Pelangi di Langit Singasari [ 77 ]

289

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 79 ]

 

“MEMANG MEMALUKAN,” berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “tetapi mereka adalah anak-anak muda. Seperti anak muda kebanyakan. Hanya karena mereka tinggal di istana ini maka sorotan bagi mereka menjadi lebih tajam karenanya. Setiap orang memperhatikannya dan menilainya. Tetapi sebagai manusia biasa mereka sebenarnya tidak ada bedanya dengan anak-anak muda yang tinggal di padukuhan yang paling terpencil. Darahnya masih terlampau mudah mendidih dan kurang pengendalian diri. Tetapi jika mereka meningkat semakin tua, maka keadaannya pasti akan jauh berbeda. Anusapati yang kini sudah mempunyai seorang anak itu ternyata sudah jauh berkurang, sudah jauh mengendap dibandingkan beberapa saat yang lampau.”

Para prajurit yang mendengarkan kata-kata Mahisa Agni itu menganggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak mengatakan suatu apa.

“Sudahlah, bertugaslah dengan baik. Aku akan menghirup udara malam di halaman dan di pertamanan. Mudah-mudahan badanku menjadi segar dan pikiranku menjadi bening.”

Prajurit-prajurit itu menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Ketika Mahisa Agni melangkah meninggalkan halaman bangsalnya, dua orang prajurit mengiringinya sebagai yang seharusnya mereka lakukan. Tetapi seperti biasa pula Mahisa Agni tersenyum sambil berkata, “Biarlah aku berjalan sendiri. Bukankah demikian kebiasaanku? Di dalam halaman istana ini tidak akan ada gangguan apapun. Meskipun kadang-kadang terjadi hal-hal yang tidak dapat dimengerti, orang-orang berkerudung, orang yang tidak dikenal yang hampir saja membunuh juru taman itu, dan bermacam-macam lagi, tetapi mereka tidak akan mengganggu aku.”

Prajurit-prajurit itu saling berpandangan sejenak, namun mereka-pun menganggukkan kepalanya dalam-dalam sekali lagi. Salah seorang dari mereka berkata, “jika itu perintah tuan.”

“Ya,” jawab Mahisa Agni, “itu perintahku.”

“Baik tuan. Kami akan menunggu di sini,” sahut salah, seorang dari keduanya. Didalam hati mereka berkata, “Sebenarnyalah pengawalan itu tidak perlu bagi Mahisa Agni.”

Prajurit-prajurit itu-pun kemudian hanya dapat memandang Mahisa Agni yang berjalan menjauhi regol dan hilang di dalam gelap.

Sambil manarik nafas dalam-dalam seorang prajurit berkata, “Bagaimana mungkin orang dapat memiliki ilmu seperti Senapati besar itu?”

“Ilmunya adalah kurnia Yang Maha Agung. Tidak semua orang dapat memilikinya meskipun ia berlatih setiap hari sepanjang umurnya.”

Yang lain hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan salah seorang berdesis, “Seperti juga Sri Rajasa, ia-pun seorang manusia yang aneh.”

“Tidak banyak manusia seperti mereka itu. Dan kini tampaknya Putera Mahkota itu-pun akan tumbuh seperti ayahanda dan pamannya.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu Mahisa Agni yang sudah berada di kegelapan itu berjalan menyusuri tempat-tempat yang sepi di petamanan. Sejenak ia berdiri di tempat yang terlindung. Bagaimana-pun juga ia memang harus berhati-hati. Apalagi di halaman istana ini sering terjadi sesuatu yang tidak dapat diperhitungkannya lebih dahulu.

Tetapi ternyata bahwa taman itu benar-benar sepi. Tidak ada seorang-pun yang berada di sekitarnya dengan alasan apapun.

Karena itu, maka Mahisa Agni-pun bergeser pula mendekati gubug Sumekar.

Dengan hati-hati Mahisa Agni-pun kemudian mengetuk pintu gubug itu.

“Siapa?” Sumekar berbisik dibalik pintu.

“Agni.”

Mahisa Agni tidak perlu mengulanginya. Pintu gubug itu-pun kemudian terbuka dan Sumekar-pun melangkah keluar.

“Ikuti aku,” desis Mahisa Agni.

Keduanya-pun kemudian menyusup ke dalam taman. Beberapa langkah di balik rimbunnya pohon bunga-bungaan, kedua berhenti sejenak.

“Sumekar,” berkata Mahisa Agni, “aku ingin minta pertolongan lebih lanjut setelah sampai saat ini kau mengawasi dan melindungi Anusapati. Agaknya keadaan menjadi semakin gawat, sehingga aku perlu mempersiapkan diri lebih baik lagi dari saat-saat yang lewat.”

“Apakah yang harus aku lakukan?”

“Aku tidak sempat membuat hubungan dengan Witantra. Aku tidak sampai hati meninggalkan Anusapati dalam keadaan seperti sekarang. Apakah kau bersedia?”

“Apakah aku harus pergi ke Kediri menghubungi kakang Kuda Sempana.”

“Tidak. Aku kira, Witantra atau Mahendra masih juga sering berkeliaran di sekitar istana ini. Mereka-pun tentu ingin mengetahui perkembangan keadaan ini lebih lanjut.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira demikianlah. Apalagi dengan perkembangan terakhir. Ceritera tentang pertengkaran langsung yang terjadi ini, tentu akan sampai ketelinga mereka, karena hal itu pasti akan segera tersebar.”

“Ya. yang bertengkar adalah putera Sri Rajasa. Tentu ceritera itu tersebar luas dalam waktu yang singkat. Akibatnya, maka rakyat Singasari pasti akan terbelah. Sebagian akan berpihak kepada Anusapati dan sebagian akan berpihak kepada Tohjaya, karena mau tidak mau mereka akan langsung menghubungkan pertengkaran itu dengan sikap Sri Rajasa yang tampak dengan jelas, agak kurang adil terhadap kedua puteranya.”

“Orang-orang tua akan tahu sebabnya. Tetapi bagi yang muda tanggapannya pasti akan agak berbeda.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun kemudian berkata, “Sumekar, apakah kau bersedia mencari Witantra atau Mahendra di sekitar istana ini? Tentu saja kau harus keluar dari istana ini tidak lewat regol depan atau regol butulan.”

“Aku sudah mempunyai jalan sendiri,” Sumekar tersenyum.

“Terima kasih. Sampaikan pesanku kepada mereka, bahwa aku memerlukan mereka setiap saat, apabila keadaan benar-benar tidak terkendali. Jika kau dapat mengusahakan, bawalah salah seorang dari mereka masuk ke dalam taman, dan berilah aku isyarat apabila kau berhasil.”

“Apakah isyarat itu?”

“Kau dapat menirukan suara burung tertentu?”

Sumekar mengerutkan keningnya.

“Kalau tidak, lemparlah atap bangsalku dengan kerikil kecil. Aku akan segera keluar dan pergi ketaman ini. Jika bukan malam ini, tentu malam-malam berikutnya. Tetapi aku berharap kau berhasil malam ini. Bukankah tempat kau sering menemui mereka itu masih dapat dijadikan ancer-ancer, kemana kau pertama-tama harus pergi?”

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Mereka-pun tentu akan menyadari keadaan.”

“Selagi aku masih ada di Singasari. Perintah dari Sri Rajasa dapat datang setiap saat.”

“Aku mengerti.”

“Baiklah. Cobalah malam ini. Aku menunggu isyaratmu.”

“Aku akan memberikan isyarat. Jika aku melempar atap rumahmu, atau menirukan suara burung kedasih beberapa kali, tandanya aku berhasil. Tetapi jika aku memberi isyarat hanya tiga kali, maka malam ini aku belum dapat menemuinya. Dan kau tidak usah menunggu semalam suntuk.”

“Terima kasih. Di hari-hari terakhir, Sri Rajasa-pun tentu telah berbuat sesuatu. Dan kita-pun harus mengimbanginya.”

Demikianlah maka Sumekar-pun mempersiapkan dirinya untuk keluar halaman istana mencari hubungan dengan Witantra atau Kuda Sempana. Ia masih berharap bahwa kedua orang itu belum jemu menunggu kesempatan untuk mendapat hubungan dengan Mahisa Agni.

Mahisa Agni-pun kemudian kembali ke bangsalnya. Tetapi ia tidak langsung masuk kedalam bangsal itu. Sejenak ia masih sempat berbincang dengan para prajurit, “Aku ingin beristirahat,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sudah terlalu malam. Jika aku tidak tidur malam nanti, maka kalian tidak mempunyai tugas lagi.”

Para prajurit itu tertawa. Mereka memang menyadari, bahwa tugas mereka hanyalah mengawasi bangsal itu, karena jika terjadi sesuatu, akhirnya Mahisa Agni sendirilah yang harus melindungi dirinya sendiri.

Namun yang menarik perhatian para prajurit itu adalah sikap Mahisa Agni. Ia adalah Senapati Agung yang kedudukannya di atas para Panglima. Apalagi bagi Kediri. Tetapi sikapnya masih tetap seperti Mahisa Agni yang dahulu, Mahisa Agni anak Panawijen.

Jarang sekali seorang Panglima sempat bercakap-cakap dengan para prajurit. Jika ada satu dua prajurit yang mengawalnya, maka sikapnya adalah sikap seorang Panglima terhadap seorang prajurit bawahan. Bahkan satu dua orang perwira yang lain-pun sudah bersikap demikian.

“Ia adalah seorang Senapati besar. Bukan saja kedudukannya sebagai Senapati Agung dan wakil Mahkota di Kediri, tetapi jiwanya-pun ternyata cukup besar.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Pengaruh itu tampak pula pada Putera Mahkota. Selain sikapnya, maka keduanya tidak menaruh prasangka buruk terhadap sesamanya. Ternyata keduanya tidak memerlukan pengawalan seperti tuanku Tohjaya dan putera-putera Sri Rajasa yang lain.”

“Ya, selain mereka tidak berprasangka, mereka-pun terlalu percaya kepada diri sendiri. Coba katakan, siapakah yang dapat melampaui kemampuan tuanku Mahisa Agni, dan tuanku Pangeran Pati selain Sri Rajasa. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan berbuat apa-apa atas mereka.”

“Orang berkerudung yang sempat masuk kehalaman itu?”

“Seandainya mereka sempat bertemu dengan keduanya atau salah seorang dari pada mereka, maka sejauh-jauh dapat dilakukan adalah seimbang saja.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala. Mereka memang sependapat bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang berjiwa besar, ramah dan rendah hati.

Dalam pada itu, Sumekar yang telah berhasil meloncati dinding tanpa diketahui oleh para peronda itu-pun segera menyelusuri jalan kota Singasari. Yang pertama-tama didatanginya adalah tempat yang biasa dipergunakan oleh Witantra atau Mahendra menunggu hubungan dari dalam istana.

Tetapi Sumekar tidak melihat seorangpun, sehingga karena itu ia-pun mengambil keputusan untuk pergi saja mengelilingi kota. Mungkin di satu tempat ia bertemu dengan salah seorang dari keduanya.

Namun belum lagi ia beringsut, terdengar suara seseorang memanggilnya. Dan suara itu bukan suara Witantra dan bukan pula suara Mahendra.

Sumekar berhenti sejenak. Dari dalam kegelapan dibalik bayangan dedaunan Sumekar melihat sesosok bayangan yang muncul.

“Bukankah kau Sumekar?” bertanya bayangan itu.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kakang Kuda Sempana. Justru kakang yang ada disini?”

“Ya, Beberapa hari ini giliranku. Keduanya hampir jemu menunggu. Tetapi tidak seorang-pun yang datang. Lalu akulah yang mendapat giliran tidur disini. Aku sudah empat malam selalu menungu salah seorang dari kalian di istana Singasari.”

Sumekar-pun kemudian mendekati Kuda Sempana, dan keduanya-pun duduk dibalik gerumbul sambil membicarakan masalah yang sedang dihadapinya.

“Jadi persoalan itu seakan-akan menjadi panas?”

“Ya. Bahkan hampir terjadi dengan terbuka.”

“Lalu apakah pesan Mahisa Agni.”

“Sekedar persiapan. Jika setiap saat meledak. Dan rasa-rasanya kita memang berada diatas ujung tanduk. Setiap saat, jika kita kurang berhati-hati, maka perut kita dapat berlubang.”

“Apakah aku harus menyampaikannya kepada Witantra.”

“Ya. Dan Mahendra.”

“Baiklah. Tentu bukan sekedar kami bertiga yang diharap oleh Mahisa Agni. Dan aku akan menyampaikannya kepada Witantra. Mungkin ia mengerti, apa yang sebaiknya harus aku kerjakan.”

“Tetapi agaknya Mahisa Agni-pun ingin bertemu.”

“Jangan sekarang,” berkata Kuda Sempana, “aku harus menemui Witantra, kita bersama-sama akan bertemu dengan Mahisa Agni besok malam disini.”

“Barangkali ia perlu pesan kepadamu. Aku dimintanya untuk memberikan isyarat apabila aku dapat menemui kalian salah seorang atau semuanya.”

Kuda Sempana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Kenapa tidak besok?”

“Malam ini, dan sehari besok, bermacam-macam persoalan dapat terjadi.”

“Tetapi tidak mungkin malam ini aku mencari Witantra.”

“Mungkin tidak perlu. Tetapi sekedar bahan yang akan kalian bicarakan perlu kau dapat malam ini.”

“Baiklah. Aku menunggu disini.”

“Terima kasih. Aku akan membawa Mahisa Agni keluar halaman istana malam ini.”

Demikianlah Sumekar-pun segera berusaha untuk dapat memberikan isyarat kepada Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak menemui kesulitan untuk memasuki halaman istana, seperti pada saat ia keluar.

Dan ia-pun tidak mendapat banyak kesulitan untuk mendekati bangsal Mahisa Agni. Tetapi Sumekar tidak dapat segera memberikan isyarat dengan melemparkan kerikil keatas atap bangsal itu, karena pengawasan yang ketat. Karena itu Sumekar mempergunakan cara yang lain. Dari sudut halaman ia menirukan bunyi seekor burung kedasih beberapa kali. Ia berharap bahwa Mahisa Agni akan dapat mendengarnya dan menangkap isyaratnya.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni dapat menangkap isyarat itu. Ia mendengar bunyi kedasih itu dan mengerti maknanya. Karena itu, maka Mahisa Agni-pun sagera berusaha untuk dapat keluar dari bangsalnya tanpa diketahui oleh siapa-pun juga.

Itu-pun bukan suatu kesulitan bagi Mahisa Agni. Dan dengan demikian, maka ia-pun segera bersama-sama dengan Sumekar keluar dari halaman istana menemui Kuda Sempana.

“Kuda Sempana,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku memerlukan Witantra saat ini. Aku masih menganggap bahwa nama Witantra belum terhapus sama sekali dari hati para prajurit dan perwira pasukan pengawal, terutama yang sudah berusia pertengahan.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Aku kira demikian.”

“Karena itu, aku mengharap kedatangannya. Mungkin pada suatu saat, kita memerlukan pengaruhnya di dalam lingkungan para pengawal Aku tidak tahu, apakah yang akan dilakukan oleh Panglimanya yang sekarang seandainya terjadi persoalan yang terbuka antara Tohjaya dan Anusapati.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tentu Witantra tidak akan dapat berterus terang berada di istana Singasari.”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti,” jawabnya, “aku kira Witantra-pun tidak akan berkeberatan.”

Demikianlah maka, Kuda Sempana-pun segera pergi meninggalkan Singasari. Ia harus menghubungi Witantra dan membawanya menemui Mahisa Agni besok malam. Dalam keadaan yang panas itu, perubahan dapat terjadi setiap saat itu merupakan waktu yang sangat berharga. Sepeninggal Kuda Sempana maka Mahisa Agni-pun segera kembali ke bangsalnya dan Sumekar masuk kedalam gubugnya yang kecil tanpa mengganggu tetangga-tetangganya yang tinggal disebelah menyebelah gubugnya.

Namun ia tidak dapat segera tidur. Persoalan-persoalan itu masih tetap tersangkut dikepalanya. Dan bahkan dorongan didalam dadanya untuk berbuat sesuatu rasa-rasanya tidak dapat dikendalikan lagi.

Tetapi Sumekar masih harus menghormati usaha Mahisa Agni. Ia tidak dapat merusak rencana Mahisa Agni itu. “Tetapi apabila datang saatnya, aku benar-benar harus bertindak. Lebih baik aku menjadi tumbal daripada harus terjadi persoalan dan pertentangan yang lebih luas lagi. Jika dengan alas pengorbananku, persoalan ini dapat selesai tanpa melibatkan prajurit dan rakyat Singasari, maka alangkah baiknya. Singasari yang selama ini dipupuk dan disirami tidak akan segera layu dan bagaikan daun yang kering, menguning dan berguguran ditanah,” berkata Sumekar didalam hatinya.

Dalam pada itu, seperti Sumekar. Mahisa Agni-pun tidak segera dapat tidur nyenyak malam itu. Ia selalu dipengaruhi oleh berbagai macam angan-angan. Memang mungkin terjadi sesuatu dengan Anusapati di dalam sepinya malam. Tetapi Anusapati bukannya orang yang mudah menyerah pada keadaan. Apalagi ia memiliki kemampuan yang dapat melindunginya. Bahkan seandainya Sri Rajasa sendiri datang ke bangsal itu. Anusapati pasti akan dapat bertahan beberapa lama. Dengan trisula kecilnya, Anusapati akan dapat berusaha mempertahankan dirinya. Sementara itu tentu terjadi keributan di halaman ini, sehingga ia akan sempat mendengarnya dan ikut campur secara langsung.

“Tetapi bagaimana jika Sri Rajasa berhasil memasuki bangsal itu dengan diam-diam, dan dengan diam-diam pula bertindak atas Anusapati?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Mahisa Agni tidak dapat melepaskan kemungkinan itu, karena yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa adalah tindakan licik serupa itu. Ia telah membunuh Empu Gandring, Tunggul Ametung dan dengan licik sekali menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam jebakannya.

“Tentu ia dapat berbuat licik pula terhadap Anusapati,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Namun ia percaya bahwa Anusapati tentu tidak akan lengah. Meskipun Sri Rajasa dapat meremas dinding kayu yang secengkang tebalnya, tetapi Anusapati-pun tentu dapat mendengar gemerisik yang betapapun lembutnya. Dan bahkan mungkin sekali Anusapati sama sekali tidak dapat tidur di malam hari.

Karena itulah, maka di pagi-pagi benar. Mahisa Agni telah telah terbangun. Ia hanya sekejap saja dapat memejamkan matanya. Tetapi bagi Mahisa Agni, yang sekejap itu telah cukup untuk menyegarkan tubuhnya.

Ketika ia kemudian keluar dari bangsalnya, dilihatnya suasana yang wajar di halaman istana. Para prajurit masih tetap bertugas dan yang lain bahkan masih berbaring didalam gardu. Dengan tergesa-gesa mereka-pun berloncatan bangun ketika tiba-tiba saja mereka melihat Mahisa Agni sudah berada di depan gardu itu.

“Kami sedang beristirahat,” salah seorang dengan tergesa-gesa berkata, “kami bertugas di permulaan malam ini.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tidurlah. Hari memang masih sangat pagi. Kau masih mempunyai waktu sedikit.”

Tetapi para prajurit itu justru berlompatan bangkit dan membenahi pakaian mereka.

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku akan berjalan-jalan. Aku tidak ingin mengganggu kalian. Apalagi yang baru saja sempat berbaring karena habis tugasnya.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk.

Dan begitu Mahisa Agni pergi, maka mereka-pun berebut melingkar kembali didalam gardu. Tetapi langit menjadi semakin cerah dan sambil menggeliat mereka-pun terpaksa bangkit kembali dan pergi ke pakiwan untuk berbenah diri.

Mahisa Agni yang kemudian berjalan menyelusuri halaman istana sama sekali tidak melihat kemungkinan yang tidak dikehendakinya. Bahkan ketika ia berjalan tidak jauh dari bangsal Anusapati, ia melihat prajurit yang bertugas di halaman bangsal itu masih berada di tempatnya.

“Tentu tidak ada sesuatu terjadi,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya. Dengan demikian maka ia-pun melanjutkan langkahnya berjalan-jalan dipagi yang menjadi semakin cerah.

Namun dengan tergesa-gesa ia berbelok ketika dilihatnya regol yang menyekat halaman istana ini dengan perluasannya, tempat Ken Umang dan putera-puteranya tinggal. Mahisa Agni tidak mau mengalami perlakuan seperti yang pernah terjadi, sehingga hampir terjadi pertentangan terbuka antara Anusapati dan Tohjaya.

Ketika kemudian matahari menjadi semakin terang di Timur, maka Mahisa Agni-pun melangkah kembali ke bangsalnya. Dilihatnya gardu-gardu penjagaan sudah mulai ramai, dan para prajurit sudah mulai mengemasi diri. Bahkan sebagian telah datang para penggantinya yang akan bertugas untuk satu hari satu malam pula digardu itu.

Pada waktu berikutnya dihari itu, ternyata tidak terjadi sesuatu pula. Anusapati memerlukan datang kebangsal Mahisa Agni dan berbicara seperlunya. Namun ia-pun segera kembali kepada anak dan isterinya dibangsalnya.

Bagaimana-pun juga Anusapati mencoba menyembunyikan perasaannya, namun sebagai seorang isteri, akhirnya ia merasa bahwa sesuatu telah terjadi atas suaminya. Wajah yang kadang-kadang murung dan sikap yang tidak dimengertinya. Namun isterinya itu-pun tidak ingin membebani suaminya dengan kesulitan baru, maka ia tidak pernah berusaha untuk memaksa Anusapati mengatakan tentang persoalannya. Meskipun demikian, perlahan-lahan ia berusaha tanpa terasa oleh Anusapati untuk menangkap, apakah yang sebenarnya telah terjadi di Singasari dan atas suaminya yang sangat dicintainya itu. Tetapi yang pada hari itu berdebar-debar adalah Mahisa Agni. Ketika ada paseban kecil di bangsal istana Singasari, maka Mahisa Agni-pun datang menghadap di antara para pemimpin Singasari. Di hadapan banyak orang, Sri Rajasa sudah bertanya kepadanya tentang penyakit Permaisuri.

“Apakah ia masih belum sembuh benar?” bertanya Sri Rajasa.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sadar akan arti pertanyaan itu. Tetapi ia masih juga menjawab, “Ampun tuanku, menilik pengamatan hamba, tuanku Permaisuri masih juga sakit agak berat. Tetapi sebenarnyalah bahwa hambalah yang seharusnya bertanya kepada tuanku, bagaimanakah penyakit Tuanku Permaisuri itu, agar hamba dapat menentukan, apakah hamba dapat segera kembali ke Kediri. Jika terlalu lama hamba berada di sini, maka tugas hamba akan dapat terbengkelai karenanya, dan hamba yang di sini hampir tidak berbuat apa-apa itu akan menjadi jemu pula.”

Wajah Sri Rajasa menegang sesaat. Namun kesan itu-pun segera terhapus dari wajahnya. Sambil tersenyum Sri Rajasa berkata, “Bukankah kau yang hampir setiap hari menunggui dan mengikuti perkembangannya?”

“Hamba tuanku. Tetapi yang tahu pasti tentang penyakit tuanku Permaisuri tentu tuanku Sri Rajasa.”

“Baiklah,” berkata Sri Rajasa, “akulah yang akan menentukan apakah kau sudah dapat meninggalkan Singasari atau belum. Aku akan segera memberitahukan kepadamu, jika Permaisuri itu sudah dapat kau tinggalkan.”

“Hamba tuanku. Hamba akan melakukan segala titah.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun bagaimana-pun juga ia menyembunyikan perasaannya, tetapi terasa dalam sidang itu, bahwa memang ada sesuatu yang terentang di antara kedua tokoh tertinggi di Singasari itu, seperti juga ada sesuatu yang membentang di antara Ken Umang dan Ken Dedes, dan antara Anusapati dan Tohjaya.

Sejenak Mahisa Agni masih mengikuti pembicaraan-pembicaraan tentang perkembangan Singasari pada saat-saat terakhir. Tetapi ia sudah kurang berminat untuk mendengarkannya. Yang didengarnya saat ini masih saja hampir sama dengan yang didengarnya beberapa hari dan beberapa bulan yang lalu. Semuanya baik. Tidak ada kesulitan dan rakyat berkembang maju.

“Jika demikian, dan Sri Rajasa puas dengan laporan-laporan itu, akan menjadi pertanda bahwa Singasari akan berhenti disini. Sri Rajasa sudah kehilangan gairah perjuangannya membuat Singasari menjadi semakin besar dan memberi kesejahteraan yang lebih tinggi bagi rakyatnya,” berkata Mahisa Agni didalam hati. Namun ia-pun menjadi cemas bahwa beberapa orang pemimpin Singasari yang lain tidak lagi menghiraukan keadaan yang sebenarnya terjadi. Tetapi mereka sekedar ingin mendapat pujian dari Sri Rajasa dengan mengatakan laporan-laporan yang tidak berdasarkan pada kenyataan.

Tetapi Mahisa Agni tidak menanggapi laporan-laporan itu. Ia tidak ingin menyakitkan hati pemimpin-pemimpin Singasari yang lain agar persoalan yang langsung menyangkut Anusapati tidak terganggu pula karenanya.

Meskipun demikian, Mahisa Agni dapat menilai, bahwa saat-saat terakhir Singasari benar-benar mengalami kemunduran. Para pemimpinnya tidak lagi dengan penuh cita-cita membina Singasari. Mareka sudah dihinggapi oleh penyakit yang berbahaya bagi Singasari.

“Tentu karena Sri Rajasa tidak sempat lagi melihat perkembangan Singasari dengan mata kepala sendiri,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya. “kesibukannya telah menenggelamkan kedalam suatu keadaan yang kurang menguntungkan bagi tanah yang selama ini dibinanya dengan susah payah.”

Laporan-laporan berikutnya Mahisa Agni sudah hampir tidak mendengarnya lagi seperti di dalam paseban-paseban yang lalu. Semuanya rasa-rasanya menjemukan baginya.

Tetapi kali ini Mahisa Agni terkejut ketika Sri Rajasa kemudian berkata kepadanya, “Setelah paseban ini selesai Mahisa Agni, tinggallah di sini sebentar.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang berkeliling. Dilihatnya didalam paseban itu para Panglima dan para pemimpin Singasari yang lain.

“Apakah Sri Rajasa berhasrat menjebakku sekarang?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi Mahisa Agni adalah seorang yang berhati tabah. Itulah sebabnya ia kemudian menjawab, “Hamba tuanku. Segala perintah tuanku hamba junjung tinggi.”

Demikianlah ketika semua pembicaraan itu selesai maka Sri Rajasa-pun segera mengakhiri sidang. Sedang Mahisa Agni yang masih harus tinggal menjadi berdebar-debar.

“Apakah para Panglima itu sudah mendapat pesan-pesan tertentu dari Sri Rajasa untuk menangkap aku sekarang?” bertanya Mahisa Agni didalam hati, “demikian para pemimpin pemerintahan yang lain pergi, maka para Panglima itu akan menarik keris mereka dan menahan aku disini.”

Tetapi dugaan Mahisa Agni itu ternyata keliru. Dengan suara yang lantang maka Sri Rajasa berkata, “Tinggalkan paseban ini. Semuanya, selain Mahisa Agni.”

Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi mereka-pun kemudian beringsut meninggalkan sidang itu seorang demi seorang, sehingga hanya Mahisa Agni sajalah yang tinggal.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati kemudian, “Sri Rajasa memang bukan seorang pengecut. Jika ia ingin menyelesaikan dengan cara itu, ia akan menghadapi aku seorang lawan seorang.”

Demikianlah, maka paseban itu akhirnya menjadi kosong. Yang ada tinggallah Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Bahkan para penasehat Sri Rajasa-pun diperintahkannya untuk meninggalkan paseban itu.

Ketika tidak ada orang lain di paseban itu, sekali lagi terasa ketegangan mencengkam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia keliru. Sri Rajasa sama sekali tidak memandangnya dengan sorot mata yang menyala. Tetapi matanya bahkan menjadi redup dan kosong.

“Mahisa Agni,” berkata Sri Rajasa kemudian dengan nada yang rendah, “kau mendengar semua laporan-laporan di dalam paseban ini?”

Mahisa Agni menjadi heran atas pertanyaan itu. Karena itu ia tidak segera menjawab.

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

Mahisa Agni masih belum mengerti maksud Sri Rajasa. Namun menangkap siratan wajahnya. Mahisa Agni mulai menyesali dirinya sendiri. Ternyata bahwa ia sendirilah yang terlampau berprasangka. Sejak terjadi persoalan yang hampir menyeret Anusapati dan Tohjaya dalam pertentangan terbuka, ia selalu saja berprasangka buruk terhadap Sri Rajasa yang dikenalnya sangat aneh namun juga licik.

“Mahisa Agni,” berkata Sri Rajasa kemudian, “aku ingin mendengar pendapatmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya, atau ia harus bersikap seperti para pemimpin Singasari yang lain, yang hanya sekedar mengemukakan persoalan-persoalan yang mereka anggap dapat menyenangkan hati Sri Rajasa saja.

“Aku tidak boleh bersikap seperti itu,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya, “jika demikian aku sudah membohongi diriku sendiri, dan tidak mau lagi mengakui kenyataan yang berlaku di Singasari.”

Karena itu dengan penuh tanggung jawab Mahisa Agni berkata meskipun dengan sangat hati-hati, “Tuanku. Sebenarnyalah memang seperti yang dikatakan oleh para pemimpin Singasari itu. Meskipun masih harus ada beberapa keterangan.”

“Apakah yang kau maksud dengan keterangan itu?”

“Memang dalam pandangan sepintas keterangan itu sangat menarik dan seakan-akan Singasari tidak lagi menghadapi persoalan-persoalan lagi.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya.

“Tetapi tuanku,” berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “jika hamba boleh mengatakannya dengan jujur, sebenarnya masih banyak yang perlu dilaporkan didalam paseban seperti ini, apalagi di dalam paseban agung.”

“Misalnya?”

“Tuanku, seharusnya tuanku mendapat gambaran seluruhnya tentang Singasari. Tuanku harus mendengar bahaya kering yang mengancam daerah Selatan, yang perlu mendapat penyelesaian. Kemudian kesulitan yang timbul karena binatang yang buas yang tidak terkendalikan, berkembang biak dengan cepatnya di hutan tidak begitu jauh dari kota ini. Selain daripada itu, masih ada perampok-perampok yang mengganggu dan selebihnya memang memberikan gambaran yang cerah buat masa depan Singasari.”

“Itulah yang ingin aku dengar Mahisa Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Sri Rajasa sejenak. Namun dilihatnya wajah itu bagaikan air telaga yang bening, yang dapat dilihat sampai ke dasarnya. Menurut tangkapan Mahisa Agni, apa yang dikatakan oleh Sri Rajasa itu adalah apa yang dipikirkannya.

“Kali ini ia berkata dengan jujur,” desis Mahisa Agni didalam hatinya.

“Mahisa Agni,” berkata Sri Rajasa, “sebenarnya aku sudah muak mendengar laporan-laporan yang tidak sewajarnya itu. Mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri, mementingkan kedudukan dan kebanggaan mereka kepada dirinya sendiri. Dan ini sangat memuakkan sekali. Tetapi aku masih belum sempat untuk menghentikannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata sesuatu telah tumbuh di dalam hatinya.

“Sri Rajasa tidak sejahat yang aku duga.” katanya didalam hati, namun, “atau barangkali ia mulai melihat kesalahan yang sudah dibuatnya?”

“Mahisa Agni,” berkati Sri Rajasa kemudian, “ternyata kau masih Mahisa Agni yang dahulu. Kau adalah salah satu dari orang-orang Singasari yang jumlahnya tidak banyak, yang berani mengatakan kekurangan Singasari kepadaku. Meskipun mungkin aku akan menjadi marah atau menghukummu. Tetapi sekarang aku sadar, bahwa yang penting bagiku adalah kebenaran. Bukan sekedar kebanggaan yang semu.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil, ia menjadi berpengharapan lagi, bahwa jika Sri Rajasa berkata dengan jujur, ia akan menanggapi persoalan Anusapati dan Tohjaya dengan cara yang lebih baik dari cara yang pernah dilakukan sebelumnya.

Dalam pada itu Sri Rajasa berkata selanjutnya, “Mahisa Agni. Pada saatnya kau akan kembali ke Kediri. Aku mengharap bahwa pada suatu saat, kau datang kepaseban agung, kau akan mengatakan keadaan Kediri yang sebenarnya. Dengan demikian akan membuka kemungkinan, para pemimpin Singasari yang lain menyadari kekeliruannya. Bahkan yang aku harapkan adalah keterangan yang sebenarnya. Bukan sekedar usaha untuk mempertahankan pangkat dan jabatan.”

“Baiklah tuanku,” jawab Mahisa Agni, “jika hal itu memang tuanku kehendaki.”

“Sekarang tinggalkan bangsal ini. Kemudian aku akan memberitahukan kepadamu, apakah Permaisuri sudah dapat kau tinggalkan. Kediri akan kesepian jika kau tidak segera kembali.”

Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah hamba mohon diri tuanku.”

“Ya. Aku sudah selesai.”

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal paseban. Hatinya masih saja tersangkut kepada sikap Sri Rajasa. Namun ia tidak dapat melupakan apa yang pernah dilakukan oleh Sri Rajasa itu. Bahkan sekilas di dalam dadanya dugaan bahwa sebenarnyalah Sri Rajasa sedang merencanakan sesuatu yang tidak diketahuinya.

“Aku dihadapkan pada persoalan yang sangat rumit. Aku seakan-akan melihat perubahan pada diri Sri Rajasa. Tetapi aku tidak dapat mempercayainya sepenuhnya,” berkata Mahisa Agni kepada diri sendiri.

Namun bagaimana-pun juga apa yang dilihat dan dirasakannya telah mempengaruhi perasaannya.

Meskipun demikian, Mahisa Agni ingin memanfaatkan waktunya yang tentu tidak akan terlalu lama lagi untuk mengarahkan persoalan itu menjadi terang. Tetapi ia akan tetap gelisah jika tidak ada pemecahan yang dapat menjernihkan keadaan.

Persoalan itulah yang membebani Mahisa Agni sehari penuh. Persoalan yang justru bertambah rumit karena sikap Sri Rajasa yang dirasakannya berubah.

Di malam hari, Mahisa Agni tidak melupakan pesannya kepada Kuda Sempana, bahwa ia ingin bertemu dengan Witantra. Karena itulah maka ia-pun kemudian pergi keluar istana seperti yang dilakukan semalam sebelumnya bersama Sumekar.

“Jika kakang Kuda Sempana belum berhasil menemuinya, maka kita harus menunggu sampai besok,” berkata Sumekar.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan Witantra sudah hadir malam ini.” Keduanya-pun kemudian pergi ketempat yang sudah mereka tentukan. Tetapi Mahisa Agni dan Sumekar masih belum menjumpai siapapun.

“Kita tunggu sebentar,” berkata Sumekar, “mungkin kita datang terlampau cepat.”

“Bukankah, kita tidak tergesa-gesa?” berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan Sri Rajasa tidak memanggil aku malam ini, sehingga kepergianku tidak segera diketahuinya.”

Ternyata mereka tidak sia-sia menunggu. Meskipun agak lama, namun akhirnya Witantra-pun datang juga. Bahkan sekaligus bersama Mahendra dan Kuda Sempana.

“Kalian datang bertiga?” bertanya Mahisa Agni.

“Ya. Kami sudah terlalu lama menunggu. Setiap malam salah seorang dari kami pasti datang ketempat ini. Selambat-lambatnya dua malam sekali. Baru kemarin Kuda Sempana sempat bertemu dengan kalian.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Marilah, silahkan duduk. Aku mempunyai ceritera yang cukup menarik buat kalian.”

Mereka-pun kemudian duduk melingkar dibalik sebuah gerumbul yang lebat, sehingga tidak seorang-pun yang akan segera dapat melihatnya. Apalagi pertemuan itu adalah pertemuan lima orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan, sehingga mereka akan segera mengetahui jika ada orang yang mengintai.

Sementara itu Mahisa Agni-pun menceriterakan semuanya yang telah terjadi di istana Singasari. Persoalan Permaisuri yang rasa-rasanya benar-benar menjadi sakit, persoalan Anusapati yang hampir saja terlibat dalam perselisihan terbuka dengan Tohjaya dan kemudian sikap Sri Rajasa yang membuatnya ragu-ragu.

Witantra, Mahendra dan kuda Sempana mendengarkannya dengan penuh minat. Yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu adalah apa yang akan dapat membakar Singasari.

Ketika Mahisa Agni selesai dengan ceriteranya, maka mereka yang mendengarkannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak mereka mencernakan ceritera itu, seakan-akan mereka ingin menimbang persoalannya dari segala segi.

“Mahisa Agni,” berkata Witantra kemudian, “kita semuanya sudah mengenal Sri Rajasa. Kita mengenal apa saja yang sudah dilakukannya untuk mendapatkan tahta itu. Karena itu, alangkah sulitnya untuk melupakannya. Aku sudah kehilangan adik seperguruanku karena pokalnya. Bahkan aku telah dihinakan diarena, meskipun waktu itu kaulah yang naik melawan aku, tetapi sudah tentu bahwa kau semata-mata telah dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap, karena kau-pun telah tertipu pula oleh Ken Arok yang kini bergelar Sri Rajasa. Kau tentu menyangka bahwa yang membunuh pamanmu, Empu Gandring itu, adalah Kebo Ijo pula.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau tentu dapat membayangkan, betapa liciknya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu, sehingga ia berhasil memperistri Ken Dedes yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya, Tunggul Ametung.” Witantra berhenti sejenak. Lalu, “tetapi memang tidak mustahil bahwa seseorang pada suatu saat akan sampai pada suatu keadaan yang dapat menyudutkannya dalam kesulitan batin. Dalam keadaan yang demikian, memang kadang-kadang semuanya yang telah dilakukan itu tercermin kembali didalam angan-angannya. Dan seandainya hal itu terjadi maka tidak mustahil pula bahwa Ken Arok itu menyesali semua perbuatannya. Tetapi apakah artinya penyesalan itu sekarang? Kita hormati Ken Arok, karena ia sudah membuat Tumapel menjadi Singasari yang besar sekarang ini. Tetapi jika kelanjutan dari Singasari ini menjadi kabur, dan bahkan akan menjadi padam sama sekali, kita harus berpikir kembali.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apalagi jika Sri Rajasa berusaha untuk menyerahkan kerajaan ini kepada keturunan Ken Umang,” berkata Witantra lebih lanjut. Lalu, “aku kenal Ken Umang sejak ia masih seorang gadis remaja karena ia tinggal bersama kakak perempuannya. Aku tahu bagaimana sifat-sifatnya dan aku tahu bahwa hatinya bukannya hati yang bersih. Kemudian aku juga mendengar banyak tentang Tohjaya yang tidak berbeda dari sifat-sifat ibunya. Dengan demikian, maka kita sudah dapat membayangkan, bagaimana dengan Singasari dimasa mendatang, jika Singasari jatuh ditangan Tohjaya itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun tidak seorang-pun yang dapat memastikan bahwa Anusapati akan dapat berbuat lebih baik dari Tohjaya, tetapi mereka dapat memperhitungkan kemungkinan itu.

“Karena itu Mahisa Agni,” berkata Witantra itu pula, “kau jangan sekali lagi terjerumus kedalam perangkap Ken Arok. Aku tahu bahwa justru karena hatimu terlalu bersih, maka kau tidak dapat membayangkan, betapa liciknya seseorang. Meskipun kita tidak menutup kemungkinan, bahwa pada suatu saat seseorang seperti Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu dapat menyesali semua perbuatannya.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi bibirnya bergerak, “Sebenarnya aku berharap bahwa Ken Arok menjadi baik ketika kami sedang membuat bendungan dan membangun Panawijen di Padang Karautan, setelah Panawijen yang lama menjadi kering. Tetapi tiba-tiba saja penyakit Padang Karautan nya berjangkit kembali.”

“Itulah yang dapat kita lihat padanya. Sebagai seorang Maharaja ia berbuat sebaik-baiknya. Tetapi di saat-saat terakhir, maka pamrih pribadinya pulalah yang kemudian justru menonjol,” sahut Witantra.

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. Namun dalam pada itu terdengar Sumekar berkata dengan nada yang dalam tetapi seakan-akan bergetar dari dasar hatinya, “Kakang Mahisa Agni. Bagaimana-pun juga, aku yang melihat kehidupan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa sehari-hari dan puteranya tuanku Tohjaya, tidak akan dapat mempercayainya lagi. Mungkin di saat-saat tertentu ia dapat bersikap baik. Tetapi itu sekedar suatu usaha untuk membayangi sikapnya yang sebenarnya. Bagiku tugas Sri Rajasa sudah selesai. Kita bersama-sama menaruh hormat atas usahanya mempersatukan seluruh Singasari. Tetapi jika ia masih berkesempatan mengatur saluran kekuasaan sampai ke putera-puteranya, maka akan terjadi suatu saat Singasari akan hancur. Marilah kita tidak sekedar terpancang pada kepentingan tuanku Anusapati yang kebetulan adalah putera tuan Puteri Ken Dedes, dan tidak pula terikat kepada kebencian kita kepada tuanku Tohjaya, putera tuan Puteri Ken Umang, tetapi adalah kebetulan sekali bahwa menurut perhitungan kita, jika kekuasaan Singasari jatuh ke tangan tuanku Tohjaya, maka Singasari tidak akan lestari. Itulah sebabnya maka kita harus memotong jalur yang memungkinkan hal ini terjadi.”

“Maksudmu?” bertanya Mahisa Agni.

“Sri Rajasa dilenyapkan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “jangan tergesa-gesa Sumekar. Persoalannya tidak begitu sederhana. Meskipun seandainya kita akan sampai juga kepada jalan itu, tetapi semuanya harus yakin dan masak.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Mahisa Agni tentu tidak menyetujuinya untuk saat ini. Tetapi Sumekar sama sekali tidak melihat jalan lain.

Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya dapat mengerutkan keningnya. Bagi mereka, banyak pertimbangan yang harus diperhitungkan.

“Kakang Mahisa Agni,” berkata Sumekar, “aku dapat mengerti perasaanmu. Kau adalah seorang yang menurut tangapanku, sangat dipengaruhi oleh pertimbangan-angan perikemanusiaan. Karena itu, maka kau adalah seseorang yang sangat baik. Tetapi menghadapi Sri Rajasa kau harus mempunyai pertimbangan yang lain.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Seperti yang aku katakan Sumekar, apabila sampai saatnya, apaboleh buat. Tetapi kita harus mendapatkan saat yang tepat dan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukan sekedar prasangka dan alasan-alasan yang sangat kabur.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Banyak soal yang ingin aku ketahui. Namun yang terpenting adalah perkembangan hubungan antara Anusapati dan Tohjaya.”

“Hubungan yang sangat dipengaruhi oleh sikap Sri Rajasa sendiri,” sahut Sumekar.

“Ya.”

Witantra berpikir sejenak, lalu “dimana keris buatan Empu Gandring itu sekarang?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak, namun katanya kemudian, “Ada pada Anusapati.”

Witantra dan orang-orang lain yang mendengarnya mengerutkan keningnya. Dan Sumekar-pun menyahut, “jalan sudah terbuka.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Bagaimana mungkin keris itu ada di tangan Anusapati?” bertanya Witantra.

“Ken Dedes memberikan kepadanya.”

“Apakah Permaisuri sudah memilih?” desak Mahendra.

“Bukan maksudnya, Anusapati menyimpan keris itu untuk pengamanan dirinya. Jika keris itu tidak berada di tanganya, maka ada kemungkinan keris itu menikam jantungnya.”

“Dan Sri Rajasa tidak memintanya?” bertanya Kuda Sempana.

“Sampai sekarang tidak,” jawab Mahisa Agni, “aku tidak tahu apakah Sri Rajasa sudah mengetahuinya.”

Mereka yang mendengarnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesan yang aneh telah merambat dihati mereka. Seakan-akan mereka mempunyai gambaran yang sama bagi masa mendatang.

“Hanya ada dua kemungkinan,” berkata Witantra didalam hatinya, “Anusapati dilenyapkan atau melenyapkan. Suatu pilihan yang maha sulit. Agaknya Anusapati tidak cukup kuat secara batin untuk menjatuhkan pilihan itu. Seperti juga Mahisa Agni sendiri yang terlalu banyak dipengaruhi oleh pertimbangan peri kemanusiaan seperti yang dikatakan oleh Sumekar.”

Tetapi Witantra tidak mengucapkannya.

Yang kemudian berbicara adalah Mahendra, “Jadi menurut pertimbanganmu Agni, apakah yang sebaik-baiknya kita lakukan sekarang?”

“Aku ingin mendapat bantuan pengaruh Witantra pada para Senapati, terutama yang berusia sebaya dengan kita atau lebih muda sedikit. Mereka tentu mengenal siapakah Witantra itu. Bagi Senapati yang muda, mungkin Witantra hanyalah nama saja. Tetapi bagi yang lebih tua, mereka mengenal jauh lebih banyak.”

“Maksudmu?” bertanya Witantra.

“Witantra. Sekali-sekali aku ingin kau menampakkan dirimu. Dengan demikian maka nama Witantra akan disebut-sebut lagi. Dan aku yakin bahwa nama itu akan berpengaruh pada Sri Rajasa.”

“Pengaruh apakah yang kau kehendaki?”

“Ia akan semakin disudutkan oleh kenangan masa lampaunya. Mudah-mudahan ia dapat melihat segala kesalahan yang pernah dilakukannya.”

“Kau berharap bahwa Sri Rajasa akan melangkah surut?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Kepalanya perlahan-lahan menunduk lesu. Namun demikian, kepalanya itu bergerak sedikit, Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Suatu keajaiban. Seandainya ada penyesalan dihati Sri Rajasa. tetapi ia sudah terperosok terlampau jauh. Tohjaya sudah menjadi dewasa serta dibekali dengan segala macam angan-angan yang hitam. Tentu Tohjaya akan selalu memaksa Sri Rajasa untuk berjalan terus, betapa-pun hatinya sendiri dirambati oleh kesadaran, namun sudah terlambat.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Aku kira dapat juga dicoba Mahisa Agni. Aku besok akan menemui satu dua orang Senapati terutama dari pasukan Pengawal yang aku duga masih dapat mengenal aku dan mengingat apa yang pernah mereka kenal itu dahulu.”

“Kita masih akan mempertaruhkan beberapa hari untuk itu?” bertanya Sumekar.

“Hanya beberapa hari,” jawab Mahisa Agni, “sampai saat ini aku masih belum diusir oleh Sri Rajasa meskipun sudah ada beberapa kesan agar aku segera kembali ke Kediri.”

“Jadi, apakah kita tidak lebih baik bertindak langsung dan cepat?” bertanya Sumekar kemudian.

“Kita masih akan mencoba Sumekar.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Kita melihat apakah di beberapa hari ini ada perubahan pada Sri RAjasa dan terutama pada tuanku Tohjaya. Jika hubungan keduanya tidak terputus, menurut dugaanku, akan sulitlah kiranya mendapatkan perubahan suasana di istana Singasari yang menjadi semakin panas ini.”

Mahisa Agni memandang Sumekar sejenak. Namun kepalanya-pun terangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita berdoa, mudahkan ada perbaikan yang terjadi di istana Singasari.”

“Tetapi kita jangan membiarkan diri kita terjebak oleh kebaikan hati kita,” berkata Mahendra kemudian, “aku setuju untuk menunggu satu dua hari. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Sumekar, dalam satu dua hari dapat terjadi apapun, karena perubahan dapat berlangsung dengan cepatnya. Sri Rajasa mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas. Itulah sebabnya semuanya dapat terjadi.”

“Aku menyadari,” jawab Mahisa Agni, “karena itu, selain setiap usaha harus dialasi dengan sikap hati-hati, juga harus dilambari dengan kesiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan.”

“Baik. Aku sependapat,” berkata Witantra, “marilah kita coba. Aku akan segera menghubungi beberapa orang perwira di dalam pasukan pengawal istana.”

Demikianlah mereka kemudian menemukan kesepakatan. Meskipun Sumekar dan Mahendra menyangsikan hasilnya. Namun mereka ingin melihat juga, apakah yang kira-kira akan terjadi.

Sejenak kemudian maka Mahisa Agni dan Sumekar-pun segera kembali ke istana, sedang Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana kembali ke persembunyian mereka di pinggir kota. Mereka telah berusaha untuk mendapatkan sebuah pondokan bagi mereka yang menyebut dirinya pedagang-keliling, karena sebenarnyalah bahwa Mahendra adalah seorang saudagar.

Tanpa meninggalkan kewaspadaan Mahisa Agni masih dapat bersabar beberapa saat. Perkembangan perasaan yang dibacanya pada tingkah laku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa menimbulkan harapan dihatinya, bahwa masalahnya tidak harus diselesaikan dengan kekerasan.

Dengan lembut ia berusaha menenteramkan hati Anusapati. Meskipun ia tidak mengatakannya, bahwa ia melihat perubahan pada Sri Rajasa, namun ia mengharap bahwa Anusapati tidak merubah cara hidupnya sehari-hari.

“Berbuatlah seperti tidak terjadi sesuatu atasmu dan atas perasaanmu Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “mudah-mudahan kita menemukan jalan yang sebaik-baiknya.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Mudah-mudahan kita tidak terlambat paman. Menurut perasaanku, kini sedang terjadi perang yang tiada kasat mata antara kita dengan Ayahanda Sri Rajasa bersama Adinda Tohjaya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat ingkar. Yang dikatakan oleh Anusapati itu memang sebenarnya telah terjadi.

Meskipun di saat terakhir terpercik harapan dihati Mahisa Agni, namun ia selalu memperingatkan kepada Anusapati, bahwa ia tidak boleh melupakan trisula kecilnya.

“Aku selalu membawanya paman. Di setiap saat trisula itu ada padaku. Bahkan di malam hari bukan saja trisula itu, tetapi juga keris Empu Gandring selalu berada di pembaringan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia bergumam, “Mudah-mudahan aku dapat menyaksikan, bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang tajam sampai saatnya aku kembali ke Kediri.”

“Tetapi bagaimana sepeninggal paman?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sepeninggalku-pun keyakinan itu harus aku dapatkan. Jika tidak, aku masih akan tetap berada di istana ini, meskipun jatuh perintah Sri Rajasa agar aku kembali ke Kediri. Atau …” Mahisa Agni tidak melanjutkan kata-katanya.

“Atau? Apakah maksud paman?” bertanya Anusapati.

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Atau perang ini sudah berakhir, siapa-pun yang akan menjadi korban.”

Demikianlah, maka Anusapati yang muda itu masih harus menahan diri. Kadang-kadang terasa dadanya menjadi pepat dan kehilangan pengendalian diri. Tetapi setiap kali ia menyadari pesan pamannya, maka ia-pun segera mengurungkan niatnya untuk berbuat sesuatu.

Bahkan ia selalu berusaha untuk berbuat seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Ia berkeliaran di halaman istana tanpa pengawalan. Bahkan ia berkunjung dari satu gardu yang lain seperti yang sering dilakukannya. Namun demikian ia tidak berpisah dengan trisula kecilnya, yang dapat memberikan perlindungan kepadanya, apabila pada suatu saat Sri Rajasa telah sampai pada titik akhir dari kesabarannya.

Dalam pada itu, Witantra benar-benar telah menepati janjinya. Dalam pakaian seorang pedagang ia berjalan hilir mudik di dalam kota Singasari yang menjadi semakin besar. Dan ternyata seperti dugaannya, tidak ada orang lagi yang dapat mengenalnya. Selain wajahnya yang bertambah tua, Witantra sebagai Panglima tidak pernah berpakaian seperti yang dipakainya itu.

Tetapi Witantra masih dapat mengenali beberapa orang prajurit yang tidak sedang bertugas. Namun demikian Witantra tidak menemui setiap orang yang dijumpainya. Ia masih juga memilih orang-orang yang menurut dugaannya dapat dipercayainya.

Witantra tertarik kepada seorang prajurit dan Pasukan Pengawal yang sedang berdiri di muka regol rumahnya, Rumah yang agaknya belum terlalu lama dibangun. Rumah yang dibangun sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang perwira.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Rumah itu jauh lebih baik dari rumah orang itu selagi ia masih menjadi seorang perwira di Tumapel.

“Apa salahnya,” berkata Witantra, “itu adalah haknya. Mudah-mudahan ia masih mengenal aku dan mudah-mudahan ia dapat diajak berbicara serba sedikit seperti dahulu. Jika ia berubah, maka persoalannya akan menjadi lain.”

Meskipun dengan agak berdebar-debar juga Witantra mendekati regol itu. Tetapi dalam ujud seorang pedagang yang berkecukupan, maka perwira yang berdiri diregol itu-pun menaruh perhatian kepadanya.

Karena ternyata Witantra mendekatinya, maka perwira itu-pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil menyapanya, “Apakah Ki Sanak mempunyai keperluan?”

Witantra-pun mengangguk hormat. Jawabnya, “Ya, ki Sanak. Aku ingin bertemu sejenak.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan Witantra bertanya pula, “Apakah aku boleh minta sekedar keterangan?”

“Tentu,” jawab perwira itu.

“Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Kebo Pamungkas.”

“Kebo Pamungkas?” orang itu mengulangi.

Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia melihat sesuatu yang menyentuh perasaannya.

“Kenapa Ki Sanak mencari Kebo Pamungkas?” bertanya orang itu.

Witantra mulai curiga. Ia sadar, bahwa orang itu tidak akan segera mengaku tentang dirinya. Apalagi agaknya orang itu sama sekali sudah tidak mengenalinya.

“Aku adalah seorang utusan dari kawan Kebo Pamungkas,” jawab Witantra.

“Siapakah yang mengutusmu?”

“Seorang pertapa dipuncak gunung.”

“Aneh,” jawab orang itu, “menilik bentuk lahiriah, saudara adalah seorang pedagang, atau seorang pemilik tanah yang kaya. Bukan seorang cantrik, atau putut yang tinggal di puncak gunung pada seorang pertapa.”

“Sebenarnya aku seorang Putut.”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Siapakah pertapa di puncak gunung yang mengutusmu menemui Kebo Pamungkas.”

Witantra menjadi ragu-ragu. Namun katanya kemudian. “Ia adalah seorang bekas prajurit, yang tersisih. Tetapi sampai saat ini ia masih yakin akan kebenaran pendiriannya itu.”

Perwira itu mengerutkan keningnya.

“Kenapa kau sama sekali tidak mengesankan bahwa kau seorang Putut dari padepokan di puncak gunung? Apatah perjalananmu mengandung suatu maksud sandi?”

“Tidak,” berkata Witantra, “tidak ada maksud sandi.”

“Sebut namanya,” perwira itu tidak sabar.

“Witantra, Witantra,” orang itu merenungi nama itu sejenak. Lalu, “dimana padepokan itu?”

“Jauh, dipuncak gunung.”

“Witantra,” sekali lagi orang itu menyebut namanya, lalu katanya, “apakah sekarang Witantra menjadi seorang bertapa di puncak gunung yang jauh?”

“Ya.”

Perwira itu memandang Witantra itu sejenak. Lalu, “Silahkan. Silahkan masuk.”

Witantra menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak tahu tanggapan yang sebenarnya dari perwira itu. Namun ia-pun tidak menolak dan mengikuti perwira itu masuk kedalam rumahnya.

Witantra-pun kemudian duduk dipendapa. Sejenak ia mengamati perabot rumah itu. Dilihatnya lewat pintu pringgitan yang terbuka, beberapa jenis senjata tergantung pada dinding rumah itu.

“Aku tertarik sekali jika Ki Sanak dapat berceritera tentang Witantra,” berkata perwira itu kemudian, “sudah lama sekali aku tidak melihatnya sejak ia meninggalkan Tumapel.”

“Ya. Sejak itu,” sahut Witantra. Lalu, “ia merasa bahwa ia sudah tidak terpakai lagi.”

“Sejak ia dikalahkan oleh Mahisa Agni di arena karena ingin membela nama baik Kebo Ijo.”

“Ya. Dan sekarang Mahisa Agni menjadi wakil Mahkota di Kediri.”

“Tetapi hubungan antara keduanya tidak seperti yang kita harapkan. Apakah banyak yang kau ketahui tentang isi istana? Tentang Sri Rajasa, puteranda Pangeran Pati dan putera-putera Ken Umang?”

Witantra menggelengkan kepalanya. “Apakah ada sesuatu yang menarik?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawab perwira itu.

Witantra memandanginya sejenak. Lalu, “Bagaimana jika para perwira, terutama yang telah bertugas di dalam pasukan pengawal sejak Tumapel, bertemu kembali dengan Witantra.”

“Kami tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan Witantra. Witantra adalah seorang pemimpin yang baik bagi kami.” Perwira itu berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kami yang sudah ada di dalam pasukan Pengawal sejak Tumapel, jumlahnya tidak lebih dari jari tangan.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu di antara mereka ada yang sudah terlalu tua. Tetapi tentu ada yang dengan sengaja disisihkan karena tidak disukai.

“Ki Sanak,” berkata Witantra kemudian, “bagaimanakah jika Witantra itu pada suatu saat mengunjungi sahabat-sahabatnya di Singasari?”

“Tentu tidak apa-apa,” jawab perwira itu, namun kemudian, “Tetapi saat ini Mahisa Agni berada di Singasari. Jika hubungan di antara mereka dapat pulih kembali, maka tidak akan ada persoalan yang lain. Aku kira Sri Rajasa-pun tidak akan menaruh banyak perhatian.”

“Benar begitu?”

Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesis, “Entahlah bagi Sri Rajasa itu.”

Witantra mengerutkan keningnya. Namun ia tidak segera mengatakan sesuatu tentang dirinya. Agaknya ia masih ingin meyakinkan tanggapan perwira itu sendiri.

“Bagiku,” berkata perwira itu, “perhatian Sri Rajasa kini tertumpah pada persoalan putera-puteranya itu. Agaknya Putera Mahkota dan putera tertua dari isteri Sri Rajasa yang muda, tidak dapat dirukunkan.”

“Apakah Sri Rajasa tidak berpihak?”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak dapat mengatakannya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia masih dicengkam oleh keragu-raguan. Dan ia-pun bertanya, “Apakah itu berarti bahwa kedatangan Witantra di Singasari tidak menambah persoalan bagi Sri Rajasa?”

“Memang mungkin sekali. Karena menurut pendapat kami, kepergian Witantra adalah karena adik seperguruannya yang terbunuh oleh Ken Arok, langsung atau tidak langsung sebelum Ken Arok bergelar Sri Rajasa.”

“Maksudmu?” bertanya Witantra, “apakah sebenarnya Kebo Ijo tidak bersalah?”

“Tentu Kebo Ijo bersalah. Tetapi ia belum sampai di arena hukuman yang sebenarnya. Bukankah Witantra mengetahui bahwa kematian Kebo Ijo justru sebelum jatuh keputusan tentang dirinya, sedang saat itu tujuh pimpinan di Tumapel masih meragukan kesalahannya?”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia-pun bertanya, “jadi bagaimana menurut pendapatmu? Jika seandainya sekarang Witantra itu hadir di Singasari?”

“Tidak apa-apa bagiku,” berkata perwira itu. “tetapi, aku kira pengaruhnya masih juga menggelisahkan Sri Rajasa dan barangkali juga Mahisa Agni. Kita tidak tahu, jika Witantra ada di Singasari, bagaimanakah tanggapannya atas peristiwa yang kini terjadi di istana ini. Mungkin ia tidak sependapat dengan Sri Rajasa dan tidak pula berpihak kepada Mahisa Agni sekaligus. Mungkin ia ingin menanamkan pengaruhnya sendiri sehingga pada suatu saat akan ada tiga kekuatan yang terpisah di Singasari.”

“Tentu tidak,” berkata Witantra, “Witantra tidak akan mempunyai keinginan untuk berbuat apa-apa lagi. Jika ia hadir di Singasari hanyalah sekedar melepaskan kerinduannya kepada beberapa orang sahabatnya termasuk Mahisi Agni.”

Witantra menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ia tidak mendendam kepada siapa pun. Tidak kepada Mahisa Agni dan tidak kepada Sri Rajasa.”

Perwira itu mengangguk-anggukkkan kepalanya. Katanya, “Mungkin Witantra yang sudah menjadi seorang pertapa itu tidak mendendam dan bahkan tidak lagi menganggap ada persoalan apa-pun di Singasari ini. Tetapi aku tidak tahu apakah tanggapan Sri Rajasa atas kehadirannya.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dan ia-pun kemudian bertanya, “Ki Sanak, apakah Ki Sanak tidak dapat menunjukkan seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas?”

“Jika Witantra sendiri datang, aku akan mengatakan kepadanya, tentang seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”

Witantra merenung sejenak, lalu gumamnya. “Jika demikian tempat yang ditunjukkan kepadaku itu ternyata keliru. Aku mendapat keterangan, bahwa dirumah ini aku akan dapat dapat menjumpai seorang perwira yang bernama Kebo Pamungkas.”

“Kebo Pamungkas adalah seorang perwira prajurit Tumapel, bukan seorang prajurit Singasari.”

“O.” Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “jadi, jika demikian aku telah salah. Atau barangkali Witantra lah yang salah.”

“Aku akan menunjukkan kepada Witantra jika ia datang sendiri kepadaku,” berkata perwira itu.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Ki Sanak sudah mengenal Witantra?”

“Tentu sudah. Aku mengenalnya dengan baik sejak kami bersama-sama menjadi prajurit di Tumapel.”

“O, jadi Ki Sanak juga seorang prajurit Tumapel?”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Dan Witantra mendesaknya, “Jika demikian Ki Sanak sebenarnya juga mengenal orang yang bernama Kebo Pamungkas yang Ki Sanak sebut sebagai seorang prajurit Tumapel itu.”

Sejenak perwira itu terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Sudah aku katakan, jika Witantra itu datang, aku akan menjelaskannya.”

“Baiklah Ki Sanak,” berkata Witantra, “aku akan mengatakan agar Witantra datang sendiri kepada Ki Sanak. Tetapi Ki Sanak tentu sudah tidak mengenalnya, karena ia menjadi semakin tua, tidak lagi berpakaian seperti seorang Panglima dan tidak lagi mempunyai pengaruh apa-pun pada lingkungannya.”

“Dan Kebo Pamungkas?”

“jangan bertanya lagi sebelum Witantra datang.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya perwira itu sejenak. Namun benar tidak ada kesan bahwa perwira itu masih mengenalnya.

Sejenak Witantra termangu-mangu. Apakah ia akan menunjukkan dirinya sendiri, atau ia akan mengambil keputusan lain sebelum terlanjur, karena akibatnya masih sangat diragukannya. Apalagi orang itu yang menurut pengenalannya bernama Kebo Pamungkas, selalu mencoba mengingkar; nama itu karena ia kini seorang perwira prajurit Singasari.

“Apakah ada keberatannya ia menyebut nama itu?” bertanya Witantra kepada diri sendiri.

Sejenak kedua orang itu dicengkam oleh keragu-raguan. Namun karena kehadiran Witantra itu memang dengan sengaja untuk membangunkan nama Witantra kembali, maka ia-pun kemudian menetapkan bahwa ia akan menyatakan dirinya sendiri dihadapan perwira itu.

Maka dengan hati-hati Witantra-pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Jika Witantra itu datang, apakah Ki Sanak tidak akan melupakannya?”

“Pertanyaanmu sudah beberapa kali aku jawab, aku tidak akan dapat melupakan Witantra.”

Witantra itu tertawa. Katanya, “Ternyata kau keliru Ki Sanak. Kau ternyata sudah tidak akan dapat mengenal Witantra lagi.”

“Akh. Kenapa kau mendahului menebak? Kau belum mengetahui bagaimana aku mengenalnya dahulu dan bagaimana ia mengenal aku.”

“Bagaimana jika aku membawa dua atau tiga orang sekaligus datang kemari? Apakah kau dapat memilih, yang mana di antara mereka yang bernama Witantra?”

“Tentu, bawalah mereka kemari. Tiga, empat atau sepuluh orang sekaligus.”

Witantra justru tertawa karenanya. Katanya, “Tidak lebih dari seorang, dan Ki Sanak sudah tidak mengenalnya.”

“He,” orang itu mengerutkan keningnya.

“Tidak lebih dari satu orang,” ulang Witantra, “apakah Ki Sanak benar-benar masih mengenal Witantra he?”

Orang itu termangu-mangu sejenak.

Dan Witantrapnn tertawa semakin lebar, “Kau kenal aku?”

“Witantra, Witantra,” orang itu menyebut namanya. Diamat-amatinya Witantra yang masih saja tertawa itu.

“Apakah maksudmu?” perwira itu bertanya.

“Akulah Witantra,” jawab Witantra itu.

Kerut merut dikening perwira itu menjadi semakin dalam. Namun dengan ragu-ragu ia berkata, “Mustahil aku tidak mengenalnya lagi. Mustahil.”

“Apakah yang aneh menurut pendapatmu? Pakaian saudagar kaya ini?”

Orang itu tidak menjawab.

“Maaf,” berkata Witantra, “sebenarnya akulah Witantra itu. Itulah sebabnya aku mengetahui namamu. Dan itulah sebabnya aku menjadi agak bimbang ketika kau agaknya mengingkari nama itu.”

Orang itu masih memandang Witantra dengan tajamnya. Keragu-raguan yang dalam tampak pada sorot matanya. Namun sejenak kemudian ia berdesis, “Witantra, Witantra.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Rambutku sudah berubah warnanya. Keningku sudah menjadi berkerut merut, dan barangkali pipiku sudah mulai melipat.”

“Ah,” orang itu berdesah. Namun perlahan-lahan ia mulai dapat mengingat kembali wajah Witantra. Wajah Panglima pasukan Pengawal istana pada masa kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung. Wajah yang tenang, dan seakan-akan permukaan air yang dalam. Diam, namun mengandung perbawa yang mencengkam.

Sejenak perwira itu memandang wajah Witantra. Dan dengan suara yang ragu ia bertanya, “Apakah benar aku berhadapan dengan Witantra.”

“Ya Ki Sanak. Aku berkata sebenarnya bahwa kau memang sedang berhadapan dengan Witantra. Karena itu jangan ingkar lagi bahwa kau adalah Kebo Pamungkas.”

Perlahan-lahan perwira itu menganggukkan kepalanya. Dan perlahan-lahan pula ia berkata, “Ya. aku semakin mempercayaimu, bahwa aku memang berhadapan dengan Witantra. Dan karena itu aku tidak akan dapat mengingkari nama itu lagi, meskipun sejak aku menjadi perwira dari pasukan Pengawal di Singasari, namaku sudah berubah.”

“O,” Witantra menganggukkan kepalanya, “tetapi aku sadar bahwa kau ingin meyakinkan, apakah aku benar-benar Witantra. Nah, sekarang kau masih mendapat kesempatan. Apakah yang ingin kau ketahui, dan apakah yang dapat aku katakan, agar kau benar-benar percaya bahwa aku adalah Witantra.”

Perwira itu memandang Witantra sejenak. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah yang kau ketahui tentang Putera Mahkota?”

Witantra tersenyum. Katanya, “Kau tidak mau mengatakannya. Tetapi baiklah, akulah yang akan mengatakannya bahwa Putera Mahkota itu bukan putera Sri Rajasa. Sebagai seorang Panglima Pasukan Pengawal aku tahu pasti, bahwa pada saat Akuwu Tunggul Ametung terbunuh, Ken Dedes sedang mengandung muda. Aku tahu pasti, bagaimana tuan puteri itu selalu diganggu oleh pening dikepala dan kadang-kadang muntah-muntah. Bagaimana tuan puteri selalu ingin makan mentah-mentahan yang asam. Dalam keadaan itulah tuan puteri kemudian kawin dengan Ken Arok yang dengan sendirinya melaksanakan tugas pemegang kekuasaan atas Tumapel. Dan ternyata ia adalah seorang yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Itulah sebabnya, dengan bekal yang ada ia akhirnya dapat mempersatukan seluruh Singasari. Sehingga ia akhirnya bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Nah, apakah kau percaya bahwa aku Witantra. Tentu bukan sekedar keteranganku itulah yang memastikan jika aku Witantra, tetapi terlebih-lebih adalah ingatanmu tentang aku.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku yakin sekarang, bahwa kau memang Witantra. Tetapi Witantra memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemampuannya hampir tidak ada duanya di Tumapel waktu itu, kecuali Mahisa Agni dan barangkali Sri Rajasa sendiri.”

Witantra tersenyum. Katanya, “Itu adalah pada masa mudaku, selagi olah kanuragan seakan-akan merupakan keputusan terakhir bagi setiap persoalan.”

Perwira itu memandang Witantra sejenak. Meskipun ia menjadi semakin yakin bahwa yang dihadapinya memang Witantra, sebenarnyalah ia mengharapkan agar Witantra dapat membuktikan dirinya dengan kemampuannya yang luar biasa.

Tetapi tidak ada tanda-tandanya bahwa Witantra akan berbuat sesuatu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia masih saja duduk ditempatnya sehingga perwira Singasari itu tidak lagi mengharap bahwa ia dapat melihat Witantra menunjukkan sesuatu kepadanya.

Sejenak keduanya berdiam diri. Sejenak perwira itu masih mengharap. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya dan berkata seakan-akan diluar kehendaknya, “Aku sekarang yakin, bahwa kau memang Witantra. Justeru bahwa kau tidak berbuat apa-apa itulah, yang menunjukkan kepadaku, sebenarnyalah kau seorang yang matang dan memiliki ilmu tinggi. Kau tidak dengan tergesa-gesa turun kehalaman dan meremas sebongkah batu menjadi debu. Itulah yang mengagumkan. Aku jadi yakin sekarang.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah, jika kau mempercayaiku. Justru aku tidak berbuat apa-apa.”

“Karena kau tidak berbuat apa-apa itulah aku jadi yakin.” sahut perwira itu, “jika kau dengan bangga menunjukkan kemampuanmu dan membuat pengeram-eram, maka kau tentu bukan Witantra yang aku kenal dahulu. ”

Witantra tertawa. Katanya, “Tanggapanmu-pun adalah tanggapan seorang perwira yang matang. Jarang sekali seseorang memiliki tanggapan serupa itu. Jika bukan Ki Kebo Pamungkas, ia tentu ingin melihat aku meremas batu menjadi debu.”

Keduanya tertawa. Dan perwira itu berkata, “Ternyata kita masih sempat bertemu lagi. Aku senang sekali dapat bertemu dengan Kau Witantra. Selama aku menjadi prajurit sejak di Tumapel, aku belum pernah mempunyai Panglima seperti kau. Bukan saja Panglima Pasukan Pengawal, tetapi Panglima pasukan yang manapun.”

“Kau memuji. Tentu aku jauh ketinggalan dari Panglima yang ada sekarang. Mereka tentu memiliki kecakapan dan kemampuan melampaui setiap Panglima yang pernah ada.”

Perwira itu mengangkat bahunya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak ingin mengatakan sesuatu tentang para Panglima yang ada sekarang.

“Baiklah,” berkata Witantra, “kita tidak berbicara terlalu banyak tentang diri kita sendiri. Aku ingin bertanya secara keseluruhan, apakah terdapat banyak kemajuan sejak Singasari berdiri sampai sekarang?”

Kebo Pamungkas mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Secara keseluruhan kita memang banyak mengalami kemajuan. Tumapel memang terlampau kecil dibanding dengan Singasari sekarang.” ia berhenti sejenak. Lalu, “aku berkata sebenarnya Witantra.”

“Ya, aku mengerti. Demikian juga menurut pengamatanku dari luar dinding istana Singasari. Bahkan sampai ke puncak bukit yang jauh masih terasa kekuasaan tetapi juga perlindungan dari Singasari. Memang agak berbeda dengan Tumapel yang seakan-akan hanya berkuasa di kota-kota besar saja sekitar Tumapel. Meskipun pada saat itu masih ada kekuasaan yang lebih tinggi. Kediri.”

“Tetapi,” tiba-tiba suara perwira itu merendah, “ternyata kemudian telah timbul persoalan di dalam istana Singasari sendiri. Di dalam keluarga Ken A rok yang bergelar Sri Rajasa. Sebagai seorang Maharaja ia berhasil membina Singasari menjadi suatu negara besar. Tetapi sebagai seorang ayah ia benar-benar gagal.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apalagi lahir Anusapati yang bukan anaknya yang sebenarnya. Ternyata Sri Rajasa yang berjiwa besar menghadapi persoalan Kediri, bukan Ken Arok yang berjiwa besar menghadapi kelahiran anak tiri yang sudah diketahui sejak Ia kawin, bahwa pada saatnya anak itu tentu akan lahir.”

Witantra masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan ternyata anak itu sampai saat ini masih juga membawa persoalan. Ternyata kematian Tunggul Ametung bukan suatu penyelesaian yang tuntas bagi Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa.”

Witantra memandang wajah Perwira itu sejenak. Ia melihat sesuatu melintas diwajah itu, dan dengan serta-merta ia bertanya, “Bagaimanakah tanggapan para prajurit, terutama para Pelayan Dalam, Pasukan Pengawal dan pemimpin pemerintahan?”

“Maksudmu?”

“Tentang hubungan Sri Rajasa dengan putera Tunggul Ametung yang sekarang justru menjadi Putera Mahkota.”

“Kurang baik. Tidak ada yang dapat disalahkan pada keduanya. Keadaanlah yang memang menghadapkan mereka pada suatu sikap yang hampir dapat dikatakan bertentangan. Alangkah mudahnya melenyapkan Putera Mahkota itu sebenarnya seandainya tidak ada Mahisa Agni yang kebetulan adalah kakak tuan Puteri Ken Dedes yang pengaruhnya ternyata cukup besar di Singasari dan Kediri.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Seakan-akan ia baru mendengar semuanya itu untuk pertama kalinya.

“Persoalan ini sebenarnya tumbuh sejak Ken Arok mengambil keputusan untuk kawin dengan Ken Dedes yang sedang mengandung. Itulah soalnya.”

“Dan siapakah yang paling baik bagi Singasari? Seharusnya kita tidak berbicara tentang siapakah orangnya. Tetapi apakah yang dilakukannya bagi Singasari yang sudah memiliki bentuknya ini.”

Perwira Singasari yang semula bernama Kebo Pamungkas itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Witantra sejenak, lalu dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Bagiku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu adalah orang yang paling baik bagi Singasari. Baru kemudian Anusapati yang memang sudah menunjukkan darmanya bagi rakyat. Ia adalah orang yang terkenal dengan sebutan Kesatria Putih. Tetapi justru ketika rakyat Singasari dan juga kalangan istana mengetahui bahwa Kesatria Putih adalah Putera Mahkota, maka geraknya menjadi terbatas sekali.”

Witantra mengerutkan keningnya. Bahkan hampir di luar sadarnya ia berkata. “Jika demikian, maka yang terbaik sekarang adalah mempertahankan kekuasaan Sri Rajasa seandainya timbul persoalan, karena seperti yang kau katakan hubungan antara Sri Rajasa dan Anusapati agak kurang baik.”

“Jika persoalannya terbatas sampai disitu, maka kau benar. Tetapi persoalannya tidak berhenti sampai disitu.”

“Masih, akan timbul persoalan apa lagi?”

“Tentu umur Sri Rajasa betapa-pun ia manusia yang ajaib, tidak akan abadi. Pada suatu saat ia akan mati apa-pun sebabnya. Nah, jika ia meninggal, timbullah persoalan yang berat bagi Singasari.”

“Persoalan yang mana yang masih harus dinilai lagi?”

“Tentu Sri Rajasa ingin tahta Singasari jatuh pada keturunannya. Bukan kepada anak Tunggul Ametung. Karena ia tidak dapat ingkar bahwa anak Tunggul Ametung itu yang dianggap oleh rakyat Singasari sebagai puteranya yang sulung, maka ia adalah Putera Mahkota. Namun Sri Rajasa tidak ingin Putera Mahkota itu akan menggantikannya sebagai Maharaja, karena ia agaknya memilih tuanku Tohjaya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia kagum atas penilaian Kebo Pamungkas. Agaknya Kebo Pamungkas tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadinya, sehingga ia dapat melibat setiap orang di dalam istana Singasari dengan tepat.

“Jadi apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh Sri Rajasa?” bertanya Witantra.

“Tidak seorang-pun yang mengetahuinya,” jawab Kebo Pamungkas, “mungkin ia berusaha menyingkirkan Anusapati. Mungkin pula ia berusaha agar Anusapati menarik diri atas kehendaknya sendiri.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu. “Tetapi yang manakah tanda-tanda yang dapat kau lihat akan terjadi?”

Perwira itu menggelengkan kepalanya, “Tidak seorang-pun yang tahu. Semuanya dapat terjadi. Tetapi mungkin juga tidak terjadi sesuatu.”

Witantra mengangguk-angguk sambil tersenyum. Memang sulit untuk mengatakannya. Hanya orang-orang yang terlibat langsung sajalah yang dapat melihat kemungkinan yang lebih jelas akan terjadi di Singasari. Bahkan Mahisa Agni yang terlibat-pun masih juga mengharap bahwa yang mungkin terjadi itu tidak terjadi.

Demikianlah Witantra berada dirumah perwira itu untuk beberapa saat, sehingga akhirnya ia-pun minta diri. Tetapi ia masih bertanya, siapa sajakah kawan-kawan lamanya yang dapat dikunjunginya, sekedar untuk melepaskan perasaan sepi karena, untuk beberapa tahun lamanya ia tinggal dipadepokan yang terpencil.

“Kau benar-benar tinggal dipadepokan terpencil?”

“Benar. Untuk itu aku berkata sebenarnya.”

“Atau barangkali kau justru menjadi seorang pedagang yang kaya raya, tetapi tidak bernama Witantra?”

“Tidak. Aku tidak melakukannya. Aku hanya meminjam perlengkapan adikku yang memang menjadi seorang pedagang, agar kehadiranku di kota yang besar ini agak pantas dipandang orang.”

“Terutama kau yang dengan sengaja melepaskan semua bekas yang masih tertinggal pada seorang Panglima Pasukan Pengawal.”

“Bekas saja,” sahut Witantra.

Kebo Pamungkas tertawa. Katanya, “Baiklah Witantra jika kau mempunyai kesempatan, maka kawan-kawan lama yang kau kunjungi pasti akan menerimamu dengan senang hati. Tetapi jangan terkejut jika orang Singasari akan menyebut namamu lagi, karena masih banyak orang-orang tua yang ingat akan namamu.”

“Tentu tidak. Meskipun masih ada juga orang yang ingat akan namaku, tetapi mereka tidak akan menyebutnya lagi. Karena namaku sekarang tidak mempunyai arti apa-apa lagi.”

“Apa salahnya. Kadang-kadang sebuah kenangan mempunyai arti tersendiri didalam hidup ini. Juga kenangan atas seorang prajurit yang bernama Witantra, yang pada waktu itu menjabat sebagai seorang Panglima Pasukan Pengawal.”

Witantra tertawa. Katanya, “Terima kasih. Mudah-mudahan kawan-kawan lama mempunyai tanggapan seperti kau.”

Demikianlah maka Witantra-pun kemudian minta diri kepada perwira yang pernah mempergunakan nama Kebo Pamungkas itu. Seperti yang ditunjukkan kepadanya, maka ia-pun berjalan menuju ke rumah seorang perwira yang lain, yang seperti juga Kebo Pamungkas, kini menjabat di dalam keprajuritan Singasari, juga dalam Pasukan Pengawal, Tanggapan beberapa orang kawan yang dikunjunginya hampir tidak ada bedanya. Juga tanggapan mereka atas keadaan Singasari seutuhnya. Namun dari pembicaraan yang dilakukan, meskipun seakan-akan hanya sepintas lalu, ternyata bahwa para perwira menilai Anusapati lebih baik dari Tohjaya.

Namun seorang perwira berkata kepadanya. “Tetapi hati-hati kakang Witantra. Diantara para prajurit, bahkan para Panglima yang sekarang, ada yang dengan membabi buta berpihak kepada Tohjaya, meskipun hal itu telah dipengaruhi oleh pamrih pribadi.”

Pembicaraan-pembicaraan itu ternyata memberikan gambaran yang hampir lengkap bagi Witantra atas keadaan Singasari. Bagaimana-pun juga Sri Rajasa dan Mahisa Agni menyimpan perasaan masing-masing dan sejauh-jauhnya menimbulkan kesan pertentangan yang ada didalam dada mereka, namun ternyata bahwa hal itu terasa pula bagi para perwira di Singasari.

Perang yang berlangsung dengan diam-diam itu tidak dapat disembunyikan seutuhnya, sehingga dengan diam-diam pula hampir setiap perwira telah mencoba menilai keduanya, dan bahkan telah berusaha untuk menempatkan dirinya.

Namun lebih daripada itu, seperti yang memang dimaksudkan oleh Mahisa Agni, maka nama Witantra-pun mulai disebut-sebut lagi. Dari bibir kebibir, beberapa orang dari lingkungan Pasukan Pengawal mulai membicarakannya.

“Witantra, aku pernah mendengar nama itu,” berkata seorang prajurit muda.

“Tentu,” jawab yang lain, yang umurnya sudah jauh lebih tua. “Witantra adalah Panglima Pasukan Pengawal pada jaman Akuwu Tunggul Ametung bertahta di Tumapel.”

Prajurit yang masih muda itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Aku memang pernah mendengar. Ia terusir oleh Mahisa Agni dalam perang tanding diarena, karena Witantra mencoba mempertahankan nama baik, kebo Ijo, yang mati terbunuh, setelah ia membunuh Akuwu Tunggul Ametung.”

“Nah, kau banyak mengetahui tentang Witantra,” berkata yang sudah lebih tua, “begitulah ceriteranya.”

“Tetapi kenapa ia sekarang datang lagi ke Singasari?”

Prajurit yang tua itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin ia sekedar ingin melihat Singasari sekarang. Tetapi mungkin ia ingin menemui beberapa orang kawan-kawannya.”

Prajurit yang muda itu hanya sekedar mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sedang prajurit yang tua itu berkata pula, “Jika kehadirannya ini didengar oleh Mahisa Agni maupun oleh Sri Rajasa, pasti akan menimbulkan persoalan baru, Mahisa Agni yang pernah bermusuhan di arena itu, tentu tidak akan segera dapat melupakan. Bahkan mungkin Witantra sekarang ingin melihat persoalan yang terjadi di Singasari dan siapa tahu, ia masih mampu menentukan sikap dan berbuat sesuatu, karena bagaimanapun juga ia adalah seorang Panglima yang besar pada waktu itu. Agaknya tidak ada orang lain kecuali Mahisa Agni sajalah yang dapat mengalahkannya, yang kebetulan karena kematian Empu Gandring, maka Mahisa Agni merasa berkepentingan untuk menghukum Kebo Ijo dan tetap menempatkannya pada kedudukannya sebagai seorang pembunuh.”

Prajurit yang muda itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ceritera semacam itu pernah didengarnya meskipun tidak lengkap. Namun bagaimana-pun juga kehadiran Witantra menjadi bahan pembicaraan di setiap kalangan, terutama keprajuritan, bukan saja dari lingkungan pasukan Pengawal.

Ternyata bahwa ceritera tentang Witantra itu menjalar terus sehingga suatu ketika sampai juga ketelinga Tohjaya. Seperti hampir setiap prajurit dan orang-orang didalam lingkungan istana pernah mendengar nama itu, maka Tohjaya-pun pernah mendengarnya pula. Tohjaya mengetahui bahwa Witantra pernah melakukan perang tanding melawan Mahisa Agni, sehingga Witantra dengan menderita malu meninggalkan Tumapel pada waktu itu.

“Tentu Witantra itu masih tetap mendendam Mahisa Agni,” berkata Tohjaya di dalam hatinya, “mudah-mudahan dendamnya itu kini semakin menyala di dalam hatinya.”

Dengan harapan yang melonjak di dalam hatinya, maka Tohjaya-pun kemudian menyampaikan ceritera yang didengarnya itu kepada Ayahanda Sri Rajasa.

“Siapakah yang mengatakan kepadamu?” bertanya Sri Rajasa.
“Beberapa orang menceriterakan bahwa mereka mendengar tentang kehadiran Witantra di Singasari.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun ia-pun menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memerlukannya lagi.”

“Ayahanda,” berkata Tohjaya kemudian, “jika Witantra itu dahulu pernah bermusuhan dengan Pamanda Mahisa Agni, apakah salahnya jika sekarang Witantra itu berada istana ini dan dihadapkan kepada kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh Pamanda Mahisa Agni? Atau barangkali ayahanda dapat mengambil kebijaksanaan, agar Kediri tidak terpengaruh terlampau dalam oleh Pamanda Mahisa Agni, ayahanda dapat mengangkat Witantra itu menggantikannya.”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Katanya. “Tentu tidak semudah itu Tohjaya. Inilah salah satu tugas yang harus dilakukan oleh seorang raja. Tidak sekedar menuruti gejolak perasaannya saja. Kita harus mempertimbangkan, akibat yang dapat ditimbulkan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil. Memang terlampau mudah untuk mengambil keputusan itu. Tetapi akibat dari keputusan itulah nanti yang akan menimbulkan persoalan-persoalan yang membuat kita bertambah pening.”

“Baiklah ayahanda. Tetapi apa-pun yang dapat kita berikan kepadanya, sebaiknya Witantra itu kita undang untuk masuk kembali kedalam istana.”

Sri Rajasa tidak segera menyahut. Kini setiap kali ia selalu diganggu oleh kenangan masa lampaunya. Bagaimanakah kiranya jika Witantra itu mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah membunuh Tunggul Ametung, Empu Gandring dan kemudian siapakah yang telah mendorong Kebo Ijo dengan licik, sehingga ia terbunuh sebagai seorang pembunuh.

Bahkan tiba-tiba saja timbul pertanyaan didalam hatinya, “Apakah Witantra sudah mengetahuinya dan kehadirannya itu didorong oleh sakit hatinya? Jika demikian tentu bukan Mahisa Agni yang dicarinya untuk melepaskan dendam dan sakit hatinya.”

Tetapi Sri Rajasa tidak dapat mengatakannya kepada Tohjaya. Tohjaya masih belum tahu apakah yang dilakukan oleh ayahandanya untuk mencapai kedudukannya yang sekarang. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan membiarkan anaknya mengetahui bahwa ia adalah seorang pembunuh. Pembunuh yang licik meskipun kini setiap orang mengakuinya sebagai seorang Maharaja yang berani dan bijaksana. Tetapi sekali ini ia dibelit oleh persoalan keluarga yang kadang-kadang mengaburkan kebijaksanaannya.

Sri Rajasa terkejut ketika Tohjaya bertanya kepadanya, “Apakah ayahanda sependapat?”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan mempertimbangkannya Tohjaya. Tetapi tentu dengan segala macam perhitungan. Sebagai seorang raja yang mengemudikan Singasari dalam keseluruhan, bukan hanya sekedar di dalam istana ini, atau lebih sempit lagi hanya mengurusi kau dan Anusapati, mungkin juga Mahisa Agni. maka aku harus membuat pertimbangan-angan yang masak.”

“Ayahanda,” Tohjaya mencoba mendesak, “apakah persoalan ini akan ada sangkut pautnya dengan kebijaksanaan ayahanda bagi Singasari?”

“Tentu Tohjaya. Anusapati adalah seorang Pangeran Pati. Semua persoalan yang menyangkut Anusapati, tentu akan menyangkut Singasari.”

“Maksudku, jika kemudian Pamanda Mahisa Agni dan kakanda tersingkir dan ayahanda mengangkat penggantinya, maka persoalannya tentu akan selesai. Agar mereka tidak akan dapat berbuat apa-pun lagi untuk seterusnya, maka sebaiknya mereka itu harus disingkirkan untuk selama-lamanya.”

“Aku mengerti maksudmu. Dan aku akan memikirkannya.”

Tohjaya tidak berani mendesaknya lagi. Sejenak ia masih duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia-pun mohon diri meninggalkan bangsal ayahandanya Sri Rajasa.

Bersama dua orang pengawalnya ia berjalan di halaman istana Singasari. Dengan sengaja ia berjalan melalui lorong yang menyilang halaman bangsal Anusapati.

Ternyata seperti yang diharapkannya Anusapati berada di depan bangsalnya bersama anak laki-lakinya. Sejenak Tohjaya berhenti. Kemudian perlahan-lahan ia mendekatinya.

“Putera kakanda sudah pandai berkelahi,” berkata Tohjaya sambil tersenyum.

Anusapati-pun tersenyum pula. Sambil mengusap kepala anaknya ia berkata, “Sebentar lagi ia sudah pandai memacu seekor kuda.”

Tohjaya menganggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tentu seperti ayahandanya. Sebagai Kesatria Putih kakanda adalah penunggang kuda yang baik.”

“Terima kasih,” sahut Anusapati mendengar pujian itu, lalu ia-pun mencoba mempersilahkan Tohjaya meskipun ia tahu pasti bahwa Tohjaya tidak akan bersedia melakukannya.

“Ah, aku hanya singgah sebentar Kakanda Anusapati, Aku baru saja menghadap Ayahanda Sri Rajasa.”

“O,” Anusapati mengangguk-angguk.

“Apakah Kakanda Anusapati sudah mendengar berita yang baru saja tersiar di seluruh kota Singasari ini?”

“Maksudmu?” bertanya Anusapati.

“Kakanda, apakah kakanda pernah mendengar nama Witantra?”

“Witantra,” Anusapati mengulangi.

“Ya. Witantra.”

Anusapati menjadi berdebar-debar. Tentu ia mengenal Witantra dengan baik. Tetapi kenapa Tohjaya bertanya kepadanya?

“Aku memang pernah mendengar,” jawab Anusapati ragu-ragu.

“Tentu sudah. Witantra pernah menjabat sebagai seorang Panglima pada jaman pemerintahan Tumapel yang dipimpin hanya oleh seorang Akuwu bernama Tunggul Ametung.”

Dengan kaku Anusapati menganggukkan kepalanya. Tunggul Ametung adalah nama yang dikenalnya dengan baik sejak ia mengetahui siapakah dirinya itu sebenarnya.

“Sudah lama Witantra menghilang. Kau tahu sebabnya kakanda?” bertanya Tohjaya pula.

Anusapati tidak menyahut.

“Tentu kau pernah mendengar. Witantra ternyata dikalahkan oleh Pamanda Mahisa Agni di arena, dalam usahanya membersihkan nama baik seorang prajurit bernama Kebo Ijo. Kau tentu pernah mendengar.”

Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Dan ia masih harus mendengarkan beberapa keterangan lagi mengenai Witantra itu, yang semuanya telah diketahuinya dengan baik.

“Yang penting kakanda,” berkata Tohjaya kemudian, “bahwa Witantra dan Pamanda Mahisa Agni adalah musuh bebuyutan,” ia berhenti sejenak. Lalu, “ternyata sekarang nama Witantra itu timbul kembali. Di hari terakhir Witantra telah menampakkan dirinya di antara rakyat Singasari. Kita tidak tahu maksudnya. Namun yang terdengar, setelah Witantra bertapa di atas bukit yang sangat jauh, ia kini memiliki kemampuan jasmaniah yang tiada terkira. Juga ilmu kejiwaan dan kekuatan rokhaniahnya. Pokoknya kini ia menjadi seorang yang mumpuni.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kini dadanya justru menjadi sedikit lapang. Ternyata tanggapan Tohjaya tentang Witantra tidak tepat seperti yang sebenarnya.

“Karena itu kakanda,” berkata Tohjaya kemudian, “aku ingin berpesan. Bukan maksudku merendahkan Pamanda Mahisa Agni, tetapi jika masih ada kesempatan, sebaiknya Pamanda Mahisa Agni segera meninggalkan Singasari sebelum Witantra berbuat sesuatu untuk melepaskan dendamnya terhadap paman Mahisa Agni. Kekalahannya di arena tidak akan pernah dapat dilupakan seumur hidupnya justru karena ia seorang kesatria.”

Terasa dada Anusapati terguncang pula mendengar kata-kata Tohjaya. Meskipun Anusapati mengerti, bahwa yang dikatakan oleh Tohjaya itu tidak akan terjadi, karena justru Witantra sudah terlampau sering, bukan saja bertemu, tetapi sudah bekerja sama untuk waktu yang lama, namun cara mengucapkan kata-katanya benar-benar menyakitkan hati.
“Jangan tersinggung kakanda,” berkata Tohjaya kemudian, “aku tahu bahwa Pamanda Mahisa Agni adalah pamanmu karena ia adalah kakak ibunda Permaisuri, namun sebenarnyalah aku memang bermaksud baik.”

Sejenak Anusapati terdiam. Dengan susah payah ia mencoba menahan perasaannya. Setelah gejolak dihatinya mereda, maka ia-pun menjawab, “Terima kasih atas pesanmu Adinda Tohjaya. Jika aku bertemu dengan Pamanda Mahisa Agni, biarlah aku memberitahukannya.”

“Bukan sekedar memberitahukan kakanda. Tetapi kakanda harus mohon kepada Pamanda Mahisa Agni, agar ia menyingkir. Mungkin ia sekarang merasa dirinya tidak terkalahkan selain oleh Ayahanda Sri Rajasa. Ia merasa menang pula atas prajurit Singasari dan Kediri secara pribadi. Namun mungkin ia harus berpikir lain terhadap orang yang bernama Witantra itu. Setelah bertahun-tahun Witantra hilang dari Tumapel, maka ia tentu bukan Witantra yang dahulu. Sedang apakah sebenarnya yang dimiliki oleh Pamanda Mahisa Agni?”

“Memang tidak ada,” berkata Anusapati, “karena itu aku memang akan menyampaikannya. Seperti katamu, aku akan minta Pamanda Mahisa Agni kembali saja ke Kediri.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia mengharap Anusapati menjadi sakit hati. Tetapi ternyata Anusapati kemudian sama sekali tidak memberi kesan bahwa ia telah tersinggung karenanya.

“Kakanda Anusapati,” berkata Tohjaya kemudian, yang memang berusaha membuat Anusapati marah, “jika Pamanda Mahisa Agni tidak ingin segera kembali ke Kediri karena ibunda Permaisuri sedang sakit, maka sebaiknya Pamanda Mahisa Agni bersembunyi saja di dalam istana. Di sini Pamanda Mahisa Agni akan mendapat perlindungan dari Ayahanda Sri Rajasa, jika Witantra mencarinya.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Terlintas di kepalanya, pertengkaran yang hampir saja menyeretnya ke dalam suatu pertentangan yang terbuka. Karena itu, maka betapa-pun juga. Anusapati masih mencoba menahan hatinya. Bahkan ia-pun mencoba untuk segera mengakhiri pembicaraan yang membosankan itu, katanya, “Adinda Tohjaya. Apakah adinda sudah melihat kehadiran Witantra?”

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Apakah aku perlu melihat sendiri? Aku dan ayahanda mempunyai beberapa orang petugas sandi. Mereka benar-benar sudah meyakini, bahwa Witantra kini ada di Singasari.”

“Maksudku,” berkata Anusapati. “Adinda Tohjaya sudah mendapat keterangan langsung dari mereka yang memang bertugas mengawasinya, atau orang-orang yang secara kebetulan menjumpainya?”

Tohjaya tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Anusapati sejenak, lalu katanya. “Aku sudah mendengarnya langsung dari petugas sandi.”

“Jika demikian, alangkah akan berterima kasihnya Pamanda Mahisa Agni, tentu tidak akan melupakan budi baik Adinda Tohjaya, karena dengan demikian Adinda Tohjaya sudah menyelamatkan nyawanya.”

Sepercik warna semburat merah membayang di wajah Tohjaya. Meskipun demikian ia masih juga menjawab, “Itu tidak perlu. Bagiku, tidak banyak kepentingannya apakah Pamanda Mahisa Agni terjebak oleh Witantra atau tidak. Terserahlah kepada kakanda. Apakah kakanda menganggap perlu menyampaikannya atau tidak.”

“O.” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “baiklah, aku akan memberitahukan. Tetapi aku justru menjadi sangat cemas.”

“Karena itu, kakanda harus segera menemuinya.”

“Bukan karena Pamanda Mahisa Agni akan mengalami pembalasan dendam. Tetapi yang aku cemaskan, jika aku salah memberikan keterangan, justru Pamanda Mahisa Agnilah yang akan mencari Witantra itu.”

Dada Tohjaya berdesir. Cepat-cepat ia berkata, “Apakah Pamanda Mahisa Agni sudah jemu hidup? Witantra bukan lagi Witantra yang dikalahkan.”

“Perkembangan waktu yang berjalan dalam kehidupan Witantra akan dialami juga oleh Pamanda Mahisa Agni. Ingat, bahwa Pamanda Mahisa Agni telah berhasil mengalahkan Senapati Agung Kediri pada waktu itu. Bukan sekedar peorang Panglima Pasukan Pengawal istana Tumapel.”

Dada Tohjaya telah terguncang. Ia tidak dapat membantah, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni pernah mengalahkan Senapati Agung Kediri, pada saat Sri Rajasa berhasil memecah pertahanannya dan membunuh Maharaja Kediri pula.

Meskipun demikian Tohjaya masih berkata, “Terserahlah kepadamu. Cobalah sekali-sekali melihat kenyataan. Jika Pamanda Mahisa Agni ingin mencari Witantra, sebaiknya di persilahkan saja.”

“Baiklah Adinda Tohjaya,” berkata Anusapati kemudian, “aku akan menyampaikannya. Sikap yang akan diambil kemudian terserah kepada Pamanda Mahisa Agni. Apakah Pamanda Mahisa Agni akan mengulangi perang tanding di arena, atau pamanda ingin menemuinya dan langsung membunuhnya.”

“Pamanda Mahisa Agni yang akan dibunuhnya.”

“O begitu?” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ternyata sikap Anusapati itu sama sekali tidak menyenangkan hati Tohjaya. Bahkan hampir saja ia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Untunglah bahwa kedua prajurit pengawalnya itu kemudian mendekatinya dan berkata, “Tuanku, marilah. Ibunda tentu menunggu.”

Tohjaya memandang kedua pengawalnya yang juga menjadi penasehatnya sejenak. Tetapi ketika ia melihat prajurit yang ada didepan regol halaman bangsal Anusapati timbul kecurigaannya, bahwa pengawal-pengawalnya itu telah menjadi ketakutan.

Namun Tohjaya tidak berbuat apa-apa. Dipandanginya sekali lagi Anusapati sambil berkata, “berhati-hatilah. Mungkin Witantra tidak hanya sekedar menuntut balas kepada Pamanda Mahisa Agni saja.”

“Terima kasih atas peringatan ini. Tetapi kesatria Putih akan mencarinya sampai ketemu, apa-pun yang akan terjadi.”

Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Ternyata hati Anusapati sama sekali tidak menjadi kecut. Bahkan sebaliknya. Namun Tohjaya masih juga berkata, “Jangan terlalu sombong. Kesatria Putih tidak ada harganya dihadapan Witantra.”

“Tetapi Kesatria Putih pernah membinasakan penjahat yang paling berbahaya di Singasari. Jika demikian, maka Kesatria Putih akan mencobanya jika ia gagal, biarlah ia terkubur bersama kesombongannya.”

Kemarahan Tohjaya sudah sampai di ubun-ubunnya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa, karena ia masih tetap sadar, bahwa ia berada di halaman bangsal Anusapati.

“Baiklah kakanda,” berkata Tohjaya, “aku minta diri. Aku sudah mengatakannya. Terserahlah kepada kakanda. Jika terjadi sesuatu dengan Mahisa Agni dan Kesatria Putih, sama sekali kakanda tidak dapat menyalahkan aku lagi.”

“Terima kasih adinda.”

Tohjaya-pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah meninggalkan bangsal Anusapati. Ia tidak berhasil menakut-nakuti Pangeran Pati itu, tetapi justru sebaliknya. Hatinya sendiri serasa terbakar. Namun untuk menyenangkan hatinya sendiri ia berkata kepada kedua pengawalnya, “Kakanda Anusapati memang sombong sekali. Tetapi ia tentu menjadi ketakutan. Mungkin ia akan berlari-lari kepada Pamanda Mahisa Agni dan mengatakan bahwa sebaiknya Pamanda Mahisa Agni pergi saja dari Singasari dan bahkan mungkin Kakanda Anusapati ingin ikut serta bersamanya. Tentu ia tidak akan dapat berbuat apa-apa dihadapan Witantra meskipun ia menamakan dirinya Kesatria Putih atau Kesatria hijau atau hitam sama sekali.”

Kedua pengawalnya sama sekali tidak menyahut. Mereka sudah mengenal Tohjaya dengan baik. Jika mereka berani membantahnya barang satu patah kata, maka Tohjaya itu tentu akan membentak-bentaknya.

Sebenarnyalah bahwa Anusapati-pun kemudian memang pergi kepada Mahisa Agni. Diceriterakannya apa saja yang dikatakan oleh Tohjaya kepadanya.

Mahisa Agni justru tersenyum mendengar ceritera Anusapati tentang Tohjaya tersebut. Katanya, “Tentu ia tidak mengetahui bagaimana perasaan ayahandanya. Jika ayahandanya menduga bahwa Witantra mengerti apa yang sudah terjadi, maka Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tentu akan berpikir lain dari Tohjaya. Tetapi tentu ia tidak akan mengatakannya kepada puteranya itu.”

“Aku kira Adinda Tohjaya akan menunggu, apakah pamanda akan segera pergi ke Kediri atau tidak. Jika pamanda kemudian ternyata pergi ke Kediri, maka Adinda Tohjaya tentu menganggap bahwa pamanda menjadi ketakutan dan dengan tergesa-gesa meninggalkan Singasari.”

“Kasihan anak itu,” berkata Mahisa Agni kemudian.

“Jadi, apakah yang akan paman lakukan setelah paman Witantra sekarang mulai disebut-sebut orang lagi.”

“Aku menunggu perintah Sri Rajasa. Mungkin Sri Rajasa akan memanggilku dan mempersoalkan Witantra itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah pendapat Adinda Tohjaya itu juga pendapat Ayahanda Sri Rajasa?”

“Belum dapat ditentukan,” jawab Mahisa Agni.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, ayahanda tentu akan memanggil Pamanda Mahisa Agni, karena menurut Ayahanda Sri Rajasa, pamanda berkepentingan karena pamanda pernah melakukan perang tanding melawan Witantra. Dan agaknya hal itu semua orang mengetahuinya.”

“Terutama yang umurnya sudah cukup tua. Mungkin banyak di antara prajurit Singasari sekarang yang menyaksikan perang tanding pada waktu itu. Namun yang aku tidak mengerti, dari mana Tohjaya dapat mengatakan bahwa Witantra sekarang bukan Witantra yang dahulu.”

“Kesan setiap orang tentu demikian pamanda, karena paman Witantra seakan-akan baru saja turun dari pertapaannya. Tentu ia sudah membekali dirinya dengan ilmu yang paling sakti. Jika ia datang ke Singasari, maka tentu orang akan menghubungkannya dengan Pamanda Mahisa Agni.”

Makisa Agni tersenyum pula. Lalu katanya, “Anusapati. Aku akan menunggu. Tentu tidak akan lama lagi Sri Rajasa memanggil aku untuk membicarakan Witantra. Dan tentu tidak dalam sidang di paseban, meskipun aku telah dipanggil pula mengikuti sidang di paseban.”

“O, jadi paman akan mengikuti sidang di paseban?”

“Ya.”

“Dan aku, seorang Pangeran Pati tidak dipanggil untuk mengikuti sidang ini?”

“Bukan yang pertama kali terjadi Anusapati.”

Anusapati menggeretakkan giginya. Tetapi sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Silahkan paman.”

Mahisa Agni-pun kemudian minta diri untuk pergi ke paseban, sedang Anusapati-pun meninggalkan bangsal pamannya itu dan berjalan tanpa tujuan dihalaman. Rasa-rasanya ia sudah jemu untuk bermain-main dengan diam-diam seperti itu. Tetapi apa boleh buat. Seperti kata pamannya, bahwa apabila mungkin biarlah persoalannya selesai dengan baik.

“Paman terlampau dipengaruhi oleh kelembutan hatinya. Sebagai seorang prajurit, paman pasti bersikap lain. Sebab dengan demikian, ia akan mengalami kesulitan,” berkata Anusapati di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba saja ia tidak dapat ingkar mengingat kemenangan pamandanya itu di Kediri melawan Senapati Agung Kediri saat itu. Tanpa disadarinya maka langkah Anusapati-pun membawanya kedalam taman. Ketika ia melihat beberapa orang juru taman sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang, ia-pun mendekatinya.

Juru taman yang sedang duduk-duduk itu-pun segera bangkit, seakan-akan mereka sedang bermalas-malasan dan tidak melakukan pekerjaannya. Kedatangan Anusapati membuat mereka terkejut dan justru merasa bersalah.

Tetapi Anusapati segera berkata, “Duduklah. Duduklah. Aku tidak sedang mengamat-amati kerja kalian. Jika kalian bermalas-malasan, biarlah aku pura-pura tidak melihat. Tetapi jika memang waktunya kalian beristirahat, itu adalah hak kalian.”

Para juru taman itu termangu-mangu sejenak. Namun Sumekarlah yang mula-mula duduk kembali ditempatnya, sedang kawan-kawannya-pun mengikutinya meskipun ragu-ragu.

Anusapati-pun kemudian mendekati mereka, dan bahkan duduk di antara mereka.

Juru taman yang ada disekitarnya menjadi segan-segan juga sehingga mereka berkisar menjauh.

“Duduklah. Kenapa kalian menjadi bingung? Aku sekali-sekali ingin duduk bersama kalian disini. Tidak dipaseban.”

Para juru taman itu menarik nafas dalam-dalam.

“Nah, berbicaralah tentang persoalan yang sedang kalian bicarakan sebelum aku datang.”

Sejenak para juru taman itu saling berpandangan. Lalu Sumekarlah yang menyahut, “Kami tidak membicarakan sesuatu tuanku.”

“jadi apa yang kalian perbuat?”

“Kami berbicara tentang isteri Ki Ruwe ini,” sahut salah seorang dari mereka.

“Kenapa dengan isterinya?”

“Isterinya adalah seorang juru masak yang paling pandai menurut penilaiannya. Ia sangat pandai membuat segala macam masakan. Masakan dari segala macam bahan. Daging, telur, ikan air, udang, yuyu, cengkerik dan bilalang.”

“Ah,” potong juru taman yang bernama Ki Ruwe, “siapa yang mengatakan cengkerik dan bilalang. Tentu isterimu sendiri.”

Kawan-kawannya tertawa. Salah seorang berkata. “O, jadi kau tidak menyebut cengkerik dan bilalang?”

Ki Ruwe memandang kawannya itu dengan mata terbelalak. Sedang kawan-kawannya yang lain tidak dapat menahan tertawanya.

Kemudian beberapa lamanya mereka berbicara tentang taman dan bunga-bungaan. Tentang pepohonan didalam dan diluar istana. Pohon beringin dan pohon preh yang hidup di sekitar istana. Pohon sawo kecik dan pohon tanjung.

Akhirnya, Anusapati-pun bertanya kepada para juru taman itu, “He, apakah kalian mendengar berita tentang sesuatu yang agak lain dari ceritera tentang pepohonan dan pohon buah-buahan?”

Juru taman itu saling berpandangan sejenak. Beberapa diantara mereka menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak tuanku. Kami tidak mendengar berita tentang apa-pun juga. Mungkin karena kami hanya juru taman saja di istana ini.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Misalnya ceritera tentang seseorang yang sudah lama sekali hilang dari pembicaraan dan tiba-tiba saja sekarang muncul kembali.”

“O,” tiba-tiba juru taman yang bernama Ki Ruwe itu menyahut, “Aku mendengar.”

“Apa?” bertanya kawan-kawannya, “tidak tentang masakan.”

“Tidak. Aku baru saja mendengar para prajurit membicarakan seorang yang bernama Witantra.”

“Witantra,” sahut yang lain, “aku juga mendengar.”

“Ya, aku juga mendengar,” berkata juru taman yang sudah tua. “Aku mendengar kehadiran kembali Witantra di Singasari setelah bertahun-tahun lamanya ia menghilang dari Tumapel. Tentu tidak dari Singasari, sebab pada waktu itu pemerintahan di daerah ini dipimpin oleh seorang Akuwu yang terbunuh.”

“Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?” bertanya Anusapati.

Ki Ruwe mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, Akuwu Tunggul Ametung. Aku juga pernah mendengar.”

“Ah kau,” potong kawannya yang lain.

Dan juru taman yang sudah tua itu melanjutkan, “Sekarang Witantra itu kembali lagi.”

“Apakah kau pernah mengalami pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung?” bertanya Anusapati.

“Ya, aku mengalaminya,” sahut juru taman yang tua itu.

“Bagaimana menurut penilaianmu?”

Juru taman itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia teringat, bahwa selagi Permaisuri yang melahirkan Anusapati itu kawin dengan Ken Arok, ia sudah mengandung muda. Karena itu maka ia-pun menjadi ragu-ragu untuk mengatakannya.

“Bagaimana?” desak Anusapati.

Juru taman itu menjadi semakin bingung. Bahkan timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah Putera Mahkota ini sudah mengetahui tentang dirinya?”

Sejenak Anusapati menunggu. Tetapi juru taman itu tidak mengatakan apa-pun juga.

“Bagaimana?” desak Anusapati, “bagaimanakah menurut penilaianmu?”

Juru taman itu menjadi bingung. Keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya.

“Baiklah,” berkata Anusupati, “kau tidak mau mengatakannya?”

“Bukan tidak mau,” jawab juru taman itu, “tetapi hamba waktu itu belum menjadi seorang juru taman.”

“Meskipun kau belum seorang juru taman, tetapi kau tentu dapat mengingat, apa yang sudah terjadi di Tumapel waktu itu.”

“Ya, ya tuanku. Hamba memang mengingat serba sedikit. Tetapi yang hamba ingat, Tumapel adalah kota yang tenang.”

“Tenang sekali?” bertanya Anusapati.

Juru taman itu menjadi bingung. Karena itu maka jawabnya, “Yang tenang sekali.”

Anusapati tersenyum. Ia mengerti bahwa juru taman itu tidak dapat mengatakan apa yang sesungguhnya ada di dalam hatinya. Baik atau jelek. Namun tiba-tiba saja sesuatu berdesir di hati Anusapati. Agaknya banyak orang-orang Tumapel yang pada waktu itu pernah mengenal ibunda Permaisuri, bahwa sebenarnya ibundanya itu sudah mengandung pada saat ia kawin dengan Ken Arok.

“Tentu semua orang mengetahuinya waktu itu,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “jika mereka tidak mengetahuinya dari bentuk jasmaniah ibunda, mereka-pun dapat menghitung waktu. Belum genap sembilan bulan ibunda kawin dengan Sri Rajasa, aku tentu sudah dilahirkan.”

Tiba-tiba saja Anusapati menjadi semburat merah. Namun ia berusaha untuk menyembunyikan gejolak perasannya itu. Bahkan kemudian ia-pun tertawa sambil berkata, “Suatu ukuran yang dapat kau pergunakan, apakah kau menjadi semakin kaya atau miskin. Jika kau menjadi semakin kaya, maka Singasari tentu lebih baik bagi rakyat kecil seperti kau. Tetapi jika kau menjadi semakin miskin tentu ada kesalahan. Apakah Singasari yang bersalah sehingga rakyatnya miskin, atau kaulah yang kemudian dihinggapi penyakit kemaksiatan. Judi barangkali?”

Juru taman yang gelisah itu menarik nafas dalam-dalam melihat Anusapati tertawa. Demikian juga juru taman yang lain, yang ikut menjadi tegang pula.

“Hamba, hamba tidak menjadi lebih kaya dan tidak menjadi lebih miskin, tuanku. Rasa-rasanya hamba dahulu dapat makan sekeluarga, dan sekarang juga hamba dapat makan sekeluarga.”

“Apakah jumlah keluargamu sama?”

“Tidak tuanku. Dahulu hamba seorang pengantin baru disaat Akuwu Tunggul Ametung meninggal. Sekarang hamba sudah mempunyai sembilan belas anak.”

“Sembilan belas?” Anusapati menjadi terheran-heran.

“Hamba tuanku.”

“Bagaimana mungkin kau mempunyai sembilan belas orang anak?”

“Hamba beristeri tiga orang, tuanku.”

“O,” Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah sebabnya hidupmu sejak dahulu sampai sekarang tetap saja seperti itu. Sembilan belas orang anak.”

“Tetapi mereka semuanya mendapat bagiannya tuanku.”

Anusapati tersenyum. Lalu, “Dan kau tinggal juga di dalam halaman istana?”

“Tidak tuanku, hamba tinggal di luar. Hamba mempunyai sebidang tanah yang sempit, sebuah rumah yang besar meskipun buruk untuk menampung tiga orang isteri dan sembilan belas anak hamba itu.”

Anusapati menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu katanya, “Pantas jika isterimulah yang pandai memasak ikan air, yuyu, cengkerik dan bilalang.”

“Bukan tuanku, bukan isteri hamba.”

Anusapati hanya tersenyum saja. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan berjalan-jalan. Di paseban sedang ada sidang. Tetapi aku tidak ikut serta.”

 

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]
Source : www.agusharis.net

~ Article view : [211]