Pelangi di Langit Singasari [ 71 ]

237

oleh S.H. Mintardja
[ Seri 79 ]

 

SEJENAK KEMUDIAN keduanya telah menjadi semakin dekat. Darah rakyat Singasari yang mengelilingi arena seakan-akan berhenti mengalir ketika kedua orang di arena itu saling berbenturan.

Mulut mereka terbungkam ketika mereka melihat Tohjaya terdorong oleh ujung tongkat lawannya. Tetapi ternyata bahwa ia benar-benar memiliki ketangkasan berkuda. Meskipun ia sudah menjadi miring, namun ia berhasil memperbaiki, kemudian Tohjaya-pun telah tegak kembali di atas punggung kuda.

Sri Rajasa terkejut juga melihat kedudukan Tohjaya yang goyah itu, sehingga ia bergeser setapak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, ketika puteranya terkasih itu ternyata berhasil memperbaiki keseimbangannya.

Namun demikian, pada benturan yang pertama Sri Rajasa melihat, bahwa agaknya Kesatria Putih memang memiliki kemampuan yang lebih besar dari Tohjaya.

“Mudah-mudahan Tohjaya mampu bertahan, sehingga ia mendapat kesempatan untuk bertanding pada jarak yang pendek.” Sri Rajasa berharap, bahwa kepandaian Tohjaya mengendalikan kudanya akan berpengaruh didalam pertandingan itu.

Ketika kedua orang yang berada diarena itu harus mengulangi benturan dengan ancang-ancang itu, Sri Rajasa telah menahan nafasnya. Demikian juga para penonton disekeliling arena. Tidak seorang-pun yang bergerak dan tidak seorang-pun yang mengucapkan sepatah kata. Semuanya seakan-akan membeku karenanya.

Yang terdengar hanyalah derap kaki-kaki kuda, diikuti oleh tatapan mata yang tegang.

Sejenak kemudian, sekali lagi setiap orang harus menahan nafasnya ketika benturan kedua itu terjadi.

Sri Rajasa hampir meloncat berdiri. Untunglah ia sadar, bahwa ia adalah seorang Maharaja yang besar. Karena itu maka ia tetap saja duduk ditempatnya.

Ternyata benturan yang kedua menguntungkan Tohjaya ketika Kesatria Putih agak terlambat mengangkat tongkatnya. Sentuhan tongkat Tohjaya telah menggerakkan ujung tongkat Kesatria Putih sehingga sama sekali tidak mengenai sasarannya. Namun dalam pada itu, Tohjaya dengan cepat berhasil menggerakkan ujung tongkatnya sehingga menyentuh pundak Kesatria Putih.

Kesatria Putih mencoba untuk menghindar. Tetapi geraknya sangat terbatas, karena kudanya berlari terus. Meskipun ia berusaha memutar tubuhnya, namun ujung tongkat Tohjaya masih mengenainya sehingga hampir saja Kesatria Putih terlempar dari kudanya. Tetapi seperti Tohjaya, Kesatria Putih masih berhasil mempertahankan dirinya. Kakinya masih berpegangan dengan kuat, sedang sebelah tangannya memeluk kudanya sementara tangannya yang lain memegangi, tongkatnya erat-erat.

Untunglah bahwa kudanya adalah kuda yang baik, sehingga meskipun kendalinya lepas sama sekali, tetapi kuda putih itu tidak melonjak dan melemparkan penunggangnya yang sedang dalam kesulitan.

Tohjaya melihat kedudukan Kesatria Putih yang lemah itu. Karena itu, setelah kedua benturan itu tidak berhasil menjatuhkan salah seorang daripada mereka yang bertanding, mereka akan meneruskan pertandingan pada jarak pendek tanpa ancang-ancang.

Dalam pada itu Tohjaya ingin mempergunakan kesempatan selagi Kesatria Putih masih berusaha memperbaiki keseimbangannya. Dengan serta-merta ia menarik kendali kudanya berputar. Dengan tergesa-gesa Tohjaya memacu kudanya kembali mengejar kuda Kesatria Putih. Namun sementara itu, Kesatria Putih sudah sempat duduk kembali di atas punggung kudanya. Ia sudah berhasil menguasai keadaan sepenuhnya. Karena itu ketika ia sadar bahwa Tohjaya menyerangnya, maka ia-pun segera memutar kudanya menghadap lawannya.

Sejenak kemudian keduanya-pun telah terlihat dalam pertandingan yang seru. Masing-masing menggerakkan tongkatnya dengan cepatnya. Sekali-sekali terdengar kedua tongkat panjang itu berbenturan. Namun kemudian tongkat-tongkat itu terayun mengenai tubuh-tubuh mereka berganti-ganti. Bahkan kadang-kadang tongkat itu berhasil mendorong lawannya. Tetapi keduanya adalah orang-orang yang trampil dan seakan-akan mumpuni mempergunakan senjata panjang dan naik di atas punggung kuda.

Mereka yang berada diatas panggung kehormatan-pun menjadi tegang. Sri Rajasa hampir tidak berkedip menyaksikan pergulatan yang sengit itu. Mahisa Agni bagaikan patung batu. Bahkan seakan-akan bernafas-pun tidak.

Apalagi Ken Umang yang menyaksikan putranya bertempur dengan orang yang penuh rahasia, yang oleh rakyat Singasari dianggap sebagai seorang Pahlawan.

Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin dahsyat. Bahkan kemudian mereka seakan-akan telah menjadi bersungguh-sungguh. Hanya karena ujung tongkat-tongkat itu dilapisi dengan sabut, serta daya tahan tubuh-tubuh itu sangat kuat, maka mereka berdua masih tetap berada dipunggung kuda.

Anak-anak muda Singasari menyaksikan pertandingan itu dengan dada yang berdebaran. Kini mereka merasa, betapa kecilnya diri mereka sendiri dibandingkan dengan kedua kesatria yang tengah beradu ketrampilan di tengah-tengah arena.

Tetapi lambat laun, ternyata bahwa Kesatria Putih memiliki ketahanan tubuh dan kelebihan setingkat di dalam olah ketrampilan. Bahkan semakin lama, mereka yang memiliki ilmu yang cukup dapat melihat, bahwa sebenarnyalah Kesatria Putih berusaha untuk mengekang diri. Mereka yang berilmu matang, seperti para Panglima dan para Senapati pilihan, Mahisa Agni dan Sri Rajasa sendiri merasa bahwa Kesatria Putih berusaha menghormati Tohjaya sebaik-baiknya, sehingga meskipun Tohjaya akan kalah juga, namun ia kalah dengan hormat, setelah berjuang habis-habisan serta melayani lawannya hampir seimbang. Kekalahan itu seakan-akan hanyalah sekedar kekalahan kecil atau justru karena Tohjaya sudah lelah, karena ia sudah dua kali bertanding melawan orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi.

Dengan demikian Sri Rajasa menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat menghentikan pertandingan. Ia tidak akan dapat berbuat sesuatu atas Kesatria Putih, karena ia adalah seorang pahlawan.

“Kesatria Putih akan memenangkan pertandingan ini,” ia berdesah, “jika demikian, maka ia harus dilenyapkan, agar di Singasari hanya ada seorang pahlawan saja, Tohjaya.”

Tanpa sesadarnya Sri Rajasa berpaling kepada Mahisa Agni sambil berkata di dalam hati, “Ia harus menyelesaikannya nanti”

Dalam pada itu Mahisa Agni sendiri duduk dengan tegangnya menyaksikan pertandingan itu. Karena itu ia sama sekali tidak menyadari bahwa Sri Rajasa sedang memandanginya dan bahkan berkata di dalam hatinya, bahwa Mahisa Agni akan mendapat tugas yang sangat berat. Membinasakan Kesatria Putih tanpa diketahui oleh orang lain, agar tidak menimbulkan kesan, bahwa Singasari telah berkhianat terhadap kesatria yang selama ini telah mengabdi kepada rakyat tanpa pamrih.

Demikianlah pertandingan di arena itu berlangsung terus.

Tetapi agaknya Tohjaya sudah menjadi semakin letih. Serangan-serangannya sama sekali sudah tidak mapan lagi. Bahkan sekali dua kali apabila Kesatria Putih berhasil menghindar, maka ayunan tongkatnya hampir-hampir saja menyeretnya jatuh dari atas punggung kuda.

Dalam pada itu Kesatria Putih nampaknya masih segar, sesegar ketika ia datang. Dengan sentuhan kecil, Tohjaya pasti sudah akan terlempar dari kudanya. Namun ternyata Kesatria Putih tidak melakukannya. Seperti pada saat Tohjaya bertanding melawan anak muda yang terakhir. Kesatria Putih banyak memberi kesempatan kepada lawannya untuk bertahan duduk di atas punggung kudanya.

Demikianlah sebenarnya tampak oleh mereka yang berdiri di sekitar arena, apalagi bagi yang duduk di atas panggung kehormatan, bahwa Tohjaya sudah kehilangan kemampuan karena kelelahan meskipun ia masih tetap duduk di atas punggung kuda. Ternyata bahwa Kesatria Putih tidak berhasrat sama sekali menjatuhkannya dari atas punggung kuda itu. Bagi orang-orang yang berada di panggung kehormatan, tampak jelas, bagaimana Kesatria Putih masih berpura-pura menyerang Tohjaya. Namun serangan-serangan itu sama sekali bukan serangan sebenarnya yang dapat menjatuhkannya.

Sri Rajasa tidak mengerti, apa sebabnya Kesatria Putih berbuat demikian. Tohjaya-pun tidak mengerti, kenapa Kesatria Putih itu tidak menyentuh saja tubuhnya, dan ia akan segera terpelanting jatuh.

Adalah di luar dugaan, ketika Kesatria Putih itu kemudian mendekati Senapati yang menjadi saksi utama di dalam pertandingan itu sambil berkata. “Apakah ketentuan dari pertandingan ini, jika tidak seorang-pun terjatuh dari kudanya, dapat dianggap bahwa pertandingan ini berakhir tanpa ada yang menang dan kalah?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak membuat ketentuan itu. Pertandingan akan berlangsung terus, sehingga salah seorang dapat dikalahkan. Bahkan meskipun tidak dengan sengaja, ada juga salah seorang peserta yang jatuh dan pingsan.

“Bagaimana?” Kesatria Putih mendesak.

Sebelum ia menjawab, Tohjayalah yang menyahut, “Aku tahu, kau memenangkan pertandingan ini. Kenapa kau tidak mau mendorong aku jatuh?”

“Tidak. Kau, eh, maksud hamba, tuanku adalah seorang yang memiliki kemampuan yang mengagumkan. Tuanku bukan seorang yang dengan mudah dapat dikalahkan. Dan hamba kira, hamba tidak akan dapat menjatuhkan tuanku, meskipun tampaknya tuanku sudah lelah. Hamba-pun sadar, bahwa hal ini juga disebabkan bahwa tuanku sudah bertempur dua kali berturut-turut.”

“Jangan mengigau, ayo, selesaikan tugasmu, kau akan dielu-elukan oleh rakyat Singasari sebagai pahlawan terbesar melampaui kebesaranku.”

Kesatria Putih tidak menyahut. Namun tiba-tiba saja ia mengangkat wajahnya memandang Sri Rajasa yang kemudian berdiri di panggung kehormatan, “Tohjaya. Kau harus mengakui kelebihan Kesatria Putih kali ini, meskipun kau dapat bertahan sampai saat terakhir. Kau sudah bertempur dua kali melawan orang-orang terkuat di Singasari. Namun itu bukan alasan yang dapat kau pergunakan untuk membela diri. Sudahlah, turunlah dari kudamu sebagai pertanda kemenangan lawanmu.”

Tohjaya memandang Sri Rajasa dengan tegangnya. Tetapi ia-pun kemudian turun dari kudanya di depan panggung kehormatan. Dengan tergesa-gesa ia-pun naik ke atas panggung itu, lalu bersimpuh dihadapan Sri Rajasa sambil berkata, “Ampun ayahanda, hamba tidak dapat mempertahankan kebesaran nama ayahanda diarena ini karena kehadiran Kesatria Putih.”

“Kau sudah berbuat sebaiknya. Marilah sekarang kita menuntut janji Kesatria Putih. Jika ia memenangkan pertandingan ini, ia akan membuka kerudung putihnya dihadapan kita di sini, sehingga rakyat Singasari akan mengenalnya, siapakah sebenarnya pahlawan yang besar ini, yang selama ini sudah menyelamatkan puluhan, bahkan ratusan rakyat yang mengalami bencana.”

Tohjaya mengangkat wajahnya. Kini ia memandang Kesatria Putih yang masih duduk di atas punggung kudanya dengan tongkat panjang di tangan kanannya.

“Kesatria Putih,” panggil Sri Rajasa, “kemarilah.”

Kesatria Putih tampak ragu-ragu sejenak.

“Buat apa kakanda memanggil setan itu,” desis Ken Umang, “biarlah ia segera pergi. Ia sudah melepaskan harapan Tohjaya untuk menjadi anak muda terkuat di seluruh negeri.”

Ketika Sri Rajasa berpaling, dilihatnya wajah Ken Umang yang merah padam. Setitik air matanya mengambang di sudut matanya yang basah itu.

“Aku memerlukannya. Aku ingin tahu, apakah Kesatria Putih memenuhi ketentuan yang ada di dalam pertandingan ini. Jika tidak, ia sudah menipu kita semua, dan hukumannya adalah hukuman pancung di sini juga.”

Ken Umang tidak menjawab lagi. Kini dilihatnya Kesatria Putih yang masih duduk di atas punggung kudanya perlahan-lahan mendekati panggung kehormatan.

“Mendekatlah,” berkata Sri Rajasa, “aku ingin melihat, apakah kau masih berhak ikut di dalam pertandingan ini.”

Kesatria Putih itu menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Sri Rajasa yang berdiri di atas panggung kehormatan. Kemudian Senapati yang menjadi saksi utama dari pertandingan terbuka itu, serta beberapa orang Senapati dan prajurit yang berada di sekitar arena.

“Mendekatlah.” panggil Sri Rajasa sekali lagi, “bukalah kerudung wajahmu seperti yang kau janjikan.”

Ken Umang yang kehilangan harapan atas puteranya untuk mendapat gelar pahlawan terbesar itu mulai terisak. Dengan tangannya ia mengusap air mata yang jatuh satu-satu dipangkuannya. Air mata yang mencerminkan betapa tamaknya hati perempuan itu.

Sedang di sebelah lain, mata Ken Dedes-pun berlinang-linang pula. Ia mulai membayangkan wajah Anusapati yang seakan-akan semakin lama semakin tersisih. Di dalam kesempatan serupa ini, Anusapati sama sekali tidak terucapkan. Hampir saja Tohjaya berhasil merebut hati rakjat Singasari. Jika Tohjaya memenangkan pertandingan terakhir, maka sempurnalah permainan Sri Rajasa.

Lamat-lamat terbayang kembali bagaimana Tunggul Ametung tersingkir dari kedudukannya. Bagaimana-pun juga akhirnya Ken Dedes-pun mengerti, bahwa sebenarnya Ken Arok saat itu telah berhasil melakukan peranannya dengan baik sekali.

Hanya karena hatinya yang disaput oleh gejolak naluri seorang perempuan, serta kemudian diikuti oleh kenyataan bahwa Ken Arok berhasil memerintah Singasari lebih baik dari Tunggul Ametung, Ken Dedes tidak pernah mempersoalkan kematian Tunggul Ametung. Tetapi kini, dengan cara yang selembut itu pula Sri Rajasa berusaha menyingkirkan keturunan Tunggul Ametung, meskipun anak itu sendiri sama sekali tidak mengetahuinya.

Seperti Ken Umang, Ken Dedes-pun mengusap air matanya. Tetapi seakan-akan cahaya yang terpantul dari butiran-butiran air mata dari kedua isteri Sri Rajasa itu berwarna lain.

Demikianlah kuda Kesatria Putih kini sudah berdiri di depan panggung kehormatan. Perlahan-lahan Kesatria Putih itu-pun meloncat turun dari kudanya. Katanya kemudian, “Ampun tuanku Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Apakah tuanku benar-benar berkeinginan melihat wajah hamba yang jelek ini.”

“Aku tidak peduli. Namun aku ingin mengetahui, apakah kau masih pantas untuk ikut bermain-main bersama anak-anak di arena ini.”

Kesatria Putih membungkukkan badanya dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera membuka kerudung putihnya. Perlahan-lahan ia mendekati tangga panggung kehormatan itu. Dan tanpa diduga-duga oleh siapa-pun ia mulai naik setapak demi setapak.

Langkahnya ternyata telah mempesona setiap orang. Mereka bagaikan membeku melihat Kesatria Putih naik ke atas panggung. Bahkan Sri Rajasa-pun bagaikan kehilangan nalar sejenak, melihat Kesatria Putih itu semakin lama semakin mendekat.

Yang mendebarkan jantung setiap orang adalah, tiba-tiba saja Kesatria Putih itu-pun berlutut. Tidak dihadapan Sri Rajasa tetapi yang mula-mula adalah dihadapan Permaisuri.

Semua orang terkejut karenanya. Ken Dedes-pun terkejut bukan kepalang, sehingga ia hanya diam mematung, tidak tahu apa yang akan dilakukan.

Baru setelah berlutut dihadapan Permaisuri, Kesatria Putih bersimpuh dihadapan Sri Rajasa sambil berkata, “Perkenankanlah hamba membuka kerudung putih hamba betapa-pun jeleknya wajah ini.”

“Berdirilah,” berkata Sri Rajasa yang serasa masih terpesona oleh peristiwa-peristiwa yang tidak mereka perhitungkan sebelumnya, “dan bukalah kerudung putihmu menghadap rakyat Singasari yang akan menilai, siapakah Kesatria Putih sebenarnya, dan apakah ia masih dapat disebut kanak-anak.”

Kesatria Putih termangu-mangu sejenak. Namun seperti perintah Sri Rajasa, maka Kesatria Putih itu-pun kemudian berdiri. Sekali ia berpaling memandang Tohjaya dan Ken Umang, barulah kemudian tangannya bergerak menggapai kerudung putihnya.

Darah Tohjaya serasa berhenti mengalir. Ia menjadi sangat tegang menunggu. Demikian juga rakyat Singasari.

Nafas mereka tertahan-tahan. Mereka tidak sabar lagi menunggu, siapakah sebenarnya Kesatria Putih itu.

Tiba-tiba hati mereka terjerat oleh kata-kata Kesatria Putih yang lantang, “Rakyat Singasari. Inilah kenyataanku, Kesatria Putih yang selama ini menumbuhkan teka-teki bagi kalian.”

Bersamaan dengan terkatubnya bibir Kesatria Putih itu, maka direnggutnya tirai yang selama ini menutup wajahnya. Tirai putih yang membuatnya disebut Kesatria Putih selain kudanya yang putih pula.

Ketika tirai di wajah itu terbuka, setiap dada telah dihentakkan oleh kenyataan yang tidak mereka duga-duga sama sekali. Demikian wajah itu terbuka, setiap mulut telah menyebut namanya dengan wajah tegang penuh keheranan dan bahkan pertanyaan yang ragu-ragu, “Anusapati Putera Mahkota.”

Mereka menjadi yakin ketika Kesatria Putih yang sudah tidak berkerudung lagi itu berkata, “Akulah Anusapati, Putera Mahkota Kerajaan Singasari yang besar, Putera Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi yang lahir dari ibunda Permaisuri Ken Dedes.”

Arena itu menjadi gegap gempita. Lebih dahsyat dari ledakan seribu guntur bersama-sama. Langit rasa-rasanya akan runtuh dan demikian pula hati Tohjaya dan Ken Umang. Seperti belanga yang terbanting dibatu pualam, maka hati mereka-pun pecah berkeping-keping.

Dalam pada itu Sri Rajasa berdiri dengan wajah yang merah padam. Sejenak dipandanginya Anusapati, namun kemudian dipandanginya wajah Mahisa Agni tenang. Tetapi wajah yang tenang itu bagaikan air pusaran yang dahsyat yang menghisapnya ke dalam kehancuran yang mutlak.

Mahisa Agni sendiri masih tetap berada di tempatnya. Ia sama sekali tidak berbuat sesuatu. Dibiarkannya semuanya terjadi menurut perkembangan yang wajar dari peristiwa yang sudah diperhitungkannya masak-masak. Sri Rajasa pasti tidak akan berani berbuat apa-pun juga dihadapan rakyat Singasari yang selama ini menganggap Kesatria Putih sebagai pelindung mereka. Apalagi kini mereka mengetahui, bahwa Kesatria Putih itu tidak lain adalah Putera Mahkota. Putera Mahkota yang selama ini mereka anggap sebagai seorang laki-laki yang hanya mampu menunggui isterinya, tanpa menghiraukan keadaan pemerintah sama sekali, tanpa berbuat apa-pun juga untuk kesejahteraan rakyatnya. Ternyata bahwa dugaan itu keliru. Yang mereka anggap sebagai pahlawan selama ini ternyata adalah orang yang tepat, orang yang dapat mereka pergunakan sebagai tempat berpegangan yang kokoh di masa mendatang.

Rakyat Singasari sama sekali tidak menghiraukan, perasaan apakah yang sedang bergejolak di dalam hati Sri Rajasa. Bahkan sebagian dari mereka menganggap, bahwa Sri Rajasa-pun akan menjadi gembira sekali menghadapi kenyataan itu.

Namun dalam pada itu Sri Rajasa terpaksa mengakui di dalam hati, bahwa kini ia menghadapi permainan Mahisa Agni yang ternyata berhasil mengatasi permainannya. Ketika ia berhasil menyingkirkan Tunggui Ametung, Mahisa Agni hanyalah seorang anak muda Panawijen yang sedang sibuk membuat bendungan, ia sama sekali tidak berbuat sesuatu, selain justru membantunya, mengalahkan Witantra ketika ia berusaha membersihkan nama Kebo Ijo yang telah dibunuhnya pula.

Tetapi kini, ia menghadapi permainan Mahisa Agni. Dan Sri Rajasa-pun sadar, bahwa Anusapati adalah kemenakan Mahisa Agni. Meskipun kecurigaan itu timbul sejak lama, dan menyingkirkan Mahisa Agni ke Kediri, namun ternyata bahwa Mahisa Agni masih sempat membentuk Anusapati menjadi seorang anak muda yang pilih tanding, yang melampaui kemampuan Tohjaya.

Meskipun demikian, Sri Rajasa bukannya seorang yang terlampau bodoh. Ia adalah seorang pemikir yang masak. Yang mampu menyingkirkan Tunggul Ametung dan sekaligus memperisteri Ken Dedes, kemudian menggunakan gejolak perasaan orang-orang Kediri sendiri untuk menjatuhkan Maharaja Kediri yang termashur.

Karena itu, setelah ia berhasil menguasai gejolak perasaannya, maka tiba-tiba Sri Rajasa itu-pun melangkah maju mendekati Anusapati. Sambil menepuk bahunya ia berkata kepada rakyat Kediri. “Rakyatku yang baik. Sekarang kalian sudah melihat kenyataan ini. Yang kalian elu-elukan sebagai pahlawan dan kalian sebut Kesatria Putih itu adalah seorang yang memang seharusnya menjadi seorang pahlawan. Ia adalah Putera Mahkota. Itulah sebabnya aku ikut berbangga, bahwa pilihanku tidak salah. Anak sulungku, yang selama ini aku bentuk untuk menjadi seorang pahlawan di masa datang, telah menunjukkan kemampuannya. Selama ini aku simpan ia di dalam istana dalam penempaan yang tidak mengenal jemu bersama Tohjaya. Dan harapanku atas keduanya ternyata tidak sia-sia. Tohjaya telah mencoba berbuat sejauh dapat dilakukan, sedang Anusapati telah menunjukkan baktinya pula kepada rakyat Singasari dengan caranya, karena ia tidak mau menyanjung diri. Dan adalah wajar sekali bila Tohjaya tidak dapat mengalahkan Kesatria Putih, karena ternyata bahwa Kesatria Putih bukan saja saudara tuanya, tetapi juga saudara tua seperguruan. Kini terimalah kedua Puteraku di tengah-tengah kalian.”

Rakyat Singasari itu menyambut kata-kata Sri Rajasa dengan tepuk tangan dan sorak mawurahan.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ternyata Sri Rajasa masih mempunyai cara untuk meneruskan permainan. Tetapi bagaimana-pun juga, Mahisa Agni sudah memiliki separo kemenangan. Sedang separo lagi masih diperebutkan. Jika Mahisa Agni mendapat sebagian yang separo, maka bagiannya sudah lebih banyak dari yang akan didapat oleh Sri Rajasa.

Tetapi Mahisa Agni-pun mempertimbangkan semuanya dengan saksama. Kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang di dalam istana. Tetapi kesempatan untuk merebut hati rakyat dihadapan rakyat itu adalah kesempatan yang hampir mustahil didapatkannya jika bukan karena tingkah Tohjaya sendiri.

Dalam pada itu, kedua isteri Sri Rajasa ternyata tengah menekuni perasaan masing-masing yang bergejolak di dalam dada. Ternyata mereka telah menjumpai persoalan yang sama sekali tidak diduga-duga. Begitu besar hati Ken Dedes menyaksikan putranya yang tanpa disangkanya, bahkan mimpi-pun tidak, tiba-tiba saja menjadi seorang pahlawan yang paling besar di kalangan anak-anak muda Singasari sesuai dengan kedudukannya sebagai Putera Mahkota. Sebagai seorang yang berpikir cerah, Ken Dedes-pun segera dapat menyelusuri, apakah yang sebenarnya telah terjadi dibalik dinding istana yang tinggi itu. Tentu Mahisa Agni memegang peranan yang penting didalam permainan ini. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati hanyalah sekedar abu di dalam kobaran api ketamakan istana Singasari.

Tanpa disadarinya, maka air mata Permaisuri itu mengalir dengan derasnya. Setiap kali tangannya mengusap maka air itu telah tumbuh pula dipelupuk.

Ken Umang-pun telah menangis pula. Betapa ia mencoba bertahan menghadapi kenyataan. Betapa ia mencoba menghibur diri dengan keterangan Sri Rajasa. Namun ternyata bahwa dendam telah menyala tanpa terkendali di dalam hati. Kekalahan Tohjaya dari Anusapati, dan kenyataan bahwa pahlawan besar yang selama ini dielu-elukan rakyat Singasari melampaui puteranya, dan yang mereka sebut Kesatria Putih itu adalah Anusapati.

“Kenapa ia tidak dibunuh saja,” geram Ken Umang di dalam hatinya, sedang Tohjaya berkata di dalam hati pula, “Pantas Mahisa Agni dan Anusapati begitu mudahnya menyingkirkan Kesatria Putih seperti yang dikatakan ayahanda itu.”

Tetapi sekarang tidak mudah bagi siapa-pun juga untuk menyingkirkan Kesatria Putih yang ternyata adalah Anusapati. Tentu Anusapati kini merupakan pahlawan besar pula bagi rakyat Singasari, yang dengan demikian tidak akan dapat dengan begitu saja disingkirkan dari hati rakyat itu.

Ternyata bahwa latihan dan pertandingan terbuka yang diminta oleh Tohjaya itu telah menimbulkan kecut di hati Sri Rajasa dan Ken Umang beserta puteranya terkasih, yang diharapkan akan dapat menjadi anak muda yang paling perkasa di seluruh Singasari. Namun mereka tidak dapat menghindarkan diri dari kenyataan, bahwa Anusapati adalah anak muda yang lebih besar dari padanya.

Dengan demikian, bukan saja Anusapati yang harus menengadahkan dadanya, bahwa ia bukan seorang anak muda yang dungu seperti yang diduga oleh para prajurit dan Senapati, juga oleh Tohjaya dan gurunya, namun setiap orang-pun akan menilai Mahisa Agni, orang terdekat disisi Anusapati. Tidak seorang-pun yang tidak menyorotkan pandangan matanya atas ilmu Anusapati pada kemampuan Mahisa Agni.

“Aku-pun tidak dapat menyembunyikan diri lagi,” berkata Mahisa Agni, “kini kita bermain dengan pintu terbuka.”

Anusapati yang dengan patuh menjalankan semua petunjuk Mahisa Agni ternyata mendapat cara untuk tampil langsung didepan mata rakyat Singasari.

Setelah pertandingan itu dinyatakan selesai dan rakyat Singasari yang ada di sekitar arena pergi meninggalkan alun-alun, maka yang mereka percakapkan tidak ada lain kecuali Putera Mahkota.

“Ternyata aku telah sesat,” berkata salah seorang dari mereka. “selama ini aku menganggap bahwa Putera Mahkota itu adalah seorang laki-laki yang tidak mampu menunjukkan kejantanan diri. Berbeda dengan adindanya Tohjaya, yang dengan penuh tanggung jawab telah berusaha menyelamatkan rakyatnya dari kesusahan. Tetapi ternyata bahwa bukan demikian yang sebenarnya. Tuanku Putera Mahkota-pun adalah seorang pahlawan yang besar.”

“Ia tidak mendapat kesempatan itu,” seseorang berbisik.

“Kenapa?”

Seorang yang berjanggut putih berkata diantara kedua telapak tangannya, “Apakah kau lupa, bahwa tuanku Permaisuri melahirkan puteranda Anusapati hanya enam bulan setelah perkawinannya dengan Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”

“Ah, jangan menyinggung itu lagi. Mungkin itu memang suatu dosa, bahwa tuanku Permaisuri mengandung sebelum perkawinannya. Tetapi Ken Arok tidak ingkar.”

“Bodoh sekali. Putera yang dikandung itu bukan hadir dari dosa. Ia ada didalam kandungan dari suaminya yang dahulu.”

“O, ya. Ia adalah putera Tunggul Ametung.”

“Sst.”

Kawannya terdiam. Namun mereka sadar, bahwa bukan hanya mereka sajalah yang mengerti bahwa Anusapati lahir terlampau cepat, setelah perkawinan Ken Dedes dengan Ken Arok, sehingga sebenarnya hampir setiap orang tua-tua di Singasari mengerti, bahwa Anusapati adalah Putera Tunggul Ametung.

Demikian pula akhirnya para Senapati mengambil kesimpulan yang sama. Tetapi susunan keprajuritan yang lahir setelah Sri Rajasa memegang pemerintahan, mencerminkan kesetiaan mereka kepada Sri Rajasa. Terlebih-lebih adalah Senapati-Senapati muda yang diangkat di saat-saat Sri Rajasa sudah berkuasa.

Namun Mahisa Agni sudah memperhitungkannya juga.

Dalam pada itu, Sri Rajasa yang kemudian duduk termangu-mangu menerima keluh kesah puteranya yang lahir dari Ken Umang. Bukan saja Tohjaya, tetapi Ken Umang sendiri menangis berkata. “Memalukan sekali tuanku, Tohjaya sudah turun ke arena dan dikalahkan oleh anak sakit-sakitan itu.”

“Jangan berkata begitu, ia adalah Putera Mahkota.”

“Tetapi ia tidak berhak menghancurkan nama Tohjaya dihadapan rakyat Singasari.”

“Tidak seorang-pun yang tahu bahwa akan terjadi demikian.”

“Tentu pokal Mahisa Agni. Kenapa tuanku masih juga mempergunakan orang yang jelas tidak setia kepada tuanku?”

“Tidak mudah untuk menuduh demikian, Mahisa Agni lah yang datang bersama aku ke Kediri dan menundukkan Gubar Baleman. Tidak ada seorang-pun yang dapat melakukan hal itu.”

“Tentu tuanku sendiri dapat melakukannya.”

“Aku tidak yakin, setelah aku memeras tenaga melawan Maharaja dari Kediri itu.” sahut Sri Rajasa, “apalagi jika tanpa Mahisa Agni saat itu, kedua kekuatan itu pasti akan bergabung. Dan aku tidak akan pernah kembali ke Singasari. Tidak ada kekuatan yang dapat melawan Gubar Baleman dan Maharaja Kediri bersama-sama.”

Ken Umang tidak menyahut lagi. Ia memang tidak dapat ingkar, tanpa Mahisa Agni, Singasari tidak akan dapat sebesar saat ini. Bahkan mungkin Kediri akan mampu mematahkannya sebelum tumbuh dan berkembang. Namun kini ternyata Mahisa Agni menjadi penghalang baginya, bagi puteranya Tohjaya, karena Mahisa Agni adalah paman Anusapati.

“Jangan kau risaukan,” berkata Sri Rajasa, “aku mempunyai seribu jalan. Tetapi aku tidak dapat berbuat kasar. Aku harus berhati-hati. Sekarang aku tahu, bahwa pasti Anusapati sendirilah yang telah berhasil membunuh Kiai Kisi ketika ia pergi menumpas penjahat itu. Dan aku-pun harus memperhitungkannya sebagai orang berkerudung hitam yang berkeliaran di istana ini. Jika demikian, maka aku harus menjadi semakin berhati-hati permainan Mahisa Agni cukup matang.”

Ken Umang dan Tohjaya tidak menyahut. Mereka harus mengerti, bahwa tidak menguntungkan apabila mereka berbuat dengan tergesa-gesa. Ternyata orang Panawijen itu bukannya seorang yang tidak mampu menanggap permainan Sri Rajasa.

“Mahisa Agni sudah dapat membaca rencanaku,” berkata Sri Rajasa didalam hatinya. Dan Sri Rajasa-pun agaknya sudah menduga bahwa Mahisa Agni sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi atas Tunggul Ametung.

“Tidak mustahil ia akan mengambil sikap yang menentukan.” katanya didalam hati. Tetapi Sri Rajasa tidak pernah menyatakan kecemasannya kepada, Ken Umang, mau-pun kapada Tohjaya.

Dalam pada itu, Permaisuri sedang menangisi kenyataan yang tidak terduga-duga. Dihadap oleh putera-puteranya. ia mengucapkan syukur kepada Yang Tunggal, bahwa ternyata Anusapati bukan seekor domba yang lemah di padang rumput yang penuh dengan serigala.

“Dimana kau mendapat kemungkinan untuk mengalahkan Tohjaya?” bertanya ibunya.

Anusapati tidak menyahut. Ia hanya menundukkan kepalanya saja di samping isteri dan anaknya yang mulai nakal.

“Aku benar-benar iri hati kanda,” berkata Mahisa Wonga Teleng, “kanda tentu tidak berkeberatan mengajari aku.”

Anusapati tersenyum. Jawabnya, “Tentu. Tetapi kau akan banyak kehilangan waktu.”

“Kenapa? Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

“Baiklah, pada saatnya, kau dapat saja belajar ilmu tata bela diri. Mungkin bersama dengan anak-anak kita.”

Mahisa Wonga Teleng tertawa. Anak-anak mereka memang telah tumbuh semakin besar. Mereka adalah laki-laki yang kuat dan nakal.

“Tetapi dengan demikian kau harus berhati-hati Anusapati,” berkata ibunya.

“Kenapa ibu?”

Ken Dedes tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah Anusapati sejenak. Masih tampak kegembiraan disorot matanya meskipun mata itu basah. Namun lambat laun, mata itu menjadi suram. Terbayang dimata Ken Dedes itu, kenyataan tentang Anusapati. Wajah puteranya itu mirip benar dengan wajah Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel yang telah disingkirkan oleh Ken Arok.

Sebagai seorang ibu, maka Ken Dedes justru mulai dirayapi oleh kecemasan tentang puteranya itu. Ia sadar, bahwa Ken Arok tidak bersikap jujur. Gelar Putera Mahkota diberikan kepada Anusapati bukan karena hatinya berkata demikian. Tetapi sekedar untuk mengelabui kata hatinya yang sebenarnya. Beberapa orang tua-tua di Tumapel mengetahui, bahwa sumber kekuasaan atas Tumapel ada di tangan Tunggul Ametung yang melimpah kepada Ken Dedes, sehingga kekuasaan itu sudah sewajarnya diwarisi oleh Anusapati. Tetapi tentu Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak ikhlas membiarkan Anusapati kelak benar-benar bertahta di Singasari.

Betapa perasaan itu menghentak-hentak di dadanya, sehingga pada suatu saat, ia tidak dapat bertahan lagi. Dipanggilnya Anusapati menghadap seorang diri, dan terloncat dibibirnya pesan, “kau memang harus berhati-hati Anusapati.”

Anusapati yang memang sudah menyimpan berbagai pertanyaan didalam hati, seolah-olah mendapat jalan untuk bertanya kepada ibunya. “Kenapa ibu setiap kali berpesan kepada hamba untuk berhati-hati. Dan kenapa hamba merasa bahwa memang hamba selalu dibayangi oleh pengawasan yang tidak sewajarnya di dalam istana ini?”

Ken Dedes yang dadanya sudah dipenuhi oleh berbagai macam perasaan itu hampir saja menuangkan segala sesuatu kepada Anusapati. Namun tiba-tiba ia merasa sesuatu telah menahannya.

Karena itu yang terlontar dari bibirnya hanyalah sebagian saja, “Kau mempunyai ibu tiri Anusapati. Dan ibu tirimu juga mempunyai seorang anak laki-laki, hampir sebaya dengan kau.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tetapi ibu, apakah hamba harus mencurigai saudaraku sendiri meskipun bukan lahir dari ibu yang sama?”

Pertanyaan itu menyentuh hati Ken Dedes. Maka sejenak ia merenung. Ada sesuatu yang memberati hatinya untuk berkata berterus terang. Apalagi setelah ia tahu bahwa anaknya bukan seorang laki-laki dungu yang hanya dapat mengeluh dan meratap. Kini baginya Anusapati adalah seorang laki-laki, seorang jantan sepenuhnya, sehingga ia-pun pasti akan dapat mengambil sikap jika hatinya tersinggung.

Karena itu, Ken Dedes hanyalah dapat menarik nafas dalam-dalam.

Namun desakan perasaan di dada Anusapati lah yang kemudian mendorongnya bertanya, “Bunda, hamba tidak mengerti, apakah hanya sekedar perasaan hamba, bahwa sebenarnyalah ayahanda tidak bersikap adil terhadap hamba dan Adinda Tohjaya. Sejak hamba kanak-anak, hamba merasakan perbedaan sikap itu. Di dalam banyak hal Ayahanda Sri Rajasa tidak membantu hamba. Juga di dalam olah kanuragan. Hamba seakan-akan selalu tersisih. Hanya Adinda Tohjaya lah yang mendapat kesempatan sebaik-baiknya. Baginya, sebelum hamba muncul sebagai Kesatria Putih di arena, hamba adalah seorang yang tidak berharga. Dengan demikian hamba harus menempuh jalan lain untuk dapat mengimbanginya.”

“Jalan apakah yang sudah kau tempuh Anusapati?”

“Untunglah ada Pamanda Mahisa Agni. Pamanda Mahisa Agni lah yang telah membentuk hamba menjadi seorang yang mampu mengimbangi Tohjaya tanpa diketahui olehnya dan oleh Ayahanda Sri Rajasa. Jika hamba tidak mendapat kesempatan atas permainan Pamanda Mahisa Agni, sebagai Kesatria Putih yang sudah dikenal Rakyat Singasari, mungkin hamba akan mengalami akibat lain, jika diketahui bahwa hamba mempunyai ilmu yang cukup.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tanpa disadarinya air matanya mengalir semakin deras. Terbayang keadaan Anusapati yang seakan-akan selalu terdorong menjauh dari setiap kesempatan.

Tetapi Ken Dedes tidak dapat mengatakannya. Ken Dedes tidak dapat mengemukakan perasaan yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya.

“Ibu,” bertanya Anusapati lebih lanjut, “kenapa Ayahanda Sri Rajasa bersikap demikian? Apakah sesuatu yang membuatnya membenci hamba?”

“Tidak Anusapati, tidak. Itu hanya sekedar perasaanmu saja. Sikap ayahandamu kepadamu tidak ubahnya dengan sikap Sri Rajasa kepada putera-puteranya yang lain. Aku juga pernah mendengar Tohjaya mengeluh kepada ibunya, menanyakan sikap Ayahanda Sri Rajasa. Kenapa ia selalu tersisih dan dengan tergesa-gesa menyerahkan gelar Putera Mahkota kepadamu, seakan-akan Ayahanda Sri Rajasa cemas, bahwa Tohjaya ingin merebutnya.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Jika benar demikian, maka adalah bayangan yang tumbuh dari mimpi buruk sajalah yang menyebabkannya merasa tersisih.

Tetapi Anusapati yang sudah dewasa itu menangkap sesuatu yang tersirat di wajah dan titik air mata ibunya. Meskipun ibunya mencoba menyembunyikan perasaannya, namun Anusapati berhasil menangkapnya, dan merasa bahwa apa yang dikatakan oleh ibunya itu bukannya yang sebenarnya dirasakannya.

Namun Anusapati tidak mendesaknya. Ia sadar, dengan demikian ia akan membuat ibunya menjadi semakin sakit hati. Karena itu untuk sementara Anusapati terpaksa menyimpannya didalam hati.

Tetapi demikian ia mundur dari hadapan ibunya, maka dicarinya pamannya yang masih berada di istana Singasari.

Ia kini tidak perlu mencari kesempatan tersembunyi. Setiap orang di dalam istana itu tanpa mendapat penjelasan dari siapapun, mulai meraba-raba, bahwa kemampuan Anusapati pasti diturunkan oleh Mahisa Agni, karena mereka tahu. bahwa latihan-latihan yang dilakukan bersama Tohjaya hampir tidak berarti sama sekali. Terlebih-lebih adalah Tohjaya sendiri dan gurunya, yang tidak segan-segan berbicara tentang kemungkinan itu dengan siapa-pun juga.

“Curang,” katanya, “Kakanda Anusapati merahasiakan kemampuannya selama ini. Tentu maksudnya tidak baik. Hanya orang-orang yang licik sajalah yang merahasiakan ilmunya. Tentu untuk tujuan-tujuan yang kurang baik.”

Tetapi hampir setiap orang berkata, “Ternyata bahwa Anusapati mampu mendapatkan ilmu dengan caranya sendiri dan mengamalkannya sebagai Kesatria Putih.”

Meskipun demikian, beberapa orang perwira yang mempunyai kepentingan tersendiri berkata di antara mereka, “Licik. Tuanku Tohjaya harus berhati-hati menghadapinya.”

Dan untuk sikap itu para perwira itu-pun mendapat janji yang baik dihari mendatang.

“Ayahanda ada di pihakku,” berkata Tohjaya. Tetapi semuanya itu disadari oleh Mahisa Agni. Ia sudah membuka daun pintu yang selama ini ditutupnya, dan semua orang sudah melihat apa yang terdapat di dalamnya. Ternyata bahwa rakyat Singasari menerima kehadiran Anusapati yang tiba-tiba itu.

“Kau harus meneruskan amalmu sebagai Kesatria Putih,” berkata Mahisa Agni ketika Anusapati menghadapnya.

“Ya paman. Aku akan melakukannya. Tetapi di samping tugas itu, aku harus memperhatikan sikap Tohjaya. Aku yakin bahwa ada suatu yang tidak wajar pada ayahanda. Aku sudah mencoba bertanya kepada ibunda Permaisuri. Tetapi setiap kali ibunda Ken Dedes hanya menangis. Dan aku-pun yakin, ada sesuatu yang disembunyikan. Agaknya ibunda berusaha melindungi pula sikap ayahanda.”

“Jangan salah mengerti Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “bukan maksud ibundamu melindungi sikap yang tidak wajar dari ayahandamu Sri Rajasa. Tetapi sebagai seorang ibu ia harus bijaksana. Ibundamu memang tidak boleh membakar perasaanmu. Dan kau-pun harus menyadari, jangan memaksa ibumu mengatakan sesuatu, agar hatinya tidak semakin sakit.”

Anusapati menundukkan kepalanya. Namun perlahan-lahan ia berkata, “Kenapa Ibunda Permaisuri masih harus menyimpan perasaannya itu. Hampir setiap orang didalam istana ini mengetahui, bahwa sikap ayahanda tidak adil, bukan saja terhadap putera-puteranya, tetapi juga terhadap ibunda berdua, Ayahanda Sri Rajasa lebih mementingkan ibunda Ken Umang. Mungkin ibunda Ken Umang adalah seseorang yang lebih terbuka dari ibunda Ken Dedes yang lebih dalam menyimpan perasaannya.”

“Sudahlah Anusapati,” potong Mahisa Agni, “tidak baik bagimu untuk selalu menyesali diri. Kau sudah mendapat kesempatan. Pergunakan sebaik-baiknya. Bentuklah hari depanmu sendiri tanpa menggantungkannya kepada orang lain, meskipun kepada Ayahanda Sri Rajasa sendiri.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah paman.”

Demikianlah maka Anusapati-pun mulai keluar lagi dari istana di malam hari dengan kuda putihnya. Tetapi ia masih merasa perlu menyembunyikan wajahnya meskipun kadang-kadang dibukanya. Tetapi rakyat yang jauh dari kota, meskipun mereka sudah mendengar pula bahwa Kesatria Putih itu adalah Putera Mahkota, namun mereka masih sering menjumpai Kesatria Putih lengkap dalam pakaiannya yang semula. Kuda Putih dan kerudung putih.

Demikianlah bagi rakyat Kesatria Putih masih tetap merupakan teka-teki. Ia berada di segala tempat dan di segala waktu. Seolah-olah Kesatria Putih dapat mengelilingi seluruh Singasari dalam waktu sekejap.

Namun dalam pakaian Kesatria Putih, Anusapati dapat keluar masuk pintu gerbang istana dengan leluasa. Kini tidak seorang-pun yang berani menegurnya. Bahkan setiap Kesatria Putih lewat pintu gerbang istana, maka hati para prajurit menjadi tenang, karena para penjahat pasti akan menjauh dan Singasari menjadi makin tenteram.

Dalam pada itu kebesaran nama Kesatria Putih semakin hari menjadi semakin menambat hati rakyat Singasari. Hampir tidak masuk akal, bahwa Anusapati dalam waktu hampir berbareng telah menangani dan menghancurkan dua kelompok penjahat di tempat yang berbeda-beda.

Tetapi tidak seorang-pun yang memperhatikan, bekas tangan Kesatria Putih. Hanya Mahisa Agni lah yang dengan teliti mengikutinya. Di dalam hati ia masih menyebut perbedaan akibat dari tindakan Kesatria Putih.

“Dibagian Utara kota Singasari. Kesatria Putih jarang sekali membinasakan lawannya, tetapi dibagian Barat, hampir setiap penjahat tidak lolos dari ujung pedangnya.”

Dengan demikian, Mahisa Agni merasa perlu untuk menertibkan tindakan Kesatria Putih sebelum orang lain mencurigainya juga, karena sebenarnya bukan saja Anusapati, tetapi ia masih juga dibantu oleh orang-orang yang sebelumnya telah mengenakan pakaian Kesatria Putih diatas kudanya yang putih.

“Untunglah, bahwa Anusapati sudah pantas dilepaskan dalam bentuk Kesatria Putih,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya pula, “meskipun Anusapati masih belum menyamai Witantra. Kuda Sempana dan Mahendra, tetapi dengan bekal yang ada, ia cukup mampu menghadapi kejahatan di daerah padesan.”

Sejalan dengan memanjatnya nama Kesatria Putih yang dikenal sebagai Putera Mahkota, maka hati Sri Rajasa-pun menjadi semakin kecut. Kadang-kadang ia menjadi hampir berputus asa. Ia mengakui, betapa cerahnya hati Mahisa Agni melawan permainannya.

“Aku lengah menghadapinya karena ia berada jauh dari istana. Ternyata di tempat yang jauh itu, ia masih mampu melakukan permainan yang matang,” katanya setiap kali kepada diri sendiri.

Apalagi semakin lama nama Tohjaya semakin tidak pernah diucapkan lagi oleh rakyat Singasari di luar istana, karena Tohjaya hampir tidak pernah mendapat kesempatan apapun. Setelah mereka mengetahui bahwa Kesatria Putih itu adalah Anusapati, maka mereka mulai ragu-ragu mempergunakan prajurit-prajurit sebagai umpan yang akan dipergunakan untuk memanjatkan nama Tohjaya.

Meskipun demikian, beberapa orang perwira di puncak pimpinan prajurit Singasari, masih berhasil dikuasainya dengan berbagai macam janji dan kesempatan.

Namun bagi Sri Rajasa, semuanya itu tidak akan banyak memberi harapan.

Bahkan di saat-saat ia duduk sendiri di belakang bangsalnya, jika matahari sudah tenggelam, kadang-kadang Sri Rajasa tidak dapat menghindarkan diri dari kenangan masa lampaunya. Bahkan kadang-kadang kenangan itu bagaikan hantu yang merayap mengintainya dan menerkamnya setiap saat.

“Apakah dewa-dewa sudah mulai melepaskan aku sendiri?” katanya kepada diri sendiri.

Sekilas terkenang kata-kata Empu Purwa di Padang Karautan, “Kembalilah kepada Yang Maha Agung.”

Dan Ken Arok yang saat itu menghantui Padang Karautan bertanya kepada diri sendiri, “Siapakah Yang Maha Agung itu?”

Terkenanglah olehnya bagaimana ia dikejar-kejar oleh orang-orang padesan di daerah Kemundungan. Karena kebingungan ia segera memanjat pohon tal. Tetapi orang-orang itu berusaha menebang pohon tal tempat ia memanjat. Di saat yang gawat itulah ia mendengar suara di angkasa, “Ambil daun tal, pakailah sebagai sayapmu kiri dan kanan.”

Dan Ken Arok selamatlah menyeberangi sungai dengan sayap daun tal.

“Itu adalah suara Yang Maha Agung,” desisnya.

Saat itu, ia ternyata dekat sekali dengan Yang Maha Agung. Beberapa kali ia menjumpai keajaiban yang tidak dimengertinya sendiri, sehingga sampai saat ini ia masih bertanya, “Ilmu apakah yang sebenarnya aku miliki sekarang, sehingga aku dapat mengalahkan Maharaja di Kediri?”

“Tetapi apakah kini Yang Maha Agung itu masih dekat dengan aku?” pertanyaan itu mulai mengganggunya.

Bahkan kadang-kadang di dalam kegelapan. Sri Rajasa melihat bayangan seseorang yang duduk bersimpuh sambil memegang dadanya yang terluka. Namun kadang-kadang bayangan itu mengangkat tangannya yang menuding wajahnya, “Kau membunuh aku Ken Arok.”

“Tidak, tidak,” Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu berdesis sambil menutup wajahnya. Bayangan itu adalah bayangan Empu Gandring yang telah dibunuhnya dengan keris yang dibuat oleh Empu Gandring itu sendiri.

Ketika bayangan itu lenyap, hadirlah bayangan yang lain, seorang anak muda yang berwajah riang. Tetapi wajah itu rasa-rasanya bagaikan menyala, “Kau memperdaya aku Ken Arok. Aku tidak pernah bersalah. Aku tidak pernah membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Dan ketika bayangan yang kemudian hadir, hatinya menjadi semakin kecut. Dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung datang sambil menggeram, “Akan datang saatnya aku menuntut balas Ken Arok.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi semakin kecut. Bayangan Tunggul Ametung itu semakin lama menjadi semakin jelas.

Bukan, bukan wajah Tunggul Ametung, tetapi wajah itu adalah wajah Anusapati. Wajah Kesatria Putih yang lahir dari Ken Dedes oleh tetesan darah Akuwu yang telah dibunuhnya itu.

Terasa kengerian yang sangat mencekam hati Sri Rajasa. Wajah demi wajah dari orang yang telah dibunuhnya silih berganti membayanginya, bercampur baur dengan wajah Anusapati, bahkan kemudian wajah Mahisa Agni.

“Mahisa Agni,” tiba-tiba Sri Rajasa menggeram.

Bagi Sri Rajasa ternyata Mahisa Agni lah kini orang yang paling berbahaya. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati sama sekali tidak berarti baginya.

Tetapi Sri Rajasa untuk sementara tidak akan dapat berbuat banyak terhadap Mahisa Agni, meskipun Sri Rajasa yakin bahwa Mahisa Agni tidak akan berhenti sampai sekian. Kemenangan yang pernah dicapainya akan mendorongnya untuk berbuat lebih banyak lagi.

Bagi Mahisa Agni perjuangan itu pasti dianggapnya sebagai kewajiban. Ia telah kehilangan pamannya, Empu Gandring, suami Ken Dedes, dan bahkan terjerumus kedalam perang tanding melawan Witantra untuk menetapkan kekalahan Kebo Ijo.

“Mahisa Agni pasti sudah menemukan kebenaran dari segala peristiwa yang terjadi,” berkata Sri Rajasa kepada diri sendiri.

Dan tiba-tiba saja Sri Rajasa-pun teringat pula kepada Witantra dan saudara seperguruannya, Mahendra.

Ingatan yang tumbuh dihati Sri Rajasa itu membuatnya semakin gelisah. Terapi ia sudah melangkah. Tingkat demi tingkat dari suatu perjuangan yang berat sudah dilaluinya. Yang. kini ia sudah sampai pada titik perjuangan yang terakhir, mewariskan kekuasaan yang dibangunnya selama ini kepada keturunannya, bukan keturunannya Tunggul Ametung. Meskipun ada juga putra-putranya yang lahir dari Ken Dedes, tapi Sri Rajasa menganggapnya bahwa Ken Dedes pernah melahirkan anak Tunggul Ametung. Tapi kegagalannya menampilkan Tohjaya menjadi pahlawan terbesar di antara putra-putranya membuatnya kehilangan arah. Semua rencananya pecah bersama dengan kekalahan Tohjaya di arena melawan Kesatria Putih yang ternyata adalah Anusapati.

“Aku harus mulai dari permulaan lagi,” berkata Sri Rajasa di dalam hatinya. Tapi ia belum tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Namun yang terlintas didalam angan-angannya, Mahisa Agni harus segera kembali ke Kediri sehingga kesempatannya bertemu dan berbincang dengan Anusapati menjadi sangat terbatas.

Demikianlah maka di hari berikutnya jatuhlah perintah bahwa Mahisa Agni harus segera meninggalkan istana Singasari.

Mahisa Agni-pun sebenarnya telah menduga bahwa ia harus segera meninggalkan Singasari untuk dijauhkan dari putra Mahkota. Tetapi jalan sudah terbuka meskipun justru bahaya menjadi semakin besar bagi Anusapati. Namun bertindak sesuatu atas Anusapati yang dikenal oleh rakyat Singasari sebagai kesatria Putih memerlukan pertanggungan yang besar.

Meskipun demikian Mahisa Agni tidak boleh lengah sebelum ia berangkat meninggalkan istana ia banyak sekali memberikan pesan kepada Anusapati.

Tetapi satu hal yang tidak dikatakannya, bahwa Anusapati sebenarnya bukan putera Sri Rajasa.

“Paman,” Anusapati mendesak, “apakah sebabnya, aku harus menempuh jalan yang aneh untuk mendapatkan tempat di hati rakyat Singasari. Dan kenapa aku rasa-rasanya menjadi semakin jauh dari Ayahanda Sri Rajasa?”

“Tidak ada persoalan apa-pun yang dapat menjadi alasan itu Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “jika sekarang kau menghadapi kenyataan itu, barangkali, karena ibumu seorang yang lebih banyak menyimpan perasaan. Seorang yang tidak ingin melontarkan diri keatas awang-awang, melampaui dan bahkan jika perlu beralaskan orang lain. Tetapi sifat-sifat Ken Umang memang tidak terpuji. Itulah agaknya yang menyebabkan ada perbedaan antara kau dan Tohjaya dihadapan Sri Rajasa. Tetapi percayalah bahwa hal itu tidak akan langgeng. Akhirnya akan tampak dan terbukti, mana yang baik dan mana yang tidak.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Jalanmu sudah terbuka. Teruskan amalmu sebagai Kesatria Putih. Kau harus lebih banyak keluar dari istana. Jangan sampai terjadi, Kesatria Putih melakukan tindakan di suatu tempat tetapi kau berada di dalam istana. Jika demikian pasti akan menimbulkan pertanyaan. Satu kali dua kali mungkin tidak akan diketahui, tetapi perasaan Sri Rajasa yang tajam, dan usaha Tohjaya untuk mencari kelemahanmu, akan memaksa mereka mencari setiap kesalahan yang mungkin terjadi.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Pada suatu saat Anusapati, untuk tidak menimbulkan kesalahan, sebaiknya kau sendirilah yang akan menjadi Kesatria Putih. Kau seorang diri tanpa orang lain. Meskipun kegiatan Kesatria Putih akan berkurang, tetapi lubang-lubang yang dapat membuat kau terperosok kedalamnya menjadi semakin kecil.”

“Ya, paman.”

“Sementara itu, untuk keselamatanmu, setiap kali salah seorang dari orang-orang tua itu akan mengawasimu dari kejauhan seperti yang juga sering terjadi. Menghadapi kejahatan yang besar dan dilakukan oleh penjahat-penjahat yang kuat, kau tidak boleh berjuang seorang diri. Satu atau dua orang akan membantumu. Tetapi hanya seorang sajalah yang boleh berperan sebagai Kesatria Putih.”

“Tetapi bagaimana aku dapat berhubungan dengan mereka paman.”

“Merekalah yang akan menghubungi kau setiap kali. Sumekar dapat menjadi penghubung yang baik pula.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, jagalah dirimu baik-baik. Tetapi jangan sekedar tenggelam dalam tugas Kesatria Putih. Kau harus menyempurnakan ilmumu sebaik-baiknya. Jika pada suatu saat kau menjumpai bahaya dari mana-pun datangnya, kau benar-benar sudah menjadi sempurna dan mampu mempertahankan dirimu. Orang-orang seperti Kiai Kisi masih akan berkeliaran mencarimu. Suatu saat akan datang orang yang jauh lebih dari kiai Kisi, karena ternyata Sri Rajasa kini pasti sudah memperhitungkan, bahwa kau sendirilah yang telah membunuh Kiai Kisi itu.”

Demikianlah, maka pesan Mahisa Agni itu selalu diingat oleh Anusapati. Ia harus berhati-hati. Baik di dalam lingkungan hidupnya sehari-hari, mau-pun apabila ia pergi ke luar istana sebagai Kesatria Putih. Namun seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, Anusapati masih selalu memerlukan waktu untuk menyempurnakan ilmunya. Setiap hari ia singgah di tempat yang terasing untuk mematangkan ilmu yang sudah dimilikinya.

Namun ternyata ada beban baru yang harus dilakukannya. Mahisa Wonga Teleng berkeras untuk mempelajari ilmu daripadanya.

“Aku jauh ketinggalan dari saudara-saudaraku,” berkata Mahisa Wonga Teleng. “Tentu ada kesengajaan Ayahanda Sri Rajasa untuk membedakan aku dengan saudara-saudaraku yang lahir dari ibunda Ken Umang.”

“Tidak Mahisa Wonga Teleng,” jawab Anusapati, “tidak ada perbedaan apa-apa. Itu hanyalah perasaan kita.” Anusapati mencoba menirukan Mahisa Agni setiap kali ia mengeluh. Dan kini ia mencoba menenteramkan hati adiknya itu.

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun Anusapati sendiri melihat kenyataan itu. Adalah tidak mustahil, terdorong oleh sikap Tohjaya maka adik-adiknya yang lahir dari Ken Umang telah membenci Mahisa Wonga Teleng karena ia adalah adik Anusapati.

“Kakanda Tohjaya juga mengajari adik-adiknya yang lahir dari ibunda Ken Umang. Apa salahnya aku minta Kakanda Anusapati melatih aku?”

“Baiklah.” berkata Anusapati, “kita mencari tempat yang baik. Di pagi-pagi benar kita mulai berlatih sampai matahari terbit.”

“Waktunya hanya pendek sekali.” sahut Mahisa Wonga Teleng, “bagaimana kalau sampai matahari sepenggalah?”

Anusapati tersenyum. Katanya, “Bukankah kau sudah mempunyai seorang guru yang mengajarimu bersama-sama dengan adinda yang lain.”

“Tetapi tidak lagi bagiku setelah aku kawin. Seperti juga Kakanda Anusapati tidak mendapat kesempatan berguru lagi. Untunglah ada Pamanda Mahisa Agni. Jika aku tahu sebelumnya, aku pasti ikut berlatih pada paman Mahisa Agni. Akulah yang barangkali bernasib jelek. Aku tidak mendapat perhatian dari Pamanda Mahisa Agni, dan tidak terhitung oleh Ramanda Sri Rajasa.”

“Jangan begitu. Tidak ada perbedaan. Baik pada paman Mahisa Agni, mau-pun pada Ayahanda Sri Rajasa.”

“Entahlah,” sahut Mahisa Wonga Teleng, “tetapi sekarang aku minta kepada Kakanda Anusapati, ajari aku meskipun terlambat. Aku menjadi semakin tua, dan anakku menjadi semakin besar.”

Anusapati tidak dapat menolak permintaan adiknya. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Wonga Teleng belum menjadi tua. Ia masih sangat muda. Meskipun anaknya bertambah besar, tetapi saat perkawinannyalah yang terlampau maju. Anusapati tidak mengerti, kenapa Ayahanda Sri Rajasa berlaku demikian. Apakah tujuannya, karena ternyata sikap Ayahanda Sri Rajasa-pun jauh lebih baik pada Mahisa Wonga Teleng daripada kepada, dirinya sendiri.

Tidak seperti pada saat Anusapati mempelajari olah kanuragan dari pamannya, Mahisa Wonga Teleng tidak perlu bersembunyi-sembunyi. Ternyata ia berani menghadapi tantangan di sekitarnya. Dan ternyata tidak ada seorang-pun yang berani merintanginya, apalagi gurunya adalah Kesatria Putih.

Namun dalam pada itu, sebenarnya Tohjaya sama sekali masih belum mengakui kemenangan Anusapati daripadanya. Memang Anusapati dapat mengalahkannya dalam permainan sodoran di arena. Tetapi itu tidak berarti bahwa Anusapati dapat mengalahkannya apabila benar-benar mereka harus berperang tanding.

Tetapi Tohjaya tidak berani mencobanya. Ia masih belum mengetahui dengan pasti, kemampuan yang sebenarnya dimiliki oleh Anusapati.

“Tuanku,” guru Tohjaya yang siang dan malam memikirkan cara untuk melenyapkan Kesatria Putih, sejak ia masih belum mengenakan bentuknya itu, berkata kepada muridnya, “adalah suatu keharusan untuk melenyapkan Kesatria Putih. Aku rasa kita tidak akan dapat bertindak atasnya. Jika kita memberikan beban ini kepada salah seorang di antara kita, atau setidak-tidaknya orang yang ada dilingkungan kita, jika orang itu tidak berhasil, maka akan sangat berbahaya akibatnya bagi kita. Untunglah bahwa sampai saat ini, usaha kita belum dapat diketahuinya dengan pasti.”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi gurunya menjadi ragu-ragu sendiri. Terbayang di dalam angan-angannya, seseorang berkerudung hitam telah memancingnya dan melibatnya dalam perkalahian. Ketika ia merasa, bahwa ia akan berhasil membunuh orang itu, rahasia yang disimpannya terlanjur dikatakannya.

“Apakah orang itu juga Anusapati?” katanya didalam hati, “Jika orang itu Putera Mahkota, kenapa ia masih tetap berdiam diri sampai sekarang?”

Hal itu ternyata sangat membingungkan sekali. Menurut pengamatannya, bentuk tubuhnya dan sikap terjangnya, orang itu bukan Putera Mahkota. Tetapi siapa?

Orang itu sama sekali tidak menduga, bahwa di halaman istana itu ada seorang juru taman yang memiliki kemampuan seperti Kesatria Putih dan seperti orang-orang berkerudung yang pernah dikenal di istana Singasari.

“Jadi bagaimana maksudmu?” bertanya Tohjaya kemudian.

“Kita minta pertolongan seseorang di luar lingkungan kita.”

Tohjaya mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata lemah, “Kau pernah gagal. Kiai Kisi tidak dapat berbuat apa-apa. Bukankah kau pernah mengatakannya meskipun kau tidak mengajak aku berbicara ketika kau merencanakan? Dan bukankah ayah pernah marah kepadamu?”

“Tetapi keadaannya sekarang berbeda. Kita tidak membenturkan orang itu langsung kepada Putera Mahkota, tetapi kepada Kesatria Putih.”

“Apa bedanya? Setiap orang tahu bahwa Kesatria Putih adalah Kakanda Anusapati.”

“Tuanku,” berkata Penasehat Sri Rajasa itu, “hamba mempunyai seorang sahabat. Seorang sakti yang bertapa di lereng Gunung Semeru.”

“Jangan mengigau. Kita tidak tahu kekuatan yang sebenarnya tersimpan di dalam diri Kakanda Anusapati.” potong Tohjaya, “sedangkan jika pertapa itu orang yang putih, ia pasti tidak akan bersedia memenuhi keinginan itu.”

“Orang itu adalah kakak seperguruan Kiai Kisi.”

“Tidak ada gunanya. Ilmunya tidak akan jauh lebih tinggi dari Kiai Kisi.”

“Tentu dengan cara yang khusus. Ia mempunyai beberapa orang murid.”

“Kesatria Putih dijebak, kemudian dikerubut bersama-sama?”

“Ya.”

“Kakanda Anusapati bukan seorang yang bodoh. Ia pasti mempunyai perhitungan tersendiri.”

“Biarlah mereka menjadikan dirinya penjahat kecil yang mengotori daerah Singasari. Kesatria Putih pasti akan datang mencarinya.”

“Seperti beberapa orang prajurit itu? Mereka dimusnakan oleh Kesatria Putih.”

“Cecurut-cecurut yang tidak berarti itu. Kita telah salah hitung. Tetapi kali ini hamba akan berhati-hati. Jebakan ini harus mengena. Kalau tidak, kita memang akan menjumpai kesulitan. Tetapi betapa-pun kuatnya Kesatria Putih, tetapi seorang diri ia tidak akan dapat mengalahkan orang itu beserta beberapa orang muridnya. Apalagi dendam yang ada di dalam dirinya kita hembus semakin besar.”

Tohjaya merenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Terserah kepada ayahanda. Aku tidak dapat mengambil kesimpulan.”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak yakin kalau ayahanda memperkenankan.”

“Mungkin ayahanda tidak menghendaki kematian Kesatria Putih. Meskipun ayah hendak menyingkirkannya, tetapi bukan membunuhnya.”

Penasehat Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih belum mengatakan, bahwa Anusapati bukan saudara Tohjaya. Sama sekali bukan, karena mereka tidak seayah dan tidak seibu.”

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Sebenarnya bagi Tohjaya, Anusapati memang lebih baik disingkirkan sama sekali, bukan saja dari kedudukannya sebagai Putera Mahkota, tetapi untuk seterusnya, sehingga ia tidak akan dapat mengganggunya lagi kapan-pun juga.

“Tetapi aku kira ayahanda bersikap lain,” berkata Tohjaya didalam hatinya, “apalagi setelah ayahanda tahu, bahwa Kesatria Putih adalah Kakanda Anusapati. Bagaimana-pun juga kematian kakanda Kesatria Putih akan sangat berpengaruh pada pemerintahan Singasari kelak. Ayahanda pasti akan terpaksa ikut berduka karena ibunda Permaisuri berduka, meskipun seandainya kematian Kesatria Putih itu dikehendaki oleh ayahanda. Setelah itu maka untuk mengangkat seorang Putera Mahkota pasti akan menimbulkan persoalan tersendiri pula. Aku yakin bahwa ayahanda akan memilih aku. Tetapi adalah sulit sekali untuk menembus ketentuan yang berlaku, bahwa Putera Mahkota adalah putera seorang Permaisuri.”

Tohjaya menarik nafas dalam-dalam.

“Kematian itu dapat ditempuh,” berkata Tohjaya pula di dalam hatinya, “ayahanda adalah seorang Maharaja yang berkuasa. Kata-katanya adalah ketentuan yang tidak dapat dibantah mengatasi segala ketentuan yang sudah ada. Selagi ayahanda masih ada, tidak akan ada seorang-pun yang berani menentang keputusannya.”

Namun segera terlintas dikepalanya, wajah seorang Senapati Singasari yang tidak ada duanya, yang bersama-sama Sri Rajasa telah mengalahkan Kediri. Mahisa Agni.

“Orang itulah yang seharusnya disingkirkan,” geram Tohjaya tiba-tiba.

“Siapa tuanku? ” gurunya itu bertanya.

“O,” Tohjaya baru sadar, bahwa ia sedang dihanyutkan oleh angan-angannya.

“Siapakah yang seharusnya disingkirkan tuanku?”

Tohjaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Semua rencana rusak oleh Pamanda Mahisa Agni.”

“Ya tuanku. Ternyata Mahisa Agni adalah seorang yang bukan saja memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni, tetapi ia memiliki kemampuan berpikir yang tidak terduga-duga. Anak padesan itu hampir berhasil merusakkan seluruh rencana tuanku Sri Rajasa. Karena itu, kita harus bersikap lebih keras lagi. Ayahanda tuan memilih jalan yang paling lembut untuk mencapai maksudnya. Namun ternyata Mahisa Agni adalah seorang yang sangat licik.”

“Kau nasehatkan kepada ayahanda. Jika mungkin mengambil jalan kekerasan meskipun ayahanda pernah tidak menyetujuinya. Tetapi saat itu, jalan masih terbuka dan ayahanda masih belum mengetahui betapa licik lawannya.”

“Hamba akan mencoba. Tetapi sebelum ayahanda memutuskan, kita memang tidak akan dapat berbuat apa-apa,” berkata gurunya.

“Aku menunggu, meskipun aku hampir tidak sabar.”

Demikianlah guru Tohjaya yang juga menjadi penasehat Sri Rajasa itu mencoba untuk mendorong Sri Rajasa mempergunakan kekerasan di dalam usahanya menyingkirkan Kesatria Putih.

“Kau memang bodoh sekali,” berkata Sri Rajasa, “apakah kau masih belum jera atas kegagalanmu itu?”

“Tetapi kali ini jalan kita lebih lapang tuanku. Kesatria Putih adalah musuh setiap penjahat. Jika terjadi sesuatu atas Kesatria Putih, maka tidak seorang-pun yang dapat dituntut. Berbeda dengan Putera Mahkota di dalam sebuah pasukan. Hamba memang terlampau tergesa-gesa waktu itu.”

“Bagaimana dengan Tohjaya?”

“Tuanku Tohjaya hampir tidak sabar menunggu.”

“Apakah kau mengatakan kepadanya, siapakah Anusapati sebenarnya dan hubungan antara kedua anak-anak itu.”

“Tidak tuanku.”

“Kau tidak berdusta?”

“Tidak tuanku.”

Sri Rajasa justru terdiam. Tiba-tiba saja ia merenung. “Bagaimanakah pendapat tuanku?” bertanya penasehatnya.

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Tetapi yang terlintas di angan-angannya justru persoalan yang sama sekali menyimpang dari pertanyaan penasehatnya.

Tohjaya sampai hati menjatuhkan pilihan, menyingkirkan Anusapati. Bukan karena Sri Rajasa terlampau sayang kepada Anusapati tetapi ia sedang merenungi watak puteranya. Apalagi karena Tohjaya tidak tahu, hubungan yang sebenarnya antara ia dan Anusapati itu.

“Seharusnya ia menganggap Anusapati sebagai kakaknya. Dan ia sampai hati untuk melenyapkan kakaknya itu,” berkata Sri Rajasa di dalam hatinya. Sekilas terbayang segala macam tingkah lakunya semasa ia masih muda. Petualangan, kejahatan, bahkan pembunuhan dan perkosaan telah dilakukannya. Apakah sifat dan watak itu menurun kepada puteranya? Ditambah dengan sifat-sifat Ken Umang yang tamak dan sombong.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memejamkan matanya. Dan bayangan-bayangan itu justru menjadi semakin jelas. Terlintas dalam angan-angannya itu, bagaimana ia menemukan Ken Umang di hutan perburuan. Bagaimana gadis itu menjeratnya dengan menyerahkan dirinya sendiri.

Gabungan dari sifat-sifat yang hitam itu kini tampak pada puteranya.

“Apakah anak-anakku yang lain juga bersifat seperti itu?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi suatu kenyataan bahwa Mahisa Wonga Teleng, memiliki sifat-sifat yang lain dari Tohjaya, justru karena ia lahir dari ibu yang lain.

“Apakah sifat itu menurun ataukah justru karena tuntunan yang diterimanya dari ibunyalah yang salah?” bertanya Ken Arok kepada dirinya sendiri pula.

Ternyata pertanyaan-pertanyaan itu telah membuat Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi termangu-mangu. Kesadaran tentang tingkah lakunya di masa mudanya, membuat ia kini bersedih atas kelakuan puteranya.

Namun tiba-tiba terbayang dendam yang membara di wajah Anusapati. Seakan-akan wajah itu memancarkan sorot mata Tunggal Ametung. Karena itu maka sambil menggeretakkan giginya Sri Rajasa menggeram di dalam dadanya, “Ia harus dibunuh.”

Saat-saat yang demikian menegangkan, membuat Sri Rajasa bagaikan kehilangan akal. Rasa-rasanya ia berada di dalam suatu keadaan sesaat sebelum ia menghunjamkan kerisnya di dada Empu Gandring dan juga di dada Akuwu Tunggul Ametung. Ragu-ragu, bimbang dan segala macam perasaan bercampur-baur.

“Semuanya sudah terlanjur. Aku sudah mengorbankan, beberapa nyawa dan orang-orang yang terlalu baik kepadaku. Sekarang korban yang jatuh itu tidak boleh sia-sia, keturunan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi lah yang harus berkuasa di Singasari,” katanya kepada diri sendiri.

Penasehatnya masih duduk sambil menundukkan kepalanya dihadapannya ia menunggu dengan sabar, keputusan yang akan diambil oleh Ssi Rajasa tentang Anusapati.

Namun tiba-tiba saja Sri Rajasa itu berkata, “kita selesaikan dahulu Mahisa Agni. Itu adalah sumber kegagalan-kegagalanku menghadapi Anusapati. Setelah Mahisa Agni lenyap, kita akan dapat berbuat apa saja.”

Penasehat menjadi tegang sejenak. Ia tidak menduga bahwa Mahisa Agni yang menjadi pusat perhatian Sri Rajasa.

“Kematian Mahisa Agni tidak akan banyak menimbulkan persoalan padaku. Aku tidak akan dibingungkan tentang jabatan Putera Mahkota untuk sementara, sebelum aku menemukan jalan. Dan kesalahan atas kematian Mahisa Agni dapat aku bebankan kepada orang-orang Kediri. Ternyata mereka telah membunuh wakil Mahkota di Kediri.”

Penasehat Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam, “Soalnya, apakah orang yang kau katakan mempunyai kemampuan untuk melakukannya? Aku kira Mahisa Agni tidak akan menduga bahwa hal serupa itu dapat terjadi atasnya. Orang-orang itu harus memasuki istananya tanpa diketahui oleh para penjaga. Mereka harus menyerang Mahisa Agni dengan serta merta. Jangan hanya satu dua orang. Ambillah tiga atau empat orang yang setingkat. Aku dapat memberikan apa saja yang diminta. Hanya dengan demikian Mahisa Agni akan dapat terbunuh.”

“Hamba tidak dapat mengatakannya tuanku. Apakah orang itu mampu mengalahkan Mahisa Agni.”

“Jangan sendiri.”

“Hamba juga belum tahu. apakah ada kawan-kawannya atau saudara-saudara seperguruannya yang dapat melakukannya.”

“Cobalah, hubungi orang itu. Tetapi hati-hati supaya kau tidak terjerumus ke tiang gantungan karena kesalahanmu.”

Terasa sesuatu bergetar di dada penasehat itu. Namun ia berkata, “Hamba tuanku. Hamba akan sangat berhati-hati.”

“Jika kau temukan tiga atau empat orang, bawalah mereka kemari. Mereka harus menunjukkan kemampuan mereka. Aku akan menjajagi ilmu mereka langsung.”

“Maksud tuanku.”

“Aku akan mencoba melawan mereka seorang demi seorang. Baru aku dapat menentukan apakah mereka mampu melakukan tugas itu atau tidak, karena Mahisa Agni adalah seorang yang pilih tanding, hampir tidak ada duanya didunia ini.”

“Hamba tuanku. Hamba mengerti.”

“Nah, lakukanlah. Setelah itu baru aku akan menentukan sikap terhadap Anusapati. Kematian Anusapati pasti akan mempengaruhi perasaan Permaisuri dan pengaruhnya yang lain akan terasa sekali pada pemerintahan yang sedang berjalan di Singasari. Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni. Meskipun ia akan diserahkan kembali kepada asalnya dengan upacara kebesaran salah seorang pemimpin tertinggi di Singasari, namun persoalannya akan segera selesai dan orang-orang Singasari dan Kediri akan segera melupakannya.”

“Baiklah tuanku. Hamba mengerti tugas yang harus hamba lakukan.”

“Kerjakan baik-baik. Jangan kau katakan lebih dahulu kepada Tohjaya. Aku sendirilah yang akan mengatakan kepadanya.”

“Hamba tuanku. Hamba mengerti. Hamba mengerti,” penasehat itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, lakukanlah baik-baik. Jika kau sudah menemukan, bawalah mereka kemari. Didalam saat yang tepat, mereka akan pergi ke Kediri, sementara Anusapati harus diusahakan tetap berada di istana saat itu. Jika tidak, dan kebetulan sekali ia berada di Kediri, maka gabungan kekuatan keduanya benar-benar mencemaskan meskipun harus melawan tiga atau empat orang sekaligus.”

“Hamba tuanku. Hamba mohon waktu sepekan. Hamba akan segera memberikan laporan tentang orang yang hamba katakan.”

“Aku menunggu waktu yang kau katakan. Segala sesuatu harus kau bicarakah dahulu dengan aku. Kau mengerti? Jangan membuat rencana sendiri yang justru akan dapat menggagalkan semua rencana yang sudah tersusun.”

“Hamba tuanku.” penasehat itu mengangguk-angguk.

Sejenak kemudian maka ia-pun mohon diri. Bukan saja dari hadapan Sri Rajasa, tetapi ia mohon kesempatan sepekan untuk melakukan tugas itu, sehingga dalam waktu itu ia tidak akan berada di istana.

Demikianlah dengan gelisah Sri Rajasa menunggu kesempatan itu. Penasehat itu masih mohon diri pula, ketika ia siap meninggalkan istana dengan kudanya yang tegar.

Ketika kuda itu berlari keluar dari regol istana, sepasang mata mengikutinya dengan tajamnya. Mata seorang juru taman.

Sumekar menjadi curiga melihat kepergian orang itu. Menilik bekal yang dibawanya, yang tersangkut dipunggung kudanya pula, ia tidak hanya sekedar pergi keluar istana untuk beberapa saat. Tetapi ia pasti meninggalkan istana untuk beberapa hari.

“Kemana orang itu?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi tidak ada orang yang dapat menjadi tempat ia bertanya.

Namun karena ia mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh orang itu atas Putera Mahkota, maka ia tidak dapat melepaskan perhatiannya kepada kepergiannya itu. Mungkin ia sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakakan Putera Mahkota pula.

Karena itu, mau tidak mau, Sumekar harus menghubungi Anusapati dan memberi tahukan kepergian penasehat Sri Rajasa itu.

“Tuanku harus berhati-hati. Selama tuanku menjalankan tugas tuanku sebagai Kesatria Putih. Mungkin pada suatu saat orang itu sengaja menjebak tuanku.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Teringat pula olehnya bagaimana ia telah dijebak oleh seorang yang menyebut dirinya bernama Kiai Kisi, sehingga kemungkinan yang serupa memang akan dapat terjadi. Teringat pula olehnya, sekelompok prajurit yang menyamar menjadi perampok untuk menjebak Kesatria Putih. Tetapi mereka dapat dihancurkan dan bahkan pedang-pedangnya telah dilemparkan ke depan regol istana.

Dengan demikian Anusapati semakin menyadari, bahwa bahaya menjadi semakin besar mengancamnya dari segala arah. Baik sebagai Putera Mahkota, apalagi sebagai Kesatria yang berkeliaran di segala tempat dan di segala waktu.

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman Sumekar?”

“Tuanku harus menyampaikan hal ini kepada orang-orang lain yang menyatakan dirinya dalam pakaian Kesatria Putih itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mereka memang harus lebih berhati-hati.”

“Bukan sekedar berhati-hati tuanku. Mereka harus memperhitungkan segala kemungkinan. Jika salah seorang Kesatria Putih itu dapat dijebak oleh sekelompok orang-orang itu, dan Kesatria Putih itu ternyata bukan tuanku, maka persoalannya akan menggemparkan seluruh Singasari. Nama tuanku akan terguncang pula karenanya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti paman. Aku akan menghubungi mereka. Biasanya salah seorang dari mereka menunggu aku dibatas kota. Tentu saja tidak sebagai Kesatria Putih.”

“Sebaiknya tuanku cepat menyampaikan kabar ini sebelum terlambat.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari kesulitan yang dapat timbul apabila sekelompok orang yang berilmu tinggi sengaja menjebak salah seorang dari Kesatria Putih itu.

Demikianlah, di malam harinya, Anusapati-pun seperti biasanya keluar dari regol istana dalam pakaian Kesatria Putih. Para prajurit yang sedang bertugas menganggukkan kepalanya dengan hormatnya. Mereka sadar betapa beratnya tugas yang telah dibebankan dipundaknya sendiri oleh Putera Mahkota itu. Tugas yang dilakukan seorang diri sebagai Kesatria Putih itu ternyata melampaui kemampuan sepasukan prajurit pilihan.

Namun malam itu Anusapati telah membawa pesan yang mendebarkan bagi Kesatria Putih yang lain. Orang yang malam itu menghubungi Anusapati di batas kota adalah Witantra sendiri.

“Paman, menurut paman Sumekar, kemungkinan yang buruk itu dapat terjadi.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Memang tuanku. Jika terjadi demikian, maka semuanya akan rusak.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman?”

“Aku akan menarik mereka malam ini.”

“Tetapi di manakah mereka itu?”

“Hanya seorang yang berpakaian Kesatria Putih malam ini. Kuda Sempana. Aku tahu kemana ia pergi.”

“Jadi maksud paman, Kesatria Putih harus menghentikan kegiatannya untuk sementara?”

“Sampai aku menghubungi tuanku lewat Sumekar.”

Anusapati mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu kainnya, “Jadi bagaimana aku malam ini?”

“Marilah tuanku pergi bersama aku. Sebaiknya tuanku melepaskan pakaian Kesatria Putih itu supaya jika bertamu dengan Kuda Sempana dalam pakaian Kesatria Putih, tidak akan ada dua Kesatria Putih dalam waktu bersamaan, jika kebetulan ada seseorang yang melihatnya, maka akibatnya dapat mengganggu pula.

“Tetapi bagaimana dengan kudaku?” bertanya Anusapati, “kuda putih adalah salah satu ciri Kesatria Putih.”

“Banyak kuda putih di Singasari. Tetapi asal tuanku tidak mempergunakan pakaian dan kerudung putih, maka orang tidak segera mengambil kesimpulan, bahwa yang lewat adalah Kesatria Putih.”

Anusapati ragu-ragu sejenak. Tetapi ia-pun segera melepaskan tirai putih yang tersangkut dilehernya. Bahkan kemudian ia melepas kain pancingnya dan dikerudungkannya dipunggungnya, agar orang tidak mudah mengenalnya sebagai Putera Mahkota.

“Tuanku seperti seekor burung yang besar sekali di atas seekor kuda,” berkata Witantra.

Anusapati tersenyum. Tetapi katanya, “Kita menempuh jalan paling aman, kita menghindari seseorang sejauh mungkin agar tidak timbul pertanyaan tentang kuda putih ini.”

“Yang penting tuanku, asal tidak ada dua orang Kesatria Putih bersama-sama. Yang berbahaya adalah saat kita bertemu dengan Kuda Sempana. Dan kita akan berusaha menemuinya tanpa dilihat oleh orang lain, meskipun tuanku tidak dalam pakaian Kesatria Putih. Sampai saat ini Kesatria Putih masih dianggap sebagai seseorang yang ajaib. Yang ada disembarang tempat dan waktu meskipun sudah mengalami pengekangan yang agak jauh.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari bahwa pamannya sudah berusaha mengatur serapi mungkin agar tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengurangi nilai dari perbuatan Kesatria Putih.

Demikianlah maka Witantra telah membawa Anusapati berpacu di dalam kegelapan. Untunglah bahwa keduanya telah terbiasa berkuda di dalam gelap menyusuri jalan-jalan di daerah yang paling sulit sekalipun. Malam itu mereka harus menemukan Kuda Sempana dan menariknya sebelum ia bertemu dengan jebakan yang belum dimengerti.

Untunglah bahwa di setiap malam mereka yang menamakan diri Kesatria Putih itu selalu saling berbicara tentang daerah yang akan mereka datangi, sehingga dalam keadaan yang gawat, mereka akan segera dapat dihubungi. Demikianlah, menjelang tengah malam mereka telah sampai ditempat yang disebutkan oleh Kuda Sempana. Sesuai dengan ciri-ciri yang diberikannya, maka Witantra-pun berhasil mengikuti jejak perjalanan Kesatria Putih sehingga pada suatu tempat, mereka menemukan Kesatria Putih yang sedang menunggu di bawah sebatang pohon cangkring.

“He, ternyata tuanku Putera Mahkota,” berkata Kuda Sempana.

“Ya, aku dibawa oleh paman Witantra kemari.”

“Apakah ada sesuatu yang penting tuanku? Bukankah malam ini hamba diperbolehkan bergerak setelah tengah malam, karena di separuh malam pertama, tuanku sendiri akan mengelilingi kota Singasari.”

“Ya. Tetapi ada sesuatu yang penting aku sampaikan,” sahut Anusapati, “sehingga paman Witantra memandang perlu untuk membawa aku kemari.”

“Apakah yang penting itu tuanku? Apakah ada kejahatan dilewat tengah malam yang akan tuanku tangani sendiri, sehingga hamba harus membatalkan tugas hamba malam ini.”

“Tidak, tetapi ada sesuatu yang berbahaya bagi kita,” jawab Anusapati.

Kuda Sempana menganggukan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi, dan Anusapati lah yang kemudian berceritera tentang Penasehat Sri Rajasa dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti bahwa dengan demikian tugas Kesatria Putih ada dalam bahaya. Seperti yang dikatakan oleh Anusapati, apabila seseorang atau segerombolan orang berhasil menangkap Kesatria Putih, dan Kesatria Putih itu bukan Putera Mahkota, maka nama Putera Mahkota memang dapat terancam. Tohjaya akan memanfaatkan hal itu untuk kepentingannya.

Karena itu, maka Kuda Sempana-pun sependapat, bahwa untuk sementara semua rencana akan dibatalkan sehingga mendapatkan suatu penyelesaian yang dapat dipertanggung jawabkan.

“Tetapi kita tidak boleh berhenti,” berkata Witantra, “Kesatria Putih masih harus tetap berjuang melawan kejahatan sebelum kejahatan itu berakhir.”

“Hampir tidak mungkin,” sahut Kuda Sempana, “umur kejahatan sama dengan umur manusia, karena pada dasarnya manusia dikuasai oleh sifat-sifat yang jahat. Hanya mereka yang berhasil menguasai diri sendiri dan berjuang merebut dirinya dari tangan setan sajalah yang mampu menghindari kejahatan.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jika demikian kita masih akan berbuat banyak sekali. Dengan pakian Kesatria kita langsung menghadapi kejahatan di medan. Tetapi lewat cara lain kita harus berusaha membawa setiap orang berusaha merebut dirinya sendiri dari kekuasaan setan itu. Jika kita berhasil, maka tugas kita di medan akan jauh berkurang.”

Kuda Sempana mengangguk-angguk. Lalu ia-pun bertanya, “Jadi apa yang akan kita lakukan?”

Kita akan berhubungan dengan Mahisa Agni. Tetapi aku kira kita akan menentukan, bahwa biarlah Putera Mahkota sajalah yang berpakaian Kesatria Putih. Kita akan selalu membayangi. Jika Putera Mahkota masuk kedalam suatu jebakan, kita akan membantunya. Bukan sebagai Kesatria Putih.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Malam ini semua rencana kita batalkan,” berkata Witantra, “Siapa tahu, bahwa guru Tohjaya itu sudah mulai bergerak dengan kekuatan yang besar.”

Demikianlah maka malam itu. Kuda Sempana membatalkan niatnya untuk membelah daerah itu yang didengarnya sedang diambah oleh kejahatan. Untunglah bahwa malam itu tidak terjadi apa-pun sehingga seandainya Kuda Sempana tetap berada di daerah itu-pun tidak akan dijumpainya seseorang.

Malam itu sebelum Anusapati masuk kembali ke regol istana, dikenakannya kembali ciri pakaian Kesatria Putih, supaya kehadirannya tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan.

Dalam pada itu, guru Tohjaya sudah menempuh jarak yang jauh untuk menemui orang yang dikatakannya. Ia memutuskan untuk menemui kakak seperguruannya yang tertua. Juga segaris perguruan dengan Kiai Kisi.

Kedatangannya telah menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam sebuah padepokan yang terpencil. Padepokan yang dihiasi dengan berbagai macam kemuraman karena mereka yang tinggal dipadepokan itu bukanlah sekelompok orang-orang yang berhati putih.

“Kau masih ingat kepadaku?” berkata saudara tua seperguruan itu. “Sudah lama sekali kau tidak datang ke padepokan ini.”

“Aku tidak pernah melupakan kau kakang. Kesempatankulah yang masih belum ada. Tetapi sekarang aku memerlukan datang menemui kakang.”

“Tentu ada suatu kepentingan yang mendesak. Aku sudah mendengar kematian Kiai Kisi yang malang itu. Kedatanganmu tentu ada hubungan kelanjutan dari kematiannya.”

“Sebenarnya aku tidak akan segera mengatakannya, tetapi kakang sudah menebak tepat sehingga aku tidak akan ingkar.”

Kakak seperguruan yang tertua dari guru Tohjaya itu tertawa, katanya, “Aku tidak memaksa kau mengatakannya jika kau berkeberatan.”

“Bukan begitu. Maksudku, setelah aku berada disini sehari dua hari, barulah aku akan menyampaikannya.”

“Buat apa aku harus menebak-nebak selama sehari dua hari. Meskipun kau akan tinggal disini beberapa hari, tetapi masalahnya sudah aku ketahui.”

Guru Tohjaya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku kira kau tidak lagi memerlukan aku setelah kau menjadi orang istana. Menjadi penasehat Hantu Karautan dan menjadi guru dari anaknya yang lahir dari Ken Umang itu.”

“Tidak kakang. Aku tidak lupa kepada siapapun.”

“Dalam kesulitan kau ingat kepada kami. Dan justru karena itu Kiai Kisi sudah menjadi korban perhitunganmu yang tidak cermat. Apakah kau sudah tahu siapakah yang telah membunuh Kiai Kisi itu?”

“Ya kakang. Aku sudah mengetahuinya kini, meskipun tidak dapat aku buktikan.”

“Hanya dugaan?”

“Dugaan yang didasarkan atas perhitungan.”

“Siapa yang telah membunuhnya?”

“Putera Mahkota sendiri.”

“Anusapati?” kakak seperguruannya terkejut.

“Apakah kakang belum mendengar hasil permainan sodoran di alun-alun Singasari?”

“Singasari sangat jauh dari tempat ini. Tetapi aku sudah mendengarnya, bahwa orang yang menyebut dirinya Kesatria Putih ternyata adalah Putera Mahkota.”

“Nah, ternyata Kiai Kisi tidak berhasil membunuh Putera Mahkota saat itu. Justru ia sendiri telah terbunuh.”

“Kiai Kisi memang belum cukup masak untuk menghadapi lawan yang kuat. Tetapi bagaimana dengan kau sendiri?”

“Tentu tidak mungkin. Aku orang istana.”

“Kau juga takut?”

“Tentu tidak kakang. Aku merasa bahwa aku tidak lebih jelek dari Kiai Kisi. Tentu aku dapat membinasakan Kesatria Putih. Tetapi sudah aku katakan, jika ada yang berhasil mengetahui persoalannya akan menjadi sangat buruk, karena aku adalah guru tuanku Tohjaya dan kadang-kadang juga diajaknya berbicara tentang keprajuritan di samping para Panglima.”

Kakak seperguruannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jadi kau bermaksud agar aku membunuh Kesatria Putih, begitu?”

Kakak seperguruannya mengerutkan keningnya ketika guru Tohjaya itu menggeleng, “Bukan Kesatria Putih.”

“He. Bukan Kesatria Putih? Jadi siapa?”

“Orang yang sebenarnya berdiri sebagai lawan Sri Rajasa.”

“Siapa?”

“Mahisa Agni yang justru menjadi wakil Mahkota di Kediri, mengawasi pemerintahan yang diserahkan kepada keluarga dan keturunan Maharaja di Kediri itu sendiri.”

“Mahisa Agni,” kakak seperguruannya itu menganggukkan kepalanya, “dari perguruan manakah orang itu?”

“Aku tidak tahu. Tetapi orang menyebutnya berasal dari Panawijen.”

Kakak seperguruannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku pernah mendengar perguruan di padepokan Panawijen bertahun-tahun yang lalu. Tetapi aku tidak peduli, ia berhenti sejenak. Lalu, “Apa yang harus kita kerjakan?”

“Membunuhnya.”

“Dimanakah ia tinggal?”

“Di Kediri. Kakang harus pergi ke Kediri. Kakang harus memasuki istananya dan membunuhnya di dalam istana itu.”

“Aku belum mengenal orangnya. Apakah aku harus pergi sendiri?”

“Tidak kakang. Menurut Sri Rajasa, kakang harus pergi bersama tiga atau empat orang yang akan didadar oleh Sri Rajasa sendiri.”

“He, jadi Sri Rajasa tidak percaya akan kemampuanku.”

“Bukan tidak percaya. Tetapi Sri Rajasa ingin berhati-hati menghadapi persoalan ini. Sudah beberapa kali rencananya gagal, sehingga karena itu, ia tidak mau gagal untuk kesekian kalinya.”

“Jadi maksudmu, kami harus menghadap ke istana dan berkelahi dengan Sri Rajasa?”

“Bukan begitu. Sri Rajasa hanya ingin mengetahui, betapa kekuatanmu bersama tiga atau empat orang yang lain agar Sri Rajasa mempunyai kepastian, rencananya kali ini tidak gagal.”

“Terserah saja. Aku tidak berkeberatan. Tetapi apa yang akan aku terima setelah aku berhasil membunuhnya?”

Penasehat Sri Rajasa itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau dapat berbicara sendiri dengan Sri Rajasa.”

Kakak seperguruannya itu mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar kemenangan Sri Rajasa atas Kediri. Dan ia juga mendengar seorang Senapatinya yang berhasil membunuh Senapati tertinggi dari Kediri yang hampir tidak terkalahkan. Orang itu agaknya yang bernama Mahisa Agni.

Ketika ia bertanya kepada guru Tohjaya, maka orang itu-pun mengiakannya.

“Memang tugas yang berat. Aku memang memerlukan kawan. Tetapi Sri Rajasa tidak usah kuwatir. Betapa tinggi kemampuannya, selagi kakinya masih berjejak di atas tanah, aku akan dapat membinasakannya meskipun tidak sendiri.” ia berhenti sejenak, lalu sekali lagi, “Apa yang akan aku terima dari Sri Rajasa?”

“Kelak kau akan mendengarnya sendiri.”

Kakak seperguruan penasehat Sri Rajasa itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Aku percaya kepadamu meskipun sebenarnya aku tidak percaya kepada Sri Rajasa.”

“Kenapa kau tidak percaya kepada Sri Rajasa?”

“Aku bukan seorang yang bersih. Aku adalah seorang yang licik dan barangkali pengecut. Karena itu aku mangerti. Sri Rajasa sudah sampai hati berusaha membinasakan seorang Senapatinya yang telah berjasa besar kepadanya. Bahkan juga Putera Mahkota. Apakah masih ada orang yang dapat percaya kepadanya? Jika orang yang bernama Mahisa Agni itu dibunuhnya, apakah hal yang serupa tidak dapat terjadi atasku, atasmu dan siapapun? Karena itu, aku harus berhati-hati. Kau juga harus berhati-hati.”

Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan. Katanya, “Kau benar. Tetapi sampai saat ini aku masih dipercayanya meskipun kadang-kadang dibentak-bentaknya.”

“Baiklah. Aku akan menghadap ke istana. Berhadapan dengan orang selicik dan sejahat Sri Rajasa, aku-pun harus hati-hati.”

“Apakah Sri Rajasa termasuk seorang yang jahat?”

“Tentu. Tetapi ia mempunyai kelebihan dari aku. Ia berhasil membuat Singasari besar. Itu adalah jasa yang telah diberikan kepada tanah ini dan tidak akan dilupakan orang. Tetapi aku tidak berbuat apa-apa. Meskipun demikian, dihadapan kebenaran Sri Rajasa adalah orang yang pernah ingkar daripadanya.”

Penasehat Sri Rajasa itu menganggukakan kepalanya. Katanya, “Baiklah kakang datang ke istana. Terserah, apa yang akan kakang bicarakan.”

“Aku akan membawa dua orang saudara seperguruan kita yang tersisa dan dua orang muridku tertua dan yang sudah memiliki kemampuan penuh.”

Penasehat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terserahlah. Tetapi Mahisa Agni pernah membinasakan Senapati tertinggi dari Kediri.”

Demikianlah, maka pada hari yang ditetapkan setelah beberapa lama penasehat Sri Rajasa tinggal dipadepokan saudara seperguruannya itu, mereka berangkat ke istana Singasari. Untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya, maka saudara tua panasehat Sri Rajasa itu mengenakan pakaian yang pantas bagi seorang tamu istana, sedang yang lain, untuk menghindarkan kecurigaan akan ditempatkan di luar istana, pada seorang kepercayaan penasehat Sri Rajasa itu.

Ternyata kehadiran tamu yang tidak dikenal bersama penasehat Sri Rajasa itu telah menarik perhatian Sumekar yang mengetahui, apa yang pernah dilakukan oleh penasehat itu atas Putera Mahkota. Karena itu, maka kehadiran orang yang tidak dikenal bersamanya, telah menumbuhkan kecurigaannya.

“Menilik bentuk wajahnya dan sorot yang tersirat dari tatapan matanya, ia bukan orang yang baik,” berkata Sumekar di dalam hatinya.

Karena itulah, maka timbullah niatnya untuk selalu mengawasinya. Mungkin ada sesuatu yang pantas dilakukan untuk keselamatan Putera Mahkota. Karena bagaimana-pun juga, seolah-olah Sumekar merasa dirinya telah terlibat didalam pertentangan tertutup antara Putera Mahkota dan Tohjaya.

Sumekar tidak dapat mengetahui, apa yang telah dibicarakan antara tamu yang aneh itu dengan Sri Rajasa. Tetapi ia tidak dapat mencegah keinginannya untuk mengetahui lebih dekat atas tamu itu.

Ketika istana Singasari kemudian disaput oleh gelapnya malam, maka Sumekar segera mengenakan pakaian hitamnya dan dengan hati-hati mendekati bangsal Sri Rajasa. Mungkin ia dapat melihat sesuatu yang dijadikannya bahan pertimbangan.

Dengan hati-hati pula ia memanjat sebatang pohon sawo sehingga ia dapat langsung melihat longkangan di belakang bangsal itu. Longkangan yang tertutup.

Namun dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Ia melihat Sri Rajasa, penasehatnya dan tamunya berada dilongkangan itu, bahkan seakan-akan mereka akan bertempur.

“Apakah yang akan mereka lakukan?” bertanya Sumekar di dalam hati.

Dari kejauhan ia melihat, Sri Rajasa telah bersiap berhadapan dengan tamunya.

“Apakah mataku tidak beres lagi malam ini,” Sumekar menggosok-gosok matanya.

Namun ia benar-benar melihat sejenak kemudian keduanya terlibat dalam suatu perkelahian. Semakin lama semakin seru disaksikan oleh penasehat Sri Rajasa yang juga menjadi guru Tohjaya, Sumekar menahan nafasnya. Meskipun ia berada agak jauh, tetapi ia mampu juga menilai keduanya.

“Sri Rajasa memang orang yang pilih tanding,” berkata Sumekar di dalam hatinya, meskipun ia tidak dapat mengatakan cara yang telah dipergunakan oleh Maharaja Si ngasari itu. Tandangnya kasar dan keras, namun kemampuannya benar-benar tidak ada duanya.

Lawannya adalah seorang yang bertempur dengan kasar dan keras pula. Tetapi lambat laun tampak, bahwa Sri Rajasa memiliki kelebihan yang tidak teratasi oleh lawannya.

Meskipun demikian, menurut penilaian Sumekar, orang yang berkelahi melawan Sri Rajasa itu-pun adalah seorang yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi.

“Apakah akan terjadi sesuatu dengan Putera Mahkota?” pertanyaan itulah yang pertama-tama membelit dada Sumekar, sehingga ia mulai menilai kemampuan orang itu dengan kemampuan yang dimiliki oleh Anusapati.

“Tuanku Putera Mahkota masih terlalu muda menghadapinya apabila dipaksakan suatu tindakan kekerasan berhadapan oleh orang itu,” katanya di dalam hali.

Sejenak kemudian maka perkelahian itu-pun berakhir. Meskipun Sri Rajasa belum mengalahkan lawannya dengan mutlak, tetapi pastilah demikian jika mereka berkelahi terus.

Sumekar tidak tahu apa yang mereka bicarakan kemudian. Yang terlintas dikepalanya adalah cara-cara yang akan dipergunakan oleh Sri Rajasa untuk menjebak Kesatria Putih seperti yang pernah dilakukan oleh Kiai Kisi terhadap Putera Mahkota.

Karena itu, maka ia-pun segera menyingkir dan mencoba mencari Putera Mahkota. Tetapi malam itu Sumekar tidak sempat menemukannya dan sudah tentu ia tidak akan dapat pergi ke bangsal Anusapati yang selalu mendapat pengawasan oleh para prajurit.

Meskipun prajurit yang bertugas di sekitar rumah Putera Mahkota adalah prajurit-prajurit yang baik terhadap Putera Mahkota, namun kehadirannya pasti akan menjadi buah bibir yang akan sampai ke telinga mereka yang tidak menyukainya.

Dalam pada itu, setelah Sri Rajasa selesai dengan perkelahiannya melawan kakak seperguruan penasehatnya itu, ia-pun kemudian berkata, “Kau cukup baik untuk melawan Mahisa Agni meskipun kalau kau bertempur sendiri, kau pasti akan dikalahkannya.”

“Apakah Mahisa Agni memiliki kemampuan setingkat dengan tuanku?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi demikianlah kira-kira. Karena itu kau harus menyiapkan dirimu baik-baik. Jangan hanya berdua meskipun kawanmu setingkat dengan kemampuanmu.”

“Kami akan datang berlima,” jawab orang itu.

“Siapakah mereka?”

“Hamba sendiri dan dua orang saudara seperguruan hamba yang memiliki kemampuan tidak terpaut banyak dari hamba. Kemudian dua orang murid hamba yang tertua, yang memiliki kemampuan sepenuhnya dari ilmu hamba, meskipun masih belum masak benar. Tetapi keduanya sudah dapat dilepaskan berbuat sendiri di dalam saat-saat tertentu.”

“Baiklah. Hati-hatilah. Kau harus memasuki istana itu tanpa diketahui orang. Kau langsung masuk kedalam dan mencari biliknya. Jangan memberi kesempatan kepadanya untuk melawan meskipun kalian berlima. Meskipun barangkali Mahisa Agni tidak dapat mengimbangi kekuatan kalian berlima bersama-sama, tetapi ia mempunyai kemampuan memperhitungkan keadaan hampir sempurna. Dan itu sangat berbahaya, ia tidak saja berkelahi dengan tenaganya, tetapi terutama dengan otaknya.

“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya sebaik-baiknya. Tetapi tuanku tidak usah cemas. Mahisa Agni pasti akan binasa. Ia tidak akan mengira bahwa hamba akan memasuki istananya.”

“Jaga, agar para petugas yang menjaga istana itu tidak melihat kalian. Mereka pasti akan sangat berbahaya apabila mereka sempat membunyikan tanda bahaya. Bersama-sama dengan Mahisa Agni, mereka tidak akan dapat kalian kalahkan, karena para prajurit pengawal itu berjumlah cukup banyak.”

“Hamba tuanku. Hamba akan berhati-hati. Dan hamba akan menjaga diri hamba sebaik-baiknya karena hamba masih ingin menikmati hadiah yang akan hamba terima dari tuanku.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aku akan memberi hadiah sebanyak-banyaknya jika kau berhasil.”

“Jika hamba berhasil, apakah yang akan hamba terima tuanku.”

“Aku akan memberikan beberapa potong emas kepadamu.”

“Apakah hamba dapat menerima hadiah itu lebih dahulu? Hamba berniat untuk tidak kembali lagi ke istana ini setelah hamba menyelesaikan tugas hamba untuk menghindarkan kecurigaan orang. Hamba akan terus kembali kepadepokan hamba.”

Kerut merut yang dalam membayang di wajah Sri Rajasa. Namun kakak seperguruan penasehatnya itu segera menyambung, “Ampun tuanku, bukan maksud hamba, bahwa hamba akan mendahului titah tuanku. Tetapi hamba hanya sekedar ingin menjauhkan diri dari kecurigaan orang sepeninggal Mahisa Agni itu.”

Wajah Sri Rajasa perlahan-lahan menjadi tegang. Penasehatnya melihat perubahan itu sehingga dadanya menjadi berdebar-debar. Ternyata hal itu tidak berkenan dihati Sri Rajasa. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia menengahi, “Tuanku. Sebenarnya tuanku tidak usah memberikan hadiah apa-pun juga kepada kakak seperguruanku. Jika tuanku berkenan dihati, biarlah ia mencari hadiahnya sendiri di istana Kediri itu. Berapa banyak yang dapat dibawa oleh lima orang itu, disana disediakan barang-barang perak dan emas.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya sejenak. Ia tahu, bahwa di istana wakil Mahkota itu memang terdapat beberapa potong perhiasan dari emas yang melekat ditiang pusat ruangan tengah. Sebuah tongkat kerajaan yang tergantung didinding dan berkepala emas pula. Sebuah patung kecil diatas bancik kayu yang tinggi terbuat dari tembaga berlapis emas.

Sejenak Sri Rajasa termenung. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Kau dapat mengambil semua perhiasan emas dan perak di dalam istana itu sebagai hadiahmu, kacuali tongkat kerajaan peninggalan Ratu Angabaya dari jaman kerajaan Kediri, dan sebuah patung yang berlapis emas, di atas bancik di bangsal dalam apabila belum dipindahkan oleh Mahisa Agni dan para pembantu rumah tangga di istana itu. Tetapi kau akan mengenal patung itu dengan segera, dan kau tidak boleh mambawanya.”

Kakak seperguruan Penasehat Sri Rajasa itu termenung sejenak. Ia tidak dapat membayangkan, apakah barang-barang yang ada itu memadai. Namun adik seperguruannya berkata, “Aku yakin, bahwa kalian merasa hadiah itu cukup banyak. Dan pembunuhan itu sendiri tidak akan terlalu lama dipersoalkan, karena masalahnya adalah masalah parampokan biasa. Perampok yang paling gila yang pernah ada sepanjang umur Kerajaan Kediri dan Singasari. Hal itu akan merupakan tantangan bagi Kesatria Putih. Kau mengerti kakang?”

Kakak seperguruan penasehat Sri Rajasa itu menganggukkan kepalanya. Namun ia masih ragu-ragu. Apa saja yang dapat dibawanya dari istana yang kini dihuni oleh Mahisa Agni, anak Panawijen itu. Apakah jika ada benda-benda itu masih ada ditempatnya.

Selagi ia ragu-ragu itu, penasehat Sri Rajasa berkata, “Kakang, sebagian barang-barang dari istana Kediri telah dipindahkan ke istana wakil Mahkota itu. Tetapi ingat, jangan kau bawa serta tongkat kerajaan serta patung emas itu, seperti yang dipesankan oleh Sri Rajasa, peninggalan dari Ratu Angabaya dari jaman kerajaan Kediri itu.”

Akhirnya kakak seperguruannya menganggukkan. Tetapi ia masih berkata, “Hamba terima perjanjian ini untuk sementara. Tetapi jika yang ada hanya barang-barang perak semata-mata, maka hamba akan mohon kebijaksanaan tuanku Sri Rajasa.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jangan takut. Aku bukan seorang yang sangat kikir. Semuanya yang aku janjikan akan aku penuhi jika kau sudah berhasil.”

“Baiklah tuanku. Hamba mohon diri. Hamba akan menyiapkan segala sesuatu yang perlu bagi hamba itu.”

“Kapan kau berangkat?”

“Besok pagi tuanku. Besok hamba akan berkumpul dengan kawan-kawan hamba, dan hamba akan segera pergi ke Kediri.”

Demikianlah, di pagi-pagi benar Sumekar sudah berada di halaman bangsal Putera Mahkota. Ketika seorang prajurit bertanya kepadanya maka jawabnya, “Aku harus memindah kembang kantil bajang di halaman ini. Untuk itu hanya dapat aku lakukan sebelum matahari terbit. Jika matahari sudah terbit, maka pohon kantil bajang yang sulit dicari ini akan mati.”

“Apakah Putera Mahkota sudah memerintahkan.”

“Kemarin Putera Mahkota sudah menyebut-nyebutnya. Tetapi aku sebenarnya ingin ketegasan. Apakah Putera Mahkota sudah bangun.”

“Sst, jangan berteriak-teriak,” potong prajurit itu, “kau berbicara terlalu keras.”

Namun usaha Sumekar memanggil Anusapati dengan caranya itu berhasil. Ternyata Putera Mahkota sudah duduk di serambi ketika Sumekar masuk ke halaman bangsalnya. Karena itu, maka ia-pun segera turun kehalaman sambil bertanya, “Ada apa juru taman?”

“Ha,” bisik prajurit yang bertugas, “kau sudah membangunkannya.”

“Memang itulah yang kuharapkan.”

“He, ada apa juru taman,” Anusapati mengulanginya.

“Ampun tuanku, hamba ingin bertanya tentang kantil bajang ini.”

“Bagaimana dengan kantil bajang itu.”

“Apakah yang tuanku perintahkan kemarin, harus kami lalakukan sekarang, mumpung matahari belum terbit.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia sadar, bahwa sesuatu yang penting telah terjadi. Karena itu, maka ia-pun segera mendekat lagi sambil berkata, “Marilah kita lihat.”

Prajurit yang merasa tidak berkepentingan dengan pemindahan batang kantil bajang itu-pun tidak mengikutinya lagi. Ketika juru taman dan Putera Mahkota itu kemudian berjongkok di sebelah sebatang kantil bajang, maka prajurit itu-pun justru menjauh.

Dalam kesempatan itu, Sumekar-pun segera menceriterakan apa yang dilihatnya, bahwa Sri Rajasa semalam telah mencoba kemampuan seseorang di belakang bangsal.

Anusapati mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh Ayahanda Sri Rajasa. Apakah orang itu calon hamba istana yang akan menjadi pengawal Adinda Tohjaya atau petugas yang lain?”

“Hamba tidak tahu tuanku. Tetapi bagaimana-pun juga, tuanku wajib berhati-hati. Bukan maksud hamba berprasangka terhadap ayahanda tuanku. Tetapi penasehat ayahanda tuanku dan guru tuanku Tohjaya itu mempunyai banyak akal. Mungkin ia menghadapkan seorang hamba yang dapat menjadi pelindung atau guru atau apa-pun bagi tuanku Tohjaya, tetapi di samping itu ia dapat berbahaya bagi tuanku diluar pengetahuan Ayahanda Sri Rajasa atau …. ” Sumekar tidak meneruskan kata-katanya.

“Atau?” desak Anusapati.

“Atau setahu ayahanda.”

“Maksudmu?”

“Tidak apa-apa tuanku, tatapi ayahanda hanya sekedar mengangkat tuanku Tohjaya yang telah tuanku kalahkan di arena. Hanya itu. Tetapi yang hanya sekedar usaha menebus kekalahan itu dapat disalah gunakan oleh orang lain.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jika orang itu berada di istana ini, tuanku harus berhati-hati terhadapnya.”

“Terima kasih paman Sumekar. Aku akan memperhatikan.”

“Hamba mohon diri tuanku. Biarlah kantil bajang itu ditempatnya.”

Sumekar-pun kemudian meninggalkan Putera Mahkota Prajurit yang mengamatinya dari jauh itu-pun bertanya, “Bagaimana dengan pohon kantil bajang itu?”

“Tidak jadi. Putera Mahkota masih ragu-ragu. Biarlah pohon kantil itu disana.”

Prajurit itu tidak menghiraukan lagi. Dibiarkannya Sumekar meninggalkan bangsal Putera Mahkota, langsung menuju ke taman meskipun hari masih pagi. Tetapi langit sudah mulai cerah dan bayangan sinar matahari mulai membayang di langit.

Sumekar terkejut ketika ia melihat halaman depan. Ia melihat orang yang semalam berkelahi dengan Sri Rajasa itu meninggalkan istana, diantar oleh penasehat Sri Rajasa sampai ke regol.

Sumekar memperhatikan orang itu sampai hilang dibalik dinding. Namun ia tidak dapat mendapat penjelasan lebih banyak lagi. Ketika Penasehat Sri Rajasa kembali masuk istana, Sumekar berjalan menyilangnya sambil menjinjing lodong bambu berisi air.

Dihadapan penasehat Sri Rajasa Sumekar membungkuk hormat. Namun tiba-tiba saja lodongnya terlepas dari tangannya, sehingga isinya tumpah dan terpercik kepakaian penasehat itu.

“O, ampun tuan,” berkata Sumekar, “aku tidak sengaja.”

Sorot mata penasehat itu menjadi merah. Katanya, “Untung bukan tamuku yang kau kotori dengan air itu.”

“Aku tidak sengaja. Apalagi mengotori.”

“Sekali lagi kau lakukan, aku putuskan lehermu.”

“Ampun tuan. Aku tidak tahu bahwa tuan akan lewat atau aku sangka bukan tuanlah yang sedang lewat sepagi ini, sehingga aku terkejut dan tergopoh-gopoh memberikan hormat, sehingga lodong bambuku terlepas.”

“Pergi. Jangan ganggu lagi.”

Sumekar-pun kemudian memungut lodong bambunya. Namun ia masih juga mencoba bertanya, “Ampun tuan, siapakah tamu tuan sepagi ini.”

“Apa pedulimu he?” tiba-tiba matanya menjadi tajam menembus dada Sumekar.

“Tidak apa-apa tuan,” jawab Sumekar dengan serta merta sambil berjongkok, “aku hanya kagum melihat wajahnya yang keras dan berwibawa. Apakah tamu itu masih keluarga tuanku Sri Rajasa atau keluarga tuanku puteri Ken Umang?”

“Bukan keluarga Sri Rajasa dan bukan pula keluarga tuan Puteri Ken Umang, orang itu adalah saudaraku,” jawab penasehat itu.

“O, maksud tuan, kakak atau adik tuan?”

“Kakakku.”

“Pantas sekali. Memang tuan mirip sekali dengan tamu yang baru saja pulang. Tetapi kenapa pagi-pagi benar tamu itu sudah meninggalkan istana? Sejak kapan ia berada di sini?”

“Hanya satu malam.”

“O, kenapa hanya satu malam? Bukankah disini ia berada di rumah saudara mudanya sendiri?”

“Ada keperluan yang mendesak.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak dapat bertanya lebih lanjut. Penasehat Sri Rajasa itu segera meninggalkannya sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah. Sumekar-pun kemudian meninggalkan tempat itu. Ia mencoba untuk mencari alasan, kenapa orang itu datang, menjajagi kemampuannya melawan Sri Rajasa, kemudian pergi dengan tergesa-gesa.

“Tentu untuk membinasakan Kesatria Putih.” kesimpulan itulah yang untuk sementara dapat diambilnya.

Ketika matahari naik, Sumekar berusaha untuk menjumpai Putera Mahkota lagi. Sambil membawa beberapa bibit pohon bunga ia datang kehalaman bangsal Putera Mahkota di istana. Sejenak ia berjongkok disudut sambil menanam pohon-pohon bunga itu. Tetapi ia tidak melihat Putera Mahkota didalam bangsalnya. Yang dilihatnya hanyalah isteri Putera Mahkota beserta puteranya.

Namun sejenak kemudian Sumekar justru melihat Anusapati baru datang memasuki halaman bangsalnya.

“O,” berkata Anusapati, “kau sudah ada disitu?”

“Inilah batang-batang pohon bunga yang tuanku pesan dari hamba.”

“Terima kasih,” Anusapati-pun segera mendekatinya. Namun yang mereka bicarakan kemudian bukanlah tentang pohon-pohon bunga itu.

“Orang yang hamba katakan kemarin telah meninggalkan istana tuanku. Agaknya ia akan melakukan tugasnya di luar istana, menghadapi tuanku selaku Kesatria Putih.”

“Tentu tidak paman,” jawab Anusapati, “baru saja aku dipanggil menghadap oleh ayahanda. Untuk beberapa hari aku diperlukannya setiap saat, sehingga aku tidak dibenarkannya keluar. Ada persoalan yang penting yang harus ditangani setiap saat dalam kedudukanku sebagai Putera Mahkota, justru karena ada tamu yang baru saja menghadap.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Sri Rajasa menyebut tamu itu langsung kepada Anusapati. Apakah Sri Rajasa juga mencurigai tamunya, bahwa ia akan mengancam Putera Mahkota?

“Barangkali ayahanda juga mencemaskan nasib tuanku.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Mungkin. Mungkin juga ayahanda mencurigainya bahwa orang itu akan mencelakai Kesatria Putih, sehingga ayahanda menahan aku agar aku tidak keluar dari istana.” Putera Mahkota berhenti sejenak. Lalu, “tetapi apakah orang itu mampu menandingi paman Witantra, Mahendra atau paman Kuda Sempana?”

“Kita dihadapkan pada suatu teka-teki tuanku. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita hadapi. Sebaiknya tuanku memang tetap tinggal di istana.”

“Tetapi bagaimana dengan paman-yang lain.”

“Apakah mereka tetap menjalankan tugas Kesatria Putih.”

“Tidak. Untuk beberapa hari. Tetapi mereka tetap menunggu hubungan. Jika aku tidak dapat keluar, paman aku harap pergi menemui salah seorang dari mereka.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari Anusapati ia mendapat petunjuk dimana mereka dapat menjumpai salah seorang dari ketiganya.

“Baiklah tuanku. Hamba akan mencoba menghubungi salah seorang yang kebetulan sedang bertugas menunggu tuanku.”

“Hati-hatilah. Kita memang dihadapkan pada teka-teki yang membingungkan. Kita hanya dapat menduga-duga. Tetapi kita akan berusaha memecahkan teka-teki ini bersama paman-paman yang berada di luar istana dan tentu saja paman Mahisa Agni di Kediri.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Tuanku, setelah tuanku tidak lagi menyembunyikan kenyataan pada diri tuanku, maka yang mendapat sorotan para pemimpin Singasari tentu bukan saja tuanku. Orang yang tidak senang melihat kemenangan tuanku atas tuanku Tohjaya di dalam arena permainan sodoran itu, akan membuat penilaian yang cermat. Permainan sodoran itu sendiri barangkali tidak begitu berarti, baik bagi tuanku mau-pun bagi tuanku Tohjaya. Tetapi akibat daripadanyalah yang seakan-akan menentukan. Ternyata bahwa tuanku Putera Mahkota bukan orang yang lemah, yang selalu berada di bangsalnya menunggui isterinya. Dan itulah yang tidak menyenangkan bagi lawan-lawan tuanku.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Hampir saja ia bertanya pendapat Sumekar tentang Ayahanda Sri Rajasa. Namun pertanyaan yang sudah ada ditenggorokannya itu ditelannya kembali. Rasa-rasanya tidak pantas baginya untuk mencurigai ayah sendiri meskipun demikianlah yang sebenarnya bergejolak didalam nuraninya.

“Tuanku,” berkata Sumekar kemudian, “aku yakin bahwa pamanda tuanku, Mahisa Agni, pasti sudah memperhitungkan pula, bahwa yang seakan-akan berada diujung runcingnya duri itu bukannya tuanku saja, tetapi juga pamanda tuanku.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Adinda Tohjaya dan gurunya pasti meyakini bahwa aku mendapatkan ilmuku dari Pamanda Mahisa Agni.”

“Nah, karena itu, maka yang harus selalu berhati-hati saat-saat terakhir adalah tuanku dan pamanda tuanku itu. Meskipun aku yakin bahwa pamanda tuanku selalu berhati-hati, tetapi pamanda tuanku tidak mengetahui apa yang telah terjadi di istana ini. Karena itu, tuanku Putera Mahkota, hamba harus memberitahukan, bahwa arah pembalasan dendam selain pada tuanku juga ditujukan pada Pamanda Mahisa Agni.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,” berkata Putera Mahkota, “katakan kepada siapa-pun yang datang, bahwa pamanda harus meningkatkan kesiagaannya. Aku tidak dapat pergi untuk beberapa hari. Tetapi mungkin juga Tohjaya ingin tahu, jika terjadi keributan dan perampokan sementara aku berada di istana, apakah ada seorang Kesatria Putih yang lain yang bertindak.”

“Hamba akan membicarakan semuanya tuanku, sehingga pamanda tuanku Mahisa Agni akan mendapat gambaran yang jelas.”

Demikianlah ketika hari telah berlalu, dan malam turun perlahan-lahan, Sumekar sudah siap pergi keluar istana dengan diam-diam. Kali ini ia tidak keluar lewat regol sambil berlenggang menikmati waktu istirahatnya, tetapi ia meloncat lewat dinding yang dibayangi oleh kegelapan supaya tidak menumbuhkan bermacam-macam pertanyaan pada para penjaga jika ia kembali nanti jauh malam.

Seperti yang ditunjukkan oleh Anusapati, maka Sumekar-pun segera menuju kepingir kota. Seperti yang sudah diduganya, bahwa seseorang telah menunggu. Bahkan kali itu bukan hanya seorang, tetapi dua orang.

“Kalian berdua?” bertanya Sumekar kepada keduanya.

“Ya,” yang menjawab Witantra, “Mahendra ingin ikut saja malam ini. Kami mencemaskan nasib Putera Mahkota jika benar-benar ada sebuah jebakan, sehingga kami pergi berdua untuk membayanginya jika ia benar-benar akan pergi malam ini.”

“Tidak, barangkali sudah dikatakan, bahwa Putera Mahkota mempertimbangkan suatu teka-teki.”

“Yang dikatakannya tentang guru Tohjaya.”

“Ia datang membawa seorang tamu. Dan tamu itulah yang membuat teka-teki ini menjadi semakin kalut.”

“Mahisa Agni sudah sependapat, bahwa Anusapati dapat terus menjalankan tugasnya dibawah perlindungan kami.”

“Aku sependapat,” berkata Sumekar, “tetapi soalnya sekarang telah berkembang.”

Witantra dan Mahendra mengerutkan keningnya.

Dalam pada itu Sumekar-pun segera menceriterakan apa yang diketahuinya di istana. Bahkan, ia berpendapat bahwa Sri Rajasa agaknya telah memutuskan untuk menyingkirkan Anusapati. Tetapi dugaan ini sama sekali tidak dikatakannya kepada Anusapati sendiri.

“Kau bijaksana,” berkata Witantra, “jika Anusapati mengerti bahwa ayahanda sendiri berusaha untuk menyingkirkan dalam arti yang sebenarnya, ia akan kehilangan pegangan.”

“Dan sekarang, Putera Mahkota menunggu, apakah yang harus dilakukan dalam perkembangan keadaan terakhir. Putera Mahkota justru tidak diperkenankan keluar istana untuk sementara.”

Witantra adalah seorang yang memiliki pengalaman yang cukup di sepanjang hidupnya yang penuh dengan persoalan. Baik yang menyangkut dirinya sendiri, maupun persoalan di luar dirinya. Karena itu, maka setelah merenung sejenak, ia berkata, “Kita memang harus berhati-hati. Kau harus mengawasi Putera Mahkota. Mungkin jebakan itu justru berada di istana. Sedang kami akan pergi ke Kediri. Kami harus bertemu dengan Mahisa Agni secepatnya. Kita akan menempuh perjalanan disepanjang malam, agar kita dapat mencapai Kediri pada waktunya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bahaya itu mungkin berada di istana Singasari, tetapi juga mungkin di istana wakil Mahkota di Kediri.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia menjawab, maka ketiganya mengangkat wajahnya hampir bersamaan. Ternyata Mereka telah dikejutkan oleh derap beberapa ekor kuda yang berlari laju dijalan yang melaju meninggalkan kota.

Karena itu, maka mereka bertiga-pun segera menyelinap bersama kuda-kuda mereka masuk kedalam semak-semak. Dengan hati yang berdebar-debar mereka menunggu, siapakah yang berpacu dimalam hari.

Sejenak kemudian mereka melihat beberapa orang berkuda dengan cepatnya lewat dijalan yang menjelujur meninggalkan kota itu.

Namun demikian mereka kuda-kuda itu lewat, Sumekar berdesis, “Apakah aku tidak salah lihat?”

Witantra dan Mahendra hampir berbareng bertanya, “Siapa?”

“Orang yang aku katakan itu,” jawab Sumekar, “orang yang berada di istana bersama penasehat Sri Rajasa dan yang bahkan telah mencoba kemampuannya dengan Sri Rajasa sendiri?”

“Apakah kau tidak keliru?”

“Aku memang agak ragu-ragu. Selain malam yang gelap, kuda itu berjalan cepat. Namun rasa-rasanya orang itulah yang aku lihat itu.”

Witantra mengerutkan keningnya, sejenak ia merenung, lalu katanya, “Baiklah aku mencoba mengikutinya kemana mereka pergi, meskipun hanya sekedar arahnya. Kami akan langsung pergi ke Kediri untuk menyampaikan semua persoalan kepada Mahisa Agni.”

“Baiklah. Meskipun hubungan kami agak jauh, tetapi aku berharap bahwa kami akan mendapat kabar dari kalian dua tiga hari mendatang.”

“Ya, kami akan kembali memberikan keputusan-keputusan yang akan kami ambil bersama Mahisa Agni. Hati-hatilah di istana Singasari, kau berdua dengan Anusapati kami harap dapat menjaga diri kalian sebaik-baiknya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kami minta diri sebelum mereka menjadi terlalu jauh.”

“Silahkanlah,” jawab Sumekar.

Witantra dan Mahendra-pun kemudian menggerakkan kekang kudanya. Sejenak kemudian kuda itu-pun telah berpacu pula menyusul beberapa ekor kuda yang telah mendahuluinya.

Demikianlah maka kuda-kuda itu-pun segera berderap diatas jalan berbatu-batu. Witantra dan Mahendra tidak berani mengikuti mereka terlalu dekat. Dengan demikian orang-orang berkuda itu akan dapat mencurigai mereka. Karena itu, keduanya mengikuti dari jarak yang agak jauh. Jika mereka menjadi ragu-ragu dikelokan jalan, maka mereka-pun segera membuat api dengan dimik-dimik belerang untuk mengetahui jejak kuda-kuda yang mendahuluinya itu.

Namun semakin lama kecurigaan dihati Witantra menjadi semakin tajam. Ternyata kuda-kuda itu berpacu kearah kota Kediri. Karena itu, maka Witantra dan Mahendra-pun berpacu semakin cepat. Jarak ke Kediri masih sangat jauh. Tetapi arah yang ditempuh telah menunjukkan kepada mereka, bahwa kuda yang mereka ikuti itu benar-benar menuju ke Kediri, “Apa yang akan mereka lakukan?” bertanya Mahendra.

Witantra mengerutkan keningnya. Meskipun ia tidak tahu pasti namun seperti suatu firasat yang tiba-tiba saja melonjak dikepalanya adalah, “Selain Anusapati, maka Mahisa Agnilah orang yang harus dilenyapkan dari Singasari.”

Ketika ia mengatakannya kepada Mahendra, maka Mahendra-pun menyahut, “Sumekar juga mengatakannya. Bukankah begitu?”

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]
Source : www.agusharis.net

~ Article view : [152]