39. Pelantikan Mahasenapati

464

39. Pelantikan Mahasenapati

Sekembalinya Krishna alias Gowinda ke Upaplawya, ia segera menemui Pandawa dan menyampaikan laporan kepada Yudhistira. Ia laporkan pertemuannya dengan tokoh-tokoh penting di Hastinapura dan pertemuannya dengan Dewi Kunti, ibu Pandawa.

“Kini tidak ada lagi harapan untuk berdamai. Duryo­dhana bersikeras, tetap ingin berperang melawan kita. Sekarang kita harus bersiap-siap untuk menghadapi perang besar di padang Kurukshetra!” demikian Krishna mengakhiri laporannya.

Setelah mendengarkan laporan Krishna, Yudhistira mengajak saudara- saudaranya berunding. Mereka mem-bagi pasukan perang Pandawa menjadi tujuh kelompok, masing-masing dipimpin seorang senapati, yaitu Drupada, Wirata, Dhristadyumna, Srikandi, Satyaki, Chekidana dan Bhimasena. Setelah itu mereka merundingkan, siapa yang pantas dipilih menjadi Senapati Agung.

Yudhistira berkata, “Kita harus memilih dan melantik satu dari tujuh panglima ini menjadi Mahasenapati atau Senapati Agung yang mampu menghadapi Bhisma dan sanggup memusnahkan musuh kita. Ia juga harus pandai memimpin balatentara kita, setiap saat dan dalam segala keadaan. Menurut kalian, siapakah yang paling pantas memikul tanggung jawab seberat itu?” kata Yudhistira sambil berpaling pada Sahadewa.

Sahadewa menanggapi, “Sebaiknya kita lantik Wirata menjadi Senapati Agung kita. Dialah yang menolong kita selama kita hidup dalam penyamaran dan berkat bantuan­nya hati kita tergugah untuk merebut kembali kerajaan kita.”

Pada jaman itu, sesuai tradisi, orang yang paling mudalah yang lebih dulu dimintai pendapat; bukan yang paling tua. Hal ini dimaksudkan untuk memberi semangat kepada anak-anak muda dan membangkitkan rasa percaya diri mereka. Seandainya yang lebih tua dimintai pendapat lebih dulu, maka berdasarkan tata susila yang lebih muda tidak akan berani mengungkapkan pendapatnya secara bebas. Kalaupun berani, ada kemungkinan akan ditang-gapi secara salah karena perbedaan penafsiran. Yang jujur bisa dicemooh, yang benar bisa dihina.

Kemudian Yudhistira bertanya kepada Nakula dan Nakula menjawab tanpa ragu, “Menurutku yang paling tepat menjadi Senapati Agung adalah Drupada. Dilihat dari usia, kebijaksanaan, keberanian, kekuatan, dan garis keturunannya, dialah yang paling utama. Drupada telah belajar ilmu peperangan dari Bharadwaja. Ia sudah lama menunggu kesempatan untuk bertempur melawan Drona. Ia sangat dihormati dan disegani banyak raja. Ia telah membela kita seperti anak-anaknya sendiri. Dia pula yang memimpin pasukan perang kita melawan Bhisma dan Drona.”

Dhananjaya kemudian dimintai pendapatnya. “Aku pikir, Dristadyumna yang harus memimpin kita di medan perang. Dia adalah kesatria yang mampu mengendalikan perasaan dan pikirannya dengan baik. Dan ia terlahir untuk menamatkan riwayat Drona. Hanya Dristadyumna yang mampu menghadapi segala bidikan panah Drona. Kecuali itu, ia ahli siasat perang dan tangkas mengguna-kan segala macam senjata dan terbukti berhasil menga-lahkan Parasurama. Tak ada yang lebih pantas daripada dia,” kata Arjuna.

Bhimasena berkata, “Wahai Dharmaputra, apa yang dikatakan Arjuna benar. Tetapi menurut para resi dan para tetua, Srikandi yang ditakdirkan akan menamatkan riwayat Bhisma. Menurut pendapatku, Srikandi yang harus memimpin balatentara kita!” Yudhistira kemudian meminta pendapat Krishna.

“Semua kesatria yang telah disebut tadi mempunyai kelebihan masing-masing dan semua memenuhi syarat untuk dipilih,” kata Krishna. “Siapa pun yang akan dipilih, dia pasti mampu membuat balatentara Kurawa ketaku-tan. Tetapi, setelah memperhatikan setiap pendapat dan mempertimbangkan segala sesuatunya, demi

kemenangan kita, aku mendukung pendapat Arjuna. Karena itu, nobat-kanlah Dristadyumna sebagai Senapati Agung balatentara Pandawa.”

Akhirnya, dengan suara bulat mereka memutuskan memilih Dristadyumna sebagai Senapati Agung. Putra Dru-pada itulah yang dulu memimpin upacara sayembara untuk mencarikan suami bagi Draupadi, adiknya. Sayem-bara itu dimenangkan oleh Arjuna. Tiga belas tahun lama-nya ia menahan diri untuk tidak membalas penghinaan Duryodhona terhadap Draupadi. Dristadyumna memang telah menunggu-nunggu saat yang tepat untuk membalas-kan dendam adiknya.

Pelantikan Dristadyumna sebagai Senapati Agung bala-tentara Pandawa dilakukan dengan khidmat. Selama upa-cara berlangsung, suasana hening. Setelah upacara sele-sai, seluruh balatentara Pandawa bersorak sorai penuh semangat. Genderang ditabuh, gong dipukul, dan sangka-kala ditiup menderu-deru. Suara riuh rendah itu membahana memenuhi angkasa! Panji-panji pasukan dikibarkan. Pasukan penunggang kuda dan gajah dibariskan berderet-deret, diikuti pasukan berkereta dan pasukan berjalan kaki. Semua berbaris, melangkah maju dengan mantap ke padang Kurukshetra. Derap langkah mereka menggetarkan bumi! Sorak sorai mereka seakan-akan hendak meroboh-kan langit!

Sementara Pandawa memilih Dristadyumna, Kurawa me-milih Bhisma sebagai Mahasenapati mereka. Sambil bersujud, Duryodhona memberi hormat kepada Bhisma dan berkata, “Semoga engkau dapat memimpin kami dengan bijak dan kita memperoleh kemenangan dan kemasyhuran seperti Kartikeya memimpin para dewata di kahyangan. Kami akan mengikuti perintahmu, seperti sapi-sapi meng-ikuti gembalanya.”

Bhisma mengangguk lalu berkata kepada Duryodhona, “Baiklah! Tetapi, engkau harus mengerti pendirianku. Aku tidak pernah ragu. Bagiku, putra-putra Pandu sama dengan kalian, putra-putra Dritarastra. Untuk memenuhi janjiku kepadamu, aku akan melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya. Ratusan musuh akan tewas setiap hari, karena anak panahku. Tetapi aku tak sanggup mem-bunuh putra-putra Pandu, karena aku tidak menyetujui peperangan ini.

“Selain itu, satu hal harus engkau ingat. Karna, putra Batara Surya, yang sangat engkau kasihi itu, selalu me-nentang kepemimpinanku dan meremehkan segala pendapatku. Kalau kau tidak senang akan pendirianku, mintalah dia memimpin balatentara Kurawa. Lantiklah dia sebagai Senapati Agung. Aku tidak keberatan.”

Duryodhona menerima syarat-syarat yang diajukan Bhisma. Kesatria tua itu dinobatkan sebagai Senapati Agung balatentara Kurawa. Dan, bagaikan banjir besar balatentara yang dipimpinnya mengalir ke padang Kuruk-shetra.

~ Article view : [90]