Wewaran

4923

Wewaran

Satu hari di Bali berlaku sejak terbitnya matahari sekitar pukul 06:00 pagi hingga keesokan harinya sebelum matahari mulai terbit. Berlainan dengan pergantian hari internasional yang dimulai dari pukul 00:00:00 tengah malam, dan hari di Jawa yang dimulai sejak terbenamnya matahari sekitar pukul 18:00 (mungkin karena pengaruh Islam). Sebetulnya di Bali tidak ada istilah malam Minggu, karena saat itu di Bali sebenarnya masih resmi Sabtu malam

Pengelompokan hari secara internasional adalah minggu (week, bukan Sunday). Dalam satu minggu, tiap hari diberi nama yang membedakan hari yang satu dengan lainnya. Kita semua sudah sangat hapal dengan sifat masing- masing hari, seperti kejamnya Senin dan indahnya Sabtu dan pendeknya hari Minggu

Di Bali pengelompokannya tidak hanya 7 hari itu saja, ada 3, sampai 9. Bahkan 1 atau 2 hari !!

Masing- masing hari dalam kelompok itu punya nama, punya sifat, punya syarat, punya letak dan punya urip. Jangan heran kalau justeru di budaya asalnya, Jawa, hal ini sudah lapuk dimakan jaman. Di Bali semuanya masih lestari, karena orang tahu bagaimana memanfaatkannya. Pengelompokan ini dipelajari dalam ilmu wewaran. Wewaran diyakini merupakan hitungan irama kosmos. Jangan sinis mengatakan bahwa hal ini terlalu dibuat-buat, pada kenyataannya, hanya budaya yang beradab yang menjaga keselarasan irama manusia dengan irama mesta. Pada masa kinipun tidak ada yang bisa membantah bahwa alam semesta kita berdenyut berirama, cuma sedikit manusia yang memahami ritmenya. Marilah kita pelajari makna masing- masing irama itu. Yang paling misterius adalah urip.

Urip, juga disebut dengan neptu. Di beberapa tempat di Jawa, sebutan neptu otomatis sudah merupakan jumlah dari urip saptawara dan urip pancawara. Dalam upakara dan bebantenan, urip ini disimbolkan dengan sejumlah uang kepeng atau pis-bolong, para tetua kita juga menggunakannya untuk memperhitungkan baik buruknya hari.

Memang perhitungan nama hari dalam beberapa siklus sangat bergantung kepada nilai urip kedua wewaran ini. Misalnya ekawara, dwiwara dan dasawara. Demikian juga perhitungan primbon Patemon Lanang Isteri, peruntungan dan sebagainya banyak bergantung kepada urip. Masing-masing aksara Bali dan 16 arah mata angin juga mempunyai urip. Urip memang misterius! Asal atau sumber dari angka urip itu sendiri tidak diketahui dari mana. Yang jelas sudah terdefinisi (as-is) dan sulit ditemukan lagi ujung pangkalnya.

Berikut urip dari semua wewaran

Periode Nama Wewaran
Nama hari
Urip Dewata Letaknya
1 Eka wara 1. Luang 1 Sanghyang Taya Barat laut
2 Dwi wara 1. Menga 5 S. Kalima Timur
2. Pepet 4 S. Timira Utara
3 Tri wara 1. Pasah (Dora) 9 S. Cika Selatan
2. Beteng (Waya) 4 S. Wacika Utara
3. Kajeng (Biantara) 7 S. Manacika Barat
4 Catur wara 1. Sri 6 Bagawan Bregu Timur laut
2. Laba 5 Bagawan Kanwa Barat daya
3. Jaya 1 Bagawan Janaka Barat laut
4. Menala 8 Bagawan Narada Tenggara
5 Panca wara 1. Umanis 5 S. Iswara Timur
2. Paing 9 S. Brahma Selatan
3. Pon 7 S. Mahadewa Barat
4. Wage 4 S. Wisnu Utara
5. Kliwon 8 S. Çiwa Tengah
6 Sad wara 1. Tungleh 7 S. Indra Barat
2. Aryang 6 S. Baruna Timur laut
3. Urukung 5 S. Kuwera Timur
4. Paniron 8 S. Bayu Tenggara
5. Was 9 S. Bajra Selatan
6. Maulu 3 S. Erawan Barat daya
7 Sapta wara 1. Redite (Minggu) 5 S. Baskara Timur
2. Soma (Senin) 4 S. Chandra Utara
3. Anggara (Selasa) 3 S. Angkara Barat daya
4. Buda (Rabu) 7 S. Udaka Barat
5. Wrespati (Kamis) 8 S. Sukra Guru Tenggara
6. Sukra (Jumat) 6 S. Bregu Timur laut
7. Saniscara (Sabtu) 9 S. Wasu Selatan
8 Asta wara 1. Sri 6 S. Sri Timur laut
2. Indra 5 S. Indra Timur
3. Guru 8 S. Guru Tenggara
4. Yama 9 S. Yama Selatan
5. Ludra 3 S. Ludra Barat daya
6. Brahma 7 S. Brahma Barat
7. Kala 1 S. Kala Barat laut
8. Uma 4 S. Uma Utara
9 Sanga wara 1. Dangu 5 S. Iswara Timur
2. Jangur 8 S. Maheswara Tenggara
3. Gigis 9 S. Brahma Selatan
4. Nohan 3 S. Rudra Barat daya
5. Ogan 7 S. Mahadewa Barat
6. Erangan 1 S. Sangkara Barat laut
7. Urungan 4 S. Wisnu Utara
8. Tulus 6 S. Sambu Timur laut
9. Dadi 8 S. Çiwa Tengah
10 Dasa wara 1. Pandita 5 S. Surya Timur
2. Pati 7 S. Kala Mertyu Barat
3. Suka 10 S. Semara Atas
4. Duka 4 S. Durga Utara
5. Sri 6 S. Amerta Timur laut
6. Manuh 2 S. Kala Lupa Bawah
7. Manusa 3 S. Suksam Barat daya
8. Raja 8 S. Kala Ngis Tenggara
9. Dewa 9 S. Darma Selatan
10. Raksasa 1 S. Maha Kala Barat laut

 

Tumbuhnya Wewaran (Sebuah Mytologi)

Dikatakan, bahwa Wariga berawal dari Sanghyang Licin (Suksma Nirmala), seperti ungkapan berikut yang dipetik dari salah satu sumber lontar, yakni :

Endah senannia maring Sunia, Pantaraning Sunia mawak Sanghyang Tuduh, Sanghyang Licin Rama tan sahayebu.

Maksudnya, Sanghyang Lincin tanpa Bapak-Ibu, mawak Tuduh (kehendak). Selanjutnya, Mayoga Sanghyang Licin, hana Bhagawan Bregu ; Mayoga Bhagawan Bregu, hana Rwa Mimitan mawak Dewa Kala, mimitan Ayu, mimitan Kala, lwirnia : Sanghyang Rau lawan Sanghyang Ketu.

wewaran dalam Lontar Sundari Gading

Dalam Lontar Sundari Gading juga dijabarkan tentang Sanghyang Catur Kauripan (Catur Kamulan) yang terdiri dari: Siwa, Amretha, Sukla, Nirmala. Sumber lain ada pula yang menyebutnya dengan Sanghyang Guru Tunggal. Sebenarnya, semua itu adalah Sanghyang Maha Suci yang melayang-layang di Angkasa sebagai sumber kehidupan. Dan Sanghyang Licin-lah yang menjadi Sanghyang Eka taya, yang konotasinya Luwang.

Dari keberadaan Luwang inilah awal mula ditemukan wuku Sungsang dan Sinta (pelajaran pertama para tetua orang Bali).

Selanjutnya, wewaran yang kita warisi berawal dari sepuluh (10) Uku yang ditemukan oleh para Rsi Agung di Bali. Pendapat ini didasarkan atas penggunaan bahasa Bali Kuna, seperti gereh, Linus, Bintang, dan lainnya. Kesepuluh uku tersebut antara lain :

» Sungsang-Teja, dinamakan juga Prabawati, yakni pantulan sinar Bumi yang berasal dari sinar matahari, untuk selanjutnya kembali ke Bhuwana (Embang).

» Sinta-Surya, merupakan Amretha yang terkandung pada Sinar Matahari.

» Tambir-Caraking taun, ialah Masa / umur (Tiga taya).

» Klau-Linus (pusaran angin).

» Wariga-bintang.

» Pahang, hawa Bumi (panas dari api yang ada di perut Bumi).

» Bala-Megadrawela (gulem).

» Kulantir-geni.

» Langkir, kabut (penguapan).

» Uye-Gereh (pergeseran arus panas dan dingin).

Dan, kesepuluh uku ini dikendalikan oleh Sanghyang Eka taya yang berperan sebagai pencetus suatu kejadian, sebagai hukum sebab-akibat, dan sebagai hukum Hana Nora, Ida, Sang, Ia.

Secara tradisi di Jawa dan India wuku tersebut dipersonifikasikan sebagai nama raja-raja. Sedangkan penamaan wuku di Bali didasarkan atas keberadaan Alam Semesta.

Di Bali, lebih cenderung menggunakan Sasih Wuku yang mana jumlah hari dalam satu tahunnya lebih banyak, yakni 420 hari. Sedangkan Sasih Candra lebih dianut oleh tahun Masehi, di mana dalam satu tahunnya terdiri dari 355–365/366 hari. Dan Sasih Surya tetap isinya 365/366 hari. Sasih Pranata digunakan di Cina, yang berdasar atas Shio dan lain sebagainya. Namun di Bali tetap menggunakan Tahun Wuku 6 Bulan (setengah Masa) dan Satu Tahun (satu Masa).

Di Jawa dan India, uku tersebut dipersonifikasikan sebagai nama raja-raja. Sedangkan penamaan uku di Bali sesungguhnya berdasarkan keadaan “fisik“ daripada Bhuwana, di mana pergerakan Alam semesta secara kodrati ini menyebabkan beraneka ragam kejadian.

Dalam lontar Bhagawan Garga lampiran 4-7 dinyatakan bahwa keberadaan Sanghyang Rau (siang) dan Sanghyang Ketu (malam) sebagai pencetus Rwa Bineda, yakni Cetana dan Acetana, Pradana dan Purusa, yang diungkap dalam sebuah mitos yang menceriterakan peperangan antara Dewa dengan Kala.

Personifikasi tersebut sesungguhnya untuk menggambarkan Aksi dan Reaksi yang terjadi pada Alam yang memengaruhi kehidupan, khususnya manusia. Adanya sebab-akibat tersebut karena Alam mempunyai dualitas sifat yang konotasinya adalah sifat-sifat Durga, yakni pada satu sisi berperan sebagai pemberi Kasih dari Alam, dan di sisi lain berupa kekejaman alam, seperti tsunami, gempa bumi, banjir bandang, gunung meletus, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut dikisahkan, ketika Sanghyang Rau berada di Wayabya didampingi oleh Sanghyang Sangkara. Beliau berdiri tegak bagaikan sinar dari sepuluh ribu Matahari. Para Dewa kemudian “berperang“ dengan seluruh Kala, dan akhirnya semua Kala mati, namun dihidupkan kembali oleh Sanghyang Adhikala. Itu sebabnya semua wewaran mempunyai urip. Dan hanya dengan sekali sentuh, semua Kala itu hidup kembali, sehingga Wayabya diberikan urip satu.

Mitologinya sebagai berikut :

Sanghyang Sangkara dibunuh oleh Sang Kala Mretyu. Hanya satu kali saja disentuh, akhirnya hidup lagi. Sanghyang Sangkara sebagai penguasa Wayabya.

Dewa Siwa dibunuh oleh Sanghyang Kala Ekadasa Bumi 8 kali, lalu dihidupkan lagi sampai delapan kali, makanya Keliwon urip-nya 8.

Dewa Iswara dibunuh oleh Kala Sanjaya 5 kali, dihidupkan lagi sampai 5 kali, makanya Umanis urip-nya 5.

Dewa Brahma dibunuh oleh Kala Wisesa 9 kali, hidup 9 kali, makanya Paing urip-nya 9.

Dewa Mahdewa dibunuh oleh Kala Agung 7 kali, hidup lagi 7, kali maka Pwon urip-nya 7.

Dewa Wisnu dibunuh oleh Kala Dasamuka 4 kali, hidup 4 kali, makanya Wage urip-nya 4.

Raditya dibunuh oleh Kala Limut 5 kali, makanya Raditya urip-nya 5.

Sanghyang Candra dibunuh oleh Kala Ngruda 4 kali, urip lagi 4 kali, maka Coma urip 4.

Sanghyang Manggala dibunuh oleh Kala Enjer 3 kali, urip 3 kali, maka Anggara urip-nya 3.

Sanghyang Budha dibunuh oleh Kala Selongsongpati 7 kali, urip 7 kali, maka Buda urip-nya 7.

Sanghyang Wraspati dibunuh oleh Kala Amengkurat 8 kali, urip 8 kali, maka Wraspati urip-nya 8.

Sanghyang Kawia dibunuh oleh Kala Graha 6 kali, urip 6 kali, maka Sukra urip-nya 6.

Dewi Gori dibunuh oleh Kala Tiga 9 kali, urip 9 kali, maka Saniscara urip-nya 9.

Demikianlah peperangan antara Dewa dengan Kala yang dikisahkan dalam lontar wariga Bhagawan Garga (lamp 4 – 7) yang pada akhirnya semua dihidupkan kembali oleh Sanghyang Eka taya (Sanghyang Taya).

Dalam kenyataan hidup di dunia, api bisa dipadamkan (dilawan) dengan air. Dan dalam konteks kehidupan manusia secara umum sering kita mendengar istilah

Dewa ya, Bhuta ya, Kala ya, Manusa ya“.

Pernyataan tersebut cenderung mengarah kepada psikis manusia yang hingga kini masih dilekati oleh sifat-sifat membunuh (berperang). Bisa jadi apa yang dijabarkan dalam lontar Wariga tersebut adalah suatu metoda pengembangan Ilmu pengetahuan Wariga. Di sisi lain, Uku juga dikisahkan sebagai nama-nama raja.

Artinya, manusia sebagai pemegang kekuasaan (raja) selalu tak luput dari peperangan (perebutan kekuasaan). Jika diperdalam lagi dengan bahasa hakekat hidup, bahwa peperangan dalam konteks psikis adalah kesalahan yang kita sadari, dan akhirnya menjadi bahan evaluasi kembali atas tindakan tersebut. Kematian sama dengan kesalahan, dan dihidupkan kembali oleh evaluasi yang lebih baik dan benar.

Kematian dan kehidupan sesungguhnya sejalan. Nama-nama Kala tersebut identik dengan ruang dan waktu. Jika ruang dan waktu ini diisi dengan hal-hal yang kurang baik, maka otomatis kebaikan dan kebenaran akan kalah (mati) sebelum berperang (didahului). Jika kebaikan dan kebenaran unggul, sama artinya dengan urip maka Dewa-lah itu.

Sebaliknya, jika yang baik dan benar terhalang atau tidak jalan, sama artinya dengan mati/terbunuh, maka Kala-lah itu. Dengan demikian tercetuslah bahasa Tri Guna, di mana Guna ini akan digunakan demi kebaikan atau kejahatan ?

Kebaikan sangat relatif maknanya, sebab seringkali kebaikan tersebut justru bisa menjadi sumber konflik (pertengkaran) dalam upaya mencari suatu pembenaran. Itulah sifat rajas dan tamas, yang sulit dipilah dalam keseharian hidup manusia, sehingga harus ditambah lagi satu yaitu sifat satwam ( satwan ).

Dalam konteks psikologi, wariga adalah dasar ilmu pengetahuan tetang pergeseran Sifat dan Daya Guna Alam kepada Makhluk hidup, yang telah dijabarkan dengan menggunakan bahasa pada masa dulu oleh Para Resi Agung. Dan kini wariga dicoba untuk diterjemahkan dengan bahasa ke-kinian mau pun dengan bantuan Ilmu Metafisika, dengan harapan mudah dipahami dan kembali menemukan daya guna yang lebih maksimal sebagai cermin melakoni hidup di dunia.

Awal mulannya, wariga lebih banyak digunakan sebagai “padewasan Darma pemaculan“, dewasa membuat senjata atau memulai perang, dan lain sebagainya.

Artinya, dulu manusia sangat menyadari hidupnya diberkati oleh alam, sehingga segala sesuatu yang akan diperbuatnya selalu memohon ijin kepada alam. Begitu pula setelah mereka berhasil menyelesaikannya, mereka juga melaporkannya kepada alam. Alangkah bijaknya manusia sebagai pemegang mandat Yang Kuasa ini apabila segala kemajuan yang telah dicapai pada segala bidang diselaraskan dengan kejujuran dan keadilan alam. Namun, perubahan itu pasti selalu terjadi, dan tidak ada wujud yang kekal di alam fana ini.

Eka wara ngaran Luwang

maksudnya, keberadaan ruang dan waktu yang dikendalikan oleh Taya, yakni ketajaman daripada alam penciptaan dan ide manusia. Eka wara berada pada witing Idep, Nyet (dunia ide) manusia. Eka wara mempunyai urip 1.

Pengaruh keberadaan Alam dan Dewa ini bagaikan seekor laba-laba dengan jejaringnya (mata rantai kehidupan/Amretha).

Tumbuhnya Wewaran (sebuah mytologi) ini dikutip dari tulisan Gusti Putu Karep (cakra wayu)

Dwi Wara

Uku Sinta dan Sungsang dikatakan yang mengadakan Dwi wara.
Sesungguhnya, kita belum mengetahui makna apa sebenarnya yang dimaksud. Sebagai generasi pewaris, ada baiknya belajar untuk mengkaji kembali apa yang dirintis oleh para tetua dahulu.

Yang paling utama mesti disadari, bahwa bahasa hakekat ( istilah ) yang dikenal saat ini sejatinya merupakan bahasa yang biasa digunakan pada masa itu. Seiring waktu berjalan, di mana pengetahuan manusia berkembang, yang cenderung menjadikan segala sesuatu yang memang irasional menjadi rasional.

Maksudnya, untuk memudahkan memahami sesuatu yang tidak nyata, lalu dinyatakan dengan wujud yang nyata ( seperti kebendaan ). Namun sayang, seringkali di dalam proses alih bahasa ada hal-hal yang sangat penting untuk disertakan justru dilupakan. Pada akhirnya, apa yang sudah diwujud nyatakan dari yang semula tidak nyata ini dijadikan sesuatu yang mutlak. Kemudian, mulai ditambahkan dogma-dogma serta diklaim seolah menjadi milik kaum tertentu, yang pada akhirnya justru menjadikan pengetahuan yang bersifat universal tersebut kurang dipahami makna yang sebenarnya.

Mencermati kata Sinta yang berarti Sintakasih, sesungguhnya merupakan nama lain daripada Matahari (mittra).

Begitu pula dengan mendengar kata Sungsang yang terbayang adalah kelahiran bayi, di mana bahagian kaki yang keluar terlebih dahulu.

Dahulu, sungsang yang dimaksud oleh para Maha Rsi adalah sinar balik matahari setelah terpantul dari bumi ; Prabawati dalam konteks ini juga berarti daya hidup Bumi yang melepaskan keempat unsurnya, yakni : unsur Amretha, Api, Air, dan unsur Hawa. Keempat unsur inilah menjadi salah satu Daya gerak Bumi, yang berputar pada porosnya, serta menyebabkan terjadinya siang dan malam.

Dwi wara ngaran Menga, Pepet.

Dalam salah satu sumber menyebutkan, bahwa Sanghyang Rau yang mengadakan wengi ( malam ) dan Sanghyang Ketu mengadakan rahina ( siang ).

Menga artinya terbukalah Siang ( Galang ) juga disebut lemah.

Pepet berarti malam, jika dikaitkan dengan keberadaan siang dan malam, di mana Matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat.

Maka Menga urip-nya 5 karena urip Kangin ( Timur ) 5, dan Pepet urip-nya 7, karena urip Kauh ( Barat ) 7.

Di sisi lain, ada juga menganggap Menga itu berada di Timur, sedangkan pepet adanya di Utara. Di mana gelap ( simbul Dewa Wisnu ) dan Damuh turun adanya di Utara, di mana urip-nya 4. Maka, Pepet jumlah urip-nya 4, konotasinya Utara. Sumber lain juga ada yang mengartikan bahwa Menge-pepet tersebut bermakna mata atangi lan aturu.

Pengaruh Dwi Wara terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Dwi Wara )

Menga Berada Di Bawah Naungan Sanghyang Kalima.

yang mana Sanghyang Kalima berasal dari lima sinar (dewa/div). Seseorang yang terlahir kembali pada dina menge, salah satunya menandakan bahwa dia sudah banyak mempunyai tabungan karma yang baik dan benar. Menge urip-nya 5.

Pepet Dinaungi Sanghyang Timira.

Seseorang yang lahir pada dina pepet disinyalir karena saratnya beban duniawi yang dibawanya mati pada kehidupan terdahulu, yang tercatat pada alam bawah sadarnya. Keterikatan duniawi, atau pun melakukan perbuatan di wilayah sapta timira di antaranya menjadi penyebab kelahiran berulang-ulang. Pepet urip 4.

Solusi. Terus tingkatkan segala perbuatan yang baik dan benar pada kesempatan hidup saat ini. Tuntunlah diri dengan suatu penyadaran, bahwa hidup di mayapada ini tidaklah bersifat kekal, dan hanya sesaat. Yakini hal itu, niscaya akan dapat mengurangi kesempatan lahir berulang-ulang ( reinkarnasi ).

Tri Wara

Pecah lagi hitungan dwi ( dua ), muncul Uku Tambir yang mengadakan Tri Wara : Dora, Waya, dan Byantara. Tri wara dikatakan mempunyai dua karakter ;

karakter Tri wara yang pertama :

Dora, artinya Jaba sisi,
Waya, artinya Jaba Tengah,
Byantara, artinya Jeroan.

Karakter Tri Wara  yang kedua :

Dora, yang berarti Kala,
Waya, yang berarti Manusa,
Byantara, yang berarti Dewa.

 Tri wara terdiri dari Pasah, Beteng, Kajeng, di mana :

Pasah berarti Dora ; dewanya Sanghyang Cika, urip 9.
Beteng berarti Waya ; dewanya Sanghyang Wacika, urip 4.
Kajeng berarti Byantara ; dewanya Sanghyang Manacika, urip 7.

Dora yang berarti Kala ; maksudnya, jika kemarahan itu dipendam di dalam diri, maka ekspresi tubuhnya akan terlihat dari luar ( jaba sisi-nya ), seperti : wajah memerah, mau pun gerak tangan secara spontan mengepal dan segera mengayun.

Waya dalam arti manusa ; maksudnya, bahwa kesejatian manusia ada di tengah-tengah hati nuraninya ( sarira, di jaba tengah ). Dan Suara Hati Nurani adalah suara kejujuran manusia, di mana jujur itu sebagai Lingga daripada Dewa ( div, sinar ).

Byantara ( jeroan ) dalam arti Dewa, digunakan dalam konteks padewasan.

Padewasan dari sudut pandang Tri wara dibilah menjadi tiga bagian, yakni :

Pasah Artinya Pisah, Juga Berarti Sah.

Dan dina pasah ini digunakan untuk dewasa Dewa yajnya, sebab Pasah juga artinya Alam Langit, sebagai tempat bersemayamnya para Dewa ( Alam Swah ).

Beteng Berarti Apah ( Embang, Bhuwana ),

disebut juga Alam Tengah ( Alam Bwah ). Terletak di bawah Langit dan di atas Bumi, dan dina beteng digunakan untuk dewasa Manusa yajnya.

Kajeng Berarti Alam Bhur ( Bhawana ),

dikatakan juga sebagai alam berwujud ( alam nyata ). Dina kajeng digunakan sebagai dewasa Bhuta yajnya.

Sumber lain mengatakan, bahwa Tambir caraking tahun ( umur ) yang mengadakan Tri Wara, dalam konteks Tiga Taya. Makna Tambir juga diungkap dengan istilah lain, yakni Tambur ( Bhs. Bali Kuna ) yang berarti pantulan.

Maksudnya, oleh karena manusia mengkonsumsi isi alam, maka mendapat pantulan dari alam melalui Tri Taya daripada Alam. Terjadi perpaduan Tri Wara, yakni perpaduan antara kekuatan Alam Langit ( swah ), Alam Tengah ( bwah ) dan Alam Bumi ( bhur ) ini masuk dan berstana di tengah-tengah hati. Makanya Tri wara disebut juga Uriping Ageni.

Berdasarkan bacaan hakekat Alam tersebut hendaknya manusia dapat menyesuaikan dirinya dengan pergeseran pengaruh sifat Alam, terutama terhadap psikisnya ( mental ).

Mengapa ? karena perkembangan hidup manusia selalu berada di bawah pengaruh Alam semesta.

Demikianlah penjabaran Wariga sebagai metoda warisan dari masa dulu, yang telah dijadikan pegangan di Bali dalam segala bentuk kegiatan. Dewasa dibilah menjadi tiga bagian dari sudut pandang metoda Tri Wara yakni ;

Dora, ada pada penampilan di luar ( ekspresi tubuh ).
Waya, ada pada sarira, fisik ( sehat atau lemah )
Byantara, ada pada isi hati.

Tri Wara mempengaruhi kedudukan dari panca gati, yang sering dikatakan sebagai Parhyanganing Rat kabeh : dora, waya, byantara. Selain itu, Tri Wara ini selalu terkait ( sebagai dasar ) dalam pemilihan padewasan.

Contoh:

pada hari Pasah Tungleh dan Pasah Paniron, serta hari Kajeng Mahulu dan Kajeng Urukung, merupakan hari ( dewasa ) di mana pengaruh Matahari dan Bulan tersebut dikatakan naik atau turun.

Bila naik, berarti matahari atau bulan berpengaruh terhadap Alam Apah.

Sedangkan jika turun akan berpengaruh kepada Bumi.

Seperti itulah metode yang dipakai untuk menentukan dewasa untuk bercocok tanam. Jika Amretha-nya dominan berpengaruh ke Bumi, seperti dina Kajeng Mahulu, maka cocok untuk tanaman yang menghasilkan umbi-umbian. Sebaliknya, Kajeng Urukung adalah dewasa untuk tanaman yang berbuah.

Pengaruh Tri Wara terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Tri Wara )

Kelahiran Pada Waktu Pasah ( Dora ) Di Bawah Naungan Sanghyang Cika.

Dora dalam arti kala, diatasi oleh Cika, konotasinya cipta dan cita, sebagai pencetus perbuatan yang menjadi kayika. Maksudnya, terlahir pada waktu Dora dikuasai oleh cika, yang menandakan bahwa di masa lalunya dia adalah orang pemalas.

Saran. Sebaiknya dalam kehidupan ini lebih banyak berbuat ( mlaku ) daripada hanya berkutat pada pembuatan rencana kerja saja ( hanya berkelana dengan mengandalkan pikiran, tanpa pernah berbuat ).

Kelahiran Pada Waktu Beteng ( Waya ) Diayomi Oleh Sanghyang Wacika.

Kelahirannya dikendalikan oleh watak Waya-nya, artinya pada kehidupan terdahulu seseorang tidak waspada dalam berbicara ; atau dengan kata-kata dia sering menyakiti orang lain – berkata kasar mau pun dengan fitnah. Jadi, dengan kata-kata, seseorang dapat menjadi tertawa, atau marah. Dengan memfitnah atau berkata kasar membuat lawan bicara marah. Ini berarti, secara tidak sadar kita sesungguhnya memasukkan amarah orang lain ke dalam alam bawah sadar. Hal ini dapat menjadi bumerang ( beban psikis ), di mana setiap kali bertemu akan ada ganjalan di dalam diri, atau merasa risih, merasa dihakimi, dan lain sebagainya.

Saran. Waspadalah dalam mengungkapkan isi hati, sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Ingatlah bahwa wicara itu sejatinya adalah api, karena dapat membakar amarah ; tajam, setajam silet hingga dapat menyayat perasaan kedua belah pihak, baik diri kita mau pun lawan bicara.

Kelahiran Pada Waktu Kajeng ( Byantara ) Dinaungi Oleh Sanghyang Manacika.

Byantara diatasi oleh Manacika, artinya pada kehidupan terdahulu seseorang banyak berbuat salah dalam mencapai tujuannya. Hal ini karena ego personalnya yang mendominasi. Watak Kajeng umumnya kurang senang berbasa-basi, dan biasanya langsung menukik kepada persoalan pokok, serta bersikap realita, nyata.

Saran. Latihlah intuisi, karena intuisi ( bahasa hati nurani ) itu adalah kejujuran yang sejati. Setelah melatih intuisi, yakini dan berpeganglah pada kebenaran bahasa kalbu tersebut. Kebiasan memakai ungkapan “ saya pikir “ dirubah menjadi “ saya rasa “, karena sang pikir itu berasal dari Jnyana yang setiap saat mudah berubah. Sedangkan saya rasa itu adalah ungkapan hati ( ajnya ) yang jujur, yang angkat bicara.

Catur Wara

Uku Klau yang dikatakan mengadakan Catur Wara.

Klau Linus artinya pusaran angin.

Di Bali sendiri dikenal yang namanya angin ngelinus, maksudnya angin yang berputar, dan sekarang lebih popular disebut angin puting beliung.

Adanya pusaran angin juga disebabkan oleh dominasi intensitas sinar Matahari yang berasal dari Alam Langit ke Bhuwana ( Alam Tengah ). Itu sebabnya Catur wara disebut juga Uriping Bayu ( Power Air ).

Sesungguhnya, makna Catur Wara yang ada di Bhuwana Agung, sebagai petunjuk arah Mata Angin, yang muncul karena pancaran sinar Matahari yang berada di Garis Katulistiwa. Agar pengetahuan yang telah diwariskan itu dapat dibuktikan, cobalah amati perjalanan matahari pada Sasih Kasa, di mana Matahari terbit di Timur, bergerak mulai dari titik 23,5 derajat Lintang Utara dan terbenam di Barat Daya. Sedangkan pada Sasih Kapat matahari bergerak tepat di tengah-tengah Garis Katulistiwa, dan terbenam masih tetap di Barat Daya. Setelah Sasih Keenem, Matahari akan berbalik ke Utara, terbit di Timur Laut, terbenam pada petang hari di Barat Daya. Berarti, ada dua sisi kebenaran dari Catur Wara, yakni satu pihak yang menyatakan bahwa kedudukan Shri di Timur Laut, karena memang Matahari terbit dari arah Timur Laut pada posisi 23,5 derajat Lintang Utara. Namun pada malam hari menuju ke arah Tenggara, dan terbenamnya semakin ke Barat Daya, secara bolak-balik. Di pihak lain dikatakan bahwa Matahari juga ada pada titik 23,5 derajat Lintang Selatan.

Jadi, Catur Wara di Bhuwana Agung mempunyai dua urip yang berbeda, yakni :

1. Shri, berkedudukan Timur Laut, urip-nya 6,
2. Laba, berkedudukan di Barat Daya, urip-nya 3,
3. Jaya, berkedudukan di Barat Laut, urip-nya 1,
4. Mandala, berkedudukan di Tenggara, urip-nya 8.

Catur Wara Di pihak lain ada juga kebenaran seperti berikut ini :

1. Shri, berkedudukan di Utara, urip-nya 4,
2. Laba, berkedudukan di Timur, urip-nya 5,
3. Jaya, berkedudukan di Selatan, urip-nya 9,
4. Mandala, berkedudukan di Barat, urip-nya 7.

Namun makna intinya adalah:

bahwa Alam Langit selalu menurunkan berkah kehidupan, sehingga dunia selalu dalam keadaan Shri.

Laba, artinya berkat kasih alam yang selalu menguntungkan semua makhluk hidup.

Jaya, artinya berkat alam selalu menang karena kuasaNya.

Mandala, artinya alam selalu memvibrasikan amreta-nya ke Bhuwana yang maha luas.

Kebenarannya diungkap dengan :

Shri, Disimbulkan Dengan Bhatari Gangga

sebagai Dewi Kemakmuran, di mana kemakmuran itu berasal dari Amretha yang terkandung di air yang terjatuh dari Alam Langit, dan di waktu pagi menjadi embun ( damuh ) yang membasahi bumi.

Laba, Dengan Simbolis Bhatara Bayu

sebagai Dewa Penggerak Semesta – suatu kekuatan yang menggerakkan kehidupan di alam ini. Secara kodrati berperan sebagai energi – daya penggerak alam. Dan pada Manusia adalah sebagai daya penggerak fisik.

Jaya ( Keunggulan ) Disimbulkan Dengan Sanghyang Sangkara.

Berkat alam semesta karena kuasa Tuhan selalu mendominasi alam kehidupan.

Mandala ( Wewidangan, Wawasan Yang Luas ) Yang Disimbolkan Dengan Sanghyang Kencana Widhi,

yakni berkat alam semesta yang menjangkau seluruh ruang lingkup alam kehidupan.

Pengaruh Catur Wara di Bhuwana Agung terhadap Bhuwana Alit :

1. Shri, sebagai penikmat pandangan ( mata ).
2. Laba, penikmat pendengaran ( telinga ).
3. Jaya, sebagai penikmat penciuman ( hidung ).
4. Mandala, sebagai ungkapan mimik muka ( wajah ).

Mithologi Catur Wara

Mitos yang sering dituturkan, bahwa:

Hyang Angga “ dibunuh “ empat kali, dan urip sebanyak empat kali pula, makanya Shri urip-nya 4.

Sanghyang Bayu terbunuh lima kali, dan urip lima kali, makanya Laba urip-nya 5.

Sanghyang Purusa terbunuh sembilan kali, urip sembilan kali, makanya Jaya urip-nya 9.

Sanghyang Kencana Widhi terbunuh delapan kali, urip delapan kali, makanya Mandala urip-nya 8.

Pengaruh Catur Wara di Bhuwana Alit terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Catur Wara )

Catur wara dinaungi oleh sifat-sifat Bhagawan ( Bhaga dan wan – hak dan wewenang pribadi ). Jelasnya, Catur wara menandakan manusia dilahirkan akibat perbuatan yang sewenang-wenang, terutama dalam menggunakan hak dan kewenangan yang telah diberkatkan oleh alam ( Sanghyang Embang ).

Shri, Di Bawah Naungan Bhagawan Bregu.

Shri artinya amretha. Semua manusia membutuhkan santapan untuk dapat bertahan hidup.

Kelahiran pada waktu Shri menandakan bahwa di kehidupan terdahulu dia sudah hidup berkecukupan secara material, namun kurang bisa mengelolanya, dalam arti segalanya hanya untuk memuaskan egonya sendiri. Apa yang dimakan dan diminum serta nafas yang dihirupnya menjadi Tri mala, yakni : Moha, Mada dan Kasmala, bukannya menjadi Tri Kaya Parisudha. Hal ini berbanding terbalik dengan keberadaan Shri yang ada di Bhuwana agung yang memberkatkan sifat kasih alam kepada semua kehidupan. Pembawaan kelahiran Shri adalah kepuasannya didapat hanya dengan memandang sesuatu. Tajam penglihatannya.

Saran;

Apa pun yang anda miliki pada kesempatan hidup ini cobalah untuk berbagi kepada sesama, tanpa membeda-bedakan. Kewibawaan dan kharismatik merupakan potensi yang melekat dalam diri, serta dapat dijadikan landasan yang baik sebagai seorang enterprenur, human resources, public relation, dan sejenisnya. Karena dengan berbuat seperti itu berarti pelunasan dari hutang karma masa lalu yang pada kesempatan hidup ini seharusnya bisa dilunasi.

Laba, Dianungi Oleh Bhagawan Kanwa.

Kelahiran pada waktu Laba menandakan bahwa dulunya dia lebih banyak hanya menikmati hidup daripada melakukan tugas dan kewajibannya dengan baik dan benar.

Watak kelahiran laba umumnya periang, murah rejeki, karena di alam bawah sadarnya masih banyak melekat kenikmatan duniawi masa lalunya. Sesungguhnya, watak yang terbawa lahir saat ini merupakan pahala dari masa lalu yang menghukum dirinya, maka dia dilahirkan kembali pada dina laba. Namun kelahirannya saat ini merupakan suatu keberuntungan, karena diberikan kesempatan untuk menghapus karma wasana yang buruk tersebut, yakni dengan lebih banyak melakukan aktifitas yang bermanfaat buat orang banyak. Pembawaan kelahiran Laba adalah tajam pendengarannya.

Saran;

Renungkan motto ini : manusia lahir ringan bagaikan kapuk, saat tumbuh dan berkembang menjadi berat seberat batu. Kemudian, saat ajal menjelang sepatutnya menjadi ringan seringan kapuk. Artinya, pada kehidupan saat ini menjauhlah dari kenikmatan duniawi secara perlahan, serta kikislah beban psikis yang tertumpuk di alam bawah sadar ini.

Jaya, Dinaungi Bhagawan Janaka.

Watak kelahiran Jaya, sangat cerdik dan unggul, serta gagah berani.

Terlahir kembali, karena kecerdikan dan keberanian di masa lalunya dikendalikan oleh ego personalnya. Maksudnya, digunakan untuk tujuan yang kurang baik, arogan, serta suka menindas yang lemah. Pembawaan kelahiran Jaya, tajam atau sensitif dengan penciumannya.

Saran;

Kendalikan ego personal, manfaatkan kecerdikan sejajar jujur, dan pandanglah hidup sebagai sebuah kompetisi, serta tunjukkan keberanian di mana saja untuk tujuan yang baik dan benar.

Mandala, Dinaungi Bhagawan Narada.

Pembawaan kelahiran Mandala, berwawasan luas, suka berpetualang.

Cenderung sebagai penikmat hidup, kurang menyukai kehidupan yang monoton, mau menang sendiri dan susah diatur, lebih menyenangi hidup bebas, serta peduli dengan penderitaan orang lain. Sejatinya, dengan kebebasan yang tidak terarah itulah yang menghukumnya sehingga terlahir kembali pada dina Mandala. Pembawaan kelahiran Mandala suka dukanya nampak pada ekspresi mimiknya ( wajahnya ).

Saran;

Hiduplah secara bebas dan terkendali, dalam pengertian jangan sekali-kali melompati “ pagar pendek “, karena hanya kita sendiri yang mampu membatasi atau pun mengendalikan ego personal tersebut. Gunakan kebebasan itu di mana saja untuk tujuan yang baik dan benar.

Sumber : umaseh.com

~ Article view : [3372]