

Dengan demikian maka Mahisa Agni menjadi bingung, bagaimana ia harus bersikap dan memandang terhadap Sri Rajasa. Sri Rajasa adalah ujud gabungan dari keperwiraan yang paling jantan, keberanian dan kebijaksanaan tetapi juga ujud yang utuh dari kejahatan dan kebencian, kedengkian dan warna-warna hati yang gelap lainnya.

Di dalam pandangan mata hati Mahisa Agni, Sri Rajasa adalah wadah dari segala sifat dan watak manusia yang beraneka warna dengan segala macam perwujudannya.

Bahkan di dalam gelora hati yang serasa membakar dadanya, karena Mahisa Agni melihat mata Ken Dedes yang basah, Mahisa Agni tanpa sesadarnya telah menilai dirinya sendiri.

“Betapa dahsjatnya Sri Rajasa. Ia mampu membunuh Sri Baginda Kertajaya. Tetapi betapa tinggi ilmunya, ia tidak akan jauh atau bahkan tidak melampaui kemampuan yang aku miliki sampai taraf ini.” Mahisa Agni menelan ludahnya. Dan dengan mata yang menyala ia berkata pula didalam hatinya, “segala macam sifat dan sikap itu memang harus diimbangi.”

Sekilas, teringatlah Mahisa Agni kepada pusaka simpanannya pemberian gurunya. Sebuah trisula kecil yang berwarna kekuning-kuningan. Sejak semula ia merasa, bahwa ia memiliki beberapa kelebihan dari Ken Arok yang kini bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Tetapi sejak semula ia melihat, bahwa seolah-olah Ken Arok memang tidak akan dapat dikalahkan oleh manusia biasa. Semakin tinggi ilmu lawannya, seolah-olah Ken Arok-pun menjadi semakin tangguh. Semakin kuat serangan-serangan lawannya, maka tubuh Ken Arok itu-pun rasa-rasanya menjadi semakin kebal. Meski-pun ia tidak mempergunakan ilmu tertentu, tetapi justru didalam kekacauan dan kekasaran itulah terletak kelebihan-kelebihannya di setiap perkelahian.

“Tetapi, Ken Arok tidak akan dapat menghindarkan diri dari kekuatan yang tersembunyi di dalam pusaka itu,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya pula, “ia akan menjadi silau dan tidak akan mampu memusatkan segenap kekuatan lahir dan batin yang tanpa disadarinya sendiri, telah membuatnya menjadi manusia yang luar biasa.”

Mahisa Agni itu tersadar ketika seorang Senapati mempersilahkannya duduk di sebelah Putera Mahkota, Anusapati. Seperti terbangun dari tidur, Mahisa Agni tergagap sejenak. Namun segera ia berhasil menguasai dirinya dan sambil tersenyum duduk di sebelah kemanakannya.

Sejenak kemudian maka upacara resmi-pun dilakukannya. Sri Rajasa menerima seikat sadak kinang dengan segala kelengkapannya, buah jambe, enjet dan daun sirih. Kemudian dilakukannya upacara-upacara yang lain. yang memang seharusnya dilakukan.

Tetapi agaknya upacara itu memang tidak menarik hati Sri Rajasa sendiri. Ikatan-ikatan, kehidupan yang resmi seperti itu tidak begitu disukainya. Ia lebih suka berada di kebun dan halaman sebagai seorang manusia yang bebas, meskipun tidak sebebas selagi ia berada di Padang Karautan.

Namun ternyata kini yang berada di puncak kekuasaan itu, suami isteri, bukanlah keturunan raja-raja yang sejak kecilnya dikungkung oleh upacara-upacara adat yang membosankan.

Ken Arok di masa kecilnya adalah hantu yang menakutkan, yang berkeliaran di Padang Karautan sebebas burung di udara. Sedang Permaisuri nya adalah seorang gadis Padepokan yang lebih banyak bermain di bendungan daripada keharusan memenuhi upacara-upacara, meskipun ayahnya seorang pendeta.

Sedang Ken Umang adalah bagaikan seekor kijang yang kehausan, yang menemukan mata-air yang jernih melimpah-limpah.

Kumpulan orang-orang itulah yang kini duduk ditempat tertinggi di Kerajaan Singasari ditambah dengan Mahisa Agni, seorang yang hampir kehilangan gairah hidupnya setelah ia gagal menemukan sandaran hati. Namun kemudian ia berhasil bangkit dari himbauan perasaan remajanya dan menguasai dirinya sendiri dengan penuh kedewasaan.

Karena itulah, maka upacara itu-pun tidak berlangsung lama. Sri Rajasa yang kecuali lelah, juga segera jemu mengikuti berbagai macam acara-acara resmi. Sehingga dengan demikian, maka upacara itu-pun segera berakhir seperti yang diharapkan oleh semua orang yang hadir.

Para Senapati-pun ingin segera pulang ke rumah masing-masing, oleh kerinduan yang tidak tertahan-tahan. Setelah mereka meninggalkan keluarga mereka, isteri dan anak-anak, maka kini mereka telah berada kembali di Singasari, sehingga seolah-olah kerinduan itu-pun menjadi kian bertambah-tambah. Selangkah lagi mereka akan sampai di rumah masing-masing, di antara keluarga yang pasti menunggunya dengan penuh harapan.

Demikianlah maka upacara resmi itu-pun segera berakhir. Masing-masing segera kembali ke tempatnya. Permaisuri-pun segera memasuki bangsal Keputren, sedang Ken Umang-pun kembali ke bangsalnya pula diiringi oleh para embannya dan Tohjaya.

Sejenak kemudia bangsal itu-pun telah menjadi sepi. Masing-masing kembali ke dalam lingkungannya yang telah sekian lama ditinggalkannya.

Hanya Mahisa Agni sajalah yang kemudian masih merenungi kesepiannya sendiri.

Di bangsal Keputren Ken Dedes duduk merenungi keadaan dirinya. Di sampingnya Putera Mahkota berjalan hilir mudik. Sekali-kali ditatapnya wajah ibunya yang muram. Namun kemudian dilemparkannya pandangan matanya jauh ke luar, ke batang-batang rumput dan bunga-bungaan di halaman.

Adalah sama sekali di luar dugaan ketika Anusapati itu kemudian mendekati ibunya. Dengan ragu-ragu ia berjongkok di hadapannya.

“Ibu,” katanya lirih.

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Kemudian ditatapnya wajah anaknya.

“Ibu,” sekali lagi Anusapati memanggil ibunya.

“Ada apa Anusapati?”

“Apakah benar aku pantas mengenakan pakaian ini?”

“O,” Ken Dedes memaksa bibirnya untuk tersenyum, “Tentu. Kau pantas sekali mengenakan pakaian itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Mudah-mudahan aku benar-benar pantas mengenakan pakaian ini.”

“Anusapati,” desis ibunya, “kenapa kau berkata begitu? ”

Anusapati menggelengkan kepalanya.

“Kenapa Anusapati?” diangkatnya dagu anaknya yang menunduk, “apakah kau merasa bahwa pakaian ini kurang pantas bagimu?”

Anusapati tidak segera menyahut. Diamat-amatinya pakaiannya seolah-olah ia tidak mempercayainya.

Ken Dedes-pun kemudian berjongkok pula di hadapan anaknya. Sambil menepuk kedua bahunya ia berkata, “Apakah kau ragu-ragu?”

Jawab Anusapati-pun telah mengejutkannya, “Ya ibu.”

Dada Ken Dedes berdesir. Agaknya perasaan Anusapati cukup tajam untuk menangkap keadaan di sekitarnya dan apalagi yang langsung menyangkut dirinya.

“Kenapa kau ragu-ragu Anusapati? Kenapa?”

Anusapati tidak menjawab. Tetapi diedarkannya pantangan matanya kepada para emban yang berada di dalam bangsal itu pula. Seakan-akan ada sesuatu yang akan dikatakannya, tetapi tidak boleh didengar oleh orang lain.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditariknya puteranya itu berdiri sambil berkata, “Jangan memikirkan sesuatu yang aneh-aneh. Kau adalah Putera Mahkota. Kau harus melatih dirimu untuk menghadapi tanggung jawab yang besar. Jangan kau biasakan dirimu mempersoalkan hal-hal yang terlampau kecil. Soal pakaian misalnya.”

Anusapati memandang ibunya dengan tatapan mata yang dalam. Ada sesuatu yang masih ingin dikatakannya, tetapi seolah-olah tertahan dikerongkongan.

Ken Dedes sebagai seorang ibu, melihat percikan persoalan di dada Puteranya, tetapi ia sadar, bahwa Anusapati tidak akan mengatakannya di hadapan para emban. Karena itu, maka Ken Dedes-pun tidak akan memaksanya untuk mengatakannya.

Maka Ken Dedes-pun kemudian berkata, “Anusapati. Upacara telah selesai. Biarlah embanmu melayanimu berganti pakaian. Pakaian kebesaran itu harus segera disimpan. Nanti, apabila Ayahanda Sri Baginda telah selesai dengan membenahi dirinya, mungkin kau diperlukannya. Kau harus menghadap mendengarkan ceritera ayahanda tentang peperangan yang telah dimenangkan itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah ibu. Aku akan berganti pakaian.”

Anusapati-pun kemudian meninggalkan bangsal Keputren bersama embannya. Emban yang menemukan sesuatu yang lain dalam hubungannya dengan anak itu, sehingga ia sudah berketetapan untuk tidak melakukan pesan Ken Umang sebaik-baiknya. Tiba-tiba hatinya yang berbisa, setajam bisa ular menjadi luluh oleh kepribadian yang lembut dan keprihatinan yang berat pada Anusapati.

Dengan kasih sayang, Anusapati-pun kemudian dilayaninya berganti pakaian di dalam biliknya sendiri, di bangsal yang lain. Sejenak Anusapati tidak berkata sepatah kata-pun karena angan-angannya yang sedang diliputi oleh suatu teka-teki yang tidak terpecahkan. Sebenarnya ia ingin menanyakannya kepada ibunya, tetapi pertanyaan itu tidak dapat diucapkannya.

Namun betapa dadanya serasa telah disesakkan oleh teka-teki itu. Sedang orang yang terdekat saat itu adalah embannya. Karena itu, untuk mengurangi kepepatan didadanya, Anusapati tidak dapat menahan pertanyaannya lagi.

“Bibi,” katanya kemudian, “apakah aku pantas mengenakan pakaian kebesaran seorang Putera Mahkota?”

Embannya terkejut. Ia mendengar pertanyaan itu pula dihadapan ibunda Permaisuri. Dan sekarang pertanyaan itu diberikannya kepadanya.

“Tuanku,” berkata emban itu kemudian, “bukankah Tuan Puteri sudah berpesan, jangan memikirkan hal yang kecil-kecil. Mulailah memikirkan masalah-masalah yang besar. Pakaian itu adalah pakaian kebesaran Putera Mahkota. Pakaian itu adalah pertanda bahwa Tuanku sudah mendapat kedudukan sebagai seorang Putera Mahkota. Pantas atau tidak pantas itu-pun sama sekali tidak penting, karena siapa-pun yang menjadi Putera Mahkota, memang harus mengenakan pakaian itu. Seandainya ia gemuk berkulit hitam, atau kurus berkulit kuning, atau pendek atau tinggi, semuanya akan mengenakan pakaian kebesaran serupa itu.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Bibi, aku tidak ingin menanyakan tentang pakaian itu. apakah sesuai dengan tubuhku atau tidak.”

“Jadi?”

“Maksudku, apakah aku pantas mengenakan pakaian itu? Maksudku apakah aku pantas menjadi seorang Putera Mahkota?”

“O,” emban itu terpaku sejenak ditempatnya. Pertanyaan itu telah menggetarkan jantungnya. Dalam pertanyaan itu terselip sesuatu yang dalam sekali.

“O. Inikah yang dikehendaki oleh Sri Rajasa dan Tuan Puteri Ken Umang?”

Sejenak emban itu termenung. Ia adalah emban bukan emban kebanyakan. Ia telah dikirim oleh Ken Umang untuk membantunya, menekan perkembangan jiwa Anusapati. agar Putera Mahkota itu tidak dapat berkembang sesuai dengan kedudukanrya. Dan di saat-saat permulaan ia telah menjalankan tugasnya dengan baik. Ia telah membantu membuat Anusapati semakin kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.

Tiba-tiba ia sadar betapa jahatnya perbuatan itu. Betapa jahatnya usaha itu.

“Bagaimana bibi?” terdengar Anusapati mendesak, “apakah aku pantas mengenakan pakaian-pakaian itu?”

Tiba-tiba diraihnya Anusapati didalam pelukannya. Emban itu tanpa disadari telah menangis sambil memeluk Putera Mahkota itu erat-erat.

“Kenapa bibi menangis? Apakah aku menyakiti hati bibi?”

“Tidak. Tidak ngger. Tidak. Tuanku tidak menyakiti hati bibi.”

“Kenapa bibi menangis?”

“Tidak apa-apa. Tuanku. Hamba tidak apa-apa.”

Anusapati menjadi heran. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ketika pelukan embannya itu dilepaskan, Anusapati berdiri termangu-mangu.

“Tuanku Putera Mahkota adalah Putera Mahkota yang paling cakap, yang paling sesuai dan yang paling tepat memangku jabatannya. Tuanku kelak akan menjadi raja besar, yang memerintah seluruh daerah Kediri lama. Tuanku akan menggantikan ayahanda Sri Rajasa. Karena itu Tuanku harus mantap. Tuanku tidak boleh ragu-ragu seperti ayahanda Baginda tidak ragu-ragu pula.”

“Tetapi … ” Anusapati menjadi ragu-ragu.

“Tetapi kenapa Tuanku? Apakah Tuanku kecewa karena sesuatu?”

Anusapati ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi diurungkannya niatnya. Bagaimana-pun juga, ia tidak dapat mengatakannya kepada orang yang masih dianggapnya orang lain.

“Sudahlah Tuanku. Tuanku harus berganti pakaian. Mungkin Tuanku Sri Rajasa akan segera memanggil Tuanku setelah Ayahanda Baginda beristirahat sejenak. Agaknya sebelum Ayahanda Baginda menceriterakan kemenangan yang dibawanya dari medan perang dengan resmi nanti malam di bangsal paseban luar, yang akan dihadiri oleh pemimpin pemerintahan selengkapnya. Ayahanda Baginda akan menceriterakannya kepada Putera Mahkota.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan hati yang kosong. Anusapati-pun kemudian menukar pakaiannya dengan pakaian sehari-hari. Kalau Sri Rajasa yang kemudian beristirahat di bangsal induk istana memanggilnya, maka ia harus sudah siap.

Setelah selesai berpakaian, maka Anusapati-pun duduk merenung di dalam ruangan yang sepi. Embannya masih membenahi pakaian kebesarannya yang harus disimpannya baik-baik. Di luar satu dua orang emban berjalan hilir mudik menyelesaikan pekerjaan masing-masing.

Beberapa saat Anusapati duduk merenung. Ia memang mengharap untuk dapat menghadap Ayahanda Baginda.

“Bagaimanakah ceritera tentang peperangan yang baru saja dilakukan itu, pasti sangat menarik perhatian.”

Terbayang di dalam angan-angan Anusapati, sepasukan prajurit yang berderap maju dengan senjata yang telanjang di tangan. Dengan tekad yang menyala di setiap dada di dalam mengemban tugas, mempertaruhkan nyawa.

“Mereka adalah prajurit-prajurit,” katanya di dalam hati.

Tetapi ternyata tidak ada seorang-pun yang datang kepadanya. Tidak ada utusan ayahanda Baginda yang memanggilnya. Anusapati akhirnya duduk terkantuk-kantuk di tempatnya. Kekecewaan yang memang sudah ada di dalam hatinya, keragu-raguan dan kurang percaya kepada diri sendiri membuatnya tidak berpengharapan lagi untuk dapat menghadap ayahanda untuk mendengarkan ceritera tentang peperangan itu.

Anusapati menggeleng-gelengkan kepalanya ketika kantuknya benar-benar telah mencengkam matanya. Karena itu, untuk mempertahankan diri dari kantuk yang sangat, ia-pun berdiri dan melangkah keluar pintu bangsal.

Di luar ia melihat dua orang prajurit peronda yang sedang berkeliling. Ketika kedua prajurit itu melihat Anusapati, mereka-pun menganggukkan kepala mereka. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah Tuanku tidak menghadap Ayahanda Sri Rajasa?”

Anusapati mengerutkan keningnya.

“Ayahanda Sri Baginda sedang berceritera tentang perang yang baru saja berlangsung kepada adik-adik tuanku. Kenapa tuanku tidak menghadap?”

Dada Anusapati berdesir.

“Apakah ayahanda memanggil adik-adikku?”

“Ya tuanku. Hambalah yang memanggil tuanku Tohjaya bersama adik-adik. Apakah tuanku akan menghadap?”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Apakah kalian mendapat perintah untuk memanggil aku?”

Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun dengan berat salah seorang dari mereka berkata, “Ampun tuanku. Hamba tidak mendapat perintah itu. Hamba kira orang lainlah yang mendapat perintah melakukannya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih. Aku akan menunggu di sini.”

Kedua orang prajurit itu-pun kemudian menganggukkan kepala mereka sekali lagi, dan pergi meninggalkan Anusapati yang termangu-mangu.

Sepeninggal orang itu, Anusapati melangkah masuk ke dalam biliknya sambil menundukkan kepalanya. Ternyata ia tidak ikut mendapat kesempatan melepaskan kerinduan ayahanda setelah sekian lama berpisah.

Tanpa disadarinya, maka Anusapati-pun duduk dengan lesu sambil mengusap setitik air mata yang membasahi pelupuknya.

Anusapati tidak menjadari ketika embannya yang telah selesai membenahi pakaiannya, memandanginya dengan wajah yang muram. Apalagi ketika embannya itu melihat, Anusapati mengusap titik-titik air dimatanya.

Dengan nada keibuan embannya bertanya, “Kenapa tuanku selalu tampak muram?”

Anusapati terkejut. Terbata-bata ia menjawab, “Aku tidak apa-apa.”

Embannya menggelengkan kepalanya, “Tuanku pasti sedang dirisaukan oleh perhatian tuanku kepada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipersoalkan,” emban itu berhenti sejenak, “sudahlah tuanku. Jangan sakiti hati sendiri dengan bermacam-macam masalah yang tidak berarti.”

Tiba-tiba kepala Anusapati menunduk. Kata-kata embannya itu justru telah membuat hatinya semakin pedih.

“Tuanku,” embannya mendekatnya, kemudian berlutut dihadapannya, “apakah yang sebenarnya tuanku pikirkan? Tentang pakaian atau tentang diri tuanku sendiri?”

Anusapati menggeleng. Namun ia tidak dapat ingkar lagi. Katanya, “Aku tidak akan dipanggil oleh ayahanda. Adik-adikku sudah menghadap. Tetapi ayahanda memang melupakan aku.”

“Ah, tentu tidak. Mungkin ayahanda terlampau lelah, sehingga ayahanda tidak sempat memanggil putera-puteranya.”

“Tidak. Menurut prajurit-prajurit yang lewat di muka bangsal ini, Ayahanda Baginda telah memanggil adimas Tohjaya dan adik-adikku yang lain. Ayahanda memang berceritera tentang perang yang baru saja terjadi. Tentang kemenangan mutlak dari pasukan Singasari. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan.”

Dada emban itu berdesir.

“Darimana tuanku tahu?” ia bertanya.

“Sudah aku katakan, prajurit yang meronda halaman. Prajurit pengawal istana.”

“Ah. Mungkin mereka keliru tuanku.”

“Merekalah yang memanggil Adimas Tohjaya.”

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia harus sudah mengetahui kemungkinan itu sebelumnya. Namun kini terasa bahwa hal itu terlampau berlebih-lebihan. Meskipun Pangeran Pati Anusapati masih belum dewasa penuh, namun perasaannya cukup tajam untuk menangkap keadaan yang pincang itu dan menghubungkannya dengan ikatan seluruh keluarganya yang aneh baginya.

Tetapi emban itu masih mencoba menghiburnya, “Tuanku. Mungkin Tuanku Sri Rajasa kini berpendirian lain. Tuanku Anusapati adalah Putera Mahkota, sehingga tidak pantas lagi berkumpul dengan adik-adik yang masih terlampau kanak-kanak. Tuanku nanti akan mendapat kesempatan yang khusus. Bahkan mungkin tuanku akan mendapat kesempatan tersendiri bersama orang-orang penting lainnya.”

Dada emban itu menjadi trenyuh ketika ia melihat Anusapati menggelengkan kepalanya, “Tidak bibi. Aku memang tidak akan mendapatkan kesempatan itu. Keadaan seperti inilah yang kadang-kadang menumbuhkan pertanyaan yang aneh-aneh didalam diriku.”

“O, tuanku terlalu perasa. Hati tuanku lembut melampaui hati perempuan.”

Anusapati tidak segera menyahut. Ditengadahkannya wajahnya untuk menahan air dipelupuk matanya. Sedang kerongkongannya terasa menjadi seolah-olah tersumbat.

Dalam kepahitan perasaan itulah tiba-tiba Anusapati dan juga embannya terkejut ketika mereka mendengar suara dari sebelah pintu yang tidak tertutup rapat, “Jangan kecewa Anusapati. Aku juga dapat berceritera tentang peperangan itu.”

Keduanya serentak berpaling. Tanpa sesadarnya Anusapati-pun meloncat berlari menyongsong orang yang berbicara diluar pintu itu.

“Paman Mahisa Agni.”

Mahisa Agni menarik, nafas dalam-dalam. Anusapati langsung memeluk pinggangnya sambil mengusapkan wajahnya yang basah pada pakaian Mahisa Agni.

“Duduklah,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku akan berceritera untukmu. Bukankah aku juga ikut di dalam peperangan itu?” Maka dibimbingnya Anusapati masuk kembali dan bersama-sama duduk di atas sebuah tikar pandan yang tebal bersilang-silang dengan warna-warna yang tajam.

Emban Anusapati-pun kemudian duduk pula beberapa, langkah dan keduanya, bersimpuh sambil mengusap matanya.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “jangan mudah tersinggung oleh suatu hal yang belum kau ketahui dengan pasti.”

Anusapati tidak menjawab. Sedang embannya menjadi semakin tunduk. Sementara itu Mahisa Agni berkata selanjutnya, “Kau adalah seorang Putera Mahkota. Kau harus berjiwa besar. Kau harus tabah menghadapi semua godaan dan juga rintangan. Kau tidak boleh menghindari kesulitan dan menyingkir. Tetapi kau harus berusaha mengatasinya. Juga perasaanmu sendiri.”

Anusapati masih berdiam diri.

“Kalau sekarang kau tidak dipanggil oleh Ayahanda Sri Rajasa, itu belum tentu kalau kau tidak akan mendapat kesempatan. Mungkin justru karena kau Putera Mahkota, tidak sepantasnya kau diperlakukan seperti adik-adikmu. Kau mengerti?”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Nah, sekarang jangan berprasangka apa-apa. Kau adalah Putera Mahkota. Kau kelak akan menjadi Raja. Raja besar, bukan sekedar seorang Akuwu. Yakini ini. Kau harus dapat melakukan tugas itu.”

Sekali lagi Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Bagus. Sekarang, dengarlah. Aku akan berceritera. Aku adalah salah seorang dari mereka yang ikut bertempur melawan Kediri.”

Anusapati menjadi agak terhibur hatinya karena kedatangan Mahisa Agni. Wajahnya menjadi agak cerah dan dengan penuh kebanggaan ia berkata, “Bukankah paman Mahisa Agni lah yang berhasil membunuh Menteri yang paling besar di Kediri dan bernama Gubar Baleman?”

“Ya. Tetapi bukan itulah tujuan peperangan. Bukan saling membunuh dan menghancurkan.” tiba-tiba suara Mahisa Agni merendah, “tetapi demikianlah yang pada umumnya terjadi.”

Anusapati mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti maksud Mahisa Agni. Sejenak ditatapnya wajah pamannya, dan sejenak kemudian ia berpaling kepada embannya.

“Apakah sebenarnya tujuan paman pergi ke peperangan kalau tidak membunuh dan menghancurkan musuh?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar bahwa ia berbicara dengan seorang anak yang masih belum dewasa sepenuhnya. Karena itu, maka ia-pun berusaha untuk berkata dengan sudut pandangan seorang anak yang masih remaja, “Ya. Memang di dalam peperangan terjadi bunuh-membunuh dan saling menghancurkan. Dan masing-masing pihak tentu akan bertahan. Siapa yang lebih banyak mengalami kerusakan dan kehancuran, maka pada umumnya merekalah yang kalah.”

Anusapati-pun mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya, “Jadi bagaimana? Bukankah dengan demikian perang memang sama artinya dengan pembunuhan?”

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “seandainya tidak ada perselisihan pendapat, maka pasti tidak akan timbul perang dan tindak kekerasan yang lain. Jadi seandainya masalahnya dapat diselesaikan dengan tidak usah mengadakan peperangan, maka jalan itulah yang akan ditempuh. Namun apabila kepentingan ke dua belah pihak tidak dapat bertemu, kemungkinan datangnya perang semakin dekat.”

Anusapati mendengarkan keterangan Mahisa Agni dengan sepenuh minat.

“Nah, apakah kau mengerti, bukan perangnya itulah yang menjadi tujuan?”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian ia berkata, “Jadi kalau begitu, apakah peperangan itu menurut paman semacam alat untuk memaksakan kehendak masing-masing pihak?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dan ia menjadi semakin berdebar-debar ketika Anusapati bertanya, “Paman. Jika demikian, apakah berarti bahwa di dalam perselisihan pendapat, siapa yang kuatlah yang akan dapat mempertahankan pendapatnya? Dan jika demikian maka apakah pihak yang lemah tidak akan pernah dapat mempertahankan suatu sikap meskipun mereka yakin akan kebenaran sikap itu.”

Mahisa Agni kemudian tersenyum sambil berkata, “Sudahlah. Jangan berpikir terlampau jauh. Pada saatnya kau akan menemukan jawabnya.”

Tetapi Auasapati masih bertanya terus, “Paman. Jika demikian, mungkin sekali terjadi, bahwa kebenaran akan hancur di medan perang oleh kekuasaan yang ditegakkan dengan kekuatan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Katanya, “He, bukankah kau ingin mendengarkan ceritera tentang peperangan itu?”

Anusapati mengangguk. Tetapi ia masih bertanya, “Paman. Seandainya di dalam perselisihan antara Kediri dan Singasari, Kedirilah yang sebenarnya berdiri di pihak yang benar, bagaimanakah pendapat paman?”

“O, kita yakin, bahwa dalam hal ini Singasari lah yang berdiri dipihak yang benar.”

“Tetapi apakah orang-orang Kediri tidak akan mengatakan bahwa pihak Kediri lah yang benar?”

“Anusapati, didalam peperangan ini beberapa kelompok prajurit Singasari adalah orang-orang Kediri. Tetapi tidak ada prajurit Kediri yang terdiri orang-orang Singasari. Ini suatu bukti bahwa sebagian orang-orang Kediri-pun mengakui, bahwa Singasari ada dipihak yang benar.”

Anusapati mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimanakah seandainya Singasari gagal mengalahkan Kediri dan bahkan Singasari dapat dikalahkan?”

“Ah, jangan risaukan hatimu dengan angan-angan. Justru kenyataan sekarang, Singasari telah menang.”

Sekali lagi Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tidak puas, sehingga ia bertanya pula, “Paman, jadi apakah pada suatu saat perang itu dapat dianggap sebagai suatu penyelesaian yang adil?”

Mahisa Agni sama sekali tidak menyangka, bahwa jalan pikiran Anusapati akan sampai pada masalah yang demikian rumitnya. Karena itu ia menyesal, bahwa ia telah mulai dengan suatu pembicaraan yang agak menyimpang dari kebiasaan pikiran anak-anak remaja.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “banyak kemungkinan dapat terjadi. Kemungkinan bahwa keadilan akan dikesampingkan itu memang ada. Tetapi kita harus yakin, bahwa yang akan mendapat bantuan dari banyak pihak adalah mereka yang berdiri di atas kebenaran. Pihak-pihak yang terdiri di luar sengketa pasti tidak akan membiarkan keadilan terbunuh di peperangan oleh kekuatan saja. Contohnya di dalam peperangan antara Kediri dan Singasari, para Brahmana dan mereka yang berolah di bidang kerokhanian, berpihak kepada Singasari, sehingga banyak orang-orang yang berada di bawah pengaruh para Brahmana lari ke daerah Singasari dan kembali ke Kediri sebagai prajurit.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi, pihak ketiga akan ikut menentukan.”

“Lebih dari itu Anusanati, bukankah kau percaya bahwa Yang Maha Agung mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas?”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Paman. Di dalam peperangan, bagaimanakah kita akan mendapatkan bantuan dari pihak Yang Maha Agung?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Tentu dengan lantaran Anusapati. Misalnya di dalam peperangan antara Kediri dan Singasari, orang-orang yang melihat kebenaran Singasari menyingkir dan berpihak kepada Singasari. Itu adalah suatu lantaran. Kau mengerti? Lantaran Yang Maha Agung untuk memenangkan Singasari karena Singasari berada di pihak yang benar?”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia masih akan bertanya lagi, Mahisa Agni mendahului, “Sudahlah. Sekarang dengar, paman akan berceritera tentang peperangan itu seperti Ayahanda Sri Rajasa berceritera. Begitu?”

Anusapati yang masih akan bertanya lagi tertegun sejenak. Ditatapnya wajah Mahisa Agni, kemudian ia berpaling kepada embannya yang duduk di belakangnya.

“Dengarlah,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sebagai seorang Pangeran Pati, kau memang harus mendengar ceritera-tentang perjuangan. Terutama perjuangan Singasari untuk membina dirinya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Minatnya untuk bertanya menjadi berkurang. Karena itu, maka dibiarkannya Mahisa Agni seterusnya beceritera tentang perang yang baru-baru saja terjadi diperbatasan, kemudian di sebelah Utara Ganter.

Namun Mahisa Agni masih juga berhati-hati agar Anusapati tidak mengambil kesimpulan yang salah.

Dengan penuh minat Anusapati mendengarkan ceritera Mahisa Agni. Diceriterakannya. betapa pasukan kedua belah pihak yang saling berhadapan dengan gelar yang menebar. Mereka masing-masing maju dengan derap seirama dengan getar di dalam dada mereka.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi gambaran tentang peperangan itu terlampau mengerikan. Namun demikian, maka tumbuhlah niat di dalam hatinya untuk membentuk diri lebih tekun lagi sehingga di dalam perang yang paling dahsyat sekalipun, ia akan dapat mempertahankan dirinya.

“Nah. akhirnya Sri Rajasa berhasil mengalahkan Adinda Sri Kertajaya yang bernama Mahisa Walungan,” berkata Mahisa Agni selanjutnya.

“Dan paman berhasil mengalahkan Gubar Baleman,” sambung Anusapati.

“Ya, Kedua pahlawan itu gugur dimedan perang.”

“Apakah mereka juga pahlawan?” tiba-tiba Anusapati bertanya.

Pertanyaan itu telah mengejutkan Mahisa Agni pula. Sejenak ia merenung dan sejenak kemudian ia menjawab, “Ya. Mereka-pun pahlawan-pahlawan yang harus dihormati. Mereka gugur dalam perjuangan mereka mempertahankan diri dan kehadiran kekuasaan mereka.”

“Tetapi, bukanlah Kediri menurut paman, didalam perang ini ada dipihak yang salah?”

“Ya. Didalam keseluruhan.” jawab Mahisa Agni.

“Apakah bedanya?”

“Sudahlah. Kau akan terlibat dalam persoalan yang rumit lagi. Besok kau akan dapat mencari jawabnya sendiri. Tetapi sekarang ceriteraku akan aku teruskan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mahisa Agni-pun kemudian melanjutkan ceriteranya. Diceriterakannya pula, bagaimana rakyat Kediri kehilangan perlindungan di saat-saat pasukannya tidak mampu lagi melawan kekuatan Singasari.

“Dalam keadaan demikian, nasib rakyat Kediri tergantung sekali kepada prajurit-prajurit yang masuk ke dalam wilayahnya. Untunglah bahwa prajurit Singasari adalah prajurit yang terkendali, sehingga rakyat Kediri tidak mengalami perlakuan yang parah, karena tingkah laku para prajurit Singasari. Memang ada satu dua orang yang menyalahi ketentuan yang telah digariskan oleh Ayahanda Sri Rajasa.”

“Apakah yang telah mereka lakukan paman?”

“Tentu tingkah laku yang kurang baik. Mereka yang telah melanggar ketentuan itu, adalah orang-orang yang tidak pantas menjadi teladan.”

“Misalnya, apakah yang mereka lakukan?”

“Merampok, membunuh.”

“Membunuh orang-orang yang tidak bersalah?”

“Tetapi hampir tidak ada yang melakukannya. Semuanya patuh kepada ketentuan yang telah dibuat oleh Ayahanda Sri Rajasa.”

“Kalau ada yang melakukannya paman, orang itu harus dihukum. Kalau aku menjadi Senapati, aku akan menghukum mereka seberat-eratnya.”

“Tentu. Mereka tentu akan dihukum.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia dapat membedakan, meskipun masih samar-samar, perang yang terpaksa diadakan karena perselisihan yang tidak dapat teratasi dan akibat samping, yang sangat buruk dari peperangan.

Dalam pada itu, di bangsal dalam istana Singasari, Sri Rajasa-pun sedang dihadap oleh Tohjaya dan adik-adiknya. Mereka-pun lagi sibuk mendengarkan Sri Rajasa yang sambil berbaring dipembaringan kayu berceritera tentang peperangan ini.

“Ayahanda Baginda,” bertanya Tohjaya, “kenapa Ayahanda Baginda tidak membawa perhiasan emas yang paling bagus dari Kediri buat hamba?”

“O, tentu tidak Tohjaya. Itu tidak baik.”

“Tetapi siapa yang menang perang, boleh merampas apa saja dari istana yang dikalahkannya. Bahkan puteri-puteri dari Kerajaan yang kalah dapat dibawa sebagai barang rampasan. Bukankah yang menang dapat berbuat sekehendaknya atas yang kalah? Tentu yang kalah tidak akan berani melawan lagi, karena mereka sudah tidak mempunyai kekuatan. Kalau ada yang berkeras kepala ayahanda dapat membunuhnya.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa, “Tidak begitu memperlakukan lawan yang kalah Tohjaya.”

“Tentu ayahanda. Kalau hamba menjadi seorang panglima, maka hamba akan memerintahkan segenap prajurit hamba untuk merampas semua kekayaan Kediri dan membawa semua puteri Kediri kembali ke Singasari.”

“Untuk apa puteri-puteri itu?” bertanya Sri Rajasa.

“Bukankah seorang Raja boleh beristeri berapa saja ia kehendaki?”

“Tohjaya,” Sri Rajasa mengerutkan keningnya.

Tohjaya menjadi heran melihat sikap ayahanda Sri Rajasa. Karena itu ia bertanya, “Kenapa ayahanda?”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Terkilas di rongga matanya bayangan ketiga Puteri adik Sri Kertajaya yang telah membunuh diri, karena mereka tidak mau disentuh oleh kekuasaan Singasari meskipun Singasari telah menang.

Tohjaya menjadi semakin heran melihat Ayahanda Sri Rajasa yang merenung. Seolah-olah sesuatu tetah mengganggu perasaannya. Ditatapnya wajah Sri Rajasa yang berkerut-merut, memandang ke kejauhan.

“Ayahanda,” panggil Tohjaya.

“O,” Sri Rajasa seakan-akan tersadar dari tidurnya.

“Apakah yang ayah renungkan? Apakah ada sesuatu yang ketinggalan di medan perang?”

Akhirnya Sri Rajasa tersenyum, “Ada-ada saja kau Tohjaya.”

“Apakah kira-kira yang ketinggalan dipeperangan itu?”

“Mungkin seorang Puteri Kediri yang cantik.”

“Hus.” Tohjaya tertawa. Katanya, “Ibu tentu tidak akan marah seandainya ayahanda Sri Rajasa membawa dua atau tiga orang Puteri. Justru itu suatu kebanggaan bagi setiap prajurit yang menang perang. Tidak seperti ayahanda sekarang. Bukankah ayahanda tidak membawa apa-pun juga dari peperangan? Seolah-olah ayahanda bukan sebagai pemenang di dalam perang itu?”

“Tohjaya,” berkata Sri Rajasa, “aku sudah membawa barang yang paling berharga dari peperangan?”

“Apa?”

“Kemenangan itu sendiri.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia berbisik, “He. apakah ayahanda takut ibu Permaisuri marah apabila ayahanda membawa puteri dari Kediri?”

“Tohjaya.”

“Tentu ibu Permaisuri akan marah. Bukankah ibu Permaisuri selalu cemburu apabila ayahanda berada di bangsal ibunda?”

“Ah. jangan kau bicarakan hal-hal yang kau tidak mengetahuinya. Sebaiknya kau berbicara tentang bermacam-macam alat senjata yang paling baik dipergunakan di peperangan. He, aku belum selesai berceritera.”

Ketika Tohjaya akan bertanya. Sri Rajasa mendahuluinya, “Pamanmu Mahisa Agni ternyata seorang yang pilih tanding pula. Ia mampu mengalahkan Gubar Baleman.”

“Paman Mahisa Agni?” tiba-tiba wajah Tohjaya berubah, “tetapi bukankah Ayahanda Sri Rajasa lebih sakti dari paman Mahisa Agni?”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu terdengar aneh ditelinganya.

“Kenapa kau bertanya demikian Tohjaya?”

“Menurut pendapat hamba, di seluruh Singasari, tidak ada seorang-pun yang dapat mengalahkan Ayahanda Sri Rajasa.”

“Kenapa kau sampai pada pendapat itu?”

Tohjaya menarik nafas. Diedarkannya pandangan matanya yang tajam kepada para embannya. Kemudian katanya, “Hamba tidak senang kepada orang itu?”

“Kenapa?”

“Ibu juga tidak senang.”

“Kenapa ibu tidak senang kepadanya, dan kenapa pula kau?”

“Ia terlampau memanjakan Kakanda Anusapati.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tohjaya. darimana kau tahu?”

“Beberapa orang prajurit pernah melihat, paman Mahisa Agni bermain-main dengan Kakanda Anusapati.”

“Apa salahnya? Ibu Anusapati adalah adik paman Mahisa Agni. Apakah tidak sewajarnya apabila Mahisa Agni bermain-main dengan Anusapati?”

“Tetapi paman Mahisa Agni tidak pernah bermain-main dengan hamba.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun tidak dikatakan, terbersit kekhawatiran Tohjaya terhadap Mahisa Agni. Selama ini Sri Rajasa sendiri tidak pernah memikirkannya. Karena itu maka katanya. “Jangan terlampau berprasangka. Mahisa Agni adalah orang yang telah kukenal dengan baik. Sejak ayahanda masih muda, ayahanda telah mengenalnya.”

Tohjaya menganggukkan kepalanya.

“Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi. Sekarang, apakah aku masih harus berceritera?”

“Hamba ayahanda.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dilanjutkannya ceriteranya tentang peperangan di Kediri. Tetapi Sri Rajasa tidak mengatakan bahwa ketiga puteri adik Sri Baginda Kertajaya telah membunuh diri.

Setelah penat berceritera, maka Sri Rajasa-pun berkata, “Sudahlah. Ceriteraku sudah habis. Sekarang, kembalilah ke bangsal kalian. Kalian harus beristirahat pula. Ayahanda akan tidur sejenak, menghilangkan penat-penat yang masih terasa diseluruh tubuh.”

Tohjaya mengangguk dalam-dalam. Kemudian ia-pun mohon diri, dan bertanya, “Kenapa ayahanda tidak mengunjungi ibunda di bangsal samping?”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Kemudian tersenyum, “Pada saatnya aku akan datang.”

“Apakah ibunda Permaisuri marah dan cemburu.”

“Hus.”

“Ibunda mengatakan demikian. Ibunda merasa bahwa ibunda Permaisuri selalu cemburu. Karena itu Ayahanda Sri Rajasa jarang-jarang datang ke bangsal ibunda Ken Umang.”

“Ah, kau selalu mengada-ada.”

Tohjaya mengerutkan dahinya. Tetapi kemudian ia sekali lagi mohon diri dan meninggalkan bangsal itu.

Sri Rajasa yang tinggal seorang diri di dalam ruangan itu masih berbaring diatas sebuah pembaringan kayu. Diluar pintu dibawah tangga dua orang pengawal berdiri tegak dengan tegapnya. Beberapa orang yang lain berada di depan regol di longkangan dalam, duduk di dalam gardu sambil berbicara dengan asyiknya.

Namun ternyata bahwa Sri Rajasa tidak segera dapat menenangkan hatinya. Kata-kata Tohjaya terasa selalu mengusik perasaannya. Kenapa anak itu tidak senang terhadap Mahisa Agni yang jarang sekali ditemui dan apalagi berbicara dengan Tohjaya?

Tanpa disadarinya Sri Rajasa sudah mulai menilai orang yang bernama Mahisa Agni itu. Terbayang betapa tangkasnya ia mempergunakan segala macam senjata. Namun lebih daripada itu. Mahisa Agni adalah murid mPu Purwa yang akan mewarisi segala-galanya yang pernah dimilikinya. Bahkan menilik kemampuan yang ada padanya sehingga Gubar Baleman terbunuh di peperangan, maka Mahisa Agni telah benar-benar mewarisi segala macam ilmu yang ada pada mPu Purwa itu.

“Tetapi semuanya itu tidak berarti bagiku. Aku telah mampu menahan semua kekuatan Mahisa Walungan dan Sri Kertajaya. Menurut penilaianku, Mahisa Agni tidak akan jauh melampaui atau bahkan belum melampaui Sri Baginda Kertajaya.” Sri Rajasa berkata kepada diri sendiri.

Namun tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Sekilas terkenang olehnya sepucuk senjata mPu Purwa yang aneh. Sebuah Trisula yang berwarna kekuning-kuningan.

“Uh, senjata itu membuat aku silau,” desisnya, “aku tidak tahu, apakah sebabnya. Aku sudah berhadapan dengan segala jenis pusaka. Aku memiliki pusaka mPu Gandring. Tetapi tidak ada pusaka yang dapat mempengaruhi aku selain pusaka mPu Purwa itu.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan Ia bangkit dan kemudian berjalan-jalan hilir mudik didalam biliknya. Ketika ia membuka pintu ruangan itu sejengkal, maka dilihatnya dua orang pengawal berdiri dibawah tangga.

Sejenak ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbersit suatu pertanyaan, “Buat apakah sebenarnya para pengawal itu? Mereka tidak akan dapat menyelesaikan lawan yang tangguh, yang sudah berani memasuki istana ini.” namun kemudian. “tetapi mereka akan dapat berteriak, atau membuat suara gaduh. Hanya itulah gunanya. Dengan demikian, seandainya aku baru tidur, aku akan terbangun. Tetapi lebih daripada itu, mereka tidak dapat melakukannya.”

Sri Rajasa itu-pun kemudian kembali ke pembaringannya. Perlahan-lahan diletakkannya dirinya. Kemudian dicobanya untuk menguraikan segala angan-angannya.

Perlahan-lahan ia berhasil menyingkirkan segala macam persoalan didalam dirinya, sehingga oleh penat yang masih mencengkamnya, maka ia-pun kemudian jatuh tertidur.

Di saat itu, Anusapati-pun telah berbaring di pembaringannya. Matanya sudah separo terpejam. Embannya kini duduk di muka pintu bilik, sedang Mahisa Agni menungguinya di sisi pembaringannya.

Ketika ia melihat Anusapati sudah mulai terlena, ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya ia berdesis, “Kasihan anak ini.”

“Ya,” sahut embannya.

Mahisa Agni berpaling. Katanya, “Aku berterima kasih kepadamu, bahwa kau sudah berhasil mengatasi hatimu yang hitam. Kalau tidak, aku tidak dapat membayangkan, apakah jadinya Anusapati kelak. Ia pasti akan menjadi orang yang paling tidak berarti di seluruh Singasari.”

“Mudah-mudahan masih ada waktu bagi Tuanku Pangeran Pati untuk menemukan pribadinya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mudah-mudahan. Namun masih juga tergantung kepada Anusapati sendiri, dan keadaan di sekitar kita. Hubungan yang terlampau akrab antara Sri Rajasa dan Tohjaya agaknya telah membuat Anusapati selalu diliputi oleh teka-teki yang tidak terjawab. Keragu-raguan kepada diri sendiri dan kepada orang-orang di sekitarnya.”

Emban itu mengusap matanya. Katanya, “Tuan akan dapat mengambil peranan buat masa depan Putera Mahkota itu.”

Mahisa Agni memandang Anusapati dengan wajah yang muram. Kemudian ia-pun berdiri sambil berkata, “Biarlah ia tidur. Ia terlampau kecewa karena Ayahanda Sri Rajasa tidak memanggilnya. Mudah-mudahan nanti didalam sidang yang luas, ia akan mendapat tempat untuk hadir sebagai seorang Putera Mahkota, sehingga hatinya sebagai seorang anak akan terhibur.”

“Mudahkan. Tetapi sampai saat ini masih belum ada berita, apakah Tuanku Putera Mahkota harus hadir di dalam pertemuan itu?”

“Aku akan mengusahakannya, meskipun agak kurang baik bagiku sendiri.”

Emban itu tidak menjawab. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk.

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal itu. Ditemuinya para penjabat yang akan ikut serta menentukan setiap orang yang akan hadir didalam sidang yang lengkap bagi para pemimpin pemerintahan dan Senapati Singasari, mendengarkan titah Sri Rajasa setelah ia kembali dari medan perang membawa kemenangan.”

“Aku tidak menerima perintah,” jawab seorang Senapati yang ikut serta menangani pelaksanaan sidang besar itu.

“Tetapi bukankah hal itu wajar? Sudah tentu Sri Rajasa tidak akan sempat menentukan siapa-apa yang akan hadir. Apakah Sri Rajasa juga memerintahkan agar kedua isterinya hadir? Aku perintah agar para Panglima kesatuan di dalam tata keprajuritan Singasari hadir, dan juga tujuh orang pemegang kendali bagi Singasari.”

“Tetapi bagi mereka tidak ada keraguan lagi.”

“Bagaimana dengan Putera Mahkota? Apakah masih ada keraguan? Memang tidak setiap saat ada Putera Mahkota. Hanya di saat-saat tertentu seperti sekarang Singasari mempunyai Putera Mahkota, karena putera laki-laki itu sudah ditentukan kelak menggantikan kedudukannya. Nah, dalam keadaan serupa ini, apakah Putera Mahkota itu tidak termasuk salah seorang pemimpin tertinggi bagi suatu Kerajaan.”

Penjabat itu merenung sejenak. Lalu, “Hamba akan bertanya lebih dahulu kepada Tuanku Sri Rajasa.”

“Dan kau akan digantung karenanya.”

“Kenapa?”

“Kau sudah menghina Putera Mahkota yang telah diangkat oleh Sri Rajasa sendiri.”

Penjabat itu mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan sorot mata yang aneh. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya. Memang sewajarnya Putera Mahkota hadir didalam pertemuan serupa ini. Aku akan menyediakan tempatnya.”

“Bagus. Bukankah kau termasuk salah seorang petugas penyambutan di paseban saat Sri Rajasa kembali dari medan dan memasuki istana ini? Nah, apakah kau juga menunggu Sri Rajasa memerintahkan, agar Putera Mahkota ikut serta? Ternyata Putera Mahkota adalah seorang pemimpin yang memang wajib diikut sertakan di dalam upacara-upacara resmi,” Mahisa Agni berhenti sejenak, “He. bukankah kau sudah lebih lama berada di istana daripadaku? Seharusnya aku tidak mengajarimu. Akulah yang harus bertanya.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Coba katakan, bagaimanakah yang seharusnya?” bertanya Mahisa Agni tiba-tiba.

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Diedarkannya pandangan matanya. Namun tidak ada orang yang lain berdiri dekat dengannya. Karena itu ia berkata, “Memang demikianlah seharusnya. Putera Mahkota adalah ibarat Raja sendiri.”

“Nah. kalau begitu, kenapa kau meragukannya.”

“Bukan aku, kau tahu. aku bukannya orang yang dapat menentukan sesuatu.”

Senapati itu menggelengkan kepalanya.

“Siapa yang merencanakan untuk menyisihkan Putera Mahkota.”

“Ah. Kau berpikir terlampau jauh. Sama sekali bukan menyisihkan Putera Mahkota.”

“Istilah apakah yang paling tepat dipergunakan?”

“Soalnya adalah sederhana sekali.”

“Apa?”

“Kalau Putera Mahkota diikut sertakan secara resmi di dalam pertemuan itu, maka pasti akan menimbulkan iri pada adik-adiknya. Ini adalah perasaan anak-anak. Kau lihat, bagaimana adik Tuanku Putera Mahkota itu mendesak tanpa menghiraukan tata cara yang sudah ditentukan secara resmi.”

“He, itu adalah tugas para emban dan pengasuh. Tetapi ketetapan adat dan tata cara harus dilaksanakan.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Namun masalahnya adalah masalah yang dianggapnya sederhana, sehingga tanpa berpikir lagi. ia merasa bahwa tanpa hadirnya Putera Mahkota, pertemuan itu tidak akan terganggu.

Karena itu maka katanya, “Baiklah. Di dalam susunan sidang nanti, Putera Mahkota akan hadir.”

“Lain kali kau harus berhati-hati. Kau menganggap masalah ini adalah masalah yang sederhana, tetapi akibatnya akan sangat berat bagimu. Kau akan dapat digantung karena kelengahanmu itu.”

“Tuan Puteri akan mempertanggung jawabkan. Bahkan Tuan Puteri berjanji bahwa Tuanku Sri Rajasa tidak akan menanyakan kenapa Putera Mahkota tidak akan hadir. Dan bukankah Tuanku Sri Rajasa adalah seorang ayah yang selalu memperhatikan putera-puteranya?”

“Kalau Sri Rajasa adalah seorang ayah yang memperhatikan Putera-puteranya lalu kenapa?”

“Tuanku Sri Rajasa pasti akan mempertimbangkan alasan, kenapa Putera Mahkota tidak diikut sertakan di dalam sidang yang besar itu. Sidang itu sendiri memang bukan sidang yang mempersoalkan sesuatu. Tetapi sidang itu adalan sekedar pertemuan untuk mendengarkan titah Sri Rajasa tentang peperangan yang baru saja selesai.” Senapati itu berhenti sejenak. Lalu, “bagi seorang ayah, masalah putera-puteranya adalah masalah yang paling penting, sehingga setiap kemungkinan yang dapat meretakkan hubungan putera-putera itu, akan dihindarinya.”

“He? ceriteramu tidak berujung pangkal. Darimana kau sadap keterangan itu. Aku yakin, kalimat-kalimat itu bukan kalimatmu sendiri. Dan siapakah yang kau maksud dengan Tuan Puteri itu? Permaisuri?”

Senapati itu menggeleng, “Tentu bukan Tuanku Permaisuri. Bukankah sebutan itu sudah membedakannya? Dan kalimat-kalimat itu memang bukan kalimat-kalimatku sendiri.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia menjadi semakin yakin bahwa pengaruh Ken Umang atas Sri Rajasa tidak dapat diabaikannya. Sikap dan kepribadian Ken Umang sebagai seorang perempuan memang lebih panas dari Ken Dedes. Itulah agaknya maka Sri Rajasa di dalam saat-saat tertentu menjadi lemah menghadapinya dan memberinya kesempatan untuk ikut serta menentukan sikapnya sebagai seorang Raja.

Kalau pendapat dan pikiran-pikiran Ken Umang itu baik dan bermanfaat, maka ia adalah perempuan yang paling terpuji di Singasari. Tetapi ternyata sampai saat ini, ia lebih banyak berbicara tentang dirinya sendiri, anak-anaknya dan nafsu yang menyala-nyala untuk memiliki kekuasaan di hari-hari mendatang.

Sambil menepuk bahu Senapati itu Mahisa Agni berkata, “Aku akan menyampaikan undangan ini kepada Putera Mahkota atas namamu. Bukankah begitu?”

“Tunggu. Aku memang tidak akan bertanya kepada Tuanku Sri Rajasa supaya aku tidak digantung karena aku telah menghina Putera Mahkota. Tetapi aku akan bertanya dulu kepada Tuan Puteri, dan menyampaikan pendapatmu kepadanya.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia bertanya,” Sejak kapan kau menjadi seorang prajurit?”

Pertanyaan itu terdengar aneh bagi Senapati itu, sehingga untuk sesaat ia tidak menjawab.

“Aku adalah seorang prajurit yang barangkali paling baru di antara kalian. Aku datang bersama dengan prajurit-prajurit yang dipersiapkan khusus untuk merebut Kediri, meskipun secara kebetulan aku telah diangkat menjadi Panglima pasukan khusus. Tetapi aku kira aku dapat membedakan, ketentuan upacara kenegaraan dan sekedar pendapat seseorang meskipun orang itu isteri Sri Rajasa sendiri. Masih lebih baik mempertimbangkan pendapat Sri Permaisuri daripada pendapat Tuan Puteri Ken Umang.”

Mahisa Agni melihat wajah Senapati itu berubah, meskipun hanya sekilas.

Namun demikian seolah-olah Mahisa Agni dapat membaca hati Senapati itu. Senapati itu pasti menganggapnya membela keluarganya, karena Permaisuri adalah adiknya dan Putera Mahkota adalah kemanakannya. Tetapi Mahisa Agni tidak memperdulikannya. Bahkan ia menganggap bahwa harus ada usaha untuk mengimbangi pengaruh Ken Umang atas Sri Rajasa, meskipun Mahisa Agni sadar, bahwa harus dicari cara yang paling tepat untuk itu.

Pengaruh Ken Umang terhadap Sri Rajasa adalah pengaruh yang paling peka dari kemanusiaannya. Untuk mengimbanginya pasti harus dicari kemungkinan yang serupa atau yang justru lebih besar.

Tetapi Mahisa Agni-pun sadar, bahwa pengaruh yang demikian terlampau sukar diketemukan.

Tetapi kali ini Mahisa Agni sudah berhasil memotong rencana Ken Umang menyingkirkan Anusapati, atau setidak-tidaknya menjauhkan Anusapati dari Ayahanda Sri Rajasa dan para pemimpin Singasari. Apabila setiap kali Anusapati tidak tampak di dalam pertemuan-pertemuan resmi, maka pengaruhnya-pun lambat laun akan menjadi semakin berkurang.

Meskipun demikian Mahisa Agni harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain. Apakah sebabnya Senapati itu begitu saja menerima pendapat Ken Umang hanya dengan janji, bahwa Ken Umang lah yang akan mempertanggung jawabkan.

Demikianlah, ketika sidang yang luas itu dimulai, tampaklah hampir semua pimpinan pemerintahan dan para Panglima dan Senapati yang terpenting, kedua isteri Ken Arok dan putera-puteranya yang terbesar telah hadir. Dalam setiap kesempatan Mahisa Agni selalu berusaha mengawasi Ken Umang. Sekilas ia melihat, wajah Ken Umang yang menegang ketika ia melihat Anusapati duduk di tempatnya.

Agaknya Sri Rajasa sendiri hampir tidak memperhatikannya sama sekali. Baginya apakah Anusapati ada di tempatnya atau tidak, bukanlah menjadi soal.

Tetapi bagi Anusapati kesempatannya untuk hadir itu ternyata telah memberinya imbangan dari sakit hatinya. Kini ia duduk di tempatnya sebagai Putera Mahkota dalam suatu upacara resmi. Sedang Tohjaya dan adik-adiknya yang lain, mendapat tempat agak di belakang Ken Umang.

Meskipun demikian, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sendiri, tidak begitu menghiraukan tata cara resmi didalam sidang itu. Karena itu ketika Tohjaya berdiri di tempatnya dan berjalan mondar mandir mendekatinya, Sri Rajasa sama sekali tidak menghiraukannya.

Tetapi ternyata bahwa sidang itulah yang merasa terganggu karenanya. Meskipun demikian tidak ada seorang-pun yang berani menegurnya. Mahisa Agni-pun tidak.

Ketika Mahisa Agni mencoba mengambil kesan ibu Tohjaya, ia mengumpat habis-habisan di dalam hati. Agaknya ibunya ikut berbangga melihat sikap Tohjaya yang tidak pada tempatnya itu.

Demikianlah, maka masalah Tohjaya dan Anusapati itu untuk seterusnya selalu menjadi perhatian. Baik oleh Mahisa Agni mau-pun oleh Sri Rajasa sendiri. Sesudah sidang dipaseban Agung itu, maka semakin tampaklah, betapa masing-masing berusaha untuk menempatkan dirinya sebagai seorang yang lebih penting dan lebih dekat pada Sri Rajasa.

Tetapi perbedaan kepribadian mereka, dan orang-orang yang ada di sekitar mereka, telah menempatkan Anusapati pada keadaan yang semakin sulit. Semakin lama Tohjaya menjadi semakin dekat, sedang Anusapati, meskipun ia telah ditetapkan sebagai Putera Mahkota, namun ia menjadi semakin kurang mendapat perhatian Sri Rajasa.

Ketika Mahisa Agni telah hampir kehilangan akal. bagaimana ia menemukan cara untuk mengimbangi pengaruh Ken Umang, maka ditemuinya ibunya yang sudah menjadi semakin tua. Dengan berterus terang ia mengatakan, apa saja yang telah dilihatnya pada kedua anak-anak remaja itu.

“Bagaimana pendapatmu Agni?” bertanya perempuan tua itu.

“Ibu,” berkata Mahisa Agni, “aku masih mengharap bantuan dari Ken Dedes sendiri.”

“Apa yang dapat dilakukannya?”

“Ia harus merebut perhatian Sri Rajasa. Ia harus berusaha menyisihkan Ken Umang.”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ken Dedes bukanlah orang yang dapat berbuat demikian.”

“Ia tidak akan dapat berbuat demikian untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi ini adalah suatu perjuangan untuk anaknya.” Mahisa Agni berhenti sejenak, “ibu. aku tidak sampai hati untuk mengatakannya sendiri. Kalau ibu mendapat kesempatan, cobalah. Biarlah Ken Dedes mengerti, bahwa anaknya memerlukan bantuannya.”

“Apa yang harus dilakukan?”

“Ken Dedes dan Ken Umang tidak terpaut banyak. Umurnya mau-pun kecantikannya. Bahkan menurut penilaian wajar. Ken Dedes mempunyai kelebihan daripadanya. Tetapi Ken Umang agaknya mempunyai darah yang lebih panas. Itulah agaknya yang telah mengikat Sri Rajasa padanya.”

Emban tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “jadi maksudmu. Ken Dedes harus berbuat serupa itu?”

“Setidak-tidaknya ia harus menemukan kembali kecantikannya. Setelah sekian lama ia seolah-olah membeku, maka apabila ia mau mencoba mencairkan dirinya, maka sudah tentu hal itu akan mengejutkan Sri Rajasa.”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Apakah Ken Dedes dapat melakukannya?” ia berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi yang perlu kau pertimbangkan Agni. masalahnya bukan sekedar Ken Umang dan Ken Dedes. Tetapi kau harus tahu, bahwa Anusapati itu bukan putera Sri Rajasa.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Ya. Itu-pun menjadi sebab.”

“Aku kira justru itulah sebab utamanya.”

Mahisa Agni terdiam sejenak. Angan-angannya sajalah yang berkibar dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Terbayang di rongga matanya, jalan kehidupan Ken Dedes yang berat. Seolah-olah Ken Dedes tidak pernah mengalami suatu kehidupan yang manis untuk waktu yang cukup lama.

Ketika ia mulai berangan-angan dan berpengharapan hidup dengan damai di Padukuhan Panawijen bersama seorang anak muda yang sederhana bernama Wiraprana, maka datanglah badai yang dihembus oleh Kuda Sempana, sehingga Wiraprana terbunuh tanpa dosa dan Ken Dedes dilarikan ke istana Tumapel. Namun di istana Ken Dedes ternyata telah menarik hati Tunggul Ametung yang kemudian mengambilnya menjadi seorang Permaisuri.

Ketika hidupnya sudah mulai terisi, setelah ia berhasil menyesuaikan diri dan bahkan setelah ia mulai mengandung, suaminya itu terbunuh.

Ternyata Ken Dedes masih juga sempat dibakar oleh api cintanya kepada Ken Arok. Dengan penuh harapan ia kawin dengan prajurit yang aneh ini. Tetapi ternyata ia tidak lama menikmati impian yang dapat dibangunkannya lagi sepeninggal Wiraprana. karena di antara Ken Dedes dan Ken Arok kemudian hadir seorang gadis yang berdarah panas. Bernama Ken Umang.

“Apakah yang akan dikatakan oleh Ken Dedes apabila ia mengetahui, siapakah yang telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung, ayah Anusapati itu?” pertanyaan itu membersit dihatinya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri telah mencoba sekuat-kuat kemampuannya untuk memisahkan diri dari jalur kehidupan Ken Dedes. Ia mencoba untuk tidak menolak kenyataan yang dihadapinya. Namun melihat kehidupan Ken Dedes yang suram, hatinya-pun menjadi suram pula.

Mahisa Agni seolah-olah terbangun dari lamunannya ketika ia mendengar ibunya berkata, “Agni. Meskipun usaha itu dapat dicoba, tetapi kau harus mencari jalan lain yang dapat kau tempuh.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kini sudah menjadi suatu kenyataan bahwa Anusapati adalah Putera Mahkota. Tidak mudah untuk menyingkirkan jabatan itu dari padanya. Selama ia masih hidup dan tidak berbuat sesuatu yang dapat dianggap sebagai suatu kesalahan yang sangat besar bagi Singasari. maka ia tidak akan dapat disisihkan. Karena itu maka awasilah anak itu baik-baik. Jangan sampai anak itu melakukan perbuatan yang dapat dianggap sebagai suatu dosa yang besar bagi Singasari. Membangkang atau memberontak misalnya. Dan yang penting, jagalah agar Anusapati tetap hidup dan memangku jabatannya. Untuk tetap menjadi seorang Putera Mahkota. Anusapati memang harus tetap hidup.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apa saja yang dilakukan, dapat saja dianggap sebagai suatu kesalahan. Kalau kau sampai saat ini tetap memberinya latihan-latihan ilmu kanuragan, maka kau-pun harus tetap berhati-hati. Kau akan dapat dianggap sebagai orang yang telah melakukan kesalahan, dengan tuduhan, mempersiapkan diri untuk melakukan perlawanan terhadap Singasari dan Raja.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah mendengar dari seorang prajurit yang berkata, bahwa hubungan antara Sri Baginda Kertajaya dan adinda Mahisa Walungan berserta Menteri Gubar Baleman menjadi terlampau buruk, karena kecurigaan Sri Baginda Kertajaya atas Menteri dan adiknya itu. Tetapi hal yang serupa itu dapat saja terjadi di Singasari. Bukan karena fitnah oleh salah seorang prajurit atau pemimpin Singasari yang lain, tetapi justru dengan sengaja diatur suatu tuduhan yang demikian, seolah-olah Anusapati telah mempersiapkan suatu pemberontakan karena ia tidak sabar lagi menunggu masa jabatan yang akan diterimanya kelak sepeninggal ayahandanya.

“Karena itu Agni,” berkata ibunya, “kau-pun harus sangat berhati-hati. Kau harus menilik semua orang yang dekat atau sengaja didekatkan kepada Anusapati.”

“Ya ibu. Aku akan berusaha. Sampai saat ini Anusapati masih berhasil menyelimuti dirinya dari ilmu yang diterimanya. Ia masih tetap dianggap sebagai seorang Putera Mahkota yang lemah.”

Demikianlah maka Mahisa Agni selalu berusaha untuk membayangi kehidupan Putera Mahkota. Setiap saat yang dapat dipergunakan, selalu dimanfaatkannya untuk melatih diri dan mengisi diri dengan berbagai pengetahuan. Kanuragan dan ilmu kerokhanian.

Namun semakin menanjak pada usia yang semakin dewasa, maka semakin banyaklah pertanyaan-pertanyaan Anusapati tentang dirinya. Ia menyadari bahwa ia memang semakin jauh dari ayahanda Sri Rajasa. Ia tidak mengerti, kenapa Sri Rajasa tidak berbuat adil kepada Putera-puteranya. Apalagi ia sebagai Putera Mahkota. Terutama Putera yang lahir dari Ken Umanglah yang terlampau banyak mendapat perhatian. Adik-adiknya, yang lahir dari ibunya Ken Dedes, masih juga mendapat kasih yang cukup bagi seorang anak. Tetapi kenapa ia sendiri dari antara sekian putera-putera Sri Rajasa yang semakin lama menjadi semakin terasing?

Dengan demikian Anusapati menjadi semakin dekat dengan Mahisa Agni. Semakin dalam duka melukai hatinya, maka semakin tekunlah ia dengan ilmu yang dengan diam-diam diterimanya dari pamannya.

“Paman,” bertanya Anusapati pada suatu saat, “kenapa Ayahanda Sri Rajasa terlampau membedakan antara aku dan adik-adikku? Apalagi dengan Adinda Tohjaya. Apakah ada latar belakang tertentu dari sikap ini?”

Pertanyaan itu sudah bukan pertanyaan anak-anak lagi. Mahisa Agni yang kini berhadapan dengan seorang anak muda remaja yang berwajah muram, menjadi ragu-ragu. Apakah yang sepantasnya dikatakannya.

“Bukankah paman mengenal aku sejak aku dilahirkan di istana ini?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab, “Kau memang seorang perasa Anusapati.”

Anusapati tidak segera menyahut. Ia termenung sejenak memandang ke kejauhan. Seolah-olah ia sedang bertanya kepada diri sendiri, apakah benar ia seorang perasa? Apakah semua yang menjadi teka-teki di dalam hatinya itu hanya sekedar prasangka?

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kau adalah seorang Pangeran Pati. Kau mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu yang lain dari adik-adikmu. Cara hidup dan kebiasaan sehari-harimu-pun harus disesuaikan dengan kedudukanmu. Itulah sebabnya kau mendapat perlakuan yang berbeda, yang oleh perasaanmu yang masih belum dewasa itu. kau tangkap sebagai suatu sikap yang kurang wajar.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak bertanya lagi meskipun sebenarnya jawaban itu tidak memuaskannya. Ia merasa bahwa perlakuan atasnya bukan semata-mata karena kedudukannya sebagai Pangeran Pati. Tetapi justru ia merasa bahwa semakin lama ia semakin tersisih dari pergaulan keluarganya di istana selain dengan ibunya.

“Karena itu Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kau harus menanggapi keadaan itu dengan baik. Kau harus berusaha membuat dirimu benar-benar seorang Putera Mahkota yang kelak pada saatnya telah siap menerima takhta kerajaan Singasari.”

“Ya paman,” jawab Anusapati ragu-ragu.

“Berlatihlah terus. Kau sudah jauh maju dari saat-saat sebelumnya. Tetapi kau masih harus tetap berhati-hati.”

“Paman,” suara Anusapati tiba-tiba merendah, “kenapa aku harus berlatih sambil bersembunyi-sembunyi? Kenapa aku tidak berlatih berterus terang di hadapan Ayahanda Sri Rajasa? Kenapa aku harus selalu berpura-pura apabila aku menerima latihan dari para prajurit yang memang ditunjuk oleh ayahanda Sri Rajasa, dan kenapa tingkat ilmu yang diberikan kepada Adinda Tohjaya dan kepadaku jauh berbeda? Apabila aku tidak mendapat ilmu dari paman Mahisa Agni maka aku dan Adinda Tohjaya kini telah terpaut banyak sekali. Aku sangat berterima kasih kepada paman Mahisa Agni sementara pertanyaan yang tersimpan di dalam hatiku masih belum berjawab.”

Sejenak Mahisa Agni terdiam. Ia tidak segera menemukan jawaban yang tepat untuk diucapkannya. Kini ia benar-benar menyadari, bahwa Anusapati bukan lagi anak-anak. Semakin lama ia tumbuh menjadi semakin dewasa, sehingga keadaan di sekitarnya semakin banyak menimbulkan teka-teki baginya, setelah ia mengamatinya dengan sikap yang bukan lagi sikap kanak-anak.

“Paman,” berkata Anusapati, “sampai saat ini aku dengan selamat dapat mengelabui para prajurit yang sekedar melatih aku berloncat-loncatan, bergumul seperti anak-anak berkelahi dan sedikit cara-cara mengusir lalat yang hinggap di tengkuk.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Setiap kali para pelatih itu mengeluh. Menurut mereka, akulah yang tidak dapat mengikuti latihan-latihan yang mereka berikan, sehingga aku tertinggal jauh dari Adinda Tohjaya yang lebih muda daripadaku.”

“Mungkin memang demikian Anusapati,” sahut Mahisa Agni.

“Maksud paman, aku memang terlampau lambat menerima ilmu olah kanuragan?”

“Ya, tetapi bukan karena kau tidak mampu. Tetapi karena kau terlampau hati-hati. Karena kau dengan sengaja menyembunyikan ilmu yang sebenarnya telah kau miliki, sehingga kau tampaknya menjadi ketinggalan.”

Anusapati menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak paman. Aku telah mencoba menyesuaikan diriku. Setiap ilmu yang diberikannya, aku pelajari dengan baik. Aku mencoba untuk menghayatinya dan menguasai ilmu itu. Aku berusaha dengan sekuat tenaga, meskipun sebenarnya aku dapat melakukannya dengan mudah. Tetapi pada akhirnya, aku menunjukkan bahwa aku mampu mempelajarinya.”

“Memang mungkin para pelatih itu berbuat kesalahan Anusapati, tetapi jangan kau dalami sampai ke pusat jantungmu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku akan mencoba paman. Aku akan mencoba menahan hati.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah Tuanku Putera Mahkota. Tuanku harus memandang segala masalah dengan hati yang lapang.”

“Ah paman,” desah Anusapati.

“Pada suatu saat aku memang harus bersikap demikian. Sekarang-pun aku harus bersikap demikian sebenarnya. Dan sadari Anusapati. Kau adalah Putera Mahkota. Tidak lebih tidak kurang. Kau mempunyai kedudukan yang khusus. Karena itu, kau jangan terlampau berkecil hati menghadapi masa depanmu. Jangan kau pandang hari depanmu dengan sudut pandangan yang buram. Tetapi songsonglah hari depan itu sebagai hari yang cerah.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia masih tetap dicengkam oleh keragu-raguan.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “namun bagaimana-pun juga kau harus tetap berhati-hati. Agaknya memang ada orang yang tidak menyukaimu. Karena itu, apabila ada orang lain yang melihat kau tekun berlatih, maka orang-orang yang tidak senang kepadamu akan membuat ceritera aneh-aneh tentang dirimu, seperti ceritera tentang adinda Sri Kertajaya yang bernama Mahisa Walungan. Bukankah pada suatu malam aku pernah berceritera kepadamu, tentang perpecahan yang terjadi di Kediri yang mendorong negeri itu semakin cepat meluncur kejurang keruntuhannya?”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Semakin banyak usianya, maka ia semakin banyak mengenal sifat-sifat orang di sekitarnya. Ada yang dikenalnya langsung dari pengamatan, ada yang didengarnya dari ceritera-ceritera. Dikenalnya sifat-sifat yang baik dan sifat-sifat yang memuakkan. Penjilat, pemfitnah dan pengadu. Tetapi ada juga orang-orang yang dengan ikhlas berbuat baik bagi orang lain.

Peristiwa Kediri, pengamatannya pada para prajurit Singasari sendiri, para emban dan pelayan-pelayan, ibunya sendiri dan Ken Umang. merupakan bahan-bahan yang baik baginya untuk menilai isi istana Singasari yang sebenarnya, di samping pamannya Mahisa Agni dan Sri Rajasa sendiri.

Demikianlah Anusapati tumbuh terus, walau-pun di atas tanah yang gersang. Orang-orang di sekitarnya, terutama keluarganya sendiri semakin lama terasa menjadi semakin asing. Namun setiap kali Mahisa Agni selalu menasehatinya, agar ia tetap tabah menghadapi tantangan keadaan.

Meskipun Anusapati masih tetap bertahan terus, namun keadaan itu ternyata sangat berpengaruh kepadanya. Ia menjadi seorang anak muda yang murung. Pendiam dan bagaikan pintu yang tertutup. Sukar sekali mencoba melihat isi hatinya, meskipun orang itu adalah orang-orang yang terdekat. Bahkan Mahisa Agni sendiri kadang-kadang kurang mengerti, apakah yang dikehendaki oleh kemanakannya itu.

Namun Mahisa Agni tidak melepaskannya. Meskipun kadang-kadang ia sendiri menjadi bingung menghadapinya, tetapi ia tetap mencoba untuk selalu dapat mengendalikannya.

Meskipun demikian, meskipun Anusapati seakan-akan menjadi seorang perenung, namun ia sama sekali tidak menjadi lemah di dalam olah kanuragan. Semakin dalam ia mendalami kehidupan, maka semakin tekun ia berlatih, sehingga pada suatu saat Anusapati telah berhasil menguasai hampir semua ilmu yang diberikan kepadanya.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kau sudah hampir sampai pada tataran terakhir. Cobalah menguasai ilmu yang telah kau miliki itu sedalam-dalamnya. Hayatilah setiap unsur geraknya dan kenalilah baik-baik arti dari setiap gerakan itu. Kau akan sampai pada jiwa dan watak dari ilmu yang selama ini kau pelajari. Sentuhan watak ilmu itu dengan kepribadianmu, akan membentuk kau menjadi suatu kesatuan yang utuh. Apakah Anusapati yang telah memiliki ilmu yang hampir tuntas itu kelak akan menjadi seorang Raja bijaksana, atau seorang Raja yang lain, tergantung sekali pada akibat dari sentuhan yang terjadi itu. Kalau kau berhasil meluluhkan watak dan sifat dari ilmu yang kau miliki dengan kepribadianmu, dan membentuknya menjadi suatu sifat yang dengan sadar kau kehendaki, maka kau telah berhasil seluruhnya. Tetapi kalau watak ilmu yang kau terima itu justru berbenturan dengan kepribadianmu, maka hasilnya tidak akan bermanfaat bagimu dan bagi kemanusiaan. Ilmu yang baik di tangan seseorang yang berkepribadian kurang baik justru lebih berbahaya dari orang yang paling dungu sekalipun. Tetapi ilmu yang baik yang luluh dengan kepribadian yang baik, itulah yang akan dapat menjadi pelindung dari kemanusiaan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, ia dapat mengerti keterangan yang didengarnya dari mulut pamannya itu.

“Karena itu Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “sambil menyempurnakan ilmu yang telah kau miliki, kau harus membersihkan dirimu. Membersihkan seluruh isi hatimu. Kau harus menyingkirkan segenap prasangka dan dendam, meskipun itu bukan berarti kau melepaskan segala perhitungan dan kewaspadaan. Justru kau harus menilai keadaanmu sekarang untuk menghadapi tugas yang berat di masa mendatang.”

Anusapati merenung sejenak. Namun kemudian perlahan-lahan ia menjawab, “Itulah yang sangat berat bagiku paman. Aku sudah mencoba untuk tidak berprasangka. Tetapi aku tidak berhasil paman. Aku tetap menganggap bahwa aku selalu dikesampingkan oleh isi istana ini. Untuk tidak mendendam-pun rasa-rasanya terlampau sulit. Adinda Tohjaya benar-benar telah menyakitkan hatiku setiap saat. Sebagai saudara tua aku selalu mencoba menghindarkan diri dari setiap kemungkinan yang tidak baik. Tetapi ada-ada saja alasan yang dibuatnya. Dan paman-pun tahu, bahwa setiap kali, akulah yang selalu mendapat marah dari Ayahanda Sri Rajasa. Bahkan kadang-kadang dihadapan banyak orang. Dimasa kanak-anak aku tidak begitu menghiraukannya, dimana-pun aku dimarahi. Tetapi kini setelah aku menyadari kedudukanku sebagai seorang Putera Mahkota, apakah tindakan yang demikian itu justru tidak merendahkan martabat Putera Mahkota yang telah diangkat oleh Ayahanda Sri Rajasa sendiri? Dan itu berarti merendahkan kewibawaan pimpinan pemerintahan di masa mendatang?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ternyata kini ia tidak lagi berbicara dengan anak-anak.

“Anusapati, Ayahanda Sri Rajasa adalah manusia pula seperti aku, seperti kau, seperti setiap orang yang lain, yang kadang-kadang memang dapat berbuat khilaf.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu adalah suatu pemupus. Memang aku-pun akan lari kesana apabila aku sudah kehilangan akal.”

“Ah,” Mahisa Agni berdesah, “bukan sekedar pemupus. Tetapi pahami sifat manusiawi. Kau harus memperhitungkan sifat manusiawi itu didalam derap langkahmu. Tegasnya, apa yang hurus kau lakukan menghadapi sifat-sifat ayahanda yang demikian. Tetapi tidak dengan niat yang jelek. Kau harus menyongsong hari depanmu dengan memperhitungkan segala keadaan itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku dapat mengerti berdasarkan nalar paman, tetapi perasaan ini kadang-kadang terlampau sulit dikendalikan.”

“Itu sudah baik Anusapati. Kalau kau sudah dapat mempertimbangkan berdasarkan nalar, maka kau harus melatih perasaanmu untuk dapat mengertinya pula.”

“Aku berjanji untuk mencobanya paman. Mudah-mudahan aku berhasil menguasai perasaanku yang kadang-kadang melonjak-lonjak.”

“Itu adalah ciri kemudaanmu. Memang darah seorang anak muda kadang-kadang menggelegak tidak terkendalikan. Namun apabila kau sadari, maka kau sudah menempuh separo jalan dari pengendalian itu.”

“Nasehat paman akan selalu aku ingat. Aku akan mencoba sekuat tenagaku. Aku memang berharap agar ilmu yang ada padaku akan dapat bermanfaat bagi kemanusiaan dan bagi Singasari.”

“Bagus Anusapati. Itu adalah cita-cita yang benar bagi seorang Putera Mahkota. Dan kau harus meyakini kebenaran itu. Berdoalah, agar Yang Maha Agung selalu menuntun langkahmu.”

Anusapati memang menepati kata-katanya. Ia berusaha sekuat-kuatnya untuk mencoba memenuhi nasehat Mahisa Agni. Ia mencoba tidak berprasangka dan tidak mendendam, betapa perasaannya melonjak-lonjak.

Namun seperti yang dicemaskan oleh Mahisa Agni, maka kecurigaan kepada hubungan mereka-pun akhirnya terjadi. Beberapa orang prajurit yang sedang menjilat, dan Tohjaya sendiri selalu mengadukan hubungan itu kepada Sri Rajasa.

“Kenapa dengan hubungan mereka?” bertanya Sri Rajasa.

“Hamba tidak senang ayahanda,” jawab Tohjaya.

“Ya, kenapa kau tidak senang? Kau tidak usah mempedulikan hubungan mereka. Mereka adalah keluarga dekat. Paman dan kemanakan.”

“Ibu juga tidak senang kepada paman Mahisa Agni. Bahkan sebenarnya sejak paman Mahisa Agni ada di istana, ibu sudah mengatakan, bahwa sebaiknya orang itu diusir.”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya, “Tentu tidak dapat Tohjaya. Mahisa Agni telah banyak berjasa kepadaku. Ketika Singasari berperang dan mengalahkan Kediri, maka jasa Mahisa Agni tidak dapat aku kesampingkan.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Benar ayahanda. Tetapi apakah dengan demikian ia dapat berbuat apa saja di istana?”

“Coba katakan, apa yang sudah dilakukannya?”

Tohjaya terdiam. Ia memang tidak dapat mengatakan, apakah kesalahan Mahisa Agni selain menyebutnya terlampau dekat dengan Mahisa Agni.

Tetapi Tohjaya tidak berputus-asa. Ia tahu benar bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang mempunyai ilmu setaraf dengan Sri Rajasa sendiri. Karena itu, apabila Anusapati terlampau dekat dengan orang itu, maka menurut perhitungan Tohjaya, adalah berbahaya sekali. Meskipun setiap mereka berada di arena latihan, yang dipimpin oleh para prajurit yang ditunjuk oleh Sri Rajasa bagi putera-puteranya, maka Anusapati hampir tidak dapat berbuat apa-apa. Selain daripada itu, atas persetujuan Sri Rajasa, Tohjaya telah mendapat pelajaran khusus oleh seorang guru yang diminta oleh ibunya, Ken Umang.

Karena hampir setiap hari Tohjaya mempersoalkan Mahisa Agni, bahkan kemudian juga Ken Umang, maka akhirnya Sri Rajasa harus mengambil suatu kebijaksanaan.

Mahisa Agni sendiri terkejut ketika pada suatu hari, ia dipanggil langsung oleh Sri Rajasa, untuk menghadapnya.

“Apakah Sri Rajasa pernah membicarakan sesuatu tentang hamba,” bertanya Mahisa Agni kepada Ken Dedes.

“Tidak kakang. Bahkan pada saat-saat terakhir, Sri Rajasa jarang sekali datang kepadaku, apalagi berbicara tentang sesuatu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hamba telah dipanggil oleh Sri Rajasa untuk menghadap. Tidak di dalam paseban.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Tetapi terasa sesuatu berdesir dihatinya, seolah-olah suatu firasat yang kurang baik baginya, bagi Mahisa Agni dan bagi Anusapati.”

“Mudah-mudahan hamba tidak berbuat suatu kesalahanpun,” berkata Mahisa Agni kemudian.

Ken Dedes yang menjadi cemas mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira kakang tidak berbuat kesalahan. Bahkan mungkin ada sesuatu yang akan dibicarakan dengan Kakang Mahisa Agni, sesuatu yang penting bagi Singasari.”

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan Ken Dedes. Sejenak ia singgah di bilik ibunya yang sudah menjadi semakin tua, yang oleh Ken Dedes sudah diberi ijin untuk lebih banyak beristirahat karena ketuaannya.

“Aku berdoa untukmu Agni,” berkata ibunya.

Mahisa Agni yang mendapat panggilan khusus itu-pun kemudian pergi menghadap Sri Rajasa. Tidak seperti biasanya, apabila Sri Rajasa ingin membicarakan sesuatu yang penting, ia selalu didampingi oleh beberapa orang pemimpin dan Senapati. Tetapi kali ini ketika Mahisa Agni memasuki bilik Sri Rajasa di bagian dalam istana, tidak seorang pemimpin pemerintahan mau-pun Senapati, selain Tohjaya.

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar.

“Nah, marilah Agni, mendekatlah,” berkata Sri Rajasa.

Kata-kata Sri Rajasa itu telah membuat Mahisa Agni agak lega. Nadanya sama sekali bukan nada seseorang yang sedang marah.

“Aku memerlukan kau,” berkata Sri Rajasa lebih lanjut.

Mahisa Agni-pun bergeser mendekat.

Seperti kebiasaan Sri Rajasa, ia tidak pernah menyusur jalan yang jauh untuk menyampaikan maksudnya. Karena itu langsung ia berkata, “Mahisa Agni. Aku memerlukan seseorang yang dapat mengawasi perkembangan Kediri di saat-saat terakhir. Beberapa orang yang aku letakkan di sana, agak kurang dapat menguasai keadaan. Perkembangan Kediri di saat-saat terakhir ternyata menggembirakan dari segi kesejahteraan rakyatnya, tetapi juga membahayakan dari segi keprajuritan. Karena itu, aku telah memutuskan untuk mengirim kau kesana, agar kau dapat mengawasi langsung, pemerintahan yang ada sekarang.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Kini ia yakin, bahwa memang ada usaha untuk memisahkannya dari Anusapati.

“Untunglah,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “Anusapati telah menerima semua bahan-bahan yang diperlukan. Kalau ia tekun berlatih seorang diri. maka ia akan dapat menguasai ilmunya dengan baik.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya ketika Sri Rajasa bertanya, “Apa katamu?”

“Hamba hanya dapat menjunjung perintah Tuanku,” jawab Mahisa Agni.

“Apakah kau tidak berkeberatan?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Didalam hati ia berkata, “Apakah kalau aku berkeberatan, maka keputusan ini akan dibatalkan?” Tetapi yang dikatakannya adalah, “Tidak Tuanku. Hamba sama sekali tidak berkeberatan. Hamba adalah seorang yang seakan-akan hidup sendiri, sehingga hamba dapat saja terbang bebas seperti burung di udara kemana-pun hamba kehendaki.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Tanpa dikehendakinya sendiri terbayang suatu kehidupan yang tidak dibatasi oleh keharusan yang menjemukan. Alangkah luas alam yang seolah-olah tidak berbatas ini. Seperti kehidupan di masa mudanya. Tidak ada ikatan apa-pun juga yang harus dipenuhinya, apa saja yang hendak dilakukannya di Padang Karautan.

Sebagai seorang Raja kini ia-pun dapat berbuat apa saja sesuka hatinya. Tetapi setiap mata rakyat Singasari dan daerah-daerah yang sudah disatukannya, seakan-akan selalu mengawasinya. Tidak seperti di saat-saat ia berkeliaran di gerumbul-umbul gelap. Apa saja yang dilakukannya, seolah-olah dilindungi oleh tabir yang kelam.

“Apakah yang akan ayahanda titahkan?” tiba-tiba Tohjaya mendesaknya. Suara itu seakan-akan telah membangunkan Sri Rajasa dari lamunannya.

“O,” sahutnya, “apakah kau sudah siap untuk pergi ke Kediri dalam waktu yang singkat?”

“Apakah hamba harus berangkat segera Tuanku?” bertanya Mahisa Agni.

“Ya. Keadaan di Kediri sudah sangat mengkhawatirkan. Di dalam pekan ini kau harus sudah sampai di Kediri dan melakukan tugasmu sebagai wakilku yang akan mengawasi pemerintahan di sana yang selama ini mulai menyimpang dari keharusan yang sudah aku berikan.”

“Baiklah Tuanku. Setiap saat hamba siap untuk berangkat.”

“Bagus. Kau akan disertai oleh beberapa orang pengawal dan Senapati-senapati yang akan membantumu. Kau tidak dapat terlampau percaya kepada orang-orang yang kini melakukan tugas pemerintahan di Kediri.”

“Hamba Tuanku,” sahut Mahisa Agni. namun katanya selanjutnya, “Tetapi hamba masih mempunyai kepercayaan kepada prajurit-prajurit khusus yang sebagian kini bertugas sebagai prajurit di Kediri. Mereka akan menjadi pembantu-pembantu yang baik bagi hamba.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya ya. Ternyata ingatanmu cukup baik.”

“Hamba Tuanku.”

“Bersiaplah sejak sekarang. Kau harus mengemasi perlengkapan yang kau perlukan.”

Demikianlah maka Mahisa Agni merasa bahwa dirinya benar-benar telah disingkirkan dari Istana Singasari. Kalau saja belum terlanjur jatuh perintah itu, ingin kiranya ia minta diri untuk kembali saja ke Panawijen. Tetapi kini semuanya sudah terlanjur. Ia tidak dapat mengelak. Ia harus menjalankan perintah itu. Meskipun tampaknya ia mendapat kepercayaan sebagai wakil Mahkota, dan seakan-akan ia mendapat peningkatan kedudukan tetapi pada hakekatnya. ia merasa tidak diperlukan bahkan tidak dibenarkan berada di istana lebih lama lagi.

Dan waktu yang diberikan kepadanya tidak lebih dari tiga hari, karena dihari kelima ia harus sudah berada di Kediri, sedang pada hari yang keempat ia ingin singgah sebentar ke Panawijen, sebelum ia berangkat ke Kediri.

Waktu yang sempit itu telah dipergunakannya sebaik-baiknya. Diperlukannya untuk minta diri kepada ibunya yang sudah semakin tua, kepada Ken Dedes dan kepada Anusapati. Kepada Putera Mahkota ini, Mahisa Agni banyak sekali memberikan pesan dan petunjuk-petunjuk, terutama untuk mengembangkan dan menyempurnakan ilmu yang sudah dimilikinya.

“Kau mampu bekerja sendiri,” berkata Mahisa Agni, “semuanya telah kau miliki. Bahan-bahan dan cara-cara untuk menyempurnakan dan bahkan menemukan unsur-unsur pelengkap yang dapat membuat ilmumu semakin sempurna. Ingat, ilmu yang ada padamu adalah ilmu yang seharusnya kau pergunakan untuk kepentingan kemanusiaan, Singasari dan lebih-lebih lagi untuk mempertahankan kebenaran.”

“Ya paman. Aku akan selalu mengingat pesan itu.”

“Kalau kau tekun, maka kau akan dapat menyempurnakan ilmumu dalam waktu singkat.”

Anusapati mengangguk.

Kepada embannya yang masih saja selalu melayaninya. Mahisa Agni berkata, “Aku titipkan Putera Mahkota kepadamu. Aku tahu bahwa kau sedang mengemban tugas rangkap yang tentu sangat berat. Kau mendapat kepercayaan dari Sri Rajasa untuk membuat momonganmu menjadi seorang anak muda seperti yang dikehendaki. Sedang kau adalah pribadi yang mempunyai sikap sendiri.”

“Ya tuan. Betapa beratnya, aku akan mencobanya.”

“Apakah maksud paman?”

“Pemomongmu harus selalu mengawasimu, seperti yang dititahkan oleh ayahanda.”

“Apakah yang dititahkannya?”

“Ampun tuanku Putera Mahkota, sejak tuanku masih kanak-anak, hamba selalu mendapat pesan agar tuanku menjadi seorang anak muda yang jatmika, lembut dan bijaksana. Sudah tentu tugas itu sangat berat bagi hamba, karena hamba hanyalah seorang emban. Namun agaknya ibunda Permaisuri-pun telah berusaha untuk membentuk tuanku menjadi anak muda seperti yang diharapkan.”

Anusapati berdesah. Tetapi ia tidak menjawab.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [198]