Pelangi di Langit Singasari [ 65 ]

249

oleh S.H. Mintardja
[ Seri 65 ]

 

DENGAN hati-hati kelompok-kelompok itu mulai melakukan pemeriksaan. Setiap gerumbul perdu dan tanaman-tanaman bunga-bungaan telah diperiksa dengan cermat. Setiap pondok dan gardu, bahkan setiap bangsal yang ada. Bukan saja bagian-bagian di dalam bangunan dan di sekitarnya, tetapi juga di atasnya.

Setiap kali beberapa orang prajurit atau perwira telah mencoba meloncat ke atas dinding batu untuk melihat bagian atas dari setiap bangunan yang ada.

Tetapi belum ada suatu kelompok-pun yang menjumpai seseorang yang mencurigakan.

Kelompok yang mendapat tugas di bagian belakang, telah membangunkan setiap orang yang tinggal di sana. Pondok-pondok yang tertutup rapat harus dibuka. Dua atau tiga orang prajurit memasuki setiap rumah, mengamati setiap orang yang ada di dalam pondok-pondok itu, kalau-kalau mereka menemukan orang asing. Tetapi mereka tidak menemukan apa-apa.

Beberapa orang prajurit muda berebutan memeriksa pondok para emban. Tetapi mereka kehilangan nafsu penelitian mereka ketika beberapa orang emban yang terdapat di dalam pondok itu mulai bertanya, “Siapakah yang mau kau cari?”

Salah seorang prajurit menjawabnya sambil bergurau, “Kau.”

“Ah. Tentu bukan aku. Tetapi mBok ayu ini,” katanya sambil mendorong seorang kawannya sehingga hampir saja melanggar prajurit yang sedang memeriksa ruangan-ruangan itu.

Karena prajurit itu membawa pedang telanjang, maka emban itu hampir saja menyentuh ujungnya seandainya prajurit itu tidak dengan cepat menariknya.

“Kau, kau,” emban yang didorong itu meloncat sambil mencubit gadis yang mendorongnya.

“Aduh, aduh sakit.”

“Kau nakal sekali. Ayo apakah kau sudah jera.”

“Sudah. Aku sudah jera.”

“Ssst,” prajurit-prajurit yang ada di dalam pondok itu berdesis, “jangan ribut. Aku sedang bertugas. Kalau kau mulai bergurau maka kami tidak akan dapat menjalankan tugas kami dengan baik.”

Emban-emban itu tertawa. Salah seorang berkata, “Pandai juga kau memilih tugas.”

“Sudah kami rencanakan. Kami harus menggeledah seisi pondok ini. Mungkin kalian menyembunyikan orang asing disini.”

“Silahkan,” berkata emban-emban itu.

“Kalian harus menunggui kerja kami supaya kalian tidak kehilangan apa-pun juga. Kami-pun akan menggeledah kalian seorang demi seorang, kalau-kalau kalian menyembunyikan orang asing itu di dalam pakaian kalian.”

“Jadi?”

“Kami geledah pakaian yang kalian pakai.”

“Tidak mau, tidak mau,” emban-emban yang masih muda itu berteriak hampir berbareng.

“Ssst,” sekali lagi prajurit-prajurit itu berdesis, “jangan berteriak-teriak. Kami akan dicurigai oleh para prajurit dan perwira yang ada di luar. Mereka mungkin menjadi iri, dan memaksa kami keluar. Kalau para perwira itu menangani sendiri, kalian tidak akan dapat menolak seandainya mereka akan menggeledah seluruh tempat ini termasuk kalian masing-masing.”

“Tidak mau, tidak mau.”

“Kalau begitu tenanglah. Berkumpullah diruang tengah ini. Seluruhnya. Kami akan memasuki setiap ruangan.”

Demikianlah maka penelitian itu dilakukan secermat-cermatnya. Tidak ada tempat yang terlampaui.

Sementara itu, kelompok yang langsung dipimpin oleh Panglima pasukan pengawal sudah sampai pula di bangsal Sri Rajasa. Mereka masih menemukan Tohjaya, dua orang prajurit pengawalnya, beberapa orang prajurit yang lain. yang ikut serta mengawal bangsal itu setelah ada tanda bahaya, dan gurunya, penasehat Sri Rajasa itu.

“Kau,” desis Tohjaya ketika Panglima itu mendekati bangsal.

Panglima pasukan pengawal itu menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian sambil mendekat ia berkata, “Hamba tuanku. Hamba sedang meronda berkeliling setelah hamba mendengar tanda bahaya dari luar istana.”

“Ya. Aku memerintahkan para pengawal membunyikan tanda bahaya. Apakah tanda bahaya itu merambat keluar kota?”

“Hamba tuanku. Bukan saja halaman istana ini yang kini diliputi oleh kecemasan. Tetapi beberapa bagian di luar istana agaknya telah mendengar pula. Hamba telah memerintahkan kesiagaan di luar istana pula. bukan hanya di dalam istana.”

“Bagus,” Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “sekarang apakah yang kau lakukan?”

“Kami menjelajahi isi halaman ini untuk mencari orang-orang yang diberitakan masuk ke dalam halaman ini.”

“Bukan diberitakan. Tetapi pasti. Aku melihatnya sendiri.”

Dalam pada itu Anusapati-pun kemudian mendekat sambil berkata, “Adinda Tohjaya melihat orang-orang itu?”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang yang mendekat itu. “Kakanda Anusapati?” ia bertanya.

“Ya, aku,” sahut Anusapati.

“Apakah yang kakanda lakukan?”

“Aku bersama dengan para prajurit sedang meronda.”

“Apakah kakanda tidak mendengar tanda bahaya?”

“Justru karena aku mendengar tanda bahaya.”

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Ia-pun menjadi heran. “Justru karena ia mendengar tanda bahaya.” Tohjaya mengulang di dalam hatinya.

“Jadi, kakanda tidak tinggal saja di dalam bangsal? Apakah kakanda menyadari bahaya yang sedang membayangi halaman istana ini?”

“Aku menyadari. Itu adalah salah satu kuwajibanku justru karena Ayahanda Sri Rajasa tidak ada.”

Tohjaya menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Anusapati. Seperti para perwira prajurit yang menyertainya, sama sekali tidak mengira bahwa pada suatu saat Anusapati benar-benar bersikap sebagai Putera Sri Rajasa.

“Aku telah memerintahkan pula untuk menutup halaman ini dan mencarinya sampai kita semua mendapatkan orang-orang yang masuk kedalam istana itu, karena aku yakin, tidak seekor cicak-pun yang akan dapat keluar dari istana ini. Setiap jengkal dinding sudah diawasi. Aku sudah mengelilingi halaman istana sebelum aku sampai ke regol depan dan menemui Panglima pasukan pengawal.”

Tohjaya menjadi semakin berdebar-debar. Dan Anusapati-pun berkata pula, “Nah, sekarang kami sedang mencari orang-orang itu di segala sudut. Kami telah membagi pasukan yang ada menjadi empat kelompok kecil, untuk meneliti setiap jengkal tanah di dalam halaman istana.”

“Kenapa aku tidak melakukannya lebih dahulu,” Tohjaya berkata di dalam hatinya dengan penuh penyesalan, “kenapa aku tetap tinggal di bangsal ini menunggui angin?”

Tetapi semuanya sudah terlanjur. Untuk menutup kekecewaannya Tohjaya berkata, “Aku sudah menemukan mereka bertiga sebelum kalian berbuat sesuatu. Akulah yang memerintahkan tanda itu dibunyikan.”

“Apakah kau tidak berusaha menangkapnya?” bertanya Anusapati tiba-tiba.

Pertanyaan itu terasa menyinggung perasaan Tohjaya. Namun ia menjawab, “Aku sudah bertempur melawan ketiganya. Tetapi mereka melarikan diri.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau perintahmu tidak terlambat adinda Tohjaya, maka orang-orang itu pasti tidak akan dapat keluar istana ini. Tetapi kalau Adinda Tohjaya terlambat, dan tanda-tanda itu berbunyi justru setelah yang kau katakan tiga orang itu sudah berada di luar istana, maka kita pasti tidak akan dapat menemukannya.”

“Aku tidak terlambat,” berkata Tohjaya lantang, “tetapi aku memerlukan waktu. Setelah ketiganya melarikan diri, aku baru dapat memerintahkan pengawalku untuk membunyikan tanda bahaya dan menghubungi para petugas di malam ini.”

“Jadi Adinda Tohjaya bersama pengawal-pengawal itu?”

“Ya.”

“Di bangsal ini?”

Tohjaya menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia-pun menganggukkan kepalanya, “Ya. Aku berada di bangsal ini bersama pengawal-pengawalku.”

“Dan penasehat ayahanda Sri Rajasa itu?”

Sekali lagi Tohjaya menjadi ragu-ragu. Namun ia harus mengiakannya pula, “Ya. Bersama penasehat Ayahanda Sri Rajasa. Aku sedang mempelajari beberapa isi rontal.”

“Apakah pengawal-pengawal adinda tidak membantu berusaha menangkap salah seorang dari mereka?”

Wajah Tohjaya menjadi merah. Untunglah bahwa didalam gelapnya malam perubahan wajah itu tidak nyata kelihatan. Sambil mengumpat di dalam hati ia menjawab, “Pertanyaan kakanda adalah pertanyaan yang aneh. Sudah tentu kami semuanya berusaha sejauh-jauh dapat kami lakukan. Tetapi sudah aku katakan, mereka melarikan diri. Kalau kakanda bertanya apakah aku tidak mengejarnya, aku akan menjawab, bahwa aku sudah mengejarnya bersama para pengawal. Tetapi aku tidak akan dapat menjawab kalau kakanda bertanya, kenapa aku tidak dapat menangkapnya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, meski-pun ia tersenyum di dalam hati.

Agaknya Panglima pasukan pengawal yang mengetahui bahwa ada jarak pada kedua putera Sri Rajasa itu berkata, “Ampun tuanku berdua. Tugas kita sekarang adalah mencari orang-orang itu dan menemukannya. Kemudian menangkap mereka hidup atau mati.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Panglima itu cukup bijaksana sehingga karena itu ia menjawab, “Ya. Kita sekarang mencari orang itu. Kita akan menangkap hidup atau mati.”

Suasana yang sudah mereda itu tiba-tiba melonjak ketika Mahisa-wonga-teleng menyambung dari kejauhan, “Tetapi benarkah ada orang-orang yang memasuki istana ini?”

Tohjaya yang sudah menahan hati itu hampir-hampir saja menjadi marah kepada Mahisa-wonga-teleng. Namun agaknya ia masih berusaha menahan hatinya. Meskipun demikian ia menjawab, “Agaknya aku masih dapat mempercayai otakku Adinda Mahisa-wonga-teleng. Aku masih dapat membedakan antara sebuah mimpi dan kenyataan yang terjadi dihadapanku, bahkan yang telah memaksa aku untuk bertempur.”

Mahisa-wonga-teleng tidak menjawab lagi. Tetapi hatinya agak menjadi berdebar-debar juga. Ternyata ia telah menyinggung perasaan Tohjaya.

“Sudahlah.” Panglima itu sekali lagi menengahinya, “kita jangan membuang-buang waktu. Kita harus segera menemukan orang itu.”

“Ya, marilah, kita lanjutkan usaha kita malam ini. Selambatnya besok pagi-pagi, orang itu harus sudah tertangkap.”

Panglima itu-pun kemudian menganggukkan kepalanya dalam-dalam kepada Tohjaya sambil berkata, “Hamba akan melanjutkan tugas hamba tuanku. Hamba sengaja tidak melihat keadaan di dalam bangsal dan sekitarnya karena di sini ada tuanku serta para pengawal. Seandainya orang-orang itu kembali ke bangsal ini atau kelongkangan di belakang, hamba serahkan kepada tuanku.”

“Seharusnya kau tidak usah mengatakannya. Apakah tanpa pesan itu aku tidak akan berbuat apa-apa seandainya mereka kembali dan bersembunyi di sini?”

Dada Panglima itulah kini yang berdesir. Ia adalah seorang prajurit yang tertinggi di dalam kesatuannya. Ia mempunyai wewenang dan kekuasaan. Adalah tidak pada tempatnya bahwa Tohjaya bersikap begitu kasar kepadanya.

Tetapi sebagai orang yang telah cukup matang, Panglima itu masih menahan hati. Ia sadar pula bahwa ia berhadapan dengan putera terkasih dari Sri Rajasa. Karena itu maka ia-pun manganggukkan kepalanya sekali lagi sambil berkata, “Ampun tuanku. Hamba tidak bermaksud apa-apa. Hamba hanya terlampau berhati-hati. Kalau hal itu tidak berkenan di hati tuanku, biarlah aku mencabut ucapan itu kembali.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Yang kemudian menyahut adalah penasehat Sri Rajasa, “Silahkanlah. Mungkin waktu akan sangat berharga bagi kalian.”

“Terima kasih,” desis Panglima itu, lalu, “Hamba mohon diri tuanku.”

“Ya,” jawab Tohjaya singkat.

Panglima itu-pun kemudian meninggalkan bangsal Sri Rajasa. Anusapati dan adiknya. Mahisa-wonga-teleng-pun minta diri pula kepada Tohjaya. Dan jawab Tohjaya-pun sesingkat jawabannya kepada Panglima itu.

Beberapa langkah setelah mereka meninggalkan bangsal itu, Mahisa-wonga-teleng bertanya kepada Anusapati, “Kakanda, kenapa kakanda Tohjaya ada di tempat itu?”

Anusapati menggeleng, “Aku tidak tahu. Mungkin ia mengikuti orang-orang yang dikatakannya memasuki halaman Istana ini. Atau ia sengaja mengawasi bangsal yang kosong itu, agar tidak dipergunakan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang sedang kita cari.”

“Tetapi kita tidak mencari di sekitar bangsal itu. Orang-orang itu justru akan merasa aman bersembunyi di sana.”

“Ah kau. Dengan demikian adinda Tohjaya akan merasa tidak mendapat kepercayaan.”

“Tetapi ternyata kakanda Tohjaya tidak dapat menangkap.”

“Seandainya ia berada di sana, maksudku orang-orang itu, mereka tidak akan dapat keluar dari halaman ini. Pada suatu saat mereka pastu akan dapat kita tangkap juga.”

Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tetap tidak mengerti, kenapa Tohjaya berada di bangsal Ayahanda Sri Rajasa justru ketika Ayahanda Sri Rajasa tidak ada di istana.

“Mungkin ayahanda memang sudah mengijinkan Kakanda Tohjaya dengan orang-orang yang mengawaninya itu berada di bangsal itu,” katanya di dalam hati untuk menenteramkan hatinya itu sendiri.

Demikianlah maka kelompok-kelompok prajurit yang sedang mencari orang-orang yang dikatakan memasuki istana itu sudah mengelilingi semua sudut. Tidak ada sejengkal tanah-pun yang lepas dari pengawasan mereka. Namun demikian mereka tidak menemukan seorang-pun juga. Mereka tidak menemukan orang-orang yang mencurigakan.

Sambil mengusap keringat di kening, Panglima pengawal itu berdesis, “Ternyata kita tidak menemukan apa-pun juga. Tetapi apa yang dikatakan oleh tuanku Tohjaya itu pasti benar. Soalnya adalah, apakah ketika tanda bahaya berbunyi, orang-orang itu sudah berhasil keluar dari halaman istana ini. Jika demikian, kita tidak akan dapat menangkap mereka.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tetapi bukankah di luar halaman ini penjagaan telah diperkuat pula?”

“Tetapi sudah tentu setelah tanda bahaya itu berbunyi tuanku.”

Sekali lagi Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah-olah ia sependapat dengan Panglima itu. Sudah tentu bahwa Tohjaya memerlukan waktu sebelum tanda bahaya itu berbunyi.

Tetapi Anusapati tersenyum di dalam hati. Ia tahu benar apa yang sebenarnya telah terjadi. Lebih dari Tohjaya dan gurunya. Lebih dari setiap orang di dalam istana itu. Bahkan perwira prajurit yang lebih dahulu turun kelongkangan dan bertempur melawan guru Tohjaya itu-pun tidak mengetahui selengkap yang diketahuinya.

Meski-pun demikian Anusapati tidak dapat menjelaskannya kepada siapa-pun juga. Ditahannya saja perasaan ini di dalam hati. Ia akan menunggu sampai Mahisa Agni pada suatu saat berkunjung ke Singasari. Ia akan menceriterakan apa yang telah terjadi di dalam halaman istana itu.

Ketika fajar mulai menyingsing di Timur, semuai kelompok telah kembali ke regol depan. Mereka berkumpul di gardu induk untuk menyampaikan laporan mereka kapada Panglima pengawal istana.

“Aneh,” desis Panglima itu.

“Apakah kalian mencurigai seseorang?” bertanya Anusapati.

Hampir berbareng para pemimpin kelompok menyahut, “Tidak tuanku. Hamba tidak melihat tanda-tanda yang dapat menimbulkan kecurigaan. Apalagi pada seseorang.”

Anusapati mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada Panglima itu, “Mungkin kita terlambat. Maksudku, tanda bahaya itulah yang terlambat sehingga orang-orang itu sempat meloncat keluar.”

Panglima itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin tuanku. Hamba juga menyangka demikian. Hamba menduga bahwa apabila tanda itu tepat pada waktunya, para pengawal cukup cepat bertindak. Setidak-tidaknya pasti ada satu dua orang yang melihatnya meloncat meskipun dari kejauhan. Karena menurut laporan, begitu tanda yang pertama berbunyi, maka semua prajurit yang mendengarnya langsung menjaga semua regol dan mengawasi segenap dinding.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku melihat sendiri. Aku-pun segera melihat berkeliling halaman istana.” Anusapati diam sejenak, “kita akan bersama-sama melaporkannya kepada Ayahanda Sri Rajasa. Kau dan aku. Ayahanda tidak akan dapat menyalahkan kita semua para prajurit. Kalau Ayahanda Sri Rajasa menganggap bahwa kesempatan lepas dari orang-orang itu merupakan suatu kesalahan, ayahanda harus menimbang secara adil, siapakah yang sebenarnya bersalah.”

Panglima itu merenung sejenak. Desisnya, “Hamba tuanku. Hamba akan menyampaikan laporan apa yang ada dan apa yang sebenarnya terjadi.”

Demikianlah maka malam itu, istana Singasari telah dilanda oleh suatu teka-teki yang menggemparkan. Sebelum matahari naik. maka berita itu telah tersebar hampir ke seluruh kota.

Orang-orang Singasari segera mempercakapkan peristiwa itu dengan setiap orang yang mereka jumpai. Di jalan-jalan, di pasar, di rumah-rumah tetangga dan bahkan di tikungan-tikungan.

“Pasti hantu dari prajurit-prajurit Kediri yang ingin membalas dendam,” berkata salah seorang dari mereka.

“Kenapa tidak kepada Sri Rajasa atau Mahisa Agni. Merekalah yang telah membinasakan para pemimpin puncak di Kediri. Kenapa hantu itu justru datang ke bangsal yang sedang kosong itu?”

“Tentu mereka tidak berani menghadapi Sri Rajasa. Mereka masih tetap ketakutan. Juga kepada Mahisa Agni. Itulah sebabnya mereka berusaha menakut-nakuti puteranya terkasih, Tohjaya.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Bukan, pasti bukan hantu. Mereka pasti orang-orang Kediri yang mendendam.”

“Tetapi kenapa mereka dapat hilang begitu saja?”

“Pasti dengan aji panglimunan. Mereka menjadi tidak kelihatan. Dengan demikian mereka dapat leluasa keluar lewat regol betapapun rapatnya penjagaan.”

“Kalau Kediri mempunyai tiga orang saja yang memiliki ilmu itu yang sebenarnya, Singasari tidak akan dapat mengalahkannya.”

“Kenapa?”

“Dengan mudahnya mereka akan membunuh semua prajurit Singasari di garis perang. Bahkan Sri Rajasa dan Mahisa Agni.”

“Bodoh kau. Sri Rajasa dan Mahisa Agni memiliki aji Sapta Pandulu dan Sapta Pangrungu. Mereka akan melihat yang tidak tampak oleh mata biasa, dan mereka akan mendengar apa yang tidak terdengar oleh telinga wadag ini. Meskipun mereka dapat melenyapkan diri dengan aji Panglimunun, namun baik Sri Rajasa dan Mahisa Agni tetap dapat melihat mereka dan mendengar langkahnya.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itulah sebabnya mereka datang pada saat Sri Rajasa tidak ada dan demikian pula Mahisa Agni.”

“Tetapi apa maksudnya? Kalau mereka akan mengganggu putera-putera Sri Rajasa, mereka pasti dapat melakukannya. Mereka tidak usah bertempur dan melarikan diri.”

Mereka-pun terdiam. Sejenak mereka mencoba mencari alasan untuk membenarkan pendirian masing-masing.

Namun tiba-tiba saja tanpa mereka duga-duga, seorang anak laki-laki yang berdiri di antara mereka bertanya, “Siapakah mereka itu paman?”

“Tidak ada yang tahu.”

“Kenapa mereka memakai selubung hitam seandainya memang belum ada seorang-pun yang tahu? Apa pula gunanya?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan orang-orang tua. Anak itu berkata dengan jujur, seperti apa yang tersirat di dalam hatinya.

Karena itu, maka beberapa orang tua-tua itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka kemudian berkata, “Ya, kenapa kita tidak bertanya seperti anak itu? Buat apa sebenarnya mereka memakai tutup wajah?”

Yang lain mengangguk-angguk, “Ya, sudah tentu mereka takut dikenal. Apakah mereka sebenarnya orang-orang yang memang sudah dikenal di istana?”

“Ah. Itu adalah urusan orang-orang istana. Bukan urusan kita.”

Ternyata pertanyaan itu-pun sudah tumbuh pula dikalangan orang-orang istana. Ketika para pengawal pasti, bahwa orang-orang itu tidak dapat diketemukan sampai pagi hari berikutnya, maka Panglima pengawal itu-pun bergumam hampir kepada diri sendiri, “Aneh. Tetapi apa pula gunanya mereka memakai tutup wajah?”

Anusapati yang masih berada di antara para prajurit itu-pun menjadi berdebar-debar. Tetapi ia-pun menyahut, “Ya. Apa pula gunanya mereka mempergunakan tutup kepala? Ada dua kemungkinan. Mereka memang orang-orang yang sebenarnya sudah dikenal di istana ini atau orang-orang yang takut dikenal kemudian karena mereka memang sering datang ke Singasari.”

Panglima itu mengangguk-angguk. Ia-pun kemudian bertanya, “Bagaimana pendapat tuanku?”

“Aku mengira bahwa mereka memang orang-orang yang sudah dikenal dan sudah mengenal liku-liku istana. Mereka dapat tanpa diketahui oleh seorang penjaga-pun mencapai pusat dari halaman istana yang luas ini. Mereka berhasil mendekati bangsal Ayahanda Sri Rajasa dan bahkan masuk kelongkangan belakang menurut Adinda Tohjaya. Kemudian mereka dapat menghilang tanpa diketahui oleh para penjaga. Menurut dugaanku orang-orang itu sudah cukup mengenal isi istana ini.”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hamba-pun berpendapat, bahwa hamba harus mengawasi setiap orang di dalam istana ini. Hamba wajib mencurigai mereka yang tinggal di dalam.”

“Tetapi menurut pengamatanku, sulitlah mencari, jangankan tiga, seorang saja di antara isi istana ini yang mampu berbuat seperti yang dikatakan oleh Adinda Tohjaya.”

Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

Sehari berikutnya, halaman istana seakan-akan masih tertutup rapat-rapat. Tidak boleh ada orang yang keluar atau masuk tanpa pengamatan khusus.

Perwira prajurit, guru Tohjaya dan Anusapati-pun sudah mengunjungi pusat-pusat pengawasan halaman istana digardu induk. Seperti Anusapati dan Panglima pasukan pengawal ia sependapat, bahwa setiap orang memang harus dicurigai.

“Tetapi tiga orang yang berilmu. Apakah ada satu saja orang-orang di dalam halaman ini yang mampu berbuat seperti dikatakan oleh tuanku Tohjaya?”

Pertanyaan itu memang telah menyentuh setiap dada. Hanya para Panglima dan prajurit-prajurit pilihan sajalah yang memiliki kemampuan yang begitu tinggi. Dan pada umumnya mereka berada di luar istana.

Tetapi ada juga yang melihat, setidak-tidaknya seorang yang memiliki ilmu yang cukup. Perwira prajurit yang menjadi guru Tohjaya dan Anusapati.

“Tetapi orang itu tidak mempunyai kepentingan apapun. Apa pula maksudnya berbuat onar?” bertanya orang-orang yang telah menyorotinya di dalam hati, “apakah ia sekedar mencobai muridnya?”

Tetapi orang lain justru berpikir, “Apakah Sri Rajasa sendiri yang telah memasuki halaman ini bersama dua orang prajurit pilihan. Ia agaknya ingin melihat kesiagaan istana Singasari dengan langsung.”

Ada pula yang berpikir, “Mungkin Mahisa Agni.”

Namun tidak ada seorang-pun yang dapat mendekatkan dugaannya. Semuanya hanyalah sekedar dugaan yang masih belum dapat disertai dengan bukti atau alasan yang mapan.

Demikianlah maka penjagaan di istana Singasari itu-pun menjadi semakin ketat di hari berikutnya. Sampai saatnya Sri Rajasa datang kembali dari berburu.

Istana Singasari yang nampak sepi untuk beberapa hari itu-pun rasa-rasanya menjadi hidup kembali. Bangsal di pusat halaman itu-pun menjadi terang benderang, justru karena Sri Rajasa sudah berada di dalamnya.

Setelah Sri Rajasa beristirahat dan menikmati hasil buruannya, membagikan daging binatang buruan, dan menyimpan kulitnya, kulit harimau, kijang dan seekor biawak raksasa, barulah Panglima pengawal istana berani melaporkan apa yang sudah terjadi di istana. Panglima itu sengaja mengambil kesempatan yang pertama sebelum orang lain menyampaikannya.

Wajah Sri Rajasa tiba-tiba menjadi merah padam. Sambil menghentakkan tangannya ia berkata, “Dan kalian tidak berhasil menangkap orang-orang itu?”

“Ampun tuanku,” berkata Panglima, “sekejap setelah tanda bahaya berbunyi, kami sudah siap mengepung istana. Tidak seorang-pun yang dapat lolos lewat mana-pun juga. Tuanku Putera Mahkota-pun segera hadir di gardu induk dan bersama kami mengelilingi segenap sudut istana ini, sementara para pengawal dan prajurit tetap di tempat masing-masing. Bukan saja para prajurit yang bertugas, tetapi para prajurit di barak keprajuritan di sebelah istana ini-pun sebagian telah diperbantukan ke dalam istana.”

Sejenak Sri Rajasa terdiam. Tampak betapa gelora yang dahsyat telah melanda dadanya. Sementara Panglima itu meneruskan, “Putera tuanku yang lain-pun telah ikut pula di dalam usaha itu. Tuanku Tohjaya berada di bangsal tuanku, tuanku Mahisa-wonga-teleng ikut pula bersama kami dan tuanku Anusapati.”

Darah Sri Rajasa serasa telah mendidih. Adalah suatu penghinaan, bahwa tiga orang berkerudung hitam telah memasuki halaman istana. Meskipun para prajurit telah dengan cepatnya berusaha mengepung istana sehingga tidak memberinya kesempatan lolos, tetapi kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, orang-orang itu tidak dapat ditangkap.

Panglima itu-pun kemudian menceriterakan bahwa Tohjaya telah terlibat dalam perkelahian melawan ketiga orang itu. Namun mereka berhasil lolos juga.

Sri Rajasa menggeretakkan giginya. Hampir saja ia bertanya, kenapa penasehatnya yang menggurui Tohjaya tidak menangkap mereka. Tetapi untunglah bahwa ia sadar, dan menunda pertanyaannya itu dalam kesempatan yang lain.

“Aku mengharap mereka kembali,” berkata Sri Rajasa, “aku ingin melihat siapakah sebenarnya mereka itu.”

Panglima pasukan pengawal itu-pun duduk sambil menundukkan kepalanya. Agaknya Sri Rajasa benar-benar telah marah.

Demikianlah akhirnya Panglima itu diijinkan untuk meninggalkan bangsal. Yang menghadap kemudian adalah Tohjaya bersama penasehat Sri Rajasa yang telah ditunjuk untuk memberikan latihan-latihan kepada puteranya itu.

Dari mereka Sri Rajasa-pun mendengar laporan yang sama, bahkan lebih terperinci lagi. Tohjaya dapat menceriterakan bagaimana mereka seorang demi seorang turun dan berkelahi. Bagaimana gurunya telah turun tangan, tetapi tidak dapat mengimbangi kemampuan mereka. Salah seorang dari ketiga orang itu ternyata memiliki kemampuan di atas gurunya, sehingga mereka sama sekali tidak berhasil menangkapnya.

“Gila,” Sri Rajasa menggeram, “penghinaan tiada taranya bagi Sri Rajasa.”

Di hari berikutnya, justru telah keluar suatu perintah yang aneh bagi para pengawas. Tetapi ketika Panglima pengawal telah menghadap Sri Rajasa, ia mendapat penjelasan tentang perintah itu.

“Aku memang menghendaki, agar orang-orang itu menganggap bahwa kita sudah lengah. Penjagaan harus dikembalikan seperti biasa. Tetapi harus ada gardu-gardu pengawas yang khusus dan terlindung. Aku mengharap bahwa orang-orang itu akan datang kembali. Aku ingin tahu, apakah orang itu mampu melawan Sri Rajasa.”

Barulah Panglima pasukan pengawal itu menjadi jelas. Dan ia-pun segera mengatur segala macam persiapan untuk melakukan perintah Sri Rajasa itu.

Dalam pada itu, di suatu kesempatan Anusapati berkata kepada Sumekar, “Kita sekarang mengalami kesulitan untuk meloncat keluar paman. Di beberapa tempat telah dibuat gardu-gardu pengawas yang khusus. Dengan demikian, maka hampir setiap jengkal dinding dapat diawasi secara tersembunyi.”

Sumekar menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Hamba tuanku. Akibat dari permainan perwira yang telah memaksa kita untuk ikut serta.”

“Kita tidak akan dapat keluar lagi untuk waktu yang agak lama,” berkata Anusapati kemudian, “tetapi kau masih mempunyai kesempatan, justru di siang hari apabila kau ingin menjumpai paman Witantra.”

“Ya. Hamba masih mempunyai waktu.”

Demikianlah, maka istana Singasari itu seolah-olah telah tertutup. Setiap saat Sri Rajasa menunggu untuk mengetahui, sampai dimana kemampuan orang berkerudung itu.

Namun Sri Rajasa bukan seseorang yang terlampau cepat menentukan keputusan dalam setiap persoalan. Ia cukup teliti dan mempunyai perhitungan yang tajam. Seperti kebanyakan orang di dalam istana itu, Sri Rajasa-pun menyimpan kecurigaan bahwa sebenarnya orang di dalam istana itu sendirilah yang telah melakukannya, sehingga ia tidak perlu lari melintasi dinding yang betapa-pun ketatnya pengawasan.

Namun demikian, kecurigaan itu lambat laun terasa pula. Setiap kali Sri Rajasa memanggil seseorang yang pantas dicurigainya untuk dipertemukan dengan Tohjaya. Meskipun persoalan yang dibicarakan adalah persoalan-persoalan yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan peristiwa itu, namun Sri Rajasa mengharap bahwa Tohjaya akan dapat mengenal sikap orang itu.

Tetapi dengan cara itu, Tohjaya tidak berhasil menemukan. Yang dipanggil oleh Tohjaya justru para perwira dan Panglima, orang-orang penting yang memiliki kemampuan cukup, dan perwira prajurit saudara sepupu Ken Umang. Tetapi perwira yang memang merasa dicurigai itu masih berhasil menyembunyikan setiap kesan yang memungkinkan membuka rahasianya.

Yang sama sekali tidak dicurigai di dalam hal ini adalah Sumekar dan Anusapati. Mereka sama sekali tidak dihitung sebagai orang-orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.

Meskipun demikian kecurigaan Sri Rajasa atas orang-orang dalam memang membuat keduanya cemas. Apabila lambat laun perwira prajurit itu tidak berhasil menyembunyikan rahasia ini, maka ia akan mengalami nasib yang sangat buruk.

Disaat-saat Sumekar mendapat kesempatan di siang hari berjalan-jalan keluar istana, ia tidak dapat menahan desakan keinginannya untuk mengatakan hal ini kepada Witantra, sehingga sambil tersenyum Witantra berkata, “Kalian telah menyusahkan diri kalian sendiri. Tetapi kasihan juga perwira itu.” Witantra berhenti sejenak, lalu, “Baiklah, aku akan membebaskannya dari kecurigaan itu.”

“Maksudmu?” bertanya Sumekar.

Witantra tertawa. Jawabnya kemudian, “Aku akan berbuat sesuatu sehingga timbul kesan bahwa yang telah melakukannya adalah memang orang di luar istana.”

“Tetapi apakah hal itu tidak akan dapat menimbulkan salah paham?”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia tidak segera mengetahui maksud Sumekar sehingga ia bertanya, “Apakah yang kau maksud dengan salah paham?”

“Mungkin Sri Rajasa akan menduga terlampau jauh. Mungkin ia menyangka bahwa akan ada semacam pemberontakan yang didahului dengan perbuatan-perbuatan aneh untuk menunjukkan kelebihan mereka yang akan memberontak. Atau dugaan-dugaan lain yang semacam itu.”

“Aku hanya akan melakukannya satu atau dua kali untuk menyelamatkan orang-orang yang mungkin dicurigai, padahal orang itu tidak pernah berbuat apa-apa, karena Sri Rajasa tidak akan mungkin mencurigai seorang juru taman atau Putera Mahkota yang dungu itu.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, namun kemudian. “Tetapi apakah tidak mungkin bahwa Sri Rajasa akan menduga, bahwa hal itu dilakukan oleh Mahisa Agni yang berada di Kediri?”

Witantra mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan menunggu Mahisa Agni berada di istana Singasari. Bukankah kini ia sering berkunjung kemari untuk membicarakan masalah Putera Mahkota yang sudah sepantasnya kawin?”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya, “Tetapi apakah hal itu tidak akan terlampau berbahaya bagimu?”

Witantra tertawa. Katanya, “Kalau hanya sekedar melarikan diri, aku kira aku tidak akan kalah dari Sri Rajasa.”

Sumekar-pun tersenyum. Ia percaya, bahwa Witantra memiliki beberapa kelebihan dari orang kebanyakan. Witantra pasti sudah mengetahui, betapa tinggi ilmu Sri Rajasa, sehingga ia akan dapat mengira-ngirakan, apa yang sebaiknya dilakukan.

Demikianlah, maka persoalan orang-orang berpakaian hitam yang memasuki istana itu, dengan sengaja dihapus dari pembicaraan sehari-hari. Sri Rajasa sendiri memerintahkan, agar masalah itu tidak selalu diulang-ulang, selalu dibicarakan dan menjadi bahan kecemasan bagi penghuni istana.

“Mereka tidak akan berani datang apabila aku berada di istana,” berkata Sri Rajasa, “bahkan aku mengharap ia sekali-sekali datang mengunjungi aku. Karena itu, jangan terlampau ketat menjaga dinding istana. Beri mereka kesempatan masuk. Aku sendiri akan menangkapnya.”

Dengan demikian, maka masalah orang-orang berkerudung hitam itu sudah tidak pernah diucapkan lagi oleh orang-orang Singasari.

Ketika orang-orang di dalam dan di sekeliling istana sudah melupakannya, maka Mahisa Agni mendapat kesempatan untuk mengunjungi Singasari. Dengan penuh harapan ia menghadap Sri Rajasa untuk menyampaikan kelanjutan persoalan Anusapati yang dianggap sudah agak terlampau lambat kawin bagi seorang Putera Mahkota.

“Hamba menghadap untuk menyampaikan hasil pembicaraan hamba dengan para bangsawan di Kediri,” berkata Mahisa Agni.

“Lalu?”

“Seorang bangsawan yang berdarah Tumapel telah menyetujui permintaan hamba.”

“Kenapa berdarah Tumapel?”

“Adalah menguntungkan sekali bagi kesatuan Singasari dan Kediri.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Apakah kau sudah meneliti lajur keturunannya?”

“Hamba tuanku. Sudah hamba ketahui semuanya.”

“Apa katamu?”

“Menurut hamba, pantaslah apabila keturunan kebangsawanannya akan dikuatkan bagi sisihan Putera Mahkota.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukan kepalanya. “Terserahlah kepada ibunya.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Agaknya Sri Rajasa hampir tidak peduli, apa saja yang akan terjadi dengan Anusapati. Namun demikian Mahisa Agni berkata lebih jauh, “Ampun tuanku. Hamba telah mendahului tuanku, bahwa hamba telah membayangkan kepada keluarga itu, bahwa tuanku menghendaki puterinya bagi Putera Mahkota.”

“Kau adalah pamannya. Kau pasti dapat mempertimbangkannya.”

“Tetapi yang ingin hamba persembahkan kepada tuanku adalah, bahwa di dalam keluarga itu terdapat dua orang gadis kakak beradik.”

“Jadi, yang mana yang kau kehendaki?”

“Ampun tuanku, bagaimana kalau kedua-duanya?”

“Kedua-duanya?”

“Maksud hamba, yang seorang bagi putera tuanku yang muda, tuanku Tohjaya.”

“He,” wajah Sri Rajasa menjadi berkerut-merut. Sejenak ia termenung. Namun kemudian ia berkata, “Aku sama sekali belum pernah berbicara dengan ibunya. Aku kira tidak menginjak perkawinan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi agak kecewa. Katanya, “Hamba sudah menyinggungnya. Tetapi ampun tuanku bahwa hamba agak mendahului tuanku. Menurut tilikan hamba, tuanku Tohjaya-pun sudah cukup dewasa. Sudah sepantasnya apabila tuanku Tohjaya-pun segera menginjak perkawinan.”

“Aku akas berbicara dengan ibunya. Tetapi tidak untuk waktu yang singkat”

Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Sedang Sri Rajasa berkata didalam hatinya, “Tidak pantas bahwa putera kebanggaan Sri Rajasa mendapatkan seorang isteri saudara sekandung dengan isteri Anusapati yang bodoh itu. Tohjaya harus mendapat isteri yang lebih tinggi derajatnya.”

Meskipun demikian Sri Rajasa berkata, “Kalau kau sudah pernah memberikan harapan pada keluarga itu, terlebih-lebih kepada anak gadisnya, bagaimana kalau yang seorang kita kawinkan dengan Mahisa-wonga-teleng?”

Mahisa Agni terperanjat. “Apakah tidak masih terlampau muda tuanku?”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Memang Mahisa-wonga-teleng masih terlampau muda. Tetapi ia sudah tumbuh menjadi seorang anak muda yang pantas disebut dewasa.

“Mungkin umurnya masih terlampau muda,” berkata Sri Rajasa. “Tetapi tiga tahun lagi ia sudah seorang anak muda yang dewasa. Sudah tentu bahwa seandainya Anusapati akan diikat dalam perkawinan, tidak akan kita selenggarakan tahun ini. Kita akan melakukan persiapan seperlunya. Kalau saat perkawinan itu akan berlangsung tahun depan, maka umur Mahisa-wonga-teleng-pun sudah menjadi semakin mendekati batas kedewasaannya sehingga sudah pantas baginya untuk segera kawin di tahun berikutnya.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk. Kalau perhitungan Sri Rajasa demikian, maka dua tahun lagi Mahisa-wonga-teleng memang sudah pantas untuk menjadi seorang suami, meski-pun seorang suami muda.

“Aku kira ibunya tidak akan berkeberatan,” berkata Sri Rajasa. “Bukan Mahisa-wonga-teleng yang terlampau cepat, tetapi Anusapati dan Tohjaya lah yang agak lambat.”

“Jika demikian, kenapa bukan tuanku Tohjaya?”

“Aku memerlukan pembicaraan dengan ibunya. Sedangkan Mahisa-wonga-teleng adalah saudara seibu dengan Anusapati, sehingga pembicaraan tentang masalah perkawinan tidak akan merupakan masalah baru,” Sri Rajasa berhenti sejenak, lalu, “apalagi kau adalah pamannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Segala sesuatu tergantung kepada kebijaksanaan tuanku. Hamba akan melaksanakan saja semua titah tuanku.”

“Aku akan berbicara dengan Permaisuri. Aku rasa ia tidak akan berkeberatan. Kemudian pembicaraan seterusnya, kau sendiri dapat mengaturnya. Pada saatnya, aku akan menyampaikan keputusan itu kepada sidang para pemimpin dan tetua Singasari. Mudah-mudahan mereka tidak berkeberatan.”

“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya.”

“Untuk sementara tinggallah di istana Singasari. Kau tidak perlu mondar-mandir setiap kali dalam pembicaraan ini. Aku akan memberikan keputusanku, sehingga pada saat kau kembali ke Kediri, semuanya sudah selesai. Kita tinggal menunggu saat yang akan kita tentukan itu.”

“Hamba tuanku. Hamba akan menjunjung titah tuanku.”

Demikianlah maka untuk beberapa lama Mahisa Agni berada di istana Singasari. Ia telah bertemu dengan Ken Dedes di dalam persoalan Anusapati.

Mahisa Agni terkejut ketika pada suatu saat perwira prajurit saudara sepupu Ken Umang, datang menemuinya. Dengan gelisah ia mengamati keadaan di sekitarnya. Ketika ia yakin bahwa tidak ada seorang-pun yang mengetahuinya, maka ia-pun mulai berceritera tentang usahanya untuk mengetahui guru Tohjaya yang dianggapnya telah menyainginya itu.

“Kau berhasil?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku berhasil tuan,” jawabnya, “tetapi aku menjumpai keajaiban di dalam hal itu.”

“Keajaiban?”

“Ya tuan. Suatu hal yang sama sekali tidak aku sangka-sangka.” Dan perwira itu-pun kemudian menceriterakan, bagaimana ia tidak dapat lagi menghindarkan diri dari perkelahian melawan guru Tohjaya itu. Tetapi tiba-tiba telah hadir pula dua orang yang kebetulan sekali mempergunakan penutup wajah seperti dirinya sendiri.

“Kau tidak mengenal keduanya?”

“Sama sekali tidak tuan.” ia berhenti sejenak, lalu, “Dan ternyata peristiwa itu telah menggemparkan istana sampai Sri Rajasa kembali dari perburuannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi penasehat raja itulah yang telah menuntun Tohjaya dengan cara yang kasar untuk mempelajari ilmu yang kasar itu pula.

Namun demikian, ceritera tentang dua orang yang berkerudung hitam itu telah menarik perhatian Mahisa Agni pula. Tetapi sebelum ia mendengar ceritera itu dari sumber yang lain, ia sudah dapat menduga, siapakah kira-kira dua orang yang tiba-tiba ada pula di longkangan belakang bangsal Sri Rajasa itu.

Ternyata dugaan Mahisa Agni tidak salah. Disaat lain, ia bertemu dengan Anusapati. Sambil tersenyum Anusapati menceriterakan pula apa yang telah terjadi.

“Orang itu menjadi bingung,” berkata Mahisa Agni, “ia menganggap hal itu sebagai suatu keajaiban.”

Anusapati tertawa. Katanya, “Pada suatu saat, paman Sumekar akan berceritera pula.”

Demikianlah, ketika Mahisa Agni sempat berjalan-jalan di taman, ia menjumpai Sumekar di antara para juru teman. Namua Sumekar sempat juga menemukan waktu untuk berceritera. Tetapi karena ia yakin bahwa Anusapati sudah mengatakan tentang semuanya, maka yang dikatakannya justru pertemuannya dengan Witantra.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “jadi Witantra akan ikut pula bermain-main.”

“Ya. Ia akan membuat Sri Rajasa menjadi semakin bingung.” Sumekar berhenti sejenak, “tetapi bukan itulah tujuannya. Ia ingin membebaskan setiap orang di dalam istana ini dari kecurigaan. Karena sampai saat ini, meskipun seakan-akan tidak ada masalah lagi tentang tiga orang berkerudung itu, namun sebenarnya penyelidikan masih terus dilakukan. Kadang-kadang seseorang dipanggil langsung oleh tuanku Tohjaya, apabila mungkin ia masih dapat mengenalinya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku percaya bahwa Witantra akan dapat melakukannya. Saat ini aku tidak dapat mengatakan, siapakah yang lebih unggul dari keduanya setelah kakang Witantra mengasingkan dirinya untuk waktu yang lama.”

Ceritera-ceritera itu ternyata telah sangat menarik perhatian Mahisa Agni. Ia tahu bahwa Witantra hanya ingin sekedar membebaskan prasangka orang-orang yang terdekat dengan Tohjaya, kepada mereka yang mungkin dicurigai. Memang tidak mustahil bahwa pada suatu saat, orang-orang Tohjaya yang tidak segera dapat menemukan ketiga orang itu, akan segera bertindak kasar. Mereka dapat menangkap siapa saja yang tidak disukainya dan dipaksakannya untuk mengakui perbuatan itu.

Tetapi lebih dari itu, dengan demikian Sri Rajasa akan membuat pertimbangan di setiap tindakannya. Ia tidak akan segera tenggelam dalam kebanggaan, seolah-olah di seluruh permukaan bumi tidak ada orang yang dapat mengimbanginya setelah ia berhasil mengalahkan Maharaja di Kediri. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan terperosok ke dalam pemujaan terhadap dirinya dan bertindak sewenang-wenang.

“Kapan Witantra akan melakukannya?” bertanya Mahisa Agni kemudian.

“Segera setelah kakang Mahisa Agni ada disini.”

“Kenapa menunggu aku ada di sini? Apakah Witantra masih juga memerlukan seorang penonton bagi pertunjukannya yang menarik itu?”

“Kami menjadi cemas, bahwa Sri Rajasa akan salah paham. Menurut penilaian orang-orang Singasari, hanya ada dua orang yang memiliki kemampuan melampaui kemampuan orang kebanyakan. Yang pertama adalah Sri Rajasa sendiri, yang kedua adalah Mahisa Agni. Para Panglima dan prajurit pilihan tidak ada seorang-pun yang mampu menyamainya. Dengan demikian, apabila Witantra melakukannya selagi kakang Mahisa Agni tidak ada di istana, maka mungkin akan timbul dugaan, setidak-tidaknya bagi kebanyakan orang, bahwa kakang Mahisa Agni lah yang telah melakukannya.”

“Ah. Apakah akan sampai begitu jauh?”

“Mudah-mudahan tidak. Tetapi tidak akan ada orang yang berani berbuat demikian selain kakang Mahisa Agni.”

Mahisa Agni tersenyum. Ternyata pertimbangan mereka sudah sampai begitu jauh, yang barangkali justru tidak terpikir sama sekali oleh Sri Rajasa.

Namun demikian Mahisa Agni berkata, “Terima kasih, bahwa kalian di sini masih sempat juga mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atasku. Jika demikian, kita tinggal menunggu kapan kakang Witantra akan membuat tontonan yang aneh itu.”

“Dengan demikian, kita yang ada di dalam istana ini akan bebas dari segala kecurigaan. Terutama perwira prajurit itu. Sorotan yang paling tajam ditujukan kepadanya.”

“Sorotan yang tepat. Tetapi sampai saat ini ia masih sanggup mengelak.”

“Tetapi pada suatu saat ia akan tersudut ke dalam kesulitan sehingga ia tidak akan dapat mengelak lagi, kasihan. Ia akan menjadi bahan pangewan-ewan meskipun ia seorang saudara sepupu tuan puteri Ken Umang.”

“Baiklah kita menunggu, apa yang akan dilakukan oleh Witantra.”

Demikianlah, selama di Singasari Mahisa Agni mendapat kesempatan untuk menyaksikan suatu peristiwa yang cukup menarik, selain ia harus menunggu keputusan Sri Rajasa mengenai perkawinan Putera Mahkota yang masih harus dibicarakan di dalam sidang. Mahisa Agni mengerti bahwa ia sendiri akan dipanggil di dalam sidang itu untuk memberikan penjelasan tentang semua pembicaraan yang pernah dilakukan di Kediri.

Meskipun demikian, meskipun Mahisa Agni percaya kelebihan yang ada di dalam diri Witantra, ia masih juga berdebar-debar menunggu kehadirannya di dalam istana, karena ia sadar bahwa Sri Rajasa adalah seorang yang ajaib sejak ia masih berkeliaran di Padang Karautan.

Tiba-tiba saja Mahisa Agni teringat kepada sebuah pusaka kecil yang diterimanya dari gurunya. Sebuah Trisula yang kini telah disimpannya baik-baik. Trisula yang mempunyai pengaruh langsung kepada Sri Rajasa di dalam sikap jasmaniah.

“Tetapi Sri Rajasa akan segera mengenal benda itu,” desisnya.

Demikianlah, maka hampir setiap malam Mahisa Agni selalu berdebar-debar. Sehingga pada suatu saat dari Sumekar ia mendapat kabar, bahwa malam nantilah Witantra akan hadir di halaman istana.

“Apakah ia akan datang seorang diri?”

“Ya. Ia akan datang seorang diri. Jika kehadirannya telah diketahui orang, dan tanda bahaya sudah berbunyi, maka kakang Mahisa Agni diminta untuk menampakkan diri dihadapan umum. Setidak-tidaknya di gardu induk bersama para Panglima.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu benar maksud Witantra, agar tidak seorang-pun yang menyangka, bahwa ialah yang telah berbuat gila-gilaan itu.

Ketika malam kemudian tiba, Mahisa Agni menjadi gelisah. Anusapati yang mengetahui akan kehadiran Witantra itu-pun menjadi gelisah pula. Sejak matahari terbenam, ia sudah berada di bangsalnya. Dicobanya menenangkan dirinya dengan membaca beberapa helai rontal. Namun sama sekali tidak sebuah huruf-pun yang tersangkut dihatinya.

Sumekar-pun tidak beranjak pula dari pondoknya. Ia masih berbicara beberapa patah kata dengan juru taman yang lain, yang tinggal di pondok itu pula. Namun kemudian ia segera merebahkan diri di pembaringannya.

Hanya Mahisa Agni lah yang masih tetap duduk tepekur di bangsal penginapannya. Sekali-sekali ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Ketika ia membuka pintu dan menyembulkan kepalanya, dilihatnya dua orang pengawal berjaga-jaga di muka bangsal itu.

Menjelang tengah malam, Mahisa Agni-pun telah merebahkan dirinya di pembaringan sambil bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Witantra menggagalkan niatnya malam ini?”

Dalam pada itu Witantra-pun telah siap dengan rencananya. Ia sadar bahwa permainannya itu adalah permainan yang berbahaya. Tetapi dengan demikian ia akan menyelamatkan orang-orang yang mungkin dicurigai di dalam halaman istana.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Sumekar, maka ia-pun mengenakan pakaian yang serupa. Berkerudung hitam dan hampir menutup seluruh tubuhnya.

Sebagai bekas Panglima pengawal istana, maka Witantra telah mengenal segala sudut istana dengan baik. Meskipun kini istana Singasari telah berubah, tetapi pokok-pokok bentuknya masih diingatnya. Ditambah dengan, petunjuk Sumekar, maka seolah-olah Witantra setiap hari masih saja berada di halaman yang luas itu.

Ketika ayam jantan berkokok di tengah malam, maka Witantra-pun mulai merayap mendekati istana. Dari Sumekar ia tahu, dimana para penjaga bertugas mengawasi dinding istana itu. Seperti yang dikehendaki oleh Sri Rajasa, maka para penjaga memang memberi kesempatan kepada orang yang dianggapnya masih akan masuk kembali ke dalam istana Singasari.

Ketika Witantra berdiri di seberang jalan yang mengelilingi dinding halaman istana hatinya memang menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian ia membulatkan tekadnya dengan kepercayaan bahwa ia pasti masih akan mampu menghindarkan dirinya dari tangan Sri Rajasa. Ia menganggap bahwa tidak akan ada orang lain yang dapat mengimbangi ilmunya, dalam kecepatan lari. Satu-satunya yang mungkin adalah Sri Rajasa. Dan Sri Rajasa baginya kini bukan lagi manusia ajaib yang tidak terkalahkan, meskipun ia sadar, bahwa Sri Rajasa adalah seseorang yang melampaui manusia kebanyakan.

Demikianlah, Witantra-pun semakin mendekat ke dinding istana yang menurut petunjuk Sumekar tidak medapat pengawasan terlampau ketat. Seperti seekor bilalang ia melenting dan hinggap di atas dinding istana langsung menelungkup melekat. Dalam kegelapan malam, bayangan hitam itu sama sekali tidak dapat segera dilihat oleh mata biasa.

Sejenak Witantra beristirahat sambil menahan nafas. Ia tidak ingin bersembunyi seluruhnya. Ia justru ingin menimbulkan keributan. Karena itu, ia justru harus menampakkan dirinya.

Sejenak Witantra menunggu. Ketika ternyata halaman itu sunyi ia-pun segera meloncat masuk.

Perlahan-lahan Witantra merayap di halaman. Berlindung dan gerumbul yang satu kegerumbul yang lain.

Ia pertama-tama ingin menampakkan dirinya di dekat gardu sebelah bangsal Sri Rajasa. Kemudian apabila para prajurit yang meronda membunyikan tanda bahaya, ia akan berlari di sepanjang dinding penyekat antara halaman istana yang lama dan halaman bagian istana yang baru, tempat kediaman Ken Umang. Dinding penyekat itu akan langsung sampai ke dinding yang mengelilingi istana ini.

Memang tidak mudah untuk berlari cepat di atas dinding yang tidak terlampau tebal itu. Tetapi sudah tentu bahwa Witantra akan dapat melakukannya.

Dengan menahan nafasnya Witantra melalui beberapa gardu peronda tanpa diketahui oleh para prajurit yang ada di dalamnya. Apalagi mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa ada bayangan hitam yang merayap-rayap di balik batang-batang bunga yang cukup rimbun. Sedangkan beberapa orang di antara mereka sudah menjadi kantuk pula.

Sejenak kemudian Witantra-pun telah sampai di halaman bangsal Sri Rajasa. Dicobanya untuk mengenal kembali daerah itu. Beberapa bagian masih juga belum berubah.

Lamat-lamat telinga Witantra yang tajam itu mendengar suara gemerisik langkah kaki di belakang bangsal. Kadang-kadang ia mendengar loncatan-loncatan yang cepat. Karena itu maka segera ia menduga bahwa seperti yang dikatakan oleh Witantra, Tohjaya pasti sedang mengadakan latihan di belakang bangsal Sri Rajasa.

Tetapi kali ini bangsal itu tidak sedang kosong. Sri Rajasa ada didalamnya.

Sejenak kemudian Witantra-pun sudah bertengger di atas dahan sawo kecik. Dari dahan itu ia dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh Tohjaya di belakang bangsal itu.

Witantra yang berada di dahan sawo kecik itu menarik nafas dalam-dalam. Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, Tohjaya memang jatuh ketangan seorang guru yang aneh. Seolah-olah guru itu tidak menghiraukan kemampuan jasmaniah muridnya sama sekali. Ia harus berlatih melakukan gerakan-akan yang terlampau berat baginya. Apalagi terlampau kasar.

“Sri Rajasa memang orang yang aneh,” berkata Witantra di dalam hatinya, “ia mampu berkelahi melawan Maharaja di Kediri, bahkan mengalahkannya. Tetapi ia tidak mengerti bagaimana ia mendidik anaknya sendiri dalam olah kanuragan. Ternyata anaknya yang terkasih itu sudah diserahkan kepada seorang guru yang sama sekali tidak terpuji.”

Witantra-pun kemudian melihat, bagaimana Tohjaya harus jatuh bangun melayani kehendak gurunya. Keringatnya bagaikan terperas dari segenap wajah kulitnya.

Mungkin Tohjaya dapat menjadi seorang yang luar biasa. Tetapi umurnya pasti tidak akan panjang. Tulang-ulangnya akan menjadi retak sebelum mengeras. Latihan itu terlampau tergesa-gesa.

Tetapi Witantra tidak menghiraukannya lagi. Ia sedang melakukan permainan tersendiri. Kini ia tidak ingin menampakkan dirinya pada gardu di sebelah bangsal itu. Tetapi ia ingin bertengger menonton latihan itu, sehingga guru Tohjaya pasti akan segera melihatnya. Sebuah keributan kecil akan segera membangunkan Sri Rajasa, sementara Tohjaya akan memerintahkan pengawalnya membunyikan tanda bahaya.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak boleh segera keluar dari halaman. Sri Rajasa pasti harus melihat, bagaimana ia meloncat keluar dan menghilang di dalam kegelapan. Dengan demikian ia tidak akan lagi mencari-cari orang di dalam halaman ini.

Demikianlah maka Witantra merayap semakin maju. Ia tidak saja berdiri pada sebatang dahan sawo kecik, tetapi ia-pun kemudian meloncat keatas pagar batu di pinggir longkangan belakang itu.

Ternyata guru Tohjaya itu sedang sangat asyik mengajar Tohjaya sehingga kehadiran Witantra yang berpakaian serba hitam itu tidak segera diketahuinya.

Tetapi ternyata pelatih itu tidak sebodoh yang disangka oleh Witantra. Meskipun ia masih terus melatih Tohjaya, namun ternyata sejenak kemudian matanya telah tertarik oleh bayangan hitam yang bergerak-gerak di belakang dedaunan.

“Gila,” ia berkata di dalam hatinya ketika ia yakin bahwa yang bergerak-gerak itu adalah bayangan seseorang yang berkerudung hitam. Meskipun orang itu berlindung di balik dedaunan, namun jelas baginya, bahwa bayangan itu adalah seseorang yang mencoba mengintip latihan yang sedang diselenggarakannya.

“Orang itu ternyata benar-benar kembali seperti dugaan Sri Rajasa,” berkata pelatih itu di dalam hatinya, “tetapi sekarang ia tidak akan dapat pergi karena Sri Rajasa ada di dalam bangsal.”

Dalam pada itu, pelatih itu masih tetap berpura-pura tidak melihat bahwa bayangan hitam dibalik dedaunan itu adalah bayangan seseorang.

Namun ia-pun ternyata pula tidak dapat tetap mengelabui Witantra. Ketika ia mencoba membisikkan sesuatu kepada Tohjaya, sambil melemparkan tatapan matanya meskipun hanya sekejap, maka Witantra-pun mengetahui pula, bahwa pelatih itu telah melihatnya. Tetapi seperti pelatih itu, Witantra-pun tidak beringsut dari tempatnya. Ia juga masih tetap berpura-pura tidak tahu, bahwa orang-orang yang ada dilongkangan itu telah melihatnya.

Dalam pada itu, Tohjaya-pun mendengar gurunya berbisik, “Dengarlah, jangan bertanya dan jangan menimbulkan kesan bahwa kau mendengarkan kata-kataku.”

Tohjaya tidak bertanya apa-pun juga. Ia mengerti, pasti ada sesuatu yang tidak wajar. Sedang gurunya berkata terus, “Diatas dinding longkangan ini ada seseorang yang memakai kerudung hitam mengintip latihan ini seperti yang pernah kita saksikan dahulu.”

“Oh,” tetapi Tohjaya tidak bertanya terus.

“Tetapi sekarang ia tidak akan dapat lolos. Kalau Sri Rajasa mengetahui, maka orang itu pasti akan tertangkap.”

“Jadi, apakah aku harus memberitahukan kepada ayahanda?” bertanya Tohjaya perlahan-lahan sekali sambil berlatih terus.

“Kalau orang itu mengetahui, ia akan melarikan diri sebelum tuanku Sri Rajasa terbangun.”

“Aku kira ayahanda masih belum tidur selama kaki kita masih berderap dilongkangan ini.”

“Tuanku akan hamba lemparkan kepada pengawal tuanku. Berpura-puralah tidak segera dapat bangkit supaya mereka menolong tuanku. Berbisiklah kepada mereka, bahwa salah seorang harus membunyikan tanda bahaya, meskipun perintah yang akan diberikannya adalah mengambil air untuk tuanku yang hampir pingsan.”

Tohjaya mengerti maksud gurunya. Karena itu, maka ia-pun mengangguk sambil menjawab, “Baik guru.”

Sejenak kemudian maka latihan itu-pun menjadi semakin sengit. Tohjaya-pun kemudian terlempar beberapa langkah, hampir saja menimpa pengawalnya yang menyaksikan di pinggir arena.

Terdengar Tohjaya merintih perlahan. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa kedua pengawalnya mendekatinya.

Dalam kesempatan itulah Tohjaya memberikan pesan kepada kedua pengawalnya. Ketika salah seorang dari mereka akan berpaling, Tohjaya mencegahnya, “Sst, jangan sampai orang itu mengetahui bahwa kita sudah melihatnya.”

Sejenak kemudian pelatihnya perlahan-lahan mendekatinya sambil bertanya, “kenapa tuanku Tohjaya?”

Kedua pengawal itu tidak menyahut.

“Ambillah air,” perintah gurunya.

“Baik, baik tuan.”

Salah seorang pengawal Tohjaya itu-pun segera meninggalkan arena. Ia mendapat pesan untuk menyampaikannya kepada prajurit pengawal Sri Rajasa, kemudian ia sendiri harus membunyikan tanda bahaya sebelum orang itu berhasil keluar dari istana.

Tetapi Witantra tensenyum di dalam hati.

“Cerdik juga orang-orang itu,” katanya kepada diri sendiri, karena ia mengerti, bahwa kepergian prajurit itu pasti bukan untuk sekedar mengambil air.

Dugaan Witantra memang segera ternyata. Prajurit yang menerima pesan itu segera memberanikan diri memasuki bangsal dan langsung mengetuk pintu Sri Rajasa.

Ternyata Sri Rajasa memang belum tidur, meski-pun sudah berada dipembaringannya. Hampir saja ia membentak karena prajurit itu sudah mengejutkannya. Namun karena prajurit itu berbisik, maka niatnya-pun diurungkannya.

“Ampun tuanku,” bisik prajurit itu, “orang berkerudung hitam itu benar-benar kembali. Ia berada di longkangan belakang sekarang ini.”

Sri Rajasa segera meloncat berdiri. Dibenahinya pakaiannya sejenak. Kemudian dengan tergesa-gesa ia-pun meloncat keluar dari biliknya.

Namun pada saat itu, Witantra telah bergerak menjauh, sehingga guru Tohjaya itu mengira bahwa Witantra berniat untuk meninggalkan tempat itu. Karena itu, maka ia-pun tidak ingin melepaskannya sambil menunggu Sri Rajasa.

 

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]
Source : www.agusharis.net

~ Article view : [170]