Pelangi di Langit Singasari [ 72 ]

311

oleh S.H. Mintardja
[ Seri 72 ]

“YA, SUMEKAR JUGA melihat kemungkinan itu. Bahaya yang sebenarnya mungkin berada di istana Singasari, tetapi mungkin juga berada di istana Kediri. Dan itu bagiku cukup jelas. Tentu Mahisa Agni dianggap sebagai orang yang berdiri di belakang tabir semua kejadian yang telah melemparkan Tohjaya dari kedudukannya.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia-pun sependapat dengan kemungkinan-kemungkinan yang dikatakan oleh Witantra dan Sumekar, bahwa Mahisa Agni-pun sedang terancam pula. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati sama sekali bukan lawan yang berarti bagi Sri Rajasa.

Karena itu, maka mereka-pun menjadi semakin gelisah. Kuda mereka dipacunya semakin cepat. Namun Witantra kemudian berkata, “Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa malam ini. Mereka baru akan mencapai Kediri lewat pagi hari.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun sadar, bahwa perjalanan ke Kediri bukan jarak yang pendek, meskipun hampir setiap pekan ia hilir mudik berganti-ganti dengan Witantra dan Kuda Sempana.

Oleh kesadaran itu, maka hati mereka-pun menjadi agak tenteram. Mereka dapat mengikuti jejak kuda-kuda yang mendahuluinya dengan agak tenang. Bahkan kemudian mereka-pun beristirahat karena kuda-kuda mereka-pun agaknya menjadi lelah.

Mereka memasuki Kediri dihari berikutnya. Tidak lagi berpacu secepat-cepatnya. Bahkan mereka berhasil menyelusur jejak kuda-kuda yang mereka ikuti sampai masuk kedalam pintu gerbang kota, justru karena mereka menunggu matahari mulai terbit. Derap kaki kuda yang masih tampak jelas di atas tanah berembun menunjukkan kepada mereka, kemana kuda-kuda itu pergi.

Witantra tidak memerlukan lagi kelanjutan jejak itu. Kaki para pejalan dan pedati yang hilir mudik setelah matahari semakin tinggi telah menghapus jejak kaki kuda itu. Tetapi Witantra sudah mendapat kepastian, mereka berada di dalam kota Kediri.

Dengan demikian maka Witantra menganggap bahwa bahaya yang sebenarnya, ternyata berada di istana wakil Mahkota di Kediri.

“Apakah yang akan mereka lakukan?” bertanya Mahendra.

“Kita belum dapat menebak. Tetapi Mahisa Agni harus segera mengetahuinya. Aku kira mereka tidak akan menyiapkan waktu sehingga apabila malam tiba, Mahisa Agni harus siap menghadapi segala kemungkinan.”

Demikianlah, mereka-pun segera pergi ke istana Mahisa Agni dengan cara yang khusus, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada para pengawal istana itu.

Seperti biasanya mereka menitipkan kuda-kuda mereka pada orang yang dapat mereka percaya. Kemudian mereka pergi ke istana wakil Mahkota untuk mencari seorang juru taman yang sebenarnya adalah Kuda Sempana.

“Kalian siapa?” bertanya para prajurit yang bertugas, diregol.

“Kami adalah saudara-saudaranya yang datang dari desa, dari pedukuhan.” Witantra menjawab. Lalu, “bukankah kami berdua pernah berkunjung juga kemari?”

Prajurit-prajurit itu ragu-ragu sejenak, namun kemudian keduanya-pun dibiarkannya masuk menemui juru taman di petamanan belakang.”

“Lebih baik masuk di malam hari,” desis Mahendra.

Witantra tidak menjawab, tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dimalam hari mereka memang tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan para penjaga, karena mereka selalu meloncati pagar batu yang tinggi.

Mahisa Agni yang kebetulan ada di pendapa melihat kehadiran keduanya. Tetapi ia sama sekali tidak menegurnya, bahkan acuh tak acuh. Namun sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun segera pergi ke petamanan di kebun belakang untuk meneliti tanam-tanaman yang dipesannya kepada juru tamannya. Karena Mahisa Agni adalah orang yang senang sekali pada tanaman-tanaman, sehingga juru tamannya tidak pernah sempat beringsut dari petamanan, kecuali jika ia mohon untuk beristirahat dua tiga hari, kembali ke kampung halaman.

“O, kau mempunyai tamu?” bertanya Mahisa Agni kepada juru tamannya yang sedang duduk-duduk di bawah sebatang pohon kantil bersama Witantra dan Mahendra.

“Ya tuan. Keduanya adalah saudaraku.” jawab Kuda Sempana.

Beberapa orang pelayan yang melihat mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Mahisa Agni memang sering berada di petamanan itu.

Sejenak kemudian, sambil berdiri Mahisa Agni mendengarkan keterangan yang diberikan oleh Witantra dan Mahendra berganti-ganti.

Dengan sungguh-sungguh Mahisa Agni mendengarkan keterangan itu, serta beberapa pendapat Sumekar tentang orang-orang yang dicurigainya itu.

“Aku sependapat Mahisa Agni, bahwa bahaya itu dapat berada di istana Singasari, tetapi juga dapat disini. Semalam suntuk aku sudah menempuh jarak yang jauh. Baru tengah hari aku berhasil menemuimu. Tetapi aku kira, seandainya benar dugaan kami, maka semuanya akan berlangsung di malam hari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sudah minta Sumekar untuk selalu dekat dengan Putera Mahkota dalam keadaan serupa ini. Untunglah bahwa Adinda Putera Mahkota, Mahisa Wonga teleng sangat dekat dengan kakandanya, dan sedikit banyak sudah mampu untuk membantunya jika keadaan memaksa.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Maka katanya kemudian, “Aku dapat mengerti. Memang bahaya itu dapat berada di sini, karena Sri Rajasa pasti yakin bahwa akulah sumber dari kegagalannya. Jika orang itu harus membinasakan Kesatria Putih, maka Kesatria Putih pasti tidak diikat oleh Sri Rajasa di istana dengan segala macam alasan.”

“Tetapi apakah gunanya? Kenapa Kesatria Putih tidak dibiarkannya saja?”

“Mungkin Kesatria Putih menjumpai orang-orang itu dan mengikutinya. Jika ia sampai ke istana ini, maka usaha untuk membinasakan aku akan terganggu karena di sini ada kekuatan lain yang dapat membantu aku.”

Mahendra mengangguk-angguk sambil berdesis, “Mungkin kau benar. Jika demikian maka Sri Rajasa akan bertindak selangkah demi selangkah. Kau dahulu, baru Putera Mahkota.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya kemudian, “Jika demikian aku memerlukan kalian. Aku tidak akan dapat mengatasi mereka seorang diri, karena Sri Rajasa yang sudah menjajagi kemampuannya mempercayai orang itu untuk melakukan tugasnya.”

Witantra dan Mahendra menjawab hampir berbareng, “Aku akan bermalam disini. Tidak hanya satu malam tetapi beberapa malam. Bukankah Kesatria Putih tidak dapat berbuat apa-apa untuk beberapa saat? Pada saatnya aku akan pergi ke Singasari untuk menghubungi Sumekar, apakah ikatan yang dikenakan kepada Putera Mahkota masih ada atau sudah dihapuskan, sehingga Kesatria Putih dapat bertindak kembali.”

“Terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat mengatasi setiap kesulitan. Dan mudah-mudahan Putera Mahkota juga tidak terkena bencana apa-pun selama kita berkumpul di sini.”

“Aku percaya kepada Sumekar.”

Mahisa Agni-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sejenak kemudian maka ditinggalkannya juru taman dengan kedua tamunya itu duduk di bawah pohon kantil.

Sejenak Mahisa Agni berpaling. Sesuatu bergejolak di dalam dadanya. Tiga diantara mereka berempat adalah orang-orang yang pernah tersentuh hatinya oleh seorang gadis Panawijen yang bernama Ken Dedes. Mahendra pernah melakukan perkelahian untuk memperebutkan Ken Dedes melawan Mahisa Agni yang menyebut dirinya Wiraprana. Kemudian Kuda Sempana bahkan menjadi hampir gila karenanya. Dan Mahisa Agni sendiri yang menanam perasaannya dalam-dalam dilubuk hatinya. Kini mereka yang gagal itu telah berbuat sejauh-jauh dapat mereka lakukan untuk anak Ken Dedes itu. Untuk Anusapati.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menemui mereka sekali lagi untuk mengatur diri menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi ia tidak tergesa-gesa. Ia mempunyai waktu menjelang senja nanti.

Demikianlah Mahisa Agni masih sempat merenungi keterangan yang didapatnya dari Witantra dan Mahendra. Namun ia tidak menemukan kesimpulan lain bahwa bahaya memang sedang mengancamnya. Ternyata Sri Rajasa sudah tidak mempunyai jalan lain untuk mengatasi kesulitan, bahwa Mahisa Agni telah dengan hampir berterus-terang menentukan rencana yang telah disusunnya.

Mahisa Asni menarik nafas dalam-dalam. Kini di Singasari seakan-akan sedang dibakar oleh sebuah peperangan yang aneh. Parang yang tidak diumumkan dan tidak dilihat oleh orang banyak. Perang yang terjadi di antara dua istana tanpa menyeret prajurit-prajurit dan bahkan para perwira dan panglimanya.

Namun perang yang demikian memerlukan kecermatan perhitungan. Dan Mahisa Agni-pun kini telah bertekad untuk melanjutkan perang yang demikian itu sampai ia berhasil memenangkannya. Ia tidak bermaksud membunuh Sri Rajasa. Tujuannya semata-mata agar Mahkota tidak jatuh ketangan keturunan Ken Umang. Jika ia berhasil, maka perjuangan itu telah dimenangkannya. Tetapi ternyata bahwa Sri Rajasa menjadi semakin lama semakin kasar. Dan sampailah kini usahanya untuk melakukan tindakan kekerasan atasnya.

“Tetapi, semuanya baru sekedar dugaan,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “namun demikian aku harus berhati-hati.”

Menjelang malam Mahisa Agni sempat menemui Witantra dan kedua orang kawannya yang lain. Mereka telah menyusun rencana untuk menghadapi setiap kemungkinan jika benar-benar ada bahaya yang memasuki istana ini.

“Aku akan mengawasi dinding-dinding di belakang,” berkata Kuda Sempana, “karena hanya akulah yang dapat melakukannya di luar kecurigaan para prajurit yang bertugas.”

“Ya, dan orang-orang itu-pun pasti tidak akan memasuki halaman ini dari depan. Meskipun mereka mendapat tugas dari Sri Rajasa, tetapi tugas yang mereka lakukan adalah tugas rahasia. Tugas yang tidak diketahui oleh pimpinan pemerintahan Singasari yang lain. Karena itu, mereka pasti akan memasuki halaman ini tidak melalui pintu yang sewajarnya.”

“Witantra dan Mahendra akan berada di dalam bilikku,” berkata Kuda Sampana, “jika mereka benar-benar datang, aku akan memberikan isyarat.”

Witantra tersenyum. Katanya, “Ada juga gunanya kau bekerja menjadi juru taman. Aku juga ingin menempatkan diriku semakin dekat dengan istana ini, dan bahkan kelak istana Singasari.”

Demikianlah, maka ketika malam datang, Mahisa Agni sudah bersiaga di dalam biliknya. Ia sadar, bahwa yang dihadapinya kini adalah orang-orang pilihan, yang telah dijajagi sendiri langsung oleh Sri Rajasa.

Di kebun belakang Kuda Sempana masih sibuk dengan beberapa macam tanaman. Ketika seorang prajurit lewat, dilihatnya juru taman itu masih sibuk, maka ia-pun bertanya, “Apa yang kau kerjakan disitu?”

Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Kemudian jawabnya, “Aku harus menanam bibit baru ini.”

“Kenapa tidak besok?”

“O, bibit ini hanya dapat ditanam di malam hari,” jawab Kuda Sempana, “jika ditanam di pagi apalagi siang hari, bibit ini tidak akan tumbuh.”

Prajurit itu tidak menghiraukannya lagi. Ia-pun segera kembali ke gardunya.

Demikianlah malam semakin lama menjadi semakin dalam. Karena di daerah Kediri pada umumnya jarang sekali tenjadi keributan, maka para prajurit menganggapnya bahwa daerah ini adalah daerah yang aman. Dengan demikian maka mereka-pun tidak terlalu tegang menjalankan tugas mereka. Apalagi di halaman istana ini. Selama mereka bertugas, tidak pernah terjadi sesuatu. Bukan saja sepekan ini, tetapi setiap kali mereka mendapat giliran bertugas di istana ini, tidak pernah terjadi apa-pun juga.

Malam hari-pun para prajurit sama sekali tidak menjadi curiga. Mahisa Agni dengan sengaja ingin menyelesaikan persoalannya sendiri tanpa menyeret prajurit Singasari dalam pertempuran. Itulah sebabnya ia sama sekali tidak memberitahukan kemungkinan yang dapat terjadi. Ia percaya kepada diri sendiri dan kawan-kawannya yang kebetulan ada di dalam halaman istana itu pula.

Kuda Sempana yang berada di kebun belakang ternyata tidak meninggalkan tempatnya. Ia bahkan mencari tempat yang terlindung dan duduk di dalam kegelapan. Namun dari tempatnya ia dapat mengawasi sebagian besar dari pagar batu di bagian belakang. Menurut perhitungannya, jalan itulah yang akan dilalui oleh para penjahat itu, karena bagian belakanglah yang agaknya paling sepi dari penjagaan. Di sisi halaman, kemungkinan pengamatan masih cukup banyak dari para peronda. Tetapi di bagian belakang, hampir tidak pernah disentuhnya.

Sampai tengah malam Kuda Sempana tidak melihat sesuatu. Karena itu, hampir saja ia menjadi jemu. Hampir saja ia berdiri dan meninggalkan tempatnya.

“Mereka tidak datang malam ini,” ia bergumam, “lebih baik tidur dibilik daripada dikeroyok nyamuk disini.” Namun baru saja ia bergeser, terasa dadanya berdesir. Ia mendengar sesuatu yang meskipun sangat lembut, namun telah menumbuhkan kecurigaan padanya.

“Mereka pasti sudah berada di luar dinding ini,” berkata Kuda Sempana kepada diri sendiri.

Karena itu, maka Kuda Sempana-pun segera mempersiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Jika mereka benar-benar datang, maka ia-pun harus segera memberikan isyarat kepada Witantra dan Mahendra yang berada di dalam biliknya.

Sejenak Kuda Sempana masih harus menunggu untuk menyaksikan dirinya, bahwa yang datang itu adalah yang ditunggunya.

Sesaat kemudian, dada Kuda Sempana menjadi berdebar-debar. Ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak di atas dinding batu yang tinggi. Dan ketajaman matanya segera mengetahui, bahwa yang bergerak-gerak itu adalah sesosok tubuh manusia yang berbaring menelungkup pada permukaan pagar batu.

“Tentu orang yang berpengalaman,” berkata Kuda Sempana.

Tetapi Kuda Sempana tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia masih menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang di atas dinding batu itu.

Ternyata orang itu untuk beberapa lamanya tidak bergerak sama sekali. Hanya orang yang memperhatikan dengan saksama sajalah yang dapat melihat, bahwa di atas dinding batu itu ada seseorang yang berbaring menelungkup, hampir serata dinding batu itu sendiri.

“Orang itu tentu sedang mengamati keadaan,” berkata Kuda Sempana pula di dalam hatinya. Namun ia-pun kini sudah yakin bahwa orang itu adalah salah seorang dari yang dikatakan oleh Witantra.

“Mereka benar-benar tidak membuang waktu,” berkata Kuda Sempana di dalam hatinya, “baru siang tadi ia memasuki kota, dan malam ini mereka sudah bertindak.”

Karena itu, maka Kuda Sempana-pun segera menarik seutas tali yang dihubungkannya dengan biliknya. Agar tidak mengejutkan orang-orang lain yang tinggal di sekitar gubuknya, maka Kuda Sempana mengikatkan tali itu pada daun pintu biliknya, sehingga suara derit yang timbul adalah derit pintu itu, seperti derit yang sudah biasa mereka dengar.

Witantra dan Mahendra-pun ternyata hampir menjadi jemu menunggu. Namun mereka masih juga belum tertidur. Meskipun Mahendra sudah berbaring di amben bambu satu-satunya milik Kuda Sempana namun ia masih juga mendengar pintu berderit.

“Ha, isyarat itu,” desisnya.

Witantra-pun segera mendekati pintu dan menarik tali itu pula, untuk memberikan isyarat kepada Kuda Sempana, bahwa Witantra telah menerima pemberitahuan tentang kedatangan orang itu.

Ketika tali yang digenggamnya bergerak, Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Witantra pasti akan segera datang, dan pasti dengan sangat berhati-hati.

“Mudah-mudahan tali ini benar-benar digerakkan oleh Witantra,” berkata Kuda Sempana di dalam hati, “bukan sekedar dilanggar kucing atau kaki tetangga yang kebetulan pergi kepakiwan tanpa mengetahui bahwa ada tali yang terentang ini.”

Dalam pada itu, Witantra dan Mahendra-pun segera mengemasi dirinya. Mereka tidak akan sekedar mengintip seorang pencuri ayam di kebun belakang. Tetapi yang akan mereka intai malam itu adalah orang-orang yang pernah dijajagi kemampuannya oleh Sri Rajasa sendiri.

Karena itu, maka mereka-pun telah mengenakan pakaiannya sebaik-baiknya, dengan senjata dilambung dan kesiapan yang mantap.

Setelah menutup pintu biliknya kembali, maka mereka berdua-pun segera merayap meninggalkan bilik itu, pergi ke tempat yang sudah dijanjikan. Hati-hati sekali, karena mereka yakin, bahwa Kuda Sempana sudah melihat orang yang mereka tunggu.

Tanpa menimbulkan suara, Witantra berhasil mencapai Kuda Sempana. Dan mereka bertiga-pun kemudian menyaksikan orang yang berbaring menelungkup itu mulai bergerak-gerak.

Kuda Sempana memperhatikan orang itu semakin tajam. Kini orang itu memberikan isyarat kepada kawan-kawannya yang masih ada di luar.

Sejenak kemudian orang itu sendiri telah melayang turun. Tubuhnya seakan-akan terlalu ringan sehingga ketika kakinya menyentuh tanah, sama sekali tidak menimbulkan suara apapun. Hanya karena Kuda Sempana sempat melihat mereka dahulu sajalah, maka ia dapat mengikuti gerak-geriknya.

Demikian orang itu berjejak di tanah, ia-pun segera beringsut kedalam gelap yang pekat, dibawah bayangan rimbunnya petamanan dan pohon-pohon perdu.

Namun sejenak kemudian, orang kedua-pun telah meloncat masuk pula. Dengan sebuah isyarat desis yang lembut, orang kedua itu-pun segera bersembunyi pula.

Demikianlah yang mereka lakukan berturut-turut. Seperti yang dikatakan oleh Witantra semula, orang itu sejumlah lima atau enam orang. Dan yang malam itu benar-benar memasuki halaman adalah sejumlah lima orang.

Kuda Sempana, Witantra dan Mahendra sama sekali tidak sempat berbicara agar suaranya tidak di dengar oleh salah seorang dari mereka, karena Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana menyadari bahwa mereka pasti orang-orang yang berilmu tinggi. Pasti juga pendengaran dan pengamatannya tajam pula.

Karena itu ketiganya sama sekali tidak berbicara apapun. Mereka hanya mengikuti saja dengan tatapan matanya kemana ke lima orang itu pergi.

Ketiga orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya melihat arah yang tepat yang dilalui oleh orang-orang itu. Mereka langsung melintasi kebun belakang yang gelap menuju ke serambi istana.

“Tentu ada yang memberikan beberapa petunjuk tentang halaman istana ini,” baru kemudian Kuda Sempana berani berdesis perlahan sekali.

Witantra menganggukkan kepalanya, “Mungkin penasehat Sri Rajasa itu sendiri. Mereka tentu sudah mempunyai gambaran yang lengkap dari istana ini. Juga tentang bilik-bilik di dalam istana, dan dimana Mahisa Agni tidur.”

“Marilah kita ikuti,” desis Mahendra, “mereka sudah agak jauh.”

Ketiganya-pun kemudian merayap pula mengikuti orang-orang yang mencurigakan itu. Dari jarak yang agak jauh, mereki sempat menghitung, berapa orang jumlah mereka yang memasuki istana itu.

“Lima orang,” desis Mahendra.

“Sst,” sahut Witantra, “mereka mempunyai ketajaman panca indera.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketika kelima orang yang diikuti itu merayap maju, mereka bertiga-pun maju pula.

Ternyata bahwa kelima orang itu masih harus berunding sejenak sebelum mereka mendekati serambi belakang. Agaknya mereka sedang membagi pekerjaan. Diantara mereka harus ada yang menunggu di luar istana, sedang yang lain akan memasukinya dan mencari bilik Mahisa Agni.

“Ternyata Sri Rajasa benar-benar sudah mulai,” desis Mahendra yang agaknya paling banyak berbicara.

“Sst,” sekali lagi Witantra berdesis.

Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Ia ingin segera meloncat menerkam orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Namun ia masih harus menahan diri.

“Jadi kita harus berkelahi tanpa dilihat orang,” Mahendra bertanya.

“Sst,” Witantra harus berdesis pula, “kau terlalu banyak bicara. Tunggu sajalah.”

Mahendra terdiam. Kepalanya terangguk-angguk meskipun ia masih bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang yang mengawasi diluar itu?”

Witantra mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

Sejenak kemudian mereka melihat orang-orang yang memasuki halaman istana itu telah melekat dinding serambi. Dengan sangat hati-hati mereka memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Namun bagi mereka, halaman itu terlampau sepi. Tidak ada prajurit yang kebetulan meronda di halaman belakang.

Dengan isyarat mereka-pun kemudian saling mendekat dan dengan penuh kewaspadaan mereka mulai berusaha membuka pintu.

Witantra dan kawan-kawannya menjadi tegang. Tiga orang dari mereka sibuk dengan pintu serambi belakang, sedang dua orang lainnya mengawasi keadaan disekitarnya.

Ternyata orang-orang itu adalah orang-orang yang berpengalaman. Hampir tanpa menimbulkan suara, mereka berhasil membuka pintu kayu serambi belakang.

“Mereka memutuskan tali-tali papan disebelah menyebelah pintu,” desis Mahendra pula.

Witantra tidak menyahut. Namun dengan tajamnya ia mengawasi, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.

Sejenak kemudian, maka pintu-pun sudah terbuka. Ternyata ruangan di serambi itu hanya samar-samar saja diterangi oleh lampu minyak yang seakan-akan hampir padam.

Dengan hati-hati tiga diantara kelima orang itu memasuki ruangan itu. Langkah mereka benar-benar tidak menimbulkan desir sama sekali, seakan-akan mereka tidak berpijak di atas tanah.

Demikianlah keadaan menjadi hening sejenak. Ketiga orang yang ada di dalam itu sedang mencari jalan untuk menuju kebilik Mahisa Agni.

“Mereka menutup pintu itu kembali,” bisik Mahendra. Witantra tidak menyahut. Ia-pun melihat pintu itu tertutup kembali dan dua orang yang ada di luar berjongkok di belakang tanaman perdu di sebelah menyebelah pintu itu.

“Apa yang kita lakukan?” bertanya Mahendra, “menyerbu masuk saja?”

“Tunggu,” desis Witantra, “Mahisa Agni akan memberikan Isyarat.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun yakin, bahwa Mahisa Agni yang sudah bersiaga itu pasti sudah mengetahui kehadiran orang-orang itu. Namun demikian Mahendra masih juga berbisik, “Mudah-mudahan Mahisa Agni tidak tertidur.”

“Sst,” Witantra berdesis pula.

Kuda Sempana lah yang sama sekali tidak berbicara. Tetapi dengan tajamnya ia mengamati setiap gerak dari orang-orang yang tidak mereka kenal, tetapi sudah mereka ketahui maksudnya itu.

Untuk beberapa saat mereka tidak mendengar apa-apa. Agaknya orang-orang yang mencari bilik Mahisa Agni itu masih belum dapat menemukannya.

Tetapi orang yang sedang mengintai itu terkejut ketika ia melihat seseorang melangkah perlahan-lahan dari sudut istana, seakan-akan tidak menghiraukan apa-pun juga. Sambil menyilangkan tangannya di dada, ia berjalan dengan kepala tunduk.

“He, bukankah itu Mahisa Agni,” bisik Mahendra.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Mahisa Agni tidak berada di dalam istana itu.

“Apakah ia tidak tahu bahwa ada dua orang yang bersembunyi di balik batang perdu itu.”

Witantra tidak menyahut. Namun mereka bertiga menahan nafas ketika mereka melihat Mahisa Agni berhenti beberapa langkah di depan pintu.

Adalah mengejutkan sekali bahwa tiba-tiba saja Mahisa Agni membungkukkan badannya sambil berkata, “Aku persilahkan kalian masuk. Bukankah udara sangat dingin di luar?”

Witantra dan kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Sambil tersenyum Mahendra berbisik, “Gila, juga Mahisa Agni itu.”

Ternyata sapa Mahisa Agni itu telah menghentakkan jantung kedua orang yang bersembunyi dibalik perdu itu. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa ada orang yang telah melihatnya.

Karena itu, maka untuk beberapa saat keduanya justru bagaikan membeku. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Karena keduanya sama sekali tidak menyahut, maka Mahisa Agni-pun mengulanginya, “Ki Sanak, marilah, jangan duduk disitu. Apakah yang sedang kalian tunggu?”

Kedua orang yang bersembunyi itu-pun segera menyadari keadaan mereka. Mereka harus mengawasi keadaan di luar selama ketiga kawan-kawannya berada didalam. Hanya atas isyarat mereka sajalah keduanya akan masuk.

Dengan demikian maka kedatangan orang yang tidak mereka sangka-sangka telah melihat mereka berdua itu, menimbulkan persoalan yang tiba-tiba. Karena itulah, mereka menjadi kebingungan sejenak.

Namun adalah tugas mereka untuk mengamankan keadaan ketiga kawannya yang ada di dalam. Siapa-pun orang itu, namun orang itu tidak boleh mengetahui atau mencurigai bahwa telah hadir orang-orang yang tidak dikenal di halaman istana itu.

Setelah merenungi Mahisa Agni sejenak, maka barulah salah seorang dari mereka bertanya, “Siapa kau?”

“Aku hamba istana ini. Siapakah yang kalian tunggu?” sahut Mahisa Agni yang kemudian bertanya kembali kepada, kedua orang itu.

“Tidak ada yang aku tunggu.”

“O,” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi siapakah kalian berdua? Agaknya aku belum pernah melihat meskipun aku sudah lama bekerja di istana ini.”

“Kami adalah prajurit peronda.”

“O,” Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “tetapi kenapa berada disitu? Biasanya para peronda berada digardunya. Karena istana ini selamanya tidak pernah diganggu oleh kejahatan macam apapun, maka biasanya mereka tetap berada digardunya. Kecuali jika ada isyarat dari para hamba yang tinggal di bagian belakang halaman ini. Kentongan misalnya. Atau teriakan yang mencurigakan.”

Keduanya terdiam sejenak. Namun kemudian salah seorang menjawab, “Kami harus tetap berwaspada. Kami harus berhati-hati setiap saat.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Tetapi aku belum pernah melihat kalian.”

“Baru saja aku ditugaskan di istana ini. Baru hari ini aku tiba dari Singasari.”

“Jadi kalian prajurit-prajurit Singasari?”

“Ya.”

“Tetapi pakaian kalian bukan pakaian prajurit Singasari yang bertugas di Kediri. Aku mengenal pakaian mereka dengan baik, karena aku setiap hari bergaul dengan mereka.”

Jawaban itu membuat keduanya menjadi semakin bingung. Namun mereka tetap menyadari, bahwa mereka harus bertindak jika orang itu membahayakan kawan-kawannya yang ada di dalam istana. Karena itu, maka salah seorang dari keduanya berkata, “Marilah. Aku tunjukkan kepadamu bahwa aku benar-benar seorang prajurit Singasari. Marilah, kita masuk kedalam, supaya terang bagimu siapa sebenarnya kami berdua.”

Mahisa Agni memandang keduanya berganti-ganti lalu, “Aku sudah mengenal dengan baik. Tidak di dalam, disini-pun aku melihat.”

“Didalam lebih jelas bagimu ciri-ciri keprajuritan.”

“Aku tidak berani. Tanpa ijin tuanku Mahisa Agni, aku tidak berani masuk, karena istana ini adalah istana wakil Mahkota di Kediri.”

“Aku yang membawamu masuk. Jika ada orang yang marah kepadamu meskipun itu Mahisa Agni, akulah yang bertanggung jawab. Bahkan aku ingin kau menunjukkan dimana tuanku Mahisa Agni itu tidur.”

“Ah, aku tidak tahu dan aku tidak berani.”

“Jangan membantah. Cepat, masuk.”

Tetapi Mahisa Agni surut selangkah sambil berkata, “Aku tidak mau.”

“Cepat, sebelum aku bertindak.”

“Aku akan berteriak.”

“Jika kau berani berteriak, kau akan mati.”

“Kenapa? Aku tidak bersalah. Baiklah aku pergi saja jika kalian tidak senang melihat kehadiranku disini.”

“Tidak, tidak.”

Mahisa Agni masih melangkah beberapa langkah surut, sementara itu Mahendra berkali-kali berdesis, “Mahisa Agni memang gila. Ia mempunyai kebiasaan aneh. Ia sangat pandai berpura-pura. Bukankah aku pernah ditipunya ketika ia mengaku bernama Wiraprana. Kenangan itu pahit, tetapi menggelikan. Kadang-kadang aku tertawa sendiri. Bahkan orang seganas Kebo Sindet-pun dapat ditipunya.”

“Sst,” desis Witantra.

Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun terdiam.

Dalam pada itu, ketiga orang yang berada di dalam istana Mahisa Agni, mendengar juga ribut-ribut di luar. Dengan marahnya salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya sambil bertanya, “He, kenapa ribut?”

“Orang itu.”

“Siapa?”

“Abdi istana ini. Ia melihat kami berdua. Aku Ingin membawanya masuk agar ia tidak mengganggu.”

“Bunuh sajalah. Cepat, agar tidak menimbulkan keributan lagi.”

“Jangan, jangan bunuh aku,” desis Mahisa Agni.

Tetapi kedua orang itu tidak menghiraukannya lagi. Mereka harus membunuh orang itu sebelum sempat berteriak.

Karena itu, maka salah seorang dari mereka segera menerkam Mahisa Agni. Ia ingin mencekiknya sampai mati tanpa mempergunakan senjata apa-pun juga.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang sudah mendengar dari Witantra bahwa Sri Rajasa sendiri telah memerlukan melakukan penjajagan atas salah satu dari orang-orang itu, tidak dapat menanggapi serangan itu dengan seenaknya. Karena itu, ketika tangan orang-orang itu terjulur kelehernya, tiba-tiba saja Mahisa Agni mencoba menangkapnya.

Ternyata tangkapan tangan Mahisa Agni pada pergelangan tangan orang itu sangat mengejutkannya. Dengan serta merta ia menghentakkan diri dan merenggut tangannya yang digenggam oleh Mahisa Agni itu.

Sejenak Mahisa Agni mencoba menahan tangan itu, namun sejenak kemudian tangan itu dilepaskannya. Ia tidak ingin mematahkan tangan orang itu, karena ia masih harus memancing ketiga orang yang sudah ada di dalam istana itu keluar. Namun dengan demikian ia telah berhasil menjajagi kekuatan dan kemampuan orang itu, meskipun ia sadar, bahwa orang itu sama sekali tidak bersikap menghadapi kemungkinan seperti yang bakal terjadi.

Yang terjadi itu memang tidak terduga sama sekali. Orang itu tidak menyangka bahwa yang menyebut dirinya abdi dari istana wakil Mahkota di Kediri itu dapat berbuat secepat yang dilakukannya itu, bahkan berhasil menangkap tangannya meskipun tangan itu dapat direnggutnya.

Karena itu, maka orang yang tidak berhasil mencekik leher Mahisa Agni itu segera menyadari, bahwa ia tidak berhadapan dengan orang yang terlalu lemah, seperti juga Mahisa Agni yang menduga, bahwa orang itu pasti bukan orang yang telah dijajagi kemampuannya oleh Sri Rajasa.

“He, kenapa kau berbuat gila?” orang yang menjengukkan kepalanya berdesis, “bunuh saja. Kenapa kau masih sempat berbuat gila dalam keadaan seperti ini.”

Kawannya yang gagal mencekik Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tetapi ia masih yakin bahwa ia akan dapat membunuh abdi istana itu. Beberapa langkah ia maju mendekati Mahisi Agni, dan sejenak kemudian dengan tiba-tiba saja ia menyerang langsung ke arah dada Mahisa Agni.

Sekali lagi Mahisa Agni menghindar. Kali ini ia menangkap lengan orang itu dan memilinnya. Kemudian dengan cepatnya Mahisa Agni menangkap pula kakinya dan mengangkat orang itu di atas kepalanya. Hampir tidak masuk akal, bahwa Mahisa Agni telah melemparkan orang itu kearah kawannya yang masih menjengukkan kepalanya.

Namun ternyata orang itu cukup cekatan, sehingga sambil menggeliat ia dapat mengatur dirinya dan jatuh di atas kedua kakinya tepat sejengkal di depan pintu.

Tetapi apa yang terjadi itu benar-benar telah membangunkan orang-orang yang memasuki istana dari halaman belakang itu. Kini mereka benar-benar menyadari dengan siapa ia berhadapan. Karena itu, maka ketiga orang yang melihat Mahisa Agni berdiri tegak di dalam kegelapan itu-pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Orang itu pasti bukan sekedar seorang abdi dari istana ini.

Orang yang semula hanya menjengukkan kepalanya saja itulah yang kemudian berdiri dihadapan Mahisa Agni sambil menggeram, “Siapa sebenarnya kau he?”

“Aku abdi dari istana ini. Akulah yang harus bertanya kepadamu, siapakah kau dan kawan-kawanmu itu. Dan kenapa kau memasuki halaman istana di bagian belakang ini dimalam hari? Kau pasti bukan salah seorang dari prajurit Singasari yang sedang bertugas disini.”

“Persetan. Aku tidak peduli siapa kau dan aku-pun tidak akan menyebutkan siapa aku dan kepentinganku. Tetapi kau harus mati.”

“Tidak seorang-pun yang akan dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk mati. Aku juga. Karena itu, kalau kau tidak mau mengurungkan niatmu, kita pasti akan berkelahi. Kau tentu tahu akibatnya jika aku memberikan isyarat kepada para prajurit yang sedang bertugas di regol depan.”

“Persetan,” orang itu tidak menyahut lagi. Dengan serta merta ia menarik pedangnya langsung menahas leher Mahisa Agni.

Tetapi Mahisa Agni benar-benar sudah bersiaga. Karena itu, maka dengan tangkasnya menghindarkan dirinya dari sambaran pedang itu.

Sekali lagi lawannya terkejut. Gerakan itu terlampau cepat. Namun ternyata bahwa ia sama sekali tidak berhasil mengenai lawannya. Tetapi ia tidak membiarkan lawarnya itu lolos. Dengan tangkasnya ia memburu dan sekali lagi mengayunkan pedangnya kearah lambung. Namun, sekali lagi lawannya itu berhasil menghindar dan meloncat beberapa langkah, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.

Orang itu menjadi gelisah. Jika ia tidak berhasil dengan cepat membinasakan orang yang menyebut dirinya abdi istana wakil Mahkota, dan orang itu sempat memberikan isyarat, maka pekerjaannya akan bertambah sulit, meskipun mereka berlima tidak akan gentar menghadapi sepuluh orang penjaga sekalipun. Tetapi jika di antara yang sepuluh itu terdapat seorang Mahisa Agni, maka mereka harus memperhitungkan keadaan itu sebaiknya.

Dengan demikian, maka yang harus dikerjakannya adalah membunuh orang itu bagaimana-pun juga caranya. Maka sejenak kemudian terdengar aba-abanya, “Kepung orang ini.”

Demikianlah maka ketiga orang itu-pun segera berloncatan mengepung Mahisa Agni. Kini mereka bertiga telah bersenjata telanjang dan siap menyergap orang yang menyebut dirinya abdi istana wakil Mahkota itu.

Namun keributan itu agaknya telah mengganggu orang yang ada didalam istana. Sejenak kemudian keduanya telah berloncatan keluar. Salah seorang dari mereka berkata, “Apa yang kalian kerjakan.”

“Membunuh orang ini,” sahut orang yang pertama-tama keluar.

“Siapakah orang itu.”

“Aku tidak tahu. Tetapi agaknya ia orang gila.”

“Biarkan kedua anak-anak itu membunuhnya. Cepat dan jangan ribut.”

“Mereka tidak akan berhasil. Aku-pun tidak.”

“He,” keduanya terkejut. “Apakah kau mengigau.”

“Orang ini seperti setan.”

“Kau gagal membunuhnya?”

“Ya.”

Tiba-tiba orang yang keluar paling akhir itu menggeram. Dengan marahnya ia berkata, “Minggir. Aku ingin melihat, siapakah orang itu sebenarnya.”

Beberapa langkah orang itu maju mendekati Mahisa Agni. Diamat-amatinya Mahisa Agni dari ujung kaki sampai keujung rambutnya. Dan sejenak kemudian terdengar suara tertawanya lirih, “Tentu. Tentu tikus-tikus ini tidak akan dapat membunuhmu. Tenyata kami bagimu adalah orang-orang yang paling bodoh yang pernah kau temui. Kami mencarimu di dalam istanamu yang megah. Ternyata kau berada di luar. Nah, bagiku adalah kebetulan sekali. Kita mendapat kesempatan untuk mengenal satu sama lain.”

Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi diamatinya orang itu dengan tajamnya. Agaknya orang itu sudah mendapat pesan tentang ciri-ciri orang yang bernama Mahisa Agni.

“Kenapa kau diam saja? Bukankah kau yang bernama Mahisa Agni?”

“Mahisa Agni,” ketiga orang yang telah mengepungnya itu terkejut. “Jadi orang ini Mahisa Agni?”

“Apakah ia tidak mengaku bahwa dirinyalah Mahisa Agni?”

“Ia menyebut dirinya abdi istana wakil Mahkota ini.”

“Nah, aku menjadi semakin yakin. Menurut ceritera Sri Rajasa, orang yang bernama Kebo Sindet-pun pernah ditipunya, dan kemudian dibunuhnya. Tetapi ia tidak dapat menipu aku dan tidak dapat membunuh aku, karena aku bukan Kebo Sindet dan aku tidak sedungu Kebo itu. Aku memiliki beberapa kelebihan dari padanya, sehingga seandainya Kebo Sindet itu masih hidup, ia tidak akan dapat mengalahkan aku pula.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia bertanya, “Kenapa kau menyebut nama Sri Rajasa.”

“Jangan terkejut. Aku adalah utusannya. Aku datang kemari atas namanya untuk membunuhmu.”

“Kakang,” desis kawan orang itu.

“Aku tidak usah ragu-ragu mengatakannya, karena sebentar lagi ia akan mati. Aku tidak gentar meskipun ia mampu membinasakan Gubar Baleman.”

Mahisa Agni merenung sejenak. Agaknya orang inilah pemimpin kelompok orang-orang yang ingin membinasakannya itu. Dan agaknya orang ini pulalah yang telah berkelahi melawan Sri Rajasa untuk dijajagi kemampuannya.

“Aku harus berhati-hati,” desis Mahisa Agni di dalam hatinya. Namun ia percaya bahwa di sekitarnya pasti telah bersembunyi Witantra dan kawan-kawannya untuk membantunya jika ia harus menghadapi beberapa orang lawan yang terlalu berat baginya.

“Jadi kau mendapat perintah Sri Rajasa untuk membunuhku?” bertanya Mahisa Agni.

“Ya.”

“Bohong. Sri Rajasa tidak akan melakukannya. Aku adalah pembantunya yang paling dipercaya, dan itu ternyata atas tugas yang diberikannya kepadaku sekarang ini. Aku adalah wakil Mahkota di Kediri.”

“Tetapi kau adalah orang yang paling malang di muka bumi. Ternyata bahwa orang yang memberikan kepercayaan kepadamu itulah yang memerintahkan membunuhmu. Terimalah nasibmu dengan tabah.”

“Tetapi kau tidak akan berhasil. Aku memang Mahisa Agni. Tetapi akulah yang membunuh Gubar Baleman itu dengan tanganku. Aku pulalah yang membunuh Kebo Sindet seperti ceritera Sri Rajasa. Dan sekarang datang giliranmu.”

Orang itu tertawa.

Namun Mahisa Agni melanjutkan, “Kita akan berperang tanding. Siapakah yang ternyata lebih kuat di antara kita.”

“He, kau memang licik. Tidak, kita tidak akan berperang tanding. Kami akan menyelesaikan kau secepat mungkin. Kami berlima akan bersama-sama membunuhmu. Jangan mencoba menggugah harga diriku. Aku memang bukan laki-laki jantan. Aku sekedar melakukan pekerjaan ini meskipun dengan licik, agar aku mendapat upah yang banyak sekali.”

“Apakah kau tidak menyadari bahwa ada prajurit yang bertugas di istana ini.”

“Satu orang di antara kami akan dapat menahan mereka, sementara kami yang lain membunuhmu. Setelah itu, kami akan bersama-sama membunuh semua orang di halaman istana ini. Kau mengerti. Dan rahasia perintah Sri Rajasa tidak akan terdengar oleh siapapun.”

Namun tiba-tiba jantung mereka terasa seperti dihentikan ketika tiba-tiba mereka mendengar suara, “Aku mendengarnya. Aku mendengar rahasia perintah Sri Rajasa. Akulah yang akan mengumumkannya kepada setiap orang di Kediri dan Singasari.”

Pemimpin penjahat itu menggeram. Sejenak kemudian dilihatnya seseorang berdiri sambil menggeliat. Orang itu adalah Mahendra. Ia adalah orang yang paling gelisah dan tidak sabar. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berdesis menjawab kata-kata pemimpin perampok itu.

Sejenak perampok-perampok itu memandanginya. Kemudian salah seorang bertanya dengan nada yang berat, “Siapa kau?”

Mahendra yang sudah berdiri tegak itu tidak segera menjawab. Beberapa langkah ia maju mendekati orang-orang yang sedang kebingungan itu.

“Siapa kau? ” pemimpin garombolan penjahat itu bertanya lagi dengan suara bergetar.

Mahendra kini berdiri tegak beberapa langkah dari mereka. Sejenak ia masih berdiam diri, namun kemudian ia berkata, “Aku adalah pekatik dari istana ini. Aku sedang menyabit rumput di halaman belakang ketika aku mendengar kalian masuk meloncati dinding belakang sehingga aku dan kedua kawanku yang seorang juru taman dan seorang lagi juru masak, mengikuti kalian sampai ketempat ini. Aku melihat bagaimana kalian kebingungan. Tiga orang masuk dan yang dua orang berada di luar, sehingga akhirnya yang dua orang terlihat oleh abdi istana yang kau sangka tuanku Mahisa Agni.”

Pemimpin perampok itu termangu-mangu sejenak. Namun ia-pun kemudian sadar, bahwa orang itu pasti bukan seorang pekatik dan orang itu tentu kawan-kawan Mahisa Agni. Namun menilik sikap dan kata-katanya, maka orang itu agaknya yakin akan dirinya dan memiliki kemampuan yang setidak-tidaknya dapat membantu kesulitan Mahisa Agni menghadapi mereka berlima.

Karena Mahendra sudah menyebut dua orang kawannya yang lain, maka Witantra dan Kuda Sempana-pun tidak bersembunyi lebih lama lagi. Hampir berbareng mereka-pun muncul sambil berkata, “Baiklah. Kami tidak akan bersembunyi lagi.”

Terasa dada para perampok itu berdesir. Ternyata kedatangan mereka telah diketahui lebih dahulu oleh Mahisa Agni dan kawan-kawannya yang pasti dipercayanya untuk membantu menghadapi mereka.

“Gila,” pemimpin perampok itu menggeram, “siapakah yang sudah berkhianat? Sri Rajasa atau penasehatnya atau salah seorang kepercayaan Sri Rajasa tanpa diketahuinya?”

“Tidak ada seorang-pun yang berkhianat,” sahut Mahisa Agni, “kebetulan saja kami mengetahui kedatanganmu.”

“Bohong,” pemimpin perampok itu memotong, “jangan menunggu lebih lama lagi. Tentu di halaman ini telah dipersiapkan prajurit segelar sepapan. Suruh mereka segera keluar. Kami akan menghancurkan mereka dan membunuh mereka bersama kalian termasuk Mahisa Agni.”

“Sayang,” jawab Mahisa Agni, “kami tidak menyiapkan penyambutan serupa itu. Justru aku sudah mengatakan kepada para prajurit, bahwa malam ini mereka tidak usah meronda. Istana ini tidak pernah diganggu oleh kejahatan. Tetapi sudah tentu bahwa kami harus menyiapkan penyambutan bagi kalian yang apalagi salah seorang dari kalian telah langsung melakukan penjajagan kemampuan melawan Sri Rajasa sendiri.”

“Gila,” pemimpin perampok itu hampir berteriak, “siapa pengkhianat itu he? Katakan, katakan! Darimana kau ketahui semuanya itu?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ada gunanya. Tetapi nasibmu tidak akan lebih baik dari Kiai Kisi yang diumpankan langsung kepada Putera Mahkota, sehingga Putera Mahkota sendirilah yang telah membunuhnya.”

“Persetan,” kemarahan yang memuncak telah mendidihkan darah pemimpin perampok itu, “ternyata istana Singasari telah dipenuhi oleh pengkhianat-pengkhianat. Dan sekarang kalian mencoba menjebak aku dan kawan-kawanku.” ia berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kalian kali ini akan gagal. Meskipun Mahisa Agni memiliki kemampuan setinggi langit, tetapi tidak semua kalian memiliki kemampuan seperti Mahisa Agni. Karena itu, seorang demi seorang kalian akan mati, bahkan seandainya kalian memanggil prajurit segelar sepapan.”

“Kami tidak akan memanggil seorang prajurit pun. Kami akan bertempur langsung,” jawab Mahendra, “kami berempat, dan kalian berlima. Setuju?”

Pemimpin perampok itu tidak menyahut. Namun ketika ia menggeram seperti seekor harimau kelaparan kawan-kawannya agaknya menerima suatu isyarat untuk segera mempersiapkan dirinya.

Mahisa Agni dan ketiga kawannya-pun kemudian menebar. Mereka segera mempersiapkan diri untuk melawan setiap orang yang akan menyerang mereka. Keempatnya menyerahkan kepada lawan-lawannya untuk memilih salah seorang dari mereka.

Melihat sikap keempat orang itu para perampok itu-pun menjadi semakin berdebar-debar. Keempatnya seolah-olah begitu yakin akan dirinya dan kemampuannya. Umur-umur mereka agaknya sebaya kecuali Witantra yang tampak agak lebih tua dari yang lain-lain, meskipun tidak begitu banyak.

Para perampok itu tidak dapat memilih siapakah yang lebih kuat dan siapakah yang paling lemah. Namun menurut perhitungan mereka, pasti Mahisa Agnilah yang paling kuat di antara mereka, sehingga pemimpin perampok itu berkeputusan untuk melawan Mahisa Agni. Karena itu maka katanya, “Pilihlah lawanmu sendiri. Aku akan membuktikan, bagaimana mungkin orang yang bernama Mahisa Agni ini mampu membunuh Kebo Sindet dan kemudian Senapati Agung dari Kediri. Dan bagaimana mungkin ia dapat membuat Putera Mahkota menjadi seorang yang dikagumi oleh seluruh rakyat Singasari dan menamakan dirinya Kesatria Putih.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun ia beringsut selangkah. Kini ia benar-benar telah mempersiapkan diri untuk melawan orang yang pernah langsung mencoba kekuatannya dengan Sri Rajasa itu. Karena menurut perhitungannya, orang itulah yang merasa dirinya mempunyai kemampuan melampaui kawannya.

Mahendra, Kuda Sempana dan Witantra-pun telah bersiap pula. Namun mereka masih tetap menunggu, siapakah yang akan datang kepada mereka masing-masing sebagai lawannya. Menurut jumlahnya, maka salah seorang dari mereka harus melawan dua orang bersama-sama. Dan yang dua itu pastilah dua orang yang tidak ikut masuk kedalam istana itu.

Untuk sesaat lamanya tidak seorang-pun yang segera mulai. Baik para perampok mau-pun kawan-kawan Mahisa Agni agaknya saling menunggu, siapakah yang harus dilawannya, selain Mahisa Agni sendiri yang sudah pasti menemukan lawannya.

Ternyata Mahendra lah yang tidak sabar menunggu. Karena itu ia-pun maju selangkah sambil berkata, “He, apakah kita harus mengundi, siapakah yang akan bertemu sebagai lawan?”

“Persetan,” pemimpin perampok itu menggeram, “cepat, bunuh mereka.”

“O, jadi kalian tidak setuju? Baik. Aku akan tetap berdiri disini sampai ada seseorang yang menyerangku,” sahut Mahendra kemudian, “jika tidak, maka sampai besok pagi aku tidak akan beranjak.”

“Bunuh anak itu lebih dahulu,” pemimpin perampok yang sudah siap melawan Mahisa Agni itu menggeram.

“Ah, jangan panggil aku anak. Aku sudah hampir mempunyai cucu,” berkata Mahendra.

Namun demikian mulutnya terkatup, maka salah seorang perampok itu telah meloncat menyerangnya, sehingga Mahendra harus meloncat menghindar. Serangan itu ternyata cukup berbahaya baginya, karena lontaran kekuatan yang sepenuhnya itu benar-benar ingin menghancurkannya.

Mahendra yang meloncat menghindar itu ternyata menjadi berdebar-debar juga. Ternyata serangan itu datang begitu cepat dan tiba-tiba. Dengan demikian Mahendra dapat menilai, bahwa lawannya itu memang bukan orang kebanyakan.

Karena serangannya yang pertama gagal, maka lawan Mahendra-pun segera memburunya dan mengulangi serangannya beruntun. Ia benar-benar ingin segera membinasakannya, seperti yang diperintahkan oleh pemimpinnya.

Tetapi, ternyata pekerjaan itu tidak begitu mudah. Mahendra yang masih berloncatan menghindar itu, masih mencoba untuk mengetahui lebih banyak tentang kemampuan lawannya, sehingga apabila datang saatnya ia tidak akan terjebak karena kesalahannya sendiri.

Dalam pada itu, ternyata pemimpin perampok yang memasuki halaman istana wakil Mahkota di Kediri itu masih belum mulai menyerang Mahisa Agni. Ia masih ingin mengetahui, apakah kawannya mampu mengimbangi orang-orang yang telah mengganggu tugas mereka itu.

Namun untuk beberapa lamanya, Mahendra sengaja masih belum melakukan perlawanan sepenuhnya. Ia masih saja berloncatan meskipun kadang-kadang ia menahan serangan lawannya pula apabila ia sudah sangat terdesak.

Witantra dan Kuda Sempana-pun berdiri termangu-mangu melihat Mahendra bertempur. Namun Witantra-pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seorang yang memiliki ketajaman tanggapan tentang olah kanuragan, maka ia-pun segera mendapat kepastian, bahwa keadaan Mahendra tidak akan begitu jelek melawan orang yang menyerangnya.

Dan yang harus dilakukannya kemudian adalah menunggu, siapakah dari antara para penjahat itu yang akan menyerangnya.

Tetapi ternyata bahwa Kuda Sempanalah yang mendapat serangan lebih dahulu. Seperti orang yang pertama maka serangannya datang dengan cepat dan tiba-tiba. Tetapi juga seperti Mahendra maka Kuda Sempana-pun mampu menghindari serangan-serangan yang datang beruntun seperti banjir. Orang itu sudah mencoba memperbaiki kesalahan kawannya yang tidak berhasil langsung mengalahkan Mahendra, tetapi meskipun demikian, ia-pun tidak segera berhasil menjatuhkan Kuda Sempana.

Yang kemudian masih berdiri bebas adalah Witantra. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia harus berkelahi melawan dua orang yang masih belum menemukan lawannya. Namun ia-pun sadar, bahwa yang dua orang itu pasti orang-orang yang paling lemah dari kelompok penyerang itu.

“Nah, kitalah yang belum mendapatkan lawan,” berkata Witantra, “dengan demikian maka kita tidak akan dapat memilih lagi. Kita harus berhadapan. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan bertempur bersama-sama atau seorang demi seorang.”

Kedua orang perampok yang masih belum mendapat lawannya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar pemimpinnya berkata, “Cepat, bunuh orang itu.”

Keduanya-pun segera berloncatan menyerang Witantra langsung dengan senjata-senjata mereka yang sudah berada ditangan. Tetapi Witantra-pun berhasil menghindar dan bahkan melayani keduanya dengan tangkasnya.

Di halaman belakang istana wakil Mahkota itu telah terjadi tiga lingkaran perkelahian. Namun dalam pada itu sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni telah memberikan kesan, seakan-akan para prajurit yang berjaga-jaga di istana itu tidak perlu lagi meronda kehalaman belakang. Dengan tidak langsung Mahisa Agni mengatakan kepada mereka, bahwa kadang-kadang hanya mengejutkannya saja, dan bahkan karena badan Mahisa Agni yang agak kurang segar, maka biarlah mereka tidak usah meronda kehalaman dalam dan belakang.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni dapat menghadapi lawan-lawannya tanpa para prajurit. Menurut perhitungannya para prajurit itu hanya akan membuatnya bingung dan bahkan mungkin akan dapat menimbulkan korban. Selain korban yang mungkinjatuh, maka persoalan itu akan menjadi berkepanjangan sampai ke setiap telinga dengan tafsiran mereka masing-masing.

Mahisa Agni masih sempat menyaksikan perkelahian itu. Ternyata bahwa para perampok itu benar-benar orang pilihan. Karena itulah maka Mahisa Agni-pun harus berhati-hati, karena pemimpinnya pastilah orang yang lebih baik dari mereka yang sudah terlibat di dalam perkelahian itu, dan apalagi Sri Rajasa sendiri sudah menjajaginya dan menganggapnya cukup mampu untuk melakukan tugas ini.

Ternyata orang itu-pun masih memerlukan waktu sedikit untuk melihat anak buahnya yang bertempur. Sambil mengerutkan keningnya ia mengangguk-angguk. Menurut pengamatannya, orang-orangnya tidak mengecewakannya, meskipun ia tidak yakin bahwa mereka akan segera menang.

“Aku harus bertindak cepat. Mahisa Agni harus segera terbunuh, lalu yang lain-lain akan dengan mudah selesai,” berkata orang itu di dalam hatinya.

Sejenak kemudian maka ia-pun melangkah maju mendekati Mahisa Agni. Namun setelah keduanya berdiri berhadapan, sepercik kesangsian membayang di wajah pemimpin perampok itu. Mata Mahisa Agni yang seakan-akan menyala di dalam gelapnya malam itu membuatnya sedikit berdebar-debar.

“Persetan,” ia menggeram. Dicobanya untuk mengusir kesangsian dihatinya itu. Ia tidak pernah ragu-ragu menghadapi siapa-pun juga, karena ia terlalu percaya kepada kemampuan diri sendiri.

“Belum pernah aku gagal. Meskipun aku mengakui bahwa ada juga orang yang melampaui kemampuanku. Tetapi satu-satunya orang adalah Sri Rajasa.” katanya di dalam hati.

Karena itu, maka sejenak kemudian ia-pun melangkah semakin mendekati Mahisa Agni sambil berkata. “Mahisa Agni. Aku hanya sekedar menjalankan perintah. Kau sudah tidak akan dipakai lagi oleh Sri Rajasa. Karena itu kau harus dibunuh. Setelah kau pasti akan datang giliran Anusapati anak Tunggul Ametung itu.”

“Rencana yang bagus sekali. Jika aku dan Anusapati tidak ada, maka Singasari akan menjadi murni. Begitu?”

“Ya. Darah Tunggul Ametung akan lenyap sama sekali dari muka bumi, terutama dari kekuasaan Singasari.”

“Sayang sekali. Rencana itu tidak terlampau mudah dilakukan. Baik aku sendiri maupun Anusapati yang ternyata adalah Kesatria Putih, bukan orang-orang yang mudah menyerahkan lehernya. Seperti seharusnya kodrat manusia, ia pasti akan mempertahankan hidupnya sejauh dapat dilakukan.”

“Tetapi kau tidak akan dapat melakukannya, karena disini akulah yang mendapat tugas untuk membunuhmu.”

“Sayang. Aku akan bertahan. Dan aku memang ingin melihat Anusapati menjadi raja di Singasari. Yang penting bagiku bukannya siapakah yang menjadi ayah raja Singasari itu. Tetapi ia harus keturunan Ken Dedes. Itulah sebabnya aku berjuang dengan caraku untuk mempertahankan Anusapati di atas kedudukannya sekarang, sebagai Putera Mahkota. Jika Sri Rajasa ingin menurunkan raja di Singasari, dan memadu Mahisa Wonga Teleng untuk menjadi Putera Mahkota, aku tidak akan berkeberatan, dan Anusapati-pun pasti akan dengan sukarela minggir dari kedudukannya. Tetapi sudah tentu, bukan Tohjaya, anak Ken Umang itu.”

“Persetan, itu adalah hak Sri Rajasa untuk menentukan, siapakah yang akan ditunjuk untuk menggantikannya.”

“Tidak. Sri Rajasa tidak berhak atas tahta. Tetapi Ken Dedeslah yang mewarisi kekuasaan Tunggul Ametung karena Tunggul Ametung telah melimpahkan kekuasaannya atas kehendaknya sendiri kepada Ken Dedes, ketika Ken Dedes mula-mula memasuki istana dan kehidupan Tunggul Ametung.”

“Bohong.”

“Jangan kau sangka aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Karena kau atau aku yang akan mati, baiklah aku berterus terang, bahwa aku sudah mengetahui bahwa Sri Rajasalah yang membunuh Tunggul Ametung dan pamanku Empu Gandring. Barangkali kau belum mendengarnya. Karena itu, ketahuilah, bahwa Sri Rajasa tidak berhak memindahkan aliran keturunan Ken Dedes dan memberikannya kepada Ken Umang, meskipun sebagian besar adalah karena jasa Ken Arok, bahwa Singasari menjadi besar seperti sekarang.”

“Omong kosong,” geram pemimpin perampok itu, “aku tidak memerlukan ceritera mimpi itu. Sekarang aku akan membunuhmu.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi ia mempersiapkan dirinya baik-baik untuk menghadapi lawanya itu.

“Bersiaplah untuk mati, atau kau ingin mati dengan tenang tanpa kelelahan?”

Mahisa Agni sudah segan untuk berbicara berkepanjangan. Karena itu ia tidak menjawab.

“Baik. Kau memang ingin mati setelah menitikkan keringat dan darah. Dan aku akan membantumu.”

Tiba-tiba saja orang itu telah menarik sebuah pedang panjang. Oleh cahaya obor dikejauhan, mata pedang itu tampak berkilat-kilat memantulkan sinarnya yang kemerah-merahan.

Mahisa Agni memandang pedang itu sejenak. Ia tidak dapat melawan pedang itu tanpa senjata apapun, karena ia menganggap bahwa lawannya adalah lawan yang cukup berat. Karena itu, maka ia-pun segera mencabut belati panjangnya yang terselip dibawah kain panjang. Sepasang pisau belati panjang di kedua tangannya.

Sejenak mereka masih berdiri berhadapan. Namun sejenak kemudian pedang di tangan pemimpin perampok itu sudah berputar. Dengan sigapnya ia mulai menyerang Mahisa Agni yang dengan tangkas berhasil menghindarkan diri.

Ternyata dugaan Mahisa Agni tidak meleset. Orang itu benar-benar mampu bergerak cepat dan kuat. Pedangnya menyambar-nyambar seperti seekor burung sriti yang berterbangan di udara.

Namun Mahisa Agni bukan sekedar seekor capung yang tidak mampu menghindarkan diri dari ujung paruh burung sriti yang menyambarnya. Tetapi Mahisa Agni-pun mampu bergerak secepat lawannya, sehingga karena itu, maka serangan-serangan itu sama sekali tidak berhasil menyentuh sasarannya.

Apalagi ketika Mahisa Agni-pun mulai menyerang lawannya itu pula, maka barulah lawannya menyadari, sebenarnyalah Mahisa Agni seorang yang disegani oleh Sri Rajasa.

Demikianlah maka perkelahian antara Mahisa Agni dengan lawannya itu segera menjadi pertempuran yang sangat sengit karena keduanya adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Didalam perkelahian itu Mahisa Agni masih juga sempat berkata di dalam hati, “Ada juga orang yang memiliki kemampuan tinggi di antara mereka yang tersesat. Orang ini ternyata adalah orang yang berbahaya sekali. Untunglah bahwa ia tidak memancing Kesatria Putih dan membinasakan. Jika kebetulan ia bertemu sendiri dengan Anusapati, maka Anusapati akan sulit sekali untuk mengatasinya dalam keadaan yang sekarang. Masih untunglah bahwa orang itu telah dikirimkan kepadanya oleh Sri Rajasa. Namun demikian Mahisa Agni berterima kasih tidak terhingga di dalam hatinya kepada Sumekar. Kehadiran Sumekar di istana Singasari ternyata mempunyai arti yang besar sekali. Baik bagi Putera Mahkota maupun bagi Mahisa Agni sendiri, karena tanpa Sumekar, maka Mahisa Agni dan kawan-kawannya itu tidak akan dapat mempersiapkan diri menghadapi kelima orang itu.

“Tanpa orang lain aku tidak akan dapat mengatasi kesulitan. Jika tidak ada persiapan yang baik menghadapi mereka, dan ketiga orang yang memasuki istana itu berhasil menyergap aku di dalam bilikku, maka aku kira aku benar-benar terbunuh,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Namun gambaran-gambaran itu ternyata membuat Mahisa Agni menjadi semakin marah. Bayangan yang tampak di rongga matanya, seakan-akan dirinya sendiri terkapar di dalam pembaringannya sebelum sempat bangkit, membuatnya menjadi semakin marah.

“Sri Rajasa benar-benar ingin merenggut nyawaku. Dan orang-orang ini pasti orang-orang yang tamak, yang menyewakan diri mereka untuk membunuh sesama. Dan itu berarti kejahatan yang tidak dapat diampuni.” Mahisa Agni berkata pula di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun telah mengambil sikap seperti orang itu pula. Membunuh atau dibunuh. Mahisa Agni sama sekali tidak memerlukan orang itu hidup karena ia tidak memerlukan keterangan apa-pun daripadanya. Ia sudah tahu pasti bahwa orang itu harus membunuhnya atas perintah Sri Rajasa. Hanya itu. Alasan-alasan yang lain tidak akan dapat dikoreknya dari orang itu, tetapi harus dicarinya di istana Singasari.

Demikianlah perkelahian itu adalah lambang dari perang yang sebenarnya memang sudah mulai. Perang tanpa menyeret prajurit-prajurit Singasari. Karena baik Sri Rajasa mau-pun Mahisa Agni menyadari, bahwa Singasari yang sudah mencapai kebesarannya itu tidak boleh dikorbankan. Apa-pun yang akan terjadi atas mereka, dan apa-pun yang akan mengakhiri perang di antara dua raksasa yang berdiri dibalik takbir asap yang samar-samar.

Tidak seorang-pun di Singasari, selain yang langsung berkepentingan, mengerti bahwa perang sudah dimulai. Jika kedua raksasa itu bertemu satu dengan yang lain, maka keduanya masih juga tersenyum-senyum dan tertawa-tawa. Keduanya masih dapat berkelakar dan berbicara tentang perkembangan pemerintahan Singasari. Bahkan mereka masih dapat dengan jujur membicarakan tugas-tugas yang harus mereka lakukan masing-masing. Sri Rajasa sebagai Maharaja yang memerintah seluruh Singasari, dan Mahisa Agni yang mendapat tugas untuk mewakili Mahkota Singasari di daerah Kediri.

Tetapi dibalik sikap yang ramah, dibalik pembicaraan-pembicaraan dan rencana-rencana mereka bagi Singasari, tersembunyi pertentangan yang tidak terelakkan, yang akan menentukan Mahkota Singasari dihari depan.

Dalam pada itu perkelahian yang terjadi itu-pun menjadi semakin lama semakin dahsyat. Namun dilingkaran-lingkaran perkelahian yang lain, Kuda Sempana segera dapat mengatasi kemampuan lawannya, meskipun ia tidak akan dapat menyelesaikannya dengan segera. Dan bahkan Kuda Sempana-pun tidak bernafsu untuk dengan cepat memenangkan perkelahian itu, karena ia mempunyai perhitungan tersendiri. Menurut pengamatannya, Mahisa Agni berada dalam keadaan yang gawat. Lawannya bukan orang yang dapat diabaikan, sehingga Mahisa Agni benar-benar harus bertempur. Supaya Mahisa Agni mendapat kesempatan sebaik-baiknya menyelesaikan rencananya, maka Kuda Sempana ingin menunggu apakah yang harus dilakukan atas lawannya itu. Jika Mahisa Agni nanti berhasil menyelesaikan tugasnya, apakah ia akan mempunyai sikap tertentu terhadap orang-orang yang memasuki halaman istana itu, karena setiap kali di dalam melakukan tugas-tugas Kesatria Putih, Mahisa Agni sering kali menegurnya, bahwa ia terlampau cepat mengambil keputusan untuk membunuh lawannya.

Demikian juga agaknya Mahendra dan Witantra. Keduanya-pun segera dapat merasa bahwa mereka dapat menentukan akhir dari perkelahian itu menurut keinginan mereka, jika mereka tidak berbuat kesalahan yang berpengaruh.

Witantra yang memiliki kemampuan yang hampir sempurna, sempat menyaksikan perkelahian antara Mahisa Agni dan lawannya. Dan ia-pun sempat menilai, apa yang sedang terjadi.

“Lawan Mahisa Agni memang lawan yang berat,” berkata Witantra di dalam hati, “untunglah orang itu datang kemari. Jika tidak, maka ia akan menjadi racun di dalam peradaban manusia. Itulah agaknya di daerah sebelah Timur dan Utara, kadang-kadang terjadi sesuatu yang menggemparkan, yang masih belum terjangkau oleh tangan Kesatria Putih. Agaknya orang itulah pelakunya bersama kawan-kawannya ini.”

Namun dalam pada itu, Mahisa Agni yang bertempur melawan pemimpin perampok itu segera mengenal, bahwa ilmu orang itu adalah ilmu yang pada dasarnya sudah dikenal di istana Singasari, sehingga dengan demikian ilmu itu didalam perkembangannya pasti bersumber dari guru yang memiliki cabang ilmu yang sama. Dan arus ilmu itu telah mengalir kedalam diri Tohjaya lewat gurunya, penasehat Sri Rajasa. Dengan demikian Mahisa Agni-pun segera tahu pula, siapakah yang membawa orang itu keistana beserta rencana-rencana dan pamrihnya sama sekali. Dengan demikian Mahisa Agni-pun yakin, bahwa penasehat Sri Rajasa itu ikut serta menentukan jalannya peperangan diam-diam antara Sri Rajasa untuk kepentingan Tohjaya dan Mahisa Agni untuk kepentingan Anusapati.

“Jadi guru Tohjaya itu tidak sekedar menjemput dan membawanya masuk keistana atas perintah Sri Rajasa,” berkata Mahisa Agni yang memang sudah mendengar dari Witantra yang mendapat keterangan dari Sumekar bahwa telah datang orang asing di istana dan bahkan mengadakan penjajagan ilmu dengan Sri Rajasa. “Agaknya guru Tohjaya itulah yang mengusulkan orang ini untuk mengemban tugas didalam peperangan yang diam-diam ini.”

Sambil bertempur Mahisa Agni sempat membayangkan bagaimana keadaan yang bakal terjadi tanpa dirinya dan orang-orang yang sekarang sedang membantunya. Yang dicemaskan oleh Mahisa Agni adalah sikap yang kasar dari Sri Rajasa. Dalam keadaan tertentu, Sri Rajasa kehilangan sifat-sifatnya sebagai seorang Maharaja. Ia dapat bertindak kasar seperti ketika ia masih seorang yang berkeliaran di padang Karautan. Ketika ia masih disebut Hantu Karautan.

“Apakah hal ini akan semakin berlarut-larut atau akan dapat memberikan kesadaran baru bagi Sri Rajasa?” pertanyaan itu selalu mengganggunya. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni justru menjadi semakin kehilangan kepercayaannya kepada Sri Rajasa.

“Orang itu adalah orang besar,” berkata Mahisa Agni didalam hati, “tetapi ia terperosok ke dalam suatu kubangan yang dapat mencelakakannya. Ia kehilangan kebesarannya dan justru berjuang untuk kepentingan yang terlalu kecil bila dibandingkan dengan usahanya mempersatukan Singasari.”

Mahisa Agni terkejut ketika senjata lawannya hampir saja menyentuh pelipisnya.

Kini Mahisa Agni mencoba memusatkan perhatiannya kepada senjata lawannya yang bergerak semakin cepat. Namun semakin lama semakin jelas, bahwa Mahisa Agni akan berhasil menguasainya.

Meskipun demikian bila Mahisa Agni lengah dan membuat sedikit kesalahan, mungkin keadaan akan menjadi jauh berbeda. Karena itu, Mahisa Agni berusaha untuk tidak hanyut lagi dalam arus angan-angannya.

“Orang ini terlalu berbahaya,” katanya di dalam hati, “berbahaya bagiku dan berbahaya bagi rakyat Singasari. Ia dapat memeras siapa-pun yang dikehendaki tanpa perlindungan, karena ia sudah berhubungan dengan Sri Rajasa. Jika ia bebas sekarang, apalagi memenangkan perkelahian ini, maka Sri Rajasa tidak akan dapat bertindak apa-pun kepadanya, karena orang ini menggenggam rahasia terbesar dari Sri Rajasa atas kematian seorang wakil Mahkota. Dengan demikian maka orang ini akan dapat memeras Sri Rajasa sampai kering, sebelum Sri Rajasa berhasil membunuhnya. Dan orang ini adalah orang yang licik, sehingga ia akan dapat bersembunyi rapat sekali, sementara orang-orangnya yang akan memainkan peranan yang akan membuat Sri Rajasa kehilangan akal.

“Orang ini harus disingkirkan,” tiba-tiba saja Mahisa Agni menggeram, “jika tidak, maka persoalannya pasti akan berkepanjangan. Apalagi aku tidak memerlukan apa-pun daripadanya. Keterangan yang dapat dikatakannya tidak akan berarti apa-apa bagiku.”

Ternyata Mahisa Agni benar-benar akan melakukan keputusannya. Dengan demikian mata tandangnya menjadi semakin mantap. Kakinya seolah-olah tidak lagi berjejak di atas tanah, sedang tangannya menyambar-nyambar seperti sayap burung garuda yang terbang diudara.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin lama semakin sengit. Masing-masing tidak lagi mengekang dirinya. Bahkan masing-masing telah melepaskan semua kemampuan yang dimilikinya.

Lawan Mahisa Agni itu terkejut mengalami sikap yang tiba-tiba saja menjadi semakin garang. Tekanan Mahisa Agni menjadi semakin tajam, sehingga pemimpin gerombolan perampok itu menjadi cemas karenanya.

Tetapi ia tidak dapat mengharap bantuan dari siapapun. Ketika sempat melihat perkelahian yang terjadi di sekitarnya, ia mengumpat habis-habisan. Ternyata Witantra hampir tidak berbuat apa-apa selain berputar-putar. Kedua orang lawannya sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa, meskipun seakan-akan Witantra hanya sekedar bermain-main saja.

“Setan alas,” pemimpinnya berteriak, “bunuh orang itu.”

Kedua orang yang berkelahi melawan Witantra itu berusaha memusatkan segenap kemampuannya. Namun Witantra masih saja bersikap acuh tidak acuh.

Pemimpinnya tidak lagi sempat menghiraukannya. Mahisa Agni semakin lama semakin mendesaknya. Tidak ada cara yang dapat dipergunakan untuk mengatasi serangan-serangan Mahisa Agni yang semakin ganas.

Apalagi tiba-tiba saja Mahisa Agni itu berkata, “Orang-orang ini harus dibinasakan, karena mereka telah mengetahui rahasia yang paling besar bagi Singasari. Pertentangan di lingkungan pemerintahan yang tidak boleh didengar dan apalagi dihayati oleh orang lain. Karena itu, adalah nasibnya yang kurang baik, apabila dengan demikian mereka harus bercanda dengan maut.”

Kata-kata Mahisa Agni itu benar-benar telah menggetarkan dada mereka. Bahkan pemimpin perampok itu-pun menjadi berdebar-debar. Namun demikian ia masih sempat berteriak, “Mahisa Agni, sebutkan siapakah yang telah berkhianat? Siapakah yang telah menjebak aku ke dalam sarang serigala lapar ini?”

Mahisa Agni mendesak lawannya sambil menjawab, “Tidak ada yang berkhianat. Tetapi kejahatan memang harus dimusnahkan. Jangan menyesal jika nasibmu sama seperti Kiai Kisi yang dibinasakan langsung oleh Putera Mahkota, tidak dalam kerudung putih, tetapi dalam bentuknya dibawah kerudung hitam.”

Kata-kata Mahisa Agni itu rasa-rasanya telah membakar telinga lawannya. Namun kemampuannya ternyata terbatas, sehingga betapa-pun juga ia berusaha, namun ia tidak mampu mengatasi ilmu Mahisa Agni. Senapati Agung kerajaan Singasari, yang pernah mengalahkan Senapati Agung pada masa Kediri.

Demikianlah, maka akhir dari perkelahian itu menjadi semakin dekat. Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya menunggu saat yang sebaik-baiknya. Mereka menyesuaikan diri dengan perkelahian yang berat sebelah, setelah lawan Mahisa Agni kehabisan tenaga yang diperasnya untuk mempertahankan diri.

“Jika saat itu tiba,” berkata kawan-kawan Mahisa Agni didalam hatinya, “maka yang lain-pun akan terbunuh.”

Demikianlah, akhirnya Mahisa Agni mendapatkan kesempatan itu. Dengan belati panjang di tangan kirinya ia menangkis serangan lawannya yang menjadi terhuyung-huyung karena keseimbangannya yang hampir hilang. Namun saat yang paling pahit dari perjuangan untuk mendapat harta benda yang tertimbun di dalam istana wakil Mahkota itu segera tiba. Sebelum ia sempat memperbaiki keseimbangannya, maka pisau belati di tangan kanan Mahisa Agni telah menghunjam di dadanya, langsung menyobek jantung.

Pemimpin perampok itu tidak sempat menggeliat. Demikian ujung pisau Mahisa Agni ditarik dari dadanya, maka ia-pun segera rebah menelungkup di tanah.

Dan sesaat kemudian, nasib yang sama telah hinggap pula pada kawannya. Hampir bersamaan senjata kawan-kawan Mahisa Agni telah menyambar lawan-lawannya yang seakan-akan tinggal sekedar menunggu. Senjata Mahisa Agni yang menembus jantung itu bagaikan perintah bagi kawan-kawannya untuk berbuat serupa. Sehingga hampir bersamaan pula lawan-lawan Mahendra dan Kuda Sempana mengeluh pendek. Kemudian disusul dengan dua orang yang sedang bertempur melawan Witantra.

Mahisa Agni yang berdiri tegak di sebelah mayat lawannya mengusap keringat di dahinya dengan lengannya. Ternyata lawannya adalah lawan yang cukup berat baginya.

Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana-pun kemudian mendekatinya. Mereka tidak menemukan lawan seberat pemimpin perampok itu. Namun meskipun demikian, nafas mereka-pun menjadi terengah-engah dan keringat mereka-pun mengalir juga di seluruh tubuhnya.

“Bagaimana dengan mayat-mayat ini?” bertanya Witantra kepada Mahisa Agni.

“Kita harus menghilangkan jejaknya. Kita harus menyimpan rahasia ini sebaik-baiknya, supaya tidak ada ccritera yang bersimpang siur dari peristiwa ini.”

“Jadi, apakah kita akan mengubur mereka?”

“Ya, sebelum dketahui orang lain.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Jika demikian, kita akan membawanya ketempat yang tersembunyi.”

“Ya, sebelum ada orang yang melihat. Untunglah bahwa para prajurit itu benar-benar tidak meronda. Aku sudah mencegahnya sore tadi.”

Demikianlah maka mereka-pun segera membawa mayat-mayat itu menyingkir. Di bawah rimbunnya perdu di sudut kebun belakang, mereka telah menggali sebuah lubang yang besar dan dalam. Bagi Witantra menggali lubang itu ternyata jauh lebih melelahkan dari saat-saat ia harus berkelahi melawan dua orang lawannya.

Namun akhirnya mereka telah berhasil membuat lubang yang cukup dalam, untuk mengubur mayat-mayat itu sekaligus dan kemudian berusaha menghilangkan segala macam bekas perkelahian.

“Sekarang kita tinggal membersihkan diri kita masing-masing,” berkata Mahendra, “lalu aku kembali tidur di gubug Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

Demikianlah setelah semuanya selesai, maka mereka-pun segera kembali ke tempat masing-masing. Kuda Sempana masih sempat menggulung tali isyarat yang direntangkannya di halaman belakang.

Ketika tidak lama kemudian fajar membayang di langit, mereka yang baru saja bertempur di halaman belakang itu telah berbaring dipembaringan masing-masing. Namun bagaimana-pun juga mereka berusaha, mereka sama sekali tidak dapat melepaskan ingatan tentang usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Sri Rajasa itu.

Dalam pada itu, di Singasari, ternyata Sri Rajasa-pun sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ia-pun memperhitungkan bahwa semuanya akan terjadi malam ini. Bahkan dengan gelisahnya ia berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Sekali-sekali ia duduk di tepi pembaringannya, namun kemudian berdiri dan berjalan beberapa langkah.

Demikian juga agaknya penasehat Sri Rajasa itu. Ia-pun menduga bahwa semuanya sudah terjadi. Bahkan sudah terbayang di angan-angannya, besok pagi akan berpacu utusan dari Kediri mengabarkan bahwa telah terjadi bencana di istana wakil Mahkota. Para abdi di istana itu menemukan wakil Mahkota mati berlumuran darah, sedang isi istana itu habis dibawa oleh sekelompok perampok.

Singasari pasti akan gempar. Senapati Agung yang telah mengalahkan Senapati dari Kediri, diketemukan mati di dalam biliknya.

“Betapa tinggi ilmu Mahisa Agni, ia tidak akan dapat melawan lima orang sekaligus. Ia pasti akan binasa, karena selisih kemampuannya dengan saudara tertua mereka itu tidak terpaut banyak. Apalagi Sri Rajasa sendiri telah menjajagi kemampuannya dan menganggapnya bahwa ia akan mampu melakukan tugasnya bersama dua orang saudara seperguruannya,” berkata penasehat Sri Rajasa itu di dalam hatinya.

Karena itu, semakin dekat dengan datangnya pagi, rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Ia mulai membayangkan, seorang pelayan yang akan memasuki bilik Mahisa Agni terkejut dan menjerit. Kemudian beberapa orang prajurit datang berlari-larian. Tetapi yang mereka ketemukan hanyalah mayat Mahisa Agni dan barang-barang yang ada di dalam istana itu hilang.

“Benar-benar suatu perampokan yang gila, yang baru terjadi untuk pertama kalinya di sepanjang sejarah,” desisnya.

Ketika kemudian matahari terbit, Penasehat Sri Rajasa itu-pun segera menyiapkan diri untuk menghadap. Rasa-rasanya ia tidak betah lagi menahan gejolak perasaannya. Ia ingin mendapat penyaluran dan lawan berbicara mengenai peristiwa yang pasti telah terjadi di Kediri.

Sumekar yang membersihkan halaman istana diluar petamanan menjadi heran melihat Sri Rajasa itu pergi ke paseban jauh lebih pagi dari kebiasaannya. Dan karena paseban masih sepi, maka ia-pun langsung pergi ke bangsal Sri Rajasa.

Ternyata Sri Rajasa yang gelisah-pun telah berada di serambi belakang bangsalnya. Seperti kebiasaannya, di saat-saat senggang ia duduk di serambi belakang memandang tanaman yang sedang berbunga. Sebuah longkangan dengan batang-batang perdu yang hijau.

“O,” desis Sri Rajasa ketika ia melihat penasehatnya datang pagi-pagi.

“Ampun tuanku, hamba menghadap terlampau pagi karena hamba tidak dapat menahan diri untuk membicarakan apakah yang kira-kira terjadi semalam di Kediri,” berkata penasehat itu.

Sri Rajasa menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku-pun menjadi gelisah. Tetapi perjalanan dari Kediri memerlukan waktu. Jika pagi ini utusan itu berangkat, maka ia akan datang malam nanti.”

Penasehatnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan waktu yang sehari itu pasti akan menyiksanya.

“Tetapi, aku kira mereka tidak akan mengecewakan,” desis Penasehat itu.

“Aku percaya akan kemampuannya. Meskipun barangkali orang itu tidak dapat mengimbangi kemampuan Mahisa Agni, tetapi berlima Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat banyak. Aku menganggap bahwa kemampuan orang itu cukup tinggi.”

Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya kepada kata-kata itu, karena Sri Rajasa sendiri sudah langsung menjajaginya.

Demikianlah sehari itu penasehat Sri Rajasa menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia tidak sabar menunggu, bahwa akan ada utuskan datang dari Kediri mengabarkan peristiwa yang sudah terjadi.

Sumekar diam-diam memperhatikan Penasehat Sri Rajasa yang gelisah itu. Karena Sri Rajasa hari itu tidak hadir dipaseban, karena badannya yang kurang sehat, maka di siang hari sekali lagi Penasehatnya datang menghadap di bangsalnya.

“Bukankah Anusapati tetap berada di istana?” bertanya Sri Rajasa.

“Ya tuan. Putera Mahkota tetap berada di istana. Ia mematuhi perintah yang tuanku berikan.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika Anusapati meninggalkan istana, maka ada kemungkinan sebagai Kesatria Putih ia mengikuti para perampok itu ke Kediri dan jika kekuatannya bergabung dengan kekuatan Mahisa Agni, maka rencana itu memang dapat gagal.

Demikianlah Penasehat Sri Rajasa yang kemudian meninggalkan bangsal itu-pun pergi keregol depan. Dipandanginya jalan yang membelah kota Singasari membujur kearah yang jauh sekali. Tetapi ia masih belum melihat seseorang yang datang dari Kediri.

“Memang tidak mungkin. Nanti malam ia akan datang.”

Ketika ia berjalan memasuki halaman dalam istana, Sumekar yang berjongkok di pinggir lorong di antara tetanaman memberanikan diri bertanya, “Tuan, tampaknya tuan menjadi gelisah sekali. Aku yang tidak mengetahui persoalan apa-pun menjadi ikut gelisah. Apakah ada musuh yang mengancam Singasari.”

“Bodoh kau. Tidak ada satu negeri-pun yang akan memusuhi Singasari. Sri Rajasa sudah berhasil menyatukan bagian-bagian yang semula terpecah belah,” jawab Penasehat Sri Rajasa itu.

Sumekar yang masih berjongkok mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia bertanya pula, “Jika demikian, apakah tuan melihat sesuatu yang tidak wajar terjadi di istana ini, atau barangkali keluarga tuan akan datang.”

Penasehat itu memandang Sumekar dengan tajamnya, lalu bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu?”

“Tuan nampaknya gelisah sekali. Tuan berjalan hilir mudik antara bangsal dan paseban serta regol depan istana.”

“O,” Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku sedang menunggu isteriku. Aku sudah menyampaikannya kepada tuanku Sri Rajasa. Sedang isteriku itu agak sakit-sakitan.”

“O,” Sumekar mengangguk-angguk, “kenapa tuan tidak memerintahkan beberapa orang menjemput dengan sebuah tandu.”

“Isteriku akan datang di atas tandu.”

“O,” Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

Penasehat itu tidak menghiraukan Sumekar lagi. Juru taman itu ditinggalkannya pada kerjanya di pinggir lorong di dalam halaman istana. Namun pertanyaan-pertanyaan Sumekar itu memberikan pertimbangan kepada Penasehat Sri Rajasa, bahwa kegelisahannya itu dapat dibaca oleh orang lain.

Betapa lama mereka menunggu, namun akhirnya malam datang juga menyelimuti Singasari. Lampu minyak mulai menyala dan jalan-jalan menjadi sepi. Pintu-pintu telah tertutup rapat, karena udara yang dingin bertiup bersama angin dari Selatan.

Kegelisahan di hati Penasehat Sri Rajasa menjadi semakin memuncak. Demikian juga Sri Rajasa sendiri, sehingga ketika Penasehatnya datang ke bangsalnya ia berkata, “Kau tetap disini. Jika ada laporan yang datang, maka orang itu akan dibawa langsung menghadap.”

“Hamba tuanku,” jawab Penasehat itu.

Namun meskipun mereka mencoba mengisi waktu yang menegangkan itu dengan berbagai macam persoalan, mereka ternyata menjadi tidak sabar menunggu.

“Malam menjadi semakin larut. Jika pagi-pagi benar utusan itu berangkat dari Kediri, maka sekarang ia pasti sudah datang, atau memasuki kota. Kita akan menunggu sejenak lagi.” berkata Sri Rajasa.

Tetapi yang mereka tunggu tidak juga segera datang. Betapa kegelisahan telah memuncak dihati keduanya, namun tidak seorang-pun yang menghadap dan memberitahukan bahwa ada utusan datang dari Kediri.

“Mungkin mereka belum mendapat kesempatan malam kemarin tuanku,” berkata Penasehat Sri Rajasa, “jika demikian, maka mereka baru dapat melakukannya malam ini. Karena itu, maka kita masih harus bersabar sehari besok. Besok malam pasti akan datang berita yang menggembirakan itu.”

Sri Rajasa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun matanya tetap terpancang dikejauhan. Bahkan sejenak kemudian ia berkata, “Tinggalkan aku sendiri.”

Penasehat Sri Rajasa itu membungkukkan badannya dalam-dalam. Kemudian dengan hati yang berdebar-debar ia meninggalkan Sri Rajasa yang duduk dengan murung.

Namun dalam pada itu, bukan saja Sri Rajasa dan Penasehatnya sajalah yang menjadi gelisah. Sumekar-pun menjadi gelisah seperti juga Sri Rajasa.

Oleh kegelisahan yang memuncak, maka Sumekar-pun tidak dapat duduk diam di dalam biliknya. Dengan hati-hati ia-pun merayap keluar dan ditempat yang terlindung oleh bayangan dedaunan ia melocati dinding keluar istana.

“Mungkin aku dapat menemui salah seorang dari mereka,” berkata Sumekar di dalam hatinya.

Meskipun Sumekar tidak pasti, tetapi ia pergi juga ke tempat yang ditentukan untuk menemui salah seorang dari kawan-kawan Mahisa Agni.

Sumekar menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Mahendra seorang diri menunggunya dengan gelisah pula.

“Hampir saja aku pergi,” berkata Mahendra.

“Apakah yang terjadi?”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. “Perang memang sudah mulai,” katanya. Lalu, “Ternyata bahwa Ken Arok itu mulai dengan cara-cara Hantu di Padang Karautan.”

“Apa yang dilakukan?”

“Ia menjadi kasar.” Dan Mahendra-pun kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi.”

“Jadi benar dugaanku. Untunglah bahwa Mahisa Agni sempat menyelamatkan diri karena kalian ada di sana.”

“Kaulah yang paling berjasa. Tanpa keteranganmu, kami tidak cukup bersiaga.”

“Itu-pun suatu kebetulan.”

“Baiklah, katakanlah itu suatu kebetulan. Tetapi Mahisa Agni sangat berterima kasih kepadamu.”

Sumekar tersenyum. Ia-pun merasa bersyukur, bahwa Mahisa Agni telah terlepas dari bahaya maut. Betapa besar kemampuannya, namun menghadapi orang-orang yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi itu bersama-sama, Mahisa Agni pasti akan mengalami kesulitan.

“Tetapi kemudian, Mahisa Agni sangat mencemaskan nasib Putera Mahkota,” berkata Mahendra kemudian, “karena itu aku membawa pesan dari kakang Mahisa Agni, kau harus mengawasinya baik-baik. Meskipun kemampuan Putera Mahkota semakin meningkat di saat-saat terakhir dan bahkan hampir menjadi matang pula, namun apabila ia dihadapkan pada keadaan yang kasar, seperti yang dihadapi oleh kakang Mahisa Agni, maka ia akan benar-benar mengalami kesulitan. Adalah sulit sekali untuk memberikan bantuan kepadanya meskipun kami mengetahui bahaya yang mengancamnya. Kau adalah satu-satunya orang yang ada di dalam.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam.

“Bagaimana dengan tuanku Mahisa Wonga Teleng?”

“Kemampuannya meningkat juga.”

Mahendra merenung sejenak. Lalu, “Memang sulit bagimu untuk mengikuti serta membinanya. Mungkin tanpa disadarinya ia menyebut namamu. Dengan demikian semuanya akan menjadi rusak.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Memang semakin banyak orang yang mengetahui persoalannya akan menjadi semakin gawat.”

“Tetapi kau dapat mendesak kepada Putera Mahkota, agar usahanya menuntun adiknya agak dipercepat. Di dalam keadaan yang paling sulit, ia akan dapat membantunya betapa-pun kecil artinya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, hati-hatilah. Besok aku akan kembali ke Kediri.”

“Sampaikanlah kepada kakang Mahisa Agni. Penasehat Sri Rajasa menjadi sangat gelisah. Mungkin ia menunggu berita yang datang dari Kediri. Agaknya ia tidak sabar lagi menunggu berita kematian Mahisa Agni.”

Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Itu adalah suatu berita yang menyenangkan. Ia akan tetap gelisah sehingga pada suatu batas tertentu ia akan mengambil sikap. Aku akan minta agar untuk beberapa hari Mahisa Agni tidak menampakkan diri.”

Keduanya-pun kemudian berpisah. Sumekar kembali masuk kehalaman istana dengan meloncati dinding. Dengan hati-hati ia menuju ke biliknya dan duduk beberapa saat di depan pintu.

Angin malam yang sejuk mengusap wajahnya yang tegang. Terbayang peristiwa yang terjadi di Kediri. Untunglah bahwa Mahisa Agni masih tetap mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung, sehingga ia berhasil menyelamatkan diri.

Sumekar tetap duduk di tempatnya ketika ia melihat dua orang prajurit peronda yang lewat. Ketika keduanya melihat Sumekar duduk di depan pintu, salah seorang dari mereka bertanya, “He, kenapa kau duduk disitu?”

“Aku tidak dapat tidur. Panasnya bukan main di dalam gubugku.”

Kedua prajurit itu tidak menyahut. Ditinggalkannya Sumekar yang masih tetap duduk ditempatnya memandang jauh menembus gelapnya malam.

Pada saat itu, ternyata Sri Rajasa sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ternyata tidak ada seorang utusan-pun yang datang dari Kediri, yang dengan nafas terengah-engah melaporkan bahwa wakil Mahkota itu telah terbunuh di dalam suatu perampokan yang paling besar yang pernah terjadi.

“Mungkin malam ini,” demikianlah setiap kali Sri Rajasa menenterampan dirinya sendiri. Tetapi setiap kali timbul pertanyaan, “Bagaimana jika gagal dan bahkan Mahisa Agni berhasil menangkap mereka dan memaksa mereka berbicara?”

Kegelisahan yang sangat telah mencengkam hati Sri Rajasa. Namun sambil menggeram ia berkata, “Tidak ada yang dapat membuktikan bahwa aku pernah memerintahkannya. Aku dapat menganggapnya sebagai suatu fitnah yang keji.” Meskipun demikian Sri Rajasa masih tetap tidak dapat memejamkan matanya. Kegelisahan yang sangat selalu mengganggunya.

Demikian jugalah Penasehat yang berjalan hilir mudik didalam biliknya. Sama sekali tidak dapat dibayangkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi seperti Sri Rajasa ia berkata kepada diri sendiri, “Malam ini. Semuanya akan terjadi malam ini.”

Namun ketika hari berikutnya menjadi semakin pudar, dan kegelisahan yang sangat telah mencekam hati Sri Rajasa dan Penasehatnya, namun tidak ada juga seorang-pun yang datang dari Kediri untuk melaporkan sesuatu yang telah terjadi.

“Gila,” Sri Rajasa bergumam kepada diri sendiri, “apakah mereka tidak berani melakukannya?”

Penasehatnya yang menghadap, sama sekali tidak dapat memberikan jawaban.

“Atau barangkali Mahisa Agni sempat memanggil pada prajurit dan menangkap mereka?”

“Jika demikian tuanku, agaknya pasti akan datang juga laporan tentang perampokan yang gagal itu,” berkata Penasehatnya.

Penasehatnya menundukkan kepalanya.

“Jika sekali ini gagal, aku harus mempergunakan kekerasan. Aku akan menjatuhkan perintah menangkap Mahisa Agni tanpa bersembunyi.”

“Jangan tuanku. Alasan apakah yang akan tuanku pergunakan untuk melakukannya? Tuanku hanya diburu oleh perasaan, tetapi tuanku harus tetap mempertahankan keseimbangan. Tuanku telah memberikan petunjuk kepada hamba, bagaimana gagal mempergunakan Kiai Kisi. Dan tuanku telah berusaha melakukannya dengan cara yang jauh lebih halus. Jika sekarang tuanku berbuat sebaliknya, maka yang terjadi-pun akan sebaliknya.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya. Aku tidak boleh kehilangan akal. Aku harus menyusun rencana sebaik-baiknya.”

Sekilas terbayang hasil yang pernah dicapai dengan permainannya yang tidak dapat diketahui oleh orang lain. Jika ia kini berbuat kasar, maka seakan-akan sia-sialah apa yang pernah dicapainya itu. Bahkan mungkin akan dapat timbul pertentangan di antara para prajurit di Singasari, sehingga kebesaran Singasari yang sudah dapat dicapainya selama ini akan menjadi pudar karenanya.

Meskipun demikian ia harus mencari jawab, bagaimanakah jika Mahisa Agni dapat mengetahui apa yang sudah dilakukannya. Bukan saja kini, tetapi dengan demikian Mahisa Agni pasti menelusur masa lampaunya. Kematian pamannya, seorang Empu yang mumpuni, Empu Gandring.

Demikianlah pada hari berikutnya dan hari berikutnya tidak juga ada seorang-pun yang datang menghadap, sehingga kegelisahan Sri Rajasa telah sampai ke puncaknya.

“Akulah yang akan memerintahkan seseorang pergi ke Kediri untuk melihat apa yang sudah terjadi disana,” berkata Sri Rajasa.

“Benar tuanku. Tetapi hamba mohon agar kepergiannya bukan merupakan seorang, utusan resmi tuanku,” berkata penasehatnya.

“Maksudmu?”

“Hamba akan mengirimkan seorang petugas sandi yang dapat hamba percaya untuk mengetahui keadaan sebenarnya.”

Sri Rajasa mengangguk-angguk. Jawabnya, “Lakukanlah.”

Penasehat itu mengerutkan keningnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada Sri Rajasa. Seakan-akan gairah perjuangan yang selama ini menyala di dadanya menjadi semakin pudar. Nafsu yang membakar hasratnya untuk menjadikan Singasari sebuah negara yang besar, rasa-rasanya kini sedang mengalami masa surut yang dapat membahayakan Sri Rajasa sendiri, sehubungan dengan keinginannya mewariskan tahta kepada Tohjaya, bukan kepada Putera Mahkota.

Tetapi penasehat itu tidak bertanya lagi. Ia masih harus mengumpulkan kenyataan-kenyataan yang telah terjadi di Kediri. Jika masih ada tanda-tanda yang dapat membangkitkan gairah perjuangan Sri Rajasa, maka agaknya kesempatan masih belum lewat seluruhnya.

Namun Penasehat Sri Rajasa itu masih berusaha, agar Tohjaya tidak melihat kekecewaan yang hampir-hampir telah mematahkan semua usaha ayahandanya. Penasehat Sri Rajasa itu masih berusaha, agar bayangan-angan yang suram mulai menghantui ayahandanya, tidak berpengaruh atas Tohjaya.

Tetapi dalam pada itu, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu sendiri, seakan-akan selalu saja dibayangi oleh masa lampaunya. Jalan yang dilalui sampai ke Singgasana sekarang ini bukannya jalan yang bersih dan rata. Tetapi jalan yang berlumuran dengan darah dan noda-noda kejahatan. Meskipun Singasari sekarang diakui sebagai suatu hasil perjuangan yang gemilang, namun noda-noda darah itu rasa-rasanya masih tetap melekat ditangan Sri Rajasa.

Dalam pada itu, Penasehat Sri Rajasa itu benar-benar telah mengirimkan seorang kepercayaannya dalam tugas sandi. Ia harus melihat apa yang terjadi di istana wakil Mahkota di Kediri.

Tetapi yang dilihat oleh petugas sandi itu benar-benar mendebarkan jantung. Ia tetap melihat Mahisa Agni pada tugasnya tanpa cidera seujung rambutpun. Ia sama sekali tidak mendengar berita dari orang-orang yang dekat dengan keluarga istana atau-pun tentang perampokan yang pernah terjadi. Sebagai seorang petugas sandi ia mempunyai kemahiran mengorek keterangan dari orang-orang yang dianggapnya berkepentingan. Namun para prajurit yang bertugas di istana itu-pun tidak pernah mendengar bahwa pernah terjadi keributan di istana itu.

“Aku harus dapat berhubungan dengan pelayan-pelayan di istana ini. Bukan sekedar dengan para prajurit yang setiap kali berganti tugas,” katanya.

Tetapi untuk menghubungi pada abdi di istana itu memang agak sulit. Tidak banyak jalan yang dapat ditempuh. Jarang sekali para abdi pergi keluar regol istana.

Setelah melakukan pengamatan beberapa lamanya, petugas sandi itu melihat, bahwa seorang daripada para abdi itu agaknya mempunyai keleluasan yang lebih besar dari abdi yang lain. Setiap kali ia melihat abdi yang seorang itu di regol. Abdi itu pulalah yang kadang-kadang menyongsong kedatangan Mahisa Agni apabila ia datang dari istana Kediri yang sampai saat terakhir masih dipergunakan oleh keluarga terdekat dari Maharaja Kediri yang terkalahkan.

“Orang itu agaknya mempunyai kedudukan yang agak baik di dalam istana itu,” berkata petugas itu di dalam hatinya.

Akhirnya petugas itu berhasil menemui abdi yang dianggapnya mempunyai kedudukan baik itu. Ternyata orang itu adalah juru taman, tetapi juga seorang pekatik dan juru pemelihara kuda khususnya kuda kesayangan Mahisa Agni.

Dan orang itu adalah Kuda Sempana meskipun ketika petugas sandi itu berhasil memperkenalkan dirinya. Kuda Sempana menyebut dirinya bernama Ki Jalu.

“Apakah kau sudah lama mengabdikan diri kepada tuanku wakil Mahkota,” bertanya petugas sandi itu.

“Sudah. Aku berada di istana ini sejak tuanku Mahisa Agni memasuki istana ini. Pamanku adalah abdi istana ini sejak muda. Pamanku itulah yang membawa aku masuk ke istana itu.”

“Ki Sanak,” berkata petugas sandi itu, “apakah kau dapat menolong aku mengusahakan pekerjaan di istana itu?”

Kuda Sempana memandanginya dengan saksama. Lalu, “Aku kira tidak ada yang menarik bekerja di istana itu. Mahisa Agni adalah orang yang paling kikir dari setiap pemimpin yang pernah aku jumpai.”

“Benar begitu?”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun sejak semula Kuda Sempana sudah menaruh curiga, bahwa orang itu pasti mempunyai kepentingan yang khusus dengan abdi yang mungkin dapat dikenalnya.

“Terlalu kikir. Kadang-kadang timbul suatu keinginan yang jahat dihati ini.”

“Kenapa?”

“Kadang-kadang aku ingin mencuri atau kalau aku memiliki kemampuan, ingin juga rasa-rasanya merampok isi istana ini.”

Petugas sandi itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah memang pernah terjadi perampokan.”

“Hanya orang gila yang membunuh diri yang berani melakukannya. Setiap orang tahu, bahwa tuanku Mahisa Agni tidak ada duanya di Kediri.”

“Bagaimana jika empat atau lima orang bersama-sama.”

“Bodoh sekali. Ada sepuluh orang prajurit yang setiap malam berjaga-jaga di halaman ini. Jika dihitung dengan semua laki-laki yang tinggal di bagian belakang, ada lebih dari dua-puluh orang.”

“Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit biasa. Bagaimana jika yang datang itu lima orang pilihan seperti tuanku Wakil Mahkota.”

Kuda Sempana tertawa. Katanya, “Itu suatu mimpi buruk. Sudahlah, jangan mencoba menjadi hamba di istana itu. Aku yang sudah terlanjur bekerja pada Wakil Mahkota, rasa-rasanya ingin mendapatkan pekerjaan lain yang lebih bebas.”

Petugas sandi itu mengerutkan keningnya. Ia harus mendapat keterangan, apakah pernah terjadi sesuatu di istana itu. Apakah orang-orang yang ditugaskan oleh Sri Rajasa untuk membunuh Mahisa Agni sudah melakukan usahanya.

Tetapi ternyata menurut juru taman, di istana ini tidak pernah terjadi sesuatu. Tidak pernah terjadi perampokan, apalagi usaha pembunuhan. Jika hal itu terjadi, maka juru taman ini pasti akan menceriterakan kepadanya.

“Jadi,” berkata petugas sandi itu, “tidak ada seorang perampok-pun yang pernah mencoba melakukan perampokan di istana ini?”

Kuda Sempana menggeleng. Tetapi kecurigaannya kepada orang ini-pun menjadi kian bertambah.

“Atau barangkali kau sedang tidak ada di istana?”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku tidak pernah pergi untuk waktu yang lama. Memang aku kadang-kadang menengok keluargaku jauh dari kota. Tetapi tidak lebih dari semalam, aku sudah kembali lagi.”

“Jika yang semalam itu.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Katanya, “Tentu ada juga orang lain yang mengatakannya. Mereka pasti akan berceritera tentang perampokan itu. Tetapi aku tidak pernah mendengarnya. Dan aku juga tidak pernah melihat perampok-perampok yang tertawan atau terbunuh. Jika mereka tertangkap, mereka pasti ada ditangan para prajurit, sedang jika mereka terbunuh, mereka pasti akan dikuburkan.”

Petugas sandi itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata para perampok yang mendapat tugas untuk membunuh Mahisa Agni itu tidak pernah melakukan tugasnya sebagaimana yang pernah disanggupinya.

Tetapi petugas sandi itu tidak langsung mempercayai keterangan Kuda Sempana. Ia masih mengharap keterangan dari orang-orang lain, karena mungkin juru taman itu tidak mengetahui persoalan itu atau mungkin ia sengaja menyembunyikannya.

Namun hampir setiap orang yang dihubunginya, mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendengar tentang sebuah perampokan yang terjadi di istana, sehingga akhirnya petugas itu yakin bahwa memang perampok itu tidak pernah terjadi.

Dengan hati yang berdebar-debar petugas itu-pun kembali ke Singasari. Jika penasehat Sri Rajasa itu tidak mempercayainya, maka ia akan dapat dituduh melakukan tugasnya sebaiknya. Namun menurut penilaiannya, sesuai dengan keterangan-angan yang didengarnya, maka laporan yang dibawanya itu adalah suatu kebenaran. Penasehat Sri Rajasa dapat mengirimkan petugas yang lain yang pasti akan mendapat keterangan yang sama pula.

Sebenarnya, bahwa keterangan itu tidak langsung dapat dipercaya. Meskipun penasehat Sri Rajasa itu tidak mempersoalkannya, namun diam-diam ia mengirimkan orang lain untuk tidak mempersoalkan tugas yang sama. Tetapi keterangan yang diterimanya tidak berbeda. Di istana wakil Mahkota di Kediri, tidak pernah terjadi sesuatu. Apalagi pembunuhan. Mahisa Agni masih tetap berada di istana itu dan melakukan tugasnya seperti biasa.

“Gila,” Sri Rajasa menggeram, “apakah sebenarnya yang mereka lakukan? Apakah keuntungan mereka dengan melakukan penipuan serupa itu. Ia tidak akan dapat memeras aku dengan rahasia yang didengarnya atas usaha pembunuhan terhadap Mahisa Agni. Tidak akan ada seorang-pun yang mempercayainya dan ia akan segera aku binasakan atas dukungan para panglima.”

“Tentu bukan itu maksudnya tuanku.”

“Jadi apa?”

“Itulah yang hamba tidak tahu.”

Sri Rajasa menjadi termangu-mangu sejenak. Namun tampak pada sorot matanya, bahwa seakan-akan ia telah dicengkam oleh kelelahan yang amat sangat. Wajahnya seakan-akan sudah tidak memancarkan kebesaran pribadinya sebagai seorang Maharaja yang telah berhasil mempersatukan seluruh Singasari.

“Tuanku,” berkata Penasehat Sri Rajasa, “perkenankanlah hamba pergi kepadepokan mereka. Perkenankanlah hamba melihat, apakah mereka ada di sarangnya. Dengan demikian, tuanku akan mendapat gambaran yang sebenarnya dari orang-orang itu.”

Sri Rajasa mengangguk-angguk kosong. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Pergilah.”

Dihari berikutnya Penasehat Sri Rajasa itu-pun benar-benar pergi menyelusuri jejak para perampok yang mendapat tugas untuk membinasakan Mahisa Agni.

Namun yang dijumpainya dipadepokan itu benar-benar telah menggoncangkan perasaannya. Dari para murid yang masih tinggal, penasehat Sri Rajasa itu mendengar, bahwa guru mereka bersama saudara-saudara seperguruan mereka, telah pergi beberapa lama, dan sampai sekarang masih belum kembali.

Ternyata kedatangannya adalah sia-sia. Ia sama sekali tidak mendapat gambaran dari apa yang sudah terjadi. Ia sama sekali tidak dapat menduga, kemanakah mereka pergi dari apakah yang sudah terjadi atas mereka.

Karena itu, sambil menundukkan kepada dalam-dalam, penasehat Sri Rajasa kembali ke Singasari dan menyampaikan hasil perjalanannya.

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Sambil menatap ke kejauhan ia berkata, “Mendung yang tebal sedang memayungi Singasari.”

“Tetapi matahari akan segera bersinar kembali tuanku. Hamba akan tetap berusaha, apa-pun yang akan mungkin terjadi atas hamba. Tetapi putera tuanku dan tuan puteri Ken Umang itu memang sepantasnya menggantikan kedudukan tuanku.”

Sri Rajasa tidak menyahut. Tetapi ia masih tetap memandang ke kejauhan.

“Tuanku, bagaimanakah jika hamba mengatakan rahasia yang sebenarnya kepada tuanku Anusapati, agar ia menyadari dirinya sendiri?”

“Maksudmu?”

“Putera Mahkota itu harus menyadari, bahwa sebenarnya ia tidak berhak menggantikan kedudukan tuanku menjadi Maharaja di Singasari, karena tuanku Anusapati sama sekali bukan putera tuanku.”

“Gila.” Sri Rajasa menggeram, “kau sudah gila. Itu tidak akan bermanfaat. Ia akan bertanya siapakah ayahnya, dan ia akan bertanya, siapakah yang membunuh ayahnya.”

“Tidak seorang-pun yang tahu, dan tidak seorangpun, yang akan dapat memberitahukan kepadanya. Apalagi ayahnya hanyalah seorang Akuwu Tumapel, sama sekali tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan Singasari sekarang.”

“Tetapi Tumapel adalah sumber kekuasaan Singasari sekarang. Dan ia akan tetap merasa berhak atas tahta Tumapel yang mendapatkan bentuknya yang sekarang.”

“Tuanku Anusapati tidak akan berani berbuat demikian tuanku. Ia tidak melihat apa yang sudah terjadi. Meskipun seandainya ibunda tuanku Anusapati berceritera tentang masa lampau, namun ia dapat tidak akan terlalu banyak menyinggung tentang Akuwu Tumapel.”

Tetapi Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau melupakan seseorang yang mengetahui terlampau banyak apa yang telah terjadi.”

Penasehatnya mengerutkan keningnya.

“Mahisa Agni. Ia memang sumber dari awan gelap yang membayangi tahta Singasari sekarang, sehingga rasa-rasanya aku telah duduk diatas bara yang menyala.”

Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Mahisa Agni adalah seorang manusia yang seakan-akan memiliki keajaiban. Sri Rajasa adalah seorang yang ajaib, tetapi ia tidak mampu melenyapkan Mahisa Agni dengan berbagai macam cara.

Bahkan orang-orang yang paling dipercaya yang dikirim ke Kediri itu bagaikan telah hilang tanpa bekas. Tidak seorang-pun di Kediri yang pernah menceriterakan tentang kehadiran mereka, tetapi ternyata mereka telah hilang begitu saja.

“Sesuatu peristiwa yang hampir tidak dapat aku mengerti,” berkata Sri Rajasa kemudian. “kemanakah sebenarnya orang-orang itu pergi. Apakah mereka mengurungkan niatnya, atau mereka telah disergap oleh petugas-tugas sandi Mahisa Agni sebelum mereka sampai ke istana.”

“Dimana Mahisa Agni dapat mengetahuinya tuanku. Hanya kita sajalah yang mengetahui bahwa orang-orang itu akan membunuh Mahisa Agni di istananya dan merampoknya sekali.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Bayangan-angan yang semakin suram tampak di angan-angannya. Bahkan kadang-kadang ia merasa bahwa Dewa-dewa yang selama ini melindunginya, sejak ia masih berkeliaran di Padang Karautan, telah meninggalkannya sama sekali.

Setiap kali terbayang usahanya menyeberangi sebuah sungai dengan daun tal karena petunjuk sebuah suara dari langit. Terbayang kembali ceritera tentang kelelawar yang seakan-akan keluar dari kepalanya di malam hari ketika ia menginginkan buah jambu yang bergantungan di batangnya.

Banyak ceritera-ceritera ajaib tentang dirinya yang sama sekali tidak diketahuinya sendiri bagaimana hal itu dapat terjadi. Yang kemudian dianggapnya bahwa semua itu adalah tuntunan dewa-dewa yang mengasihinya seperti yang dikatakan oleh Empu Purwa. Pertama kali ia bersentuhan dan mengenal Yang Maha Agung adalah karena ia bertemu dengan seorang pendeta dan muridnya yang bernama Mahisa Agni itu.

Tiba-tiba saja Sri Rajasa menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya, seakan-akan cahaya yang silau telah memancar dan menyorot wajahnya. Cahaya sebuah trisula kecil yang dimiliki oleh Empu Purwa.

Semuanya seakan-akan telah terjadi sekali lagi di dalam angan-angannya. Dan semuanya itu rasa-rasanya telah membuatnya semakin berkecil hati.

“Memang Mahisa Agni bukan manusia kebanyakan.” tiba-tiba ia berdesis.

“Apakah maksud tuanku?”

Sri Rajasa mengangkat wajahnya.

“Tuanku tidak boleh berputus-asa. Ingatlah, bahwa tuanku Tohjaya sudah mulai. Jika kerja ini terhenti di tengah jalan, alangkah pedihnya hati putera tuanku itu. Ia pasti tidak akan memiliki hari depan yang terang.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata kata-kata penasehatnya itu dapat menyentuh hatinya. Meskipun ia berputus asa dan kehilangan gairah perjuangannya, namun ia tidak dapat membiarkan Tohjaya korban keputus-asaannya itu, sehingga apabila ia masih tetap berbuat sesuatu, maka segalanya itu hanyalah untuk Tohjaya.

Namun dalam pada itu, Mahisa Agni-pun menyadari pula, bahwa banyak hal dapat terjadi. Bukan saja atas dirinya, tetapi juga atas Putera Mahkota.

Itulah sebabnya hampir setiap saat ia memikirkan apakah yang sebaiknya dilakukan untuk keselamatan Anusapati.

Waktu masih tetap beredar terus. Demikian juga Singasari yang tampak megah itu masih juga memerintah daerah-daerah yang telah dipersatukan oleh Sri Rajasa menjadi suatu daerah lingkup yang luas. Sedang Mahisa Agni masih juga tetap berada di Kediri. Namun waktu yang berkisar terus itu-pun ternyata telah melibatkan bumi seisinya. Yang tua menjadi semakin tua, dan yang telah tidak dapat bertahan lagi, kemudian dipanggil kembali keasalnya.

Tidak seorang-pun lagi yang tahu, kemanakah perginya orang-orang seperti Empu Purwa, Empu Sada, Panji Bojong Santi dan yang lain lagi yang sebaya dengan mereka. Setiap orang menganggap bahwa mereka telah menemukan jalannya kembali. Juga ibu Mahisa Agni yang ada di istana Singasari, sebagai seorang emban, telah berlalu diiringi oleh tangis Ken Dedes yang merasa menjadi momongannya sampai saat terakhir. Namun yang sampai saat terakhir masih juga tidak mengenal siapakah sebenarnya perempuan itu, dan apa hubungannya dengan Mahisa Agni.

Tetapi ternyata bahwa beban itu tidak dapat disimpannya sampai akhir hayatnya. Di saat maut menyentuhnya, ada orang yang menjadi ajang untuk menumpahkan perasaannya yang selama ini menjadi rahasia baginya.

“Tidak seorang-pun yang boleh mengetahuinya,” berkata emban tua itu. “Apalagi tuanku Permaisuri sendiri.”

Dan perempuan yang mendapat kepercayaan itu adalah emban Anusapati, yang semula adalah perempuan yang dipasang oleh Ken Umang justru untuk menyesatkan Putera Mahkota, namun yang akhirnya justru mengenal dirinya sebagai manusia yang beradab dan tanpa menghiraukan yang dapat terjadi telah benar-benar mengasuh Anusapati sebagai anaknya sendiri. Dengan demikian, maka hubungan ibu dan anak telah mendekatkan hubungan kedua emban pemomong itu.

Dikala saat-saat terakhir sudah mulai menyentuhnya, semua rahasia tentang dirinya dikatakannya kepada emban itu, sekedar untuk mengosongkan dirinya, agar maut tidak dibebani oleh rahasia yang belum terungkapkan.

Karena itulah maka emban itu tidak menjadi heran, melihat Mahisa Agni, seorang Senapati Agung yang pernah mengalami peperangan yang paling dahsyat menitikkan air matanya di saat-saat terakhir dari hidup emban itu.

Demikianlah yang berlalu telah berlalu. Dan emban itu-pun semakin lama menjadi semakin tua. Namun seperti emban pemomong Ken Dedes yang kemudian menjadi permaisuri, rahasia itu tetap merupakan rahasia baginya.

Namun setiap kali timbul pula pertanyaan dihati emban Putera Mahkota yang menjadi semakin tua pula, apakah di saat-saat akhir hayatnya ia juga akan tetap membawa rahasia itu?

“Ibunda tuanku Mahisa Agni yang menjadi wakil Mahkota di Kediri itu tidak dapat menahan rahasia itu di dalam dirinya sendiri pada saat-saat terakhir. Jika tiba saatnya, aku nanti akan mengalaminya, apakah aku harus mencari tempat yang paling baik untuk meninggalkan pesan itu, seperti juga ibunda tuanku Mahisa Agni itu?” pertanyaan serupa itu selalu membayangi hati emban pemomong Anusapati yang semakin hari menjadi semakin tua pula.

Dalam pada itu, untuk beberapa lamanya istana Singasari seolah-olah menjadi tenang. Sri Rajasa yang selalu kecewa itu seakan-akan telah kehilangan gairah perjuangannya untuk menempatkan Tohjaya di atas tahta Singasari. Hanya karena dorongan penasehatnya sajalah ia masih tetap memikirkan cara yang sebaik-baiknya untuk melakukannya. Tetapi setiap kali, jalan yang disusunnya selalu sampai pada kesulitan yang tidak teratasi. Apalagi semakin lama kedudukan Anusapati rasa-rasanya semakin mapan.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Tohjaya-pun tidak tinggal diam. Atas sepengetahuan ayahandanya, ia mendekati para panglima prajurit Singasari dan segala kesatuan. Dengan berbabagai cara, ia berusaha untuk dengan perlahan-lahan menguasainya seorang demi seorang. Dengan berbagai macam pemberian dan janji yang mengawang mengharap dukungan dari para Panglima apabila terjadi sesuatu kelak.

“Kekuatan Singasari terletak di tangan kalian,” berkata Tohjaya setiap kali.

Bukan saja Tohjaya, tetapi juga Sri Rajasa mengharap mereka pada suatu saat menentukan sikap apabila mereka berdiri di persimpangan jalan.

“Apakah yang sebenarnya akan terjadi tuanku?” bertanya salah seorang Panglima.

“Tidak ada apa-apa,” sahut Sri Rajasa, “Singasari akan tetap menjadi Singasari yang besar. Keturunan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi harus tetap di atas tahta.”

Para Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka masih belum tahu apakah sebenarnya yang telah melibat Singasari sehingga Sri Rajasa tampaknya membayangkan kecemasan menghadapi masa depannya.

Dalam pada itu, Anusapati mencoba untuk menempatkan diri pada tempat yang sewajarnya. Kadang-kadang tanpa ijin Ayahanda Sri Rajasa ia telah melakukan tindakan-akan yang memang sewajarnya dilakukan oleh seorang Putera Mahkota.

Selain tugasnya di dalam pemerintahan, maka di dalam lingkungan keluarganya-pun Anusapati nampaknya tidak terlalu kecewa. Anaknya, seorang laki-laki semakin lama nampak menjadi semakin besar. Wajahnya yang tampan serta badannya yang kokoh membayangkan harapan dimasa mendatang baginya.

Emban pemomong Anusapati itulah yang selalu merawatnya dengan penuh kasih sayang seperti merawat cucunya sendiri. Hampir setiap saat anak itu tidak terpisah daripadanya, kecuali apabila anak itu sedang tidur di dalam pelukan ibundanya.

Hampir sebaya dengan putera Anusapati itu, putera Mahisa Wonga Teleng-pun tumbuh dengan suburnya pula. Sehingga setiap kali kedua anak-anak yang segar itu menghadap Permaisuri, maka keduanya adalah penawar duka dan keprihatinan yang hampir dialami sepanjang umurnya. Kedua cucu laki-laki itu bagaikan permainan yang tidak akan pernah menjemukannya.

Namun dalam pada itu, kecemasan Mahisa Agni atas keselamatan Anusapati semakin lama justru menjadi semakin dalam menghunjam dihatinya. Ada semacam firasat didalam dirinya, bahwa usaha Tohjaya untuk menyingkirkan Anusapati pasti akan selalu dilakukannya. Kapan dan bagaimana-pun cara yang akan ditempuhnya.

Karena itu, ketika kecemasannya memuncak, maka diambilnya suatu kesempatan untuk menemui Putera Mahkota itu tanpa diketahui oleh siapa-pun juga.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “kau harus mengetahui bahwa bahaya yang ada disekelilingmu bukannya sekedar bahaya yang mengancam kedudukanmu. Tetapi juga keselamatan jiwamu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Memang hampir tidak masuk akal, bahwa kau-pun harus mempersiapkan diri menghadapi siapa-pun juga di dalam istana ini. Bahkan ayahandamu Sri Rajasa.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Dengan suara yang dalam ia bertanya, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi paman?”

“Memang hampir tidak masuk akal. Tetapi kau harus menyadari bahwa pengaruh Ken Umang sangat mencengkam hampir segenap segi kehidupan Sri Rajasa,” jawab Mahisa Agni. Namun untuk sesaat suaranya terputus. Hampir saja ia mengatakan bahwa sebenarnyalah bahwa Anusapati bukan putera Sri Rajasa. Namun kata-kata yang seakan-akan sudah berada ditenggorokannya itu ditelannya kembali.

“Sudah barang tentu bahwa kau tidak boleh berprasangka terlalu buruk terhadap ayah sendiri, tetapi kau harus bertolak dari sikap Ken Umang. Ialah yang sebenarnya sangat bernafsu untuk menyingkirkan kau dan menempatkan Tohjaya pada tempatmu yang sekarang. Masalah sama sekali bukan mempertahankan kedudukan, tetapi bagiku, kau harus membela kehormatan ibumu sebagai seorang Permaisuri. Kedudukan Putera Mahkota harus berada di tangan putera laki-laki seorang Permaisuri. Bukan pada putera laki-laki yang lain. Dan kau adalah orang yang paling berwenang untuk menjadi Putera Mahkota, juga atas kehormatan ibundamu, Pemaisuri. Jika kau tersisih, maka alangkah malunya ibundamu sebagai seorang Permaisuri.”

Anusapati mendengarkan keterangan Mahisa Agni itu kata demi kata. Namun demikian ia tidak dapat mengerti, bahwa begitu besar pengaruh Ken Umang, seorang isteri muda sehingga seorang ayah akan sampai hati menyingkirkan, meskipun tidak dalam arti yang sangat jauh, namun hal itu pasti akan menghancurkan hari depan anaknya sendiri yang lahir dari isterinya yang lain.

Namun Anusapati menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya.

Meskipun demikian Anusapati tidak dapat mengabaikan peringatan Mahisa Agni. Jika hal itu benar-benar terjadi, maka ia pasti harus berbuat sesuatu. Sedang di dalam istana itu hanya ada seorang saja yang dapat dipercaya untuk membantunya jika ia berada dalam kesulitan. Mahisa Wonga Teleng, meskipun dengan kesungguhan hati berlatih hampir siang dan malam, namun ia tidak dapat segera melonjak ke tempat yang lebih tinggi dari yang dapat dicapainya setingkat demi setingkat.

Tetapi menurut tanggapan Anusapati, tentu ada tangan lain yang akan dipinjam seandainya ada niat yang buruk terhadapnya dari siapa-pun juga. Mungkin dari Tohjaya sendiri atau mungkin dari Ken Umang dengan atau tidak dengan ijin Ayahanda Sri Rajasa.

“Tentu tidak akan ada tindakan yang dapat langsung dikenakan atas diriku sebagai seorang Putera Mahkota,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “apalagi sebagai orang yang dikenal dengan gelar Kesatria Putih. Meskipun kini Kesatria Putih sudah tidak begitu banyak bertindak di daerah-daerah yang jauh dari istana, namun orang-orang Singasari masih tetap menghargainya. Jika ada tindakan terhadapku, pasti dengan cara-cara yang seperti pernah dilakukan. Langsung ditujukan kepada Kesatria Putih seperti yang pernah terjadi atas paman Kuda Sempana.”

Namun ternyata Mahisa Agni berpendapat lain. Meskipun tidak secara langsung, namun ia berkata kepada Anusapati, “Anusapati, tanpa mengurangi hormat dan bakti seorang anak kepada orang tuanya, maka setiap orang berhak membela diri dan hidupnya.”

“Paman,” wajah Anusapati menjadi tegang.

“Aku berbicara dengan jujur Anusapati. Aku sama sekali tidak bermaksud memisahkan kau dari ayahandamu, atau kau dengan saudara-saudaramu. Tetapi aku hanya menuruti kata hati yang barangkali dapat keliru, dan aku memang mengharap agar aku salah raba.”

Anusapati menjadi semakin tegang.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “aku ingin memberikan suatu ceritera kepadamu. Ceritera tentang seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Bahkan hampir suatu keajaiban. Orang yang memiliki ilmu tanpa berguru, dan bahkan ilmunya telah menyamai orang yang paling mumpuni sekalipun. Orang itu ternyata adalah kekasih dewa-dewa. Ada banyak ceritera tentang orang itu, namun ciri yang dapat ditangkap oleh indera yang mendekati sempurna adalah pertanda di atas ubun-ubunnya apabila orang itu sedang memusatkan kehendak dan perasaannya untuk sesuatu sasaran. Apabila ia sedang marah, berpikir tentang sesuatu hal dengan segenap perhatiannya, atau mengerahkan tenaga jasmaniah sampai ke dasar kekuatannya. Dan segala macam pemusatan pikiran dan kehendak di dalam segala macam bentuknya.”

Anusapati mendengarkan ceritera itu dengan penuh minat, meskipun ia masih belum tahu kemanakah arah pembicaraan itu.

“Apakah ujud dari tanda itu paman?” Anusapati bertanya.

“Cahaya yang kemerah-merahan di atas ubun-ubun itu.”

“Cahaya kemerah-merahan. Maksud paman, ubun-ubunnya bercahaya?”

“Bukan Anusapati. Tetapi di atas ubun-ubun itu seakan-akan ada lingkaran cahaya yang kemerah-merahan. Tetapi cahaya itu tidak jelas dan tidak dapat disentuh dengan indera biasa. Mata wadag kita tidak akan dapat melihatnya begitu saja tanpa dilambari oleh ketajaman mata hati.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan tanda itu adalah tanda yang diberikan oleh dewa yang melindungi orang itu. Dan tanda yang kemerah-merahan itu adalah tanda dari kelebihan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah orang yang demikian itu masih ada paman?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi dalam kesatuan kehendak dewa-dewa menurunkan kelebihan lain pada orang lain, agar tidak ada kelebihan yang mutlak di dunia ini. Atas kesatuan dari yang berujud dan yang tidak, satu itulah seakan-akan telah diatur, bahwa yang satu selalu diimbangi oleh yang lain. Karena itu, maka didunia ini-pun ada sebuah benda yang memiliki kelebihan dan katakanlah keajaiban”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Benda itu berbentuk sebuah trisula. Tetapi terlalu kecil untuk dijadikan senjata wadag di dalam perkelahian.”

“Jadi?”

“Anusapati. Kelebihan yang satu dapat diimbangi dan bahkan seakan-akan dapat dihapuskan dari kelebihan yang lain. Trisula itu mempunyai cahaya yang dapat menyilaukan. Orang yang menjadi kekasih-kekasih dewa-dewa dengan cahaya yang kemerahan di ubun-ubun itu, tidak dapat menghindarkan diri dari silaunya trisula yang juga diberikan oleh dewa-dewa. Dan imbangan yang demikian hendaknya memang selalu ada di muka bumi.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mulai sadar, bahwa ceritera itu pasti ada hubungannya dengan dirinya sendiri.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian. “adalah berbahagia sekali bagi mereka yang mendapat kepercayaan dari Yang Maha Agung.”

“Ya. Berbahagialah yang mendapat kepercayaan dari Yang Maha Agung dalam Ke-Esaan itu.”

“Tetapi itu menjadi suatu tanggung jawab yang maha berat pula, yang tidak dapat dipikul oleh setiap orang.”

“Ya paman,” gumam Anusapati seolah-olah kepada diri sendiri.

Mahisa Agni-pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan perlahan-lahan ia mencoba mempersiapkan hati Anusapati untuk menerima kenyataan keadilan dari Yang Maha Agung.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Anusapati, di masa Singasari mengalami pergolakan yang dahsyat di dalam, meskipun dari luar tidak nampak sama sekali, orang-orang yang menjadi kekasih dewa-dewa itu masih berperan. Kau masih akan dapat mengenal seseorang yang memiliki tanda ajaib di atas ubun-ubunnya, dan kau masih juga dapat mengenal trisula kecil yang menyilaukan itu. Tetapi selagi ia masih bernama manusia dengan segala macam sifat-sifatnya, maka ia tidak akan dapat mengemban kepercyaan yang melimpah kepadanya dengan sempurna. Ia masih dapat menyalahgunakan kelebihan yang ada padanya itu. Dan ia masih dapat dipengaruhi oleh nafsu-nafsu manusia yang lain.”

Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin sekali mendengar, ujung dari ceritera pamannya itu. Tetapi Anusapati tidak berani memotong. Ia mendengarkan dengan penuh minat dan dengan dada yang berdebaran, seperti ia harus menunggu saat-saat yang menegangkan di saat-saat kelahiran anaknya.

Mahisa Agni memandang wajah Anusapati yang menegang. Sejenak kemudian ia-pun berkata pula, “Anusapati, apakah kau ingin mengetahui orang-orang itu?”

“Ya paman. Hampir aku tidak dapat menahan hati untuk tidak bertanya. Tetapi aku berusaha menunggu agar aku tidak bersikap keliru.”

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]
Source : www.agusharis.net

~ Article view : [183]