Sadpada Ngisep Kembang

146
Dari kisah Geguritan Sucita Subudhi, karangan pujangga Bali Ida Ketut Jelantik dari Geria Tegeha Banjar, Singaraja
Setelah menikmati keindahan asrama Granawati, menjelang malam Sang Sucita dan Subudhi kembali ke asrama. Malam harinya mereka mendapat berkah berupa “bayangan bathin” ( lawat jnana) Maharsi Amitaba, sosok maharsi yang telah mencapai kesucian sempurna. Wujud berkahnya adalah nikmatnya duniawi.
Mendapat berkah yang langka ini, Sang Sucita dan Subudhi  menghaturkan nyanyian pujaan (gita puja), dengan tembang Sadpada Ngisep Kembang.

***
Padalingsa dan paca pariring berlaras pelog.
i e e e … / o u e e …/    = 8a
Om om sem-bah / i-ka tu-nan,
o e u a … / u e a u …/   = 8i
du-ma-dak ju-a ka-ak-si 
o e u e … / u e o i … /   = 8a
mung-guing pa-ngu-bak-tin ti-tiang
i  i o e … / o i a u … /   = 8u
nis-ta so-lah la-wan wu-wus
u u i a … / i o e i … /    = 8i
mu-wah ba-nget hi-na bu-di
(XL:1-1)
artinya:
Om Om sembah (dari) hamba yang (serba ke)kurang(an)
Semogalah disaksikan
Sembah bakti dari hamba
(Yang) nista prilaku, (nista) ucapan,
Ditambah lagi sangat nista budi
kewanten sredaning manah,
miwah kateleban hati,
kalawan eling tan pegat,
kanggen manyanggra manyuwun,
ican Ida Sang Luwih
(XL:1-2)
artinya:
Hanya (dengan) kemantapan pikiran
Dan kemantapan hati
Dan kesadaran yang tiada putusnya
(Itulah yang hamba) gunakan (untuk) menerima
Anugerah-Mu, Sang Maha Baik
***
 
Sadpada Ngisep Kembang/Sekar artinya kumbang menghisap (sari) bunga.
Sepaut dengan arti tersebut maka irama tembang ini pun dilantunkan dengan mengasosiasikan suara sayap kumbang yang mendengung ketika sedang terbang sambil menghisap sari bunga.
Artinya, karakter tembang ini halus dan lembut.
Dilagukan dengan laras pelog, tembang Sadpada Ngisep Kembang ini memiliki banyak versi di berbagai daerah.
Pengarang (Jelantik) tampak berusaha menyelaraskan irama tersebut dengan isi syairnya. Oleh karena itu, lagu ini juga adalah untaian kembang/sekar, bunga untuk nyanyian persembahan (gita puja).
Nyanyian persembahan yang bisa dinikmati dengan perasaan sahredaya (sehati), menginspirasi perasaan bakti dan untuk mendapatkan hikmat santa rasa (perasaan damai).
Sumber: I Wayan Suka Yasa -“Rasa, Daya Estetik-Religius Geguritan Sucita

 

~ Article view : [43]

SHARE
Previous articleTuntunan Pamuspan
Next articlePutru Saji Tarpana