48. Abhimanyu Gugur

669

48. Abhimanyu Gugur

rahmana yang kuhormati, sebetulnya kemarin Yu­“Bdhistira bisa kautangkap jika kau memang meng-hendakinya. Tidak seorang pun dapat menghalangimu. Tetapi engkau tidak melaksanakan rencanamu dan mem-biarkan kesempatan terbaik berlalu begitu saja. Aku tidak mengerti mengapa kau tidak bisa melaksanakan janjimu. Benarlah kata orang, orang-orang besar memang sulit dimengerti,” demikian kata Duryodhona kepada Mahasena-pati Drona di pagi hari ketiga belas.

“Putra Mahkota Duryodhona, aku telah berusaha de-ngan segala kekuatan dan kemampuanku. Rupanya eng-kau hanya menuruti pikiranmu yang tidak wajar sebagai raja. Engkau sebenarnya tahu, selama Arjuna masih hidup, kita takkan bisa menculik Yudhistira. Sejak semula hal ini sudah kujelaskan padamu. Hanya ada satu cara untuk memisahkan mereka, yaitu memaksa mereka ber-tempur di medan yang berbeda. Kita sudah mencoba cara itu, tapi gagal. Hari ini kita coba lagi. Janganlah engkau cepat patah semangat,” kata Mahaguru Drona sambil menahan amarahnya.

Pada hari ketiga belas, Arjuna ditantang lagi dengan sumpah Samsaptaka di ujung selatan medan pertempuran. Sesuai rencana, Drona mengatur serangannya ke induk pasukan Pandawa dengan formasi kembang teratai. Dalam induk pasukan Pandawa ada Yudhistira, Dristadyumna, Bhimasena, Satyaki, Drupada, Chekitana, Gatotkaca, Kuntiboja, Yudhamanyu, Srikandi, Uttamaujas, Wirata, Raja Kekaya, Raja Srinaya dan para kesatria lainnya. Semua lengkap dikawal anak buah masing- masing.

Yudhistira mengerti betul formasi pasukan Drona. Dipanggilnya Abhimanyu, kemenakannya yang masih muda dan tampan. Seperti Arjuna, ayahnya, Abhimanyu amat mahir menggunakan bermacam-macam senjata.

“Anakku, Mahaguru Drona hari ini akan menyerang kita secara besar-besaran. Ayahmu telah berangkat ke medan pertempuran di selatan. Kalau dia tak ada, kita bisa dikalahkan musuh dan itu akan menjadi malapetaka besar bagi kita. Tidak seorang pun di antara kita yang akan mampu menembus formasi Drona, kecuali ayahmu dan mungkin engkau. Paman berharap, engkau bersedia mela-kukan tugas ini,” kata Yudhistira kepada Abhimanyu.

“Ya, Paman, aku bersedia melakukannya. Ayah pernah mengajarkan cara menembus formasi seperti itu, tetapi aku belum pernah mempelajari cara keluarnya,” jawab kesatria muda itu.

“Anakku yang gagah berani, tembuslah formasi yang kokoh itu dan buatlah jalan masuk agar kami dapat meng-ikutimu dari belakang. Selanjutnya, kami semua akan membantumu,” tambah Yudhistira.

Pendapat Dharmaputra didukung Bhimasena, yang harus segera menyusul kemenakannya jika Abhimanyu telah berhasil masuk ke dalam formasi kembang teratai itu. Di belakang Bhimasena akan menyusul Dristadyumna, Satyaki, Raja Panchala, Raja Kekaya, dan pasukan Kera-jaan Matsyadesa.

Ingat akan ajaran ayahnya dan Krishna serta meresap-kan dorongan semangat dari paman-pamannya, Abhi­manyu berkata, “Baiklah, aku akan memenuhi harapan ayahku dan pamanku. Kupertaruhkan keberanian dan nyawaku demi kemenangan Pandawa.”

Yudhistira memberi restu kepada kesatria muda itu. Dengan kereta kesayangannya yang dikemudikan Sumitra, Abhimanyu berangkat melakukan tugas suci yang diperca-yakan kepadanya oleh pamannya. Kereta yang ditarik empat ekor kuda gagah itu segera meluncur menembus jantung formasi kembang teratai, bagaikan seekor singa membelah gerombolan gajah perkasa.

Kedatangan Abhimanyu di tengah-tengah kekuatan Kurawa membuat sebagian prajurit Kurawa cemas. Mereka tahu benar, kesatria muda itu hampir sama sakti dan mahirnya dengan ayahnya, Arjuna. Ketika Abhimanyu maju dengan perkasa, pasukan Kurawa mundur dan terbelah dua.

Jayadrata, raja Negeri Sindhu, yang memihak Kurawa adalah seorang ahli siasat dan taktik pertempuran yang disegani lawan maupun kawan. Ia memotong belahan yang dibuat Abhimanyu, membuat kesatria muda itu terperang-kap. Bhimasena dan yang lain tercegat, tak bisa menyusul Abhimanyu dan harus berhadapan dengan pasukan yang dipimpin oleh Jayadrata.

Kendati demikian, Abhimanyu terus maju menyerang musuh yang beribu-ribu jumlahnya. Ia menyerang ke kanan dan ke kiri, tidak peduli siapa pun yang dihada-pinya. Tidak terhitung banyaknya korban di pihak Kurawa yang jatuh bagai pohon-pohon bertumbangan diamuk angin topan. Tombak, gada, pedang, busur, anak panah dan bola-bola besi berserakan di mana-mana. Mayat-mayat bergelimpangan. Ada yang tanpa kepala, tanpa kaki, tanpa lengan; ada yang badannya terbelah. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan.

Melihat ini, Duryodhona merasa perlu untuk maju menghadapi Abhimanyu. Mahaguru Drona yang tahu benar kekuatan, keberanian dan tekad Abhimanyu, terpak-sa mengirimkan bala bantuan untuk mengawal Duryo-dhana agar pangeran Kurawa itu tidak tewas di tangan Abhimanyu. Duryodhona nyaris tewas, tetapi sempat dise-lamatkan oleh para pengawalnya.

Akhirnya, tanpa malu atau segan, para senapati Kau-rawa melanggar semua aturan perang. Beramai-ramai mereka mengeroyok putra Arjuna, dari segala penjuru dan dengan segala macam cara. Drona, Aswatthama, Kripa, Karna, Syakuni, Duhsasana dan para kesatria besar yang patut dihormati, tanpa malu atau tanpa ragu menyerang Abhimanyu yang sendirian tanpa pasukan dan tanpa bala bantuan di tengah ribuan musuhnya. Abhimanyu bagaikan perahu kecil yang tak berdaya digulung gelombang yang susul-menyusul di lautan mahaluas ketika badai topan mengamuk dengan dahsyatnya. Tetapi dengan penuh tekad Abhimanyu terus memberikan perlawanan, bagai perahu yang terus maju memecah ombak dan melawan angin.

Asmaka menyerang Abhimanyu dengan menabrakkan keretanya yang dipacu sekencang angin. Tetapi Abhimanyu menghadapinya sambil tersenyum. Pertarungan yang tak seimbang antara seorang kesatria muda yang belum berpengalaman melawan puluhan kesatria sakti yang sudah berpengalaman membuat orang iba kepada Abhi-manyu. Ia berhasil menghancurkan senjata Karna dan menyerang Salya hingga kedua kesatria yang sudah tidak muda lagi itu terluka parah. Saudara Salya membalas dengan menggempur Abhimanyu, tetapi ia juga dapat dikalahkan. Abhimanyu menghancurkan keretanya.

Drona terharu menyaksikan Abhimanyu bertempur dengan gagah berani. Ia berkata kepada Kripa, “Adakah yang bisa menandingi keberanian Abhimanyu? Sungguh ia pemuda yang perkasa dan berani!”

Duryodhona, yang kebetulan berdiri di dekat Kripa, tersinggung mendengar kata-kata Drona. Ia memang cepat naik darah.

“Guru selalu memihak Arjuna. Guru tidak mau mem­bunuh Abhimanyu,” kata Duryodhona dengan curiga, seperti ketika mencurigai Bhisma.

Memang, sejak kecil Duryodhona sudah berwatak buruk. Segala perbuatannya mendorongnya untuk menam-bah kesalahan dan dosanya. Kelak ia akan memetik karmaphala atas perbuatannya sendiri.

Duhsasana malu, tetapi juga benci dan iri melihat kebe-ranian Abhimanyu. Sambil berteriak lantang ia menantang Abhimanyu, “Hai anak muda, engkau pasti mampus di tanganku,”

Begitu selesai mengucapkan tantangannya, ia segera menyerbu. Serangannya dihadapi Abhimanyu dengan man-tap. Beberapa saat kemudian, Abhimanyu dapat menak-lukkan Duhsasana. Untuk terakhir kalinya, Abhimanyu melontarkan bola besi, tepat mengenai kepala Duhsasana. Kesatria Kurawa itu jatuh terkapar di dalam keretanya, tidak sadarkan diri. Untunglah, saisnya secepat kilat membawanya lari mundur untuk diselamatkan.

Sementara itu induk pasukan Pandawa tidak bisa lagi menyusul Abhimanyu karena dihalang-halangi pasukan yang dipimpin Jayadrata, menantu Dritarastra. Jayadrata menyerang Yudhistira. Dharmaputra melemparkan tom-baknya, tepat mengenai busur Raja Sindhu itu. Tetapi, dengan busur baru Jayadrata memanah Dharmaputra, tepat mengenai keretanya. Bhimasena membantu Yudhis-tira dengan memanah kereta Jayadrata, tepat mengenai payung kebesaran dan panji-panjinya. Jayadrata memba-las dengan melesatkan empat anak panah sekaligus. Keempat kuda Bhimasena tewas seketika. Bhima terpaksa melompat ke kereta Satyaki.

Bagaikan banjir bandang melanda dusun, sawah, dan ladang, Abhimanyu terus maju menerjang. Tak terbilang banyaknya korban berjatuhan di tangan kesatria muda unggulan Pandawa itu. Putra Duryodhona, Laksamana, yang juga masih muda dan gagah berani, maju mengha-dapi Abhimanyu. Putra Dewi Subadra dan Arjuna itu menyambut Laksmana dengan lontaran bola besi yang ber-kilauan. Bola besi itu melesat cepat, tepat menembus dada cucu Dritarastra. Kesatria itu terpelanting jatuh, tewas seketika. Kurawa sedih kehilangan Laksmana, putra Duryodhona, junjungan mereka.

Mendengar kabar kematian putranya, Duryodhona mengamuk. Ia berteriak lantang, mengancam Abhimanyu, “Hai Abhimanyu! Berani benar kau membunuh putra kesayanganku. Terimalah pembalasanku!”

Ia segera memerintahkan keenam kesatria Kurawa yang telah berpengalaman, yaitu Drona, Kripa, Karna, Aswatthama, Brihatbala dan Kritawarma untuk menge-pung putra Arjuna itu dari belakang, depan, samping kanan dan samping kiri.

“Tidak mungkin menundukkan pemuda ini tanpa me­lumpuhkan keretanya lebih dahulu,” teriak Drona. Ia menyuruh Karna membidik tali kekang dan keempat kuda Abhimanyu sebelum menyerang kesatria itu.

Tanpa malu para kesatria Kurawa melanggar aturan perang dan menyerang Abhimanyu dari segala arah. Panah Karna memutus tali kekang hingga keempat kuda penarik kereta itu tak terkendali. Kemudian, Karna menyerang Sumitra, sais kereta, dan keempat kuda itu. Sumitra dan keempat kuda itu mati seketika. Tetapi, Abhimanyu terus maju melawan musuh-musuhnya dengan pedangnya! Semua lawannya kagum dan dalam hati merasa malu melihat ketangkasan dan keberanian kesatria muda itu. Drona menebas pedang Abhimanyu hingga patah berke-ping- keping, sementara Karna menghancurkan perisainya dengan bidikan anak panah.

Abhimanyu terus melawan. Diambilnya roda keretanya yang sudah berantakan dan digunakannya sebagai senjata cakra. Diayun-ayunkannya roda itu dan ditumbukkannya pada siapa saja yang berani mendekatinya.

Dalam keadaan demikian, Abhimanyu serentak diserbu dengan berbagai macam senjata, seperti tombak, gada, busur, panah, perisai, lembing, pedang, dan sebagainya. Roda kereta yang digunakannya sebagai cakra hancur berantakan. Tetapi Abhimanyu terus melawan. Ia mener-jang salah satu putra Duhsasana lalu bergumul dengan hebat.

Tetapi… seberapakah kekuatan seseorang tanpa senjata tanpa pengawal dan dikeroyok oleh beratus-ratus musuh? Dengan kekuatan yang tersisa di raganya, Abhimanyu masih dapat menarik kaki lawannya hingga mereka jatuh bersama ke tanah.

Begitu Abhimanyu jatuh, para Kurawa segera mengha-bisinya. Ada yang menombak, ada yang memanah, ada yang menusuk-nusuk dengan lembing, ada yang memukul dengan gada, ada yang mencongkel-congkel dengan busur. Pendek kata, semua siksaan kejam terkutuk itu ditim-pakan ke tubuh Abhimanyu yang sudah penuh luka. Semua itu dilakukan Kurawa sambil bersorak-sorak. Seperti setan dan iblis, mereka menari-nari mengelilingi jasad Abhimanyu yang sudah tidak berbentuk.

Yuyutsu, salah satu putra Dritarastra yang ikut mengeroyok Abhimanyu merasa sangat kecewa dan marah melihat perbuatan para senapati Kurawa.

“Cara kalian membunuh Abhimanyu sungguh sangat tercela! Tuan-Tuan adalah kesatria besar. Apakah Tuan-Tuan telah melupakan etika dan moral dalam berperang? Seharusnya Tuan-Tuan malu karena perbuatan keji ini. Sungguh tak pantas berteriak-teriak dan menari-nari di atas mayat musuh yang Tuan-Tuan bunuh secara jahat dan keji. Apakah pantas perbuatan Tuan-Tuan itu? Seka-rang Tuan- Tuan bisa bergembira, tetapi kelak Tuan-Tuan pasti memetik hasil ‘kemenangan’ Tuan-Tuan yang kejam.”

Setelah berkata demikian, dengan muak Yuyutsu melemparkan semua senjatanya lalu meninggalkan medan Kurukshetra untuk selama-lamanya. Ia tidak takut mati di medan pertempuran, tetapi ia muak melihat perbuatan keji seperti yang dilakukan oleh para senapati Kurawa itu. Ia tahu benar bahwa perbuatan seperti itu bukan perbuatan kesatria sejati. Ia menyindir para senapati Kurawa dengan kata- kata tajam. Mungkin mereka menganggap Yuyutsu pengkhianat, tetapi sebenarnya, dialah yang memiliki iktikad baik dan jujur, sesuai dengan hati nuraninya seba-gai kesatria.

“Yang jahat akan tetap jahat, yang keji tetap harus dihukum, yang berbuat sesuatu tetap harus memetik buahnya.”

***

Berita kematian Abhimanyu sampai ke telinga Yudhistira. Alangkah sedih hatinya menerima berita itu, lebih-lebih ketika ia tahu bahwa kemenakannya itu gugur karena diperlakukan secara teramat kejam. Penyesalannya sema-kin memuncak karena dialah yang menyuruh Abhimanyu menggantikan ayahnya.

“Abhimanyu telah tiada. Dalam pertempuran ia dapat mengalahkan Drona, Aswatthama, Duryodhona dan lain-nya. Serangannya bagaikan api yang berkobar membakar hutan kering.

“Oh, kesatria muda, engkau yang membuat Duhsasana lari seperti pengecut kini telah tiada. Apa gunanya aku ber-perang? Menang pun takkan membuatku senang. Apa gunanya aku menginginkan kerajaan? Kata-kata apakah yang bisa kusampaikan kepada ayahmu untuk mengabar-kan kematianmu? Apa pula yang

harus kukatakan kepada Dewi Subadra? Dia pasti akan sedih, seperti induk lembu kehilangan anaknya. Bagaimana aku dapat mengucapkan kata-kata penghiburan untuk menghapus duka mereka?

“Benarlah nafsu serakah dapat menghancurkan iktikad baik manusia. Seperti si pandir hendak mencari madu dan jatuh ke dalam jurang. Aku memimpikan kemenangan dengan menyuruh kemenakanku maju ke medan pertem-puran. Padahal, masa depan terbentang luas baginya. Tak ada orang setolol aku di dunia ini. Aku telah menyebabkan terbunuhnya putra kesayangan Arjuna, yang semestinya aku lindungi selama ayahnya tidak ada.” Demikian Dhar­maputra berucap sambil berurai air mata. Ia dikelilingi para penasihat dan sahabatnya yang tunduk terdiam dili-puti rasa duka.

Dalam situasi demikian, datang Bagawan Wyasa. Keda-tangannya sungguh sangat diharapkan. Setelah memper-silakan resi agung itu duduk, Yudhistira mengungkapkan perasaannya, “Bapa Resi yang kuhormati, aku telah berusaha keras untuk memperoleh ketenangan jiwa, tetapi aku tidak sanggup mencapainya.”

“Engkau orang bijaksana. Sebenarnya engkau tahu cara memperolehnya. Tidak pantas engkau biarkan dirimu dirundung duka terus-menerus. Engkau tahu apa artinya kematian.

“Dengar, ketika Brahma menciptakan makhluk hidup, Dia diliputi rasa cemas. Jiwa makhluk ini berkembang dengan pesat dan pada suatu ketika jumlah mereka men-jadi terlalu banyak untuk dipikul dunia ini. Agaknya tidak ada jalan lain untuk mengatasi kesulitan ini. Pikiran Brah-ma yang diliputi rasa cemas menjelma menjadi nyala api, makin lama makin besar, menjadi api raksasa yang me-musnahkan segala makhluk ciptaanNya. Tetapi syukurlah, Rudra segera datang dan memohon kepada Brahma agar menenangkan api yang membawa kemusnahan itu. Brah-ma memperhatikan permohonan Rudra, lalu mengendali-kan api yang mengerikan itu dan menggantinya dengan suatu hukum yang kemudian dikenal sebagai “kematian”. Hukum Brahma, Pencipta Alam Semesta, dijelmakan oleh-Nya dalam berbagai bentuk, misalnya perang, wabah, ban-jir, gempa bumi, gunung meletus, dan sebagainya, demi menjaga keseimbangan antara kelahiran dan kematian. Kematian adalah hukum yang tidak bisa dihindari dan merupakan bagian dari hidup. Keduanya harus berimbang, seperti dititahkan demi kebaikan dunia.

“Tak pantaslah bersedih hati berlebihan, menangisi me­reka yang sudah mati. Tidak ada alasan untuk menya-yangkan mereka yang berpulang ke rahmat Hyang Tunggal. Ada lebih banyak alasan untuk bersedih bagi me-reka yang masih hidup.” Demikian Bagawan Wyasa dengan penuh kasih seorang resi yang agung menenangkan hati dan pikiran Yudhistira.

Sementara itu, Arjuna dan Krishna sedang dalam perja-lanan kembali dari pertempuran di selatan.

Arjuna berkata, “Krishna, aku tidak tahu kenapa piki-ranku kacau. Mulutku terasa kering dan hatiku berdebar-debar. Aku merasa sesuatu yang buruk telah terjadi. Aku mencemaskan keselamatan Yudhistira,” kata Arjuna me­mecah kesunyian.

“Janganlah engkau risaukan keselamatan Yudhistira. Dia dan saudara- saudaramu pasti selamat,” jawab Krish­na.

Di tengah perjalanan mereka berhenti untuk melakukan puja sandikala, berdoa di saat pergantian siang menjadi malam. Kemudian meneruskan perjalanan mereka. Setelah dekat ke perkemahan, mereka turun dari kereta lalu berjalan kaki. Arjuna semakin gundah. Lebih-lebih karena ia tidak mendengar bunyi alat musik ditabuh dan suara orang menyanyi.

“Janardana, kenapa kita tidak mendengar bunyi alat musik dan suara orang- orang menyanyi seperti biasa? Lihat, lihat … para prajurit itu menundukkan kepala. Mengapa mereka menyambut kedatangan kita dengan cara seperti itu? Ini aneh sekali.

“Wahai Krishna, aku cemas. Apakah engkau masih berpikir saudara-saudaraku semua selamat? Aku bingung. Abhimanyu dan anak-anakku yang lain tidak menyam­butku seperti biasa,” kata Arjuna makin cemas.

Ketika masuk ke dalam kemah Yudhistira, mereka melihat wajah-wajah tertunduk muram. Arjuna tidak dapat lagi menahan diri untuk tidak bertanya. Katanya, “Kenapa kalian semua berwajah muram? Aku tidak melihat Abhimanyu. Kenapa aku tidak melihat wajah-wajah riang menyambut kemenanganku? Aku dengar Drona menyerang kita dengan pasukan yang ditata dalam formasi kembang teratai. Tidak seorang pun di antara kalian yang dapat me-nembus formasi seperti itu. Apakah Abhimanyu memaksa diri untuk maju ke depan? Kalau begitu, ia pasti tewas, sebab aku belum pernah mengajarkan padanya bagaimana caranya keluar dari formasi seperti itu. Oh, ia pasti tewas terbunuh!”

Karena mereka tidak ada yang menjawab dan semua semakin tunduk tak berani menatap matanya, maka yakinlah Arjuna bahwa Abhimanyu telah tewas. Hatinya serasa dihantam godam, remuk redam. Air matanya ber-cucuran. Dengan terputus-putus ia berkata, “Ya Hyang Widhi, anakku tercinta telah menjadi tamu Batara Yama. Yudhistira, Bhimasena, Dristadyumna dan Satyaki, apakah kalian biarkan anak Subadra tewas di tangan musuh? Ya Hyang Tunggal, apa yang harus kukatakan kepada Suba-dra untuk menghibur hatinya? Apa yang harus kukatakan kepada Draupadi? Apa yang harus kusampaikan kepada Uttari untuk menghibur hatinya? Siapakah yang sanggup menyampaikan kabar ini kepada mereka?”

“Arjuna yang kucintai,” kata Krishna dengan penuh iba. “Jangan biarkan hatimu lama berduka. Terlahir sebagai kesatria, pantaslah kita mati di ujung senjata. Kematian adalah teman bagi kita yang telah bertekad mengangkat senjata dan pergi berperang. Dengan penuh keyakinan, kita takkan mundur setapak pun. Kesatria sejati harus bersedia mati muda!

“Abhimanyu, sebagai kesatria muda, telah mencapai tempat yang layak di hadapan Hyang Tunggal. Ia telah mencapai apa yang selalu diidam-idamkan para kesatria tua di medan perang: gugur sebagai pahlawan. Dan memang demikianlah kematian yang layak baginya, seperti tertulis dalam kitab-kitab suci.

“Kalau kaubiarkan hatimu terus berduka berlebihan, saudara-saudara dan sekutu-sekutumu akan ikut sedih. Mereka bisa patah semangat dan kehilangan pegangan. Singkirkan dukamu dan coba tanamkan kepercayaan dan keberanian lagi di hati mereka.”

Arjuna yang masih berduka hanya ingin mendengarkan kisah kematian anaknya.

Akhirnya Yudhistira menceritakan peristiwa itu, mulai dari saat Abhimanyu menerima perintahnya untuk me-nembus formasi pasukan Kurawa hingga gugurnya kesatria muda itu karena dikeroyok oleh musuh dan diperlakukan dengan kekejaman di luar batas.

“Memang aku yang menyuruhnya maju menembus formasi pasukan musuh. Kami berharap bisa menyusulnya dari belakang. Aku yakin, kecuali kau, hanya Abhimanyu, dialah satu-satunya yang bisa melakukannya. Ia memang berhasil menembus formasi pasukan musuh dan kami menyusulnya seperti rencana semula. Tetapi tiba-tiba Jayadrata dan ribuan pasukannya datang. Mereka menu-tup jalan yang sudah dibuka oleh Abhimanyu. Kami gugup, tak siap, dan kalah dalam jumlah. Sungguh mema-lukan, kami tidak bisa menolong Abhimanyu hingga putra-mu itu tewas dibunuh secara keji.”

Setelah mendengar kisah kematian anaknya, Arjuna bersumpah, “Besok, sebelum matahari terbenam, aku akan bunuh Jayadrata yang menyebabkan kematian anakku. Jika Drona dan Kripa menghalangiku, akan kubunuh kedua Mahaguru itu.”

Setelah mengucapkan sumpahnya, Arjuna melepaskan anak panah Gandiwa. Segera setelah itu, Krishna meniup trompet kerang Panchajaya dan Bhimasena berkata, “Lepasnya anak panah dari Gandiwa Arjuna dan tiupan trompet Panchajaya Krishna berarti kematian bagi semua anak Dritarastra.”

~ Article view : [150]