36. Usaha Mencari Jalan Damai

437

36. Usaha Mencari Jalan Damai

Pada waktu Pendita Negeri Matsya berangkat ke Has-tinapura membawa pesan perdamaian, perkemahan Pandawa di Upaplawya didatangi raja-raja yang ingin bergabung dengan mereka. Para raja itu membawa balatentara masing- masing, lengkap dengan persenjataan mereka. Keseluruhan balatentara Pandawa berjumlah tujuh divisi, sedangkan balatentara Kurawa berjumlah sebelas divisi. Adapun kekuatan satu divisi pada jaman itu kira-kira terdiri dari 21.870 kereta, 21.870 gajah, 65.500 kuda dan 109.350 prajurit darat yang dilengkapi dengan berbagai senjata perang.

Pendita utusan Raja Drupada tiba di istana Dritarastra dan sesuai tradisi ia diterima dengan upacara kehormatan. Setelah memperkenalkan diri, Pendita Negeri Matsya ber­bicara atas nama Pandawa, “Hukum bersifat abadi dan memiliki kewenangan tersendiri. Tuan-Tuan semua tahu akan hal ini. Karena itu, aku tidak perlu menjelaskan lagi.

“Dritarastra dan Pandu adalah putra Wicitrawirya. Menurut tradisi, keduanya berhak mewarisi harta pening-galan ayah mereka. Berlawanan dengan kelaziman ini, putra-putra Dritarastra menyatakan bahwa seluruh kerajaan Hastina adalah hak mereka. Putra-putra Pandu dinya-takan tidak memiliki warisan apa-apa. Menurut hukum dan undang-undang yang berlaku, hal ini tidak adil.

“Wahai keturunan bangsa Kuru yang saya muliakan, Pandawa menginginkan perdamaian. Mereka bersedia me-lupakan semua penderitaan yang mereka alami di penga-singan. Mereka tidak menghendaki peperangan, sebab me-reka sadar peperangan tidak akan membawa kebaikan, hanya kemusnahan. Karena itu, berikanlah apa yang patut mereka miliki berdasarkan hukum dan undang-undang, sesuai dengan keadilan dan persetujuan yang telah dise-pakati. Hendaknya jangan Tuan-Tuan menundanya lagi.”

Setelah utusan itu selesai bicara, Bhisma yang bijaksana bangkit berdiri dan berkata, “Atas karunia Dewata, Pandawa dalam keadaan baik dan sejahtera. Mereka mem-peroleh bantuan dari banyak raja, hingga pasukan mereka kuat dan

cukup jumlahnya untuk bertempur. Tetapi, mereka tidak menghendaki perang terjadi. Mereka tetap berusaha untuk mencari jalan damai. Mengembalikan milik mereka yang menjadi hak mereka adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran dan keadilan.”

Meskipun Bhisma belum selesai bicara, Karna telah bangkit berdiri dan menyela. Dengan pedas ia berkata kepada utusan Pandawa, “Wahai Brahmana, apakah yang kaukatakan itu sesuatu yang baru? Tak ada gunanya mengulang cerita lama! Yudhistira tak berhak menuntut miliknya yang sudah dipertaruhkannya di meja judi, karena ia kalah. Kalau dia masih ingin memiliki bagian dari kerajaannya, dia harus datang memintanya sebagai pemberian. Tetapi nyatanya, dengan sombong ia menuntut sesuatu yang bukan haknya sebab dia merasa kuat berkat dukungan sekutu-sekutunya, terutama dari Matsya dan Pancala.

“Baiklah kujelaskan di sini bahwa tidak sesuatu pun akan diperoleh dari Duryodhona dengan jalan tipu musli-hat dan ancaman. Seperti telah terbukti, dalam tahun ke-tiga belas seharusnya Pandawa bersembunyi sebaik-baik-nya. Jangan sampai keberadaan mereka diketahui. Tetapi, nyatanya mereka ketahuan sebelum bulan kedua belas tahun ketiga belas berakhir. Menurut perjanjian, seharus-nya mereka menjalani pengasingan lagi selama dua belas tahun.”

Bhisma menyela, “Wahai Karna, jangan engkau berkata demikian. Kalau kita tidak mendengarkan pesan yang disampaikan utusan itu, perang akan pecah. Ketahuilah, kita pasti kalah dan musnah.”

Sidang itu menjadi ramai dan kacau. Raja Dritarastra dituntun Sanjaya naik ke mimbar. Setelah menyuruh semua yang hadir diam, ia berkata kepada utusan itu, “Demi keselamatan dunia dan kesejahteraan Pandawa, aku putuskan untuk mengirim Sanjaya berunding dengan Pan-dawa. Pulanglah, hai sang duta. Sampaikan hal ini kepada Yudhistira.”

Dritarastra kemudian memberikan pesan-pesan kepada Sanjaya, “Pergilah menemui putra-putra Pandu. Sampai-kan salam kasihku kepada mereka dan salam hormatku kepada Krishna, Satyaki dan Wirata. Pergilah atas namaku dan berundinglah dalam suasana kekeluargaan untuk menghindari peperangan.”

Maka berangkatlah Sanjaya ke Upaplawya dengan membawa pesan perdamaian! Dalam pertemuan khusus yang diadakan untuk menyambut kedatangannya, Sanjaya berkata singkat, “Dharmaputra, merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagiku mendapat kesempatan untuk bertemu dengan putra-putra Pandu. Engkau dikelilingi sanak-saudara dan sahabat-sahabatmu. Itu yang membu-atku merasa lega. Raja Dritarastra mengutusku untuk menyampaikan salam kasih dan doa restunya bagimu. Ia tidak menginginkan perang. Ia menginginkan persauda­raan, persahabatan dan perdamaian dengan Pandawa.”

Mendengar kata-kata Sanjaya, dengan senang hati Yudhistira menyambut, “Kalau memang demikian, berarti putra-putra Dritarastra telah sadar. Kalau memang demi-kian, kita semua bisa tenang. Kalau kerajaan kami dikem-balikan, kami bersedia melupakan segala perselisihan kita dan kepahitan yang kami alami di masa lalu.”

Sanjaya melanjutkan, “Yudhistira, janganlah berharap bahwa putra-putra Dritarastra akan sadar. Mereka tidak seperti yang kaubayangkan. Mereka tetap menentang ayah mereka dan menginginkan perang. Tetapi, kuharap engkau tidak kehilangan kesabaran.

“Yudhistira, engkau selalu bertindak adil dan jujur serta bersikap tegas menjunjung kebenaran. Mari kita hindari peperangan. Apakah kebahagiaan dapat dinikmati dari kekayaan hasil rampasan perang? Apa gunanya memiliki kerajaan dengan jalan membunuh sanak kerabat sendiri? Karena itu, janganlah engkau memulai permusuhan. Pan-dawa mungkin mampu menaklukkan dunia tanpa batas, tapi usia lanjut dan kematian tidak bisa dihindari. Duryo-dhana dan saudara- saudaranya memang jahat dan sera-kah, tetapi jangan sampai engkau terbawa nafsu, memung-gungi kebenaran dan hilang kesabaran. Walaupun mereka tidak mau mengembalikan kerajaanmu, janganlah engkau tinggalkan jalan kemuliaan dharma.”

Yudhistira menjawab, “Sanjaya, apa yang engkau kata­kan itu benar. Memegang kebenaran adalah harta terbaik. Tapi, bukankah kami tidak melakukan kejahatan? Krishna tahu akan hakikat kebenaran dan dharma. Ia mengharap-kan kita, kedua belah pihak, selamat dan sentosa. Aku akan minta pertimbangannya.”

Krishna berkata, “Aku menginginkan kesejahteraan bagi Pandawa. Aku juga mengharapkan Dritarastra dan putra-putranya bahagia. Ini sulit. Aku pikir, mungkin aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan pergi sendiri ke Hastinapura. Kalau kita bisa mencapai persetujuan yang tidak merugikan Pandawa, aku senang. Kalau aku berhasil berbuat demikian, berarti Kurawa dapat diselamatkan dari kemusnahan. Sungguh sesuatu yang sangat berarti dalam sejarah. Kalau dengan jalan perdamaian Pandawa bisa memperoleh apa yang mereka kehendaki, mereka akan tetap menaruh hormat kepada Dritarastra. Tetapi kalau perang tak bisa dihindari, Pandawa siap menghada-pinya. Apa boleh buat! Dari dua kemungkinan ini, silakan Dritarastra memilih. Perang atau damai. Damai atau perang.”

Yudhistira berkata lagi, “Wahai Sanjaya, kembalilah ke Hastinapura dan sampaikan pesanku ini kepada Paman Dritarastra.

“Bukankah berkat ketulusan hati Paman, kami mem-peroleh sebagian wilayah kerajaan sebagai warisan ketika kami masih muda? Paman pernah menjadikan aku sebagai raja dan Paman seharusnya mengakui hak kami sebagai pewaris yang sah. Paman seharusnya tidak mengusir kami, hingga kami terpaksa hidup seperti pengemis yang meng-gantungkan nasib pada belas kasihan orang. Paman yang kami hormati, sesungguhnya kerajaan kita cukup luas untuk dibagi dua. Karena itu, mari hindari permusuhan di antara kita.

“Demikianlah hendaknya engkau sampaikan pesanku kepada Raja Dritarastra. Sampaikan salam hormat dan kasihku kepada Kakek Bhisma dan mohonkan restunya agar semua cucunya hidup bahagia dan bersatu, tanpa permusuhan. Salam juga untuk Widura. Ia adalah orang yang paling bisa melihat dengan lurus dan dapat memberi nasihat dengan adil. Tolong sampaikan pesanku ini kepada Duryodhona.

“‘… Saudaraku tercinta, engkau telah menyebabkan kami, putra-putra pamanmu, hidup mengembara di hutan dan mengenakan pakaian kulit kayu. Engkau telah meng-hina dan menyeret istri kami di depan orang banyak. Kami terima semua itu dengan sabar. Kini, kembalikan milik kami yang sah. Kami ini berlima, setidak-tidaknya kemba-likan lima desa kepada kami. Dan marilah kita berdamai. Sambutlah uluran tangan kami dengan hati ikhlas dan damai.’

“Ya, Sanjaya, sampaikan ini kepada Duryodhona. Kami siap menempuh jalan damai, tapi … jika Kurawa meng­hendaki, kami pun siap menempuh jalan perang.”

Sanjaya kembali ke Hastinapura dengan membawa pesan penting untuk Dritarastra dan dan Duryodhona.

~ Article view : [114]