Sekar alit

461
Sekar alit juga disebut macapat. Macapat dalam bahasa Jawa berarti suatu sistem untuk membaca syair tembang atas empat-empat suku kata. Di Bali tembang macapat sering disebut dengan pupuh yang berarti rangkaian tembang (Budiyasa dan Purnawan, 1998: 8). Pupuh di Bali dikenal sepuluh buah sebagai macapat asli, seperti Pupuh Sinom, Pupuh Semarandana, Pupuh Pangkur, Pupuh Pucung, Pupuh Ginada, Pupuh Ginanti, Pupuh Durma, Pupuh Maskumambang, Pupuh Dandanggula,  dan Pupuh Mijil. Pupuh yang dirangkai dalam sebuah cerita disebutgeguritan. Akan tetapi, selanjutnya muncul beberapa pupuh baru yang berasal dari kidung, sepertiJurudemung (Demung), Gambuh, MagatruhTikus Kapanting, dan Adri. Belakangan muncul beberapa geguritan yang memiliki beberapa tema, yaitu Geguritan Tamtam, Geguritan Basur, Geguritan Ni Sumala, Geguritan Pakang Raras, Geguritan Durma, Geguritan Sucita, dan sebagainya.
Pupuh juga memiliki beberapa variasi yang beranekaragam, sesuai dengan alur cerita dalam geguritan, misalnya pupuh Sinom memiliki beberapa variasi yaitu pupuh Sinom Uug Payangan(ditembangkan dalam Geguritan Uug Payangan); pupuh Ginada memiliki variasi pupuh Ginada Basur (ditembangkan dalam Geguritan Basur); pupuh Ginada Jayaprana (ditembangkan dalamGeguritan Jayaprana); dan beberapa variasi pupuh yang lain. Selain itu, pupuh sebagai rangkaian tembang memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter pupuh tersebut akan tampak ketika dilantunkan dengan ekspresi, berupa rasa romantis, sedih, senang, berwibawa, dan sebagainya.
Tabel 1.1 Karakter Pupuh
No.
Nama Pupuh
Sifat/Karakter
Keterangan
1
Maskumambang
Perasaan yang sedih, merana, terkadang romantis.
Baiknya untuk mengetuk perasaan.
2
Mijil
Perasaan was-was.
Untuk menguraikan nasihat.
3
Pucung
Kendor, tanpa disertai perasaan memuncak.
Untuk menguraikan nasihat.
4
Ginanti
Senang ajaran, filsafat
Untuk menguraikan sesuatu.
5
Ginada
Kesedihan, merana, dan kekecewaan.
6
Sinom
Romantis, ramah tamah.
Baik untuk menguraikan nasihat atau amanat.
7
Semarandana
Agak sedih, terkadang romantis, merana.
Untuk mengungkapkan cerita yang bernuansa asmara/romantis.
8
Durma
Agak keras, tegas terkadang bengis.
Untuk cerita-cerita kepahlawanan.
9
Pangkur
Perasaan hati yang memuncak.
Cocok untuk menyampaikan masalah yang serius/mantap.
10
Dangdanggula
Halus, lemah gemulai.
Untuk menguraikan nasihat.
11
Demung
Rasa mantap/serius.
12
Gambuh
Rasa lemah gemulai, romantis.
Untuk mengungkapkan luapan perasaan yang mendalam.
13
Adri
Rasa mantap dan ramah.
14
Magatruh
Rasa menyindir, mengkritik, mengejek.
15
Tikus Kapanting
Rasa serius dan percaya diri.
Untuk memberikan nasihat atau amanat.
Tembang macapat diatur oleh padalingsa, yaitu huruf vokal pada akhir suku kata masing-masing baris dalam satu bait. Namun, padalingsa juga dapat mencakup tiga aturan (uger-uger), yaitu guru gatra, guru wilangan, dan guru suara/ding dong.
a.       Guru gatra, yaitu banyaknya baris dalam satu bait pupuh.
b.      Guru wilangan, yaitu banyaknya suku kata dalam satu baris pupuh.
c.       Guru suara/ding dong, yaitu huruf vokal pada akhir suku kata masing-masing baris dalam satu bait pupuh.
Tabel 1.2 Padalingsa Pupuh
No
Nama Pupuh
Banyak Baris
Baris ke:
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Pucung
Mijil
Maskumambang
Pangkur
Ginada
Ginanti
Sinom
Dangdang gula
Semarandana
Durma
Adri
Gambuh
Demung
Megatruh
Tikus Kapanting
6
7
5
7
7
6
10
12
7
7
8
5
7
5
8
4u
4u
4u
8a
8a
8u
8a
10i
8i
12a
10u
7u
8a
12u
8u
8u
6i
8i
11i
8i
8i
8i
4a
8a
8i
6a
10u
10u
8i
8i
6a
6o
6a
8u
8a
8a
8a
6a
8a
6a
8i
12i
8u
8u
8a
8i
10e
8i
8a
8u
8i
8i
8e
8a
8a
8u
8u
8a
8i
8u
4u
10i
8a
12u
8a
8a
8i
8u
8a
8i
8e
8o
8u
8o
8a
8a
6i
8a
4i
8i
8u
8i
8u
4a
8u
8a
8i
6u
8i
8a
8a
8a
8a
7i
9a
8u
8u
8i
8u
8a
8i
4u
8a
8a
4a
8i
8a
            Dalam menyajikan tembang macapat atau pupuh pada dasarnya dapat ditempuh dengan dua cara yakni sebagai berikut.
1)      Sistem paca priring, yaitu sistem membaca atau menyajikan nada-nada pokok tembang satu demi satu bagi orang yang baru mulai belajar menembang.
2)      Sistem ngwilet atau gregel, yaitu sistem dalam menyanyikan tembang sudah memakai hiasan atau variasi cengkok, anak nada, dan pemakaian tempo lebih panjang. Cara ini dapat melahirkan gaya tiap penyanyi, namun masih tetap pada tema lagu atau tembang.
Source : www.iwayanjatiyasatumingal.blogspot.com

~ Article view : [345]

SHARE
Previous articleParibasa Bali
Next articleTeori Intertekstual