Sejarah Singkat Pura Khayangan Jagat di Bali

By February 7, 2012 Dharma Yatra No Comments

Sejarah Singkat Pura Khayangan Jagat di Bali

Setelah mengungkap sekelumit asal usul Pura-pura Khayangan Jagat di Bali, berdasarkan sumber – sumber menuskrip tua, yang kini masih tersimpan di Bali. Hubungan Pura-pura Khayangan Jagat di Bali dengan Gunung Semeru, pengungkapannya mirip dengan kejadian pemindahan puncak gunung Mahameru (Himalaya) di India ke Tanah Jawa.

Dalam naskah sejarah Bali oleh Gora Sirikan, diceritakan bahwa “ Gunung – gunung dan Danau menjadi tempat pemujaan Dewa – Dewi. sebagai Gunung Mahameru yang dipindahkan dari Jambudwipa ke Bali oleh Dewa – Dewi itu, katanya terjadi pada tahun Saka 11 (’89 M). Perhitungan tahun saka itu dinyatakan dengan istilah “Candra Sangkala” yang berbunyi “Rudira Bumi”. baik perkataan “Rudira” maupun “Bumi”, masing – masing mempunyai nilai angka 1, sehingga kedua patah perkataan itu menujukan bilangan angka tahun saka 11. Semenjak itulah katanya keadaan Pulau Bali mulai sentosa,tiada bergoyang lagi karena adanya gunung – gunung itu. hal ini dapat diartikan bahwa semenjak itu masyarakat di Bali mulai mengalami perubahan karena desakan paham baru yang datang dari india.

Dalam lontar Raja Purana Sasana Candi Sapralingga Bhuana, dikemukakan keadaan Balidwipa dan salaparangdwipa, masih sunyi senyap. Seolah-olah masih mengambang di tengah lautan yang luas, bak perahu tanpa kemudi, oleng kesana kemari, tak menentu arahnya. Pada waktu itu di Balidwipa hanya baru ada Gunung Lempuyang di bagian Timur. Disebelah selatan Gunung Andakasa. Di sebelah barat, Gunung Batukaru, disebelah utara Gunung Mangu dan Beratan. Sehingga Balidwipa pada waktu itu masih labil dan goyang.

Keadaan Balidwipa yang masih labil dan bergoyang terus, diketahui oleh Dewa Pasupati yang bersthana di Gunung Semeru. Agar Balidwipa menjadi stabil, Dewa Pasupati memerintahkan Sanng Badawangnala, Sang Naga Anantaboga, Sang Naga Basuki, Sang Naga Taksaka memindahkan bagian salah satu puncak Gunung Semeru ke Balidwipa.

Sang Badawangnala, menjadi alas bagian puncak Gunung Semeru yang dipindahkan ke Balidwipa, Naga Anantaboga dan Naga Basuki mengikat. Sedangkan Naga Taksaka, juga mengikat dan menerbangkan ke utara. Bagian-bagian puncak Gunung Semeru yang diterbangkan ke Balidwipa pada waktu itu, adapula bagian – bagian yang rempak dan jatuh tercecer di Balidwipa, menjadi gunung Batur, dan sebagian yang tidak tercecer menjadi Gunung Agung. kemudian setelah itu, keadaan Balidwipa menjadi stabil. Sejak itu pula di Balidwipa ada Sadpralinggagiri (enam sthana gunung), yakni Gunung Lempuyang, Gunung Andakasa, Gunung Watukaru, Gunung Pucak Mangu atau Gunung Bratan, Gunung Batur dan Gunung Agung.

Setelah keadaan Balidwipa menjadi stabil, kemudian Dewa Pasupati, memerintahkan tiga istadewata atau prabhawanya, yang dalam penghayatan Agama yang immanent, dikemukakan sebagai tiga putra-Nya. Ketiga Putra-Nya yang diberi bhisama agar bersthana di Balidwipa menjadi sungsungan Raja-raja dan Rakyat di Balidwipa, adalah

  1. Hyang Gnijaya, bersthana di Gunung Lempuyang,
  2. Hyang Putrajaya, bersthana di Gunung Agung
  3. Hyang Bhatari (Dewi Danu), bersthana di Gunung Batur.

maka sejak itu, bagi Raja-raja dan Rakyat Balidwipa, telah ada sungsungan Trilinggagiri (tiga sthana gunung).

Agar keadaan Balidwipa menjadi sempurna, kemudian Dewa Pasupati di Gunung Semeru, memerintahkan lagi empat orang putranya untuk bersthana di Balidwipa yakni;

  1. Bhatara (Hyang) Tumuwuh, bersthana di Gunung Watukaru,
  2. Bhatara (Hyang) Manik Gumawang, bersthana di Gunung Bratan (Pucak Mangu),
  3. Bhatara (Hyang) Manik Galang, bersthana di Pejeng,
  4. Bhatara (Hyang) Tugu, bersthana di Gunung Andakasa.

Sejak itu Balidwipa, dikenal adanya Saptalinggasari, tujuh gunung sebagai lingga, yang dalam penghayatan agama immanent selaras dengan konsep dan sistem ajaran Upaweda, sebagai sthana putra-putra Dewa Pasupati, yang bersthana di Gunung Semeru.

dalam naskah Purana Bali yang disusun oleh Ida Peranda Gede Pemaron, Geria Agung Menara Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, dinyatakan sebagai berikut;

  • Sang Hyang Wisnu mengadakan Gunung Batur namanya dan lereng Gunung Batur, terus berkahyangan disitu di Toya Bungkah namanya di sebelah Gunung Batur itu. Danau Batur kahyangan Bhetari Uma, Danau Buyan kahyangan Bhatari Gangga, Danau Beratan kahyangan Bhatari Laksmi dan Danau Tamblingan kahyangan Bhatari Sri.
  • Hyang Pasupati menyuruh Hyang Putranjaya dan Dewi Danuh untuk menuju Benoa Bangsul (Pulau Bali) serta berkahyangan disana sebagai bhetara yang disembah oleh masyarakat disana (Bali). Hyang Putranjaya dan Dewi Danuh menuju Bali dengan merubah dirinya berwujud dua ekor burung perkutut yaitu Hyang Putranjaya menjadi Perkutut (titiran) Putih dan Bhatari Danuh menjadi Perkutut Brumbun. Sementara itu Hyang Pasupati terbang ke Bali dengan membawa dua buah keping gunung yang diambil dari Jambudwipa (Gunung Himalaya) yang dipegang dengan tangan kanan dan kiriNya. Kedua buah keping itu kemudian diletakkan di Bali yaitu keping yang dipegang dengan tangan kanan menjadi Giri Tohlangkir (Gunung Agung) sebagai stana Hyang Putranjaya dan keping yang dipegang dengan tangan kiri menjadi Gunung Batur sebagai kahyangan Dewi Danuh atau Bhatari Ulun Danu.

Diterangkan pula dalam Lontar Usana Bali, bahwa “sesungguhnya aku adalah putra Dewa Pasupati dari Jambudwipa yang bersemayam di Gunung Mahameru. aku dititahkan oleh Dewa Pasupati untuk bersemayam di Bali, selanjutnya berstana di Pura Besakih yang merupakan tempat pemujaan Raja – raja di Bali, lagi pula aku dititahkan sebagai junjungan masyarakat di Bali dan sudah berganti nama. kini aku bernama Dewa Mahadewa dan adikku ini bernama Dewi Danuh”.

Diterangkan juga dalam lontar tersebut bahwa Gunung Agung di Bali pernah meletus pada tahun saka 13 (91M). perhitungan tahun saka itupun dinyatakan dalam istilah candra sangkala yang berbunyi “Geni Bhudara”. Geni mempunyai nilai angka 3, sedangkan Bhudara bernilai angka 1. cara membacanya harus terbalik, sehingga dibaca tahun saka 13. Akibat meletusnya Gunung Agung Itu, maka terjadilah gempa besar, disertai hujan lebat siang dan malam tiada henti – hentinya selama 2 bulan. kilat dan petir bersambung di udara, setelah itu turunlah Dewa dan Dewi dari kahyangan, Dewa itu masing – masing disebut Hyang Putranjaya, Hyang Gnijaya dan Dewi Danuh. Hyang Putranjaya dianggap paling tinggi derajatnya sebab itulah disebut juga Mahadewa yang berkahyangan di Gunung Agung. Hyang Gnijaya kemudian berkahyangan di Gunung Lempuhyang sedangkan Dewi Danuh dinyatakan berkahyangan di Gunung dan Danu Batur.

Tempat pemujaan untuk Dewi Danuh di daerah Gunung Batur kemudian dulu dikenal dengan nama Pura Tampurhyang yang letaknya di Desa Sinarata. tapi akibat meletusnya Gunung Batur pada tanggal 3 Agustus 1926, yang berakibat desa dan pura tersebut rata tertutup lahar panas, sehingga penduduk desa menyingkir ke sebelah selatan desa kintamani, yang kemudian daerah tersebut kemudian disebut Desa Batur. Di Desa batur inilah masyarakat membangun kembali Pura Tampurhyang yang selesai di plaspas pada hari Redite Pon Prangbakat tanggal 14 April 1935. Belakangan, karena keberadaan Pura Tampurhyang berada di wilayah Desa Batur, masyarakat Bali sering juga disebut Pura Ulun Danu Batur.

Mengenai Pura Lempuyang sedikit dijelaskan dalam naskah turunan prasasti Sading C yang disimpan di Geria Mandhara Munggu, yang isinya menyebutkan sebagai berikut ” Pada tahun 1072 Caka (1150) bulan ke-9 hari tanggal 12 bulan paroh terang, wuku julungpujut, ketika hari itu beliau Paduka Çri Maharaja Jayaçakti, merapatkan seluruh pemimpin perang. Karena beliau akan pergi ke Bali karena disuruh oleh ayahnya yaitu Sang Hyang Guru yang bertujuan untuk membuat Pura (dharma) disana di Gunung Lempuyang, terutama sebagai penyelamat bumi bali, diikuti oleh Pendeta Çiwa dan Budha serta mentri besar. Beliau juga disebut Maharaja Bima, yaitu Çri Bayu atau Çri Jaya atau Çri Gnijayaçakti.”

Selain itu didalam Lontar Kutarakanda Dewa Purana Bangsul lembar ke 3-5 koleksi Ida Pedande Gde Pemaron di Gria Mandhara Munggu Badung ada di singgung mengenai Lempuyang yang kutipannya kira-kira sebagai berikut ” Demikianlah perkataan Sang Hyang Parameçwara kepada putra beliau para dewa sekalian, terutama sekali Sang Hyang Gnijayaçakti wahai ananda, anda-anda para dewa sekalian, dengarkanlah perkataanku kepada anda sekalian, hendaknya anda turun (datang) ke Pulau Bali menjaga pulau Bali, seraya anda menjadi dewa disana

Di dalam bahsa Jawa kata Lempuyang berarti “Gamongan” gunung Lempuyang berarti gunung gamongan atau bukit gamongan sebagaimana disebutkan dalam lontar Kusuma Dewa dan sampai sekarang masyarakat sekitar tempat itu menyebutkan bahwa Pura Lempuyang terletak di Bukit Gamongan disebelah timur kota Amlapura. Suatu yang menarik dan merupakan keistimewaan adalah didalam Pura Lempuyang luhur terdapat serumpun bambu jenis kecil. Setelah selesai menghaturkan bhakti batang pohon bambu itu dipotong oleh pemangku untuk mendapatkan tirta (disebut tirtha pingit) bagi setiap orang yang pedek tangkil ngaturang bhakti kesana. Tirta tersebut juga berfungsi sebagai Tritha Pengenteg-enteg yakni tirtha yang dipakai untuk Ngenteg Linggih baik di Pura-Pura, mrajan ataupun sanggah. Tetapi anehnya tidak selalu didalam batang bambu tersebut diketemukan air.

Pengungkapan pantheon Hindu, seperti yang dikemukakan di dalam Lontar Raja Purana Sasana Candi Sapralingga Bhuana, kalau disimak dan dikaji, ada titik temu dengan Lontar Usana Bali, yang ditulis oleh Danghyang Nirartha, atau di Bali lebih dikenal sebagai Ida Pedanda Shakti Bawu Rawuh, salah seorang Wiku Siwa yang datang dari Jawadwipa, sebagai wiku pembaharu sistem kehidupan sosial agama Hindu di Bali dan Lombok. Dalam karya tulisnya itu, ada dikemukakan Pelinggih Pura Catur Lokapala, yakni:

  • Ring Purwa (Timur), Gunung Lempuyang, dengan Pura Lempuyang Luhur, sthana Bhatara Gnijaya,
  • Ring Pascima, (Barat), Gunung Watukaru, dengan Pura Luhur Watukaru, sthana Bhatara Hyang Tumuwuh,
  • Ring Uttara (Utara), Gunung Mangu, dengan Pura Ulun Danu Bratan, sthana Bhatara Hyang Danawa,
  • Ring Daksina, (Selatan), Gunung Andakasa, dengan Pura Andakasa, adalah sthana Bhatara Hyang Tugu.
  • Ring Madya,adalah Gunung Agung, dengan Pura Besakihnya, pusat pemujaan Siwa Tri purusha (Prama Siwa, Sadasiwa dan Siwa), lengkaplah menjadi Pancagiripralingga (lima gunung sebagai sthana) lima Dewa.

Demikian titik temu antara konsep Lontar Raja Purana Sasana Candi Sapralingga Bhuana dengan Lontar Usana Bali, yang telah dikemukakan. Selaras dengan konsep gunung sebagai tempat suci dan Candi Pralingga, di dalam buku upadesa, yang diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat (sekarang) juga ada yang dikemukakan sembilan Khayangan Jagat, yang berlokasi secara kardinal di Balidwipa. Berlokasi di sembilan gunung dengan sembilan dewa-dewa yang bersthana di pura-pura Nawagiri yang kardinal, sebagai istadewata Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Atau dengan kata lain prabhawa kekuatan Hyang Widhi Yang Tunggal , yang dalam penghayatan agama yang immament di Bali, lebih dikenal sebagai Dewata Nawasanga.

Dewata Nawasanga, yang bersthana secara kardinal, disembilan penjuru mata angin, masing-masing adalah :

  1. Gunung Lempuyang (Pura Lempuyang), ditimur tempat pemujaan istadewata Hyang Widhi, sebagai Dewa Iswara.
  2. Gunung Andakasa, di Selatan (Pura Andakasa), tempat memuja Dewa Brahma.
  3. Gunung Watukaru (Pura Luhur Watukaru), di Barat, tempat memuja Dewa Mahadewa.
  4. Gunung Batur (Pura Ulundanu Batur), di Utara, tempat memuja Dewa Wisnu
  5. Perbukitan Gua Lawah (Pura Gua Lawah), di Tenggara, tempat memuja Dewa Mahesora.
  6. Bukit Pecatu (Pura Luhur Uluwatu), di Baratdaya, tempat memuja Dewa Rudra.
  7. Gunung Mangu (Pura Ulun Danu Bratan), di Baratlaut, tempat memuja Dewa Sangkara.
  8. Gunung Agung (Pura Agung Besakih) di Timur Laut, tempat memuja Dewa Shambu.
  9. Pura Agung Besakih, merupakan Khayangan Jagat (di tengah) tempat pemujaan Dewa Siwa, Siwa Tripurusha (Paramasiwa, Sadasiwa, dan Si-wa) seperti yang telah dikemukakan.

Dalam tradisi yang masih hidup sampai sekarang di Balidwipa, di Nawagiri (sembilan gunung) dengan masing-masing puranya, kalau dilaksanakan pemujaan dan persembahan di Pura-pura selalu melakukan Upacara Pemendak Tirtha, beberapa hari sebelum upacara berlangsung. Dan kalau pelaksanaan pemujaan dan persembahan telah selesai, akan dilanjutkan dengan Upacara Mancakarma, atau mejejauman ke Gunung Semeru, yang bermakna selaku Perwujudan angayubagya atau sejenis upacara perwujudan terima kasih kehadapan Dewa Pasupati, yang bersthana di Gunung Semeru.

 

Sumber : www.umaseh.com~ Article view : [1160]