Pengembaraan di Hutan Dandaka [05]

385

12. Pengembaraan di Hutan Dandaka

Raja Dasarata semakin pedih hatinya ketika mendengar tuntutan Kaikayi agar Rama beserta Sita istrinya diusir dari istana dan dibuang kedalam hutan Dandaka selama empat belas tahun.

Hati Dasarata amat bingung karena persiapan penobatan Rama menjadi raja telah selesai. Maka pada keesokan harinya ketika hari masih pagi buta, Rama dipanggil menghadap. Ketika Rama datang bersembah di hadapannya, Raja Dasarata tak sanggup menyampaikan isi hatinya.

Maka Kaikayilah yang memerintahkan Rama agar Rama bersama Sita meninggalkan istana dan pergi mengembara dalam pembuangan di hutan Dandaka selama empat belas tahun. Wajah Rama tetap tenang mendengar perintah itu. Sebagai satria ia akan memenuhi perintah ayahnya, betapapun berat perintah itu.

Rama menyembah, lalu minta diri dari ayahandanya. Dengan tenang pula ia menyampaikan perintah itu kepada Sita, lalu bersiap untuk berangkat. Dengan diiringi ratap tangis para abdi istana maka berangkatlah Rama dan Sita menuju hutan Dandaka. Laksamana yang amat menyintai Rama kakaknya, ikut pula dalam pengembaraan itu.

13. Kesedihan Prabu Dasarata

Raja Dasarata amat sedih hatinya karena ditinggal oleh Rama, Sita dan Laksamana. Malam hari ia tak dapat tidur karena teringat akan pengalamannya sendiri dikala masih muda. Maka pengalamannya itu diceritakanlah kepada Kausalya.

“Kausalya, kala aku masih muda, aku amat pandai memanah. Pada suatu malam aku mengendarai keretaku di sepanjang Sungai Serayu. Kala itu banyak binatang seperti gajah, harimau dan kijang sering minum di tepi sungai. Walaupun aku tak bisa melihat tubuh binatang itu, aku dapat membidiknya dengan panahku. Hanya dari mendengar suara binatang itu saja aku dapat memanahnya.

Suatu saat aku mendengar sebuah suara, lalu kupanah. Ternyata itu bukanlah seekor binatang tapi seorang pemuda. Sambil mengerang kesakitan ia minta kepadaku agar pasu yang berisi air di sampingnya aku antarkan kepada kedua orang tuanya yang buta. Ia pun segera tewas karena panahku.

Pasu itu lalu kuantarkan kepada orang tua pemuda itu. Mereka sedang kehausan. Lalu kuceritakan peristiwa yang kualami seraya kuminta maafnya atas kesalahanku. Dan orang tua itu pun meramalkan bahwa aku kelak akan merasakan betapa pedihnya ditinggalkan anak yang kucintai.” Sehabis bercerita demikian, Raja Dasarata pun wafat.

~ Article view : [42]