32. Kedaulatan Negeri Matsya Dipertaruhkan

578

32. Kedaulatan Negeri Matsya Dipertaruhkan

Uttara meninggalkan ibukota Negeri Matsya dengan kereta yang dikemudikan Brihannala. Ia memerintahkan sais itu memacu kuda sekencang-kencangnya ke arah balatentara Kurawa. Jauh di kaki langit tampak sebaris titik, memanjang, melingkar-lingkar, diselimuti debu yang mengepul ke angkasa. Itu pasti pasukan Kurawa dalam jumlah besar.

Makin dekat makin jelas sosok mereka. Mula-mula tam-pak kereta-kereta yang dinaiki Bhisma, Drona, Mahaguru Kripa, Duryodhona dan Karna. Melihat rombongan Kau-rawa, hati Uttara tiba-tiba menjadi kecut. Dia menyuruh Brihannala melambatkan keretanya. Uttara sangat ketaku-tan. Mulutnya terasa kering, bulu romanya berdiri, dan keringat dingin mengucur dari dahinya. Tangan dan kaki-nya gemetar. Ia menutupi matanya dengan kedua tangan-nya dan berkata lirih kepada Brihannala, “Bagaimana mungkin aku sendirian melawan musuh sebanyak itu? Aku tidak membawa pasukan. Semua prajurit dibawa ayahku ke selatan. Tidak mungkin aku melawan kesatria-kesatria yang termasyhur ahli berperang itu. Brihannala, berbaliklah! Kita pulang.”

Brihannala menjawab, “Tuanku, engkau berangkat de­ngan semangat berapi- api hendak menghancurkan musuh. Permaisuri, penghuni istana dan rakyat mempercayakan nasib mereka kepadamu. Sairandri memuji-muji aku dan membuat engkau mengangkatku menjadi saismu. Kalau kita kembali sekarang, tanpa merebut ternak kita yang dirampas musuh, kita akan ditertawakan. Aku tidak akan membelokkan kereta ini. Mari kita maju terus dan bertempur! Jangan gentar!”

Uttara berkata dengan gugup, “Aku tidak mau, aku tidak mau! Biarlah Kurawa merampas ternak kita, biarlah perempuan-perempuan menertawakan aku, aku tidak peduli. Apa gunanya melawan musuh yang jauh lebih kuat dan lebih besar jumlahnya? Itu namanya tolol! Belokkan kereta! Kalau tidak, aku akan meloncat turun dan pulang dengan berjalan kaki.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Uttara membuang senjata-senjatanya sambil meloncat turun dari kereta. Rasa takut melihat kekuatan musuh mencekam jiwanya dan membuatnya panik. Ia lari kalang kabut, kembali ke ibu kota.

Brihannala mengejar Uttara sambil memanggil-manggil agar pangeran itu berbuat sebagai kesatria. Rambut pan-jang dan pakaian Brihannala melambai- lambai ditiup angin kencang. Uttara makin mempercepat larinya. Akhir-nya pangeran itu terkejar juga. Uttara meminta agar Brihannala membiarkannya pulang.

Uttara berkata dengan suara mengiba, “Aku satu­satunya anak lelaki ibuku. Aku dibesarkan di pangkuan ibuku. Aku tak mau meninggalkan ibuku. Aku takut, aku takut sekali! Aku takut mati bertempur melawan musuh!”

Brihannala berusaha melepaskan Uttara dari ketaku-tannya dan membangkitkan keberaniannya. Ia menggeng-gam tangan Uttara dan memaksanya naik lagi ke kereta.

Uttara menangis dan berkata terbata-bata, “Alangkah malunya aku, terlanjur omong besar. Apa jadinya aku nanti?”

Brihannala menghiburnya, “Jangan takut! Aku yang akan menghadapi Kurawa. Bantu aku, pegang tali kekang ini, selebihnya serahkan padaku. Percayalah padaku, tidak ada gunanya lari dari pertempuran. Akan kita enyahkan musuhmu dan kita dapatkan kembali semua ternak yang mereka rampas. Kemenangan pasti di pihak kita. Perca­yalah!”

Setelah berkata demikian, Brihannala meminta Uttara agar menghela kereta itu ke arah sebatang pohon besar di dekat kuburan. Sampai di dekat kuburan, Brihannala meminta Uttara naik ke pohon besar itu dan mengambil senjata- senjatanya yang disembunyikannya di sana. Uttara memejamkan mata, tak berani memanjat pohon itu.

“Kata orang di pohon ini pernah tergantung mayat nenek tua yang berubah menjadi setan. Aku tak berani memegang mayat itu. Mengapa kau menyuruhku mela­kukan ini?” kata Uttara.

“Dengar, Pangeran, itu tidak benar! Itu bukan mayat. Itu kantong kulit. Di sana tersimpan senjata-senjata sakti milik Pandawa. Naiklah dan bawa turun senjata- senjata itu. Cepat! Jangan buang-buang waktu,” kata Brihannala tegas.

Karena Brihannala terus mendesak, Uttara terpaksa menurut. Ia memanjat pohon itu lalu mengambil kantong kulit besar yang disembunyikan di balik daun- daunan. Alangkah kagetnya dia ketika melihat isi kantong itu: senjata-senjata yang gemilang! Cepat-cepat dibawanya kantong itu turun dan diserahkannya kepada saisnya. Brihannala menyuruh Uttara meraba senjata-senjata itu. Begitu menyentuh senjata-senjata itu, Uttara merasa ada arus kekuatan gaib merasuki tubuhnya dan menguatkan jiwanya. Matanya sekarang berbinar memancarkan sema-ngat baru.

Ia bertanya kepada Brihannala, “Alangkah anehnya! Katamu senjata-senjata ini milik Pandawa. Bukankah kerajaan mereka dirampas Kurawa dan mereka diusir ke hutan oleh Kurawa? Bagaimana mungkin engkau bisa tahu tentang senjata-senjata ini?”

Secara ringkas Brihannala berkata bahwa sebenarnya sudah hampir satu tahun Pandawa tinggal di ibu kota Negeri Matsya dan bekerja mengabdi Raja Wirata. Mereka adalah Kangka, Walala, Dharmagranti, Tantripala, dan Sairandri.

Brihannala juga bercerita tentang kematian Mahasenapati Kicaka yang berani menghina Draupadi.

“Aku ini Arjuna. Putra Mahkota, jangan takut. Engkau akan melihat bagaimana aku menaklukkan Kurawa. Biar-pun di pihak Kurawa ada Bhisma, Drona, Duryodhona dan Aswatthama, kita harus rebut kembali ternak dan harta yang mereka rampas. Dan engkau akan menjadi masyhur. Semua ini akan menjadi pelajaran berharga bagimu,” kata Arjuna meyakinkan Uttara.

Uttara segera mengatupkan kedua telapak tangannya, memberi hormat kepada Arjuna, dan berkata, “Tak ku­sangka engkau adalah Arjuna. Alangkah beruntungnya aku dapat bertemu denganmu. Arjuna, kau kesatria per-kasa. Engkau telah menanamkan keberanian dalam jiwa-ku. Maafkan kesalahanku karena kedunguanku.”

Di kereta yang dikemudikan Uttara, Arjuna bercerita tentang kisah-kisah kepahlawanan untuk membangkitkan keberanian Uttara.

Kini kereta semakin mendekati pertahanan pasukan Kurawa. Arjuna minta agar kereta dihentikan. Kemudian mereka turun. Perhiasan wanita ditanggalkannya, rambut-nya yang panjang diikat, pakaian perempuan ditukarnya dengan pakaian perang, dan senjata-senjatanya disiapkan. Dengan menghadap Batara Surya di arah timur, Arjuna bersila dan bersembahyang, memuja dan berdoa. Setelah selesai, ia berdiri tegak penuh keagungan, membuat Uttara terkagum-kagum. Pangeran itu bangkit semangatnya. Ia naik ke kereta. Arjuna mengangkat busur Gandiwa, mema-sang anak panah, membidik ke angkasa, menarik tali busur, dan … meluncurlah anak panah itu membelah ang-kasa dengan bunyi mendesing-desing. Kemudian Arjuna meniup terompet kerangnya yang bernama Dewadatta. Suaranya menderu menggema ke seluruh penjuru!

Mendengar bunyi itu, pasukan Kurawa terkejut. Mereka saling berpandangan. Dengan telinganya yang tajam, Drona memastikan bahwa suara itu berasal dari desingan anak panah Gandiwa dan gema terompet kerang Dewadatta milik Arjuna. Drona membisikkan hal itu kepada Karna yang menanggapi, “Mana mungkin itu Arju-na? Apa peduli kita kalaupun ia ada di sini? Apa yang bisa ia lakukan sendirian menghadapi kita, jika Pandawa lainnya bersama Wirata pergi ke selatan melawan Susar-ma? Paling-paling ia hanya bersama Uttara, Putra Mahkota yang pengecut itu!”

Duryodhona menyambung, “Kenapa kita mesti pusing-pusing? Walaupun itu Arjuna, paling-paling ia hanya akan menyerahkan diri ke tangan kita untuk ditemukan sebe-lum waktunya. Dan, karena itu kita bisa mengirim Pan-dawa ke hutan selama dua belas tahun lagi.”

Dari kejauhan tampak sesuatu bergerak kencang. Debu mengepul bagaikan ekor binatang. Sekali lagi terdengar desing Gandiwa dan gema Dewadatta.

“Pasukan kita diserbu. Itu Arjuna datang menyerbu mereka,” kata Drona dengan prihatin.

Duryodhona kesal melihat sikap Drona seperti itu. Ia berkata kepada Karna, “Sumpah Pandawa adalah meneri­ma pengasingan di hutan selama dua belas tahun dan setahun bersembunyi tanpa dikenali. Tahun ketiga belas belum habis, tetapi Arjuna sudah berani muncul. Kenapa kita mesti prihatin? Mereka harus mengembara di hutan selama dua belas tahun lagi. Drona terlalu banyak

mempe-lajari falsafah hingga jadi penakut. Biarlah ia bersembunyi di belakang, kita maju terus!”

Karna mengangguk setuju dan berkata, “Memang, jika tidak biasa bertempur pasti gemetar. Kalaupun yang datang memang Arjuna, kenapa kita mesti takut? Para-surama sekalipun, aku tidak gentar. Aku akan hadang ia kalau ia berani maju. Balatentara Matsya mungkin bisa merebut kembali ternak mereka, tetapi Arjuna harus berhadapan dengan aku.” Kemudian Karna membunyikan terompetnya sendiri dan meledakkan senjatanya tanda ia siap bertempur.

Mahaguru Kripa yang mendengar kata-kata Karna menasihati, “Jangan berbuat tolol. Kita harus menyerang Arjuna bersama-sama dan serentak. Hanya dengan cara itu kita akan berhasil. Jangan omong besar dan berperang tanding sendirian.”

Karna naik pitam. Ia berkata lantang, “Oh, Mahaguru Kripa ternyata sudah mulai menyanyikan lagu pujian untuk Arjuna. Apakah karena takut atau karena sayang kepada Pandawa? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, para tetua semua takut dan menasihatkan agar kita tak usah bertempur. Kalau begitu, sebaiknya kalian tinggal di bela-kang dan menonton saja. Seharusnya, mereka yang telah makan garam di Hastinapura berani maju bertempur.

“Aku hanya mengenal cinta kepada kawan dan benci kepada musuh. Aku takkan mundur! Apa guna mereka mempelajari kitab-kitab suci, jika sampai di sini hanya memuji-muji musuh?”

Aswatthama, putra Drona dan kemenakan Mahaguru Kripa, tak tahan mendengar sindiran tajam Karna. Ia menyahut, “Kita belum membawa pulang ternak ke Hasti-napura. Kita belum memenangkan pertempuran. Omong besarmu tidak ada gunanya. Mungkin kami bukan golo-ngan kesatria; mungkin kami tergolong orang yang hanya membaca-baca mantra, Weda dan kitab-kitab Sastra. Meski demikian, kami belum pernah menemukan ajaran yang menyatakan bahwa seorang raja dikatakan kesatria jika bisa merampas kerajaan lain dengan tipu daya dalam permainan dadu.

“Dengarlah, Karna. Mereka yang telah bertempur mati­matian dan menaklukkan banyak kerajaan tidak pernah menyombongkan kemenangan mereka. Tapi… engkau? Aku belum pernah melihat hasil perbuatanmu yang pantas engkau banggakan.

“Api tidak ribut tetapi membakar. Matahari bersinar bu­kan untuk dirinya. Bumi memeluk segala yang ada di ba-hunya tanpa berisik. Pujian apakah yang pantas diberikan kepada kesatria yang merampas kerajaan lain dengan tipu daya dalam permainan dadu? Keberhasilan menipu Pan-dawa tidak pantas dibanggakan, ibarat menangkap burung piaraan sendiri dengan perangkap yang hebat.

“Duryodhona dan Karna, pertempuran apakah yang telah kalian menangkan melawan Pandawa? Pantaskah ka-lian merasa bangga karena telah mempermalukan Drau-padi? Kalian hampir saja menghancurkan bangsa Kuru, seperti si pandir menebang pohon cendana karena mabuk oleh keharumannya.

“Melemparkan dadu untuk mendapat angka 4 atau 2 tidak sesulit menghadapi desing Gandiwa Arjuna. Apa kalian kira Syakuni bisa menyulap jalannya pertempuran agar kita menang? Mungkin kita semua sudah gila.”

Para pemimpin pasukan Kurawa mulai berperang mulut, saling mencaci dan memaki. Bhisma sedih melihat itu dan berkata dengan sabar, “Orang yang berbudi

luhur tidak akan mencaci-maki mahagurunya. Orang yang pergi berperang pasti sudah memperhitungkan segala kemung-kinan, yaitu tempat, waktu, dan situasi.

“Memang, orang pandai bisa juga kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Karena marah, Duryodhona lupa bahwa kita berhadapan dengan Arjuna yang sekarang, bukan Arjuna yang dulu. Pikiranmu gelap terselubung amarah dan dendam kesumat, Duryodhona.

“Aswatthama, jangan kaumasukkan kata-kata Karna yang tajam itu ke dalam hatimu. Jadikan itu sebagai peringatan agar kau mawas diri dan lebih cermat dalam bertindak.

“Sekarang bukan waktunya untuk berkelahi atau membesar-besarkan perbedaan. Drona, Mahaguru Kripa dan Aswatthama harus memaafkan Karna. Kurawa tak mungkin menemukan mahaguru yang hebat seperti Kripa dan Drona serta Aswatthama, putra Drona, yang sakti dan perkasa. Mereka adalah kesatria- kesatria sakti yang mum-puni dalam ilmu kitab suci.

“Kita tahu, kecuali Parasurama, tak seorang pun bisa menandingi Drona. Kita hanya bisa menaklukkan Arjuna jika kita serang dia bersama-sama. Mari kita hadapi tugas berat ini bersama-sama. Kalau kita terus bertengkar, kita tidak akan bisa menundukkan Arjuna.” Demikianlah nasihat Bhisma, sesepuh yang dimuliakan dan disegani seluruh bangsa Kuru. Semua terdiam dan tertunduk mendengar kata-kata Bhisma!

Bhisma menoleh kepada Duryodhona, lalu melanjutkan, “Wahai Raja para Kurawa, Arjuna sudah datang. Waktu tiga belas tahun yang ditetapkan sebagai masa penga-singan dan persembunyian Pandawa telah habis kemarin. Perhitunganmu salah. Tanyakan kepada pendita yang tahu tentang pergantian hari, bulan dan peredaran bintang-bin-tang. Aku tahu masa pengasingan mereka sudah selesai ketika kita mendengar deru terompet Arjuna. Sekarang Pandawa telah bebas. Pikirkan baik-baik sebelum memu-tuskan untuk bertempur. Jika engkau mau berdamai dengan Pandawa, sekaranglah waktunya. Apa yang engkau kehendaki? Perdamaian yang adil dan terhormat, atau … kehancuran bersama dalam peperangan? Pertimbangkan baik-baik dan tentukan pilihanmu.”

Duryodhona menjawab, “Kakek Yang Mulia, aku tidak ingin berdamai. Aku tidak sudi menyerahkan satu desa pun kepada Pandawa. Mari bersiap untuk perang.”

Drona berkata, “Kalau demikian, biarlah Baginda Dur­yodhana kembali ke Hastinapura dikawal seperempat bala-tentara kita. Separo dari balatentara yang ada akan me-ngawal ternak dan barang rampasan yang dibawa ke Hastinapura sebagai bukti bahwa kita menang perang. Dengan kata lain, tanpa ternak-ternak itu berarti kita menerima kekalahan. Lalu, balatentara yang tersisa akan mengawal kita berlima, Bhisma, Kripa, Karna, Aswatthama dan aku sendiri, untuk menghadapi Arjuna.”

Kemudian, balatentara Kurawa diatur menurut pemba-gian itu. Arjuna tidak melihat Duryodhona dalam pasukan Kurawa yang dihadapinya. Ia berkata kepada Uttara, “Aku tidak melihat Duryodhona dan keretanya. Aku hanya meli-hat Bhisma. Mungkin Duryodhona sedang merebut ternak kita. Ayo kita kejar dia dan kita rebut kembali ternak kita.”

Uttara melecut kudanya ke arah yang ditunjukkan Arju-na. Mereka mengejar pasukan Kurawa yang menggiring ternak dan membawa barang-barang rampasan. Arjuna menyerang pasukan itu hingga mereka tunggang langgang meninggalkan ternak dan barang-barang rampasan. Sete-lah musuh kabur, Arjuna menyuruh para gembala meng-ambil kembali ternak mereka.

Kemudian Arjuna mencari Duryodhona. Mengetahui hal itu, Bhisma mengerahkan pasukan Kurawa untuk mem-bantu Duryodhona. Mereka mengepung Arjuna. Tahu diri-nya dikepung, Arjuna memutuskan untuk menggempur pemimpin balatentara Kurawa satu per satu. Pertama, diserangnya Karna dengan serangan kilat. Karna tak mam-pu melawan. Ia terpelanting jatuh dari keretanya. Kemudi-an Arjuna menerjang Drona hingga terjengkang. Aswat-thama melihat ayahnya kalah lalu cepat-cepat membantu. Serangan Aswatthama berhasil ditangkis Arjuna. Justru Aswatthama yang dibuat tidak berkutik karena serangan Arjuna yang bertubi-tubi.

Mahaguru Kripa menyerang Arjuna dari belakang, di-bantu oleh Bhisma dan Duryodhona.

Arjuna ingin melumpuhkan mereka satu per satu, kare-na ia sadar tidak punya teman apalagi pasukan. Arjuna berhasil menghindari serangan Kripa dan Bhisma. Lalu ia memusatkan serangannya pada Duryodhona. Pangeran itu ingin sekali memancung leher Arjuna, tetapi ia justru dihu-jani panah dan terpaksa lari terbirit- birit seperti pengecut.

Karena kewalahan menghadapi Mahaguru Kripa dan Bhisma yang terus menyerangnya, Arjuna memutuskan untuk mengeluarkan ajian pembius. Ia lalu membuat kedudukan musuhnya terpusat. Setelah lawan berada dalam posisi yang diinginkannya, Arjuna melemparkan senjata saktinya ke tengah-tengah balatentara Kurawa. Satu per satu orang-orang itu jatuh pingsan. Dengan mudah Uttara dan Arjuna merampas jubah mereka, seba-gai tanda kemenangan.

Arjuna berkata kepada Uttara, “Belokkan arah kereta. Ternak dan harta benda telah kembali kepada rakyat kita dan musuh sudah kita taklukkan. Wahai Putra Mahkota, pulanglah engkau dan bawalah berita kemenangan ini.”

Sebelum sampai ke istana, Arjuna menyimpan kembali senjata-senjatanya di tempat rahasia, membersihkan diri dan mengganti pakaiannya kembali seperti Brihannala, sang guru tari. Kemudian ia mengirim utusan ke ibu kota Matsya untuk menyampaikan berita kemenangan gemilang Uttara kepada Raja Wirata.

Di tempat pertempuran, Duryodhona kembali ke induk pasukannya. Dilihatnya Bhisma dan yang lain-lain baru saja siuman dan jubah mereka tidak ada lagi. Artinya, Kurawa kalah dan sebaiknya mundur. Dengan memikul kekalahan besar, Kurawa kembali ke Hastinapura.

***

Dari arah selatan, Raja Wirata diiringkan balatentaranya kembali ke ibu kota setelah mengalahkan Raja Susarma dari Negeri Trigata. Rakyat mengelu- elukannya. Tetapi, sesampainya di istana, Wirata tak menemukan Uttara. Permaisuri dan para putri memberi tahu bahwa Uttara pergi ke utara menggempur Kurawa yang menduduki sebagian wilayah Kerajaan Matsya. Mereka berharap semo-ga Uttara dapat menaklukkan musuhnya. Setelah tahu bahwa putranya hanya ditemani oleh Brihannala, guru tari yang banci, Raja Wirata pasrah. Ia yakin, putranya pasti kalah dan terbunuh dalam pertempuran.

“Anakku tercinta sekarang pasti sudah tewas,” katanya sedih.

Ia lalu memerintahkan menterinya untuk mengirimkan pasukan terkuat ke utara guna membantu Putra Mahkota Uttara. Jika pangeran itu masih hidup, pasukan itu harus membawanya pulang. Pasukan rahasia dan pencari jejak dikirim ke segala penjuru untuk mengetahui ke mana Uttara pergi dan bagaimana nasibnya.

Kangka mencoba menghibur Wirata dengan mengata-kan bahwa Putra Mahkota pasti selamat dan dapat meme-nangkan pertempuran karena ia didampingi Brihannala sebagai sais kereta.

“Kekalahan Susarma di selatan pasti sudah diketahui Kurawa. Mereka pasti gentar dan memilih mundur,” kata Kangka hati-hati.

Sementara itu, utusan Uttara tiba, mengabarkan berita kemenangan. Ternak dan harta benda yang dirampas sudah kembali ke tangan rakyat.

Wirata tak percaya. Menurutnya, berita itu terlalu dibe-sar-besarkan. Kangka terus berusaha meyakinkan Wirata bahwa berita itu memang benar. Bagi Wirata, kemenangan putranya merupakan suatu keajaiban. Karena gembiranya, ia berikan hadiah besar kepada pembawa berita itu. Kemu-dian ia memerintahkan para menteri, pimpinan pasukan dan seluruh penduduk ibu kota untuk menyambut kem-balinya Putra Mahkota Uttara dari medan perang.

Berkatalah Wirata, “Kemenanganku melawan Susarma tidak berarti apa-apa. Kemenangan yang sebenarnya ada-lah kemenangan Putra Mahkota. Siapkan upacara keme-nangan dan persembahyangan syukur di seluruh negeri. Pasang umbul-umbul aneka warna dan hiasi jalan-jalan agar semarak. Kerahkan penduduk untuk mengadakan arak-arakan gamelan, genderang, dan tetabuhan. Siapkan upacara penyambutan paling meriah untuk Putra Mahkota yang berhati singa!”

Setelah memberi perintah, Wirata pergi ke beranda untuk berstirahat. Ia memanggil Sairandri dan Kangka. Mereka disuruhnya mempersiapkan permainan dadu. Sambil bermain dadu, Wirata berkata, “Aku sangat baha­gia. Lihatlah, betapa perkasanya anakku Uttara! Ia telah menaklukkan kesatria-kesatria Kurawa.”

“Benar demikian. Putra Mahkota Uttara beruntung di­dampingi sais kereta seperti Brihannala yang tangkas dan tahu bagaimana mengemudikan kereta perang.”

Wirata merasa tersindir dan tidak suka mendengar kata-kata Kangka. Ia marah dan berkata lantang, “Kenapa engkau berulang-ulang menyebut nama si banci, padahal aku sedang bahagia karena putraku memenangkan per-tempuran? Bukankah sudah sepantasnya aku memuji putraku yang gagah perkasa? Kenapa engkau justru menekankan ketangkasan si banci sebagai sais kereta?”

“Aku tahu Brihannala bukan orang biasa. Kereta yang dikemudikannya pasti takkan salah arah dan ia pasti pantang menyerah. Brihannala selalu yakin akan bisa me­metik kemenangan gemilang siapa pun musuhnya,” jawab Kangka tenang.

Wirata tidak dapat menahan amarahnya. Ia meng-anggap kata-kata Kangka sebagai penghinaan terhadap anak dan dirinya sendiri. Ia naik pitam. Dilemparkannya dadu ke wajah Kangga, melukai pipinya hingga berdarah. Sairandri, yang kebetulan lewat, melihat darah di pipi Kangka. Dengan cepat disekanya wajah Kangka dengan sari-nya. Darah Kangka yang titik ditampungnya dalam cawan emas.

Melihat itu Wirata semakin marah. Apalagi karena Sai-randri melakukannya di hadapannya, penguasa tertinggi Negeri Matsya. Wirata menghardik, “Kurang ajar! Kenapa engkau menadahi darah Kangka dengan cawan emas?”

“Tuanku Raja, darah seorang sanyasin tidak boleh jatuh ke bumi,” jawab Sairandri tenang. “Kalau sampai darahnya menetes ke bumi, hujan tidak akan turun di negeri ini selama beberapa tahun, tanah akan retak kekeringan dan rakyat akan mati kelaparan. Karena itu, darahnya kutam-pung dalam cawan emas. Aku khawatir, Tuanku Raja belum mengenal kebesaran Kangka,” Sairandri menam­bahkan.

Sementara percakapan itu berlangsung, seorang penga-wal mengabarkan kedatangan Uttara, diiringkan Brihan-nala, yang ingin segera menghadap Baginda Raja.

“Persilakan mereka menghadapku,” kata Wirata kepada pengawal itu.

Kesempatan itu dipergunakan Kangka untuk membisiki si pengawal agar Uttara datang menghadap sendirian, jangan sampai Brihannala ikut. Kangka berbuat demikian karena Raja sedang marah. Ia tahu, Brihannala alias Arju-na pasti marah jika melihat pipi Kangka alias Yudhistira berdarah karena dia sangat menyayangi saudaranya.

Uttara masuk dan menyembah Raja Wirata. Waktu menoleh ke arah Kangka, hendak mengucapkan salam hormat, ia terkejut melihat darah kering di wajah lelaki itu. Sekarang Uttara sadar, Kangka tiada lain adalah Yudhis-tira yang agung.

“Tuanku Raja, siapa yang telah melukai dia, Yang Agung?” Uttara bertanya dengan cemas.

Wirata memandang putranya, lalu berkata, “Kenapa? Aku melempar mukanya dengan dadu karena kelancangan dan kesombongannya. Waktu aku sedang senang dan bangga karena kemenanganmu, dia justru memperkecil arti kemenanganmu. Setiap kali aku memuji kesaktian dan keperkasaanmu, ia justru menyebut-nyebut kemahiran si banci. Aku memang telah melukainya, kuakui itu; tapi hal ini tak usah kita bicarakan lagi. Ceritakanlah bagaimana engkau bertempur sampai menang.”

Uttara merasa takut. Ia berkata, “Ya, Dewata, Ayah telah berbuat kesalahan besar. Berlututlah di hadapannya, sekarang juga, Ayah. Mintalah maaf. Kalau tidak, kita akan musnah dari akar sampai ke daun.”

Wirata tidak mengerti maksud anaknya. Ia hanya duduk diam kebingungan. Tanpa menunggu lagi, Uttara segera berlutut di depan Yudhistira dan meminta maaf yang sebesar-besarnya.

Melihat itu, Wirata memeluk anaknya dan berkata, “Anakku, engkau benar- benar seorang kesatria! Aku tak sabar lagi menunggu ceritamu. Bagaimana engkau menak-lukkan balatentara Kurawa? Bagaimana engkau merebut kembali ternak dan harta benda kita?”

Sambil menundukkan kepala karena sangat malu, Uttara berkata, “Bukan aku yang menaklukkan musuh. Bukan aku yang mengambil ternak itu kembali. Semua itu dilaku-kan oleh seorang Putra Mahkota yang sangat sakti dan perkasa. Dia yang memukul mundur pasukan Kurawa dan merebut kembali semua ternak dan kekayaan kita. Aku tidak berbuat apa-apa.”

Wirata tidak percaya akan apa yang didengarnya. Ia bertanya lagi, “Di manakah Putra Mahkota itu sekarang? Aku harus berterima kasih kepadanya karena ia telah menolong engkau dan mengusir musuh. Akan kuberikan anakku, Dewi Uttari untuk dipersunting. Panggillah Uttari sekarang juga.”

“Dia telah pergi. Mungkin besok atau lusa dia akan datang kemari,” jawab Uttara.

***

Atas perintah Wirata, balairung dan ruang-ruang persida-ngan besar di ibu kota Negeri Matsya dihiasi sangat megah untuk merayakan kemenangan Raja dan Putra Mahkota. Undangan dikirimkan kepada raja-raja sahabat, tamu-tamu agung, dan orang-orang penting lainnya. Pesta besar akan dilangsungkan di ibu kota Negeri Matsya.

Kangka si sanyasin, Walala si juru masak, Brihannala si guru tari, Dharmagranti si tukang kuda, dan Tantripala si penggembala, hadir di pesta. Sebenarnya mereka tidak diundang, karena yang diundang hanya tamu-tamu agung dan orang-orang penting. Dalam pesta itu juga tampak Sai-randri, pelayan permaisuri. Hadirin berbisik-bisik, membi-carakan kehadiran mereka. Ada yang berkata bahwa mere-ka pantas diundang karena jasa mereka dalam peperangan yang baru lalu. Ada yang menyesalkan, kenapa orang-orang seperti mereka diperbolehkan hadir dalam perjamu­an besar itu. “Bukankah mereka hanya sanyasin, juru masak, guru tari, tukang kuda, gembala, dan pelayan?”

Ketika masuk ke dalam ruangan, Wirata melihat Kangka si sanyasin, Walala si juru masak, dan yang lain duduk berjajar bersama para tamu. Raja sangat marah dan de-ngan kata-kata kasar menghina mereka. Karena sikap Wirata yang keterlaluan, maka tanpa ragu Pandawa menyatakan siapa diri mereka sebenarnya. Penyamaran telah dibuka. Para tamu bersorak sorai dan menyambut mereka dengan tepuk tangan meriah.

Wirata sungguh tidak menyangka bahwa orang-orang yang selama ini telah bekerja keras mengabdi kepadanya tiada lain adalah Pandawa. Wirata segera meminta maaf dan di hadapan para tamu, ia memeluk Kangka. Kemudi-an, secara resmi ia mengumumkan bahwa ia menyerahkan Negeri Matsya kepada Pandawa karena jasa-jasa mereka. Wirata juga menyerahkan putrinya, Dewi Uttari, kepada Arjuna untuk diperistri.

Pandawa mengucapkan terima kasih kepada Raja Wirata dan rakyat Negeri Matsya yang telah melindungi dan membantu mereka dalam keadaan sangat sulit selama satu tahun. Pandawa menerima penyerahan Negeri Matsya secara simbolik dan saat itu juga menyerahkannya kembali kepada Raja Wirata. Kemudian semua yang hadir memper-sembahkan doa syukur bagi kemakmuran dan kesejah-teraan Raja dan rakyat Negeri Matsya.

Arjuna menyela, “Tidak, ini tidak pantas karena Dewi Uttari belajar musik dan tari dari aku. Aku adalah gurunya dan aku lebih pantas menjadi ayahnya. Jika tidak ada yang berkeberatan, aku usulkan agar ia dinikahkan de-ngan putraku, Abhimanyu.”

Sementara semua orang sedang berpesta, datang utu-san Duryodhona membawa pesan khusus untuk Yudhis-tira.

Setelah diperkenankan menghadap, utusan itu berkata, “Wahai Putra Dewi Kunti, Duryodhona sangat menyayang-kan tindakan Dananjaya yang ceroboh. Dananjaya membi-arkan dirinya dikenali orang sebelum tahun ketiga belas habis. Engkau harus kembali ke hutan lagi. Sesuai sum-pahmu, engkau harus mengembara dua belas tahun lagi di dalam hutan.”

Dharmaputra tersenyum dan berkata, “Utusan yang ter­hormat, kembalilah segera kepada Duryodhona dan kata-kan kepadanya bahwa aku menyuruhnya bertanya kepada para tetua yang bijak dan cendekia tentang cara meng-hitung waktu. Kakek Bhisma yang kita muliakan dan para mahaguru lainnya pasti tahu peredaran bintang di langit. Mereka pasti akan menegaskan bahwa tiga belas tahun penuh telah kami lewatkan tepat sehari sebelum Kurawa mendengar desing Gandiwa dan deru Dewadatta milik Dananjaya yang membuat kalian lari tunggang langgang.”

~ Article view : [134]