Pelangi di Langit Singasari [ 78 ]

257

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 78 ]

 

JURU TAMAN yang ada ditempai itu hampir tidak ada yang menaruh perhatian, apakah Anusapati ikut serta di dalam sidang di paseban atau tidak. Tetapi bagi Sumekar pemberitaan itu merupakan pertanda, bahwa jarak antara Sri Rajasa dan Anusapati masih belum menjadi semakin dekat seperti yang diharapkan oleh Mahisa Agni. Keduanya pasti tetap di dalam pendirian dan sikap masing-masing.

“Jika demikian, perang dengan diam-diam ini tidak akan segera berakhir. Jika Mahisa Agni keluar dari bangsalnya, aku harus menegaskan sekali lagi.”

Namun kemudian Sumekar mendengar Anusapati berkata, yang agaknya memang ditujukan kepada dirinya, “Aku akan menunggu paman Mahisa Agni setelah sidang dipaseban.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata bahwa Mahisa Agni justru dipanggil menghadap Sri Rajasa di dalam sidang di paseban.

Sepeninggal Anusapati, maka para juru taman itu pun segera kembali pada kerja masing-masing. Sumekar pun kemudian mengambi cangkul kecil bertangkai panjang. Dengan hati-hati ia pun kemudian menyiangi sebatang pohon soka putih di sudut taman itu.

Anusapati yang merasa semakin tersisih itu mengisi waktunya dengan berjalan-jalan di sepanjang halaman. Kadang-kasang ia berhenti pada sebuah gardu peronda. Prajurit Pengawal yang berada di gardu-gardu itu ternyata telah mendengar pula dan bahkan membicarakan tentang Witantra.

“Nama itu masih mempunyai pengaruh,” berkata Anusapati di dalam hatinya.

Dalam pada itu, di paseban, Sri Rajasa dan para pemimpin Singasari sedang membicarakan beberapa masalah tentang Singasari. Tentang beberapa gerombolan penjahat yang sudah berhasil diusir dari tempat-tempat yang ramai dan tersudut di hutan-hutan, daerah yang selalu diserang banjir, dan beberapa persoalan lainnya yang penting.

Para Panglima yang ikut di dalam sidang itu pun melaporkan kegiatan pasukan masing-masing dari tingkat yang tertinggi sampai dengan tingkat yang terendah.

Seperti yang didengar oleh Mahisa Agni pada paseban yang lewat, pada umumnya semua laporan adalah ceritera tentang kebaikan, kemenangan, kemakmuran dan kedamaian. Meskipun atas pertanyaan Sri Rajasa disinggung-singgung pula tentang bahaya banjir tentang kejahatan, tentang hama tanaman yang meluas, namun pada umumnya para pemimpin itu mengatakan, bahwa semuanya sudah dapat diatasi.

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya seperti pada sidang dipaseban yang lewat. Karena itu, bagi Mahisa Agni, sidang itu hampir tidak dapat menarik perhatiannya sama sekali. Hanya karena keharusan ia memperhatikan setiap keterangan dan laporan. Hanya karena orang lain mengangguk-anggukkan kepalanya, maka Mahisa Agni pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Namun berbeda dengan sidang yang lewat, maka kali ini Mahisa Agni diminta oleh Sri Rajasa untuk memberikan keterangan tentang Kediri dan daerahnya. Hal yang serupa hampir tidak pernah dilakukan dipaseban. Biasanya Mahisa Agni dipanggil menghadap langsung kepada Sri Rajasa dan satu dua orang penasehatnya saja, termasuk guru Tohjaya. Tetapi kini ia harus berbicara dimuka sidang.

Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu-ragu, jika ia berkata sebenarnya maka nada laporan adalah jauh berbeda dengan nada kidung yang mengalun dalam himbauan angin pegunungan. Jika ia berkata sebenarnya, maka nadanya bagaikan guruh yang meledak di langit yang bersih jernih.

Tetapi seperti yang ada di dalam nuraninya, maka Mahisa Agni tidak dapat berkata lain. Bahkan kemudian ia menganggap dirinya telah dipaksa oleh Sri Rajasa untuk membenturkan kepalanya sendiri pada dinding batu.

“Apakah aku akan dapat mengatakan keadaan yang benar-benar terjadi dengan jujur, sedang setiap orang di dalam paseban ini mengatakan bahwa mereka berhasil melakukan tugas masing-masing dengan baik,” bertanya Mahisa Agni kepada diri sendiri. Namun ternyata bahwa pertanyaan itu justru telah mendorongnya untuk menyatakan dirinya, pribadinya, meskipun akibatnya beberapa orang akan menyebutnya sebagai seorang Senapati Agung yang kurang mampu melaksanakan tugasnya karena di dalam laporannya masih terdapat cacat-cacat yang cukup besar.”

Sri Rajasa yang duduk diatas singgasananya yang beralaskan kulit harimau yang belum lama berhasil ditangkapnya di hutan selagi ia berburu, menunggu dengan berdebar-debar. Sebenarnyalah bahwa ia ingin mengetahui, apakah Mahisa Agni dapat mengatakan seperti yang dikatakannya langsung kepadanya tentang kekurangan-kekurangan yang terjadi di Singasari. Apakah ia tidak termasuk salah seorang dari para pemimpin Singasari yang selalu menyembunyikan kenyataan dihadapan banyak orang sekedar untuk mengangkat martabatnya sendiri.

Sejenak Mahisa Agni masih berdiam diri. Ketika ia memandang wajah Sri Rajasa yang tegang, maka ia pun segera bergeser sejenak sambil berkata, “Baiklah tuanku. Hamba akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di daerah pengawasan hamba sebagai orang yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari tuanku, Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Maharaja di Singasari.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “yang mendapat anugerah kewajiban atas Kediri yang telah dipersatukan dengan Singasari.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang para pemimpin yang lain pun menjadi berdebar-debar. Namun mereka merasa bahwa yang akan didengarnya adalah senada dengan setiap laporan yang disampaikan di dalam sidang di paseban itu.

“Am pun tuanku,” berkata Mahisa Agni, “bahwa hamba akan mengatakan yang benar kepada tuanku, bukan sekedar berkata untuk menyatakan kebenaran diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa Kediri masih belum memenuhi keinginan hamba sepenuhnya.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya, dan para pemimpin yang lain pun mulai merasakan kelainan di dalam nada laporan Mahisa Agni.

Demikianlah maka Mahisa Agni pun sagera melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di Kediri. Yang baik, yang bahkan kadang-kadang melampaui batas keinginannya sendiri, namun juga yang jauh dari memuaskan. Bahaya kering di samping bahaya banjir, sehingga akan mengancam Kediri dengan paceklik yang panjang. Tetapi juga beberapa daerah yang mengalami panen berlimpah-limpah.

“Masih juga ada kejahatan,” berkata Mahisa Agni, “meskipun tangan Kasatria Putih terasa juga di daerah Kediri.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Agni adalah Mahisa Agni. Ketika Sri Rajasa memandang wajah-wajah para pemimpin di paseban itu, tampaklah wajah-wajah yang tegang dan kemerah-merahan. Laporan Mahisa Agni tentang daerah kekuasaannya bagaikan suatu sindiran yang tajam atas mereka yang tidak pernah mengakui kekurangan masing-masing.

Namun tanggapan Sri Rajasa ternyata sangat mengejutkannya. Ia tidak menyangka bahwa sebenarnyalah ia masuk kedalam jebakan rangkap. Apapun yang dikatakannya, maka ia tentu akan terperosok di dalam tanggapan yang pahit.

“Itulah katanya,” berkata Sri Rajasa, “tampaknya Mahisa Agni adalah seorang yang rendah hati. Yang mengakui kekurangan dan kebodohannya.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Sejenak ia diam mematung. Ketika ia sempat memandang para pemimpin Singasari yang ada dipaseban itu termasuk para Panglima, hatinya menjadi berdebar-debar.

“Para pemimpin Singasari yang bijaksana,” berkata Sri Rajasa, “apakah kita akan dapat memberikan gelar kepadanya sebagai seorang pahlawan? Pahlawan yang membela kepentingan rakyat yang menurut penilaiannya di dalam kesulitan? Itulah Mahisa Agni yang sebenarnya. Sombong dan kurang bijaksana. Ia mencoba menyindir dan mencemoohkan laporan para pemimpin Singasari yang lain, yang seolah-olah sekedar menjilat kepadaku.”

Wajah Mahisa Agni menjadi merah padam. Sekilas ia melihat para pemimpin itu bergeser dan hampir setiap mata memandanginya dengan tajamnya.

“Apa katamu Mahisa Agni?” bertanya Sri Rajasa kepada Mahisa Agni kemudian.

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Ia dicengkam oleh kebingungan menghadapi Sri Rajasa. Ia tidak mengerti, bagaimanakah sebenarnya sikap Sri Rajasa atasnya akhir-akhir ini.

Namun akhirnya Mahisa Agni mencoba menganggap bahwa sebenarnya Sri Rajasalah yang sedang berada dipuncak kebingungannya menghadapi persoalannya. Ia kadang-kadang bersikap seakan-akan manyesali dirinya. Tetapi kadang-kadang ia dikejar olen kengerian atas segala dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia berusaha untuk mempertahankan dirinya.

“Ini adalah salah satu bentuk dari kebingungan itu,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “sehingga kebingungan itu telah merambat di dalam diriku pula.”

“Mahisa Agni,” berkata Sri Rajasa, “coba katakan dihadapan sidang ini, apakah maksudmu sebenarnya mengucapkan sindiran yang tajam itu kepada para pemimpin yang lain sehingga kau korbankan dirimu sendiri sebagai contoh dari kebodohan seorang pemimpin?”

“Tuanku,” berkata Mahisa Agni kemudian, “hamba tidak bermaksud apapun dengan laporan yang hamba katakan.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Sri Rajasa dengan saksama. Namun kemudian, seolah-olah tidak ada pilihan lain baginya dari pada mempertahankan ucapannya dengan segala akibatnya, “sebenarnyalah bahwa hamba tidak mempunyai prasangka dan maksud buruk. Hamba mengatakan tentang diri hamba. Bukan sebagai taruhan untuk mencemoohkan para pemimpin yang lain. Hamba tidak tahu apa yang telah terjadi di daerah-daerah lain di bawah pengamatan dan pimpinan pemimpin Singasari yang lain.”

“Jangan ingkar,” berkata Sri Rajasa, “kau pernah mengatakan kepadaku diluar sidang, bahwa daerah-daerah lain itu sebenarnya adalah daerah-daerah yang paling buruk. Laporan-laporan palsu itu sengaja dikatakan sekedar untuk mendapat pujian daripadaku.”

Terasa sesuatu bergejolak di dada Mahisa Agni. Namun ia masih juga menjawab, betapapun hatinya menjadi berdebar-debar, “Tuanku, memang ada kalanya seseorang mengatakan sesuatu tidak dihadapan orang lain. Jika hamba pernah mengatakan sesuatu tentang daerah-daerah lain tidak dihadapan orang lain tentu ada maksudnya. Tetapi jika tuanku menganggap, bahwa sebaiknya hamba mengatakan tentang daerah-daerah lain di luar harapan hamba, maka hamba pun tidak akan berkeberatan. Hamba akan mengatakan seperti yang hamba katakan, dengan harapan penilaian yang wajar dari para pemimpin Singasari, karena hamba yakin apa yang hamba katakan itu benar, dan tentu akan dibenarkan, jika kita semuanya adalah pemimpin-pimpinan Singasari yang sebenarnya, yang ingin melihat Singasari maju dan berkembang.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tetapi jika hamba sudah mengatakannya tuanku, hamba mengharap agar tuanku pun mengucapkan tanggapan tuanku seperti yang pernah tuanku ucapkan kepada hamba itu terhadap para pemimpin Singasari yang lain. Ucapan dan tanggapan tuanku itu pun adalah tanggapan yang wajar dari seorang Maharaja yang berpandangan jauh kedepan bagi negerinya.”

“Cukup, cukup,” Sri Rajasa memotong kata-kata Mahisa Agni dengan suara yang bergetar. Wajahnya menjadi merah padam dan sorot matanya bagaikan menyala.

Namun demikian masih tampak padanya suatu usaha untuk menahan diri dan mengendalikan perasaannya. Karena itulah maka ia pun berkata tertahan-tahan, “Baiklah Mahisa Agni. Kau memang seorang pemimpin Singasari yang lengkap. Kau pandai bermain dengan pedang di peperangan, tetapi kau juga pandai bermain lidah di dalam paseban. Tetapi aku pun tidak akan ingkar. Aku menghargai sikapmu yang terbuka itu, tetapi aku pun menilai sikapmu itu sebagai sikap yang sangat sombong, seakan-akan kau tidak terpengaruh oleh kehadiranku dan tanpa menghargai kuasaku sama sekali.”

“Am pun tuanku,” jawab Mahisa Agni, “sama sekali bukan maksud hamba berbuat demikian.”

Sri Rajasa terdiam sejenak. Tampak betapa ia berusaha menahan hatinya yang bergejolak.

Sementara itu, para pemimpin yang lain, yang mula-mula perasaan mereka yang tersinggung bagaikan disentuh api, tiba-tiba mempunyai tanggapan yang lain. Pembicaraan itu mengingatkan mereka, bahwa sebenarnya Mahisa Agni adalah seorang Senapati Agung yang memiliki kekhususan. Bukan karena ia saudara tuan Permaisuri, tetapi Senapati Agung itu adalah Senapati perang yang pilih tanding.

Dalam pada itu, selagi para pemimpin terombang-ambing di dalam suasana yang tegang, maka Mahisa Agni pun berkata, “Am pun tuanku, masih ada yang ketinggalan di dalam laporan hamba agar hamba tidak ingkar atas segala masalah yang hamba ketahui. Bahwa telah hadir di dalam kota Singasari tanpa menyatakan diri kepada yang berkuasa, seorang yang bernama Witantra. Belum ada seorang pun yang menyebutnya di dalam paseban ini, atau barangkali ada kesengajaan untuk menyembunyikannya.”

Sri Rajasa sebenarnya sudah mengetahui bahwa Witantra telah menampakkan dirinya di dalam kota Singasari, sehingga laporan tentang kehadiran Witantra itu tidak mengejutkannya. Tetapi yang mengejutkan adalah bahwa Mahisa Agni menganggap perlu membicarakan orang itu secara khusus.

Karena itu, maka Sri Rajasa pun kemudian berkata, “Kehadiran itu memang tidak perlu dilaporkan dipaseban ini. Aku sudah mengerti bahwa Witantra telah menampakkan dirinya setelah ia hilang bertahun-tahun. Aku kira para pemimpin yang lain pun telah mengetahuinya pula. Mereka sama sekali tidak tertarik pada berita itu. Dan apakah gunanya kehadiran seseorang dibicarakan di dalam paseban? Apakah para pemimpin Singasari tidak mempunyai persoalan lain yang penting selain membicarakan orang-orang yang sudah lama sekali tidak kita lihat dan tiba-tiba muncul dikota ini.”

“Tidak tuanku, jika orang itu bukan Witantra,” sahut Mahisa Agni, “apakah tuanku tidak ingat lagi, bagaimana Witantra itu menghilang dari Tumapel?”

“Tentu,” jawab Sri Rajasa.

“Hamba telah mengalahkannya di dalam perang tanding. Karena itu maka hamba sangat berkepentingan dengan orang yang bernama Witantra itu.”

“Kau takut pembalasan dendam?”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Lalu katanya, “Tentu tidak tuanku. Hamba tidak berkeberatan jika saat ini Witantra datang ke istana dan menuntut perang tanding untuk menebus kekalahannya. Tetapi yang penting bagi kita, apakah kedatangannya itu membawa persoalan baru baginya dan bagi kita.”

“Cukup.” wajah Sri Rajasa menegang sejenak, namun kemudian sekali lagi ia menguasai dirinya dan melanjutkannya, “baiklah kita tidak membicarakannya. Jika ia datang keistana, aku akan menemuinya dan jika ia masih mendendam karena kekalahannya, kini bukan tanggung jawabmu lagi. Jika saat itu kau bertempur tidak atas namamu sendiri, maka tanggung jawabnya tentu kini ada padaku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih tuanku. Jika demikian, maka persoalannya hamba serahkan kepada tuanku Sri Rajasa.”

“Kenapa kau menyerahkan persoalannya kepadaku? Seharusnya kau tidak mengatakan demikian. Tanggung jawab itu sudah ada padaku. Kau serahkan atau tidak kau serahkan.”

“Am pun tuanku, demikianlah kiranya maksud hamba.”

“Nah, sekarang, apakah masih ada persoalan-persoalan yang penting bagi Singasari. Aku hanya ingin berbicara tentang persoalan-persoalan yang penting, bukan persoalan seorang demi seorang yang hanya akan menghabiskan waktu saja.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sidang dipaseban itu rasa-rasanya menjadi tegang. Pusat perhatian para pemimpin Singasari kini tertuju kepada Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Dua orang yang seakan-akan menjadi puncak pimpinan pemerintahan yang langsung tidak langsung telah mereka hubungkan dengan kedua putera laki-laki Sri Rajasa yang lahir dari dua orang ibu. Bahkan para pemimpin Singasari yang mengetahui dengan pasti bahwa Anusapati sama sekali bukan putera Sri Rajasa melihat seakan-akan pertentangan antara Sri Rajasa dan Tunggul Ametung kini berkobar lagi dalam bentuknya yang berbeda, yang seakan-akan telah diwarisi oleh Anusapati dan Tohjaya.

“Jika tidak ada persoalan lagi, sidang ini aku bubarkan. Aku tidak akan mengadakan pembicaraan khusus dengan si apapun.”

Sejenak kemudian maka para pemimpin Singasari itu pun segera meninggalkan paseban dengan hati yang berdebar-debar. Sebagian dari mereka masih merasa betapa jantungnya tergores oleh pengakuan Mahisa Agni terhadap kekurangan di dalam daerah kuasa yang dilimpahkan kepadanya oleh Sri Rajasa. Seperti yang dikatakan oleh Sri Rajasa, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni sama sekali bukan seorang yang rendah hati, yang mengakui kekurangannya, tetapi yang dengan sengaja telah menganggap bahwa para pemimpin adalah penjilat yang bodoh.

Tetapi beberapa orang yang lain merasa bahwa sebenarnyalah bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan. Mereka seakan-akan dengan sengaja berusaha menyembunyikan kekurangan yang ada pada diri mereka. Dengan sadar mereka berbangga bahwa masih ada juga orang yang dengan berani menyatakan kebenaran dihadapan Sri Rajasa dan dihadapan paseban.

Namun pada umumnya mereka merasa cemas, bahwa perkembangan keadaan di Singasari tidak begitu menggembirakan hati. Apalagi kehadiran Witantra seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, tentu bukan sekedar persoalan kecil karena sejak semula Witantra menyimpan persoalan yang tentu dianggapnya belum selesai.

“Kehadirannya tentu akan menentukan suatu peristiwa yang penting di Singasari,” beberapa orang pemimpin Singasari saling berbisik. Seorang perwira yang sudah lanjut usia berkata, “Ia adalah seorang Senapati yang mapan.”

Namun dalam pada itu Panglima Pasukan Pengawal Singasari ternyata mempunyai perhatian khusus terhadap kehadiran Witantra. Meskipun Singasari sekarang jauh lebih besar dari Tumapel, namun nama Witantra sebagai seorang Senapati pasukan Pengawal adalah cukup besar dibandingkan dengan namanya sendiri.

Dengan demikian, maka berbagai kesan telah melibat hati para pemimpin Singasari yang baru saja meninggalkan sidang di paseban itu.

Ketika itu Sri Rajasa pun telah kembali pula kebangsalnya diiringi oleh para pengawal. Dengan wajah muram ia masuk kedalam biliknya. Dibantingnya dirinya di atas sebuah tempat duduk kayu yang dialasi dengan kulit menjangan berwarna coklat.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata di dalam hatinya. “Peristiwa apa saja yang akan terjadi di Singasari. Justru pada saat-saat terakhir timbul berbagai persoalan yang tidak aku kehendaki. Gila juga Mahisa Agni itu.”

Ketika di luar pintu seseorang berdiri termangu-mangu, maka Sri Rajasa pun berteriak, “Siapa itu?”

“Hamba tuanku,” jawab seorang pelayan, “hamba menyiapkan pakaian tuanku.”

“Pergi, pergi.” bentak Sri Rajasa.

Pelayan itu menjadi ketakutan. Dengan ragu-ragu ditinggalkannya pintu bilik Sri Rajasa dengan berbagai pertanyaan di dalam hati. Tidak pernah terjadi bahwa Sri Rajasa tidak memerintahkannya menyediakan pakaian setelah ia selesai melakukan kuwajiban resminya sebagai seorang Maharaja di Singasari.

Di dalam bilik, pikiran Sri Rajasa masih tetap kusut. Sebenarnyalah seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, dalam keadaan yang kisruh hati Sri Rajasa tidak dapat tetap. Pikirannya selalu berubah setiap saat didorong oleh kegelisahan yang semakin dalam. Kehadiran Witantra sebenarnya sama sekali tidak dapat diabaikannya.

Dalam kekeruhan hati itulah tiba-tiba ia berteriak memanggil seorang Pelayan Dalam yang bertugas di dalam bangsal itu.

Sambil berlari-lari kecil. Pelayan Dalam itu menghampiri pintu bilik Sri Rajasa. Kemudian dengan ragu-ragu ia bergumam, “Hamba menghadap tuanku.”

“Panggil Tohjaya,” teriak Sri Rajasa masih di dalam biliknya.

“Hamba tuanku,” perintah Sri Rajasa itu tidak perlu diulangi. Dengan tergesa-gesa Pelayan Dalam itu pun berlari-lari ke bangsal dibagian yang lain dari istana Singasari itu.

“Tuanku,” berkata Pelayan Dalam itu dengan nafas yang terengahengah, “Tuanku Sri Rajasa memanggil tuanku.”

“Ayahanda memanggil aku?” bertanya Tohjaya.

“Hamba tuanku.”

Tohjaya menjadi berdebar-debar. Tentu ada persoalan yang penting yang akan dikatakan oleh ayahandanya setelah sidang di paseban. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Tohjaya menghadap ibundanya yang mengatakan perintah ayahandanya itu.

“Memang sudah sampai waktunya Tohjaya. Semakin lama Anusapati menjadi semakin sombong. Jika semula ia sudah hampir kehilangan semua kesempatan dan kemungkinan untuk merebut hati rakyat Singasari, lambat laun ia sudah memperolehnya. Karena itu, jika ayahandamu memang memerintahkan lakukanlah dengan segera. Gurumu dan beberapa orang Senapati yang sudah kau hubungi akan dapat disiapkan segera, apalagi langsung di bawah perintah ayahandamu sendiri. Anusapati memang harus segera disingkirkan. Agar tidak timbul persoalan dikemudian hari, maka Mahisa Agni yang mumpung berada di istana ini pun harus dibinasakan pula.”

“Hamba akan mengatakannya kepada ayahanda. Jika ayahanda mengucapkan perintah itu kepada para Panglima, maka semuanya akan terjadi.”

“Kau harus berhati-hati. Mahisa Agni mempunyai cukup pengaruh, terutama di luar istana. Karena itu, maka yang dilakukan haruslah di dalam istana dan dalam waktu yang singkat. Jika kau ingin menangkap seekor ular berbisa, tangkaplah kepalanya. Jika kau gagal, maka kau sendirilah yang akan binasa karena racunnya.”

“Baik ibunda. Hamba akan segera menghadap ayahanda, sudah tentu bahwa dalam waktu yang singkat, kita akan melakukannya.”

“Dan beberapa hari kemudian, kau adalah putera Mahkota.”

“Ya. Aku akan menjadi Putera Mahkota di Singasari yang besar. Aku akan berbuat sebaik-baiknya sebagai Putera Mahkota. Tidak seperti Kakanda Anusapati.”

“Sekarang menghadaplah. Usahakan agar ayahandamu merintahkan aku menghadap pula.”

“Baiklah ibunda, hamba akan berusaha.”

Dengan tergesa-gesa Tohjaya pun kemudian pergi menghadap ayahandanya di bangsalnya. Dengan hati yang berdebar-debar ia menaiki tangga bangsal itu, sedang kedua pengawalnya tinggal di bawah tangga, bersama pengawal bangsal itu sendiri.

Perlahan-lahan Tohjaya membuka pintu bangsal itu. Kemudian dengan degup jantung yang keras ia melangkah masuk.

Tetapi Tohjaya tidak segera melihat ayahandanya.

Ketika ia melihat seorang Pelayan Dalam dipintu samping bangsal itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Dimana Ayahanda Sri Rajasa.”

“Am pun tuanku,” Pelayan Dalam itu mengangguk. “Ayahanda tuanku ada di dalam biliknya.”

Tohjaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian melangkah kepintu bilik.

“Hanya untuk persoalan yang sangat penting dan sangat rahasia ayahanda memanggil kedalam biliknya,” berkata Tohjaya di dalam hatinya.

Dengan ragu-ragu akhirnya Tohjaya berdiri di depan pintu bilik Sri Rajasa. Sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia berkata lirih, “Am pun ayahanda. Hamba sudah menghadap.”

Sejenak Sri Rajasa menunggu. Kemudian didengarnya jawab, “Masuklah Tohjaya.”

Dada Tohjaya menjadi semakin berdebar-debar. Perlahan-lahan didorongnya daun pintu itu ke samping. Dengan langkah yang terasa berat ia pun kemudian melangkah masuk.

Dilihatnya ayahandanya, Sri Rajasa duduk di atas tempat duduk kayu yang beralaskan kulit menjangan.

“Duduklah,” berkata Sri Rajasa kemudian.

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Dan ia pun kemudian duduk di atas tempat duduk kayu di sudut bilik itu.

“Apakah seorang prajurit telah memanggilmu?”

“Hamba ayahanda. Bukankah ayahanda memanggil hamba menghadap?”

“Ya.”

“Hamba siap menerima perintah apapun, ayahanda. Agaknya memang sudah waktunya ayahanda memerintahkan kepada hamba untuk berbuat sesuatu.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.

Dan Tohjaya pun kemudian bertanya, “Dan apakah perintah itu ayahanda?”

Sri Rajasa memandang puteranya itu sejenak. Namun kemudian terdengar ia berdesah. Katanya, “Tidak ada perintah apapun saat ini Tohjaya.”

Bukan main terperanjatnya Tohjaya. Bahkan kemudian ia tidak percaya kepada pendengarannya sehingga ia bertanya, “Apakah yang ayahanda maksudkan?”

“Dengarlah sekali lagi Tohjaya,” jawab ayahandanya, “aku tidak akan memberikan perintah apapun juga.”

Dada Tohjaya terguncang karenanya. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Tetapi, bukankah ayahanda memanggil hamba setelah sidang di paseban? Menurut dugaan hamba, ayahanda mendapat bahan-bahan yang cukup lengkap selama sidang sehingga Ayahanda memutuskan untuk menjatuhkan perintah terakhir. Bukankah ayahanda perlu mengambil tindakan tertentu untuk mengakhiri keadaan yang tidak ada ujung pangkalnya?”

Tetapi Sri Rajasa itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak dapat menentukan sekarang. Aku masih harus memikirkannya.”

Tohjaya benar-benar menjadi bingung. Ia tidak mengerti, kenapa ayahandanya memanggilnya dengan tergesa-gesa. Namun kemudian ia sama sekali tidak memberikan perintah apapun juga. Sebenarnyalah bahwa Sri Rajasa sendiri sedang dilibat oleh kebingungan yang hampir tidak dapat dipecahkannya. Setiap kali sikapnya selalu dibayangi oleh keragu-raguan sehingga terombang-ambing tidak menentu.

Dengan demikian maka bilik itu pun sejenak dicengkam oleh kesepian. Sri Rajasa duduk sambil menundukkan kepalanya, sedang Tohjaya menjadi sangat gelisah menghadapi keadaan itu. Namun ia tidak berani lagi bertanya sesuatu kepada ayahandanya, karena Tohjaya pun kemudian menyadari bahwa agaknya ada sesuatu yang sedang bergejolak dihati ayahandanya.

“Tohjaya,” berkata Sri Rajasa kemudian memecahkan kebekuan suasana, “tinggalkan bilik ini.”

Tohjaya menjadi semakin bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Perlahan-lahan ia berdiri dan berkata, “Hamba ayahanda. Hamba mohon diri.”

Sri Rajasa hanya mengangguk kecil. Kemudian wajahnya itu pun tertunduk lagi. Bahkan kemudian disandarkannya dagunya pada kedua belah tangannya yang sikunya bertelekan pada lututnya.

Tohjaya pun kemudian melangkah keluar perlahan-lahan. Hatinya diamuk oleh kebingungan yang dahsyat, karena dengan demikian ia pun menyadari bahwa ayahandanya sendiri pun masih juga dikuasai oleh keragu-raguan.

“Kenapa ayahanda masih selalu ragu-ragu. Mungkin ayahanda masih saja terpengaruh oleh ibunda Permaisuri, justru karena ibunda Permaisuri lah maka ayahanda tidak dapat berbuat tegas atas Kakanda Anusapati. Seharusnya ayahanda tidak lagi menghiraukan ibunda Permaisuri itu. Jika ayahanda masih saja terlampau banyak pertimbangan, maka akhirnya ayahanda akan terlambat.”

Namun dengan demikian langkahnya pun menjadi tergesa-gesa. Kedua pengawalnya berlari-lari kecil mengikutinya di belakang.

Sementara itu, Ken Umang sudah dicengkam oleh angan-angan tentang tahta kerajaan Singasari sepeninggal Sri Rajasa. Jika Anusapati sudah disingkirkan, maka tentu Tohjaya akan segera diangkat menjadi Pangeran Pati menggantikan kedudukannya. “Tentu tidak akan ada persoalan apapun juga jika Sri Rajasa sudah memutuskan. Pengaruhnya terlampau besar, dan kekuasaannya adalah mutlak.” namun kemudian, “tetapi Mahisa Agni itu pun harus disingkirkan. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan mengalami kesulitan. Betapapun saktinya Mahisa Agni, namun sudah barang tentu tidak akan dapat mengimbangi kesaktian Sri Rajasa sendiri.”

Ken Umang itu pun terloncat berdiri ketika ia melihat Tohjaya datang kedalam biliknya dengan wajah yang tegang. Dengan tergesa-gesa ia menyongsongnya dan bertanya, “Perintah apakah yang telah kau terima Tohjaya?”

Tohjaya pun kemudian duduk dengan lesunya. Sejenak ia termangu-mangu sehingga ibunya pun menjadi heran.

“Tohjaya, apakah kau terima perintah itu?”

Tohjaya menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang aneh ia menjawab, “Hamba tidak menerima perintah apapun juga ibu.”

“He,” Ken Umang terperanjat. Sejenak ia memandangi anaknya dengan wajah yang tegang. Kemudian perlahan-lahan didekatinya anaknya yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Diguncang-guncangnya pundak anaknya sambil berkata, “Apakah aku sudah pikun? Coba katakan sekali lagi Tohjaya.”

“Hamba tidak menerima perintah apapun ibunda. Ketika hamba menghadap, ayahanda berkata, “Kembalilah, tinggalkan aku.”

“Tohjaya, apakah kau sedang mengigau?”

“Sebenarnya ibunda, ayahanda memerintahkan hamba untuk meninggalkan bilik itu. Itulah perintah satunya yang hamba terima.”

Ken Umang memandang anaknya dengan wajah yang tegang, sehingga pelupuk matanya hampir tidak berkedip. Ia tidak dapat mengerti apakah yang sebenarnya dikatakan oleh anaknya itu.

“Ibunda,” berkata Tohjaya kemudian, “hamba pun tidak mengerti, kenapa ayahanda tidak memberikan perintah apapun kecuali memerintahkan hamba meninggalkan ayahanda itu seorang diri.”

“O,” Ken Umang pun kemudian terduduk pula, “aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti.”

Tohjaya memandang wajah ibunya sejenak. Namun kepalanya pun segera tertunduk pula. Memang yang baru saja terjadi sama sekali tidak dapat dimengertinya, dan ibunya pun menjadi bingung karenanya.

Sejenak keduanya terdiam. Seakan-akan kabut yang kelam telah menyelubungi angan-angan dan pikiran mereka, sehingga mereka sama sekali tidak mengerti, apa yang harus mereka lakukan.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang masih juga dibayangi oleh pembicaraan- pembicaraan di dalam sidang, mencoba untuk menemukan suatu gambaran, apakah yang sebenarnya bergolak di dalam hati Sri Rajasa. Namun setiap kali yang diketemukannya, adalah sekedar menganggap bahwa Sri Rajasa memang sedang kebingungan.

“Tetapi kebingungan itu dapat membahayakan keadaan,” berkata Mahisa Agni di dalam hati, “setiap saat pikirannya dapat berubah dan setiap saat Singasari dapat bergejolak. Satu langkah yang salah dari Sri Rajasa, dan membuat Singasari menjadi berantakan. Sedangkan persoalan yang sebenarnya adalah persoalan ketamakan Ken Umang semata2. Namun apabila hati Sri Rajasa tidak goyah, maka hal yang seperti sekarang ini tidak perlu terjadi.”

Demikianlah ketika Mahisa Agni kemudian bertemu dengan Anusapati dan Sumekar, maka diceriterakannya apa yang terjadi di paseban.

“Sebenarnyalah bahwa ancaman itu sudah langsung ditujukan kepadamu,” berkata Sumekar kepada Mahisa Agni, “tetapi karena sikap para pemimpin Singasari yang tidak jelas, maka Sri Rajasa masih harus berpikir sekali lagi. Jika di dalam paseban itu tanggapan atas tuduhan Sri Rajasa terhadapmu, terhadap yang disebutkan kesombonganmu itu cukup baik baginya, maka ia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Tetapi karena ia melihat keragu-raguan pada pemimpin Singasari, maka ia pun tidak segera memerintahkan saat itu juga untuk menangkapmu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang dapat juga terjadi seperti yang dikatakan oleh Sumekar itu. Tetapi Mahisa Agni pun tahu, bahwa sebenarnya Sumekar telah dipenuhi oleh prasangka dan bahkan sikap yang pasti, yaitu Sri Rajasalah yang harus disingkirkan, justru untuk menyelamatkan hasil yang pernah dicapai oleh Sri Rajasa sendiri. Singasari yang besar dan kuat. Namun bagi Mahisa Agni sendiri, masih harus ditempuh pertimbangan-angan yang semasak-masaknya meskipun kadang-kadang orang lain menganggapnya tidak berbuat apa-apa.

Dalam pada itu, Anusapati pun sebenarnya mempunyai tanggapan persoalan yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu sejalan dengan pendapat Sumekar. Namun Anusapati menyerahkan persoalannya kepada Mahisa Agni, karena ia percaya, bahwa pertimbangan pamannya didasari oleh pengalaman dan pengetahuannya yang luas.

Namun mendung yang semula membayang di atas istana Singasari itu kini bagaikan mekar meliputi seluruh kota dan bahkan menjalar keseluruh negeri. Terasa bahwa ada sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi di dalam lingkungan keluarga Sri Rajasa. Jika semula persoalan itu hampir tidak mendapat perhatian karena yang berkepentingan masih mampu membatasi diri masing-masing, maka semakin lama persoalannya menjadi semakin jelas dapat dilihat oleh para pemimpin Singasari.

Dalam keadaan yang demikian itulah, Singasari mulai menyebut-nyebut nama Witantra.

Namun sebenarnyalah bahwa nama Witantra itu telah mengganggu hati Sri Rajasa pula. Ia tidak mengerti dengan pasti apakah sebenarnya yang dikehendakinya. Sehingga karena itulah maka dengan diam-diam Sri Rajasa pun berusaha untuk mencari hubungan dengan Witantra, meskipun ia berpesan dengan sungguh-sungguh, agar Witantra tidak mengetahuinya, bahwa Sri Rajasa yang memberikan perintah itu kepada beberapa orang petugas sandi yang dipercayainya.

Ternyata sangat sulitlah untuk mencari hubungan dengan Witantra itu, karena Witantra tidak pernah lagi kelihatan di kota Singasari. Hanya namanya dan beberapa ceritera sajalah yang dapat ditangkap oleh para petugas sandi itu.

“Ya, ia datang kepadaku,” berkata seorang perwira yang menghubungi orang-orang yang diduga dapat bertemu langsung dengan Witantra.

“Apa saja yang dilakukannya?”

“Tidak apa-apa. Ia hanya bertanya tentang keselamatanku sekeluarga, dan sedikit tentang padepokannya di puncak gunung.”

“Gunung yang mana?” bertanya petugas sandi itu.

“Witantra tidak mau menyebutkannya.”

“Apakah ia sering datang kemari?”

“Hanya satu kali. Hanya satu kali. Tetapi ia berkata kepadaku, bahwa pada suatu saat ia akan datang kembali mengunjungi sahabat-sahabat lamanya.”

“Apakah benar ia tidak mempersoalkan apapun juga yang dapat menjadi petunjuk arah perhatiannya selama ini?”

“Tidak. Ia tidak mengatakan apapun juga. Tetapi ia menyatakan kegembiraannya melihat perkembangan Singasari sekarang ini. Singasari yang jauh lebih besar dari Tumapel di jaman Akuwu Tunggui Ametung.”

Petugas sandi itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahan yang didapatkannya untuk mengetahui keadaan Witantra ternyata terlampau sedikit. Para petugas itu sama sekali tidak dapat menyimpulkan, apakah sebenarnya maksud Witantra datang ke Singasari. Bahkan setelah mereka menghubungi beberapa orang yang pernah dikunjungi oleh Witantra itu.

“Baiklah,” berkata seorang petugas sandi kepada seorang perwira yang pernah mendapat kunjungan Witantra, “jika ia datang sekali lagi, tolong, beritahukan aku.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perwira itu pun mengetahui bahwa orang yang datang itu adalah seorang prajurit sandi. Dan perwira itu pun tahu pasti, kepada siapa ia harus melaporkan jika Witantra datang sekali lagi.

“Ternyata pihak istana menaruh perhatian besar sekali,” berkata perwira itu. Namun demikian, mereka pun menjadi gelisah, karena jika timbul sesuatu karena perbuatan Witantra, maka mereka yang diketahui telah mendapat kunjungan Witantra itu pasti akan menjadi sumber keterangan.

Tetapi bukan saja para perwira itu yang mengetahui bahwa pihak istana menaruh perhatian yang besar sekali. Dari pembicaraan beberapa orang prajurit, Sumekar pun mengetahui, bahwa ada beberapa petugas sandi yang mendapat tugas mencari jejak tentang Witantra itu.

Dalam pada itu, semua laporan tentang Witantra itu sudah sampai ditelinga Sri Rajasa. Seperti apa yang dapat ditangkap oleh para petugas sandi, maka tidak ada keterangan yang pasti yang dapat dijadikan bahan untuk menentukan apakah yang sebenarnya akan dilakukan oleh Witantra.

Namun demikian ada seorang petugas sandi yang mempunyai keterangan yang agak lain dari kawan-kawannya.

“Witantra menyebut-nyebut nama Mahisa Agni tuanku,” berkata petugas sandi itu ketika ia dipanggil menghadap.

“Apa katanya?”

“Ia hanya bertanya, dimanakah sekarang Mahisa Agni itu. Apakah ia masih tetap berada di Kediri, karena menurut pendengarannya Mahisa Agni menjadi seorang Senapati Agung yang bertugas di Kediri sebagai wakil Mahkota. Atau sudah mendapatkan jabatan lain.”

“Apa lagi?”

“Hanya itu tuanku. Hamba tidak mendapatkan bahan yang lain. Sedang yang dibicarakan Witantra itu pada umumnya adalah persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintahan. Kadang-kadang ia berbicara tentang jalan-jalan yang ramai, sawah yang hijau dan rumah kawan-kawannya yang menjadi perwira di Singasari.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun dari keterangan itu Sri Rajasa mendapatkan suatu arah betapapun samarnya, bahwa Witantra masih menaruh perhatian terhadap Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan Witantra masih mendendamnya.”

Naman ternyata setelah itu, Sri Rajasa tidak pernah mendapat keterangan apapun lagi tentang Witantra. Meskipun ada juga seorang dua orang yang melaporkan bahwa Witantra tampak berada di dalam kota, namun sama sekali tidak menarik perhatian orang, karena ia tidak berbuat apa-apa.

“Aku dapat menjadi gila,” berkata Ken Arok kemudian ketika ia berada di dalam bilik Ken Umang.

Ken Umang yang masih nampak jauh lebih muda dari Permaisuri yang sakit-sakitan itu, mendekatinya sambil berkata, “Tuanku, persoalannya sudah jelas bagi tuanku. Sebenarnya hamba ingin mengajukan suatu sikap yang akan dapat menolong keadaan. Tetapi justru karena hamba adalah ibu Tohjaya, maka hamba berada di dalam kesulitan.”

“Kenapa?”
“Orang dapat menuduh hamba, semata-mata sikap hamba itu didorong oleh ketamakan dan kebencian.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Ken Umang sejenak.

Sambil tersenyum Ken Umang beringsut mendekat, ia duduk di atas sebuah kulit harimau hasil buruan Sri Rajasa di samping tempat duduk Sri Rajasa sendiri yang beralaskan kulit seekor ular raksasa.

“Tuanku,” Ken Umang bergesar mendekatinya. Kemudian sambil bersandar pada kaki Sri Rajasa Ken Umang berkata, “Memang tuanku harus segera mengakhiri keadaan yang tidak menentu sekarang ini. Hamba tahu bahwa tuanku menjadi ragu-ragu. Tetapi hamba pun tahu, siapakah sebenarnya puteranda Anusapati itu, karena hamba tahu saat-saat perkawinan tuanku.”

“Banyak orang yang mengetahui siapakah sebenarnya Anusapati, karena setiap orang yang umumnya berkisar di antara kita dapat menghitung saat perkawinanku dan saat kelahiran Anusapati.”

“Nah,” berkata Ken Umang, “sebenarnya tidak ada persoalan lagi. Kasar atau halus, tuanku dapat melakukannya. Sedang tuanku sendiri mempunyai putera laki-laki yang akan dapat menggantikan kedudukan tuanku. Jika tuanku membiarkan keadaan ini berlangsung terus, maka sebenarnyalah tuanku dapat terganggu. Lahir dan batin.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menyahut.

“Tuanku, jika hamba bukan ibu Tohjaya, hamba akan dapat dengan leluasa menyampaikan pendapat hamba. Tetapi justru karena itulah, maka hamba menjadi ragu-ragu. Tuankulah yang akan dapat menentukan, apakah yang sebaiknya tuanku lakukan. Tetapi segera. Tidak dengan ragu-ragu dan condong kepada kebingungan. Ternyata seperti sikap tuanku. Tuanku memanggil Tohjaya, namun kemudian tuanku tidak menjatuhkan perintah. Hamba tahu bahwa perintah itu sudah siap. Tetapi tuanku ragu-ragu, sehingga tuanku mengurungkannya.”

Sri Rajasa tidak segera menyahut. Tetapi setiap kali ia bertemu dengan Ken Umang, rasa-rasanya sudah jatuhlah keputusannya untuk menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni, apapun akibatnya. Baginya Permaisurinya Ken Dedes sudah tidak begitu banyak diperlukan lagi. Ken Dedes itu menjadi semakin cepat tua dan sakit-sakitan.

Namun setiap saat ia teringat, bahwa ada sesuatu yang lain pada Ken Dedes, hatinya menjadi berdebar-debar. Ken Dedes nemiliki sesuatu kurnia dari Yang Maha Agung yang tidak dimiliki oleh Ken Umang. Cahaya yang tidak dapat dimengertinya itu setiap kali dapat dilihatnya.

“Tuanku,” berkata Ken Umang kemudian, “apakah sebenarnya yang membuat tuanku ragu-ragu? Mungkin kemampuan Mahisa Agni dan pengaruhnya? Tentu tuanku akan dapat mengatasinya karena Mahisa Agni tidak akan sekuat Sri Baginda di Kediri yang dapat tuanku kalahkan itu. Sedang pengaruhnya pun tidak akan sebesar para Panglima dan Senapati yang lain, karena sudah lama ia berada di Kediri. Jika tuanku memperhitungkan pengaruhnya di Kediri, maka dapat diperhitungkan bahwa Kediri sekarang tentu tidak akan mampu berbuat apa-apa.” Ken Umang berhenti sejenak. Lalu, “Tuanku, hamba pun mendengar apa saja yang dikatakan oleh Mahisa Agni di paseban itu. Bukankah itu sudah suatu sikap yang pasti untuk menantang tuanku, merendahkan kekuasaan tuanku dan seakan-akan suatu pameran kekuatan bahwa Mahisa Agni sama sekali tidak takut terhadap kuasa tuanku, selain dengan sengaja menghinakan para pemimpin yang lain.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri.

“Nah, hamba persilahkan tuanku mempertimbangkan semuanya itu, karena hamba tidak berhak berbuat apapun selain memberikan sedikit pertimbangan yang barangkali tidak berarti apa-apa bagi tuanku.”

Sri Rajasa masih tetap tidak menyahut sepatah katapun. Dipandanginya bintik-bintik di kejauhan seolah-olah dicarinya sesuatu di antara kekosongan di kejauhan.

Ken Umang tidak mendesaknya lagi. Dibiarkannya Sri Rajasa merenungi kata-katanya. Ken Umang itu masih tetap yakin bahwa Sri Rajasa akan lebih percaya kepadanya daripada kepada Ken Dedes, apalagi kelemahan yang ada pada keturunan Ken Dedes itu ialah bahwa Anusapati adalah anak Tunggul Ametung.

Sejenak kemudian, setelah bergolak dengan dahsyatnya, dada Ken Arok seakan-akan mulai terbuka. Seakan-akan Ken Arok melihat sebuah jalan lurus yang harus ditempuhnya. Satu-satunya jalan, karena tidak ada pintu lain yang terbuka baginya.

Betapapun jalan itu lewat celah-celah lorong yang mengerikan, namun setapak demi setapak rasa-rasanya Ken Arok sudah memasuki pintu itu, didorong oleh tangan-angan halus Ken Umang dan puteranya yang penuh dengan nafsu.

“Aku harus mengadakan persiapan sebaik-baiknya,” berkata Ken Arok di dalam hatinya, “aku harus bertemu dengan orang-orang yang dapat aku percaya.”

Namun Ken Arok itu pun menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah di dalam dirinya, “Apakah aku akan berhasil tanpa mengganggu keutuhan Singasari. Sekian lama aku bekerja untuk mempersatukan Singasari. Dan kini aku sendiri akan menimbulkan perpecahan di dalamnya.”

Tetapi Ken Arok memang tidak melihat jalan lain. Yang harus dilakukan adalah menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni dengan akibat yang sekecil-kecilnya.

Itulah sebenarnya yang diharapkan oleh Ken Umang. Dan ia yakin bahwa yang diharapkan itu akan terjadi.

Demikianlah, dihari berikutnya, Ken Arok memanggil beberapa orang Senapati. Untuk tidak memberikan kesan yang mencurigakan, maka beberapa orang itu menghadap tidak berdasarkan waktunya. Bahkan juga Panglima pasukan pengawal yang menurut pendapatnya, akan dapat dipergunakannya sebagai perisai jika terjadi sesuatu.

“Kita tidak dapat menunda lagi,” berkata Sri Rajasa kepada penasehatnya, yang sekaligus guru Tohjaya di dalam olah kanuragan, “Anusapati harus disingkirkan. Beberapa orang Senapati sudah siap untuk melakukannya. Dan cara yang akan aku tempuh adalah cara yang paling kecil akibatnya.”

Para Senapati harus dengan diam-diam mengambil Anusapati dan membawanya keluar istana untuk diselesaikan. Tentu di malam hari. Pasukan Pengawal akan diatur oleh Panglimanya, sehingga ketika terjadi hal itu, para pengawal tidak akan berada di tempatnya kecuali yang memang dapat dipercaya dan dapat dibawa bekerja bersama.”

“Tetapi pekerjaan itu akan sangat sulit tuanku. Tuanku Anusapati memiliki kemampuan secara pribadi.”
“Tentu, jika kalian harus bertempur seorang lawan seorang. Tetapi kalian akan menghadapinya dengan beberapa orang Senapati.”

“Disaat yang ditentukan aku akan memanggilnya. Jika ia mengetahuinya dan tentu akan berbuat sesuatu, di seluruh Singasari tidak ada orang lain yang dapat dihadapkan kepadanya selain aku sendiri. Untuk sementara kita dapat, melupakan Witantra. Aku kira ia tidak akan berbuat sesuatu. Syukurlah jika ia justru sedang mencari Mahisa Agni untuk membuat perhitungan atas kekalahannya diarena disaat kematian Akuwu Tunggul Ametung waktu itu.”

“Baiklah tuanku. Hamba akan melaksanakannya. Memang tidak ada jalan lain dari jalan kekerasan. Tentu kami akan memperhitungkan semua pihak yang dapat mengganggu usaha ini. Tetapi jika tuanku menghendaki kami bertindak langsung di dalam istana ini, maka soalnya akan menjadi lebih mudah.”

“Kami akan memaksakan keadaan ini kepada para Panglima dan rakyat Singasari sebagai suatu keharusan. Anusapati adalah orang lain bagiku.”

Penasehat Sri Rajasa itu pun merasa, bahwa telah datang waktunya ia menunjukkan jasa yang paling besar bagi Sri Rajasa dan Tohjaya. Ia harus dapat menyingkirkan Anusapati kasar atau halus. Bahkan jika terpaksa dengan pertempuran terbuka.

“Tentu tidak akan banyak yang berpihak kepadanya. Panglima Pasukan Pengawal akan mengatur, bahwa di saat yang ditentukan itu, para petugas di istana ini adalah orang-orang yang dapat dipercaya.”

Demikianlah penasehat Sri Rajasa itu telah melakukan tugasnya dengan cermat. Dihubunginya Panglima Pasukan Pengawal. Ia tahu benar, bahwa Panglima itu terlalu setia kepada Sri Rajasa. Demikian pula beberapa orang Senapati dan prajurit yang akan dapat diajaknya bekerja bersama.

“Baiklah,” berkata seorang Senapati, “tentukan, kapan kita akan melakukannya.”

“Secepatnya. Kita akan segera bertindak sebelum Anusapati dan Mahisa Agni mengetahuinya.”

“Mereka tidak akan tahu rencana ini.”

“Diistana ini ada sejumlah pengkhianat.”

Sebenarnyalah bahwa Sumekar telah tertarik kepada perubahan-perubahan yang terjadi di istana. Beberapa orang prajurit yang dikenalnya mulai membicarakan kebijaksanaan yang baru. Perubahan yang tidak pada tempatnya telah terjadi di dalam tugas-tugas para prajurit, di dalam dan diluar istana. Prajurit-prajurit yang bertugas sehari-hari, tiba-tiba saja telah ditarik dari istana dan orang-orang barulah yang menggantikannya di tempat-tempat terpenting.

Sumekar yang mempunyai penglihatan yang tajam tidak dapat membiarkan semuanya terjadi di luar pengetahuan Mahisa Agni. Karena itu, maka ia pun segera menemuinya dan mengatakan apa yang dilihatnya sejak hari ini.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sebenarnya perubahan-perubahan semacam itu adalah perubahan yang wajar di dalam tugas keprajuritan.”

“Mungkin. Tetapi aku mempunyai firasat yang lain kali ini. Tentu dalam waktu yang singkat akan terjadi sesuatu. Jika tidak hari ini, tentu malam nanti.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Sumekar, “Mungkin kau benar Sumekar. Karena itu bersiaplah. Adalah lebih baik jika kau dapat mengambil Witantra dan kau bawa masuk ke dalam istana ini.”

“Sekarang?”

“Jika malam gelap. Tetapi jika terjadi sesuatu sebelum gelap, tentu kita tidak sempat memberitahukan kepadanya.”

“Baiklah. Aku akan berada di taman sehari penuh. Jika terjadi sesuatu, aku berada di dalam taman itu.”

“Baiklah. Aku akan menemui Anusapati.”

Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Agni pun kemudian menemui Anusapati di bangsalnya. Ketika ia melihat para penjaga bangsal itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Prajurit-prajurit itu sama sekali bukan prajurit yang biasanya bertugas di bangsal itu.

“Semuanya cepat berubah,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “di beberapa hari terakhir, agaknya Sri Rajasa dan orang-orangnya sudah siap untuk melakukan rencana terakhirnya. Sudah tentu, bahwa Sri Rajasa terpaksa melakukannya dengan kekerasan untuk menempatkan Tohjaya menjadi searang Putera Mahkota.”

Tetapi ternyata dihari itu, tidak terjadi sesuatu. Anusapati yang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan, masih saja tinggal di dalam bangsalnya. Mahisa Agni masih belum memberikan isyarat apapun juga. Sedang Sumekar yang berada di dalam taman dan kadang-kadang hilir mudik di halaman membawa lodong bambu masih juga belum melihat perkembangan keadaan yang memuncak.

Karena itulah, maka ketika senja turun, ia berusaha untuk pergi ke rumah persembunyian Witantra di dalam kota Singasari.

Sumekar ternyata hanya memerlukan waktu yang pendek. Keduanya kemudian dengan hati-hati meloncat masuk kedalam halaman istana.

“Bersembunyilah di dalam taman,” berkata Sumekar kepada Witantra, “aku akan berusaha menemui Mahisa Agni.”

“Apa kau tidak akan dicurigai?”

“Aku akan membawa bibit pohon soka, yang dapat aku pakai sebagai alasan. Menanam pohon soka memang sebaiknya di malam hari.”

“Baiklah, tetapi hati-hatilah.”

Sumekar pun kemudian pergi untuk menemui Mahisa Agni. Dengan berdebar-debar ia melihat beberapa orang prajurit yang tampaknya mulai bersiap-siap. Bahkan dilihatnya penasehat Sri Rajasa berjalan tergesa-gesa di depan bangsal Mahisa Agni. Hati Sumekar menjadi berdebar juga ketika dilihatnya Panglima Pasukan pengawal ada pula di antara beberapa orang prajurit yang sedang bertugas.

“Apakah sesuatu bakal terjadi malam ini?” bertanya Sumekar kepada diri sendiri, “jika demikian, apakah kekuatan yang dapat dipergunakan oleh Anusapati untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Sejauh-jauh yang dapat dilakukan adalah melontarkan, isyarat itu kepada Kuda Sempana dan Mahendra. Tetapi di halaman ini adalah berpuluh-puluh prajurit pilihan, termasuk Sri Rajasa sendiri.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Akhirnya kelembutan hati Mahisa Agni telah menempatkan Anusapati dalam kesulitan. Akhirnya bahwa Sri Rajasa lah yang telah, bersiap lebih dahulu menghadapi Putera Mahkota itu, yang sebenarnya adalah bukan puteranya sendiri.”

Dalam kecemasan itu, akhirnya Sumekar menemukan jalan lain yang justru akan dilakukan. Jalan yang sama sekali tidak diketahui oleh Mahisa Agni dan bahkan oleh Anusapati sendiri.

“Aku akan bertindak atas tanggung jawabku sendiri. Sebelum terjadi pembunuhan atas tuanku Anusapati, aku harus segera bertindak.”

Meskipun demikian, ia melanjutkan langkahnya membawa sebatang bibit pohon soka mendekati bangsal Mahisa Agni.

Dihalaman bangsal itu Sumekar telah dicegat oleh dua orang prajurit. Dengan kasar salah seorang dari mereka menyapa, “Siapa kau?”

“Apakah kau tidak dapat mengenal aku?” bertanya Sumekar.

Prajurit itu termangu-mangu. Lalu, “Sebut siapa namamu.”

“Aku Pangalasan dari Batil.”

“O. juru taman. Tetapi apa kerjamu malam-malam begini?”

“Aku akan menanam pohon soka seperti yang dipesan oleh tuanku Mahisa Agni.”

“Kenapa tidak besok siang?”

“Menanam pohon noka hanya dapat dilakukan malam hari.”

“Bohong, kau sangka aku tidak mengerti tentang tanaman? Aku adalah bekas seorang juru taman pada jaman pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kemudian aku mendapatkan warisan ilmu sehingga aku berhasil mengikuti pendadaran untuk menjadi seorang prajurit.”

“O, jika demikian seharusnya kau tahu, bahwa menanam pohon soka sebaiknya pada malam hari. Mungkin dapat dilakukan disiang hari, tetapi hasilnya tidak akan memberi kepuasan.”

Prajurit itu termenung. Tanpa disadarinya dicobanya untuk mengingat kembali, apa yang pernah dilakukan pada saat ia menjadi juru taman. Namun ia sudah tidak dapat mengingat apapun lagi.

Karena itu, maka katanya, “Cepat, lakukan.”

Sumekar pun dengan tergesa-gesa memasuki halaman bangsal itu. Namun ia masih berpura-pura bertanya, “Dimana aku harus menanam pohon ini?”

“Aku tidak tahu.”

“Jika demikian, apakah kau dapat bertanya kepada tuanku Mahisa Agni.”

“Kenapa aku?”

“Aku tidak berani. Tolong katakan kepadanya.”

“Aku tidak peduli. Itu bukan urusanku.”

Sumekar berdiri termangu-mangu sejenak. Namun ia tersenyum di dalam hati. Kesempatan itulah yang memang ditunggunya.

Demikianlah akhirnya ia berhasil bertemu dengan Mahisa Agni, dan mengatakan apa yang telah dilihatnya.

“Kau pun sudah diawasi,” berkata Sumekar.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kita agaknya sudah terlambat.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku masih mempunyai jalan. Apakah kau bertemu dengan Witantra?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan Kuda Sempana dan Mahendra?”

“Aku hanya memanggil Witantra. Ia sudah berada di dalam taman.”

“Baiklah. Tetapi usahakan agar mereka semuanya berada di dalam istana ini. Mereka harus berada di bangsalku. Aku akan membicarakan sesuatu yang penting dengan mereka dan kau.”

“Sekarang?”

“Ya. Panggil mereka.”

Sumekar menjadi termangu-mangu sejenak. Lalu katanya. “Tetapi bagaimana jika semuanya, ini akan segera terjadi?”

“Jika begitu, minta Witantra memanggil keduanya. Kau mengawasi keadaan sebaik-baiknya.”

“Tetapi, apakah yang dapat kita kerjakan hanya bersama dengan mereka bertiga.”

“Kita sudah bertiga dengan Anusapati.”

“Tetapi di halaman ini ada berpuluh-puluh prajurit yang agaknya sudah mendapat petunjuk-petunjuk yang pasti.”

“Karena itu, panggil mereka. Aku masih mempunyai jalan.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah, aku akan menghubungi Witantra. Biarlah ia datang ke bangsal ini, akulah yang akan menjemput Kuda Sempana dan Mahendra yang ada di rumah itu juga.”

“Cepat. Sebelum semuanya terjadi. Sementara itu aku akan mempersiapkan semua rencana. Jangan beri tahu Anusapati lebih dahulu. Aku akan berada di halaman, supaya aku dapat melihat kesiagaan mereka yang semakin meningkat. Suruhlah Witantra langsung memasuki lewat pintu belakang. Hati-hatilah. Para prajurit agaknya benar-benar bersiap.”

Sumekar melangkah meninggalkan Mahisa Agni. Namun tiba-tiba ia teringat, “Tetapi, aku mengatakan kepada para penjaga, bahwa aku akan menanam pohon soka.”

“Tinggalkan. Jika kau kembali bersama Kuda Sempana dan Mahendra, kau tidak usah melalui halaman bangsal ini.”

Sumekar pun mengetahui apa yang harus dikerjakan. Karena itulah maka ia pun segera pergi meninggalkan Mahisa Agni. Di halaman depan para prajurit menegurnya, katanya, “Sudah selesai?”

“Tuanku Mahisa Agni marah bukan main.”

“Kenapa?”

“Kau memang gila. Aku sudah memperingatkan bahwa sebaiknya besok pagi saja.”

“Ya, aku menyesal. Tetapi menanam pohon soka hanya dapat dilakukan di malam hari, maksudku, yang paling baik dilakukan di malam hari.”

“Dimana pohon sokamu itu?”

“Diinjak2 sampai lumat. Tetapi anehnya, aku harus mencari lagi. Justru Kembang Soka Kuning, jenis yang paling sulit dicari.”

Para prajurit itu tertawa. Dipandanginya juru taman itu dengan ibanya. Namun mereka tidak dapat menolongnya, karena mereka sendiri belum pernah melihat jenis Kembang Soka yang berwarna kuning.

Sepeninggal Sumekar, maka Mahisa Agni pun kemudian membenahi dirinya. Tetapi betapapun ia mencemaskan keadaan, tetapi Mahisa Agni tidak menganggap perlu membawa senjata. Tangannya yang dapat dialiri dengan aji Gundala Sasra dan sekaligus Kala Bama dalam bentuknya yang sesuai, adalah semata yang tidak kalah dahsyatnya dari segala macam jenis semata tajam maupun senjata-senjata yang lain.

Ketika ia keluar dari bangsalnya dilihatnya beberapa orang prajurit berada di halaman. Seperti biasanya Mahisa Agni pun menyapa mereka dengan ramahnya. Namun kali ini para prajurit itu menjawabnya dengan ragu-ragu.

“He, apakah kalian tidak pernah bertugas di bangsal ini?” bertanya Mahisa Agni kepada prajurit-prajurit itu.

Pemimpin peronda itu pun menjawab dengan termangu-mangu, “Belum. Eh, maksud kami, kami memang belum pernah bertugas di regol ini, tetapi sudah sering bertugas di bagian lain.”

“Dimana?”

Pemimpin peronda itu menjadi semakin bingung, sehingga ia menjawab penuh kebimbangan, “Di Istana bagian dalam.”

“He, bagian dalam yang mana? Apakah ada bagian luar dan bagian dalam.”

Prajurit itu menjadi semakin bingung. Katanya, “Maksudku, istana yang baru.”

“O, maksudmu kau sering bertugas dibagian yang baru dari istana ini. Jelasnya di bangsal yang didiami oleh tuan puteri Ken Umang dan yang lain yang didiami oleh tuanku Tohjaya.”

“Ya. ya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Dan kau sekarang mendapat tugas baru disini.”

“Ya. menurut panglima, sudah saatnya kita saling bertukar tempat di dalam tugas kami, agar kami tidak selalu berada di tempat yang sama sepanjang kami menjadi prajurit.”

“Bagus. Itu adalah usaha yang bagus sekali,” berkata Mahisa Agni, “nah, bertugaslah dengan baik. Aku akan berjalan-jalan sebentar.”

“Berjalan-jalan?” prajurit itu menjadi heran, “sudah terlampau malam tuan masih akan berjalan-jalan.”

“Malam?” bertanya Mahisa Agni, “kau ini seperti seekor ayam saja,” berkata Mahisa Agni sambil tertawa, “baru saja senja tenggelam. Biasanya aku keluar hampir sampai tengah malam. Bahkan kadang-kadang lebih.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah barang tentu bahwa mereka tidak akan dapat mencegahnya.

Demikianlah para prajurit itu hanya dapat memandangi langkah Mahisa Agni yang menyusup kedalam gelap. Namun demikian rasa-rasanya mereka telah mengabaikan tugas mereka jika mereka tidak tahu, kemana Mahisa Agni itu pergi.

Karena itu, maka pemimpin peronda itu pun memerintahkan seseorang untuk mengawasi kemana Mahisa Agni itu pergi.

Namun ternyata bahwa orang itu kurang dapat menguasai keadaan. Ia tidak memperhitungkan kemampuan Mahisa Agni sehingga dengan mudah Mahisa Agni dapat, mengetahui bahwa seseorang telah mengikutinya.

Prajurit yang mengikuti itu menjadi bingung ketika tiba-tiba saja orang yang harus diawasinya itu hilang. Mahisa Agni yang berjalan perlahan-lahan di dalam kegelapan itu tiba-tiba saja seperti dapat lenyap menembus bumi.

“Gila,” desis prajurit itu, “dimanakah orang itu bersembunyi?”

Dengan hati-hati ia melangkah mendekati gerumbul yang ada didekat tempat Mahisa Agni menghilang. Namun ketika ia sampai ditempat itu, ternyata ia tidak menjumpai seorang-pun.

“Aneh,” desisnya, “apakah aku sedang mengikuti sesosok hantu?”

Namun dengan demikian hatinya menjadi berdebar-debar. Seakan-akan ia benar-benar berhadapan dengan hantu yang dapat menghilang dan kemudian menampakkan diri.

Ketika ia sudah yakin bahwa ia tidak akan dapat menemukan Mahisa Agni, maka dengan kesal ia pun meninggalkan tempat itu. Dengan tergesa-gesa ia berjalan kembali ke tempat tugasnya dengan berbagai macam perasaan yang kisruh.

Tetapi hampir terlonjak prajurit itu ketika ia melihat seseorang berjalan sambil menyilangkan tangannya di punggung. Selangkah demi selangkah, seakan-akan tidak menghiraukan apa pun lagi.

“Tuan,” prajurit itu menyapanya.

“O, siapa kau?”

“Bukankah tuan Mahisa Agni?”

“Ya, kenapa? Aku ingin berjalan-jalan. He, apakah kau prajurit yang bertugas di regol bangsalku?”

“Ya tuan.”

“Kenapa kau disini? Bukankah kau masih ada di regol ketika aku berangkat berjalan-jalan? Dan kenapa tiba-tiba saja kau sudah berada disini?”

Orang itu menjadi bingung. Seharusnya ialah yang bertanya kepada Mahisa Agni. Namun justru kini Mahisa Agni lah yang bertanya kepadanya.

“He, kenapa kau diam saja?” desak Mahisa Agni.

“Tidak, maksudku aku memang berjalan-jalan.”

“Akulah yang berjalan-jalan bukan kau.”

“O,” orang itu menjadi semakin bingung, “maksudku tuan, aku juga berjalan-jalan untuk mengendorkan ketegangan.”

Mahisa Agni memandangi prajurit itu sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Aku memang sudah ketinggalan. Agaknya memang sudah menjadi peraturan, bahwa setiap prajurit yang sedang bertugas diperkenankan berjalan-jalan untuk mengendorkan ketegangan, sekaligus dengan membawa senjatanya sekali.”

Terasa dada prajurit itu berdesir. Ia merasa sindiran yang halus tetapi tepat mengenai sasarannya. Meskipun begitu prajurit itu tidak dapat berbuat apapun juga. Sehingga karena itu, maka jawabnya, “Hanya suatu kesempatan tuan. Bukan peraturan.”

Mahisa Agni menepuk bahu prajurit itu sambil berkata, “Cepat, kembali kepada tugasmu. Itu jika kau sudah selesai mengendorkan ketegangan?”

“Ah.”

“Tetapi ketegangan apakah sebenarnya yang mencengkammu.”

Prajurit itu tidak menjawab. Karena itu, maka Mahisa Agni pun berkata, “Baiklah, cepat kembali. Mungkin kawan-kawanmu memerlukan kau.”

Prajurit itu pun kemudian dengan tergesa-gesa kembali kedalam biliknya. Namun disepanjang langkahnya, ia tidak henti-hentinya bertanya-tanya kepada diri sendiri, bagaimana dapat terjadi, bahwa Mabisa Agni yang diikutinya itu begitu saja telah hilang dan yang tanpa diduga-duganya ditemuinya di jalan kembali kegardunya.

“Benar-benar anak iblis,” katanya di dalam hati, “tentu bukan manusia biasa yang dapat melakukannya.”

Ketika prajurit itu sampai di regol halaman bangsal Mahisa Agni, maka ia pun segera menceriterakan pengalamanya itu kepada kawan-kawannya. Sebagian dari mereka menjadi terheran-heran dan berkata, “Itulah sebabnya, ia diangkat menjadi Senapati Agung di Kediri.”

Namun pemimpin peronda itu berkata, “Kau tentu dibayangi oleh ketakutan saja.”

“Omong kosong. Selagi ia masih berdiri di atas tanah ia tidak akan dapat melenyapkan dirinya. Percayalah bahwa ia tidak lebih dari seorang prajurit biasa. Hanya kesempatan sajalah yang membuatnya menjadi orang terkemuka di Singasari. Jangan kau sangka bahwa tidak ada orang lain yang memiliki kelebihan tetapi belum mendapat kesempatan. Sebenarnya aku ingin melihat dan bahkan mengalami, betapa tingginya ilmu orang yang bernama Mahisa Agni dan juga orang yang bergelar Kesatria Putih itu.”

“Putera Mahkota?” bertanya seorang kawannya.

“Ya, Putera Mahkota. Ceritera tentang mereka sama dahsyatnya. Tetapi aku belum pernah melihat kebenaran dari ceritera itu.”

“Semua orang pernah mendengar bahwa Mahisa Agni pernah membunuh Senapati Agung dari Kediri.”

“Dan siapakah yang mengetahui sebenarnya, betapa tinggi ilmu Senapati Agung Kediri itu? Mungkin yang disebut Senapati Agung Kediri itu tidak lebih tangguh dari kau atau salah seorang prajurit yang memiliki sedikit kelebihan. Nah, bukankah dengan demikian kemenangannya itu bukan ukuran dari keperwiraannya.”

“Ah,” berkata prajurit yang lain, “kau jangan mencoba ingkar. Kau tentu mengetahui bahwa Kesatria Putih pernah membunuh beberapa orang yang ternyata adalah prajurit-prajurit Singasari dan melemparkan senjata mereka di muka pintu gerbang?”

“Aku berkata tentang Mahisa Agni,” sahut pemimpin peronda itu.

“Tetapi bukankah kau juga menyebut Kesatria Putih.”

Pemimpin prajurit yang sedang berjaga-jaga itu tidak menyahut.

“Dan kau tentu juga mengetahui, bahwa Putera Mahkota itu adalah anak kemenakan Mahisa Agni. Ilmu yang dimilikinya pun tentu keturunan ilmu Mahisa Agni.”

Pemimpin peronda itu masih tetap berdiam diri.

Kawannya pun tidak berkata lebih lanjut. Mereka untuk beberapa lamanya saling berdiam diri dan duduk berserakan, selain yang bertugas di depan tangga bangsal.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berjalan-jalan di halaman melintasi gerumbul-gerumbul bunga mendekati bangsal Anusapati. Namun ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada para prajurit yang bertugas. Karena itu, ia berusaha untuk berlindung di balik dedaunan.

Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, memang di halaman istana malam itu ada beberapa kesibukan. Tetapi menurut perhitungan Mahisa Agni tentu belum akan dilakukan malam ini. Ia melihat prajurit yang terpencar-pencar, dan sama sekali tidak ada pemusatan yang lebih besar di dalam maupun di luar istana.

Meskipun demikian, Mahisa Agni memang tidak boleh lengah. Itulah sebabnya, maka ia ingin dapat bertemu dengan Witantra, Kuda Sempana dan Mahendra. Karena mereka tidak mempunyai pasukan yang cukup apabila diperlukan, dan memang hal itu sama sekali bukan menjadi tujuan Mahisa Agni, maka ia masih berusaha untuk menemukan jalan lain yang lebih baik.

Setelah beberapa lama ia mengamat-amati bangsal Anusapati, maka Mahisa Agni itu pun segera meninggalkan tempatnya dan kembali ke bangsalnya sebelum para penjaganya menjadi curiga pula.

“Siapa lagi yang sedang berjalan-jalan?” bertanya Mahisa Agni ketika ia sampai di muka regol bangsalnya.

Beberapa orang prajurit menjadi termangu-mangu. Tetapi prajurit yang mengetahui sindirian itu pun menjadi tersipu-sipu. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Karena tidak ada seorang pun dari mereka yang menjawab, maka Mahisa Agni itu pun kemudian berkata, “Baik-baiklah di dalam tugas kalian. Aku selalu berterima kasih kepada kalian, karena keselamatanku tergantung kepada kalian malam ini. Selamat malam.”

Pemimpin peronda itu mengerutkan keningnya. Ternyata bahwa Mahisa Agni adalah seorang pemimpin yang ramah.

Hampar diluar sadarnya ia menjawab seperti kepada seorang sahabatnya yang karip, tidak seperti terhadap seorang Senapati Agung, “Baiklah, selamat malam.”

Pemimpin peronda itu terkejut sendiri atas jawabannya itu. Tetapi ia tidak sempat mengulanginya karena Mahisa Agni pun telah melangkah meninggalkannya.

Pemimpin peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “jarang sekali terdapat Senapati besar seramah Mahisa Agni.” Namun tiba-tiba ia menyambung dengan serta-merta, “Tetapi itu bukan karena kebaikan hati. Itu adalah karena ia merasa bahwa ia tidak lebih dari seorang anak Padepokan di Panawijen.”

Para prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti terbangun dari mimpi mereka. Mereka menyadari sesungguhnya, sehingga setiap anggapan bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang baik akan dapat mengurangi kesungguhan mereka menjalankan tugas itu.

Ternyata belum lagi Mahisa Agni menutup pintu bangsalnya rapat, ternyata seorang Senapati yang lain telah mendatangi regol itu. Kepada pemimpm prajurit yang bertugas ia berkata, “Aku mengemban tugas Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

Pemimpin peronda itu mengangguk dalam-dalam sambil berkata, “Silahkan. Baru saja tuan Mahisa Agni masuk ke dalam bangsal.”

“Baru saja?” bertanya perwira itu.

“Ya.”

“Darimana?”

“Sekedar berjalan-jalan di dalam halaman ini.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah tidak ada seorang pun yang mengikutinya?”

“Hanya di halaman ini.”

“Ya, tetapi setidak-tidaknya kalian tahu apa yang dilakukan di halaman ini.”

“Seorang dari kami mengikutinya dari kejauhan. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa,” jawab pemimpin peronda itu sambil memandang kepada prajurit yang mengikuti Mahisa Agni tetapi gagal.

Prajurit itu tidak membantah, meskipun dadanya terasa bergetaran.

“Baiklah,” berkata perwira itu, “aku akan bertemu dengan Mahisa Agni atas perintah Sri Rajasa.”

“Silahkan. Tentu tuan Mahisa Agni masih belum masuk kedalam biliknya.”

Perwira itu pun kemudian naik tangga bangsal Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu bangsal itu.

“Siapa?” bertanya Mahisa Agni yang ternyata masih duduk di ruang dalam.

“Aku, utusan Sri Rajasa.”

Mahisa Agni terkejut. Jarang sekali terjadi, utusan Sri Rajasa datang di malam hari. Hanya apabila ada persoalan yang sangat penting sajalah, maka ia dipanggil menghadap di malam hari.”

Namun demikian, Mahisa Agni harus melakukan apapun bunyi perintah itu. Meskipun demikian ia menjadi berdebar-debar, karena ia sudah terlanjur menyuruh Sumekar membawa Witantra dan kawan-kawannya masuk ke dalam bangsalnya lewat pintu butulan di belakang.

Dengan ragu-ragu Mahisa Agni melangkah mendekati pintu. Ada juga kecurigaan yang bergejolak di dalam hatinya. Karena itu, maka ia pun harus berhati-hati. Ia tidak tahu pasti, berapa orangkah yang datang pada saat itu. Dan apakah hal itu ada hubungannya dengan sikap para prajurit-prajurit di regol yang mencoba mengikutinya?

Perlahan-lahan Mahisa Agni meraba pintu bangsalnya. Kemudian dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan ia membuka pintu itu.

Mahisa Agni menarik nafas ketika ia melihat seorang perwira berdiri dimuka pintu, dan yang kemudian menganggukkan kepalanya.

“O, kau,” sapa Mahisa Agni, “silahkan masuk.”

Perwira itu melangkah masuk kedalam. Kemudian mereka pun duduk di atas dingklik kayu yang dialasi dengan kulit domba berwarna hitam.

“Kakang Mahisa Agni,” berkata perwira itu, “kedatanganku kemari sekedar menjalankan perintah Sri Rajasa.”

“Ya. Apakah perintah itu.”

“Kakang Mahisa Agni,” berkata perwira itu, “besok di bangsal paseban dalam akan diadakan sidang terbatas. Kakang diharap hadir di dalam sidang itu.”

“O, sidang terbatas?”

“Ya, ada sesuatu yang harus segera diselesaikan. Karena itu kakang diharap hadir di dalam sidang itu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Firasatnya tiba-tiba saja telah menyentuh perasaannya. Karena itu, maka ia mengambil kesimpulan di dalam hatinya, “Tentu ada sesuatu yang benar-benar penting. Bukan saja bagi Singasari, tetapi juga bagi Anusapati.”

Tetapi Mahisa Agni tidak dapat memperhitungkan sikap apakah yang akan diambil oleh Sri Rajasa. Karena itu, maka ia tidak segera melihat kemungkinan yang dapat dilakukan. Agar perwira itu segera pergi meninggalkan bangsalnya maka ia pun kemudian menjawab, “Perintah Sri Rajasa aku junjung-tinggi. Besok aku akan menghadap di paseban dalam.”

“Baiklah kakang. Aku hanya menyampaikan perintah.”

“Dan perintah itu sudah aku terima.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang ia hanya mendapat tugas untuk menyampaikan perintah, dan perintah itu memang sudah diterima.

Karena itu maka perwira itu pun segera minta diri. Dan itulah memang yang dikehendaki oleh Mahisa Agni. Semakin cepat menjadi semakin baik.

Sepeninggal perwira itu, maka Mahisa Agni pun menarik nafas dalam-dalam. Sebentar lagi beberapa orang akan memasuki bangsalnya. Karena itu, maka tidak boleh ada orang lain lagi yang akan memasuki bangsalnya.

Mahisa Agni pun kemudian pergi ke ruang depan. Meskipun pintu bangsal itu sudah tertutup, tetapi dari luar masih tampak di sela-sela dinding, bahwa lampunya masih menyala dengan terangnya. Karena itu, maka Mahisa Agni pun kemudian memadamkan lampu itu sama sekali.

Beberapa orang prajurit yang bertugas didepan bangsal itu pun segera melihat, bahwa ruang depan bangsal Mahisa Agni itu sudah menjadi gelap.

“Mahisa Agni itu sudah akan pergi tidur,” berkata salah seorang prajurit.

“Ya, ternyata ia sendirilah yang seperti ayam,” jawab prajurit yang lain.

“Kenapa seperti ayam?”

“Bukankah ketika kita bertanya, apakah ia akan berjalan malam-malam begini ia menjawab, bahwa kita ini seperti ayam saja, yang sudah pergi tidur sejak senja turun.”

Kawan-kawannya pun tertawa. Katanya, “Memang sudah cukup malam untuk pergi tidur.”

Yang lain pun terdiam. Mereka memang menyangka bahwa Mahisa Agni akan segera pergi tidur.

Namun tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni itu. Mereka tidak menyangka bahwa akan ada beberapa orang yang dengan diam-diam memasuki halaman bangsal itu dan kemudian memasuki bangsal Mahisa Agni dari belakang.

Sejenak Mahisa Agni masih menunggu. Tetapi ia yakin bahwa orang-orang itu pasti akan datang menemuinya.

Ternyata Mahisa Agni tidak perlu menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian ia mendengar pintu butulan di belakang berderit, dan muncullah beberapa orang memasuki bangsalnya.

“O,” bisik Mahisa Agni, “aku sudah menduga bahwa kalian pasti akan datang.”

Witantra tertawa. Katanya, “Kami merasa wajib datang malam ini seperti yang kau kehendaki. Jika tidak perlu sekali maka kau tentu tidak akan memanggil kami bersama-sama.”

“Sebenarnya tidak perlu sekali. Tetapi memang aku memerlukan kalian di dalam keadaan seperti ini. Aku kira kita memang sudah mulai memanjat kepuncak persoalannya sehingga semuanya akan segera berakhir. Karena itu, maka kita ini pun harus segera mengambil sikap.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Kami sadar akan hal itu.”

“Tetapi dimana Sumekar?” bertanya Mahisa Agni.

“Ia mengantar sampai kebelakang bangsal ini. Tetapi ia berkata bahwa ia ingin pergi untuk suatu keperluan sebentar.”

“He?” Mahisa Agni menjadi heran, “kemana?”

“Kami tidak tahu. Tetapi katanya hanya sebentar saja.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah sambil menunggu Sumekar, aku ingin berbicara sedikit. Ternyata bahwa Sri Rajasa sudah menyiapkan sebuah kekuatan untuk melaksanakan niatnya yang barangkali dengan kekerasan. Ia tidak dapat menghindar lagi dari tuntutan Ken Umang dan Tohjaya.”

“Memang Sri Rajasa didorong oleh keadaan yang sulit yang hampir tidak dapat dihindari. Namun bagaimana mungkin ia dengan tergesa-gesa mengangkat Anusapati menjadi Pangeran Pati, dan kemudian ingin melemparkannya?”

“Ada beberapa kemungkinan. Ia ingin menghilangkan golongan yang bagaimana pun juga masih mengagumi Tunggul Ametung. Karena sebagian dari mereka mengetahui bahwa Anusapati adalah putera Tunggal Ametung, maka dengan diangkatnya Anusapati maka pengikutnya tidak akan berbuat terlampau banyak. Termasuk kau Witantra.”

Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Dan Mahisa Agni pun meneruskan, “Agaknya kini Sri Rajasa yakin bahwa pengikut Tunggul Ametung sudah lenyap sama sekali. Kehadiranmu dikota ini memang banyak menimbulkan persoalan. Tetapi diantaranya mereka menganggap bahwa dendammu tertuju kepadaku. Apalagi karena kau hanya sekali dua kali muncul dan tidak menimbulkan kesan yang lain, maka untuk sementara Sri Rajasa mengabaikanmu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jika demikian aku dapat mengambil sikap yang lain. Aku akan menumbuhkan kesan, bahwa aku adalah pengikut Tunggul Ametung yang setia. Nah, bukankah dengan demikian sikap Sri Rajasa terhadap Anusapati akan berubah?”

“Ya. Tetapi kesempatan kita agaknya terlampau sempit. Malam ini kalian harus tetap berada disini.”

“Untuk apa?”

“Jika kekerasan itu benar-benar terjadi.”

“Dan kami akan melawan segenap prajurit yang ada di halaman?”

“Tidak. Aku mempunyai cara lain. Bukan melawan segenap prajurit yang ada dihalaman ini, tetapi kita berusaha berbuat sebaik-baiknya tanpa menimbulkan pertempuran yang hanya akan menimbulkan korban jiwa saja.”

Witantra mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Agni dengan pertanyaan yang memenuhi dadanya.

Mahisa Agni seakan-akan menyadari, apa yang dipikirkan oleh Witantra. Karena itu maka katanya kemudian, “Tentu kita tidak akan mungkin bertempur melawan segenap prajurit dan Senapati yang ada dihalaman ini dan yang telah diatur pula oleh Sri Rajasa dan orang-orangnya. Tetapi kita dapat menemukan cara lain. Kita langsung berhubungan dengan Sri Rajasa.”

Witantra memandang Mahisa Agni dengan tajamnya, lalu bertanya, “Kita akan memotong langsung kepalanya?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada jalan lain. Kita tidak akan berbuat apa-apa. Kita akan menemuinya dan menjelaskan persoalannya. Mungkin kita dapat dianggap memaksanya. Tetapi itu adalah jalan yang terbaik.”

“Sri Rajasa bukan seorang yang mudah menyerah kepada keadaan Agni,” berkata Kuda Sempana, “mungkin ia akan mengatakan pendapat kita, tetapi kita tidak tahu apa yang akan dilakukan besok.”

“Sabda seorang Maharaja tidak akan berubah. Jika ia menolak, tentu ia akan menolak seketika itu apapun akibatnya, tetapi jika ia mengiakannya, maka ia akan melakukannya.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jika kau yang menjadi Maharaja, maka mungkin sekali kau akan berbuat demikian. Dan mungkin juga raja-raja yang lain. Tetapi apakah demikian pula yang akan dilakukan oleh Ken Arok yang sekarang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu?”

“Aku tidak tahu Kuda Sempana. Mudah-mudahan ia seorang Kesatria sepenuhnya meskipun masa lampaunya adalah masa lampau yang kelam.”

“Kita dapat mencoba,” berkata Mahendra, “sementara kita menyiapkan diri. Setidak-tidaknya kita mendapat kesempatan untuk menyelamatkan Putera Mahkota, dan membawa kesuatu tempat yang terpencil dan aman. Tentu Sri Rajasa tidak dapat menutup mata, bahwa Putera Mahkota Sebagai Kesatria Putih akan dengan mudah mendapat pengikut apabila Sri Rajasa benar-benar ingkar akan janjinya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itu adalah pendapat yang baik. Demikian Sri Rajasa menyanggupi untuk mengambil sikap yang pasti bagi Putera Mahkota, maka kita akan menyingkirkan Putera Mahkota itu sejauh-jauhnya sementara kita menunggu perkembangan. Putera Mahkota akan kembali ke istana tanpa melanggar haknya dan hak orang lain, sementara Sri Rajasa tidak akan dapat berbuat apapun lagi, karena persiapan Putera Mahkota pun telah matang.”

“Ya. Kita akan mencobanya. Mudah-mudahanan kita hanya sekedar berprasangka.”

“Kau terlampau lembut. Tetapi mudah-mudahan kau benar. Namun seandainya harus terjadi, kita sudah siap. Kita akan langsung mendapatkan Sri Rajasa, dan jika perlu menembus barisan pengawalnya.”

“Apaboleh buat,” sahut Mahisa Agni. Lalu, “Sekarang, kalian dapat beristirahat disini. Aku menjamin bahwa tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya. Biarlah kita menunggu Sumekar. Mungkin ia sedang mengamat-amati perkembangan baru di halaman istana ini.”

“Aku ingin juga keluar sebentar. Aku akan berhati-hati,” berkata Witantra.

“Kita menunggu Sumekar sejenak.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Mahisa Agni berkata seterusnya, “Aku besok dipanggil di bangsal paseban.”

Witantra memandang Mahisa Agni sejenak. Lalu, “Tidak ada penjelasan lagi?”

“Tidak.”

“Dan dihalaman ini terjadi kesibukan malam ini?”

“Sedikit. Aku tidak melihat bahaya yang menentukan. Namun aku tidak tahu, bahwa timbul firasatku bahwa justru paseban besok akan menentukan sesuatu sehubungan dengan kegiatan malam ini.”

“Kita memang harus mengamati keadaan. Mungkin sekali terjadi. Justru ketika kau berada di paseban, para prajurit mengambil tindakan terhadap Putera Mahkota. Tentu tidak mengetahuinya.”

“Akupun menduga demikian. Jika tidak, tentu tidak akan ada kegiatan yang melampaui kebiasaan dan sehubungan dengan sikap dan penglihatan Sumekar, bahwa yang terjadi halaman ini tidak pernah dilihatnya sebelumnya.”

“Tentu ada hubungannya.”

“Dan aku pun ternyata diikuti oleh seorang prajurit ketika aku berjalan-jalan di halaman.”

Witantra dan kedua kawan-kawannya saling berpandangan. Seakan-akan mereka telah menjadi yakin, bahwa sesuatu memang akan terjadi. Karena itulah maka Witantra pun berkata, “Baiklah aku mengamati keadaan. Mungkin kita haras bertindak cepat. Aku akan memberikan isyarat dari kejauhan dan kalian harus segera pergi ke bangsal Sri Rajasa.”

“Tetapi hati-hatilah. Aku pun akan menengok bangsal Anusapati,” jawab Mahisa Agni.

“Jika demikian,” berkata Kuda Sempana kemudian, “kita berada di luar bangsal ini saja, karena agaknya memang lebih aman. Kita mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Agni, “tetapi kita menunggu Sumekar sejenak. Kita mendengar pendapatnya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Tetapi jangan terlalu lama. Hari menjadi semakin malam.”

“Tentu tidak lama,” Kuda Sempana lah yang menyahut, “ia hanya akan singgah sejenak. Dan ia pun akan segera menyusul kemari.”

Sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka menunggu kedatangan Sumekar yang memisahkan dirinya ketika mereka memasuki halaman istana.

“Lama sekali,” desis Mahendra.

“Mungkin ia singgah ke gubugnya.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam.

Namun tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh guruh yang seakan-akan meledak di atas istana. Begitu kerasnya dan mengejutkan segenap bangunan yang ada dilingkungan halaman istana serasa bergetar karenanya.

“Mengejutkan,” desis Kuda Sempana.

Witantra mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Bukankah ketika kita memasuki halaman ini, langit nampaknya bersih?”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun mereka pun kemudian mendengar angin yang menderu, seakan-akan semakin lama menjadi semakin keras.

“Angin,” desis Mahendra, “agaknya hujan memang akan turun.”

Mahisa Agni hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi tiba-tiba saja terasa dadanya berdesir ketika ia melihat kain-kain selintru bergetar oleh angin yang menyusup dinding. Bahkan terasa pada kulit tubuh mereka, angin yang basah berhembus melintasi ruangan.

Sekali lagi mereka mendengar guruh di langit. Suaranya menggelegar berkepanjangan, seperti sebuah pedati raksasa yang lewat dijalan langit yang berbatu-batu. Panjang sekali.

Orang-orang yang ada di dalam bangsal itu menaiik nafas dalam-dalam. Terasa udara malam menjadi asing. Angin yang berhembus rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin kencang.

“Musim hujan memang sudah tiba,” berkata Mahendra.

“Tetapi belum waktunya angin dan guntur bersahut-sahutan di langit,” sahut Witantra.

“Memang kadang-kadang terjadi kelainan seperti ini,” berkata Mahisa Agni, “ketika Akuwu Tunggul Ametung masih memerintah pernah juga terjadi hujan di kelainan musim. Tiga hari tiga malam. Kemudan pada masa pemerintahan Sri Rajasa pun pernah juga terjadi.”

“Ingatanmu baik sekali Mahisa Agni.”

“Kebetulan saja bersamaan waktunya dengan kejadian besar yang tidak dapat aku lupakan. Mungkin masih banyak terjadi kelainan musim. Tetapi aku sudah tidak ingat lagi.”

“Kejadian besar yang manakah yang kau maksudkan?” bertanya Witantra.

“Yang pertama menurut ingatanku, yaitu pada saat pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung adalah saat-saat menjelang akhir pemerintahannya. Hujan turun beberapa hari. Tetapi waktu itu kita tidak menghiraukannya, karena musim hujan memang sudah diambang pintu.”

“Seperti saat ini.”

“Ya, seperti saat ini.”

“Dan pada masa pemerintahan Sri Rajasa?”

“Tiba-tiba saja hujan turun seperti dicurahkan dari langit.”

“Ya. Bersamaan waktunya dengan peristiwa yang mana?”

“Menjelang gugurnya Sri Kertajaya Maharaja di Kediri.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pantas kau dapat mengingatnya. Sebenarnya yang kau ingat bukan hujan dan angin, tetapi peristiwa- peristiwa besar itulah agaknya.”

“Sudah aku katakan. Mungkin musim yang salah itu sering terjadi. Tetapi tentu aku tidak dapat mengingatnya lagi.”

Mereka pun terdiam ketika mereka mendengar guruh sekali lagi mengumandang di langit. Seleret cahaya yang terang benderang telah membelah kegelapan malam, disambut oleh suara angin yang gemerasak di dedaunan.

“Angin pun ikut berbicara bersama kita. Kau dengar?” bertanya Mahendra.

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tampaklah wajah Witantra menjadi bersungguh-sungguh. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Kadang-kadang kejadian-kejadian besar memang ditandai oleh peristiwa alam yang agak lain dari urutan musimnya.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Witantra sejenak. Lalu, “Apakah ada sesuatu terasa dihatinya.”

“Semacam firasat buruk,” Kuda Sempana lah yang menyahut.

“Ya,” berkata Mahendra pula. “Ada sesuatu yang lain dihati ini.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Inikah pertanda itu?” ia terdiam sejenak, lalu, “jika demikian tinggallah kalian disini. Aku akan pergi ke bangsal Anusapati.”

Witantra termenung sejenak. Lalu, “Kenapa kau? Kenapa bukan aku?”

“Aku lebih leluasa bergerak di halaman istana ini.”

Witantra tidak segera menyahut. Tetapi sepercik cahaya telah memancar lagi. Terang sekali, diiringi suara guruh yang menggelegar dilangit.

Belum lagi suara guruh itu lenyap, terdengar sesuatu yang mendebarkan jantung. Perlahan-lahan pintu butulan telah diketuk orang.

“Sumekar,” desis Mahisa Agni.

Mahendra pun kemudian berdiri. Dengan hati-hati ia menarik selarak. Ketika pintu terbuka sedikit, mereka yang ada di dalam ruangan itu pun terkejut bukan kepalang. Ternyata yang datang sama sekali bukan Sumekar, tetapi Anusapati.

“Kau Anusapati?” bertanya Mahisa Agni perlahan-lahan.

Anusapati tidak menjawab, Ia pun kemudian melangkah masuk dengan ragu-ragu. Dilihatnya beberapa orang yang sudah ada diruangan itu.

“Duduklah.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Dimanakah paman Sumekar?”

Pertanyaan itu mengejutkan Mahisa Agni dan orang-orang yang ada di dalam bilik bangsal itu.

“Pamanmu Sumekar tidak ada disini,” jawab Mahisa Agni, “kami memang sedang menunggunya.”

“Baru saja paman Sumekar datang kepadaku.”

“O,” kata-kata itu sangat menarik perhatian. Lalu, “dimana ia sekarang?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku sedang mencarinya kemari. Menurut paman Sumekar, ia akan pergi ke bangsal ini.”

“Ia belum datang. Mungkin ia singgah di tempat tinggalnya atau keperluan lain. Sebentar lagi ia akan datang. Karena ia pun menyatakan kepada kami, bahwa ia akan segera datang.”

Anusapati memandang Mahisa Agni dengan heran. Katanya, “Paman Sumekar mengatakan kepadaku, bahwa paman menyuruhnya pergi kepadaku.”

“Aku?”

“Ya paman.”

“Kenapa aku? Dan apa katanya?”

“Paman menyuruh paman Sumekar kebangsalku dan dengan diam-diam menemui aku, karena paman ingin melihat keris Empu Gandring itu.”

“Keris Empu Gandring?”

“Ya. Paman Sumekar telah membawa keris itu, yang menurut paman Sumekar akan diserahkannya kepada paman Mahisa Agni.”

Jawaban itu telah mengguncangkan dada Mahisa Agni dan orang-orang yang ada diruangan itu, sehingga Witantra bergeser setapak. “Jadi, keris itu sekarang dibawa oleh Sumekar.”

“Ya.”

Terasa sesuatu bergejolak di setiap dada.

“Bagaimana paman,” bertanya Anusapati, “apakah tidak demikian?”

“Katakan Anusapati, bagaimana hal itu terjadi.”

Anusapati menjadi gelisah. Katanya, “Paman Sumekar datang kepadaku dengan diam-diam. Paman Sumekar membawa pesan paman Mahisa Agni untuk membawa keris itu. Karena paman Mahisa Agni ingin melihatnya.”

“Bukankah aku pernah melihat keris itu?”

“Ya, tetapi menurut paman Sumekar, paman Mahisa Agni ingin melihat lebih cermat lagi, apakah keris itu benar-benar keris Empu Gandring.”

“Ah,” Mahisa Agni berdesah.

“Jadi, apakah tidak demikian?” bertanya Anusapati.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. “Ia sama sekali menduga bahwa tiba-tiba terjadi suatu hal yang tidak dapat dimengertinya. Sumekar selama ini tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali. Namun tiba-tiba ia telah berbuat sesuatu yang tentu mendebarkan jantung.”

“Tetapi tentu bukan maksudnya untuk mencelakakan Anusapati, justru selama ini ia menunjukkan betapa ia ingin berbuat sesuatu untuk Anusapati.”

Ternyata pikiran itu justru telah mengejutkan Mahisa Agni sendiri. Sekali lagi diulanginya di dalam hatinya, “Sumekar ingin berbuat sesuatu untuk Anusapati.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Jadi, bagaimanakah sebenarnya paman?” desak Anusapati.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian. Dengan hati-hati ia ingin menjelaskan masalahnya, “Aku tidak memberikan pesan itu kepada pamanmu Sumekar.”

“Jadi apakah maksud paman Sumekar?”

Mahisa Agni memandang wajah Witantra, Kuda Sempana dan Mahendra berganti-ganti. Sebelum ia berkata sesuatu, Kuda Sempana telah berdesis, “Memang mengherankan. Tetapi juga mencemaskan.”

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “selama ini Sumekar telah berbuat sebaik-baiknya bagimu. Selama ini ia berusaha untuk membantumu jika kau berada di dalam kesulitan. Karena itu, jika ia membawa keris itu, tentu maksudnya sama sekali tidak diarahkan kepadamu. Namun demikian, kita masih juga tetap meraba-raba. Karena itu, marilah kita mencarinya. Mungkin kau dapat mencarinya ke sekitar bangsal ayahandamu. Tetapi ingat, dengan diam-diam. Aku akan mencarinya di tempat lain yang lebih berbahaya, di daerah seberang dinding. Siapa tahu, Sumekar pergi kebangsal Ken Umang dan Tohjaya dengan keris itu di tangan. Jika kita bertemu dengan Sumekar, maka cobalah membujuknya. Bawalah ia ke bangsal ini. Katakan bahwa pamanmu Kuda Sempana menunggunya, karena pamanmu Kuda Sempana adalah saudara tua seperguruan dari pamanmu Sumekar.”

“Baiklah paman. Aku akan mencoba mencarinya.”

“Hati-hatilah. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki, meskipun agaknya persiapan di dalam istana ini menjadi semakin meningkat.”

“Itulah yang akan aku katakan kepada paman Sumekar, agar ia menjadi berhati-hati, karena menurut pengamatanku, ada beberapa kelainan di halaman istana ini.”

“jika demikian, apakah aku juga dapat ikut mencarinya?” bertanya Witantra.

“Ada juga baiknya. Tetapi aku harap Kuda Sempan dan Mahendra tetap berada di bangsal ini. Aku kira tidak akan ada orang yang akan memasukinya. Jika ada, tentu orang itu membawa tugas rahasia.”

“Baiklah paman. Aku akan mencarinya.”

“Marilah kita pergi. Berhati-hatilah. Aku juga harus berhati-hati, karena di bangsal Tohjaya itu kini mendapat penjagaan yang sangat kuat.”

“Aku akan mencarinya di tempat lain dari kedua tempat itu.”

Demikian, seorang demi seorang, Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati meninggalkan bangsal itu. Sebelum Anusapati mengikuti pamannya keluar dari pintu butulan, Kuda Sempana masih sempat berpesan. “Tuanku Putera Mahkota, Sumekar sebenarnya adalah seorang yang keras hati. Karena itu, jika tuanku bertemu, katakan bahwa tuanku mendapat pesan daripadaku, bahwa aku akan menemuinya sejenak tanpa merubah rencananya.”

“Baiklah paman. Mudah-mudahan aku dapat menemuinya.”

“Silahkan. Tetapi seperti pesan paman tuanku, berhati-hatilah. Agaknya persiapan yang meningkat ini diarahkan kepada tuanku.”

“Sebenarnya aku memang sudah menduga paman. Tetapi agaknya Pamanda Mahisa Agni terlampau mempercayai kelembutan hati manusia yang lain seperti dirinya sendiri. Seakan-akan didunia ini memang tidak ada kedengkian dan kepalsuan.”

“Sukurlah jika tuanku sudah menyadarinya.”

“Tetapi jika mereka benar-benar bertindak malam ini, agaknya aku sudah terlambat. Kecuali meninggalkan istana ini, hanya seorang diri, tanpa anak dan isteriku.”

“Sekarang, silahkan angger mencari Sumekar. Memang agaknya lebih aman di sekitar bangsal Sri Rajasa, justru karena Sri Rajasa memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga tidak memerlukan penjagaan sekuat bangsal ibunda Ken Umang dan adinda tuanku Tohjaya.”

“Terima kasih paman. Aku minta diri.”

Anusapati pun kemudian dengan hati-hati meninggalkan bangsal itu lewat halaman belakang yang sepi. Dengan lincahnya ia meloncat ke atas dinding batu yang tinggi dan kemudian hilang dibalik dinding itu.

Dalam pada itu, maka tiga orang yang tanpa diketahui oleh para penjaga, telah menyusup di antara gerumbul-gerumbul pohon bunga dihalaman. Yang seorang menuju kebangsal Sri Rajasa, yang memang tidak begitu banyak mendapat penjagaan, justru karena setiap orang yakin, bahwa Sri Rajasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain, serta atas perhitungan bahwa tentu tidak akan ada seorang pun yang berani mengganggunya, sedang yang seorang lagi pergi kebangsal di bagian lain dari istana Singasari, yaitu bangsal Ken Umang dan Tohjaya serta adik-adiknya. Kemudian Witantra mencoba mencari di bagian lain dihalaman istana itu. Mungkin justru Sumekar menjumpai bahaya di perjalanannya menuju ke bangsal Mahisa Agni.

Sementara itu guntur di langit masih juga terdengar sekali-kali meledak memekakkan telinga. Angin yang kencing bertiup di antara dedaunan, sehingga lampu yang sudah dinyalakan di halaman dan di gardu-gardu bagaikan diguncang-guncang, sehingga kadang-kadang sinarnya menjadi amat redup dan bahkan hampir padam.

“Suasananya terasa aneh sekali,” gumam seorang prajurit, “guntur dan guruh tiba-tiba saja berkejar-kejaranan di langit yang sehari ini tampak cerah.”

“Tiba-tiba saja. Aku menjadi bertanya-tanya di dalam hati, apakah ini suatu pertanda.”

“Pertanda apa?”

“Aku tidak mengerti, kenapa kita harus bertugas malam ini. Ini pun suatu perintah tiba-tiba seperti guruh yang tiba-tiba saja meledak dilangit.”

“Apakah kau sama sekali tidak mengerti persoalan yang sedang berkecamuk di halaman istana ini?”

“Aku memang mendengarnya, tetapi aku ragu-ragu untuk mempercayainya.”

“Apa?”

“Besok pagi dipaseban akan ada sidang para pemimpin yang akan membicarakan kenaikan upah bagi para prajurit.”

“Ah,” prajurit yang lain berdesah.

“Apakah bukan itu yang kau maksud?”

“Tentu bukan.”

“Jadi?”

“Pertentangan yang semakin lama menjadi semakin tajam antara kedua putera Sri Rajasa.”

“Lalu, apakah hubungannya dengan kita sekarang ini?”

“Kita harus berjaga-jaga, agar tidak terjadi bentrokan terbuka antara keduanya dan para pengikutnya.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara lagi.

Namun dalam pada itu, kedua prajurit itu tidak mengerti bahwa seorang perwira sedang memperhatikan mereka. Perwira itu kadang-kadang mengerutkan keningnya, kadang-kadang wajahnya menjadi tegang. Tetapi kemudian sebuah senyum menghiasi bibirnya. Katanya di dalam hati, “Tentu kalian tidak mengerti apa yang harus kalian lakukan. Besok kalian harus menguasai keadaan jika beberapa orang Senapati menangkap Anusapati dan Mahisa Agni di paseban. Perintah itu baru akan datang besok pagi jika paseban sudah penuh dengan mereka yang akan mengikuti Sidang. Dan bahkan ketika Sri Rajasa sudah duduk di paseban itu pula.”

Tetapi Senapati yang tersenyum itu pun tidak mengetahui bahwa dihalaman itu merayap beberapa orang yang sedang melakukan tugas masing-masing. Dan mereka pun tidak tahu, bahwa seseorang yang lebih dahulu dari ketiga orang yang lain pun sedang merayap pula di antara rimbunnya pepohonan. Bukan saja sedang mengendap-edap mencari seseorang, tetapi ternyata bahwa ia telah menggenggam keris telanjang ditangannya.

Keris bukan sembarang keris, tetapi keris itu pusaka yang dibuat oleh Empu Gandring. Keris yang sudah dibasahi dengan darah Empu Gandring sendiri dan darah Akuwu Tunggul Ametung. Sehingga dengan demikian keris yang sudah bernoda darah itu agaknya justru telah menjadi haus. Seperti yang dipesankan oleh Empu Gandring menjelang tarikan nafasnya yang terakhir, agar keris itu dihancurkan saja, karena keris itu tentu akan menuntut darah orang berikutnya.

Demikianlah dengan berdebar-debar Anusapati, Mahisa Agni dan Witantra berusaha menemukan Sumekar sebelum terjadi apapun juga, karena dugaan mereka semakin lama menjadi semakin kuat bahwa Sumekar akan mengambil tindakan tersendiri. Sudah sejak beberapa lamanya, Sumekar merasa bahwa keadaan yang terkatung-katung itu harus diakhiri dengan caranya. Dan cara itulah yang mendebarkan hati Anusapati, Mahisa Agni dan kawan-kawannya.

Dalam pada itu Anusapati pun menjadi semakin dekat dengan bangsal Sri Rajasa. Tetapi ia harus sangat berhati-hati. Jika seseorang melihatnya, persoalannya tentu akan menjadi berbeda. Dan ia tidak akan dapat ingkar lagi, seandainya para prajurit dan kemudian Sri Rajasa sendiri menuduhnya untuk melakukan perlawanan terhadap Ayahanda Sri Rajasa bahwa tuduhan yang lebih berat lagi, usaha membunuh Sri Rajasa.

Atas kesadaran itu, maka Anusapati pun menjadi semakin hati-hati. Ia sama sekali tidak berani mendekati bangsal itu dari depan. Tetapi ia menyusur dinding batu di belakang bangsal itu dan mendekat lewat longkangan belakang.

“Ayahanda sering menghirup udara di longkangan itu,” berkata Anusapati.

Namun ia menjadi ragu-ragu. Sri Rajasa adalah seorang yang memiliki kemampuan tiada taranya. Jika ia berani mendekat, maka Sri Rajasa itu tentu dapat mengetahuinya.

Karena itulah, maka untuk beberapa saat Anusapati menjadi termangu-mangu. Namun ada semacam dorongan yang memaksanya untuk bergerak lebih dekat lagi.

“Aku akan melihat dari kejauhan lebih dahulu,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “agar seandainya ayahanda benar-benar ada di dalam aku tidak terjebak oleh incarannya yang sangat tajam.”

Demikianlah, maka Anusapati pun telah memanjat sebatang pohon preh yang rimbun. Di dalam gelapnya malam dan angin yang rasa-rasanya bertiup semakin kencang, tidak seorang pun yang memperhatikan pohon preh yang bagaikan diguncang-guncang itu.

Hanya setiap kali tatit memancar dilangit, Anusapati harus melekat pada batang pohon preh itu agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Ketika Anusapati sudah berada di tempat yang cukup tinggi, maka ia pun segera menyelusur sebatang cabang yang besar, agar ia dapat melihat kedalam longkangan dalam.

Terasa jantung Anusapati bagaikan berhenti berdenyut. Dari tempatnya, ia melihat seseorang telah berada di dalam longkangan belakang bangsal Sri Rajasa. Di dalam keremangan cahaya lampu di longkangan itu. Anusapati melihat, orang itu membawa sebilah keris telanjang.

“Paman Sumekar,” ia berdesis.

Sejenak Anusapati justru terpukau oleh pemandangan itu. Ia merasa sesuatu menyentuh hatinya. Sumekar berbuat hal itu justru untuk kepertingannya, karena Sumekar sudah jemu melihat perkembangan yang tidak menentu di istana Singasari ini.

Tetapi apakah ia akan berdiam diri saja melihat tindakan Sumekar itu?

Tiba-tiba sesuatu terbersit di dalam hatinya. Sebagai manusia biasa Anusapati tidak terlepas dari gangguan kepentingan diri. Itulah sebabnya telah terjadi semacam benturan di dalam dirinya. Seperti yang dipesankan oleh pamannya, bahwa sebaiknya ia berusaha membujuk Sumekar untuk kembali ke bangsal Mahisa Agni, namun di dalam hatinya yang paling dalam ia berkata kepada diri sendiri. “Apakah aku sudah melanggar pesan paman Mahisa Agni jika aku membiarkan paman Sumekar melakukan usahanya untuk menyingkirkan Ayahanda Sri Rajasa? Bukankah aku bukan sanak dan bukan kadangnya.”

Anusapati justru menjadi ragu-ragu.

Namun sesuatu yang mendesak di dalam hatinya justru pengaruh pertentangannya dengan Ayahanda Sri Rajasa. Persiapan-persiapan yang menjadi semakin ketat di dalam istana Singasari. Dan apalagi ketika terbersit tanggapannya, “Ayahanda mempersiapkan semuanya ini untuk menyingkirkan aku. Tentu bukan sekedar menyingkirkan saja dari istana Singasari ini, tetapi tentu juga mengancam jiwanku.” lalu tiba-tiba ia bergumam, “selagi Ayahanda Sri Rajasa masih ada, maka ancaman maut itu tidak akan dapat aku hindarkan. Tetapi apakah aku tidak berhak membela diriku? Dan jika perbuatan paman Sumekar itu merupakan perlindungan bagi jiwaku tanpa berbuat langsung, itu aku dapat dipersalahkan?”

Dalam keragu-raguan itu, terasa darah Anusapati seakan-akan terhenti. Ternyata dari dalam bangsal itu, Sri Rajasa mengetahui bahwa seseorang ada dilongkangan dalam.

“Sangat berbahaya bagi paman Sumekar.” berkata Anusapati kepada diri sendiri. Tanpa disadarinya ia mencoba memperhatikan para prajurit yang ada didepan bangsal itu.

“Apakah mereka tidak akan mendengar jika terjadi perkelahian.”

Dalam pada itu, angin seakan-akan menjadi semakin kencang, dan guruh meledak-ledak di langit. Memang suatu kelainan musim yang aneh.

 

“Angin yang keras ini akan melindungi paman Sumekar,” berkata Anusapati di dalam hatinya. “Namun jika Ayahanda Sri Rajasa memberikan isyarat kepada para prajurit, maka paman Sumekar akan menjadi sayatan daging di longkangan itu.”

Hati Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar, betapa marahnya Sri Rajasa. Tetapi agaknya Sumekar pun sudah bertekad bulat.

“Aku harus mendekat. Aku harus melihat akhir dari peristiwa ini.”

Dengan tergesa-gesa Anusapati pun segera turun dari pohon preh itu. Namun ia masih tetap sadar, bahwan ia memang harus berhati-hati.”

Demikianlah, selagi Anusapati meluncur turun dari pohon preh yang besar itu. Sri Rajasa telah berada dilongkangan belakang. Sebagai seorang yang memiliki kelebihan, maka ia pun segera mengetahui bahwa ada seseorang yang mencurigakan di longkangan. Apalagi Sumekar, yang memang dengan hati yang bulat dan sikap yang pasti, ingin berbuat sesuatu bagi Singasari menurut caranya.

Itulah sebabnya ia dengan sengaja telah memancing Sri Rajasa untuk keluar dari bangsalnya ke longkangan belakang.

Di dalam gemuruhnya angin kencang dan guntur yang sekali-sekali meledak dilangit, maka terdengarlah suara Sumekar lamat-amat dan yang hanya didengar oleh Sri Rajasa sendiri, “Tuanku, ternyata perbuatan tuanku sudah tidak dapat dihentikan dengan cara yang ditempuh oleh Mahisa Agni. Justru pada saat Mahisa Agni berusaha dengan segala kelemahan yang ada padanya, tuanku mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Persiapan yang tuanku lakukan bukannya sekedar sebuah permainan yang dapat dianggap sebagai angin lalu. Tentu ada maksud tuanku yang tidak akan dapat tuanku ingkari lagi, memusnahkan Putera Mahkota dan Mahisa Agni sekaligus.”

Sri Rajasa menjadi marah bukan buatan mendengar kata-kata Sumekar. Namun ia masih sempat bertanya, “Siapa kau?”

“Apakah tuanku belum pernah melihat hamba? Hamba adalah seorang Pengalasan dari Batil.”

“Apa perlumu datang kemari?”

“Hamba ingin memberikan sedikit darma bakti bagi Singasari. Hamba adalah orang yang kagum kepada tuanku yang telah berhasil menyatukan Singasari yang besar dengan segala macam kelebihan tuanku di bidang pemerintahan dan keprajuritan. Namun menyesal sekali bahwa hamba tidak sampai hati melihat apa yang akan tuanku lakukan disaat-saat menjelang hari tua tuanku. Hamba tidak rela melihat usaha tuanku menyerahkan Singasari kepada seseorang yang tidak akan dapat meneruskan keagungan pemerintahan tuanku.”

“Aku tidak tahu maksudmu.”

“Tuanku, sebenarnyalah hamba berharap agar tuanku tidak menarik keputusan tuanku untuk menyerahkan kekuasaan Singasari dari tangan Anusapati, karena menurut pengamatan hamba, Putera Mahkota Anusapati akan dapat mengendalikan kekuasaan Singasari dan memperkembangkannya seperti yang tuanku kehendaki. Tetapi tentu tidak demikian dengan tuanku Tohjaya. Tuanku Tohjaya seperti ibundanya, adalah seorang yang paling tamak di seluruh Singasari.”

“Cukup,” bentak Sri Rajasa.

Meskipun suaranya cukup keras namun para prajurit di depan bangsal itu tidak dapat mendengarnya karena angin yang keras diseling dengan suara guntur yang menggelegar.

“Apakah kau ada hubungan keluarga dengan Anusapati?” bertanya Sri Rajasa.

“Tidak. Aku tidak mempunyai hubungan keluarga dengan tuanku Anusapati, juga tidak dengan tuanku Tohjaya.”

“Kau adalah pengikut Tunggul Ametung yang setia.”

“Pada jaman Akuwu Tunggul Ametung, aku tidak tahu apa-apa sama sekali.”

“Jadi, apa sebenarnya yang kau kehendaki?”

“Kelangsungan hasil kerja tuanku Sri Rajasa yang besar.”

“Gila, kau ingin kelangsungan hidup Singasari yang besar atas usahaku sekarang kau datang dengan cara yang gila ini.”

“Tuanku, hamba mohon agar tuanku mengurungkan niat tuanku untuk menggeser tuanku Anusapati. Tuanku tidak usah ingkar. Dan hamba mengharap agar tuanku Tohjaya dibatasi kekuasaannya sehingga bukan tuanku Tohjaya lah yang seakan-akan menjabat sebagai seorang Pangeran Pati. Tetapi tuanku Anusapati.”

“Jangan gila pengalasan dari Batil. Aku berhak menentukan apa saja. Bukan kau. Aku mempunyai kekuasaan tidak terbatas di Singasari.”

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [192]